Anda di halaman 1dari 50

BAB I

1.1 LATAR BELAKANG

Kebutuhan dasar manusia merupakan sesuatu yang harus dipenuhi untuk

meningkatkan derajat kesehatan. Menurut teori Maslow manusia mempunyai lima

kebutuhan dasar yang paling penting meliputi : kebutuhan fisiologis, kebutuhan

keselamatan dan keamanan, kebutuhan cinta dan rasa memiliki, kebutuhan rasa

berharga dan harga diri, dan kebutuhan aktualisasi diri (Perry & Potter, 2006).

Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang termasuk kedalam

kebutuhan fisiologis, tidur juga hal yang universal karena semua individu

dimanapun ia berada membutuhkan tidur (Kozier, 2000). Seseorang yang

memiliki beberapa kebutuhan yang belum terpenuhi akan lebih dulu memenuhi

kebutuhan fisiologisnya dibandingkan kebutuhan yang lain. Kebutuhan fisiologis

tersebut diantaranya adalah istirahat dan tidur (Mubarak & Chayatin, 2008).

Kemampuan akademik pada berbagai tingkatan usia juga dapat

dipengaruhi oleh gangguan tidur yang tidak terdeteksi. Meskipun dampak

gangguan tidur yang tidak disadari ini telah semakin jelas, namun masih sedikit

penelitian yang telah dilaporkan (Tanjung & Sekartini, 2004. Reaksi nyeri sangat

erat hubungannya dengan terganggunya pemenuhan kebutuhan istirahat

khususnya pada anak (Potter & Perry, 2005), Respon anak dengan orang dewasa

dalam menerima tindakan invasif berbeda. Pada anak tindakan invasif dapat

dipersepsikan sebagai suatu ancaman, ini terkait terhadap rasa aman yang dapat

menyebabkan terjadinya kecemasan. Ancaman ini disebabkan karena menerima


pengobatan yang membuat bertambah sakit atau nyeri. Tindakan pemasangan

infus yang membuat anak merasakan kecemasan, ketakutan dan ketidaknyamanan

merupakan stresor bagi gangguan pemenuhan istirahat tidur (Warda, 2012). Teori

Maslow dan Henderson diatas menunjukkan bahwa tidur merupakan salah satu

kebutuhan dasar manusia yang penting dan harus terpenuhi dalam keadaan sehat

maupun sakit. Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa banyak faktor

yang menjadi penyebab kebutuhan tidur anak menjadi terganggu diantaranya

lingkungan, penyakit serta tindakan medis yang dilakukan di rumah sakit. Namun

masih sedikit yang meneliti tentang gangguan tidur karena rasa ketidaknyamanan

anak pada tindakan invasif yang dilakukan dirumah sakit dalam hal ini tindakan

pemasangan infus. Oleh sebab itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang

pemenuhan kebutuhan tidur anak yang terpasang infus. Orang tua dan perawat

harus mampu menciptakan rasa kenyamanan pada anak saat dirawat dirumah sakit

sehingga kebutuhan dasar manusia dalam hal ini kebutuhan tidur tetap terpenuhi.

Sakit dan dirawat di rumah sakit jauh dari menyenangkan bagi anak. Hal

ini merupakan suatu stresor karena anak tidak mengerti mengapa dia dirawat.

Perpisahan dengan orang – orang terdekat dari anak, penyesuaian dengan

lingkungan yang asing bagi anak, penyesuaian dengan banyak orang yang

mengurus anak, dan kerap kali harus berhubungan dan bergaul dengan anak-anak

yang sakit serta pengalaman mengikuti terapi yang menyakitkan (Ratna, 2012).

Rawat inap merupakan keadaan dimana orang sakit berada pada

lingkungan rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dalam perawatan atau

pengobatan sehingga dapat mengatasi atau meringankan penyakitnya (Wong,


2009). Rawat inap pada anak adalah suatu proses yang menyebabkan anak harus

tinggal di rumah sakit untuk menjalani terapi dan perawatan sampai

pemulangannya kembali ke rumah. Reaksi anak terhadap rawat inap bersifat

individual, bergantung pada usia perkembangan, pengalaman terhadap sakit,

sistem pendukung yang tersedia dan koping yang dimilikinya. Anak yang dirawat

di rumah sakit sering merasa kelelahan dan menjadi tidak nyaman yang berakibat

sulit untuk tidur (Supartini, 2004).

Pola tidur pada anak sering terganggu misalnya meningkatnya frekuensi

terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya

terbangun. Walaupun demikian, rata-rata waktu tidur total anak hampir sama

dengan dewasa muda. Ritmik sirkadian tidur-bangun anak juga sering terganggu.

Seringnya terbangun pada malam hari menyebabkan keletihan, mengantuk, dan

mudah jatuh tidur pada siang hari (Perry dan Potter, 2009). Kebutuhan tidur pada

manusia bergantung pada tingkat perkembangan. Pada anak umumnya anak

membutuhkan 11-12 jam/hari untuk tidur. Menurut Hurlock, secara teori

kebutuhan tidur adalah jumlah kebutuhan tidur manusia yang biasanya dijelaskan

dengan waktu yang dibutuhkan untuk menjalani aktivitas tidur dalam satu hari

untuk memulihkan kondisi individu tersebut (Febriana, 2011). Menurut Setiatava

(2011), tidur juga bertujuan untuk restorasi sel. Restorasi sel- sel tubuh

merupakan salah satu teori yang dikemukakan oleh para ilmuan untuk

menjelaskan sebab atau tujuan manusia harus tidur. Gangguan pemenuhan

kebutuhan tidur dapat terjadi karena adanya faktor situasional seperti perubahan

lingkungan, misalnya perawatan di rumah sakit, kebisingan, atau ketakutan serta


adanya kondisi patologis pada anak misalnya penyakit kronik, infeksi, gannguan

sirkulasi dan lain-lain. Lingkungan institusi Rumah Sakit atau fasilitas perawatan

jangka panjang dan aktivitas petugas pelayanan kesehatan dapat menyebabkan

sulit tidur. Besaran jumlah tidur anak, disesuaikan dengan tingkat umurnya.

(Tasya, 2011). Anak yang mengalami prosedur invasif berupa pemasangan infus,

selain akan menimbulkan gangguan fisik seperti rasa nyeri, juga dapat

mempengaruhi psikologisnya berupa stres, agresif dan perasaan terkekang akibat

imobilisasi area pemasangan infus, yang pada anak-anak biasanya diberikan spalk

dan fiksasi. Selain reaksi perilaku negatif, aspek yang selama ini kurang mendapat

perhatian adalah dampak dari tindakan invasif dan menyakitkan tersebut terhadap

pemenuhan kebutuhan tidur anak terutama tidur di malam hari (Ratna. 2012).

Pemenuhan kebutuhan tidur sangat penting bagi anak yang sedang sakit. Apabila

pemenuhan tidur tersebut tercukupi, maka jumlah energi yang diharapkan untuk

memulihkan status kesehatan dan mempertahankan metabolisme tubuh terpenuhi

(Aziz, 2012). Ganguan tidur pada anak jika tidak segera ditangani akan

berdampak serius dan akan menjadi gangguan tidur yang kronis secara fisiologis,

jika seseorang tidak mendapatkan tidur yang cukup untuk mempertahankan

kesehatan tubuh dapat menurun.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana kebutuhan tidur pada anak prasekolah?
2. Apa pengaruh hospitalisasi pada anak prasekolah?
3. Bagaimana kebutuhan tidur pada anak prasekolah saat hospitalisasi?

1.3 TUJUAN PENELITIA


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebutuhan pola tidur pada

anak usia prasekolah dan pengaruh hospitalisasi ada anak usia prasekolah
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kebutuhan pola

tidur anak pada saat hospitalisasi.


1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Dari segi pengembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu kesehatan

khususnya pada ilmu keperawatan, hasil penelitian ini diharapkan dapat

memberikan informasi yang berguna mengenai kebutuhan pola tidur dan

pengaruh hospitalisasi pada anak usia prasekolah.


1.4.2 Bagi peniliti selanjutnya
Dengan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi pada penelitian

selanjutnya.

BAB II

LANDASAN TEORI
2.1 Tidur
Tidur adalah kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh

stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986). Tidur memiliki ciri, yaitu

adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, dan

terjadinya penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.


2.1.1 Fisiologi Tidur
Fisiologi tidur merupakan pengaturan kegiatan tidur oleh adanya hubungan

mekanisme serebral yang secara bergantian untuk mengaktifkan dan

menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Dalam keadaan sadar,

neuron dalam Recticular activating system (RAS) akan melepaskan


katekolamin seperti norepineprin. RAS memberikan rangsangan visual,

pendengaran, nyeri dan perabaan. Juga dapat menerima stimulasi dari

korteks serebri termasuk rangsangan emosi dan proses pikir. Pada saat tidur,

terdapat pelepasan serum serotonin dari sel khusus yang berada di pons dan

batang otak tengah yaitu Bulbar syncronizing regional (BSR). Sedangkan

saat bangunnya seseorang tergantung dari keseimbangan implus yang

diterima di pusat otak dan sistem limbiks.


2.1.2 Jenis Tidur

Terdapat dua jenis tidur yaitu :

1. Tidur Gelombang Lambat/ Nonrapid Eye Movement (NREM)

Jenis tidur ini dikenal dengan tidur dalam, istirahat penuh, dengan

gelombang otak yang lebih lambat. Ciri-cirinya adalah mimpi

berkurang, keadaan istirahat, tekanan darah menurun, frekuensi napas

menurun, metabolisme turun dan gerakan bola mata lambat.

a. Tahap I

Merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur dengan ciri:

rileks, masih sadar dengan lingkungan,merasa mengantuk,bola

mata bergerak dari samping ke samping, frekueansi nadi dan nafas

seadikit menurun, dapat bangun segera selama tahap ini

berlangsung selama lima menit.

b. Tahap II

Merupakann tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun

berciri : Mata umumnya menetap, denyut jantung dan freakuensi


nafas menurun, temperature tubuh menurun, metabolisme

menurun, berlangsung pendek dan berakhir 5-10 menit.

c. Tahap III

Merupakann tahap tidur berciri : denyut nadi dan frekuensi nafas

dan proses tubuh lainnya lambat, di sebabkan oleh dominasi sistem

saraf parasimpatis dan sulit banngun.

d. Tahap IV

Merupakan tahap tidur berciri : Kecepatan jantung dan pernafasan

turun, jaranng bergerak dan sulit di bangunkan, gerak bola mata

cepat, sekresi lambunng turun, tonus otot turun.

2. Tidur Paradoks/ Rapid Eye Movement (REM)

Tidur jenis ini dapat berlangsung pada tidur malam selama 5-20 menit,

rata-rata 90 menit. Periode pertam terjadi selama 80-100 menit, namun

bila kondisi oranng sangat lelah maka awal tidur sangat cepat bahkan

jenis tidur ini tidak ada. Ciri-cirinya antara lain:

a. Biasanya di sertai dengan mimpi aktif

b. Lebih sulit di bangunkan dari pada selama tidur nyeyak

gelombang lambat.

c. Tonus otot selama tidur nyenyak sangat tertentu.

d. Frekuensi jantung dan pernafasan menjadi tidak teratur.

e. Pada oto perifer terjadi bebrapa gerakan otot yang tidak teratur.
f. Mata cepat tertutup dan cepat terbuka, nadi cepat dan inregular,

tekanan darah meningkat dan fluktuasi, sekresi gaster meningkat,

metabolisme meningkat.

g. Pada tidur ini sangat penting untuk keseimbangan mental, emosi

dan berperan dalam belajar, memori dan adaptasi.

1.2.3 Fungsi dan Tujuan Tidur

Fungsi dan tujuan tidur antara lain:

1. Regenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi baru.

2. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

3. Memperlancar produksi hormon pertumbuhan tubuh.

4. Memelihara fungsi jantung.

5. Mengistirahatkan tubuh yang letih akibat aktivitas seharian.

6. Menyimpan energi.

7. Meningkatkan kekebalan tubuh kita dari serangan penyakit.

8. Menambah konsentrasi dan kemampuan fisik.

1.2.4 Faktor yang mempengaruhi kebutuhan tidur

1. Penyakit

Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu kurang tidur

atau bahkan tidak bisa tidur karena penyakitnya itu.

2. Stres Psikologis
Seseorang yang memiliki masalah psikologis akan mengalami

kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.

3. Obat-obatan

Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur (insomnia),

antidepresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf

simpatis yang menyebabkan kesulitan tidur.

4. Nutrisi

Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses

tidur. Sebaliknya kebutuhan nutrisi yang kurang akan menyebabkan

sulit tidur.

5. Lingkungan

Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang untuk

tidur . Pada lingkungan yang tenang memungkinkan seseorang dapat

seseorang dapat tidur dengan nyeyak dan sebaliknya.

6. Motivasi

Motivasi dapat mempengaruhi dan dapat menimbulkan keinginan

untuk tetap bangun dan menahan tidak tidur sehingga dapat

meanimbulkan gangguan proses tidur.

7. Aktivitas

Kurang beraktivitas dan atau melakukan aktivitas yang berlebihan

justru akan menyebabkan kesulitan untuk memulai tidur.


2.1.5 Gangguan masalah tidur

1. Insomnia

Insomnia adalah suatu keadaan di mana seseorang sulit untuk memulai

atau mempertahankan keadaan tidurnya. Tanda-tanda Insomnia

yaitu kecemasan, kelelahan, ketidakmampuan untuk tidur di malam

hari, menderita depresi, terbangun beberapa kali di malam hari, dan

tidak merasa cukup istirahat meskipun tidur malam. Penyebab

Insomnia yaitu efek samping dari obat-obatan, makan terlalu banyak

sebelum tidur, depresi, menderita gangguan kecemasan,

mengkonsumsi kafein terlalu banyak, minum alkohol terlalu banyak,

perubahan dalam lingkungan, perubahan waktu kerja, dan stres.

2. Parasomnia

Parasomnia adalah kumpulan beberapa penyakit yang dapat

mengganggu pola tidur seperti somnambulis (berjalan-jalan dalam

tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak.

3. Hipersomnia

Hipersomnia adalah kebalikan dari insomnia, yaitu tidur yang

berkelebihan terutama pada siang hari.

4. Narkolepsi

Narkolepsi adalah gelombang kantuk yang tak tertahankan yang

muncul secara tiba-tiba pada siang hari.

5. Apnea tidur dan Mendengkur


Mendengkur yang disertai dengan apnea dapat menjadi masalah dalam

tidur karena jika terjadi apnea dapat mengacaukan saat bernapas dan

bahkan dapat menyebabkan henti napas sehingga menyebabkan kadar

oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.

6. Enuresis

Enuresis adalah kencing yang tidak di sengaja (mengompol) terjadi

pada anak-anak.

2.3 Hospitalisasi

Hospitalisasi merupakan perawatan yang dilakukan dirumah sakit

dan dapat menimbulkan trauma dan stress pada klien yang baru

mengalami rawat inap dirumah sakit. Hospitalisasi dapat diartikan juga

sebagai suatu keadaan yang memaksa seseorang harus menjalani rawat

inap di rumah sakit untuk menjalani pengobatan maupun terapi yang

dikarenakan klien tersebut mengalami sakit. Pengalaman hospitalisasi

dapat mengganggu psikologi seseorang terlebih bila seseorang tersebut

tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya di rumah sakit.

Pengalaman hospitalisasi yang dialami klien selama rawat inap tersebut

tidak hanya mengganggu psikologi klien, tetapi juga akan sangat

berpengaruh pada psikososial klien dalam berinteraksi terutama pada

pihak rumah sakit termasuk pada perawat.

Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan

yang berencana atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah


sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke

rumah Supartini (2002).

Penelitian membuktikan bahwa hospitalisasi anak dapat menjadi

suatu pengalaman yang menimbulkan trauma, baik pada anak, maupun

orang tua. Sehingga menimbulkan reaksi tertentu yang akan sangat

berdampak pada kerja sama anak dan orang tua dalam perawatan anak

selama di rumah sakit. Oleh karena itu betapa pentingnya perawat

memahami konsep hospitalisasi dan dampaknya pada anak dan orang tua

sebagai dasar dalam pemberian asuhan keperawatan.

2.3 Manfaat Hospitalisasi

Menurut Supartini (2004), cara memaksimalkan manfaat

hospitalisasi anak adalah sebagai berikut.

1. Membantu perkembangan orang tua dan anak dengan cara memberi

kesempatan orang tua mempelajari tumbuh-kembang anak dan reaksi

anak terhadap stressor yang dihadapi selama dalam perawatan di

rumah sakit.
2. Hospitalisasi dapat dijadikan media untuk belajar orang tua. Untuk itu,

perawat dapat memberi kesempatan pada orang tua untuk belajar

tentang penyakit anak, terapi yang didapat, dan prosedur keperawatan

yang dilakukan pada anak, tentunya sesuai dengan kapasitas

belajarnya.
3. Untuk meningkatkan kemampuan kontrol diri dapat dilakukan dengan

memberi kesempatan pada anak mengambil keputusan, tidak terlalu

bergantung pada orang lain dan percaya diri. Tentunya hal ini hanya

dapat dilakukan oleh anak yang lebih besar, bukan bayi. Berikan

selalu penguatan yang positif dengan selalu memberikan pujian atas

kemampuan anak dan orang tua dan dorong terus untuk

meningkatkannya.
4. Fasilitasi anak untuk menjaga sosialisasinya dengan sesama pasien

yang ada, teman sebaya atau teman sekolah. Beri kesempatan padanya

untuk saling kenal dan berbagi pengalamannya. Demikian juga

interaksi dengan petugas kesehatan dan sesama orang tua harus

difasilitasi oleh perawat karena selama di rumah sakit orang tua dan

anak mempunyai kelompok sosial yang baru.

2.4 Faktor-Faktor Penunjang Hospitalisasi

Faktor-faktor yang menunjang hospitalisasi (Stevens, 1992) :

1. Kepribadian Manusia.
Tidak setiap orang peka terhadap hospitalisasi. Kita melihat ada

sebagian orang yang sangat menderita dan sangat tergantung pada

pada apa yang diberikan lingkungannya. Namun ada juga yang

menangani sendiri dan tidak bisa menerima keadaan itu begitu saja.

Semua tergantung dari segi kepribadian manusia itu sendiri.


2. Kehilangan Kontak dengan Dunia Luar Rumah Perawatan.
Pasien atau orang yang tinggal di rumah perawatan akan

kehilangan kontak yang sudah lama berjalan dengan terpaksa. Dia


sudah tidak berada lagi dalam lingkungan yang aman yang dijalaninya

dalam sebagian besar hidupnya. Orang-orang yang sering

berkomunikasi dengannya kini hanya sekedar bertamu dalam suasana

yang berbeda, hanya sebagian kecil keluarga dekat yang

menemaninya. Sebagian besar kontak-kontak dengan orang senasib

yang terbatas dalam ruang perawatan yang sama dan dengan orang-

orang yang membantunya. Dunia mereka boleh dikatakan terbatas

pada lingkungan kecil. Apalagi ia bergaul dengan orang-orang yang

sebenarnya bukan pilihannya.


3. Sikap Pemberi Pertolongan.
Ada perbedaan tugas antara pasien dan yang memberi

pertolongan.Ini terlihat jelas dalam kegiatan mereka sehari-hari.

Pasien biasanya menunggu dan yang menolong yang menentukan apa

yang dilakukan dan kapan. Pasien menunggu apa yang terjadi dan

perawat yang tahu. Pasien tergantung pada yang menolong dan ia

terpaksa mengikuti. Ia sering merasa tidak berdaya sehingga merasa

harga dirinya berkurang. Hal ini membuat dirinya lebih merasa

tergantung. Perawat melakukan pekerjaan yang rutin dan berkembang

sedikit saja, hal ini akan membuat mereka menanamkan jiwa

hospitalisasi pada pasien.


4. Suasana Bagian Perawatan.
Suasana bagian sebagian besar ditentukan oleh sikap perawat, baik

oleh hubungan antar sesama perawat, maupun oleh sikap mereka

terhadap pasien dan tamu-tamu mereka. Cara berpakaian orang-orang

di bagian juga sangat penting. Cara manusia bergaul, dapat


mempengaruhi sikap pasien. Ketergantungan antara personal biasanya

mudah dapat dipengaruhi. Pasien yang dirawat inap mendapat kesan

bahwa mereka bukan yang terpenting dalam perawatan ini. Juga

ternyata bahwa orang-orang yang hanya mendapatkan tugas

melaksanakan pekerjaan dan tanpa bisa memberi tanggapan atau saran

maka pasien-pasien atau tamu-tamu mereka akan diperlakukan sama

seperti itu. Ini memperbesar kemungkinan adanya hospitalisasi.


5. Obat-Obatan.
Obat-obatan dapat memberi pengaruh besar pada sikap. Beberapa

obat-obatan dapat mengakibatkan adanya tanda-tanda yang sama

seperti hospitalisasi. Dengan sendirinya, kemungkinan hospitalisasi

besar. Jika dipakai obat-obatan yang dapat merangsang adanya sikap

tadi.

2.5 Stressor dalam Hospitalisasi

Saat dirawat di rumah sakit atau tengah menjalani proses

hospitalisasi, klien dalam hal ini adalah anak), tentu akan mengalami stress

akibat dari segala macam bentuk perubahan yang ia alami, seperti

perubahan lingkungan, suasana, dan lain sebagainya.


1. Reaksi anak terhadap hospitalisasi
Stressor dan reaksi hospitalisasi sesuai dengan tumbuh kembang pada

anak.
a. Masa Bayi (0-1 tahun)

Dampak perpisahan, usia anak diatas 6bulan terjadi stanger

anxiety (cemas) seperti menangis keras, pergerakan tubuh

yang banyak, ekspresi wajah yang tidak menyenangkan.

b. Masa Todler (2-3 tahun)


Sumber utama adalah cemas akibat perpisahan. Disini respon

perilaku anak dengan tahapnya.

c. Masa Prasekolah (3-6 tahun)

Sering kali dipersepsikan anak sekolah sebagai hukuman,

sehingga menimbulkan reaksi agresif, seperti menolak makan,

sering bertanya, menangis perlahan dan tidak kooperatif

terhadap petugas kesehatan.

d. Masa Sekolah (6-12 tahun)

Perawatan di rumah sakit memaksakan anak meninggalkan

lingkungan yang dicintai, meninggalkan keluarga, kehilangan

kelompok sosial, sehingga ini menimbulkan kecemasan pada

anak.

e. Masa Remaja (12-18 tahun)

Anak remaja begitu percaya dan terpengaruh kelompok

sebayanya. Reaksi yang muncul adalah menolak perawatan

dan tindakan yang dilakukan, tidak kooperatif dengan petugas,

bertanya-tanya, menarik diri dan menolak kehadiran orang

lain.

2. Reaksi keluarga terhadap hospitalisasi

Berikut beberapa reaksi orang tua saat anak mereka dirawat di rumah

sakit adalah
a. Perasaan Cemas dan Takut
Perasaan cemas ini mungkin dapat terjadi ketika orang tua

melihat anaknya mendapat prosedur menyakitkan seperti

pengambilan darah, injeksi, dan prosedur invasiof lainnya. Hal

ini mungkin saja membuat orang tua merasa sedih atau bahkan

menangis karena tidak tega melihat anaknya. Oleh karea itu,

pada kondisi ini perawat atau petugas kesehatan harus lebih

bijaksana bersikap pada anak dan orang tuanya.


Perilaku yang sering ditunjukkan orang tua berkaitan

dengan adanya perasaan cemas dan takut ini adalah sering

bertanya atau bertanya tentang hal yang sama secara berulang

pada orang yang berbeda, gelisah, ekspresi wajah tegang, dan

bahkan marah (Supartini, 2001).


b. Perasaan Sedih
Perasaan sedih sering muncul ketika anak pada saat anak

berada pada kondisi termal dan orang tua mengetahui bahwa

anaknya hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk dapat

sembuh. Bahkan ketika menghadapi anaknya yang menjelang

ajal, orang tua merasa sedih dan berduka. Namun di satu sisi,

orang tua harus berada di samping anaknya sembari

memberikan bimbingan spiritual pada anaknya. Pada kondisi

ini, orang tua menunjukkan perilaku isolasi atau tidak mau

didekati orang lain, bahkan bisa tidak kooperatif terhadap

petugas kesehatan (Supartini, 2000).

c. Perasaan Frustasi
Pada kondisi ini, orang tua merasa frustasi dan putus asa

ketika melihat anaknya yang telah dirawat cukup lama namun

belum mengalami perubahan kesehatan menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, perlu adanya dukungan psikologis dari pihak-

pihak luar (seperti keluarga ataupun perawat atau petugas

kesehatan).
d. Perasaan Bersalah
Perasaan bersalah muncul karena orang tua menganggap

dirinya telah gagal dalam memberikan perawatan kesehatan

pada anaknya sehingga anaknya harus mengalami suatu

perubahan kesehatan yang harus ditangani oleh tenaga

kesehatan di rumah sakit.

2.6 Dampak Hospitalisasi

Menurut Asmadi (2008), hospitalisasi merupakan pengalaman

yang mengancam bagi setiap orang. Penyakit yang diderita akan

menyebabkan perubahan perilaku normal sehingga klien perlu menjalani

perawatan. Secara umum, menurut Asmadi (2008), hospitalisasi

menimbulkan dampak pada beberapa aspek, yaitu:

1. Privasi

Privasi dapat diartikan sebagai refleksi perasaan

nyaman pada diri seseorang dan bersifat pribadi. Bisa

dikatakan, privasi adalah suatu hal yang sifatnya pribadi.

Sewaktu dirawat di rumah sakit, klien kehilangan sebagai

privasinya.
Kondisi ini disebabkan oleh beberapa hal yaitu :

a. Selama dirawat di rumah sakit, klien berulang kali diperiksa

oleh petugas kesehatan. Bagian tubuh yang biasanya dijaga

agar tidak dilihat, tiba-tiba dilihat dan disentuh oleh orang lain.

Hal ini tentu akan membuat klien merasa tidak nyaman.


b. Klien adalah orang yang berada dalam keadaan lemah dan

bergantung pada orang lain. Kondisi ini cendurung membuat

klien pasrah dan menerima apapun tindakan petugas kesehatan

kepada dirinya asal ia cepat sembuh.

Menyikapi hal tersebut, perawat harus selalu memperhatikan

dan menjaga privasi klien ketika berinteraksi dengan mereka.

Beberapa hal yang dapat perawat lakukan guna menjaga

privasi klien adalah sebagai berikut.


a. Setiap akan melakukan tindakan keperawatan, perawat harus

selalu memberitahu dan menjelaskan perihal tindakan tersebut

kepada klien.
b. Memperhatikan lingkungan sebelum melaksanakan tindakan

keperawatan. Yakinkan bahwa lingkungan tersebut menunjang

privasi klien.
c. Menjaga kerahasiaan tentang segala sesuatu yang berkaitan

dengan klien. Sebagai contoh, setelah memasang kateter,

perawat tidak boleh menceritakan alat kelamin pasien kepada

orang lain, termasuk pada teman sejawat.


d. Menunjukkan sikap profesional selama berinteraksi dengan

klien. Perawat tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang dapat


membuat klien malu atau marah. Sikap tubuh pun tidak boleh

layaknya majikan kepada pembantu.


e. Libatkan klien dalam aktivitas keperawatan sesuai dengan

batas kemampuannya jika tidak ada kontraindikasi.

2. Gaya hidup

Klien yang dirawat di rumah sakit sering kali mengalami

perubahan pola gaya hidup. Hal ini disebabkan oleh perubahan

kondisi antara rumah sakit dengan rumah tempat tinggal klien,

juga oleh perubahan kondisi keehatan klien. Aktivitas hidup

yang klien jalani sewaktu sehat tentu berbeda dengan aktivitas

yang dialaminya selama di rumah sakit. Perubahan gaya hidup

akibat hospitalisasi inilah yang harus menjadi perhatian setiap

perawat. Asuhan keperawatan yang diberikan harus

diupayakan sedemikian rupa agar dapat menghilangkan atau

setidaknya meminimalkan perubahan yang terjadi.

3. Otonom
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa individu

yang sakit da dirawat di rumah sakit berada dalam posisi

ketergantungan. Artinya, ia akan pasrah terhadap tindakan

apapun yang dilakukan oleh petugas kesehatan demi mencapai

keadaan sehat. Ini meniunjukkan bahwa klien yang dirawat di

rumah sakit akan mengalami perubahan otonomi. Untuk

mengatasi perubahan ini, perawat harus selalu memberitahu


klien sebelum melakukan intervensi apapun dan melibatkan

klien dalam intervensi, baik secara aktif maupun pasif.


4. Peran

Peran dapat diartikan sebagai seperangkat perilaku yang

diharapkan individu sesuai dengan status sosialnya Jika ia

seorang perawat, peran yang diharapkan adalah peran sebagai

perawat bukan sebagai dokter. Selain itu, peran yang dijalani

seseorang adalah sesuai dengan status kesehatannya. Peran

yang dijalani sewaktu sehat tentu berbeda dengan peran yang

dijalani saat sakit. Tidak mengherankan jika klien yang dirawat

di rumah sakit mengalami perubahan peran.

2.7 Dampak Dirawat di Rumah Sakit Sakit terhadap Psikososial

Pasien

Tingkah laku pasien yang dirawat di rumah sakit dapat dikenal

menurut Berton (1958 dalam Stevens, 1992)

1. Kelemahan untuk berinisiatif.

2. Kurang dan tidak ada perhatian tentang hari depan.


3. Tak berminat atau tidak ada daya tarik.
4. Kurang perhatian cara berpakaian dan segala sesuatu yang bersifat

pandangan luas.
5. Ketergantungan dari orang-orang yang membantunya.

Pengalaman hospitalisasi ini dapat mengganggu psikologi seseorang

terlebih bila seseorang tersebut tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan

barunya di rumah sakit. Pengalaman hospitalisasi yang dialami klien


selama rawat inap tersebut tidak hanya mengganggu psikologi klien, tetapi

juga akan sangat berpengaruh pada psikososial klien dalam berinteraksi

terutama pada pihak rumah sakit termasuk pada perawat.

Masalah yang dapat ditimbulkan adalah berupa cemas, rasa

kehilangan, dan takut akan tindakan yang dilakukan oleh pihak rumah

sakit, jika masalah tersebut tidak diatasi maka akan mempengaruhi

perkembangan psikososial, terutama pada anak-anak. Berbagai perasaan

yang sering muncul pada anak yang berkaitan dengan psikologi anak

adalah cemas , marah, sedih dan rasa bersalah. Perasaan itu dapat timbul

karena menghadapi sesuatu yang baru dan belum penah dialami

sebelumnya, rasa tidak aman dan tidak nyaman, perasaan kehilangan

sesuatu yang dirasakan menyakitkan. Tidak hanya klien, orang tua juga

mengalami yang sama.

Masalah tersebut akan berpengaruh pada pelayanan keperawatan yang

akan diberikan, karena yang mengalami masalah psikososial akibat

hospitalisasi cenderung tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan di

rumah sakit. Hal ini tentu saja akan menyebabkan terganggunya interaksi

baik dari perawat maupun tim medis lain di rumas sakit.

2.8 Mengatasi Dampak Hospitalisasi


Menurut Supartini, cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak

hospitalisasi adalah sebagai berikut :


1. Upaya meminimalkan stresor :
Upaya meminimalkan stresor dapat dilakukan dengan cara mencegah

atau mengurangi dampak perpisahan, mencegah perasaan kehilangan


kontrol dan mengurangi atau meminimalkan rasa takut terhadap

pelukaan tubuh dan rasa nyeri.


2. Untuk mencegah dan meminimalkan dampak perpisahan dapat

dilakukan dengan cara adalah


a. Melibatkan keluarga berperan aktif dalam merawat pasien

dengan cara membolehkan mereka tinggal bersama pasien

selama 24 jam (rooming in).


b. Jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan

keluarga untuk melihat pasien setiap saat dengan maksud

mempertahankan kontak antar mereka.


c. Modifikasi ruangan perawatan dengan cara membuat situasi

ruangan rawat perawatan seperti di rumah dengan cara

membuat dekorasi ruangan.

2.3 Literatur Review

Pola tidur adalah kebutuhan dasar yang terpenuhi oleh semua

orang. Istilah tidur cukup, tubuh baru dapat berfungsi secara optimal. Istirahat dan

tidur memiliki arti yang berbeda pada setiap orang. (Sumber, Wahit Iqbal

Mubarak, SKM & Ns Nurul Chayatin, S.Kep.,2007;225)

Hospitalisasi adalah suatu keadaan krisis pada anak, saat anak sakit dan

dirawat di rumah sakit. Keadaan ini karena anak berusaha untuk beradaptasi

dengan lingkungan asing dan baru yaitu rumah sakit, sehingga kondisi tersebut

menjadi faktor stressor bagi anak baik terhadap anak maupun orang tua dan

keluarga (Wong, 2000).


Hospitalisasi adalah suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana

atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi

dan perawatan sampai pemulangannya kembali ke rumah.

Pola tidur pada anak sering terganggu misalnya meningkatnya frekuensi

terbangun di malam hari atau meningkatnya fragmentasi tidur karena seringnya

terbangun. Walaupun demikian, rata-rata waktu tidur total anak hampir sama

dengan dewasa muda. Ritmik sirkadian tidur-bangun anak juga sering terganggu.

Seringnya terbangun pada malam hari menyebabkan keletihan, mengantuk, dan

mudah jatuh tidur pada siang hari (Perry dan Potter, 2009)

Pada penelitian Mohammadi (2007) dengan 114 anak didapatkan 52.6%

tidurnya terganggu. Zhang (2013) di Xinhua Hospital didapatkan 71.4 % dari

19.299 anak mengalami gangguan tidur. Pada penelitian Sukoati (2012) di

Rumah Sakit Baptis Kediri didapatkan 62% anak mengalami gangguan pola

tidur. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Metodologi

kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati

(Moleong, 2002). Dengan kata lain, penelitian ini disebut penelitian kualitatif

karena merupakan penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Penelitian ini

bersifat deskriptif. Penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang tidak

dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan

tentang suatu variabel, gejala atau keadaan (Arikunto, 2010). Penelitian ini

bertujuan untuk menggambarkan pemenuhan kebutuhan tidur pada anak usia

balita yang terpasang infus. Penelitian ini, Variabel dalam penelitian ini yaitu
lingkungan ruang dan ketidaknyamana fisik anak. Jumlah sampel dalam

penelitian ini sebanyak 31 orang yang didapatkan dengan Purposive Sampling.

Tehnik analisis data yang digunakan adalah analisis cross sectional untuk

melihat presentase setiap variabel yang diolah menggunakan program SPSS.

Jumlah bisa bervariasi dalam 1 hingga 40. Tetapi karena penekanannya pada

informasi yang rinci dan kaya, maka jumlah yang besar akan menjadi masalah,

karena akan terjadi pengulangan informasi (Raco, 2010). Dalam penelitian ini,

istilah yang dipakai untuk menunjuk pada sumber data adalah partisipan.

Partisipan dalam penelitian ini sebanyak 6 orang tua dengan anak usia balita,

anak dalam kondisi sadar penuh, anak yang terpasang infus dan telah dirawat

minimal 2 hari masa perawatan, hal ini merupakan kriteria inklusi yang

ditetapkan peneliti agar peneliti dapat mengetahui gambaran pemenuhan

kebutuhan tidur anak usia balita yang terpasang infus.

Dari hasil penelitian pemenuhan kebutuhan tidur pada anak yang di

rawat dapat disimpulkan bahwa : Lingkungan ruangan diruang perawatan anak

dengan kategori kurang baik 58,1% dan kategori baik 41,9%. Anak yang dirawat

diruang perawatan anak dengan kategori tidak nyaman 54,8% dan kategori

nyaman 45,2%. Terdapat hubungan yang bermakna antara lingkungan ruangan

dengan kebutuhan tidur anak yang dirawat dengan nilai p value 0,023. Terdapat

hubungan yang bermakna antara ketidaknyamanan dengan kebutuhan tidur anak

yang dirawat dengan nilai p value 0,032.

Hasil penelitian ini disimpulkan: 1. Sebagai perbandingan antara

sebelum dan setelah masuk dari pola tidur mereka, "onset tidur" cenderung
tertunda dan waktu malam hari tidur berkurang secara signifikan. Jadi, waktu

tidur total kurang dari sebelum masuk. 2. Mengenai tidur faktor yang

mengganggu, obat (hipnotik: 37,5%), faktor fisiologis (mendengkur: 59,4%)

faktor lingkungan (bantal: 78,1%), faktor emosional (kecemasan yang

berhubungan dengan penyakit: 37,5%), dan faktor penyakit (kelelahan : 34,7%)

dilaporkan. 3. Perbedaan signifikan gender ditemukan. Pria memiliki gangguan

lebih dalam tidur daripada wanita karena kesulitan dalam jatuh tidur dan kurang

tidur malam hari. Wanita yang dikonsumsi lebih banyak tidur mendorong obat.

peningkatan yang signifikan dilaporkan dalam tidur siang selama hari dengan

bertambahnya usia. 4. Perbedaan signifikan antara pemuda yang baik dan

pemuda miskin yang ditemukan untuk variabel-variabel berikut: waktu tidur di

malam hari, total waktu tidur, waktu tidur, tidur waktu latency onset, tidur waktu

latency setelah bangun di malam hari, waktu yang dihabiskan di tempat tidur

pada gairah, faktor lingkungan, dan faktor emosional.

Gambaran pemenuhan kebutuhan tidur pada anak yang terpasang infus

dapat terlihat jelas , yaitu Durasi tidur, Kedalaman tidur, Frekuensi terbangun,

Masalah yang nampak saat tidur. tema tersebut menggambarkan bahwa : Durasi

tidur anak setelah masuk rumah sakit dan terpasang infus rata-rata mengalami

perubahan rasa nyeri saat dilakukan tindakan pemasangan infus dan kesulitan

menjalani posisi tidur yang biasa karena terpasang infus dan spalk. Kedalaman

tidur anak yang dirawat dirumah sakit dan terpasang infus tidak terpenuhi

karena rasa cemas, takut, dan perasaan terkekang karena keterbatasan mobilisasi

dibuktikan dengan sikap anak yang saat tidur kesulitan menjalani posisi tidur,
mudah terbangun ditengah malam dan saat terbangun anak selalu menangis.

Frekuensi terbangun anak makin meningkat setelah masuk rumah sakit karena

adanya perasaan takut, cemas dan trauma akibat tindakan invasif yang

menyebabkan ketidaknyamanan, dalam hal ini tindakan pemasangan infus.

Masalah yang nampak saat anak tidur yang sering terjadi saat anak masuk rumah

sakit adalah mengigau dan mengompol yang disebabkan karena perasaan takut

dan trauma yang dirasakan anak akibat tindakan pemasangan infus. Ditemukan

bahwa kuantitas dan kualitas tidur yang signifikan diubah, tapi strategi yang

memadai untuk tidur lebih baik tidak dilakukan. Penelitian lebih lanjut

diperlukan untuk mengembangkan strategi intervensi untuk mempromosikan

tidur dan untuk mencegah masalah tidur. Dengan demikian, periode yang lebih

lama dari tindak lanjut dengan pemantauan yang akurat dari durasi tidur dan

kualitas dan keseimbangan energi. Isu penting lainnya adalah jendela temporal

kerentanan metabolisme untuk kurang tidur. Sebelum pembangunan,

pengamatan bahwa dampak durasi tidur dan kualitas pada risiko mungkin lebih

besar pada anak-anak daripada orang dewasa menunjukkan bahwa upaya untuk

mendidik masyarakat mengenai efek merusak potensi pembatasan tidur pada

kesehatan jangka panjang dan kesejahteraan harus dimulai pada awal kehidupan

dan melibatkan orang tua, pendidik, dan penyedia layanan kesehatan. Sebuah

perkembangan pesat bukti menunjukkan bahwa kurang tidur parsial kronis,

perilaku yang khusus untuk spesies manusia dan tampaknya telah menjadi lebih

dan lebih umum selama beberapa dekade terakhir. Utama neuroendokrin dan

metabolik perubahan terkait dengan tidur pendek adalah peningkatan regulasi


selera makan, dengan leptin lebih rendah dan tingkat ghrelin lebih tinggi,

Mekanisme yang mendasari efek samping dari kurang tidur masih harus

diidentifikasi dan cenderung multifaktorial.

Hasil dari review kelima jurnal tersebut adalah terdapat masalah yang

terjadi pada kebutuhan tidur pada anak yang dirawat dan terpasang infus yaitu,

salah satunya faktor Lingkungan ruangan diruang perawatan anak dengan kategori

kurang baik dikatakan juga mempengaruhi kebutuhan tidur. Juga terdapat masalah

dalam faktor rasa ketidaknyamanan karena tindakan invasif seperti pemasangan

infus. Reaksi nyeri sangat erat hubungannya dengan terganggunya pemenuhan

kebutuhan istirahat khususnya pada anak (Potter & Perry, 2005), Respon anak

dengan orang dewasa dalam menerima tindakan invasif berbeda. Pada anak

tindakan invasif dapat dipersepsikan sebagai suatu ancaman, ini terkait terhadap

rasa aman yang dapat menyebabkan terjadinya kecemasan. Ancaman ini

disebabkan karena menerima pengobatan yang membuat bertambah sakit atau

nyeri. Tindakan pemasangan infus yang membuat anak merasakan kecemasan,

ketakutan dan ketidaknyamanan merupakan stresor bagi gangguan pemenuhan

istirahat tidur (Warda, 2012).

2.4 Anak usia Prasekolah


2.4.1 Pengertian Anak usia prasekolah
Anak prasekolah adalah pribadi yang mempunyai
berbagai macam potensi. Potensi-potensi itu dirangsang dan

dikembangkan agar pribadi anak tersebut berkembang

secara optimal. Tertunda atau terhambatnya pengembangan

potensi-potensi itu akan mengakibatkan timbulnya masalah.

Taman kanak-kanak adalah salah satu bentuk


pendidikan prasekolah yang menyediakan program

pendidikan dini bagi anak usia 4 tahun sampai memasuki

pendidikan dasar (Supartini, 2004).


Anak usia prasekolah adalah anak usia 3-5 tahun saat

dimana sebagian
besar sistem tubuh telah matur dan stabil serta dapat

menyesuaikan diri dengan


stres dan perubahan yang moderat. Selama periode ini

sebagian besar anak sudah


menjalani toilet training (Wong, 2008).Anak usia

prasekolah adalah anak berusia


3-6 tahun yang merupakan sosok individu, makhluk sosial

kultural yang sedang


mengalami suatu proses perkembangan yang sangat

fundamental bagi kehidupan


selanjutnya dengan memiliki sejumlah potensi dan

karakteristik tertentu
(Snowman, 2003).
Menurut Hurlock (2001), mengatakan bahwa usia

prasekolah adalah usia


3-5 tahun dan merupakan kurun yang disebut sebagai masa

keemasan (the golden


age). Di usia ini anak mengalami banyak perubahan baik

fisik dan mental, dengan karakteristik sebagai berikut,

berkembangnya konsep diri, munculnya egosentris,


rasa ingin tahu, imajinasi, belajar menimbang rasa,

munculnya kontrol internal (tubuh), belajar dari

lingkungannya, berkembangnya cara berfikir,


berkembangnya kemampuan berbahasa, dan munculnya

perilaku (Wong, 2008).


2.4.2 Ciri-ciri Anak Usia Prasekolah

Menurut Snowman (1993 dalam Patmonodewo, 2003) mengemukakan

ciri-ciri anak prasekolah (3-6 tahun) yang biasanya ada TK. Ciri-ciri yang

dikemukakan meliputi aspek fisik, sosial, emosi dan kognitif anak.

2.4.2.1. Ciri fisik anak prasekolah

a. Anak pra sekolah umumnya aktif

b. Setelah anak melakukan berbagai kegiatan, anak membutuhkan

istirahat yang cukup.

c. Otot-otot besar pada anak prasekolah lebih berkembang dari control

terhadap jari dan tangan. Jadi biasanya anak masih belum terampil

malakukan pekerjaan yang rumit, seperti mengikat tali sepatu.

d. Anak-anak masih sering mengalami kesulitan apabila hrus

memfokuskan pandangannya pada objek-objek yang kecil ukurannya,

itulah sebabnya koordinasi tangan masih kurang sempurna.

e. Walaupun tubuh anak lentur, tetapi tengkorak kepala yang

melindungi otak masih lunak (soft).

f. Walaupun anak lelaki lebih besar, anak perempuan lebih terampil

dalam tugas yang bersifat praktis, khususnya dalam tugas motorik halus,

tetapi sebaiknya jangan mengkritik anak lelaki apabila ia tidak terampil,

jauhkan dari sikap membandingkan anak lelaki-perempuan, juga dalam

kompetisi ketrampilan seperti apa yang disebut diatas.


2.4.2.2. Ciri sosial anak prasekolah

a. Umumnya anak pada tahapan ini memiliki satu atau dua sahabat,

tetapi sahabat ini cepat berganti, mereka umumnya dapat cepat

menyesuaikan diri secara social

b. Kelompok bermain cenderung kecil dan tidak terorganisasi secara

baik, oleh karena kelompok tersebut cepat berganti-ganti

c. Anak lebih mudah seringkali bermain bersebelahan dengan anak

yang lebih besar

2.4.2.3. Ciri emosional anak prasekolah

a. Anak TK cenderung mngekspreseikan emosinya dengan bebas dan

terbuka. Sikap marah sering diperlihatkan oleh anak pada usia tersebut.

b. Iri hati pada anak prasekolah sering terjadi, mereka seringkali

memperebutkan perhatian guru.

2.4.2.4. Ciri kognitif anak prasekolah

a. Anak prasekolah umumnya terampil dalam berbahasa

b. Kompetensi anak perlu dikembangkan melalui interaksi, minat,

kesempatan, mengagumi dan kasih sayang


Ainsworth dan Wittig (1972) serta Shite dan Wittig (1973) menjelaskan

cara mengembangkan agar anak dapat berkembang menjadi kompeten

dengan cara sebagai berikut:

a) Lakukan interaksi sesering mungkin dan bervariasi dengan anak.

b) Tunjukkan minat terhadap apa yang dilakukan dan dikatakan anak.

c) Berikan kesempatan kepada anak untuk meneliti dan mendapatkan

kesempatan dalam banyak hal.

d) Berikan kesempatan dan dorongan maka untuk melakukan berbagai

kegiatan secara mandiri.

e) Doronglah anak agar mau mencoba mendapatkan ketrampilan dalam

berbagai tingkah laku.

f) Tentukan batas-batas tingkah laku yang diperbolehkan oleh

lingkungannya.

g) Kagumilah apa yang dilakukan anak.

h) Sebaiknya apabila berkomunikasi dengan anak, lakukan dengan

hangat dan dengan ketulusan hati.

2.4.2.5 Tugas perkembangan anak usia pra sekolah

Pada setiap masa perkembangan individu, ada berbagai tugas perkembangan yang

harus dikuasai, adapun tugas perkembangan masa kanak-kanak menurut Carolyn

Triyon dan J. W. Lilienthal (Hildebrand, 1986 : 45) adalah sebagai berikut :

1. Berkembang menjadi pribadi yang mandiri. Anak belajar untuk

berkembang menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan dapat memenuhi


segala kebutuhannya sendiri sesuai dengan tingkat perkembangannya di

usia Taman Kanak-kanak.

2. Belajar memberi, berbagi dan memperoleh kasih sayang. Pada masa

Taman Kanak-kanak ini anak belajar untuk dapat hidup dalam lingkungan

yang lebih luas yang tidak hanya terbatas pada lingkungan keluarga saja,

dalam masa ini anak belajar untuk dapat saling memberi dan berbagi dan

belajar memperoleh kasih sayang dari sesama dalam lingkungannya.

3. Belajar bergaul dengan anak lain. Anak belajar mengembangkan

kemampuannya untuk dapat bergaul dan berinteraksi dengan anak lain

dalam lingkungan di luar lingkungan keluarga.

4. Mengembangkan pengendalian diri. Pada masa ini anak belajar untuk

bertingkah laku sesuai dengan tuntutan lingkungannya. Anak belajar untuk

mampu mengendalikan dirinya dalam berhubungan dengan orang lain. Pada

masa ini anak juga perlu menyadari bahwa apa yang dilakukannya akan

menimbulkan konsekuensi yang harus dihadapinya.

5. Belajar bermacam-macam peran orang dalam masyarakat. Anak belajar

bahwa dalam kehidupan bermasyarakat ada berbagai jenis pekerjaan yang

dapat dilakukan yang dapat menghasilkan sesuatu yang dapat memenuhi

kebutuhannya dan dapat menghasilkan jasa bagi orang lain. Contoh,

seorang dokter mengobati orang sakit, guru mengajar anak-anak di kelas,

pak polisi mengatur lalu lintas, dan lain sebagainya.

6. Belajar untuk mengenal tubuh masing-masing. Pada masa ini anak perlu

mengetahui berbagai anggota tubuhnya, apa fungsinya dan bagaimana


penggunaannya. Contoh, mulut untuk makan dan berbicara, telinga untuk

mendengar, mata untuk melihat dan sebagainya.

7. Belajar menguasai ketrampilan motorik halus dan kasar. Anak belajar

mengkoordinasikan otot-otot yang ada pada tubuhnya, baik otot kasar

maupun otot halus. Kegiatan yang memerlukan koordinasi otot kasar

diantaranya berlari, melompat, menendang, menangkap bola dan

sebagainya. Sedangkan kegiatan yang memerlukan koordinasi otot halus

adalah pekerjaan melipat, menggambar, meronce dan sebagainya.

8. Belajar mengenal lingkungan fisik dan mengendalikan. Pada masa ini

diharapkan anak mampu mengenal benda-benda yang ada di lingkungan,

dan dapat menggunakannya secara tepat. Contoh, anak belajar mengenal

ciri-ciri benda berdasarkan ukuran, bentuk, dan warnanya. Selain dari itu,

anak dapat membandingkan satu benda dengan benda lain berdasarkan ciri-

ciri yang dimiliki benda tersebut.

9. Belajar menguasai kata-kata baru untuk memahami anak/orang lain. Anak

belajar menguasai berbagai kata-kata baru baik yang berkaitan dengan

benda-benda yang ada di sekitarnya, maupun berinteraksi dengan

lingkungannya. Contoh, anak dapat menyebutkan nama suatu benda, atau

mengajak anak lain untuk bermain, dan sebagainya.

10. Mengembangkan perasaan positif dalam berhubungan dengan lingkungan.

Pada masa ini anak belajar mengembangkan perasaan kasih sayang terhadap

apa-apa yang ada dalam lingkungan, seperti pada teman sebaya, saudara,

binatang kesayangan atau pada benda-benda yang dimilikinya.


Pada masa pendidikan anak usia dini (PAUD) maupun masa taman kanak-kanak

anak akan cenderung melakukan pembelajaran seperti yang telah disebutkan

diatas. Untuk itulah sebagai pendidik anda harus bisa menyesuaikan tugas-tugas

dalam periode perkembangan anak ini, hal itu dimaksudkan agar proses

pembelajaran anak bisa berjalan efektif dan efisien.

2.7Kerangka pemikiran

Tidur
 Fisiologi Tidur Hospitalisasi
 Jenis tidur
 Manfaat Hospitalisasi
 Fungsi dan tujuan tidur  Faktor penunjang hospitalisasi
 Stressor dalam hospitalisasi
 Faktor yang mempengaruh  Dampak Hospitalisasi
kebutuhan tidur  Mengatasi dampak

 Gangguan masalah tidur hospitalisasi


(Asmadi, 2008. Supartini, 2000.

Supartini 2002)

(Guyton, 1986)
Sumber : (Guyton 1986, Asmadi 2008, Supartini 2000, Spartini 2002)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metodelogi Penelitian

3.1.1 Paradigma penelitian

Apabila seseorang melakukan penelitian, maka disadari atau tidak dia

telah memiliki cara memandang terhadap suatu obyek, masalah, atau peristiwa

yang sedang diteliti. Di dalam dirinya telah terbentuk suatu kepercayaan yang

didasarkan pada asumsi – asumsi tertentu yang menurut Guba (dalam Moleong,

2005: 48) dinamakan aksioma atau paradigma.

Tidur adalah kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh

stimulus atau sensoris yang sesuai (Guyton, 1986). Tidur memiliki ciri, yaitu

adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, dan terjadinya
penurunan respons terhadap rangsangan dari luar. Hospitalisasi merupakan suatu

proses yang karena suatu alasan yang berencana atau darurat, mengharuskan anak

untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan perawatan sampai

pemulangannya kembali ke rumah Supartini (2002).

Bagian 3.1 Kerangka Konsep

Variabel Dependent Variabel Independent

Pola Tidur Hospitalisasi

Keterangan :

Diteliti

Ada Hubungan
3.1.2 Rancangan penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan

cross sectional design yang bertujuan untuk menganalisis adanya hubungan

antar variabel dimana dalam hal ini variabel penelitian adalah pola tidur dan

hospitalisasi. Pengukuran dan pengambilan variabel dilakukan

pada satu saat yang bersamaan (Dahlan, 2010).

3.1.3 Hipotesis Penelitian

Menurut Dantes (2012:164) hipotesis adalah praduga atau asumsi yang harus diuji

melalui data atau fakta yang diperoleh melalui penelitian. Selanjutnya Dantes (2012:164)

menyatakan bahwa hipotesis merupakan penuntun bagi peneliti dalam menggali data

yang diinginkan. Sudjana (2005:219) menyatakan bahwa hipotesis adalah asumsi atau

dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut

untuk melakukan pengecekan. Selain itu, menurut Zuriah (2006:162) hipotesis

merupakan jawaban yang sifatnya sementara terhadap permasalahan yang diajukan dalam

penelitian. Lanjutnya hipotesis tersebut belum tentu benar, benar tidaknya suatu hipotesis

tergantung hasil pengujian data empiris.

3.1.4 Variabel Penelitian dan Definisi operasional


Sugiyono (2009: 38) Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang

berbentuk apasaja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga

diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya.

3.1.4.1 Variabel terikat (dependent variable)

Variabel bebas pada penelitian ini adalah pola tidur

3.4.2 Variabel bebas (independent variable)

Variabel terikat pada penelitian ini adalah hospitalisasi

3.1.4.2 Definisi operasional

Untuk memudahkan pelaksanaan penelitian dan membatasi penelitian, maka

dibuat definisi operasional sebagai berikut :

Tabel 3.1. Definisi Operasional


No Variabel Defenisi Alat Cara Ukur Hasil Ukur Skala
Ukur
1 Pola tidur Terganggunya Kuesioner Wawancara 1.Tidak adagangguan Ordinal
Ritme jadwal dengan <16 2.Ada
tidur dan bangun Orangtua gangguan>16
seseorang dalam dan
jangka waktu keluarga
tertentu sesuai pasien.
aktivitas.
Perubahan pola
tidur ini dilihat
dari segi
kualitas dan
kuantitas tidur.
Kualitas tidur
adalah nyenyak
atau tidaknya
tidur
seseorang.
Kuantitas tidur
adalah lamanya
seseorang untuk
tidur selama 24
jam (dalam satu
hari)
(Handayani,
2008;
Alawiyyah,
2009)
2 Hospitalisas Hospitalisasi Kuesioner Wawancara 1.kurangnya Ordinal
i merupakan suatu dengan kenyamanan
proses yang orangtua dan <16
karena suatu keluarga 2.Kenyamanan>16
pasien.
alasan yang
berencana atau
darurat,
mengharuskan
anak untuk
tinggal di rumah
sakit, menjalani
terapi dan
perawatan
sampai
pemulangannya
kembali ke
rumah. Supartini
(2002)
3.1.4 Populasi dan Sampel

3.1.4.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah orangtua yang memiliki anak yang di rawat

dan terpang infus. Alasannya, karena orangtua yang mendampingi anak selama

perawatan di rumah sakit yang paling dekat dengan pasien. Orangtua melihat serta

memperhatikan langsung segala tidakan anak. Sehingga dengan orangtua

mendampingi anak selama perawatan anak akan merasa nyaman dan aman serta

anak bisa memenuhi kebutuhan tidurnya dengan baik.

3.1.4.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Metode pengambilan sampel melalui non probability sampling

yang dilakukan dengan cara menetapkan anggota sampel jenuh (total sampling).

Sampel jenuh merupakan teknik pengumpulan sampel yang semua anggota

populasi digunakan sebagai sampel.

a. Kriteria Insklusi

1. Orangtua atau Keluarga yang anaknya dirawat dan terpaang infus

2. anaknya usia prasekolah

4. orangtua atau keluarga dalam keadaan Sehat

5. Bersedia menjadi subyek penelitian dengan mengisi

informed consent yang telah disediakan

b. Kriteria Eksklusi

Responden yang tidak mengisi dengan lengkap lembar kuesioner


yang telah disediakan.

c. Besar Sampel

Besar sampel dalam penelitian menurut Notoadmojo (2010)

diambil berdasarkan rumus :

Keterangan :
n = Jumlah sampel N
= Jumlah populasi
d = Tingkat kepercayaan/ketepatan (0,05)

= 153 sampel

3.1.5 Pengumpulan Data

3.1.5.1 Pada penelitian ini digunakan data primer yang didapat langsung

dari partisipan. Sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata

kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan

lain-lain (Moleong, 2010) Pada penelitian ini, teknik pengumpulan data yang

digunakan adalah wawancara yang mendalam (indepth interview) oleh peneliti

menggunakan instrumen penelitian berupa panduan wawancara


dengan melibatkan orang tua untuk mendapatkan informasi yang lengkap

dan detail mengenai gambaran pemenuhan kebutuhan tidur pada anak usia

prasekolah yang terpasang infus. Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan

data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau

pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik

pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti variabel yang akan diukur dan

tahu apa yang bisa diharapkan dari responden (Iskandar, 2008: 77).

3.1.5.2 Instrumen penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data agar pengerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik,

dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah

(Arikunto, 2013).

Instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

1. Pola Tidur Pada Anak Usia Prasekolah


2. Ketidaknyamanan Hospitalisasi Pada Anak Usia Prasekolah
3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian
Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

quisioner/angket adalah formulir-formulir yang berisikan pertanyaan-

pertanyaan, maka angket sering disebut questionaiere (Notoatmodjo,

2007).

3.1.6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrument Penelitian

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kehandalan dan

kesahihan suatu instrumen (Arikunto, 2010). Instrumen yang valid berarti alat

ukur yang digunakan untuk mendapatkan data itu valid. Valid berarti instrumen

tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur (Sugiyono.
2012). Alat untuk mengukur validitas adalah dengan rumus (Arikunto, 2010)

yaitu:

rxy = korelasi antara variabel

X = skor butir

Y = skor total

N = jumlah responden

Sugiyono (2012) mengemukakan bahwa: “Untuk mengetahui valid tidak suatu

instrumen penelitian, bila harga korelasi setiap item instrumen di bawah 0.30,

maka dapat disimpulkan bahwa butir instrumen tersebut tidak valid, sehingga

harus diperbaiki atau dibuang.”

Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk

digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik

(Arikunto, 2010). Instrumen yang baik tidak akan bersifat tendensius atau

mengarahkan responden untuk memilih jawaban-jawaban tertentu. Instrumen

yang sudah dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang dapat

dipercaya. Instrumen yang reliabel mengandung arti bahwa instrumen tersebut

harus baik sehingga mampu mengungkap data yang bisa dipercaya. Alat untuk

mengukur reliabilitas adalah Alpha Cronbach. Langkah-langkah mencari nilai

reliabilitas dengan metode Alpha sebagai berikut (Riduwan, 2011) :

Dimana:

rij = Nilai relibailitas

k = Jumlah Item

ΣSi = Jumlah varians skor tiap-tiap item

St = Varians total
Untuk mengetahui suatu instrumen dinyatakan reliabilitas, menurut Sugiyono

(2012) mengemukakan bahwa : “Suatu instrumen dinyatakan reliabel, bila

koefisien reliabilitas minimal 0.60”. Berdasarkan pendapat tersebut, maka dapat

diketahui bahwa suatu instrumen dinyatakan reliabel jika nilai Alpha ≥ 0.60,

sedangkan suatu instrumen dinyatakan tidak reliabel jika nilai Alpha < 0.60.

3.1.6 Prosedur Penelitian

3.1.6.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan penelitian pertama kali peneliti mengurus surat perizinan

dari institusi pendidikan untuk melakukan studi pendahuluan ditempat yang akan

dilakukan penelitian.

3.1.6.2 Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan dilakukan dengan cara mengumpulkan data, sebelumnya

penelti menjelaskan kepada responden maksud dan tujuan penelitian ini

kemudian dilakukan pengumpulan data dengan memberikan kuisioner kepada

responden yang telah ditentukan sebagai sampel.

3.1.6.3 Tahap Akhir

Pada tahap akhir penelitian, peneliti menyusun hasil laporan penelitian setelah

penelitian disetujui kemudian diadakan presentasi.

3.1.7 Pengolahan dan Analis Data

Kuesioner yang telah diisi oleh responden, dalam hal ini adalah seluruh

Perawat, dikumpulkan kemudian di periksa kelengkapannya, di entry

dan diolah dengan sistem komputerisasi dengan tahap-tahap sebagai

berikut :
a. Editing, yaitu kegiatan untuk melihat dan memeriksa kelengakapan

dan ketepatan data, jelasnya jawaban yang ada di kuesioner, serta

relevan dan konsisten.

b. Coding, yaitu kegiatan untuk mengkode jawaban huruf ke dalam

bentuk angka.

c. Processing, yaitu kegiatan untuk memproses data yang dilakukan

dengan cara melakukan entry data dari kuesioner ke program

computer.

d. Cleaning, yaitu kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di

entry, apakah ada kesalahan atau tidak.

e. Manajemen data, yaitu proses memanipulasi atau merubah bentuk

data.

f. Analisis data, yaitu proses pengolahan data serta menyusun hasil

yang akan dilaporkan.

3.1.7 Analisa Univariat

Penelitian analisis univariate adalah analisa yang dilakukan menganalisis tiap

variabel dari hasil penelitian (Notoadmodjo, 2005 : 188). Analisa univariat

berfungsi untuk meringkas kumpulan data hasil pengukuran sedemikian rupa

sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang berguna.

peringkasan tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik. Analisa univariat

dilakukan masing–masing variabel yang diteliti.

3.1.8 Bivariat

analisis secara simultan dari dua variabel. Hal ini biasanya dilakukan untuk

melihat apakah satu variabel, seperti jenis kelamin, adalah terkait dengan
variabel lain, mungkin sikap terhadap pria maupun wanita kesetaraan. Analisis

bivariate terdiri atas metode-metode statistik inferensial yang digunakan untuk

menganalisis data dua variabel penelitian. Penelitian terhadap dua variabel

biasanya mempunyai tujuan untuk mendiskripsikan distribusi data, meguji

perbedaan dan mengukur hubungan antara dua variabel yang diteliti.

3.1.9 Etika Penelitian

Etika mencakup norma untuk berperilaku, memisahkan apa yang seharusnya


dilakukan dan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Rangkuman Etika
Penelitian meliputi butir-butir berikut:

 Kejujuran

Jujur dalam pengumpulan bahan pustaka, pengumpulan data, pelaksanaan


metode dan prosedur penelitian, publikasi hasil. Jujur pada kekurangan atau
kegagalan metode yang dilakukan. Hargai rekan peneliti, jangan mengklaim
pekerjaan yang bukan pekerjaan Anda sebagai pekerjaan Anda.

 Obyektivitas

Upayakan minimalisasi kesalahan/bias dalam rancangan percobaan,


analisis dan interpretasi data, penilaian ahli/rekan peneliti, keputusan pribadi,
pengaruh pemberi
dana/sponsor penelitian.

 Integritas

Tepati selalu janji dan perjanjian; lakukan penelitian dengan tulis, upayakan
selalu menjaga konsistensi pikiran dan perbuatan

 Ketelitian

Berlaku teliti dan hindari kesalahan karena ketidakpedulian; secara teratur


catat pekerjaan yang Anda dan rekan anda kerjakan, misalnya kapan dan di
mana pengumpulan data dilakukan. Catat juga alamat korespondensi responden,
jurnal atau agen publikasi lainnya.
 Keterbukaan

Secara terbuka, saling berbagi data, hasil, ide, alat dan sumber daya
penelitian. Terbuka terhadap kritik dan ide-ide baru.

 Penghargaan terhadap Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)

Perhatikan paten, copyrights, dan bentuk hak-hal intelektual lainnya.


Jangan gunakan data, metode, atau hasil yang belum dipublikasi tanpa ijin
penelitinya. Tuliskan nara sumber semua yang memberikan kontribusi pada riset
Anda. Jangan pernah melakukan plagiasi..

 Penghargaan terhadap Kerahasiaan (Responden)

Bila penelitian menyangkut data pribadi, kesehatan, catatan kriminal atau


data lain yang oleh responden dianggap sebagai rahasia, maka peneliti harus
menjaga kerahasiaan data tersebut.

 Publikasi yang terpercaya

Hindari mempublikasikan penelitian yang sama berulang-ulang ke


pelbagai media (jurnal, seminar).

 Pembinaan yang konstruktif

Bantu membimbing, memberi arahan dan masukan bagi


mahasiswa/peneliti pemula.Perkenankan mereka mengembangkan ide mereka
menjadi penelitian yang berkualits.

 Penghargaan terhadap Kolega/Rekan Kerja

Hargai dan perlakukan rekan penelitian Anda dengan semestinya. Bila


penelitian dilakukan oleh suatu tim akan dipublikasikan, maka peneliti dengan
kontribusi terbesar ditetapkan sebagai penulis pertama (first author), sedangkan
yang lain menjadi penulis kedua (co-author(s)). Urutan menunjukkan besarnya
ontribusi anggota tim dalam penelitian.

 Tanggung Jawab Sosial


Upayakan penelitian Anda berguna demi kemaslahan masyarakat,
meningkatkan taraf hidup, mudahkan kehidupan dan meringankan beban hidup
masyarakat. Anda juga bertanggung jawab melakukan pendampingan nagi
masyarakat yang ingin mengaplikasikan hasil penelitian Anda

 Tidak melakukan Diskriminasi

Hindari melakukan pembedaan perlakuan pada rekan kerja atau mahasiswa


karena alasan jenis elamin, ras, suku, dan faktor-faktor lain yang sama sekali tidak
ada hubungannya dengan kompetensi dan integritas ilmiah.

 Kompetensi

Tingkatkan kemampuan dan keahlian meneliti melalui pendidikan dan


pembelajaran seumur hidup; secara bertahap tingkatkan kompetensi Anda sampai
taraf Pakar.

 Legalitas

Pahami dan patuhi peraturan institusional dan kebijakan pemeintah yang


terkait dengan penelitian Anda.

 Rancang pengujian dengan hewan percobaan dengan baik

Bila penelitian memerlukan hewan percobaan, maka percobaan harus


dirancang sebaik mungkin, tidak dengan gegabah melakukan sembarang
perlakuan pada hewan percobaan.

 Mengutamakan keselamatan Manusia

Bila harus mengunakan manusia untuk menguji penelitian, maka penelitian


harus dirancang dengan teliti, efek negatif harus diminimalkan, manfaat
dimaksimalkan; hormati harkat kemanusiaan, privasi dan hak obyek penelitian
Anda tersebut; siapkan pencegahan dan pengobatan bila sampel Anda menderita
efek egatif penelitian.

3.8 Lokasi dan Waktu Pelaksanaan


3.8.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di Puskesmas Tanjungsari Kecamatan


Tanjungsari Kabupaten Sumedang

3.8.2 Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dimulai dengan studi awal penelitian pada bulan april – juni
2017.