Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN TUGAS WEB SERVER STRESS TOOL

“Website Stress Test

Menggunakan GTmetrix, dan, Apache Jmeter”

MATAKULIAH :

Multi Channel Access

OLEH :

I MADE ARI SULISTYA (1504505028)

DEWA GDE EKA KRISNA ADINATHA (1519551016)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INFORMASI

FAKULTAS TEKNIK

UNIVESITAS UDAYANA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan Internet yang semakin hari semakin meningkat baik
teknologi dan penggunaannya, membawa banyak dampak baik positif maupun
negatif. Tentunya untuk yang bersifat positif, semua harus mensyukurinya karena
banyak manfaat dan kemudahan yang didapat dari teknologi ini, misalnya dapat
melakukan transaksi perbankan kapan saja dengan e-banking, e-commerce juga
membuat lebih mudah melakukan pembelian maupun penjualan suatu barang tanpa
mengenal tempat.
website pun telah terhubung ke Internet. Oleh sebab itu administrator web
dituntut untuk lebih berhati-hati, karena sangat memungkinkan bahwa layanan
website tersebut akan disalahgunakan oleh hacker. Hacker sering melakukan
aksinya dengan memanfaatkan dan menjadikan layanan website sebagai perantara
untuk mendapatkan akses menuju server melalui celah keamanan yang terdapat
pada layanan website. Aktivitas hacking yang dilakukan oleh para hacker ini
memiliki berbagai macam motivasi diantaranya, untuk kesenangan semata,
menguji kemampuan, bahkan sengaja melakukan aktifitas hacking untuk
mendapatkan data penting yang dimiliki oleh suatu website. Hal ini sangat
berbahaya apabila kerentanan website diketahui dan dimanfaatkan oleh pihak-
pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengidentifikasi kerentanan dan


pendeteksian serangan pada website dengan cara melakukan stress test dan stress
website dan memberikan saran solusi.

Adapun manfaat yang ingin dicapai dari tugas ini, yaitu dapat mengetahui
hasil performance untuk simulasi virtual user yang dari yang sudah ditentukan
penulis pada metode laporan di bawah.
1.2 GTmetrix
GTMetrix yang beralamat https://gtmetrix.com/ mempunyai slogan “The
web should be fast”. Alat GTMetrix membantu meningkatkan kecepatan loading,
lebih efisien, dan meningkatkan performa situs web sehingga pengunjung situs web
tentu akan senang. Aturan penilaian dan peningkatan performa yang digunakan
memadukan aturan Google Page Speed dan Yahoo YSlow. Setiap bagian yang
kurang dijelaskan kekurangannya dan rekomendasi menurut Google Page Speed
dan Yahoo Yslow. Tentu saja dengan tautan artikel terkait yang merekomendasi
penyelesaian masalah.

1.2.1 GTmetrix Summary


Sejak Februari 2017, GTMetrix menggunakan metode yang mereka
sebut fully loaded time . Menurut mereka, fully loaded time adalah titik
setelah Onload events dan tidak ada aktivitas jaringan selama 2 detik.
Sederhananya, sekarang mereka akan menunggu sampai halaman Anda berhenti
mentransfer data sebelum menyelesaikan pengujian, sehingga menghasilkan waktu
load page yang lebih konsisten. Sebelumnya mereka menggunakan waktu onload
yang dalam beberapa kasus tidak menghasilkan beberapa hal di laporan performa,
seperti iklan yang dimuat secara asinkron atau screenshots yang tidak muncul.
1.2.1.1 Page Speed Score
GTMetrix menggunakan peraturan yang sama dengan Google PageSpeed
Insight dalam memberi nilai untuk situs Anda. Rating yang bisa Anda dapatkan
adalah antara 0 sampai 100 (F sampai A). Anda juga akan mendapatkan lebih dari
25 rekomendasi. Kami akan membahas beberapa rekomendasi yang populer dan
sering didapatkan oleh pemilik website. Jika Anda mengikuti rekomendasi yang
diberikan oleh GTMetrix, Anda akan melihat peningkatan dalam waktu loading
website Anda.
1. Serve Scaled Image
Jika Anda mengupload gambar ke situs Anda, usahakan untuk mengupload
gambar dengan ukuran yang tepat dan jangan biarkan CSS mengubah ukurannya.
Jika Anda membiarkan CSS mengubah ukurannya, Anda akan mendapat
rekomendasi serve scaled image . Bagi Anda pengguna WordPress, secara default,
mereka terkadang mengubah ukuran gambar Anda ketika Anda mengupload
gambar ke media library. Anda bisa mengaturnya di Settings > Media. Anda ingin
memastikan bahwa lebar maksimal mendekati lebar situs Anda. Dengan cara ini
CSS tidak akan mencoba mengubah ukuran gambar Anda agar sesuai dengan lebar
situs Anda. Anda juga dapat secara otomatis mengubah ukurannya dengan plugin
pengoptimalan gambar.
2. Inline Small CSS
Inlining CSS Anda biasanya tidak disarankan karena akan meningkatkan
ukuran download keseluruhan permintaan halaman Anda. Namun, jika situs Anda
kecil, dengan permintaan minimal, langkah ini bisa meningkatkan performa situs
Anda. Untuk melakukan inlining dengan mudah, Anda bisa menggunakan plugin
gratis seperti autoptimize .
3. Inline Small Javascript
Sama dengan inlining small CSS, hal yang sama juga berlaku untuk inlining
small JavaScript. Biasanya, Anda juga tidak disarankan untuk melakukan karena
ini akan meningkatkan ukuran download keseluruhan permintaan halaman Anda.
Namun, jika situs Anda kecil, dengan permintaan minimal, langkah ini juga bisa
meningkatkan performa website Anda. Untuk melakukan ini, Anda bisa
menggunakan plugin gratis seperti autoptimize.
4. Leverage Browser Caching
Leverage browser caching adalah salah satu rekomendasi yang sering
didapatkan banyak orang. Ini biasa terjadi karena ada kesalahan HTTP cache
headers di server web Anda. Anda hanya bisa memperbaiki ini jika Anda memiliki
kontrol atas resourcesnya. Contohnya, jika Anda melihat masalah ini di jaringan
iklan pihak ketiga, Anda tidak bisa melakukan apa-apa.
5. Serve Resources From A Consistent URL
Jika Anda melihat serve resources from a consistent URL di laporan Anda,
kemungkinan besar Anda memiliki resources yang sama diserve dari URL yang
sama. Biasanya hal ini bisa terjadi bila ada query string yang terlibat. Begitu
masalah ini hilang, seharusnya mereka tidak lagi loading dua kali.
6. Defer Parsing of Javascript
JavaScript dan CSS adalah default membuat pemblokiran. Ini berarti
mereka dapat mencegah agar halaman web tidak ditampilkan sampai didownload
dan diproses oleh browser. Defer atrribute memberitahu browser untuk menunda
mendownload resource sampai penguraian HTML selesai. Bebeapa cara untuk
memperbaiki masalah ini adalah dengan menggunakan plugin autoptimize atau
async JavaScript.
7. Minify CSS dan JavaScript dan Minify HTML
Minifikasi pada intinya adalah menghilangkan semua karakter yang tidak
diperlukan dalam sebuah source code tanpa mempengaruhi kegunaannya. Karakter-
karakter yang dimaksud disini adalah line breaks, empty space, indents, dan
sebagainya. Melakukan minifikasi dapat membantu memperkecil size sebuah data
dan mempercepat proses download, penguraian, dan eksekusi. Untuk melakukan
minifikasi CSS, JavaScript, dan HTML Anda bisa menggunakan plugin seperti WP
Fastest Cache .
8. Optimize Image
Menurut HTTP Archive , mulai dari April 2017, gambar bertanggung jawab
atas rata-rata 66% dari total berat sebuah halaman web. Jadi, jika Anda berniat
untuk mengoptimasi situs WordPress Anda, gambar adalah hal pertama yang harus
Anda perhatikan. Ini lebih penting daripada scripts dan fonts. Secara ideal, setiap
gambar harus dikompres dan dioptimasi sebelum diupload ke WordPress. Tetapi
sayangnya, terkadang orang-orang lupa untuk melakukan ini. Salah satu cara untuk
membantu Anda adalah dengan menginstal plugin optimasi gambar. Plugin ini akan
membantu Anda untuk mengkompres gambar secara otomatis, mengubah ukuran
jika diperlukan, dan memastikan bahwa mereka tidak berukuran besar dan website
Anda akan loading dengan cepat.
9. Enable Grip Compresion
Gzip adalah formate file dan sebuah aplikasi software yang digunakan untuk
compression dan decompression sebuah file. Kompresi GZIP diaktikan di sisi
server dan memungkinkan pengurangan ukuran lebih lanjut untuk file HTML,
stylesheets, dan JavaScript. GZIP tidak akan bekerja untuk gambar karena mereka
sudah dikompres dengan cara yang berbeda. Beberapa orang sudah melihat 70%
pengurangan ukuran data setelah kompresi. Ini mungkin adalah salah satu optimasi
paling mudah yang bisa Anda lakukan jika Anda menggunakan WordPress.

10. Minimize Redirects


Meminimalkan redirects HTTP dari satu URL ke URL lainnya mengurangi
tambahan RTT dan waktu tunggu bagi para pengguna. Bagi Anda yang
menggunakan redirect WordPress, mereka melambatkan waktu loading website
Anda. Maka itu, ada baiknya Anda menyediakan waktu untuk meminimalkan
jumlah redirect pengunjung Anda.
11. Specify a Space Validator
Rekomendari specify a cache validator akan muncul jika ada HTTP caching
headers yang hilang. Ini harus disertakan pada setiap respons server asal, karena
keduanya memvalidasi dan mengatur panjang cache. Jika header tidak ditemukan,
maka akan menghasilkan permintaan baru untuk resource setiap saat, yang
meningkatkan beban pada server Anda. Memanfaatkan caching header memastikan
bahwa permintaan berikutnya tidak perlu dimuat dari server, sehingga menghemat
bandwidth dan meningkatkan performa website Anda. Perlu juga diingat bahwa
Anda tidak dapat memperbaikinya jika masalah ini muncul dari resource pihak
ketiga.
12. Remove Query String from Static Resources
File JavaScript dan CSS Anda biasanya memiliki versi file di akhir URL
mereka, misalnya contoh domain.com/style.css?ver=4.6. Beberapa server dan
proxy server biasanya tidak bisa mengcache query strings, bahkan jika cache-
control:public header ada, Jadi dengan menghapusnya, Anda terkadang bisa
memperbaiki caching Anda. Ini bisa dengan mudah dilakukan dengan kode atau
plugin WordPress gratis.
13. Specify a Vary: Accept-Encoding Header
Header HTTP dan harus disertakan pada setiap respons server asal, karena
memberitahukan browser apakah klien dapat menangani versi konten yang
dikompres atau tidak. Biasanya, saat kompresi GZIP diaktifkan, ini juga diperbaiki.
1.2.1.2 YSlow Score
GTMetrix juga menggunakan YSlow untuk memberi website Anda nilai. Di
bagian ini ada lebih dari 15 rekomendasi yang mungkin Anda dapatkan. Sama
dengan rekomendari yang ada di Page Speed, jika Anda mengikuti rekomendasi-
rekomendasi ini, Anda akan melihat peningkatan dalam waktu loading website
Anda.
1. Make Fewer HTTP Request
Seperti yang mungkin Anda sudah ketahui, semua yang diloading di website
Anda seperti plugin, gambar, fonts, dan sebagainya, melakukan permintaan HTTP.
Ini adalah salah satu alasan mengapa Anda tidak disarankan untuk menginstal 100
plugin di saat yang bersamaan karena mereka kemungkinan akan melakukan
permintaan CSS script dan JavaScript yang tentunya akan mengumpulkan ratusan
permintaan HTTP.
2. Add Expires Headers
HTTP Caching: Cache-Control header didefinisikan sebagai bagian dari
spesifikasi HTTP / 1.1 dan menggantikan header sebelumnya digunakan untuk
menentukan kebijakan caching tanggapan. Semua browser modern mendukung
Cache-Control, maka hanya itu yang Anda butuhkan. Namun, tidak ada salahnya
jika Anda memiliki keduanya, tapi ingat hanya satu yang akan digunakan. Expires
Header menggunakan tanggal yang sebenarnya, sedangkan header Cache-Control
memungkinkan Anda menentukan jumlah waktu sebelum kadaluarsa.
3. Use a Content Delivery Network
CDN menyimpan salinan konten yang sudah dicache milik Anda di POPs
yang terletak lebih dekat dengan pengunjung, yang akan mempercepat waktu
loading bagi mereka dengan mengurangi latensi. Cloudflare adalah salah satu
penyedia CDN yang sangat disarankan yang dapat Anda gunakan dengan mudah
dengan situs WordPress Anda.
4. Use Cookie Free Domain
Secara umum, saat Anda menyajikan konten seperti gambar, JavaScript dan
CSS, tidak ada alaskan untuk HTTP cookie untuk mengikutinya, karena itu akan
menambahkan overhead. Setelah server menetapkan cookie untuk domain tertentu,
semua permintaan HTTP berikutnya untuk domain tersebut harus menyertakan
cookie. Peringatan ini biasanya terlihat di situs dengan jumlah permintaan yang
cukup besar. Beberapa cara untuk memperbaikinya termasuk menggunakan
penyedia CDN yang menghapus cookies atau membuat domain dan subdomain
terpisah untuk melayani cookies.
5. Reduce DNS Lookups
Setiap domain yang Anda cari menghasilkan pencarian DNS pertama kali
sampai di-cache. Jadi misalnya, katakanlah Anda memuat 10 aset dari CDN Anda,
dua dari font web Google, dan 5 dari pengiklan pihak ketiga. Ini akan menghasilkan
tiga pencarian DNS karena masing-masing kelompok tersebut melakukan query
dalam satu domain. Pencarian DNS dapat dengan cepat lepas kendali saat Anda
mulai menambahkan layanan eksternal. Salah satu contoh cara untuk mengurangi
hal ini adalah dengan meng-host font Google di CDN Anda sendiri, yang akan
menyingkirkan pencarian DNS ke Google.
6. Make Favicon Small and Cacheable
Favicon, atau favicon.ico, adalah file ikon gambar kecil yang dikaitkan
dengan situs web Anda dan muncul di kolom alamat browser Anda (atau saat Anda
menyetelnya sebagai bookmark). Meski favicon sangat kecil, Anda harus selalu
mengoptimalkannya.
7. Configure Entity Tags
Header ETag sangat mirip dengan header yang terakhir diubah. Hal ini juga
digunakan untuk memvalidasi cache file. Jika Anda menjalankan Apache 2.4 atau
lebih tinggi, header ETag sudah ditambahkan secara otomatis menggunakan
direktif FileETag. Dan jika Anda menggunakan NGINX, sejak 2016 header ETag
diaktifkan secara default. Jika Anda melihat peringatan ini, sebaiknya hubungi
penyedia hosting Anda.
8. GTmetrix Waterfall Chart
GTMetrix Waterfall Chart menampilkan semua request individual di
halaman Anda. Anda kemudian bisa menganalisa setiap request untuk melihat apa
saja yang menyebabkan kelambatan dan isu performa di situs Anda. Mereka akan
muncul dalam rupa warna garis. Berikut adalah penjelasan untuk setiap warna garis
yang muncul dalam laporan.
9. Blocking
Ketika sebuah browser meloading sebuah website, resource JavaScript dan
CSS biasanya menghalangi halaman web untuk disajikan sampai mereka benar-
benar selesai didownload dan diproses oleh browser. Waktu tunggu ini disebut
dengan istilah blocking oleh GTMetrix Waterfall Chart.
10. DNS Lookup
DNS Lookup bisa dibilang bekerja seperti buku telepon. Mereka adalah
servers yang disebut Domain Name Servers, yang menyimpan semua informasi
tentang website Anda dan IP mana sebaiknya mereka ditujukan. Ketika Anda
pertama kali memasukkan URL website Anda untuk dianalisa oleh GTMetrix,
mereka akan melakukan lookup baru dan karena mereka butuh meminta DNS untuk
mendapatkan informasi alamat IP, ini akan menyebabkan waktu lookup tambahan.

1.3 Apache Jmeter


Aplikasi Apache JMeter adalah perangkat lunak open source, aplikasi Java
murni 100% dirancang untuk memuat perilaku fungsional tes dan mengukur
kinerja. Pada awalnya dirancang untuk pengujian Aplikasi Web tetapi sejak
diperluas untuk menguji fungsi lainnya. Apache JMeter dapat digunakan untuk
menguji kinerja baik pada sumber daya statis dan dinamis (Web services (SOAP /
REST), Web bahasa dinamis - PHP, Java, ASP.NET, File, dll. Hal ini dapat
digunakan untuk mensimulasikan beban berat pada server, sekelompok server,
jaringan atau objek untuk menguji kekuatan atau untuk menganalisa kinerja secara
keseluruhan di bawah jenis beban yang berbeda. Dapat menggunakannya untuk
membuat analisis grafis kinerja atau untuk menguji perilaku / objek server / script
di bawah beban bersamaan berat.
1.3.1 Uji Kinerja (Stress test)
Tes ini akan menunjukkan ekspektasi kinerja terbaik pada konfigurasi
infrastruktur yang diberikan. Hal ini sangat penting pada awal proses pengujian,
menunjukkan apakah diperlukan perubahan sebelum aplikasi diproduksi.

1.3.2 Uji Beban (Load Test)


Uji ini pada dasarnya digunakan untuk menguji sistem under the top yang
telah dikonfigurasikan.
1.3.3 Uji Tekanan (Stress Test)
Tes ini akan melakukan percobaan untuk merusak sistem dengan cara
memberikan kinerja sumber daya secara berlebihan.

Pengembang asli (Original Developer) dari JMeter adalah Stefano


Mazzocchi dari Apache Software Foundation. Dia membuatnya terutama untuk
menguji kinerja Apache JServ (sekarang disebut sebagai proyek Apache Tomcat).
Apache kemudian mendesain ulang JMeter untuk meningkatkannya pada sisi GUI
dan untuk menambah kemampuan pengujian fungsional.

JMeter juga merupakan sebuah aplikasi desktop Java dengan antarmuka


grafis yang menggunakan Swing API grafis. Oleh karena itu dapat berjalan pada
lingkungan / workstation yang menerima mesin virtual Java, misalnya: Windows,
Linux, Mac, dll. Berikut Protokol pengujian yang didukung oleh Jmeter.

1. Web - situs HTTP, HTTPS 'web 1.0' web 2.0 (ajax, fleksibel dan flex-ws-
AMF)
2. Web Services - SOAP / XML-RPC
3. Database melalui driver JDBC
4. Directory - LDAP
5. Pesan layanan Berorientasi melalui JMS
6. Layanan - POP3, IMAP, SMTP
7. Layanan FTP

1.3.4 Fitur Apache Jmeter

Berikut ini merupakan beberapa fitur dari Jmeter yang dapat membatu
pengguna dalam membuat website menjadi semakin baik dalam segi performa.

1. Menjadi perangkat lunak open source, tersedia secara bebas.

2. Memiliki GUI yang mudah digunakan dan intuitif.

3. JMeter dapat melakukan pengujian untuk berbagai jenis server yang berbeda
semisal: Web - HTTP, HTTPS, SOAP, database melalui JDBC, LDAP, JMS,
Mail - POP3, dll
4. Merupakan platform-independen tool. Pada Linux / Unix, JMeter dapat
dipanggil dengan mengklik shell script pada JMeter. Pada Windows, JMeter
dapat dipanggil dengan menjalankan file jmeter.bat.

5. Full swing dan didukung komponen yang ringan (JAR dikompilasi


menggunakan paket javax.swing. *).

6. JMeter dapat menyimpan data perencanaan pengujian dengan format XML.

7. Mendukung multi-threading yang memungkinkan pengujian sampel secara


bersamaan dan pengambilan sampel secara simultan pada fungsi yang berbeda-
beda dengan kelompok thread yang terpisah.

8. Sangat extensible.

9. Dapat digunakan untuk melakukan pengujian otomatis maupun pengujian


fungsional dari aplikasi.
BAB III
METODE PENGUJIAN

Pengujian ini dimulai dengan uji performansi dari dua website yaitu
unud.ac.id dan lazada.co.id yang akan diukur dengan tool berbasis website yang

bernama GTmetrix. Seperti yang sudah dijelaskan pada bab pertama, yang kedua
dengan Apache Jmeter untuk menguji performance front-end dari website.
Pengujian yang kedua adalah stress test menggunakan Apache Jmeter juga. Berikut
merupakan tahapan dalam pengujian ini.

Information Gathering
Tool : GTmetrix

Stress Test
Tool : Apache Jmeter

Documentation

Gambar 1 Tahapan pengujian

Gambar 1 merupakan bagan dari tahapan pengujian yang akan dilakukan


untuk menganalisa kemampuan dari kedua website yang dimaksud sebelumnya.
Information Gathering difokuskan untuk dapat mengumpulkan informasi
secukupnya mengenai sistem target. Proses pengumpulan informasi sendiri terbagi
menjadi dua, yaitu passive information gathering dan active information gathering.
pengumpulan informasi kali ini menggunakan teknik passive information
gathering.

Objek penelitian Performance yang akan dianalisis yaitu tingkat kestabilan


web server (web server availability), kestabilan akses, loading time web saat
diakses dan pengaruh tindakan-tindakan optimasi terhadap peningkatan loading
time web. Pengujian stress website yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan
perangkat lunak dalam memastikan aplikasi web yang diluncurkan dapat
menangani pengakses aplikasi tersebut sejumlah yang ditargetkan.

Proses ini merupakan langkah terakhir dari proses Performance dan Stress
Website. Intisari dari dokumentasi Performance dan Stress Website ialah untuk
mengklasifikasikan vulnerabilities tersebut berada pada posisi mana apakah
tergolong beresiko tinggi, beresiko menengah, ataupun tidak beresiko sama sekali.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahap pengujian dan pembahasan penelitian ini berisi analisa hasil dari
pengujian penelitian yang dibuat, berikut analisa hasil dari pengujian seperti pada
metode diatas.
3.1 Information Gathering
Pencarian informasi yang lebih lengkap pada kedua website yang akan diuji
untuk mengetaui seberapa cepat website tersebut dan masalah apa saja yang harus
dibenahi terlebih dahulu proses pengembangan website menjadi lebih mudah,
aplikasi yang digunakan merupakan GTmetrix yang berbasis website, berikut
merupakan tampilan halaman GTmetrix.

Gambar 2 Tampilan GTmetrix

Gambar 2 merupakan tampilan awal dari website pengujian dan pemenuh


informasi tentang kekurangan pada website yang akan diuji, nantinya akan
ditampilkan kekurangan dari website secara front-end sehingga penguji bias
mengoptimalkan website tersebut dengan cara yang tepat.
Gambar 3 Tampilan Pengujian website unud

Gambar 3 merupakan tampilan utama dari pengujian website unud.ac.id


diperoleh dua score utama yaitu performance scores dan page details. Nilai dari
page speed hasil pengujia tools dari google adalah F(46%) yang berarti dibawah
rata-rata. Dan hasil dari tools yahoo atau yslow score adalah D(65%) yang berarti
kecepatan akses website masih dalam cakupan rata-rata. Page details menujukan
detail dari website tersebut seberapa cepat waktu yang dibutuhkan untuk
menampilkan seluruh halaman pada web tersebut yaitu 5.6s, dan total page size dari
home page unud adalah 3.14MB semakin kecil size dari suatu page size
mempengaruhi kecepatan loading page yang diterima.

Gambar 4 Tampilan Pengujian website unud rinci


Gambar 4 merupakan tampilan lengkap dari hasil pengujian website
unud.ac.id yang didapatkan dengan melihat bar berwarna merah, kuning dan, hijau
menandakan fitur apa saja yang harus dikembangkan dalam website tersebut supaya
meningkatkan performance web. Merah menandakan fitur dibawah rata-rata, kung
rata-rata, dan hijau diatas rata-rata.

Gambar 5 Tampilan Pengujian website lazada

Gambar 5 merupakan tampilan utama dari pengujian website lazada.co.id


diperoleh dua score utama yaitu performance scores dan page details. Nilai dari
page speed hasil pengujia tools dari google adalah D(69%) yang berarti masih
mencakup rata-rata, dan lebih besar dari score unud.ac.id. Hasil dari tools yahoo
atau yslow score adalah D(64%) yang berarti kecepatan akses website masih dalam
cakupan rata-rata dan score lebih kecil dari web unud.ac.id. Page details menujukan
detail dari website tersebut seberapa cepat waktu yang dibutuhkan untuk
menampilkan seluruh halaman pada web tersebut yaitu 5.4s lebih cepat dari website
unud.ac.id, dan total page size dari home page imissu.unud.ac.id sangatlah kecil
yaitu 1.75 MB.
Gambar 6 Tampilan Pengujian website lazada rinci

Gambar 6 merupakan tampilan lengkap dari hasil pengujian website


lazada.co.id yang didapatkan dengan melihat bar berwarna merah, kuning dan,
hijau menandakan fitur apa saja yang harus dikembangkan dalam website tersebut
supaya meningkatkan performance web. Merah menandakan fitur dibawah rata-
rata, kung rata-rata, dan hijau diatas rata-rata.

Table 1. Perbandingan Information Gathering


PAGE SPEED YSLOW PAGE TOTAL REQUEST
WEBSITE SCORE SCORE LOAD PAGE SIZE
TIME

unud.ac.id F(46%) D(65%) 5.6s 3.14MB 84

lazada.co.id D(69%) D(64%) 5.4s 1.75MB 69


Dari tabel 1 diketahui perbandingan Page load time, semakin kecil waktu
download nya, makin bagus website anda.Total page size, makin kecil ukuran
halaman awal website, makin bagus. Jumlah request, semakin rendah jumlah
request nya, maka semakin cepat website.

3.2 Stress Test


Pengujian Stress web server ini menggunakan tool Apache Jmeter yang
akan menampilkan jumblah user yang aktif dalam website tersebut, presentase
error, rata-rata waktu loading klik dalam (ms), dan waktu throughput. Berikut
merupakan pembahsan dari Stress test ini.

Gambar 7 Tampilan awal dan setting Apache Jmeter

Gambar 7 merupakan tampilan awal dari tool Apache Jmeter dan setting
yang dilakukan untuk pengujian stress test pada website unud.ac.id dan lazada.co.id
terlihat jelas pada panel sebelah kiri merupakan susunan ddari setting aplikasi ini
untuk menentukan berapa jumblah user yang akan digunakan, jumblah request yang
diinginkan dan beberapa jenis setting lainnya.

Tabel 2. Hasil Stress test website unud.ac.id


Website User Error (%) Avg. Click Throughtput
Times (ms)
10 0 103 10
50 0 123 10
www.unud.ac.id 200 0 114 10
500 0.22 133 10
1000 0 123 10

Tabel 2 menunjukan hasil dari stress test yang dilakukan dengan sampel
beberapa user dan di dapatkan error pada kisaran user 500 namun pada saat
mencapat user 1000 karena computer penulis tidak kuat menampung jadi sampel
tidak terlalu akurat.

Tabel 3. Hasil Stress test website unud.ac.id page bergambar


Website User Error (%) Avg. Click Throughtput
Times (ms)
10 0 110 6.6
50 0 113 10
www.unud.ac.id/
200 0 104 10
in/headline2629
500 0.46 146 10
1000 0.43 671 10

Tabel 3 menunjukan hasil dari stress test yang dilakukan dengan web yang
sama namun lebih menunjukan pada page yang memiliki gambar yang besar.
sampel beberapa user dan di dapatkan error pada pengujian user 500 sampai 1000
user, menandakan bahwa web tersebut memiliki beberapa error saat sudah
mencapai user ke 500.

Tabel 4. Hasil Stress test website lazada home page


Website User Error (%) Avg. Click Throughtput
Times (ms) (s)
10 0 3874 1.9
www.lazada.co.id 50 0 21535 1.9
200 5.73 62688 2.0
500 43.72 252775 49.8
1000 35.33 150010 2.1

Tabel 4 menunjukan hasil dari stress test yang dilakukan dengan web
lazada.co.id tepatnya pada home page, kita tau bahwa web ecommerce memiliki

pengunjung yang sangat sibuk dan terlihat jelas disni. sampel beberapa user dan di
dapatkan error pada pengujian user 200 sampai 1000 user, jelas karna web ini
memiliki lebih banyak pengunjung yang aktif mengunjungi web tersebut walaupun
tidak pada jam kerja optimal.

Tabel 5. Hasil Stress Test lazada home page dan login page
Website User Error Avg. Click Throughtput
(%) Times (ms) (s)
10 0 4560 1.9
50 0 8234 3.5
member.lazada.co.id/user/login 200 4.42 61696 2.1
500 0.65 40681 2.1
1000 1.76 67446 2.9

Tabel 5 menunjukan hasil dari stress test yang dilakukan dengan web
lazada.co.id tepatnya pada login page, kita tau bahwa web ecommerce memiliki
pengunjung yang sangat sibuk dan terlihat jelas disni. sampel beberapa user dan di
dapatkan error pada pengujian user 200 sampai 1000 user, jelas karna web ini
memiliki lebih banyak pengunjung yang aktif mengunjungi web tersebut walaupun
tidak pada jam kerja optimal.
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Hasil uji coba stress test menggunalan tool Apache Jmeter dan, GTmetrix
pada dua website yang berbeda yaitu unud.ac.id dan lazada.co.id mendapat sebuah
kesimpulan yang berujung pada lebih baiknya tingkat ketahanan website unud.ac.id
dari data yang telah di dapat pada bab 3.
Unud.ac.id memiliki ketahanan pada tingkat 500 user aktif sekaligus dengan
tingkat klik per user 10 kali didapatkan error yang cukup sedikit dibandingkan
dengan website e-commerce lazada.co.id yang langsung memiliki presentase error
tertinggi 43.72% dan terdeteksi error pada jumblah user 200 sekaligus. Tidak
dipungkiri jika website lazada memang sangat padat pengunjung walaupun pada
jam tidak sibuk yang mengakibatkan banyak terjadi error saat user mencapai titik
tertentu.
Pada bagian front-end atau interface web, kali ini laada lebih unggul jauh
daripada website unud dari beberapa factor seperti yang dijelaskan pada bab 3, ini
membuktikan bahwa website lazada sudah ditata dengan baik pada bagian front-
end meskipun memiliki banyak sekali gambar, javascript, dan iklan melayang pada
web home page tetapi scorenya jauh berbeda dengan website unud dan size dari
kedua home page tersebut berbeda jauh, ini yang membuat kecepatan loading kedua
website terlihat jelas.

4.2 Saran
Jmeter berbasis thread saat mencoba melakukan simulasi dengan user
banyak, laptop yang digunakan akan lambat dengan jmeternya. Semua aplikasi ikut
lambat karena CPU dan RAM dipakai tinggi dengan jmeter. Oleh karena itu banyak
tool yang dapat digunakan seperti gatling, WAPT, Burpsuite. Kecepatan internet
mempengaruhi hasil test, jadi diharapkan agar kecepatan internet stabil.
Banyak terjadi kegagalan pada laptop penulis saat testing dengan 10 kali
request per 500 user keatas yang membuat data pada user tersebut tidak begitu
akurat.
DAFTAR PUSTAKA

1. GTmetrix. (2018). https://gtmetrix.com/ (Online).


2. Jmeter. 2017. http://jmeter.apache.org/ (Online).
3. DZone 2018 https://dzone.com/articles/how-to-run-a-stress-test-in-jmeter/
(Online)
4. Software Testing Class 2018 https://www.softwaretestingclass.com/learn-
jmeter-performance-testing-jmeter-tutorial-series/ (Online)
5. Guru99 2016 https://www.guru99.com/jmeter-performance-testing.html
(Online)
6. Digital Ocean 2017 https://www.digitalocean.com/community/tutorials/how-
to-use-apache-jmeter-to-perform-load-testing-on-a-web-server (Online)