Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN

PRAKTIKUM FITOFARMAKA

TUGAS II

“PENENTUAN PARAMETER MUTU EKSTRAK

(Kaempferia galanga L.)”

Nama : Elok Dwi Rosiana

NIM : 201510410311139

Kelas : Farmasi C

Kelompok : VI

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Bealakang


Indonesia adalah negara yang banyak ditumbuhi berbagai jenis tanaman
herbal. Potensi obat herbal atau obat-obatan yang berasal dari tumbuhan di Indonesia
sangat besar, di mana jumlahnya ada sekitar 7500 jenis (Anonim, 2012). Namun
potensi ini masih kurang dimaksimalkan karena masih terbatasnya penelitian ilmiah di
bidang tumbuhan herbal ini. Orang mulai beralih untuk memakai tanaman herbal
sebagai pengganti obat yang berasal dari bahan kimia karena selain lebih terjangkau,
banyak yang meyakini efek samping dari obat-obatan herbal lebih sedikit atau bahkan
tidak ada sama sekali. Namun sayangnya bukti klinis untuk membenarkan hal tersebut
masih sangat kurang.
Salah satu jenis tanaman yang cukup banyak ditemui adalah tanaman
golongan temu-temuan atau empon-empon (Zingiberaceae). Tanaman jenis ini banyak
ditemukan di Indonesia dan banyak dimanfaatkan sebagai obat herbal (Sutriono,
1999). Selain banyak digunakan sebagai bumbu masakan dan minuman, rimpang
kencur (Kaempferia galanga L.) dimanfaatkan sebagai obat tradisional berbagai
macam penyakit seperti radang lambung, sakit kepala, batuk, dan diare (Departemen
Kesehatan, 1981). Kencur diketahui memiliki kandungan kimia seperti saponin,
flavonoid, polifenol, dan minyak atsiri.
Kencur (Kaempferia galanga L.) merupakan salah satu dari lima jenis
tumbuhan yang dikembangkan sebagai tanaman obat asli Indonesia. Kencur
merupakan tanaman obat yang bernilai ekonomis cukup tinggi sehingga banyak
dibudidayakan. Bagian rimpangnya digunakan sebagai bahan baku industri obat
tradisional, bumbu dapur, bahan makanan, maupun minuman penyegar lainnya.
Secara empirik, kencur berkhasiat sebagai obat untuk batuk, gatal-gatal pada
tenggorokan, perut kembung, mual, masuk angin, pegal-pegal, pengompres bengkak /
radang, tetanus dan penambah nafsu makan .
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mngekstraksi kencur adalah
metode maserasi. Maserasi adalah metode perendaman. Syarat utama pada maserasi
adalah tersedianya waktu kontak yang cukup antara pelarut dan jaringan yang
diekstraksi. Penyaringan zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar
terlindungi dari cahara, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel.
Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam dan
luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh
cairan penyari dengan konsentrasi lebih rendah. Selama proses maserasi dilakukan
pengadukan dan penggantian cairan penyari setiap hari. Endapan yang diperoleh
dipisahkan dan filtratnya dipekatkan (Kusuma, 2015).

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu menentukan parameter mutu spesifik dan non-spesifik ekstrak
Kaempferia galanga L.

1.3 Manfaat
Mahasiswa mengetahui dan memahami cara menentukan parameter mutu spesifik dan
non-spesifik ekstrak Kaempferia galanga L.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Kencur (Kaempferia galanga L.)


2.1.1 Sistematika tanaman

Gambar 2.1.1 Rimpang Kencur


Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Class : Liliopsida (Berkeping satu / monokotil)
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae (Suku jahe-jahean)
Genus : Kaempferia
Spesies : Kaempferia galanga L. (tanobat.com).

Pemerian :
Bau khas aromatik; rasa pedas, hangat, agak pahit, akhirnya menimbulkan rasa
tebal (Depkes RI, 1989).
Makroskopik :
Kepingan : Pipih; bentuk hampir bundar sampai jorong atau tidak beraturan;
tebal keping 1 mm sampai 4 mm; panjang 1 cm sampai sampai 5 cm, lebar
0,5 cm sampai 3 cm; bgian tepi berombak dan berkeriput, warna coklat
sampai coklat kemerahan, bagian tengah berwarna putih sampai putih
kecoklatan. Korteks : sempit, lebar lebih kurang 2 mm; warna putih; berkas
pembuluh tersebar tampak sebagai bintik-bintik berwarna kelabu atau
keunguan. Silinder pusat: Lebar, banyak tersebar berkas pembuluh seperti
pada korteks. Bekas patahan : rata, berdebu, berwarna putih (Depkes RI,
1989).
Mikroskopik :
Periderm : terdiri dari 5 sampai 7 lapis sel, sel berbentuk segi panjang
berdinding tipis. Jaringan parenkim korteks: terdapat di bawah periderm, sel
parenkim isodiametrik, berdinding tipis, berisi butir-butir pati, sel idioblas
minyak berbentuk hampir bulat dan bergaris tengah 50 µm sampai 100 µm,
dalam idioblas minyak terdapat minyak yang tidak berwarna sampai berwarna
putih semu kekuningan. Butir pati: umumnya tunggal, besar, bentuk bulat,
bulat telur atau bulat telur tidak beraturan dengan salah satu ujungnya
mempunyai putting, lamela dan hilus tidak jelas; panjang butir pati 6 µm
sampai 25 µm, umumnya 23 µm. Berkas pembuluh: Tersebar dalam korteks
dan silinder pusat; pembuluh kayu terdiri dari pembuluh spiral, pembuluh
tangga dan pembuluh jala, tidak berlignin. Endodermis: mempunyai dinding
radial yang agak menebal, tidak berisi butir pati. Silinder pusat: Lebar,
parenkimatik, berisi butir pati dan idioblas minyak seperti pada korteks, berkas
pembuluh dibawah endodermis tersusun teratur dalam suatu lingkaran yang
berdekatan satu sama lainnya.
Serbuk: Warna putih, putih kecoklatan sampai coklat. Fragmen
pengenal adalah butir pati yang hampir bulat dengan puting tau sisi bersudu;
idioblas minyak; oleoresin berbentuk gumpalan atau tetesan kecil yang dengan
yodium LP warnanya menjadi coklat kekuningan; fragmen periderm;
pembuluh kayu(Depkes RI, 1989).

2.1.2 Kandungan Senyawa


Sulaiman dkk. (2007), menyatakan bahwa rimpang kencur dapat
digunakan sebagai untuk hipertensi, rematik, dan asma. Penelitian yang
dilakukannya ini juga melaporkan bahwa ekstrak air daun kencur mempunyai
aktivitas antiinflamasi yang diuji pada radang akut yang diinduksi dengan
karagenan. Kandungan minyak atsiri dari rimpang kencur diantaranya terdiri
atas miscellaneous compounds (misalnya etil p-metoksisinamat 58,47%,
isobutil β-2- furilakrilat 30,90%, dan heksil format 4,78%); derivat
monoterpen teroksigenasi (misalnya borneol 0,03% dan kamfer hidrat 0,83%);
serta monoterpen hidrokarbon (misalnya kamfen 0,04% dan terpinolen 0,02%)
(Hasanah dkk, 2011). Etil sinamat dan etil p-metoksi sinamat (EPMS) dari
minyak atsiri kencur banyak digunakan didalam industri kosmetika dan
dimanfaatkan dalam bidang farmasi sebagai obat asma dan anti jamur.

2.1.3 EPMS (etil para-metoksi sinamat)


Kencur (Kaempferia galangal L.) secara empiris telah diketahui
memiliki efek antiinflamasi. Kandungan utama kencur adalah etil p-
metoksisinamat (EPMS) yang merupakan senyawa ester turunan dari p-
metoksisinamat yang di dalam tubuh mengalami hidrolisis menjadi senyawa
aktif biologis, asam p-metoksisinamat (APMS), senyawa ini bekerja dengan
menghambat enzim siklooksigenase, sehingga konversi asam arakhidonat
menjadi prostaglandin terganggu (Soeratri et al, 2014).
Selain itu, EPMS termasuk kelompok fenolik alam dari golongan fenil
propanoid yang bermanfaat sebagai tabir surya, senyawa ini memperlihatkan
aktifitas serapan maksimum 308nm (daerah UV-B) dan bersifat sebagai UV
filter sehingga Etil p-metoksisinamat mempunyai perlindungan yang baik
terhadap sinar matahari yang dapat memantulkan dan menghamburkan radiasi
sinar UV terutama UV-B (290-320 nm) (Agustin et al, 2013).

2.2 Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif
dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan
(Depkes RI, 2014). Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku
obat secara perkolasi. Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara destilasi
dengan pengurangan tekanan, agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena panas
(Depkes RI, 2014).
Simplisisa banyak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan senyawa
yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain sebagainya. Untuk
memisahkan senyawa aktif tersebut, maka perlu dilakukan proses ekstraksi. Ekstraksi
merupakan salah satu proses yang dilakukan untuk memperoleh kandungan senyawa
kimia dari jaringan tumbuhan ata hewan (Depkes RI, 1979).
2.3 Macam-macam Ekstrak
Berdasarkan konsistensinya, ekstrak dapat dibagi menjadi 3 yaitu:
1) Ekstrak kering
Ekstrak yang mengalami proses penguapan dan tidak mengandung
pelarut lagi serta mempunyai konsistensi yang padat (kering). Ekstrak
kering ini dibagi menjadi 2 macam:
- Ekstrak kering yang dibuat dengan alkohol/etanol, karena bahan
tidak larut sepenuhnya dengan air. Contohnya : extractum columba,
extractum chinae, extractum granati.
- Ekstrak kering yang dibuat dengan air. Contohnya : extractum aloes,
extractum opii dan lain sebagainya.
2) Ekstrak kental
Ekstrak dengan kadar air 20-25%, naun hanya ada ekstrak liquiritae
diizinkan kadar air 35% (Van Duin, 1947). Ekstrak kental juga mengalami
proses penguapan namun konsistensinya tetap kental pada suhu kamar.
Contoh : extractum belladonae dan sebagainya.
3) Ekstrak cair
Sediaan cair simplisia nabati yang mengandung etanol sebagai pelarut atau
sebagai pengawet. Ekstrak cair yang cenderung membentuk endapan dapat
didiamkan dan disaring atau bagian yang bening dituangkan (Depkes RI,
1995).

2.4 Metode Ekstraksi


Metode pembuatan ekstrak yang umum digunakan antara lain maserasi,
perkolasi, dan soxlhetasi. Metode penyarian yang akan digunakan tergantung dari
wujud dan kandungan bahan yang akan disari. Selain itu, pemilihan metode penyarian
disesuaikan dengan kepentingan untuk memperoleh kandungan kimia yang diinginkan
(Harborne J.B., 1996).
2.4.1 Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang paling sederhana dan
banyak digunakan. Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk
simplisia dalam cairan penyari. Maserasi adalah sediaan cair yang dibuat
dengan cara mengekstraksi bahan nabati yang direndam menggunakan pelarut
bukan air (pelarut non polar) selama periode waktu tertentu sesuai dengan
aturan dalam buku referensi kefarmasian. Maserasi ini disertai dengan
pengadukan pada temperatur ruang (kamar). Metode ini memiliki keuntungan
yaitu cara pengerjaannya yang lebih mudah, alat-alat yang digunakan
sederhana, dan cocok untuk bahan yang tidak tahan pemanasan (Depkes RI,
1986).
Menurut farmakope herbal indonesia :
Masukkan 1 bagian serbuk kering simplisia kedalam maserator,
tambahkan 10 bagian pelarut (etanol 70%). Rendam selama 6 jam sambil
sekali-sekali diaduk, kemudian diamkan selama 18 jam. Pisahkan maserat
dengan cara pengendapan, sentrifugasi, dekantasi, atau filtrasi. Ulangi proses
penyarian sekurang-kurangnya dua kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang
sama (Depkes RI, 2008).Suling atau uapkan maserat pada tekanan rendah pada
suhu tidak lebih dari 500C hingga konsistensi yang dikehendaki (BPOM RI,
2010).
2.4.2 Perkolasi
Perkolasi merupakan proses penyarian serbuk simplisia dengan pelarut
yang cocok dengan melewatkan secara perlahan-lahan melewati kolom.
Serbuk simplisia dimasukkan kedalam perkolator, dengan cara mengalirkan
cairan melalui kolom dari atas ke bawah melalui celah untuk keluar ditarik
oleh gaya berat seberat cairan dalam molom. Pembaharuan bahan pelarut
secara terus-menerus sehingga memungkinkan berlangsungnya maserasi
bertingkat. Kekurangan dari metode ini adalah tidak boleh digunakan pada
ekstrak yang mengandung bahan yang bisa mengembang atau pati/amylum
(Ansel, 1989).
Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut:
Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat
halus yang cocok dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian penyari, masukkan ke
dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam. Pindahkan massa
sedikit demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-hati,
tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan
diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator,
biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per
menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya sehingga selalu
terdapat selapis cairan diatas simplisia, hingga diperoleh 80 bagian
perkolat.Peras massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat, tambahkan
cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian. Pindahkan kedalam
sebuah bejana, tutup, biarkan selama 2 hari ditempat sejuk, terlindung dari
cahaya. Enap tuangkan atau saring. Perkolat disuling atau diuapkan dengan
tekanan rendah pada suhu tidak lebih dari 500C hingga konsistensi yang
dikehendaki. Pada pembuatan ekstrak cair, 0,8 bagian perkolat pertama
dipisahkan, perkolat selanjutnya diuapkan hingga 0,2 bagian, campur dengan
perkolat pertama. Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol, dapat juga
dilakukan dengan cara reperkolasi tanpa menggunakan panas (BPOM RI,
2010).
2.4.3 Soxhletasi
Bahan yang akan diekstraksi diletakkan dalam sebuah kantung
ekstraksi (kertas atau karbon) dibagian dalam alat ekstraksi dari gelas yang
bekerja kontinyu (percolator). Wadah gelas yang mengandung kantung
diletakkan antara labu penyulingan dengan pendingin aliran balik dan
dihubungkan dengan labu melalui pipa. Labu tersebut berisi bahan pelarut
yang menguap dan mencapai ke dalam pendingin aliran balik melalui pipet,
berkondensasi didalamnya, menetes ke atas bahan yang diekstraksi. Larutan
berkumpul didalam wadah gelas dan setelah mencapai tinggi maksimalnya,
secara otomatis dipindahkan kedalam labu. Dengan demikian zat yang
terekstraksi terakumulasi melalui penguapan bahan pelatur murni berikutnya
(Voight, 1984).

2.5 Parameter Mutu Ektrak


Standarisasi adalah rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode
analisis kimiawi berdasarkan data farmakologis, melibatkan analisis fisik dan
mikrobiologi berdasarkan kriteria umum keamanan (toksikologi) terhadap suatu
ekstrak alam (Saefudin et al., 2011).
Standarisasi dalam kefarmasian tidak lain adalah serangkaian parameter,
prosedur dan cara pengukuran yang hasilnya merupakan unsur-unsur terkait
paradigma mutu kefarmasian, mutu dalam artian syarat standar (kimia, biologi dan
farmasi), termasuk jaminan (batas-batas) stabilitas sebagai produk kefarmasian
umumnya. Dengan kata lain, pengertian standarisasi juga berarti proses menjamin
bahwa produk akhir obat (obat, ekstrak atau produk herbal) mempunyai nilai
parameter tertentu yang konstan dan ditetapkan dahulu. Terdapat dua faktor yang
mempengaruhi mutu ekstrak yaitu faktor biologi dari bahan asal tumbuhan obat dan
faktor kandungan kimia bahan obat tersebut. Standarisasi ekstrak terdiri dari
parameter standar spesifik dan parameter standar non spesifik (Depkes RI, 2000).
2.5.1 Parameter Spesifik
Penentuan parameter spesifik adalah aspek kandungan kimia kualitatif
dan aspek kuantitatif kadar senyawa kimia yang bertanggung jawab langsung
terhadap aktivitas farmakologis tertentu. Parameter spesifik ekstrak meliputi :
2.5.1.1 Identitas
Parameter identitas ekstrak meliputi deskripsi tata nama meliputi
nama ekstrak (generik, dagang, paten), nama latin tumbuhan (sisitematika
botani), bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, dan sebagainya)
dan nama Indonesia tumbuhan. Penentuan parameter ini dilakukan untuk
memeberikan identitas obyektif dari nama dan spesifik dari senyawa
identitas, yaitu senyawa tertentu yang menjadi petunjuk spesifik dengan
metode tertentu (Dekes RI, 2000).

2.5.1.2 Organoleptik

Parameter organoleptik ekstrak merupakan pendeskripsian bentuk,


warna, bau, rasa dengan menggunakan pancaindera. Penentuan parameter ini
dilakukan untuk memberikan pengenalan awal yang sederhana dan seobyektif
ini (Depkes RI, 2000).
2.5.1.3 Senyawa Terlarut dalam Pelarut Tertentu
Parameter senyawa terlarut dalam pelarut ditentukan dengan cara
melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol atau air) untuk ditentukan jumlah
solut yang identik dengan jumlah senyawa yang terlarut dalam pelarut lain,
misalnya heksana, diklorometan, metanol. Penentuan parameter ini dilakukan
untuk memberikan gambaran awal jumlah senyawa kandungan (Depkes, RI).
2.5.1.4 Kadar Senyawa Kimia Tertentu
Dengan tersedianya suatu kandungan kimia yang berupa identitas
atau senyawaa kimia utama ataupun kandungan kimia lainnya, maka secara
kromtaografi instrumental dapat dilakukan penetapan kadar kandungan kimia
tersebut. Instrumen yang dapat digunakan adalah Densitometer, Kromatografi
Gas, Kromatografi Cair Kinerja Tinggi atau instrumen lain yang sesuai.
Metode penetapan kadar harus diuji dulu validasinya, yaitu batas deteksi,
selektivitas, linieritas, ketelitian, ketepatan dan lain-lain. Penentuan kadar
senyawa identitas ini dapat memberikan data kadar kandungan kimia tertentu
sebagai senyawa identitas atau senyawa yang diduga betanggung jawab pada
efek farmakologi (Depkes RI, 2000).
2.5.2 Parameter Non-Spesifik
Parameter non spesifik merupakan tolak ukur baku yang dapat berlaku
untuk semua jenis simplisia maupun ekstrak, tidak khusus untuk jenis
simplisia atau ekstrak dari tanaman tertentu, ataupun jenis proses yang telah
dilalui (Depkes RI, 2000).
2.5.2.1 Susut Pengeringan
Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur 105 °C
selama 30 menit atau sampai berat konstan, yang dinyatakan sebagai nilai
prosen. Dalam hal khusus (bahan tidak mengandung minyak menguap/atsiri
dan sisa pelarut menguap) identik denggan kadar air, yaitu kandungan air
karena kandungan air berada di atmosfer/lingkungan udara terbuka. Penentuan
parameter ini dilakukan untuk memberikan batasan maksimal (rentang)
tentang besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan (Depkes RI,
2000).
2.5.2.2 Kadar Air
Pengukuran kandungan air yang berada dalam bahan, dilakukan
dengan cara yang tepat diantara cra titrasi, destilasi atau gravimetri. Penentuan
parameter ini dilakukan untuk memberikan batasan minimal atau rentang
tentang besarnya kandungan air dalam bahan (Depkes RI, 2000).
2.5.2.3 Kadar Abu
Dilakukan dengan memanaskan bahan pada temperatur dimana
senyawa organik dan turunannya terdestruksi dan menguap, sehingga tinggal
usur mineral dan anorganik. Penentuan parameter ini dilakukan untuk
memeberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang
berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak (Depkes RI, 2000).

2.5.2.4 Cemaran Logam Berat


Penentuan kandungan logam berat secara spektroskopi serapan atau
lainnya yang lebih valid. Penentuan parameter ini dilakukan untuk
memeberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat tertentu
(Hg, Pb, Cd dan lain-lain) melebihi nilai yang ditetapkan karena berbahaya
(toksik) bagi kesehatan (Depkes RI, 2000).
2.5.2.5 Cemaran Mikroba
a) Parameter Cemaran Mikroba
Penentuan/ identifikasi adanya mikroba yang patogen secara
analisis mikrobiologi. Penentuan parameter ini untuk meberikan
jaminan bahwa ekstrak tidak boleh mengandung mikroba
nonpatogen melebihi batas yang ditetapkan karena berpengaruh
pada stabilitas ekstrak ekstrak dan berbahaya (toksik) bagi
kesehatan.
b) Parameter Cemaran Kapang, Khamir dan Aflatoksin
Penentuan adanya jamur secara mikrobiologis dan adanya
aflatosin denga KLT. Penentuan parameter ini untuk memebrikan
jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung cemaran jamur melebihi
batas yang ditetapkan karena berpengaruh pada stabilitas ekstrak
dan aflatoksin yang berbahaya bagi kesehatan (Depkes RI, 2000).
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Labu bersumbat (corong pisah)
- Kertas saring
- Kertas saring bebas abu
- Cawan penguap
- Krus porselen
- Timbangan digital
- Analytical balance
- Lemari pengering (oven)
- Pipet
- Alumunium foil
- Penjepit kayu
- Pinset
- Tisu
- Kurs porselen

3.1.2 Bahan
- Ekstrak kering rimpang kencur
- Air-Kloroform LP
- Etanol 95%.

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Parameter Spesifik
3.2.1.1 Senyawa Terlarut dalam Pelarut Tertentu
Prinsip: Melarutkan ekstrak dengan pelarut (alkohol atau air) untuk
ditentukan jumlah solut yang identik dengan jumlah senyawa yang
terlarut dalam pelarut lain, misalnya heksana, diklorometan,
metanol.
Prosedur:
a) Kadar Senyawa Larut Air
Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan
100 ml air kloroform LP menggunakan labu bersumbat sambil
berkali-kali dikocok selama 2,5 jam pertama dan kemudian
dibiarkan selama 24 jam. Saring, uapkan 20 ml filtrat hingga
kering dalam cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara,
panaskan residu pada suhu 105°C hingga bobot tetap. Hitung
kadar dalam persen, dihitung terhadap ekstrak awal. Percobaan
dilakukan 3 kali.
Catatan: Air-Kloroform LP adalah air suling 997,5 ml
dicampur dengan 2,5 ml kloroform.
b) Kadar Senyawa Larut Etanol
Maserasi sejumlah 5,0 gram ekstrak selama 24 jam dengan
100 ml etanol (95%) menggunakan labu bersumbat sambil
berkali-kali dikocok selama 2,5 jam pertama dan kemudian
dibiarkan selama 24 jam. Saring cepat dengan menghindarkan
penguapan etanol, uapkan 20 ml filtrat hingga kering dalam
cawan dangkal berdasar rata yang telah ditara, panaskan residu
pada suhu 105°C hingga bobot tetap. Hitung kadar dalam
persen, dihitung terhadap ekstrak awal. Percobaan dilakukan 3
kali.

3.2.2 Parameter Non-Spesifik


3.2.2.1 Susut Pengeringan
Prinsip: Pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada temperatur
105°C selama 30 menit atau sampai berat konstan yang
dinyatakan dalam persen.
Prosedur: Tara botol timbang + tutup kemudian panaskan pada
suhu 105°C selama 30 menit. Timbang ekstrak 1 gram dalam botol
timbang dan ratakan. Dinginkan ekstrak dan botol timbang dalam
desikator pada suhu kamar. Dimasukkan dalam ruang pengering,
dan keringkan pada suhu 105°C dengan tutup terbuka hingga
bobot tetap.

3.2.2.2 Kadar Air


Prinsip: Pengukura kandungan air yang berada di dalam bahan,
dilakukan dengan cara titrasi, destilasi atau gravimetri.

Prosedur: Tabung penerima dan pendingin dibersihkan dengan


asam pencuci, dibilas dengan air, dikeringkan dalam lemari
pengering. Sejumlah ekstrak herba dimasukkan ke dalam labu
kering yang telah ditimbang seksama. Ke dalam labu dimasukkan
200 ml Toluen P, alat dihubungkan. Toluen dituang ke dalam
tabung penerima melalui alat pendingin. Labu dipanaskan selama
15 menit. Setelah toluen mulai mendidih, disuling dengan
kecepatan penyulingan hinggga 4 tetes tiap detik. Setelah semua
air tersuling, bagian dalam pendingin dicuci dengan toluen, sambil
dibersihkan dengan sikat dengan sikat tabung yang disambungkan
pada sebuah kawat tembaga dan telah dibasahi dengan toluen.
Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit. Tabung penerima
dibiarkan hingga suhunya mencapai suhu kamr. Setelah air dan
toluen memisah sempurna, volume air dibaca. Dihitung kadar air
dalam %.
Catatan:
Toulena p adalah toluena yang sudah dijenihkan dengan air suling.
Sebanyak 200 ml toluena ditambah 5 ml air suling, kemudian
dikocok beberapa saat, lalu dipisahkan.
3.2.2.3 Kadar Abu
Prinsip: Bahan dipanaskan pada temeperatur dimana senyawa
organik dan turunannya terdestruksi dan menguap. Sehingga
tinggal unsur mineral dan anorganik.

Prosedur:
a) Penetapan Kadar Abu Total
Lebih kurang 2 – 3 gram ekstrak yang telah digerus dan
ditimbnag seksama, dimasukkan ke dalam krus yang telah
dipijrakan dan ditara, kemudian diratakan. Dipijar perlahan-
lahan hingga arang habis, didinginkan dan ditimbang. Jika cara
ini arang tidak dapat dihilangkan, ditambahkan air panas,
disaring melalui kertas saring bebas abu. Sisa kertas saring
dipijarkan dalam krus yang sama. Filtrat dimasukkan ke dalam
krus, diuapkan, dipijar hingga bobot tetap, kemudian
ditimbang. Dihitung kadar terhadap bahan yang telah
dikeringkan di udara.
b) Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu, didihkan
dengan 25 ml asam sulfat encer selama 5 menit, bagian yang
tidak larut dalam asam dikumpulkan, disaring melalui krus
kaca masir atau kertas saring bebas abu, dicuci dengan air
panas, dipijarkan hingga bobot tetap, ditimbang. Dihitung kadar
abu yang tidak larut asam terhadap bahan yang telah
dikeringkan di udara.

3.2 Bagan Alir


3.2.1 Parameter Spesifik
3.2.1.1 Senyawa Terlarut dalam Pelarut Tertentu
a) Kadar Senyawa Larut Air

5 gram ekstrak

Masukkan (+) 100 ml air kloroform LP selama 24 jam

Kocok berkali-kali ± 6 jam

Biarkan selama 18 jam

Saring

Uapkan 20 ml filtrat sampai kering

Panaskan pada suhu


105°C

Dilakukan replikasi 3x
b) Kadar Senyawa Larut Etanol

5 gram ekstrak

Masukkan (+) 100 ml etanol LP selama 24 jam

Kocok berkali-kali ± 6 jam

Biarkan selama 18 jam

Saring

Uapkan 20 ml filtrat sampai kering

Panaskan pada suhu


105°C

Dilakukan replikasi 3x

3.2.2 Parameter Non-Spesifik


3.2.2.1 Susut Pengeringan

Ditara cawan penguap

Panaskan pada suhu 105°C ± 30 menit ad konstan

Timbang 1-2 g ekstrak dalam cawan


porse

Dinginkan ekstrak dalam eksikator pada suhu kamar

Keringkan pada suhu 105°C dengan tutup terbuka sampai bobot tetap
3.2.2.2 Kadar Air

Tabung penerima dan pendingin dibersihkan dg asam pencuci

Bilas dan keringkan

Ekstrak→labu kering, (+) 200 ml Toluen P, alat dihubungkan

Toluen dituang → tabung


penerima

Labu dipanaskan 15 menit

Toluen mulai mendidih, disuling 4 tetes/detik

Semua air tersuling

Bagian dalam pendingin dicuci dengan toluen,


sambil dibersihkan dengan sikat tabung

Penyulingan dilanjutkan selama 5 menit

Tabung penerima dibiarkan hingga suhunya mencapai suhu kamar

Air dan toluen memisah sempurna → volume air dibaca

Dihitung kadar air dalam %


3.2.2.3 Kadar Abu
a) Penetapan Kadar Abu Total

Timbang 2-3 g ekstrak

Masukkan dalam krus yang telah ditara

Pijar perlahan

Dinginkan dan timbang

(jika arang tidak hilang, ditambah air panas, disaring)

Sisa kertas saring dipijar

Filtrat dimasukkan dalam krus yang sama

Diuapkan

Dipijar ad bobot tetap

Ditimbang
b) Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam

Abu yang diperoleh

Didihkan dengan 25 ml asam sulfat encer selama 5 menit

Bagian yang tidak larut dalam asam sulfat dikumpulkan

Disaring

Cuci dengan air panas

Pijar hingga bobot tetap

Ditimbang

Hitung kadar abu yang tidak larut asam terhadap


bahan yang telah dikeringkan
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Gambar
A. Parameter Spesifik
1. Senyawa Larut dalam Pelarut Tertentu
a) Larut dalam Air

Penimbangan ekstrak kencur Ekstrak + air-kloroform dalam


sebanyak 5 g corong pisah
Penimbangan cawan+ekstrak kencur setelah dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C
Ekstrak30
selama + air-kloroform setelah
menit → diamkan Penimbangan
ad suhu ruang kemudian cawan
dimasukkan kosong
desikator 10 menit
disaring dan diuapkan ad
20 ml filtrat
1 2 3

4 5 7

8 10 11
12 13 14

15

b) Larut dalam etanol

Penimbangan ekstrak Ekstrak + etanol 95% Penimbangan cawan


kencur sebanyak 5 g dalam corong pisah, kosong
disaring →diuapkan ad 20
ml filtrat
Penimbangan cawan+ekstrak kencur setelah dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C
selama 30 menit → diamkan ad suhu ruang kemudian dimasukkan desikator 10 menit

1 2 3

4 5 7

8 10 11
12 13 14

16 17 18

B. Parameter Non-Spesifik
1. Susut Pengeringan
Penimbangan cawan+ekstrak kencur setelah dipanaskan dalam oven pada suhu 105°C
selama 30 menit → diamkan ad
Penimbangan suhukosong
cawan ruang kemudian Penimbangan
dimasukkan desikator
ekstrak 10 menit
setelah di panaskan dalam kencur sebanyak 2 g
oven pada 105°C 30 menit
1 →suhu ruang→desikator
2 3

4 5 6

7 8 9
10 12 13

15 16 17

18 19 22
23

2. Kadar Abu

Pemijaran kurst selama Didiamkan hingga suhu Penimbangan kurst


30 menit ruang → desikator 10 kosong
menit
3.Penimbangan
Kadar Air Pemijaran kurst+ekstrak Penimbangan ekstrak
kurst+ekstrak setelah ad ekstrak menjadi abu kencur sebanyak 2 g
pemijaran putih

Penimbangan ekstrak Pengukuran kadar air


dengan rentang 2,6 g – 3,5 pada alat ± 10 menit
g sebanyak 2,842 g
4.1.2 Perhitungan
4.2 Pembahasan
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014, Farmakope Indonesia Edisi V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia,


Jakarta.
Ansel, H.C., 1989, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Farida Ibrahim,
Asmanizar, Iis Aisyah, Edisi keempat, Jakarta, UI Press.
Badan POM RI, 2010, Acuan Sediaan Herbal, Vol. 5, Edisi I, Direktorat Obat Asli Indonesia,
Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia,Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1986, Sediaan Galenik, Direktorat Jendral
Pengawasan Obat Dan Makanan, Jakarta.
Departemen Kesehatan RI, 1989, Materia Medika Indonesia, Jilid V, hal.55.
Departemen Kesehatan RI. (1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI
Departemen Kesehatan RI. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat.
Derektorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan : Jakarta.
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia. Penerjemah Dr. Kosasih P. dan Dr. Iwang S. Cetakan
kedua. Bandung ITB.
Keil, F. J. 2007. Modeling of Process Intensification. AIDIC Conference Series, Vol. 9 page
1-8.
Pengobatan, Ahli, 2014, Kencur- Ciri-ciri Tanaman serta Khasiat dan Manfaatnya.
(http://www.tanobat.com/kencur-ciri-ciri-tanaman-serta-khasiat-dan-manfaatnya.html,
diakses pada tanggal 25 September 2018).
Soeratri, W. et al .2014. Penentuan Dosis Asam p-metoksisinamat (APMS) Sebagai
Antiinflamasi Topikal dan Studi Penetrasi APMS Melalui Kulit Tikus dengan dan Tanpa
Stratum Korneum. Jurnal Farmasi dan Ilmu Kefarmasian Indonesia, Vol.1 No.1.
Sulaiman, M. R. Z. A., dkk. 2007. Antinociceptive and Anti-inflammatory Activities of the
Aqueous Extract of Kaempferia galanga Leaves in Animal Models. J. Nat. Med, 62 : 221-227.
Van Duin, C.F., 1947, Buku Penuntun Ilmu Resep Dalam Praktek Dan Teori, Penerjemah K.
Satiadarma Apt., Pecenongan, Jakarta.
Voigt. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi. Diterjemahkan oleh Soendani Noeroto S.,UGM
Press, Yogyakarta.