Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Tingkat Pendidikan, Sumber Informasi, Transportasi, Status

Ekonomi Dengan Tingkat Kepatuhan Berobat Pasien Tbc


Di Puskesmas Kalirungkut Surabaya Tahun 2018

1
Ukhuwah Islamiyah* 2 Dr.Nur Mukarromah,SKM.M.Kes ** 3 Asri,S.Kep.Ns.MNS **

Program studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan


Universitas muhammadiyah Surabaya, kampus FIK UMSurabaya, 60113.
Telp. (031)3811966, fax. (031) 3811967,
Abstrak

Tuberkulosis Paru termasuk penyakit menular kronis. Waktu pengobatan


yang panjang dengan jumlah obat yang banyak serta berbagai efek pengobatan
menyebabkan penderita sering terancam putus berobat (Drop Out) selama masa
penyembuhan. Kepatuhan minum obat merupakan salah satu indikator penting
dalam keberhasilan pengobatan TB. Perilaku kepatuhan dipengaruhi beberapa
faktor antara lain tingkat pendidikan, sumber informasi, transportasi, status
ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pendidikan,
sumber informasi, transportasi, status ekonomi dengan kepatuhan berobat TB di
Puskesmas Kalirungkut Surabaya.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Tehnik sampling
menggunakan totaly sampling sebesar 35 orang. Instrumen yang digunakan adalah
kuensioner. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna
antara tingkat pendidikan dengan kepatuhan berobat TB dengan nilai p value
0,226. Ada hubungan yang bermakna antara sumber informasi dengan kepatuhan
berobat TB dengan nilai p value 0,013. Ada hubungan yang bermakna antara
transportasi dengan kepatuhan berobat TB dengan nilai p value 0,013. Ada
hubungan yang bermakna antara status ekonomi dengan kepatuhan berobat TB
dengan nilai p value 0,002.
Tingkat pendidikan tidak ada hubungan dengan kepatuhan pasien
berobat TB karena keterikatan dengan jam kerja yang membuat meraka tidak
patuh. Semakin banyak informasi yang diberikan melalui edukasi, leaflet, brosur,
poster mebuat pasien itu semakin patuh terhadap pengobatan. Transportasi yang
mudah atau tidak mudah dijangkau sangat mempengaruhi kepatuhan pasien
berobat. Status ekonomi sangat berpengaruh terhadap kepatuhan pasien berobat
terutama jika pasien itu sebagai tulang punggung keluarga.

Kata kunci : Tingkat pendidikan, Sumber informasi, Transportasi, Status


ekonomi, Kepatuhan berobat TB

Ket :
*Mahasiswi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya
**Dosen FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya
LATAR BELAKANG resistant), maupun lebih dari satu jenis OAT
(poly resistant, multidrug resistant, extenly
Penyakit Tuberkulosis Paru termasuk drug resistant, atau totally drug resistant)
penyakit menular kronis. Waktu pengobatan (BPOM RI, 2006). Kepatuhan pasien yang
yang panjang dengan jumlah obat yang rendah dalam minum OAT juga menyebabkan
banyak serta berbagai efek pengobatan pasien menjadi sumber penularan kuman yang
menyebabkan penderita sering terancam putus resisten di masyarakat, hal ini tentunya akan
berobat (Drop Out) selama masa mempersulit pemberantasan penyakit TB paru
penyembuhan. Kepatuhan minum obat di Indonesia serta memperberat beban
merupakan salah satu indikator penting dalam pemerintah (Depkes RI, 2005).
keberhasilan pengobatan TB. Kepatuhan rata- Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (
rata pasien pada pengobatan jangka panjang RISKESDAS ) tahun 2010 didapatkan
terhadap penyakit TB sangat bervariasi sebanyak 19,3% penderita TB yang tidak
(Dinkes kota,2016). patuh dalam minum obat.hasil penelitian
Pasien TB di kota Surabaya pada diatas sejalan dengan penelitian yang
tahun 2014 mencapai 4.311 kasus, tahun 2015 dilakukan oleh gendhis yang mendapatkan
mencapai 4.805 kasus dan tahun 2016 hasil bahwa terdapat penderita TB gagal
mencapai 5.428 kasus. Dari tahun ke tahun menjalani pengobatan secara lengkap dan
jumlah pasien TB meningkat jumlah teratur yang dipengaruhi oleh beberapa
kasusnya. (Dinkes kota, 2016). Kota Surabaya faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku
merupakan urutan pertama di Provinsi Jawa kepatuhan pasien dalam minum obat meliputi
Timur sebagai kota penyumbang kasus pengetahuan, kepercayaan, keyakinan, nilai-
tuberkulosis terbanyak hingga 4.754 kasus, nilai, sikap, ketersediaan sarana/fasilitas,
kemudian kabupaten Jember sebanyak 3.128 dukungan keluarga dan sikap petugas
kasus, Sidoarjo sebanyak 2.292 kasus, kesehatan.
kabupaten Malang sebanyak 1.932 kasus dan Hasil penelitian ada hubungan
kabupaten pasuruan sebanyak 1.809 tingkat pengetahuan penderita TBC dengan
kasus.(Dinkes Jatim, 2016). kepatuhan dalam berobat TBC di Puskesmas
Di negara maju persentase kepatuhan Ngoro Kecamatan Ngoro Kabupaten
pasien minum obat adalah sebesar 50% Mojokerto (Triwibowo H,Nurjubaidah
sedangkan untuk negara berkembang S,2012). Hasil penelitian selanjutnya Umur
persentase hanya sekitar 24% ,Indonesia dan jenis kelamin tidak berhubungan dengan
termasuk dalam negara berkembang kepatuhan berobat penderita TB Paru di
(WHO,2003). Data DO kota surabaya pada Wilayah Kerja Puskesmas Nguntoronadi I
tahun 2013 sebesar 13,29 %, tahun 2014 Kabupaten Wonogiri dan Ada hubungan yang
sebesar 11,43 % dan tahun 2015 sebesar 6,79. kuat antara peran PMO dengan kepatuhan
Dari angka tersebut dapat disimpilkan masih berobat penderita TB Paru di Wilayah Kerja
tingginya angka DO di kota surabaya dari Puskesmas Nguntoronadi I Kabupaten
target sebesar <10 % (Dinkes,2016). Pada Wonogiri (Dewanty LI, Haryanti T,
tahun 2016 Prosentase kepatuhan pasien Kurniawan TP,2016). Hasil penelitian
minum obat di Puskesmas Kalirungkut sekitar berikutnya faktor penunjang kepatuhan pasien
13 % dari seluruh jumlah pasien TB yang berobat TBC adalah motivasi untuk sembuh
terobati yaitu 48 0rang.(SITT,2016). dari penyakit TBC,Support dari keluarga dan
Rendahnya kepatuhan minum obat pengawasan seorang PMO,penyuluhan yang
pada pasien TB paru akan memperlambat selalu diberikan oleh petugas serta tidak ingin
proses penyembuhan penyakit, meningkatkan menularkan penyakitnya kepada anggota
risiko morbiditas, mortalitas, dan resistensi keluarga yang lain (Lestari S,Chairil
obat baik terhadap satu jenis OAT (mono HM,2014).

t:
Mahasiswi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Surabaya
Dosen FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya
Berdasarkan latar belakang tersebut Umur Jumlah Prosentase (%)
peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
tentang Hubungan Antara Tingkat
4 - 14 3 8,6
pendidikan, Sumber Informasi, Transpostasi,
15 - 25 4 11,4
Status Ekonomi dengan tingkat kepatuhan
26 - 36 6 17,1
berobat pasien TBC di Puskesmas
37 - 47 10 28,6
Kalirungkut Surabaya.
48 – 58 3 8,6
.
59 - 69 9 25,7
METODE
Desain yang digunakan dalamTotal 35 100
penelitian ini adalah desain penelitian cross
sectional. Penelitian ini menghubungkan Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
variabel Idenpenden yaitu tingkat pendidikan, karakteristik responden yang berumur 4-14
sumber Informasi, transportasi dan status tahun sebanyak 3 responden (8.6%), berumur
ekonomi dengan variabel dependen Yaitu 15-25 tahun sebanyak 4 (11.4%), berumur 26-
tingkat kepatuhan berobat pasien TBC. 36 tahun sebanyak 6 responden (17.1%),
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh berumur 37-47 tahun sebanyak 10 (28.6%),
penderita TB yang berobat di Puskesmas berumur 48-58 tahun sebanyak 3 responden
Kalirungkut Surabaya. Sampel dalam (8.6%) dan berumur 59-69 tahun sebanyak 9
penelitian ini adalah pasien yang responden (25.7%).
mendapatkan program pengobatan TB di
puskesmas Kalirungkut sejumlah 35 orang Tabel 4.3. Karakteristik Responden
yang diambil dengan teknik total sampling. berdasarkan pekerjaan di
Puskesmas Kalirungkut tahun
HASIL PENELITIAN 2018
Data Umum
Tabel 4.1 Karakteristik Responden Pekerjaan Jumlah Prosentase (%)
berdasarkan jenis kelamin di
Puskesmas Kalirungkut tahun
2018 PNS 1 2.9
Swasta 14 40
Jenis Kelamin Jumlah Prosentase (%) Wiraswasta 2 5.7
Sekolah 4 11.4
Tidak bekerja 14 40
Laki-laki 14 40
Perempuan 21 60
Total 35 100
tal 35 100
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa karakteristik responden yang mempunyai
karakteristik responden yang jenis pekerjaan sebagai PNS sebanyak 1 responden
kelaminnya laki-laki sebanyak 14 responden (2.9%), Swasta sebanyak 14 (40%),
(40%) dan responden yang jenis kelamin Wiraswasta sebanyak 2 responden (5.7%),
perempuan sebanyak 21 responden (60%). Sekolah sebanyak 4 (11.4%), dan tidak
Tabel 4.2. Karakteristik Responden bekerja sebanyak 14 responden (40%).
berdasarkan Umur di Puskesmas
Kalirungkut tahun 2018 Tabel 4.4. Karakteristik Responden
berdasarkan Fase pengobatan di
Puskesmas Kalirungkut tahun
2018
Fase Pengobatan Jumlah Prosentase (48.47%), dan sumber informasi tidak baik
(%) sebanyak 18 responden (51.43%).

Intensif 9 25.7 Tabel 4.7. Distribusi Transportasi responden


Lanjutan 26 74.3 di Puskesmas Kalirungkut tahun 2018

Total 35 100 Transportasi Jumlah Prosentase (%)

Mudah 17 48.57
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Tidak 18 51.43
karakteristik responden yang pengobatan TB mudah
dalam fase intensif sebanyak 9 responden Total 35 100
(25.7%), dan yang fase lanjutan sebanyak 26
responden (74.3%).
4.2. Data Khusus Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
Tabel 4.5. Distribusi Tingkat pendidikan di karakteristik responden yang memiliki sarana
Puskesmas Kalirungkut tahun 2018 transportasi mudah sebanyak 17 responden
(48.57%), dan sarana transportasi tidak
Tingkat Pendidikan Jumlah Prosentase mudah sebanyak 18 responden (51.43%).
(%)
Tabel 4.8. Distribusi Status Ekonomi
SD 13 37.14 responden di Puskesmas
SMP/SMA/S 21 60 Kalirungkut tahun 2018
MK 1 2,86
Diploma/S1 Status Ekonomi Jumlah Prosentase(%)
Total 35 100
Baik 15 42.86
Kurang 20 57.14
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
karakteristik responden yang memiliki Total 35 100
pendidikan terakhir SD sebanyak 13
responden (37.14%), SMP/SMA/SMK
sebanyak 21 responden (60%) dan Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
Diploma/S1 sebanyak 1 responden (2.86%). karakteristik responden yang memiliki status
ekonomi baik sebanyak 15 responden
Tabel 4.6. Distribusi Sumber Informasi (42.86%), dan status ekonomi kurang
Responden di Puskesmas sebanyak 29 responden (57.14%).
Kalirungkut tahun 2018
Tabel 4.9. Distribusi kepatuhan responden di
Sumber Jumlah Prosentase(%) Puskesmas Kalirungkut tahun 2018
Informasi
Kepatuhan Jumlah Prosentase(%)
Baik 17 48.57
Tidak 18 51.43 Patuh 15 42.86
baik Tidak 20 57.14
Patuh
Total 35 100 Total 35 100

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa
karakteristik responden yang memiliki karakteristik responden yang memiliki
sumber informasi baik sebanyak 17 responden kepatuhan sebanyak 15 responden (42.86%),
dan tidak patuh sebanyak 20 responden bermakna dari variabel tingkat pendidikan
(57.14%). dengan kepatuhan berobat TB tapi sejalan
dengan penelitian Suswati, 2013 bahwa tidak
4.2.1.Hubungan tingkat pendidikan dengan ada hubungan antara tingkat pendidikan
tingkat kepatuhan berobat pasien TB di dengan kepatuahan pasien berobat TB.
Puskesmas Kalirungkut tahun 2018. Peneliti berpendapat bahwa tingkat
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan tidak ada hubungan dengan
responden dengan pendidikan SD memiliki kepatuhan berobat pasien TB dikarenakan
ketidakpatuhan berobat TB sebanyak 11.43% perubahan perilaku seseorang bukan sesuatu
sedangkan yang memiliki kepatuhan berobat yang mudah yang dapat terjadi dengan mudah
TB sebanyak 31.43%.Pada responden yang bagi kebanyakan orang. Hambatan yang
berpendidikan SMP/SMA/SMK/Diploma dihadapi individu untuk perubahan perilaku
yang memiliki ketidakpatuhan berobat TB sangat bervariasi.Persepsi tentang hambatan
sebanyak 25.71% sedangkan yang memiliki tersebut merupakan unsure yang signifikan
kepatuhan berobat TB sebanyak 31.43%. dalam menentukan apakah terjadi perubahan
Sedangkan untuk responden Diploma/S1 perilaku.
digabungkan dengan SMP/SMA/SMK karena
jumlah respondennya memenuhi kriteria uji 4.2.2. Hubungan Sumber Informasi dengan
chi square. tingkat kepatuhan berobat pasien TB di
Dari hasil uji statistik dengan chi square Puskesmas Kalirungkut tahun 2018.
diperoleh p- value 0,226 > 0,05 yang berarti
Ho diterima maka disimpulkan tidak ada Hasil penelitian menunjukkan bahwa
hubungan yang signifikan antara tingkat responden dengan Sumber informasi baik
pendidikan dengan kepatuhan berobat TB di memiliki ketidakpatuhan berobat TB
Puskesmas Kalirungkut Surabaya tahun 2018. sebanyak 17.14% sedangkan yang memiliki
Berdasarkan hasil penelitian diketahui kepatuhan berobat TB sebanyak 31.43%.
35 responden memiliki tingkat pendidikan SD Pada responden dengan sumber informasi
sebanyak 13 responden (37.14%), yang tidak baik yang memiliki ketidak patuhan
memiliki tingkat pendidikan SMP/SMA/SMK berobat TB sebanyak 40% sedangkan yang
sebenyak 21 responden (60%) dan yang memiliki kepatuhan berobat TB sebanyak
memiliki tingkat pendidikan Diploma/S1 11.43%.
sebanyak 1 responden (2,86%). Dari hasil uji Dari hasil uji statistik dengan chi square
hipotesi dengan chi square diperoleh p- value diperoleh p- value 0,013 < 0,05 yang berarti
0.226 > 0,05 yang berarti Ho diterima maka Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan
disimpulkan tidak ada hubungan yang yang signifikan antara sumber informasi
signifikan antara tingkat pendidikan dengan dengan kepatuhan berobat TB di Puskesmas
kepatuhan berobat TB di Puskesmas Kalirungkut Surabaya tahun 2018. Hasil
Kalirungkut Surabaya tahun 2018. penelitian ini menunjukkan bahwa sumber
Pendidikan adalah suatu usaha untuk informasi yang baik dan jelas akan
mengembangkan kepribadian dan mempengaruhi seseorang untuk patuh dalam
kemampuan di dalam maupun luar sekolah menjalani pengobatan.
dan berlangsung seumur hidup.Pendidikan Berdasarkan hasil penelitian diketahui
mempengaruhi proses belajar, makin tinggi sumber informasi responden dengan kategori
pendidikan seseorang maka makin mudah baik sebanyak 17 responden (48.57%)
orang tersebut untuk menerima informasi. sedangkan kategori tidak baik sebanyak 18
Semakin banyak informasi yang masuk responden (51.43%). Dari hasil uji hipotesis
semakin banyak pula pengetahuan yang dengan chi square diperoleh p- value 0,013 <
didapat tentang kesehatan 0,05 yang berarti Ho ditolak maka
(Notoatmodjo,2010). disimpulkan ada hubungan yang signifikan
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan antara sumber informasi dengan kepatuhan
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh berobat TB di Puskesmas Kalirungkut
saudara Hudan A, 2013 bahwa ada hubungan Surabaya tahun 2018. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sumber informasi yang Berdasarkan hasil penelitian didapatkan
baik dan jelas akan mempengaruhi seseorang responden yang memiliki jangkauan
untuk patuh dalam menjalani pengobatan. transportasi yang mudah sebanyak 17
Informasi yang diperoleh dari berbagai responden (48.57%) sedangkan yang
sumber akan mempengaruhi tingkat memiliki transportasi tidak mudah sebanyak
pengetahuan seseorang. Cara terbaik 18 Responden (54,28%). Dari hasil uji
mengubah perilaku adalah dengan hipotesis dengan chi square diperoleh p-
memberikan informasi serta diskusi dan value 0,013 < 0,05 yang berarti Ho ditolak
partisipasi dari penderita. Perilaku penderita maka disimpulkan ada hubungan yang
untuk lebih patuh dengan menggalakan signifikan antara transportasi dengan
pemberian informasi yang terus menerus. kepatuhan berobat TB di Puskesmas
Strategi promosi kesehatan dalam Kalirungkut Surabaya tahun 2018.
penanggulangan TB diselenggarakan dengen Transportasi adalah perpindahan orang
pemberdayaan masyarakat, advokasi dan dari suatu tempat ke tempat lainnya atau dari
kemitraan (Permenkes,2016). Dalam program tempat tujuan dengan menggunakan suatu
penanggulangan TB pemerintah kota wahana yang digerakkan oleh manusia,hewan
Surabaya mempunyai inovatif yaitu tau mesin (Zulfiar Sani,2010). Semakin
pembentukan Satgas TB tingkat kecamatan. sulitnya transportasi maka kan berhubungan
Salah satu Bidang dalam Satgas TB adalah dengan keteraturan berobat dan kurangnya
bidang penyuluhan dimana Satgas TB sarana transportasi merupakan kendala dalam
mempunyai kewajiban untuk memberikan mencapai pelayanan kesehatan.
penyuluhan TB terhadap masyarakat Wilayah kerja Puskesmas Kalirungkut
diwilayah kerjanya. Dengan adanya Satgas adalah kelurahan Kalirungkut,Kelurahan
TB menjadi salah satu sumber informasi TB Kedung baruk dan Kelurahan Rungkut
yang baik dan membantu masyarakat untuk Kidul.Penderita TB terbanyak dari kelurahan
mendapatkan informasi TB yang lebih akurat. Kedung Baruk yang dimana jarak Kedung
Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan baruk dengan Puskesmas sekitar 1-1,5 KM
penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh dan tidak ada angkutan umum yang
saudara Dewi M, 2009 bahwa tidak ada menjangkaunya.Transportasi umum yang bisa
hubungan bermakna dari variabel sumber dipakai adalah becak dan 30
informasi dengan kepatuhan berobat TB. ribu/berangkat.Sedangkan untuk kelurahan
Rungkut Kidul dan Kalirungkut masih bisa
4.2.3. Hubungan Transportasi dengan tingkat dijangkau dengan kendaraan umum maupun
kepatuhan berobat pasien TB di Puskesmas jalan kaki karena jaraknya lebih dekat.
Kalirungkut tahun 2018. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
transportasi akan berhubungan erat dengan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pasien berobat sesuai dengan
responden dengan Transportasi yang mudah penelitian nandangtisna menyeburkan bahwa
memiliki ketidakpatuhan berobat TB ketersediaan sarana transportasi akan
sebanyak 17.14% sedangkan yang memiliki memberikan kemudahan dalam mendapatkan
kepatuhan berobat TB sebanyak 31.43%. pelayanan kesehatan.
Pada responden dengan transportasi tidak
mudah yang memiliki ketidakpatuhan berobat 4.2.4. Hubungan Status ekonomi dengan
TB sebanyak 40% sedangkan yang memiliki tingkat kepatuhan berobat pasien TB di
kepatuhan berobat TB sebanyak 11.43%. Puskesmas Kalirungkut tahun 2018.
Dari hasil uji statistik dengan chi square
diperoleh p- value 0,013 < 0,05 yang berarti Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan responden dengan status ekonomi baik
yang signifikan antara transportasi dengan memiliki ketidakpatuhan berobat TB
kepatuhan berobat TB di Puskesmas sebanyak 11,43% sedangkan yang memiliki
Kalirungkut Surabaya tahun 2018. kepatuhan berobat TB sebanyak 31.43%.
Pada responden dengan status ekonomi
kurang yang memiliki ketidakpatuhan berobat Kalirungkut Surabaya tahun 2018 dapat
TB sebanyak 45.14% sedangkan yang disimpulkan bahwa :
memiliki kepatuhan berobat TB sebanyak 1. Tidak ada Hubungan Tingkat
11.43%. pendidikan dengan tingkat kepatuhan
Dari hasil uji statistik dengan chi square berobat pasien TB di Puskesmas
diperoleh p- value 0,02 < 0,045 yang berarti Kalirungkut Surabaya.
Ho ditolak maka disimpulkan ada hubungan 2. Ada hubungan sumber informasi
yang signifikan antara status ekonomi dengan dengan tingkat kepatuhan berobat
kepatuhan berobat TB di Puskesmas pasien TB di Puskesmas Kalirungkut
Kalirungkut Surabaya tahun 2018. Surabaya.
Berdasarkan penelitian yang telah 3. Ada hubungan Transportasi dengan
dilakukan didapatkan status ekonomi tingkat kepatuhan berobat pasien TB
responden baik sebanyak 15 responden di Puskesmas Kalirungkut Surabaya.
(42.86%) dan status ekonomi kurang 4. Ada hubungan Status ekonomi dengan
sebanyak 20 responden (57.14%). Dari hasil tingkat kepatuhan berobat pasien TB
uji hipotesis dengan chi square diperoleh p- di Puskesmas Kalirungkut Surabaya.
value 0,013 < 0,045 yang berarti Ho ditolak
maka disimpulkan ada hubungan yang SARAN
signifikan antara status ekonomi dengan
kepatuhan berobat TB di Puskesmas 1. Bagi Puskesmas
Kalirungkut Surabaya tahun 2018. Meningkatkan jejaring dengan lintas
Dari hasil lapangan didapatkan rata-rata sektoral dalam menanggulanggi masalah
yang menjadi tulang punggung keluarga kepatuhan berobat pasien TB dengan cara
adalah pasien itu sendiri sehingga mengadakan monev berkala dengan satgas
perekonomian keluarga pun terganggu. Pada TB kecamatan maupun satgas TB
fase intensif pasien cenderung lebih patuh kelurahan.
dibandingkan fase lanjutan karena di fase 2. Bagi Tenaga kesehatan
lanjutan pasien sudah tidak memiliki keluhan a. Meningkatkan upaya kunjungan
dan mereka bisa kerja lagi. rumah (Home Visit) ke penderita oleh
Penelitian Passarubi L, 2012 petugas kesehatan untuk mengetahui
menyebutkan bahwa rendahnya ekonomi alasan ketidakpatuhan berobat pasien
seseorang merupakan faktor penghambat TB.
dalam pengobatan TB di Jakarta. Dari b. Meningkatkan pemberian informasi
penelitian diatas disimpulkan bahwa TB untuk memotivasi pasien untuk
penghasilan mempunyai yang erat dengan patuh berobat dengan cara
kepatuhan berobat pasien TB. Karena memberikan edukasi secara langsung
rendahnya pendapatan bisa menjadi faktor atau melalui leaflet, stiker, brosur.
penghambat dalam pengobatan paru dan hal 3. Bagi peneliti selanjutnya
inilah yang menjadikan ketidakpatuhan pasien a Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
berobat TB. tentang hubungan tingkat pendidikan,
Status ekonomi sangat mempengaruhi sumber informasi, transportasi, status
perbaikan pelayanan kesehatan yang ekonomi dengan kepatuhan berobat
diinginkan oleh masyarakat. Rata-rata TB dengan menggunakan teknik
keluarga dengan status ekonomi yang cukup sampilng nonprobability sampling
baik akan memilih pengobatan yang baik agar bisa mengeneralisasi data seluruh
(Notoatmodjo,2010). yang ada.
b Desai penelitian bisa dengan kohort
KESIMPULAN prospektif sehingga bisa mendapat
Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan hasil yang riil ke depan.
Tingkat pendidikan, Sumber informasi,
Transportasi, Status ekonomi dengan Tingkat
kepatuhan berobat pasien TB di Puskesmas
DAFTAR PUSTAKA untuk minum obat anti Tuberkulosis.
(http://Portal garuda )
Lissa inggar,Titik Hariyanti,tri puji
KepMenKes. 2014. Pedoman Nasional kurniawan. 2015.kepatuhan berobat
Pengendalian Tuberkolusis. Jakarta. penderita TB paru di Puskesmas
KepMenKes. 2017. Modul penanggulangan Nguntoronadi di Kabupaten
Tuberkulosis. Jakarta, Wonogiri.(http://Portal garuda).
Nizar Muhammad.2017. Pemberantas dan Martiadewi,Nursiswati,Ridwan.2008.Hubung
penanggulangan Tuberkulosis,Gosyen an dukungan keluarga dengan kepatuhan
Publishing Jakarta. pasien TBC dalam menjalani pengobatan
KPG ( kepustakaan popular gramedia obat anti tuberkulosis di Tiga
).RS.St.Carolus.2017.Tuberkulosis bisa Puskesmas,Kabupaten
disembuhkan! Jakarta . Sumedang.(http://Portal garuda).
Priyoto.2014. Teori sikap dan perilaku dalam Heri Triwibowo.Siti
kesehatan.Nuha Medika.Yogjakarta. nurjubaidah.2011.Hubungan antara
Soekidjo notoatmodjo, 2014.Ilmu Perilaku pengetahuan penderita TBC dengan
kesehatan Jakarta : Penerbit Rineka Cipta. kepatuhan dalam control berobat TBC di
Zulfan Saam dan sri wahyuni.2012.Psikologi Puskesmas Ngoro Kecamatan Ngoro
keperawatan.Jakarta : PT rajagrafindo Kabupaten Mojokerto.(http://Portal
persada. garuda).
Susila&Suyanto .2014.Metodologi penelitian
cross sectional.Bossscript.Bandung.
Sugiyono.2017.Metode penelitian
kuantitatif,kualitatif dan R&D.
Alfabeta.Bandung.
Nursalam.2015.Metode penelitian ilmu
Keperawatan .Salemba medika Jakarta.
Sri lestari, chairil HM. 2016. Faktor yang
mempengaruhi kepatuhan penderita TBC