Anda di halaman 1dari 19

Materi Seminar Keperawatan

Materi Seminar Keperawatan


Pengembangan Intervensi Keperawatan
Berbasis Evidence Based Nursing Practice

Penulis:
Ns. Nurul Wahidatuz Z., S.Kep Ns. Miftahul Jannah, S.Kep
Ns. Muhamad Ibnu Hasan, S.Kep Ns. Sri Temu, S.Kep
Ns. Yane Cristiana Ua Sanan S.Kep Ns. Wardah Fauziah, S.Kep
Ns. Mika Agustiana S.Kep Ns. Anna Mariance Taeteti, S.Kep
Ns. Dadi Hamdani, S.Kep Ns. Fida’ Husain, S.Kep
Ns. Andi Nurhikma Mahdi, S. Kep Ns. Akub Selvia, S.Kep
Ns. Fefi Eka Wahuningsih, S.Kep Ns. Erlangga Galih Z.N., S.Kep

Supervisor/ Editor in Chief:


Suhartini, S.Kp., MNS., PhD
Chandra Bagus R., S.Kep., M.Kep., Sp. KMB
Ns. Niken Safitri DK., S.Kep., M.Si. Med
Ns. Henni Kusuma, S.Kep., M.Kep.Sp.KMB
Ns. Sarinti, S.Kep., M. Kep
Ns. Evi Windasuara, S.Kep., M.Kep
Ns. Nugroho Lazuardi, S.Kep., M.Kep

Desain Sampul dan Layout


Ns. Fida’ Husain, S.Kep

DPK PPNI RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah


bekerjasama dengan Mahasiswa Magister Keperawatan
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Angkatan 2017
Materi Seminar Keperawatan

Relaksasi Benson Untuk Menurunkan Kecemasan padaPasien Kanker


Payudara yang Menjalani Kemoterapi

Ns. Miftahul Jannah, S.Kep., Ns. Chandra Bagus R., S.Kep., M.Kep., Sp. KMB,
Ns. Evi Windasuara, S.Kep., M.Kep

A. Gambaran Analisis situasi


1. Pendahuluan
Pasien yang menderita kanker payudara perlu melakukan
terapi pengobatan dalam upaya penyembuhannya. Salah satu
pengobatan yang dianjurkan yaitu kemoterapi. Kemoterapi adalah
terapi anti kanker untuk membunuh sel-sel tumor dengan menganggu
fungsi dan reproduksi sel yang bertujuan untuk penyembuhan,
pengontrolan, dan paliatif1.
Kemoterapi bisa menimbulkan dampak fisiologis maupun
psikologis. Dampak fisiologis yang bisa terjadi yaitu rasa lelah, lesu,
kerontokan rambut, gangguan usus dan rongga mulut seperti mual
muntah, mukositis rongga mulut, gangguan sumsum tulang belakang,
kemandulan, gangguan menstruasi & menopause serta gangguan pada
organ lain2. Selain menimbulkan dampak fisiologis, kemoterapi juga
bisa menimbulkan dampak negatif pada psikologis diantaranya
gangguan harga diri, seksualitas, dan kesejahteraan pasien seperti
kecemasan3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Oetami, dkk
(2014), dampak kanker payudara dan pengobatannya terhadap aspek
psikologis menunjukkan bahwa pasien kanker payudara
mengekspresikan ketidakberdayaan, kecemasan, rasa malu, harga diri
menurun, stres, dan amarah. Salah satu pertimbangan keperawatan
yang harus diperhatikan pada pasien yang menjalani kemoterapi
adalah kecemasan3.
Kecemasan adalah perasaan tidak nyaman atau ketakutan yang
disertai oleh respon autonom (penyebab sering tidak spesifik atau
tidak diketahui pada setiap individu) perasaan cemas tersebut timbul
akibat dari antisipasi diri terhadap bahaya (Nanda, 2012).

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 2
Materi Seminar Keperawatan

Sekitar 42% wanita yang didiagnosa menderita kanker


payudara menunjukkan gejala kecemasan sedang dan 30% lainnya
menunjukkan gejala kecemasan berat (Hartati, 2008).

Perasaan cemas yang dirasakan oleh pasien kanker ketika


menjalani kemoterapi dapat berdampak buruk pada proses pengobatan
serta rehabilitasi secara medis maupun psikologis, seperti yang
dikemukakan Bintang (2012) dalam penelitiannya bahwa kecemasan
yang terjadi pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi bisa
mengakibatkan pasien menghentikan kemoterapinya. Reaksi
kecemasan pada seorang pasien kanker sering muncul tidak hanya saat
pasien didiagnosa terkena kanker, tetapi juga saat pasien menjalani
kemoterapi. Kecemasan ini lazim terjadi karena mengenai masalah
finansial, kecemasan saat timbul gejala-gejala yang dirasakan,
kekhawatiran mengenai kesembuhan, dan kekhawatiran tidak dapat
menjalankan fungsi sebagai perempuan secara maksimal (Tarwoto &
Wartonah, 2004).
Kecemasan meningkat ketika individu membayangkan
terjadinya perubahan dalam hidupnya di masa depan akibat dari
penyakit yang di derita ataupun akibat dari proses penanganan suatu
penyakit yang dalam hal ini tindakan kemoterapi. Rasa cemas juga
dirasakan oleh penderita terhadap suatu tindakan medis seperti:
kemoterapi, radiasi, pembedahan dan terapi hormon. Terutama dalam
hal menghadapi proses tindakan kemoterapi yang harus dijalani pasien
kanker, karena tidak hanya berlangsung dalam waktu singkat tetapi
juga dilakukan secara berulang (Lubis, 2009). Terapi farmakologi
dengan penanganan berupa pembedahan dan pengobatan ini dapat
menjadi beban khusus dan ancaman tersendiri. Reaksi seperti tidak
berdaya, putus asa, cemas, depresif atau berontak dapat mendominasi
sehingga efek gejala tambahan dan penyulit semakin mengganggu
(Jong, 2004).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi cemas salah
satunya dalah penggunaan psikofarmaka berupa obat-obatan anti-
ansietas. Penggunaan obatobatan anti ansietas dapat menyebabkan
depresi susunan syaraf pusat secara menyeluruh (Towsend, 2008).
Mavissakalian & Michelson (1986, dalam Videbeck, 2008)

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 3
Materi Seminar Keperawatan

mengemukakan bahwa psikoterapi efektif dalam mengatasi gangguan


ansietas, terutama jika dikombinasikan dengan farmakoterapi.
Berdasarkan analisis situasi yang dilakukan di ruang onkologi
RSUD Tugurejo Semarang, intervensi untuk mengurangi nyeri dan
kecemasan pada pasien Ca mammae yang biasa dilakukan di ruang
perawatan antara lain memberikan edukasi dan teknik relaksasi nafas
dalam. Namun efikasi klinis perawatan rutin pada kecemasan setelah
sebelum dan sesudah menjalani kemoterapi tidak memuaskan dengan
masih adanya pasien merasakan kecemasan. Hal ini mungkin
disebabkan oleh manajemen kecemasan yang belum sistematis dan
maksimal.

2. Tujuan
Tujuan dari Relaksasi Benson adalah untuk menurunkan kecemasan
pada pasien kanker payudara yang menjalani kemoterapi.

B. Overview Evidance based Nursing


Diagnosis kanker payudara dapat menimbulkan berbagai macam
perasaan negatif yang dapat menjadi sangat berat ketika sudah ditentukan
stadium dan pengobatan yang tepat untuk kankernya. Perasaan cemas akan
timbul karena dampak yang terjadi dari pengobatan seperti anemia,
malaise, mual, muntah, lesu, lemas, berat badan yang menurun,
kerontokan rambut dan disfungsi seksual yang dapat mengancam harga
diri dan perubahan citra tubuh. Salah satu terapi yang dapat menurunkan
kecemasan adalah relaksasi Benson (Djauzi, dalam Green & Setyowati,
2004).
Tehnik Relaksasi Benson merupakan tekhnik relaksasi yang
digabung dengan keyakinan yang dianut oleh pasien, relaksasi benson
akan menghambat aktifitas saraf simpatis yang dapat menurunkan
konsumsi oksigen oleh tubuh dan selanjutnya otot-otot tubuh menjadi
relaks sehingga menimbulkan perasaan tenang dan nyaman (Benson &
Proctor, 2000). Relaksasi benson dapat berguna untuk menghilangkan
nyeri, insomnia atau kecemasan (Green &Setyawati, 2005).

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 4
Materi Seminar Keperawatan

Tujuan Terapi Benson Relaksasi bertujuan untuk mengatasi atau


mengurangi kecemasan, menurunkan ketegangan otot dan tulang, dapat
mengatasi tekanan darah tinggi, serta dapat mengurangi nyeri. Manfaat
dari relaksasi benson terbukti memodulasi stres terkait kondisi seperti
marah, cemas, disritmia jantung, nyeri kronik, depresi, hipertensi dan
insomnia serta menimbulkan perasaan menjadi lebih tenang (Benson &
Proctor, 2000).
Tehnik Relaksasi Benson merupakan tekhnik relaksasi yang
digabung dengan keyakinan yang dianut oleh pasien, relaksasi benson
akan menghambat aktifitas saraf simpatis yang dapat menurunkan
konsumsi oksigen oleh tubuh dan selanjutnya otot-otot tubuh menjadi
relaks sehingga menimbulkan perasaan tenang dan nyaman1. Relaksasi
benson dapat berguna untuk menghilangkan nyeri, insomnia atau
kecemasan2.
Penelitian Anisa (2015) yang dilakukan kepada 30 responden
berhasil membuktikan bahwa teknik relaksasi Benson mampu menurunkan
tingkat kecemasan pasien Ca Mammae. Penelitian yang dilakukan oleh
(Riska, 2015) dimana relaksasi dengan metode Benson dilakukan pada 30
pasien dengan kanker serviks berhasil menurunkan tingkat kecemasan dan
mempengaruhi pada kualitas hidup. Penelitian lain yang dilakukan oleh
Mardiani (2014) pada 42 pasien pre operasi bedah dilakukan relaksasi
Benson lebih efektif menurunkan angka kecemasan daripada dengan
menggunakan nafas dalam. Kecemasan merupakan salah satu bagian dari
aspek psikologis pada kualitas hidup. Selain kecemasan pada penelitian ini
juga menunjukkan adanya peningkatan rasa percaya diri pasien
berkurangnya ketakutan dalam menjalani proses kemoterapi selanjutnya.
Tehnik Relaksasi Benson merupakan tekhnik relaksasi yang
digabung dengan keyakinan yang dianut oleh pasien, relaksasi benson
akan menghambat aktifitas saraf simpatis yang dapat menurunkan
konsumsi oksigen oleh tubuh dan selanjutnya otot-otot tubuh menjadi
relaks sehingga menimbulkan perasaan tenang dan nyaman1. Relaksasi
benson dapat berguna untuk menghilangkan nyeri, insomnia atau
kecemasan2.
Fokus dari relaksasi ini pada ungkapan tertentu yang diucapkan
berulang-ulang dengan menggunakan ritme yang teratur disertai sikap
yang pasrah.

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 5
Materi Seminar Keperawatan

Ungkapan yang digunakan dapat berupa nama-nama Tuhan atau kata-kata


yang memiliki makna menenangkan bagi pasien itu sendiri. Empat elemen
dasar agar teknik relaksasi benson berhasil dalam penerapannya adalah
lingkungan yang tenang, secara sadar pasien dapat mengendurkan otot-
ototnya, pasien dapat memusatkan diri selama 10-15menit pada ungkapan
yang telah dipilih, dan pasien bersikap pasif terhadap pikiran-pikiran yang
mengganggu3
Menurut Hawari, (2009 : 138-139) untuk mengetahui sejauh
manaderajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat atau berat
sekali, yaitu menggunakan alat ukur yang dikenal dengan nama Hamilton
Rating Scale for Anxiety (HRS-A). Alat ukur ini terdiri dari 14 kelompok
gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala
yang lebih spesifik.
Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score)
antara 0 – 4,yang artinya adalah :
Nilai 0 =tidak ada gejala15
1 =gejala ringan
2 =gejala sedang
3 =gejala berat
4 =gejala berat sekali
Masing-masing nilai angka (score) dari ke 14 kelompok gejala
tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui
derajat kecemasan seseorang, yaitu :
Total Nilai (score) :
Kurang dari 14 =tidak ada kecemasan
14 –20 =kecemasan ringan
21–27 =kecemasan sedang
28 –41 =kecemasan berat
42 –56 =kecemasan berat sekali

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 6
Materi Seminar Keperawatan

C. Standar Operasional Prosedur (SOP)

No Perawat Pasien
1 Mengucapkan salam Pasien menjawab salam
2 Perawat menjelaskan maksud, Pasien menyetujui prosedur
tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
yang akan dilakukan
3 Perawat menganjurkan pasien Pasien berbaring dengan
duduk atau berbaring dengan santai
santai dan senyaman mungkin
4 Perawat menganjurkan pasien Pasien menutup mata
menutup mata dan
memfokuskan pikiran
5 Perawat menganjurkan pasien Pasien melakukannya dengan
untuk merelaksasikan tubuhnya rileks
untuk mengurangi ketegangan
otot, mulai dari kaki sampai ke
wajah.
6 Perawat menganjurkan pasien Pasien melakukan bersamaan
untuk bernafas secara rileks dengan perawat dengan
dari hidung dan mengeluarkan nenarik nafas dalam dan
napas perlahan melalui mulut perlahan mengeluarkan

7 Perawat menganjurkan pasien Pasien mengucapkan


untuk memilih kalimat spiritual “Astaghfirullah,
yang akan digunakan atau Laailaahailallah
menggunakan kalimat spiritual
yang sudah ditentukan oleh
perawat sesuai agama dan
keyakinannya.
8 Perawat menganjurkan pasien Pasien mengucapkannya
mulai mengucapkan kalimat secara berulang
spiritual secara berulang- ulang
dan khidmat

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 7
Materi Seminar Keperawatan

No Perawat Pasien
9 Perawat mengakhiri prosedur Pasien membuka matanya
ini dan disarankan tidak secara perlahan-lahan
langsung, anjurkan pasien
membuka mata perlahan dan
melakukan nafas dalam secara
normal.

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 8
Materi Seminar Keperawatan

D. Hasil Penerapan

No Right Cues Right patients Right Time Righ Action Right reason
1. 1 tahun lalu Pasien dengan CA Intervensi relaksasi Dilakukan Dengan intervensi
Ny. Pasien mengeluh Mamae yang akan Benson dilakukan intervensi relaksasi Relaksasi benson
terdapat benjolan menjalani jam 09.00 WIB benson oleh sebelum dan
S pada payudara kemoterapi pertama sebelum dilakukan perawat kepada sesuadah dilakukan
dan bila ditekan kemoterapi saat pasien kemoterapi dapat
terasa sakit. pasien dalam menurunkan
Selain itu pasien keadaan cemas. kecemasan pasien.
juga mengatakan
keluar cairan dari
puting susunya
dan warna
kemerahan pada
kulit
payudaranya,
maka pasien
dibawa ke rumah
sakit dan
didiagnosa
menderita
penyakit Ca
Mammae. Pasien
perlu
Materi Seminar Keperawatan

mendapatkan
perawatan dari
rumah sakit lebih
lanjut kemudian
dilakukan operasi
pengangakatan
payudara, setelah
4 bulan kemudian
pasien di lakukan
kemoterapi di
ruang Dahlia 1,
pasien datang
dengan wajah
cemas, tegang,
pucat, dan TD
160/80,

2. 4 bulan yang lalu Pasien dengan CA Intervensi relaksasi Dilakukan Dengan intervensi
Ny. klien baru Mamae yang akan Benson dilakukan intervensi relaksasi Relaksasi benson
menyadari adanya menjalani jam 10.00 WIB benson oleh sebelum dan
M benjolan di kemoterapi pertama sebelum dilakukan perawat kepada sesuadah dilakukan
payudara kanan kemoterapi saat pasien kemoterapi dapat
dan payudara kiri pasien dalam menurunkan
dengan ukuran ± keadaan cemas. kecemasan pasien.
2-3 cm, letaknya

10
Materi Seminar Keperawatan

diatas sebelah
kanan puting
susu. Klien tidak
memeriksakan ke
dokter ataupun
klinik kesehatan
setempat karena
klien tidak
merasakan
keluhan apapun.
Karena merasa
benjolan yang ada
di payudara kanan
dan kiri semakin
membesar
(ukuran ± 5 cm),
terutama benjolan
yang ada di
sebelah kanan.dan
klien juga
merasakan nyeri
yang hilang
timbul. Kemudian
pasien
memeriksakan ke

11
Materi Seminar Keperawatan

rumah sakit dan


didiagnosa CA
Mamae,
selanjutnya
dilakukan
tindakan operasi
pengangkatan
tumor payudara,
dan dianjurkan
untuk melakukan
kemoterapi.
Pasien
mengatakan
bahwa ia lupa
jarak antara post
operasi dengan
waktu dilakukan
kemoterapi
pertama. Pasien
tampak cemas,
pasien
mengatakan takut
akan menjalani
kemoterapi,
gelisah, dan tidak

12
Materi Seminar Keperawatan

bisa tidur.

TD:
169/90mmHg
3. Pasien pertama Pasien dengan CA Intervensi relaksasi Dilakukan Dengan intervensi
Ny. kali menjalani Mamae yang akan Benson dilakukan intervensi relaksasi Relaksasi benson
kemoterapi. menjalani jam 09.30 WIB benson oleh sebelum dan
N Pasien takut dan kemoterapi pertama sebelum dilakukan perawat kepada sesuadah dilakukan
cemas tentang apa kemoterapi saat pasien kemoterapi dapat
yang akan pasien dalam menurunkan
dilakukan saat keadaan cemas. kecemasan pasien.
kemoterapi.
Karena dia belum
pernah
mengetahui
tentang
bagaimana proses
kemoterapi
tersebut.
TD:
150/90mmHg.
4. Pasien Pasien dengan CA Intervensi relaksasi Dilakukan Dengan intervensi
Ny. mengatakan Mamae yang akan Benson dilakukan intervensi relaksasi Relaksasi benson
bahwa ini adalah menjalani jam 09.00 WIB benson oleh sebelum dan
T pertamakali ia kemoterapi pertama sebelum dilakukan perawat kepada sesuadah dilakukan

13
Materi Seminar Keperawatan

menjalani kemoterapi saat pasien kemoterapi dapat


kemoterapi di pasien dalam menurunkan
rumah sakit keadaan cemas. kecemasan pasien.
Tugurejo
Semarang. Pasien
menyebutkan
bahwa ia tidak
tahu bagaimana
nanti saat
dikemoterapi dan
perasaannya
campur aduk.
Pasien tampak
gemetar,
ketakutan,
gelisah, dan
meringis
kesakitan.
Payudara sebelah
kiri tampak
membengkak
melebihi yang
kanan dan lama
kelamaan pecah
sehingga

14
Materi Seminar Keperawatan

mengalami ulkus
yang meluas dan
tampak
memperberat
aktivitas pasien
dengan sedikit
bergerak, badan
tampak lemah.

Kecemasan Pasien Sebelum dan Setelah Relaksasi Benson


No Nama Pasien Diagnosa Medis Kecemasan
Sebelum Setelah
1 Ny. S Ca Mammae Sin Berat Ringan-Sedang
2 Ny. M Ca Mammae Sin Ringan-Sedang Ringan
3 Ny. N Ca Mamae Sin Berat Ringan-Sedang
4 Ny. T Ca Mamae Dx Ringan-Sedang Normal

15
Materi Seminar Keperawatan

E. Diskusi

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa terjadi perubahan


kriteria kecemasan sebelum dan setelah dilakukan relaksasi Benson.
Sebelum di berikan relaksasi benson terdapat 2 pasien mengalami cemas
ringan-sedang dan 2 pasien cemas berat, sedangkan setelah dilakukan
Relaksasi Benson kriteria kecemasan pasien menjadi 2 pasien cemas
ringan-sedang, 2 pasien kecemasan normal, dan tidak ada pasien yang
cemas berat.

F. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penerapan evidence based nursing progressive
muscle relaxation selama 4 minggu pada pasien ca mammae di Dahlia 1
yang mengalami kecemasan di dapatkan hasil bahwa relaksasi benson
efektif dalam mengurangi kecemasan. Relaksasi Benson ini diharapkan
dapat menjadi salah satu pilihan terapi non farmakologi dalam
menurunkan kecemasan pada pasien ca mammae sebagai tindakan mandiri
perawat. Diharapkan pasien dapat melaksanakan Relaksasi Benson secara
mandiri di RS maupun di rumah.
Materi Seminar Keperawatan
Materi Seminar Keperawatan

Referensi

1. Neal, M. J. (2006). Farmakologi Medis Edisi Kelima. Jakarta:


Erlangga
2. Adamsen, L., Quist, M., Andersen, C., Møller, T., Herrstedt, J.,
Kronborg, D., ...& Stage, M. (2009). Effect of a multimodal high
intensity exercise intervention in cancer patients undergoing
chemotherapy: randomized controlled trial. Bmj, 339, b3410
3. Smeltzer, S. C., Bare, B. G., Hinkle, J. L., Cheever, K. H., Townsend,
M. C., & Gould, B. (2008). Brunner and Suddarth’s textbook of
medicalsurgical nursing 10th edition. Philadelphia: Lipincott Williams
& Wilkins.
4. Haryati. 2015. Pengaruh Latihan Progressive Muscle Relaxation
terhadap Status Fungsional dalam Konteks Asuhan Keperawatan
Pasien Kanker dengan Kemoterapi di RS Dr. Wahidin Sudirohusodo
Makassar.
5. Bintang, Y. A. (2012). Gambaran Tongkat Kecemasan, Stress, dan
Depresi Pada Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi Di RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung. Students e-Journal Unpad.
6. Tarwoto & Wartonah. (2004). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
7. Green, C. W., & Setyowati, H. (2004). Seri buku kecil terapi
alternatif. Yogyakarta: Yayasan Spritia
8. Purwati, dkk. (2010). Perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah
terapi relaksasi Benson pada pasien hipertensi. Diperoleh tanggal 17
November 2012 dari http://ejournal.stikestelogorejo.ac.id
9. Benson, Herbert & Proctor. (2000) Dasar-Dasar Respon Relaksasi.
Edisi 1. Bandung: Kaifa
10. Mardiani. (2014). Perbedaan teknik relaksasi Benson dan nafas dalam
terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi bedah abdomen di
RSUD Kota Salatiga. Semarang: Stikes Telogorejo
11. Park ER, (2013) A relaxtion respons traning for women undergoing
breast biopsy: exploring integrated care. The Breast.1-7
12. Yekta P Z et al, (2017). The comparison of two type of relaxtation
technique on post perative state anxiety in candidate for the
mastectomy surgery : A Randomized Controlled Clinical Trial.
IJCBNM. Vol 5 No 1: 61-6
Materi Seminar Keperawatan

13. Datak, G. (2008). Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap Nyeri Pasca


Bedah Transurethral Resection of The Prostate di RSUP. Fatmawati
Jakarta. Depok: Program Pasca Sarjana Fakultas Vol. 13, 2017
relaksasi benson mempengaruhi … 77 Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia
14. Benson, Herbert & Proctor. (2000) Dasar-Dasar Respon Relaksasi.
Edisi1. Bandung: Kaifa
15. Solehati & Kosasih. 2015. Konsep & Aplikasi Relaksasi. Bandung:
Refika Aditama
16. Green, C. W., & Setyowati, H. (2004). Seri buku kecil terapi
alternatif. Yogyakarta: Yayasan Spritia
17. Datak, G. (2008). Pengaruh Relaksasi Benson Terhadap Nyeri Pasca
Bedah Transurethral Resection of The Prostate di RSUP. Fatmawati
Jakarta. Depok: Program Pasca Sarjana Fakultas Vol. 13, 2017
relaksasi benson mempengaruhi … 77 Ilmu Keperawatan Universitas
Indonesia
18. Mardiani. (2014). Perbedaan teknik relaksasi Benson dan nafas dalam
terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi bedah abdomen di
RSUD Kota Salatiga. Semarang: Stikes Telogorejo

Pengembangan Intervensi Keperawatan


Berbasis Evidence Based Nursing Practice 19