Anda di halaman 1dari 6

IDENTIFIKASI SIKAP KEPATUHAN PENGOBATAN PADA ODHA

DI POLI UPIPI RSUD DR.SOETOMO

Herdya Novi, Reliani, S.Kep., Ns., M.Kes., Yuanita Wulandari, S.Kep.,Ns.,M.S.


Program studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah, kampus FIK UMSurabaya, 60113.
Telp. (031) 3811966, Fax. (031) 3811967,
email : marshah9190@gmail.com

ABSTRAK

PENDAHULUAN ditemukan di provinsi Bali. HIV/AIDS


ditemukan di Indonesia tahun 1987 dan sudah
ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) menyebar di 386 provinsi di Indonesia.
memerlukan pengobatan dengan Antiretrovial Jumlah kumulatif dari tahun 1987 sampai
(ARV) untuk menurunkan jumlah virus HIV September 2014 yang dilaporkan untuk
dalam tubuh agar tidak masuk ke dalam penderita HIV berjumlah 150,296 orang dan
stadium yang lebih tinggi, pengobatan ARV AIDS berjumlah 55,799 orang (Dirjen PP &
juga berfungsi sebagai pencegah infeksi PL, Kemenkes RI, 2014). Jumlah kumulatif
oportunistik dan komplikasinya (Kemenkes penderita HIV dan AIDS bertambah pada
RI, 2014). Kepatuhan minum obat pada odha tahun 2016 sebanyak 198,219 orang HIV dan
meliputi ketepatan dalam waktu, jumlah, 78,292 orang AIDS (Dirjen P2P, Kemenkes
dosis, serta cara individu dalam RI, 2016). Infeksi HIV juga dapat membuat
mengkonsumsi obat pribadinya. Kepatuhan kerusakan progresif pada system kekebalan
terhadap antiretroviral theraphy(ARV) adalah tubuh sehingga menyebabkan AIDS (WH0,
kunci untuk menekan berkembangnya HIV, 2015).
mengurangi risiko resistensi obat, Menurut hasil penelitian (Dessy, 2016)
meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, pada ibu HIV yang berobat di Unit Perawatan
kualitas hidup, serta menurunkan risiko Intermediate penyakit Infeksi (UPIPI) ,
transmisi penyakit HIV (Dessy, 2016). penyebab ketidakpatuhan minum obat ARV
Dalam penanggulangan HIV/AIDS untuk karena seseorang penderita merasa sudah
pengobatan penderita, dimana hampir sehat sehingga tidak lagi minum obat, lupa
disemua Negara didunia mengalami masalah minum obat ARV, efek samping yang
yang sama yaitu tentang kepatuhan minum dirasakan setelah minum obat ARV dan jarak
obat penderita untuk mengkonsumsi ARV rumah ke Rumah sakit cukup jauh. Agar
(WHO, Progres report, 2016). HIV telah kegagalan tidak terjadi, motivasi sangat
menjadi masalah utama di dunia kesehatan diperlukan dalam menjalankan kepatuhan
masyarakat. World health organization terapi ARV, tanpa adanya motivasi terapi
(WHO) menyatakan bahwa 1,2 juta ARV tidak dapat dilanjutkan (Nursalam dan
meninggal, 36,9 juta orang hidup dengan Kurniawati, 2007). Selain itu, pengetahuan
virus ini. Pada tahun 2014 ada 2 juta orang ODHA tentang terapi ARV juga dapat
baru terinfeksi virus ini (WHO, 2015). mempengaruhi kepatuhan dalam mengikuti
HIV/AIDS di Indonesia pertama kali
aturan-aturan yang telah disepakati dalam untuk membuat penelitian mengenai
terapi ARV (Dima, et al., 2013). “Identifikasi Sikap Kepatuhan Pengobatan
Kepatuhan minum obat pada odha Pada ODHA di Poli UPIPI RSUD
meliputi ketepatan dalam waktu, jumlah, Dr.Soetomo.”
dosis, serta cara individu dalam
mengkonsumsi obat pribadinya. Kepatuhan METODE
terhadap antiretroviral theraphy (ARV) adalah
kunci untuk menekan berkembangnya HIV, Jenis penelitian ini merupakan
mengurangi risiko resistensi obat, penelitian“Deskriptif Kuanlitatif” Studi
meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, Kuanlitatif adalah penelitian ilmiah dengan
kualitas hidup, serta menurunkan risiko memperoleh data yang berbentuk angka atau
transmisi penyakit HIV (Dessy, 2016). data kuantitatif yang diangkakan (Sugiono,
Hasil observasi pada tanggal 22 oktober 2014). Desain penelitian yang digunakan
2017 di Poli UPIPI RSUD Dr.Soetomo yang dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan
mendapat pengobatan ARV sebanyak 100 pendekatan kuantitatif subjek diambil secara
orang perharinya, 40 dari mereka tidak datang snow ball sampling Pada penelitian
kembali untuk mengambil obat atau tidak ini,dilakukan dengan cara memberikan
patuh dalam pengobatan, sudah dilakukan kuesioner atau angket untuk menggali
pendekatan dan pendidikan kesehatan dengan pendapat atau penilaian responden terhadap
penyuluhan serta wawancara tentang masalah objek kesehatan melalui pertanyaan dan
apa yang menjadi penghalang penderita dalam jawaban tertulis (Notoadmodjo, 2010).
menjalani pengobatan, hampir semua
penderita memberikan alasan-alasan yang HASIL PENELITIAN
berbeda.
1. Data Umum
Kepatuhan adalah hal yang mutlak
dimiliki dan dilakukan oleh penerima ARV
Responden dalam penelitian ini berjumlah
sebagai bentuk perilaku mencegah resistensi
277 responden pasien HIV, berikut ini akan
dan upaya memaksimalkan manfaat terapi
diuraikan tentang karakteristik umum
serta mengurangi kegagalan pengobatan.
responden yang meliputi jenis kelamin, umur,
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
pendidikan, lama menderita dan lama
penderita HIV/AIDS harus patuh dalam
pengobatan
pengobatan ARV, pelanggaran atau
ketidakpatuhan minum obat ARV dapat 1) Distribusi Responden Berdasarkan
meningkatkan risiko penularan HIV kepada Jenis Kelamin
lingkungan sekitar ataupun keluarga terdekat.
Pelanggaran dalam minum obat berakibat Tabel 4.1 Distribusi Responden
fatal, bahkan dapat menyebabkan kegagalan Berdasarkan Jenis kelamin Di
dalam proses pengobatan. Poli UPIPI RSUD
Sebuah penelitian mengenai pengobatan Dr.Soetomo pada tanggal 9
ARV, ditemukan bahkan satu dosis yang maret – 14 maret 2018
terlewat dalam 28 hari, diasosiasikan dengan Jenis Frequency Percent
kegagalan proses perawatan (Montaner, et al., kelamin
2004). laki-laki 140 50,5
Melihat dampak negative yang Perempuan 137 49,5
ditimbulkan akibat ketidak patuhan ODHA Total 277 100.0
yang menerima terapi ARV, maka sebagai
perawat yang juga memiliki tugas pemberi Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan
edukasi perlu memberikan intervensi pada bahwa distribusi responden berdasarkan jenis
ODHA untuk meningkatkan kepatuhan kelamin yang sudah sesuai dengan kriteria
minum obat ARV, dengan cara memberikan eksklusi dan inklusi adalah berjenis kelamin
pendidikan kesehatan. Latar belakang yang wanita sebanyak 140 orang (50,5%)
dipaparkan di atas membuat peneliti tertarik
sedangkan laki-laki sebanyak 137 orang Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan
(49,5%) dari 277 responden. bahwa dari 277 responden jumlah status
pendidikan responden yang paling banyak
2) Karakteristik responden berdasar SMA sebanyak 48 orang (34,2%), dan jumlah
Umur status pendidikan responden terendah tidak
sekolah sebanyak 1 orang (0,7%).
Tabel 4.2 Karakteristik responden
berdasar Umur di poli UPIPI 4) Karakteristik responden berdasar
pada tanggal 9 maret – 14 Penyakit penyerta
maret 2018
Umur Frequency Percent Tabel 4.4 Karakteristik responden
20-23 tahun 45 16.2 berdasar Penyakit penyerta di
24-27 tahun 46 16.6 poli UPIPI pada tanggal 9
28-31 tahun 35 12.6 maret -14 maret 2018
32-35 tahun 63 22.7 Kategori Penyakit
Penyerta Pria Wanita
36-39 tahun 40 14.4
Responden
40-43 tahun 26 9.4
Σ % Σ %
44-47 tahun 15 5.4
48-51 tahun 6 2.2 Hipertensi 33 23,5 33 24,0
52-55 tahun 1 0.4 Diabetes Melitus 35 25 38 27,8
Total 277 100.0 TBC 42 30 40 29,2
Lain-lain 30 21,5 26 19
Total 140 100 137 100
Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan
bahwa dari 277 responden. jumlah umur
responden yang paling banyak berumur 32-35 Berdasarkan tabel 4.3 menunjukkan
tahun sebanyak 63 orang (22,7%), dan jumlah bahwa j dari 277 responden umlah penyakit
umur responden terendah berumur 52-55 penyerta responden yang paling banyak TBC
tahun sebanyak 1 orang (0,4%) sebanyak 40 orang (30%), dan jumlah
penyakit penyerta responden terendah lain-
3) Karakteristik responden berdasar lain sebanyak 26 orang (19%).
Status Pendidikan
5) Karakteristik responden berdasar
Tabel 4.3 Karakteristik responden lama menderita HIV/AIDS
berdasar Status pendidikan di
poli UPIPI pada tanggal 9 Tabel 4.5 Karakteristik responden
maret – 14 maret 2018 berdasar lama menderita
HIV/AIDS di poli UPIPI pada
Kategori Pria Wanita tanggal 9 maret – 14 maret
Pendidikan 2018
Σ % Σ %
Responden Lama Menderita Frequency Percent
Tidak < 12 bulan 44 15.9
0 - 1 0,7
sekolah 12 bulan 100 36.1
SD 20 14,3 20 14,6 > 12 bulan 133 48.0
SMP 38 27,2 40 29,2 Total 277 100.0
SMA 48 34,2 44 32,2
D3/sarjana 34 24,3 32 23,3 Berdasarkan tabel 4.4 menunjukkan
14 13 bahwa dari 277 responden jumlah lama
Total 0 100 7 100 menderita responden yang paling banyak >12
bulan sebanyak 133 orang (48,0%), dan
jumlah lama menderita responden terendah
<12 bulan sebanyak 44 orang (15,9%).
6) Karakteristik Responden berdasarkan ada 141 responden (50,9%) dan kategori
Lama pengobatan negative ada pada ODHA 136 pasien
(49,1%). Dapat dilihat juga bahwa sebagian
Tabel 4.6 Karakteristik responden besar responden menjawab dengan benar
berdasarkan Lama pengobatan pertanyaan yang diberikan tentang hal-hal
di poli UPIPI pada tanggal 9 yang berkaitan dengan pengobatan baik itu
maret – 14 maret 2018 tentang kepatuhan terapi, efek samping yang
Lama Frequency Percent mungkin terjadi dan resiko bila lupa minum
Pengobatan obat.
< 12 bulan 134 48.4
12 bulan 61 22.0 PEMBAHASAN
> 12 bulan 82 29.6
Total 277 100.0 Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Poli
UPIPI RSUD Dr.Soetomo Surabaya, 50,9%
Berdasarkan tabel 4.6 menunjukkan dari penderita mempunyai sikap kepatuhan
bahwa dari 277 responden jumlah lama yang positif terhadap pengobatan. Rumah
pengobatan responden yang paling banyak Sakit dianggap baik apabila dalam
<12 bulan sebanyak 134 orang (48,4%), dan memberikan pelayanan kesehatan lebih
jumlah lama pengobatan responden terendah memperhatikan kebutuhan pasien maupun
12 bulan sebanyak 61 orang (22,0%). orang lain yang berkunjung kerumah sakit,
4.1.1 Data khusus kepuasan muncul dari kesan pertama masuk
Data khusus mengenai identifikasi pasien terhadap pelayanan keperawatan yang
sikap kepatuhan pada kelompok ODHA diberikan, misalnya: pelayanan yang
sebagai berikut : cepat,tanggap dan keramahan dalam
Tabel 4.6 distribusi responden memberikan pelayanan keperawatan dan
berdasarkan sikap pengobatan (Cecep Triwibowo, 2012).
kepatuhan di poli UPIPI Menurut Gennaro (2000) parameter
pada tanggal 9 maret – 14 kepatuhan penggunaan obat terdiri dari
maret 2018 keberhasilan menebus resep, ketepatan dosis
Kepatuhan Jumlah Presentase (frekuensi dan jumlah), ketepatan dalam
Sikap positif 141 50.9 penggunaan, dan ketepatan waktu dan lama
Sikap negative 136 49.1 penggunaan. Menurut Home (2006) mengenai
Total 277 100% hal yang mempengaruhi kepatuhan dalam
minum obat, yaitu perilaku responden (misal
Berdasarkan hasil analisis deskriptif keyakinan, sikap dan harapan yang akhirnya
diperoleh nilai (ungrouped data) ODHA mempengaruhi motivasi pasien untuk mulai
terhadap kepatuhan pengobatan, Sikap dan menjaga perilaku minum obat), adanya
kepatuhan pada ODHA yang menunjukkan hubungan interaksi dan komunikasi antara
persentase sikap positif 50,9% dan sikap dokter dan pasien untuk intervensi kepatuhan
negative sebesar 49,1% dengan total jumlah minum obat misal petugas meminta pasien
responden sebanyak 277 orang. mengingat tentang aturan minum obat.
Stigma berawal dari adanya pemahaman
4.2 Analisa Identifikasi Sikap Kepatuhan yang salah mengenai cara penularan
Pengobatan pada ODHA. HIV/AIDS dan anggapan bahwa HIV/AIDS
merupakan penyakit yang menjijikkan yang
Analisa Identifikasi Sikap Kepatuhan menjangkiti orang yang menyimpang perilaku
Pengobatan pada ODHA di Poli UPIPI RSUD seksualnya.
Dr.Soetomo. Berdasarkan data diatas Bagi masyarakat awam,interaksi soaial
menunjukkan bahwa hasil penelitian dikhawatirkan menjadi penyebab penularan
identifikasi sikap kepatuhan pada ODHA masih banyak yang mengganggap bahwa
sebagian besar sikap responden terhadap sentuhan, pelukan, jabat tangan, berciuman,
kepatuhan pengobatan pada ODHA positif penggunaan alat makan/minum bersama,
penggunaan kamar mandi bersama, tinggal
serumah, gigitan nyamuk bahkan berenang merupakan permasalahan umum. Berbagai
bersama dengan penderita bisa menularkan penelitian menunjukkan hal-hal yang
HIV/AIDS. menghambat kepatuhan antara lain takut akan
ODHA memerlukan ARV biasanya bila efek samping, lupa, gaya hidup yang tidak
level CD4 < 350/mm3. Penggunaan ARV di sehat, kondisi kesehatan yang kurang baik.
Indonesia sudah dimulai pada tahun 1990 kotak obat hilang, kurangnya kesadaran
dengan menggunakan obat paten, baru pada pribadi, mengalami infeksi oportunistik,
bulan November tahun 2001 menggunakan aktivitas sehari-hari, permasalahan ekonomi
obat generic.Kimia Farma sendiri baru yaitu penghasilan yang tidak mencukupi
mampu memproduksi ARV generic pada untuk pengobatan ARV, pekerjaan yang tidak
akhir tahun 2003, sehingga obat ARV dapat memungkinkan, dan takut akan stigma.
diberikan secara Cuma-Cuma sejak tahun Sedangkan pendukung kepatuhan antara lain
2004. Hingga saat ini sumber obat ARV di mempunyai jadwal rutin minum obat,
Indonesia berasal dari dana APBN yang memahami pentingnya kepatuhan, mendapat
diproduksi oleh kimia farma dan dari Global hasil pengobatan yang baik serta keyakinan
Fund dengan perbandingan dana 70:30. pada proses pengobatan. (Veronica, 2012)
Terapi ARV (ART) selalu digunakan Sejalan dengan penelitian diatas,dalam
dalam bentuk kombinasi, oleh karena itu penelitian ini penyebab sikap ketidakpatuhan
disebut HAART (Highly Active Antiretroviral yang dinyatakan ODHA antara lain
Therapy). Sampai saat ini sudah ada yang efeksamping obat seperti mual,pusing,rasa
diwawancarai masih menggunakan terapi bosan,dan tenaga kesehatan yang kurang
ARV lini pertama yaitu kombinasi Neviral- ramah serta rasa takut bahwa statusnya akan
Duviral dan Duviral-Efavirenz. Kepatuhan diketahui orang lain. Selain itu terkadang
dalam penggunaan obat sebagai suatu ODHA terlambat atau terlewat minum ARV
perilaku kesehatan dapat ditinjau dari karena lupa atau tertidur. Malta dan
perspektif psikologi khususnya teori kognisi Kumarasamy menyatakan bahwa persepsi
sosil seperti Health Belief Model (HBM), ODHA terhadap keparahan penyakit dan
Theory of Planned Behavior (TPB) dan keyakinan akan manfaat ARV mempengaruhi
Informational-Motivational-Behavioural kepatuhan dalam minum ARV. Walter juga
Model (IMB). Ashraf Kagee telah melakukan menyatakan bahwa ODHA yang mampu
review terhadap ketiga teori tersebut dalam mengatur pengobatan dan merasakan hasil
kaitannya dengan kepatuhan dalam positif dari pengobatan menjadi lebih patuh
penggunaan ARV. minum ARV. Beberapa ODHA mempunyai
Berdasarkan teori HBM suatu perilaku strategi khusus dalam menjalani terapi ARV,
aksi akan terbentuk dari persepsi seseorang Misalnya menganggap ARV sebagai vitamin
terhadap kerentanan dan keparahan penyakit sehingga tidak menjadi beban, begitu pula
serta persepsi terhadap manfaat dan hambatan ketika ada yang bertanya tentang obat yang
yang dihadapi. TPB menyatakan bahwa mereka minum dikatakan sebagai obat sakit
sikap,dukungan normative dan persepsi kepala,vitamin atau supaya gemuk sehingga
terhadap kontrol perilaku merupakan penentu merasa tidak perlu minum obat secara
intensi sedangkan intensi merupakan penentu sembunyi-sembunyi. ODHA yang memiliki
utama terjadinya suatu perilaku.Sikap positif strategi minum obat yaitu mengganggap obat
secara umum akan meningkatkan kepatuhan sebagai vitamin atau obat lain cenderung
sebaiknya sikap negatif terhadap ARV lebih patuh minum obat ARV. (Yuyun , 2012)
misalnya kekhawatiran akan efek samping Demikian pada ODHA yang memiliki
dan persepsi tidak memerlukan ARV teman-teman sesame ODHA pada umumnya
berkaitan dengan ketidakpatuhan.Akan tetapi bisa bertukar informasi dan saling berbagi
belum ada penelitian yang menjelaskan secara pengalaman untuk mendukung dan
holistic mengenai kepatuhan terhadap ARV mengingatkan kepatuhan minum obat. Bagi
menggunakan TPB. ODHA yang masih tertutup biasanya
Mengingat terapi ARV adalah terapi dukungan dari LSM, KDS dan manajer kasus
seumur hidup, maka masalah kepatuhan terapi menjadi faktor pendukung ODHA
mendapatkan ilmu lebih baik banyak
kelompoknya, selain itu kebersamaan
memberi kesempatan untuk aling berbagi dan
saling mengingatkan termasuk dalam hal
minum obat.

SIMPULAN DAN SARAN


1. Simpulan
Sebagian besar penderita HIV yang
berobat di Poli UPIPI menjalani
pengobatan dengan teratur,namun masih
ada yang tidak menjalani pengobatan
dengan teratur. Seorang ODHA harus
memperhatikan, mentaati dan menjalani
pengobatan dengan baik.Sehingga sikap
kepatuhan harus dibangkitkan agar terjadi
kepatuhan dalam pengobatan di Poli
UPIPI RSUD Dr.Soetomo.
2. Saran
1) Bagi Rumah sakit dan Institusi
Hasil penelitian menunjukkan sikap
kepatuhan yang masih berada pada tingkat
sedang, sehingga disarankan bagi Rumah
sakit atau institusi untuk tetap terus
meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan yang lebih baik dan lengkap
bagi setiap ODHA baik yang baru
menjalani ARV ataupun yang sudah lama
menjalani pengobatan.
2) Bagi peneliti
Diharapkan pada penelitian selanjutnya
dapat dilakukan penelitian lanjutan yang
dilihat dari aspek-aspek yang belum
diteliti dalam penelitian ini dan
melengkapi kekurangan yang terdapat di
dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA