Anda di halaman 1dari 11

Sejarah Nasionalisme Indonesia

Nasionalisme menurut beberapa ahli dikemukakan sebagai berikut :

1. Joseph Ernest Renan bahwa nasionalisme adalah sekelompok individu yang ingin bersatu
dengan individu-individu lain dengan dorongan kemauan dan kebutuhan psikis. Sebagai
contoh adalah bangsa Swiss yang terdiri dari berbagai bangsa dan budaya dapat menjadi
satu bangsa dan memiliki negara.

2. Otto Bauer mengatakan bahwa nasionalisme adalah kesatuan perasaan dan perangai yang
timbul karena persamaan nasib, contohnya nasionalisme negara-negara Asia..

3. Menurut Hans Kohn nasionalisme adalah kesetiaan tertinggi yang diberikan individu
kepada negara dan bangsa

4. Louis Snyder mengemukakan nasionalisme adalah hasil dari faktor-faktor politis, ekonomi,
sosial dan intelektual pada suatu taraf tertentu dalam sejarah. Sebagai contoh adalah
timbulnya nasionalisme di Jepang.

Nasionalisme adalah suatu situasi kejiwaan dimana kesetiaan seseorang secara total
diabdikan kepada negara dan bangsa atas nama sebuah bangsa. Munculnya nasionalisme
terbukti sangat efektif sebagai alat perjuangan bersama merebut kemerdekaan dari
cengkraman kolonial. Nasionalisme dapat diwujudkan dalam sebuah identitas
politik/kepentingan bersama dalam bentuk sebuah wadah yang disebut bangsa (nation)
dengan demikian bangsa (nation) merupakan suatu badan (wadah) yang didalamnya
terhimpun orang-orang yang memiliki persamaan keyakinan dan persamaan lain yang mereka
miliki seperti : ras, etnis, agama, bahasa dan budaya. Dari unsur persamaan tersebut
semuanya dapat dijadikan sebagai identitas politik bersama untuk menentukan tujuan
bersama. Menurut Dean A. Mix dan Sandra M. Hawley, nation-state merupakan sebuah
bangsa yang memiliki bangunan politik seperti ketentuan-ketentuan perbatasan teritorial
pemerintah sah, pengakuan bangsa lain dan sebagainya. Menurut Koerniatmante
Soetoprawiro secara hukum peraturan tentang kewarganegaraan merupakan suatu
konsekuensi langsung dari perkembangan nasionalisme.

Fase I
Merupakan fase dimana Indonesia belum terbentuk, yang ada adalah kerajaan-kerajaan
seperti Majapahit. Pada abad ke-4 hingga abad ke-7 di wilayah Jawa Barat terdapat kerajaan
bercorak Hindu-Budha yaitu kerajaan Tarumanagara yang dilanjutkan dengan Kerajaan
Sunda sampai abad ke-16. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha
Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I Ching mengunjungi
ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai
daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi
bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun
1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini
sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Islam
hadir di Indonesia sekitar abad ke-12, namun sebenarnya Islam sudah sudah masuk ke
Indonesia pada abad 7 Masehi. Saat itu sudah ada jalur pelayaran yang ramai dan bersifat
internasional melalui Selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di Cina, Sriwijaya di
Asia Tenggara dan Bani Umayyah di Asia Barat sejak abad 7. Islam terus mengokoh menjadi
institusi politik yang mengemban Islam. Misalnya, sebuah kesultanan Islam bernama
Kesultanan Peureulak didirikan pada 1 Muharram 225 H atau 12 November 839 M. Contoh
lain adalah Kerajaan Ternate. Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440.
Rajanya seorang Muslim bernama Bayanullah.

Kesultanan Islam kemudian semikin menyebarkan ajaran-ajarannya ke penduduk dan melalui


pembauran, menggantikan Hindu sebagai kepercayaan utama pada akhir abad ke-16 di Jawa
dan Sumatera. Hanya Bali yang tetap mempertahankan mayoritas Hindu. Di kepulauan-
kepulauan di timur, rohaniawan-rohaniawan Kristen dan Islam diketahui sudah aktif pada
abad ke-16 dan 17, dan saat ini ada mayoritas yang besar dari kedua agama di kepulauan-
kepulauan tersebut.

Penyebaran Islam dilakukan melalui hubungan perdagangan di luar Nusantara; hal ini, karena
para penyebar dakwah atau mubaligh merupakan utusan dari pemerintahan Islam yang datang
dari luar Indonesia, maka untuk menghidupi diri dan keluarga mereka, para mubaligh ini
bekerja melalui cara berdagang, para mubaligh inipun menyebarkan Islam kepada para
pedagang dari penduduk asli, hingga para pedagang ini memeluk Islam dan meyebarkan pula
ke penduduk lainnya, karena umumnya pedagang dan ahli kerajaan lah yang pertama
mengadopsi agama baru tersebut. Kerajaan Islam penting termasuk diantaranya: Kerajaan
Samudera Pasai, Kesultanan Banten yang menjalin hubungan diplomatik dengan negara-
negara Eropa, Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore di Maluku.
Pada masa ini hanya terbentuk kesatuan-kesatuan kelompok masyarakat yang tertentu saja,
belum ada kesatuan yang kokoh sebagai sebuah bangsa melainkan kerajaan-kerajaan baik
berlatarbelakang kesamaan budaya maupun kesamaan agama. Nasionalisme sebagai suatu
bangsa belum terbentuk karena cenderung masing-masing kerajaan membela
keberlangsungan kerajaannya sendiri bahkan terkadang perang dengan kerajaan lain untuk
memperluas wilayah kerajaannya.

Fase II

Kolonisasi Portugis dan Spanyol

Afonso (kadang juga ditulis Alfonso) de Albuquerque. Karena tokoh inilah, yang membuat
kawasan Nusantara waktu itu dikenal oleh orang Eropa dan dimulainya Kolonisasi berabad-
abad oleh Portugis bersama bangsa Eropa lain, terutama Inggris dan Belanda.

Dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik itulah armada Portugis mengarungi
Samudra Atlantik, melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini
penjelajahan dilanjutkan ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas
yang setara emas kala itu.

Ada sejumlah motivasi mengapa Kerajaan Portugis memulai petualangan ke timur. Ahli
sejarah dan arkeologi Islam Uka Tjandrasasmita dalam buku Indonesia-Portugal: Five
Hundred Years of Historical Relationship (Cepesa, 2002), mengutip sejumlah ahli sejarah,
menyebutkan tidak hanya ada satu motivasi Kerajaan Portugis datang ke Asia. Ekspansi itu
mungkin dapat diringkas dalam tiga kata bahasa Portugis, yakni feitoria, fortaleza, dan
igreja. Arti harfiahnya adalah emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer,
dan penyebaran agama Katolik .

Menurut Uka, Albuquerque, Gubernur Portugis Kedua dari Estado da India, Kerajaan
Portugis di Asia, merupakan arsitek utama ekspansi Portugis ke Asia. Dari Goa, ia memimpin
langsung ekspedisi ke Malaka dan tiba di sana awal Juli 1511 membawa 15 kapal besar dan
kecil serta 600 tentara. Ia dan pasukannya mengalahkan Malaka 10 Agustus 1511. Sejak itu
Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah dari Asia ke Eropa. Setelah menguasai
Malaka, ekspedisi Portugis yang dipimpin Antonio de Abreu mencapai Maluku, pusat
rempah-rempah.

Fernando Magelhans (kadang juga ditulis Ferdinan) Magelan. Karena tokoh inilah, yang
memimpin armada yang pertama kali mengelilingi dunia dan membuktikan bahwa bumi
bulat, saat itu itu dikenal oleh orang Eropa bumi datar. Dimulainya Kolonisasi berabad-abad
oleh Spanyol bersama bangsa Eropa lain, terutama Portugis,Inggris dan Belanda.

Dari Spanyol ke Samudra Pasifik itulah armada Portugis mengarungi Samudra Pasifik,
melewati Tanjung Harapan Afrika, menuju Selat Malaka. Dari sini penjelajahan dilanjutkan
ke Kepulauan Maluku untuk mencari rempah-rempah, komoditas yang setara emas kala itu.

Kedatangan Portugis dan Spanyol untuk mencari rempah-rempah pada masa itu awalnya
disambut baik oleh penduduk sekitar. Namun lama kelamaan penduduk merasa keberadaan
kedua pemerintahan negara itu semakin tidak menguntungkan bagi penduduk. Keberadaan
Spanyol dan Portugis pada masa itu mampu mengalahkan kekuasaan kerajaan-kerajaan lain
yang telah ada di Nusantara sehingga peran keduannya semakin besar. Pada masa itu mulai
ada interaksi antar penduduk karena kekuasaan kerajaan mulai pudar dan dengan semakin
berkembangnya interaksi, mulai ada kesamaan nasib dan kesamaan budaya namun belum
begitu kuat. Pada masa ini juga rasa nasionalisme belum tumbuh kuat.

Fase III

Kolonisasi VOC

Mulai tahun 1602 Belanda secara perlahan-lahan menjadi penguasa wilayah yang kini adalah
Indonesia, dengan memanfaatkan perpecahan di antara kerajaan-kerajaan kecil yang telah
menggantikan Majapahit. Satu-satunya yang tidak terpengaruh adalah Timor Portugis, yang
tetap dikuasai Portugal hingga 1975 ketika berintegrasi menjadi provinsi Indonesia bernama
Timor Timur. Belanda menguasai Indonesia selama hampir 350 tahun, kecuali untuk suatu
masa pendek di mana sebagian kecil dari Indonesia dikuasai Britania setelah Perang Jawa
Britania-Belanda dan masa penjajahan Jepang pada masa Perang Dunia II. Sewaktu menjajah
Indonesia, Belanda mengembangkan Hindia-Belanda menjadi salah satu kekuasaan kolonial
terkaya di dunia. 350 tahun penjajahan Belanda bagi sebagian orang adalah mitos belaka
karena wilayah Aceh baru ditaklukkan kemudian setelah Belanda mendekati
kebangkrutannya.

Pada abad ke-17 dan 18 Hindia-Belanda tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah
Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa
Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli
terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada
tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.

Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-


rempah di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap
penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-
Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika
penduduk Kepulauan Banda terus menjual biji pala kepada pedagang Inggris, pasukan
Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian
mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang
bekerja di perkebunan pala.

Kolonisasi pemerintah Belanda

Setelah VOC jatuh bangkrut pada akhir abad ke-18 dan setelah kekuasaan Britania yang
pendek di bawah Thomas Stamford Raffles, pemerintah Belanda mengambil alih kepemilikan
VOC pada tahun 1816. Sebuah pemberontakan di Jawa berhasil ditumpas dalam Perang
Diponegoro pada tahun 1825-1830. Setelah tahun 1830 sistem tanam paksa yang dikenal
sebagai cultuurstelsel dalam bahasa Belanda mulai diterapkan. Dalam sistem ini, para
penduduk dipaksa menanam hasil-hasil perkebunan yang menjadi permintaan pasar dunia
pada saat itu, seperti teh, kopi dll. Hasil tanaman itu kemudian diekspor ke mancanegara.
Sistem ini membawa kekayaan yang besar kepada para pelaksananya - baik yang Belanda
maupun yang Indonesia. Sistem tanam paksa ini adalah monopoli pemerintah dan dihapuskan
pada masa yang lebih bebas setelah 1870.

Dengan dukungan dari negara Belanda, kekuasaan belanda di Indonesia semakin kuat dan
merubah tujuan utama dari semula untuk berdagang menjadi menguasai sebagai daerah
jajahan. Maka dengan melimpahnya sumber daya alam yang ada namun karena belum
banyak sumber daya manusia, maka warga pribumi dijadikan pekerja-pekerja dengan
paksaan yang keras secara besar-besaran dan melalui kesamaan rasa tertindas oleh warga
pribumi, mulai timbul kesadaran untuk saling bersatu.

Pada 1901 pihak Belanda mengadopsi apa yang mereka sebut Politik Etis (bahasa Belanda:
Ethische Politiek), yang termasuk investasi yang lebih besar dalam pendidikan bagi orang-
orang pribumi, dan sedikit perubahan politik. Di bawah gubernur-jendral J.B. van Heutsz
pemerintah Hindia-Belanda memperpanjang kekuasaan kolonial secara langsung di sepanjang
Hindia-Belanda, dan dengan itu mendirikan fondasi bagi negara Indonesia saat ini. Melalui
politik etis ini, sebagian warga pribumi yang memiliki kesempatan berusaha belajar dan
berusaha membangun kekuatan untuk melawan pemerintah kolonial melalui kekuatan-
kekuatan politik dan kecerdasan. Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat sejak abad XVII,
namun kesadaran nasional sebagai sebuah bangsa baru muncul pada abad XX. Kesadaran itu
muncul sebagai akibat dari sistem pendidikan yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial.
Karena, melalui pendidikanlah muncul kelompok terpelajar atau intelektual yang menjadi
motor penggerak nasionalisme Indonesia. Melalui tangan merekalah, perjuangan bangsa
Indonesia di dalam membebaskan diri dari belenggu kolonialisme dan imperialisme Barat
memasuki babak baru. Inilah yang kemudian dikenal dengan periode pergerakan nasional.
Perjuangan tidak lagi dilakukan dengan perlawanan bersenjata tetapi dengan menggunakan
organisasi modern.

Ide-ide yang muncul pada masa pergerakan nasional hanya terbatas pada para bangsawan
terdidik saja. Selain merekalah yang mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi juga karena
hanya kelompok bangsawanlah yang mampu mengikuti pola pikir pemerintah kolonial.
Mereka menyadari bahwa pemerintah kolonial yang memiliki organisasi yang rapi dan kuat
tidak mungkin dihadapi dengan cara tradisional sebagaimana perlawanan rakyat sebelumnya.
Inilah letak arti penting organisasi modern bagi perjuangan kebangsaan.
Fase IV

Pada tahap ini di masing-masing daerah terbentuk kelompok-kelompok perjuangan namun


tidak langsung mengikrarkan diri sebagai kelompok perlawanan namun dengan latar
belakang kelompok-kelompok pemuda, kedaerahan maupun pendidikan. Seperti contoh
adalah pembentukan Budi Utomo. Organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen
Bond, Jong Ambon, Jong Celebes dan lain-lain terdapat dipersatukan. ”Manifesto Politik”
Persatuan Indonesia (PI) di Belanda tahun 1925 adalah penegasan pertama dari sikap bersama
kaum nasionalis vis a vis rezim kolonial. Itu kemudian dilanjutkan dengan Sumpah Pemuda
1928. Pada akhirnya yang mereka perjuangkan tentu bukan sekedar kemerdekaan itu sendiri,
melainkan suatu ”cetak-biru” (blue-print) Indonesia Merdeka. Cetak-biru Indonesia Merdeka
― suatu kompas, pedoman, untuk mencapai tujuan tertinggi ― terletak dalam Pembukaan
UD 1945, termasuk di dalamnya rumusan Pancasila. Isinya antara lain ialah:
- Terbentuknya pemerintahan yang melindungi segenap anak-bangsa
- Menyejahterakan rakyat (negara kesejahteraan);
- Mencerdaskan kehidupan bangsa dan bukan membodohinya.
- Ikut berperan serta dan setara dalam kancah internasional.

Itulah produk pemikiran terbaik dari para pendiri bangsa ini, yang diperjuangkan hampir
setengah abad lamanya dan mencapai klimaksnya selama perang kemerdekaan (1945-1950).
Keberadaan negara Indonesia semakin diperkuat setelah sebelumnya penyebutan istilah
Indonesia telah disebutkan oleh berbagai ahli dan organisasi seperti :

·J.R. Logan menggunakan istilah Indonesia untuk menyebut penduduk dan kepulauan
nusantara dalam tulisannya pada tahun 1850
·Earl G. Windsor dalam tulisannya di media milik J.R. Logan tahun 1850 menyebut
penduduk nusantara dengan Indonesia
·Serta tokoh-tokoh yang mempopulerkan istilah Indonesia di dunia internasional
Istilah Indonesia dijadikan pula nama organisasi mahasiswa di negara Belanda yang
awalnya bernama ”Indische Vereninging” menjadi ”Perhimpunan Indonesia”
 Nama majalah ”Hindia Putra” menjadi ”Indonesia Merdeka”
 Istilah Indonesia semakin populer sejak Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Melalui
Sumpah Pemuda kata Indonesia dijadikan sebagai identitas kebangsaan yang diakui oleh
setiap suku bangsa, organisasi-organisasi pergerakan yang ada di Indonesia maupun yang
di luar wilayah Indonesia.
 Kata Indonesia dikukuhkan kembali dalam Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17
Agustus 1945

Fase V

Periode Orde Lama, masa pemerintahan Soekarno. Pelembagaan militer yang dini pun
memperparah wacana nasionalisme yang sesungguhnya. Langsung saja, dalam waktu singkat,
militer mampu menjadi satu kekuatan besar dalam perpolitikan tanah air. Hanya dalam kurun
di bawah 10 tahun, Dwifungsi sebagai manifesto kekuatan politik militer dalam sistem
politik Republik Indonesia, telah menjadi satu keputusan yang Soekarno sendiri tak mampu
membendungnya. Mau tak mau, usaha untuk menuju pemerintahan dengan sistem
parlementer (1955-1959) sebagai satu syarat mutlak demokrasi harus berhenti di tengah jalan.
Soekarno yang disebut sebagai salah satu the founding father dengan semangat
nasionalismenya berusaha mempertahankan apa yang dinilainya benar, sikap nasionalisme
beliau terkesan lama kelamaan bergeser menjadi terpimpin dimana semua keputusan berada
di tangannya. Paham nasionalisme bercampur aduk dengan komunisme dimana negara
Indonesia dapat disebut masih mencari jati diri yang sesuai sehingga masih menyerap sistem-
sistem negara lain. Soekarno yang tetap waspada pada ancaman kudeta pihak militer pada
akhirnya hanya bisa bertahan dengan merangkul pihak komunis. Dan terjadilah peristiwa
1965 itu sehingga Soekarno jatuh. Hilangnya rasa nasionalisme juga dapat dipahami karena
hilangnya musuh bersama sehingga kesatuan diantara warga negara juga semakin menurun
karena itu gampang terpecah.

Fase VI

Periode Orde Baru, mungkin apabila terjadi masa terburuk bagi dunia pendidikan negeri ini,
adalah masa pemerintahan Soeharto. Mungkin secara ekonomi terjadi perkembangan yang
pesat, meski hanya semua. Namun secara ideologis, apalagi nasionalisme, terjadi pembiasan
yang sangat serius. Semua apa yang telah diadopsi dari Jepang (pada waktu itu, Jepang
sekarang sudah berubah), yaitu Rasisme dan Fascisme ini langsung ditanamkan sampai ke
akar-akar di benak generasi muda Republik ini. Kebencian terhadap bangsa asing (terutama
Belanda tentu saja) ditanamkan dari awal, dan tanpa tambahan pemahaman bahwa Belanda
harus dibenci karena dan hanya karena mereka telah menjadi imperialis dan kolonialis.
Sehingga bukan karena mereka orang Belanda, tapi, sekali lagi tapi, karena mereka adalah
imperialis dan kolonialis. Bangsa sendiri pun bisa menjadi imperialis dan kolonialis, tidak
hanya Belanda, tidak hanya Jepang, Amerika, atau negara manapun juga. Namun, sekali lagi
demi posisi pemerintahan, pengertian ini sengaja dihilangkan. Ketakutan akan bangkitnya
kesadaran rakyat sehingga akan menggulingkan posisi sebuah rezim lebih berharga dari
kewajiban seorang penguasa untuk mengayomi rakyat dan memberikan jalan terang untuk
rakyatnya. Bahkan mempelajari Marxisme sebagai satu negasi dari kapitalisme yang
merupakan penjelmaan kolonialisme imperialisme pun dilarang. Terjadi sentralisasi kekuatan
dan sistem partai tunggal (sepertinya tiga, namun itu ditentukan, apa bedanya dengan partai
tunggal). Dan nasionalisme pun menjadi nasionalisme ala Hitler dan Mussolini yang tidak
pernah sekalipun terbayangkan oleh pelopor nasionalisme di negeri ini sendiri. Pada masa ini
kesatuan warga negara dengan rasa kesamaan nasib ditindas menjadi bangkit dan dengan
gerakan rakyat berusaha menjatuhkan rezim Soeharto yang otoriter dan rasa kesatuan itu
tumbuh dengan semangat yang tinggi diantara warga negara sehingga akhirnya
kepemimpinan otoriter itu akhirnya dapat tumbang.

Fase VII

Periode masa Reformasi, dimana indonesia sebagai suatu negara memasuki suatu masa
kebebasan setelah melalui masa panjang kepemimpinan orde baru yang akhirnya dapat
ditumbangkan dengan gerakan rakyat. Semangat yang begitu besar untuk menumbangkan
rezim otoriter itu memberi kesamaan rasa dan membangkitkan keinginan untuk mau
bersama-sama berjuang membela kepentingan bersama. Masa-masa setelah orde baru
tumbang dan berubah menjadi reformasi masih diliputi oleh semangat kebersamaan sebagai
warga negara Indonesia. Namun dengan semakin berkembangnya Indonesia dan mulai
tenangnya keadaan Indonesia, semangat kebersamaan itu mulai luntur sedikit demi sedikit
dan terkikis. Masing-masing warga negara mulai menunjukkan sifat individualitasnya dan
mulai tidak ingin terlalu akrab dengan warga negara lainnya. Keadaan ini juga dipahami
karena mulai tenangnya keadaan Indonesia dan hilangnya musuh bersama. Tidak ada lagi
semangat menjatuhkan musuh bersama dengan berjuang bersama, masing-masing mulai
sibuk dengan urusannya masing-masing dan tidak memperdulikan sesamanya. Tidak adanya
lagi musuh bersama membuat keadaan tidak genting lagi dan semangat nasionalisme menjadi
turun kembali.

Sumber Referensi :

1. NASIONALISME INDONESIA DALAM PERSPEKTIF PANCASILA Oleh: Mestika


Zed , Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang.
2. http://gurumuda.com/bse/lahirnya-nasionalisme-indonesia
3. http://jeremiasjena.wordpress.com/2008/06/20/sejarah-lahirnya-nasionalisme/
4. http://handoyo.110mb.com/silabus2/lahirnasindo.doc
5. http://staff.undip.ac.id/sastra/dewiyuliati/2009/11/23/2/
6. http://id.wikipedia.org/wiki/Nasionalisme
7. http://senthir-gmni.blogspot.com/2010/04/menggali-makna-nasionalisme-
indonesia.html