Anda di halaman 1dari 10

Bab V.

METODA KERJA PEMBANGUNAN TOWER 108

Pembangunan tower baru T.108 perlu dilaksanakan dengan metoda kerja yang tepat, sehingga
dapat diselesaikan sesuai dengan target waktu maupun target biaya. Selain itu, diperlukannya
pekerjaan tower emergency menjadi salah satu tahapan sangat penting, karena akan
berdampak pada lamanya waktu pemadaman. Secara garis besar, tahapan pelaksanaan
konstruksi Tower baru T.108 adalah sebagai berikut:

1. Recheck Survey. Adalah pengukuran jalur termasuk pengukuran posisi rencana tower
serta pematokan titik lokasi pondasi/chimney.
2. Soil Investigasi. Penyelidikan tanah untuk memperoleh data daya dukung pada posisi
tower yang sudah fix serta nilai tahanan tanah. Penyelidikan ini diperlukan untuk
keperluan desain pondasi dan desain pentanahan.
3. Route Clearing. Merupakan pekerjaan penebangan pohon, pembongkaran bangunan-
bangunan yang berpotensi mengganggu penarikan kabel/konduktor dalam area ROW
4. Penyiapan Jalan Akses. Menyiapkan jalan akses untuk keperluan mobilisasi personil,
alat kerja, material, dll
5. Pekerjaan Tower Emergency dan pemindahan konduktor, OPGW/GSW, dll
6. Pekerjaan Pondasi
7. Pekerjaan Stub
8. Pekerjaan slope proteksi dan drainase
9. Erection Tower
10. Pekerjaan pentanahan (grounding)
11. Stringing

Masing-masing tahapan akan diuraikan pada Sub bab berikut.

5.1. Recheck Survey

Pekerjaan recheck survey dilaksanakan untuk pengecekan ulang hasil survey dan telah
dilakukan oleh owner. Pekerjaan survey harus terikat ke BM referensi yang sama dengan BM
referensi yg digunakan pada survey dan desain. Pekerjaan recheck survey menggunakan alat
ukur Total station atau Teodolit serta peralatan pendukungnya.

Recheck survey dilaksanakan untuk mendapatkan hasil sebagai berikut:

- Peta rute (route map)


- Gambar longitudinal profile
- Tower Schedule
- Gambar cross diagonal section (profile diagonal tapak tower)
- Tower pegging

5.2. Soil Investigasi

Soil investigasi atau penyelidikan tanah pada rencana pondasi tower bertujuan untuk
mengetahui sifat tanah untuk keperluan desain pondasi serta desain pentanahan (grounding).
Pekerjaan investigasi ini mencakup:

1
- Pemboran inti dengan kedalam minimal mencapai NSPT 50 sebanyak 3 kali berturut-
turut.
- Analisis laboratorium mekanika tanah
- Sondir (Dutch cone penetration test) dengan kedalaman minimal 20 m atau mencapai
nilai Qc 150 Kg/cm2
- Soil Resistivity test

5.3. Route Clearing

Route clearing adalah penyiapan area ROW jalur yang akan akan dilintasi oleh konduktor,
sehingga tidak menyulitkan pada saat penarikan atau stringing. Pekerjaan ini mesti didahului
dengan survey ROW, untuk melakukan pendataan objek route clearing yang juga merupakan
pendataan untuk kompensasi. Pekerjaan ini mencakup antara lain: penebangan pohon,
pembongkaran bangunan, dll.

5.4. Penyiapan Jalan Akses

Lokasi tower baru T.108 berjarak sekitar 1000 m dari jalan aspal, terdapat jalan akses berupa
jalan tanah lebar 2.5-5 m yang tidak bisa dilewati kendaraan 4WD dalam kondisi hujan. Jalan
eksisting ini perlu dilakukan perkerasan. Selain itu, diperlukan pembangunan jalan baru untuk
menuju lokasi tower baru sepanjang 50 – 60 m.

Jalan akses diperlukan untuk pekerjaan tower emergency, mobilisasi personil, mobilisasi
peralatan, mobilisasi material dan logistik lainnya.

5.5. Pekerjaan Tower Emergency

Pembangunan tower baru T.108 harus diawali dengan pemasangan tower emergency sehingga
memberikan ruang yang cukup untuk pembangunan tower baru. Instalasi tower emergency
dilakukan sebelum proses pekerjaan pondasi tower baru, sehingga pekerjaan stringing pada
tower emergency tidak mengganggu pekerjaan pembangunan tower baru. Pelaksanaan
instalasi tower emergency dapat dimundurkan sampai setelah selesai pekerjaan pondasi dan
sebelum pekerjaan erection tower. Instalasi dan stringing tower emergency dapat dilakukan
pada saat fase setting beton pondasi (fase pengerasan beton).

5.6. Pekerjaan Pondasi

Pekerjaan pondasi mencakup banyak tahapan pekerjaan yang dilakukan secara serial maupun
parallel. Pekerjaan pondasi mencakup antara lain:

a. Stake out / setting tapak pondasi. Pematokan as tower, pengecekan sudut arah tower dan
lokasi tapak sesuai dengan lahan yang dibebaskan.

2
b. Galian tanah. Pekerjaan galian dilakukan setelah posisi dan
metode galian disetujui oleh pengawas, dimana metode
galian harus memperhatikan keadaan / jenis tanah.
c. Pengeboran atau penggalian untuk borepile, pembesian dan
pengecoran borepile
d. Pasir urug dan lantai kerja (lean concrete).
e. Setting stub dan Cleats. Stub tower disetting sesuai dengan
gambar tower serta approval back to back tower. Setting
stub dilakukan sebelum besi tulangan dirangkai, kemudian
stub dikunci dan posisi stabil supaya tidak bergerak saat
pengecoran.
f. Pembesian dan bekisting. Pembesian mencakup Pad (pile
cap) dan chimney (pedestal).
g. Persiapan pengecoran. Pengecekan back to back tower, cek bekisting dan perancah, uji
sample kubus beton, uji slump beton, dll
h. Pengecoran
i. Proses curing beton
j. Urugan kembali galian pondasi dan pemadatan. Pengurugan kembali dilakukan lapis demi
lapis, dan tiap tahap lapis terlebih dahulu dilakukan pemadatan sebelum diurug lapis
berikutnya. Pemadatan dilakukan menggunakan alat (misalnya vibro roller)

5.7. Pekerjaan Stub

Pekerjaan stub sudah disinggung pada pekerjaan pondasi, dimana pekerjaan ini dapat
dikatakan sebagai interfacing antara pekerjaan pondasi dengan struktur tower. Stub adalah baja
yang tertanam dalam pondasi yang kemudian disambung dengan leg tower atau leg extension
tower, sehingga bisa tersambung dengan seluruh body tower. Stub tower dipasang dengan
memperhatikan kemiringan diagonal dan horizontal. Untuk mendapatkan kemiringan tersebut
harus menggunakan alat ukur Teodolit atau Total Station. Jika kemiringan sudah didapat, maka
Stub harus dikunci supaya tidak bergerak, tidak terganggu saat proses pengecoran.

5.8. Pekerjaan Slope proteksi dan Drainase

Kondisi lereng pada lokasi tower ini mengharuskan adanya pemasangan slope proteksi berupa
DPT (dinding penahan tanah). Dinding penahan tanah dibangun dengan konstruksi beton serta
didukung dengan pondasi borepile. Aliran air di permukaan tanah dialirkan melalui drainase
permukaan yang berujung pada spill way. Sedangkan aliran air bawah permukaan juga perlu
dikendalian dengan drainase bawah permukaan. Drainase bawah permukaan dibangun
terintegrasi dengan DPT.

5.9. Pekerjaan Erection Tower

Komponen utama dari fungsi structure pada sistem transmisi SUTT / SUTET adalah Tiang
(Tower). Tiang adalah konstruksi bangunan yang kokoh untuk menyangga / merentang

3
konduktor penghantar dengan ketinggian dan jarak yang aman bagi manusia dan lingkungan
sekitarnya dengan sekat insulator.

Pekerjaan erection tower dapat dilakukan jika beton pondasi sudah mencapai kekerasan
maksimum atau umur beton pondasi sudah ± 28 hari. Dalam keadaan tertentu, atas seijin
pengawas, dapat digunakan zat aditif untuk mempercepat perkerasan beton dan erection tower
dapat dimulai lebih cepat.

Pekerjaan erection tower terdiri dari:

- Stub (interfacing pondasi dengan tower)


- Leg / kaki tower
- Body extension tower
- Body part I
- Body part II
- Body part III
- Body part IV
- Cross Arm. Pada Tower 108 yang single circuit hanya ada 1 level cross arm. Namun
pada tower double circuit terdapat lower cross arm, middle cross arm dan upper cross
arm)
- Peak cross arm

Peralatan erection tower antara lain:

- Gane pole (alumunium)


- Batang kayu / rangka baja
- Batang bambu / rangka baja
- Tackle
- Small winch
- Sling baja
- Tripod
- Snaple
- Torque Wrench
- Kunci pas
- Dll

Prosedur erection tower:

- Perakitan tower dilakukan per bagian tower


- Pada saat pemasangan besi-besi bagian tower pada awalnya baut-baut tidak boleh
dipasang terlalu kencang
- Penyetelan ke empat besi siku utama (main member) diatas leg yang sudah terpasang
- Penyetelan bagian bawah tower (body extension)
- Penyetelan Body part (common part)
- Bagian-bagian cross arm dirangkai terlebih dahulu ditanah kemudian baru diangkat dan
dipasang pada body part
- Pemasangan cross arm dimulai dari yang paling atas (peak) kemudian berurutan ke
bagian bawah (Upper, middle dan lower)
- Setelah bagian-bagian terpenting terpasang semua dilanjutkan dengan pemasangan
aksesoris tower

4
- Setelah tower terpasang secara komplit baru semua baut-baut dikencangkan.

Aksesoris tower terdiri dari: step bolt, anticlimbing device, phase & number plate, danger plate
dan grounding.

5.10. Pekerjaan Pentanahan (Grounding)

Pekerjaan pentanahan didahului dengan pembuatan desain berdasarkan hasil soil resistivity
test. Gambar berikut adalah contoh desain pentanahan tower SUTET/SUTT.

5.11. Pekerjaan Stringing

Pekerjaan stringing atau penarikan konduktor serta OPGW/GSW mencakup pekerjaan sebagai
berikut:

- Pekerjaan persiapan
- Penempatan dan pemeriksaan peralatan stringing
- Pemasangan insulator set
- Pemasangan running out blocks
- Penarikan nylon rope
- Penarikan pilot wire
- Penarikan konduktor
- Sagging konduktor
- Clamping
- Final check

5
 About
 Land Survey
 Soil Investigation
 Foundation Work
 Structure Erection
 Stringing Work
 Reference
 Download
 Project Management

RSS Feed

Archive for the ‘Stringing Work’ Category


Wind Span, Weight Span & Equivalent (Ruling) Span 8
comments
Untuk menentukan wind span (bentangan angin) dan weight span (bentangan berat) dari
tower yang kita tinjau (yang diapit oleh dua buah tower) dapat kita lihat ilustrasi berikut :

L1 dan L2 adalah jarak datar antara tower (span), kiri dan kanan. Satuan dalam meter.

a1 dan a2, adalah jarak antara tower (yang tengah) ke titik lendutan terendah atau titik berat
konduktor sebelah kiri dan kanan tower. Satuan dalam meter.

maka :

wind span (wds) = (L1 + L2) / 2

6
weight span (wts) =a1 + a2

dan

Weight span to wind span ratio (R) = wts / wds.

Wind span berguna untuk mengitung gaya (Force) akibat beban angin horizontal pada
konduktor.

Weight span berguna untuk menghitung berat konduktor pada struktur tower.

Weight to wind span ratio (R) berguna untuk menentukan apakah struktur tower terjadi uplift
atau tidak. Nilai R berada dalam suatu rentang nilai tertentu dari hasil pengetesan, umumnya
0.7 – 1.3. Bila tower yang kita tinjau, semula adalah tower dengan tipe suspension (lurus),
namun bila setelah digambar sagging curve dan kita hitung nilai R-nya berada diluar rentang
nilai tersebut, maka tower terkena beban uplift sehingga tipe diganti menjadi tower tension
(sudut) yang jenisnya didasarkan dari besar sudut belokannya.

Untuk menentukan equivalent span atau dikenal dengan ruling span , lihat ilustrasi berikut :

Equivalen span ditentukan berdasarkan span (bentang atau gawang) antara 2 buah tower
tension (sudut), maka dari gambar diatas kita mencoba menghitung Equivalen span dengan
rumus :

Es = √ ( Σ Li^3/Σ L1) atau

Es = √ ( L1^3 + L2^3 +….+L6^3 / L1 + L2 + … + L6) ..lihat gbr diatas.

Nilai Es dapat juga ditentukan berdasarkan suatu rumus pendekatan, tapi tidak kita bahas dlm
blog ini, karena kita dapat menghitung secara real dengan rumus diatas.

Equivalen span ini berguna bila kita akan menggambar lendutan dengan memilih sagging
template dengan equivalen span yang cocok.

7
Sebagai contoh kasus bila dari perhitungan kita memperoleh Es = 287.23 m, sedangkan
sagging template yg kita telah buat hanya ada untuk equivalen span 250m, 300m, dan 350m
saja. Maka untuk menggambar lendutan pada diagonal profile disarankan untuk
menggunakan template dengan equivalen span 300 m, sehingga kita dapat memperkirakan
safety clearance-nya.

(bersambung)

Posted Thursday 16 June, 2011 by Fellow in Stringing Work

Jenis Konduktor Leave a comment


Ada beberapa standar jenis konduktor yang digunakan di Indonesia.

untuk konduktor dengan berbagai standard lainnya dapat diperoleh di :

http://www.sural.com/Products/catalog/bare/Bare_ACSR.pdf

Untuk di Indonesia menggunakan standar SPLN 41:7-1981 – Hantaran Alumunium


Berpenguat Baja (ACSR) :

8
Selain konduktor diatas, untuk keperluan re-conductoring dipergunakan jenis thermal
konduktor seperti T-ACSR , dan untuk konduktor pada daerah dengan tinkat polusi yang
tinggi menggunakan ACSR/AS dan T-ACSR/AS, spesifikasi teknis dapat mengacu pada
standar seperti ASTM,BS, DIN, IEC, JEC dll.

Posted Monday 16 May, 2011 by Fellow in Stringing Work

9
General : Pekerjaan Penarikan Leave a comment
Pekerjaan ini meliputi tahapan:

1. Pemasangan Insulator (Insulation)

2. Pekerjaan Penarikan dan Penegangan Kabel (Stringing and Sagging)

3. Pemasangan Asesoris pada kabel

4. Pemasangan Asesoris pada badan struktur

5. Pekerjaan Bush Clearing / ROW

Definisi kabel disini adalah berupa :

1. Konduktor (Conductor) penghantar listrik

2. Kabel Pentanahan (Ground Wire)

3. Kabel telekomunikasi (Optical Ground Wire)

Pada tiap kabel terdapat material bantu (accessories) untuk melengkapinya.

Berdasarkan jumlah konduktor dalam 1 phase circuit dikenal sebutan :

– Single-Bundle (satu kabel), misalnya : 1 x ACSR “Hawk”

– Double Bundle atau twin-conductor (dua kabel) : 2 x ACSR/AS “Zebra”

– Quadruple Bundle (emp4t kabel), misalnya 4 x ACSR “Gannet”

Jenis-jenis kabel yang dipasang, untuk :

1. Conductor , seperti jenis ACSR, T-ACSR, ACSR/AS dll sesuai dengan keperluan TL yang
akan dibangun yang dilengkapi dengan material asesories seperti Conductor Spacer, Armour
Rod, dll

2. Ground Cable atau Earth Wire , seperti GSW, AS dengan berbagai ukuran. Material
pelengkap yang mungkin dipasang adalah Aircraft Warning Sphere

3. Optical Ground Wire/OPGW , dengan berbagai ukuran dan spesifikasi yang telah
ditentukan, dan material pelengkap yang dibutuhkan adalah OPGW Joint Box

10