Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH TERMOPLASTIK REKAYASA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kimia Polimer

Dosen:
Tarso Rudiana, M. Si

Disusun Oleh:
Langgeng (11160960000062)
Gita Novi Ariani (11140960000019)
Silvia Fidyati (11140960000066)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATYLLAH
JAKARTA
2018 M/ 1439 H
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah termoplastik rekayasa untuk mata kuliah kimia polimer.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan dengan baik. Dalam
pelaksanaan penyusunan makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan,
bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu dalam kesempatan ini
penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada

1. Bapak Tarso Rudiana, M. Si selaku dosen mata kuliah kimia polimer.

Semoga arahan, motivasi, dan bantuan yang telah diberikan menjadi amal ibadah
bagi bapak sehingga memperoleh balasan yang lebih baik dari Allah SWT. Penulis
menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis
mnegharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan.

Jakarta, Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ iv

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1

1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 3

2.1 Pengertian Polimer ................................................................................. 3

2.2 Karakteristik Polimer ............................................................................ 3

2.3 Definisi Polimer Termoplastik .............................................................. 3

2.4 Sifat-Sifat Khsusus Polimer Termoplastik ........................................... 4

2.5 Macam-macam Bahan dari jenis Termoplastik .................................. 4

2.5.1 Polietilen ........................................................................................... 4

2.5.2 Polipropilen...................................................................................... 6

2.5.3 Polistiren .......................................................................................... 6

2.5.4 Resin kopolimer ............................................................................... 7

2.5.5 Turunan Selulosa ............................................................................ 7

2.5.6 Nitroselulosa (seluloid) ................................................................... 8

2.5.7 Poliamid (Nylon) ................................................................................ 8

2.5.8 Poliasetal .......................................................................................... 8

2.5.9 Polikarbonat Aromatik ................................................................... 8

2.5.10 Resin polyester termoplastik jenuh ............................................... 9

2.5.11 Polisulfon.......................................................................................... 9

ii
2.5.16 Polifenilen oksida (PPO) ................................................................. 9

2.6 Proses Pembuatan Termoplastik ........................................................ 10

2.7 Pengujian polimer Termoplastik dengan SNI ................................... 14

BAB III METODOLOGI ................................................................................... 15

3.1 Alat dan Bahan ..................................................................................... 15

3.2.1 Ekstraksi Selulosa dari Residu Rumput Laut Euchema


Spinossum ..................................................................................................... 15

3.2.2 Sintesis Bioplastik ......................................................................... 15

3.2.3 Analisis Plastik .............................................................................. 16

BAB IV PEMBAHASAN.................................................................................... 18

BAB VI PENUTUP ............................................................................................. 23

6.1 Kesimpulan ........................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 24

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. struktur cabang termoplastik ................................................................. 3


Gambar 2. Struktur Cabang Termoplastik .............................................................. 4
Gambar 3. Bioplastik dengan rasio pati:selulosa 6,5:3,5 (w/w) ........................... 18
Gambar 4. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap kuat tarik bioplastik ...... 18
Gambar 5. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap perpanjangan
bioplastik…………………………………………………………………………19
Gambar 6. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap Modulus Young
bioplastik………………………………………………………………………....19
Gambar 7. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap waktu kelarutan bioplastik
dalam air………………………………………………………………………….20
Gambar 8. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap densitas bioplastik…….21

iv
BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Polimer merupakan ilmu pengetahuan yang berkembang secara aplikatif.
Kertas, plastic, ban, serat – serat alamiah merupakan produk- produk polimer.
Plastic merupakan salah satu bahan yang paling umum kita lihat dan gunakan.
Plastik adalah suatu polimer yang mempunyai sifat-sifat unik dan luar biasa.
Polimer disebut juga dengan makromolekul merupakan makromolekul besar yang
dibangun dengan pengulangan oleh molekul sederhana yang disebut monomer.
Polimer berasal dari dua kata yaitu poly dan meros.
Rekayasa polimer meliputi bahan alami seperti karet dan bahan sintesis
seperti plastic dan elastomer. Polimer merupakan bahan yang sangat berguna
karena struktur mereka dapat diubah disesuaikan untuk menghasilkan bahan dengan
berbagai sifat mekanik dan dalam spectrum yang luas dari warna serta dengan sifat-
sifat transparan yang berbeda.
Klasifikasi polimer salah satunya berdasarkan ketahanan terhadap panas.
Klasifikasi polimer ini dibedakan menjadi dua yaitu polimer termoplastik dan
polimer temosetting. Sebuah termoplastik juga dikenal sebagai plastic
termosoftening adalah polimer polimer yang berubah menjadi cairan ketika
dipanaskan dan membeku ketika didinginkan. Polimer termoplastik berbeda dari
polimer thermosetting. Banyak bahan dari termoplastik selain polimer misalnya
vinil pertumbuhan rantai polimer seperti polyethylene dan polypropylene.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun permasalahan pada pembahasan makalah ini ialah :
1. Apakah yang dimaksud dengan polimer?
2. Bagaimana sifat, karakteristik dan klasifikasi polimer?
3. Perbedaan Polimer Termoplastik dan Termosetting?
4. Apa makna dari Kode yang terdapat pada plastik-plastik dalam kehidupan
sehari-hari?
5. Bagaimana cara uji polimer Termoplastik menurut SNI?

1
1.3 Tujuan
1. Memberikan penjelasan mengenai polimer.
2. Memperluas pengetahuan tentang polimer termoplastik dan
karakteristiknya.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Polimer


Suatu molekul raksasa (makromolekul) yang terbentuk dari susunan ulang
molekul kecil yang terikat melalui ikatan kimia disebut polimer (poly =
banyak; mer = bagian). Suatu polimer akan terbentuk bila seratus atau seribu unit
molekul yang kecil (monomer), saling berikatan dalam suatu rantai. Jenis-jenis
monomer yang saling berikatan membentuk suatu polimer terkadang sama atau
berbeda. Sifat-sifat polimer berbeda dari monomer-monomer yang menyusunnya.
2.2 Karakteristik Polimer
Karakteristik polimer secara umum yaitu sebagai berikut :
1. Densitas yang rendah, dibandingkan dengan logam dan keramik.
2. Rasio kekuatan terhadap berat (strength to weight) yang baik untuk
beberapa jenis polimer.
3. Ketahan korosi yang tinggi.
4. Konduktivitas listrik dan panas yang rendah.

2.3 Definisi Polimer Termoplastik


Polimer termoplastik adalah polimer yang mempunyai sifat tidak tahan
terhadap panas. Jika polimer jenis ini dipanaskan, maka akan menjadi lunak dan
didinginkan akan mengeras. Proses tersebut dapat terjadi berulang kali, sehingga
dapat dibentuk ulang dalam berbagai bentuk melalui cetakan yang berbeda untuk
mendapatkan produk polimer yang baru.
Polimer yang termasuk polimer termoplastik adalah jenis polimer plastic.
Jenis plastic ini tidak memiliki ikatan silang antar polimernya, melainkan dengan
struktur molekul linear atau bercabang. Bentuk struktur sebagai berikut
Bentuk struktur cabang termoplastik :

Gambar 1. struktur cabang termoplastik

3
Gambar 2. Struktur Cabang Termoplastik

2.4 Sifat-Sifat Khsusus Polimer Termoplastik


 Berat molekul kecil
 Tidak tahan terhadap panas.
 Jika dipanaskan akan melunak
 Jika didinginkan akan mengeras
 Mudah untuk direnggangkan.
 Fleksibel
 Titik leleh rendah.
 Dapat dibentuk ulang.
 Mudah larut dalam pelarut yang sesuai

2.5 Macam-macam Bahan dari jenis Termoplastik


Resin untuk penggunaan umum, yaitu meliputi
2.5.1 Polietilen
Polietilen dibuat dengan jalan polimerisasi gas etilen, yang dapat diperoleh
dengan memberi hydrogen gas petroleum pada pemecahan minyak (nafta), gas alam
atau asetilaen. Polimerisasi etilen ditunjukkan pada reaksi di bawah.
Berdasarkan tekanan pada polimerisasinya, polietielen dibagi menjadi :
1. Polietilen massa jenis rendah (LDPE) , massa jenis 0,910-0,926
2. Polietilen massa jenis medium (MDPE), massa jenis 0,926-0,940
3. Polietien massa jenis medium (HDPE), massa jenis 0,941-0,965.

Polietielen dengan berat molekulnya rendah, 1.000-12.000 dan polietilen


dengan berat molekul sangat tinggi (1-4 juta) demikian pula polietilen yang
kopolimerkan dan pada berbagai jenis rantai.

4
Secara kimia polietilen merupakan parafin yang mempunyai berat molekul
tinggi. Karena sifat-sifatnya serupa dengan paraffin, terbakar kalau dinyalakan dan
menjadi cair, menjadi rata kalau dijatuhkan di atas air.

Polietilen untuk keperluan khusus dapat dibedakan atas:

a). Polietilen berberat molekul rendah ( 1.000-12.000)


Dapat diperoleh berbagai mutu mulai dari pelumas dan bahan dengan titik cair
100oC tergantung dari massa jenis dan berat molekulnya. Dipakai untuk
memperbaiki mampu cetak dengan mencampur atau dipakai untuk membuat kertas
tahan air dan kain tanpa tenunan, pelapis dll.
b). Polietilen Berberat molekul tinggi (1-4 juta)
Bahan ini sukar diolah karena kecairannnya yang buruk, walaupun agak
lunak dengan meningkatnya temperatur. Tetapi juga memiliki ketahanan impak
yang baik, abrasi yang sangat baik, sifat mekanik yang sangat baik, pemelaran yang
kecil pada temperatur sekitar 100oC.
c). Polietilen berikatan silang
Jika antar molekul diikat silangkan melalui penyinaran radioaktif energi
tinggi seperti; sinar beta atau sinar gamma dll, maka kekuatan tarik, ketahanan retak
tegangan menjadi lebih baik dan titik lunaknya meningkat.
d). Polietilen busa
Kalau polietilen diikat silangkan dan dibusakan, maka bahan ini dapat
dipergunakan untuk isolasi. Jika sebagai bahan busa rendah dapat dipakai sebagai
pengganti bahan kayu.

Penggunaan :

Pada temperature rendah bersifat fleksibel tahan impak dan tahan bahan kimia.
Karena itu dipakai untuk keperluan berbagai alat dapur, isolator kabel listrik, serat,
kantong tempat, botol plastik, mainan, bahan cetakan, ember, drum, pipa saluran,
kantong plastik dan jas hujan.

5
2.5.2 Polipropilen
Bahan baku polipropilen diperoleh dengan menguraikan petroleum (nafta)
dengan metode yang sama dengan etilen. Sifat-sifat polipropilen serupa dengan
sifat-sifat polietilen. Massa jenisnya rendah(0.9-0.92), dan termsuk jenis yang
paling ringan diantara bahan polimer. Dapat terbakar, dan jika dibandingkan
dengan polietilen yang bermassa jenis tinggi, polimer ini memiliki titik lunak,
kekuatan tarik, kekuatan lentur dan kekakuannya lebih tinggi, tetapi ketahanan
impaknya rendah terutama pada suhu rendah.
Sifat tembus cahaya polipropilen jauh lebih baik daripada polietilen, sehingga
digunakan sebagai bahan pembuatan film.

Penggunaan :

Polipropilen banyak dipakai sebagai bahan dalam produksi peralatanrumah


tangga, peralatan listrik, dan komponen mobil. Hal ini disebabkan karena sifat
polimer ini yang mengkilap, permukaan yang licin, mampu cetak yang baik dan
tembus cahaya serta dapat di buat menjadi karung, tali, botol minuman, serat, bak
air, insulator, kursi plastik, alat-alat rumah sakit, komponen mesin cuci,
pembungkus tekstil, dan permadani.

2.5.3 Polistiren

Bahan yang khusus di gunakan untuk injeksi dan ekstruksi. Ciri-ciri khasnyaialah
berat jenis yang rendah (1.07), daya tahan terhadap air dan zat kimia, stabilitas
dimensi dan kemampuan isolasi (pengganti karet yang baik untuk isolasi listrik).
Monomer stiren dibuat dari benzen dan etilen dipolimerisasikan oleh panas, cahaya
dan katalis

Sifat-sifat :

Polistiren tidak bewarna dan merupakan resin transparan yang dapat diwarnai
secara bening. Memiliki sifat listrik yang baik terutama pada frekuensi tinggi.
Polistiren dapat larut dalam keton, ester dan pelarut hidrokarbon aromatic.

Jenis-jenis :

6
a. Polistiren keperluan umum (GP)
b. Polistiren dengan ketahanan impak tinggi
c. Polistiren tahan cahaya
d. Polistiren busa

Penggunaan :
Polistiren busa dapat dipakai sebagai bahan isolasi panas, resin stiren dapat di cetak
menjadi kotak baterai, piring, bagian dari radio, roda gigi, pola untuk pengecoran,
kotak es, kemasan, gelas, insulator, sol sepatu, penggaris, gantungan baju, ubin
tembok dan bahan pengepakan. Bahan ini dapat di cetak injeksi, diekstruksi atau
dibentuk dalam cetakan.

2.5.4 Resin kopolimer


a. Resin EVA (Etilen-Vinil Asetat kopolimer)
Kopolimer dari etilen dan vinil asetat. Sifat-sifatnya berubah tergantung pada kadar
dan berat molekul dari vinil asetat. Resin ini bersifat elastis sehingga mudah
dibengkokkan seperti kaert. Bahan ini mudah dicetak, tahan cuaca, tahan retak
karena tegangan.
b. Resin ABS
Resin ini adalah jenis termoplastik dengan harga impak tinggi yang terdiri dari
akrilonitril, butadiena dan stiren. Disebut resin ABS karena singkatan dari ketiga
penyusun resin ini.
Sifat dari resin ini dapat berubah-ubah berdasarkan cara produksi, komponen resin,
berat molekul, jenis dan komponen karet, ukuran partikel, derajat ikatan silang,
perbandingan cangkokan, dan perbandingan resin dan karet.

2.5.5 Turunan Selulosa


Selulosa memiliki kelarutan yang jelek, dan jenis pelarut yang dapat digunakan
terbatas. Namun demikian, dengan mengesterifikasi atau mengesterifikasi gugus
hidroksil dari alkoholnya, bahan tersebut dapat dilebur dan dapat larut.

7
2.5.6 Nitroselulosa (seluloid)
Nitroselulosa adalah resin yang telah lama dikenal dengan mencampurkan
nitroselulosa, kamper, alcohol dan zat pewarna, dan menghilangkan pelarut. Bahan
ini kuat, dan daya serap airnya rendah, baik dalam ketelitian dimensi dan
kemampuan pemprosesan secara mekanik, melunak pada suhu air panas dan mudah
dicetak. Namun demikian memiliki sifat yang kurang menguntungkan yaitu; sangat
mudah terbakar dan berbahaya dalam penggunaannya.
2.5.7 Poliamid (Nylon)
Poliamid adalah resin dengan ikatan amida –NH-CO-, dan dari strukturnya
dapat dibagi menjadi (-NH-R-NHCO-R’-CO-)n dan (-NH-R-CO-)n.
Penggunaan poliamid kebanyakan dalam bentuk serat industri untuk
pembuatan tambang, benang ban mobil, jaring ikan dll.

2.5.8 Poliasetal
Bahan ini adalah resin termoplastik yang kristalin dengan struktur polieter
yang terdiri dari rantai molekuler gugus metilen –(CH2)__ dan oksigen –(O)_ yang
berulang. Formaldehid dipolimerisasikan dengan berbagai katalis menjadi
homopolimer molecular yang tinggi (Delrin).
Penggunaan bahan ini secara luas karena memiliki keunggulan dari
kekuatan, ketahanan lelah, ketahanan melar dan ketahanan abrasi. Sehingga banyak
dipakai untuk roda gigi, bantalan, roda ban, sekrup , penguat dan komponen-
komponen mesin.

2.5.9 Polikarbonat Aromatik


Ini adalah resin termoplastik dengan ikatan polikarbonat aromatic.
Rantai molekul mempunyai gugus aromatic, adalah kaku lebih kristalin dan terikat
kuat . Karena terikat dengan ikatan ester, maka ketahanan alkalinya lemah. Bahan
ini tidak berwarna, tembus cahaya dengan massa jenis 1,2 dan dan dapat padam
sendiri bila terbakar. Dalam pemanfaatannya, polkarbonat dipergunakan luas untuk
komponen elektronik dan listrik.

8
2.5.10 Resin polyester termoplastik jenuh

Resin ini berantai lurus dengan ikatan ester -O-C- dalam rantai utama. Selain itu
dikenal pula polibutilen tereftalat (PBT) sebagai resin untuk penggunaan
umum.PET memiliki permukaan yang halus mengkilat, titik leleh relative tinggi,
kekakuan tinggi, kekuatan mekanik yang unggul seperti; ketahanan impak,
ketahanan abrasi, koefisien gesek, ketahanan melar, ketahanan retak tegangan, dan
ketahanan cuaca juga baik. Sifat-sifat tersebut tampaknya seimbang dengan
baik.Penggunaan bahan ini, kebanyakan untuk serat , film maupun botol.

2.5.11 Polisulfon

Bahan ini diperoleh secara polikondensasi dan disebut polisulfon karena

mengandung gugus –S–

Penggunaan untuk komponen listrik, komponen mekanik dan komponen mobil,


karena sangat cocok pada kondisi termal yang sangat berat. Sebagai plastic teknik,
bahan ini memiliki sifat-sifat mekanik , listrik dan kimia yang unggul, bahan
digunakan secar luas.

2.5.16 Polifenilen oksida (PPO)


PPO unggul dalam kekuatan, ketahanan panas, bahan kimia, air dan sifat
listrik, tapi tak begitu baik dalam kemampuan cetaknya. Bahan memiliki massa
jenis rendah sekitar 1,06, bersifat dapat padam sendiri, tak tembus cahaya, dan
temperature cetak 290-350oC

9
2.6 Proses Pembuatan Termoplastik
Bahan setiap plastik berbeda-beda, maka prosesnyapun berbeda-beda,
meskipun umumnya hampir sama. Bahan baku umumnya berbentuk serbuk atau
butiran dan sering memerlukan operasi persiapan.

Proses ke-1. Pencampuran dan Pra-pembentukan


Bahan termoplastik dipasarkan dalam bentuk butiran, oleh karena itu
dicampurkan dengan zat-zat tertentu dalam keadaan kering untuk mendapatkan
sifat-sifat tertentu, sebalik nya bahan termoseting dalam bentuk cairan atau dalam
keadaan terpolimerisasi sebagian, sehingga perlu untuk di sesuaikan. Kedalam
mesin pencampur, dimasukkan resin, stabilisator, zat pewarna, plastisiser, ter-
masuk bahan pengisi. Bahan yang telah tercampur ini, ada kalanya masih berbentuk
lelehan, dimasukkan kedalam mesin injeksi, ekstrusi atau mesin giling. Pada
periode ini, berat jenis dan bobot nya sama, sehingga dihemat bahan dan proses
produksi dipercepat.

Proses ke-2. Cetak – Tekan


Sejumlah bahan dimasukkan ke dalam cetakan logam yang sudah lebih
dahulu dipanaskan, sehingga pada waktu cetakan ditutup, bahan lunak ini tertekan-
mengalir mengisi rongga cetakan, sementara itu, bahan yang digunakan, bisa
berbentuk serbuk atau tablet prabentuk. Tekanan kerja mesin berkisar 0,7 sampai
55 Mpa (tergantung bahan dan bentuk produk), suhunya antara 120 hingga 205 °C.
Untuk resin termoseting, panas sangat penting, untuk plastisasi, polimerisasi atau
pengerasan. Setelah proses selesai, cetakan harus didinginkan dengan baik, untuk
menghindarkan cacat produk.

Proses ke-3. Cetak – Transfer


Pada proses ini, serbuk termoseting (benda prabentuk), diletakkan pada
tempat tersendiri atau diatas rongga cetakan. Setelah bahan mengalami plastisasi
akibat panas dan tekanan, bahan diinjeksikan kedalam rongga cetakan, kemudian
bahan akan mengalami periode pengerasan. Keunggulan cetak transfer yaitu
mampu membuat benda berbentuk rumit serta berpenampang besar.

10
Kekurangannya yaitu ada kehilangan bahan pada saluran pengalir dan harga
cetakan relatif mahal.

Proses ke-4. Cetak – Injeksi


Bahan butiran dicairkan lalu diinjeksikan kedalam rongga cetak untuk
kemudian membeku (cetakan didinginkan dengan air). Karena kemampuannya
berubah (padat-cair atau sebalik nya), tanpa merubah susunan kimianya, maka
bahan ini sangat sesuai untuk pemrosesan yang cepat.Gaya tekan mesin antara 0,4
sampai 22 MN dengan banyak bahan yang dapat diolah maksimum 9 kg. Plastik
mengalami praplastisisasi didalam mesin hingga 180 kg/jam sebelum diinjeksikan
dengan laju debit 0,01 , dimana suhu berkisar 120 hingga 260 °C. Mesin ini dapat
memproduksi: panel mobil, keranjang, bagian-bagian kulkas, perabotan rumah
tangga dan tempat-tempat sampah.

Proses ke-5. Ekstrusi


Bahan-bahan termoplastik, seperti: derivat selulosa, resin vinil, polistiren,
polietilen, polipropilen dan nilon, dapat diproses dengan ekstrusi untuk dijadikan
berbagai bentuk dan berbagai panjang. Produk dari proses ini adalah: pipa panjang,
profil tertentu, pipa listrik dan pipa-pipa untuk mengalirkan zat-zat kimia. Bahan
termoseting kurang cocok, karena terlalu cepat mengeras.
Butiran atau serbuk bahan dimasukkan ke dalam pengumpan dan
digerakkan kedalam ruang pemanas oleh sekrup spiral. Di ruang pemanas, bahan
menjadi viskos (kental), kemudian ditekan kedalam cetakan. Setelah keluar dari
cetakan, benda didinginkan (air atau udara bebas), sementara pengerasan terjadi,
benda diletakkan pada conveyer.

Proses ke-6. Pengkodean jenis plastic


Sebagai konsumen, kita pantas mendapat perlindungan kualitas. Tetapi kita
juga patut melakukan identifikasi sendiri terhadap jenis bahan plastik yang
digunakan. Setiap perusahaan umumnya telah memiliki standar perlindungan
konsumen dengan mencantumkan jenis bahan plastik yang digunakan pada wadah
makanan atau minuman yang diproduksinya. Standar ini telah dikembangkan oleh

11
asosiasi industri plastik di Amerika Serikat dengan melakukan pengkodean jenis
plastik. Kode yang mengacu standar AS ini biasanya ada di bagian bawah wadah
plastik berupa cetakan timbul bergambar panah yang membentuk segitiga dengan
sebuah angka di dalamnya. Angka ini menunjukkan jenis plastik dan
penggunaannya.Di bawah panah yang membentuk segitiga itu, kadang
dicantumkan inisial kandungan kimianya. Mari kita perhatikan jenis palstik dan
penggunaannya:
Kode 1. bertuliskan PET atau PETE

PET atau PETE (Polyethylene terephthalate) sering digunakan sebagai botol


minuman, minyak goreng, kecap, sambal, obat, maupun kosmetik. Plastik jenis ini
tidak boleh digunakan berulang-ulang atau hanya sekali pakai. Habiskan segera
isinya, jika tutup wadah telah dibuka. Semakin lama wadah terbuka, maka
kandungan kimia yang terlarut semakin banyak.

Kode 2. Bertuliskan HDPE


HDPE atau High Density Polyethylene banyak, ditemukan sebagai kemasan
makanan dan obat yang tidak tembus pandang. Plastik jenis ini digunakan untuk
botol kosmetik, obat, minuman, tutup plastik, jeriken pelumas, dan cairan kimia.

Kode 3. Bertuliskan PVC


PVC atau Polyvinyl Chloride (PVC) sering digunakan pada mainan anak, bahan
bangunan, dan kemasan untuk produk bukan makanan. PVC dianggap sebagai jenis
plastik yang paling berbahaya. Beberapa negara Eropa bahkan sudah melarang
penggunaan PVC untuk bahan mainan anak di bawah tiga tahun.

Kode 4. Bertuliskan LDPE


LDPE atau Low Density Polyethylene (LDPE) sering digunakan untuk
membungkus, misalnya sayuran, daging beku, kantong/tas kresek

Kode 5. Bertuliskan PP
PP atau Polypropylene sering digunakan sebagai kemasan makanan, minuman, dan
botol bayi menggunakan plastik jenis ini.

12
Kode 6. Bertuliskan PS
PS atau Polystyrene termasuk kemasan sekali pakai. Contohnya gelas dan pakai
makanan styrofoam, sendok, dan garpu plastik, yang biasa ada pada kotak makanan.
Kotak CD juga mengandung Polystyrene. Kandungan bahan kimia plastik jenis ini
berbahaya bagi kesehatan. Jika makanan berminyak dipanaskan dalam wadah ini,
styrene dari kemasan langsung berpindah ke makanan.

Kode 7. Bertuliskan PC
PC atau Polycarbonate digunakan untuk botol galon air minum, botol susu
bayi, melamin untuk gelas, piring, mangkuk alat makanan. Salah satu bahan
perlengkapan makanan dan minuman yang sering digunakan adalah melamin yang
tergolong jenis plastik termoset. Plastik jenis ini tergolong dalam “food grade” dan
dapat digunakan sampai 140º C.Saat ini beredar perlengkapan makanan melamin
palsu yang biasanya dijual dengan harga 10 ribu 3, dibuat dari bahan urea
formaldehyde yang mengandung formalin kadar tinggi, yang tidak tahan panas dan
dapat mengeluarkan formalin yang dapat mengkontaminasi makanan.
Untuk membedakan melamin palsu dengan yang asli dapat dilihat dari
tekstur permukaannya di bawah cahaya lampu, yang palsu biasanya bergelombang
sedangkan yang asli tidak dan jika direbus yang palsu akan berubah bentuk dan
warnanya menjadi kekuningan.

Kategori 8 untuk jenis lainnya


Kategori ini mencakup semua jenis plastik yang tidak termasuk dalam
keenam kategori di atas. Namun, bukan berarti plastik jenis ini aman sebagai wadah
makanan, karena di dalam kategori ini termasuk polycarbonate yang dapat
melepaskan BPA.
Di dalam kategori ini juga ada bioplastik yang terbuat dari tepung jagung,
kentang, atau tebu. Bioplastik aman sebagai kemasan makanan dan ia pun dapat
terurai secara biologis. Untuk jenis ini, pastikan bahannya tidak mengandung
Polycarbonate.

13
Jika dalam mengkonsumsi makanan dari kemasan plastik berkode 1,3,6,dan
8 yang kita tidak yakin kandungannya, maka gunakan sesuai anjuran. Misalnya
tidak menggunakan botol PET yang dibuat sekali pakai atau memanaskan makanan
di wadah plastik yang tidak untuk keperluan itu.
Hampir di semua Negara, pemakian material plastik untuk kebutuhan
manusia mengacu pada standar, seperti di Indonesia standar yang digunakan adalah
SNI (Standar Nasional Indonesia). Beberapa produk plastik yang sudah memiliki
SNI yaitu PVC, botol untuk air dalam kemasan.

2.7 Pengujian polimer Termoplastik dengan SNI

1. SNI 06-4894-1998

 Ketahanan karet vulkanisat atau karet termoplastik terhadap


keretakan oleh ozon (uji peregangan statik)

Potongan uji dalam keadaan teregang di dalam ruang tertutup pada suhu tertentu,
dikenai udara yang mengandung ozon dengan konsentrasi tertentu dan tetap.
Potongan uji tersebut diamati secara berkala untuk melihat timbulnya retak.

2. SNI 06-6314-2000

 Penentuan dimensi potongan uji dari karet vulkanisat, karet


termoplastik dan barang jadi karet untuk keperluan pengujian

Ada empat jenis metode standar untuk pengukuran dimensi potongan dari karet
vulkanisat karet termoplastik untuk keperluan pengujian. MEtode tersebut adalah
metode A,B,C dan satu metode tak langsung (metode D). Metode A untuk dimensi
<30 mm, metode B untuk dimensi 30 mm – 100 mm, metode C untuk mdimensi >
100 mm dan metode D yaitu cara penentuan dimensi tak langsung untuk berbagai
ukuran. suhu dan kelembaban untuk pengkondisian berturut-tirit adalah 20 oC – 50
oC dan 27 oC – 65 oC. PEngukuran sekurang-kurangnya dilakukan tiga kali setiap
penentuan dimensi dan hasil dari nilai tengah yang dilaporkan.

14
3. SNI ISO 188:2010

 Pengujian Pengusangan yang di percepat dan ketahanan panas dari karet


vulkanist atau termoplastik.

15
BAB III METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan


Bahan-bahan yang diperlukan berupa selulosa residu hasil ekstraksi rumput
laut Eucheuma spinosum, sodium hidroksida (NaOH) 40%, hidrogen peroksida
(H2O2) 6%, aquades, pati sorgum, gliserol 25%. Peralatan yang digunakan adalah
hot plate, gelas ukur, spatula, pH-meter, timbangan, desikator, oven, krus porselen,
blender, ayakan ukuran 63 m, cetakan, zipbag lock, ultrasonic water-bath
(Elmasonic (type S 60H)), dan alumunium foil.

3.2 Cara Kerja

3.2.1 Ekstraksi Selulosa dari Residu Rumput Laut Euchema Spinossum


Residu rumput laut sebanyak 0,03 kg dilarutkan dengan NaOH 40% dalam
wadah 800 ml. Larutan diaduk selama 3 jam pada temperature 100°C. Larutan
disaring dan residu yang diperoleh dengan pH 6 kemudian dicuci dengan air
sampai pH air cucian 11. Residu yang dihasilkan selanjutnya ditambahkan larutan
H2O2 konsentrasi 6% dan dibiarkan pada suhu kamar selama 3 jam sambil sesekali
diaduk. Selanjutnya disaring lagi dan residu yang diperoleh dicuci dengan air
sambil sesekali diaduk. Selanjutnya disaring lagi dan residu dicuci dengan air
bersih sampai pH 7. Residu dikeringkan dalam oven pada suhu 105°C sampai
diperoleh berat yang konstan. Selanjutnya residu digiling dan disaring dengan
ayakan 63 m.

3.2.2 Sintesis Bioplastik


Langkah-langkah sintesis bioplastik pada penelitian ini mengikuti metode
Ban (2006) adalah sebagai berikut. Disiapkan 7,5 g pati dan 2,5 g selulosa dengan
perbandingan 7,5:2,5. Larutan pati serta larutan selulosa dibuat dengan
penambahan aquades sesuai dengan jumlah volume yang telah dihitung pada gelas
ukur terpisah. Larutan sorgum di dalam gelas ukur 500 ml diletakkan dalam
sonicator yang diset pada temperatur 80°C. kemudian ditambahkan larutan selulosa
ke dalam larutan sorgum. Campuran pati sorgum-selulosa disonifikasi selama 40

15
menit, kemudian ditambahkan gliserol dan dilanjutkan proses sonifikasi hingga
total waktu sonifikasi 60 menit. Larutan bioplastik diangkat dan dipindahkan ke
atas hot plate. Temperatur hot plate diatur 95°C dan kecepatan putaran pengadukan
diset 916 rpm. Selama pengadukan dan pemanasan, temperatur campuran dikontrol
pada 95°C. Setelah 35 menit dimatikan dan larutan didiamkan sampai suhu
ruangan. Larutan sebanyak 25 ml dituangkan ke dalam cetakan yang telah dilapisi
wax, kemudian dikeringkan di dalam oven pada temperatur 600°C selama 8 jam.
Cetakan diangkat dan dimasukkan ke dalam desikator (dikondisikan selama 24
jam). Selanjutnya plastic dilepaskan dari cetakan dan disimpan dalam zip bag lock
dan siap dianalisis. Langkah-langkah ini diulangi untuk variasi perbandingan massa
(w/w) pati sorgum terhadap selulosa yaitu 5,5; 4,5; 6,5; 3,5; 8,5; 1,5; 9,5:5 dan 10:0.

3.2.3 Analisis Plastik


a. Pengujian sifat mekanik

Karakteristik sifat mekanik suatu bahan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah
satunya adalah rasio pati-selulosa. Karakteristik ini ditunjukkan oleh perbedaan
nilai kuat tarik, persen perpanjangan, dan modulus young pada setiap bioplastik.
Sampel film plastik diuji dengan menggunakan alat autograph. Pengujian
dilakukan pada temperature 23oC, Humidity 50%, dan cross head speed
20 mm/min.

b. Uji Kelarutan terhadap Air

Uji Kelarutan bioplastik dalam air dilakukan sebagai berikut. Potongan film
dengan ukuran kecil yaitu 3 x 3 cm2, dimasukkan ke dalam gelas ukur yang
berisi 30 mL air pada temperatur kamar. Selanjutnya dihitung waktu kelarutannya
di dalam air.

c. Uji Densitas

Prosedur penentuan densitas bioplastik adalah sebagai berikut. Massa, m


(gram) sampel yang akan diuji ditimbang dengan menggunakan timbangan digital.
Kemudian gelas ukur 10 mL diisi dengan air hingga 5 mL dan sampel plastic
dimasukkan dalam gelas ukur yang berisi air. Setelah 15 menit, dicatat volume air
yang baru (v) untuk menghitung volume plastik sebenarnya dengan cara: selisih

16
volume akhir air dengan volume awal air. Maka didapatkan ρ plastik dengan
persamaan:

m/v……………………………………………………………………..(1)

d. Uji Scanning Electron Microscopy (SEM)

Sampel dipotong ukuran 1x1 cm untuk ditempelkan pada holder (wadah


sampel untuk diuji) sampel dimasukkan pada chamber peralatan SEM untuk setting
posisi dan merekam gambar. Foto SEM diambil dengan magnifikasi 300 kali.

e. Analisis Gugus Fungsi dengan FTIR

Sampel dipotong kecil dan digerus bersama KBr hingga halus untuk
membentuk lapisan tipis. Kemudian diletakkan pada wadah sampel untuk diuji.
Spektrum gugus selulosa dicatat pada layar monitor pada pajang gelombang 400 –
4000 cm-1.

17
BAB IV PEMBAHASAN

Gambar 3. Bioplastik dengan rasio pati:selulosa 6,5:3,5 (w/w)

Gambar 3 memperlihatkan film bioplastik dengan rasio pati: selulosa 6,5 : 3,5
(w/w). Terlihat bahwa bioplastik memiliki warna coklat transparan. Hasil uji sifat
mekanik bioplastik ditunjukkan pada Gambar 2 - 6. Rasio pati dan selulosa
mempengaruhi sifat mekanik, sifat fisik, dan biodegradabilitas bioplastik.
Pengujian sifat mekanik terdiri dari uji kuat tarik, perpanjangan, dan modulus
Young. Pengujian sifat fisik terdiri dari uji densitas dan uji kelarutan, serta
pengujian lainnya terhadap film bioplastik seperti SEM dan FTIR.

Gambar 4. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap kuat tarik bioplastik

18
Gambar 5. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap perpanjangan bioplastik

Gambar 6. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap Modulus Young bioplastik

Pada Gambar 4 dapat dilihat pengaruh rasio pati-selulosa terhadap kekuatan tarik
film bioplastik. Terlihat bahwa nilai kuat tarik tanpa selulosa lebih tinggi daripada
nilai kuat tarik dengan penambahan 0,5 g dan 1,5 g selulosa. Kuat tarik terlihat
meningkat secara signifikan pada penambahan selulosa lebih dari 2,5 g. Namun saat
penambahan selulosa 4,5 g, kuat tarik kembali menurun. Hal ini menunjukkan
bahwa penambahan 0,5 g dan 1,5 g selulosa tidak dapat meningkatkan nilai
kuat tarik bioplastik.
Dengan penambahan konsentrasi selulosa pada larutan bioplastik, kuat tarik
semakin meningkat dan saat penambahan konsentrasi selulosa terbanyak yaitu 4,5
g, kuat tarik kembali menurun serta memiliki nilai yang tidak jauh berbeda seperti
film bioplastik tanpa selulosa. Nilai kuat tarik terbesar, terdapat pada penambahan
konsentrasi selulosa 3,5 g. Hal ini terjadi karena perbedaan struktur pada selulosa
dan amilosa menghasilkan sifat yang berbeda. Struktur yang dimiliki oleh selulosa
mengakibatkan gaya tarik intermolekuler dan kristalinitas yang lebih tinggi

19
dibandingkan dengan amilosa (Odian, 2004). Kuatnya gaya intermolekuler dalam
selulosa menyebabkan sulit berinteraksi dengan komponen lain. Selain itu
penggabungan selulosa dengan pati terbatas karena selulosa sulit menyebar
(terdispersi).
Strain atau persen perpanjangan merupakan bagian dari sifat mekanik yang
menunjukan keelastisan atau keuletan suatu bahan ketika ditarik hingga putus.
Gambar 3 menunjukkan pengaruh konsentrasi selulosa terhadap strain atau persen
perpanjangan film bioplastik. Film bioplastik tanpa selulosa memiliki nilai persen
perpanjangan yang lebih tinggi dari pada film dengan selulosa 0,5 g dan 1,5 g.
Namun jika dibandingkan dengan film bioplastik dengan konsentrasi selulosa 2,5
g, 3,5 g, dan 4,5 g, film bioplastik tanpa selulosa memiliki nilai persen perpanjangan
rendah.
Gugus fungsional rantai selulosa adalah gugus hidroksil yang dapat
berinteraksi dengan gugus –O, -N, dan –S, membentuk ikatan hidrogen dimana
ikatan hidrogen lebih panjang dari ikatan kovalen tetapi ikatannya lebih lemah
(Companion, 1991). Semakin banyak ikatan hidrogen yang terbentuk menyebabkan
rantai semakin panjang. Oleh karena itu, terjadi peningkatan perpanjangan saat
penambahan selulosa. Namun perpanjangan kembali menurun ketika penambahan
selulosa 4,5 g, hal ini menunjukkan terdapat titik jenuh pembentukan ikatan
hydrogen sehingga selulosa sulit untuk menyebar (terdispersi). Dari pembuatan
film bioplastik yang dilakukan diperoleh persen perpanjangan tertinggi pada
perbandingan pati : selulosa 7,5 : 2,5 (w/w) yaitu 32,7488%, namun bioplastik yang
dihasilkan belum memenuhi standar nilai perpanjangan LDPE yaitu 225% - 600%.

Gambar 7. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap waktu kelarutan bioplastik dalam air

20
Gambar 8. Pengaruh rasio pati:selulosa (w/w) terhadap densitas bioplastik

Modulus Young merupakan ukuran kekakuan suatu bahan. Semakin kaku


suatu bahan, maka nilai Modulus Young yang dimiliki oleh bahan akan semakin
besar. Nilai Modulus Young diperoleh dari perbandingan antara kekuatan tarik
terhadap persen perpanjangan (odian, 2004). Pada Gambar 5 nilai modulus young
tanpa selulosa lebih tinggi daripada dengan penambahan 0,5 g selulosa, ini
menunjukkan bahwa penambahan 0,5 g dan 1,5 g selulosa menurunkan nilai
Modulus Young bioplastik. Penambahan selulosa di atas 1,5 g terus meningkatkan
Modulus Young, namun tidak lebih besar dari nilai tanpa selulosa. Saat penambahan
konsentrasi selulosa 4,5 g, Modulus Young kembali menurun. Hal ini disebabkan
oleh ikatan hidrogen yang terbentuk membuat rantai semakin panjang, sehingga
elastisitas meningkat. Nilai Modulus Young terbesar terdapat pada rasio
pati:selulosa 10 : 0 (w/w).
Pengaruh Rasio Pati-Selulosa terhadap Sifat Fisik Bioplastik
Uji sifat fisik yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui besarnya nilai kelarutan
bioplastik dalam air dan densitas dari sampel bioplastik yang dihasilkan. Pada
Gambar 6 terlihat bahwa film bioplastik tanpa selulosa memiliki waktu kelarutan
yang lebih lama dari film bioplastik dengan penambahan selulosa karena film
bioplastik memiliki gugus hidroksil (O-H). Selain itu penggabungan selulosa
dengan pati terbatas karena selulosa sulit untuk menyebar (terdispersi) sehingga
menyebabkan film bioplastik memiliki sifat hidrofilik. Faktor utama polimer yang
dapat terdegradasi secara alamiah adalah polimer alam yang mengandung gugus
hidroksil (-OH), karena dapat terdegradasi. Densitas atau kerapatan
(massa/volume) merupakan sifat fisik suatu polimer. Semakin rapat suatu bahan,

21
maka sifat mekaniknya semakin baik dimana film plastik yang dihasilkan
mempunyai kekuatan tarik (tensile strength) yang baik. Densitas bioplastik ini
ditentukan dengan menggunakan metode kenaikan fluida dalam gelas ukur.
Pengaruh konsentrasi selulosa terhadap densitas dapat dilihat pada Gambar
7. Bioplastik dengan selulosa 2,5 g dan 3,5 g memiliki nilai densitas tertinggi.
Densitas atau kerapatan jika memiliki nilai yang tinggi akan mempengaruhi sifat
mekanik. Semakin rapat film bioplastik maka semakin sedikit jumlah pori atau
rongga pada film bioplastik tersebut, sehingga akan semakin tinggi sifat
mekaniknya. Walaupun film bioplastik dengan konsentrasi selulosa 2,5 g dan 3,5 g
memiliki nilai densitas tertinggi, namun belum memenuhi nilai densitas standar
LDPE yaitu 0,91-0,925 g/ml.

22
BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penambahan
selulosa pada sintesis bioplastik berbasis sorgum belum meningkatkan karakteristik
mekanik dan fisik bioplastik secara signifikan. Bioplastik yang dihasilkan masih
menyerap air lebih besar dari pada plastik komersial LDPE. Karakteristik bioplastik
terbaik pada penelitian ini diperoleh pada rasio pati:selulosa 6,5 : 3,5 (w/w) dengan
kuat tarik sebesar 11,53 Kpa, Modulus Young sebesar 46,95 kPa, dan densitas
bioplastik yaitu 0,15 g/mL.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, (2006) Bioplastic Magazine. Vol.1, Shopping bags, diakses


pada: 27 oktober 2012, http://www.bioplasticsmagazine.net
Ban, W., Song, J., Dimitris S. A., Lucianus A. L. (2006) Improving The
Physical and Chemical Functionally of Starch – Derived Films With Biopolymers.
Journal of Applied Polymer Science, 100, 2542-2548.
Companion, A.L. (1991) Ikatan Kimia. Edisi Kedua. Institut Teknologi
Bandung, Bandung.
Darni, Y., Utami, H., Nurasriah, S. 2009. Peningkatan Hidrofobisitas dan
Sifat Fisik Plastik Biodegradabel Pati Tapioka dengan Penambahan Selulosa
Residue Rumpul Laut Euchoma Spinossum. Prosiding Seminar Hasil-Hasil
Penelitian dan Pengabdian Dosen. Lampung: Universitas Lampung.
Kargarzadeh, H., Ahmad, I., Abdullah, I., Dufresne, A., Zainuddin, A.Y.,
Sheltami, R.M. (2012) Effect of hydrolysis conditions on the morphology,
crystallinity, and thermal stability of cellulose nanocrystals extracted from kenaf
bast fibers, Cellulose, 19, 855-866.
Manalu, S., dan Darni, Y., (2012) Pengaruh kecepatan pengadukan dan
konsentrasi plasticizer gliserol terhadap sifat fisik dan mekanik bioplastik
berbahan baku pati sorgum-kitosan. Seminar Nasional Material,16 Pebruari 2013,
Gedung Prodi Fisika. Bandung: ITB.
Suarni (2004) Evaluasi Sifat Fisik dan Kandungan Kimia Biji Sorgum
Setelah Penyosohan, Jurnal Stigma 11 (1): 88-91.

24