Anda di halaman 1dari 4

Sejarah Perkembangan Imunologi, Mekanisme Kerja, dan

Fungsi Sistem Imun


Oleh Fandiar Nur Isdiaty, 0906510810

Pendahuluan
Lingkungan hidup kita mengandung berbagai bahan organik dan anorganik, baik
yang hidup seperti bakteri, virus, jamur, parasit, dapat menmbulkan kerusakan jaringan
atau penyakit. Dalam pandangan sekarang respons imun diperlukan untuk tiga hal, yaitu
pertahanan, homeostasis, dan pengawasan. Dengan kata lain, respons imun dapat diartikan
sebagai suatu sistem agar tubuh dapat mempertahankan keseimbangan antara lingkungan
di luar dan di dalam badan.
Isi
Sejarah perkembangan imunologi
Imunitas berasal dari bahasa latin “immunis” yang artinya “bebas dari
pajak/beban”, sedangkan secara klasik imunitas diartikan sebagai daya tahan relatif hospes
terhadap reinfeksi mikroba tertentu. Sehingga sistem imun dapat diartikan sebagai semua
mekanisme yang digunakan tubuh untuk mempertahankan keutuhan tubuh sebagai
perlindungan terhadap bahaya yang dapat ditimbulkan berbagai bahan dalam lingkungan
hidup. Sedangkan imunologi berarti ilmu yang mempelajari mengenai sistem pertahanan
tubuh. Sebenarnya inti dari imunologi adalah memori (ingatan) ketika kita mendapat
penyakit, specifity, dan pengenalan zat asing (nonself).
Sejarah imunologi diawali dari orang Cina sekitar tahun 1000 setelah masehi
menemukan infeksi profilaktik untuk mencegah cacar. Lalu dilanjutkan dengan tahap
empiris oleh Edward Jenner pada tahun 1798. Edward menemukan inokulasi kerak cacar
sapi (cowpox) yang dapat melindungi seseorang dari penyakit cacar. Perkembangan
imunologi selanjutnya yaitu tahap ilmiah oleh Louis Pasteur pada tahun 1881. Louis
Pasteur menemukan vaksin (vacca: sapi) yang dimatikan dan vaksin yang dilemahkan.
Pada tahun 1885, Roux dan Yersin untuk yang pertama kalinya menemukan toksin bakteri.
Toksin ini digunakan oleh von Behring dan Kitasato untuk biokulasi pada binatang yang
ternyata hasil percobaannya menghasilkan antitoksin. Perkembangan imunologi
selanjutnya adalah tahap modern oleh J.F.A.P. Miller yang menemukan adanya peran
sentral dari kelenjar timus.
Fungsi Sistem Imun
Menurut pendapat modern, respons imunologi menjalankan tiga fungsi. Fungsi
yang pertama adalah pertahanan (defense) melawan invasi mikroorganisme. Jika elemen
pertahanan seluler berhasil menyebar, maka hospes akan muncul sebagai pemenang, tetapi
bila elemn-elemennya hiperaktif, maka terjadilah alergi atau hipersensitivitas atau apabila
elemen ini hipoaktif, maka kerentanan terhadap infeksi ulang akan bertambah. Fungsi
kedua adalah homeostasis, yaitu memenuhi segala kebutuhan umum dari organisme
multiseluler untuk mempertahankan keseragaman dari jens sel tertentu. Selain itu,
homeostasis ini memperhatikan fungsi degenerasi dan katabolik normal dari isi tubuh
sendiri dengan pembersihan elemen sel yang rusak, seperti eritrosit dan leukosit dalam
sirkulasi. Fungsi ketiga adalah pengawasan dini (surveillance), yaitu memonitor
pengenalan jenis-jenis sel abnormal yang secara tetap selalu timbul dalam badan. Fungsi
Keempat yaitu menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak (debris sel) untuk
perbaikan jaringan. Fungsi yang kelima adalah mengenali dan menghilangkan sel yang
abnormal.
Mekanisme kerja sistem imun
Mekanisme sistem imun dapat dimulai dari peradangan. Peradangan diaktifkan
sebagai respon terhadap infeksi benda asing dengan ujuan untuk menarik protein plasma
dan fagosit ke tempat cedera atau terinvasi. Pada saat itu, makrofag mulai memfagosit
benda asing yang masuk serta menahan infeksi selama periode tertentu. Selanjutnya adalah
vasodilatasi lokal, yaitu arteriol di daerah yang terinfeksi berdilatasi disebabkan oleh
histamin, sehingga terjadi peningkatan aliran darah ke tempat cedera dan banyak leukosit
fagositik dan protein plasma yang tiba di tempat tersebut. Vasodilatasi lokal ini
menyebabkan juga menyebabkan pori-pori kapiler membesar dan protein plasma pun tidak
dapat keluar dari pembuluh darah. Protein plasma yang bocor menimbulkan tekanan
osmotik dan peningkatan darah kapiler, sehingga terjadilah edema lokal (pembengkakan).
Sebenarnya ketika protein plasma itu bocor, maka faktor terpenting adalah fibrinogen.
Fibrinogen akan diubah menjadi fibrinuntuk membentuk bekuan cairan untuk mencegah
penyebaran bakteri.
Tahap selanjutnya adalah emigrasi leukosit dan monosit. Leukosit dan monosit
beremigrasi dan melekat pada jaringan yang cedera. Lalu leukosit dan monosit tersebut
berdiapedesis dan menjulurkan suatu tonjolan panjang untuk menembus pori-pori kapiler
sehingga bagian sel lainnya dapat mengalir ke dalam tonjolan tersebut. Neutrofil lah yang
pertama kali tiba di tempat peradangan. Migrasi ini dipandu oleh gaya tarik mediator
kimiawi teretentu (kemotaksis). Dalam beberapa jam setelahnya, neutrofil lain datang dlam
jumlah yang banyak disebabkan oleh pemindahan sejumlah besar neutrofil yang sudah ada
dari simpanan di sumsum tulang dan pembentukan neutrofil di sumsum tulang. Di tempat
yang terjadi peradangan, neutrofil dan makrofag membersihkan daerah yang meradang dari
zat-zat toksik dengan cara fagosit (pencaplokan dan degradasi intrasel partikel dan debris
jaringan) maupun nonfagosit. Selain itu, fagosit yang dirangsang oleh mikroba
menghasilkan banyak zat kimiawi yang berfungsi sebagai mediator respon peradangan
yang menginduksi berbagai aktivitas imun yang saling berkaitan. Setelah zat-zat perusak
dihancurkan, maka perbaikan jaringan dapat dilakukan.
Selanjutnya ada sel natural killer yang secara nonspesifik melisiskan dan
menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus dan sel kanker pada pajanan pertama. Selain
itu ada interferon yang dikeluarkan oleh sel-sel yang terinfeksi virus dan untuk beberapa
saat menghambat multiplikasi virus di se-sel lain yang berikatan dengannya
Setelah diaktifkan oleh faktor-faktor mikrobadi tempat invasi, sistem komplemen
secara langsung menghancurkan penyerbu asing tersebut dengan melisiskan membran
mereka.

Penutup
Jadi secara lebih ringkas, imunologi merupakan ilmu yang mempelajari mengenai
daya tahan tubuh. Ada beberapa fungsi dari sistem imun, yaitu pertahanan, homeostasis,
pengawasan dini, perbaikan jaringan, dan mengenali sel yang abnormal. Setiap saat tubuh
kita dapat terkena infeksi oleh beberapa virus, maupun bakteri, atau bahkan kuman. Untuk
itu, kita diharapkan selalu menjaga kebersihan dan kesehatan diri sendiri.
REFERENSI

Baratawidjaja, K. G. (1996). Imunologi Dasar. Jakarta: Gaya Baru.


Bellanti, J. A. (1993). Imunologi III. (Terj. A. Samik Wahab). Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press
Sherwood, L. (2001). Fisiologi Manusia. (Terj. Brahm U. Pendit). Jakarta: EGC