Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM 1

DASAR REAKSI ANORGANIK


REAKSI – REAKSI KIMIA

OLEH :

KELOMPOK : 6

ANGGOTA : 1. HAFZHATUL HUSNA

2. FINNY RAHMATANIA

3. SERLI SUKMA YULI

4. RIZKI ANGGI SUHAIRAH NASUTION

DOSEN : MIFTAHUL KHAIR,S.Si,M.Sc,Ph.D

ASISTEN : 1. AULIA RAHMAN

2. MUTIA NURUL

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNVERSITAS NEGERI PADANG


2018
REAKSI-REAKSI KIMIA

A. Tujuan Percobaan
Untuk mengamati beberapa tipe reaksi kimia, mengidentifikasi beberapa hasil reaksi
dan menyimpulkan perubahan kimia serta dapat menuliskan persamaan reaksi kimia

B. Waktu dan tempat


Hari / Tanggal : Rabu / 21 Februari 2018
Waktu : 07.00 – 9.40 WIB
Tempat : LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK FMIPA,UNP

C. Teori Dasar

Reaksi kimia merupakan suatu proses melibatkan dua atau lebih pereaksi yang
menghasilkan suatu produk yang memiliki sifat fisik/kimia yang berbeda dengan
pereaksinya. Secara umum reaksi kimia dikelompokkan menjadi dua, yaitu reaksi asam-basa
dan reaksi reduksi-oksidasi.(T et al., 2017)
Air murni tidak mempunyai rasa,bau,dan warna. Bila mengandung zat tertentu ,air
dapat terasa asam,pahit,asin dan sebagainya. Air yang mengandung zat lain dapat pula
menjadi berwarna cairan yang berasa asam disebut larutan asam,yang terasa asin disebut
larutan garam,sedangkan yang terasa licin dan pahit disebut larutan basa. Sifat asam dan basa
larutan tidak hanya terdapat dalam larutan air,tetapi juga dalam larutanlain seperti
amoniak,eter,dan benzena.akibatnya cukup sulit mengetahui sifat asam dan basa larutan yang
sesungguhnya. Oleh sebab itu,asam dan basa dapat dijelaskan dengan teori yang disebut teori
asam – basa, yaitu yang dikemukakan oleh Arrhenius, Bronsted-lowry,dan lewis.(S, 1999)
Reaksi asam-basa merupakan reaksi kimia yang melibatkan netralisasi ion H+ dan
OH-(teori Arrhenius) (T et al., 2017)
Di tahun 1884, Arrhenius mendefinisikan asam adalah zat yang menghasilkan H+ dan
basa adalah zat yang menghasilkan OH-. Bila asam adalah HA dan basa BOH, maka HA →
H+ + A dan BOH → B+ + OH-. Bila asam dan basa bereaksi akan dihasilkan air. (Saito, 1996)
Tahun 1923 secara independen oleh Brønsted dan Lowry, asam didefinisikan sebagai
molekul atau ion yang menghasilkan H+ dan molekul atau ion yang menerima H+ merupakan
partner asam yakni basa. Basa tidak hanya molekul atau ion yang menghasilkan OH-, tetapi
yang menerima H+.(Saito, 1996)
Akseptor-donor pasangan elektron (teori asam-basa Lewis), atau akseptor-donor ion
oksida (O2-). (T et al., 2017)
Salah satu pengertian yang paling umum dan paling berguna dari sekian defenisi di
usulkan G.N.Lewis ,yang mendefenisikan asam sebagai akseptor pasangan elektron, dan
suatu basa sebagai donor pasangan tersebut. Defenisi ini mencangkup defenisi bronstead
lowry sebagai kasus khusus karena proton dapat dianggap sebagai akseptor pasangan elektron
-
,dan basa apakah berupa OH , NH2- , HSO4- dan sebagainya sebagai donor pasangan
elektron misalnya
H+ + :OH- = H: OH
Namun definisi Lewis meliputi sistem yang luas yang sama sekali tidak mengandung proton.
Reaksi antara amonia dan BF3 misalnya adalah reaksi asam basa
H3N: + BF3 —> H3N:BF3
Menurut Lewis semua ligan yang biasa di gunakan dapat dipandang sebagai basa, dan semua
ion logam sebagai asam. Derajat pengikat ion logam terhadap ligan bisa dinyatakan sebagai
derajat keasaman lewis, dan kecendrungan ligan untuk terikat kepada ion logam dapat
dianggap sebagi derajat keasaman Lewis, dan kecendrungan ligan untuk terikat kepada ion
logam dapat dianggap sebagai ukuran kebasaan lewisnya. Keasaman atau kebasaan sangat
dipengaruhi oleh jenis pensubstitusinya . pengaruh pensubtitusi dapat bersifat elektronik atau
sterik.Pengaruh elektrolit keelektronegatifan pensubtitusi memberikan pengaruh yang
nyata. Jadi kekuatan basa dan asam dipengaruhi secara berlawanan , seperti tampak pada
contoh berikut
Basa : (CH3)3N > H3N > F3N
Asam : (CH3)3B < H3B < F3B
Makin bersifat menarik elektron ( elektronegatif ) pensubstitusi tersebut, makin nyata keasan
lewisnya dan mengurangi kebasaan Lewisnya. Namun pengaruh elektronik yang lebih rumit
dapat juga menjadi penting atas dasar tinjauan keelektronegatifan saja, urutan kekuatan asam
berikut dapat diramalkan : BF3 > BCl3 > BBr3.
Pengaruh sterik. Pengaruh tersebut dapat beragam .bagi tiga basa berikut ( 7 – Vl sampai 7
– Vl) kekuatan basa terhadap proton sedikit naik dariVl ,ke V dan hampir sama bagi V dan Vl
, seperti biasanya diharapkan dari efek induksi gugus metil.(Geoffrey Wilkinson, 2014)

Tabel 1.perbandingan teori Asam – Basa


Teori Arrhenius teori Bronsted – lowry Lewis teori
teori proton elektron
Air – ion

Definisi Asam Menghasilkan H+ dalam Penderma proton Penerima pasangan


air elektron

Definisi Basa Menghasilkan OH - Penerim proton Penderma


pasangan elektron

Penetralan Pembentukan air Perpindahan proton Pembentukan


ikatan kovalen
koordinasi

Reaksi H- + OH- H2O HA + B BH-+A A+B A:B

Batasan Hanya larutan dalam air Hanya reaksi Teori yang lebih
perpindahan proton umum

(Achmad, 2001)
Reaksi reduksi-oksidasi adalah reaksi kimia yang melibatkan transfer elektron antara
reduktor dan oksidator, serta adanya perubahan bilangan oksidasi.(T et al., 2017)

Oksidasi berarti pembentukan oksida dari unsurnya atau pembentukan senyawa


dengan mereaksikannya dengan oksigen, dan reduksi adalah kebalikan oksidasi. Definisi
reduksi saat ini adalah reaksi yang menangkap elektron, dan oksidasi adalah reaksi yang
membebaskan elektron.Oleh karena itu, suatu pereaksi yang memberikan elektron disebut
reduktor dan yang menangkap elektron oksidator. Akibat reaksi redoks, reduktor mengalami
oksidasi dan oksidator mengalami reduksi.(Saito, 1996)

Reaksi redoks bagi senyawa – senyawa kompleks dari berbagai macam ion pusat
berlangsung dengan laju dan mekanisme yang berbeda – beda. Secara garis besar reaksi
redoks dapat berlangsung dalm dua cara yaitu :
a. Berlangsung dengan transfer elektron secara langsung dan alternatif lain
b. Berlangsung dengan transfer atom atau ion (Kristian H .Sugiyarto, 2012)
Perubahan-perubahan yang dapat diamati dalam suatu reaksi kimia antara lain
a. adanya gas sebagai produk reaksi;
b. adanya endapan;
c. perubahan pH larutan;
d. perubahan warna larutan; atau
e. perubahan suhu larutan.
Berikut contoh beberapa reaksi kimia:
(i) Reaksi oksidasi-reduksi:
Pembentukan gas: 2Al (s) + 6HCl (aq) → 2AlCl3 (aq) + 3H2 (g)
Pemurnian bijih oksida: Fe2O3 (s) + 3CO (g) → 2Fe (s) + 3CO2 (g)
Analisa kualitaif/kuantitatif etanol: 2K2Cr2O7(aq) + 3C2H5OH (aq) + 8H2SO4(aq)
→ 2Cr2(SO4)3 (aq) + 3HC2H3O2 (aq) + 2K2SO4 (aq) + 11H2O
(ii) Reaksi asam-basa:
Netralisasi: NH3 (aq) + HCl (aq) → NH4Cl (aq)
Pembentukan endapan: AgNO3(aq) + Na2CrO4 (aq) → Ag2CrO4(s) + 2NaNO3(aq)
Dekomposisi termal: CaCO3 (s) → CaO (s) + CO2 (g) (berlangsung pada 90oC, akseptor-
donor oksida, ion Ca2+ menerima ion O2- dari ion CO32- ) . (T et al., 2017)

D. Alat dan Bahan

Alat : Tabung reaksi, Rak tabung reaksi, Pipet tetes, dan Spatula

Bahan : Bahan-bahan yang digunakan yaitu larutan CuSO4 0,1 M, HCl 0,1 M dan 6 M,
AgNO3 0,1 M, Pb(NO3)2 0,1 M, NaC2H3O2 0,1 M, KI 0,1 M, Na2CO3 0,1 M, NH3 0,1 M,
Na2SO3 , HC2H3O2 0,1 M, K2CrO4 0,1 M, K2Cr2O7 0,1 M, NaOH 1 M, KMnO4 0,05 M,
H2C2O2 0,1 M, Fe (II) 0,1 M, H2SO4 0,2 M, H2O2 3%, dan padatan CuSO4.5H2O dan KI.

E. Prosedur Kerja dan Hasil Pengamatan

PROSEDUR KERJA PENGAMATAN REAKSI

1. Reaksi Tidak ada CuSO4(aq) + Mg(s) MgSO4(aq) + Cu(s)


Oksidasi Logam https://youtu.be/fncDqB5Fz3A
perubahan warna

Melarutkan CuSO4 (bening)

sebanyak 2 ml ke Terdapat endapan


tabung reaksi dan hitam
memasukkan sepotong
logam Mg di dalamnya

Terdapat HCl(aq) + Zn(s) ZnCl(aq) + H2(g)

Melarutkan HCl gelembung gas

sebanyak 2 ml ke setelah 5 menit.

tabung reaksi dan Gelembung makin


memasukkan logam Zn banyak, terdapat
di dalamnya. asap dan suhu
meningkat

Melarutkan AgNO3 Terdapat endapan AgNO3(aq) + Cu(s) CuNO3(aq) + Ag(s)

sebanyak 2 ml ke hitam

dalam tabung reaksi Setelah 5 menit Cu


dan memasukkan mulai larut dalam
logam Cu di dalamnya AgNO3

2. Reaksi Asam Pb(NO3)2(aq)+2NaC2H3O2(aq)


Basa Ion Pb2+ Larutan tetap Pb(C2H3O2)2(s) + 2NaNO3(aq)
berwarna putih https://youtu.be/86tmFqu76fc
Melarutkan Pb(NO3)2 ketika ditambahkan
0,1 M dengan NaC2H3O2 0,1 M.
NaC2H3O2 0,1 M.

Larutan Pb(NO3)2 Pb(NO3)2(aq)+ 2KI(aq) Pb(I)2(s) +


Melarutkan Pb(NO3)2 berwarna bening, 2KNO3(aq)
0,1 M dengan KI 0,1 ketika ditambah KI
M berubah menjadi
kuning

3. Reaksi CuSO4.5H2O(s)+2KI(aq) Cu(I)2(s) +


Reduksi Ion Cu2+ K2SO4aq) + 5H2O
dalam Fasa Padat https://youtu.be/K1To-5uYef8
dan Larutan

Menyediakan 4 tabung
reaksi. Tabung 1 (A)&
2 (B) : padatan
CuSO4.5H2O dan
tabung 3 (C) & 4 (D) :
padatan KI

Padatan A
berwarna putih dan
Padatan KI
berwarna biru,
A tuangkan ke C ketika A
dituangkan ke C,
padatan berubah
warna menjadi
hitam

B + air dan D + air  CuSO4.5H2O(s)+H2O(l) Cu(OH)2(s)


Menambahkan air pada
: cairan berwarna + H2SO4aq) + 3H2O
B dan D. Lalu B
orange kehitaman  Cu(OH)2(s) + 2KI(aq) Cu(I)2(s) +
tuangkan ke D
dan 2KOH

Larutan Ca(OH)2 Ca(OH)2(aq)+H2C2O4(aq) CaC2O4(aq) +

4. Perubahan berwarna putih 2H2O(aq)

Warna Indikator ketika ditambahkan https://youtu.be/2cGUQhk59sQ

pada Asam dan Basa indikator pp


menjadi warna
Menambahkan Larutan pink arau merah
Ca(OH)2 dengan 2 muda. Setelah
tetes pp dan ditambahkan
melarutkan pada H2C2O2 larutan
H2C2O2. kembali menjadi
warna putih.

Menambahkan NH3 0,1 NH3(aq)+CH3COOH(aq)


M dengan 2 tetes pp CH3COONH4(aq)
dan melarutkan pada
CH3COOH

5. Kesetimbanga K2CrO4(aq)+2HCl(aq) 2KCl(aq) +


n Ion Kromat (CrO42-) Tabung 1 berisi H2CrO4(aq)
dan dikromat Cr2O72- larutan K CrO 0,1
2 4

Mengisi 2tabung M berwarna


reaksi dengan larutan kuning ketika
K2CrO4 0,1 M dan ditambahkan HCl
meneteskan 5 tetes berubah menjadi
HCl pada tabung 1 dan jingga. Pada
5 tetes larutan NaOH 1 tabung 2
M.

Mengisi 2 tabung K2CrO4(aq)+2NaOH(aq) 2KOH(aq) +


reaksi dengan larutan Na2CrO4(aq)
K2CrO7 0,1 M dan
meneteskan 5 tetes
HCl pada tabung 1 dan
5 tetes larutan NaOH 1
M.

6. Reaksi - H2O2(aq)+I-(aq) 2H2O(l) + IO-(aq)


Reduksi Hidrogen - H2O2(aq) + IO-(aq) H2O(l) + O2(g) + I-
Peroksida (aq)

https://youtu.be/M1oIDdMoIjU
Melarutkan KI dengan
H2O2 3%,

7. Reaksi C2O42-(aq)+MnO4-(aq) + 16H+


Reduksi Kalium 2Mn2+(aq) + 8H2O(aq) + 10CO2(g)
Permanganat https://youtu.be/1XxVnp32vTI

Mencampurkan larutan
H2C2O2 0,1 M dan
H2SO4 0,2 M.
Kemudian
menambahkan KMnO4
0,05 M hingga warna
hilang.

Mencampurkan Fe (II) 5Fe2+(aq)+MnO4-(aq) + 8H+


0,1 M dan H2SO4 0,2 5Fe3+(aq) + Mn2+(aq) + 8H2O(aq)
M.Kemudian
menambahkan KMnO4
0,05 M hingga warna
hilang.

Menghitung waktu
yang dibutuhkan dan
lihat mana yang lebih
cepat perubahan
warnanya.

8. Reaksi Na2CO3(aq)+2HCl(aq) 2NaCl(aq) +


Metatesis H2O(aq) + CO2(g)

Menambahkan Terdapat

beberapa tetes HCl 6 gelembung gas

M pada padatan
Na2CO3 (putih).

Menambahkan Na2SO3(aq)+2HCl(aq) 2NaCl(aq) +


beberapa tetesa HCl 6 Terdapat H2O(aq) + SO2(g)
M pada padatan gelembung gas
Na2SO3
F. Pembahasan
Dari beberapa percobaan anorganik yang telah dilakukan tentang praktikum reaksi-
reaksi kimia, adapun percobaan yang kami lakukan
1. Reaksi oksidasi logam

Reaksi oksidasi adalah peristiwa penggabungan suatu zat dengan oksigen. Reaksi logam
dikenal juga dengan nama perkaratan.

a. CuSO4(aq)+Mg(s)—˃MgSO4+Cu2+

Dapat diamati ketika memasukkan logam Mg ke larutan CuSO4 terdapat gelembung


disekitar logam dan tabung reaksi. Hal ini terjadi karena mengalami reaksi oksidasi. Ditandai
dengan naiknya biloks Mg.

b. 2HCl(aq)+Zn(s)—˃ZnCl2+H2(g)

Pada percobaan ini terdapat endapan pada tabung reaksi saat logam zn dimasukkan dan
ditunggu beberapa menit.

Hal ini karena adanya perbedaan kelarutan. Kelarutan zat yang lebih kecil akan lebih dulu
mengendap.

c. AgNO3(aq)+Cu(s)—˃Cu(NO3)2+2Ag

Pada percobaan ini ada endapan pada hasil reaksi dan terjadi perubahan suhu.

Dari ketiga percobaan diatas dapat kita ketahui bahwa terjadinya suatu reaksi kimia di tandai
dengan adanya perubahan suhu,adanya endapan,dan ada gelembung.

2. Reaksi Asam – Basa ion Pb 2+

Secara sederhana asam dapat di defenisikan sebagai zat yang bila dilarutkan dalam air
mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen .sedangkan basa mengalami disosiasi
dengan pembentukan ion hidroksil.

a) Pb (NO3)2(aq) + NaC2H3O2 —> NaNO3 + Pb(C2H3O2)2


Pada percobaan ini dapat diamati bahwa hail reaksi yang mula warna ya bening
menjadi keruh.

b) Pb (NO3)2(aq) + 2Kl(aq) —> 2KNO3(aq) + Pbl2(s)


Pada percobaan ini dapat di amati bahwa hasil reaksi terbentuk endapan kuning dan warna
larutan menjadi kuning.endapan kuning ini merupakan endapan timbal (ll) iodida, Pbl 2
Selanjutnya Reaksi Reduksi Ion Cu2+ Dalam Fasa Padat & Larutan.Langkah pertama
dilakukan adalah sediakan 4 tabung.tabung 1 & 2 masing masing diisi dengan sedikit
padatan CuSO4.5H2O.dan kemudian masin masing diberi label A dan B.dan tabung 3&4
diisi dengan KI .setelah itu larutan A dan C di campurkan.dan larutan KI berubah menjadi
warna hitam dan pada saat itu pula terjadi penuruna suhu.menjadi sangat panas.dan tidak ada
pula endapan dan untuk larutan B dan D dicampurkan pula dan warnanya menjadi kuning dan
ada gas itu terjadi perubahan fasa antara padat menjadi gas ketika dicampurkan seterusnya
ditambahkan air sebanyak 3 ml larutan yang kuning tadi menjadi bening.dan ini terjadi
karena ditambahkan air dapat mengalami perubahn warna .dan setelah dituangkan menjadi
warna hijau kacang padi atau kehijauan.dan ini terbentuk endapan mungkin ini terjadi Karen
atidak semua pdatan ki itu larut dalamnya.

Perubahan Warna Indikator Dalam Reaksi Asam-Basa. Larutan Ca(OH)2 sebanyak 2


mL dimasukkan ke dalam tabung reaksi,larutan ini berwarna ungu dan setelah itu
ditambahkan indicator untuk menguji apakah larutan itu asam atau basa dan 1 tetes
dimasukkan indicator warnya menjadi ungu dan kedalam larutan yang lain warnanya menjadi
bening.mungkin karena adanya netralisasi disana mungkin terurau dengan air.dan untuk yang
NH3 0,1 M ditambah dengna indicator wananya menjadi pink ke unguan dan ditambahlan
asam asetat pertamaa tama mungkin tidak ada perubahan dan setelah kami menunggu selama
26 detik larutan tersebut menjdai bening.mungkin ketiga baru dimasukkan mungkin
reaksinya tidak berjaln dengna lancar.dan sangat lambat dan ditunggu beberapa detik.kalau
kekutaannya asam/basa sama saja kekuatannya tetapi untuk basa cepat sekali reaksinya dan
untuk basa sangat lambat.

Kesetimbangan Ion Kromat (CrO42-) & Dikromat (Cr2O72-)Dalam laboratorium


terdapat beberapa zat yang dapat digunakan sebagai oksidator. Oksidator yaitu zat yang dapat
menyebabkan zat lain mengalami oksidasi sehingga dirinya sendiri akan mengalami reduksi.
Umumnya unsur-unsur nonlogam merupakan oksidator yang baik karena memiliki
keelektronegatifan tinggi sehingga mudah menangkap atau menarik elektron kearah dirinya.
Walaupun demikian tidak selalu digunakan unsur dalam semua reaksi kimia.Dalam
laboratorium terutama reaksi redoks yang dilangsungkan dalam bentuk larutan yang biasa
digunakan sebagai oksidator adalah ion permangananat (MnO 4–), ion kromat (CrO42-), ion
kromat (Cr2O72-). Ketiga zat tersebut merupakan oksidator yang kuat dan mudah melepas
oksigen sehingga penanganannya perlu berhati-hati. Zat-zat ini harus disimpan ditempat
tersendiri dan tidak boleh berada di dekat zat-zat organik karena dapat menyebabkan
kebakaran. Langkah pertama yang dilakukan adalah menyediakan 2 tabung reaksi dan
masing masing tabung diisi dengan larutan KCrO42- .larutan tersebut berwarna kuning.dan
didalam tabung 1 ditambahkan5 tetes HCl dan kemudian campuran tersebut dikocok
perlahan lahan.dan warna larutan tersebut menjadi orange dan untuk tabung 2 di masukkan 5
tetes larutan K2CrO4 0,1 M di tambahkan dengan larutan NaOH 1 M.dan warna larutannya
tetap menjadi kuning .dan dengan hal yang sam dilakukan untuk K2CrO7 warna larutannya
orang.dan ketika ditambahklan dengan asam akan menghasilkan warna orange dan
ditambahkan basa menghasilkan warna kuning.Reaksi reduksi-oksidasi (redoks) merupakan
reaksi yang menyebabkan perubahan bilangan oksidasi (biloks) pereaski-pereaski yang
bersangkutan. Selain itu terjadi perubahan warna larutan sebagai ciri terjadinya reaksi. Ketika
HCl direasksikan dengan K2CrO4 dan K2CrO7, H mengalami oksidasi pada tiap reaksi naik
dari +1 menjadi +2, K megalami reduksi, karena biloks K turun dari +2 menjadi +1. Dan
ketika larutan NaOH 1 M direkasikan dengan K2CrO4 0,1 M dan larutan K2CrO7 0,01 M,
atom K mengalami reduksi sama dengan reaksi sebelumnya, sedangkan Na mengalami
oksidasi, naik dari +1 menjadi +2. Dan tidak warna nya juga kami juga mengukur pH nya
untuk K2CrO4 pH nya 11 dan 7 dan untuk K2CrO7 pH nya 3 dan 8.dapat disimpulkan bahwa
K2CrO4 bersifat basa dan untuk K2CrO7 bersifat asam.

Percobaan tentang reduksi hydrogen peroksida.mengambil H2O2 sebanyak 5 ml.dan


ini dambil di lemari asam dan ditambahkan sedikit padatan KI dan setelah dicampurkan
larutan tersebut menghasilkan gelembung gas .ini mungkin cepatnya terjadi reaksi dan warna
larutan kuning dan tertjadi perubahan suhu.

Pada percobaan 7 menguji tentang reaksi reduksi dari kalium permanganat. Dibuat
dengan mereaksikan H2C2O2 0,1 M dan H2SO4 0,2 M terlebih dahulu. Warna larutan
campuran tersebut yaitu bening. Setelah ditambahkan KMnO4 0,05 M warna larutan menjadi
ungu. Butuh waktu 1 menit 20 detik untuk menjadi larutan bening kembali. Sedangkan pada
pengujian Fe (II) 0,1 M dan H2SO4 0,2 M, setelah ditambahkan KMnO4 0,05 M warna larutan
menjadi ungu dan membutuhkan waktu 1 detik untuk menjadi larutan bening kembali.
Pada percobaan metatesis, saat direaksikan HCl 6 M dan padatan Na2CO3, terbentuk
endapan putih dan gelembung gas dimana suhu larutan tetap. Sedangkan pada direaksikan
HCl 6 M dan padatan Na2SO3, tidak ada endapan dan ada gelembung gas dimana suhu larutan
meningkat.
G. Kesimpulan
1. Ada dua tipe reaksi kimia, yaitu reaksi asam basa dan reaksi oksidasi-reduksi. Dimana
tanda-tanda terjadinya perubahan pada suatu reaksi kimia, yaitu adanya gas sebagai
produk, adanya endapan, adanya perubahan warna, adanya perubahan suhu dan
perubahan pH larutan
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, D. H. (2001). kimia Larutan. Bandung: PT.CITRA ADITYA BAKT.


Geoffrey Wilkinson, F. A. C. (2014). Kimia Anorgaik Dasar. Jakarta: UI-Press.
Kristian H .Sugiyarto. (2012). Dasar - dasar Kimia Anorganik Transisi. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
S, S. (1999). Kimia Dasar 2. Bandung: ITB.
Saito, T. (1996). Kimia Anorganik. Tokyo Kanagawa University.
T, L., K, K., Fauziah, R., Si, M., Laelasari, E., & Pd, S. (2017). P enuntun P raktikum.
PADANG : FMIPA UNP.