Anda di halaman 1dari 33

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA BERBASIS CERITA ANAK

DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA MATERI ENERGI DAN


PERUBAHANNYA UNTUK KELAS IV SEKOLAH DASAR KABUPATEN
PURWOREJO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metodologi Penelitian

Dosen Pengampu : Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd

Oleh:

Dewi Astuti

NIM. S031808012

PROGRAM S2 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS PASCASARJANA

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Allah AWT karena atas rahmat dan
hidayahNya, peneliti dapat menyelesaikan tugas proposal penelitian eksperimen
dengan judul “PENGEMBANGAN BAHAN AJAR IPA BERBASIS CERITA
ANAK DENGAN PENDEKATAN SAINTIFIK PADA MATERI ENERGI
DAN PERUBAHANNYA UNTUK KELAS IV SEKOLAH DASAR.”
Peneliti menyadari bahwa terselesaikannya proposal ini tidak lepas dari
bantuan bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu peneliti
menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. St. Y. Slamet, M.Pd selaku dosen pengampu mata kuliah
Metodologi Penelitian.
2. Teman-teman yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan
proposal ini.
3. Semua pihak yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan
penulisan proposal makalah ini.
Peneliti menyadari bahwa proposal ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat peneliti harapkan. Akhirnya peneliti
berharap semoga proposal ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi
pembaca.

Surakarta, 28 September 2018

Peneliti

2
DAFTAR ISI
Halaman
SAMPUL ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belalakang Masalah .................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 4
C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5
E. Asumsi dan keterbatasan produk pengembangan ............................ 5
F. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan .........................................
G.
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR, DAN
HIPOTESIS
A. Kajian Teori .................................................................................. 6
1. Hasil Prestasi Belajar IPA ......................................................... 6
2. Pendekatan Saintifik ........................................................... 12
3. Modul .................................................... 15
4. Materi ............................................ 17
5. Keterampilan Berpikir Kritis .....................................................
B. Hasil Penelitian Relevan .................................................................. 20
C. Kerangka Berpikir ............................................................................ 20
BAB III METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian .......................................................... 23
B. Subjek Penelitian ...................................................................... 24
C. Desain Pengembangan ............................................................. 25
D. Teknik Pengembangan Modul ................................ 26
E. Instrumen Pengumpulan Data ..................................................... 28
F. Teknik Analisis Data ..................................................... 28
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 34
3
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan merupakan kebutuhan utama dalam menjamin kelangsungan hidup
manusia dan dijadikan tolak ukur pembangunan bangsa dan negara, karena
pendidikan mampu mengubah dan mengembangkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang handal, berkualitas, dan memadai, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif. Keberhasilan suatu tujuan pendidikan, tegantung pada usaha suatu
bangsa dalam mengembangkan teknologi. Suatu teknologi tidak akan berkembang
pesat jika tidak didasari pengetahuan dasar yang memadai. Oleh karena itu, mata
pelajaran IPA dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan
kemampuan analisis terhadap kondisi masyarakat dalam memasuki kehidupan
masyarakat yang semakin maju. Melalui mata pelajaran IPA, siswa diarahkan
untuk mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang
bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga munculah
rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya interaksi antara
lingkungan, teknologi dan masyarakat.
Depdiknas (2007: 27) menyebutkan bahwa tujuan utama pembelajaran IPA
disekolah dasar adalah agar siswa dapat memahami konsep-konsep IPA secara
sederhana dan mampu menggunakan metode ilmiah, bersikap ilmiah, guna
memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dengan menyadari kebesaran dan
kekuasaan pencipta alam. Sulistyorini dan Supartono (2007: 8) berpendapat
bahwa pembelajaran IPA adalah suatu pembelajaran yang tidak hanya dilihat dari
hasil belajarnya saja, tetapi juga dilihat pada proses pembelajarannya yang
memberi kesempatan agar siswa dapat menunjukkan keaktifan penuh dalam
pembelajaran (active learning), serta dapat menciptakan suasana menyenangkan
bagi siswa sehingga siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan nyaman dan
menyenangkan (joyfull learning). Suatu tujuan pembelajaran akan tercapai apabila
menggunakan pendekatan yang aktif, kreatif, dan inovatif.

4
Pembelajaran masih banyak yang berorientasi pada upaya untuk
mengembangkan dan menguji daya ingat siswa sehingga kemampuan berpikir
siswa direduksi dan sekedar dipahami sebagai kemampuan untuk mengingat.
Menurut (Anderson & Krathwohl, 2010: 94) pembelajaran hanya menekankan
satu jenis proses kognitif yakni mengingat. Pembelajaran IPA pada dasarnya harus
dibelajarkan sesuai dengan hakikatnya. Koballa & Chiappetta (2010: 105-115)
mendefinisikan IPA sebagai suatu cara penyelidikan yang ditandai dengan
penggunaan pendekatan saintifik dalam memahami materi, menyusun
pengetahuan dan segala hal yang terlibat di dalamnya. Pelaksanaan pembelajaran
IPA tidak hanya sebatas pemindahan pengetahuan dari pendidik kepada peserta
didik, akan tetapi menjadi suatu kewajiban bahwa pembelajaran IPA harus
melalui penyelidikan dan melalui penerapan konsep-konsep IPA dalam bentuk
merancang dan membuat suatu karya atau produk.
Proses belajar mengajar memerlukan sebuah sumber belajar, metode, dan
model yang baik agar sebuah pembelajaran itu dapat dikatakan berhasil dan
mampu membuat peserta didik paham dan tercipta interaksi yang aktif pada kelas
tersebut. Guru memiliki kewajiban untuk mampu mengembangkan secara kreatif
dan inovatif materi pembelajaran yang diampu. Pengembangan materi
pembelajaran yang dilakukan oleh guru dapat berupa pengembangan bahan ajar
yang inovatif. National Centre for Competency Based Training (Andi Prastowo,
2015: 16) menyatakan bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang
digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses
pembelajaran. Bahan ajar inovatif adalah bahan ajar yang dirancang semenarik
mungkin oleh guru dengan memperhatikan karakteristik siswa dan kurikulum
yang berlaku sehingga dapat tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan
dan bermakna.
Cerita merupakan salah satu karya sastra yang dapat dijadikan sebagai bahan
bacaan bagi anak. Kusdiana (2012: 230) mengungkapkan bahwa karya sastra
cerita anak-anak pada dasarnya memberikan hiburan sekaligus memberikan
pendidikan. Melalui cerita anak, siswa dapat belajar untuk memahami isi bacaan,
menggali informasi yang terdapat didalamnya dan mendapatkan pesan moral yang
5
baik tanpa harus merasa digurui. Siswa dapat belajar sesuatu dengan mandiri dan
menyenangkan.
Hal tersebut dapat dijadikan peluang bagi guru untuk memanfaatkan cerita
anak sebagai bahan ajar yang menarik bagi siswa. Dengan dipilihnya atau
dikembangkannya bahan ajar yang menarik bagi siswa diharapkan proses dan
hasil pembelajaran akan lebih maksimal. Hal ini dikarenakan kualitas bahan ajar
yang digunakan guru akan menentukan kualitas pembelajaran yang
diselenggarakan.
Meski demikian jarang terdapat guru yang secara inisiatif mengembangkan
bahan ajar. Hal serupa juga ditemukan berdasarkan observasi di SD N 1
Purworejo dan SD N 1 Pengenjurutengah bahwa masih jarang guru yang secara
inisiatif mengembangkan bahan ajar yang kreatif dan menyenangkan. Selain itu
bahan ajar yang tersedia juga relatif terbatas, tidak jarang pembelajaran yang
berlangsung di kelas hanya mengandalkan penyampaian informasi dari guru.
Padahal peran bahan ajar seharusnya sudah mampu menempatkan guru sebagai
fasilitator dan siswa sebagai pelaku utama dalam pembelajaran. Bahan ajar harus
menjadikan siswa aktif, bukan sekedar menempatkan siswa sebagai pendengar
informasi yang disampaikan guru.
Berdasar pada hal tersebut dikembangkan bahan ajar berbasis cerita anak yang
dikemas berdasarkan pendekatan saintifik. Melalui pendekatan saintifik,
diharapkan siswa terbiasa berpikir metodologis, mampu memahami bacaan dan
menuliskannya dengan efektif dan dapat berpikir secara ilmiah (Mahsun, 2014:
128).
Berdasarkan fakta empiris, penelitian yang dilakuan oleh Mei Wulan
Kurniawati (2017: 1) yang berjudul Pengembangan Bahan Ajar IPA Berbasis
Saintifik pada Siswa Kelas IV SD, didapatkan hasil penelitian bahwa bahan ajar
dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Salah satu kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa Kelas IV diantaranya
terdapat pada materi energi dan perubahannya. Oleh karena itu dilakukan
penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar IPA Berbasis Cerita Anak

6
dengan Pendekatan Saintifik Pada Materi Energi dan Perubahannya untuk Kelas
IV Sekolah Dasar.”

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimanakah kondisi bahan ajar IPA materi energi dan perubahannya yang
dipakai untuk siswa Kelas IV SD di Kabupaten Purworejo berbasis cerita
anak dengan pendekatan saintifik?
2. Bagaimanakah kebutuhan bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo?
3. Bagaimanakah pengembangan bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo?
4. Bagaimanakah uji keefektifan bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah:
1. Untuk menjelaskan kondisi bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo.
2. Untuk menjelaskan kebutuhan bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo.
3. Untuk menjelaskan pengembangan bahan ajar IPA berbasis cerita anak
dengan pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo?

7
4. Membuktikan uji keefektifan bahan ajar IPA berbasis cerita anak dengan
pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya Kelas IV SD di
Kabupaten Purworejo.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian pengembangan diharapkan dapat memberikan manfaat kepada
semua pihak yang terlibat dan hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat baik
secara teoritis dan praktis.
1. Manfaat Teoretis
a) Dapat dijadikan bahan informasi atau sebagai referensi dan bermanfaat
sebagai pengetahuan bagi para pengajar IPA dalam memahami proses
balajar yang ada pada diri siswa khususnya dalam penggunaan bahan ajar
IPA, sehingga dapat meningkatkan pemahaman tentang materi energi dan
perubahannya.
b) Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan, khususnya bidang ilmu IPA dan kemajuan ilmu
pengetahuan pada umumnya.
2. Manfaat Praktis
a) Bagi Guru
1) Sebagai acuan untuk meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan
bahan ajar sesuai kebutuhan peserta didik.
2) Meningkatkan keikutsertaan guru dalam memilih masalah-masalah
nyata/faktual yang dijumpai/berkembang dilingkungan dan kehidupan
masyarakat sehari-hari.
3) Guru lebih termotivasi untuk meningkatkan kemauan untuk selalu
mengikuti perkembangan sains dan teknologi, sehingga dapat
diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar.
b) Bagi Sekolah/Lembaga
1) Sebagai acuan kebijakan dalam penyediaan bahan ajar yang sesuai
dengan kurikulum, sehingga tujuan pendidikan nasional dapat
tercapai.
8
c) Bagi Siswa
1) Memberikan kemudahan dalam belajar secara aktif dan mandiri.
2) Mengembangkan kreativitas siswa dalam menuangkan ide atau
gagasan materi pembelajaran sains dengan bentuk aplikasi.

E. Spesifikasi Produk yang Dikembangkan


Spesifikasi produk yang dikembangkan adalah:
1. Produk yang dikembangkan dalam penelitian ini berupa Bahan Ajar IPA SD
berbasis cerita anak dengan pendekatan saintifik yang digunakan guru sebagai
pedoman dalam melaksanakan pembelajaran IPA pada materi energi dan
peubahannya.
2. Bahan Ajar yang dikembangkan dalam bentuk buku yang dicetak.
3. Standar kompetensi yang mencakup penerapan konsep energi dan
perubahannya dalam berbagai penyelesaian masalah dan berbagai produk
teknologi.
4. Bahan Ajar yang dikembangkan adalah bahan ajar yang mengintegrasi
pembelajaran berbasis cerita anak dengan pendekatan saintifik sehingga
bahan ajar disusun berdasarkan komponen pada pembelajaran berbasis
saintifik yang terdiri dari lima tahapan. Pada tahap 1 orientasi siswa pada
mengamati masalah, siswa disajikan tujuan pembelajaran, siswa disajikan
masalah dalam kehidupan sehari-hari yang harus dicari pemecahan
masalahnya. Tahap 2, siswa diorganisasikan dan dituntun untuk mengajukan
pertanyaan untuk mendapatkan informasi. Tahap 3, siswa melakukan
percobaan untuk menyelesaikan masalah. Tahap 4, siswa mengerjakan dan
mengolah informasi dari hasil percobaan. Tahap 5, siswa diberikan evaluasi
yang bertujuan untuk mengevaluasi atau menyampaikan hasil percobaan dari
proses pemecahan masalah.
5. Komponen bahan ajar IPA berbasis saintifik meliputi (a) cover, (b) kata
pengantar, (c) standar isi, (e) daftar isi, (f) petunjuk penggunaan bahan ajar,
(g) informasi pendukung, (h) kegiatan-kegiatan, dan (j) daftar pustaka.

9
F. Pentingnya Pengembangan
Pentingnya pengembangan bahan ajar berbasis cerita anak dengan pendekatan
saintifik dapat memberikan bahan informasi atau sebagai referensi bagi guru
untuk memanfaatkan cerita anak sebagai bahan ajar yang menarik bagi siswa.
Pengembangan bahan ajar ini juga penting untuk:
1. Membiasakan siswa untuk berpikir metodologis, mampu memahami bacaan,
menuliskannya dengan efektif dan dapat berpikir secara ilmiah. Dengan
dipilihnya atau dikembangkannya bahan ajar yang menarik bagi siswa
diharapkan proses dan hasil pembelajaran akan lebih maksimal.
2. Memberikan alternatif baru dan meningkatkan kreativitas guru dalam
mengembangkan bahan ajar yang inovatif dengan memperhatikan
karakteristik siswa dan kurikulum yang berlaku sehingga dapat tercipta
kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

G. Asumsi dan Keterbatasan Produk Pengembangan


1. Asumsi
Pertimbangan pemilihan pendekatan saintifik dapat dijadikan peluang bagi
guru untuk memanfaatkan cerita anak sebagai bahan ajar yang menarik bagi
siswa. Melalui pendekatan saintifik, diharapkan siswa terbiasa berpikir
metodologis, mampu memahami bacaan, menuliskannya dengan efektif dan
dapat berpikir secara ilmiah. Dengan dipilihnya atau dikembangkannya bahan
ajar yang menarik bagi siswa diharapkan proses dan hasil pembelajaran akan
lebih maksimal.
2. Keterbatasan
a. Pelaksanaan uji coba operasional yang hanya bisa dilakukan pada lingkup
kecil karena terkendala keterbatasan ijin sekolah, waktu, dan biaya serta
produk tidak untuk produksi masal.
b. Keterbatasan dalam menyusun dan mendesain bahan ajar membutuhkan
keahlian khusus.

10
c. Penelitian pengembangan ini hanya menghasilkan produk berupa bahan
ajar IPA berbasis cerita anak dengan pendekatan saintifik pada materi
energi dan perubahannya di Kelas IV SD.

H. Definisi Istilah
Terdapat beberapa istilah yang menjadi fokus dalam penelitian pengembangan
ini yaitu sebagai berikut:
1. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bahan ajar
inovatif adalah bahan ajar yang dirancang semenarik mungkin oleh guru
dengan memperhatikan karakteristik siswa dan kurikulum yang berlaku
sehingga dapat tercipta kegiatan pembelajaran yang menyenangkan dan
bermakna.
2. IPA adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun
secara sistematis berdasarkan hasil percobaan ataupun pengamatan, yang
tersusun dari berbagai macam komponen hasil percobaan dan pengamatan
yang berkaitan satu sama lain membentuk satu kesatuan yang utuh
3. Cerita Anak adalah cerita yang mengandung tema yang mendidik, alurnya
lurus, dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada disekitar atau
ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang
baik, gaya bahasanya mudah dipahami tapi mampu mengembangkan
bahasa anak, sudut orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan
anak.
4. Pendekatan Saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang
sedemikian rupa untuk mengaktifkan peserta didik dalam mengkonstruk
konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk
mengidentifikasi dan menemukan masalah), merumuskan masalah,
mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dari
berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan
mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.
5. Energi dan Perubahannya
11
6. Sekolah Dasar Kabupaten Purworejo merupakan jenjang satuan
pendidikan tingkat dasar yang menyelenggarakan pendidikan dasar untuk
siswa usia anak-anak dari kelas I sampai VI, sehingga sekolah sebagai
tempat berlangsungnya proses pembelajaran antara guru dengan siswa dan
komponen-komponen lainnya.

12
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Hakikat IPA
Hendro Darmojo mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang
rasional dan objektif tentang alam semesta serta segala isinya (Usman
Samatowa, 2006: 2). IPA atau ilmu pengetahuan alam berasal dari kata
natural science. Natural adalah alamiah atau berhubungan dengan alam
sedangkan science adalah ilmu pengetahuan. Sehingga secara harafiah
ilmu pengetahuan alam adalah ilmu pengetahuan tentang alam atau ilmu
pengetahuan yang mempelajari peristiwa-peristiwa (Patta Bundu, 2006:
9).
The National Academy of Science (Koballa & Chiappetta, 2010:
102) menyatakan bahwa IPA adalah cara memahami alam semesta.
Dalam IPA, penjelasan didasarkan pada observasi dan eksperimen yang
dapat diperkuat oleh saintis lainnya. Penjelasan tentang alam semesta
yang tidak di dasarkan pada bukti empiris bukanlah merupakan bagian
dari IPA. Usman Samatowa (2006: 45) menyatakan bahwa IPA
membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis
berdasarkan hasil percobaan ataupun pengamatan, yang tersusun dari
berbagai macam komponen hasil percobaan dan pengamatan yang
berkaitan satu sama lain membentuk satu kesatuan yang utuh.
Berdasarkan kedua pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa
penjelasan tentang alam semesta dalam IPA selalu didasarkan pada hasil
pengamatan/observasu dan percobaan/eksperimen, bukan hanya sebuah
asumsi belaka.
Aspek penting dari hakikat sains yaitu langkah-langkah yang
ditempuh untuk memahami alam (proses sains) dan pengetahuan yang
dihasilkan berupa fakta prinsip konsep dan teori (produk sains). Kedua
aspek harus di dukung oleh sikap sains (sikap ilmiah) berupa keyakinan

13
akan nilai yang harus dipertahankan ketika mencari atau
mengembangkan pengetahuan baru (Patta Bundu, 2006: 10-11).
Secara lebih lanjut elemen sains berupa proses/metode, produk dan
sikap menurut Patta Bundu (2006: 22-12) dijelaskan sebagai berikut:
a. Proses/metode
Proses/ metode sains adalah langkah-langkah yang digunakan untuk
menginvestigasi sebuah permasalahan. Dalam proses sains ini terdapat
sejumlah keterampilan untuk mengkaji alam dengan cara-cara tertentu
seperti mengamati, membuat suatu hipotesis, merancang dan
melakukan percobaan, mengklasifikasi, menginferensi, dan melakukan
evaluasi pada data hasil percobaan yang telah dilakukan.
b. Produk
Sains sebagai sebuah produk berisi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan
teori. Teori yang ada dalam IPA harus mampu menjelaskan fenomena
yang terjadi melalui pengamatan, menjelaskan peristiwa yang akan
terjadi (prediksi) dan dapat diuji kebenarannya melalui percobaan.
c. Sikap
Sikap sains adalah sebuah keyakinan, nilai, sikap, dan pendapat yang
dimiliki oleh para ilmuan dalam mencari dan mengembangkan IPA,
misalnya selalu objektif dan bertanggung jawab dalam mengamati data
percobaan, tidak mengambil kesimpulan aatau keputusan tertentu
hingga data hasil percobaan diperoleh secara lengkap.
Lebih lanjut Koballa & Chiappetta (2010: 105-115)
mendefinisikan IPA sebagai cara berpikir (a way of thinking) ditandai
oleh adanya proses berpikir untuk memberikan gambaran tentang rasa
keingintahuannya tentang fenomena alam. IPA sebagai cara berpikir
meliputi keyakinan, rasa ingin tahu, imajinasi, pemikiran, ubungan
sebab akibat, keraguan, objektif, dan berpikir terbuka. IPA sebagai
cara penyelidikan (a way of investugating) ditandai dengan
penggunaan pendekatan saintifik dalam memahami gejala-gejala alam,
menyususn pengetahuan dan segala hal yang teribat di dalamnya. IPA

14
sebagai kumpulan pengetahuan (a body of knowledge) ditandai dengan
keberadaan fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, dan model yang
merupakan hasil dari berbagai bidang ilmiah yang merupakan produk
dari penemuan manusia.IPA sebagai bentuk interaksi antara terknologi
dan masyarakat, sehingga saling mempegaruhi satu sama lain.
Istilah lain yang juga digunakan untuk menyatakan hakikat IPA
adalah IPA sebagai produk untuk pengganti pernyataan IPA sebagai
sebuah kumpulan pengetahuan (a body of knowlwdge), IPA sebagai
sikap untuk pengganti pernyataan IPA sebagai cara atau jalan berpikir
(a way of thinking), dan IPA sebagai proses untuk pengganti
pernyataan IPA sebagai cara untuk penyelidikan (a way of
investigating) (Sutrisno, 2006: 1-2).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
hakikat IPA adalah pengetahuan rasional, objektif, tentang alam
semesta dan isinya, yang tersusun sistematis berdasarkan hasil
percobaan ataupun pengamatan. IPA tersusun dari berbagai macam
komponen hasil percobaan dan pengamatan yang berkaitan satu sama
lain membentuk satu kesatuan yang utuh atas dasar unsur sikap,
proses, produk, dan kaitannya dengan teknologi dan masyarakat.
2. Pembelajaran IPA
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengubah pola
pikir dan tingkah laku manusia melalui upaya pembelajaran dan pelatihan
(Sugihartono dkk, 2013: 4). Pembelajaran merupakan suatu proses
perubahan perilaku sebagai hasil interaksi antara dirinya dan
lingkungannya secara utuh untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hendro Darmojo mendefinisikan IPA sebagai pengetahuan yang
rasional dan objektif tentang alam semesta serta segala isinya, sehingga
pembelajaran IPA diharapkan berperan dalam membelajarkan siswa untuk
mengenal lebih dekat tentang fenomena alam secara utuh dan bermakna
(Usman Samatowa, 2006: 2).

15
Pembelajaran IPA adalah interaksi antara komponen-komponen
pembelajaran dalam bentuk proses pembelajaran untuk mencapai tujuan
yang berbentuk kompetensiyang ditetapkan (Asih dan Eka, 2014: 30).
Lampiran Permendikbud No.21 Tahun 2016 menyatakan bahwa
kompetensi yang harus dikuasai siswa pada pendidikan tingkat dasar
setelah belajar IPA dapat diuraikan secara singkat yaitu:
a. Memiliki sikap ilmiah berupa rasa ingin tahu, jujur, kritis, analitis,
dapat bekerjasama, dan tanggung jawab melalui IPA
b. Mengajukan pertanyaan tentang fenomena IPA, melaksanakan
percobaan, mencatat, dan menyajikan hasil penyelidikan,
menyimpulkan serta melaporkan hasil penyelidikan secara lisan
maupun tulisan untuk menjawab pertanyaan tentang fenomena IPA
tersebut.
c. Memahami konsep dan prinsip IPA dan keterkaitannya serta
menerapkannya dalam menyelesaikan masalah.
Kompetensi yang diuraikan di atas menunjukkan bahwa pembelajaran
IPA memperhatikan karakteristik IPA sebagai sikap, proses, dan produk.
IPA sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang fenomena
alam, sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran diperlukan proses
pembelajaran yang mengaktifkan siswa melalui kegiatan yang dapat
menghidupkan suasana belajar yang menyenangkan. Penguasaan konsep
IPA diperoleh melalui proses IPA antara lain eksperimen, sehingga siswa
dapat menerapkannya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran IPA dilaksanakan sesuai dengan hakikatnya, dan melibatkan
peran aktif dari siswa untuk dapat mencapai pengetahuan, sikap, san
keterampilan yang utuh dan bermakna.
3. Bahan Ajar
a. Definisi Bahan Ajar
National Centre for Competency Based Training menyatakan
bahwa bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk

16
membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses
pembelajaran (Andi Prastowo, 2015: 16). Sejalan dengan pendapat
tersebut, Abdul Majid (2013: 173) menyatakan bahwa bahan ajar
adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu
guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, baik
bahan ajar tertulis maupun tidak tertulis. Akabi (Owolaju, 2016: 705)
menyatakan bahwa bahan ajar dirancang untuk memperkaya proses
belajar mengajar sehingga kontribusi pada pembelajaran yang lebih
baik. Bahan ajar adalah segala bentuk bahan baik yang tertulis
maupun tidak tertulis, yang digunakan untuk membantu guru dalam
melaksanakan proses belajar mengajar dan dapat berkontibusi dalam
pembelajaran yang lebih baik.
Bahan ajar berisi seperangkat materi pembelajaran (teaching
material yang dikemas dalam sebuah kompetensi utuh yang akan
dikuasai siswa dalam kegiatan pembelajaran (Andi Prabowo, 2015:
17). Materi yang dimuat dalam bahan ajar berupa ide, fakta, konsep,
prinsip, kaidah, atau teori, keterampilan dan sikap yang tercakup
dalam mata pelajaran sesuai dengan disiplin ilmu serta informasi
lainnya (Sungkono, dkk. 2003: 1).
Sehingga dari beberapa pernyataan di atas, bahan ajar dapat
didefinisikan sebagai segala bentuk bahan yang berisi bahan-bahan
dan materi pembelajaran berupa pengetahuan (ide, fakta, konsep,
prinsip, kaidah atau teori), keterampilan dan sikap, yang digunakan
untuk membantu guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran
sehingga siswa dapat belajar dengan lebih baik.
Bahan ajar tersusun dari bahan-bahan yang dikumpulkan dari
berbagai sumber belajar, sehingga bahan ajar mengandung unsur
tertentu (Andi Prastowo, 2015: 28). Bahan ajar yang baik minimal
mencakup enam komponen (Abdul Majid, 2013: 173), antara lain:

17
1) Petunjuk belajar
Petunjuk belajar meliputi petunjuk belajar bagi guru dan siswa.
Petunjuk ini menjelaskan tentang bagaimana guru mengajarkan
materi kepada siswa dan bagaimana siswa mempelajari materi yang
ada dalam bahan ajar.
2) Kompetensi yang akan dicapai
Guru mencantumkan kompetensi inti, kompetensi dasar dan
indikator pencapaian hasil belajar yang harus dikuasai siswa dalam
bahan ajar yang disusun. Sehingga tujuan yang harus dicapai siswa
jelas.
3) Informasi pendukung
Informasi pendukung adalah informasi yang melengkapi bahan ajar
sehingga siswa semakin mudah untuk menguasai pengetahuan yang
akan mereka peroleh.
4) Latihan-latihan
Komponen ini merupakan suatu bentuk tugas yang diberikan
kepada siswa untuk melatih kemampuan siswa dalam mempelajari
bahan ajar, sehingga kemampuan siswa yang diharapkan muncul
melalui bahan ajar dapat semakin terasah.
5) Petunjuk kerja, dapat dalam bentuk Lembar Kerja
Petunjuk kerja berisi sejumlah langkah prosedural cara pelaksanaan
kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan oleh siswa berkaitan
dengan praktik dan kegiatan lainnya. Petunjuk kerja, dapat dikemas
dalam bentuk lembar kerja.
6) Evaluasi
Komponen ini adalah salah satu bagian dari proses penilaian
pembelajaran yang digunakan untuk mengukur penguasaan
kompetensi siswa setelah mengikuti proses pembelajaran
menggunakan bahan ajar IPA. Melalui proses evaluasi guru dapat
mengetahui efektivitas bahan ajar atau proses pembelajaran yang

18
diselenggarakan. Evaluasi dikemas dalam bentuk pertanyaan-
pertanyaan yang ditunjukkan pada siswa.
b. Klasifikasi Bahan Ajar
Dalam perkembangan bentuk bahan ajar, maka perlu dibuat suatu
klasifikasi bahan ajar. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah para
guru dalam menyiapkan pembelajaran yang sesuai dengan materi.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2010: 43) ada dua persoalan dalam
penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran pelengkap.
Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut
bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya
(disiplin keilmuannya). Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau
penunjang adalah bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan
seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian
bahan pelajaran pokok.
Beberapa kriteria lain yang menjadi acuan dalam membuat
klasifikasi bahan adalah berdasarkan bentuknya, cara kerjanya, dan
sifatnya, sebagaimana akan diuraikan dalam Andi Prastowo (2011:40)
sebagai berikut:
1) Bahan Ajar Menurut Bentuknya
a) Bahan cetak (printed), yakni sejumlah bahan yang disiapkan
dalam kertas, yang bisa berfungsi untuk pembelajaran atau
penyampaian informasi. Contohnya, handout, buku, modul,
lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto atau gambar,
dan model atau maket.
b) Bahan ajar dengar atau program audio, yakni semua sistem
yang menggunakan sinyal radio secara langsung, yang dapat
dimainkan atau didengar oleh seseorang atau sekelompok
orang. Contohnya, kaset, radio, piringan hitam dan compact
disk audio.
c) Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yakni segala sesuatu
yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan

19
dengan gambar bergerak secara sekuensial. Contohnya, video
compact disk dan film.
d) Bahan ajar interaktif (interactive teaching materials), yakni
kombinasi dari dua atau lebih media (audio, teks, grafik,
gambar, animasi, dan video) oleh penggunanya dimanipulasi
atau diberi perlakuan untuk mengendalikan suatu perintah dan
perilaku alami suatu prestasi. Contohnya, compact disk
interactive.
2) Bahan Ajar Menurut Cara Kerjanya
a) Bahan ajar yang tidak diproyeksikan, yakni bahan ajar yang
tidak memerlukan perangkat proyektor untuk memproyeksikan
isi di dalamnya, sehingga peserta didik bisa langsung
mempergunakan (membaca, melihat, dan mengamati) bahan
ajar tersebut. Contohnya, foto, diagram, display, model, dan
lain sebagainya.
b) Bahan ajar yang diproyeksikan, yakni bahan ajar yang
memerlukan proyektor agar bisa dimanfaatkan dan/atau
dipelajari peserta didik. Contohnya, slide, filmstrips, overhead
transparencies, dan proyeksi computer.
c) Bahan ajar audio, yakni bahan ajar yang berupa sinyal audio
yang direkam dalam suatu media rekam. Untuk
menggunakannya, kita mesti memerlukan alat pemain (player)
media rekam tersebut, seperti tape compo, CD player,
multimedia player, dan lain sebagainya. Contoh bahan ajar
seperti ini adalah kaset, CD, flash disk, dan lain-lain.
d) Bahan ajar video, yakni bahan ajar yang memerlukan alat
pemutar yang biasanya berbentuk video, tape player, VCD
player, DVD player dan sebagainya.
e) Bahan ajar (media) komputer, yakni berbagai jenis bahan ajar
noncetak yang membutuhkan computer untuk menayangkan

20
sesuatu untuk belajar. Contohnya, computer mediated
instruction dan computer based multimedia atau hypermedia
3) Bahan Ajar Menurut Sifatnya
a) Bahan ajar yang berbasiskan teknologi, misalnya audio
cassette, siaran radio, slide, filmstrip, film, video casssets,
siaran televise, video interaktif, computer based tutorial, dan
multimedia.
b) Bahan ajar yang digunakan untuk praktik atau proyek, misalnya
kit sains, lembar observasi, lembar wawancara, dan lain
sebagainya.
c) Bahan ajar yang dibutuhkan untuk keperluan interaksi manusia
(terutama untuk keperluan jarak jauh), misalnya telepon,
handphone, video conferencing, dan lain sebagainya.
d) Bahan ajar cetak, Kemp dan Dayton menyatakan bahwa bahan
ajar cetak adalah sejumlah bahan yang disiapkan dalam kertas,
berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian
informasi (Andi Prastowo, 2015: 40). Bahan ajar cetak
merupakan perangkat bahan yang memuat materi atau isi
pelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dituangkan
dengan menggunakan teknologi cetak (M. Djauhari, Isniatun &
Sungkono, 2008: 4-3).
Stten Petter Ballstaedt (Abdul Majid, 2013: 173)
menyatakan bahwa bahan ajar cetak mendatangkan beberapa
keuntungan, yaitu:
(1) Bahan ajar cetak menampilkan daftar isi, sehingga
memudahkan guru untuk menunjukkan kepada siswa bagian
bahan ajar yang sedang dipelajari
(2) Mudah digunakan dan dipindah-pindahkan
(3) Menawarkan kemudahan dan kreativitas bagi individu

21
(4) Dapat memotivasi pembacanya untuk melakukan aktivitas
seperti memadai, mencatat, membuat sketsa dan lain
sebagainya
(5) Dapat dinikmati sebagai sebuah dokumen yang bernilai
besar.
Hal-hal yang perlu dimengerti untuk menyusun bahan
ajar cetak yaitu judul yang disajikan harus berintikan pada
kompetensi dasar atau materi pokok yang dikembangkan dalam
bahan ajar. Selain itu bahan ajar sebaiknya disusun dengan
urutan yang baik dan jelas, menggunakan bahasa yang mudah
dengan kalimat yang efektif dan tidak terlalu panjang. Bahan
ajar dapat mendorong pembaca dalam hal ini siswa berpikir atas
stimulun yang disajikan dalam bahan ajar. Uruf yang digunakan
dalam bahan ajar tidak terlalu kecil agar mudah untuk dibaca
(Andi Prastowo, 2015: 73-74).
Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa bahan
ajar cetak adalah sejumlah bahan yang memuat bahan dan
materi pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran, yang
tertuang dalam kertas melalui teknologi cetak dan berfungsi
untuk pelaksanaan pembelajaran atau penyampaian informasi.
c. Struktur Bahan Ajar
Bahan ajar terdiri dari berbagai bagian yang dipadukan menjadi
satu membentuk bahan ajar yang utuh dan layak untuk digunakan.
Susunan tiap bagian inilah yang disebut sebagai struktur bahan ajar.
Menurut Andi Prastowo (2015: 65) secara umum bahan ajar terdiri
dari tujuh bagian yaitu judul, petunjuk belajar, kompetensi dasar,
materi pokok, informasi pendukung, latihan, tugas, lembar kerja, dan
penilaian.
Dalam penyusunannya, bahan ajar memiliki syarat-syarat tertentu
yang membedakannya dari bahan-bahan pengetahuan yang tidak
terdapat syarat pokok penyusunan bahan ajar di dalamnya. Menurut

22
Suhartono, dkk (2007: 78-79) persyaratan dalam penyusunan bahan
ajar harus memuat:
1. Teori, istilah, persamaan
2. Contoh soal dan contoh praktik
3. Tugas-tugas latihan, pertanyaan, dan soal
4. Jawaban dan penyelesaian beberapa tugas
5. Penjelasan mengenai sasaran belajar, contoh ujian
6. Petunjuk tentang bahan ajar yang dianggap diketahui
7. Sumber pustaka
8. Sumber belajar.
d. Peran Bahan Ajar dalam Pembelajaran
Bahan ajar memiliki peran untuk membuat siswa lebih aktif dalam
belajar, karena siswa tidak hanya sekedar mendengarkan uraian materi
yang disampaikan guru dan menjadi pendukung siswa untuk belajar
lebih baik (Sungkono, dkk. 2003: 2)
Dengan menggunakan bahan ajar guru tidak perlu memberi
ceramah pada siswa tentang keseluruhan materi pembelajaran tetapi
guru merencanakan dan membimbing siswa untuk belajar,
memfasilitasi siswa belajar, memonitir dan mengevaluasi siswa
(Sungkono, dkk. 2003: 2).
4. Cerita Anak
Puryanto (2008: 7) mengemukakan cerita anak adalah cerita yang
mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit,
menggunkan setting yang ada disekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan
penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya bahasanya mudah
dipahami tapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut orang yang
tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. Wahidin
mengungkapkan bahwa cerita anak dapat berfungsi sebagai media
pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, mengekbangkan
kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak.
Mengacu pada pandangan tersebut dapat disimpulkan cerita anak adalah

23
cerita yang dibuat berdasarkan dunia dan karakteristik anak, dengan
menjadikan anak sebagai pusat, landasan dan alasan dari cerita yang
dibuat.
Dalam penelitian ini, dikembangkan bahan ajar berbasis cerita anak
dengan pendekatan saintifik pada materi energi dan perubahannya. Bahan
ajar yang dikembangan merupakan bahan ajar berbentuk cerita anak
menggunakan pendekatan saintifik materi energi dan perubahannya.
5. Pendekatan Saintifik
a. Pengertian Pendekatan Saintifik
Menurut Hosnan, M (2016: 32) mengemukakan bahwa
pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang
sedemikian rupa untuk mengaktifkan peserta didik dalam
mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati (untuk mengidentifikasi dan menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
ditemukan.
Pendekatan saintifik adalah pendekatan pembelajaran yang
mengarahkan siswa untuk melakukan proses pencarian pengetahuan
tentang materi pelajaran dengan cara menerapkan kegiatan layaknya
seorang ilmuwan dengan segala proses sainsnya dalam penyelidikan
ilmiah, artinya siswa dibimbing untuk menemukan sendiri berbagai
konsep, fakta, dan nilai-nilai baru yang diperlukan untuk
kehidupannya (Ine, M. E. 2015: 271).
Pendekatan saintifik menurut Shoimin, A (2014: 165)
mencakup tiga ranah yaitu ranah sikap yang mengarahkan siswa untuk
tahu mengapa, ranah pengetahuan yang mengarahkan siswa agar tahu
apa, dam ranah keterampilan yang mengarahkan siswa agar tahu
bagaimana.

24
Berdasarkan beberapa pendapat ahli tentang pendekatan
saintifik, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik adalah
suatu proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa, agar
peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum, atau prinsip
melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau
menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau
merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik,
menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan
konsep, hukum, atau prinsip yang ditemukan.
b. Kriteria Pendekatan Saintifik
Menurut Majid, A (2014: 197) mengemukakan bahwa proses
pembelajaran dapat dikatakan ilmiah jika dipandu dengan kaidah-
kaidah pendekatan ilmiah seperti materi pembelajaran berdasarkan
fakta, interaksi edukatif antara guru dan siswa berdasarkan pemikiran
yang objektif, mendorong siswa untuk berpikir kritis, hipotesis dan
mengembangkan pola berpikir yang rasional berdasarkan konsep, teori
dan fakta empiris.
Karakteristik pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah: 1)
berpusat pada siswa; 2) melibatkan keterampilan proses sains; 3)
melibatkan proses-proses kognitif yang potensial dalam merangsang
perkembangan intelek, khususnya keterampilan berpikir tingkat tinggi
siswa, dan 4) dapat mengembangkan karakter siswa (Hosnan, M.
2016: 36).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
kriteria pendekatan saintifik yaitu berpusat pada siswa, pembelajaran
berdasarkan fakta, interaksi edukatif antara guru dan siswa
berdasarkan pemikiran yang objektif, mendorong siswa untuk berpikir
kritis, hipotesis dan mengembangkan pola berpikir yang rasional
berdasarkan konsep, teori dan fakta empiris.

25
c. Tujuan Pendekatan Saintifik
Tujuan pendekatan saintifik menurut Kemendikbud (Hosnan,M.
2016: 36) yaitu untuk meningkatkan kemampuan intelek, membentuk
kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah secara
sistematik, terciptanya kondisi pembelajaran dimana siswa merasa
bahwa belajar itu merupakan suatu kebutuhan, diperolehnya
pembelajaran yang tinggi, melatih siswa dalam mengomunikasikan
ide-ide, dan mengembangkan karakter siswa.
d. Langkah dalam Pendekatan Saintifik
Langkah pendekatan saintifik menurut Daryanto (2014: 60) dalam
kegiatan belajar mengajar meliputi kegiatan mengamati, menananya,
mengumpulkan informasi, mengolah informasi, menyimpulkan,
mengomunikasikan.
Menurut Hajar, S (2016: 58) mengemukakan lima aspek
pendekatan ilmiah meliputi kegiatan mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, mengolah informasi, menyimpulkan, dan
mengomunikasikan).
Hosnan, M (2016: 82) menjelaskan langkah-langkah dalam
pendekatan saintifik yaitu mengamati dapat dilakukan dengan melihat
membaca, mendengar, dan menyimak; menanya yakni mengajukan
pertanyaan tentang materi yang belum dipahami; mengumpulkan
informasi yang dilakukan dengan mencari informasi dari sumber lain
selain buku teks dan wawancara; mengolah informasi yang diperoleh
dari kegiatan eksperimen dan mengumpulkan informasi; dan
mengomunikasikan yang merupakan proses penyampaian hasil olahan
informasi.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas dapat disimpulkan
bahwa langkah-langkah pendekatan saintifik meliputi kegiatan
mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi,
dan mengomunikasikan.

26
6. Materi Energi dan Perubahannya
a. Hakikat Energi dan Perubahannya
1) Pengertian Energi
Energi adalah suatu besaran yang kita hubungkan dengan
sistem dari satu atau banyak objek. Jika sebuah gaya mengubah
salah satu objek melalui gerakan, maka jumlah energi berubah.
Energi juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak terlihat,
namun pengaruhnya dapat dirasakan. Pada tubuh kita terdapat
energi. Dengan energi itu, kita dapat melakukan berbagai
kegiatan, seperti berlari, bermain, dan belajar. Semua kegiatan
tersebut memerlukan energi. Energi merupakan kemampuan
untuk melakukan suatu usaha atau kerja. Energi disebut juga
tenaga. Jadi, makin banyak kerja yang kita lakukan, makin
banyak tenaga yang kita keluarkan.
(a) Energi Panas
Semua yang dapat menimbulkan panas disebut sumber
energi panas. Energi panas bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Misalnya, untuk mengeringkan pakaian, menyetrika pakaian, dan
memasak makanan. Sumber utama panas di bumi berasal dari
sinar matahari. Contoh sumber panas yang lain adalah api,
peralatan listrik yang menghasilkan panas, dan gesekan antara dua
benda yang menimbulkan panas. Perpindahan energi panas dapat
berpindah melalui tiga cara yaitu :
(1) Radiasi (Pancaran)
Perpindahan panas tanpa zat perantara disebut radiasi. Contoh:
pancaran sinar matahari ke bumi. Alat untuk mengetahui
adanya pancaran panas disebut termoskop.
(2) Konduksi (hantaran)
Peristiwa perambatan panas yang memerlukan suatu zat/
medium tanpa disertai adanya perpindahan bagian-bagian

27
zat/medium disebut konduksi. Misalnya, sendok terasa panas
saat digunakan untuk mengaduk kopi panas.
(3) Konveksi (aliran)
Perpindahan panas disertai aliran zat perantaranya disebut
konveksi. Misalnya air yang panas akan bergerak naik.
(b) Energi Bunyi
Sumber bunyi adalah semua getaran benda yang dapat
menghasilkan bunyi. Bunyi yang keluar ketika kita bicara
dihasilkan oleh getaran pita suara pada tenggorokan. Banyaknya
getaran yang terjadi dalam satu detik dapat disebut frekuensi.
Bunyi yang frekuensinya teratur disebut nada. Sedangkan bunyi
yang frekuensinya tidak teratur disebut desah. Amplitudo ialah
simpangan terjauh dari kedudukan kesetimbangan, yaitu
kedudukan saat benda tidak bergetar. Kemampuan pendengaran
manusia sangat terbatas. Bunyi yang dapat didengar manusia
adalah yang memiliki frekuensi 20 Hz sampai 20.000 Hz, yang
disebut bunyi audiosonik. Bunyi yang frekuensinya kurang dari
20 Hz disebut bunyi infrasonik, yang hanya bisa didengar oleh
hewan tertentu, misalnya jangkrik. Sedangkan bunyi yang
frekuensinya lebih dari 20.000 Hz disebut bunyi ultrasonik. Bunyi
ini hanya bisa didengar oleh hewan tertentu, misalnya lumba-
lumba dan kelelawar. Bunyi dapat merambat melalui berbagai zat
perantara yaitu benda padat, benda cair, dan benda gas. Bunyi
juga dapat memantu, jika dalam perambatannya dihalangi oleh
benda yang permukaannya keras, seperti: batu, kayu, besi, seng,
kaca, dan sebagainya.
(c) Energi Alternatif
Sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan manusia
antara lain dapat diperoleh dari matahri, angin, air, dan panas
bumi.

28
(1) Energi Matahari
Matahari merupakan sumber energi terbesar bagi bumi.
Energi matahari dapat berupa energi panas dan energi cahaya,
yang keduanya langsung dapat kita gunakan. Energi cahaya
ini dapat langsung kita nikmati. Bumi akan terang pada saat
siang hari, sehingga kita tidak perlu mneyalakan lamapu.
Tumbuhan hijau juga memanfaatkan energi cahaya untuk
membuat makananya.
Energi cahaya matahari dapat berubah menjadi energi listrik
dengan alat yang disebut sel surya. Sel surya dibuat dari
lembaran silikon tipis. Saat cahaya matahari jatuh mengenai
silikon terjadi arus listrik yang mengalir lewat kawat yang
menghubungkan bagian atas dengan bagian bawah. Pada saat
sekarang, sel surya mulai digunakan untuk menggerakkan
mobil dan pesawat terbang bertenaga matahari.
(2) Energi Angin
Tenaga angin sebenarnya sudah dimanfaatkan orang sejak
zaman dahulu. Kapal layar dapat berkeliling dunia dengan
hanya menggunakan energi angin. Kincir angin tradisional
juga masih dapat ditemui den negara Belanda. Saat ini,
tenaga angin dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik,
dengan menggunakan alat yang disebut aerogenerator.
Aerogenerator pada umumnya dipasang di lapangan terbuka
yang sangat luas. Semakin banyak aerogenerator, semakin
besar energi listrik yang dihasilkan.
(3) Energi Air
Aliran air dapat digunakan sebagai sumber energi, yaitu
energi gerak. Energi gerak dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan energi listrik. Aliran air yang semakin banyak
dan deras akan menghasilkan energi listrik yang semakin
besar pula. Stasiun pembangkit listrik tenaga air biasanya

29
dibangun di wilayah perbukitan yang sering terjadi hujan. Air
yang dibendung, posisinya jauh lebih tinggi daripada stasiun
pembangkit listriknya. Air yang dibendung ini lalu dialirkan
melalui terowongan yang menurun. Aliran air tersebut
memutar turbin yang dihubungkan dengan generator.
Generator yang berputar menghasilkan energi listrik.
(4) Energi Panas Bumi (Geotermal)
Tahukan kamu geiser? Geiser yaitu air panas yang
memancar. Tenaga panas bumi dapat digunakan untuk
menghasilkan listrik. Air dingin dari permukaan dipompa dan
dialirkan melalui pipa ke dalam tanah hingga ke lapisan
batuan panas. Sampai saat di sana, air langsung mendidih dan
berubah menjadi uap air panas. Uap air panas ini memutar
turbin. Turbin kemudian memutar generator sehingga listrik
dihasilkan.
2) Perubahan Energi
Penguasaan ilmu pengetahuan akan lebih berguna jika kita
terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tentang perubahan
energi gerak akibat pengaruh udara dapat dimanfaatkan untuk
membuat mainan yang menarik. Sedangkan pengetahuan tentang
perubahan energi bunyi dapat dimanfaatkan untuk membuat alat
musik. Perubahan energi yang paling banyak bisa dimanfaatkan
adalah perubahan energi listrik dirubah ke dalam bentuk energi yang
lainnya. Berikut contoh perubahan energi:
(a) Perubahan dari energi listrik menjadi energi panas, misalnya
setrika listrik dan solder listrik.
(b) Perubahan dari energi listrik menjadi energi suara, misalnya radio
da tape.
(c) Perubahan dari energi listrik menjadi energi cahaya, misalnya
lampu.

30
(d) Perubahan dari energi listrik menjadi energi cahaya (gambar) dan
suara, misalnya televisi.
(e) Perubahan dari energi listrik menjadi energi gerak, misalnya kipas
angin.
(f) Perubahan dari energi listrik menjadi energi panas, misalnya pada
pengering rambut (hair dryer) dan penanak nasi (rice cooker)..
(g) Perubahan dari energi kimia menjadi energi listrik, misalnya pada
aki dan baterai.
(h) Perubahan dari energi cahaya menjadi energi kimia, misalnya
pada saat proses fotosintesis.
(i) Perubahan dari energi gerak menjadi energi listrik, misalnya
terdapat pada dynamo sepeda.
(j) Perubahan dari energi potensial menjadi energi listrik, misalnya
pada pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

b. Pemetaan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator


7. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Cerita Anak dengan
Pendekatan Saintifik Pada Materi Energi dan Perubahannya
a. Definisi Bahan Ajar Berbasis Cerita Anak dengan Pendekatan
Saintifik
Pada penjelasan sebelumnya kita sudah mengetahui apa itu bahan
ajar, cerita anak, dan pendekatan saintifik. Bahan ajar adalah adalah
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor
dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, baik bahan ajar
tertulis maupun tidak tertulis. Cerita anak adalah cerita yang
mengandung tema yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-
belit, menggunakan setting yang ada disekitar atau ada di dunia anak,
tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik, gaya
bahasanya mudah dipahami tetapi mampu mengembangkan bahasa
anak, sudut orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan
anak. Pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang

31
sedemikian rupa untuk mengaktifkan peserta didik dalam
mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui tahapan-tahapan
mengamati (untuk mengidentifikasi dan menemukan masalah),
merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,
mengumpulkan data dari berbagai teknik, menganalisis data, menarik
kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang
ditemukan.
Dari tiga pengertian di atas, dapat diartikan bahwa behan ajar
berbasis cerita anak dengan pendekatan saintifik adalah bahan ajar
cetak berbentuk buku yang di dalamnya berbentuk materi cerita-cerita
anak yang mengandung tema mendidik, alurnya lurus dan tidak
berbelit-belit, menggunakan setting yang ada disekitar atau ada di
dunia anak, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak yang
dikembangkan melalui keterampilan siswa dalam mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi dan
mengomunikasikan informasi yang dikembangkan.
b. Langkah-langkah Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Cerita
Anak dengan Pendekatan Saintifik pada Materi Energi dan
Perubahannya
Bahan ajar berbasis cerita anak dengan mengembangkan
keterampilan saintifik terdiri dari beberapa aspek saintifik, meliputi:
1. Mengamati
Tahap mengamati dilakukan dengan membaca dan mengamati
objek yang terdapat dalam teks tentang kejadian alam yang
berkaitan dengan energi dan perubahannya dalam kehidupan
sehari-hari.
2. Menanya
Kegiatan menanya dalam pendekatan saintifik dapat dilakukan
dengan memberikan pertanyaan yang dapat membangkit-kan rasa
ingin tahu siswa. Guru memberikan sebuah pertanyaan : “Apakah
yang dimaksud energi?.”

32
3. Mengumpulkan informasi
Kegiatan mengumpulkan informasi didapatkan dari mengamati
objek yang ada dalam ceita atau siswa melakukan percobaan
mengenai energi dan perubahannya, kemudian dicatat dalam tabel
hasil pengamatan atau penyelidikan.
4. Mengolah informasi
Data hasil percobaan/penyelidikan diproses atau diolah sehingga
siswa dapat menemukan keterkaitan dan pola satu informasi
dengan informasi lain. Atau dengan kata lain memaknai hasil
percobaan sederhana yang telah dilakukan oleh siswa dengan cara
menguhubungkan antara hasil percobaan dengan teori yang telah
ada dalam cerita yang sudah disajikan. Agar siswa mudah dalam
menghubungkan hasil percobaan dengan teori ataupun informasi
lain, guru dapat membantu mengarahkan siswa dengan pertanyaan-
pertanyaan yang mengarahkan pada kesimpulan yang harus
dirumuskan berdasarkan hasil percobaan siswa. Dalam pengolahan
data siswa dikondisikan belajar secara bersama atau berkelompok
sehingga siswa dapat bekerjasama, berinteraksi dengan empati dan
saling menghormati.
5. Mengomunikasikan
Kegiatan mengomunikasikan dilakukan dengan menyampaikan
hasil pengamatan dan memberikan kesimpulan berdasarkan hasil
analisis baik melalui bahasa tulis ataupun secara lisan.

B. Penelitian yang Relevan


C. Kerangka Berpikir

33