Anda di halaman 1dari 10

Permasalahan dalam tugas-tugas perkembangan :

1. Perubahan fisik yang sering menimbulkan kecemasan

2. Keinginan untuk bebas dan mandiri dari orang tua

3. Pergaulan dengan teman sejenis dan lawan jenis

4. Kesadaran akan kelamahan dan kelabihan

5. Penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma

Aspek Psikologis Remaja

1. Afektif/Perasaan
2. Kognitif/Pikiran
3. Psikomotor/ Gerakan

Aspek Kognitif

1. Tahap perkembangan kognitif remaja Menurut J.J. Piaget, à tahap operasi formal: tahap berfikir yang
dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah.

2. Kemampuan kognitif remaja Lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus - bukan hanya satu -
dalam satu saat dan konsep-konsepabstrak.

3. Faktor Perkembangan Kognitif Remaja Kemampuan berfikir à disebabkan oleh meningkatnya


ketersediaan sumberdaya kognitif(cognitive resource).

Aspek Afektif

1. Tahap perkembangan emosi remaja Emosi remaja lebih kuat dan lebih menguasai diri mereka
daripada pemikiran yang realistis.

2. Karakteristik emosi remaja Ingin bebas, hanya membutuhkan waktu 45 menit untuk berubah,
hasrat pemenuhan impulsif, cepat tersinggung.

3. Faktor perkembangan emosi remaja Bermacam pengaruh, à à à à lingkungan tempat tinggal, keluarga,
sekolah dan teman-teman sebaya serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-
hari.

Bagaimana karakteistik remaja?

• Masa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa

• Klimaks dari perkembangan sebelumnya

• Perkembangan fisik sangat pesat àkematangan

• Idealis

• Cara berfikir kausalitas

• Emosi yang meluap-luap

• Menarik perhatian lingkungan

• Terikat dengan kelompok (klik, gank,klub-klub)

• Pemantapan identitas diri “siapa aku?”


Bagaimana sikap remaja laki-laki?

Sikap remaja putra

1. Aktif memberi, melindungi dan menolong

2. Ingin memberontak dan mengeritik

3. Mencari kemerdekaan berfikir, bertindak dan hak bicara

4. Suka meniru perbuatan orang yang dipujanya

5. Berminat pada hal yang abstrak

6. Lebih memuja kepandaian seseorang daripada orangnya

Bagaimana sikap remaja perempuan?

1. Suka dilindungi dan ditolong

2. Dorongan itu dilunakkan oleh perasaan terikat pada aturan dan tradisi

3. Ingin dicintai dan menyenangkan hati orang lain

4. Tidak ingin meniru, lebih bersikap pasif

5. Minatnya ditujukan pada hal-hal nyata

6. Langsung memuja orangnya.

5 Tahap Perkembangan Anak Usia


Praremaja
Di usia praremaja (10-12 tahun), anak mengalami transisi menuju kedewasaan selanjutnya yang
memengaruhi kemampuan sosial, fisik, juga kognitifnya. Dampaknya, anak terlihat lebih mandiri
dalam menyelesaikan masalah dan menata perilaku sosialnya. Hal ini terjadi karena anak pada
dasarnya memiliki keterampilan...
 Mengenali teman yang baik
Jangan heran, jika anak usia 10 tahun, sudah mulai memilih teman. Mereka memang mulai
mengembangkan kemampuan sosial menerima teman yang baik dan tidak menurutnya. Tak apa,
asal tekankan kepada anak untuk selalu bersikap baik kepada semua orang.
 Mengenali kadar pertemanan
Sejak usia 10 tahun, keterampilan sosial anak bertambah tajam sehingga ia mulai mengetahui
lingkar dan kadar pertemanan. Pemahaman akan sahabat, teman biasa dan sekadar kenalan sudah
mulai bisa ia rasakan. Keterampilan ini mempersiapkan anak untuk bisa menempatkan diri dalam
pergaulan dan membawa diri dalam pergaulan baru. Jika tak dibekali dengan kemahiran
bertoleransi dengan keinginannya dalam berteman, anak bisa menjadi pencemburu dan sulit
diterima lingkungan. Anda sebaiknya mendorong anak memiliki pergaulan yang luas, toleran,
berempati, dan tidak egosentris.
 Menyadari ada peer pressure
Dalam usia ini anak sudah mulai mengenal superioritas dan inferioritas seseorang dalam kelompok
pertemanan. Keterampilan ini mendukung kemampuan sosial anak agar dapat berperilaku secara
normatif di lingkungannya, mengingat tekanan sosial dapat membuat seseorang tak berlaku
sembarangan. Sisi buruknya, kondisi ini dapat melahirkan peer pressure (tekanan kelompok
sebaya), juga berisiko menyebabkan bullying (intimidasi).

Sebagai orang tua, Anda sebaiknya memerhatikan betul perilaku, kebiasaan, dan perkembangan
anak di usia ini. Kelekatan orang tua dan anak adalah kunci untuk mencegahbullying dan dampak
negatif peer pressure.
 Memahami kepercayaan dan tanggungjawab
Di usia 11 tahun atau kelas 5 SD, anak mulai menambah keterampilan sosial penting lain, yakni
memahami arti kepercayaan dan tanggungjawab. Ini adalah keterampilan sosial yang sangat
penting bagi masa depannya karena merupakan cikal bakal disiplin diri dan integritas pribadi yang
membuat ia diterima di lingkungan pergaulan, akademis dan pekerjaan kelak.

Sebagai orang tua, Anda perlu memupuk sisi positif dari kedua keterampilan sosial ini dengan
memberi ia banyak latihan tanggung jawab, serta konsekuensi yang sepadan.
 Menuntut keadilan
Saat berusia 12 tahun, anak mulai memahami keadilan dan ketidakadilan. Rasa keadilan
merupakan salah satu konsekuensi perkembangan kognitif anak terhadap konteks sosial. Saat anak
belajar tentang keadilan, orang tua perlu memberi penjelasan bahwa tak segala hal harus sama
rata.
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Manusia dalam hidupnya mengalami berbagai fase perubahan yang disebut perkembangan, dimana
perkembangan ini merupakan bertambahnya kemampuan manusia secara fisik maupun psikis dan
bersifat kualitatif. Seorang individu bisa dikatakan berhasil ketika ia bisa melewati setiap fase dalam
perkembangan itu dengan menyelesaikan tugas perkembangannya. Dalam melewati setiap fase itu,
individu mungkin akan menghadapi hambatan baik itu dari aspek fisik, kognitif, emosi, sosial maupun
spritual.

Dari seluruh fase yang terjadi selama rentang usia manusia tersebut, setiap fase memiliki peranan
penting yang akan mempengaruhi fase selanjutnya dalam kehidupan. Pada makalah ini penyusun
membatasi bahasannya pada perkembangan pada masa awal pubertas atau sering disebut masa
remaja. Jika pada masa kanak kanak terjadi berbagai fase penting dimana mereka menduplikasi serta
mengaplikasikan secara langsung apa yang mereka lihat, maka pada masa remaja juga merupakan
fase penting yang merupakan fase awal mereka mencari idealisme dan jati diri, pada masa ini pula
terjadi proses pembentukan mental yang akan akan mempengaruhi pandangan hidup.

Dikarenakan masa remaja ini merupakan masa transisi dimana individu harus meninggalkanmasa
kanak kanak dan menuju kedewasaan, maka masalah dan hambatan itu akan kian tampak pada fase
ini , salah satunya saat individu ingin merasakan kebebasan dari apa yang mengaturnya saat ia dalam
fase kanak kanak namun disaat yang sama ia juga tidak ingin kehilangan perhatian, sehingga
mendorong dirinya untuk melakukan pemberontakan serta penyimpangan. Karena hal inilah penting
bagi kita untuk memahami kondisi yang terjadi pada masa ini.

Terdorong dengan rasa keingin tahuan dan fakta tersebut, maka penyusun memilih topik
perkembangan masa remaja dalam makalah sederhana yang diberi judul “Perkembangan Masa Awal
Pubertas”.

1. Rumusan Masalah
2. Apa yang dimaksud dengan masa awal pubertas (remaja) ?
3. Bagaimana perkembangan fisik pada masa remaja ?
4. Bagaimana perkembangan kognitif pada masa remaja ?
5. Perkembangan sosio-emosional pada masa remaja ?

1. Tujuan Penulisan
2. Menjelaskan mengenai masa awal pubertas (remaja).
3. Menguraikan perkembangan fisik pada masa remaja.
4. Menguraikan perkembangan kognitif pada masa remaja.
5. Menguraikan perkembangan sosio- emosional pada masa remaja.

BAB II
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN PADA MASA REMAJA
1. Pengertian Masa Awal Pubertas (Remaja)
Remaja didefenisikan sebagai masa peralihan dari kanak kanak menuju dewasa, menurut Hurlock
masa reamaja awala ini berkisar pada usia 12/13 y.o – 17/18 y.o. sementara WHO masa remaja
awala berkisar pada usia 10 -14 y.o.

Psikolog G. Stanley Hall menyatakan bahwa “adolescence is time of storm and stress” (masa remaja adalah
masa yang penuh dengan badai dan tekanan jiwa) yaitu masa dimana terjadi perubahan besar bukan
hanya secara fisik tapi juga intlektual dan emosional yang dipengaruhi dan berpengaruh pada
lingkungannya, sehingga menimbulkan konflik bagi yang bersangkutan dan lingkungannya. Berkaitan
dengan hal ini Sigmund Freud dan Erik Erikson meyakini bahwa perkembangan pada masa remaja
merupakan perkembangan yang penuh dengan konflik.
Jika melihat pada apa yang dinyatakan Hurlock dan WHO bahwa masa remaja awal itu berkisar dari
usia 10 – 18 y.o. maka dalam kaca mata Islam masa usia ini bisa digolongkan pada fase Amrad dan
dimulainya Fase Taklif.

Fase Amrad dimulai dari usia 10-15 y.o yaitu masa dimana seseorang disiapkan untuk menjadi
khalifah di bumi, sehingga pada fase ini penting untuk diajarkan tanggung jawab dan dibekali
keterampilan untuk bekalnya dimasa yang akan datang. Pada fase ini individu juga akan mencari jati
dirinya sendiri, ia mulai berusaha untuk mengenal dirinya secara fisik dan psikologis. Dalam usia ini
individu sudah dimungkinkan untuk belajar ilmu logika, fisik, filsafat dan astronomi.

Sedangkan fase taklif dimulai pada usia 15 tahun, dalam Islam, ketika seorang individu mencapai usia
ini, maka ia sudah digolongkan dewasa dan memliki tanggung jawabnya sendiri sebagai hamba Allah
juga sebagai khalifah. Bekal yang diperolehnya selama dalam fase Amrad diharapkan bisa menjadi
multisolusi ketika individu mendapatkan masalah. Al ghazali menyebut fase ini sebagai fase aqil
dimana akal sudah mencapai puncaknya sehingga individu sudah bisa
dikenai punnishment dan reward atas apa yang dia kerjakan.
Mengacu pada pernyataan G. Stanley Hall bahwa masa remaja adalah masa yang penuh dengan badai
dan tekanan jiwa, tentu saja memberi kesan bahwa banyak sekali hal negatif yang ada pada masa ini,
namun menyanggah hal itu, Daniel Offer, melalui penelitiannya menyatakan setidaknya 73% remaja
menunjukan citra tubuh yang sehat, dibandingkan orang dewasa para remaja lebih menikmati hidup
mereka, mereka menyatakan diri mereka sebagai orang yang bisa mengendalikan diri, menghargai
kerja dan sekolah juga percaya diri terhadap segala aspek dalam dirinya.(John W. Santrock 2011 :
297)

Jacquelin Lerner dan koleganya melakukan pendekatan positif terhadap psikologi remaja, dengan
mengungkapkan remaja memiliki 5 kekuatan yang disebut Five Cs, yaitu :

 Competence
 Confidence
 Connection
 Character
 Compassion / carring
1. Perkembangan Fisik Psikologi Remaja
Seperti yang telah dijelaskan bahwa setiap fase perkembangan dalam rentang hidup individu saling
mempengaruhi fase lainnya, fase remaja merupakan salah satu fase yang penting dan berdampak
luas pada fase berikutnya. Pada masa remaja awal, terjadi pertumbuhan fisik yang sangat pesat,
seperti tingga badan yang mulai menyamai orang dewasa, terbentuknya otot otot dan optimalnya
kerja fungsional organ tubuh tertentu. Dalam perkembangan fisik remaja ini yang paling penting dan
dominan diantaranya yaitu :

1. Perkembangan Seksual

1. Ciri Ciri Seks Primer


Perkembangnan psikologi remaja pria mengalami pertumbuhan pesat pada oragan testis, pembuluh
yang mulai memproduksi kelenjar sperma dan prostat. Kematangan organ organ reproduksi pada pria
ini memungkinkan pada usia sekitar 14 – 15 y.o mereka mengalami wet dream . sementara pada
wanita terjadi pertumbuhan yang cepat pada organ uterus dan ovarium yang mulai menghasilkan
ovarium dan hormon untuk kehamilan, akibatnya terjadilah siklus menarche (menstruasi petama) yang
sering diiringi dengan sakit kepala, sakit pinggang, kelelahan,depresi dan mudah tersinggung. Siklus
haid ini biasanya telah dimulai kisaran usia 9-15 y.o.
1. Ciri Ciri Seks Sekunder
Selain menunjukan perkembangan seks primer, individu yang mengalami pubertas juga menujukan
ciri ciri seks sekunder yang melengkapi kematangan individu sehingga tampak sebagai laki laki atau
perempuan. Remaja pria mengalami pertumbuhan bulu bulu kumis, jambang, janggut, dan pada area
lainya, tumbuh jakun, suara menjadi parau dan rendah, kulit berubah menjadi kasar. Pada wanita
juga mengalami petumbuhan bulu secara lebih terbatas, pertumbuhan juga terjadi pada organ yang
akan memprodusi air susu serta pada daerah panggul sebagai persiapan untuk proses melahirkan.

2. Dimensi Seks Remaja

1. Mengembangkan Identitas Seksual


Selain mengalami perkembangan seksual secara fisik, remaja juga mengalami perkembangan seksual
secara psikis, yakni munculnya perasaan seksual seperti gairah dan daya tarik dan pembentukan
kesadaran terhadap identitas seksual. Sehingga perlu bagi remaja untuk mempelajari
cara menangani perasaan seksual. Beruntung dalam hal ini, Islam sebagai agama yang kamil
mutakamil, telah mengcover solusi untuk setiap permasalahan umatnya, termasuk masalah remaja
yang seperti ini. Islam secara tekstual dalam Al Qur’an telah menegaskan upaya preventif untuk
menangani masalah perasaan seksual pada remaja, yakni dalam firmannya Qs Al Isra Allah
menegaskan “Janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji”

Awal dari munculnya perasaan seksual tentu saja dimulai dengan pengindraan terutama mata,
sehingga Allah menyuruh kita untuk menundukan pandangan, selain itu untuk menahan syahwat
(baca : gairah seksual) Rasulullah SAW menganjurkan kita untuk berpuasa. Dari fakta ini bisa kita
lihat bagaimana Islam telah mempersiapkan upaya pencegahan terhadap masalah masalah mendetil
seperti ini.

Sementara diluar sana, katakan saja dinegara semaju negara Paman Sam, tidak ada upaya
pencegahan efektif yang bisa mereka lakukan untuk menahan eksplorasi seksual yang dilakukan anak
anak remajanya, sehingga mulai banyaklah anak remaja yang terindikasi Infeksi Menular Seksual
(IMS), sebuah study di Amerika menyatakan bahwa lebih dari 60% remaja kelas 12 pernah
melakukan hubungan seksual. Dan lebih mengerikannya lagi bahwa remaja Amerika mempresepsikan
bahwa mereka akan lebih mudah diterima diantara teman sebayanya dari pada remaja tyang tidak
aktif secara seks.

1. Pengambilan Resiko Seksual Pada Masa Remaja


Melakukan hubungan seksual pada masa remaja awal, serta berbagai faktor kontekstual dan keluarga,
terkait dengan masalah seksual dan hasil perkembangan yang negatif, menyebabkan meningkatnya
resiko seksual berup[a meningkatnya remaja yang terkena IMS seperti gonore, sifilis, dan klamidia
bahkan AIDS, meningkatnya tingkat kehamilan pada remaja dan bahkan kematian remaja.

1. Kesehatan Fisik Remaja


Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kesehatan karena banyak faktor yang berkaitan
dengan kebiasaan kesehatan yang buruk . beberapa hal yang harus diperhatikan remaja adalah
1. Kegiatan olah raga yang teratur
2. Pola tidur
3. Pola makan
4. Menghindari penyalah gunaan zat addictiv (rokok, alkohol dan narkoba)
1. Perkembangan Kognitif Masa Remaja
1. Cara Remaja Berpikir dan Memproses Informasi

1. Teori Piaget
Menurut Piaget setelah mencapai usia 11 tahun anak mengalami tahap perkembangan kognitif
keempat sekaligus terakhir. Pada tahap ini anak mengalami tahap operasional formal, yaitu tahap
pemikiran dimana individu berpikir lebih abstrak dari tahap sebelumnya. Remaja tidak lagi terbatas
pada pengalaman nyata sebagai jangkar untuk berpikir. Mereka dapat menalar pristiwa yang
kemungkinan adalah murni hipotesis atau proposisi abstrak, dan bahkan dapat mencoba untuk
melakukan penalaran secara logis tentang mereka.

Ciri dan karakteristik berpikir operasional formal adalah :

 Secara tekstual remaja mulai dapat berpikirlogis tentang gagasan abstrak


 Berfungsinya kegiatan kognitif yaitu membuat rencana, startegi, membuat keputusan keputusan , serta memecahkan masalah
 Sudah mampu menggunakan abstraksi abstraksi, membedakan konkrit dengan abstrak.
 Muncul kemampuan nalar secara ilmiah, belajar menguji hipotesis
 Memikirkan masa depan , perencanaan, dan mengeksplorasi alternatif untuk mencapainya
 Mulai menyadari proses berpikir efisien dan belajar intropeksi
 Wawasan berpikirnya semakin meluas, bisa meliputi agama, keadilan, moralitas dan identitas.
1. Egosentris Remaja
Egosentris remaja (adolescent egocentrism) adalah peningkatan kesadaran diri pada masa
remaja. Menurut David Elkind egosentris remaja memiliki dua komponen kunci (John W. Santrock,
2011 : 348) yaitu :

1. Imaginary audience, adalah keyakinan remaja bahwa orang lain tertarik terhadap mereka seperti mereka tertarik kepada dirinya
sendiri, akibatnya mereka sering melakukan tindakan yang memancing perhatian dari orang lain.
2. Personal Fable, adalah perasaan dirinya memiliki keunikan dan tidak terkalahkan, dan membuat tingkat percaya diri mereka
melonjak serta menimbulkan perasaan bahwa dirinya kebal terhadap semua keadaan berbahaya, hal ini menarik remaja untuk
melakukan kegiatan beresiko, seperti balapa, menggunakan narkoba dsb. Perasaan memiliki keunikan ini juga membuat remaja
berpikir tidak ada yang bisa mengerti dirinya selain dia sendiri.

1. Pemrosesan Informasi
Pemrosesan informasi pada remaja terfokus pada memori dan pemfungsian eksekutif.

1. Memori Jangka Pendek


Memori jangka pendek lebih banyak difungsikan oleh remaja usia awal untuk menyelesaikan masalah
analog. Pada remaja memori jangka pendek ini memiliki kapasitas ruang yang lebih besar dari pada
yang lainnya, sehingga kemungkinan lebih banyak digunakan untuk memproses informasi yang
diperolehnya.

2. Working Memory
Working memory adalah teori yang menyatakan keadaan ketika individu melakukan aktifitas berpikir
dengan ,melibatkan ingatan dalam waktu yang singkat dengan memanfaatkan tugas verba maupun
visio spasial dalam memproses informasi.

3. Memory Jangka Panjang


Memori jangka panjang meningkat pada usia anak anak akhir / remaja awal, dan kemungkinan akan
terus meningkat, memori jangka panjang bergantung pada proses pembelajaran anak dan
partisipasinya ketika belajar dikelas dan mengingat informasi.

4. Fungsi Eksekutif
Fungsi Eksekutif adalah jenis proses kognitif tingkat tinggi yang kompleks, karena fungsi ini
mengarahkan individu untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan, pada masa remaja
pemfungsian eksekutif ini meningkat drastis, hal ini disebabkan masa remaja adalah masa
meningkatnya mengambil keputusan, entah itu tentang memilih teman, pendidikan bahkan karier.
Namun menurut hasil beberapa study menyatakan bahwa remaja awal tidak begitu kompeten dalam
mengambil keputusan dibanding remaja akhir, dalam mengambil keputusan remaja akhir cenderung
lebih memikirkan resiko logis yang akan terjadi sementara remaja awal hanya mberfikir mengenai
kepuasan dirinya.

Sebuah penelitian menjelaskan bahwa pengambilan keputusan pada remaja dipengaruhi dua hal, yaitu
analisis dan eksperimental, sistem analisis adalah sistem dimana remaja menganalisis secara terpeinci
mengenai keputusan dan dampak dari keputusan yang diambilnya, sementara sistem
eksperimental adalah dengan mengelola dan memantau pengalaman pengalaman aktual yang
bermanfaat bagi pengfambilan keputusan.

2. Karakteristik Nilai, Pendidikan Moral dan Agama Pada Remaja


3. Nilai
Nilai adalah keyakinan dan sikap mengenai bagaimana hal hal yang seharusnya. Selama tiga dekade
terakhir, remaja menunjukan kepedulian yang meningkat untuk kesejahteraan pribadi dan penurunan
pada kepedulian terhadap orang lain. Untuk mengatasi masalah ini beberapa sekolah mengadakan
program Service Lerning, yaitu suatu bentuk pendidikan yang mempromosikan tanggung jawab sosial
dan pelayanan kepada masyarakat, dalam kegiatan ini remaja terlibat dalam berbagai kegitan seperti
memberikan les, membantu orang tua lanjut, bekerja di rumah sakit atau membantu membersihkan
kota. Tujuan dari service lerning adalah menjadikan remaja untuk menjadi kurang egois atau bahkan
tidak egois dan lebih termotivasi untuk membantu orang lain.

1. Pendidikan Moral

 Kurikulum Tersembunyi
Dalam pendidikan Moral, Dewey mengatakan bahwa ada satu kurikulum yang disebut kurikulum
tersembunyi, yaitu istilah untuk menggambarkan keyakinan bahwa bahkan ketika sekolah tidak
memiliki program khusus pendidikan moral, setiap sekolah memberikan pendidikan moral.

 Pendidikan Karakter
Pendidikan moral juga mengandung pendidikan karakter, pendidikan karakter merupakan pendekatan
pendidikan secara langsung yang melibatkan pengajaran terhadap siswa mengenai keterampilan
moral dasar, yang bertujuan agar remaja tidak melakukan prilaku yang tidak bermoral dan prilaku
yang berbahaya bagi dirinya sendiri juga orang lain.

 Klasifikasi Nilai
Selain itu untuk memenuhi pendidikan moral remaja harus mampu mengklasifikasikan nilai, yakni
mereka didorong untuk dapat menentukan mana nilai yang baik untuk dirinya juga untuk orang lain ,
mereka juga didorong untuk bia merumuskan nilai nilai mereka sendiri yang bisa berguna untuk masa
depannya dan memahami nilai nilai orang lain.

 Pendidikan Moral Kognitif


Adalah suatu pendidikan moral yang diikut sertakan dalam suatu mata pelajaran, seperti pendidikan
untuk demokratis dalam pendidikan kewarga negaraan,. Intinya dalam hal ini remaja diminta untuk
mengembangkan konsep konsep nilai sementara pendidik hanya berfungsi sebagai fasilisator.

 Pendekata integratif
Yaitu pendidikan yang menekankan pendekatan integratif pada pendidikan moral yang mendalam dan
komitmen terhadap keadilan serta mengembangkan karakter moral tertentu.

1. Agama
Erik Erikson, menyatakan bahwa pada masa remaja, individu mengalami ketertarikan yang tinggi
terhadap agama, menurutnya masa remaja merupakan pintu gerbang ke indentitas spiritual yang
melewati batas kewajaran. Para peneliti telah menemukan bahwa agama telah membarikan banyak
dampak positif dalam kehidupan remaja, terutama dalam kompetensi sosial mereka, diantara
pengaruh positif itu adalah :

 Remaja yang memiliki regiositas tinggi secara umum memiliki prestasi akademis yang lebih menonjol, serta lebih bisa
mengendalikan emosinya.
 Menurut Sinha, Cnaan dan Gelles, dalam sampel acak remaja dengan regiositas tinggi memiliki kecederungan yang rendah
terhadap merokok, minum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
 Agama dapat menekan tingkat freesex pada remaja.
1. Perkembangan Sosio-Emosional Pada Masa Remaja

1. Identitas
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa masa remaja adalah masa pencarian jati diri, yang
artinya dalam mas ini individu belum menemukan identitasnya dan tengah mengumpulkan identitas
diri dengan segala torinya.

Erik Erikson menyebutkan bahwa pencarian identitas selama remaj dibantu oleh moratorium
psikososial , yaitu kesenjangan antara keamanan masa kanak kanak dan otonomi dewasa. Pada masa
ini masyarakat biasaya membiarkan remaja bebas dari tanggung jawab dan mencoba identitas yang
berbeda, akibatnya remaja menjadi bereksperimen dengan peran dan kepribadian berbeda, yang
bertujuan untuk mencari kecocokan mereka dengan dunianya, sehingga tidak sedikit remaja yang
mengalami kebingungan identitas, Damon menyatakan bahwa dalam masa ini remaja tidak bisa
ditinggalkan sendiri, melainkan harus didampingi guru atau mentor untuk bisa membantu remaja
mengembangkan identitas positif.

Marcia mengelompokkan identitas kedalam empat status, yaitu :

 Identity diffusion, yaitu individu yang belum mengalami krisis atau belum membuat komitmen apapun yang bisa ia jadikan
identitas.
 Identity disclouser, status individu yang sudah membuat komitmen tapi belum mengalami krisis
 Identity moratorium, status individu ditengah tengah krisis , tapi komitmen hanya samar samar didefinisikan.
 Identity achivement, adalah status individu yang mengalami krisis dan telah membuat komitmen.
2. Perkembangan Emosional
Masa remaja digambarkan sebagai periode kekacauan emosional, dalam bentuk ektreem pandangan
tersebut terlalu stereotip karena remaja tidak selalu dalam keadaan “badai dan stres.” Namun masa
awal remaja adalah masa terjadinya fluktuasi emosi. Remaja bisa dengan mudah menatakan mereka
tengah bahagia tapi beberapa saat kemudian mereka menyatakan mereka sedang sedih, hal tersebut
mendukung persepsi bahwa mood remaja bisa mudah berubah ubah, dan penting bagi orang dewasa
untuk memahami bahwa itu adalah hal yang normal bagi remaja.
Para peneliti menemukanbahwa perubahan mood pada remaja juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan
dan faktor hormon, sebagaimana telah dijelaskan bahwa pada masa remaja perkembangan fisik
mereka terjadi lebih pesat, dan itu berpengaruh pada emosinya. Sementara lingkungan berpengaruh
dalam pembentukan emosi remaja, remaja yang berada dlam lingkungan yang kurang kondusif akan
mengalami dua emosi berikut :
 Agresif : melawan, keras kepala, suka menganggu, dll
 Regresif : suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengkonsumsi obat penenang, minuman keras atau obat obatan
terlarang.
Sedeangkan remaja yang tinggal dilingkungan kondusif, akan bisa membantu emosi remaja menjadi :

 Adekuasi emosi : cinta, kasih sayang, senang menolong, repek, ramah, dll.
 Menendalikan emosi : tidak mudah tersinggung, tidak agresif, wajar, optimistik, tidak meledak ledak, menghadapi kegagalan
secara sehat dan bijak.
3. Sifat Hubungan Orangtua dan Remaja
1. Kemandirian
Salah stu sifat anak remaja adalah menginginkan hidup mandiri dan terlepas dari aturan orangtua,
sementara orangtua menginginkan anaknya mendengarkan saran mereka. Dalam hal ini orang tua
mungkin akan mengalami dilemma antar mengikuti keinginan anaknya atau tetap dalam
pendiriannya, pada fase ini orang tua yang memaksakan kehendaknya justru cenderung akan
kehilangan kontrol atas anaknya, maka orangtua dituntut untuk memberikan kebebasan juga
pengawasan dalam waktu yang bersamaan. Intinya, orangtua harus bisa menyeimbangkan antara
kebebasan dan kontrol mereka terhadap anak.

Remaja awal memang tidak terlalu pandai dalam mengamil keputusan yang matang, namun seiring
berjalannya waktu dengan bertambahnya pengetahuan dan pengalaman, pada masa remaja akhir
mereka akan lebih matang dalam mengambil keputusan

1. Kelekatan
Dalam sebuah studi ditemukan, bahwa seorang anak yang memiliki kelekatan dengan orangtua
cenderung sedikit terlibat dalam prilaku bermasalah, dibanding anak yang kelekatan dengan
orangtuanya kurang, termasuk dalam kemampuan menjalin hubungan dan karir, serta teman sebaya.

1. Konflik Orangtua Vs Remaja


Konflik orangtua-remaja menungkat pada masa remaja awal. Konflik tersebut biasanya bukan konflik
yang parah yang menyebabkan dilemma besar, melainkan terjadi karena permasalahan sehari hari.
Meskipun sebagian remaja mengalami konflik yang tinggi degan orangtua yang sering dikaitkan
dengan hal hal negatif, namun sebenarnya dengan adanya konflik ini bisa berdampak positif, orangtua
bisa melakukan negosiasi dengan anak sehingga dapat meningkatkan hubungan orangtua dan anak,
selain itu konflik juga bisa membantu anak dalam meningkatkan kemandirian dan identitas,serta
membantu anak melewati masa transisi menuju usia dewasa.

4. Hubungan Teman Sebaya yang Penting pada Masa Remaja


1. Pertemanan
Pada kebanyakan anak, menjadi populer diantara teman sebaya mereka adalah motivator yang sangat
kuat. Bagimanapun remaja lebih memilih untuk memiliki pertemanan yang lebih intens dengan
sejumlah anak sebayanya. Dalam usia remaja, individu cenderung lebih mempercayai teman daripada
orangtuanya, bahkan akan ada suatu keadaan dimana remaja memusuhi orangtuanya karena
membela temannya.

Menurut Harry Stack Sullivan, teman menjadi sangat penting dalam memenuhi kebutuhan sosial
remaja. Secara khusus Sullivan berpendapat bahwa kebutuhan akan keintiman semakin intensif
selama masa remaja awal, memotivasi remaja untuk mencari teman dekat, jika remaja gagal
menjalin pertemanan dekat, mereka mengalami kesepian dan rasa penghargaannya terhadap diri
akan berkurang.

Fase ini sangat memerlukan bimbingan orang tua, karena bagi remaja yang belum memiliki kepastian
identita sosial yang menjadi sangat patuh pada teman sebayanya karena menganggap mereka
memilki kedudukan yang lebih tinggi dari pada dirinya, sehingga mengarahkan dirinya sendiri menjadi
korban bullying, terlebih jika remaja itu sudah terlibat dalam suatu perkumpulan.

1. Kencan
Ada tiga tahap yang menandai perkembangan hubungan romantis pada masa remaja, yaitu :

 Ketertarikan terhadap hubungan romantis (11 – 13 y.o), hal ini dipicu oleh pubertas, dimana anak menjadi sangat tertarik dengan
hubungan percintaan dan mulai menyukai obrolan dengan lawan jenis.
 Mengeksplor hubungan romantis (14 – 16 y.o), pada tahap ini individu mulai melakukan hubungan romantis yang disebut
kencan.
 Menguatkan ikatan pasangan romantis (17 – 19 y.o), diusia ketika masa sekolah menengah ahir hungun romantis mulai beranjak
serius dan mendekati hubungan romantis dewasa.
Kencan sudah seperti hal biasa bagi remaja, dan dianggap sebagai bagian dari perkembangannya,
namun ternyata di Amerika ditemukan fakta dari hasil penelitian bahwa orang yang berkencan lebih
berpotensi untuk melakukan penyalah gunaan narkotika dari pada orang yang
tidak berkencan.dalam beberapa kasus kencan juga bisa memicu konflik dalam keluarga.
5. Masalah Sosio-Emosional Pada Remaja

1. Kenakalan Remaja
Yang dimaksud prilaku kenakalan pada remaja adalah ketika seorang remaja melanggar hukum atau
terlibat dalam prilaku yang dianggap ilegal. Tingkat kenakalan diantara kelompok minoritas dan
kelompok pemuda dengan status sosio-ekonomi tercatat lebih rendah . kenakalan remaja bisa
disebabkan oleh :

 Pola asuh yang tidak sesuai


 Hereditas / keterunan
 Lingkungan teman sebaya
 Faktor kognitif seperti rendahnya kontrol diri dan kurangnya intelegensi
 Label dari masyarakat.
1. Depresi dan Bunuh Diri
Remaja dan orang dewasa lebih berpotensi untuk terkena depresi mayor dibanding anak anak,
terutama pada usia 12 -15 y.o, dan remaja putri yang beranjak dewasa cenderung memiliki mood
depresif lebih tinggi dari pada remaja laki laki. Akibatnya, remaja perempuan mengalami akumulasi
perubahan dan pengalaman hidup pada tahun tahun sekolah menengah atas yang dapat
meningkatkan depresi. Diantara yang dapat meningkatkan mood depresif remaja adalah :

 Faktor keluarga yang tidak harmonis


 Pertemanan sebaya
 Lingkungan yang tidak kondusif
Sementara salah satu dampak dari depresi tersebut adalah bunuh diri, beberapa tahun terakhir
fenomena bunuh diri merepukan salah satu penyebeb kematian paling tinggi di Amerika dan
dibeberapa negara di Asia,diantara faktor yang mendorong mereka untuk bunuh diri selain akibat
depresi itu sendiri diantaranya adalah rasa putus asa, rendah diri, rasa menyalahkan diri sendiri, rasa
menjadi beban terhadap orang lain juga rasa kecewa terhadap kehidupan, cenderung lebih memiliki
dorongan yang kuat untuk bunuh diri.

Untuk mengurangi tingkat depresi pada remaja , diantaranya dengan memberikan terapi kognitif,
dengan mengingatkan mereka akan kemampuannya untuk bertahan hidup, mengkondisikan keadaan
lingkungan agar sesuai dengan suhu psikologis anak, serta menjadi teman berbagi untuk remaja
tersebut. Selain itu berikut adalah beberapa program yang dapat menekan masalah remaja .

 Perhatian Individu yang intensif, program ini melibatkan orang dewasa terdekat bagi remaja tersebut, dengan mongkondisikan
agar orang dewasa membarikan perhatian khusus pada remaja itu serta mengurusi kebutuhannya secara khusus, juga menajdai
tempat konseling individu dan rujukan treatment.
 Pendekatan multiagensi masyarakat luas bersifat kolaborasi, metode ini biasa diterapkan dalam proses penanggulangan bagi
kasus penyalah gunaan narkoba, dimana ada berbagai pihak yang dilibatkan untuk memberikan pendidikan komunitas.
 Identivikasi dan intervensi dini, yakni upaya preventif dengan melakukan pendekatan pada anak anak sebalum mereka
mengalami masalah yang serius.

BAB III
SIMPULAN
1. Simpulan
Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak kanak menuju masa dewasa, secara umum
biasanya terjadi sekitar usia 13 – 19 y.o,l dikarenakan masa ini adalah masa peralihan, sehingga
terjadi beberapa masalah yang menyertainya.

Masa remaja ditandai dengan adanya banyak perubahan pada anak, dari mulai perubahan fisik yang
menunjukkan kematangan organ reproduksi serta optimalnya fungsional organ organ tertentu,
perubahan kognitif yang menunjukkan kemajuan cara berpikir remaja serta perubahan sosio-emosi
yang berpengaruh besar terhadap kondisi kejiwaan remaja tersebut. Ada banyak faktor yang harus
diperhatiak selama pertumbuhan remaja, diantaranya : hubungan dengan orang tua, hubungan
dengan teman sebaya, kondisi lingkungan serta pengetahuan kognitif anak.

Kenakalan remaja merupakan hal yang akan selalu mengiringi perkembangan remaja, karenanya
oreang dewasa harus memahami kondisi remaja sehingga bisa menangani masalah kenakalan
tersebut, kebebasan dan pengawasan yang seimbang merupakn kunci agar orangtua tidak kehilangan
kendali atas anaknya yang tengah beranjak deasa.

1. Saran
Ilmu Psikologi merupakan bidang ilmu pengetahuan yang berkembang sesuai dengan perkembangan
zaman, bagi rekan yang ingin melakukan penelitian dengan masalah yang sama kami sarankan untuk
lebih banyak menggali sumber, baik itu sumber tekstual seperti buku buku yang banyak beredar
maupun dari kenyataan aktual yang terjadi dilapangan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Santrock, John W, Masa Perkembangan Anak Children. Salemba Humanika Jakarta
2. http://belajarpsikologi.com/perkembangan-psikologis-remaja/
3. http://anandapriadmajha.blogspot.com/2013/05/perkembangan-masa-remaja.html/
4. http://uinkediri.blogspot.com/
5. http://www.muhammad-sabran.com/2012/10/psikologi-remaja-menurut-islam.html/