Anda di halaman 1dari 14

PRE PLANNING

PENYULUHAN CEMISTRI (CEGAH ANEMIA, TINGKATKAN


PRESTASI)
DI RW V KELURAHAN ANDURING KECAMATAN KURANJI PADANG

Oleh :
KELOMPOK Y’17

Astri Wulandari Situmorang, S.Kep


Dahlia Lara Sikumalay, S.Kep
Elfa Aptia, Skep
Istiqamah Yulias, S.Kep
M. Angga Mahalta, S.Kep
Najmi Ulfa Misbah, S.Kep
Novita Sari, S.Kep
Pratiwi Wulandari, S.Kep
Rahmi Kumala, S.Kep
Razka Utiya, S.Kep
Sonia Mestika Hernandez, S.Kep

PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN KOMUNITAS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
PRE PLANNING
PENYULUHAN ANEMIA PADA ANAK

Bidang studi : Keperawatan Komunitas


Topik : Anemia
Sasaran : Anak-anak RW 02 Kelurahan Anduring
Hari/tanggal : Minggu, 30 September 2018
Waktu : 07.00 – 08.10 WIB
Tempat : Mesjid Taqwa

A. Latar Belakang
Anemia adalah suatu keadaan di dalam tubuh yang ditandai dengan
terjadinya defisiensi pada ukuran dan jumlah sel darah merah tidak mencukupi
untuk melakukan pertukaran oksigen. Anemia merupakan masalah kesehatan
dunia karena prevalensinya masih tinggi terutama di negara berkembang seperti
Indonesia. Villalpando, et al (2003) menyebutkan bahwa prevalensi anemia
pada anak menurun seiring bertambahnya usia. Penelitian yang dilakukan di
Mexico prevalensi anemia tertinggi pada anak usia 12 – 24 bulan (48,9%).
Sedangkan pada anak usia sekolah 5-11 tahun prevalensinya berkisar antara
14,6 – 22%. Pada anak usia 11 tahun prevalensi anemia ditemukan sebesar
14,6%. Departemen Kesehatan (Depkes) (2008) dalam Riset Kesehatan Dasar
menyatakan bahwa prevalensi anemia di Indonesia adalah 14,8%. Villalpando,
et al (2003) menyatakan bahwa penyebab anemia adalah akibat faktor gizi dan
non gizi. Faktor gizi terkait dengan defisiensi vitamin dan mineral, sedangkan
faktor non gizi terkait infeksi. International Nutritional Anemia Consultative
Group (INACG) (2002) dalam Subagio (2007), anemia disebabkan oleh
defisiensi zat gizi makro dan mikro. Pada negara berkembang anemia
disebabkan oleh asupan makanan yang tidak adekuat, khususnya zat gizi yang
diperlukan untuk sintesis eritrosit (protein, besi, asam folat, vitamin B12,
vitamin C, vitamin A, dan zink). Almatsier (2003) menyatakan penyebab
masalah anemia gizi besi adalah kurangnya daya beli masyarakat, untuk
mengkonsumsi makanan sumber zat besi, terutama dengan ketersediaan biologi
zat besi yang tinggi. Usia anak sekolah merupakan golongan yang rentan
terhadap masalah gizi karena anak berada dalam masa pertumbuhan dan
aktivitas yang tinggi, sehingga memerlukan asupan gizi yang tinggi pula.
Masalah gizi yang sering dihadapi anak sekolah dasar adalah kurang energi
protein dan anemia. Penelitian Hashizume, et al (2004) dalam Ratih (2012) di
Kazakhstan menyebutkan bahwa tingginya intake zat besi berhubungan dengan
rendahnya prevalensi anemia.
Menurut data SUSENAS 2001 masalah anemia pada anak usia 5-14 tahun
pada laki-laki sebesar 52,8% dan 49,2 % terjadi pada perempuan. Hasil Survey
Kesehatan Rumah Tangga (DEPKES, 2001) sebanyak 47% balita menderita
anemia defisiensi besi. Angka ini tidak beranjak jauh pada SKRT Tahun 2007
dengan angka kejadian anemia defisiensi besi (ADB) pada anak balita di
Indonesia sekitar 40-45%. Sedangkan data pada Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) Departemen Kesehatan Tahun 2007 menunjukkan bahwa 40% anak
di Indonesia pada rentang usia 1-14 tahun menderita anemia dan menemukan
bahwa satu dari empat anak usia sekolah dasar menderita kekurangan besi.
Asian Development Bank menyebutkan bahwa sekitar 22 juta anak Indonesia
terkena anemia.
Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)
yang meneliti 661 anak di lima sekolah dasar negeri di Jakarta Timur
menunjukkan 85% anak sekolah mendapatkan asupan zat besi hanya 80% dari
rekomendasi harian yang dianjurkan. Dan penelitian yang dilakukan di Desa
Minaesa Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara oleh Aaltje E.
Manampiring Tahun 2008 menunjukkan prevalensi anemia pada anak sekolah
sebesar 39,42%, penelitian di Propinsi Sulawesi Utara oleh Matondan Tahun
2004 menunjukkan prevalensi anemia pada anak panti asuhan usia sekolah
dasar sebesar 62,8%, sedangkan penelitian oleh R.B. Purba Tahun 1995 di Desa
Bolaang Mongondow menemukan pravelensi anemia pada anak sekolah dasar
sebesar 18,33% di daerah penghasil sayur dan 28,33% di daerah bukan
penghasil sayuran.
Dampak anemia pada anak balita dan anak sekolah adalah meningkatnya
angka kesakitan dan kematian, terhambatnya pertumbuhan fisik dan otak,
terhambatnya perkembangan motorik, mental dan kecerdasan. Anak-anak yang
menderita anemia terlihat lebih penakut, dan menarik diri dari pergaulan sosial,
tidak bereaksi terhadap stimulus, lebih pendiam Vijayaraghavan (2009) dalam
Ratih (2012). Anemia pada anak menurunkan prestasi belajarnya di sekolah
Taha, (2005) dalam Ratih (2012).
Menurut data yang didapatkan melalui 28 kuesioner, 36% anak-anak
kadang – kadang tidak sapan pagi sebelum berangkat kesekolah dengan alasan
55 karena terburu – buru dan dan 45 % karena malas untuk sarapan pagi dan
sekitar 100% anak menyukai jajan diluar rumah. Oleh karena itu, diperlukan
kegiatan penyuluhan untuk menjelaskan mengenai pencegahan anemia pada
anak usia sekolah di RW 02 Kelurahan Anduring Kecamatan Anduring Kota
Padang

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Setelah dilakukan kegiatan penyuluhan diharapkan anak-anak dapat
mengetahui tentang penyakit anemia.
2. Tujuan Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan selama 30 menit diharapkan anak-anak
dapat:
a. Menjelaskan pengertian dari Anemia
b. Menjelaskan penyebab Anemia
c. Menjelaskan tanda dan gejala Anemia
d. Menjelaskan pencegahan Anemia
e. Menjelaskan cara pengobatan Anemia

C. Materi Penyuluhan (terlampir )

D. Pelaksanaan
1. Topik
Penyuluhan kesehatan mengenai Pencegahan Anemia
2. Sasaran dan Target
Sasaran : Remaja RW 02 Kelurahan Anduring Kecamatan Kuranji
Target : 25 orang
3. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Diskusi

4. Media
- Leaflet
- Laptop
- LCD

5. Kegiatan Penyuluhan
1. Waktu dan tempat
 Hari : Minggu /30 September 2018
 Jam : 07.00 – 08.10 WIB
 Tempat : Masjid Taqwa

2. Pengorganisasian
Penanggung Jawab : Sonia Mestika Hernandez, S.Kep
Elfa Aptia
Moderator : M. Angga Mahalta, S.Kep
Pemateri : Elfa Aptia, S.Kep
Observer : Rahmi Kumala, S.Kep
Fasilitator : Istiqamah Yulias, S.Kep
Najmi Ulfa Misbah, S.Kep
Dahlia Lara Sikumalay, Skep
Elfa Aptia, S.Kep
Novita Sari, S.Kepi
Pratiwi Wulandari, S.Kep
Razka Utiya, S. Kep
3. Setting Tempat

Keterangan :
: Pembimbing

: Fasilitator

: Pemateri

: Observer

: Moderator

: Peserta

4. Uraian Tugas
1. Penanggung Jawab
 Mengkoordinir persiapan dan pelaksanaan penyuluhan
2. Pemateri
 Mempresentasikan materi
 Mengevaluasi peserta tentang materi yang diberikan
3. Moderator
 Pada acara pembukaan
1. Membuka acara
2. Memperkenalkan mahasiswa dan dosen pembimbing
3. Menjelaskan topik dan tujuan penyuluhan
4. Menjelaskan kontrak waktu dan bahasa
5. Menjelaskan tata tertib penyuluhan
 Kegiatan Inti
1. Meminta peserta memberikan pertanyaan atas penjelasan yang tidak
dipahami.
2. Memberikan kesempatan pada mahasiswa menjawab pertanyaan
yang diajukan peserta.
 Pada acara penutup
1. Menyimpulkan dan menutup diskusi
2. Mengucapkan salam
4. Fasilitator
 Memotivasi peserta agar berperan aktif
 Membuat absensi penyuluhan
 Mengantisipasi suasana yang dapat mengganggu kegiatan penyuluhan
5. Observer
 Mengawasi proses pelaksanaan kegiatan dari awal sampai akhir
 Membuat laporan penyuluhan yang telah dilaksanakan
6. Dokumentator
 Mendokumentasikan kegiatan penyuluhan yang dilakukan

5. Kegiatan Penyuluhan
No Kegiatan mahasiswa Waktu Kegiatan peserta
1 Pembukaan
- Menjawab salam
- Moderator memberi salam
- Moderator memperkenalkan - Mendengarkan dan
anggota penyuluhan memperhatikan
5 menit
- Moderator memperkenalkan - Mendengarkan dan
pembimbing klinik dan memperhatikan
pembimbing akademik
- Mendengarkan dan
- Moderator menjelaskan tentang memperhatikan
topik penyuluhan
- Menjelaskan dan membuat - Mengemukakan pendapat
kontrak waktu, bahasa, tujuan
dan tata tertib penyuluhan

2 Kegiatan Inti
- Menggali pengetahuan audiens 15 menit - Mendengarkan,
tentang pengertian Anemia memperhatikan
- Memberikan reinforcement - Mengemukakan pendapat
positif
- Menjelaskan kembali pengertian - Mendengarkan
Anemia
- Menggali pengetahuan audiens - Mendengarkan,
tentang penyebab dari anemia memperhatikan
- Memberikan reinforcement - Mengemukakan pendapat
positif
- Menjelaskan kembali tentang - Mendengarkan
penyebab dari anemia
- Menggali pengetahuan audiens - Mendengarkan,
tentang tanda dan gejala dari memperhatikan
anemia
- Memberikan reinforcement - Mendengarkan
positif
- Menjelaskan kembali tentang - Mendengarkan,
tanda dan gejala anemia memperhatikan
- Menggali pengetahuan audiens - Mengemukakan pendapat
tentang pencegahan dan
pengobatan anemia
- Memberikan reinforcement - Mendengarkan
positif
- Menjelaskan kembali tentang - Mendengarkan,
pencegahan dan pengobatan memperhatikan
anemia
- Mengajukan pertanyaan
- Memberikan kesempatan pada
audiens dan keluarga untuk
bertanya - Mengemukakan pendapat

 Menjawab pertanyaan audiens


3 Penutup
 Meminta audiens 5 menit - Mendengarkan dan
mengulang beberapa Memperhatikan
informasi yang telah
diberikan
 Memberi reinforcement (+)
 Menyimpulkan materi - Mengemukakan pendapat
penyuluhan bersama
keluarga
 Memberikan evaluasi - Mengemukakan Pendapat
secara lisan
 Memberikan salam
- Menjawab salam
penutup

E. Evaluasi
a. Evaluasi struktur
1. 75 % atau lebih peserta menghadiri acara
2. Alat dan media sesuai dengan rencana
3. Peran dan fungsi masing-masing sesuai dengan yang direncanakan
b. Evaluasi proses
1. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan waktu yang direncanakan
2. Peserta penyuluhan mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Peserta berperan aktif dalam jalannya diskusi
c. Evaluasi hasil
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan peserta mampu :
1. audiens mampu menyebutkan pengertian anemia
2. audiens mampu menyebutkan penyebab dari anemia
3. audiens mampu menyebutkan tanda dan gejala dari anemia
4. audiens mampu menyebutkan Pencegahan anemia
5. audiens mampu menyebutkan cara pengobatan anemia
LAMPIRAN MATERI
ANEMIA PADA ANAK

A. Pengertian Anemia
Anemia adalah suatu kondisi dimana kadar Hb atau jumlah eritrosit lebih
rendah dari harga normal. Dikatakan sebagai anemia bila Hb < 14 g/dl dan Ht
< 41% pada pria atau Hb < 12 g/dl dan Ht
Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah hemoglobin dalam
1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang dipadatkan (packed red cells
volume) dalam 100 ml darah. (Ngastiyah, 1997)
Anemia Gizi adalah kekurangan kadar haemoglobin (Hb) dalam darah yang
disebabkan karena kekurangan zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan
Hb.Anemia terjadi karena kadar hemoglobin (Hb) dalam darah merah sangat
kurang. Di Indonesia sebagian besar anemia ini disebabkan karena kekurangan
zat besi (Fe) hingga disebut Anemia Kekurangan Zat Besi atau Anemia Gizi
Besi.

B. Penyebab Timbulnya Anemia


Berikut 4 hal yang menyebabkan terjadinya anemia yang harus anda ketahui
agar bisa terhindar dari penyakit ini :
1. Faktor keturunan
2. Kurangnya asupan gizi
Malanutrisi atau gizi buruk adalah penyebab anemia nomor satu di
Indonesia. Asupan zat besi orang Indonesia masih kurang karena kurangnya
asupan yang bersumber dari nutrisi hewani. Nasi dan bahan nabati menjadi
bahan makanan utama sehari-hari orang Indonesia, padahal daging juga
diperlukan karena memiliki kandungan zat besi yang tinggi. Keragaman
menu makanan memiliki peran penting dalam asupan zat besi yang cukup.
3. Kurangnya produksi sel darah merah
4. Kurangnya zat besi
Penyerapan zat besi terjadi di usus. Gangguan penyerapan zat besi
bisa terjadi lantaran ada penyakit di selaput lendir usus yang lama-lama
menimbulkan diare, atau ada zat yang mengganggu penyerapan zat besi.
Otomatis hal ini menyebabkan anemia difisiensi zat besi.

C. Tanda dan Gejala Batu ginjal


1. Lemas
Anak terlihat lemah, letih, lesu. hal ini karena oksigen yang dibawa
ke seluruh tubuh berkurang karena media transportnya (HB) kurang
sehingga tentunya yang membuat energi berkurang dan dampaknya adalah
3L, lemah letih lesu.
2. Mata berkunang-kunang
Mata berkunang-kunang. Hampir sama prosesnya dengan yang
diatas, karena darah yang membawa oksigen berkurang, aliran darah serta
oksigen ke otak berkurang pula dan berdampak kepada indera penglihatan
dengan pandangan mata yang berkunang-kunang.
3. Kelopak mata pucat
4. Sesak nafas
Pada tingkat lanjut atau anemia yang berat maka anak bisa
menunjukkan tanda-tanda sesak napas, detak jantung cepat, dan bengkak di
tangan dan kaki.

D. Pencegahan Batu ginjal


Penyakit Anemia bisa dicegah dengan membiasakan diri mempraktekan
pola hidup sehat diantaranya :
1. Konsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi
Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan oleh
tubuh kita. Salah satu Fungsi utama zat besi adalah sebagai komponen
pembentuk Hemoglobin (Hb) dalam sel darah merah yang berfungsi
mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh sel-sel tubuh. Selain itu zat
besi juga berperanan penting dalam fungsi normal daya tahan
tubuh,contohnya seperti : sayuran,buah-buahan.

2. Konsumsi makanan yang banyak mengandung asam folat


Fungsi makanan yang mengandung asam folat yaitu bekerja sama dengan
vitamin B12 untuk membentuk sel darah merah yang sehat dan
meregenerasi sel-sel tuhuh. Seperti : pisang, sayuran hijau, kacang-
kacangan dan jeruk.
3. Makanan yang mengandung vitamin b12 :
Fungsi utama vit b12 :
a. Menghasilkan sel darah merah.
b. Menjaga kesehatan sistem saraf.
c. Melepaskan energi dari makanan yang dikonsumsi.
d. Memproses asam folat.
e. Membantu dalam proses sintesis DNA.
4. Makanan dan minuman yg mengandung vit C
dapat menurunkan kadar kolesterol dan dapat memproduksi bahan
kimia tertentu pada otak. Tingginya kandungan antioksidan pada vitamin C
juga dapat menghancurkan radikal bebas yang dapat merusak sel-sel dalam
tubuh.

E. Cara pengobatan
1. Pemberian zat besi,vit B12
2. Penderita anemia berat bisa dilakukan transfusi darah
Transfusi darah adalah tindakan rnemasukkan darah atau
komponennya ke dalam sistim pembuluh darah resipien. Hal ini merupakan
suatu tindakan yang bertujuan menggantikan atau menambah komponen
darah yang hilang atau terdapat dalam jumlah yang tidak mencukupi
sehingga akan menyelamatkan kehidupan.transfusi darah
merupakan tindakan simtomatik atau suportif karena darah atau komponen
darah hanya dapat mengisi kebutuhan tubuh untuk jangka waktu tertentu
tergantung pada umur fisiologis komponen yang ditransfusikan.
3. Pemberian eritropoietin
Eritrosit berfungsi mengangkut oksigen ke jaringan hingga produksi
eritrosit sedikit banyak ditentukan juga oleh kadar oksigenisasi jaringan.
Eritropoetin, suatu hormon yang secara langsung mempengaruhi aktifitas
sumsum tulang sangat peka terhadap perubahan kadae oksigen dalam
jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Strauss RG, Transfusi Darah dan Komponen Darah, dalam Nelson Ilmu
Kesehatan Anak (Nelson Textbook of Pediatrics), 1996, Jakarta, EGC,
volume 2, Edisi 15, halaman: 1727-1732 2.
Djajadiman Gatot, Penatalaksanaan Transfusi Pada Anak dalam Updates in
Pediatrics Emergency, 2002, Jakarta, Balai Penerbit FKUI, halaman: 28-
41 3.
Ramelan S, Gatot D, Transfusi Darah Pada Bayi dan Anak dalam Pendidikan
Kedokteran berkelanjutan (Continuing Medical Education) Pediatrics
Updates, 2005, Jakarta, IDAI cabang Jakarta, halaman: 21-30 4.
Sudarmanto B, Mudrik T, AG Sumantri, Transfusi Darah dan Transplantasi dalam
Buku Ajar Hematologi- Onkologi Anak, 2005, Jakarta, Balai Penerbit
IDAI, halaman: 217-225 5.
Dr. Rusepno Hasan, Dr. Husein Alatas. Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan Anak,
1985, Jakarta, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, halaman: 483-490 6. Palang Merah Indonesia.