Anda di halaman 1dari 8

PERUBAHAN KELAMIN Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

SECARA BUATAN
(Makalah Fisiologi Reproduksi Hewan Air)

Kelompok 5

Linda Permata Hati (1614111004)


Sefi Desfeni (1614111026)
Andre Ramadhan P. B (1614111056)
Eldira Marinta U (1614111060)
Jerry Suranta (16141110 )
Media Tresita U. S (16141110 )

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sex reversal adalah suatu metode untuk mengubah jenis kelamin ikan secara
buatan dari betina menjadi jantan atau sebaliknya. Perubahan jenis kelamin
dimungkinkan karena pada fase pertumbuhan gonad belum terjadi diferensiasi
kelamin dan belum ada pembentukan steroid sehingga pembentukan kelamin
dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintesis. Hormon mengatur
beberapa fenomena reproduksi misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan
gamet, ovulasi, perubahan morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau
produksi feromon. Diferensiasi gonod terjadi lebih dahulu diikuti fenomena lain.

Steroid seks yang berfungsi mengubah jenis kelamin adalah androgen


(testosterone, metltestoteron dll) yang memberikan efek maskulinitas dan estrogen
(estron, estrodiol dll) yang memiliki pengaruh feminitas. Androgen dihasilkan
oleh testis, korteks adrenal dan ovary. Salah satu hormon alami androgen adalah
testosterone. Derivat dari hormon ini merupakan hormon steroid sintesis dan telah
berhasil digunakan untuk merangsang perubahan jenis kelamin dari betina
menjadi jantan adalah 17α-metiltestoteron.

1.2 Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah agar mahasiswa mengetahui tentang perubahan
kelamin ikan secara buatan.
II. ISI

2.1 Sex Reversal


Jenis kelamin suatu organisme ditentukan oleh beberapa faktor seperti faktor
lingkungan dan kondisi genetic. Secara genetis, kromosom memegang peranan
penting dalam menentukan jenis kelamin (kromosom seks atau gonosom) . Untuk
mendapatkan jenis kelamin ikan sesuai dengan yang diinginkan dapat dilakukan
beberapa cara yatiu perlakuan dengan hormon, manipulasi kromosom, dan
kombinasi keduanya serta melalui proses hibridisasi, ginogenesis, androgenesis
(Arifin, 2005).

Sex reversal adalah suatu metode untuk mengubah jenis kelamin ikan secara
buatan dari betina menjadi jantan atau sebaliknya. Perubahan jenis kelamin
dimungkinkan karena pada fase pertumbuhan gonad belum terjadi diferensiasi
kelamin dan belum ada pembentukan steroid sehingga pembentukan kelamin
dapat diarahkan dengan menggunakan hormon steroid sintesis. Hormon mengatur
beberapa fenomena reproduksi misalnya proses diferensiasi gonad, pembentukan
gamet, ovulasi, perubahan morfologis atau fisiologis pada musim pemijahan atau
produksi feromon. Diferensiasi gonad terjadi lebih dahulu diikuti fenomena lain
(Arifin, 2005).

Steroid seks yang berfungsi mengubah jenis kelamin adalah androgen


(testosterone, metltestoteron dll) yang memberikan efek maskulinitas dan estrogen
(estron, estrodiol dll) yang memiliki pengaruh feminitas (Arifin, 2005).

2.2 Ikan Nila (Oreochromis niloticus)


Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas perikanan yang
digemari masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein hewani karena memiliki
daging yang tebal serta rasa yang enak. Ikan nila juga merupakan ikan yang
potensial untuk dibudidayakan karena mampu beradaptasi pada kondisi
lingkungan dengan kisaran salinitas yang luas (Hadi, 2009).
Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu hasil perikanan air tawar yang
diminati masyarakat. Keunggulan ikan nila yaitu memiliki rasa yang spesifik,
daging padat, mudah disajikan, tidak mempunyai banyak duri, mudah didapatkan
serta harganya yang relatif murah (Yans, 2005). Daging ikan nila mempunyai
kandungan protein 17,5%, lemak 4,7%, dan air 74,8%.

Ikan nila tidak hanya diminati pasar dalam negeri tetapi juga pasar luar negeri.
Ekspor fillet nila dari Indonesia hingga saat ini hanya mampu melayani tidak lebih
dari 0,1% dari permintaan pasar dunia. Berdasarkan data dari Food Agriculture
Organization (FAO), kebutuhan ikan untuk pasar dunia sampai tahun 2010 masih
kekurangan pasokan sebesar 2 juta ton/tahun. Pemenuhan kekurangan pasokan
ikan dapat dipenuhi dari budidaya ikan nila (Khairuman, 2006).

Keunggulan lain dari ikan nila adalah mudah dibudidayakan. Ikan ini dapat
bertahan hidup dan berkembang biak di dataran rendah hingga dataran tinggi
sekitar 500 m dpl. Ikan ini termasuk omnivora, relatif tahan terhadap perubahan
lingkungan dan tahan terhadap serangan penyakit. Pakan merupakan faktor
penting dalam proses budidaya perairan. Pakan menjadi unsur terpenting dalam
menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Biaya pakan pada suatu
proses budidaya mencapai 60-70 % dari biaya produksi (Sahwan, 2004).

2.3 Sex Reversal pada Ikan Nila


Usaha budidaya pada ikan nila baik dalam kegiatan pembenihan skala kecil,
menengah, maupun besar merupakan salah satu usaha yang dapat memberi
alternatif sumber penghasilan untuk meningkatkan pendapatan bagi petani
maupun pengusaha. Apabila usaha budidaya ini berkembang, maka permintaan
kebutuhan ikan nila akan dapat terpenuhi dan produksi akan dapat ditingkatkan
baik jumlah maupun mutunya. Dampak lebih lanjut dari usaha ini adalah
kesejahteraan masyarakat nelayan ataupun pengusaha mengalami peningkatan,
dan negara diuntungkan karena adanya peningkatan jumlah devisa sebagai hasil
ekspor produk perikanan.
Budidaya monoseks merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan produksi
perikanan. Selain dari kualitas benih, optimasi lingkungan budidaya dan
manajemen pakan juga sangat penting maka budidaya monoseks untuk ikan
konsumsi dapat dilakukan berdasarkan pada kecepatan tumbuh dan ukuran
maksimal yang dapat dicapai oleh komoditas perikanan (Balamurungan, 2004).

Ikan nila merupakan ikan yang dikenal sebagai ikan Euryhalin kerena ikan nila
sejak dahulu hanya mendiami perbatasan atau pertemuan antara air laut dengan air
tawar sehingga dapat bertahan dipelihara dalam tambak air payau yang dapat
menyesuaikan dirinya dengan kadar garam 0-15 promile. Untuk tujuan komersial,
sex reversal pada nila (Oreochromis niloticus) umumnya ditujukan untuk
memproduksi ikan jantan secara massal. Hal ini disebabkan pertumbuhan nila
jantan lebih cepat dibandingkan nila betina. Walaupun demikian, untuk tujuan
riset kadang-kadang diperlukan pembentukan betina pada kelamin jantan
meskipun hasilnya belum sempurna, sedangkan dalam memanipulasi kelamin
jantan pada nila, hormon steroid yang paling efektif dapat digunakan adalah 17 α-
metiltestosteron yang diberikan secara oral melalui pakan. Penerapan sex reversal
pada nila dapat dilakukan dengan metode perendaman embrio, perendaman larva
dan perendaman pakan (Supriyadi, 2005).

Organisme monoseks dapat dihasilkan melalui metode manipulasi kelamin (sex


reversal), dengan pendekatan hormonal sebelum diferensiasi kelamin. Hormon
steroid yang diberikan, menyebabkan zigot dengan genotype XX akan
berkembang menjadi karakter jantan secara fenotipe atau sebaliknya zigot dengan
genotype XY akan berkembang menjadi karakter betina secara fenotipe (Wichins
dan Lee, 2002).
III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kesimpulannya adalah sex reversal merupakan suatu metode untuk mengubah
jenis kelamin ikan secara buatan dari betina menjadi jantan atau sebaliknya. Sex
reversal pada nila (Oreochromis niloticus) umumnya ditujukan untuk
memproduksi ikan jantan secara massal. Cara memanipulasi kelamin jantan pada
nila, yang biasa digunakaan yaitu 17 α-metiltestosteron yang diberikan secara oral
melalui pakan. Penerapan sex reversal pada nila dapat dilakukan dengan metode
perendaman embrio, perendaman larva dan perendaman pakan.
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, T.M. dan Handajani, H. 2005. Optimalisasi Dosis Hormon


Metiltestosteron dan Lama Perendaman Benih Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy Lac.) Terhadap Keberhasilan Kelamin Jantan. Penelitian. FPP-
UMM. Malang.

Balamurungan, P., Mariappan, P., and Balasundaram, C. 2004. Impacts of Mono-


Sex Macrobrachium Culture in The Future Of Seed Avalability in India.
Aquaculture Asia. Vol.IX No.2. Pp. 15-16.

Hadi, M., Agustono dan Y. Cahyoko. 2009. Pemberian tepung limbah udang yang
difermentasi dalam ransum pakan buatan terhadap laju pertumbuhan, rasio
konversi pakan dan kelangsungan hidup benih ikan nila. Universitas
Airlangga.

Khairuman, Amri K. 2006. Budidaya Ikan Nila Secara Intensif. Agromedia


Pustaka, Jakarta.

Sahwan F. 2004. Pakan Ikan Ekonomi dan Udang: Formulasi, Pembuatan, Analisa
Ekonomi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Supriyadi, 2005. Efektivitas Pemberian Hormon 17α-Metiltestosteron dan HCG


yang Dienkapsulasi di Dalam Emulsi Terhadap Perkembangan Gonad Ikan
Baung (Hemibagrus memurus Blkn). Thesis. Sekolah Pascasarjana. Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Pp 20-27.

Wichins, J.F. dan Lee, D.O.C. 2002. Crustacean Farming (Raching and Culture).
Lowa State University Press. Blackwell Science Company. USA. 446 pp.

Yans P. 2005. Budidaya Ikan Nila local Mudah, Murah dan Menghasilkan.
Majalah Trobos 6: 86-87.