Anda di halaman 1dari 37

KATA PENGANTAR

Syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat dan
Hidayahnya, sehingga kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT)
Kopi di Desa Patong Loang Kecamatan Baroko dan Desa Buntu Sarong Kecamatan
Masalle Kabupaten Enrekang tahun 2017 dengan sumber dana dan DIPA Tugas per
Bantuan sektor Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan telah selesai dalaksanakan.

Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 21 bulan Maret sampai dengan tanggal 14
bulan Juli 2017 dengan tujuan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani
kopi dalam hal pengetahuan OPT pada khususnya dan berusaha tani yang lebih efektif
dan efisien serta berkelanjutan.

Pada kesempatan ini kami mangucapkan banyak terimaksih dengan penghargaan


yang setinggi – tingginya :

1. Bapak Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan arahan dan petunjuk
dalam pelaksanaan kegiatan ini
2. Bapak Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Enrekang bersama Staf atas kerja
samanya sehingga kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik
3. Kepala UPT Proteksi Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan sebagai
pelaksana kegiatan
4. Para Pemandu Lapang yang menjadai pendamping para petani selama kegiatan
SL-PHT ini dilaksanakan
5. Para petani peserta SL-PHT Kopi Desa Patong Loang Kecamatan Baroko dan
peserta SL-PHT Kopi Desa Buntu Sarong Kecamatan Masalle Kabupaten
Enrekang serta semua pihak yang telah membantu serta kerja sama dan
partisipasinya mulai dari persiapan hingga kegiatan ini selesai dilaksanakan
Disadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, semoga laporan ini
bermanfaat dan dapat dinilai ibadah, Aamiin.
Makassar, September 2017
Pelaksana Kegiatan
Kepala UPT Proteksi

Ir. Hj. Yayuk Sujilah


Nip : 19610114 18903 2 001

I. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Produktivitas kopi akhir–akhir ini sangat rendah, ini diakibatkan tanaman sudah tua
juga disebabkan oleh gangguan serangan OPT serta secara tekhnis yang kurang
dipahami oleh terutama petani kopi.

Petani saat ini membudidayakan tanamannya masih banyak menggunakan


dengan cara konvensional atau menurut kebiasaan mereka dengan mengandalkan
pengguna pestisida kimia. Hal ini tidak akan bisa menyelesaikan suatu permasalahan.
Justru akan menjadi permasalahan baru dengan timbulnya resistensi dan resurgensi
bagi hama.

Oleh karena itu, diperkenalkan cara baru, atau metode konsep Pengendalian
Hama Terpadu (PHT) yang merupakan cara pendekatan tentang pengelolaan
tanaman yang sehat serta Pengendalian OPT dengan menggunakan dasar
pertimbangan ekologi dan efisien ekonomi dalam pengelolaan Agroekosistem yang
dinamis. Penerapan teknologi PHT bagi petani haruslah secara ekonomis dalam hal
penerapan secara sosial tidak bertentangan dengan masyarakat petani, dan secara
implementasi ramah terhadap lingkungan.

Penerapan teknologi PHT pada tanaman kopi bertujuan untuk


meningkatkan produktivitas kopi, pendapatan dan kesejahteraan khususnya petani
kopi, sekaligus dapat menjaga kualitas dan keseimbangan lingkungan dalam upaya
melanjutkan pembangunan yang berkelanjutan dengan tetap berpedoman pada 4
(empat) prinsip PHT :

1. Budidaya Tanaman Sehat


2. Pengamatan Mingguan
3. Melestarikan Musuh Alami
4. Petani Menjadi ahli PHT

Saat ini berbagai rekomendasi untuk petani kopi tentang cara budidaya
sangatlah beragam sejalan dengan arus transformasi yang dapat diterima oleh petani
bahkan petani tidak lagi berpedoman pada rekomendasi yang sudah ada. Tetapi
dengan seksama melihat pengalaman petani di lapangan sesuai dengan keadaan
lapangan dan kondisi setempat penerapan PHT kopi semakin banyak dari berbagai
pihak dengan beragam tuntutan terutama konsumen tidak akan menggunakan
pestisida kimia namun yang diandalkan adalah musuh alami serta agensi hayati
dalam teknologi budidaya tanaman sehat dengan memperbaiki kondisi ekosistem
lingkungan tanaman kopi dengan dilakukan SL-PHT. Diharapkan tumbuh
keyakinan dalam diri peserta akan keunggulan penerapan teknologi PHT dengan
metode konvensional, selain dengan itu petani diharapkan dapat mengungkap
bagaiman keadaan agroekositem sebenarnya melalui perbandingan PHT dan
Perlakuan Petani (PP).

2. TUJUAN
- Tujuan Kegiatan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SL-PHT) yaitu
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani terutama bidang
perlindungan tanaman kopi, sehingga nantinya diharapkan menerapkan sistem
PHT serta dapat menjadi manajer dikebunnya sendiri, sehingga dapat
meningkatkan pendapatannya.
- Menjaga kualitas keseimbangan lingkungan dalam upaya mewujudkan
pembagunan petani berkelanjutan.

3. SASARAN
- Peserta mempunyai keyakinan akan keunggulan penerapan teknologi PHT bila
dibandingkan dengan cara konvensional yang bisa mereka lakukan.
- Diharapkan dapat mengungkapkan agroekosistem yang sebenarnya baik yang
dikelola secara PHT maupun kebiasaan yang dilakukan Petani (PP).
- Dapat mengetahui/menganalisa pengembangan OPT, musuh alami, keadaan
agronomi untuk dijadikan pedoman dalam mengambil tindakan sesuai saat itu
juga.
- Populasi dan kerusakan oleh hama tetap berada pada tingkat yang ekonomis
(tidak merugikan) secara penerapan dan pengendalian yang ramah lingkungan
dan secara implementasi dalam hal tindakan membahayakan terhadap
penggunanya.
II. PELAKSANAAN

1. WAKTU DAN TEMPAT

Penentuan lokasi dilakukan pada bulan Februari 2017 sedangkan


pemantapan lokasi dilakukan pada bulan Maret 2017 dengan melihat keadaan dan
tofografi areal tanaman kopi di Desa Patong Loang Kecamatan Baroko dan tanaman
kopi di Desa Buntu Sarong Kecamatan Masalle sangat cocok dan potensial dan salah
satu lokasi yang punya areal pertanaman kopi yang cukup luas di Kabupaten
Enrekang.
Jarak dari Ibu Kota Kabupaten ke Desa Patong Loang Kecamatan Baroko
± 40 km arah utara dari Ibu Kota Kabupaten dengan ketinggian antara 500 – 650 m
diatas permukaan air laut. Begitu juga Desa Buntu Sarong kecamatan Masalle jarak
± 50 km arah utara dari Ibu Kota Kabupaten dengan ketinggian antara
1000 – 1200 m diatas permukaan laut. Waktu pelaksanaan SL-PHT dilaksanakan
pada bulan Maret sampai dengan Juli 2017 selama 16 kali pertemuan dengan interval
pertemuan 1 kali dalam 1 minggu di kelompok tani Kombang Bura II Desa Patong
Loang Kecamata Baroko dan begitu juga di kelompok tani Mammesa I Desa Buntu
Sarong Kecamatan Masalle Kabupaten Enrekang.
Dari hasil survey awal atau peninjauan lokasi serta dilakukan wawancara
beberapa petani muenunjukkan bahwa kebiasaan mereka dalam melakukan usaha
bertanam kopi, pengendalian OPT masih mengandalkan kimia. Pemupukan dilakukan
hanya 1 kali dalam setahun, kadang – kadang tidak melakukan pemupukan sama
sekali. Dalam pemupukan hanya satu jenis pupuk yang dipakai yaitu UREA itupun
hanya dihambur disekitar tanaman. Dalam hal pemangkasan jarang dilakukan,
mereka berpendapat bahwa banyak cabang/ranting banyak buah.
Begitu pula dalam hal OPT mereka belum bisa membedakan hama dan
musuh alami. Mereka menganggap bahwa semua serangga yang ada di kebun adalah
hama yang merugikan dan perlu dibasmi, oleh karena itu melalui SL-PHT ini
diharapkan sudah dapat mengelola pertanaman kopinya dengan baik serta
pengendalian secara kimia dengan cara ijaksana

2. PESERTA
- Peserta SL-PHT kopi ditingkat petani :
- Kelompok tani Kombang Bura II Desa Patong Loang Kecamatan Baroko
sebanyak 25 orang peserta, peserta laki-laki 17 orang dan perempuan 8
orang. Latar pendidikan yang berbeda-beda dimulai dari tidak mengenyam
pendidikan 3 orang, pendidikan dasar atau SD 7 orang, setingkat SMP 10
orang, SMA/SLTA 5 orang. Umur peserta terendah 25 tahun dan umur
peserta teratas berumur 60 tahun.
- Kelompok tani Mammesa I Desa Buntu Sarong Kecamatan Masalle
sebanyak 25 orang peserta, peserta laki-laki 18 orang dan perempuan 7
orang. Latar pendidikan yang berbeda-beda juga dimulai dari tidak pernah
mengenyam pendidikan 4 orang, pendidikan dasar atau SD 7 orang,
setingkat SMP 8 orang, SMA/SLTA 6 orang. Umur peserta terendah 25
tahun dan umur peserta teratas berumur 60 tahun.

3. PEMANDU/ NARASUMBER
Pelaksanaan kegiatan SL-PHT kopi dipandu/dibimbing 2 orang pemandu
lapangan yang berasal dari Provinsi 2 orang. Tingkat pendididkan formal pemandu
terdiri dari masing-masing Pendidikan S 1 Pertanian dan SLTA.

Nara sumber yang terlibat dalam kegiatan SL-PHT kopi sebanyak 2 orang yang
terdiridari Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Selatan 1 orang serta dari Dinas
Pertanian Kabupaten Enrekang 1 orang (Kadis)

4. METODE
Meteode pelaksanaan kegiatan SL-PHT ini yaitu membandingkan dua (2)
perlaukan uakni PP (Perlakuan Petani) yang umum dilakukan oleh petani dan
peralakuan PHT (Pengendalian Hama Terpadu) masing-masing perlakuan
ditempatkan 10 pohon sampel yang nantinya sebagai sampel pengamatan yang
dilakukan secara rutin tiap minggu. Di dalam kelompok terdiri dari 25 orang dibagi

lagi kelompok kecil yang terdiri dari 5 orang menjadi 5 kelompok kecil. 3 kelompok
kecil bagian Plot PHT dan 2 kelompok kecil pada Plot PP (Pwerlakuan Petani).
Plot Perlakuan Petani (PP) meliputi yang bedasarkan data base yang
diperoleh langsung dari peserta pemilik kelompok. Kegiatan yang dilakukan di
kebunnya adalah sebagai berikut :
a. Pemupukan hanya 1 kali dalam setahun dengan menggunakan 1 jenis
pupuk. Yaitu UREA/Za dengan cara hambur.
b. Pemankasan jarang dilakukan, mereka berpendapat bahwa banyak
cabang/ranting banyak juga buah.
c. Pengendalian hama dilakukan begitu lihat serangga langsung semprot.
d. Sanitasi kebun tidak pernah dilakukan.
e. Pemetikan buah dilakukan 1 kali sebulan
f. Pengeringan begitu habis panen langsung jemur.
g. Kulit buah dibiarkan begitu saja.
h. Pengamata tidak pernah mereka lakukan.

Plot PHT (Pengendalian hama terpadu) meliputi :

a. Pemangkasan dilakukan secara rutin. Pemangkasa berat dilakukan akhir


musim hujan
b. Cabang/tunas air/wiwilan tidak dibiarakan tumbuh.
c. Pemupukan dilakukan berdasarkan dosis yang terlebih dahulu dilakukan
eksperimen/beberapa percobaan perlakuan dosis pemupukan.
d. Pengendalian Hama Penyakit berdasarkan hasil pengamatan dan analisa
agroekosistem yang dilakukan tiap minggu.
e. Aplikasi penggunaan pupuk kompos
f. Aplikasi penggunaan pestisida nabati
g. Aplikasi penggunaan agens hayati/petroganik
h. Pemupukan menggunakan pupuk majemuk yaitu N. P. K.
i. Cara pemupukan yaitu dengan cara dibenamkan disekitar pohon kopi.
j. Panen dilakukan tiap minggu
k. Sanitasi kebun dilakukan menjelang musim hujan.
l. Fermentasi dilakukan 6 hari setelah panen.

5. PARAMETER YANG DIAMATI YAITU


1. Hama :
a. Penggerek Buah Kopi (PBK) ada tidak
b. Kutu Putih ada tidak
c. Kutu Hijau ada tidak
d. Penggerek Cabang ada tidak
e. Kutu Lamtoro ada tidak
2. Penyakit :
a. Bercak Buah ada tidak
b. Jamur Upas ada tidak
c. Karat daun ada tidak
d. Embun Jelaga ada tidak
3. Musuh Alami
a. Semut Hitam (populasi pohon)
b. Semut Angrang (populasi pohon)
c. Laba-laba (populasi pohon)
4. Agronomi
a. Jumlah Dompolan Bunga (populasi pohon)
b. Jumlah Bunga (populasi pohon)
c. Jumlah Buah (populasi pohon)
5. Jumlah Buah Panen
- Buah sehat
- Buah terserang PBKo %
- Intensitas serangan hama PBKo %
- Buah terserang Busuk Buah %
- Berat Biji Basah (kg)
- Berat Biji Kering (kg)
6. Keadaan Lingkungan
a. Cuaca (cerah/mendung/hujan)
b. Drainase(baik/jelek)
c. Topografi (datar/miring/landau)
d. Gulma (bersih/tidak)

6. BAHAN DAN ALAT


 Bahan
- Kebun kopi seluas 0,5 Ha dengan jumlah populasi 500 pohon sebagai sarana
belajar.
- Pupuk NPK
- Pestisida Nabati, daun serikaya, cembi gadung, serEM4, seledri, gula
merah,buah maja dan baterai.
- Pupuk kompos (daun-daun kopi, kulit buah kopi)
- Bo
- Kompos, pakan inkan, urea, gula merah, fermifan
- Komops daun kopi, kompos kotoran ternak.

 Alat
- Cangkul - Keranjang rotan - Tripleks
- Parang - Timbangan - Blangko pengamatan
- Linggis - Carpenter - Spidol
- Gunting pangkas - Hand sprayer - Kertas Koran
- Ember - Karung

7. LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN
1. Mendesain lahan/lokasi
a. Luas lahan/lokasi tempat praktek seluas 0,50 Ha dengan populasi tanam ± 500
pohon.
b. Melakukan perhitungan/sensus tanaman sekaligus memetakan.
c. Loaksi/lahan dibagi menjadi 2 bagian Plot PHT dengan jumlah pupolasi
tanaman 300 pohon serta Plot PP dengan populasi tanaman 200 pohon.
d. Kemudian lahan PHT dibagi lagi menjadi 3 bgian dengan julah masing-
masing100 pohon. Sedangkan Plot PP dibagi menjadi 2 bagian yang terdiri
dari masing-masing 100 pohon.
e. Menentukan pohon sampel dalam 100 tanaman, diambil 10 pohon sekaligus
sebagai sampel untuk mewakili 100 pohon dan tempat pengamatan tetap yang
diamati setiap minggu dan diberi label tiap pohon sampel.
2. Melakukan pengamatan sesuai parameter yang telah ditentukan sekali dalam
seminggu.
3. Menggambar dan mempersentasikan analisa agroekosistem
4. Tiap selesai proses belajar pada hari pertemuan dilanjutkan guna melakukan
tindakan didalam PHT sesuai hasil diskusi pada hari itu atau sesuai hasil
kesimpulan.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil pengamatan hama pada petak PHT dan PP selama 16 kali pertemuan
adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Pengamatan Hama Kopi di Desa Patong Loang Kecamatan Baroko

Pengamatan PBKo Kutu putih Kutu hijau Penggerek Nematoda Kutu lamtoro
cabang parasite
PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
I 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

II 1,30 1,20 1,60 1,50 1,50 1,70 1.00 1,20 0 0 2.20 2,40

III 1,10 1,30 1,40 1,60 1,30 1,40 0,80 1,10 0 0 1,80 2,20

IV 0,90 1,10 1,50 1,60 1,90 2,10 0,90 1,00 0 0 1,90 2,10

V 1,20 1,30 1,70 1,80 1,70 1,90 0,50 1,80 0 0 2,30 2,40

VI 1,40 1,50 1,40 1,50 1,60 0,70 0,10 0,60 0 0 0,70 2,30

VII 1,00 1,10 1,10 1,30 1,30 0,40 0 0,30 0 0 0,60 1,80

VIII 0,80 0,90 0,80 1,10 0,80 0,90 0 0,40 0 0 0,40 1,60

IX 0,50 0,80 0,60 0,90 0,60 0,65 0 0,50 0 0 0,10 1,40

X 0,30 0,40 0,50 0,70 0,50 0,70 0,20 0,60 0 0 0 0,90

XI 0,70 0,80 0,70 0,90 0,30 0,50 0,30 0.40 0 0 0 0,80

XII 0,40 0,60 0,60 0,70 0,60 0,80 0,10 0,20 0 0 0 0,30

XIII 0,20 0,40 0,30 0,60 0,30 0,40 0 0,30 0 0 0 0,40

XIV 0,10 0,30 0,20 0,40 0,20 0,30 0 0,50 0 0 0 0,50

XV 0,05 0,20 0,30 0,30 0,10 0,15 0 0,30 0 0 0 0,20

XVI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
 Hama
- Perbandingan serangan hama PBKo dilahan PHT dan PP. Dilahan PHT
ditemukan serangan tertinggi didapatkan pada pengamatan IV yaitu rata-
rata 1,40. Sedangakan serangan terendah ditemukan pada pengamatan XV
yaitu rata-rata 0,05. Sedangkan di lahan PP serangan tertinggi ditemukan
pada pengamatan minggu V yaitu rata-rata 1,50 dan serangan terendah
ditemukan pada pengamatan minggu XV dengan rata-rata 0,20. Rendahnya
serangan hama PBKo pada plot PHT disebabkan dilakukan beberapa
perlakuan antara lain pemangkasan, pemupukan dan pengendalian dengan
menggunakan pestisida nabati. Perbandingan serangan hama PBKo antara
PHT dan PP dapat dilihat pada grafik 1 sebagai berikut :
Garfik 1. Perbanidingan PHT dan PP terhadap hama PBKo

1.6

1.4

1.2

0.8 PHT
PP
0.6

0.4

0.2

0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI
 Kutu Putih
- Sesuai hasil pengamatan dari pertemuan setiap minggunya bahwa hama
kutu putih di lahan PHT populasi tertinggi ditemukan pada pengamatan
minggu V dengan rata-rata 1,70 sedangkan populasi terendah ditemukan
pada pengamatan minggu XIV dengan rata-rata 0,20. Sedangkan di lahan
PP populasi tertinggi ditemukan pada pengamatan minggu V dengan rata-
rata 1,80 dan populasi terendah ditemukan pada pengamatan V dengan rata-
rata 0,30.
- Rendahnya serangan hama kutu putih di lahan PHT bila dibandingkan di
lahan PP,karena di lahan PHT dilakukan beberapa perlakuan antara lain
pemangkasan, pemupukan, sanitasi, pengendalian dengan menggunakan
pestisida nabati. Perbandingan populasi hama Kutu Putih anrata Plot PHT
dan PP dapat di lihat pada grafik 2.
Garafik 2. Perbandingan PHT dan PP terhadap Hama Kutu Putih

Chart Title
2
1.8
1.6
1.4
1.2
1
0.8
0.6
0.4
0.2
0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI

PHT Series 2

 Hama Kutu Haijau


- Hama Kutu Hajau pada Lahan PHT tertinggi ditemukan pada minggu III
yaitu rata-rata 1,90, sedangkan terendah ditemukan pada minggu XV yaitu
0,10. Sementara di lahan PP serangan tertinggi ditemukan pada minggu III
dengan rata-rata 2,10, sedangkan serangan terendah ditemukan pada
minggu XV dengan rata-rata 0,01.
- Rendahnya serangan hama Kutu Hajau pada lahan
- PHT karena akan diterapkan beberap teknologi misalnya pemangkasan,
pemupukan, pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida nabati.
Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada gambar hrafik 3 sebagai berikut :

Grafik 3. Perbandingan PHT dan PP terhadap hama Kutu Hijau


1.6

1.4

1.2

0.8 PHT
PP
0.6

0.4

0.2

0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI

 Penggerek Cabang
- Pengegrek cabang di lahan PHT ditemukan serangan tertinggi
dipengamatan minggu II dengan rata-rata 1,00 sedangkan serangan terendah
ditemukan pada pengamatan minggu IV dan XII dengan rata-rata 0,10.
Sedangkan di lahan PP serangan terendah ditemukan pada pengamatan
minggu XII dengan rata-rata 0,20, serangan tertinggi ditemukan pada
pengamatan mingu V dengan populasi rata-rata 1,80. Rendahnya serangan
hama penggerek cabang pada lahan PHT debanding dengan PP karena di
lahan PHT diterapkan beberapa kegiatan misalnya : pemangkasan,
pemupukan sesuai petunjuk, pengendalian OPT dengan menggunakan
pestisida nabati. Untuk lebih jelas dapat dilihat gambar grafik 4 sebagai
berikut :
Garafik 4. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penggerek Cabang
1.4

1.2

0.8
PHT
0.6 PP

0.4

0.2

0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI

 Hama Kutu Lamtoro


- Kutu Lamtoro pada lahan PHT ditemukan serangan selama pengamatan
yaitu sebanyak 6 kali yakni pengamatan II sampai dengan pengamatan IX.
Serangan tertinggi ditemukan pada pengamatan II dengan rata-rata populasi
2,20, sedangkan serangan terendah ditemukan pada pengamatan IX dengan
rata-rata 0,20. Di lahan PP serangan tertinggi didapatkan pada pengamatan
II dengan rata-rata 2,40, serangan terendah didapatkan pada pengamatan
XV dengan rata-rata 0,20. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 5
sebagai berikut :
Grafi 5. Perbandingan PHT dan PP terhadap Hama Kutu Lamtoro
3

2.5

1.5

0.5

0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI

PHT PP
Tabel 2. Pengamatan Penyakit
Pengamatan Bercak Buah Jamur Upas Karat Daun Embun Jalaga
PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP
1 2 3 4 5 6 7 8 9
I 0 0 0 0 0 0 0 0

II 3,50 3,70 0,80 1,20 0,70 1,10 0 0

III 3,60 3,80 0,70 1,10 0,85 0,90 0 02,80

IV 2,80 3,60 0,50 0,90 0,40 0,80 0,30 0,50

V 2,60 3,40 0,60 1,30 0,30 0,60 0 0,40

VI 3,10 3,50 0,40 1,00 0,15 0,30 0 0

VII 2,50 3,40 0,30 0,80 0,70 0,40 0 0

VIII 1,70 2,70 0,10 0,60 0,90 0,50 0,05 0,08

IX 1,50 2,50 0 0,50 0,70 0,90 0.08 0,10

X 2,10 2,30 0 0,70 0,50 0,60 0,30 0

XI 1,30 1,90 0 0 0,40 0,60 0,70 0 0

XII 0,60 1,5- 0 0,30 0,40 0,60 0 0

XIII 0 0 0 0,50 0,60 0,70 0 0

XIV 0 0 0 0,30 0,50 0,50 0 0

XV 0 0 0 0,20 0,20 0,50 0 0

XVI 0 0 0 0 0 0 0 0

 Penyakit
- Bercak Buah
Dilahan PHT serangan tertinggi ditemukan pada prngamatan
minggu II dengan populasi rata-rata 3,60 sedangkan serangan rendah
ditemukan pada pengamatan XII yaitu 0,60. Di Lahan PP serangan tertinggi
ditemukan pada pengamatan II dengan populasi rata-rata- 3,80 sedangkan
serangan rendah didapatkan pada pengamatan minggu XII yaitu populasi
rata-rata 1,50. Rendahnya serangan Bercak Buah di lahan PHT bila
dibandingkan dengan di Lahan PP, di Lahan PHT diterapkan beberapa
perlakuan antara lain pemupukan, pemangkasan dan pengendalian OPT
dengan pestisida nabati.

Garafik 6. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Bercak Buah

4.5

3.5

2.5

1.5

0.5

0
I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII XIII XIV XV XVI

PHT PP

- Jamur Upas
Dari hasil pengamatan Penyakit Jamur Upas pada lahan PHT hanya
ditemukan pada minggu II sampai dengan pengamatan VIII. Mungkin ini
disebabkan karena diadaka pengendalian dengan menggunakan pestisida
nabati yaitu buah maja yang dicampur dengan arang batteray mati serta
dilakukan dengan pemotongan cabang/ranting. Yang terserang populasi
tertinggi ditemukan pada pengamatan IIdengan rata-rata 0,80 sedangkan
terendah ditemukan pada minggu VIII dengan rata-rata 0,10. Di lahan PP
serangan tertinggi ditemukan pada pengamtan V dengan rat-rata populasi
1,30 dan terendah didapatkan pada pengamatan XV dengan populasi rata-
rata 0,20. Tingginya serangan Jamur Upas di lahan PP disebabkan tidak
pernah dilakukan seperti pemangkasan, pemupukan dll. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada grafik 7 sebagai berikut :

Garafik 7. Perbandingan PHT dan PP terhadap penyakit Jamur Upas


Chart Title
5
4.5
4
3.5
3
2.5
2
1.5
1
0.5
0
Category 1 Category 2 Category 3 Category 4

Series 1 Series 2

- Penyakit Karat Daun


Perkebangan serangan penyakit karat daun dilakukan PHT dari awal
pengamatan sampai dengan terakhir pengamatan mengalami fluktuasi
begitu pula di lahan PP. Di lahan PHT populasi tertinggi ditemukan pada
minggu VIII dengan rata-rata 0,90 danterendah ditemuka pada pengamatan
XV dengan populasi rata-rata 0,20. Sedangkan di lahan PP serangan
tertinggi ditemukan pada pengamatan II dengan populasi rata-rata 1,10
sedangkan serangan terendah ditemukan pada pengamatan VI yaitu populasi
rata-rata 0,30. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 8 sebagai
berikut :

Garafik 8. Perbandingan PHT dan PP terhadap penyakit Karat daun

- Embun Jelaga.
Perkembangan penyakit embun jelaga di lahan PHT ditemukan pada
pengamatan IV, VIII, IX dan X, populasi tertinggi didapatkan pada
pengamatan X dengan rata-rata 0,30 dan terendah pada pengamatan VIII
dengan rata-rata 0,05. Di Lahan PP populasi tertinggi ditemukan pada
pengamatan V dengan rata-rata popualsi 0,40 dan terendah didapatkan pada
pengamatan VIII dengan populasi rata-rata 0,08. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada garafik 9 sebagai berikut.
Grafik 9. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Embun Jelaga

Tabel 3. Pengamatan Musuh Alami


Pengamatan Semut Hitam Semut Angrang Laba- lalab
PHT PP PHT PP PHT PP

1 2 3 4 5 6 7
I 0 0 0 0 0 0

II 1,20 1,10 0,80 0,60 0 0

III 0,90 1,00 1,10 0,90 0,50 0,10

IV 0,70 0,60 0,90 0,30 0,20 0,80

V 0,50 0,40 0,50 0,40 0,10 0,05

VI 1,30 0,50 0,30 0,20 2,00 1,00

VII 0,90 0,60 0,40 0,20 2,00 1,00

VIII 2,50 1,90 0,80 0,60 1,80 1,30

IX 1,33 0,80 0,60 0,10 0,40 0,20

X 1,40 0,70 0,50 0,40 0,60 0

XI 1,20 0,60 0,90 0,70 0,80 0,60

XII 1,50 0,20 0,80 0,50 0 0

XIII 1,30 0,10 1,30 1,10 0 0

XIV 2,40 0,20 1,60 1,00 1,30 0

XV 1,80 0,40 1,50 0,90 0,80 0

XVI 0 0 0 0 0 0
 Musuh Alami
- Semut Hitam
Keadaan perkebangan musuh alami semut hitam di lahan PHT
populasi tertinggi ditemukan pada pengamatan VIII dengan rata-rata 2,50,
sedangkan populasi terendah ditemukan pada pengamatan V dengan
populasi rata-rata 0,50. Di lahan PP, populasi tertinggi ditemukan pada
pengamatan VII dengan populasi rata-rata 1,90, sedangkan populasi
terendah ditemukan pada pengamatan XIII dengan rata-rata populasi 0,10.
Lebih jelasnya dapa dilihat pada grafik 10 sebagai berikut.

Garafik 10. Perbandingan PHT dan PP terhadap semut Hitam

- Laba-laba
Keadaan musuh alami laba-laba di lahan PHT perkebangan
populasi terbanyak ditemukan pada pertemuan VII dengan populasi
2,00, sedangkan terendah ditemukan pada pertemuan V dengan rata-
rata 0,10, Sedangkan di lahan PP populasi tertinggi didapatkan pada
pertemuan VIII dengan rata-rata 1,30 dan terendah ditemukan pada
pertemuan V dengan rata-rata 0,05. Untuk lebih jelasnya dapat kita
lihat gambar grafik 11 sebagai berikut :

Grafik 11. Perbandingan PHT dan PP terhadap Laba-laba


Tabel 4. Pengamatan Agronomi

Pengamatan Dompolan Bunga Bunga Buah


PHT PP PHT PP PHT PP
1 2 3 4 5 6 7
I 0 0 0 0 0 0

II 18,60 16,40 221,30 191,00 190,30 173,10

III 18,90 17,10 197,20 165,40 189,40 155,60

IV 17,30 14,50 161,70 144,80 151,60 120,10

V 19,10 15,60 120,80 80,90 111,50 69,30

VI 19,50 17,80 90,70 60,50 88,60 53,80

VII 20,20 13,40 60,50 56,00 56,70 51,20

VIII 20,60 12,00 50,40 47,40 47,40 40,20

IX 44,00 34,70 36,00 30,10 33,70 26,00

X 41,50 29,80 33,50 27,60 24,00 21,50

XI 38,40 22,60 29,60 10,30 26,30 8,70

XII 36,60 15,40 31,70 15,00 28,60 11,60

XIII 21,70 0 28,00 22,80 25,50 18,50

XIV 16,30 0 15,80 9,00 10,30 5,00

XV 10,90 0 11,30 0 8,60 0

XVI 0 0 0 0 0 0
 Agronomi
- Jumlah Dompolan Bunga
Di lahan PHT dopolan bunga Berfluktuasi dari awal pengamatan
sampai akhir pengmatan tertinggi ditemukan pada pengamatan IX dengan
rata-rata 44,00 dan terendah ditemukan pada pengamatan XV dengan rata-
rata 10,90. Sedangkan di lahan PP dompolan bunga tertinggi di temukan
pada pengamatan IX dengan rata-rata 34,70 dan terendah pada pengamatan
XII dengan rata-rata 15,40.
Banyaknya dompolan bunga di lahan PHT bila dibandingkan di
lahan PP. Karena di lahan PHT diterapkan beberapa perlakuan antara lain
pemupukan, pemangkasan, pengendalian OPT dengan pestisida nabati.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 12 sebagai berikut :

Grafik 12. Perbandingan PHT dan PP terhadap Jumlah Dompolan Bunga

- Jumlah Bunga
Perkembangan bunga di lahan PHT selama pengamatan di dapatkan
tertinggi pada pengamata I atau minggu II dengan rata-rata 221,30 dan
terendah ditemukan pada pengamatan XVyaitu rata-rata 11,30. Di Lahan PP
jumlah bunga tertinggi di dapatkan pada pertemuan II dengan rata-rata
191,00 dan terendah di dapatkan pada pengamatan XIV dengan rata-rata
9,00. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 13 sebagai berikut :

Grafik 13. Perbandingan PHT dan PP terhadap Jumlah Bunga

- Jumlah Bunga
Keadaan jumlah buah di lahan PHT sangat berfluktuasi dari awal
pengamatan sampaik akhir pengamatan, buah tertinggi didapatkan pada
pengamatan I minggu II yaitu rata-rata 190,30 dan terendah didapatkan pada
pengamatan/pertemuan XV dengan rata-rata 8,60. Di lahan PP jumlah buah
paling banyak ditemukan pada pengamatan I atau pada pertemuan II yaitu
rata-rata 173,10, sedangkan jumlah buah terendah yaitu pada pertemuan
XIV dengan rata-rata 5,00. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada garafik
14 sebagai berikut.

Grafik 14. Perbandingan PHT dan PP terhadap Jumlah Buah

Tabel 5. Studi Adopsi Kegiatan SL-PHT.

No JUMLAH PETANI
KEGIATAN YANG DIKERJAKA YANG
MELAKSANAKAN
1 2 3
1 PEMANGKASAN 21
2 PEMUPUKAN 23
3 PEMBUATAN RORAK 17
4 PEMBUATAN TERAS 14
5 SANIATASI KEBUN 19
6 PEMBUATAN EEM HAMA 17
7 PENGGUNAAN BEAUVERIA BASSAINA 23
8 PEMBUATAN PUPUK BOKASI 17
9 PENGGUNAAN PESNAB 15
10 PERMENTASI 21

Studi adopsi ini dengan cara terjung langsung ke kebun peserta yang
dipandu langsung oleh 2 orang pemandu yang diterima oleh peserta Sekolah
Lapang (SL)

1. Pemangkasan
Dari 25 orang peserta yang mengikuti kegiatan SL-PHT jumlah peserta
yang sudah melakukan kegiatan pemangkasan sebanyak 21 orang, 4 orang
peserta belum melakukan alasannya kesempatannya yang belum ada, tetapi
tetap akan melakukan pemangkasan.
2. Pemupukan
Dari 25 orang peserta SL-PHT yang sudah melakukan pemupukan sesuai
petunjuk teknis yaitu 23 orang rata-rata pupuk yan dipakai yaitu urea, SP 36, dan
KCL atau N.P.K. 2 orang peserta belum melakukan pemupukan alasanya modal
untuk beli pupuk belum ada.
3. Pembuatan Rorak
Yang sudah melakukan pembuatan rorak dari 25 orang peserta baru 17
orang yang sudah melakukan. 8 orang peserta belum melakukan alasannya
kesempatan belum ada.
4. Pembuatan Teras
Dari 25 orang peserta SL-PHT yang melakukan pembuatan teras 14 orang.
11 orang peserta belum melakukan .
5. Sanitasi Kebun
Dari 25 orang peserta SL-PHT. Kegiatan sanitasi kebun yang sudah
melakukan sanitasi 19 orang. 6 oarang peserta belum melakukan alsannya waktu
belum ada, namun tetap melakukan.
6. Pembuatan EEM Hama
Pembuatan EEM hama dari 25 orang peserta SL-PHT yang melakukan
pembuatan EEm hama yaitu 15 orang, 10 orang belum melakukan alasannya
kesempatan belum ada
7. Pengguaan Beauveria bassiana
Dalam kegiatan pemakain Beauveria bassiana rata-rata peserta sudah
pernah memakai, peserta sangat bersemangat dengan kegiatan ini, karena
masing-masing peserta sudah merasakan manfaat dari agens hayati.
8. Pembuatan Pupuk Bokasi
Dari 25 Orang peserta SL-PHT yang sudah melakuka pembuatan pupuk
bokasi ini sebanyak 17 orang. Sedangkan yang lainnya 8 orang alasanyya hanya
waktu sajua, tapi tetap akan melakukannya.
9. Pengguaan Pesnab (Pestisida Nabati)
Dari 25 orang peserta SL-PHT. Pada kegiatan pembuatan dan pengendalian
dengan menggunakan pestisida nabati sebanyak 15 orang, sedangkan yang
10 orang masalah waktu/kesempatan, namun akan tetap melakukannya.
10. Fermentasi
Dari 25 orang peserta SL-PHT yang sudah melakukan kegiatan fermentasi
ini sebanyak 21 orang sedangkan yang lain 4 orang akan melakukannya.
2. PSK (PENGETAHUAN SIKAP KETERAMPILAN)
1. Pengetahuan
Pada umumnya pengetahua peserta SL-PHT. Mereka belum bisa
membedakan antara hama dan penyakit, begitu pula dalam hal musuh alami.
Begitu juga tentang hal pemelihaan tanaman kopi, mereka belum tahu tekhnis-
tekhnis budidayanya, baik pemangkasan, pemupukan ataupun tekhnik lainnya. Ini
dapat dilihat dari hasil ballot box awal, nilai rata-rata peserta 44,4. Untuk lebih
jelasnya nilai ballot box peserta dapat dilihat pada lampiran berikut.
2. Sikap
Sikap peserta SL-PHT pada awa-awal pertemuan bersikap pasif, banyak
diam sepertinya acuh karena mereka menganggap bahwa kegiatan ini hanya
merupakan program pemerintah yang harus diselesaikan dengan kata lain selesai
begitu saja seperti yang pernah mereka ikuti sebelumnya atau semacam kursus-
kursus selesai begitu saja tanpa ada manfaat bagi mereka serta sikap meraka yang
menganggap bahwa Pemandu harus dihormati dan serba tahu dan kadang-kadang
mereka selalu mengatur jarak dengan Pemandu begitu pula dengan peserta satu
sama lainnya. Komonikasi kurang baik serta bekeja sendiri-sendiri.
3. Keterampilan
Umunya Keterampilan mereka cukup banyak begitu pula dengan
pengelaman-pengelaman mereka, akan tetapi yang dibahas sebelumya mereka
pasif, diam dan tidak mau berbagi dengan peserta lainnya.

 Pengetahuan Sikap dan Keterampilan Peserta Setelah Mengikuti SL-PHT


1. Pengetahuan
Para petani peserta SL-PHT kopi sudah dapat membedakan Hama dan
penyakit, baik itu penyebabnya serta kerusakannya, especimennya, serta
kerugian yang ditimbulaknnya, begitu pula musuh alami, mereka
menganggap bahwa serangga harus dimusnahkan, akan tetapi setelah
mengikuti SL-PHT mereka sudah mengetahui bahwa musuh alamu adalah
serangga sebagai teman yang membantu memekan populasi hama. Mereka
juga sudah bisa melakukan pengamatan, menganalisa sebelum melakukan
tindakan pengendalian. Ini dapat dilihat dari hasil ballo box akhir dimana rata-
rata 67,2. Sedangkan pada nilai ballot box awal hanya rata-rata 44,4. Jadi
peningkatan pengetahuan peserta cukup sinifikan. Untuk lebih jelasnya nilai
ballot box akhir dapat dilihat pada lampiran.
2. Sikap.
Sikap peserta SL-PHT setelah mengikuti beberapa kali pertemuan
mengalami suatu perubahan, awalnya mereka acuh serta pasif dan menjadi
aktif dan antusias, bersemangat untuk mengikuti setiap kegiatan ini karena
mereka baru menyadari bahwa kegiatan ini sangat berguna/berarti dan
bermanfaat serta melibatkan peserta untuk aktif dalam proses pembelajaran
melalui pertukaran pengalaman dari semua peserta dan pemandu dan serta
tidak ada lagi jarak dan sudah berani mengemukakan pendapat dan
pengalamannya. Kini mereka sudah tahu bahwa pemandu adalah mitra
pelayanan selama mengikuti SL-PHT sehingga tumbuh rasa keakraban antara
pesertan dan pemandu, begitu juga rasa kebersamaan terjadi hingga kegiatan
berakhir.
3. Keterampilan
a. Pemangkasan
Petani sudah melakukan pemangkasan dengan sistim silang dan
sistim mercy, mereka sudah tidak beranggapan lagi bahwa banyak
cabang/ranting akan menhasilkan buah. Mereka sudah tahu bahawa salah
satu tujua pemangkasan adalah merangsang munculnya banyak bunga,
dengan banyak maka banyak pula buah.
b. Saniatasi Kebun
Saniatsi kebun sudah mulai dilakukan peserta SL-PHT. Apa yang
mereka lupakan selama ini, meskipun dalam taraf sedang-sedang karena
mengingat musim saat ini memasuki musim kemarau, mereka juga sudah
tahu manfaat dari sanitasi salah satu cara untuk menekan perkembangan
OPT.
c. Pemupukan
Pemupukan sudah dilakukan oleh peserta SL-PHT dengan
menggunakan 3 jenis pupupk yakni urea, Sp36, KCL atau NPK misalnya
NPK PHONSKA. Cara pemupukan yang efektif dengan membenamkan
pupuk organik/bokhasi karena sudah tahu cara membuatnya.

KESIPULAN DAN SARAN

1. HASIL DAN PEMBAHASAN


1. Pola pelatihan petani dalam SL-PHT yang dilakuakn secara
berpartisipasi penedekatan dari bawah dan metode pendidikan orang
dewasa (ANDRAGOGI) dimana petani deberikan kesempatan belajar
sendiri mengenal prinsip dan teknologi PHT.
2. Jenis perlakuan PHT yang diaplikasikan telah mampu menekan populasi
hama dan penyakit di pertanaman mereka, akhirnya produksi dapat
meningkat.

2. SARAN
1. Sebaiknya waktu pelaksanaan SL-PHT dapat disesuaikan dengan waktu
pembungaan sampai panen, agar peserta dapat mengamati dengan
lengkap pada pertanaman.
2. SL-PHT telah memberikan dasar pemahaman bagi petani tentang PHT,
namunpetani alumni masih membutuhkan pendampingan dalam hal
penerapan PHT di kebun masing-masing.
3. Diharapkan adanya dukungan semua stakeholder untuk memberikan
apresiasi bagi petani yang menerapkan PHT di kebunnya sehingga
petani secara berkelanjutan dapat mengimplementasikan prinsip-prinsi
PHT di kebunnya serta dapat menularkan kepada petani lain
disekitarnya.

Makassar, September 2017


Pelaksana Kegiatan
Kepala UPT Proteksi
Ir. Hj. Yayuk Sujilah

DAFTAR NALIA BALLOT BOX AWAL DAN AKHIR SL-PHT TANAMAN KOPI

KELOMPOK TANI : KOMBANG BURA II


DESA/KELURAHAN : PATONG LOANG
KECAMATAN : BAROKO
KABUPATEN : ENREKANG
TAHUN ANGGARAN : 2017

N I L A I
No. NAMA PETANI KETERANGAN
AWAL AKHIR
1 2 3 4 5
1 NOTAMAN 60 80 - Jumlah Pertanyaan 20 Nomor
2 HANDAYANI 40 70 - Rumus Penilaian Peserta
3 ARIF 40 60 (Jumlah Jawaban Yang Benar)
4 DINA PENEROGO 40 60 - Dibagi Total Pertanyaan X
5 RIANA 40 70 100% = Nilai
6 NURHIDAYAH 50 80
7 SUDDING 30 60
8 MUH.AMIN 60 70
9 QAIMUL 40 60
10 ADRIADI 60 70
11 SUNDA 60 70
12 DORCE RISMAYANTI 40 60
13 NURHAIDA 30 60
14 M.SUKUR 60 70
15 BASRI 20 60
16 ADRIANA RAHIM 70 80
17 KADANG 50 70
18 JUMA 60 60
19 SAMPE 40 60
20 MUH.IPUNG 60 70
21 AHMAD TANDERE 70 80
22 DERMAN 40 60
23 DARMAWATI 60 70
24 MARNA 50 60
25 USRI 60 70
JUMLAH 1230 1680
RATA-RATA 49.2 67.2
PEMANDU LAPANG

MURSALIN, SP
Nip : 1961 0114 200604 1 004

JADWAL KEGIATAN PELAKSANAAN SL-PHT TANAMAN KOPI PADA TAHUN 2017

KELOMPOK TANI : KOMBANG BURA II


DESA/KELURAHAN : PATONG LOANG
KECAMATAN : BAROKO
KABUPATENN : ENREKANG

PERTEMUAN HARI/TANGGAL JAM MATERI NARA SUMBER

1 2 3 4 5
08.00 - 10.00 PEMBUKAAN -Ka.UPT PROTEKSI DISBUN
10.00 - 10.30 ISTIRAHAT PROV. SUL SEL
10.30 - 12.00 BALLOT BOX (FREE TEST) -KABID PERKEBUNAN
I 12.00 - 13.00 ISHOMA DISBUN KAB. ENREKANG
SENIN KONTRAK BELAJAR DAN PEMBENTUKAN -KOORDINATOR BP3K
20 MARET 2017 KELOMPOK KECIL PHT/NONPHT KEC.BAROKO KAB.
13.30 – 16.00 PEMBERIAN NOMOR SAMPEL ENREKANG
PENGAMATAN
08.00 - 09.00 EKOSISTEM
09.00 - 10.30 PENGAMATAN AAES
SELASA 10.30 - 12.00 MENGGAMBAR/DISKUISI PERSENTASE AAES -PL PROVINSI
II -PL KABUPATEN
28 MARET 2017 12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 14.30 DINAMIKA KELOMPOK
14.30 - 16.00 TOPIK KHUSUS “APA INI PROSES BELAJAR PHT”
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES -PL PROVINSI
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES -PL KABUPATEN
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
SELASA
III 04 APRIL 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “EKOSITEM UMUM”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES -PL PROVINSI
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES -PL KABUPATEN
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
SELASA
IV 11 APRIL 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “JARING-JARING MAKANAN”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES -PL PROVINSI
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES -PL KABUPATEN
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
SELASA
V 18 APRIL 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “DIVERSIFIKASI PADA TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES -PL PROVINSI
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES -PL KABUPATEN
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
SELASA
VI 25 APRIL 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “MANAJEMN NAUNGAN TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
SELASA 09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
VII 02 MEI 2017 10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “PEMBUATAN BOKASI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
VIII 09 MEI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “PEMBUATAN TERAS/RORAK”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT

08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES


09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
IX 16 MEI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “MENGENAL HAMA PADA TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
X 23 MEI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “MENGENAL PENYAKIT PADA TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES -KEPALA BIDANG
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES PERKEBUNAN KAB.
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES
XI SENIN 12.00 - 13.00 ISHOMA -PL PROVINSI
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK -PL KABUPATEN
30 MEI 2017
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “CARA PEMUPUKAN PADA TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
XII 12.00 - 13.00 ISHOMA
06 JUNI 2017
13.00 - 14.30 DINAMIKA KELOMPOK
14.30 - 16.00 TOPIK KHUSUS “PEMANGKASAN HASIL PRODUKSI”
TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
XIII 13 JULI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “PEREMAJAAN TANAMAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
XIV 20 JUNI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 – 14.30 TOPIK KHUSUS “MENGENAL SISTEM PERCABANGAN KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 09.00 PENGAMATAN AAES
09.00 - 10.30 MENGGAMBAR HASIL AAES
10.30 - 12.00 DISKUSI PERSENTASI AAES -PL PROVINSI
SELASA -PL KABUPATEN
XV 27 JUNI 2017
12.00 - 13.00 ISHOMA
13.00 - 13.15 DINAMIKA KELOMPOK
13.15 - 14.30 TOPIK KHUSUS “MENGENAL BUNGA KOPI”
14.30 - 16.00 TINDAKAN DI LAHAN PHT
08.00 - 10.00 PENUTUPAN
SELASA 10.00 - 12.00 BALLOT BOX AKHIR ( POST TEST )
XVI 04 JULI 2017 12.00 – 13.00 ISHOMA/RENCANA TINDAK LANJUT KELOMPOK (rtl)
Tabel 1. Pengamatan Hama Kopi di Desa Buntu Sarong Kecamatan Masalle

Pengamatan PBKo Kutu putih Kutu hijau Penggerek Nematoda Kutu lamtoro
cabang parasit
PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
I 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

II 1,20 1,25 1,40 1,60 1,10 1,30 0,80 0,90 0 0 0,80 1,20

III 0,90 1,10 1,20 1,40 0,90 1,40 0,60 0,80 0 0 1,60 1,80

IV 0,70 0,90 1,10 1,30 1,40 1,30 0,30 0,50 0 0 2,30 2,50

V 1,30 1,40 1,50 1,10 1,20 1,50 0,40 0,60 0 0 0 1,8-

VI 1,20 0,90 1,10 1,20 1,30 1,20 0 0,30 0 0 0 1,80

VII 0,80 0,80 0,90 1,10 0,40 1,00 0 0,10 0 0 0 1,60

VIII 0,60 0,70 1,60 1,80 0,80 1,10 0 0 0 0 0 0,80

IX 0,20 0,40 1,30 1,70 0,90 1,30 0,10 0,20 0 0 0,70 0,80

X 0,15 0,30 0,80 1.50 1,10 1,20 0 0,50 0 0 0,50 0,70

XI 0,10 0,20 0,60 1,00 0,60 0,80 0 0,30 0 0 0,40 0,60

XII 0 0,10 0,40 0,90 0,50 0,70 0 0,40 0 0 0,60 0,40

XIII 0 0 0,20 0,70 0,80 1,00 1,00 1,30 0 0 0,30 0,60

XIV 0 0 0 1,20 1,10 1,20 0,70 0,80 0 0 0 0

XV 0 0 0 1,20 1,10 1,20 0,70 0,80 0 0 0 0

XVI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
 Hama
- Perbandingan serangan hama PBKo dilahan PHT dan PP. Dilahan PHT
ditemukan serangan tertinggi didapatkan pada pengamatan IV yaitu rata-
rata 1,40. Sedangakan serangan terendah ditemukan pada pengamatan
minggu Vyaitu rata-rata 1,50 dan serangan terendah ditemukan pada
pengamatan minggu XV dengan rata-rata 0,20. Rendahnya serangan hama
PBKo pada plot PHT disebabkan dilakukan dilakukan beberapa perlakuan
antara lain pemangkasan, pemupukan dan pengendalian dengan
menggunakan pestisida nabati. Perbandingan serangan Hama PBKo antara
PHT dan PP dapat dilihat pada grafik 1 sebagai berikut :

Garfik 1. Perbanidingan PHT dan PP terhadap hama PBKo

 Kutu Putih
- Sesuai hasil pengamatan dari petemuan setiap minggunya bahwa hama kutu
putih di lahan PHT popolusi tertinggi di temukan pada pengamatan minggu
ke V dengan rata-rata 1,70 sedangkan popousi terendah PP popolusi
tertinggi ditemukan pada pengamatan minggu ke V dengan rata-rata 1,80
dan popolusi terendah di temukan pada pengamatan ke V dengan rata-rata
0,30
- Rendahnya serangan hama kutu putih di lahan PHT bila dibandingkan di
lahan PP, karena di lahan PHT di lakukan beberapa perlakuan antara lain
pemangkasan, permupukan, senitasi, pengndalian dengan menggunakan
pestisida nabati perbandingan popolusi hama kutu putih antara plot PHT dan
PP dapat dilihat pada grafik 2
 Hama kutut hajau
- Hama kutu hijau pada lahan PHT tertinggi ditemukan pada minggu III yaitu
rata-rata 1.90, sedangkan terendah ditemukan pada minggi XV yaitu 0,10.
Sementaran di lahan PP serangan tertinggi ditemukan pada minggu III
dengan rata-rata 2,10, sedangkan serangan terendah ditemukan pada
minggu XV dengan rata-rata 0,01.
- Rendahnya serangan kutu hajau pada lahan PHT dikarenakan diterapkan
beberapa teknologi misalnya pemangkasan, pemupukan, pengendalian OPT
dengan menggunakan pestisida nabati. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat
pada gambar grafik 3 sebagai berikut.

Grafik 3. Perbandingan PHT dan PP terhadap Hama Kutu Hijau

 Penggerek Cabang
- Penggerek cabang dilahan PHT ditemukan serangan tertinggi dipengamatan
minggu II dengan rata-rata 1,00, sedangkan serangan terendah ditemukan
pada pengamatan minggu VI dan XIIdengan rata-rata 0,10. Sedangkan di
lahan PP serengan terendah ditemukan pada pengamatan minggu XII
dengan rata-rata 0,20, serangan tertinggi ditemukan pada pengamatan
minggu V dengan populasi rata-rata 1,80. Rendahnya serangan hama
penggerek cabang pada lahan PHT dibanding dengan PP karena di lahan
PHT diterpakan beberapa kegiatan, misalnya pemangkasan, pemupukan
sesuai petunjuk, pengendalian OPT dengan menggunakan pestisida nabati.
Untuk lebih jelasnya dapat dilhat gambar grafik 4 sebagai berikut :

Grafik 4. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penggerek Cabang


 Hama Kutu Lamtoro
- Kutu lamtoro pada lahan PHT ditemukan serangan selama pengamatan
yaitu sebanyak 6 kali yakni pengamata II sampai dengan pengamatan IX.
Serangan tertinggi ditemukan pada pengamatan II dengan rata-rata populasi
2,20, sedangkan serangan terendah ditemukan pada pengamatan IX dengan
rata-rata 0,20. Di lahan PP serangan tertinggi didapatkan pada pengamatan
II dengan rata-rata populasi 2,40, serangan terendah didapatkan pada
pengamatan XV dengan rata-rata 0,20. Untuk lebih jelasnya dapat diliha
pada grafik 5 sebagai berikut :

Grafik 5. Perbandingan PHT dan PP terhadap Hama Kutu Lamtoro

Tabel 2. Pengamatan Penyakit


Bercak Buah Jamuar Upas Karat Daun Embun Jelaga
Pengamatan
PHT PP PHT PP PHT PP PHT PP
1 2 3 4 5 6 7 8 9
I 0 0 0 0 0 0 0 0
II 3,50 3,70 0,80 1,20 0,70 1,10 0 0
III 3,60 3,80 0,70 1,10 0,85 0,90 0 0
IV 2,80 3,60 0,50 0,90 0,40 0,80 0 0,35
V 2,60 3,40 0,60 1,30 0,30 0,60 0,30 0,50
VI 3,10 3,50 0,40 1,00 0,15 0,30 0 0,40
VII 2,50 3,40 0,30 0,80 0,70 0,40 0 0
VIII 1,70 2,70 0,10 0,60 0,90 0,50 0 0
IX 1,50 2,50 0 0,50 0,70 0,90 0,05 0,08
X 2,10 2,30 0 0,70 0,50 0,60 0,08 0,10
XI 1,30 1,90 0 0,40 0,60 0,70 0,30 0
XII 0,60 2,50 0 0,30 0,40 0,60 0 0
XIII 0 0 0 0,50 0,60 0,70 0 0
XIV 0 0 0 0,30 0,50 0,50 0 0
XV 0 0 0 0,20 0,20 0,20 0 0
XVI 0 0 0 0 0 0 0 0
 Penyakit
- Bercak Buah
Didalam PHT serangan tertinggi ditemukan pada pengamatan
tertinggi minggu II dengan populasi rata-rata 3,60 sedangkan serangan
terendah ditemukan pada pengamatan XII yaitu 0,60. Di lahan PP serangan
tertinggi ditemukan pada pengamatan II dengan populasi rata-rata 3,80
sedangkan serangan terendah didapatkan pada pengamatan minggu
XIIyaitu populasi rata-rata 1,50. Rendahnya serangan bercak buah di lahan
PHT bila dibandingkan di lahan PP. Di lahan PHT diterapkan beberapa
perlakuan antara lain pemupukan,pemangkasan dan pengendalian dengan
pestisida nabati.

Grafik 6. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Bercak Buah

- Jamur Upas
Dari hasil pengamatan penyakit jamur upas pada lahan PHT hanya
ditemukan pada minggu II sampai dengan pengamatan VIII. Mungkin ini
disebabkan karena diadakan pengendalian dengan menggunakan pestisida
nabati yaitu buah maja yang dicampur dengan arang batteray mati serta
dilakukan dengan pemotongan cabang/ranting. Yang terserang populasi
tertinggi ditemukan pada pengamatan II dengan rata-rata 0,80 sedangkan
terendah ditemukan pada minggu VIII dengan rata-rata 0,10. Di lahan PP
serangan tertinggi ditemukan pada pengamatan V dengan rata-rata populasi
1,30 dan terendah didapatkan pada pengamatan XV dengan populasi rata-
rata 0,20. Tngginya serangan jamur upas di lahan PP disebabkan tidak
pernah dilakukan seperti pemangkasan, pemupukan dll. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada grafik 7 sebagai berikut :

Grafik 7. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Jamur UPas


 Penyakit Karat Daun
Perkembangan serangan penyakit karat daun dilakukan PHT dari awal
pengamata sampai dengan akhir pengamatan mengalami fluktuasi begitu pula
di lahan PP. Di lahan PHT populasi tertinggi ditemukan pada minggu VIII
dengan rata-rata 0,90 dan terendah ditemukan pada pengamatan XV dengan
populasi rata-rata 0,20. Sedangkan di lahan PP serangan tertnggi ditemukan
pada pengamatan II dengan populasi rata-rata 1,10 sedangkan serangan
terendah ditemukan pada pengamatan VI yaitu populasi rata-rata 0,30. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 8 sebagai berikut :

Grafik 8. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Karat Daun

 Embun Jelaga
Perkembangan penyakit embun jelaga di lahana PHT ditemukan pada
pengamatan IV, VIII, IX dan X populasi tertinggi didapatkan pada
pengamatan X dengan rata-rata 0,30 dan terendah pada pengamatan VIII
dengan rata-rata 0,05. Di lahan PP populasi tertinggi ditemukan pada
pengamatan V dengan rata-rata populasi 0,40 dan terendah didapatkan pada
pengamatan VIII dengan populasi rata-rata 0,08. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada grafik 9 sebagai berikut :

Grafik 9. Perbandingan PHT dan PP terhadap Penyakit Embun Jelaga


Tabel 3. Pengamatan Musuh Alami

Semut Hitam Semut Angrang Laba - laba


Pengamatan
PHT PP PHT PP PHT PP

1 2 3 4 5 6 7
I 0 0 0 0 0 0
II 1,20 1,10 0,80 0,60 0 0
III 0,90 1,00 1,10 0,90 0,50 0,10
IV 0,70 0,60 0,90 0,30 0,20 0,80
V 0,50 0,40 0,50 0,40 0,10 0,05
VI 1,30 0,50 0,30 0,20 0,80 0,40
VII 0,90 0,60 0,40 0,20 2,00 1,00
VIII 2,50 1,90 0,80 0,60 1,80 1,30
IX 1,33 0,80 0,60 0,10 0,40 0,20
X 1,40 0,70 0,50 0,40 0,60 0
XI 1,20 0,60 0,90 0,70 0,80 0,60
XII 1,50 0,20 0,80 0,50 0 0
XIII 1,30 0,10 1,30 1,10 0 0
XIV 2,40 0,20 1,60 1,00 1,30 0
XV 1,80 0,40 1,50 0,90 0,80 0
XVI 0 0 0 0 0 0

 Musuh Alami
- Semut Hitam
Keadaan perkembangan musuh alami semut hitam di lahan PHT
populasi tertinggi ditemukan pada pengamatan VIII dengan rata-rata 2,50,
sedangkan populasi terendah ditemukan pada pengamatan V dengan
populasi rata-rata 0,50. Di lahan PP populasi tertnggi ditemukan pada
pengamatan VII dengan populasi rata-rata 1,90, sedangkan populasi
terendah ditemukan pada pengamatan XIII dengan rata-rata populasi 0,10.
Intuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 10 sebagai berikut.

Grafik 10. Perbandingan PHT dan PP terhadap Semut Hitam


- Laba – laba
Keadaan musuh alami laba-laba di lahan perkembangan populasi
terbanyak ditemukan pada pertemuan VII dengan populasi 2.00, sedangkan
terendah ditemukan pada pertemuan V dengan rata-rata 0,10. Sedangkan di
lahan PP populasi tertinggi didapatkan pada pertemuan VIII dengan rata-
rata 1,30 dan terendah ditemukan pada pertemuan V dengan rata-rata 0,05.
Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat gambar grafik 11 sebagai berikut :

Grafik 11. Perbandingan PHT dan PP terhadap Laba – laba

Tabel 4. Pengamatan Agronomi

Dompolan Bunga Bunga Buah


Pengamatan
PHT PP PHT PP PHT PP

1 2 3 4 5 6 7
I 0 0 0 0 0 0
II 18,60 16,40 221,30 191,00 190,30 173,10
III 18,90 17,10 197,20 165,40 189,40 155,60
IV 17,30 14,50 161,70 144,80 151,60 120,10
V 19,10 15,60 120,80 80,90 111,50 69,30
VI 19,50 17,80 90,70 60,50 88,60 53,80
VII 20,20 13,40 60,50 56,00 56,70 51,20
VIII 20,60 12,00 50,40 47,40 47,40 40,20
IX 44,00 34,70 36,00 30,10 33,70 26,00
X 41,50 29,80 33,50 27,60 24,00 21,50
XI 38,40 22,60 29,60 10,30 26,30 8,70
XII 36,60 15,40 31,70 15,00 28,60 11,60
XIII 21,70 0 28,00 22,80 25,50 18,50
XIV 16,30 0 15,80 9,00 10,30 5,000
XV 10,90 0 11,30 0 8,60 0
XVI 0 0 0 0 0 0
 Agronomi
- Jumlah Dompolan Bunga