Anda di halaman 1dari 4

1.

Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah SWT


Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba
Seorang manusia memiliki berbagai kewajiban dan hak, tidak terkecuali
kewajiban manusia terhadap penciptanya, Sang Khalik. Dengan adanya kewajiban ini,
terbentuklah suatu hubungan hamba dengan tuannya, dimana manusia sebagai hamba dan
Allah sebagai tuannya.
Manusia merupakan seorang hamba yang mengabdikan dirinya kepada Allah.
Makna hamba sendiri adalah ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan. Sehingga tugas utama
manusia sebagai seorang hamba adalah senatiasa mengabdikan diri kepada Allah dengan
cara taat beribadah dengan ikhlas, selalu mematuhi perintah-Nya, dan menjauhi segala
larangan-Nya. Hal itu telah ditegaskan melalui Al-Qur’an dalam ayat berikut:
‫َّللا ِلي ْعبُدُوا ِإال أ ُ ِم ُروا وما‬
َّ ‫صي‬ َّ ‫ْالق ِيِّم ِة ِدينُ وذ ِلك‬
َّ ‫الزكاة تُوا ويُؤْ ال‬
ِ ‫صالة ويُ ِقي ُموا ُحنفاء ال ِدِّين لهُ ُم ْخ ِل‬
Artinya: Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya
mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus. (QS.98:5)
Tanggung jawab abdullah terhadap dirinya adalah memelihara iman yang dimiliki
karena iman bersifat fluktuatif, yang dalam istilah hadist Nabi SAW dikatakan yazidu
wayanqushu (terkadang bertambah atau menguat dan terkadang berkurang atau
melemah).
Seorang hamba Allah juga mempunyai tanggung jawab terhadap keluarga.
Tanggung jawab terhadap keluarga merupakan lanjutan dari tanggung jawab terhadap diri
sendiri, karena memelihara diri sendiri berkaitan dengan perintah memelihara iman
keluarga. Oleh karena itu dalam Al-Qur’an dinyatakan dengan quu anfusakum waahlikum
naaran (jagalah dirimu dan keluargamu dengan iman, dari neraka).

Tanggung Jawab Manusia sebagai Khalifah Allah SWT


Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang mandat. Manusia
memegang mandat dan amanah yang diberikan Allah untuk memakmurkan bumi.
Kekuasaan yang diberikan Allah sebagai mandat kepada manusia bersifat kreatif yang
memungkinkan dirinya mampu mengelola mendayagunakan dan memelihara apa yang
ada di alam ini untuk kepentingan hidupnya.
Allah SWT menciptakan manusia di muka bumi agar manusia dapat menjadi
khalifah di muka bumi tersebut. Yang dimaksud dengan khalifah ialah bahwa manusia
diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti
tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya
dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk
kemaslahatannya. Jika manusia telah mampu menjalankan itu semuanya maka sunatullah
yang menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi benar-benar dijalankan dengan baik
oleh manusia tersebut, terutama manusia yang beriman kepada Allah SWT dan
Rasulullah SWT.
Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi, ada dua
peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat.
Pertama, memakmurkan bumi(al‘imarah). Kedua, memelihara bumi dari upaya-upaya
perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah).

1. Memakmurkan Bumi
Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT.
Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi seluas-luasnya bagi kemakmuran umat
manusia. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan
merata dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Sehingga generasi
selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu

2. Memelihara Bumi
Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak
manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). Memelihara dari kebisaaan
jahiliyah, yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. Karena
sumber daya manusia yang rusak akan sangat potensial merusak alam. Oleh karena
itu, hal semacam itu perlu dihindari.
Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. Penciptaan manusia
mempunyai tujuan yang jelas yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa
(pengatur) bumi. Maksudnya, manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan
kehidupan di bumi sesuai dengan petunjuk-Nya. Petunjuk yang dimaksud adalah
agama (Islam).
Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk
memelihara bumi dari kerusakan? Karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang
membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan
cenderung untuk berbuat kerusakan, hal ini sudah terjadi pada masa nabi-nabi
sebelum Nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat
kerusakan dari pada berbuat kebaikan, misalnya saja kaum Bani Israil, seperti yang
Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4
Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu:
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti
kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar” (QS Al Isra : 4)
Namun, kekuasaan yang dipegang oleh manusia dibatasi oleh hukum (ajaran)
Allah yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an maupun yang tersirat dalam
kandungan alam semesta. Oleh karena itu, bertanggung jawab atas amanah yang
diberikan oleh Allah kepada setiap manusia merupakan sesuatu keharusan dan
konsekuensi logis.
Semua hal yang baik dilakukan dan hal-hal yang jelek ditinggalkan untuk
menunjukkan ketaatannya kepada Allah SWT agar hidup di alam dunia mendapatkan
keselamatan dan kebahagiaan yang diridhai Allah SWT.
2. Hukum (LUAS)
Istilah hukum islam itu jika kita ambil dari arti dari dua istilah yaitu hukum
dan Islam maka dapat disimpulkan bahwa hukum Islam memiliki makna yaitu suatu
norma atau kaidah yakni ukuran, tolak ukur, patokan, pedoman yang dipergunakan
untuk menilai tingkah laku manusia dan benda di dalam masyarakat yang di dasarkan
pada ajaran islam yang bertujuan untuk mencapai suatu keselamatan.
Islam dalam pengertian sebagai agama serta Islam dalam artian sebagai hukum
itu memiliki suatu letak perbedaan, yaitu dari segi ruang lingkupnya serta dari segi
fungsinya. Apabila kita tinjau dari segi fungsinya maka hukum islam itu hanya
mengatur tentang pelaksanaan amalan manusia saja baik itu amalan terhadap dirinya
sendiri, amalan yang berhubungan dengan Tuhan, dengan orang lain, maupun dengan
benda dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan di dalam ajaran Islam selain
menjelaskan tentang amalan perbuatan manusia ajaran islam juga mengajarkan
tentang ajaran yang bertalian dengan aqidah/keimanan (ilmu kalam) serta ajaran yang
bertalian dengan pendidikan dan perbaikan moral atau sering disebut dengan ilmu
akhlak. Serta jika kita gali dari segi yang lain maka kita bisa menemukan bahwasanya
kaidah-kaidah yang diatur di dalam hukum Islam itu merupakan penjabaran lebih
lanjut dari kaidah-kaidah ajaran agama Islam atau bisa kita katakana bahwa hukum
Islam itu hanya merupakan salah satu bagian dari pelaksanaan ajaran agama Islam.
Ada hubungan yang sangat erat dan tidak dapat dipisah-pisahkan antara
hukum Islam dengan Agama Islam, hal ini terjadi karena adanya kesamaan tentang
sumber pedoman dari hukum Islam itu sendiri serta ajaran Agama Islam yaitu
Alquran. Di dalam pelaksanan hukum Islam di masyarakat yang didasarkan pada
Alquran ini tidak dapat dipisahkan dengan akhlak dan iman. Akhlak disini merupakan
ajaran moral yang diajarkan dalam ajaran agama serta iman mempunyai makna
sebagai kepercayaan seseorang terhadap suatu agama, baik itu jika dilihat dari segi
teologisnya maupun berdasarkan hati nuraninya.
3. HUKUM POSITIF (LUAS)