Anda di halaman 1dari 26

PEMBAGIAN ZAMAN GEOLOGI

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Prasejarah Indonsia
Yang dibina oleh Bapak Drs. Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum

Oleh
Rica Filasari
160731614846

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN SEJARAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH
Oktober 2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas berkat rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Pembagian Zaman Geologi ini tepat pada waktunya. Makalah ini diajukan guna
memenuhi tugas matakuliah Prasejarah Indonesia yang diampu oleh Bapak Drs.
Slamet Sujud Purnawan Jati, M.Hum.

Dalam makalah ini memuat materi tentang pendiskripsian pembagian


zaman menurut geologi. Selain itu ada pula tentang pemahaman tentang kehidupan
zaman primer, sekunder, dan tersier yang akan dibahas secara singkat dalam
makalah ini.

Segala upaya telah kami dilakukan untuk menyempurnakan makalah ini,


namun bukan tidak mungkin dalam penulisan makalah ini masih terdapat
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang dapat dijadikan masukan dalam menyempurnakan makalah lain di masa yang
akan datang.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan


bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua, serta menjadi
sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi kami
sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amin.

Malang, Oktober 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pembagian Zaman Menurut Geologi.................................................. 3
2.2 Kehidupan Zaman Primer, Sekunder, dan Tersier..............................19
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.................................................................................................. 23
3.2 Saran............................................................................................................ 23

DAFTAR RUJUKAN........................................................................................ 24

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Zaman prasejarah adalah zaman yang memiliki kurun waktu yang sangat
lama, maka dari itu muncullah sistem pembabakan untuk mempermudah
mempelajari zaman prasejarah tersebut. Sistem pembabakan prasejarah ada
bermacam-macam salah satunya pembabakan menurut arkeologi yaitu dengan cara
melihat hasil kebudayaan yang ditinggalkan. Selain itu ada pula pembabakan
berdasarkan sistem geologi.

Geologi itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari bumi secara


keseluruhan. Dalam ilmu geologi tersebut, zaman prasejarah digambarkan dengan
menjelaskan bagaimana permukaan bumi beserta kehidupannya. Menurut geologi,
yaitu ilmu yang mempelajari kulit bumi, maka waktu sejak terjadinya dunia sampai
kini itu dapat dibagi atas zaman-zaman (Soekmono, 1973: 19).

Pembabakan menurut geologi itu pula dibagi menjadi empat zaman utama
dari awal sampai dengan sekarang ini. Diantaranya yaitu archaekum yang
merupakan zaman paling awal di mana saat itu kondisi bumi masih sangat panas
sehingga menyebabkan tidak ada kehidupan pada waktu itu. Lalu setelahnya zaman
paleozoikum, kondisi bumi pada saat itu mulai agak stabil, barulah mulai muncullah
makhluk hidup berupa makhluk bersel satu. Setelah itu zaman mezoikum, pada
zaman ini berlangsung sekitar 140 juta tahun yang lalu. Kehidupan pada zaman ini
sudah beragam terutama jenis reptil raksasa seperti dinosaurus dan mulai muncul
jenis-jenis burung purba serta mamalia menyusui yang hidup di laut.

Yang terakhir zaman neozoikum atau disebut juga kenozoikum, pada


zaman ini dibagi menjadi dua periode besar yaitu tersier dan quarter. Pada zaman
ini sudah muncul berbagai jenis hewan dan tumbuhan. Contohnya saja pada zaman
tersier pada umumnya dikuasai oleh hewan-hewan raksasa yang menyusui
contohnya sejenis gajah purba serta muncul berbagai macam primata. Lalu pada
zaman quarter yang berlangsung kira-kira tiga juta tahun yang lalu hingga saat ini.
Zaman ini sangatlah penting karena pada zaman ini merupakan awal kehidupan

1
manusia pertama kali di muka bumi ini. Zaman ini ini dibagi lagi menjadi dua yaitu
plestosen (dilluvium) dan holosen (alluvium).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana pembagian zaman menurut geologi?
2. Bagaimana kehidupan zaman primer, sekunder dan tersier?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mendiskripsikan pembagian zaman menurut geologi.
2. Untuk memahami kehidupan zaman primer, sekunder dan tersier.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pembagian Zaman Menurut Geologi


Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Dalam
ilmu geologi tersebut, zaman prasejarah digambarkan dengan menjelaskan
bagaimana permukaan bumi beserta kehidupannya. Menurut geologi, yaitu ilmu
yang mempelajari kulit bumi, waktu sejak terjadinya dunia sampai kini itu dapat
dibagi atas zaman-zaman (Soekmono, 1973: 19).

2.1.1 Archaekum/Prekambium (4,5 miliyar-570 juta tahun yang lalu)


Zaman arkaekum adalah zaman tertua yang berlangsung kurang lebih 2.500
juta tahun. Pada zaman itu bumi masih merupakan bola gas sangat panas yang
berputar pada porosnya. Sehingga pada masa itu kehidupan di bumi belum ada.
Ciri-ciri yang menonjol yaitu tidak ada makhluk hidup, kulit bumi masih panas
sekali. Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun (Asmito, 1988: 2).
Sebelum masa ini molekul organik kompleks yang serupa dengan asam
nukleat, sudah membentuk dirinya menjadi organisme. Tak seorangpun tahu
bagaimana tepatnya hal ini terjadi, namun ekperimen kimia menunjukan bahwa
eksperimen alam terjadi sebagai akibat interaksi dari beberapa molekul yang
tersebar dengan sumber energi, misalnya sinar ultra violet, listrik atau panas
vulkanis. Reaksi mula ini kemungkinan muncul bermiliyar-miliyar tahun sebelum
mengakibatkan adanya pembentukan diri kembali. Kita yakin bahwa kapanpun
kehidupan (satu keadaan yang tidak selalu dapat didefinisikan) pertama terbentuk,
maka kehidupan tersebut muncul tanpa oksigen, yang mungkin merupakan sebuah
produk sampingan dari evolusi organik di kemudian hari. Pada masa Prekambium,
algi (tanaman satu sel) dan mungkin bahkan tanaman multi sel, telah berevolusi
sebagai bentuk kehidupan dominan (Pope, 1984: 108).

2.1.2 Paleozoikum/Primer (570-225 juta tahun yang lalu)


Zaman ini juga disebut zaman primer atau zaman pertama. Zaman ini
berlangsung kira-kira 340 juta tahun. Sudah ada tanda hidup mahkluk, mulai dari
binatang terkecil yang tak bertulang belakang ampai jenis ikan dan permulaan
amphibi, seperti ceratocephala, phililipsia, trilobites (Asmito, 1988: 2).

3
Pada permulaan masa Paleozoikum (tua + kehidupan) semua benua
tergabung dalam dua benua besar Utara dan Selatan yang disebut Laurasia
(Amerika Utara dan Eurasia) dan dataran Gondwana (Amerika Selatan, Afrika,
India, Australia dan Antartika). Selama masa Paleozoikum semua filum (phyla)
binatang muncul pada catatan fosil. Kondisi yang berubah-berubah pada masa
Paleozoikum termaksud transisi iklim hangat laut dangkal menuju ke iklim yang
lebih bermusim dan kondisi yang lebih kering. Vertebrata terutama ikan, menjadi
bermacam-macam dan berevolusi dengan menambahkan rahang bawah dan
mengalami adaptasi penyebaran (Pope, 1984: 108).
Sepanjang era ini, banyak kelompok kehidupan modern muncul. Era ini
dibagi menjadi enam periode berturut-turut, dari yang paling tua Kambrium,
Ordovisium, Silur, Devon, Karbon, dan Perm.

2.1.2.1 Periode Kambium (570-500 juta tahun yang lalu)


Kambrium dalam bahasa Inggris Cambrian adalah periode pada skala
waktu geologi yang dimulai pada sekitar 570 juta tahun lalu di akhir zaman
archakum dan berakhir pada sekitar 500 juta tahun lalu dengan dimulainya
periode Ordovisium. Periode ini merupakan periode pertama era. Nama
“Kambrium” berasal dari Cambria, nama klasik untuk Wales, wilayah asal batuan
dari periode ini.
Ciri khas periode ini adalah fenomena Letusan Kambrium, di mana terjadi
kemunculan mendadak banyak filum yang tidak ada di lapisan sebelumnya, dan
filum-filum ini meliputi makhluk yang sederhana sampai yang lebih rumit,
dahulunya diduga baru akan muncul berjuta-juta tahun kemudian.
Periode Kambrium menandai titik penting dalam sejarah kehidupan di bumi
ini. Ketika sebagian besar kelompok hewan utama pertama kali muncul dalam
catatan fosil, hal tersebut biasanya disebut sebagai “Ledakan Kambrium”, karena
waktu yang relatif singkat di mana keragaman bentuk-bentuk ini muncul. Ada
pendapat bahwa batu-batu Kambrium ditunjukkan adanya fosil hewan tertua
pertama, sekarang ini dapat ditemukan di awal lapisan Vendian.
Sebagian besar kelompok hewan muncul untuk pertama kalinya dalam
catatan fosil sekitar 545 juta tahun yang lalu pada skala geologi dalam waktu yang
relatif singkat, waktu tersebut yang dikenal sebagai ledakan Kambrium. Penjelasan

4
Darwin tersebut menjelaskan bahwa ledakan tetap sebagai sumber utama banyak
perdebatan di Paleobiology. Sementara beberapa ilmuwan percaya bahwa memang
ada ledakan keanekaragaman (yang disebut teori Punctuated Equilibrium diuraikan
oleh Nils Eldredge dan Stephen J. Gould-Models dalam Paleobiology, 1972), yang
lain percaya bahwa percepatan evolusi tidak mungkin, mereka menempatkan
bahwa ada suatu periode perkembangan evolusi semua kelompok hewan, bukti-
bukti yang hilang dalam semua Prakambrium tetapi tidak ada catatan fosil. Molekul
teknologi modern (genomika), melalui asam nukleat dan membandingkan sekuens
asam amino yang hidup di spesies, yang memungkinkan identifikasi komponen-
komponen genetik oleh evolusi, dari masa evolusi dapat disimpulkan dengan
cabang pohon kehidupan.
Teori ledakan Kambrium menyatakan bahwa, mulai sekitar 545 juta tahun
yang lalu, sebuah ledakan keanekaragaman menyebabkan munculnya lebih dari
periode yang relatif singkat 5 juta untuk 10 juta tahun dari sejumlah besar kompleks,
multi-organisme bersel. Selain itu, ledakan ini menyebabkan sebagian besar
kelompok hewan utama yang kita kenal sekarang, yaitu, berdasarkan Filum.
Ledakan Kambrium adalah hasil dari perubahan dalam faktor-faktor lingkungan
yang menyebabkan perubahan dalam tekanan selektif pada gilirannya mengarah
pada diversifikasi adaptif pada skala yang luas. Pada awal Kambrium, super benua
besar Gondwana, yang terdiri dari semua tanah di bumi, mulai berantakan ke
daratan yang lebih kecil.
Ledakan ini mungkin merupakan peristiwa tunggal paling mencolok
didokumentasikan oleh catatan fosil. Dalam arti sempit, ledakan mengacu pada
penampilan geologis dari fosil yang tiba-tiba mewakili semua kecuali dua dari
hidup hewan filum yang tahan lama (mudah fossilizable) kerangka. Salah satu dari
dua filum adalah Porifera (spons), yang hadir dalam catatan fosil pada waktu
sebelumnya. Yang lain adalah Bryozoa, sebuah filum yang berisi beberapa
kelompok bertubuh lunak dan mungkin juga sudah ada tetapi belum skeletonized.
Sejumlah organisme teka-teki hubungan yang tak jelas juga muncul ketika ledakan,
memperkaya fauna di awal Kambrium. Precision dating menunjukkan bahwa
ledakan dimulai pada 530 M (juta tahun lalu) dan berakhir sebelum 520 M.

5
Penting untuk diingat bahwa sejarah geologi mengandung sejumlah periode
evolusi yang lambat diselingi oleh periode evolusi yang cepat, oleh Steven J. Gould
disebut teori punctuated equilibrium. Tingkat evolusi umumnya tergantung pada
tingkat seleksi, yang pada gilirannya tergantung pada tingkat perubahan
lingkungan. Tingkat mutasi cenderung lambat dan mantap, dan tidak adanya
perubahan lingkungan, sedikit demi sedikit terakumulasi dalam suatu populasi. Ini
adalah tekanan gulma yang selektif bermutasi yang merugikan atau netral untuk
bertahan hidup, dan mempertahankan dan melipatgandakan mutasi yang
bermanfaat dalam suatu populasi. Untuk populasi terisolasi di lingkungan baru,
pilihan cepat dapat menyebabkan spesiasi, dan dalam Kambrium Bawah, secara
radikal bentuk-bentuk baru yang sekarang kita kelompok dalam Filum zaman
modern.
Sebagai daerah tipe dari Sistem Kambrium ini terdapat di daerah Wales,
Sistem Kambrium ini merupakan sistem yang tertua yang mengandung banyak fosil
terletak tidak selaras di atas Sistem Pra-Kambrium yang kebanyakan terdiri dari
batuan metamorf.

2.1.2.2 Peiode Ordovisium (500-430 juta tahun yang lalu)


Ordovisium adalah suatu periode pada era Paleozoikum yang berlangsung
antara 500 hingga 430 juta tahun lalu. Periode ini melanjutkan periode Kambrium
dan diikuti oleh periode Silur. Periode yang mendapat namanya dari salah satu suku
di Wales, Ordovices, ini didefinisikan oleh Charles Lapworth pada tahun 1879
untuk menyelesaikan persengketaan antara pengikut Adam Sedgwick dan Roderick
Murchison yang masing-masing mengelompokkan lapisan batuan yang sama di
Wales utara masuk dalam periode Kambrium dan Silur. Lapworth mengamati
bahwa fosil fauna pada strata yang dipersengketakan ini berbeda dengan fauna pada
periode Kambrium maupun Silur sehingga seharusnya memiliki periode tersendiri.
Lapworth mengamati bahwa fosil fauna pada strata yang dipersengketakan ini
berbeda dengan fauna pada periode Kambrium maupun Silur sehingga seharusnya
memiliki periode tersendiri.
Zaman ini merupakan zaman perkembangan hewan invertebrate dan
pemunculan invertebrate lain seperti Tetrakoral, Graptolit, Ekinoid (Landak laut),
Asteroid (Bintang Laut), Krinoid (Lilia Laut), dan Bryozoa. Koral dan Alga yang

6
berkembang membentuk karang laut, Graptolit dan Trilobit melimpah sedangkan
Ekinodermata brakiopoda mulai menyebar. Pada zaman ini juga mulai muncul
vertebrata dari jenis ikan tanpa rahang.

2.1.2.3 Periode Silurian (430-395 juta tahun yang lalu)


Silur adalah periode pada skala waktu geologi yang berlangsung mulai akhir
periode Ordovisium, sekitar 430 juta tahun lalu, hingga awal periode Devon, sekitar
395 juta tahun yang lalu. Seperti periode geologi lainnya, lapisan batuan yang
menentukan awal dan akhir periode ini teridentifikasi dengan baik, tapi tanggal
tepatnya memiliki ketidakpastian sebesar 5-10 juta tahun. Awal Silur ditentukan
pada suatu peristiwa kepunahan besar (peristiwa kepunahan Ordovisium-Silur)
sewaktu 60% spesies laut musnah. Pada zaman ini mulai terjadi peralihan
kehidupan dari air ke darat. Tumbuhan darat mulai muncul untuk pertama kalinya
termasuk Pteridofita (tumbuhan paku), sedangkan di dalam laut kalajengking
raksasa (Eurypterid) dan ikan berahang, serta ikan yang berperisai tulang sebagai
pelidung.
Ketika binatang dan tumbuhan sudah menetap di daratan, mereka
berkontribusi terhadap proses perubahan bumi secara fisik dan kimiawi, namun
hidup di daratan membutuhkan strategi yang sama sekali berbeda dengan di lautan,
seperti mencari nutrisi dan air, menghindari kekeringan, membawa keluar
perubahan gas, dan reproduksi. Tanaman darat disebut vaskular, dinamakan
demikian karena mereka menggunakan sistem tabung dalam sirkulasi air dan nutrisi
muncul sekitar 425 juta tahun yang lalu. Kebanyakan tumbuh hanya beberapa
sentimeter namun cukup tinggi untuk mencapai langit dan menangkap cahaya
matahari dan melepaskan spora reproduksi ke angin. Dengan sistem akar yang lebih
dalam dari tanaman awal (Rhizoid) serta stem vertikal yang kokoh, mereka
sekarang sudah memunyai perlengkapan untuk mengolonisasi permukaan bumi.
Contoh untuk sebuah tanaman vaskular sederhana adalah Cooksonia.

2.1.2.4 Periode Devonian (395-345 juta tahun yang lalu)


Devon adalah periode pada skala waktu geologi yang termasuk dalam era
Paleozoikum dan berlangsung antara 395 hingga 345 juta tahun yang lalu. Namanya
berasal dari Devon, Inggris, tempat pertama kalinya batuan Exmor yang berasal dari

7
periode ini dipelajari. Pada masa Devonian, antropoda dan vertebrata awal
melanjutkan kolonisasi di daratan. Binatang-binatang ini memiliki problem yang
sama dengan tanaman ketika pertama kali berkolonisasi di daratan, seperti
mengurangi kehilangan air dan memaksimalkan penghirupan oksigen. Kemajuan
paling evolusioner dari masalah ini tidak hanya memungkinkan binatang dapat
menginvasi daratan, tapi juga menyebar ke seluruh benua.
Zaman Devon merupakan zaman perkembangan secara besar-besaran jenis
ikan berahang dan hiu semakin aktif sebagai pemangsa di lautan. Migrasi ke daratan
terus berlanjut, hewan amfibi mulai berkembang dan beranjak ke daratan.
Tumbuhan darat semakin umum dan mulai muncul serangga untuk pertama kalinya.
Semasa periode Devon, ikan pertama kali berevolusi dan memiliki kaki serta mulai
berjalan di darat sebagai tetrapoda sekitar 365 juta tahun yang lalu. Tumbuhan
berbiji pertama tersebar di daratan kering dan membentuk hutan yang luas. Di laut,
hiu primitif berkembang lebih banyak dibanding periode Silur dan Ordovisium
akhir. Ikan bersirip-cuping (Lobe-finned, Sarcopterygii), ikan bertulang (Bony fish,
Osteichthyes) serta Moluska amonite muncul untuk pertama kalinya. Trilobit,
Brachiopoda mirip moluska, dan terumbu karang besar juga masih sering
ditemukan. Kepunahan Devon Akhir sangat mempengaruhi kehidupan laut.
Selama periode Devonian, bumi saat itu terdiri dari tiga benua utama besar:
Amerika Utara dan Eropa tergabung menjadi satu terletak di dekat daerah equator
di mana pada saat ini sebagian besar daratan ini tenggelam di dasar laut. Di sebelah
utara terhampar sebagian dari Siberia modern. Dan sebuah gabungan benua
Amerika Selatan, Afrika, Antartika, India dan Australia, yang lebih dikenal dengan
Daratan Gondwana, mendominasi sebelah selatan belahan bumi.

2.1.2.5 Periode Karbon (345-280 juta tahun yang lalu)


Karbon adalah suatu periode dalam skala waktu geologi yang berlangsung
sejak akhir periode Devon sekitar 345 juta tahun yang lalu hingga awal periode
Perm sekitar 280 juta tahun yang lalu. Seperti halnya periode geologi yang lebih
tua lainnya, lapisan batuan yang menentukan awal dan akhir periode ini
teridentifikasi dengan baik, tapi tanggal tepatnya memiliki ketidakpastian sekitar 5-
10 juta tahun. Nama “karbon” diberikan karena adanya lapisan tebal kapur pada
periode ini yang ditemukan di Eropa Barat. Pada masa Karboniferus, benua-benua

8
bergabung membentuk kelompok-kelompok kecil daratan luas dengan jembatan-
jembatan darat dari Eropa ke Amerika Utara, dan dari Afrika ke Amerika Selatan,
Antartika, dan Australia. Tabrakan antarbenua menghasilkan sabuk Pegunungan
Appalachian di sebelah timur Amerika Utara dan Pegunungan Hercynian di Inggris.
Tumbukan lebih lanjut antara Siberia dan Eropa Timur membentuk Pegunungan
Ural. Dua pertiga masa awal periode ini disebut subperiode Mississippian dan
sisanya disebut subperiode Pennsylvanian. Pohon-pohon konifer muncul pada
periode yang penting ini.
Zaman ini merupakan zaman perkembangan amfibi dan tumbuhan hutan.
Reptilia dan serangga raksasa muncul pertama kali. Pohon pertama yang muncul
adalah jamur Klab, tumbuhan Fern paku ekor kuda yang tumbuh di rawa-rawa. Saat
itu benua-benua mulai menyatu membentuk satu masa daratan yang sangat luas
disebut Pangea. Bumi mulai mengalami perubahan lingkungan serta berbagai
bentuk kehidupannya. Iklim tropis menghasilkan secara besar-besaran rawa-rawa
yang terisi pepohonan dan sekarang tersimpan sebagai batubara. Pada masa ini,
kondisi sangat mendukung pembentukan awal batu-bara (karbon), perkembangan
biologis, geologis, dan iklim bumi. Salah satu dari penemuan evolusioner terbesar
dari periode Karboniferus adalah amniotic egg di mana hal ini membuat reptil-reptil
awal dari habitat air dan mengolonisasi daratan. Amniotic egg membuat leluhur
burung, mamalia, dan reptil untuk bereproduksi di daratan dengan jalan mencegah
embrio kekeringan dengan adanya cangkang, sehingga pada masa ini telur dapat
disimpan jauh dari air.

2.1.2.6 Periode Permian (280-225 juta tahun yang lalu)


Perm atau Permian adalah periode dalam skala waktu geologi yang
berlangsung antara 280 hingga 225 juta tahun yang lalu. Periode ini merupakan
periode terakhir dalam era Paleozoikum. Perm dibagi menjadi tiga kala yaitu
Lopongian, Guadalupian, dan Cisuralian. Pada periode Permian, benua-benua
bergerak lebih mendekat dibandingkan masa Karboniferus, di mana bagian utara
dan bagian selatan superbenua Laurasia dan Gondwana mulai menyatu dan
membentuk sebuah benua mahaluas yang disebut Pangaea. Periode Permian
merupakan periode final dari masa Paleozoikum dan diberi nama sesuai nama
sebuah provinsi, Perm, di Rusia, tempat di mana batu pada periode ini dipelajari.

9
Pada zaman ini perkembangan reptilia yang mirip mamalia mulai meningkat dan
munculnya serangga modern, begitu juga tumbuhan Konifer dan Ginkgoc
primitive. Zaman ini diakhiri dengan kepunahan massal.
Lingkungan geografis periode Permian mencakup area luas daratan dan
lautan. Percobaan yang dilakukan memberikan kesimpulan bahwa kemungkinan
besar daerah bagian dalam daratan beriklim kering, dengan iklim yang sangat
fluktuatif, karena kurangnya daerah berair di daerah ini, dan hanya sebagian daerah
dari superbenua ini yang menerima curahan air hujan dalam setiap tahunnya.
Daerah lautan pada masa ini sendiri masih sedikit yang diketahui seperti apa. Di
bagian selatan superbenua tersebut terdapat daerah gletser yang luas, terbukti dari
pengecilan/pengurusan batu glasial dari tempat-tempat yang sekarang disebut
Afrika, Amerika Selatan, Antartika, dan tanah hasil penggerusan angin
mengindikasikan iklim yang sangat kering. Namun, ada indikasi pada masa ini
iklim di bumi berubah pada masa ini, daerah es berkurang ketika bagian dalam
benua menjadi semakin kering.
Perbedaan antara masa Paleozoikum dan Mesozoikum terjadi pada periode
akhir Permian yang ditandai dengan kepunahan besar-besaran yang pernah tercatat
di bumi. Hal tersebut memengaruhi banyak kelompok binatang di banyak
lingkungan dan ekosistem. Namun yang paling terpengaruh dari kepunahan massal
tersebut dirasakan oleh komunitas laut yang menyebabkan kepunahan sampai 90-
95% dari spesies laut. Di daratan kepunahan membuka jalan bagi bentuk lain untuk
mendominasi, dan membawa ke dalam masa yang dikenal sebagai “Masa
Dinosaurus”. Meski sebab dari kepunahan masal pada periode Permian masih
diperdebatkan, beberapa kemungkinan diformulasikan untuk menjelaskan tahapan
kejadian kepunahan. Peng-es-an, perubahan formasi Pangaea, dan aktivitas gunung
berapi merupakan beberapa teori di samping kemungkinan teori dari luar angkasa,
yaitu tumbukan meteor dan asteroid ke bumi.

2.1.3 Mesozoikum/Sekunder (225-65 juta tahun yang lalu)


Mesozoikum berasal dari bahasa Yunani yakni meso “antara” dan zoon,
“hewan” atau berarti “hewan pertengahan”. Mesozoikum atau sering pula disebut
sebagai zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan berlangsung kurang lebih
selama 180 juta tahun, antara 225 hingga 65 juta tahun yang lalu.

10
Zaman ini juga disebut zaman sekunder, berlangsung kira-kira 160 juta
tahun. Selama zaman ini, hidup berkembang dengan pesat. Amphibi, ikan, reptile
dengan bentuk besar sekali. Bekas-bekas reptile raksasa ditemukan di berbagai
tempat di seluruh dunia. Dinosaurus panjang kurang lebih 15 meter, Atlantosaurus
panjang 30 meter dan binatang lain dapat dilihat di museum Houston. Selain itu
hidup pula: hylonomus, dimetrodon, cynognathus, steneosaurus, metriorhynchus
(Asmito, 1988: 2).
Sepanjang era ini dibagi menjadi bberapa periode yang diantaranya periode
Triassid, periode Jurassic, dan periode Cretaceus. Di mana setiap period tersebut
memiliki karakteristik yang berbeda.

2.1.3.1 Periode Triassid (225-195 juta tahun yang lalu)


Nama Trias diusulkan oleh F. von Alberti, seorang ahli geologi
berkebangsaan jerman. Nama Trias diambil dari perkembangan endapan
Mesozoikum yang didapat di cekungan Jerman, yang kemudian dianggap sebagai
wilayah tipe untuk Sistem Trias, walaupun singkapan yang relatif lengkap dan
banyak mengandung fosil justru didapatkan di Amerika bagian barat, Amerika
bagian timur dan Kanada.
Gastropoda dan Bivalvia meningkat jumlahnya, sementara amonit menjadi
umum. Dinosaurus dan reptilia laut berukuran besar mulai muncul pertama kalinya
selama zaman ini. Reptilia menyerupai mamalia pemakan daging yang disebut
Cynodont mulai berkembang. Mamalia pertamapun mulai muncul saat ini. Dan ada
banyak jenis reptilia yang hidup di air, termasuk penyu dan kura-kura. Tumbuhan
sikada mirip palember kembang dan Konifer menyebar. Benua Pangea bergerak
keutara dan gurun terbentuk. Lembaranes di bagian selatan mencair dan celah-celah
mulai terbentuk di Pangea.
Sistem Trias terbagi menjadi tiga bagian, yaitu Trias Bawah, Trias Tengah,
Trias Atas. Adapun pengertian dari tiga bagian tersebut adalah
1. Trias Bawah: yang dikenal dengan nama setempat sebagai Buntsandstein
merupakan seni sedimentasi yang terjadi di darat dan terdiri dari batu pasir,
batu lempung, konglomerat dengan beberapa bagian terdapat sisipan

11
endapan laguna. Warna seri sedimen tersebut dari merah cerah hingga
lembayung.
2. Trias Tengah: yang dikenal dengan nama setempat sebagai Muschelka
merupakan seni sedimentasi yang terjadi di laut yang mencapai ketebalan
kurang lebih 200 meter.
3. Trias Atas: yang dikenal dengan nama setempat sebagai Keuper merupakan
seni sedimen yang seluruhnya diendapkan di darat. Pada bagian alasnya
terdiri dari dolomit dan gipsum yang merupakan endapan penguapan, yang
diakhiri dengan batu pasir yang diendapkan di sungai dengan fosil tumbuh-
tumbuhan yang menyerupai ekor kuda yang dikenal dengan nama setempat
sebagai Schlifsandstein.
Perkembangan kehidupan pada zaman Trias menunjukkan banyak terjadi
perubahan baik untuk jenis Fauna terutama untuk golongan Vertebrata maupun
golongan Invertebrata. Golongan Invertebrata Filum Brachiopoda dan Filum
Mollusca serta Filum Arthropoda. Untuk Filum Mollusca termasuk di antaranya
dari Kelas Pelecypoda dan Kelas Cephalopoda sedang untuk Pilum Arthropoda
khususnya yang termasuk Kelas Crustacea. Demikian pula untuk jenis flora
menunjukan adanya perkembangan yang pesat. Untuk jenis Vertebrata khususnya
yang termasuk reptilia sudah mulai dikenal Rutiodon sebangsa Phytosaurus yang
mulai muncul semula hidup dalam lingkungan air kemudian mengadaptasikan diri
hidup dalam lingkungan darat yang kemudian punah pada zaman ini.
Selain itu yang mulai muncul pada zaman ini pula antara lain yang termasuk
dinosaurus ialah Anchiasaurus, Cynognathus, Thrinacodon, Placerias gigas,
Inchtyosurus yang berkembang pada Zaman Trias dan punah pula pada akhir
Zaman Trias.

2.1.3.2 Periode Jurassic (195-136 juta tahun yang lalu)


Pada zaman ini, Amonit dan Belemnit sangat umum. Reptilia meningkat
jumlahnya. Dinosaurus menguasai daratan, Ichtiyosaurus berburu di dalam lautan
dan Pterosaurus merajai angkasa. Banyak dinosaurus tumbuh dalam ukuran yang
luar biasa. Burung sejati pertama (Archeopterya) berevolusi dan banyak jenis buaya
berkembang. Tumbuhan Konifer menjadi umum, sementara Bennefit dan Sequola
melimpah pada waktu ini. Pangea terpecah dimana Amerika Utara memisahkan diri

12
dari Afrika sedangkan Amerika Selatan melepaskan diri dari Antartika dan
Australia.
Zaman Jura berlangsung sejak 208 – 145 juta tahun yang lalu. Nama Jura
pertama kali dipakai pada tahun 1799 oleh A. von. Humboldt seorang ahli geologi
berkebangsaan Jerman. Penelitian secara intensif pada saat itu dilakukan di Inggris,
walupun demikian maka nama sistem ini diambilkan dari nama Pegunungan Yura
yang membentang dari Perancis sampai Swiss. Tempat inilah yang kemudian
digunakan sebagai daerah tipe untuk sistem Yura. Endapan Jura baik yang terjadi
di laut mupun yang di darat banyak mengandung fosil. Untuk golongan Invertebrata
diwakili oleh Filum Coelenterata, Porifera, Echinodermata dan Mollusca.
Brontosaurus merupakan salah satu anggota dari Dinosaurus yang terbesar
yang hidup dan pernah dijumpai dalam bentuk fosil di Amerika dan berkembang
baik hingga zaman Jura. Dari kerangka yang telah berhasil direkontruksi
jenis Brontosaurus mempunyai tubuh hingga 18 feet dengan panjang hingga 67
feet. Archaeopteryx meruapakan burung yang pertama kali dikenal dalam sejarah.
Burung ini memiliki ukuran sebesar burung gagak, fosilnya dijumpai pada batu
gamping litographhi di daerah Solenhoven, Bavaria. Ichtyosaurus merupakan
reptile laut yang memiliki panjang tubuh 10 feet.
Endapan jura didapatkan baik di Indonesia barat maupun Indonesia Timur.
Di Indonesia barat tidak banyak dijumpai endapan Jura. Ada kemungkinan bahwa
sebagian besar daerah Indonesia barat pada zaman itu merupakan daratan sehingga
tidak dimungkinkan terbentuknya endapan. Di Indonesia timur perkembangan
endapan Jura relatif baik. Endapannya berkembang sebagai batu gamping dengan
fosil Arnioceras.
Dengan memperhatikan tempat-tempat terdapatnya endapan Jura maka
dapat diamnbil kesimpulan bahwa terdapat genang laut selama zaman Jura sehingga
mengakibatkan seolah-olah Indonesia terbagi menjadi 3 bagian oleh palung
Anambas, geosnklin Banda dan geosinklin Papua

2.1.3.3 Periode Cretaceus (136-65 juta tahun yang lalu)


Banyak dinosaurus raksasa dan reptilia terbang hidup pada zaman ini.
Mamalia berari-ari muncul pertama kalinya. Pada akhir zaman ini Dinosaurus,
Ichtiyosaurus, Pterosaurus, Plesiosaurus, Amonit dan Belemnit punah. Mamalia

13
dan tumbuhan berbunga mulai berkembang menjadi banyak bentuk yang berlainan.
Iklim sedang mulai muncul. India terlepas jauh dari Afrika menuju Asia. Jaman ini
adalah jaman akhir dari kehidupan biantang-binatang raksasa.
Zaman kapur atau zaman cretaceus berlangsung semenjak 136-65 juta tahun
yang lalu. Zaman kapur dicirikan oleh suatu daur pengendapan “susut laut-genang
laut-susut laut”. Selama zaman kapur berkembang bermacam-macam kehidupan.
Beberapa diantaranya merupakan kelanjutan dari zaman Jura disamping terdapat
pengembangan kehidupan yang baru. Diantara jenis-jenis yang mencirikan untuk
jaman Kapur antara lain anggota dari Filum Protozoa khususnya dari ordo
Foraminifera, Filum Coelenterata, Filum Mollusca, dan Filum Arthropoda.
Disamping itu terdapat pula perkembangan dari golongan vertebrata maupun jenis
flora.
Tyrannosaurus Rex merupakan jenis dinosaurus pemangsa terbesar yang
hidup pada jaman kapur, dinosaurus ini dapat berkembang dengan panjang tubuh
mencapai 45 feet dan tinggi 20 feet. Elasmosaurus merupakan golongan mamalia
yang hidup di laut dan memiliki panjang antara 40-50 feet. Pterodon merupakan
golongan reptil terbang yang memiliki bentang sayap 23 sampai 25 feet. Fosil
dari Elasmosaurus dan Pterodon ditemukan di daerah Niobrara, Kansas, Amerika
pada batu gamping.
Di Indonesia terdapat endapan-endapan yang jelas termasuk zaman kapur
hanya terdapat di berbagai tempat yang terpencar. Di Indonesia bagian barat system
kapur dicirikan oleh endapan klastik dengan fosil Orbitolina, meskipun fosil ini
juga dijumpai pada sistem kapur yang ada di Indonesia bagian timur. Di Sumatera,
di Bukit Garba, dimana di bagian bawah terdiri dari napal tufan, tufa, pilit dan
marmer. Bagian atasnya terdiri dari batu rijang yang mengandung fosil Radiolaria.
Di Jawa endapan yang berumur kapur telah diketahui dalam bentuk lensa-
lensa batu gamping yang mengandung fosil Orbitolina terapit diantara lempung
dan serpih. Endapan tersebut dijumpai di Lok Ulo, Karangsambung, selatan
Banjarnegara, Jawa Tengah. Batu guling dengan fosil Orbitolina telah dijumpai
dalam konglomerat Eose di Pegunungan Jiwo, selatan Klaten. Di tempat ini
endapan kapur bertalian erat dengan batuan metamorf dan mungkin selaan-selaan
di dalamnya.

14
Apabila ditinjau secara menyeluruh, karena genang laut yang terjadi pada
Cenomanian mengakibatkan lautan di Indonesia menjadi lebih luas daripada zaman
Jura. Daratan Philipina yang masih menjadi satu dengan daratan Papua pada waktu
zaman Jura, sekarang .Sekarang oleh genang laut tersebut terbagi menjadi 2
daratan, yaitu daratan Philipina dan daratan Papua. Di bagian tenggara Indonesia,
lautan menggenangi daratan bagian utara daratan Australia sehingga terjadi teluk-
teluk. Pada waktu yang bersamaan maka Geosinklin Tasmania meluas ke arah utara
jika dibandingkan dengan luas wilayahnya di zaman Jura.

2.1.4 Neozoikum/Kenozoikum/Tersier-Quarter (65 juta tahun yang lalu-


sekarang)
Zaman ini juga disebut zaman Kainozoikum, berlangsung kira-kira 65 juta
tahun yang lalu sampai kini. Zaman ini dibagi atas zaman tersier (ketiga) dan
quarter (keempat) (Asmito, 1988: 2).
Neozoikum atau disebut juga Kenozoikum berasal dari bahasa Yunani:
kainos “baru”, dan zoe “kehidupan”, atau berarti “kehidupan baru” adalah era
terakhir dari tiga era klasik geologi. Era ini berlangsung selama 65 juta tahun
sampai sekarang, setelah peristiwa kepunahan massal Kapur-Tersier pada akhir
periode kapur yang menandai punahnya dinosaurus tanpa bulu dan berakhirnya era
Mesozoikum.
Pada masa Kenozoikum, benua-benua terus berpisah makin jauh, hampir
menuju posisi yang sekarang. Iklim di banyak tempat di dunia semakin menuju ke
musim sejalan dengan pergerakan benua mendekati kutub-kutub. India sedang
menuju ke arah tabrakan dengan Asia. Sebagai reaksi dari perubahan iklim ini,
burung-burung, tanaman dan serangga mulai beradaptasi penyebaran yang terus
berlangsung hingga kini. Para primata (urutan yang mencakup manusia) mulai
menjadi mapan dan mulailah masa Paleosen (tua+waktu) Epoch dengan seri
pertama dari penyebaran yang pada satu waktu kelak melahirkan genus Homo
(Pope, 1984: 114).

2.1.4.1 Periode Tersier


Zaman tersier ini binatang-binatang menyusui berkembang dengan
sepenuhnya, sedangkan bangsa reptil raksasa lambat laun pun lenyap. Begitupun

15
primata dalam zaman ini sudah nampak. Kera sudah banyak dan jenis kera-manusia
sudah ada pula pada akhir zaman tersier ini (Soekmono, 1973: 19).
Zaman Tersier adalah zaman yang berlangsung sekitar 60 juta tahun yang
ditandai dengan munculnya beragam jenis binatang menyusui (mamalia) termasuk
primata seperti kera. Sedangkan jenis reptil raksasa lambat laun lenyap. Zaman
tersier dibagi menjadi lima kala, yang tertua ke muda: kala Paleosen, Eosen,
Oligosen, Miosen, dan Pliosen (Soejono, 2008: 45).

2.1.4.2 Periode Quarter


Zaman ini penting, karena pendapat umum menyetujui bahwa zaman ini
mulai ada manusia purba. Bukti fosil telah banyak ditemukan. Zaman ini dimulai
sejak 600.000 tahun yang lalu. Zaman ini dibagi menjadi zaman diluvium atau
pleistosen dan alluvium atau holocaen (Asmito, 1988: 2).
1. Zaman Dilluvium / Pleistosen
Yaitu zaman dimana es yang ada di kutub utara meluas karena suhu
turun (glacial) dan mulai mencair karena suhu naik (interglasial). Zaman ini
dibedakan menjadi tiga lapisan, yaitu sebagai berikut :
a) Lapisan atas atau lapisan Ngandong
b) Lapisan tengah atau Lapisan Trinil
c) Lapisan bawah atau lapisan Jetis
Kala Pleitosen (Dilivium) berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu.
Kala Pleitosen menjadi sangat penting karena pada masa ini mulai muncul
manusia purba. Iklim pada awal pleistosen lebih sejuk dan menyediakan
bahan makanan yang cukup sekali bagi kehidupan hewan (Daldjoeni, 1982:
37).
Zaman diluvium sendiri berlangsung kira-kira 600.000 tahun. Oleh
karena selama itu es dari kutub berkali-kali meluas sehingga menutupi
sebagian besar daerah Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara, maka
jaman ini diberi nama juga zaman es. Kejadian ini disebabkan karena ukuran
panas di dunia tidak tetap, ada kalanya naik banyak dan ada pula kalanya
turun mendadak. Jika ukuran panas itu turun sampai banyak, maka es itu
mencapai luas yang sebesar-besarnya. Akibatnya ialah, bahwa air laut
menjadi turun (zaman glacial). Sebaliknya jika ukuran panas itu naik, maka

16
es itu banyak yang menjadi cair. Daerah yang diliputi es menjadi kurang dan
permukaan air laut naik (zaman interglacial). Zaman-zaman glacial dan
interglacial itu terus silih berganti selama zaman diluvium. Hal ini
menimbulkan berbagai perubahan iklim di seluruh dunia, yang kemudian
mempengaruhi keadaan tanah serta hidup yang ada di atasnya (Soekmono,
1973: 20). Keadaan alam pada masa ini masih liar dan labil karena silih
bergantinya dua zaman, yaitu Zaman Glasial dan Zaman Interglasial.
a) Zaman Glasial adalah zaman meluasnya lapisan es di Kutub Utara
sehingga Eropa dan Amerika bagian utara tertutup es. Sedangkan daerah
yang jauh dari kutub terjadi hujan lebat selama bertahun-tahun.
Permukaan air laut turun disertai dengan naiknya permukaan bumi
diberbagai tempat. Ketika es bergerak mundur ke arah selatan dan
menutupi benua-benua yang ada di bumi bagian utara, lalu dunia hewan
mengalami perubahan sebagai berikut. Sebagian dari mereka itu
berpindah ke daerah tropika di selatannya. Namun sebagian lagi mati
terkejar oleh banjir es dan tertimbun olehnya. Sebagian lagi tetap pada
tempatnya yang semula sambil berusaha beradaptasi dengan alam
sekelilingnya yang baru (Daldjoeni, 1982: 37).
b) Zaman Interglasial adalah zaman diantara dua zaman es. Temperatur naik
hingga lapisan es di kutub utara mencair, akibatnya permukaan air laut
naik dan terjadi berbagai banjir besar di berbagai tempat. Hal ini
menyebabkan banyak daratan terpisah oleh laut dan selat.
2. Zaman Alluvium / Holosen
Yaitu zaman yang keadaannya sudah stabil seperti sekarang ini, masa
es sudah berakhir. Pada kala Holosen yang berlangsung kira-kira antara
10.000 tahun yang lalu hingga sekarang, kecerdasan dan kehidupan manusia
meningkat sangat maju. Iklim memegang peranan penting dalam menentukan
berbagai corak ragam kehidupan. Meluasnya muka es yang terjadi pada kala
Plestosen merupakan salah satu sebab berubahnya corak kehidupan. Selain
meluasnya es, gunung-gunung yang tinggi, intensitas cahaya, kedalaman
samudra, kadar uap air, dan arah bertiup angin juga merupakan faktor-faktor
yang menentukan lingkungan hidup manusia (Soejono, 2008: 7).

17
Pada awal kala Holosen, sebagian besar es di kutub utara sudah lenyap,
sehingga permukaan air laut naik lagi. Tanah-tanah rendah di daerah Paparan
Sunda dan Paparan Sahul tergenang air dan menjadi laut transgresi. Dengan
demikian muncullah pulau-pulau di nusantara. Manusia purba lenyap,
kemudian muncul manusia cerdas (Homo sapiens) seperti manusia sekarang.
Betapa sulitnya bertahan hidup dalam kala Plestosen dan pasca-Plestosen
tercermin dari perkembangan budaya yang sangat lambat dan memakan waktu
yang amat panjang (Soejono, 2008: 203).
Masa ini ditandai dengan makin meningkatnya kemajuan kehidupan
manusia seirama dengan perkembangan fisik dan akal budinya. Corak
kehidupan manusia di masa Holosen antara lain hidup menetap di gua-gua,
usaha menjinakkan hewan buruan, dan bercocok tanam. Zaman ini menjadi
yang terpenting bagi kita karena sebagai pendapat umum telah diterima bahwa
waktu itu mulailah ada manusia. Bukti-buktinya sudah cukup ditemukan
untuk menetapkannya dengan pasti (Soekmono, 1973: 19).

2.2 Kehidupan Zaman Primer, Sekunder Dan Tersier


2.2.1 Zaman Primer
Pada era ini keadaan iklim bumi masih belum setabil, masih berubah-ubah.
Curah hujan dibumi pada kala itu masih sangat tinggi.Pada saat itu suhu bumi sudah
semakin dingin, kehidupan perlahan-lahan berevolusi. Makhluk hidup seperti
hewan dan tumbuh-tumbuhan mulai ada. Hewan yang pertama kali ada ialah hewan
kecil yang tidak bertulang punggung, yaitu hewan sejenis ikan, dan jenis ganggang
atau rumput-rumputan.
Pada masa itu, terjadi radiasi adaptif yang membentuk banyak spesies baru,
namun juga terjadi kepunahan massal. Ledakan evolusi ini sering kali disebabkan
oleh perubahan mendadak pada lingkungan yang terjadi akibat bencana alam
seperti aktivitas gunung berapi, tumbukan meteor ataupun perubahan iklim.
Keberadaan hewan dan tumbuhan di bumi pada zaman itu diketahui dari sisa-sisa
yang telah membatu yang disebut fosil. Fosil-fosil tersebut pada umumnya
ditemukan di batu karang.

18
Beberapa kejadian penting yang terjadi dalam kurun waktu tersebut adalah
tiga kepunahan masa utama. Kepunahan adalah total hilangnya seluruh anggota
spesies atau kelompok takson yang lebih tinggi. Kepunahan masa adalah kepunahan
dalam jumlah besar yang di alami spesies atau kolompok takson lebih tinggi yang
tejadi dalam kurun waktu hanya beberapa juta tahun. Dari penjelasan diatas zaman
Paleozoikum memiliki ciri sebagai berikut :
1. Mulai ada tanda-tanda kehidupan berupa mikroorganisme, hewan kecil
tanpa bertulang belakang, jenis ikan, dan jenis ganggang atau rerumputan.
2. Sering disebut zaman primer (pertama).
3. Jenis ikan, amfibi, dan reptile mulai ada.
4. Keadaan bumi masih belum stabil.
5. Iklim masih belum stabil dan berubah-ubah.
6. Curah hujan sangat besar.
7. Berlangsung sekitar 340 juta tahun yang lalu.

2.2.2 Zaman Sekunder


Pada permulaan masa Mesozoikum (binatang pertengahan) iklimnya
sedang dan pada saat itu benua masih bergabung pada satu benua besar ang disebut
Pangea. Selama masa Mesozoikum berlangsung, benua tersebut mulai pecah seperti
benua-benua sekarang yang mulai bergerak menuju posisi-posisi modern masa kini.
Selam zaman Triassic, reptil terus menyebar dan dinosaur pertama muncul.
Selama zaman Jurassic, dinosaur menjadi binatang darat yang dominan. Mereka
juga menguasai lautan-lautan. Dinosaur terbang menguasai udara. Akhirnya burung
bergigi muncul. Burung kemudian menjadi vertebrata pertama yang beradaptasi di
udara dan mengalami penyebaran pada zaman Cretaceus, burung terus menyebar
sampai sekarang.
Yang juga muncul pada permulaan zaman Tersier adalah mamalia bertelur
atau oviparous. Selama periode terakhir Masa Mesozoikum, yaitu zaman Kreta,
mamlia marsupial dan placental muncuL. Mamalia marsupial atau metatheres
(binatang+tengah) menunjukan “perbaikan” prototheres, yaitu bahwa mereka
viviporous (melahirkan), bukannya bertelur. Kelahiran memingkinkan
perkembangan yang lebih besar dan menambah kecerdasan. Namun anak
metatheres msih lahir pada tahap tidak berkembang yang menuntut mereka untuk

19
meninggalkan lubang kelahiran induknya dan “bermigrasi” ke kantong mamalia
yang khusus, dimana mereka meneruskan pertumbuhannya.
Mamalia marsupial dulu sangat tersebar, namun akhirnya disingkirkan oleh
mamalia plasentalyang mempunyai efisiensi kelahiran yang lebi besar serta
kecerdasan yang lebih tinggi. Sekarang, marsupial hanya ada di Amerika Utara
(opossum) dan di Australia. Di Australia marsupial mengalami adaptasi penyebaran
di mana mereka berkembang menjadi beraneka dan menempati banyak niche
adaptasi (seperti karnivora, herbivora, dan lain-lain) yang serupa dengan
perkembangan mamalia placental (Pope, 1984: 112-113).

2.2.3 Zaman Tersier


Pada zaman tersier terjadi perkembangan jenis kehidupan seperti
munculnya primata dan burung tak bergigi berukuran besar yang menyerupai
burung unta, sedangkan fauna laut sepert ikan, moluska dan echinodermata sangat
mirip dengan fauna laut yang hidup sekarang. Tumbuhan berbunga pada zaman
Tersier terus berevolusi menghasilkan banyak variasi tumbuhan, seperti semak
belukar, tumbuhan merambat dan rumput.
Pada zaman ini binatang mulai tampak, dmikian juga primata. Kera sudah
tampak, tetapi summo primata belum kelihatan (Asmito, 1988: 2). Ciri zaman
tersier diantaranya sebagai berikut:
1. Berlangsung 65 juta tahun,
2. Binatang menyusui berkembang pesat,
3. Bangsa reptile raksasa semakin lenyap, dan
4. Kera sudah banyak.
Orangutan mulai muncul pada masa Miosen. Daerah asalnya mungkin dari
Afrika. Saat itu Benua Afrika. Saat itu benua Afrika masih bersatu dengan Jazirah,
Arab. Daerah Afrika Timur belum gersang seperti sekarang. Orangutan merupakan
kera yang tinggal di pucuk-pucuk pohon besar. Makanannya terutama buah dan
daun-daunan. Mereka menyebar ke hutan di Asia Barat Daya, Asia Selatan, dan
Asia Tenggara termasuk Indonesia.
Di akhir masa Moisen terjadi perubahan besar pada kulit bumi dan
lingkungan alamnya. Benua Afrika lepas dari benua Asia sehingga muncul Laut
Merah. Dareah hutan di Afrika Timur berubah menjadi sabana. Beberapa bagian

20
Jazirah Arab menjadi gurun dan hutan di India juga berkurang. Orangutan tidak
menyesuaikan diri dengan perubahan iklim dan lingkungannya. Mereka kemudian
berpindah ke Asia Tenggara yang masih memiliki hutan yang lebat. Sisa-sisanya
masih dapat kita temukan di Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Pada zaman tersier, secara umum bumi masih dikuasai sepenuhnya oleh
hewan-hewan raksasa menyusui yang mencapai puncak perkembangannya dalam
zaman ini. Baru sejak zaman Kuarter Awal muncullah di bumi manusia pertama,
yang karena kelebihannya dalam menggunakan akal, secara berangsur-angsurdapat
menguasai seluaruh alam sebagaimana kemudian tampak dari tahap-tahap
perkembangan budayanya (Soejono, 2008: 9).
Pada zaman Pliosen, yaitu sekitar 10 juta tahun yang lalu, hidup hewan yang
lebih besar daripada gorilla yang disebut dengan Giganthropus (kera manusia
raksasa). Hewan ini ditemukan di Bukit Siwalik di kaki Pegununggan Himalaya
dan Selat Himla (sebelah utara India). Giganthropus hidup berkelompok, sehingga
mereka dapat berkembangbiak dan menyebar dari Afrika ke Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Giganthropus akhirnya punah karena sebab yang tidak jelas.
Selain Giganthropus, dari masa yang sama hidup makhluk lain yang disebut
dengan Australopithecus (manusia kera dari selatan). Ada sekitar 65 fosil
Australopithecus telah ditemukan di Afrika Selatan dan Afrika Timur. Sedangkan
di Kalimantan Barat dari kala Eosen Akhir ditemukan fosil vertebrata yaitu
Anthrcotherium dan Choeromus (sejenis babi hutan purba) yang juga ditemukan di
Asia Daratan. Penemuan fosil ini membuktikan bahwa kala Eosen terakhir,
Kalimantan Barat bergabung dengan Daratan Asia.

21
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Zaman prasejarah adalah zaman yang memiliki kurun waktu yang sangat
lama, sehingga muncul sistem pembabakan untuk mempermudah mempelajari
zaman prasejarah tersebut. Salah satunya menurut geologi, yaitu ilmu yang
mempelajari kulit bumi, maka waktu sejak terjadinya dunia sampai kini itu dapat
dibagi atas zaman-zaman.

Zaman yang pertama yaitu archakum, zaman dimana bumi masih belum
stabil artinya sangat panas, yang kedua zaman paleozoikum yaitu zaman dimana
mulai adanya makhluk hidup bersel satu. Ketiga yaitu zaman mesozoikum yang
disebut zaman sekunder, dimana pada zaman ini terdapat hewan raksasa besar
seperti dinosaurus. Yang terakhir zaman neozoikum atau kenozoikum. Zaman ini
dibagi menjadi dua periode yaitu tersier dan quarter. Periode tersier sendiri dibagi
lagi menjadi lima periode diantaranya paleosen, eosen, oligosen, miosen dan
pliosen. Pada zaman pliosen inilah mulai muncul makhluk primata seperti kera.
Barulah pada periode quarter yang bagi lagi menjadi dua, pada periode pertama
yaitu periode plestosen merupakan periode terpenting dalam sejarah kehidupan
manusia, karena pada periode plestosen inilah muncul manusia purba. Yang
terakhir pada pembagian periode quarter yaitu periode holosen yang merupakan
periode yang dimulai pada abad ke X hingga saat ini. Pada masa inilah kehidupan
dan kecerdasan otak manusia sangat maju hingga sampai sekarang ini.

3.2. Saran
Bumi ini telah terbentuk dengan begitu lama sekali. Makhluk hidup yang
tinggal di bumi ini sangatlah bermacam-macam pada saat itu. Sebagai manusia kita
hendaknya berpikir tentang bagaimana untuk tetap menjaga bumi ini agar tetap
lestari, seperti halnya mereka yang dulu menghuni bumi ini. Janganlah kita dengan
serakahnya gampang merusak bumi ini, yang merupakan tinggalan nenek moyang
kita, dan titipan anak cucu kita.

22
DAFTAR RUJUKAN

Asmito. 1988. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek
Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.

Budianto. 2014. Sejarah Zaman Neozoikum, (online),


(http://www.budhii.web.id/2014/10/sejarah-zaman-neozoikum.html),
diakses 4 Oktober 2016.

Daldjoeni, N. 1982. Goegrafi Kesejarahan. Bandung: Penerbit Alumni.

Djunijanto. 2013. Sejarah Pembentukan Bumi Berdasarkan Zaman, (Online),


(https://djunijanto.wordpress.com/materi/sejarah-pembentukan-bumi-
berdasarkan-zaman/), diakses 4 Oktober 2016.

Pope, Geoffrey.1984. Antropoogi Biologi. Jakarta: CV. Rajawali.

Sasrawan, H. 2013. Perkembangan Kehidupan di Bumi, (Online),


(http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/01/perkembangan-kehidupan-
di-bumi.html), diakses 4 Oktober 2016.

Soejono, R. P., Jacob, T., Hadiwisastra, S., Subata, I., M. Kesasuh, E. A. &
Buntarti, D. D (Eds). 2010. Zaman Prasejarah di Indonesia. Dalam
Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: P.N. Balai Pustaka.

Soekmono, R. 1973. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia I. Yogyakarta:


Yayasan Kanisius.

Sussima, A. 2011. Paleozoikum, (Online),


(http://alfonsussimalango.blogspot.com/2011/03/paleozoikum.html),
diakses 4 Oktober 2016.

Syajarra. 2009. Mesozoikum, (Online),


(http://syajarra.blogspot.com/2009/11/mesozoikum.html), diakses 4
Oktober 2016.

23

Anda mungkin juga menyukai