Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI

“PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP PERTUMBUHAN


BAKTERI”

TANGGAL PRAKTIKUM : Rabu, 31 Oktober 2018

Disusun Oleh :

KELOMPOK IV
Annisa Pramesti (2017340002)
Muhamad Sigit (2014340034)
Ratri Resti Pambayun (2017340035)
Rina Dwi Hastuti (2017340040)

Program Studi Teknologi Pangan


Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Sahid Jakarta
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan adalah penambahan secara teratur semua komponen sel suatu jasad.
Pembelahan sel adalah hasil dari pertumbuhan sel. Pada jasad bersel tunggal (uniseluler),
pembelahan atau perbanyakan sel merupakan pertambahan jumlah individu. Misalnya pembelahan
sel pada bakteri akan menghasilkan pertambahan jumlah sel bakteri itu sendiri. Pada jasad bersel
banyak (multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah individunya, tetapi
hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya (Suharjono, 2006).
Pertumbuhan mikroba umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan
fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk
kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan optimumnya.
Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi juga menunjukkan respon
yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba, diperlukan suatu kombinasi
nutrien serta faktor lingkungan yang sesuai. Perubahan faktor lingkungan terhadap pertumbuhan
mikroba dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Faktor kimiawi
yang mempengaruhi antara lain senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya. Faktor biotik
mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat dalam bentuk
simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme.
Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga
mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup,
perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat di bagi atas
faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-
makhluk hidup, yaitu, mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme,
dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose, dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor
abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar
gelombang ,dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia
lainnya (Hadientomo, 1985).
Adapun faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah :
1. Suhu
Sebagian besar bakteri tumbuh optimal pada suhu tubuh optimal pada suhu tubuh manusia.
Akan tetapi, beberapa bakteri dapat tumbuh dalam lingkungan ekstrem yang berada diluar
bataspertahanan organisme eukariot.
2. Tekanan Osmotik
Bakteri memperoleh semua nutrisi dari cairan diskitarnya. Bakteri membutuhkan air untuk
pertumbuhan. Tekanan osmotik yang tinggi dapat menyebabkan air keluar dari dalam sel.
Penambahan garam dalam larutan yang akan meningkatkan tekanan osmotik dapat digunakan
untuk pengawetan makanan.
3. Faktor Kimia
Selain air, unsur penting yang dibuthkan untuk pertumbuhan mikroorganisme adalah unsur
kimia, antara lain karbon, nitrogen, sulfur, fosfor, dan unsur kelumit (misalnya, Cu, Zn, dan Fe).
4. pH
pH adalah derjat keasaman suatu larutan. Kebanyakan bakteri tumbuh subur pada pH 6,5-
7,5. Sangat sedikit bakteri yang tumbuh dalam pH asam (dibawah pH 4). Hal ini yang
menyebabkan makanan tertentu dapat diawetkan dengan penambahan suasana asamatau secara
fermentasi.
5. Oksigen
Mokroorganisme yangmenggunakan oksigen menghasilkan lebih banyak energi dari
nutrien yang diperoleh daripada mikroba yang menggunakan oksigen (anaerob). Bakteri bakteri
yang membutuhkan oksigen untuk hidup disebut bakteri aerob obligat.
Berdasarkan suhu pertumbuhannya bakteri dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:
bakteri termofil (politermik), bakteri mesofil (mesotermik), dan bakteri psikrofil (oligotermik).
Golongan bakteri yang dapat hidup pada batasbatas suhu yang sempit, yaitu batas antara minimum
dan maksimum tidak terlalu besar, disebut bakteri stenotermik, misalnya Gonococcus. Jika beda
antara suhu minimum dan maksimum lebih besar daripada yang disebutkan di atas, maka bakteri
tersebut termasuk euritermik, misalnya Escherichia coli (Dwidjoseputro 1994: 93--94).
Setiap mikroorganisme memiliki perbedaan di dalam kebutuhannya terhadap oksigen atau
toleransinya terhadap oksigen. Mikroorganisme dapat dibagi menjadi beberapa kelompok
berdasarkan pengaruh oksigen bebas. Organisme yang memiliki kekurangan pada sistem
respirasinya tidak dapat menggunakan oksigen bebas sebagai penerima elektron terakhir.
Organisme tersebut dinamakan organisne anaerob. Ada dua macam anaerob, yaitu anaerob
fakultatif yaitu mikroorganisme yang dapat mentolerir adanya oksigen bebas dan tetap hidup pada
lingkungan yang ada oksigen bebas, walaupun tidak menggunakan oksigen tersebut, dan anaerob
obligat yang akan mati apabila ada oksigen bebas (Brock & Madigan 1991: 330).
BAB II

BAHAN DAN METODE

2.1 Alat dan Bahan

2.1.1 Alat:

a. Cawan petri steril

b. Mikropipet

c. Autoklaf

d. Inkubator

2.1.2 Bahan:

a. Media PCA

b. Sukrosa

c. Eschericia coli

d. Bacillus cereus

2.2 Prosedur Kerja

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


BAB IV

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA

Hafsah. Mikrobiologi Umum. Makassar: UIN Alauddin Makassar, 2009.

Waluyo, L. 2005. Mikrobiologi Umum. Universitas Muhammadiyah Malang Prees. Malang.

Zaraswati, 2011 “Mikrobiologi Dasar “ universitas Hasanuddin : makassar

Anda mungkin juga menyukai