Anda di halaman 1dari 9

MAKNA AGAMA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL

A. PENDAHULUAN
Secara umum, kajian tentang agama setidaknya terbagi ke dalam dua dimensi,
yakni teologis dan sosiologis. Kajian agama dalam corak teologis berangkat dari
adanya klain tentang kebenaran mutlak ajaran suatu agama. Dokrin-dokrin keagamaan
yang diyakini berasal dari Tuhan, kebenarannya juga diakui berada di luar jangkauan
kemampuan pikiran manusia sehingga ia semata-mata menjadi ajaran yang cukup
diimani saja, pokoknya iman. Oleh karena itu, teologi sebagai suatu disiplin ilmu
yang mengkaji agama, tidak pernah bisa beranjak dari frame diatas, yaitu keimanan
mutlak terhadap kebenaran ajaran agama yang diyakininya. Bahkan, misi
sesungguhnya dari teologi adalah mempertahankan dokrin agama dengan
menggunakan term-term yang rasional filosofis, sehingga tidaklah mengherankan jika
ahli filsafat agama jika ikut ambil bagian dalam tugas ahli teologi ini (Shcarf, 1995).
Berbeda dari dimensi teologis, dimensi sosiologis melihat agama sebagai salah
satu dari institusi sosial, sebagai subsistem dari sistem sosial yang mempunyai fungsi
sosial tertentu, misalnya sebagai salah satu pranata sosial, social institution. Karena
posisinya sebagai subsistem, maka eksistensi dan peranan agama dalam suatu
masyarakat tak ubahnya dalam posisi dan peran subsistem lainnya, meskipun tetap
mempunyai fungsi yang berbeda. Dengan kata lain, posisi agama dalam suatu
masyarakat bersama-sama dengan subsistem lainnya (seperti subsistem ekonomi,
politik, kebudayaan, dll) mendukung terhadap ekstensi suatu masyarakat. Dalam
konteks kajian sosiologi seperti ini, agama tidak dilihat berdasarkan apa dan
bagaimana isi ajaran dan dokrin keyakinannya, melainkan bagaimana ajaran dan
keyakinan agama itu dilakukan dan wujud dalam perilaku para pemeluknya dalam
kehidupan sehari-hari. Studi tentang perilaku keberagamaan manusia dalam dunia
realitas seperti itulah yang kemudian dikenal dengan sosiologis agama. Dengan
demikian, sosiologi agama mencoba memahami makna yang diberikan oleh
masyarakat kepada sistem agama tertentu, berbagai hubungan antar agama di
dalamnya, dan dengan berbagai aspek budaya atau teknologi.

B. PEMBAHASAN
1. Fungsi Agama dalam Masyarakat
Dalam pandangan Broom dan Selznick, setiap masyarakat bisa tetap eksis dan
survive karena sifat kooperatif anggota-anggotanya. Sifat kooperatif antar warga
masyarakat itu sendiri diperoleh melalui jalur sosialisasi dan agama adalah sumber
utama proses sosialisasi yang dimaksud. Karena itu, agama berperan memberikan
sokongan psikologis. Agama selain membantu orang dari kebingungan dunia dan
menawarkan jawaban tentang berbagai permasalahan, juga memberikan kekuatan
moral (Broom dan Selznick, 1981:398).1
____________
1
Dwi Narwoko, dkk. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, Jakarta : Prenada Media, 2004, hal. 232.
Secara lebih rinci, beberapa fungsi agama dalam masyarakat adalah sebagai
berikut :
1. Agama mendasar perhatiannya pada sesuatu yang ada diluar jangkauan
manusia yang melibatkan takdir dan kesejahteraan. Manusia membutuhkan
dukungan moral disaat menghadapi ketidakpastian dan membutuhkan
rekonsiliasi dengan masyarakat bila diasingkan dari tujuan dan norma-
normanya. Karena gagal mengejar aspirasi, karena dihadapkan dengan
kekecewaan, serta kebimbangan maka agama menyediakan sarana
emosional penting yang membantu dalam menghadapi unsure-unsur
kondisi manusia tersebut.
2. Agama menawarkan suatu hubungan transcendental melaui pemujaan dan
upacara ibadat, sehingga memberikan dasar emosional bagi rasa aman baru
dan identitas yang lebih kuat di tengan ketidakpastian dan
ketidakberdayaan kondisi manusia dari arus perubahan sejarah.
3. Agama menyucikan norma-norma dan nilai masyarakat yang telah
terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok diatas keinginan
individu, dan disiplin kelompok diatas dorongan hati individu. Dengan
demikian, agama memperkuat legitimasi pembagian fungsi, fasilitas, dan
ganjaran yang merupakan cirri khas suatu masyarakat. Agama juga
menangani keterasingan dan kesalahan individu yang menyimpang.
4. Agama melakukan fungsi-fungsi identitas yang penting. Dengan menerima
nilai-nilai yang terkandung dalam agama dan kepercayaan tentang hakikat
dan takdir manusia, individu yang mengembangkan aspek penting tentang
pemahaman diri dan batasan diri. Melalui peran serta manusia di dalam
ritual agama dan doa, mereka juga melakukan unsure-unsur signifikan
yang ada dalam identititasnya. Dengan cara ini, agama mempengaruhi
pengertian individu tentang siapa dia dan apa dia.

2. Pelembagaan Agama
Pelembagaan agama pada dasarnya berlangsung pada tiga tingkat yang saling
memengaruhi, yaitu ibadah, doktrin, dan organisasi. Pelembagaan agama adalah
suatu tempat atau lembaga dimana tempat tersebut untuk membimbing manusia
yang mempunyai atau menganut suatu agama dan melembagai suatu agama.
Seperti di Indonesia pelembagaan agamanya seperti MUI, MUI itu sendiri
singkatan dari Majelis Ulama Indonesia,yang menghimpun para ulama indonesia
untuk menyatukan gerak langkah islam di Indonesia, MUI yang melembagai atau
membimbing suatu agama khususnya agama islam.
Dengan kata lain pelembagaan agama adalah wadah untuk menampung
aspirasi-aspirasi di setiap masing-masing agama. ketika ada selisih paham yang
tidak sependapat dengan agama yang bersangkutan, maka masalah tersebut di
bawa ke pelembagaan agama, untuk di tindak lanjuti.dengan memusyawarahkan
masalah tersebut dan di ambil keputusan bersama dan di sepakati bersama pula.
3. Proses Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam Kehidupan Sosial (proses masuknya
nilai-nilai agama dalam kehidupan sosial)
Internalisasi merupakan proses masuknya nilai-nilai agama ke dalam
kehidupan sosial masyarakat. Nilai-nilai agama yang masuk ke dalam kehidupan
masyarakat terjadi melalui berbagai cara. Sebelum islam datang ke Indonesia,
masyarakat Indonesia telah memiliki system kepercayaan tersendiri. Kepercayaan
tersebut telah mengalami beberapa kali peralihan. Pertama, nenek moyang bangsa
Indonesia menganut Kepercayaan Animisme dan Dinanisme. Kedua, melalui
perkembangan peradaban masyarakat Indonesia muncul kepercayaan baru yakni
agama Hindu (Hinduisme) dan Buddha ( Buddhaisme ).
Sistem kepercayaan masyarakat pada saat itu juga mempunyai nilai-nilai
tersendiri bagi mereka. Masyarakat terdahulu menganggap bahwa tuhan sangat
dekat kaitannya dengan alam, maka masyarakat terdahulu menganggap bahwa
semua yang bernyawa dan yang dianggap keramat itu adalah tuhan yang patut
disembah.
Seiring dengan perkembangan zaman, perubahan sistem kepercayaan
berangsur-angsur berubah menjadi lebih baik dan terarah. Islam mulai dikenal dan
mulai banyak dianut oleh masyarakat Indonesia. Nilai-nilai agama pun masuk ke
lingkungan masyarakat dengan berbagai cara, terutama lewat budaya dan adat
istiadat.

Pengaruh Islam dalam Adat Istiadat


1. Peran Walisongo dalam Menyiarkan Islam
Adat istiadat adalah tata kelakuan yang kekal dan trun-temurun dari
generasi sau ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat intregrasinya. Para
wali songo dalam menyiarkan islam menggunakan tradisi local sebagaimana
yang berlaku di masyarakat dari pada menentang/merombaknya. Melalui
tradisi inilah, mereka memasukkan nilai-nilai ajaran agama. Ternyata dengan
cara yang demikian, dalam waktu yang tidak lama agama islam telah terkenal
dan di terima oleh masyarakat.
Dampaknya,syariat islam yang di perkenalkan di masyarakat adalah
syariat yang sedikit banyak telah di padukan dengan tradisi local yakni tradisi
yang berlaku di masyarakat. Untuk itu, para penyiar islam berusaha mewarnai
dengan ajaran islam, sehingga betul-betul menjadi tradisi islami.

2. Pengaruh Islam terhadap Tradisi masyarakat


Sementara itu, masih banyak pula ajaran islam yang telah menjadi
tradisi di masyarakat seperti khitanan. Dulu sebelum ada ajaran islam
masyarak tidak mengenal dengan tradisi tersebut, tapi setelah masuknya islam,
khitanan menjadi tradisi masyarakat. Sekarang khitanan pun menjadi
seremional yang harus di lakukan oleh masyarakat. salah satu fungsinya
adalah untuk menentukan status sosialnya. Jika hal tersebut tidak di lakukan,
maka akan di anggap telah melanggar adat istiadat dan akan menemukan
kesulitan dalam beradaptasi dg lingkungannya.
Pengaruh islam juga terlihat pula pada acara selamatan, baik
perkawinan, kematian ataupun kehamilan. Sebelum islam datang biasanya
selamatan ini di sertai dengan pembacaan mantra-mantra dan berbagai sesaji
sebagai persembahan untuk para dewa, namun setelah datangnya islam hal tsb
mengalami perubahan pembacaan mantra-mantra di ganti dg pembacaan do’a-
do’a dan ayat suci al-qur’an.
Contoh lainya adalah perayaan hari raya idhul fitri dan idhul adha.
Kedua hari raya umat islam ini di sambut oleh seluruh ummat islam. Hal ini
terjadi karena telah menjadi tradisi masyarakat.
Pengaruh islam terhadap adat-istiadat ini tidak mudah lepas dari
kehidupan masyarakat, karena kemajuan ilmu teknologi dan ilmu pengetahuan
tidak begitu mempengaruhi adat-istiadat.2

4. Pengaruh Agama Terhadap Kehidupan Sosial


Masyarakat adalah gabungan dari kelompok individu yang terbentuk
berdasarkan tatanan sosialtertentu. Dalam kepustakaan ilmu- ilmu sosial dikenal
tiga bentuk masyarakat, yaitu: masyarakat homogen, masyarakat majemuk,
dan masyarakat heterogen.Terlepas dari penggolongan masyarakat tersebut, pada
dasarnya masyarakat terbentuk dari adanyasolidaritas dan konsensus. Solidaritas
menjadi dasar terbentuknya organisasi dalam masyarakat,sedangkan konsensus
merupakan persetujuan bersama terhadap nilai-nilai dan norma- norma yang
memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok (Thomas E O’dea, 1985:
107).
Nilai-nilai dan norma- norma yang memberikan arah dan makna bagi
kehidupan masyarakat ialah agama. Masalah agama tak akan mungkin dapat
dipisahkan dari kehidupan masyarakat, karena agama itu sendiri ternyata
diperlukan dalam kehidupan masyarakat. Dalam prakteknya pengaruh agama
dalam masyarakat antara lain:
1. berpengaruh dalam bidang Edukatif (Pendidikan). Ajaran agama
secara yuridis berfungsi menyuruh dan melarang. Kedua unsur suruhan dan
larangan ini mempunyai latar belakang mengarahkan bimbingan pribadi
penganutnya menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama
masing masing.
2. Berfungsi sebagai Penyelamat Keselamatan yang meliputi bidang yang luas
adalah keselamatan yang diajarkan oleh agama. Keselamatan yang diberikan oleh
agama kepada penganutnya adalah keselamatan yang meliputi dua alam yaitu:
dunia dan akhirat. Dalam mencapai keselamatan itu agama mengajarkan para
penganutnya untuk mengenal terhadap sesuatu yang sacral yang disebut
supernatural. Berkomunikasi dengan supernatural dilaksanakan dengan
berbagai cara sesuai dengan ajaran agama itu sendiri, diantaranya:

____________
2
. Al-Fauzan, Proses Akulturasi Nilai Islam dalam Budaya Lokal Nusantara, dalam
http://085859933677.blogspot.co.id/2013/10/proses-akulturasi-nilai-islam-dalam.html diakses pada 19 April
2016
a. Mempersatukan diri dengan Tuhan ( pantheisnae )
b. Pembebasan dan pensucian diri ( penebusan dosa )
c. Kelahiran kembali ( reinkarnasi ) Untuk kehadiran Tuhan bisa dalam bentuk
penghayatan batin yaitu melalui meditasi sedangkan kehadiran dalam
menggunakan benda- benda atau lambang melalui:
a. Theophania spontanea: Kepercayaan bahwa Tuhan dapat
dihadirkan dalam benda- bendatertentu, seperti tempat angker. Gunung, danau,
arca, dan lainnya.
b. Theohania Incativa: Kepercayaan bahwa Tuhan hadir
dalam lambang melalui permohonan, baik melalui Invocativa magis (mantera,
dukun) maupun invocative religious (permohonan, doa,kebaktian dan sebagainya).
3. Berfungsi sebagai Pendamaian. Melalui agama seseorang yang bersalah
atau berdosa dapat mencapai kedamaia batin melalui tuntunan agama. Rasa
berdosa dan bersalah akan segera menjadi hilang dari batinnya apabila sesorang
yang bersalah telah menebus dosanya melalui: tobat, pensucian jiwa, ataupun
penebusan dosa
4. Berfungsi sebagai Social control. Dalam hal ini agama dapat berfungsi
sebagai pengawas baik secara individu maupun secara kelompok, karena:
a. Secara instansi agama, merupakan norma yang harus dipatuhi oleh para
pengikutnya.
b. Secara dogmatis (ajaran) mempunyai fungsi kritis yang bersifat profetis (ke
nabiaan).
5. Berpengaruh terhadap rasa solidaritas. Para penganut agama yang sama
secara psikologis akan merasa memiliki kesamaan dalam satu kesatuan dalam
iman dan kepercayaan. Rasa kesatuan ini akan menimbulkan rasa solidaritas
dalam kelompok maupun perorangan, bahkan kadang- kadang dapat membina
rasa persaudaraan yang kokoh. Bahkan rasa persaudaraan (solidaritas) itu bahkan
dapat mengalahkan rasa kebangsaan.
6. Berfungsi Transformatif. Ajaran agama dapat merubah kehidupan sesorang
atau kelompok menjadi kehidupan baru sesuai dengan ajaran agama yang
dianutnya.
7. Berfungsi Kreatif. Ajaran agama mendorong dan mengajak para
penganutnya untuk bekerja produktif bukan saja untuk kepentingan dirinya
sendiri, tetapi juga untuk kepentingan orang lain. Penganut agama bukan saja
disuruh bekerja secara rutin dalam pola hidup yag sama, akan tetapi juga dituntut
untukmelakukan inovasi dan penemuan baru dalam pekerjaan yang dilakukannya.
8. Berfungsi Sublimatif. Ajaran agama mengharuskan segala usaha manusia
bukan saja yag bersifat ukhrawi melainkan juga bersifat duniawi. Segala usaha
manusia selama tidak bertentangan dengan norma- norma agama,bila dilakukan
dengan ikhlas karena Allah merupakan ibadah.
5. MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN MAKNA AGAMA DAN
PENGARUHNYA DALAM MASYARAKAT

Dinilai Langgar Pernyataan, Penanggungjawab Konser Bergek Diberi Sanksi


EDITOR: ZULKARNAINI 14 Maret 2016

KLIKKABAR.COM
BANDA ACEH – Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE mengatakan,
terkait konser Adi Bergek di Taman Sri Ratu Safiatudin, Sabtu malam 12 Maret 2016 ketika
mengajukan Izin penyelenggaraan kegiatan ke Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu
Pintu (KPPTSP) Kota Banda Aceh, pihak penyelenggara/penanggungjawab kegiatan telah
membuat pernyataan secara tertulis yang menyatakan bahwa dalam pelaksanaan acara
tersebut akan memenuhi peraturan sesuai dengan kondisi daerah yang melaksanakan Syariat
Islam dan memenuhi fatwa tentang syarat-syarat keramaian sesuai keputusan MPU Aceh
nomor 6 tahun 2003.

Dalam pernyataan tersebut, kata Illiza, pihak penyelenggara telah menyatakan untuk tunduk
sesuai dengan peraturan yang berlaku seperti, Penonton maupun para Pemain atau pemegang
peran dalam pertunjukan tidak bercampur antara laki-laki dan perempuan, Materi, bentuk,
cara penampilan tidak menjurus maksiat, pornografi, tidak membawa kepada syirik, merusak
aqidah, melecehkan agama dan moral.

Selanjutnya Panitia, pemain, pelayan dan penonton harus berpakaian menutup aurat, sopan,
layak dan tempat acara penonton pria dan wanita dipisahkan, diatur secara baik dan pantas.
“Namun jika dalam pelaksanaan di lapangan ternyata tidak sesuai dengan pernyataan yang
telah dibuat kami kira ini kesalahan dari penyelenggara dan pemko akan mengevaluasi
panitia pelaksana,” kata Illiza.

Ditegaskannya, kasus ini hendaknya menjadi pengalaman dan pelajaran bagi kita bahwa
untuk ke depannya pelaksanaan kegiatan serupa harus sesuai dengan syariat Islam.
Pola pengawasan untuk kegiataan seperti ini akan terus kita perbaiki, dalam sop harus
dipastikan tentang jaminan kepatuhan penyelenggara utk pemisahan antara penonton
perempuan dan laki-laki. Selain itu, Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh EO
hendaknya harus sesuai dengan norma-norma islam dan kearifan lokal. Budaya Islami dalam
segenap aktifitas masyarakat di tempat-tempat umum terutama dalam penyelenggaraan
kesenian perlu kiranya didukung dan terus ditumbuhkan dengan tidak mengabaikan ketentuan
yang telah ditetapkan. Atas kejadian ini Pemko memberikan sanksi kepada penanggungjawab
kegiatan tidak boleh melaksanakan kegiatan selama dua tahun di Banda Aceh. Panitia juga
diminta untuk membuat permintaan maaf secara terbuka kepada masyarakat melalui media.

Bunda Murka kepada Panitia Bergek, Syariat Islam Ternoda


EDITOR: KLIKKABAR.COM 15 Maret 2016

KLIKKABAR.COM
BANDA ACEH – Illiza Sa’aduddin Djamal yang akrab dengan panggilan Bunda, murka
dengan konser penyanyi Aceh Zuhdi alias Bergek. Kenapa tidak, Illiza yang begitu semangat
membenah syariat Islam di Aceh, tiba-tiba ternoda dengan pergelaran konser artis Aceh itu.
Panitia konser awalnya telah berjanji untuk mematuhi aturan syariat Islam di Aceh, namun
saat pelaksanaanya, malah pria dan wanita saling bercampur, yang tentunya sudah menodai
syariat di bumi Kutaraja.

Pemko Banda Aceh memberikan sanksi kepada panitia konser untuk tidak boleh
melaksanakan kegiatan di Kota Banda Aceh selama 2 tahun.
“Ada aturan yang dilanggar,” kata Wali Kota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal.
Saat konser berlangsung, pria dan wanita saling berdesak-desakan, biasanya setiap konser di
Banda Aceh selalu memasang pagar pembatas diantara para penonton.
Banyak penonton yang harus dievakuasi karena pingsan akibat berdesak-desakan.
Menurut Walikota Banda Aceh ini, saat panitia mengurus izin di Kantor Pelayanan Perizinan
Terpadu Satu Pintu (KPPTSP) Kota Banda Aceh, pihak penyelenggara konser telah membuat
pernyataan secara tertulis.
“Isinya, dalam pelaksanaan kegiatan akan mematuhi peraturan sesuai dengan kondisi daerah
yang melaksanakan Syariat Islam dan memenuhi fatwa tentang syarat-syarat keramaian
sesuai keputusan MPU Aceh nomor 6 tahun 2003,” ujar Illiza.
Selain, dilarang melakukan konser selama dua tahun, panitia penyelenggara itu juga harus
meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat melalui media.
SOLUSI UNTUK MASALAH TERSEBUT

Banda Aceh adalah model kota Madani. Begitulah motto yang sering disebut-sebut
untuk kota kita yang tercinta ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini sejak Walikota Banda
Aceh beralih dari tangan Alm. Bapak Ir. Mawardy Nurdin ke Ibu Illiza Saaduddin Djamal,
nilai-nilai islami dan syari’at-syari’at islam di bumi serambi mekkah mulai diketatkan dan
diterapkan semaksimal mungkin dalam kehidupan sehari-hari. Memang hal tersebut sangat
bagus, akan tetapi tetap saja timbul masalah bahkan pro dan kontra dalam masyarakat.

Contohnya seperti kasus di atas. Konser yang digelar oleh penyanyi Aceh yang
sedang naik daun yang sangat dikenal dengan nama Bergek dibubarkan oleh pihak
pemerintah kota karena dalam pelaksanaanya tidak mematuhi peraturan yang telah disepakati
sebelumnya pada saat proses perizinan di Kantor Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu
(KPPTSP) Kota Banda Aceh. Pernyataan secara tertulis oleh pihak penyelenggara konser
mengatakan bahwa dalam penyelenggaraannya, akan ada pembatas antara penonton laki-laki maupun
perempuan agar tidak saling bercampur. Namun dalam pelaksanaannya, hal tersebut tidak dijalankan
dengan baik. Penonton saling bercampur aduk berdesakan hingga ada korban yang pingsan dan harus
dievakuasi dari tempat tersebut.

Dalam hal tersebut, pihak penyelenggara konser memang bersalah karena tidak konsisten
dalam menjalankan peraturan. Namun pihak pemerintah kota juga seharusnya lebih bertindak tegas
dan transparan. Selama ini telah banyak konser yang dilakukan di Aceh, baik itu konser yang
diadakan oleh artis ibukota maupun artis local. Namun mengapa hanya konser artis lokal saja yang
diberi peringatan dan dikenakan sanksi atas kesalahan yang dibuat oleh pihak penyelenggara. Hal ini
patut ditegaskan karena selama ini juga ada dalam pelaksanaan konser yang diadakan oleh artis
ibukota juga tidak menaati aturan syariat islam seperti tidak adanya pembatas antar penonton laki-laki
dan perempuan sehingga penonton saling bercampur. Harusnya pihak pemerintah kota juga harus
menegurnya dan tidak hanya menegur artis lokal saja. Sehingga, masyarakat dan pihak manapun
merasa bahwa adanya perlakuan adil antara masyarakat lokal dengan masyarakat luar.
C. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dipaparkan di atas, agama dan nilai-nilai agama
memberikan pengaruh penting dalam kehidupan masyarakat. Agama membuat kehidupan
manusia menjadi lebih baik, tenang, damai, dan terarah. Agama menyucikan norma-norma
dan nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan
kelompok diatas keinginan individu, dan disiplin kelompok diatas dorongan hati
individu. Dengan demikian, agama memperkuat legitimasi pembagian fungsi,
fasilitas, dan ganjaran yang merupakan cirri khas suatu masyarakat. Agama juga
menangani keterasingan dan kesalahan individu yang menyimpang
Studi tentang perilaku keberagamaan manusia dalam dunia realitas seperti
itulah yang kemudian dikenal dengan sosiologis agama. Dengan demikian, sosiologi
agama mencoba memahami makna yang diberikan oleh masyarakat kepada sistem
agama tertentu, berbagai hubungan antar agama di dalamnya, dan dengan berbagai
aspek budaya atau teknologi.
.

Oleh : Kelompok 9 Unit 1

Anggota :

Putri Andriani

Nurhafifatul Putri

Sartika Dewi