Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Atas Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, maka laporan dokumen Kerangka
Acuan Pembangunan Pakuwon Mall di Jalan H.R. Muhammad, Babatan, Wiyung,
Surabaya, Jawa Timur ini dapat terselesaikan. Dokumen Kerangka Acuan
Pembangunan Pusat Perbelanjaan Pakuwon Mall ini berupa ruang lingkup studi
analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang telah
disepakati oleh pemrakarsa/penyusun AMDAL dan Komisi Penilai AMDAL.
Pakuwon Mall memiliki luas tanah sebesar 30 Ha, sehingga penetapan rencana
kegiatan Pembangunan Apartemen Gunangwasa MERR sebagai kajian yang wajib
AMDAL berdasarkan pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Rebublik Indonesia Nomor 05 Tahun 2012 tentang Jenis Rencana Usaha dan /atau
Kegiatan yang Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Penyusunan Dokumen Kerangka Acuan ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pedoman
Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup.
Dokumen ini bertujuan untuk merumuskan ruang lingkup kedalam studi
ANDAL serta mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien.
Fungsi dari dokumen Kerangka Acuan ini adalah sebagai rujukan penting bagi
pemrakarsa, instansi terkait, dan penyusun tentang ruang lingkup ke dalam studi
ANDAL yang akan dilakukan, serta sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai
dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. Pemrakarsa berterima
kasih atas masukan dan saran dari masyarakat, tim teknis dan pakar dalam
pembahasan dokumen Kerangka Acuan, serta ucapan terima kasihjuga
disampaikan kepada tim studi dan semua pihak lainnya yang telah membantu
dalam penyusunan dokumen ini
Surabaya, September 2018

Pemrakarsa

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...............................................................................................i

DAFTAR ISI............................................................................................................ii

DAFTAR TABEL...................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR..............................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

I.1 Latar Belakang..............................................................................................1

I.2 Tujuan Rencana Kegiatan.............................................................................2

I.2.1 Tujuan Umum Rencana Kegiatan...................................................................2

I.2.2 Manfaat Rencana Kegiatan Bagi Masyarakat...............................................2

1.2.3 Manfaat Rencana Kegiatan Bagi Peranan Terhadap Pembangunan


Nasional...............................................................................................................3

I.3 Pelaksanaan Studi.........................................................................................3

I.3.1 Identitas Pemrakarsa dan Penanggung Jawab...............................................3

I.3.2 Penyusunan Studi AMDAL.............................................................................3

BAB II PELINGKUPAN.........................................................................................5

II.1 Deskripsi Rencana Kegiatan Yang Akan Dikaji............................................5

II.1.1 Status Studi AMDAL.......................................................................................5

II.1.2 Kesesuaian Lokasi Kegiatan Dengan Rencana Tata Ruang........................5

II.1.2.1 Lokasi Kegaitan...................................................................................5

II.1.2.2 Kesesuaian Dengan Tata Ruang...........................................................6

II.1.3 Deskripsi Rencana Kegiatan...........................................................................6

II.1.3.1 Tahap Pra Konstruksi...........................................................................6

II.1.3.2 Tahap Konstruksi.................................................................................7

II.1.3.3 Tahap Operasional..............................................................................10

II.2 Deskripsi Rona Lingkungan Hidup Awal (Environmental Settling)...........11

ii
II.2.1 Komponen Lingkungan Terkena Dampak...................................................11

II.3 Hasil Pelibatan Masyarakat.........................................................................17

II.3.1 Pelibatan Masyarakat.....................................................................................17

II.4 Dampak Penting Hipotetik..........................................................................18

II.4.1 Identifikasi Dampak Potensial......................................................................18

II.4.2 Evaluasi Dampak Potensial...........................................................................19

BAB III METODE STUDI....................................................................................20

III.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data....................................................20

III.1.1 Komponen Fisika-Kimia...............................................................................21

III.1.2 Komponen Hidrologi.....................................................................................22

III.1.3 Komponen Biologi.........................................................................................23

III.1.4 Komponen Transportasi.................................................................................25

III.1.5 Komponen Kesehatan Masyarakat...............................................................26

III.1.6 Komponen Sosial, Ekonomi, Budaya..........................................................27

III.2 Metode Prakiraan Dampak Penting Yang Digunakan.................................29

III.3 Metode Evaluasi Secara Holistik Terhadap Dampak Lingkungan.............30

III.3.1 Telaahan Terhadap Dampak Penting............................................................31

III.3.2 Telaahan Sebagai Dasar Pengelolaan...........................................................32

III.3.3 Penentuan Kelayakan Lingkungan...............................................................33

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................34

iii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Tim Penyusun Studi AMDAL..................................................................9

iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Diagram Alir Pendekatan Studi ANDAL...........................................24

v
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Kota Surabaya adalah salah satu kota yang terletak di Jawa Timur dan
merupakan Ibukota Provinsi di Jawa Timur. Surabaya terletak pada letak geografis
Koordinat: 7°16′LU 112°43′BT. Kota Surabaya merupakan ibu kota provinsi Jawa
Timur dan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan populasi
penduduk sekitar 4 juta orang, Surabaya telah menjadi kota Metropolis dengan
beberapa keanekaragaman yang kaya di dalam nya. Selain itu, Surabaya saat ini
juga telah menjadi pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di
Indonesia. Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, hal ini terjadi sejak adanya
pertempuran rakyat Surabaya melawan tentara Belanda dalam revolusi
kemerdekaan Indonesia.
Surabaya juga memegang peran penting secara regional, nasional, maupun
internasional sebagai pusat petumbuhan dan pembangunan wilayah sekitarnya
(Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan).
Meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan peran kota Surabaya di tingkat regional,
nasional maupun internasional, tentunya juga akan berpotensi dalam peningkatan
pendapatan. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk meningkatkan pembangunan
sarana dan prasarana terkait perkembangan pusat perbelanjaan di Surabaya.
Sebagai upaya peningkatan perkembangan bidang pusat perbelanjaan di
Kota Surabaya, maka pemerintah bekerja sama dengan PT. Mitra Hijau
Consultant berencana untuk mendirikan sebuah pusat perbelanjaan. Pembangunan
pusat perbelanjaan ini direncanakan di Jalan H.R. Muhammad, Babatan, Wiyung,
Surabaya, Jawa Timur dengan luas 30 Ha. Berdirinya pusat perbelanjaan Pakuwon
Mall ini sudah tentu akan menimbulkan dampak pada lingkungan hidup.
Berdasarkan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup, bahwa setiap rencana kegiatan yang diduga akan
menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan, wajib dilengkapi dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Sesuai Peraturan Menteri

1
Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012 pada Lampiran 1 Bidang Multi Sektor
Nomor 5, untuk teknis pembangunan bangunan gedung dengan luas lahan ≥ 5 Ha
atau luas bangunan ≥ 10.000 m2 wajib memiliki AMDAL. Dengan demikian
“Rencana Kegiatan Pembangunan Pakuwon Mall Kota Surabaya” merupakan
rencana kegiatan yang wajib memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL).
Sistematika penyusunan dokumen mengacu pada Peraturan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2012 tentang
Pedoman Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup. Dokumen ini disusun untuk
memenuhi kewajiban rencana pembangunan Pakuwon Mall Kota Surabaya,
selaku pemohon sebelum memulai kegiatan usahanya.

I.2 Tujuan Rencana Kegiatan

I.2.1 Tujuan Umum Rencana Kegiatan


Tujuan umum rencana kegiatan pembangunan pusat perbelanjaan adalah
untuk menyediakan sarana dan prasarana guna pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakat sekitar, menyediakan lapangan pekerjaan baru, mendorong
masyarakat agar lebih produktif, sekaligus mampu meningkatkan pendapatan
regional. Sedangkan secara khusus, rencana kegiatan pembangunan kawasan
pusat perbelanjaan Pakuwon Mall merupakan sarana dan prasarana yang di
bangun untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar secara lengkap, baik dari
kebutuhan pokok, hingga kebutuhan menyangkut gaya hidup, yang dikelola
secara professional dan baik untuk meningkatkan efisiensi dari aktivitas sehari-
hari, khususnya bagi masyarakat yang mempunyai aktivitas dan jam kerja yang
padat.

I.2.2 Manfaat Rencana Kegiatan Bagi Masyarakat


Adapun manfaat yang dapat diperoleh masyarakat sekitar dari rencana
pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall, yaitu terpenuhinya berbagai
kebutuhan masyarakat sekitar, yang didukung dengan kelengkapan tenant yang
tersedia di dalam Pakuwon Mall.

2
1.2.3 Manfaat Rencana Kegiatan Bagi Peranan Terhadap
Pembangunan Nasional
Rencana kegiatan pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall sangat
berperan penting terhadap pembangunan nasional. Pusat perbelanjaan sangat
mendukung dalam pelaksanaan pembangunan perekonomi, baik dalam skala
Surabaya, provinsi Jawa Timur, hingga skala Nasional.

I.3 Pelaksanaan Studi

I.3.1 Identitas Pemrakarsa dan Penanggung Jawab


Pemrakarsa proyek pembangunan Pakuwon Mall :
Nama : PT. Pakuwon Permai
Alamat : Jl. Puncak Indah Lontar 2 Villa Pakuwon Trade
Center Lt. LG 47, Lontar, Lakarsantri, Surabaya.
Telepon : 031-7390888
Fax : 031-7390360
Kode Pos : 60216
Penanggung Jawab
Nama : Alexander Tedja
Jabatan : Direktur Utama
Status Lokasi : Hak Milik Negara

I.3.2 Penyusunan Studi AMDAL


Penyusunan Studi AMDAL ini dilakukan oleh para tenaga yang ahli di
bidangnya. Susunan tenaga ahli berlisensi ketua, anggota penyusunan AMDAL
dan tenaga ahli di bidangnya masing-masing melalui penugasan dari pemrakarsa
adalah sebagai berikut :
Nama Lembaga : PT. Mitra Hijau Consultant
Penanggung Jawab : Yurry Aditya Pratama, S.T
Jabatan : Ketua Tim Studi AMDAL
Alamat Kantor Pusat: Rungkut Mapan Tengah VIII CH-05, Rungkut,
Surabaya
Telepon dan Fax : 031-7354211
E-mail : yurryaditya@gmail.com

3
No. Registrasi : 888/DF/AMDAL-1/LFH/KLH
Tim penyusun dari studi AMDAL ini dapat dilihat pada Tabel 1.1

Tabel 1.1 Tim Penyusun Studi AMDAL

No. Nama Jabatan Pendidikan


1. Yurry Aditya Pratama, S.T Ketua Tim S1 Teknik Lingkungan

2 Marina Setia Putri, S.T Tenaga Ahli S1 Teknik Lingkungan


3 Anita Budiarti, S.T Tenaga Ahli S1 Teknik Lingkungan
4 Masterina Sufiati Farid, S.T Tenaga Ahli S1 Teknik Lingkungan
5 M. Rasich Nabil A., S.T Tenaga Ahli S1 Teknik Lingkungan

4
BAB II

PELINGKUPAN

II.1 Deskripsi Rencana Kegiatan Yang Akan Dikaji

II.1.1 Status Studi AMDAL


Status studi AMDAL adalah kedudukan pelaksanaan terhadap studi
kelayakan. Studi kelayakan adalah studi yang berkaitan dengan rencana kegiatan
yang difokuskan pada kelayakan teknis dan ekonomis, dimana studi AMDAL
merupakan bagian di dalamnya. Status studi AMDAL pada rencana kegiatan ini
dilakukan bersamaan dengan kegiatan studi kelayakan dan terintegrasi. Rencana
kegiatan ini merupakan eksisting yang belum memiliki dokumen lingkungan.

II.1.2 Kesesuaian Lokasi Kegiatan Dengan Rencana Tata Ruang

II.1.2.1 Lokasi Kegaitan


Secara administrasi, wilayah kegiatan terletak di Kecamatan Wiyung, Kota
Surabaya, Jawa Timur. Dalam perencanaan pembangunan akan memakai lahan
seluas 30 Ha, dimana status lahan yang akan digunakan adalah 100% kepemilikan
PT. Pakuwon Permai. Batas-batas lahan dari rencana kegiatan adalah sebagai
berikut :
- Sebelah utara : Kecamatan Dukuh Pakis
- Sebelah timur : Kecamatan Jambangan
- Sebelah barat : Kecamatan Lakarsantri
- Sebelah selatan : Kecamatan Karangpilang

5
II.1.2.2 Kesesuaian Dengan Tata Ruang
Lokasi rencana kegiatan dilihat dari peraturan daerah tentang perencanaan
tata ruang wilayah yang ada, yaitu Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 12 Tahun
2014 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya Tahun 2014-
2034. Lokasi rencana kegiatan pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall
berdasarkan Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 12 Tahun 2014 tentang Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya Tahun 2014-2034 termasuk dalam
pasal 50 ayat (1) yang menyebutkan bahwa kawasan perdagangan dan jasa
sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 ayat (2) huruf b, dikembangkan
berdasarkan jenis perdagangan dan jasa serta skala pelayanan. Pada ayat (5)
disebutkan bahwa kawasan pengembangan pusat perbelanjaan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) poin b meliputi pengembangan secara koridor pada
sepanjang Jl. Mayjend Sungkono, Jl. Mulyosari, Jl, Kutisari, Jl. Ngagel-Pucang,
Jl. Kertajaya, Jl. A. Yani, Jalan lingkar luar barat, lingkar dalam barat, Jl.
Kalianak, Jl. Darmawangsa, Jl. H.R. Muhammad. Lokasi pusat perbelanjaan
Pakuwon Mall itu sendiri berada di Jl. H.R. Muhammad, oleh karena itu Pakuwon
Mall termasuk ke dalam pusat perbelanjaan yang dimaksudkan pada pasal 5 ayat
(2).

II.1.3 Deskripsi Rencana Kegiatan

II.1.3.1 Tahap Pra Konstruksi


Pada tahap pra konstruksi, kegiatan yang dilakukan adalah survey awal,
pengurusan izin, studi AMDAL, sosialisasi rencana kegiatan dan pengukuran.
Secara umum, kegiatan tersebut di jabarkan sebagai beirkut :
1. Survey Awal
Kegiatan survey awal dilakukan dengan mendatangi lokasi untuk
peninjauan keadaan lokasi dan untuk mengetahui kondisi lahan yang akan
digunakan untuk pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall.
2. Pengurusan Izin
Pengurusan izin ini dilakukan untuk memastikan, bahwa kegiatan
pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall sudah sesuai dengan
peraturan perundangan yang berlaku,, baik peraturan yang ditetapkan oleh

6
pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah. Kegiatan pengurusan izin ini
juga menghindari potensi masalah yang muncul saat kegiatan konstruksi
maupun operasi nantinya. Pengurusan izin dilakukan kepada instansi yang
terkait, baik di pusat, maupun di daerah.
3. Studi AMDAL
Kegiatan studi AMDAL dilakukan untuk mengkaji dampak apa saja yang
akan timbul saat dilakukan tiga tahap, yaitu pra konstruksi, konstruksi, dan
operasional. Dengan adanya kajian tersebut, akan diketahui dampak dari segi
fisika, kimia, geologi, social ekonomi, kesehatan masyarakat, transportasi,
dan biologi oleh para ahli sesuai dengan survey yang akan dilakukan.
4. Sosialisasi Rencana Kegiatan
Kegiatan sosialisasi rencana kegiatan, merupakan kegiatan tahap keempat
saat tahap pra konstruksi. Sosialisasi rencana kegiatan dilakukan dengan
sasaran utama yaitu masyarakat sekitar yang berada di wilayah kegiatan
rencana pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall, untuk memberi
informasi secara transparan atas rencana kegiatan pembangunan yang akan
dilakukan dari tahap pra konstruksi, konstruksim dan operasional. Dengan
adanya sosialisasi rencana kegiatan, maka dapat dijadikan pertimbangan bagi
rencana kegiatan. Selain itu, sosialisasi juga perlu dilakukan terhadap
masyarakat yang mengelola lahan pertanian dan perikanan. Dalam sosialisasi
rencana kegiatan, perlu dilakukan koordinasi dengan dinas-dinas yang terkait.
5. Pengukuran
Kegiatan pengukuran merupakan kegiatan terakhir pada tahap pra
konstruksi sebelum ke tahap konstruksi. Kegiatan pengukuran ini, bertujuan
untuk mengetahui luasan lahan rencana pembangunan pusat perbelanjaan
Pakuwon Mall, yang nantinya akan dipetakan kembali untuk luasan
sebenarnya yang akan dibangun di Pakuwon Mall.

II.1.3.2 Tahap Konstruksi


Pada tahap konstruksi, kegiatan yang dilakukan adalah pemagaran lahan
areal proyek, persiapan lahan, penyidikan tanah, mobilisasi tenaga kerja,
mobilisasi alat berat dan material, pembangunan dan pengoperasian base camp
pekerja, pembangunan sarana penunjang, pekerjaan konstruksi bangunan bawah

7
(pemancangan tiang pancang dan pondasi), pekerjaan konstruksi bangunan atas.
Secara umum, kegiatan tersebut di jabarkan sebagai beirkut :
1. Pemagaran Lahan Areal Proyek
Kegiatan pemagaran lahan areal proyek bertujuan untuk melindungi tanah
pada lokasi proyek, agar tidak dimanfaatkan oleh orang lain. Kegiatan
tersebut dilakukan dengan cara pemasangan seng pada sisi tanah.
2. Persiapan Lahan
Persiapan lahan ini merupakan kegiatan untuk mempersiapkan lahan yang
akan digunakan untuk rencana kegiatan pembangunan pusat perbelanjaan
Pakuwon Mall. Dalam kegiatan ini, dilakukan pekerjaan pembersihan
tanaman liar dan sampah. Pekerjaan persiapan lahan ini diperkirakan
membutuhkan waktu kurang lebih selama 1 bulan.
3. Penyidikan Tanah
Kegiatan penyidikan tanah, meliputi kegiatan pemeriksaan jenis tanah
pada lokasi proyek.
4. Mobilisasi Tenaga Kerja
Perekrutan tenaga kerja konstruksi akan dilaksanakan langsung oleh pihak
kontraktor pelaksanaan. Pihak kontraktor akan mengarahkan tenaga kerja
seperti operator untuk alat-alat berat, mekanik, dan elektrik,s edangkan
tenaga kerja lainnya sebagai tenaga pendukung operator, tukang, mekanik,
elektrik akan direkrut dari penduduk sekitar. Di samping itu, akan
mengarahkan tenaga kerja sebagai pengawas kontraktor.
Perekrutan tenaga kerja, sebisa mungkin disyaratkan memprioritaskan
tenag akerja local atau masyarakat setempat. Tenaga kerja yang dibutuhkan
memiliki keahlian ataupun keterampilan yang memenuhi persyaratan yang
ditetapkan oleh pihak kontraktor. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah tenaga
kerja bidang konstruksi yang meliputi tenag aahli, tenag aterampil, dan
ttenaga pembantu
5. Mobilisasi Alat Berat dan Material
Lokasi rencana pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall ditempuh
melalui Jl. Mayjend Sungkono, kemudian melalui Jl. H.R. Muhammad, dan
Jl. Mayjend Yono Suwoyo. Mobilisasi alat berat dan material adalah kegiatan

8
pengiriman alat berat dan material ke lokasi tapak proyek. Pekerjaan
konstruksi akan dilaksanakan dengan menggunakan alat-alat berat seperti
bulldozer, excavator, stoom walls, motor grader, dan dump truck. Dalam
melakukan mobilisasi alat berat dan material, perlu dilakukan koordinasi
dengan warga sekitar dan Polsek Wiyung, sehingga disepakati bahwa
kegiatan mobilisasi dilakukan di jam dan rute yang telah disepakati.
6. Pembangunan dan Pengoperasian Base Camp Pekerja
Basecamp merupakan kantor lapangan selama kosntruksi.Selain kantor,
basecamp juga sangat diperlukan pada saat proses pembangunan yang dapat
digunakan sebagai tempat penyimpanan sementara alat-alat dan bahan yang
digunakan, serta tempat penginapan sementara bagi pekerja konstruksi.
Basecamp dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas sebagai berikut :
a. Tempat tinggal untuk pekerja
b. Mess tenaga ahli
c. Ruang rapat
d. Tempat ibadah
e. Fasilitas air bersih
f. MCK
g. Tempat sampah sementara (wadah sampah komunal)
7. Pembangunan Sarana Penunjang
Kegiatan konstruksi meliputi konstruksi gedung dan sarana penunjang
jalan, saluran drainase, instalasi jaringan telepon, pemadam kebakaran,
jaringan listrik, saluran air bersih dan instalasi pengolahan air limbah.
8. Pekerjaan Konstruksi Bangunan Bawah (Pemancangan Tiang Pancang dan
Pondasi)
Pekerjaan konstruksi bangunan bawah pada pembangunan pusat
perbelanjaan Pakuwon Mall ini adalah pekerjaan pondasi pemancangan dan
pembangunan basement.
9. Pekerjaan Konstruksi Bangunan Atas
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan struktur bangunan atas, mekanikal,
elektrikal, dan pekerjaan finishing. Struktur bangunan atas menggunakan
beton bertulang. Untuk melakukan pengecoran beton dipergunakan beton

9
ready mix, sesuai dengan kualitas dan jumlah yang dipersyaratkan.
Pengecoran ini tidak dilakukan sekaligus untuk keseluruhan lantai bangunan
atas, tetapi dilakukan secara bertahap sesuai dengan kemajuan kegiatan.

II.1.3.3 Tahap Operasional


Pada tahap operasional, kegiatan yang dilakukan adalah pemenuhan tenaga
kerja operasional, pengoperasian pusat perbelanjaan Pakuwon Mall, dan
pemeliharaan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall. Secara umum, kegiatan tersebut
di jabarkan sebagai beirkut :
1. Pemenuhan Tenaga Kerja Operasional
Pembangunan proyek Pakuwon Mall, membuka peluang kerja bagi
masyarakat sekitar proyek, TTenaga kerja di Pakuwon Mall terdiri dari
karyawan tetap dan karyawan kontrak. Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk
operasional kegiatan ini akan diprioritaskan berasal dari lingkup lokasi
sekitar terlebih dahulu. Apabila kuota dari masyarakat sekitar tidak
memenuhi, maka akan dibuka kuota untuk lingkup lebih luas lagi sesuai
dengan ketentuan.
2. Pengoperasian Pakuwon Mall
Kegiatan pengoperasian Pakuwon Mall ini yaitu pada saat aktivitas sehari-
hari, dimulai dari jam 10.00 – 22.00 WIB, setelah kegiatan proyek selesai. Di
tahap ini mencakup kegiatan jual beli, marketing, konsumsi, perkantoran, dan
kegiatan lain yang menghasilkan air limbah dan timbulan sampah.
3. Pemeliharaan Pakuwon Mall
Kegiatan pemeliharaan bangunan Pakuwon Mall dan sarana
penunjangnya, dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi bangunan
dan fasilitas penunjangnya tetap baik. Kegiatan pemeliharaan bangunan ini
meliputi kegiatan pembersihan, perawatan, dan lain-lain. Kegiatan
pemeliharaan ini termasuk penyediaan sumber air bersih untuk MCK,
penyediaan sumber daya listrik, dan kebersihan kondisi dalam Pakuwon
Mall.

10
II.2 Deskripsi Rona Lingkungan Hidup Awal (Environmental Settling)

II.2.1 Komponen Lingkungan Terkena Dampak


Komponen lingkungan yang terkena dampak, merupakan komponen atau
features kegiatan serta kondisi lingkungannya, yang pada dasarnya paling sedikit
memuat:
1. Komponen Geo Fisik Kimia
Keadaan iklim di wilayah sekitar lokasi rencana Pembangunan pusat
perbelanjaan Pakuwon Mall akan digambarkan dengan keadaan Suhu Udara,
Curah Hujan, Kecepatan Angin, Arah Angin, dan Kelembaban Udara. Data
sekunder didapatkan dari hasil pencatatan yang dilakukan oleh Badan
Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Surabaya Stasiun
Meteorologi Kelas I Juanda (7º22’28,1”S; 112º46’54,2”E) tahun 2007 s/d
2017. Stasiun pengamatan tersebut dianggap representatif mewakili daerah
lokasi kegiatan karena memiliki karakteristik area yang relatif sama dan
berjarak dekat secara klimatologi.
a. Suhu Udara
Suhu udara maksimum yang tercatat selama tahun 2007 s/d 2017 yaitu
sebesar 36,7ºC pada bulan Oktober 2008, sedangkan suhu udara minimum
selama tahun 2007 s/d 2017 yaitu sebesar 19,7 ºC pada bulan Agustus
2013.
b. Kecepatan Angin
Dari data kecepatan angin bulanan yang tercatat dari data sekunder,
yaitu kecepatan angin rata-rata berkisar 5,5 - 7,1 knots, sedangkan
kecepatan angin rata-rata maksimum berkisar 8,5 - 12,5 knots.
c. Arah Angin
Pada bulan Oktober sampai Desember dan April, angin dominan dari
Barat Laut. Pada bulan Januari sampai Maret, angin dari Timur laut. Arah
angina dari Selatan pada bulan Mei sampai September.
d. Kelembaban Udara
Kelembaban udara tertinggi rata-rata tahunan berkisar antara 83,09%
sampai dengan 89,04%. Kelembaban udara tertinggi sebesar 89,04% dan
kelembaban udara terendah sebesar 83,09%.

11
e. Kualitas Udara Ambien
Gambaran kualitas udara di sekitar lokasi kegiatan didapat dari
sampling udara di lokasi kegiatan dan daerah disekitarnya. Titik lokasi
sampling udara ditentukan berdasarkan SNI 19-7119.6-2005 tentang
penentuan lokasi pengambilan contoh uji pemantauan kualitas udara
ambien. Titik pengambilan sampel terdiri dari 5 titik, 1 titik berada dalam
lokasi kegiatan dan 4 titik lainnya berada di sekitar lokasi kegiatan
letaknya di daerah pemukiman warga. Pengukuran kualitas udara ambien
dilakukan tahun 2017 bulan September. Hasil pengukuran kualitas udara
di area rencana proyek masih memenuhi baku mutu Peraturan Gubernur
Jawa Timur No. 10 Tahun 2009 tentang Baku Mutu Udara Ambien dan
Emisi Sumber Tidak Bergerak di Jawa Timur.
2. Komponen Biologi
a. Flora Darat
Pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon Mall dibangun diatas rawa
dan lahan persawahan di Wiyung. Lahan tersebut merupakan lahan milik
Pakuwon Mall. Kawasan lahan rawa tersebut sebagian ditumbuhi rumput
alang-alang dan rumput gajah.
b. Flora Air
Pembangunan gedung perbelanjaan Pakuwon Mall dibangun diatas
rawa dan lahan persawahan di Wiyung. Lahan tersebut merupakan lahan
milik Pakuwon Mall. Kawasan lahan rawa dan persawahan tersebut
sebagian ditumbuhi tumbuhan air seperti eceng gondok dan kangkung air.
c. Fauna Darat
Jenis fauna darat yang terdapat di lahan kawasan milik Pakuwon Mall
yang dijumpai beberapa jenis hewan reptile, amphibi, invertebrate, insecta
dan aves.
d. Biota Air
Dari hasil pengamatan, warna air yang berada dilahan kawasan
Pakuwon Mall berwarna keruh kecoklatan. Biasanya ditimbulkan karena
adanya lumpur yang bercampuran air dikawasan tersebut. Sedangkan

12
fauna yang habitatnya didalam air tersebut meliputi yuyu, belut, dan
keong.
3. Komponen Sosial, Ekonomi, dan Budaya
a. Komposisi Penduduk Berdasarkan Umur
Komposisi penduduk di Kecamatan Wiyung Dalam Angka tahun 2017,
sebagian besar merupakan kelompok penduduk umur produktif (52%) dan
sisanya merupakan kelompok penduduk umur tidak produktif (48 %).
Untuk melihat sampai sejauh mana ketergantungan komposisi masing-
masing usia penduduk maka dilakukan analisis terhadap kondisi usia
penduduk dengan menggunakan Ratio Angka Beban Tanggungan
(Dependency Ratio) yang diperoleh melalui perbandingan antara
penduduk usia tidak produktif dengan penduduk usia produktif.
Dari hasil perhitungan berdasarkan jumlah penduduk tidak produktif
dan jumlah penduduk usia produktif diperoleh rasio beban ketergantungan
penduduk di Kecamatan Wiyung adalah 69,38. Hal tersebut berarti bahwa
tiap 100 orang penduduk umur produktif harus menanggung 69 orang
penduduk umur tidak produktif.
b. Komposisi Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Menurut data Kecamatan Wiyung tahun 2017, tingkat pendidikan
formal penduduk Kecamatan Wiyung sebagian besar berpendidikan SMA
(71%). Tingkat pendidikan selanjutnya hanya 23% dan sisanya tidak
tamat sekolah.
c. Komposisi Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis pekerjaan di wilayah ini sebagian besar adalah di sektor swasta
dan PNS sebanyak 30% di Kecamatan Wiyung. Sebagian masyarakat di
kecamatan Wiyung mata pencahariannya juga sebagai petani akan tetapi
sebagian tanah lahan petani terpakai sebagai lahan pembangunan proyek
pembangunan Pakuwon Mall.
d. Kondisi Ekonomi
Suatu tempat atau kota sangat mempengaruhi terhadap kondisi
perekonomian, kota Surabaya merupakan ibu Kota Provinsi Jawa Timur,
mempunyai letak yang strategis untuk kegiatan usaha perekonomian

13
seperti perdagangan, ekspor dan impor. Perdagangan meupakan usaha
melakukan penjualan kembali barang-barang baru maupun bekas tanpa
mengalami perubahan teknis. Usaha perdagangan yang ada merupakan
perdagangan besar maupun perdagangan kecil. Perdagangan besar
merupakan usaha dalam partai besar kepada pedagang eceran, industri,
kantor, rumah sakit, dan lain-lain yang meliputi ekspor/impor,
perdagangan besar berdasarkan balas jasa. Sedangkan perdagangan kecil
merupakan pedagang eceran yang umumnya langsung kepada konsumen
dengan pembelanjaan yang mayoritas sedikit.
Dari data total nilai PRDB Kota Surabaya pada tahun 2017 sebesar
451.486.791 dengan perkiraan pada 20 tahun mendatang jumlah
perekonomian Kota Surabaya meningkat 25% dengan nilai PRDB sebesar
564.358.488,75 yang artinya pendapatan penduduk kota Surabaya
meningkat dengan kategori naik. Dengan demikian pembangunan proyek
perbelanjaan Pakuwon Mall berdampak positif sesuai dengan tujuan yaitu
memperbaiki perekonomian daerah setempat.
e. Budaya
Surabaya merupakan kota multi etnis yang kaya budaya, seperti etnis
Melayu, Cina, India, Arab, dan Eropa. Etnis Nusantarapun dapat
dijumpai, seperti Madura, Sunda, Batak, Kalimantan, Bali, Sulawesi yang
membaur dengan penduduk asli Surabaya membentuk pluralisme budaya
yang selanjutnya menjadi cirri khas Kota Surabaya. Sebagian besar
masyarakat Surabaya adalah orang Surabaya asli dan orang Madura.
Sikap kesabaran orang Jawa sangat mengesankan cinta perdamaian,
sementara orang Madura lebih terbuka dan berterus terang. Percampuran
nilai-nilai kedua etnis tersebut menjadi ciri khas masyarakat Surabaya
lebih bersifat (1) terbuka, (2) pragmatis, (3) egaliter, (4) terus terang dan
lebih kritis, (5) lugas, dan (6) berani. Percampuran nilai ini pada akhirnya
menjadi cirri khas sifat budaya Surabaya lebih dikenal dengan sebutan
“Budaya arek Suroboyo”
Dialek Arekan atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Arekan
(Bahasa Jawa : boso Arekan) atau bahasa Suroboyoan adalah sebuah

14
dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek
ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan
sekitarnya. Secara struktural bahasa, bahasa Suroboyoan dapat dikatakan
sebagai bahasa paling kasar. Meskipun demikian, bahasa dengan
tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya,
sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Namun penggunaan bahasa
Jawa halus (madya sampai krama) di kalangan orang-orang Surabaya
kebanyakan tidaklah sehalus di Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan
Surakarta dengan banyak mencampurkan kata sehari-hari yang lebih
kasar.
Inilah yang membedakan kota Surabaya dengan kota-kota di
Indonesia. Bahkan cirikhas ini sangat kental mewarnai kehidupan
pergaulan sehari-hari. Sikap pergaulan yang sangat egaliter, terbuka,
berterus terang, kritik dan mengkritik merupakan sikap hidup yang dapat
ditemui sehari-hari. Bahkan kesenian tradisonal dan makanan khasnya
mencerminkan pluralisme budaya Surabaya.
4. Komponen Aspek Kesehatan Masyarakat
Aspek kesehatan masyarakat yang dikaji dalam rona lingkungan adalah
gambaran pola penyakit utama di lokasi proyek, kondisi sanitasi jumlah
pelayanan kesehatan, serta status gizi masyarakat yang diperolah dari
puskesmas setempat yaitu Puskesmas kecamatan Wiyung.
a. Rumah Sakit
Rumah sehat merupakan bangunan rumah tinggal yang memenuhi
syarat kesehatan yaitu memiliki jamban sehat, tempat pembuangan
sampah, sarana air bersih dan lain-lain. Jumlah rumah di wilayah kerja
Puskesmas Wiyung sebanyak 79.978 rumah. Dan sebanyak 79.896 rumah
dilakukan pembinaan dengan hasil 100% kategori memenuhi syarat.
b. Sumber Air Bersih
Sarana akses air bersih dari kecamatan Wiyung dan umumnya di Kota
Surabaya adalah air PDAM dan sumur bor. Berdasarkan data dari laporan
IKPLHD Kota Surabaya, pada tahun 2017 jumlah pengguna air PDAM

15
adalah sebanyak 319.710 orang dan jumlah pengguna sumur bor
sebanyak 200 orang.
Berdasarkan data profil Puskesmas Wiyung tahun 2017, dari sejumlah
sarana air bersih PDAM 79.928 jumlah KK yang memiliki akses air
bersih dan diawasi adalah sebanyak 70.546 (87%), sedangkan kategori
yang memenuhi syarat adalah 79.896 (95%).
c. Akses Terhadap Fasilitas Sanitasi yang Layak
Fasilitas sanitasi layak yang dimaksud adalah jamban dengan kategori
jamban sehat, menurut data puskesmas Wiyung tahun 2017, sebanyak
79.628 jumlah kepala keluarga memiliki akses terhadap jamban dengan
kategori 100% jamban sehat.
d. Fasilitas dan Tenaga Kerja Kesehatan
Untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan sehari-harinya, di Puskesmas
Wiyung terdapat 4 orang dokter umum, 2 orang dokter gigi, 1 orang
apoteker, 2 orang sarjana kesehatan masyarakat, 4 orang perawat, 6 orang
perawat ahli madya, 3 orang perawat gigi,6 orang bidan, 1 orang asisten
apoteker, 2 orang sanitarian, 2 petugas gizi dan 2 analis. Fasilitas
kesehatan yang ada di wilayah studi meliputi Puskesmas yang bisa
terjangkau oleh masyarakat baik dalam segi biaya maupun jarak.
e. Status Gizi Balita
Jumlah balita di wilayah kerja Puskesmas Wiyung Tahun 2017 adalah
11.978 anak dan dari jumlah yang melakukan penimbangan bulanan
Posyandu sebanyak 11.236 balita atau 86%. Dari hasil penmbangan
terebut menunjukkan baita gizi lebih atau berat badan lebih sebanyak 20
balita, balita gizi baik (berat badan normal) sebanyak 11.133 balita dan
balita yang berada di bawah garis merah (BGM) adalah 83 balita.
Sedangkan jenis penyakit menular yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Wiyung tahun 2017 adalah TB Paru, Pneumonia, HIV AIDS, IMS, Diare,
Kusta dan DBD.

16
II.3 Hasil Pelibatan Masyarakat

II.3.1 Pelibatan Masyarakat


Pelibatan masyarakat merupakan bagian proses pelingkupan. Pelibatan
masyarakat dilakukan melalui pengumuman dan konsultasi publik.
1. Pengumuman
Pengumuman dilakukan di media cetak
2. Konsultasi Publik
Konsultasi publik dilakukan di Kantor Kecamatan Wiyung yang dihadiri
oleh DLH Kota Surabaya, Lurah-lurah kecamatan sekitar, Satpol PP, LSM, Polsek
Wiyung, Binwas Pol, Polsek, LPMK, warga sekitar dan tokoh masyarakat.
Konsultasi publik dilakukan juga dengan cara penyebaran ke berbagai masyarakat
yang hadir. Berdasarkan hasil kegiatan sebar kuesioner dan konsultasi publik yang
sudah terlaksana, dilakukan pengolahan data dengan menggunakan aplikasi
Microsoft excel sehingga diperoleh diagram sebagai berikut :
Dari diagram-diagram diatas diperoleh ringkasan saran dan masukan sebagai
berikut:
1. Agar memperhatikan dampak lalu lintas/Andalalin baik saat pembangunan
maupun nanti pada saat operasional kawasan industri. Khusus untuk
mobilisasi kendaraan material bangunan agar dilakukan pada malam hari agar
tidak menggangu lalu lintas jam sibuk.
2. Supaya memperhatikan dan membenahi saluran drainase yang direncanakan,
karena saluran drainase dari kawasan industry berhubungan langsung dengan
saluran drainase warga di area kampung.
3. Memberdayakan warga sekitar dari sejak awal pekerjaan untuk dilibatkan
sebagai tenaga kerja dalam proses pembangunan.
4. Agar selalu memperhatikan gangguan keamanan. Selalu berkoordinasi dan
komunikasi dengan warga sekitar dan tokoh masyarakat yang ditunjuk
sebelum pembangunan di mulai. Diharapkan terjalin kerja sama yang baik
dengan berbagai elemen, Muspika, kelurahan dan masyarakat setempat, RT
dan RW khususnya di Kecamatan Wiyung.

17
5. Agar tidak melakukan pencemaran tanah, dan memperhatikan dampak yang
berpotensi akan muncul seperti polusi udara, limbah, debit air limpasan, dan
sebagainya.
6. Diharapkan akan berdampak positif terhadap peluang usaha warga seperti
membuka usaha warung makan bagi tenaga kerja pabrik, kos-kosan, dll, dari
adanya pembangunan kawasan industry tersebut.
7. Agar dilakukan pertemuan antara pihak kawasan Pakuwon Mall dan
pengurus kecamatan guna membahas lokasi kegiatan pembangunan,
kejelasan batas pembangunan dan pemukiman. Mengkoordinasikan dan
menyelesaikan terlebih dahulu dengan warga persoalan mengenai tangkis.
Tanah-tanah yang tangkis dan sungai-sungai agar dibicarakan terlebih dahulu.
8. Pemrakarsa wajib konsisten menjalankan RKL dan RPL yang telah disusun
dan disepakati bersama.
9. Menyelesaikan dan memberi kejelasan apakah ada ganti rugi bila ada aset
kampung dan masalah tanaman yang selama ini ada.
10. Menyarankan agar pada saat konstruksi menggunakan tiang pancang dengan
sistem suntik.
11. Agar memperhatikan dampak budaya sosial bagi warga sekitar dan
diharapkan pelaksanaan pembangunan yang beradap dan humanis
12. Pembangunan kawasan industri akan berdampak pada kemajuan Rungkut
menjadikan wilayah yang lebih tertata dengan rapih dan lebih maju serta
disisi lain bermanfaat bagi warga yang belum memiliki pekerjan bagi yang
akses lebih dekat. Sehingga dengan hal tersebut pembangunan diharapkan
berjalan sesuai dengan harapan.

II.4 Dampak Penting Hipotetik

II.4.1 Identifikasi Dampak Potensial


Pada tahap ini, kegiatan pelingkungan dimaksudkan untuk
mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (pimer, sekunder dan
seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana
kegiatan. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potnsial yang mungkin
akan timbul tanpa memperhatikan penting tidaknya dampak. Dengan demikian

18
pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut
merupakan dampak penting dan juga akan dikaji atau tidak pada studi ANDAL
nantinya.

II.4.2 Evaluasi Dampak Potensial


Evaluasi dampak potensial bertujuan untuk meniadakan dampak potensial
yang dianggap tidak relevan/tidak penting, sehingga diperoleh dampak penting
hipotetik yang perlu ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Dampak
penting hipotetik yang muncul dari proses pelingkupan dari interaksi rencana
kegiatan dan komponen lingkungan untuk masing-masing, misalnya :
1. Tahap Pra Konstruksi
2. Tahap Konstruksi
3. Tahap Operasional

19
BAB III

METODE STUDI

Sesuai dengan pelingkupan Studi ANDAL seperti telah diuraikan dalam


Bab II, pada bagian Metode Studi ini akan diuraikan mengenai metodologi yang
digunakan dalam penyusunan AMDAL pembangunaan pusat perbelanjaan
Pakuwon Mall yang terdiri dari :
1. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data
2. Metoda Prakiraan Dampak Penting
3. Metoda Evaluasi Dampak Penting
Diagram alir pendekatan studi dapat dilihat pada Gambar 3.1

Gambar 3.1 Diagram Alir Pendekatan Studi ANDAL

III.1 Metode Pengumpulan dan Analisis Data


Pengumpulan dan analisis data berupa parameter-parameter dari berbagai
komponen lingkungan perlu dilakukan untuk :
1. Menelaah, mengamati, dan mengukur rona lingkungan awal yang
diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting dari kegiatan proyek .

20
2. Menelaah, mengamati, dan mengukur komponen rencana kegiatan yang
diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting dari lingkungan hidup
sekitarnya.
3. Memprakirakan kualitas lingkungan akibat kegiatan proyek berdasarkan
perhitungan pada data (parameter) rona lingkungan awal.
Secara umum lokasi-lokasi pengambilan data ditetapkan pada lokasi yang
termasuk daerah wilayah studi. Dengan cara ini kondisi atau rona lingkungan awal
pada lokasi-lokasi yang berpotensi menerima dampak dapat terukur (teramati)
sehingga nantinya besaran dampak di wilayah studi dapat diprakirakan.
Komponen lingkungan dan parameter yang harus diukur, diamati, beserta metode
pengumpulan dan analisisnya diuraikan sebagai berikut.

III.1.1 Komponen Fisika-Kimia


1. Kualitas Udara Ambien
a. Metode Pengumpulan Data
Penentuan titik/lokasi sampling didasarkan atas pertimbangan arah dan
kecepatan angin yang dihubungkan dengan tapak rencana kegiatan.
Penentuan lokasi pengambilan sampel kualitas udara mengikuti SNI 19-
7119.6-2005 tentang Penentuan lokasi pengambilan contoh uji
pemantauan kualitas udara ambien. Parameter kualitas udara ambien yang
akan dianalisis dan dibandingkan dengan baku mutu PP RI No. 41 tahun
1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara dan Peraturan Gubernur
Jawa Timur No. 10 Tahun 2009 Tentang Baku Mutu Udara Ambien dan
Emisi Sumber tidak Bergerak. Gas yang telah 'ditangkap' oleh pereaksi
kimia dalam tabung impinger kemudian dianalisis dengan menggunakan
spektrofotometer, kecuali untuk gas CO menggunakan titrasi.
Pengambilan contoh partikel debu dilakukan dengan menggunakan
pompa udara berkekuatan tinggi (high volume sampler) dengan
dilengkapi filter khusus, kemudian dianalisis secara gravimetri. Setelah
ditimbang, melalui filter tersebut ditentukan kandungan logamnya dengan
mendestruksi kertas filter dan dianalisis dengan AAS (Atomic Absorption
Spectrophotometer).
b. Metode Analisis Data

21
Analisis kualitas udara akan dilakukan sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia tentang Hasil pengukuran selanjutnya dibandingkan dengan
baku mutu lingkungan udara ambien yang tercantum pada PP RI No. 41
Tahun 1999 dan Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 10 Tahun 2009
Tentang Baku Mutu Udara Ambien dan Emisi Sumber tidak Bergerak.
2. Tingkat Kebisingan
a. Metode Pengumpulan Data
Kebisingan akan diukur secara langsung dengan menggunakan sound
level meter di lokasi yang sama dengan lokasi pengukuran/pengambilan
sampel udara ambient dan di lokasi pemukiman penduduk sekitar
Pakuwon Mall.
b. Metode Analisis Data
Untuk kebisingan analisis data dilakukan dengan membandingkan tingkat
kebisingan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.
48/MENLH/XI/1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan.

III.1.2 Komponen Hidrologi


1. Potensi Banjir
a. Metode Pengumpulan Data
Data mengenai aspek air larian yang dikumpulkan meliputi data primer
dan data sekunder. Data primer yang dikumpulkan adalah: pola aliran air
sungai sebagai badan air penerima dari rencana kegiatan. Selain itu
dilakukan pula pengukuran debit air sungai secara langsung di lapangan
dan pengumpulan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Data
lainnya yang dikumpulkan berupa data curah hujan (5 tahun terakhir)
yang diperoleh dari stasiun pengamat terdekat dengan lokasi rencana
kegiatan.
b. Metode Analisa Data
Jaringan drainase ini berupa saluran-saluran pembuangan air hujan
dimana dimensi saluran dihitung berdasarkan metoda rasional.
2. Kualitas Air
a. Metode Pengumpulan Data

22
Studi komponen lingkungan hidrologi meliputi komponen-komponen
fisika dan kimia air sungai. Pengambilan sampel di sungai yang
berdekatan dengan wilayah studi. Pelaksanaan pengambilan sampel ini,
sangat berpengaruh terhadap keakuratan hasil analisis laboratorium.
Mengingat kesalahan pada saat pengambilan sampel akan mempengaruhi
struktur dan komposisi fisika-kimia air sampel tersebut, maka ketelitian
dalam pengambilan sampel sangatlah mutlak. Beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi antara lain: peralatan, bahan penolong, sarana
pengambilan sampel, volume contoh, pola kerja, cara pengawetan, dan
waktu pengambilan. Keseluruhan metode tersebut akan disesuaikan
dengan SNI. 06 – 2412 – 1991.
b. Metode Analisis Data
Sampel dianalisis di laboratorium dan hasilnya dibandingkan dengan baku
mutu yang berlaku yaitu Peraturan Daerah Kota Surabaya No 2 tahun
2004 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran
Air .

III.1.3 Komponen Biologi


1. Flora Darat
a. Metode Pengumpulan Data
Pengambilan/pengumpulan data flora darat diperoleh dengan
menggunakan teknik plot quadrat sampling. Ukuran kuadrat 10 x 10 m
untuk stara pohon. Adapun penempatan kuadrat tersebut ditentukan secara
sestematik random sampling. Pengamatan terhadap budidaya dilakukan
dengan inventarisasi, pengamatan langsung dan wawancara tentang jenis
tanaman yang dibudidayakan sekitar wilayah Pakuwon Mall.
b. Metode Analisis Data
Data-data flora darat dianalisis untuk mengetahui indeks diversitas,
frekuensi, kerapatan dan nilai penting. Parameter yang ditelah meliputi :
- Indeks inversitas /keanekaragaman untuk komunitas flora darat.
2. Flora Air
a. Metode Pengumpulan Data

23
Pengambilan/pengumpulan data flora air diperoleh dengan menggunakan
teknik plot quadrat sampling. Adapun penempatan kuadrat tersebut
ditentukan secara sestematik random sampling. Pengamatan terhadap
budidaya dilakukan dengan inventarisasi, pengamatan langsung dan
wawancara tentang jenis tanaman yang dibudidayakan sekitar wilayah
Pakuwon Mall.
b. Metode Analisis Data
Data-data flora air dianalisis untuk mengetahui indeks diversitas,
frekuensi, kerapatan dan nilai penting.
3. Fauna Darat
a. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data jenis-jenis satwa liar (anggota kelas amphibi, reptile
aves, insect, dan invertebrata) dilakukan dengan pengamatan langsung
(dengan bantuan teropong binokuler) dan tidak langsung (jejak, kotoran,
bagian tubuh yang ditinggalkan, wawancara) dan atau dengan
menggunakan data sekunder. Parameter yang akan ditelaah terdiri dari :
- Kekayaan Jenis
Untuk mengetahui kekayaan jenis satwa liar di lokasi kegiatan dan
sekitarnya, diperlukan pemahaman pengenalan jenis / spesies
berdasarkan hasil identifikasi. Identifikasi jenis satwa liar: amphibi,
reptile aves, insect, dan invertebrate.
- Tingkat Kelimpahan
Jenis tingkat kelimpahan jenis akan dibedakan menjadi banyak sedang
dan sedikit.
b. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan menelaah adanya
jenis-jenis yang dilindungi atau nilai lain bagi masyarakat sekitar.
4. Biota Air
a. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data belut, yuyu dan lain-lain didasarkan pada pengamatan
langsung terhadap hasil tangkapan pencari belut dan melakukan
wawancara lansung dengan masyarakat setempat.

24
b. Metode Analisis Data
Data jenis-jenis ikan yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan
menelaah kemungkinan adanya jenis-jenis biota air yang ada di rawa.

III.1.4 Komponen Transportasi


a. Metode Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan untuk memperkirakan dampak pada komponen
transportasi meliputi volume kendaraan, geometri ruas jalan dan simpang,
jenis dan kondisi kerusakan jalan, kecelakaan lalu lintas serta kecepatan
sesaat pada lokasi yang berpotensi membangkitkan pejalan kaki. Jenis
data dan metode pengumpulan data dapat diuraikan sebagai berikut :
- Volume arus lalu lintas
Metode pengambilan data volume arus lalu lintas dilakukan dengan
metode pencacahan arus lalu lintas tiap jenis kendaraan (traffic
counting) pada ruas jalan.
- Geometri ruas jalan dan simpang
Data geometri ruas diperoleh dengan cara pengukuran langsung
maupun data sekunder dari instansi berwenang, untuk mendapatkan
data berupa lebar laju, lebar perkerasan total, dan lebar bahu jalan.
Data lain yang diperlukan meliputi fasilitas kelengkapan jalan, yaitu
meliputi rambu dan marka jalan.
- Kecepatan setempat
Data kecepatan setempat (speed) diperoleh dengan pengukuran
langsung dengan cara mengamati waktu tempuh pada jarak 50 m pada
ruas jalan untuk setiap jenis kendaraan bermotor secara acak. Waktu
pengukuran dilakukan bersamaan dengan pengambilan data volume
arus lalu lintas (traffic counting).
- Jenis dan kondisi kerusakan jalan
Mengamati seara langsung kondisi perkerasan jalan khususnya pada
ruas jalan yang akan dijadikan sebagai rute angkutan barang/material.
Data lain yang diperlukan adalah kondisi jembatan yang berada di
sepanjang ruas jalan.
- Tingkat Kecelakaan

25
Data tentang kecelakaan diperoleh berdasarkan wawancara dengan
warga yang tinggal di sekitar ruas jalan yang dijadikan rute angkutan
barang serta data sekunder dari Polsek Wiyung.
b. Metode Analisis Data
- Kapasitas ruang jalan
Kapasitas ruas jalan perkotaan dapat diketahui dengan mengacu
pedoman dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) tahun 1997.
- Kinerja ruas jalan
Penliaian kinerja ruas jalan dimaksudkan untuk mengetahui kondisi
tingkat pelayanan yang ada saat ini dan kondisi setelah ada perubahan
kondisi arus lalu lintas berdasarkan perbandingan antara volume
kendaraaan yang lewat (V) dibandingkan kapsitas ruas jalan (C).
- Simpang tidak bersinyal
Berdasarkan pedoman dari Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI)
1997.
- Kinerja simpang tak bersinyal
Kinerja simpang tidak bersinyal ditentukan berdasarkan nilai tundaan
lalu lintas yang terjadi (DT).

III.1.5 Komponen Kesehatan Masyarakat


1. Peningkatan Timbulan Sampah
a. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengetahui jumlah peningkatan timbulan sampah maka dilakukan
sebuah metode pengumpulan data dengan mengambil data primer yaitu
dengan cara survey langsung ke lapangan.
b. Metode Analisis Data
Hasil analisis untuk mengetahui jumlah peningkatan timbulan sampah,
maka dapat menggunakan perhitungan laju timbulan sampah.
2. Peningkatan Limbah Domestik
a. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengetahui jumlah peningkatan limbah domestik maka dilakukan
pengumpulan data primer berupa perhitungan.
b. Metode Analisis Data

26
Hasil analisis data mengenai peningkatan limbah domestik dapat
diketahui dengan melakukan pembandingan data primer dengan parameter
yang diteliti sebelum dan sesudah kegiatan dengan menggunakan metode
matematis.
3. Terjadinya Gangguan Kesehatan
a. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengetahui terjadinya gangguan kesehatan akibat adanya kegiatan
proyek maka untuk mendapatkanya yaitu dari data sekunder yang
diperoleh dari Dinas Kesehatan Wiyung.
b. Metode Analisis Data
Kemudian metode analisis data yang digunakan mengetahuui terjadinya
gangguan kesehatan adalah dengan cara membandingkan data primer
dengan parameter yang diteliti sebelum dan sesudah kegiatan dengan
menggunakan metode matematis.
4. Resiko Kecelakaan Kerja
a. Metode Pengumpulan Data
Untuk mengetahui metode pengumpulan data mengenai resiko kecelakaan
kerja dapat diketahui dengan mencari data primer berupa survey langsung
di lokasi proyek.
b. Metode Analisis Data
Dengan hal tersebut maka metode analisis data dapat dilakukan dengan
cara menghitung jumlah kecelakaan kerja di lokasi proyek secara
langsung serta mengitung prosentase kecelakaan kerja.

III.1.6 Komponen Sosial, Ekonomi, Budaya


a. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis data yang
diperlukan, yaitu :
- Data primer
Data primer yang dikumpulkan langsung dari masyarakat, khususnya
untuk berbagai jenis data kependudukan, seperti dirumuskan dalam
berbagai aspek kependudukan, disajikan di bagian lain di atas,
terkecuali untuk menghitung kepadatan dan tingkat pertumbuhan

27
penduduk yang dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder. Data
primer yang dikumpulkan langsung dari masyarakat, khususnya untuk
berbagai jenis data kependudukan, seperti dirumuskan dalam berbagai
aspek kependudukan, disajikan di bagian lain di atas. Aspek kehidupan
atau aktivitas sosial yang lain, seperti karakteristik kependudukan,
pemanfaatan sumber daya alam, sumber-sumber penghasilan, konflik
dan mekanisme pemecahan persoalan, serta persepsi penduduk
terhadap rencana kegiatan pembangunan pusat perbelanjaan Pakuwon
Mall seluruhnya akan digali dengan mencari data langsung atau
primer.
- Data sekunder
Data sekunder adalah sumber data penelitian yang diperoleh melalui
media perantara atau secara tidak langsung yang berupa buku, catatan,
buku yang telah ada, atau arsip baik yang dipublikasikan maupun yang
tidak dipublikasikan secara umum (Maulidi, 2016). Sumber informasi
untuk data sekunder adalah instansi terkait, seperti Pemerintah Kota
Surabaya, Kecamatan dan Kelurahan pihak Pemrakarsa Proyek, atau
lembaga-lembaga pemerintah dan non pemerintah yang memiliki data
sosial-ekonomi dan budaya tapak proyek dan sekitarnya. Data
sekunder yang dicari, antara lain luas dan tataguna lahan, jumlah
penduduk, jenis dan jumlah berbagai institusi ekonomi, politik, dan
sosial dan berbagai data sosial, ekonomi dan budaya lain yang relevan
sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan. Data sekunder yang
dikumpulkan antara lain adalah data luas dan tata guna lahan, jumlah
penduduk, jenis dan jumlah berbagai institusi ekonomi, politik, dan
sosial, dan berbagai data sosial, ekonomi dan budaya lainnya yang
relevan sesuai dengan perkembangan kondisi di lapangan.
Metoda atau teknik pengumpulan data, khususnya data primer
dilakukan dengan tiga cara, yaitu :
 Survey
Survey dilakukan terhadap perwakilan penghuni rumah tangga
sebagai unit sampel penelitian. wawancara untuk pengisian

28
kuesioner akan dilakukan terhadap Kepala Keluarga yang mewakili
unit sosial ekonomi rumah tangganya pada saat sosialisasi publik
berlangsung. Survey sosial ekonomi dan budaya akan menanyakan
berbagai aspek kondisi kependudukan, ekonomi dan budaya yang
dimungkinkan untuk digali dengan metoda atau teknik ini. Sedang
untuk berbagai aspek kehidupan lainnya, seperti sistem, proses dan
mekanisme sosial, aktivitas sosial, ekonomi dan politik suatu
institusi sosial, akan dipelajari dengan pendekatan kualitatif.
 Wawancara mendalam
Wawancara mendalam dilakukan terhadap informan kunci dan
instansi terkait yang relevan dan disesuaikan dengan kebutuhan
data yang diperlukan.Wawancara mendalam menggali berbagai
aspek kehidupan sosial, ekonomi dan budaya yang relevan dengan
studi serta mempelajari suatu aktivitas sosial tertentu dan institusi
yang berkembang di wilayah studi. Informan kunci yang akan
dihubungi untuk wawancara mendalam adalah Lurah, tokoh ulama,
dan aktivis pendidik. Informan ditetapkan berdasarkan perwakilan
masyarakat yang terkena dampak secara langsung dan perwakilan
masyarakat secara umum yang termasuk di dalam wilayah studi.
b. Metode Analisis Data
- Data Kuantitatif
Kuantittaif dianalisis secara deskriptif berdasarkan tabulasi distribusi
frekuensi. Hasil tabulasi diinterpretasi berdasarkan nilai distribusi yang
dinyatakan dalam persentase.
- Data Kuantitatif
Data kualitatif khususnya yang berkaitan dengan proses dan
mekanisme sosial atau institusi dipahami melalui pemahaman logika
internal dari sistem sumber data, sedang data kualitatif lainnya
diinterpretasikan sesuai dengan konsep atau teori tertentu yang relevan
untuk menjelaskan fenomenanya.

29
III.2 Metode Prakiraan Dampak Penting Yang Digunakan
Prakiraan dampak dimaksudkan sebagai telaahan secara cermat dan
mendalam terhadap kualitas lingkungan yang berubah secara mendasar akibat dari
suatu kegiatan. Perubahan kualitas lingkungan diungkapkan sebagai besar dampak
(magnitude) dan penting dampak (importance). Besar dampak merupakan selisih
antara kualitas lingkungan tanpa adanya proyek (without project) dengan kondisi
kualitas lingkungan sebagai akibat dari adanya proyek (with project).
Prakiraan besar dampak penting ini akan dilakukan terhadap setiap
komponen lingkungan yang berdasarkan hasil pelingkupan tergolong sebagai
dampak penting hipotetik.
Metode yang digunakan dalam prakiraan dampak ini terdiri dari metode
formal dan metode non formal. Metode formal menggunakan pendekatan
matematis sedangkan metode non formal dilakukan pada prakiraan dampak yang
sulit dilakukan dengan model matematis, sehingga lebih tepat dilakukan melalui
pendekatan kualitatif.

III.3 Metode Evaluasi Secara Holistik Terhadap Dampak Lingkungan


Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 16 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan AMDAL, metode evaluasi secara holistik terhadap
dampak lingkungan merupakan evaluasi secara holistik terhadap dampak
lingkungan yang terjadi dilakukan untuk menentukan kelayakan atau
ketidaklayakan lingkungan hidup.
Bagian ini menguraikan metode-metode yang lazim digunakan dalam studi
ANDAL untuk mengevaluasi keterkaitan dan interaksi dampak lingkungan yang
diprakirakan timbul (seluruh dampak penting hipotetik) secara keseluruhan dalam
rangka penentuan karakteristik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan secara
total terhadap lingkungan hidup. Metode evaluasi dampak menggunakan metode-
metode ilmiah yang berlaku secara nasional dan/atau internasional di berbagai
literatur yang sesuai dengan kaidah ilmiah metode evaluasi dampak penting dalam
AMDAL.
Evaluasi dampak penting dalam studi AMDAL ini dilakukan secara
holistik yaitu menggunakan metode Fischer Davis, mencakup dampak yang

30
penting sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya.
Penentuan besaran dampak menggunakan skala kualitas lingkungan.
Evaluasi dampak pada dasarnya merupakan penggabungan beberapa
komponen lingkungan yang sangat berkaitan, kemudian dianalisis dan digunakan
untuk memantapkan refleksi dari dampak komponen-komponen sebagai indikator
perubahan kualitas lingkungan. Karena itu evaluasi dampak merupakan upaya
untuk memahami sifat dampak dan mengkaji keterkaitan antara dampak primer,
sekunder, dan tersier, serta mengkaji alternatif kegiatan yang memberikan
kesetimbangan optimal antara kepentingan kegiatan (proyek) dengan lingkungan.
Evaluasi dampak penting atau tidak penting akan ditempuh melalui
sintesis :
1. Penelaahan secara holistik segenap komponen lingkungan yang diprakirakan
akan mengalami perubahan mendasar karena kegiatan proyek.
2. Penelaahan persebaran dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan
proyek menurut ruang persebaran dampak.
3. Penelaahan kegiatan proyek yang bersifat strategis bagi keperluan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
Evaluasi dampak penting akan diuraikan mengenai hasil telaahan dampak
besar dan penting dari rencana usaha. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi
masukan bagi instansi yang berwenang untuk memutuskan kelayakan lingkungan
dari rencana usaha/kegiatan, sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
Nomor 27 tahun 2012.

III.3.1 Telaahan Terhadap Dampak Penting


a. Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan yang
diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada
prakiraan dampak penting, dengan menggunakan kriteria dalam Pedoman
Mengenai Ukuran Dampak Penting sesuai dengan Undang-undang No. 32
tahun 2009 pasal 22 ayat 2 ditentukan berdasarkan kriteria :
- Besarnya jumlah penduduk yang akan terkena dampak rencana usaha
dan/atau kegiatan.
- Luas wilayah penyebaran dampak.
- Intensitas dan lamanya dampak berlangsung.

31
- Banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena
dampak.
- Sifat kumulatif dampak.
- Berbalik atau tidak berbaliknya dampak; dan/atau
- Kriteria lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
b. Evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas
terhadap beragam dampak penting lingkungan yang dimaksud pada uraian
prakiraan dampak penting, dengan sumber usaha atau kegiatan penyebab
dampak. Beragam komponen lingkungan yang terkena dampak penting
tersebut (positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang
saling terkait dan saling mempengaruhi, sehingga diketahui sejauh mana
“perimbangan” dampak penting yang bersifat positif dengan yang bersifat
negatif.
c. Dampak penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-
dampak penting yang harus dikelola.

III.3.2 Telaahan Sebagai Dasar Pengelolaan


a. Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha kegiatan dan
rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang
mungkin timbul.
b. Ciri dampak ini akan dikemukakan dengan jelas, dalam arti apakah
dampak penting positif atau negatif akan berlangsung terus selama
rencana usaha / kegiatan berlangsung. Atau antara dampak yang satu
dengan dampak lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang
antagonistik atau sinergistis.
c. Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan
kelompok masyarakat yang akan terkena dampak positif. Identifikasi
kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang
mungin terjadi akibat usaha / kegiatan pembangunan.
d. Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena oleh dampak
penting ini, apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal atau
regional. Karena itu akan diuraikan pula usulan pengendaliannya

32
ditinjau dari segi tingkat kemampuan pemerintah untuk bisa mengatasi
dampak negatif dan mengembangkan dampak positif.
Komponen lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak penting
akan dievaluasi derajat kepentingan dampaknya dengan metoda yang
relevan antara lain melalui rapat, telaahan pustaka dan pertimbangan pakar
(expert judgement).

III.3.3 Penentuan Kelayakan Lingkungan


Hasil evaluasi dampak penting selanjutnya digunakan untuk memberi
pernyataan kelayakan lingkungan melalui telahaan terhadap :
1. Rencana tata ruang
2. Kebijakan dibidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup serta
sumberdaya alam
3. Kepentingan pertahanan dan keamanan
4. Prakiraan secara cermat besaran (magnitude) dan sifat penting dampak
(significance)
5. Hasil evaluasi secara holistik terhadap DPH
6. Kemampuan pemrakarsa dalam menanggulangi dampak penting negative
dengan pendekatan teknologi, sosial dan kelembagaan
7. Rencana kegiatan tidak mengganggu nilai-nilai social atau pandangan
masyarakat
8. Rencana kegiatan tidak akan mempengaruhi dan/atau mengganggu entitas
ekologi : - Entitas dan/atau spesies kunci (key species)
- Memiliki nilai penting secara ekologis (ecological importance)
- Memiliki nilai penting secara ekonomi (economic importance)
- Memiliki nilai penting secara ekonomi (economic importance)
- Memiliki nilai penting secara ilmiah (scientific importance)
9. Kegiatan tidak mengganggu kegiatan lainnya yang sudah ada di sekitarnya
10. Tidak dilampauinya daya dukung dan daya tampung lingkungan dari
lokasi rencana kegiatan apabila telah terdapat perhitungan daya dukung
dan daya tampung lingkungan

33
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1997. Manual Kapasitas Jalan Indonesia. Direkotorat Jenderal Bina


Marga Direktorat Bina Jalan Kota (BINKOT). Republik Indonesia.
Badan Pusat Statistika. 2017. Kecamatan Rungkut Dalam Angka. Surabaya
Badan Pusat Statistika. 2017. Surabata Dalam Angka. Surabaya
Badan Pusat Statistika. 2017. Kabupaten Sidoarjo Dalam Angka. Sidoarjo
Maulidi, Achmad. (2016). Data Primer dan Sekunder.
Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 02 Tahun 2004. Pengelolaan Kualitas Air
Dan Pengendalian Pencemaran Air
Peraturan Daerah No. 12 Tahun 2014
Peraturan Menteri Lingkungann Hidup No. 16 Tahun 2012
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 05 Tahun 2012
Peraturan Pemerintah No. 12 Tahun 2014
Profil Kesehatan Dinas Kesehatan. 2017. Surabaya
Profil Kesehatan Dinas Kesehatan. 2017. Sidoarjo
RKDP Kota Surabaya.2018.Evaluasi Hasil Pelaksanaan Rkdp Tahun Lalu Dan
Capaian Kinerja Penyelenggara Pemerintah
Ruslinda, Yenni, Veronika. 2013. Satuan Timbulan dan Komposisi Sampah
Industri Kota Padang. Jurnal Teknik Lingkungan UNAND. 10 (1) : 20-28.

34