Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

“PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN IPS PADA MATERI


KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA KELAS IV SD”

Makalah ini disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Problematika


Pembelajaran IPS
Dosen Pengampu: Dr.Mintasih Indriayu, M.Pd

OLEH:
ARDANESWARI PUTRI C S031808005
AYU PRATIWI KUSUMA W S031808006
BERNADETA TRI HARDYANTI S031808007
DEWI ASTUTI S031808010

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “PROBLEMATIKA SISWA SD
DALAM MEMPELAJARI MATERI KERAGAMAN SUKU DAN
BUDAYA” dengan baik.
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak akan terselesaikan dengan baik
tanpa bantuan dari berbgai pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan
terimakasih kepada :
1. Dr. Mintarsih Indriayu, M.Pd., dosen mata kuliah Problematika
Pembelajaran IPS di SD yang telah memberikan pengarahan dalam
penyusunan makalah ini.
2. Teman-teman yang selalu memberi dorongan dan semangat kepada
penulis untuk menyelesaikan makalah ini.
Kami sangat menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari
sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun dari pembaca, sangat
kami harapkan demi penulisan makalah-makalah selanjutnya.
Akhirnya, kami mengharapkan semoga maklah ini dapat memberikan
manfaat kepada para pembacannya.
Surakarta, 14 Oktober 2018

Penulis

ii
iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................... Error! Bookmark not defined.


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................... Error! Bookmark not defined.
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ..................................... Error! Bookmark not defined.
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Problematika IPS Di Awal Pembelajaran ................................................. 4
B. Problematika IPS Pada Pemahaman Materi ............................................. 8
C. Problematika IPS Pada Proses Pembelajaran ......................................... 11
D. Problematika IPS Pada Evaluasi ............. Error! Bookmark not defined.
BAB III PENUTUP
A. Simpulan ................................................................................................. 18
B. Saran ....................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ilmu sosial atau ilmu pengetahuan sosial adalah sekelompok disiplin
akademis yang mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia
dan lingkungan sosialnya. Pendidikan merupakan faktor penting dalam
kehidupan manusia. Pendidikan membantu manusia untuk
menumbuhkembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Pendidikan IPS
sebagai salah satu mata pelajaran yang bertujuan meningkatkan dan
menumbuhkan pengetahuan, kesadaran dan sikap sebagai warga negara yang
bertanggung jawab, menuntut pengelolaan pembelajaran secara dinamis
dengan mendekatkan siswa kepada realitas objektif kehidupannya.
Pembelajaran bidang Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS dinilai tidak berhasil
mencapai tujuan yang diharapkan. Selama ini pengembangan kurikulum,
materi, dan pembelajaran IPS pun belum mengacu pada maksud dan tujuan
pendidikan IPS yang dirumuskan para ahli. Para ahli pendidikan IPS
menegaskan tujuan pembelajaran IPS itu agar peserta didik menjadi warga
negara yang baik, mengembangkan kemampuan berpikir untuk dapat
memahami menyikapi dan memecahkan masalah-masalah sosial, serta
memahami dan melanjutkan kebudayaan bangsanya. Dalam realitas
pembelajaran IPS, persoalan manusia dan sosial kemanusian tak banyak
disentuh. Bahkan, dalam proses pembelajaran, guru IPS dan siswa hanya
melakukannya sekadarnya. Tak ada inovasi-inovasi pembelajaran yang konkret
yang bisa membuat pendidikan IPS mencapai tujuan.
Selama ini, pendidikan IPS dianggap sebagai suatu mata pelajaran yang
membosankan, monoton, kurang menyenangkan, terlalu banyak hafalan,
kurang variatif, dan berbagai keluhan lainnya. Hal ini disebabkan proses
pembelajaran IPS, guru IPS kurang optimal baik di dalam memanfaatkan
maupun memberdayakan sumber pembelajaran, karena dalam proses
pembelajaran IPS cenderung masih berpusat pada guru, berpusat pada buku,
dan monomedia. Permasalahan yang muncul dari kondisi pembelajaran IPS

1
tersebut, sebagian siswa menganggap mata pelajaran IPS sebagai mata
pelajaran yang sulit dipahami sehingga siswa cenderung merasa bosan, jenuh
dan malas untuk belajar, siswa kurang termotivasi karena menganggap mata
pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang membutuhkan pemahaman
konsep yang luas. Sehingga aktivitas siswa yang rendah ini dapat
mempengaruhi hasil belajar siswa.
Bertolak dari latar belakang di atas, makalah ini dimaksudkan untuk
mendiskripsikan problematika atau masalah apa yang dihadapi siswa dalam
memahami dan mempelajari materi Keanekaragaman Suku dan Budaya
penyebab terjadinya masalah dan alternatif pemecahan masalah tersebut.
Berdasarkan masalah tersebut, maka makalah ini mengangkat judul
“Problematika Pembelajaran IPS Pada Materi Keragaman Suku Bangsa dan
Budaya kelas IV SD Beserta Alternatif Pemecahannya”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan deskripsi di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini
adalah sebagai berikut :
1. Apa problematika pembelajaran IPS siswa dalam di awal kegiatan
pembelajaran dan alternatif pemecahannya?
2. Apa problematika pembelajaran IPS Siswa dalam pemahaman materi dan
alternatif pemecahannya?
3. Apa problematika pembelajaran IPS siswa pada pembelajaran dan alternatif
pemecahannya?
4. Apa problematika pembelajaran IPS siswa pada evaluasi dan alternatif
pemecahannya ?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah
dikemukakan, makalah ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pemecahan masalah pada problematika IPS di awal
pembelajaran.
2. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan problematika IPS siswa dalam
mempelajari memahami materi.
3. Untuk mengetahui dan mendeskripsikan alternatif pemecahan masalah IPS
pada proses pembelajaran.
4. Untuk mendeskripsikan alternatif keragaman pemecahan masalah terhadap
siswa dalam proses evaluasi.

D. Manfaat Penelitian
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat yaitu memberikan
gambaran mengenai problemtika siswa SD dalam mempelajarai dan
memahami materi keragaman sukudan budaya serta penyebabnya. Selain itu
memberikan gambaran alternatif pemecahan masalah sehingga dapat
menambah ilmu dan pengetahuan untuk menemukan kembali dan
merekonstruksikan materi IPS baik untuk guru, siswa, maupun pembaca.
4

BAB II
PEMBAHASAN
PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN IPS PADA MATERI
KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA KELAS IV SD

A. Problematika IPS di awal Pembelajaran


1. Permasalahan dan Penyebab
Keterampilan guru dalam membuka pelajaran seperti,
menyiapakan peserta didik secara psikis dan fisik, memberikan motivasi
awal, dan memberikan apersepsi atau kaitan materi yang dipelajari pada
pertemuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari terlihat masih
kurang. Keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh
kualitas dan kemampuan guru dalam menginovasikan proses
pembelajaran, sehingga siswa dapat terlibat aktif dalam proses
pembelajaran. Pembelajaran IPS di sekolah dasar pada umumnya
berpusat pada guru (student centered) dan siswa hanya mendengarkan
uraian dan mengamati materi yang dituliskan di papan tulis.
Hal ini yang menyebabkan pembelajaran IPS kurang digemari oleh
siswa. Sebagian siswa mengatakan bahwa mata pelajaran IPS merupakan
mata pelajaran yang membosankan, karena penyajiannya yang selalu
monoton serta hanya membentuk budaya menghafal saja. Selain itu
dalam penyampaian apersepsi atau kaitan materi yang dipelajari pada
pertemuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari kurang
terperinci, hal ini disebabkan karena guru sering mengabaikan kegiatan
apersepsi, karena dalam prakteknya tidaklah mudah. Banyak kesullitan
yang dialami guru, seperti kurangnya penguasaan guru terhadap
apresepsi dan adanya anggapan bahwa penguasaan apersepsi hanya
berpengaruh kecil terhadap proses pembelajaran.
Apresepsi merupakan salah satu hal pokok yang harus diberikan
sebelum kegiatan pembelajaran. Dengan pemberian apersepsi akan
membangkitkan ingatan siswa mengenai materi pelajaran yang lalu.

4
5

Selain itu siswa juga dapat mengetahui keterkaitan antara materi yang
telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya dengan materi yang akan
dipelajari. Kegiatan memberikan apersepsi adalah kegiatan yang
dilakukan oleh guru untuk menciptakan suasana siap mental dan
menimbulkan perhatian siswa agar terpusat pada hal-hal yang akan
dipelajari. Selain apersepsi, tujuan pembelajaran juga disampaikan di
awal pembelajaran dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami
siswa.
Dalam kegiatan pembelajaran motivasi juga sangat diperlukan,
sebab siswa yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak akan
mungkin melakukan aktivitas belajar, sedangkan siswa yang sudah
termotivasi akan mendapatkan hasil belajar yang optimal. Menurut Mc
Donald (Hamalik, 2009: 158), motivasi adalah dorongan dasar yang
menggerakkan seseorang bertingkah laku. Tanpa motivasi, pembelajaran
yang terjadi akan kurang bermakna dan tujuan pembelajaran tidak akan
tercapai dengan maksimal. Dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
yang tercantum dalam KTSP (2006: 271) yaitu berpikir secara kritis,
rasional, kreatif, berpartisipasi aktif dan bertanggung jawa, serta dapat
berinteraksi dengan individu lain. Beberpa tujuan tersebut dapat tercapai
apabila terdapat motivasi pembelajaran dari dalam dan dari luar individu
peserta didik.
Jadi kegiatan memotivasi (teknik memotivasi) dapat berupa:
a) Menginformasikan tujuan pembelajaran
b) Menginformasikan manfaat pembelajaran
c) Menginformasikan garis besar materi pembelajaran
2. Solusi
Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD harus sesuai dengan
karakteristik usia anak. Siswa kelas IV SD berumur antara 9-10 tahun.
Buhler berpendapat bahwa pada usia 9-11 tahun berada pada fase sekolah
dasar. Pada fase ini anak mulai menyelidik, mencoba, dan berekspresi
yang dirangsang oleh dorongan-dorongan menyelidik dan rasa ingin tahu
6

yang besar, masa pemusatan dan penimbunan tenaga untuk berlatih,


menjelajah, dan bereksplorasi (Sobur, A. 2016: 118). Pada akhir fase ini
secara tidak sadar, anak mulai berpikir tentang diri pribadi. Menurut Piaget
anak usia (6/7-11/12 tahun) termasuk dalam tahap operasional konkret,
dimana anak mampu berpikir rasional dalam menyelesaikan suatu
permasalahan yang konkret/aktual (Desmita, 2012: 156). Mereka
memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh, dan menganggap tahun
yang akan sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan adalah
sekarang (kongkrit), dan bukan masa depan yang belum mereka pahami
(abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang
bersifat abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan
(continuity), arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan,
demokrasi, nilai, peranan, permintaan, atau kelangkaan adalah konsep-
konsep abstrak yang dalam program studi IPS harus dibelajarkan kepada
siswa SD.
Berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan
konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Bruner memberikan pemecahan
berbentuk jembatan bailey untuk mengkongkritkan yang abstrak itu
dengan enactive, iconic, dan symbolic melalui percontohan dengan gerak
tubuh, gambar, bagan, peta, grafik, lambing, keterangan lanjut, atau
elaborasi dalam kata-kata yang dapat dipahami siswa. Itulah sebabnya
pada siswa kelas IV SD sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual dan
melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntuk kemampuan intelektual
atau kemampuan kognitif. Jika sebelumnya daya pikir siswa masih bersifat
imaginative atau berkhayal, maka pada masa ini dyaa pikir siswa sudah
berkembang kearah berpikir konkret atau rasional.
Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan
kemampuan guru dalam membangun apresepsi siswa dalam materi
Keragaman suku bangsa dan budaya yaitu dengan bertanya kepada siswa
tentang : kemarin kita sudah belajar tentang macam-macam suku bangsa di
Indonesi, coba siapa yang dapat menyebutkan suku-suku bangsa yang ada
7

di Indonesia?, Berasal dari suku manakah kalian?, Apakah kalian tahu


nama rumah adat dari Jawa Tengah?. Selain itu, solusi yang dapat
digunakan untuk mengatasi permasalahan kemampuan guru dalam
memotivasi siswa yaitu menggunakan media video berupa nyanyian suku-
suku bangsa yang ada di Indonesia.
Azhar Arsyad (2016: 50) menyatakan bahwa video dapat
menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara
alamiah atau suara yang sesuai. Video dapat menyajikkan informasi,
memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan
keterampilan, dan mempengaruhi sikap. Hal tersebut sesuai dengan taraf
berpikir anak SD yang masih berada dalam tahap berpikir konkrit dimana
anak hanya mampu berpikir dengan logic jika untuk memecahkan masalah
yang sifatnya konkrit atau nyata saja, yaitu dengan cara mengamati atau
melakukan sesuatu yang berkitan dengan pemecahan masalah itu.
Sementara itu Hernawan (2007: 7) mengungkapkan bahwa
berdasarkan hasil penelitian bahwa informasi yang disampaikan secara
audio visual akan lebih kuat diingat dibandingkan dengan penyampaian
informasi secara auditori saja atau visual saja. Oleh karena itu , alat-alat
audio visual dapat membuat suatu pengertian atau informasi lebih berarti.
Arief S. Sadiman, dkk (2014: 74) menyatakan bahwa video sebagai
media pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan media
video antara lain:
1) Dapat menarik perhatian untuk periode-periode singkat dan
rangsangan luas lainnya.
2) Demonstrasi yang sulit dapat dipersiapkan dan direkam sebelumnya,
sehingga pada waktu mengajar guru bisa memusatkan perhatian pada
penyajian dan siswanya.
3) Dapat menghemat waktu dan rekaman dapat diputar berulang-ulang.
4) Keras lemahnya suara dapat diatur.
5) Gambar proyeksi dapat dibekukan untuk diamati.
6) Objek yang sedang bergerak dapat diamati lebih dekat.
8

Sementara kekurangan yang perlu diperhatikan sehubungan dengan


penggunaan media video dalam proses belajar mengajar adalah:
1) Komunikasi bersifat satu arah dan perlu diimbangi dengan pencarian
bentuk umpan balik yang lain.
2) Kurang mampu menampilkan detail obyek yang disajikan secara
sempurna.
3) Memerlukan peralatan yang mahal dan kompleks.

B. Problematika IPS Pada Pemahaman Materi


1. Permasalahan dan Penyebab
Materi Keragaman suku bangsa dan budaya yang cukup luas
mengakibatkan siswa kesulitan memahami teori dan konsep. Keragaman
suku bangsa di Indonesia tersebar di 34 provinsi dengan ciri fisik yang
berbeda-beda, sedangkan keragaman budaya di Indonesia meliputi: tarian
pakaian adat, senjata tradisional, alat musik, dan rumah adat. Siswa
dihadapkan pada materi suku bangsa dengan Keragaman budayanya
yaitu rumah adat, pakaian adat, dan senjata tradisional khususnya pada
provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah, Bali, Papua, Irian Jaya, Sulawesi
Tengah, Kalimantan Tengah, NTT dan DKI. Pada pembelajaran tentang
keragaman suku bangsa, banyak anak yang masih bingung dan belum
hafal nama-nama suku di beberapa provinsi tertentu, karena banyaknya
materi yang harus disampaikan dan dalam penyampaiannya terkadang
kurang jelas, sehingga anak cenderung bosen untuk mendengarkan,
membaca, dan mengerjakan soal.
Suparmini (2015) dalam penelitiannya pada siswa kelas IV SD
mengungkapkan bahwa faktor penyebab rendahnya nilai hasil belajar
siswa ini dikarenakan beberapa faktor diantaranya, karena mata pelajaran
IPS merupakan mata pelajaran yang membosankan bagi siswa karena
harus menghafal. Penyebab lain adanya materi yang terlalu luas dan
kegiatan pembelajaran pada umumnya berpusat pada guru (student
centered) dan siswa hanya mendengarkan uraian dan mengamati materi
9

yang dituliskan di papan tulis. Penyajian materi yang kurang tepat


menyebabkan materi keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia
tidak membekas dalam pikiran siswa.
Selain itu Baihaqi, dkk (2018) juga mengungkapkan bahwa studi
pendahuluan di sekolah dasar menunjukkan bahwa pembelajaran IPS
dianggap membosankan karena dalam memberikan materi pembelajaran
guru cenderung menggunakan metode ceramah dan teksbook. Selain itu,
pembelajaran terkesan monoton dan searah karena guru lebih
mendominasi dalam pembelajaran, sehingga pemahaman siswa terhadap
materi-materi pembelajaran IPS masih rendah.
Dari beberapa masalah diatas, dapat disimpulkan bahwa penyebab
mata pelajaran IPS khususnya materi keragaman suku bangsa dan budaya
yang cukup luas mengakibatkan siswa kesulitan memahami teori dan
konsep dan penggunaan pendekatan pembelajaran yang kurang inovatif,
sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

2. Solusi
Penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
permasalahan di atas yaitu metode peta pikiran (mind mappinging). Tony
Buzan (2012: 4) mengemukakan bahwa mind map adalah cara mencatat
yang kreatif dan inovatif, cara mudah memasukkan dan mengeluarkan
informasi dalam otak, mind map menggunakan warna, simbol, kata, garis
lengkung, dan gambar yang sesuai dengan cara kerja otak.. Melalui
penggunaan metode mind map siswa akan mengaktifkan seluruh otak,
memungkinkan siswa untuk fokus pada pokok bahasan, memungkinkan
siswa untuk mengelompokkan konsep dan membandingkannya. Menurut
Susanto Windura (2008: 16) Mind map adalah suatu teknis grafis yang
memungkinkan kita untuk mengeksplorasi seluruh kemampuan otak kita
untuk keperluan berpikir dan belajar. Jadi mind map merupakan cara
mudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil
informasi ke luar dari otak sehingga dapat menghasilkan cara untuk
10

mencatat yang kreatif dan efefktif sesuai dengan peta pikiran kita. Alasan
digunakan media mind map, karena media ini sesuai dengan materi yang
akan disampaikan dan lebih memuat suasana belajar yang lebih
menyenangkan. Materi Keragaman Suku Bangsa dan Budaya merupakan
materi IPS yang perfokus pada pemahaman siswa untuk mempelajari
berbagai suku yang tardapat di provinsi Sumatera Barat, Jawa Tengah,
Bali, Papua, Irian Jaya, Sulawesi Tengah, kalimantan Tengah, NTT, dan
DKI. Siswa juga dapat menemukan berbagai jenis-jenis keragaman
budayanya yaitu rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tarian, dan
alat musik. Penggunaan media mind mappinging melibatkan siswa secara
langsung dalam proses pembelajaran, dengan demikian diharapkan siswa
dapat lebih mudah mengingat dan memahami materi tersebut.
Hasil penelitian Brett D. Jones (2012) yang berjudul “The Effect of
Mind Mapping Activities on Students Motivaion” membuktikan bahwa
penerapan media pemetaan pikiran akan mempengaruhi motivasi siswa
dalam pembelajaran.
Oleh karena itu, penggunaan media mind mappinging dapat
membantu suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan
membangkitkan minat belajar siswa dalam proses pembelajaran. Siswa
didorong untuk menggunakan imajinasi dan pengetahuaannya untuk
membuat mind map sesuai dengan materi yang diajarkan. Langkah-
langkah pembelajaran dengan media mind mappinging adalah sebagai
berikut: (1) menyampaikan kompetensi dan memberikan penjelasan
singkat mengenai materi pembelajaran; (2) membagi siswa dalam
beberapa kelompok untuk mempelajari dan memahami isi mind
mappinging berdasarkan nama provinsi yang didapat; (3) siswa bekerja
dalam kelompok untuk berdiskusi tentang nama-nama suku yang ada di
provinsi tersebut, rumah adat, pakaian adat, senjata tradisional, tarian,
dan alat musiknya; (4) siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan
kelas; (5) guru dan siswa memberikan kesimpulan dari pembelajaran
yang telah berlangsung.
11

Tony Buzan (2012: 8) mengungkapkan bahwa metode mind


mapping mempunyai beberapa kelebihan yaitu: (1) mengaktifkan seluruh
otak; (2) membersihkan akal dan kekusutan mental; (3) memungkinkan
kita berfokus pada pokok bahasan, (4) membantu menunjukkan
hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah; (5)
memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian; dan (6)
memungkinkan kita untuk mengelompokkan konsep, dan membantu
siswa untuk membandingkannya.

C. Problematika IPS pada Proses Pembelajaran


1. Permasalahan dan Penyebab
Keragaman suku dan budaya Indonesia merupakan salah satu
materi IPS yang cukup banyak. Apabila tidak diajarkan dengan tepat,
maka akan menimbulkan kesulitan bagi siswa. Menurut Suparmini (2015:
162), permasalahan dalam proses pembelajaran yaitu siswa merasa
bosan dalam pembelajaran IPS karena identik dengan menghafal. Selain
itu, menurut Kosasih dan Mulyani (2017: 399), siswa pasif dalam
pembelajaran sehingga keaktifan siswa menjadi rendah.
Penyebab permaslahan tersebut antara lain: 1) guru masih
menggunakan metode ceramah dan penugasan, 2) media pembelajaran
masih konvensional, dan 3) motivasi dan aktivitas siswa masih rendah
(Mulyarsih, 2010: 99). Selain itu, menurut Kalsum dkk (2014: 82),
penyebab permasalahan dalam proses belajar IPS adalah penyajian
materi pembelajaran kurang menarik minat dan perhatian siswa sehingga
siswa cenderung merasa bosan. Selain itu pemikiran siswa lebih banyak
ke hal-hal yang abstrak dari pada hal-hal yang konkret.
2. Solusi
Berdasarkan paparan permasalahan pada bagian sebelumnya,
penulis memilih salah satu cara untuk diterapkan dalam mempelajari
materi keragaman suku dan budaya yaitu dengan menggunakan media
12

pembelajaran. Menurut Arsyad (2013:4) media adalah komponen sumber


belajar atau wahana fisik yang mengandung materi instruksional di
lingkungan siswa yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Media
memiliki fungsi (Daryanto, 2010: 5) yaitu: 1) memperjelas pesan agar
tidak terlalu verbalistis, 2) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga
dan daya indra, 3) menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung
antara siswa dengan sumber belajar, 4) memungkinkan siswa belajar
mandiri sesuai dengan dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya.
Terdapat beberapa jenis media, di antaranya adalah media grafis.
Media grafis adalah suatu penyajian secara visual yang menggunakan
titik-titik, garis-garis, gambar-gambar, tulisan-tulisan atau simbol visual
yang lain dengan maksud untuk mengihtisarkan, menggambarkan dan
merangkum suatu ide, data atau kejadian. Media grafis memiliki
kelebihan dan kelemahan. Kelebihan dari media grafis adalah bentuknya
sederhana, ekonomis, bahan mudah diperoleh, dapat menyampaikan
rangkuman, mampu mengatasi keterbatasan ruang dan waktu, tidak
memerlukan peralatan khusus, mudah dalam penempatan, sedikit
memerlukan informasi tambahan, dapat membandingkan suatu
perubahan, dapat divariasi antara media satu dengan yang lainnya.
Sedangkan kelemahan dari media grafis adalah tidak dapat menjangkau
kelompok besar, hanya menekankan persepsi indra penglihatan, tidak
menampilkan unsur audio dan motion (Daryanto, 2010: 19). Media grafis
untuk mempelajari keragaman suku dan budaya Indonesia dituangkan
dalam kartu yaitu kartu kuartet.
Kartu kuartet merupakan permainan kartu yang terdiri dari
sejumlah kartu bergambar dengan tema yang telah ditentukan. Pada
setiap kartu terdapat judul dan sub judul untuk menjelaskan gambar
tersebut. Pada setiap kartu terdapat judul di bagian tengah atas,
sedangkan di atas gambar terdapat kata-kata yang merupakan sub tema,
13

yakni dua baris di bagian kanan dan dua baris di bagian kiri. Salah satu
dari empat kata tersebut mengacu kepada gambar yang terdapat di
bawah kata tersebut dan biasanya berwama lain atau digaris bawahi dari
keempat kata yang terdapat pada bagian atas kartu (Zulfikar & Azizah,
2017: 159).
Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran dengan kartu kuartet
adalah sebagai berikut (Karsono dkk, 2014: 45):
1. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok di mana setiap
kelompok terdiri dari 4 orang.
2. Setiap kelompok diberi satu set kartu kuartet.
3. Setiap pemain dalam satu kelompok berusaha megumpulkan
dan mencari pasangan dari tema kartu yang dimiliknya yang
belum lengkap. Pemain tersebut boleh bertanya kepada lawan
yang duduk di depannya, atau yang duduk di samping kanan
dan kirinya.
4. Bila nama kartu yang dimaksud tepat maka lawan harus
memberikannya kepada si peminta kartu, namun jika salah
permainan dilanjutkan pada urutan penanya berikutnya.
5. Bila sudah terkumpul 4 kartu berpsangan maka kartu tersebut
harus ditumpuk berjajar rapi di depan pemain.
6. Setelah semua kartu habis dan terkumpul maka diadakan
penghitungan akhir siapa yang terbanyak dan siapa yang paling
sedikit mengumpulkan kartu.
7. Lebih menarik lagi jika pemenang diberikan penghargaan dan
yang kalah diberi hukuman yang sifatnya lucu tapi mendidik.
Kartu kuartet yang digunakan untuk mengatasi permasalahan
dalam proses pembelajaran mengenai materi keragaman suku dan
budaya Indonesia dibatasi sesuai dengan bentuk-bentuk keragaman yang
dipelajari berdasarkan Kompetensi Dasar. Bentuk keragaman yang
14

dipelajari adalah suku bangsa, rumah adat, pakaian adat, senjata


tradisional, tarian, dan alat musik. Selain itu, tidak semua suku bangsa
dan kebudayaan dari setiap provinsi dipelajari. Provinsi yang digunakan
adalah Sumatera Barat, Jawa Tengah, Bali, Papua, Irian Jaya, Sulawesi
Tengah, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Dan Jakarta.
Dengan demikian, setiap kartu kuartet memuat bentuk keragaman
suku dan budaya sebagai berikut:
Kartu 1: memuat suku dan pakaian adat
Kartu 2: memuat rumah adat
Kartu 3: memuat alat musik dan tarian tradisional
Kartu 4: memuat senjata tradisional

D. Problematika IPS Pada Evaluasi


1. Permasalahan Dan Penyebabnya
Evaluasi dan penilaian mata pelajaran IPS pada materi materi
keragaman suku bangsa dan budaya masih kurang terlaksanan dengan
baik. Seharusnya, dalam kegiatan pembelajaran guru memperhatikan
proses interaksi saat proses pembelajaran berlangsung dan proses
evaluasi pembelajaran. Proses interaksi dan evaluasi yang berlangsung
antara siswa dan guru adalah hal yang penting. Untuk menilai apakah
interaksi tersebut membuat siswa aktif dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran adalah dengan melakukan evaluasi pembelajaran. Menurut
Wirawan (2012:7) evaluasi adalah riset untuk mengumpulkan,
menganalisis, dan menyajikan informasi yang bermanfaat mengenai
objek evaluasi, selanjutnya menilainya dan membandingkannya dengan
indikator evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil
keputusan mengenai objek evaluasi tersebut. Dalam hal ini, guru
memiliki tugas untuk melakukan penilaian atau proses evaluasi
pendidikan terkait dengan pencapaian siswanya dalam belajar.
15

Pada proses evaluasi masih ada sebagian guru yang belum


sepenuhnya paham mengenai tujuan evaluasi. Dan hal ini terjadi selama
pelajaran IPS. Evaluasi pada mata pelajaran IPS masih menjadi
kelemahan dalam proses pembelajaran IPS. Dalam menilai tujuan IPS
kita harus memperhatikan aspek-aspek yang berikut : 1. Hasil belajar
berupa pengetahuan dan pengertian, 2. Hasil belajar dalam bentuk sikap
dan kelakuan sebagai warga negera yang baik, 3. Hasil belajar dalam
bentuk kemampuan untuk menggunakan metode ilmiah dalam
memecahkan masalah-masalah sosial, dan 4. Hasil belajar dalam bentuk
keterampilan dalam menggunakan alat-alat IPS seperti peta, grafik, tabel
dan lain-lain. Untuk menilai hasil belajar yang beranekaragam itu
diperlukan berbagai macam alat evaluasi.
Tujuan proses pembelajaran dan evaluasi terdapat hubungan yang
erat. Kekurangan pada salah satu aspek akan mempengaruhi aspek
lainnya. Karena itu apa saja yang kita ajarkan harus segera kita nilai
untuk mengetahui hingga hasil yang kita peroleh, sesuai dengan tujuan
yang ingin kita capai. Pada saat guru merumuskan tujuan pelajaran ia
juga harus memikirkan cara menyampaikannya dan untuk menilainya.
Dalam evaluasi yang kontinu guru segera menemukan kekurangan-
kekurangan dalam prosedur belajar mengajar dan berusaha mengadakan
perbaikan. Dalam hal ini guru masih melaksanakan hal tersebut, masih
ditemukan beberapa kekeliruan dalam proses evaluasi dan penilaian,
khususnya pada mata pelajaran IPS. Guru belum sepenuhnya
melaksanakan kegiatan evaluasi dan penilaian secara maksimal.
2. Solusi
Pada kegiatan evaluasi pembelajaran penilaian dengan prosedur tes
formatif, pretest dan post test dapat menjadi alternatif solusi yang dapat
diterapkan oleh guru. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan
pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan atau topik, dan
dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses
pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangkan,
16

pretest dan pos ttest adalah suatu kegiatan evaluasi yang dilakukan oleh
guru untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan, kemampuan,
bakat, dan kepribadian siswa dengan memberikan seperangkat
pertanyaan atau tugas yang direncanakan dengan memiliki ketentuan
atau jawaban yang dianggap benar, baik itu secara tertulis maupun lisan.
Maksud dari evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan di
tengah-tengah atau pada saat berlangsungnya proses pembelajaran, yaitu
dilaksanakan pada setiap kali satuan pembelajaran atau subpokok
bahasan dapat diselesaikan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana
peserta didik “telah terbentuk” sesuai dengan tujuan pengajaran yang
telah ditentukan. (Sudijono, 2007: 23). Winkel menyatakan bahwa yang
dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama
proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru
memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah
dicapai.
Penilaian dengan prosedur pretest adalah suatu bentuk pertanyaan,
yang diberikan guru kepada peserta didik sebelum memulai suatu
pelajaran. Pertanyaan yang ditanya adalah materi yang akan diajar pada
hari itu (materi baru). Pertanyaan itu biasanya dilakukan guru di awal
pembukaan pelajaran. Pretest bisa di artikan sebagai kegiatan menguji
tingkatan pengetahuan siswa terhadap materi yang akan disampaikan,
kegiatan pretest dilakukan sebelum kegiatan pengajaran diberikan.
Adapun manfaat dari diadakannya pretest adalah untuk mengetahui
kemampuan awal siswa mengenai pelajaran yang disampaikan. Dengan
mengetahui kemampuan awal siswa ini, guru akan dapat menentukan
cara penyampaian pelajaran yang akan ditempuh nanti.
Sedangkan, penilaian dengan prosedur posttest adalah bentuk
pertanyaan yang diberikan setelah pelajaran atau materi telah
disampaikan. Dengan kata lain, posttest adalah evaluasi akhir saat materi
yang di ajarkan pada hari itu telah diberikan yang mana seorang guru
memberikan posttest dengan maksud apakah peserta didik sudah
17

mengerti dan memahami mengenai materi yang telah diberikan. Manfaat


dari diadakannya posttest ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang
kemampuan yang dicapai setelah berakhirnya penyampaian pelajaran.
Hasil pos test ini dibandingkan dengan hasil pretest yang telah dilakukan
sebelumnya sehingga akan diketahui seberapa jauh efek atau pengaruh
dari pengajaran yang telah dilaksanakan. Disamping itu sekaligus dapat
diketahui bagian-bagian mana dari bahan pengajaran yang masih belum
dipahami oleh siswa.
Evaluasi merupakan satu kegiatan utama yang harus dilaksanakan
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Melalui evaluasi kita dapat
mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat,
hubungan sosial, dan kepribadian peserta didik serta keberhasilan suatu
program. Dengan melaksanakan tahap evaluasi seperti yang dijabarkan di
atas, diharapkan guru dapat menilai dan mengevaluasi kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan dengan baik, sehingga akan menunjang
ketercapaian suatu tujuan.
18

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pemecahan masalah pada problematika IPS di awal pembelajaran.
Keterampilan guru dalam membuka pelajaran seperti,
menyiapakan peserta didik secara psikis dan fisik, memberikan motivasi
awal, dan memberikan apersepsi atau kaitan materi yang dipelajari pada
pertemuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari terlihat masih
kurang. Sehingga solusi yang dapat digunakan untuk mengatasi
permasalahan kemampuan guru dalam membangun apersepsi siswa dalam
materi Keragaman suku bangsa dan budaya yaitu dengan bertanya kepada
siswa tentang : Kemarin kita sudah belajar tentang macam-macam suku
bangsa di Indonesi, coba siapa yang dapat menyebutkan suku-suku bangsa
yang ada di Indonesia?, Berasal dari suku manakah kalian?, Apakah kalian
tahu nama rumah adat dari Jawa Tengah?. Selain itu, solusi yang dapat
digunakan untuk mengatasi permasalahan kemampuan guru dalam
memotivasi siswa yaitu menggunakan media video berupa nyanyian suku-
suku bangsa yang ada di Indonesia.
2. Pemecahan masalah pada problematika IPS siswa dalam mempelajari
memahami materi.
Materi keragaman suku bangsa dan budaya yang cukup luas
mengakibatkan siswa kesulitan memahami teori dan konsep. Pada
pembelajaran tentang keragaman suku bangsa, banyak anak yang masih
bingung dan belum hafal nama-nama suku di beberapa provinsi tertentu,
karena banyaknya materi yang harus disampaikan dan dalam
penyampaiannya terkadang kurang jelas, sehingga anak cenderung bosen
untuk mendengarkan, membaca, dan mengerjakan soal. Sehingga
diperoleh solusi menggunakan model Mind Mapping.

18
19

3. Alternatif pemecahan masalah IPS pada proses pembelajaran.


Problematika yang dihadapi yaitu: siswa merasa bosan dalam
pembelajaran IPS karena identik dengan menghafal dan siswa pasif dalam
pembelajaran sehingga keaktifan siswa menjadi rendah. Penyebab lain
yaitu : guru masih menggunakan metode ceramah dan penugasan, media
pembelajaran masih konvensional, motivasi dan aktivitas siswa masih
rendah, pembelajaran kurang menarik, dan pemikiran siswa dibawa pada
hal yang abstrak, bukan konkret. Solusinya adalah dengan menerapkan
model pembelajaran yang tepat untuk diterapkan dalam mempelajari
materi keragaman suku dan budaya adalah model make a match
4. Alternatif keragaman pemecahan masalah terhadap siswa dalam proses
evaluasi.
Problematika yang dihadapi pada mata pelajaran IPS materi
Keragaman suku bangsa dan budaya yaitu guru belum sepenuhnya
melaksanakan kegiatan evaluasi pembelajaran secara maksimal. Solusinya
yaitu dengan melaksanakan prosedur pretest dan posttest dan guru dapat
melaksanakan tes formatif.

B. Saran
Berdasarkan simpulan di atas, maka disarankan hal-hal sebagai berikut:
1. Bagi guru, penggunaan media ataupun metode dalam pembelajaran sangat
direkomendasikan, karena dapat memudahkan siswa dalam memahami
materi pembelajaran IPS.
2. Bagi para siswa, dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dapat
mengikuti dengan baik dan seungguh-sungguh, dengan begitu dapat
mendukung kelancaran proses pembelajaran dan memudahkan memahami
materi yang disampaikan guru.
20

DAFTAR PUSTAKA

Anitah, S. (2009). Teknologi Pembelajaran. Surakarta: Inti Media Surakarta.

Arsyad, A. (2013). Media Pembelajaran. Jakarta: Rajagravindo Persada.

Baihaqi, Rizky. (2018). Pengembangan Media Kartu Nusantara untuk


Pembelajaran IPS Kelas IV SD Pada Materi Keanekaragaman Suku
Bangsa dan Budaya, 5 (2): 1.

Brett D. Jones. (2012). The Effects of Mind Mapping Activities on students


Motivation. International Journal for the Scholarship of Teaching and
Learning, 6(1): 1.

Daryanto. (2010). Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Gava Media.

Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta:


Departemen Pendidikan Nasional.

Desmita. (2012). Psikologi Perkembangan.Bandung: Remaja Rosdakarya.

Hamalik, Oemar. (2009). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hernawan, Asep Herry. (2007). Media Pembelajaran Sekolah Dasar.Bandung


: UPI Press.

Tony Buzan. (2012). Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama

Susanto Windura. (2008). Mind Map langkah Demi Langkah. Jakarta : Elex
Media Koputindo.

Huda, Miftahul. 2014. Cooperative Learning. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Karsono, Sujana, Daryanto, dan Ngadino. (2014). Penggunaan Kartu Kuartet


Untuk Meningkatkan Pemahaman Keberagaman Seni Tradisi
Nusantara Pada Siswa Sekolah Dasar Mimbar Sekolah Dasar,
Volume 1 Nomor 1, (hal. 43
21

Kalsum, Imran& Kapile, C. (2014). Meningkatkan hasil belajar IPS mengenai


keragaman suku bangsa dan budaya dengan menggunakan
media gambar di kelas V SD Inpres 5. Jurnal Kreatif Tadulako
Online Vol. 4 No. 6. Hal. 81-94
Kosasih dan Mulyani (2017)???
Mulyarsih. (2010). Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Make A Match Pada Siswa Kelas IV
SDN Harjowinangun 01, Tersono Batang. KREATIF Jurnal
Kependidikan Dasar. Volume 1, Nomor 1, halaman 97-105.

Sadiman, dkk. (2014). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan


Pemanfaatannya. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Sanjaya, W. (2013). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenamedia.

Shoimin, A. (2016). 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikulum 2013.


Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Sobur, A. (2016). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Suparmini. (2015). Meningkatkan Motivasi Dan Hasil Belajar IPS Keragamab


Suku Bangsa Dan Budaya Dengan Permainan Tembar Pada Siswa
Kelas 4 A SDN Semboro 01 Jember,4 (3).

Wirawan. (2012). Evaluasi:Teori, Model, Standar, Aplikasi, dan Profesi. Depok.


PT Raja Grafindo Persada.

Wisudawati, A.W. & Sulistyowati, E. (2014). Metodologi Pembelajaran IPA.


Jakarta: Bumi Aksara.

Zulfikar dan Azizah, Laelah. (2017). Keefektifan Penggunaan Media


Pembelajaran Kartu Kuartet dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara
Bahasa Jerman Siswa Kelas XI MA Negeri 1 Makassar. Eralingua: Jurnal
Pendidikan Bahasa Asing dan Sastra, 1 (2).