Anda di halaman 1dari 12

BAB 3

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Fraktur

Fraktur adalah suatu kondisi terputusnya kontinuitas dari jaringan tulang

yang diakibatkan oleh trauma langsung atau tidak langsung maupun patologis.

Fraktur dapat bersifat tunggal maupun multiple dimana pada fraktur ini dapat

mengenai beberapa tulang yang terjadi secara bersamaan dan dapat menimbulkan

beberapa macam masalah.

Fraktur atau yang dikenal dengan istilah patah tulang, biasanya disebabkan

oleh trauma atau tenaga fisik. Kekuatan, sudut, tenaga, keadaan tulang dan

jaringan lunak di sekitar tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi

disebut lengkap atau tidak lengkap. Fraktur lengkap atau komplit apabila patah

tulang mengenai seluruh ketebalan tulang, sedangkan fraktur tiding lengkap atau

inkomplit merupakan fraktur yang tidak mengenai seluruh ketebalan tulang (Price,

2006). Pada beberapa keadaan trauma musculoskeletal, sering fraktur dan

dislokasi terjadi bersamaan, dislokasi atau luksasio adalah kehilangan hubungan

yang normal antara keua permukaan sendi secara komplit/lengkap. Fraktur

dislokasi diartikan dengan kehilangan hubungan yang normal antara kedua

permukaan sendi disertai fraktur tulang persendian tersebut.

3.2 Klasifikasi

Berdasarkan radiologisnya fraktur dibedakan berdasarkan atas

lokalisasinya, konfigurasi, ekstensi dan menurut hubungan antar fregmen dengan

fregmen lainnya (Rasjad, 2007).


.

Gambar 3.1 : Klasifikasi fraktur menurut lokalisasi (Rasjad, 2007).

A. fraktur diafisis B. fraktur metafisis

C.Dislokasi dan fraktur D. Fraktur Intra-artikuler

Gambar 3.2 : Klasifikasi fraktur sesuai konfigurasi.


A Bersampingan B Angulasi
C Rotasi D Distraksi
E Over-Riding F Implikasi
Gambar 3.3 : Klasifikasi Fraktur Berdasarkan hubungan antar fregmen

tulang

3.3 Etiologi

Berdasarkan etiologinya, fraktur diklasifikasikan sebagai berikut :

1) Fraktur traumatik : terjadi karena trauma yang tiba-tiba mengenai tulang

dengan kekuatan yang besar dan tulang tidak mampu menahan trauma

tersebut sehingga terjadi patah.


2) Fraktur patologis : terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya akibat

kelainan patologis di dalam tulang. Fraktur patologis terjadi pada tulang

yang lemah karena tumor atau proses patologis lainnya. Tulang sering kali

tampak penurunan densitas.


3) Fraktur stress : terjadi karena adanya trauma yang terus menerus pada

suatu tempat tertentu.


Secara umum, keadaan fraktur secara klinis dapat diklasifikasikan sebagai

berikut :
a) Fraktur tertutup : fraktur yang fragmen tulangnya tidak menembus kulit

sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan / tidak mempunyai

hubungan dengan dunia luar.


b) Fraktur terbuka : fraktur yang mempunyai hubungan dengan dunia luar

melalui luka pada kulit dan jaringan lunak depat berbentuk from within (dari

dalam) atau fram without (dari luar). Secara klinis pembagian derajat patah

tulang terbuka dipakai klasifikasi menurut Gustilo dan Anderson, yaitu:

1. Patah tulang terbuka derajat 1


Garis patah sederhana dengan luka kurang atau sama dengan 1 cm bersih
2. Patah tulang terbuka derajat II
Garis patah sederhana dengan luka > 1 cm, bersih, tanpa kerusakan

jaringan lunak yang luas atau terjadinya flap atau avulsi


3. Patah tulang terbuka derajat III
Patah tulang yang disertai dengan kerusakan jaringan lunak luas termasuk

kulit, otot, syaraf, pembuluh darah. Patah tulang ini disebabkan oleh gaya

dengan kecepatan tinggi. Masalah yang berkaitan dengan patah tulang

derajat III:
- Patah tulang segmental dengan tanpa memperhatikan besarnya luka. Ini

terjadi oleh karena gaya dengan kecepatan tinggi.


- Luka tembak.
- Kotor, terjadi di sawah atau tempat kotor.
- Gangguan neurovaskuler.
- Amputasi traumatika.
- Lebih dari 8 jam.
Secara sistematis, Gustilo membaginya lagi dalam:

 Derajat IIIA : bila patah tulang masih dapat ditutup dengan jaringan

lunak.
 Derajat IIIB : tulang terbuka, tidak ditutup dengan jaringan lunak,

sebab jaringan lunak termasuk periosteum, sangat berperan dalam

proses penyembuhan. Pada umumnya terjadi kontaminasi serius.


 Derajat IIIC : terdapat kerusakan pembuluh darah arteri.
3.4 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas,

pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan local dan perubahan warna

(Smeltzer, 2000). Gejala fraktur menurut Reeves (2001) adalah :

- Nyeri pada daerah fraktur dikarenakan adanya efek mekanis yang

menyebabkan hilangnya kontinuitas jaringan, sehingga timbulnya mobilitas

yang bersifat patologis dan hilangnya fungsi tulang sebagai organ penyangga.

Sehingga menimbulkan rasa nyeri yang sangat (Perren, 2000). Ketika terjadi

kerusakan jaringan atau gangguan metabolisme jaringan yang menimbulkan

rangsang yang cukup maka akan menyebabkan rasa nyeri. Kemudian akan

dilepaskan senyawa-senyawa tubuh dari sel-sel yang rusak, yang disebut

mediator nyeri, yang menyebabkan perangsangan reseptor nyeri. Mediator

nyeri tersebut antara lain ion H+, ion K+, histamin, asetilkolin, serotonin,

bradikinin, dan prostaglan, spasme otot yang menyertai merupakan pertahanan

tubuh untuk meminimalkan pergeseran fragmen tulang.


- Setelah terjadi fraktur, pergeseran tulang atau fragmen pada ekstremitas tampak

menyebabkan deformitas.
- Pada fraktur tulang panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya akibat

kontraksi otot yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering

kali melingkupi fragmen lainnya sampai 2,5 – 5 cm.


- Saat bagian fraktur diperiksa dan dilakukan perabaan dapat ditemukan adanya

krepitasi yang muncul karena gesekan antara fragmen satu dengan yang

lainnya. Uji krepitasi dapat mengakibatkan kerusakan jarngan lunak yang lebih

berat.
- Pembengkakan dan perubahan arna local pada kulit terjadi sebagai akibat

trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.


3.5 Penatalaksanaan

Prinsip penanganan patah tulang:

1. Harus ditegakkan dan ditangani lebih dahulu akibat trauma bersamaan

yang membahayakan jiwa


2. Rekognisi (Pengenalan)
Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk

menentukan diagnosa dan tindakan selanjutnya.


3. Reduksi (Manipulasi/reposisi)

Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen-

fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak

asalnya. Upaya untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali

seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan

reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan

sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan

elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada

kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera

sudah mulai mengalami penyembuhan.

4. Retensi (Immobilisasi).
Retensi (Immobilisasi) Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen

tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Setelah fraktur

direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau di pertahankan

dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.

Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna.

Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi

kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna. Implan logam
dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan sebagai bidai

interna untuk mengimobilisasi fraktur.


5. ORIF.
pembedahan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan

stabilitas dan mengurangi nyeri tulang yang patah yang telah direduksi

dengan skrap, paku, dan pin logam


6. Rehabilitasi dini
Rehabilitasi merupakan tindakan untuk menghindari atropi dan

kontraktur dengan fisioterapi. Segala upaya diarahkan pada

penyembuhan tulang dan jaringan lunak. Reduksi dan imobilisasi harus

dipertahankan sesuai kebutuhan. Status neurovaskuler (misalnya

pengkajian peredaran darah, nyeri, perabaan, gerakan) dipantau secara

berkala.
Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain.

Fraktur merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah

dengan jalan membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang.

Tulang baru dibentuk oleh aktivitas sel-sel tulang.

Rehabilitasi dini perlu dilaksanakan sebab dengan demikian maka

keadaan umum penderita akan jadi sangat baik, dan fungsi anggota

gerak diharapkan kembali secara optimal.

3.6 Proses Penyembuhan Tulang

Tulang bisa beregenerasi sama seperti jaringan tubuh yang lain. Fraktur

merangsang tubuh untuk menyembuhkan tulang yang patah dengan jalan

membentuk tulang baru diantara ujung patahan tulang. Tulang baru dibentuk oleh

aktivitas sel-sel tulang.

Ada lima stadium penyembuhan tulang, yaitu:

a. Stadium Satu-Pembentukan Hematoma


Pembuluh darah robek dan terbentuk hematoma disekitar daerah fraktur.

Sel-sel darah membentuk fibrin guna melindungi tulang yang rusak dan sebagai

tempat tumbuhnya kapiler baru dan fibroblast. Stadium ini berlangsung 24 – 48

jam dan perdarahan berhenti sama sekali.

b. Stadium Dua-Proliferasi Seluler

Pada stadium ini terjadi proliferasi dan diferensiasi sel menjadi fibro

kartilago yang berasal dari periosteum, endosteum, dan bone marrow yang telah

mengalami trauma. Sel-sel yang mengalami proliferasi ini terus masuk ke dalam

lapisan yang lebih dalam dan disanalah osteoblast beregenerasi dan terjadi proses

osteogenesis. Dalam beberapa hari terbentuklah tulang baru yang menggabungkan

kedua fragmen tulang yang patah. Fase ini berlangsung selama 8 jam setelah

fraktur sampai selesai, tergantung frakturnya.

c. Stadium Tiga-Pembentukan Kallus

Sel-sel yang berkembang memiliki potensi yang kondrogenik dan osteogenik, bila

diberikan keadaan yang tepat, sel itu akan mulai membentuk tulang dan juga

kartilago. Populasi sel ini dipengaruhi oleh aktivitas osteoblast dan osteoklast

yang mulai berfungsi dengan mengabsorbsi sel-sel tulang yang mati. Massa sel

yang tebal dengan tulang yang imatur dan kartilago, membentuk kallus atau bebat

pada permukaan endosteal dan periosteal. Sementara tulang yang imatur

(anyaman tulang) menjadi lebih padat sehingga gerakan pada tempat fraktur

berkurang pada 4 minggu setelah fraktur menyatu.

d. Stadium Empat-Konsolidasi

Bila aktivitas osteoclast dan osteoblast berlanjut, anyaman tulang berubah menjadi

lamellar. Sistem ini sekarang cukup kaku dan memungkinkan osteoclast


menerobos melalui reruntuhan pada garis fraktur, dan tepat dibelakangnya

osteoclast mengisi celah-celah yang tersisa diantara fragmen dengan tulang yang

baru. Ini adalah proses yang lambat dan mungkin perlu beberapa bulan sebelum

tulang kuat untuk membawa beban yang normal.

e. Stadium Lima-Remodelling

Fraktur telah dijembatani oleh suatu manset tulang yang padat. Selama beberapa

bulan atau tahun, pengelasan kasar ini dibentuk ulang oleh proses resorbsi dan

pembentukan tulang yang terus-menerus. Lamellae yang lebih tebal diletakan

pada tempat yang tekanannya lebih tinggi, dinding yang tidak dikehendaki

dibuang, rongga sumsum dibentuk, dan akhirnya terbentuk struktur yang mirip

dengan normalnya.

3.7 Komplikasi

Kompikasi fraktur dibagi menjadi 2 jangka panjang dan jangka pendek.

Jangka pendek:

1. Infeksi

2. Emboli lemak

3. Syndrom kompartement

4. Kerusakan Arteri

Sedangkan komplikasi fraktur jangka panjang:

1. Delay union

2. Nonunion

3. Malunion

Perawatan lanjut dan rehabilitasi fraktur, ada lima tujuan pengobatan

fraktur :
1. Menghilangkan nyeri

2. Mendapatkan dan mempertahankan posisi yang menjadi dari fregmen

fraktur

3. Mengharapkan dan mengusahakan union

4. Mengembaikan fungsi secara optimal dengan cara mempertahankan

fungsi otot dan sendi, mencegah atrofi otot, adesi, dan kekakuan sendi,

dan mencegah terjadinya komplikasi seperti dekubitus, thrombosis

vena, infeksi saluran kencing, serta pembentukan batu ginjal.

5. Mengembalikan fungsi secara maksimal merupakan tujuan akhir

pengobatan fraktur. Sejak awal penderita harus dituntun secara

psikologis untuk membantu penyembuhan dan pemberian fisioterapi

untuk memperkuat otot-otot serta gerakan sendi baik secara isometric

(latihan aktif static) pada setiap otot yang berada pada lingkup fraktur

serta isotonic yaitu latihan aktif dinamik pada otot-otot tungkai dan

punggung. Diperlukan pula terapi okupasi.

 Komplikasi Awal

a. Kerusakan Arteri

Pecahnya arteri karena trauma bisa ditandai dengan tidak adanya nadi,

cyanosis bagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang

disebabkan oleh tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit,

tindakan reduksi, dan pembedahan.

b. Kompartement Syndrom

Kompartement Syndrom merupakan komplikasi serius yang terjadi karena

terjebaknya otot, tulang, saraf, dan pembuluh darah dalam jaringan parut. Ini
disebabkan oleh oedema atau perdarahan yang menekan otot, saraf, dan pembuluh

darah. Selain itu karena tekanan dari luar seperti gips dan pembebatan yang terlalu

kuat.

c. Fat Embolism Syndrom

Fat Embolism Syndrom (FES) adalah komplikasi serius yang sering terjadi

pada kasus fraktur tulang panjang. FES terjadi karena sel-sel lemak yang

dihasilkan bone marrow kuning masuk ke aliran darah dan menyebabkan tingkat

oksigen dalam darah rendah yang ditandai dengan gangguan pernafasan,

tachykardi, hypertensi, tachypnea, demam.

d. Infeksi

System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada

trauma orthopedic infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam.

Ini biasanya terjadi pada kasus fraktur terbuka, tapi bisa juga karena penggunaan

bahan lain dalam pembedahan seperti pin dan plat.

e. Avaskuler Nekrosis

Avaskuler Nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau

terganggu yang bisa menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya

Volkman’s Ischemia.

f. Shock

Shock terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya

permeabilitas kapiler yang bisa menyebabkan menurunnya oksigenasi. Ini

biasanya terjadi pada fraktur. (Arif Muttaqin, 2008 )

2) Komplikasi Dalam Waktu Lama

a. Delayed Union
Delayed Union merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan

waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena

penurunan suplai darah ke tulang.

b. Nonunion

Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi

sambungan yang lengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion ditandai

dengan adanya pergerakan yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi

palsu atau pseudoarthrosis. Ini juga disebabkan karena aliran darah yang kurang.

c. Malunion

Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnya

tingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan

pembedahan dan reimobilisasi yang baik. ( Arif Muttaqin, 2008 ).