Anda di halaman 1dari 5

FUNGSI ILMU PENGETAHUAN DALAM KASUS KEBAKARAN PADANG

SAVANA DI PULAU GILI LAWA DARAT KAWASAN


TAMAN NASIONAL KOMODO

Ujian Tengah Semester Matakuliah


Filsafat Ilmu
yang dibina oleh Bapak Drs. Sumarwahyudi , M.Sn.

Oleh :
Indika Aini Darojati
180251610595
Off B / No. 17

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS SASTRA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA
Oktober 2018
Fungsi Ilmu Pengetahuan :

1. Ilmu pengetahuan untuk mendapat pengetahuan.


2. Ilmu pengetahuan untuk mencari kebenaran.
3. Ilmu pengetahuan untuk menjelaskan peristiwa secara menyeluruh.
4. Ilmu pengetahuan untuk menjelaskan peristiwa secara spesifik.
5. Ilmu pengetahuan untuk prediksi.
6. Ilmu pengetahuan untuk mencegah
7. Ilmu pengetahuan untuk keperluan praktis.

Penulis mengambil topik atau kasus kebakaran padang savana di pulau Gili Lawa
Darat kawasan Taman Nasional Komodo pada pada Rabu (1/8/2018), sekitar pukul 19.00
wita.

Fungsi ilmu pengetahuan untuk mendapat pengetahuan. Dari gugusan Kepulauan


Komodo, Gili Lawa merupakan salah satu pulau yang memiliki lanskap sangat cantik.
Sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni terletak di gugusan Kepulauan Komodo, NTT
tepatnya di sebelah utara Pulau Komodo dan langsung berhadapan dengan Laut Flores.
Gili Laba yang juga terkenal dengan nama lainnya yaitu Gili Lawa memiliki spot iconic di
mana terdapat dua pulau yang ditengahnya terdapat perairan semacam selat yang diapit
oleh dua buah pulau. Sebenarnya Gililawa Darat itu bukan habitat asli komodo, melainkan
rusa dan lebih dominan padang savana. Hal ini disampaikan Budhy Kurniawan sebagai
kepala Taman Nasional Komodo (TNK).

Sumber : https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/terhipnotis-puncak-gili-lawa-
dengan-sejuta-pesona-keindahannya

Ilmu pengetahuan untuk mencari kebenaran. Beberapa waktu lalu Gili Lawa Darat
mengalami kebakaran yang cukup merugikan yaitu terbakarnya padang savana Gili Lawa
Darat. Kebakaran padang savana di areal gugusan kepulauan di dalam wilayah Taman
Nasional Komodo (TNK), Rabu (1/8/2018) merupakan kejadian kedua di tahun 2018.
Sebelumnya pada Selasa (19/6/2018), api juga menghanguskan padang rumput di Loh Pede
Pulau Komodo seluas 10 hektar. Peristiwa tersebut membenarkan bahwa pemerintah tidak
memperhatikan sabana dan savana. Padahal sabana dan savanna mempunyai mekanisme
ekosistem sendiri, yang secara biologi sosial, budaya, dan lingkungan hidup tetapi tidak
diperhatikan.

Sumber : https://www.liputan6.com/news/read/3608654/kronologi-kebakaran-besar-di-taman-nasional-
komodo-gili-lawa

Ilmu pengetahuan untuk menjelaskan peristiwa secara menyeluruh. Peristiwa


kebakaran tersebut pertama kali dilaporkan oleh seorang pemandu wisata pada kamis (2/8)
pukul 18.15 waktu setempat. Kemudian petugas TNK menurunkan 1 pleton tim kebakaran
dari labuan bajo ketempat kejadian. Dikarenakan kondisi angin kencang, tipografi yang
curam serta vegetasi savanna yang kering, menyebabkan api mudah menjalar dan baru bisa
dipadamkan kamis (2/8/2018) pukul 03.10 wita. Diduga kebakaran diakibatkan oleh agen
Indonesia Juara Trip lalai dalam menjaga aktifitas tamu dalam berwisata yang menyebabkan
kebakaran di Gili Lawa.

Ilmu pengetahuan untuk menjelaskan peristiwa secara spesifik. Pukul 06:15 Wita,
ada laporan dari guide bernama Lukas yang menginfokan terjadinya kebakaran hutan.
Pukul 10.00 Wita, Satu peleton (30 orang) tim pemadam kebakaran TNK meluncur dari
Labuan Bajo ke TKP. Pemberi informasi, Lukas, diminta untuk mendata pengunjung yang
terakhir turun dari bukit (TKP) dan menahan mereka. Pukul 00.00 Wita, tim pemadaman
tiba di TKP. Tim pemadaman segera melakukan upaya pemadaman api, sedangkan empat
orang melakukan pemeriksaan terhadap awak kapal dan guide yang diduga sebagai
penyebab terjadinya kebakaran. Dari hasil pemeriksaan sementara diduga bahwa
penumpang kapal "Indonesia Juara" sebagai pelaku terjadinya kebakaran. Petugas menyita
KTP guide dan nakhoda kapal serta dokumen-dokumen kapal, untuk dilakukan
pemeriksaan lebih lanjut. Pukul 03.15 wita Api berhasi dipadamkan.
Api diduga mulai berkobar usai delapan wisatawan domestik menikmati pemandangan dari
atas Bukit Gili Lawa kembali ke kapal. Namun, masih belum jelas penyebab kebakaran
yang sesungguhnya. Tetapi pada Jumat (7/9/2018), Penmas Divisi Humas Polri Brigjen
Dedi Prasetyo menyampaikan kepada detikcom, “Sesuai informasi dari penyidik Polres
Manggarai Barat bahwa penyidik baru saja kemarin mendapatkan hasil labfor, di mana
hasilnya tidak ditemukan hidrokarbon pada pulau yang terbakar, Diperkirakan penyebab
kebakaran akibat open flame, seperti gesekan benda yang mudah terbakar di lahan
terbuka.”

Ilmu pengetahuan untuk prediksi. Jika pemerintah dan balai TNK lalai terhadap
Penjagaan lingkungan dan lalai terhadap ketertiban wisatawan maka akan sering terjadi
kebakaran padang savana yang kebakarannya bisa merugikan karena Gili Lawa Darat
termaksut salah satu objek yang paling disukai oleh wisatawan. Inilah foto Gili Lawa Darat
setelah kebakaran,

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-4155237/polisi-tunggu-hasil-labfor-untuk-pastikan-
sebab-kebakaran-gili-lawa

Ilmu pengetahuan untuk mencegah. Pemerintah dan balai TNK diharapkan


memperketat peraturan penjagaan Ekosistem alam untuk wisatawan mancanegara maupun
lokal dan segera memperhatikan semua ekosistem yang ada di Indonesia.

Ilmu pengetahuan untuk keperluan praktis. Sebaiknya disetiap wisata di Indonesia


disediakan banyak alat – alat untuk menunjang jika terjadi kebakaran atau bencana bila
suatu wajtu terjadi hal seperti ini maka setidaknya kebakaran tidak terjadi lebih luas.
DAFTAR RUJUKAN

www.mongabay.co.id/2018/08/04/kebakaran-savana-di-tn-komodo-terus-terjadi-apa-
solusinya/

https://www.liputan6.com/news/read/3608654/kronologi-kebakaran-besar-di-taman-nasional-
komodo-gili-lawa

https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/terhipnotis-puncak-gili-lawa-
dengan-sejuta-pesona-keindahannya#lg=1&slide=4

https://news.detik.com/berita/d-4201644/polri-kebakaran-gili-lawa-akibat-gesekan-benda-
mudah-terbakar