Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan Kehadirat Illahi Rabbi karena berkat rahmat
dan karunia-Nya, dengan didorong semangat dan daya upaya penulis dapat
menyelesaikan makalah mengenai Aplikasi Softskill pada Asuhan Ibu Masa Nifas
dan Asuhan Keluarga Berencana. Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah
satu tugas mata kuliah Softskill
Adapun makalah ini telah penulis usahakan semaksimal mungkin dan
tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar
pembuatan makalah ini. Untuk itu penulis tidak lupa menyampaikan banyak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan
makalah ini.
Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya bahwa
ada kekurangan baik dari segi penyusunan bahasa maupun segi lainnya. Oleh
karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka penulis membuka selebar-
lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada penulis
sehingga dapat memperbaiki makalah ini.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dijadikan acuan
sebagai bahan pembelajaran Softskill Penulis telah berusaha semaksimal mungkin
untuk menghasilkan yang terbaik dalam penulisan makalah ini, tetapi penulis
menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Maka dari itu kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak.

Cirebon, Oktober 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 1
1.3 Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
2.1 Softskill dalam Kebidanan ....................................................................... 3
2.2 Aplikasi Softskill pada Ibu Masa Nifas .................................................... 3
2.3 Asuhan dan Aplikasi Softskill pada Asuhan Keluarga Berencana ........... 5
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 12
3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keterampilan soft skill adalah keterampilan dimana seorang bidan, harus
banyak senyum, bersikap sabar menghadapi orang lain, membiasakan diri
mengucapkan selamat dan terima kasih, serta memberi perhatian tulus kepada
orang lain, khususnya pasien yang dibantu pada proses persalinan.
Namun tidak sampai disini, ibu pada masa nifas juga memerlukan perhatian
yang lebih. Diperkirakan 60% kematian ibu termasuk kehamilan terjadi setelah
persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam. Maka itu peran dan
tanggungjawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan
pemantauan mencegah beberapa kematian ini.
Tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kebidanan yang bermutu tinggi saat
ini semakin meningkat, sehingga dalam pembelajaran praktik tidak hanya
kemampuan pengetahuan dan penguasaan teknologi (hard skills), namun harus
memiliki karakter yang baik dan soft skills yang baik agar lulusan kebidanan lebih
berkualitas dan diterima masyarakat. Dengan mempelajari keterampilan soft skill
pada kebidanan, diharapkan keterampilan soft skill dapat memberikan pendidikan
yang berkarakter bagi bidan, dengan adanya hal ini bidan bukan hanya dapat
terjun ke dunia kerja saja tetapi juga, dipersiapkan untuk merubah perilaku
masyarakat yang masih kurang peduli terhadap kesehatannya.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, maka dalam makalah ini akan dibahas
mengenai :
1. Apa yang dimaksud dengan softskill dalam kebidanan?
2. Bagaimana aplikasi softskill dalam asuhan kebidanan pada ibu nifas?
3. Bagaimana aplikasi softskill dalam asuhan keluarga berencana?

1
1.3 Tujuan
Tujuannya disusun makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui softskill dalam kebidanan.
2. Untuk mengetahui aplikasi softskill dalam asuhan kebidanan kepada ibu
nifas.
3. Untuk mengetahui aplikasi softskill dalam asuhan keluarga berencana.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Softskill dalam Kebidanan


Soft skills didefinisikan sebagai perilaku personal dan interpersonal yang
mengembangkan dan memaksimalkan kinerja seseorang.
Sebagai seorang bidan kita tidak hanya dituntut hanya memiliki
knowledge, skill, and attitude. Tetapi, juga harus memiliki keterampilan soft
skill di dalamnya. Sehingga kita bisa menjadi seorang bidan yang profesional
dalam memberikan pelayanan baik pada individu maupun masyarakat di
sekitar kita (Nurjanah, 2016)
.
2.2 Aplikasi Softskill pada Ibu Masa Nifas
2.2.1 Tujuan Asuhan Masa Nifas
1. Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas
2. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya
3. Melaksanakan skrining secara komprehensif
4. Memberikan pendidikan kesehatan diri
5. Memberikan pendidikan tentang laktasi dan perawatan payudara
6. Konseling tentang KB
7. Untuk memulihkan kesehatan umum penderita (Susilo, 2016).
2.2.2 Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini, karena
merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan 60%
kematian ibu termasuk kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50%
kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam. Maka itu peran dan
tanggungjawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas
dengan pemantauan mencegah beberapa kematian ini. Peran bidan antara
lain :

3
1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa
nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan
fisik dan psikologis selama masa nifas.
2. Sebagai promotor hubungan ibu dan bayi serta keluarga
3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan
rasa nyaman.
4. Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang
berkaitan ibu dan anak dan mampu melakukan kegiatan
administrasi
5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan
6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan mengenali tanda- tanda bahaya ,menjaga
gizi yang baik, serta mempraktekkan kebersihan yang aman
7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosadan rencana tindakan serta melaksanakannya
untuk mempercepat proses pemulihan, mencegah komplikasi
dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas
8. Memberikan asuhan secara professional.
Aplikasi softskill pada ibu masa nifas dapat diterapkan dalam
asuhan sayang ibu pada masa PostPartum, diantaranya adalah :
1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat
gabung).
2. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan
pemberian ASI sesuai permintaan
3. Ajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang
cukup setelah melahirkan.
4. Anjurkan suami dan anggota-anggota keluarga untuk memeluk
bayi dan mensyukuri kelahiran bayi.
2. Anjurkan ibu dan anggota-anggota keluarganya tentang bahaya dan
tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk
mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.

4
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak ibu di Indonesia
yang masih tidak mau meminta pertolongan tenaga penolong persalinan
terlatih untuk memberikan asuhan selama persalinan dan kelahiran bayi.
Sebagian dari mereka memberi alasan bahwa penolong persalinan
terlatih tidak benar-benar memperhatikan kebutuhan atau kebudayaan,
tradisi dan keinginan pribadi para ibu dalam persalinan dan ketahiran
bayinya.
Alasan lain yang juga berperan adalah bahwa sebagian besar
fasilitas kesehatan memiliki peraturan dan prosedur kurang bersahabat
dan menakutkan bagi para ibu. Peraturan dan prosedur tersebut
termasuk: tidak memperkenankan ibu untuk berjalan’jalan selama proses
persalinan, tidak mengizinkan anggota keluarga menemani ibu
membatasi ibu hanya pada posisi tertentu selama persalinan dan
kelahiran bayi dan memisahkan ibu dari bayi segera setelah bayi
dilahirkan (Susilo, 2016).

2.3 Asuhan dan Aplikasi Softskill pada Asuhan Keluarga Berencana


Dalam Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga
berencana, dengan kewenangan:
1. Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan
dan keluarga berencana
2. Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom (PERATURAN MENTERI
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR1464/MENKES/PER/X/2010, n.d.)
Selain kewenangan normal sebagaimana tersebut di atas, khusus bagi
bidan yang menjalankan program Pemerintah mendapat kewenangan
tambahan untuk melakukan pelayanan kesehatan yang meliputi:
1. Pemberian alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim, dan
memberikan pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit
2. Asuhan antenatal terintegrasi dengan intervensi khusus penyakit kronis
tertentu (dilakukan di bawah supervisi dokter)

5
3. Penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
4. Melakukan pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan
anak, anak usia sekolah dan remaja, dan penyehatan lingkungan
5. Pemantauan tumbuh kembang bayi, anak balita, anak pra sekolah dan anak
sekolah
6. Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas
7. Melaksanakan deteksi dini, merujuk dan memberikan penyuluhan terhadap
Infeksi Menular Seksual (IMS) termasuk pemberian kondom, dan penyakit
lainnya
8. Pencegahan penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif
lainnya (NAPZA) melalui informasi dan edukasi
9. Pelayanan kesehatan lain yang merupakan program Pemerintah
Khusus untuk pelayanan alat kontrasepsi bawah kulit, asuhan antenatal
terintegrasi, penanganan bayi dan anak balita sakit, dan pelaksanaan deteksi
dini, merujuk, dan memberikan penyuluhan terhadap Infeksi Menular Seksual
(IMS) dan penyakit lainnya, serta pencegahan penyalahgunaan Narkotika,
Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya (NAPZA), hanya dapat dilakukan oleh
bidan yang telah mendapat pelatihan untuk pelayanan tersebut.
Selain itu, khusus di daerah (kecamatan atau kelurahan/desa) yang belum
ada dokter, bidan juga diberikan kewenangan sementara untuk memberikan
pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal, dengan syarat telah
ditetapkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Kewenangan bidan
untuk memberikan pelayanan kesehatan di luar kewenangan normal tersebut
berakhir dan tidak berlaku lagi jika di daerah tersebut sudah terdapat tenaga
dokter.
Dalam aplikasinya, softskill dalam asuhan keluarga berencana berfokus
kepada etika bagaimana bidan melakukan pelayanan KB baik dimulai dari
konseling pemilihan alat kontrasepsi hingga pemasangan alat kontrasepsi.
1. Konseling
Konseling merupakan aspek yang sangat penting dalam pelayanan
keluarga berencana. Dengan melakukan konseling berarti petugas

6
membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang
akan digunakan sesuai pilihannya.
Jika klien belum mempunyai keputusan karena disebabkan ketidaktahuan
klien tentang kontrasepsi yang akan digunakan, menjadi kewajiban bidan
untuk memberikan informasi tentang kontrasepsi yang dapat dipergunakan
oleh klien, dengan memberikan informasi tentang kontrasepsi yang dapat
dipergunakan oleh klien, dengan memberikan beberapa alternative
sehingga klien dapat memilih sesuai dengan pengetahuan dan keyakinan
yang dimilikinya.
2. Tujuan konseling :
a. Calon peserta KB memahami manfaat KB bagi dirinya maupun
keluarganya.
b. Calon peserta KB mempunyai pengetahuan yang baik tentang alasan
berKB , cara menggunakan dan segala hal yang berkaitan dengan
kontrasepsi.
c. Calon peserta KB mengambil keputusan pilihan alat kontrasepsi
3. Sikap bidan dalam melakukan konseling yang baik terutama bagi calon
klien baru
a. Memperlakukan klien dengan baik
b. Interaksi antara petugas dan klien
c. Bidan harus mendengarkan, mempelajari dan menanggapi keadaan
klien serta mendorong agar klien berani berbicara dan bertanya
d. Member informasi yang baik kepada klien
e. Menghindari pemberian informasi yang berlebihan
f. Terlalu banyak informasi yang diberikan akan menyebabkan
kesulitan bagi klien untuk mengingat hal yang penting.
g. Tersedianya metode yang diinginkan klien
h. Membantu klien untuk mengerti dan mengingat
i. Bidan memberi contoh alat kontrasepsi dan menjelaskan pada klien
agar memahaminya dengan memperlihtkan bagaimana cara
penggunaannya. Dapat dilakukan dengan dengan memperlihatkan

7
dan menjelaskan dengan flipchart, poster, pamflet atau halaman
bergambar.
4. Langkah-langkah konseling :
a. Menciptakan suasana dan hubungan saling percaya
b. Menggali permasalahan yang dihadapi dengan calon
c. Memberikan penjelasan disertai penunjukan alat-alat kontrasepsi
d. Membantu klien untuk memilih alat kontrasepsi yang tepat untuk
dirinya sendiri.
5. Ketrampilan dalam konseling
a. Mendengar dan mempelajari dengan menerapkan:
1) Posisi kepala sama tinggi
2) Beri perhatian dengan kontak mata
3) Sediakan waktu
4) Saling bersentuhan
5) Sentuhlah dengan wajar
6) Beri pertanyaan terbuka
7) Berikan respon
8) Berikan empati
9) Refleks back
10) Tidak menghakimi
b. Membangun kepercayaan dan dukungan:
1) Menerima yang dipikirkan dan dirasakan klien
2) Memuji apa yang sudah dilakukan dengan benar
3) Memberikan bantuan praktis
4) Beri informasi yang benar
5) Gunakan bahasa yang mudah dimengerti/sederhana
6) Memberikan satu atau dua saran.

8
6. Inform Choice dan Inform Concent dalam pelayanan KB
a. Informed Choice
Informed Choice adalah berarti membuat pilihan setelah mendapat
penjelasan tentang alternative asuhan yang dialami. Pilihan atau choice
lebih penting dari sudut pandang wanita yang memberi gambaran
pemahaman masalah yang berhubungan dengan aspek etika dalam
otonomi pribadi. Ini sejalan dengan Kode Etik Internasional Bidan
bahwa : Bidan harus menghormati hak wanita setelah mendapatkan
penjelasan dan mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab dari
pilihannya.
b. Tujuan informed choice
Tujuannya adalah untuk mendorong wanita memilih asuhannya.
Peran bidan tidak hanya membuat asuhan dalam manajemen asuhan
kebidanan tetapi juga menjamin bahwa hak wanita untuk memilih
asuhan dan keinginannya terpenuhi. Hal ini sejalan dengan kode etik
internasional bidan yang dinyatakan oleh ICM 1993, bahwa bidan harus
menghormati hak wanita setelah mendapatkan penjelasan dan
mendorong wanita untuk menerima tanggung jawab untuk hasil dari
pilihannya.
c. Informed Consent
Setelah klien menentukan pilihan alat kontrasepsi yang dipilih, bidan
berperan dalam proses pembuatan informed concent. Yang dimaksud
Informed Concent adalah persetujuan sepenuhnya yang diberikan oleh
klien/pasien atau walinya kepada bidan untuk melakukan tindakan sesuai
kebutuhan. Infomed concent adalah suatu proses bukan suatu formolir
atau selembar kertas dan juga merupakan suatu dialog antara bidan
dengan pasien/walinya yang didasari keterbukaan akal dan pikiran yang
sehat dengan suatu birokratisasi yakni penandatanganan suatu formolir
yang merupakan jaminan atau bukti bahwa persetujuan dari pihak
pasien/walinya telah terjadi.

9
d. Tujuan Pelaksanaan Informed Consent
Dalam hubungan antara pelaksana (bidan) dengan pengguna jasa
tindakan medis (pasien), maka pelaksanaan “informed consent”,
bertujuan :
1) Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara hukum
dari segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuannya,
maupun tindakan pelaksana jasa tindakan medis yang sewenang-
wenang, tindakan malpraktek yang bertentangan dengan hak asasi
pasien dan standar profesi medis, serta penyalahgunaan alat canggih
yang memerlukan biaya tinggi atau “over utilization” yang
sebenarnya tidak perlu dan tidak ada alasan medisnya;
2) Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana tindakan
medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang tidak wajar, serta
akibat tindakan medis yang tak terduga dan bersifat negatif, misalnya
terhadap “risk of treatment” yang tak mungkin dihindarkan walaupun
bidan telah bertindak hati-hati dan teliti serta sesuai dengan standar
profesi medik. Sepanjang hal itu terjadi dalam batas-batas tertentu,
maka tidak dapat dipersalahkan, kecuali jika melakukan kesalahan
besar karena kelalaian (negligence) atau karena ketidaktahuan
(ignorancy) yang sebenarnya tidak akan dilakukan demikian oleh
teman sejawat lainnya.
Dalam proses tersebut, bidan mungkin mengahadapi masalah yang
berhubungan dengan agama sehingga bidan harus bersifat netral, jujur,
tidak memaksakan suatu metode kontrasepsi tertentu. Mengingat bahwa
belum ada satu metode kontrasepsi yang aman dan efektif, maka dengan
melakukan informed choice dan infomed concent selain merupakan
perlindungan bagi bidan juga membantu dampak rasa aman dan nyaman
bagi pasien. Sebagai contoh, bila bidan membuat persetujuan tertulis yang
berhubungan dengan sterilisasi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah
bahwa sterilisasi bersifat permanen, adanya kemungkinan perubahan

10
keadaan atau lingkungan klien, kemungkinan penyelesaian klien dan
kemungkinan kegagalan dalam sterilisasi.
7. Penjelasan yang diberikan saat Pemasangan Alat Kontrasepsi
a. Jelaskan kepada klien apa yang dilakukan dan mempersilahkan klien
mengajukan pertanyaan
b. Sampaikan pada klien kemungkinan akan merasa sedikit sakit pada
beberapa langkah waktu pemasangan dan nanti akan diberitahu bila
sampai pada langkah tersebut.
c. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya tentang keterangan
yang telah diberikan dan tentang apa yang akan dilakukan pada
dirinya.
d. Peragakan peralatan yang akan digunakan serta jelaskan tentang
prosedur apa yang akan dikerjakan
e. Jelaskan bahwa klien akan mengalami sedikit rasa sakit saat
penyuntikan anastesi local, sedangkan insersinya tidak akan
menimbulkan nyeri (bila pemasangan AKBK)
f. Tentramkan hati klien setelah tindakan
8. Penjelasan yang diberikan setelah Pemasangan Alat Kontrasepsi
a. Mengkaji perasaan klien setelah dilakukan pemasangan/ pemberian
alat kontrasepsi.
b. Menjelaskan komplikasi yang timbul setelah pemasangan/
mengkonsumsi alat kontrasepsi
c. Menjelaskan waktu kontrol kembali/ waktu meminum/ waktu
menggunakan alat kontrasepsi tersebut.
d. Melakukan evaluasi.

11
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Sebagai seorang bidan kita tidak hanya dituntut hanya memiliki
knowledge, skill, and attitude. Tetapi, juga harus memiliki keterampilan
soft skill di dalamnya. Sehingga kita bisa menjadi seorang bidan yang
profesional dalam memberikan pelayanan baik pada individu maupun
masyarakat di sekitar kita.
Dalam aplikasinya pada asuhan ibu nifas softskill dapat berupa asuhan
sayang ibu, antara lain :
1. Anjurkan ibu untuk selalu berdekatan dengan bayinya (rawat gabung).
2. Bantu ibu untuk mulai membiasakan menyusui dan anjurkan
pemberian ASI sesuai permintaan
3. Ajarkan ibu dan keluarganya mengenai nutrisi dan istirahat yang cukup
setelah melahirkan.
4. Anjurkan suami dan anggota-anggota keluarga untuk memeluk bayi
dan mensyukuri kelahiran bayi.
3. Anjurkan ibu dan anggota-anggota keluarganya tentang bahaya dan
tanda-tanda bahaya yang dapat diamati dan anjurkan mereka untuk
mencari pertolongan jika terdapat masalah atau kekhawatiran.
Dalam keluarga berencana yang menjadi poin penting dalam
menjlankan asuhannya adalah konseling, dengan melakukan konseling
berarti petugas membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis
kontrasepsi yang akan digunakan sesuai pilihannya.

12
DAFTAR PUSTAKA

Nurjanah, N. (2016). PENERAPAN GERAKAN KARAKTER “SEHAT”


UNTUK MENINGKATKAN SOFT SKILLS MAHASISWA DIII
KEBIDANAN PADA PRAKTIK KLINIK KEBIDANAN. RAKERNAS
AIPKEMA 2016.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


NOMOR1464/MENKES/PER/X/2010.

Susilo, R. (2016). Asuhan Nifas dan Evidence Based Practice. Yogyakarta:


Deepublish.

iii