Anda di halaman 1dari 29

PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH DASAR KESEHATAN REPRODUKSI &


KESEHATAN IBU DAN ANAK

Dosen Pengampu :

Mizna Sabilla, SKM, MKM

Anggota :

Aura Karenina Zamri 2017710037

Fidiya Sukawuni Puteri 2017710025

Intan Rosenanda Sofiany 2017710051

Husna Shofiyah 2017710061

Mutia Ika Setyawati 2017710062

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

2018
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang berada diperingkat empat
dunia dengan jumlah penduduk terbesar setelah Amerika Serikat, dengan laju pertumbuhan
yang begitu cepat. Salah satu masalah yang perlu dihadapi di Indonesia ialah laju
pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, dan untuk mengatasi masalah tersebut,
pemerintah membuat program seperti program pelayanan kesehatan Ibu dan Anak,
Keluarga Berencana (KB), dan pembagunan keluarga sejahtera (BKKBN 2010).
Indonesia adalah salah satu negara yang ikut berkomitmen dalah pembagunan global
yang berkelanjutan atau disebut Sustainable Development Goals (SDGs). Tujuan
pembagunan ini juga meliputi penggunaan alat kontrasepsi (CPR), tingkat fertilitas remaja,
dan kebutuhan keluarga berencana yang belum sepenuhnya terlaksana. Pelaksanaan
program KB juga harus menghadapi hambatan dengan sistem desentralisasi pemerintah
yang mengubah garis kewenangan langsung ke kabupaten/kota dan tidak lagi ketingkat
pusat. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), adalah institusi
yang menjadi pelopor dalam pelaksanaan program KB di Indonesia yang telah
melaksanakan beberapa upaya untuk merevitalisasi program KB yang komprehensif.
Adanya pergeseran paradigma pembagunan di bidang kependudukan dan KB.
Program KB terlalu berorientasi terhadap kuantitas yang dapat berdampak negatif terhadap
peran perempuan. Maka pelayanan KB kurang diarahkan pada aspek pemenuhan
pelayanan kesehatan reproduksi bagi perempuan, yang cenderung dijadikan objek dalam
mencapai tujuan demografis, sehingga mengabaikan prinsip-prinsip Hak Asasi Manusia.
Beberapa hal penting yang dapat dirasakan berpengaruh terhadap kualitas pelaksanaan
program adalah masih dijumpainya kesenjangan dan permasalahan gender.

Rumusan Masalah
Bagimana situasi dan perkembangan program Keluarga Berencana (KB) di
Indonesia, serta bagaimana konsep budaya dan gender dengan program Keluarga
Berencana di Indonesia

Tujuan
Mengetahui situasi perkembangan program KB di Indonesia dengan data terbaru,
serta memahami budaya dan gender dalam pelaksanaan program KB
BAB II

PEMBAHASAN

A. Sejarah Keluarga Berencana


Di Indonesia, perkembangan program Keluarga Berencana ditandai dengan
dibentuknya Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) yang diresmikan oleh
Dr. R. Soeharto sebagai ketua pada tanggal 23 Desember 1957. Perintisannya dimulai di
bagian Kebidanan dan Kandungan FKUI/RSUP (yang sekarang menjadi Rumah Sakit Dr.
Cipto Mangunkusumo) oleh Profesor Sarwono Prawirohardji, Dr. M. Joedono, Dr. Hanafi
Wiknjosastro, Dr. Koen S. Martiono, Dr. R. Soeharto, dan Dr. Hurustiati Subandrio.
Pelayanan Keluarga Berencana awalnya dilakukan secara diam-diam di poliklinik
kebidanan FKUI/RSUP.
Keluarga Berencana (KB) pertama kali ditetapkan sebagai program pemerintah pada
tanggal 29 Juni 1970, bersamaan dengan dibentuknya Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional. Namun, sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk
Indonesia serta tingginya angka kematian ibu dan kebutuhan akan kesehatan reproduksi,
program KB selanjutnya digunakan sebagai salah satu cara untuk menekan pertumbuhan
jumlah penduduk serta meningkatkan kesehatan ibu dan anak.

B. Pengertian Keluarga Berencana


Keluarga Berencana (KB) adalah proses penetapan jumlah dan jarak anak yang
diinginkan dalam keluarga seseorang serta pemilihan cara yang tepat untuk mencapai
keinginan tersebut, maka dibuatlah beberapa cara atau alternatif untuk mencegah atau
menunda kehamilan.
Keluarga Berencana menurut WHO adalah tindakan yang membantu individu atau
pasangan suami istri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan
kelahiran yang diinginkan, mengatur interval diantara kelahiran, mengontrol waktu saat
kelahiran dalam hubungan dengan umur suami dan istri, dan menentukan jumlah anak
dalam keluarga.
C. Tujuan Keluarga Berencana
Tujuan Keluarga Berencana adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak
serta mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera yang menjadi dasar agar
terwujudnya masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan
penduduk Indonesia. Sedangkan pada era otonomi daerah saat ini, pelaksanaan program
Keluarga Berencana Nasional bertujuan untuk mewujudkan keluarga berkualitas yang
memiliki visi, sejahtera, maju, bertanggung jawab, bertakwa, dan mempunyai anak ideal,
dengan demikian diharapkan :
a. Terkendalinya tingkat kelahiran dan pertambahan penduduk
b. Meningkatkan jumlah peserta KB atas dasar kesadaran, sukarela dengan dasar
pertimbangan moral dan agama
c. Berkembangnya usaha-usaha yang membantu peningkatan kesejahteraan ibu dan anak,
serta kematian ibu pada masa kehamilan dan persalinan

D. Metode KB atau Kontrasepsi

Jenis-jenis atau Metode Kontrasepsi


Metode Kontrasepsi Jangka Panjang :
a. Metode Operasi Wanita (MOW)/tubetomi, Metode Operasi Pria (MOP)/vasektomi.

Tubektomi (MOW), alat kontrasepsi dengan cara mengikat atau memotong dan memasang cincin
di tuba fallopi sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan sel telur atau ovum.

Vasektomi (MOP), alat kontrasepsi dengan cara memotong saluran sperma atau vas deferen yang
menghubungkan testikel atau buah zakar dengan kantong sperma.

b. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) / Spiral


Alat kontrapsepsi yang dimasukkan ke dalam rahim yang bentuknya macam-macam tebuat dari
plastik, plastik yang dililit tembaga atau tembaga perak yang berisi hormon, jangka waktu
penggunaan bisa sampai 10 tahun.

c. Implan (alat kontrasepsi bawah kulit).


Kb Implan atau Kb susuk adalah tabung plastik kecildan fleksibel seukuran korek api yang berisi
hormon untuk mencegah kehamilan. Tabung ini akan dimasukan ke dalam kulit lengan atas. Susuk
yg sudah dimasukkan ke kulit akan melepas hormon progesteron. Jangka waktu penggunaan bisa
sampai 3 tahun.
Metode jangka panjang sangat efektif tidak mudah dikembalikan seperti semula.

Metode Kontrasepsi Jangka Pendek :


a. Suntik
Terdapat 2 jenis suntikan yaitu suntikan 1 bulan (cyclofem) dan suntikkan 3 bulan (Depo provera).
Untuk ibu menyusui, tidak disarankan menggunakan suntikan 1 bulan, karena akan mengganggu
produksi ASI.

b. Pil KB
Hormon yang mengandung estrogendan progesteron yang diminum setiap hari selama 21/28 hari,
untuk menekan ovulasi yang mencegah lepasnya sel telur dari indung telurdan mengendalikan
lendir di mulut rahim sehingga spermas tidak dapat masuk ke dalam rahim.

c. Kondom
Sarung karet tipis penutup penis yang fungsinya menampung cariran sperma agar Tidak masuk
kedalam rahim.

Metode jangka pendek sangat efektif dengan pemakaaian yang benar dan perlu pengulangan.

E. Dampak Penggunaan Alat Kontrasepsi


1. Kontrasepsi pil
Cara kerja pil ini adalah dengan menekan ovulasi, mencegah implantasi,
mengentalkan cairan lendir pada serviks, dan mengganggu pergerakan di tuba fallopi
sehingga transportasi ovum terganggu.
a. Keuntungan :
Tidak mengganggu hubungan seksual, membuat siklus haid menjadi teratur, bisa
digunakan sebagai metode jangka panjang, jika ingin berhenti dapat dilakukan
setiap saat, setelah berhenti minum pil maka dengan cepat kesuburan akan kembali,
dan dapat mencegah: kehamilan ektopik, kanker ovarium, kanker endometrium,
kista ovarium, jerawat, disminorhea.
b. Keterbatasan :
Menyebabkan pendarahan haid banyak, depresi, berat badan bertambah, mual
sekaligus muntah, perubahan libido, hipertensi, kesemutan, infeksi pada alat
pernafasan, dan perubahan di fibroid uterus.
2. Kontrasepsi suntik
Jenis kontrasepsi suntik mempunyai efektivitas tinggi jika penyuntikan dilakukan
secara teratur sesuai dengan jadwal. Cara kerjanya adalah dengan mencegah ovulasi,
dan mengentalkan lendir sehingga dapat menurunkan kemampuan penetrasi sperma.
a. Keuntungan :
Sangat efektif, pencegah kehamilan jangka panjang, tidak berpengaruh pada
hubungan seksual, tidak mengandung estrogen, tidak mempengaruhi ASI, efek
samping sangat kecil, dapat digunakan oleh perempuan yang usianya lebih dari 35
tahun sampai perimenopause, membantu mencegah kanker endometrium dan
kehamilan ektopik, menurunkan kejadian tumor jinak payudara, dan mencegah
penyakit radang panggul.

b. Keterbatasan :
Timbul gangguan saat menstruasi, keputihan, galaktorea, meyebabkan jerawat,
rambut menjadi rontok, perubahan berat badan, dan terjadi perubahan libido.
3. Kontrasepsi implant
Cara kerjanya adalah mengentalkan lendir pada serviks sehingga mengganggu
proses transportasi sperma, dan mengganggu pembentukan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi.
a. Keuntungan :
Memiliki perlindungan jangka panjang, setelah tidak memakai maka tingkat
kesuburan cepat kembali, tidak memerlukan pemeriksaan yang dalam, tidak
mempengaruhi ASI, dapat mengurangi nyeri dan jumlah darah saat haid,
melindungi dari terjadinya kanker endometrium, dan dapat menurunkan kejadian
endometriosis.
b. Keterbatasan :
Pada kebanyakan pasien dapat menyebabkan perubahan pola haid berupa
perdarahan bercak (spoting), hipermenorea atau meningkatnya jumlah darah saat
haid lebih banyak dari normal, serta amenorhea.
4. Keuntungan dan kerugian dari metode kontrasepsi pil hormonal dan non hormonal pada
pria, antara lain :
a. Keuntungan :
Sebagai pencegah kehamilan, lebih mudah untuk digunakan, mengurangi beban
pada perempuan dalam menggunakan kontrasepsi, dan agar pria lebih memiliki
tanggung jawab dalam menggunakan kontrasepsi sehingga dapat berperan aktif
dalam program keluarga berencana.

b. Keterbatasan :
Tidak adanya perlindungan penyakit menular seksual, pil hanya tepat digunakan
pada pasangan setia untuk mengatur kehamilan dengan keamanan terhadap
penularan penyakit seksual tidak terganggu.

5. Vasektomi :

Kelebihan vasektomi :

- Vasektomi adalah operasi kecil yang aman dan efektif serta bersifat permanen.
- vasektomi adalah yang lebih murah dan tidak menimbulkan komplikasi
- vasektomi tidak mempengaruhi kualitas hubungan seks
- pria bisa melakukan kontrasepsi bukan hanya wanita saja.

kerugian vasektomi :

- vasektomi tidak memberikan perlindungan terhadap infeksi menular termasuk


HIV/AIDS.
- Ada sedikit rasa sakit beberapa hari setelah operasi.
- Ada nya pembengkakkan pada penis dan harus seringkali melakukan kompres dengan es
agar mengurangi pembengkakan, serta harus memakai celana yang mendukung skrotum
selama 2 hari.
- Operasi tidak efektif dengan segera. Pasien harus memakai kondom terlebih dahulu,
dibituhkan 1-3 tahun untuk benar-benar memastikan apakah vasektomi bisa bekerja
efektif 100%.

6.Tubektomi

keuntungan tubektomi

- Perlindungan kehamilan sangat tinggi


- Tidak mempengaruhi ASI
- Lebih aman karena tingkat kegagalan sangat kecil
- Tidak ada perubahan dalam fungsi generatif
- Tidak ada efek samping jangka panjang

Kerugian tubektomi

- Tidak adanya kesuburan lagi


- Tidak anak terjadi kehamilan berikutnya sehingga wanita bisa menyesal
- Rasa sakit dalam jangka pendek setelah perawatan medis
- Kemungkinan infeksi terjadi jika prosedur operasi tidak dilakukan dengan benar
- Mengalami demam pasca operasi

Keuntungan Spiral atau AKDR


- Praktis dan ekonomis
- Kesuburan segera kembali jika dibuka
- Tidak harus mengingat seperti pil
- Tidak mengganggu pemberian ASI

Kerugian
- Terjadi pendarahan yang lebih banyak dan lebih lama pada masa menstruasi
- Keluar bercak-bercak (spotting) setelah 1 atau 2 hari pemasangan
- Kram / nyeri selama menstruasi
- Sering keputihan

F. Situasi Pelayanan Keluarga Berencana di Indonesia


1. Kesiapan layanan
Menurut UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 78 disebutkan
bahwa pemerintah bertanggung jawab dan menjamin ketersediaan tenaga, fasilitas
pelayanan, alat dan obat dalam memberikan pelayanan keluarga berencana yang aman,
bermutu dan terjangkau oleh masyarakat.

a. Alat dan obat kontrasepsi (Alokon)


Pada saat ini pemerintah telah menyediakan secara gratis tiga jenis alokon di
seluruh wilayah Indonesia, yaitu kondom, Alat Kontrasepsi Dalam Rahim
(AKDR), dan susuk KB. Terdapat 7 provinsi yang menyediakan alokon lainnya
juga secara gratis, yaitu Aceh, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. Di provinsi lain, selain kondom,
AKDR, dan susuk KB, jenis alokon lainnya hanya tersedia secara gratis bagi
masyarakat miskin. Dengan demikian memang ada sebagian masyarakat yang
harus membayar sendiri penggunaan alokon yang dibutuhkannya.

b. Sejak tahun 1997, terjadi pergeseran penggunaan fasilitas pelayanan kontrasepsi


oleh peserta KB dari pelayanan pemerintah ke pelayanan swasta. Pemanfaatan
fasilitas pelayanan swasta mengalami peningkatan yaitu sebesar 69%, sedangkan
pemanfaatan fasilitas pelayanan pemerintah mengalami penurunan menjadi 22%.
Masyarakat cenderung menggunakan fasilitas pelayanan swasta untuk pelayanan
kontrasepsi atau KB dibandingkan dengan menggunakan fasilitas pelayanan
pemerintah. Fasilitas pelayanan swasta yang paling banyak digunakan oleh
masyarakat adalah Bidan Praktek Mandiri yaitu sebanyak 52,5%, sedangkan
fasilitas pelayanan pemerintah, seperti rumah sakit, puskesmas, pustu dan polindes
hanya digunakan oleh sekitar 23,9% peserta KB. (Riskesdas,2010)
Pelaksanaan pelayanan KIA/KB merupakan salah satu dari 6 (enam) pelayanan
wajib di puskesmas. Maka seharusnya semua puskesmas di Indonesia telah
melaksanakan pelayanan KIA dan KB. Namun saat ini, sebanyak 97,5% puskesmas
di Indonesia telah melaksanakan kegiatan pelayanan KIA/KB. Sedangkan
puskesmas di beberapa daerah di Indonesia seperti di provinsi Papua,Papua Barat,
dan Maluku belum seluruhnya memberikan layanan KIA dan KB. (Rifaskes, 2011)
Beberapa puskesmas juga menyediakan ruangan poliklinik khusus KB. Khususnya
di daerah perkotaan seperti DKI Jakarta, sebanyak 66,4% puskesmas menyediakan
ruangan poliklinik khusus KB. Sedangkan di daerah pedesaan terdapat 29%
puskesmas menyediakan ruangan poliklinik khusus KB.
Namun, meskipun 97,5% puskesmas telah melaksanakan pelayanan KIA/KB,
petugas puskesmas yang telah mendapat pelatihan mengenai KB baru sekitar 58%
dan hanya terdapat 32,2% puskesmas yang memiliki kecukupan sumber daya
dalam program KB. Kecukupan sumber daya tersebut meliputi kompetensi
pelayanan, ketersediaan petugas di puskesmas, ketersediaan pedoman dan Standar
Prosedur Operasional (SPO), dan bimbingan teknis.
2. Kualitas layanan
a. Pemilihan metode
Rasio penggunaan Non-MKJP (Metode Kontrasepsi Jangka Panjang) dan MKJP
setiap tahun semakin tinggi, atau pemakaian kontrasepsi non-MKJP lebih besar
dibandingkan dengan pemakaian kontrasepsi MKJP. Padahal Couple Years
Protection (CYP) Non-MKJP yang berkisar 1-3 bulan memberi peluang besar
untuk putus penggunaan kontrasepsi (20-40%). Sementara itu CYP dari MKJP
yang berkisar 3-5 tahun memberi peluang untuk kelangsungan yang tinggi, namun
pengguna metode ini jumlahnya kurang banyak. Hal ini mungkin disebabkan
karena penggunaan metode ini membutuhkan tindakan dan keterampilan
profesional tenaga kesehatan yang lebih kompleks.

b. Kepuasan penggunaan KB
Salah satu yang mempengaruhi kepuasan dalam menggunakan alat/cara KB adalah
masalah/efek samping yang timbul. IUD, yang merupakan salah satu kontrasepsi
metode MKJP, paling sedikit menimbulkan keluhan dibandingkan pil, suntikan,
dan susuk KB diantara para pengguna KB.

3. Dampak
a. Pengetahuan pengguna KB
Metode KB dapat dibedakan menjadi KB cara modern dan cara tradisional. Metode
KB cara modern adalah sterilisasi, pil, IUD, suntik, susuk KB, kondom,
intravagina/diafragma, kontrasepsi darurat dan Metode Amenorea Laktasi (MAL).
Sedangkan cara tradisional misalnya pantang berkala dan senggama terputus.
Suntik dan pil adalah cara KB modern yang paling diketahui oleh masyarakat di
semua golongan usia, termasuk pada usia risiko tinggi di atas 35 tahun. Namun,
kedua jenis kontrasepsi tersebut dinilai kurang efektif untuk mencegah kehamilan.
Jenis kontrasepsi yang efektif untuk mencegah kehamilan bagi wanita risiko tinggi
adalah MKJP seperti IUD, sterilisasi wanita dan sterilisasi pria. Berdasarkan jenis
tempat tinggal, pengetahuan mengenai sterilisasi, IUD, kondom, diafragma,
kontrasepsi darurat dan MAL di perkotaan cenderung lebih tinggi, sedangkan pil,
suntik dan implan di perkotaan juga lebih tinggi namun tidak jauh berbeda dengan
di perdesaan. Berdasarkan tingkat pendidikan, metode yang paling banyak
diketahui adalah suntik dan pil. Sedangkan yang kurang diketahui, yaitu MAL,
kontrasepsi darurat, dan diafragma.
b. Total Fertility Rate (TFR)
Total Fertility Rate (TFR) merupakan rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh
seorang wanita sampai dengan akhir masa reproduksinya. Di Indonesia, terdapat
penurunan TFR dari yang semula 3 anak perwanita pada tahun 1991 menjadi 2,6
anak pada 2012. Namun, angka TFR ini merupakan angka yang stagnan sejak tahun
2002-2012. Angka TFR di Indonesia masih diatas rata-rata TFR negara ASEAN,
yaitu 2,4
c. Age Specific Fertility Rate
ASFR atau Angka Kelahiran Menurut Umur bertujuan untuk menunjukkan
banyaknya kelahiran menurut umur dari wanita yang berada dalam kelompok umur
15-49 tahun. Hasil SDKI 2012, ASFR untuk kelompok remaja usia 15-19 tahun
adalah 48 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun sedangkan target yang diharapkan
pada tahun 2015 adalah 30 per 1.000 perempuan usia 15-19 tahun.
d. Drop-out (DO) Rate KB
Angka ketidaklangsungan (drop-out) metode non-MKJP (pil dan suntikan) lebih
tinggi dibandingkan metode MKJP (implant dan IUD) .
e. Contraceptive Prevalence Rate (CPR)
CPR atau angka pemakaian kontrasepsi adalah persentase perempuan usia
reproduktif yang menggunakan (atau yang pasangannya menggunakan) suatu
metode kontrasepsi pada suatu waktu tertentu. Di Indonesia, Angka Kesertaan ber-
KB (CPR) peningkatannya sangat kecil, hanya 0,5% dalam 5 tahun terakhir, baik
pada semua cara KB maupun pada cara modern. Angka CPR pada tahun 2012 yaitu
sebesar 57,9% sedangkan Target RPJMN 2014 untuk cara modern sebesar 60,1%
dan MDG 2015 sebesar 65%.
f. Unmet need
Unmet Need merupakan kelompok orang yang membutuhkan pelayanan KB tapi
tidak mendapatkannya. Contohnya, wanita usia subur yang menikah atau hidup
bersama (seksual aktif) yang tidak ingin punya anak lagi atau yang ingin
menjarangkan kehamilan, tetapi tidak menggunakan alat atau cara kontrasespsi. Di
Indonesia, angka unmet need masih cukup tinggi, hanya turun 0,6% dalam 5 tahun
terakhir.
G. Isu dan Tantangan dalam Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di Indonesia
Dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana di Indonesia, tak jarang dijumpai
beberapa isu dan tantangan yang menghambat jalannya program Keluarga Berencana.
Beberapa diantaranya adalah :
1. Kurangnya komitmen para pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun non
pemerintah dalam penyelenggaraan pelayanan KB
2. Masih rendahnya permintaan dan atas pelayanan KB akibat terjadinya perubahan nilai
tentang jumlah anak ideal dalam keluarga
3. Belum optimalnya ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pelayanan KB, termasuk
pelayanan KIE dan konseling
4. Masih tingginya kejadian kehamilan yang tidak diinginkan akibat tingginya unmet
need dan ketidakberlangsungan penggunaan kontrasepsi
5. Masih tingginya kejadian kehamilan dan persalinan pada remaja perempuan usia 15-
19 tahun

Berdasarkan isu-isu dan tantangan yang telah ditemukan menunjukkan bahwa perlu
adanya revitalisasi dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana di Indonesia demi
terwujudnya program Keluarga Berencana di Indonesia yang sesuai dengan tujuan serta
target-target yang telah ditetapkan.

H. Strategi Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di Indonesia


Di Indonesia, telah disusun beberapa strategi dalam pelaksanaan Program Keluarga
Berencana Nasional di Indonesia yaitu “Strategi Pelaksanaan Program Keluarga Berencana
Berbasis Hak dengan Tujuan untuk Mempercepat Akses ke Pelayanan Keluarga Berencana
dan Kesehatan Reproduksi yang Terintegrasi dalam Mencapai Tujuan Pembangunan
Indonesia”.
a. Visi :
Strategi Keluarga Berencana ini sejalan dengan Rencana Pembangunan Strategis
Jangka Menengah (RPJSM) tahun 2015-2019, yang disusun oleh renstra kemenkes
yang terkait dengan program KB, dan renstra kementrian lainnya.
b. Misi :
Untuk memajukan upaya bersama antara BKKBN, Kementrian Kesehatan, Kementrian
Pendidikan, pemerintah daerah dan lembaga-lembaga pemerintah lainnya untuk
mencapai akses universal terhadap pelayanan keluarga berencana yang berkualitas
dalam memenuhi kebutuhan individu atau pasangan untuk tujuan reproduksi mereka.
c. Target berdasarkan RPJMN

Indikator Baseline (2012) Target 2015-2019


Angka kematian ibu 346 309

Laju pertumbuhan 1,49 1,19


penduduk (%)
Angka fertilitas total 2,6 2,3
(%)
Angka Kelahiran 48 35
Remaja (%)
Tingkat pemakaian 61,9 66
Kontrasepsi (semua
metode) (%)
Proporsi pengguna 18,3 23,5
kontrasepsi jangka
peendek maupun
pendek (%)
Kebutuhan KB belum 11,4 9,9
terpenuhi (%)
Sumber : UNFPA Indonesia,2016

d. Rencana strategis
Evaluasi terhadap renstra masa lalu yang berhasil maka, rencana strategis ini mencoba
untuk komprehensif membahas berbagai aspek menentukan prioritas dan implementasi
yang tepat waktu serta efisien. Rencana strategis memfokuskan empat wilayah utama
yaitu :
Renstra 1 : Tersedianya sistem penyediaan pelayanan KB yang merata dan berkualitas
di sektor pemerintah dan swasta untuk menjamin agar setiap warga
negara dapat memenuhi tujuan reproduksinya.

Renstra 2 : Meningkatnya permintaan atas metode kontrasepsi modern yang


terpenuhi dengan penggunaan yang berkelanjutan.

Renstra 3 : Meningkatnya penatalayanan/pengelolaan di semua jenjang dan


memantapkan lingkungan yang mendukung program KB yang efektif,
adil dan berkesinambungan si sektor pemerintah dan swasta untuk
menjamin agar setiap warga negara dapat memenuhi tujuan kesehatan
reproduksinya.

Renstra 4 : Dikembangkannya dan diaplikasikannya inovasi dan riset operasional


untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas program dan berbagi
pengalaman melalui kerjasama Selatan-Selatan.

e. Pembangunan Keluarga Berencana yang Holistik dan Integratif


1. Peningkatan Pelayanan KB
- BKKBN : penyediaan alokon, penyediaan sarpras KB kef askes
- Kemenkes : penyediaan pelayanan medis, peningkatan kualitas bidan dan
dokter, penyediaan faskes pelayanan KB
- BPJS : jaminan pelayanan KB di faskes (provider)
- BPOM : pengawasan jaminan mutu alokon
- Dinas PU : penyediaan akses jalan untuk menjangkau fasilitas kesehatan
2. Penguatan Advokasi dan KIE KB
- BKKBN : advokasi, KIE, dan penggerakkan melalui media petugas,
peningkatan kuantitas dan kualitas lini lapangan, penyediaan sarpras
penyuluhan KB, dukungan operasional BPKB
- Kemenkes : promosi kesehatan reproduksi dan keluarga berencana
- Kemenag : penyuluhan program KB dengan Bahasa Agama
3. Pembinaan Remaja
- BKKBN : peningkatan pembinaan PIKKRR dan BKR
- Kemendikbud : peningkatan wajib belajar 12 tahun (untuk pendewasaan usia
perkawinan), peningkatan kualitas pendidikan khususnya untuk memahami
kesehatan reproduksi umum.
- Kemenag : penyuluhan agama dengan muatan keluarga sakinah dan
pendewasaan usia kawin
- Kemenkes : strategi kespro remaja
4. Pembangunan Keluarga
- BKKBN : pemberdayaan dan ketahanan keluarga melalui BKB, BKR, BKL,
UPPKS
- Kemensos : program keluarga harapan
5. Regulasi, kelembagaan, serta Data dan Informasi
- BKKBN : penyerasian kebijakan pembangunan KKB, penyediaan data dan
informasi KKB (pendataan keluarga, statistik rutin KB, mini survei KB)
- Kemenkes : pengembangan kebijakan JKN, pengembangan standar untuk
fasilitas
- Pemda : perumusan kebijakan KKB dan RPJMD, dukungan anggaran KB
melalui APBD

Rencana ini diharapkan untuk memberikan pedoman untuk jaga mutu dan pendekatan
berbasis hak. Strategi ini berprinsip pada Hak Asasi Manusia dan prinsip perencanaan
program Kesehatan Masyarakat berikut ini :

a. Hak untuk mendapatkan akses terhadap informasi KB dan pelayanan kesehatan


Hak untuk mendapat layanan KB merupakan hak paling dasar bagi semua pasangan
dan individu untuk memutuskan secara bebas dan betanggung jawab mengenai jumlah,
waktu dan jarak anak mereka. Setiap orang berhak atas mengakses informasi mengenai
kesehatan reproduksi.
b. Keadilan dalam akses
Adil dalam berbagai tingkat pelayanan diantara wilayah geografis yang terpenciil harus
menjamin keadilan dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan termasuk pada kelompok
marginal.
c. Sensitivitas budaya
Metode, prosedur dan pendekatan kontrasepsi yang dapat diterima secara budaya
menentukan keberlanjutan penggunaan kontrasepsi
d. Kemitraan
Kemitraan sangat penting untuk meningkatkan akses ke pelayanan dan untuk menjamin
dilaksanakannya kualitas pelayanan yang tinggi. Kemitraan diantaranya berupa
kelompk komunitas, organisasi masyarakat sipil termasuk organisasi keagamaan,
anggota parlemen dan kelompok lainnya untuk membangun dukungan dan
akuntabilitas sistem kesehatan bagi masyarakat.

I. Konsep Budaya dan Gender dalam Pelaksanaan Program Keluarga Berencana di


Indonesia

Budaya perempuan di Indonesia adalah berperan sebagai ibu dan istri yang
bertanggung jawab pada penyelenggaraan rumah tangga, sedangkan suami lebih berperan
dalam hal mencari nafkah. Pembagian peran ini mempengaruhi pengambilan keputusan
dalam rumah tangga. Sebagai kepala di rumah tangga, suami adalah seseorang yang
dianggap “berhak” dalam mengambil keputusan, termasuk dalam pemakaian alat
kontrasepsi (Tim Penulis Lembaga Demografi UI, 2011).
Dalam kenyataannya kewajiban pemeliharaan kesehatan reproduksi khususnya
dalam pemakaian alat kontrasepsi lebih banyak didominasi oleh perempuan, meskipun
dalam proses pemutusannya melibatkan laki-laki, namun laki-laki cenderung pasif dalam
penggunaan alat kontrasepsi. Hal ini terjadi karena masih kuatnya pandangan tokoh
masyarakat dan tokoh agama di Indonesia mengenai pemakaian kontrasepsi pada laki-laki
karena masyarakat masih menganggap tabu atau kurang mendukung jika laki-laki
menggunakan alat kontrasepsi.
Hasil penelitian di Tanzania pada pria usia 15-24 tahun mengenai gender attitudes
sikap pengambilan keputusan, disimpulkan bahwa sikap pengambilan keputusan
berpengaruh terhadap jumlah anak ideal (Snow, et.al, 2013). Menurut suatu penelitian,
jumlah Anak Lahir Hidup (ALH) seseorang salah satunya juga dipengaruhi oleh
pengambilan keputusan dalam rumah tangga, yaitu dengan menganalisis keterlibatan
perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga. Seorang perempuan yang
melibatkan suami atau orang lain dalam pengambilan keputusan rumah tangga cenderung
mempunyai jumlah anak lahir lebih banyak, sedangkan seorang perempuan yang
melakukan pengambilan keputusan sendiri dalam rumah tangga cenderung mempunyai
jumlah anak lahir yang lebih sedikit (Hartini,tahun)

J. Keluarga Berencana dalam Pandangan Islam

Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang perlu kita laksanakan
dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :

Surat An-Nisa’ ayat 9:

‫ش ي‬ َّ َ ‫ُ ل‬ ‫ي ل‬ ُ ً ً ‫ُ ل‬ َ ‫ُ َّ ي ل‬ َّ ‫ً ل ُ ُ ي‬ ً
َ‫اديِدلس ًلشو ق او ْو قلَْلَ لَّللا او قتليلف شمِهشيللع او فاخ افالعِض ةَّير ِّ ذ شمِهِفلخ شنِم او كلر ت شوْ لنيِذْا ل ْلَْل‬

“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka
anak-anak yang lemah. Mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah
mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Selain ayat diatas masih banyak ayat yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan KB
diantaranya ialah surat al-Qashas: 77, al-Baqarah: 233, Lukman: 14, al-Ahkaf: 15, al-Anfal: 53, dan at-
Thalaq: 7.

Dari ayat-ayat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petunjuk yang perlu dilaksanakan
dalam KB antara lain, menjaga kesehatan istri, mempertimbangkan kepentingan anak,
memperhitungkan biaya hidup brumah tangga.

Pandangan al-Hadits Tentang Keluarga Berencana


Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:

)‫إنك تدر ورثك أغنياء خير من أن تدرهم عالة لتكففون الناس (متفق عليه‬

“sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan dari
pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang banyak.”

Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya rumah
tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi beban bagi orang lain.
Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya dipikirkan Bersama
Hukum Keluarga Berencana

 Menurut al-Qur’an dan Hadits


Sebenarnya dalam al-Qur’an dan Hadits tidak ada nas yang shoreh yang melarang atau
memerintahkan KB secara eksplisit, karena hukum ber-KB harus dikembalikan kepada kaidah
hukum Islam, yaitu:

‫اال صل فى األشياء االباحة حتى يدل على الدليل على تحريمها‬

Tetapi dalam al-Qur’an ada ayat-ayat yang berindikasi tentang diperbolehkannya


mengikuti program KB, yakni karena hal-hal berikut:

• Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman Allah:

)195 : ‫وال تلقوا بأيديكم إلى التهلكة (البقرة‬

“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.

• Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal ini sesuai dengan
hadits Nabi:

‫كادا الفقر أن تكون كفرا‬

“Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.

• Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak terlalu dekat
sebagai mana hadits Nabi:

‫وال ضرر وال ضرار‬

“Jangan bahayakan dan jangan lupa membahayakan orang lain ».

Menurut Pandangan Ulama’


1) Ulama’ yang memperbolehkan
Diantara ulama’ yang membolehkan adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh
Syalthut, Ulama’ yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti progaram KB
dengan ketentuan antara lain, untuk menjaga kesehatan si ibu, menghindari kesulitan ibu, untuk
menjarangkan anak. Mereka juga berpendapat bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan
pembunuhan karena pembunuhan itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan.
Mereka mendasarkan pendapatnya pada surat al-Mu’minun ayat: 12, 13, 14.

2) Ulama’ yang melarang


Selain ulama’ yang memperbolehkan ada para ulama’ yang melarang diantaranya ialah
Prof. Dr. Madkour, Abu A’la al-Maududi. Mereka melarang mengikuti KB karena perbuatan
itu termasuk membunuh keturunan seperti firman Allah:

‫وال تقتلوا أوالدكم من إملق نحن نرزقكم وإياهم‬

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami akan
memberi rizkqi kepadamu dan kepada mereka”.

E. Cara KB yang Diperbolehkan dan Yang Dilarang oleh Islam


1) Cara yang diperbolehkan
Ada beberapa macam cara pencegahan kehamilan yang diperbolehkan oleh syara’ antara lain,
menggunakan pil, suntikan, spiral, kondom,tablet vaginal. Cara ini diperbolehkan asal tidak
membahayakan nyawa sang ibu. Dan cara ini dapat dikategorikan kepada azl yang tidak
dipermasalahkan hukumnya. Sebagaimana hadits Nabi :

) ‫ فلم ينهها (رواه مسلم‬.‫ م‬.‫كنا نعزل على عهد وسول هللا ص‬

Kami dahulu dizaman Nabi SAW melakukan azl, tetapi beliau tidak melarangnya.

2) Cara yang dilarang

Ada juga cara pencegahan kehamilan yang dilarang oleh syara’, yaitu dengan cara
vasektomi, tubektomi, aborsi. Majelis Ulama’ Indonesia (MUI) pada tanggal 13 Juli 1977,
membahas mengenai vasektomi dan tubektomi, dan mengutarakan pendapatnya, yaitu: Pertama,
pemandulan dilarang oleh agama. Kemudian MUI mengeluarkan fatwa pada tahun 1979, bahwa
dalam penggunaan vasektomi dan tubektomi adalah haram. Fatwa ini kemudian diperkuat lagi
pada tahun 1983 dalam sebuah sidang Muktamar Nasional Ulama’ tentang Kependudukan dan
Pembangunan. Dari hasil sidang tersebut menghasilkan keputusan fatwa yang menyatakan
bahwa vasektomi dan tubektomi dilarang dalam Islam karena berakibat kemandulan yang abadi.
KB dalam islam sudah di kenal sejak zaman nabi Muhammad SAW dengan perbuatan yang
bernama “azal” yang saat ini dikenal coitus-interuptus yaitu jima’ terputus, dengan kata lain
melakukan ejakulasi (inzal al-mani) di luar vagina (faraj) sehingga sperma tidak bertemu dengan
indung telur istri. Dengan begitu indung telur tidak dapat dibuahi oleh sperma suami oleh sebab
itu tidak mungkin terjadi suatu kehamilan.

Sebagian Sahabat Nabi pernah melakukan azal ketika mereka menjimaki budak
budaknya sedang mereka tidak menginginkan budaknya hamil. Peristiwa tersebut mereka
ceritakan kepada Nabi seraya mengharapkan petunjuk Nabi tentang hukumnya. Namun
pada saat itu nabi Muhammad tidak menentukan hukumnya . sementara wahyu yang masih
turun juga tidak menentukan hukumnya.

Dari sahabat Jabir berkata: “kami melakukan azal pada masa Nabi SAW sedangkan ketika
itu al-Quran masih turun, kemudian berita peristiwa ini sampai kepada Rasulullah dan
beliau tidak melarang kami”. (Dalam riwayat yang lain disebutkan dan ketika itu al-Quran
masih turun) (Jurnal Lentera,2017)

Dalam hadis lain dari sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim disebutkan :

Dari sahabat Jabir berkata : “salah seorang dari kalangan Anshar datang menemui
Rasulullah lalu ia berkata: sungguh aku memiliki seorang jariah sedang aku sendiri
menggaulinya, akan tetapi aku tidak menginginkannya hamil. Kemudian Rasulullah
memerintahkan lakukanlah ‘azal jika engkau menghendaki karena dengan begitu hanya
akan masuk sekedarnya saja. Atas dasar itulah kemudian ia melakukan ‘azal. Kemudian ia
mendatangi rasul dan berkata: sungguh jariah itu telah hamil, maka rasullahpun berkata:
aku telah beritahu kamu bahwasanya sperma akan masuk sekedarnya (kerahimnya) dan
akan membuahi”. (Jurnal Lentera,2017)

Dari hadist di atas kita dapat menyimpulkan bahwa di bolehkan melakukan perbuatan
‘azal dalam rangka upaya menghindari kehamilan karena jika ‘azal tidak diperbolehkan
maka pada saat itu akan di tegaskan oleh nabi muhammad dan juga akan di jelaskan di
dalam al-quran yang masih turun pada saat itu . pada saat itu nabi Muhammad hanya
mengingatkan bahwa ‘azal hanya ikhtiar manusia untuk mengindari kehamilan, sedangkan
kepastiannya berada ditangan Tuhan. Demikian pula alat-alat kontrasepsi atau cara-cara
lainnya, tidak menjamin sepenuhnya berhasil.

Kedua hadist tersebut merupakan hadist yang dipakai sebagai dasar hukum di
perbolehkannya kb menurut islam.dalil-dalil yang sharih mengenai KB hanya terdapat
dalam beberapa ayat yang dapat diambil pengertiannya secara umum saja . salah satu
contohnya ialah surat An-Nisa ayat 9 ketika Allah memberikan peringatan kepada manusia
supaya tidak meninggalkan cucu-cucu yang lemah sehingga dikhawatirkan kesejahteraan
hidupnya dikemudian hari, sama juga halnya ketika Allah menganjurkan bagi para ibu
supaya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh yang diartikan sekaligus sebagai
anjuran menjarangkan kehamilan, tanggung jawab suami-istri dan menjaga resiko yang
ditimbulkan oleh anak-anak.(kutipan) Mengenai resiko dan kesusahan bagi seorang ibu
akibat mengandung dan melahirkan anak-anak ini,terdapat pula dalam surah al-Luqman
ayat 14, surah al-Ahqaf ayat 15 dan beberapa ayat lain mengenai fitrah mempunyai banyak
anak. (Jurnal Lentera,2017)

Ayat-ayat al-quran diatas menunjukan bahwa islam mendukung adanya keluarga


berencana. Pada tahun 1983 MUI (Majelis Ulama Indonesia) telah mengeluarkan fatwa
serupa dalam Musyawarah Nasional Ulama tentang Kependudukan, Kesehatan dan
Pembangunan.

Namun yang menjadi persoalan adalah tata cara KB saat ini banyak mengalami
perkembangan. Saat ini ada banyak macam tata cara KB, misalnya dengan menggunakan suntik,
minum pil, menggunakan kondom, melakukan ‘azl (ketika akan ejakulasi mencabut kemaluan dan
mengeluarkan sperma di luar), menggunakan spiral, dan ada juga yang melakukan vasektomi atau
tubektomi. Karenanya, KB yang saat ini berkembang tidak serta merta dapat digolongkan sebagai
tanzhim an-nasl yang dibolehkan, tapi juga ada yang bisa digolongkan sebagai tahdid an-nasl yang
diharamkan, tergantung tata cara KB yang dipergunakan.
Oleh karenanya, saat ini para ulama dalam menghukumi KB akan melihat terlebih dahulu
(tafshil), jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tanzhim an-nasl (merencanakan keturunan,
tidak pemandulan secara tetap sehingga memungkinkan untuk memperoleh keturunan lagi) maka
hukumnya boleh (mubah). Sedangkan jika KB yang dipakai masuk dalam kategori tahdid an-nasl
(memutus keturunan, di mana menyebabkan pemandulan tetap) maka hukumnya haram.

K. Data Penggunaan KB di Indonesia


a. Data Pengguna KB per 31 Desember 2015
Sumber : BKKBN, 2015

b. Data pengguna KB per 1 Agustus 2017

Sumber: BKKBN,2017

Pada tahun 31 Desember 2015 dari 36.684.599 kepala Keluarga, sebanyak 23.188.809 keluarga
mengikuti program kb dan 13.495.790 keluarga tidak mengikuti program KB , sedangkan Pada 1
Agustus 2017 dari 36.993.725 kepala keluarga, sebanyak 23.361.189 keluarga mengikuti program
kb sedangkan 13.632.536 keluarga tidak mengikuti program KB dengan berbagai alasan salah
contohnya karena sedang hamil, tidak tahu mengenai KB, pelayanan KB yang jauh dan lain
sebagainya.

Pasangan usia subur yaitu pasangan yang wanitanya berusia antara 15 - 49 tahun, Karena kelompok ini
merupakan pasangan yang aktif melakukan hubungan seksual dan setiap kegiatan seksual dapat
mengakibatkan kehamilan. PUS diharapkan secara bertahap menjadi peserta KB yang aktif lestari sehingga
memberi efek langsung penurunan fertilisasi (Suratun, 2008).

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa penggunaan KB suntik menduduki peringkat pertama atau
terbanyak yang digunakan masyarakat alat kontrasepesi. Alasannya, KB suntik hanya dilakukan beberapa
kali, sedangkan untuk KB pil penggunaannya lebih sering atau hampir rutin setiap hari sebelum
berhubungan. Sedangkan untuk IUD dan implant masih sering digunakan lantaran ada beberapa
pengguna mengalami trauma dalam pemasangannya.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Keluarga Berencana (KB) adalah proses penetapan jumlah dan jarak anak yang diinginkan dalam
keluarga . adapun tujuan dari KB adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta
mewujudkan norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera dengan mengendalikan kelahiran
sekaligus menjamin terkendalinya pertambahan penduduk. Adapun alat kontrasepsi dalam
program Keluarga Berencana lebih banyak digunakan oleh perempuan (istri) daripada laki-
laki(suami). Hal ini disebabkan karena hingga saatini alat kontrasepsi dalam program Keluarga
Berencana lebih banyak diperuntukan bagi perempuan. Hal ini terjadi karena masih kuatnya
pandangan tokoh masyarakat dan tokoh agama di Indonesia mengenai pemakaian kontrasepsi pada
laki-laki karena masyarakat masih menganggap tabu atau kurang mendukung jika laki-laki
menggunakan alat kontrasepsi. . Hukum KB secara prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan KB
dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan melahirkan keturunan yang
tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu mewujudkan kemashlahatan bagi
umatnya. Selain itu, Kb juga memiliki sejumlah manfaat yang dapat mencegah timbulnya
kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi dan manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan dan
mencegah kemudlaratan maka tidak diragukan lagi kebolehan KB dalam Islam

SARAN

Dalam mewujudkan Program Kb disarankan kepada pemerintah untuk memberikan penyuluhan


dan bimbingan kepada masyarakat agar melaksanakan program pemerintah karena dengan
menggunakan alat kontrasepsi . Disarankan juga kepada BKKBN untuk mensosialisasikan bahwa
KB tidak hanya digunakan oleh wanita saja agar keikutsertaan pria dalam mengikuti program KB
Meningkat agar tercapainya kesetaraan gender segera terwujud.

.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hartini.2011.Pandangan Tokoh Agama dan Budaya Masyarakat terhadap Pemakaian Alat


Kontrasepsi.Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender:Kendari (Diakses melalui
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=115391&val=5284&title=PANDAN
GAN%20TOKOH%20AGAMA%20DAN%20BUDAYA%20MASYARAKAT%20TER
HADAP%20%20PEMAKAIAN%20ALAT%20KONTRASEPSI pada Hari Minggu, 16
September 2018)
2. UNFPA Indonesia.2016.Strategi Pelaksanaan Program Keluarga Berencana Berbasis
Hak untuk Percepatan Akses terhadap Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan
Reproduksi yang Terintegrasi dalam Mencapai Tujuan Pembangunan
Indonesia:Indonesia.UNFPA Indonesia.pdf (diakses dari
https://indonesia.unfpa.org/sites/default/files/pub-
pdf/Rights_Based%2520Family%2520Planning%2520Indonesia.pdf pada Hari Sabtu, 15
September 2018)
3. Ayuningtyas,Gita.2016.Metode Kontrasepsi Pil pada Pria:Jakarta.STIKES WDH.pdf
(diakses melalui http://stikes.wdh.ac.id/media/pdf/metode_kontrasepsi_pil_pada_pria.pdf
pada Hari Minggu, 16 September 2018)
4. Al-Fauzi.2017.Keluarga Berencana Perspektif Islam dalam Bingkai
Keindonesiaan:Jakarta.Kajian Keagamaan, Keilmuan dan Teknologi. (Diakses melalui
https://media.neliti.com/media/publications/177264-ID-keluarga-berencana-perspektif-
islam-dala.pdf pada Hari Sabtu, 15 September 2018)
5. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).2002.Analisis Gender dalam
Pembangunan Keluarga Berencana Nasional:Jakarta.BAPPENAS.pdf
6. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.2013.Buletin Jendela Data dan
Informasi Kesehatan:Jakarta.Kementerian Kesehatan RI.pdf
7. Kementerian Kesehatan RI.2014.Pedoman Manajemen Pelayanan Keluarga Berencana:
Jakarta.Kementerian Kesehatan RI.pdf
8. BKKBN.2010.Peserta KB Baru Menurut Metode Kontrasepsi: Jakarta.BKKBN.pdf
9. http://ikk.fema.ipb.ac.id/v2/images/karyailmiah/gender.pdf
10. http://perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id/assets/file/kti/1602420014/BAB_2.pdf
11. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/51088/4/Chapter%20II.pdf
12. https://www.google.co.id/url?sa=t&source=web&rct=j&url=http://www.depkes.go.id/res
ources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-
harganas.pdf&ved=2ahUKEwiK_aKy5bzdAhVHs48KHbhmAPAQFjAAegQIAhAB&us
g=AOvVaw3kv0wyfWBApjlSk87i6jSS
13. http://eprints.ums.ac.id/35879/6/BAB%20ll.pdf
14. Prof. Abdurrahman Umran, Islam dan KB (Jakarta: PT Lentera Basritama, 1997), h.99.
15.