Anda di halaman 1dari 8

AKAD SALAM

PENGERTIAN AKAD SALAM

Salam berasal dari kata “As salaf” artinya pendahuluan karena pemesan barang
menyerahkan uangnya di muka. Para ahli fikih menamainya al mahawi’ij (barang barang
mendesak) karena ia sejenis jual beli yang dilakukan mendesak walaupun barang yang
diperjualbelikan tidak ada ditempat. Dilihat dari sisi pembeli ia sangat membutuhkan barang
tersebut di kemudian hari sementara si penjual sangat membutuhkan uang tersebut.
Definisi Akad Salam Salam adalah akad jual beli barang pesanan (muslam fiih) dengan
pengiriman di kemudian hari oleh penjual (muslam illaihi) dan pelunasannya dilakukan oleh
pembeli (al muslam) pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

KARAKTERISTIK AKAD SALAM:

a. Harga
b. Spesifikasi
c. Karakteristik
d. Kualitas
e. kuantitas dan
f. waktu penyerahan aset yang dipesan sudah ditentukan dan disepakati ketika akad terjadi.

harga barang pesanan yang sudah disepakati tidak dapat berubah selama jangka waktu akad.
Apabila barang yang dikirim tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati
sebelumnya, maka pembeli boleh melakukan khiar yaitu memilih apakah transaksi
dilanjutkan atau dibatalkan.

Manfaat transaksi salam bagi pembeli adalah adanya jaminan memperoleh barang dalam
jumlah dan kualitas tertentu pada saat ia membutuhkan dengan harga yang disepakatinya di
awal. Sementara manfaat bagi penjual adalah diperolehnya dana untuk melakukan aktivitas
produksi dan memenuhi sebagian kebutuhan hidupnya.

JENIS AKAD SALAM

a. salam merupakan transaksi jual beli dimana barang yang diperjualbelikan belum ada
ketika transaksi dilakukan, pembeli melakukan pembayaran dimuka sedangkan
penyerahan barang baru dilakukan di kemudian hari.
b. Salam paralel, artinya melaksanakan dua transaksi bai’ salam yaitu antara pemesan dan
penjual dan antara penjual dengan pemasok (supplier) atau pihak ketiga lainnya secara
simultan. Beberapa ulama kontemporer melarang transaksi salam paralel terutama jika
perdagangan dan transaksi semacam itu dilakukan secara terus menerus. Hal demikian
dapat menjurus kepada riba. Paralel salam dibolehkan asalkan eksekusi kontrak salam
kedua tidak tergantung pada eksekusi kontrak yang pertama.

DASAR SYARIAH

Sumber hukum akad salam

a. Al-Quran
“hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk
waktu yang ditentukan, hendaknya kamu menuliskannya dengan benar....” (QS:al-
Baqarah:282):
b. Al-Hadits
“Barang siapa melakukan salam, hendaknya ia melakukannya dengan takaran yang jelas
dan timbangan yang jelas pula, untuk jangka waktu yang diketahui.” (HR.Bukhari
Muslim). Tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh
muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan
rumah, bukan untuk dijual.” (HR. Ibnu Majah)

RUKUN DAN KETENTUAN AKAD SALAM

Rukun salam ada tiga, yaitu:


1. Pelaku, terdiri atas penjua (muslam alaihi) dan pembeli (al muslam)
2. Obyek akad (barang yang akan diserahkan dan modal salam yang berbentuk harga)
3. Ijab kabul/serah terima

Ketentuan syariah, terdiri:

1. Pelaku, ada penjual dan pembeli, Cakap hukum (Berakal dan dapat membedakan) dan
baligh
2. Obyek akad
a. modal salam, (1) modal harus diketahui jenis dan jumlahnya. (2) Berbentuk uang tunai.
Para ulama berbeda pendapat masalah bolehnya pembayaran dalam bentuk aset
perdagangan. Beberapa ulama menganggapnya boleh. (3) Modal salam diserahkan ketika
akad berlangsung, tidak boleh utang atau merupakan pelunasan utang. Hal ini adalah
untuk mencegah praktek riba melalui mekanisme salam.
b. Barang Salam, (1) Barang tersebut harus dapat dibedakan/ diidentifikasi mempunyai
spesifikasi dan karakteristik yang jelas seperti kualitas, jenis, ukuran dan lain sebagainya
sehingga tidak ada gharar. (2) Barang tersebut harus dapat dikuantifikasi /ditakar/
ditimbang. (3) Waktu penyerahan barang harus jelas, tidak harus tanggal tertentu boleh
juga dalam kurun waktu tertentu. Hal tersebut diperlukan untuk mencegah gharar atau
ketidakpastiahan yaitu harus ada pada waktu yang ditentukan. (4) Barang tidak harus ada
ditangan penjual tetapi harus ada pada waktu yang ditentukan. (5) Apabila barang yang
dipesan tidak ada pada waktu yang ditentukan, akad menjadi fasakh/rusak dan pembeli
dapat memilih apakah menunggu sampai dengan barang yang dipesan tersedia atau
membatalkan akad sehingga penjual harus mengembalikan dana yang telah diterima (6)
Apabila barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang disepakati dalam akad,
maka pembeli boleh melakukan khiar atau memilih untuk menerima atau menolak. Kalau
pilihannya menolak maka si penjual memiliki utang yang dapat diselesaikan dengan
pengembalian dana atau menyerahkan produk yang sesuai dengan akad. (7) Apabila
barang yang dikirim memiliki kualitas yang lebih baik, maka penjual tidak boleh meminta
tambahan pembayaran dan hal ini dianggap sebagai pelayanan kepuasan pelanggan (8)
Apabila barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah, pembeli boleh memilih
menolaknya atau menerima. Apabila pembeli menerima maka pembeli tidak boleh
meminta kembali sebagian uangnya atau (diskon). (9) Barang boleh dikirim sebelum jatuh
tempo asalkan disetujui oleh kedua pihak dan dengan syarat kualitas dan jumlah barang
sesuai dengan kesepakatan, dan tidak boleh mwnuntut penambahan harga. (10) Penjualan
kembali barang yang dipesan sebelum barang tersebut diterima tidak dibolehkan secara
syari’ah. (11) kaidah Penggantian barang yang dipesan dengan barang lain. Para ulama
melarang penggantian barang yang dipesan dengan barang lainnya. Bila barang tersebut
diganti dengan barang yang memiliki spesifikasi dan kualitas yang sama, meskipun
sumbernya berbeda, para ulama membolehkannya. (12) Apabila tempat penyerahan
barang tidak disebutkan, akad tetap sah. Namun sebaiknya dijelaskan dalam akad, apabila
tidak disebutkan maka harus dikirim ke tempat yang menjadi kebiasaan.
c. Ijab kabul adaah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela di antara pihak-pihak pelaku
akad yang dilakukan secara verbal, tertulis melalui korespondensi atau menggunakan cara-
cara komunikasi modern.
BERAKHIRNYA AKAD SALAM

1. Barang yang dipesan tidak ada pada waktu yang ditentukan.


2. Barang yang dikirim cacat atau tidak sesuai dengan yang disepakati dalam akad.
3. Barang yang dikirim kualitasnya lebih rendah dan pembeli membatalkan.
4. Barang yang dikirim kualitasnya tidak sesuai akad tetapi pembeli menerimanaya.
5. Barang diterima

PERLAKUAN AKUNTANSI (PSAK 103)

No Keterangan Akuntansi untuk Akuntansi untuk


pembeli penjual
1. Pengukuran modal usaha (pembeli) Dr. Piutang salam Dr. Kas
Pengukuran kewajiban (penjual) Kr. kas Kr. Utang salam
a. Aset nonkas (nilai wajar lebih Dr. Piutang salam
kecil dari nilai tercatat) Dr. Kerugian
Kr. Aset nonkas
b. Aset nonkas (nilai wajar lebih Dr. Piutang salam
besar dari nilai tercatat) Kr. Aset non kas
Kr. keuntungan
c. Aset nonkas diukur sebesar nilai Dr. Aset nonkas
wajar (NW)
Kr. Utang salam
2.  Kewajiban salam Penyerahan Dr. Utang salam
barang kpd pembeli (penjual). Kr.penjualan
 Membeli persedian Dr. Aset salam
Penerimaan barang pesanan Kr. Kas
(pembeli)
a. Sesuai dengan akad Dr. Aset salam
Kr. Piutang salam
b. Berbeda kualitas
 NW lebih besar/sama dengan Dr. Aset salam Dr. Utang salam
nilai barang pesanan. Kr. Piutang salam Kr. Aset salam
Kr.Keuntungan
salam
Dr. Persediaan-AS Dr.utang salam
 NW lebih rendah dari nilai Dr. Kerugian salam Dr. Kerugian salam
barang pesanan Kr. Piutang salam Kr. Aset salam
c. Pembeli tidak menerima sebagian
atau seluruh barang pesanan pd tgl
jatuh tempo
 Jika tanggal pengiriman Dr. Aset salam
diperpanjang Kr. Piutang salam
 Aset salam dibatalkan sebagian Dr. Piutang lain* penj
/seluruhnya Kr. Piutang salam

 Aset salam dibatalkan sebagian Dr. Kas


/seluruhnya dan pembeli Dr. Piutang lain* penj
mempunyai jaminan. Kr. Piutang salam

Jika penj jamianan lebih besar Dr. Kas


dari nilai tercatat piutang salam Kr. Utang penjual

maka selisih menjadi hak penjual Kr. Piutang salam

3. Denda yang diterima dan Dr. Dana kebijakan kas


diberlakukan Kr. Dana kebijakan
pendapatan denda

AKAD ISTISHNA’

PENGERTIAN ISTISHNA’

akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan
persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni’) dan penjual
(pembuat, shani’). Shaniâ akan menyiapkan barang yang dipesan sesuai dengan spesifikasi
yang telah disepakati dimana ia dapat menyiapkan sendiri atau melalui pihak lain (istishna’€™
parallel).

KARAKTERISTIK AKAD ISTISHNA’ BARANG PESANAN HARUS MEMENUHI


KRITERIA:

a. memerlukan proses pembuatan setelah akad disepakati


b. sesuai dengan spesifikasi pemesan (customized), bukan produk massal.
c. harus diketahui karakteristiknya secara umum yang meliputi jenis, spesifikasi teknis,
kualitas, dan kuantitasnya.
Perbedaan akad salam dengan akad istishna’

Subjek Salam Istishna’ Aturan dan keterangan


Pokok Muslam fihi Mashnu’ Barang ditangguhkan, dengan
kontrak spesifikasi
Harga Dibayar saat Boleh saat Cara penyelesaian pembayaran
kontrak kontrak, boleh merupakan perbedaan utama antara
diangsur, boleh salam dan istishna’
kemudian hari
Sifat Mengikat Mengikat secara Salam mengikat semua pihak sejak
kontrak secara asli ikutan (thabai’i) semula, sementara istishna’ dianggap
(thabai’i) mengikat berdasarkan pandangan para
fuqaha demi kemashlahatan, serta tidak
bertentangan dengan aturan syariah
Kontrak Salam paraler Istishna’ paraler paralel Baik salam paralel maupun
paraler istishna’ paralel sah asalkan kedua
kontrak secara hukum adalah terpisah.

JENIS AKAD ISTISHNA’

1. Istishna’ adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan
kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli/mustashni) dan
penjual (pembuat, shani’).
2. Istishna’ Paralel adalah suatu bentuk akad istishna’ antara penjual dan pemesan, dimana
untuk memenuhi kewajibannya kepada pemesan, penjual melakukan akad istishna’
dengan pihak lain (sub kontraktor) yang dapat memenuhi aset yang dipesan pembeli.
Syaratnya akad istishna’€™ pertama tidak bergantung pada istishna’ kedua. Selain itu
penjual tidak boleh mengakui adanya keuntungan selama konstruksi.

DASAR SYARIAH

“perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian mengharamkan


yang halal dan menghalalkan yang haram; dan kaum muslimin terikat syarat-syarat mereka
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal dan mengharamkan yang haram.” (HR.
Tirmidzi)

masyarakat telah mempraktekkan istishna’ secara luas dan terus menerus tanpa ada
keberatan sama sekali. Hal demikian menjadikan istishna’ sebagai kasus ijma’atau konsensus
umum. keberadaan istishna’ didasarkan atas kebutuhan masyarakat. Banyak orang
seringkali memerlukan barang yang tidak tersedia di pasar, sehingga mereka cenderung
melakukan kontrak agar orang lain membuatkan barang untuk mereka. Istishna’ sah sesuai
dengan aturan umum mengenai kebolehan kontrak selama tidak bertentangan dengan nash
atau aturan syariah.

RUKUN DAN KETENTUAN AKAD ISTISHNA’

Adapun rukun istishna’ ada tiga, yaitu:

1. Pelaku terdiri dari pemesan (pembeli/ mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’). Harus
Cakap Hukum dan Baligh.
2. Objek akad berupa barang yang akan diserahkan dan modal istishna’ yang berbentuk
harga.
a. Ketentuan tentang Pembayaran Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik
berupa uang, barang, atau manfaat; demikian juga dengan cara pembayarannya Harga
yang telah ditetapkan dalam akad tidak boleh berubah. Akan tetapi apabila setelah akad
ditandatangani pembeli mengubah spesifikasi dalam akad maka penambahan biaya
akibat perubahan ini menjadi tanggung jawab pembeli. Pembayaran dilakukan sesuai
kesepakatan Pembayaran tidak boleh berupa pembebasan utang.
b. Ketentuan tentang barang Harus jelas spesifikasinya (jenis, ukuran, mutu), sehingga
tidak ada lagi jahalah dan perselisihan dapat dihindari. Penyerahannya dilakukan
kemudian Waktu dan penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya Tidak boleh menukar
barang kecuali dengan barang sejenis sesuai kesepakatan Dalam hal terdapat cacat atau
barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pemesan memiliki hak khiyar (hak memilih)
untuk melanjutkan atau membatalkan akad. Dalam hal pesanan sudah dikerjakan sesuai
dengan kesepakatan hukumnya mengikat, tidak boleh dibatalkan sehingga penjual tidak
dirugikan karena ia telah menjalankan kewajibannya sesuai kesepakatan.
3. Ijab kabul/serah terima Ketentuan syariah untuk akad salam juga berlaku untuk akad
istisna

BERAKHIRNYA ISTISHNA’

Kontrak istishna’ bisa berakhir berdasarkan kondisi-kondisi berikut:

1. dipenuhinya kewajiban secara normal oleh kedua belah pihak.


2. persetujuan bersama kedua belah pihak untuk menghentikan kontrak.
3. pembatalan hukum kontrak. Ini jika muncul sebab yang masuk akal untuk mencegah
dilaksanakannya kontrak atau penyelesaiannya, dan masing-masing pihak bisa menuntut
pembatalannya.