Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM

METODE FISIKO KIMIA


IDENTIFIKASI SENYAWA P-DIMETILAMINO BENZALDEHIDA SECARA
SPECTROSCOPY FOURIER TRANSFORM INFRARED (FTIR)

Tanggal Praktikum : 16 Oktober 2018

Kelas : F 2016

Dosen Praktikum :

1. Sri Wardatun, M.Farm.,Apt.

2. Rikkit Suryandi Sihombing, S.Farm.

3. Zaldy Rusli, M.Farm.

Disusun Oleh :

Yosef Eko Lesmana ( 0661 16 217 )

LABORATORIUM FARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat allah SWT. Tuhan semesta alam karena atas
izin dan kehendak-NYAlah laporan sederhana ini dapat kami rangkum tepat pada
waktunya. Penulisan dan pembuatan laporan ini bertujuan untuk memenuhi mata
kuliah Metode Fisikokima. Adapun yang kami bahas dalam laporan sederhana ini
mengenai “IDENTIFIKASI SENYAWA P-DIMETILAMINO
BENZALDEHIDA SECARA SPECTROSCOPY FOURIER TRANSFORM
INFRARED (FTIR)”
Kami menyadari akan kemampuan kami yang masih amatir dalam laporan
ini, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi kami yakin laporan ini masih
banyak kekurangan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan
saran dan juga kritik membangun, agar lebih maju untuk masa yang akan datang.
Harapan saya laporan ini dapat menjadi track record dan menjadi referensi
bagi yang mengarungi masa depan, saya juga berharap laporan ini dapat berguna
bagi orang lain yang membacanya.

Bogor, 16 Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………. i
DAFTAR ISI ............................................................................................ ii
BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................... 2
1.3 Tujuan ........................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................ 3
2.1 Spektrofotometer Fourier Transform Infra .................. 3
2.1.1 Pengertisn FT-IR ................................................. 3
2.1.2 Analisis Fourier Transform Infared (FT-IR)....... 3
2.1.3 Prinsip Kerja Fourier Transform Infared (FT-IR). 5
2.2 p-dimetil amino benzaldehida ...................................... 6
2.3 Interpretasi Spektrum Infra Merah............................... 6
BAB III METODE KERJA ........................................................ 10
3.1 Alat dan Bahan ............................................................ 10
3.1.1 Alat ..................................................................... 10
3.1.2 Bahan .................................................................. 10
3.2 Metode Kerja ............................................................... 10
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................... 11
4.1 Hasil Percobaan .......................................................... 11
4.1.1 Sampel 1 ............................................................ 11
4.1.2 Sampel 3 ............................................................ 12
4.2 Pembahasan ................................................................ 12
BAB V KESIMPULAN .............................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA .................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Spektrofotometri Infra Red atau Infra Merah merupakan suatu metode


yang mengamati interaksi molekul dengan radiasi elektromagnetik yang
berada pada daerah panjang gelombang 0,75 – 1.000 µm atau pada Bilangan
Gelombang 13.000 – 10 cm-1. Radiasi elektromagnetik dikemukakan
pertama kali oleh James Clark Maxwell, yang menyatakan bahwa cahaya
secara fisis merupakan gelombang elektromagnetik, artinya mempunyai
vektor listrik dan vektor magnetik yang keduanya saling tegak lurus dengan
arah rambatan.

Spektroskopi inframerah sangat berguna untuk analisis kualitatif


(identifikasi) dari senyawa organik karena spektrum yang unik yang
dihasilkan oleh setiap organik zat dengan puncak struktural yang sesuai
dengan fitur yang berbeda. Selain itu, masing-masing kelompok fungsional
menyerap sinar inframerah pada frekuensi yang unik. Sebagai contoh, sebuah
gugus karbonil, C=O, selalu menyerap sinar inframerah pada 1670-1780 cm-1
meregangkan. (Silverstein, 2002).
Fourier Transform Infrared (FT-IR) spektrometri dikembangkan dalam
rangka mengatasi keterbatasan yang dihadapi dengan instrumen dispersi.
Kesulitan utama adalah proses scanning lambat. Sebuah metode untuk
mengukur semua frekuensi inframerah secara bersamaan, bukan secara
individual, diperlukan. Sebuah solusi yang dikembangkan yang digunakan
perangkat optik yang sangat sederhana disebut interferometer. interferometer
menghasilkan sinyal unik yang memiliki semua frekuensi inframerah
“dikodekan” ke dalamnya. Sinyal dapat diukur dengan sangat cepat, biasanya
hanya dengan beberapa detik saja
Setiap unsur memiliki spectrum inframerahnya yang unik, sehingga
senyawa organik dapat diidentifikasi dengan membadingkan spektrum
inframerahnya dengan spektrum sampel yang telah diketahui. Setiap gugus

1
fungsi yang berbeda, seperti OH, CH, atau C=C, menyerap dalam range atau
frekuensi yang sempit, sehingga gugus fungsi dalam molekul dapat
diidentifikasi melalui adanya pita serapan dalam range tertentu pada spektrum
inframerah.
Spektroskopi umumnya digunakan dalam kimia fisik dan kimia analisis
untuk mengidentifikasi suatu substansi melalui spektrum yang dipancarkan
atau yang diserap. Alat untuk merekam spektrum disebut spektrometer.
Spektroskopi juga digunakan secara intensif dalam astronomi dan
penginderaan jarak jauh. Kebanyakan teleskop-teleskop besar mempunyai
spektrograf yang digunakan untuk mengukur komposisi kimia dan atribut fisik
lainnya dari suatu objek astronomi atau untuk mengukur kecepatan objek
astronomi berdasarkan pergeseran Doppler garis-garis spektral. Salah satu
jenis spektroskopi adalah spektroskopi infra merah (IR) atau FTIR (Fourier
Transform Infrared spectroscopy) . Spektroskopi ini didasarkan pada vibrasi
suatu molekul.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana menganalisis gugus fungsi yang terdapat pada p-dimetil amino
benzaldehida menggunakan Spektrofotometer Fourier Transform Infra
Red (FT-IR).
2. Bagaimana prinsip kerja instrument pada (FT-IR)

1.3 Tujuan
1. Mampu menganalisis gugus fungsi yang terdapat pada p-dimetil amino
benzaldehida menggunakan Spektrofotometer Fourier Transform Infra
Red (FT-IR),
2. memahami prinsip kerja instrument pada (FT-IR).

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red


2.1.1 Pengertian FT-IR
FT-IR merupakan salah satu instrumen yang menggunakan prinsip
spektroskopi. Spektroskopi adalah spektroskopi inframerah yang
dilengkapi dengan transformasi fourier untuk deteksi dan analisis hasil
spektrumnya (Anam. 2007). Spektroskopi inframerah berguna untuk
identifikasi senyawa organik karena spektrumnya yang sangat
kompleks yang terdiri dari banyak puncak-puncak (Chusnul. 2011).
Selain itu, masing-masing kelompok fungsional menyerap sinar
inframerah pada frekuensi yang unik. Berdasarkan penelitian
sebelumnya telah dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis gugus fungsi
yang dapat mengindikasikan komposisi umum dari obat dan limbah
balur (Diena. 2009). Dalam penelitian ini obat balur dan limbah balur
diamati dengan menggunakan FT-IR, dengan tujuan untuk mengetahui
perbedaan gugus fungsi yang terdapat dalam obat balur dan dan limbah
balur pada penderita miom.
2.1.2 Analisis Fourier Transform Infrared (FT-IR)
Jumlah energi yang diperlukan untuk meregangkan suatu ikatan
tergantung pada tegangan ikatan dan massa atom yang terikat.
Bilangan gelombang suatu serapan dapat dihitung menggunakan
persamaan yang diturunkan dari Hukum Hooke.

Persamaan di atas menghubungkan bilangan gelombang dari


vibrasi regangan (ν) terhadap konstanta gaya ikatan (f) dan massa atom

3
(dalam gram) yang digabungkan oleh ikatan (m1 dan m2). Konstanta
gaya merupakan ukuran tegangan dari suatu ikatan. Persaman tersebut
menunjukkan bahwa ikatan yang lebih kuat dan atom yang lebih
ringan menghasilkan frekuensi yang lebih tinggi. Semakin kuat suatu
ikatan, makin besar energi yang dibutuhkan untuk meregangkan ikatan
tersebut. Frekuensi vibrasi berbanding terbalik dengan massa atom
sehingga vibrasi atom yang lebih berat terjadi pada frekuensi yang
lebih rendah (Bruice, 2001).
Pancaran infra merah pada umumnya mengacu pada bagian
spektrum elektromagnetik yang terletak di antara daerah tampak dan
daerah gelombang mikro. Sebagian besar kegunaannya terbatas di
daerah antara 4000 cm-1 dan 666 cm-1 (2,5-15,0 µm). Akhir-akhir ini
muncul perhatian pada daerah infra merah dekat, 14.290-4000 cm-1
(0,7-2,5 µm) dan daerah infra merah jauh, 700-200 cm-1 (14,3-50 µm)
(Silverstain, 1967).

Salah satu hasil kemajuan instrumentasi IR adalah pemrosesan


data seperti Fourier Transform Infra Red (FTIR). Teknik ini
memberikan informasi dalam hal kimia, seperti struktur dan
konformasional pada polimer dan polipaduan, perubahan induksi
tekanan dan reaksi kimia. Dalam teknik ini padatan diuji dengan cara
merefleksikan sinar infra merah yang melalui tempat kristal sehingga
terjadi kontak dengan permukaan cuplikan. Degradasi atau induksi
oleh oksidasi, panas, maupun cahaya, dapat diikuti dengan cepat

4
melalui infra merah. Sensitivitas FTIR adalah 80-200 kali lebih tinggi
dari instrumentasi dispersi standar karena resolusinya lebih tinggi
(Kroschwitz, 1990).
Teknik pengoperasian FTIR berbeda dengan spektrofotometer infra
merah. Pada FTIR digunakan suatu interferometer Michelson sebagai
pengganti monokromator yang terletak di depan monokromator.
Interferometer ini akan memberikan sinyal ke detektor sesuai dengan
intensitas frekuensi vibrasi molekul yang berupa interferogram
(Bassler,1986).
Interferogram juga memberikan informasi yang berdasarkan pada
intensitas spektrum dari setiap frekuensi. Informasi yang keluar dari
detektor diubah secara digital dalam komputer dan ditransformasikan
sebagai domain, tiap-tiap satuan frekuensi dipilih dari interferogram
yang lengkap (fourier transform). Kemudian sinyal itu diubah menjadi
spektrum IR sederhana. Spektroskopi FTIR digunakan untuk:
1. Mendeteksi sinyal lemah
2. Menganalisis sampel dengan konsentrasi rendah
3. Analisis getaran (Silverstain, 1967).
2.1.3 Prinsip Kerja Fourier Transformed Infrared (FT-IR)
Prinsip spektrofotometer FTIR adalah interaksi sampel dengan
sinar (radiasi elektromagnetik), ikatan kimia pada panjang gelombang
tertentu akan menyerap sinar ini dan bervibrasi. Vibrasi ini dapat
berupa vibrasi tekuk atau vibrsi ulur. Absorbansi atau vibrasi ini
dihubungkan dengan ikatan tunggal atau gugus fungsi dari molekul
untuk identifikasi senyawa yang tidak diketahui.
Komponen penting dari FTIR terdiri atas sumber sinar yang terbuat
dari filamen Nerst atau globar, beam splitter berupa material
transparan dengan indeks relatif, interferometer yang berfungsi
membentuk interferogram yang akan diteruskan menuju detektor,
daerah cuplikan, dan detector yang merupakan piranti untuk mengukur
energi pancaran yang lewat akibat panas yangdihasilkan (Skoog 2004).

5
2.2 p-dimetil amino benzaldehida
p-dimetil amino benzaldehida adalah senyawa organik yang mengandung
amina dan aldehid moieties yang digunakan dalam reagen Ehrlich dan reagen
Kovac untuk menguji indoles. Kelompok karbonil biasanya bereaksi dengan
posisi 2 elektron yang kaya dari indole tetapi juga dapat bereaksi pada posisi
C-3 atau N1(Hendayana 1994).
2.3 Interpretasi Spektrum Infra Merah
Spektrum infra merah merupakan plot antara transmitans dengan frekuensi
atau bilangan gelombang. Spektrum ini juga menunjukkan banyaknya puncak
absorpsi (pita) pada frekuensi atau bilangan gelombang yang karakteristik. Daerah
bilangan gelombang yang sering digunakan pada spektrum infra merah berkisar
antara 4000-670 cm-1 (2,5-15 m). Di bawah ini spektrum infra merah 1-propanol
(Gambar 2.2).

Gambar 2.2 Spektrum IR 1-propanol

6
Daerah antara 4000-1400 cm-1 (2,5-7,1m), bagian kiri spektrum infra
merah, merupakan daerah yang khusus berguna untuk identifikasi gugus-gugus
fungsional. Daerah ini menunjukkan absorpsi yang disebabkan oleh vibrasi
(regangan) uluran. Vibrasi uluran (stretching) khas bagi gugus-gugus fungsi yang
penting seperti OH, NH dan C=O terletak pada daerah ini. Ketiadaan serapan pada
daerah gugus-gugus tertentu, dapat diartikan bahwa molekul atau senyawa itu
tidak mempunyai gugus tersebut. Tidak adanya serapan pada daerah 1850-1540
cm-1 menunjukkan tidak adanya struktur yang mengandung gugus karbonil.
Namun dalam menafsirkan seperti itu, haruslah dengan hati-hati, sebab suatu
struktur tertentu yang khas dapat menyebabkan sebuah pita menjadi terlalu lebar
sehingga tidak terartikan. Sebagai contoh adalah ikatan hidrogen antar molekul
pada asetilaseton yang dalam bentuk enolnya menghasilkan pita O-H yang yang
lebar, sehingga sering terlewatkan untuk diinterpretasikan.

Daerah di kanan 1400 cm-1 seringkali sangat rumit karena baik vibrasi
(regangan) uluran maupun tekuk mangakibatkan absorpsi di situ. Dalam daerah
ini biasanya korelasi antara suatu pita dan suatu gugus fungsional spesifik tak
dapat ditarik dengan cermat; namun, tiap senyawa organik mempunyai
absorpsinya yang unik di sini. Oleh karena itu bagian spektrum ini disebut daerah
sidikjari (fingerprint region). Meskipun bagian kiri suatu spektrum nampaknya
sama untuk senyawa-senyawa yang mirip, daerah sidikjari haruslah pula cocok
antara dua spektra, agar dapat disimpulkan bahwa kedua senyawa itu sama. Di
bawah ini merupakan spektrum dari 2-propanol (Gambar 2.5). Bila dibandingkan
dengan spektrum 1-propanol di atas, kedua spektrum tersebut menunjukkan pita
serapan yang mirip pada daerah 4000-1400 cm-1, namun berbeda pada daerah
sidikjari.

7
Gambar 2.3 Spektrum IR 2-propanol

Untuk menginterpretasikan sebuah spektrum infra merah tidak terdapat


aturan yang pasti. Akan tetapi terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi
sebelum melakukan interpretasi sebuah spektrum, antara lain:

a. Spektrum haruslah cukup terpisah dan mempunyai kuat puncak yang cukup
memadai
b. Spektrum merupakan hasil analisis senyawa murni.
c. Spektrofotometer harus dikalibrasi sehingga pita serapan akan teramati pada
bilangan gelombang yang seharusnya. Kalibrasi yang benar dapat dilakukan
dengan standar yang dapat dipercaya, misalnya polistirena.
d. Metode penanganan sampel harus ditentukan. Bila menggunakan pelarut,
maka jenis dan konsentrasi pelarut serta tebal sel harus disebutkan juga.
Untuk mempermudah melakukan interpretasi suatu spektrum infra merah, periksa
adanya puncak absorpsi (pita) dari gugus fungsional utama seperti C=O, O-H, N-
H, C-O, C=C, C=N, C=C dan NO2.

8
9
BAB III
METODE KERJA

3.1 Waktu dan Tempat


Waktu dilaksanakan praktikum pada tanggal 16 Oktober 2018
bertempatan di Laboratorium Biofarmaka Institute Pertanian Bogor.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat :
1. Alat cetak pellet
2. Komputer analisis
3. Mortar agate
4. Stamper
5. Spektrofotometer FTIR
6. Stopwatch
7. Tisue
8. Vacum.
3.2.2 Bahan :
1. Kalium Bromida 200mg
2. p-dimetil amino benzaldehida 2 mg

3.2 Metode Kerja


Sebanyak 200 mg Kalium Bromida dimasukkan ke dalam mortar, lalu 2mg
p-dimetil amino benzaldehida dimasukkan, Kedua zat tersebut dicampurkan
hingga homogen. Setelah itu campuran zat dimasukkan ke dalam alat
pembuat pellet, dengan cara penekanan kedua zat tersebut hingga menjadi
lapisan tipis transparan yang ditekan dengan bantuan vaccum menggunakan
pompa hidrolik dengan tekanan mencapai 80o dan didamkan selama 8 menit
sehingga tidak terdapat udara, Pellet yang terbentuk kemudian ditempatkan
pada kompartemen sampel pada alat spektroskopi FTIR dan dilakukan
pembuatan spektrum IR.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan


4.1.1 Sampel 1

Daerah Frekuensi Jenis Ikatan Intensitas

2905.20-2712.77 C-H Alkana Kuat

2361.14 O-H Asam Karboksilat Sedang

1659.02 C=C Alkena Berubah-ubah

1310.09 C-N Kuat

1162.68 C-O Kuat

<500 Dianggap finger print Kuat

11
4.1.2 Sampel 2

Daerah Frekuensi Jenis Ikatan Intensitas

3424.81 N-H Sedang

2908.72-2713.01 C-H Alkana Sedang

2361.14 O-H Asam Karboksilat Sedang

1657.73 C=C Alkena Berubah-ubah

1310.34 C-N Kuat

1163.14 C-O Kuat

<500 Dianggap finger print Kuat

12
4.2 Pembahasan
Pada percobaan yang dilakukan kali ini, bertujuan untuk menganalisis
gugus fungsi yang terdapat pada p-dimetil amino benzaldehida menggunakan
Spektrofotometer Fourier Transform Infra Red (FT-IR), serta memahami prinsip
kerja instrument pada (FT-IR). Prinsip dari FT-IR sendiri yaitu analisis dengan
menggunakan sinar radiasi inframerah dimana sinar yang ditangkap oleh detektor
dikonversi menggunakan converter analog-to-digital yang mana sinar tersebut
akan masuk kedalam sampel dan diteruskan sehingga signal digital dapat
ditransfer menuju computer berupa pick % transmitan terhadap bilangan
gelombangnya. FT-IR merupakan suatu alat yang berfungsi untuk menganalisis
gugus fungsi berdasarkan golongannya dimana alat ini juga biasa digunakan untuk
analisis kualitatif dan jarang digunakan untuk analisis kuantitatif.
Grafik sampel p-dimetil amino benzaldehida di dapatkan dengan cara
pembuatan pellet terlebih dahulu. Pellet dibuat mengunakan campuran Kalium
Bromida (KBr) serta penambahan KBr berfungsi untuk membuat pellet
transparan, hal ini bertujuan untuk mempermudah pembacaan oleh FTIR. Akan
tetapi, KBr tidak mempengaruhi hasil yang di dapatkan karena KBr hanya dapat
terbaca di area finger print (area sidik jari). Area sidik jari berada pada bilangan
gelombang <500. Terdapat beberapa pembagian gelombang yaitu pada daerah
400-1200 merupakan daerah sidik jari dan pada daerah 1200-4000 merupakan
daerah gugus fungsi maka dari itu bilangan gelombang p-dimetil amino
benzaldehida berada diatas 500 yang merupakn daerah gugus fungsi, sehingga
bilangan KBr tidak akan mempengaruhi hasil yang di dapatkan
Dalam percobaan ini sampel yang digunakan yaitu p-dimetilamino
benzaldehida. Sebelum dilakukan analisis sampel menggunakan alat FT-IR maka
terlebih dahulu dilakukan preparasi sampel dimana sampel ditambahkan dengan
KBr yang bertujuan sebagai pelindung sampel ketika akan dibuat dalam bentuk
pellet selain itu juga digunakan KBr karena dalam KBr tidak memiliki gugus
fungsi yang dapat menghasilkan spektra sehingga tidak akan mengganggu dalam
proses analisis sampel. KBr ini bersifat higroskopis sehingga dalam
penggunaanya harus di gerus secepat dan sesegera mungkin. Tujuan dilakukannya

13
penggerusan yaitu untuk memperkecil ukuran partikel dari suatu sampel dimana
semakin kecil ukuran partikel maka akan semakin mudah energi dari sinar
inframerah untuk diteruskan kedalam gugus fungsi dari suatu sampelnya. Selain
penggerusan, dilakukan pembuatan sampel dalam bentuk pellet dimana pellet
harus setipis mungkin dan berwarna bening serta transparan agar dapat
berinteraksi secara langsung dengan sinar inframerah yang ditembakkan sehingga
dapat menghasilkan spektra yang baik.
Dari hasil yang diperoleh didapatkan spectra IR dari kedua sampel seperti
pada gambar 4.1.1 dan gambar 4.2.2 yang dimana dari gambar tersebut dapat
ditentukan gugus fungsi yang terkandung dalam sampel. Pada sampel 1 dan 2
terdapat gugus C-H alkana pada daerah serapan 2905.20 cm-1 dan 2908.72 cm-1
dengan intensitas kuat, Gugus O-H Asam Karboksilat pada sampel 1 dan 2
terdapat pada serapan 2361.14 cm-1 dan 2361.14 cm-1 dengan intensiatas sedang,
pada gugus C=C Alkena pada sampel 1 dan 2 terdapat pada daerah serapan
1659.02 cm-1 dengan intensitas berubah-ubah dan ikatan C=C cincin aromatik
dengan intensitas berubah-ubah dan 1657.73 cm-1 , gugus C-N pada sampel 1 dan
2 terdapat pada daerah serapan 1310.09 cm-1 dan 1310.34 cm-1 dengan intensitas
kuat, gugus C-O pada sampel 1 dan 2 terdapat pada dearah serapan 1162.68 cm-1
dan 1163.14 cm-1 dengan intensitas kuat, dan terdapat serapan pada daerah <500
yang dimana merupakan daerah finger print atau area sidik jari, sedangkan
terdapat perbedaan dari kedua sampel yaitu pada gugus N-H yang dimana terdapat
pada sampel 2 pada daerah serapan 1163.14 cm-1 dengan intensitas kuat, hasil ini
dapat dikatakan tidak sesuai dikarena p-dimetil amino benzaldehida tidak terdapat
amina sekunder melainkan amina tersier, hal tersebut menandakan bahwa pada
sampel ke 2 tidak dapat terdeteksi ataupun tidak dapat terbaca oleh sinar FTIR
karena dalam pembuatan pellet terdapat suatu bagian yang tidak homoggen,
sehingga terdapat gumpalan pada pellet.
Dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa gugus-gugus yang
terbentuk pada analisis tersebut cukup spesifik dan merupakan ciri-ciri dari
senyawa p-dimetilamino benzaldehida, selain itu terdapat sedikit perbedaan pada
sampel 1 dan 2 hal ini disebabkan karena preparasi sedikit lama sehingga KBr

14
yang bersifat higroskopis menyerap air di udara sehingga terbentuk ikatan OH
pada sampel dan terdapatnya pembuatan pellet yang tidak merata atau homogen.

15
BAB V
KESIMPULAN

Berdasarakan percobaan diatasa dapat ditarik kesimpulan yaitu :


1 Prinsip kerja dari spektrofotometer FTIR dapat digunakan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi dalam suatu senyawa.
2 Pada pembuatan pellet harus pipih, tidak boleh tebal, harus transparan, dan
tidak boleh retak karena dapat mempengaruhi suatu penentuan gugus.
3 Bila suatu senyawa diradiasi menggunakan sinar infra merah, maka sebagian
sinar akan diserap oleh senyawa, sedangkan yang lainnya akan diteruskan.
Serapan ini diakibatkan karena molekul senyawa organik mempunyai ikatan
yang dapat bervibrasi.
4 Didapat gugus N-H, C-H alkan,C-H aromatis, C=C Alkena, C-N, C-O pada
hasil percobaan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Anam, Choirul. Sirojudin dkk. April 2007. Analisis Gugus Fungsi Pada Sampel
Uji, Bensin Dan Spiritus Menggunakan Metode Spektroskopi FT-IR.
Berkala Fisika. Vol 10 no.1. 79 – 85
Bassler. 1986. Penyidikan Spektrometrik Senyawa Organik. Jakarta : Erlangga.

Bruice, P. Y. 2001, Organic Chemistry, Prentice Hall International, Inc., New


Jersey.

Hendayana, Sumar, dkk. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang : IKIP Press.

Kroschwitz, J. 1990, Polymer Characterization and Analysis, John Wiley and


Sons, Inc., Canada.

Silverstain, R. M., dan Bassler, G. C. 1967, Spectrometric Identification of


Organic Compounds, Second Edition, John Wiley and Sons, Inc., New
York.

Silverstein. 2002. Identification of Organic Compund, 3rd Edition. New York :


John Wiley & Sons Ltd.

Skoog DA, Holler PJ, Nieman TA. 2004. Principles of Instrumental Analysis 5th
ed. Philadelphia : Hartcaurt Brace.

Yanuarieta, Diena. 2009. Studi Komposisi Limbah Hasil Proses Terapi


Pembaluran Dengan Analisis Puncak Spektrum Inframerah [Skripsi].
2

Anda mungkin juga menyukai