Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN

INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT


(ICRA) HAIs

RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI


SAMBOJA
2015
PEMERINTAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA
RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI
Jl. Balikpapan – Handil II, Samboja  (0542) 7215367, Fax (0542) 7215337

KEPUTUSAN DIREKTUR
RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI
Nomor : 445/07/PPI/PAN/RS ABADI-1/SK/II/2015

TENTANG
PANDUAN ICRA HAIS
RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan RSUD Aji


Batara Agung Dewa Sakti, maka diperlukan penyelenggaraan
pelayanan pencegahan pengendalian infeksi yang aman dan
berkualitas;
b. Bahwa agar penyelenggaraan pelayanan pencegahan pengendalian
infeksi di RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti dapat terlaksana
dengan baik, perlu adanya Panduan ICRA HAIS RSUD Aji Batara
Agung Dewa Sakti sebagai landasan bagi penyelenggaraan
pencegahan pengendalian iinfeksi di RSUD Aji Batara Agung Dewa
Sakti;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a
dan b, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direktur RSUD Aji Batara
Agung Dewa Sakti.

Mengingat : 1. Undang – Undang No. 36 tahun 2002 tentang Kesehatan;


2. Undang-Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit;
4. Undang-Undang No. 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan
5. Undang-undang RI nomor 38 tahun 2014 Tentang Keperawatan;
6. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1691/MENKES/VIII/2011
tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit;
7. Peraturan Menteri kesehatan Nomor 012 tahun 2012 Tentang
Akreditasi Rumah Sakit;
8. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1204/MENKES/SK/X/2004
Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit;
9. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 382/MENKES/2007 tentang
Pedoman PPI di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Lainnya;
10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 129
/MENKES/SK/II/2008 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit;
11. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
1087/MENKES/SK/VIII/2010 Tentang Standar Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Rumah Sakit;
12. Peraturan Daerah Kabupaten Kutai Kartanegara Nomor 9 Tahun
2014 tentang perubahan atas peraturan daerah nomor 7 tahun 2008
tentang pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja RSUD
Aji Batara Agung Dewa Sakti Kabupaten Kutai Kartanegara;
13. SK Bupati No.821.2/III.I-5731/BKD/2010 tentang pengangkatan drg.
Musafirah Akil Ali, MARS sebagai Direktur RSUD Aji Batara Agung
Dewa Sakti.

MEMUTUSKAN

Menetapkan :

KESATU : Memberlakukan Keputusan Direktur RSUD Aji Batara Agung Dewa


Sakti tentang Panduan ICRA HAIS;
KEDUA : Panduan ICRA HAIS RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti
sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini;
KETIGA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Panduan ICRA HAIS
RSUD Aji Batara Agung Dewa Sakti dilaksanakan oleh Kepala Komite
PPI;
KEEMPAT : Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan
apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan
diadakan perubahan sebagaimana mestinya;
KELIMA : Segala biaya yang timbul dari penetapan Surat Keputusan ini
dibebankan pada anggaran APBD/BLUD RSUD Aji Batara Agung
Dewa Sakti.

Ditetapkan di : Samboja

Pada Tanggal : 13 Februari 2015

Direktur

RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI

drg. Musafirah Akil Ali. MARS


LAMPIRAN : KEPUTUSAN DIREKTUR RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA
SAKTI NOMOR : 445/07/PPI/PAN/RS ABADI-1/SK/II/2015
TENTANG PANDUAN INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT
(ICRA) HAIs.

PANDUAN INFECTION CONTROL RISK ASSESMENT


(ICRA) HAIs
RSUD AJI BATARA AGUNG DEWA SAKTI

BAB I
PENGERTIAN

Infection Control Risk Assessment ( ICRA ) dibagi menjadi 2, yaitu ICRA untuk
kontruksi bangunan dan ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit.
ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit merupakan bagian dari proses
perencanaan PPI, sebagai langkah awal untuk mengembangkan rencana dengan baik.
Perencanaan yang dilakukan secara bersama, merupakan bentuk dasar dari
program.Membantu melakukan faokus surveilance dan kegiatan program lainnya dan
merupakan ketentuan persyaratan yang harus dipenuhi.
Infection Control Assegment melakukan identifikasi risiko untuk infeksi yang
diperoleh dan di transmisikan berdasarkan :
1. Lokasi geografi, community dan populasi yang dilayani
2. Asuhan, pengobatan dan pelayanan yang disediakan
3. Analisis dari kegiatan surveilance dan data infeksi lainnya.
4. Identifikasi risiko setiap atau dan bila terjadi perubahan yang significant.
Kegiatan tersebut merupakan multidisiplin, proses kolaborasi yg mengevaluasi
jenis/macam kegiatan kontruksi dan kelompok risiko untuk klasifikasi penetapan tingkat.

1
BAB II
RUANG LINGKUP

Ruang lingkup ICRA untuk pencegahan infeksi di rumah sakit adalah seluruh bagian
ruang keperawatan di rumah sakit.
Kelompok resikonya yaitu, antibiotic – resistant organisms, kegagalan dari
kegiatan/tindakan pencegahan, kegiatan isolasi, kebijakan dan prosedur, kesiapan, HAIs,
environment, serta kesehatan karyawan.
Risk Assessment didapatkan dengan masukan interdisciplinary :
1. Infection prevention personel (Komite/Panitia/Tim PPIRS, IPCN)
2. Staf medis
3. Perawat
4. Pegawai rumah sakit
5. Prioritas dan dokumen risiko.

2
BAB III
TATA LAKSANA

ICRA untuk pencegahan Infeksi di Rumah Sakit


1. Risk assessment proces
a. Persiapan dan perencanaan
1) Formulir
 Formulir evaluasi pengorganisasian PPI
 Formulir persiapan risk assessmen.
b. Standard
c. Laporan
d. Pengetahuan tentang Issue yang terjadi saat ini.
2. Rekruitment Tim
a. Undangan
b. Minta informasi dan usulan-2 peningkatan
c. Masalah PPI apa yang paling penting
d. Penyebab apa yang sering ditemukan pada waktu visit, admission, pelaksanaan
prosedur, dll.
3. Risk Assessment Team
a. Komite/Panitia/Tim PPIRS & IPCN
b. Staf medis
c. Laboratorium
d. Farmasi
e. Nursing
f. Surgery
g. Rawat Jalan
h. Sanitasi RS
i. Engineering
j. CSSD
k. Komite Mutu RS.
4. Risk Assessment Meeting
a. Komitmen peserta rapat
b. Waktu diskusi banyak masukan dari peserta
c. Prioritas risiko
d. Tentukan Rencana PPI

3
5. Evaluasi Organisasi
a. Diskripsikan faktor-2
b. Karateristik yang meningkatkan risiko infeksi
c. Karateristik yang menurunkan risiko infeksi
d. Masukan dari rapat, form isian yang sudah dilengkapi
e. Temuan dari risk asesmen.
f. Faktor-faktor yang termasuk :
1) Geografi dan environmental
2) Karateristik populasi
3) Area endemik infeksi
4) Area lainnya yang terkait infeksi
5) Karateristik asuhan medis
6) Pelayanan yang disediakan.
6. Geografi dan populasi risk assessment
Karateristik yang Karateristik yang
Faktor
Meningkatkan Risiko Meningkatkan Risiko
Geografi & lingkungan RS
Karateristik populasi
Area lainnya – terkait risiko
Tabel 3.5 : Tabel Geografi dan populasi risk assessment
7. Risk Assessment
Kelompok kerja/Tim mulai bekerja melakukan risk assessmen  Melakukan evaluasi
potensial risiko utk infeksi/kontaminasi/ terpapar di setiap 3 kategori dari probability,
impact dan current systems.
POTENSIAL
POTENSIAL
RISK/ PROBABILITY PROBABILITY SCORE
RISK/PROBLEM
PROBLEM
4 3 2 1 0 5 4 3 2 1 5 4 3 2 1

Tabel 3.6 : Tabel Risk Assessment

4
Menetapkan tiga nilai untuk setiap risiko
a. Probability
TINGKAT DESKRIPSI
RISIKO
1 Sangat jarang/ rare (> 5 tahun/kali)
2 Jarang/unlikey (> 2 – 5 tahun/kali)
3 Mungkin/ Posible (1 -2 tahun/kali)
4 Sering/Likely (beberapa kali/tahun)
5 Sangat sering/ almost certain (tiap minggu/ bulan)
Tabel 3.7 : Tabel Probability

b. Risk/impact
Impact considerations :
1) Mengancam jiwa dan atau kesehatan
2) Disruption of services
3) Kehilangan fungsi
4) Kehilangan kepercayaan komunikasi
5) Dampak keuangan
6) Legal issues
7) Dampak regulatory
8) Standard/persyarat.

Risk/Impact
5 = Catastrophic Loss
(Life/Limb/function/financial)
4 = Serious Loss (Function/Financial/Legal)
3 = Prolonged Length of Stay
2 = Moderate Clinical/Financial
1 = Minimal Clinical Financial.

5
Tingkat
Deskripsi Dampak
Resiko
1 Tidak significant Tidak ada cedera
Minor • Cedera ringan , misal luka lecet
2
• Dapat diatasi dengan P3K
Moderat • Cedera sedang, misal : luka robek
• Berkurangnya fungsi
motorik/sensorik/psikologis atau
3 intelektual (reversibel. Tidak
berhubungan dengan penyakit
• Setiap kasus yg meperpanjang
perawatan
Mayor • Cedera luas/berat, misal : cacat, lumpuh
• Kehilangan fungsi motorik/sensorik/
4
psikologis atau intelektual (ireversibel),
tidak berhubungan dengan penyakit
Katatropik Kematian yang tdk berhubungan
5
dengan perjalanan penyakit
Tabel 3.8 : Tabel Risk / Impact

c. Current system/Preparedness :
1) Kebijakan dan prosedur saat ini
2) Implementasi dari rencana
3) Status training
4) Indikator outcome atau proses
5) Tersedianya backup sistem
6) Community/public health resources.
Current system
5 = None
4 = Poor
3 = Fair
2 = Good
1 = Solid

6
d. Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity

Tingkat
Deskripsi Dampak
Resiko

1 Tdk Tidak ada cedera


significant

2 Minor • Cedera ringan , mis luka lecet


• Dapat diatasi dengan P3K

3 Moderat • Cedera sedang, mis : luka robek


• Berkurangnya fungsi motorik/sensorik/psikologis atau
intelektual (reversibel. Tdk berhubungan dengan
penyakit
• Setiap kasus yang meperpanjang perawatan

4 Mayor • Cedera luas/berat, mis : cacat, lumpuh


• Kehilangan fungsi motorik/sensorik/ psikologis atau
intelektual (ireversibel), tidak berhubungan dengan
penyakit

5 Katatropik Kematian yang tidak berhubungan dengan


perjalanan penyakit

Tabel 3.9 : Tabel Penilaian Dampak Klinis/Konsekuensi/Severity


5 = None
4 = Poor
3 = Fair
2 = Good
1 = Solid

7
BAB IV
DOKUMENTASI

Pendokumentasian ICRA Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit


1. Formulir ICRA Pencegahan Infeksi di Rumah Sakit diisi oleh tim PPI RS
2. Selanjutnya formulir diajukan kepada direktur untuk mendapatkan persetujuan
3. Setelah mendapat persetujuan dari direktur, tim PPI RS mengadakan rapat ulang untuk
menindaklanjuti.

8
DAFTAR PUSTAKA

Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Lainnya, Kesiapan menghadapi Emerging Infectious Disease, (Perhimpunan
Pengendalian Infeksi Indonesia, Cetakan Ketiga Tahun 2011).