Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM

Disusun oleh
Kelompok 2 :
1. Fitri Fajarwati Zulfa (151001016)
2. Galih Puji Prasetya (151001017)
3. Nisa’ul Ilmi C.A (151001030)
4. Putri Ayu Natalia S (151001037)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) PEMKAB


JOMBANG
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2017-2018
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Anak merupakan hal yang penting bagi sebuah keluarga. Selain sebagai penerus
keturunan, anak pada akhirnya juga sebagai generasi penerus bangsa. Oleh karena itu tidak
satupun orang tua yang menginginkan anaknya jatuh sakit, lebih-lebih bila anaknya
mengalami kejang demam.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis akut yang paling sering dijumpai pada
anak. Kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak adalah infeksi saluran pernapasan bagian atas,
kemudian disusul dengan infeksi saluran pencernaan. Insiden terjadinya kejang demam
terutama pada anak umur 6 bulan ssampai 4 tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur
dibawah 5 tahun pernah menderita kejang demam. Kejang demam lebih sering didapatkan
pada anak laki-laki dari pada perempuan. Hal tersebut disebabkan karena paa wanita
didapatkan maturasi serebral yang lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki.

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal > 380C) yang disebabkan oleh suatu proses di luar otak. Kejang demam terjadi pada
2-4 % anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa
demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam
( Hartono, 2011 : 193 – 194 ).
Kejang demam ada 2 bentuk yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam
kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat,
kurang 15 menit dan umumnya dapat berhenti sendiri. Kejangnya bersifat umum artinya
melibatkan seluruh tubuh. Kejang tidak berulang dalam 24 jam pertama. Kejang demam
tipe ini merupakan 80% dari seluruh kasus kejang demam. Kejang demam kompleks
adalah kejang dengan satu ciri sebagai berikut: kejang lama > 15 menit, kejang fokal /
parsial satu sisi tubuh, kejang > 1 kali dalam 24 jam (Hartono, 2011 : 194).
Berdasarkan laporan dari daftar diagnosa dari laboratorium SMF ilmu timbulnya kejang
berulang atau kejang yang lama akan mengakibatkan kerusakan sel-sel otak kurang
menyenangkan dikemudian hari, terutama adanya cacat baik secara fisik, mental ataupun
sosial yang menggangu pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hal inilah yang menjadi latar belakang penulisan laporan kasus ini. Penulis berharap
agar krya tulis ini dapat berguna bagi semua pihak yang memerlukan, khususnya sesama
rekan tenaga kesehatan guna menambah pengetahuan, kemampuan mengatasi kejang
demam, yang mencakup apa kejang demam, bagaimana cara penanganannya, dan
komplikasi yang terjadi jika kejang demam tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah Definisi Kejang Demam
2. Bagaimana Etiologi Kejang Demam
3. Bagaiman Klasifikasi Kejang Demam
4. Bagaimana Manifestasi Klinis Kejang Demam
5. Bagaimana Komplikasi Kejang Demam
6. Bagaimana Pemeriksaan Diagnostik Kejang Demam
7. Bagaimana Penatalaksanaan Medis Kejang Demam
8. Bagaimana Asuhan Keperawatan Kejang Demam

1.3 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kejang demam serta bagaimana cara
penanganannya
2. Tujuan Khusus
1) Memahami tentang pengertian kejang demam
2) Memahami tentang penyebab kejang demam
3) Memahami tentang tanda gejala kejang demam
4) Memahami tentang WOC kejang demam
5) Memahami tentang pemeriksaan diagnostik kejang demam
6) Memahami tentang pelaksanaan kejang demam
7) Memahami Asuhan Keperawatan dengan diagnosa kejang demam
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 PENGERTIAN

Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai akibat dari
aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang berlebihan.(betz &
Sowden,2002)

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ( suhu
rektal diatas 380 C) yang disebabkan oleh proses ekstrakranium (Ngastiyah, 1997:229).

Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu
rektal > 380C) yang disebabkan oleh suatu proses di luar otak. Kejang demam terjadi pada
2-4 % anak berumur 6 bulan sampai 5 tahun. Anak yang pernah mengalami kejang tanpa
demam, kemudian kejang demam kembali tidak termasuk dalam kejang demam
( Hartono, 2011 : 193 – 194 ).
Kejang demam ada 2 bentuk yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam
kompleks. Kejang demam sederhana adalah kejang demam yang berlangsung singkat,
kurang 15 menit dan umumnya dapat berhenti sendiri. Kejangnya bersifat umum artinya
melibatkan seluruh tubuh. Kejang tidak berulang dalam 24 jam pertama. Kejang demam
tipe ini merupakan 80% dari seluruh kasus kejang demam. Kejang demam kompleks
adalah kejang dengan satu ciri sebagai berikut: kejang lama > 15 menit, kejang fokal /
parsial satu sisi tubuh, kejang > 1 kali dalam 24 jam (Hartono, 2011 : 194).
Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh yang menyebabkan perubahan fungsi
otak akibat perubahan potensial listrik serebral yang berlebihan sehingga mengakibatkan
renjatan berupa kejang.

2.2 PENYEBAB

Menurut Lumbantobing,2001 Faktor yang berperan dalam menyebabkan kejang


demam:

1. Demam itu sendiri


2. Efek produk toksik dari pada mikroorganisme (kuman dan virus terhadap otak).
3. Respon alergik atau keadaan imun yang abnormal oleh infeksi.
4. Perubahan keseimbangan cairan atau elektrolit
5. Ensefalitis viral (radang otak akibat virus) yang ringan yang tidak diketahui atau
ensekalopati toksik sepintas.
6. Gabungan semua faktor tersebut di atas.
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu tubuh yang tinggi dan cepat yang disebabkan infeksi diluar susunan saraf
pusat, misalnya tonsilitis, otitis media akut (OMA), bronkhitis, dan lain – lain.

2.3 TANDA DAN GEJALA

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam, berlangsung
singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik, fokal, atau akinetik.
Umumnya kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi
apapun sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar kembali
tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti oleh hemiparesis sementara (Hemiparesis
Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Kejang unilateral yang lama
diikuti oleh hemiparesis yang menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama sering
terjadi pada kejang demam yang pertama.
Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung beberapa menit sampai lebih dari 30 menit,
tergantung pada jenis kejang demam tersebut. Sedangkan frekuensinya dapat kurang dari 4
kali dalam 1 tahun sampai lebih dari 2 kali sehari. Pada kejang demam kompleks, frekuensi
dapat sampai lebih dari 4 kali sehari dan kejangnya berlangsung lebih dari 30 menit.
Gejalanya berupa:
a) Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara tiba-
tiba)
b) Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada
anak-anak yang mengalami kejang demam)
c) Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung
selama 10-20 detik)
d) Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit)
e) Lidah atau pipinya tergigit
f) Gigi atau rahangnya terkatup rapat
g) Inkontinensia (mengompol)
h) Gangguan pernafasan
i) Apneu (henti nafas)
j) Kulitnya kebiruan
Setelah mengalami kejang, biasanya:
a) Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam atau
lebih
b) Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi)-sakit kepala
c) Mengantuk
d) Linglung (sementara dan sifatnya ringan)
2.3.1 Kejang umum ( konvulsi atau non konvulsi )
a. Kejang absens
1) Gangguan kewaspadaan dan responsivitas
2) Ditandai dengan tatapan terpaku yang umumnya berlangsung kurang dari 15
detik
3) Awitan dan akhiran cepat, setelah itu kempali waspada dan konsentrasi penuh
b. Kejang mioklonik
1) Kedutan – kedutan involunter pada otot atau sekelompok otot yang terjadi secara
mendadak.
2) Sering terlihat pada orang sehat selaam tidur tetapi bila patologik berupa kedutan
keduatn sinkron dari bahu, leher, lengan atas dan kaki.
3) Umumnya berlangsung kurang dari 5 detik dan terjadi dalam kelompok
4) Kehilangan kesadaran hanya sesaat.
c. Kejang tonik klonik
1) Diawali dengan kehilangan kesadaran dan saat tonik, kaku umum pada otot
ekstremitas, batang tubuh dan wajah yang berlangsung kurang dari 1 menit
2) Dapat disertai hilangnya kontrol usus dan kandung kemih
3) Saat tonik diikuti klonik pada ekstrenitas atas dan bawah.
4) Letargi, konvulsi, dan tidur dalam fase postictal
d. Kejang atonik
1) Hilngnya tonus secara mendadak sehingga dapat menyebabkan kelopak mata
turun, kepala menunduk,atau jatuh ke tanah.
2) Singkat dan terjadi tanpa peringatan.
2.4 WEB OF CAUTION

Infeksi ekstrakranial : suhu tubuh

Gangguan keseimbangan membran sel neuron

Difusi Na dan Ca berlebih

Depolarisasi membran dan lepas muatan listrik berlebih

kejang

umum

parsial

sederhana kompleks absens mioklonik Tonik atonik


klonik

Kesadaran Gg peredaran Aktivitas otot


darah

hipoksi Metabolisme
Reflek
Resiko menelan
cedera
Permeabilitas Keb. O2 Suhu tubuh
Penumpukan kapiler makin
sekret meningkat

Sel neuron asfiksia


otak rusak
aspirasi
2.5 PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSTIK

1) Elektroensefalogram ( EEG ) : dipakai untuk membantu menetapkan jenis dan fokus


dari kejang.
2) CT scan : menggunakan kajian sinar X yang lebih sensitif dari biasanya untuk
mendeteksi perbedaan kerapatan jaringan.
3) Magneti resonance imaging ( MRI ) : menghasilkan bayangan dengan menggunakan
lapanganmagnetik dan gelombang radio, berguna untuk memperlihatkan daerah –
daerah otak yang itdak jelas terliht bila menggunakan pemindaian CT
4) Pemindaian positron emission tomography ( PET ) : untuk mengevaluasi kejang yang
membandel dan membantu menetapkan lokasi lesi, perubahan metabolik atau alirann
darah dalam otak
5) Uji laboratorium
a. Glukosa Darah : Hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N < 200
mq/dl)
b. BUN: Peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan indikasi nepro
toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit : K, Na
Ketidakseimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang
Kalium ( N 3,80 – 5,00 meq/dl )
Natrium ( N 135 – 144 meq/dl )

2.6 PENATALAKSANAAN

1) Memberantas kejang Secepat mungkin


Diberikan antikonvulsan secara intravena jika klien masih dalam keadaan kejang,
ditunggu selama 15 menit, bila masih terdapat kejang diulangi suntikan kedua dengan
dosis yang sama juga secara intravena. Setelah 15 menit suntikan ke 2 masih kejang
diberikan suntikan ke 3 dengan dosis yang sama tetapi melalui intramuskuler,
diharapkan kejang akan berhenti. Bila belum juga berhenti dapat diberikan fenobarbital
atau paraldehid 4 % secara intravena.

2) Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh Dilupakan perlunya pengobatan penunjang
a. Semua pakaian ketat dibuka.
b. Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung.
c. Usahakan agar jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, bila perlu
dilakukan intubasi atau trakeostomi.
d. Penghisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.
e. Beri penahan gigi supaya tidak tergigit.
3) Pengobatan rumat
a. Profilaksis intermiten
Untuk mencegah kejang berulang, diberikan obat campuran anti konvulsan dan
antipietika. Profilaksis ini diberikan sampai kemungkinan sangat kecil anak
mendapat kejang demam sederhana yaitu kira - kira sampai anak umur 4 tahun.
b. Profilaksis jangka panjang
Diberikan pada keadaan
a) Epilepsi yang diprovokasi oleh demam
b) Kejang demam yang mempunyai ciri :
1. Terdapat gangguan perkembangan saraf seperti serebral palsi, retardasi
perkembangan dan mikrosefali
2. Bila kejang berlangsung lebih dari 15 menit, bersifat fokal atau diikuti
kelainan saraf yang sementara atau menetap
3. Riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik
4. Kejang demam pada bayi berumur dibawah usia 1 bulan
4) Mencari dan mengobati penyebab
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus Kejang


An. D berumur 6 tahun datang ke RSUD Jombang di bawah keluarga karena mengalami
kejang-kejang selama 2kali An. D mengalami demam tinggi dan sudah diberikan obat yang
beli diapotik terdekat tetapi panasnya tidak kunjung turun dari pemeriksaan fisik TTV di
peroleh hasil TTD :140/110mmHg, N :110x/menit,RR 28x/menit Suhu : 40oC.

3.2 Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama :D
Umur : 6 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : taman kanak-kanak
Pekerjaan :-
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Masalah keperawatan : kejang-kejang
Tanggal Masuk : 18 Januari 2018
Tanggal Pengkajian :18 Januari 2018
Golongan Darah :O
Alamat : Jombang
B. Identitas Penanggung jawab
Nama : Ny. W
Umur : 41 tahun
Jenis Kelamin : pertemuan
Alamat : Jombang
Hubungan dengan klien : orang tua
C. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
Mengalami kejang kejang beberapa kali dikarenakan panas tinggi
2. Riwayat Penyakit Sekarang
± 2 jam yang lalu sebelum masuk rumah sakit An..D mengalami kejang-kejang
selama 2kali saudari D mengalami demam tinggi dan sudah diberikan obat yang
beli diapotik terdekat tetapi panasnya tidak kunjung turun dari pemeriksaan fisik
TTV di peroleh hasil TTD :140/110mmHg, N :110x/menit,RR 28x/menit Suhu :
40oC.

3. Riwayat Kesehatan Terdahulu


Keluarga Pasien mengatakan belum pernah sakit sampai menginap masuk rumah.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan bahwa keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit yang
sama dengan pasien

3.3 Primary Survei


Triage : kuning
Keadaan Umum
PAIN
a. A (Airway) : tidak ada sumbatan jalan nafas
b. B (Breathing) :tidak dyspnea ,tidak hipoventilasi , takikardi
c. C (Circulation) : TTD :140/110mmHg, N :110x/menit,RR 28x/menit Suhu : 40oC.
d. D (Disability) : GCS E4M5V1
e. E (Exposure) : tidak t erdapat luka lecet, jejas dan hematoma.
3.4 Secondary Survay
SAMPLE
1. RR 28x/ mnt
2. Nadi 110x/ mnt
3. TD 140/110 mmHg
4. Suhu 400C.
a. Alergi : keluarga mengatakan An..D tidak memiliki alergi, baik makanan ataupun
obat-obatan
b. Medicasi : keluarga mengatakan sebelum masuk rumah sakit An..D hanya
mengkonsumsi obat anti demam
c. Pastillnes : keluarga mengatakan An..D sebelumnya belum pernah di rawat di RS
d. Lastmetal : keluarga mengatakan An.D sebelumnya merasa baik-baik saja
e. Event : tidak ada memar

3.5 Pemeriksaan Fisik Head To Toe


a. Kepala
Bentuk simetris, kulit kepala rambut bersih. Pupil isokor, sclera tidak ikterik, Hidung
simetris,tidak ada epistaksis,tidak ada perdarahan ,tidak ada jejas
b. Leher
Tidak ada jejas pada leher,tidak ada bendungan vena jugularis,tidak ada odem.
c. Dada
 Paru-paru
Inspeksi : gerakan dada simetris,tidak ada jejas
Palpasi : fremitus focal kanan dan kiri sama
Perkusi : sonor
Auskultasi : vesicular
 Jantung
Inspeksi : bentuk dada simetris , tidak ada jejas
Palpasi : ictus cordis ICS 5
Perkusi : pekak
Auskultasi : Bj 1 Bj 2 tunggal
d. Abdomen
Inspeksi : di kuadran 1 pada region hypochondrium dexter , region epigastrium
Palpasi :tidak terdapat jejas ,tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan pada kuadran 1
pada region hypochondrium dexter , region epigastrium
Kuadran 1:
Kuadran 2:
Kuadran 3:
Kuadran 4:
Auskultasi : peristaltic usus terdengar
Perkusi : tidak adanya distensi , ada timpani
e. Ekstremitas
Ekstremitas atas tidak adanya luka destra sinistra,tidak adanya nyeri tekan
Ekstremtas bawah tidak ada luka.tidak ada nyeri tekan tidak ada jejas.
Kekuatan otot 5 5
5 5
Turgor kulit (+), CRT <2detik

3.6 Masalah Keperawatan


1. Resiko Cedera akibat kejang b.d gerakan klonik tidak terkontrol selama episode kejang
3.7 Analisa Data
NamaPasien : Ny. D
Dx. Medis : Kejang Demam
DIAGNOSA
Ns. Diagnosis Hipertemia ( D.0130 )
(SDKI) Kategori : Lingkungan
Subkategori : Keamanan dan Proteksi
DEFINITION Suhu tubuh meningkat diatas rentan normal
tubuh.
RELATED To  Proses infeksi
DEFINITING CARACTERISTIC
Gejala dan tanda mayor Gejala dan tanda mayor
Subjective Objective
( tidak tersedia ) 1. Suhu tubuh diatas nilai normal
ASSESSMENT Subjektive data Objektive data Entry
entry 1. Penggunaan obat apotek
Pasien mengeluh 2. RR 28x/ mnt
panas tinggi selama 3 3. Nadi 110x/ mnt
hari yang lalu 4. TD 140/110 mmHg
5. Suhu 400C.
DIAGNOSIS Client Ns. Diagnosis (specify)
Diagnostic Hipertermia
Statement :
1.8 Intervensi dan Implementasi
2. No. Intervensi Rasional Jam/Waktu Implementasi

1 Pasang oksigenasi Untuk memenuhi 12:10 WIB Melakukan oksigenasi


kebutuhan oksigen

2 Berikan infus Untuk memenuhi 12:00 WIB Memberikan cairan infus


cairan

3 Berikan kompres Untuk menurunkan 12.15 WIB Memberikan kompres


panas

4 Berikan obat Untuk menurunkan 12:20 WIB Memberikan obat antipiretik


antipiretik panas

4 Longgarkan Untuk melancarkan 12:07 WIB Melonggarkan baju/pakaian


baju/pakaian sirkulasi

5 Lakukan Untuk memantau 12.30 WIB Melakukan pemeriksaan TTV


pemeriksaan TTV keadaan pasien

6 Pasang kateter Untuk mengetahui 12:35 WIB Melakukan pemasangan


cairan intake kateter

7 Pasang NGT Untuk membersihkan 12.25 WIB Melakukan pemasangan NGT


perdarahan saluran
cerna

3.9 Evaluasi
Evaluasi Komunikasi
Subjectif Background :
Pasien mengatakan sesak nafas berkurang Ny.D dibawah kerumah sakit dikarenakan
mengalami panas tinggi selama 3 hari yang
lalu dan sudah diberikan obat yang beli
diapotik terdekat tetapi panasnya tidak
kunjung turun dan beberapa kali mengalami
kejang-kejang dari pemeriksaan fisik TTV di
peroleh hasil TTD :140/110mmHg, N
:110x/menit,RR 28x/menit Suhu : 40oC.

Objektif : Background :
TD : 140/110 mmHg Saya perawat Y akan melaporkan keadaan
RR : 28x/menit dan penanganan untuk Ny.D yang sudah
dilakukan.pada tindakan,pertama kali saya
Nadi : 110 x/menit memberikan cairan infus dengan tujuan
Suhu : 40˚C untuk memenuhi cairan.Lalu kami
melonggarkan baju/pakaian dengan tujuan
Keadaan pasien : compos mentis
untuk melancarkan sirkulasi dan pasang
oksigenasi agar kebutuhan oksigen
terpenuhi. Memberikan obat antipiretik
bertujuan untuk menurunkan panas . kami
melakukan pemasangan NGT untuk
membersikan pendarahan saluran cerna.Dan
pada tindakan kami terakhir melakukan
pemeriksaan TTV pada pasien.Setelah
dilakukan tindakan tersebut keluhan kejang
demam berkurang .Namun Keadaan pasien
masih lemas dan terlihat pucat.Untuk saat
ini masalah belum teratasi.

ASSESMENT: Assessment:

Masalah belum teratasi Pasien masih pucat , Nadi 110x/menit pulsasi


lemah, TD 140/110 mmHg,

PLANNING: Recomendation:

Lanjutkan intervensi 1. Lakukan intervensi ulang


BAB IV
PENUTUP
1.1 KESIMPULAN
Demam merupakan penyakit yang sering dijumpai pasa anak. Demam yang
tinggi pada anak bisa menimbulkan terjadinya kejang demam. Demam yang
memicu terjadinya kejang ditandai dengan suhu tubuh anak yang mencapai 380C.
Pertolongan pertama pada anak dengan kejang demam yaitu membawa anak
kerumah sakit dengan diberikan diazepam rectal yang berfungsi untuk mengatasi
kejang, serta obat penurun demam yang berupa injeksi maupun oral. Kejang
demam yang berlangsung singkat ( kurang lebih 5 menit ) pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa, yaitu rusaknya neuron otak.
Komplikasi yang mungkin terjadi jika anak terkena kejang demam adalah yang
berlangsung lama yaitu lebih dari 15 menit, yang dapat mengakibatkan
kerusakan otak dengan mekanisme eksitotoksik, selain itu penurunan mental,
dan kerusakan pada daerah medial lobus temporalis yang memicu terjadinya
epilepsi.
1.2 SARAN
Saran yang dapat diberikan mengenai permasalahan kejang demam antara lain sebagai
berikut:
1. Bagi Institusi Pendidikan
Memberikan tambahan referensi tentang kejang demam, bagaimana cara penatalaksaan
medisnya, apa saja terapi yang harus diberikan dan hal apa saja yan medisnya, apa saja
terapi yang harus diberikan dan hal apa saja yang dapat dilakukan untuk terhindar dari
kejang demam.
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang
maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi
3. Bagi Mahasiswa
Mahasiswa mampu mengetahui penatalaksanaan medis terhadap penderita kejang
demam, apa saja penyebab, tanda-tanda gejala klinisnya dan terapi apa saja yangf dapat
diberikan pada penderita kejang demam serta bagaimana cara mencegh terjadinya
demam yang memicu terjadinya kejang.