Anda di halaman 1dari 7

Human Factor Concept SHELL

Menurut Hawkins (1975) melalui Pendekatan ‘faktor manusia’ yang dikenal dengan
istilah Human Factors, secara konseptual melihat kecelakaan dalam kerangka sistem dengan
tetap meletakkan faktor manusia sebagai fokus utama (central focus). Hubungan yang terkait
(interface) antar masing-masing faktor (Liveware-Hardware-Software-Environment) dianggap
lebih penting dibandingkan dengan karakteristik dari setiap faktor yang ada. Ketidaksesuaian
(mis-match) antar faktor dianggap sebagai sumber terjadinya kesalahan manusia. Tegasnya,
sistem maupun manusia merupakan aspek yang sama penting untuk dianalisis bila terjadi
kecelakaan. Kesalahan manusia dapat saja menjadi penyebab kecelakaan dan dapat juga terjadi
sistem yang tak berfungsi dengan baik mengakibatkan terjadinya kesalahan manusia sehingga
menyebabkan terjadi kecelakaan.
Penjelasan Model SHELL:
a. Definisi Komponen:
1. Liveware (central component): komponen hidup yang merupakan komponen sentral
dalam hal ini adalah manusia/pekerja,
2. Software (S): komponen/ perangkat yang lebih bersifat administrative seperti prosedur
yang ada,
3. Hardware (H): komponen/ perangkat keras seperti mesin, peralatan yang digunakan pada
proses pekerjaan,
4. Environment (E): lingkungan yang mempengaruhi pekerjaan seperti lingkungan fisik
(debu, bising, panas, getaran, dll).
5. Liveware (Peripheral/ L): komponen hidup yang merupakan komponen disekeliling atau
diluar komponen sentral seperti keluarga pekerja, pekerja lain. Dapat juga disebut sebagai
faktor eksternal yang mempengaruhi terjadinya kesalahan pada pekerja.

b. Human Factor atau unsafe act membantu melakukan penyelidikan dengan menelaah
komponen-komponen kecelakaan yaitu Software, Hardware, Environment, dan Lifeware.

c. Suatu kecelakaan terjadi karena kesalahan atau tindakan tidak aman pekerja dan juga karena
adanya interaksi antara pekerja (central component) dengan komponen lainnya. Misal:
interaksi pekerja dengan mesin (hardware): pekerja yang tidak hati-hati dalam menggunakan
mesin pemotong rumput (tanpa safeguarding) yang akhirnnya mata pisau mengenai jempol
kaki yang tidak menggunakan sepatu keselamatan.

HFACS (Human Factors Analysis and Classification System)


Secara umum, HFACS (Human Factors Analysis and Classification System)
mengklasifikasikan tindakan tidak aman (unsafe acts) menjadi kesalahan (errors) dan
pelanggaran (violations). Kesalahan adalah representasi dari suatu aktivitas mental dan fisik
seseorang yang gagal mencapai sesuatu yang diinginkan. Pelanggaran disisi lain mengacu pada
niat untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah diciptakan untuk melakukan suatu tugas
tertentu. Kesalahan manusia yang paling dasar dapat dibagi menjadi tiga, yaitu kesalahan
memutuskan (decision errors), kesalahan sebab kemampuan (skill based errors), dan kesalahan
perceptual (perceptual errors). Sedangkan pelanggaran terdiri atas rouitine violations dan
exceptional vilolations.
Menurut Rasmussen, ada tiga jenjang kategori kesalahan yang dapat terjadi pada
manusia, yaitu:
1. Salah sebab kemampuan (skill-based error)
Adalah suatu kesalahan manusia yang disebabkan oleh karena ketidakmampuan seseorang
secara fisik atau tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu
tugas tertentu. Seseorang bisa saja tahu apa yang harus dilakukan tetapi ia tidak mempunyai
kemampuan untuk melakukannya.
2. Salah sebab aturan (rule-based error)
Adalah suatu kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang seharusnya
dilakukan atau melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.
3. Salah sebab pengetahuan (knowledge-based error)
Adalah kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak memiliki pengetahuan yang
dibutuhkan untuk memahami situasi dan membuat keputusan untuk bertindak atau
melakukan aktivitas
SWISS CHEESE MODEL
1. Sistem Pertahanan (Defences)
Menurut Reason (1997) kecelakaan kerja dapat terjadi akibat hancurnya
pertahanan yang dibuat oleh organisasi, sehingga bahaya yang timbul tidak dapat
diantisipasi. Semua pertahanan yang dibentuk oleh organisasi merupakan perencanaan
maupun tindakan untuk mengantisipasi bahaya yang mungkin muncul, dapat berupa
tindakan pengawasan, perlengkapan pelindung, peraturan dan prosedur, dan sebagainya.
Pertahanan yang dibentuk oleh organisasi secara umum hendaknya memenuhi fungsi-
fungsi sebagai berikut:
- Memberikan pengertian dan kesadaran akan bahaya yang dihadapi.
- Memberikan panduan kegiatan operasional yang aman.
- Memberikan tanda bahaya atau peringatan bila timbul bahaya.
- Mengembalikan sistem operasional pada keadaan yang aman.
- Menetapkan batasan keselamatan antara bahaya dan kerugian yang mungkin terjadi.
Meminimalkan bahaya yang terjadi apabila bahaya sudah melewati pertahanan yang
dibentuk.
- Menghindari bahaya dan melakukan tindakan penyelamatan apabila timbul bahaya.

Sistem pertahanan (system defences) hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga


setiap lapis pertahanan dapat saling menjaga satu dengan yang lainnya. Idealnya suatu
sistem pertahanan (system defences) tidak mempunyai celah, tapi kenyataannya pada
suatu sistem pertahanan ditemui banyak celah (Reason, 1997), seperti keju Swiss –
dimana tiap lembarnya mempunyai banyak “lubang”. Memang dari tiap “lubang” yang
ada tidak selalu menyebabkan terjadinya suatu kesalahan atau kecelakaan. Kesalahan
atau kecelakaan biasanya terjadi kalau “lubang-lubang” itu segaris dan dapat ditembus
oleh suatu penyebab kesalahan atau kecelakaan.

2. Penyebab Kegagalan Sistem Pertahanan


Kegagalan pada sistem pertahanan dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu active
failure dan latent failure (Reason, 1990; 1991).
1. Active failure adalah suatu tindakan yang tidak aman yang dilakukan oleh seseorang
yang berhubungan langsung dengan pekerjaan tersebut, seperti slips, lapses, mistakes,
atau procedural violation. Biasanya active failure ini mempunyai efek langsung
dalam suatu kejadian.
2. Latent failure merupakan “resident pathogen” dalam suatu sistem. Hal ini disebabkan
oleh keputusan-keputusan yang diambil oleh top-level manajemen yang terdapat
dalam sistem tersebut dalam jangka waktu yang lama sebelum berinteraksi dengan
active failure dan local trigger yang nantinya akan membuat suatu kemungkinan
kecelakaan. Berbeda dengan active failure, kondisi ini seringkali sulit untuk
diprediksi tapi dapat diidentifikasi dan diperbaiki sebelum kejadian yang tidak
diinginkan itu terjadi.

Unsafe Acts

Preconditions for Unsafe Acts


Unsafe Supervision

Organizational Influences