Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS FAKTOR PERILAKU, PENGGUNAAN KASA, DAN

HOUSE INDEX DENGAN KEJADIAN DBD DI KECAMATAN DRINGU


KABUPATEN PROBOLINGGO
Analysis of Behavioral Factors, Use of Gauze, and House Index with The Incidence of DHF
in District Dringu Probolinggo

Hikmawan Suryanto
Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Airlangga
hikmawan.suryanto.hs@gmail.com

Abstrak: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular yang sampai saat ini
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor
yang berhubungan dengan kejadian demam berdarah dengue di Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Penelitian
ini menggunakan metode observasional dengan desain studi cross sectional. Pengambilan sampel dilakukan
dengan menggunakan cluster random sampling dengan metode multistage cluster random sampling. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ada tiga variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD yaitu faktor perilaku yang meliputi
pengetahuan responden tentang kejadian DBD (p = 0,004), dan tindakan responden tentang pencegahan DBD (p =
0,025), penggunaan kasa pada ventilasi (p = 0,035), serta house index (p = 0,044). Pengetahuan responden telah baik,
namun ada beberapa yang masih kurang sehingga perlu untuk meningkatkan pengetahuan responden tentang demam
berdarah dengue. Tindakan pencegahan DBD telah baik, namun ada responden yang masih memiliki nilai sedang.
Penggunaan kasa pada ventilasi masih kurang. Kurangnya penggunaan kasa pada ventilasi karena ketidaktahuan
responden dengan manfaat kasa. Puskesmas dan Dinas Kesehatan sebaiknya meningkatkan kegiatan sosialisasi
seperti penyuluhan untuk menambah pengetahuan masyarakat tentang kejadian DBD agar supaya dapat menekan
angka kejadian DBD.

Kata kunci: faktor perilaku, penggunaan kasa, house index, kejadian DBD

Abstract: Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is a contagious disease that is still a public health problem in Indonesia.
The purpose of this study was to analyze factors associated with the incidence of dengue fever in the district Dringu
Probolinggo. This study was an observational study with cross sectional study design. Sampling was done using cluster
random sampling with multistage cluster random sampling method. The results showed that there are four variables
related to the incidence of dengue that respondents’ knowledge about the incidence of dengue (p = 0.004), the action
of the respondents on the prevention of dengue (p = 0.025), the use of gauze on ventilation (p = 0.035), and the
presence of larvae at home respondents (p = 0.044). Knowledge of the respondents have been good, but there are
some that are still lacking so it is necessary to increase the respondents’ knowledge about dengue fever. DBD has a
good precaution, but there were respondents who still has a moderate value. The use of gauze on the ventilation is still
lacking. Lack of use of gauze on ventilation due to ignorance of respondents with benefits gauze. Public Health Center
(PHC) and Health Department should improve socialization activities such as outreach to increase public knowledge
about the incidence of dengue in order to reduce the number of dengue incidence.

Keywords: behavioral factors, the use of gauze, house index, incidence of dengue

PENDAHULUAN air bersih di sekitar rumah. Penyakit ini terus


menyebar dengan cepat diantara masyarakat
Salah satu masalah kesehatan masyarakat di
karena vektornya tersedia, yaitu Aedes aegypti
Indonesia sampai saat ini ialah penyakit Demam
dan masyarakat sama sekali tidak mempunyai
Berdarah Dengue (DBD). Semakin lama semakin
kekebalan terhadapnya. Penyakit DBD kerap
meningkat jumlah pasien serta penyebarannya
menimbulkan kepanikan di masyarakat karena
semakin luas. Indonesia mempunyai risiko besar
penyebarannya yang cepat dan potensi
untuk terjangkit penyakit demam berdarah dengue
menyebabkan kematian bagi penderitanya. DBD
karena virus dengue dan nyamuk penularnya
adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang
yaitu Aedes aegypti yang hidup di genangan

36
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 37

termasuk Arbovirus dengan ditandai demam tinggi sampai saat ini, DBD merupakan ancaman serius
mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung yang upaya pencegahannya terus menerus
terus menerus selama 2–7 hari, manifestasi dilakukan. Sejak tahun 1968 sampai 2009,
perdarahan (peteke, purpura, perdarahan Indonesia menjadi negara dengan kasus DBD
konjungtiva, epistaksis, perdarahan mukosa, tertinggi di Asia Tenggara. Di Provinsi Jawa Timur,
perdarahan gusi, hematemesis, melena, hematuri) DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat
termasuk uji tourniquet (rumple leede) positif, dan endemis di hampir seluruh wilayah kota/
trombositopeni (jumlah trombosit < 100.000/l, kabupaten di Jawa Timur. Setiap tahun di wilayah
hemakonsentrasi (peningkatan hemokrotit > 20%) Jawa Timur selalu terjadi kejadian luar biasa DBD.
disertai atau tanpa pembesaran hati (Kementerian Pada tahun 2010, kejadian DBD di Jawa Timur
Kesehatan RI, 2005). mencapai 25.762 kasus dengan angka kematian
Upaya pencegahan penyakit DBD telah sebanyak 230 jiwa, lalu tahun berikutnya yaitu
gencar dilakukan oleh pemerintah, misalnya 2011 terjadi penurunan tajam mencapai 5.374
saja penyuluhan tentang pencegahan DBD. kasus dengan angka kematian 65 jiwa. Kemudian
Peningkatan pengetahuan kepada masyarakat tahun 2012 terjadi peningkatan kasus, yaitu
tentang DBD sangat penting mengingat DBD telah sebanyak 8.266 kasus dengan angka kematian
menjadi penyakit endemis serta belum ada vaksin mencapai 119 jiwa. Tahun 2013 meningkat tajam
untuk membuat seseorang kebal dengan penyakit menjadi 14.936 kasus, lalu 2014 menurun kembali
ini. Peningkatan pengetahuan diharapkan dapat menjadi 8.906 kasus (Dinas Kesehatan Propinsi
meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai Jawa Timur, 2014). Salah satu wilayah di Jawa
tindakan pencegahan DBD. Selain pengetahuan Timur yang setiap tahun terjadi kejadian luar biasa
tentang DBD dan pencegahannya, jarak antar DBD adalah Kabupaten Probolinggo.
rumah juga merupakan salah satu faktor Kabupaten Probolinggo merupakan salah
yang dapat menjadi penyebab kejadian DBD. satu wilayah di Jawa Timur yang setiap tahun
Penggunaan kasa pada ventilasi merupakan salah terjadi kejadian luar biasa DBD. Salah satu
satu faktor yang berhubungan dengan kejadian daerah di Kabupaten Probolinggo yang menjadi
DBD di Kecamatan Dringu. Penggunaan kasa perhatian adalah Kecamatan Dringu. Kasus DBD
cukup penting agar nyamuk tidak dapat masuk di Kecamatan Dringu setiap tahunnya selalu terjadi
ke rumah sehingga dapat mencegah penularan dan jumlahnya meningkat. Data peningkatan
penyakit DBD. Jarak antar rumah responden yang jumlah kejadian DBD di Kecamatan Dringu dapat
cukup dekat akan memudahkan nyamuk Aedes dilihat pada Gambar 1.
aegypti menularkan virus dengue ke seseorang
mengingat jarak terbang nyamuk Aedes aegypti Jumlah Kejadian DBD
adalah 100 m (Kementerian Kesehatan RI, 2004).
Sehingga, penggunaan kasa pada ventilasi cukup
4
penting untuk mencegah penularan penyakit
DBD. Selanjutnya faktor yang berhubungan
dengan kejadian DBD adalah keberadaan jentik
nyamuk pada rumah responden. Nyamuk Aedes 16
10
aegypti berkembangbiak dengan mengeluarkan
telurnya pada genangan air yang bersih. Jika
pada suatu kontainer terdapat jentik nyamuk,
Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014
maka perkembangbiakan nyamuk akan semakin
baik. Sehingga peluang terjadinya DBD semakin Gambar 1.
besar. Peran juru pemantau jentik sangat penting Jumlah Kejadian DBD di Kecamatan Dringu
keberadaannya untuk memantau kontainer warga
agar terbebas dari jentik nyamuk. Kabupaten Probolinggo merupakan salah
Penyakit DBD di Indonesia pertama kali satu wilayah di Jawa Timur yang setiap tahun
ditemukan pada tahun 1968, yaitu di Kota terjadi Kejadian Luar Biasa DBD. Penyakit DBD
Surabaya Jawa Timur. Sejak saat itu, penyakit yang di wilayah Kabupaten Probolinggo merupakan
disebabkan oleh virus dengue telah menyebar penyakit yang setiap tahunnya ada. Dalam tingkat
ke seluruh wilayah Indonesia dan menimbulkan Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Probolinggo
permasalahan kesehatan masyarakat. Sehingga tahun 2013 menempati urutan 29 dari 38 kota/
38 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

kabupaten tingkat kejadian DBD (Dinas Kesehatan Kedungdalem, Kalirejo dan Randuputih. Jenis
Kabupaten Probolinggo, 2014). Salah satu penelitian adalah penelitian observasional karena
daerah di Kabupaten Probolinggo yang menjadi mengambil data langsung dari pengamatan tanpa
perhatian adalah Kecamatan Dringu. Kasus DBD memberikan perlakuan kepada objek penelitian.
di Kecamatan Dringu setiap tahunnya selalu Cara pengambilan sampel menggunakan
terjadi. Kecamatan Dringu telah menjadi salah cluster random sampling karena sampel berada
satu daerah yang endemis DBD. Setiap tahun pada satu kelompok (cluster). Metodenya
di Kecamatan Dringu terjadi peningkatan jumlah menggunakan multistage cluster random sampling
kasus DBD. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, karena pengambilan sampel melalui beberapa
Kecamatan Dringu selalu masuk 10 besar daerah kali perhitungan sampel dari suatu kelompok
dengan jumlah DBD tertinggi dari 24 kecamatan (Notoatmodjo, 2010). Populasi dalam penelitian
di Kabupaten Probolinggo. Tahun 2012 sempat adalah Kepala Keluarga di Kecamatan Dringu
menempati urutan ke-4 dan tahun berikutnya Kabupaten Probolinggo sebanyak 16.965 KK.
peringkat tersebut dapat turun ke posisi ke-6, Perhitungan sampel dengan menggunakan rumus
namun di tahun 2014 naik menjadi urutan ke-5. slovin dengan tingkat kesalahan sebesar 10%.
Pada tahun 2010, 2 penderita DBD meninggal Jadi, sampel dari penelitian adalah 100 Kepala
dunia. Setelah itu sampai tahun 2014 tidak ada Keluarga (KK) yang berada di 4 desa terpilih.
kejadian sampai meninggal dunia. Keadaan ini Data diperoleh dengan cara observasi ke
tentu saja menimbulkan pertanyaan mengapa sekitar lingkungan rumah serta membagikan
dapat terjadi penyakit DBD di wilayah Kecamatan kuesioner kepada responden. Untuk responden
Dringu. puskesmas yaitu dengan cara wawancara
Berdasarkan pada permasalahan di atas mengenai fasilitas pelayanan kesehatan untuk
di mana penyakit DBD setiap tahunnya selalu penanganan DBD. Responden puskesmas yaitu
terjadi, dan menjadikan kecemasan tersendiri Bapak Bandi selaku pegawai bagian sanitasi
bagi masyarakat Kecamatan Dringu serta dalam di Puskesmas Dringu. Sebelum melakukan
rangka memberikan informasi terutama kepada observasi, pembagian kuesioner dan wawancara,
pengelola program di instansi terkait tentang peneliti menjelaskan tujuan penelitian dengan
beberapa faktor yang mempengaruhi kejadian membacakan lembar PSP (Penjelasan Sebelum
DBD, maka dilakukan penelitian mengenai faktor Persetujuan). Lalu memberikan informed consent.
yang berhubungan dengan kejadian DBD di Setelah responden setuju dengan menandatangani
Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. informed consent disaksikan oleh saksi, maka
proses observasi dan pembagian kuesioner
dapat dilaksanakan. Data tersebut merupakan
METODE PENELITIAN
data primer. Sedangkan data sekunder diperoleh
Penelitian ini menggunakan metode dari meminta data kasus demam berdarah ke
observasional karena mengambil data langsung bagian Tata Usaha Puskesmas Dringu Kabupaten
dari pengamatan tanpa memberikan perlakuan Probolinggo yang sebelumnya harus meminta izin
kepada objek penelitian serta jika dilihat dari sifat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo.
penelitiannya merupakan penelitian analitik karena Data demografi kecamatan dan desa diperoleh
ingin menggali informasi mengapa kasus tersebut dari kantor Kecamatan Dringu.
dapat terjadi. Penelitian ini juga menggunakan Teknik pengolahan data yaitu data primer
cross sectional karena waktu pengambilan data yang telah didapat sebelum diolah dilakukan
atau observasi dilakukan pada waktu yang sama. proses editing terlebih dahulu untuk melihat
Variabel yang digunakan dalam penelitian kelengkapan data. Setelah data lengkap, maka
adalah pengetahuan tentang DBD, tindakan diolah dengan merekap hasilnya menggunakan
tentang pencegahan DBD, jarak antar rumah, alat hitung atau komputer lalu dijelaskan
penggunaan kasa pada ventilasi, keberadaan secara dekriptif untuk menganalis peningkatan
jentik pada kontainer, dan adanya juru pemantau kejadian DBD di Kecamatan Dringu Kabupaten
jentik. Lokasi penelitian berada di Kecamatan Probolinggo. Dalam analisis data, data primer
Dringu Kabupaten Probolinggo. Dari 14 desa yang yang telah didapat diolah dengan membuat
ada di Kecamatan Dringu maka dipilih 4 desa tabulasi, selanjutnya dianalisis secara deskriptif,
sebagai sampel. Penentuan desa dengan metode yaitu diceritakan secara lengkap dalam bentuk
simple random sampling. Terpilihlah Desa Pabean, narasi hasil dari observasi yang telah dilakukan
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 39

untuk menggambarkan suatu keadaan secara termuda dalam penelitian ini adalah 19 tahun dan
obyektif. Selanjutnya untuk mengetahui faktor usia tertua 63 tahun.
yang paling berhubungan dengan peningkatan Untuk tingkat pendidikan responden sebagian
DBD menggunakan analitik dengan uji Chi Square besar telah mengenyam pendidikan SMA, yaitu
(α = 0,05) yang didahului dengan pembuatan sebesar 46%. Sedangkan paling sedikit yaitu
hipotesis, yaitu: Ho: ada hubungan antara faktor tamat perguruan tinggi sebesar 9%. Responden
perilaku, lingkungan, dan pelayanan kesehatan yang memiliki pendidikan lebih tinggi cenderung
dengan kejadian DBD dan HI: tidak ada hubungan memiliki jawaban lebih lengkap berkaitan dengan
antara faktor perilaku, lingkungan, dan pelayanan penyakit DBD, seperti tanda dan gejala dari
kesehatan dengan kejadian DBD. penyakit DBD. Namun tidak sedikit pula responden
Penelitian ini telah dilakukan uji etik dan hanya tamatan SD mampu memberikan jawaban
mendapatkan persetujuan komisi etik di Fakultas yang juga komplit. Responden dengan tingkat
Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga pendidikan tinggi lebih kooperatif dalam
Surabaya. menjawab. Responden dengan pendidikan tinggi
mampu mengapresiasi suatu usaha pemerintah
dengan baik, sehingga tindakan yang berorientasi
HASIL DAN PEMBAHASAN
pada upaya terhadap pencegahan DBD lebih
dapat terlihat hasilnya. Ini dikarenakan dengan
Gambaran Umum Daerah Penelitian
tingkat pendidikan yang tinggi, responden mampu
Penelitian dilakukan di wilayah Kecamatan berpikir lebih objektif serta lebih mudah dalam
Dringu Kabupaten Probolinggo. Terdapat 4 menyerap dan mengadopsi ilmu pengetahuan
desa yang menjadi tempat penelitian yaitu Desa yang diterima, sehingga responden mampu
Pabean, Desa Kedungdalem, Desa Kalirejo, dan mengetahui dan memahami lebih banyak
Desa Randuputih. Kecamatan Dringu memiliki tentang masalah kesehatan dan memiliki status
luas wilayah sebesar 16.961 km2. Kecamatan kesehatan lebih baik. Pengalaman akan suatu
Dringu terletak pada ketinggian 10 m dpl. Iklim hal dapat menjadi nilai lebih. Sehingga lebih
Kecamatan Dringu beriklim tropis yang terbagi memahami bahaya penyakit DBD serta cara
menjadi dua musim yakni musim penghujan dan pencegahannya. Responden yang pernah sakit
musim kemarau. Musim penghujan terjadi pada DBD lebih cenderung percaya diri dan lancar
bulan Oktober sampai April dan musim kemarau dalam menjawab seluruh pertanyaan. Responden
pada bulan April sampai Oktober. Curah hujan yang pernah sakit lebih banyak tahu tentang
terbesar yaitu 292 mmHg dan curah hujan terkecil DBD ketimbang responden yang belum pernah
sebesar 85 mmHg. Jumlah hari hujan yaitu 76 hari sakit. Sehingga mempengaruhi cara menjawab
dengan curah hujan setahun 1.690 mmHg. Untuk pertanyaan dari peneliti.
temperatur, Kecamatan Dringu mempunyai suhu
relatif panas sebagaimana daerah dataran rendah Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD)
pada umumnya yaitu antara 27 sampai 31°C. Hasil penelitian tentang kejadian DBD dapat
Jumlah penduduk Kecamatan Dringu sebesar dilihat pada Tabel 1.
52.285 jiwa dengan total KK sebanyak 16.965
KK. Untuk tingkat pendidikan, jumlah terbanyak Tabel 1.
adalah tamat SD, yaitu sebanyak 15.796 jiwa. Distribusi Kejadian Demam Berdarah Dengue di
Sedangkan paling sedikit lulusan perguruan tinggi, Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo
yaitu sebesar 1.596 jiwa. Jenis pekerjaan paling
Kejadian DBD Jumlah Persen
banyak masyarakat Kecamatan Dringu adalah
Pernah Sakit 31 31%
sebagai petani, yaitu 6.976 jiwa (Profil Kecamatan
Tidak Pernah Sakit 69 69%
Dringu, 2014).
Jumlah 100 100%
Karakteristik Responden
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan,
bahwa 31% responden pernah terkena penyakit
maka didapatkan hasil bahwa responden dalam
DBD. Sedangkan 69% responden tidak pernah
penelitian rata-rata berumur > 40 tahun yaitu
terkena penyakit DBD. Data tersebut lebih
sebesar 52%. Sedangkan paling sedikit berusia
banyak dari data sekunder dari Puskesmas
rata-rata 17–30 tahun yaitu sebesar 19%. Usia
40 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

Dringu. Ini dikarenakan kebanyakan masyarakat dapat memberi pengaruh terhadap kejadian
tidak berobat ke puskesmas. Masyarakat lebih DBD. Responden yang pernah mengalami sakit
memilih ke dokter umum. Selain itu Kecamatan DBD cenderung mempunyai pengetahuan yang
Dringu dekat dengan Kota Probolinggo. Di Kota baik tentang DBD. Ini dikarenakan mereka telah
Probolinggo lebih banyak pelayanan kesehatan belajar dari kejadian DBD yang pernah dialami,
yang bisa dikunjungi, seperti praktek dokter umum sehingga ada rasa kekhawatiran akan menderita
maupun klinik bersama dokter umum. Jarang ada kembali. Responden yang pernah mengalami DBD
responden yang memeriksakan diri ke Puskesmas menjawab pertanyaannya lebih kooperatif. Hal
Dringu saat sakit. Sehingga banyak penderita ini menunjukkan ada pengalaman khusus dari
DBD di Kecamatan Dringu yang tidak terdata di responden yang pernah mengalami sakit DBD
puskesmas. Sehingga data di Puskesmas Dringu untuk mengambil hikmah dari kejadian tersebut
kurang lengkap. Seharusnya pihak Puskesmas agar supaya tidak lagi menderita penyakit serupa.
Dringu bekerja sama dengan perangkat desa Responden yang tidak pernah sakit cenderung
setempat untuk mendata masyarakatnya meremehkan penyakit DBD dan merasa kurang
yang terkena DBD, karena lebih dekat dengan membutuhkan pengetahuan tentang DBD.
masyarakat sehingga dapat lebih bisa memantau Responden yang tidak pernah sakit DBD belum
keadaan masyarakat. Dengan adanya kerja sama merasakan rasa kekhawatiran serta dampak nyata
dari pihak perangkat desa setempat, maka data di dari penyakit DBD.
Puskesmas Dringu lebih lengkap. Pemerintah yang dalam hal ini Dinas
Kesehatan Kabupaten Probolinggo bersama-sama
Pengetahuan Responden Tentang DBD dengan Puskesmas Dringu lebih meningkatkan
Hasil penelitian mengenai tingkat kegiatan sosialisasi seperti penyuluhan untuk
pengetahuan respoden tentang DBD dapat dilihat menambah pengetahuan masyarakat tentang
pada Tabel 2. DBD karena masih ada masyarakat yang tingkat
pengetahuannya kurang. Selain meningkatkan
Tabel 2. pengetahuan, penyuluhan juga diharapkan dapat
Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden tentang meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
DBD pentingnya mencegah penyakit DBD. Dengan
meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai
Tingkat Pengetahuan Jumlah Persen
DBD, maka diharapkan angka kejadian DBD dapat
Baik 82 82%
ditekan. Pengetahuan memang suatu hal yang
Sedang 0 0%
sangat penting bagi terjadinya perubahan perilaku
Kurang Baik 18 18%
(Notoatmodjo, 2007).
Jumlah 100 100%
Tindakan Responden tentang Pencegahan
Berdasarkan data pada Tabel 2 menunjukkan DBD
bahwa sebanyak 82 responden mempunyai
Hasil penelitian tindakan responden tentang
tingkat pengetahuan yang baik. Sedangkan yang
pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD)
mempunyai tingkat pengetahuan kurang sebanyak
dapat dilihat pada Tabel 3.
18 responden.
Hasil penelitian mengenai pengetahuan
Tabel 3.
responden dengan kejadian DBD menunjukkan
Distribusi Tindakan Responden Tentang Pencegahan
bahwa p = 0,004 (p < 0,05). Dapat disimpulkan Kejadian DBD
bahwa H 0 ditolak dan H a diterima, artinya
pengetahuan responden tentang DBD mempunyai Tindakan Jumlah Persen
hubungan terhadap kejadian DBD di Kecamatan Baik 90 90%
Dringu Kabupaten Probolinggo. Sedang 10 10%
Penelitian serupa juga pernah dilakukan Kurang Baik 0 0%
oleh Aisah (2013) yang menyatakan bahwa Jumlah 100 100%
pengetahuan berhubungan dengan kejadian
DBD di Kelurahan Kassi-kassi Kota Makassar. Dapat diketahui data dari Tabel 3
Dengan demikian mendukung hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 31 responden yang
ini di mana secara tidak langsung pengetahuan pernah sakit DBD, seluruh responden telah
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 41

memiliki tindakan yang baik tentang pencegahan dilakukan pada saat posyandu dan pengajian.
terhadap DBD. Sedangkan 10 responden memiliki Berbagai kegiatan penyuluhan telah dilakukan
tindakan yang sedang tentang pencegahan oleh pemerintah secara berkelanjutan, namun
terhadap DBD. hasilnya belum optimal bahkan masih terjadi KLB
Hasil uji statistik Chi Square menunjukkan dan bahkan telah menelan korban jiwa. Menurut
bahwa p = 0,025 (p < 0,05) signifikan artinya ada keterangan warga, penyuluhan dari puskesmas
hubungan antara tindakan pencegahan terhadap hanya dilakukan saat telah terjadi kejadian
DBD dengan kejadian DBD di Kecamatan Dringu DBD. Penyuluhan adalah faktor penting untuk
Kabupaten Probolinggo. memberikan informasi kepada warga mengenai
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pencegahan DBD, namun jika masyarakat tidak
Arifin (2012), juga menunjukkan adanya hubungan peduli dan cenderung acuh tak acuh dengan
antara tindakan masyarakat tentang pencegahan model pencegahan DBD tersebut, maka tidak
DBD dengan kejadian DBD. Tindakan pencegahan akan ada gunanya usaha yang telah dilakukan.
meluasnya penyakit DBD dilakukan dengan Meskipun telah banyak penyuluhan yang
pengendalian vektor, yaitu nyamuk Aedes aegypti dilakukan, target pemerintah untuk menurunkan
melalui pemberantasan jentik dengan beberapa angka kejadian DBD menjadi 20 per 100.000
metode yang tepat yaitu secara fisik (menutup masih sulit tercapai. Target 20 per 100.000 saat ini
tempat penampungan air, menguras tempat terlalu tinggi karena kasus yang terjadi sekarang
penampungan air, dan mengubur benda-benda ini belum memperlihatkan kecenderungan
yang dapat digenangi air), biologis (memelihara menurun yang signifikan. Sebaiknya masyarakat
ikan di tempat penampungan air), dan kimiawi juga mengimbanginya dengan tindakan nyata.
(memberi bubuk abate dan melakukan fogging Penyuluhan perlu diberikan kepada masyarakat
atau penyemprotan). Metode ini dinilai akan dengan pendidikan rendah agar lebih memahami
efektif dalam mencegah persebaran penyakit bagaimana tindakan untuk mencegah penyakit
DBD. Tindakan pencegahan terhadap penyakit DBD.
DBD merupakan suatu hal yang penting Pemerintah lewat Kementerian Kesehatan RI
mengingat Kecamatan Dringu termasuk daerah telah menjelaskan tentang cara-cara pencegahan
yang endemis. Dari hasil pengamatan memang penyakit DBD, diantaranya adalah: pemutusan
ditemukan masih banyak tempat penampungan rantai penularan, pemberantasan jentik nyamuk
air responden yang terdapat jentik nyamuk di Aedes aegypti, peningkatan pengetahuan
dalamnya. Tempat penampungan air tersebut masyarakat akan pentingnya pemberantasan
juga tidak dilengkapi dengan abate yang berguna sarang nyamuk, menanggulangi terjadinya
sebagai pembunuh larva nyamuk. Menguras wabah penyakit DBD. Tindakan terdiri dari aspek
dan memberi abate pada tempat penampungan persepsi, mengenal dan memilih berbagai
air adalah salah satu tindakan pencegahan objek sehubungan dengan tindakan yang akan
terhadap penyakit DBD karena dapat menekan diambil (Notoatmodjo, 2003). Dalam hal ini
angka pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti yang masyarakat memilih tindakan yang sesuai untuk
merupakan vektor utama penularan penyakit pencegahan terjadinya penyakit DBD, respons
DBD. terpimpin, melakukan sesuatu sesuai dengan
Penyakit DBD belum ada vaksinnya, urutan yang benar dan sesuai dengan contoh
sehingga tindakan paling efektif untuk mencegah yaitu dalam hal ini masyarakat mampu melakukan
perkembangbiakan nyamuk adalah dengan upaya pencegahan DBD sesuai dengan
program pemberantasan sarang nyamuk. pedoman yang ada. Telah terjadi mekanisme
Pemerintah memang sangat gencar melakukan dan melakukan sesuatu secara otomatis dan
kampanye pencegahan DBD karena penyakit akan menjadi kebiasaan. Adopsi tindakan yang
ini merupakan penyakit endemis yang setiap sudah berkembang dengan baik dalam hal ini
tahunnya selalu ada kasus. Jadi masyarakat masyarakat sudah terbiasa melakukan kebiasaan
dituntut untuk tahu bagaimana cara mencegah pencegahan penyakit DBD.
penyakit DBD ini berkembang. Untuk penyuluhan
warga secara langsung, Puskesmas Dringu Penggunaan Kasa pada Ventilasi
telah melakukan program penyuluhan tentang Hasil penelitian tentang penggunaan kasa
DBD ke masyarakat. Penyuluhan tersebut pada ventilasi dapat dilihat pada Tabel 4.
42 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

Tabel 4. Keberadaan kasa memiliki hubungan dengan


Distribusi Jumlah Penggunaan Kasa pada Ventilasi kejadian DBD karena sebagian besar responden
Karakteristik Jumlah Persen
tidak memasang kasa pada ventilasi rumahnya.
Menggunakan Kasa 43 43% Penggunaan kasa yang kurang dikarenakan
Tidak Menggunakan Kasa 57 57% masyarakat tidak mengetahui manfaat dari
Jumlah 100 100% memasang kasa serta tidak ada trend memasang
kasa pada ventilasi. Masyarakat cenderung suka
Dari data pada tabel 4 dapat dilihat bahwa mengikuti tren. Memasang kasa merupakan salah
penggunaan kasa pada ventilasi rumah warga satu upaya pencegahan terjadinya penularan
masih kurang. Ini dibuktikan lebih banyak rumah penyakit DBD (Kemenkes RI, 2005).
responden yang tidak menggunakan kasa pada Menurut penelitian dari Berdian (2013)
ventilasinya yaitu sebanyak 57 rumah. Sedangkan menunjukkan juga adanya hubungan antara
yang telah memakai kasa sebanyak 43 rumah. penggunaan kasa pada ventilasi dengan kejadian
Hasil penelitian mengenai penggunaan kasa DBD di Kelurahan Perumnas Way Halim Kota
pada ventilasi dengan kejadian DBD menunjukkan Bandar Lampung. Penelitian tersebut juga sejalan
bahwa p = 0,035 (p < 0,05). H0 ditolak dan Ha dengan hasil penelitian ini. Ventilasi adalah
diterima, artinya penggunaan kasa pada ventilasi lubang tempat udara keluar masuk secara bebas.
mempunyai hubungan terhadap kejadian DBD di Ventilasi juga digunakan nyamuk untuk tempat
Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. perpindahan keluar maupun masuk ke dalam
Penelitian yang dilakukan Maria (2013) rumah. Nyamuk berpindah tempat memasuki
menyatakan bahwa terdapat hubungan antara rumah ke rumah selain melewati pintu, juga
penggunaan kasa pada ventilasi dengan melewati ventilasi rumah. Kasa merupakan
kejadian DBD. Hasil penelitian tersebut susunan kawat dengan lubang pori yang kecil.
memperkuat penelitian ini bahwa penggunaan Lubang pori yang kecil ini membuat nyamuk tidak
kasa berhubungan dengan kejadian DBD. bisa melewatinya sehingga nyamuk tidak dapat
Penggunaan kasa pada ventilasi cukup penting masuk kedalam rumah. Jendela pada rumah
untuk mencegah nyamuk masuk ke dalam rumah, responden kebanyakan ditutup. Dari temuan
namun masih jarang responden yang memasang peneliti bahwa selain terdapat kasa pada ventilasi
kasa pada ventilasinya. Kurangnya penggunaan rumah, terdapat pula satu responden yang masih
kasa pada ventilasi disebabkan responden yang menggunakan kelambu untuk tidur.
belum mengetahui manfaat dari penggunaan kasa. Pemasangan kasa pada ventilasi sangat
Ketidaktahuan tersebut menyebabkan responden penting jika jarak antar rumah saling berdekatan.
menganggap bahwa penggunaan kasa pada Kebanyakan jarak antar rumah responden cukup
ventilasi kurang penting. Ada pula responden yang berdekatan. Jarak antar rumah yang berdekatan
memberikan alasan tidak memasang kasa karena membuat semakin pentingnya memasang
harga kasa yang mahal, sehingga tidak mampu kasa pada ventilasi. Jarak antar rumah warga
untuk membeli. Rumah dengan kondisi ventilasi semuanya berjarak ≤ 100 m. Jarak antar rumah
yang tidak menggunakan kasa akan memudahkan warga memang tergolong dekat. Terdapat juga
nyamuk untuk masuk keluar rumah dan menggigit rumah yang dempet tidak ada jarak antar rumah
manusia serta meletakkan telurnya di kontainer. di sampingnya. Hasil penelitian mengenai jarak
Dengan dipasangnya kasa pada ventilasi, maka antar rumah dengan kejadian DBD menunjukkan
kemungkinan nyamuk untuk masuk ke rumah bahwa seluruh rumah responden jarak antar
dan menggigit manusia dapat dicegah sehingga rumahnya ≤ 100 m. Jarak terbang nyamuk Aedes
risiko terkena penyakit DBD semakin kecil. Sangat aegypti adalah 100 m (Kementerian Kesehatan
jarang ditemukan rumah warga yang memasang RI, 2004). Jika jarak antar rumah ≤ 100 m,
kasa pada ventilasinya. Kurangnya contoh rumah maka nyamuk Aedes aegypti mampu untuk
warga yang memasang kasa serta tidak adanya menjangkaunya sehingga penularan penyakit
budaya memasang kasa pada ventilasi membuat DBD dapat dengan mudah untuk menyebar
warga lain tidak tertarik untuk memasangnya. sehingga perlu pemasangan kasa pada ventilasi.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa Kebanyakan rumah responden berjarak antara
penggunaan kasa pada ventilasi berhubungan 0-2 meter. Bahkan terdapat pula yang dempet.
dengan kejadian DBD di Kecamatan Dringu. Sangat jarang ditemukan rumah responden yang
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 43

jaraknya berjauhan. Yang paling jauh adalah 4 rumah. Nyamuk Aedes aegypti senang di tempat-
m. Biasanya, jarak antar rumah digunakan untuk tempat yang lembab dan gelap (Yudhastuti, 2011)
jalan menuju rumah bagian belakang atau tempat sehingga perlu adanya ventilasi sebagai tempat
untuk memarkir sepeda motor. Jarak antar rumah sirkulasi udara.
juga digunakan warga sebagai penyimpanan
barang-barang yang tidak terpakai, seperti kayu. House Index
Jarak antar rumah dipengaruhi oleh luas tanah Hasil penelitian tentang distribusi keberadaan
dari tempat tinggal masyarakat. Jika mempunyai jentik nyamuk diketahui bahwasanya 73 rumah
tanah yang cukup luas, maka terdapat jarak responden ditemukan jentik nyamuk, sedangkan
antar rumah. Namun jika luas tanah yang 27 rumah responden tidak ditemukan jentik
dimiliki tidak begitu besar, maka setiap rumah nyamuk. Dari hasil tersebut maka dapat dihitung
tidak mempunyai jarak atau dapat dikatakan HI dan ABJ. HI adalah persentase rumah yang
dempet. Pada masyarakat Kecamatan Dringu, positif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa.
jarak antar rumah menjadi cukup penting. Jarak Jadi semakin tinggi HI maka banyak rumah
antar rumah digunakan sebagai jalan ataupun yang positif di dalamnya terdapat jentik nyamuk.
tempat penyimpanan barang-barang tidak Sedangkan ABJ adalah persentase rumah yang
terpakai. Masyarakat menyebutnya dengan nama bebas dari jentik nyamuk. HI dan ABJ lebih
lompongan. Kebanyakan lompongan yang dimiliki menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk di
oleh responden udaranya lembab dan jarang suatu wilayah.
terkena sinar matahari. Di dalam lompongan gelap Untuk perhitungan HI menggunakan rumus:
karena tidak adanya sinar matahari yang masuk
ke dalam lompongan. Tempat seperti ini sangat ∑ rumah ditemukan jentik × 100%
rentan sebagai tempat persembunyian nyamuk HI =
∑ rumah yang diperiksa
Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti senang
bersembunyi di tempat yang gelap dan lembab.
Maka tidak heran jika saat peneliti masuk ke 73
dalam lompongan, banyak ditemui nyamuk yang HI = × 100%
100
beterbangan. Jika ventilasi rumah tidak diberi
= 73%
kasa, maka memudahkan nyamuk untuk masuk
ke dalam rumah
HI di Kecamatan Dringu Kabupaten
Penggunaan kasa pada ventilasi dapat
Probolinggo sebesar 73%.
mencegah penularan penyakit DBD. Keadaan
Untuk perhitungan ABJ dapat menggunakan
jarak antar rumah yang dekat dapat memudahkan
rumus:
berpindahnya nyamuk dari satu rumah ke rumah
yang lain. Jika jarak antar rumah berjauhan atau >
100 m, maka nyamuk sulit untuk menjangkaunya. ∑ rumah bebas jentik × 100%
ABJ =
Jarak antar rumah cukup penting dalam ∑ rumah yang diperiksa
kehidupan bertetangga. Jarak antar rumah yang
berdempetan juga dapat menimbulkan masalah. Dari data distribusi keberadaan jentik nyamuk
Diantaranya masalah rembesan air yang dialami pada tabel 5, hasil perhitungan ABJ yaitu:
oleh salah seorang responden. Rembesan air
pada tembok akan menyebabkan hawa dalam 27
rumah menjadi lembab. Lembabnya udara di ABJ = × 100%
100
dalam rumah selain menimbulkan tumbuhnya
= 27%
jamur, juga menjadi sarang yang nyaman bagi
nyamuk Aedes aegypti. Jarak antar rumah juga
Jadi, ABJ di Kecamatan Dringu Kabupaten
dapat menimbulkan masalah pencahayaan dan
Probolinggo sebesar 27%. ABJ pada 100 rumah
sirkulasi udara.
sampel harus > 95% (Kemenkes RI, 2004).
Dengan tembok yang dempet, maka jumlah
Sehingga di Kecamatan Dringu Kabupaten
jendela akan semakin sedikit. Hawa di dalam
Probolinggo mempunyai risiko penularan penyakit
rumah pun juga akan terpengaruh, yaitu menjadi
DBD yang tinggi. Mengingat keganasan dari
lembab dan kurang terkena sinar matahari
penyakit ini, maka masyarakat harus mampu
karena kurangnya sirkulasi udara di dalam
44 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

mengenali dan mengetahui cara-cara pencegahan kawin 24–28 jam setelah keluar dari kepompong.
agar dapat menekan angka kejadian dan Umur nyamuk betina dapat mencapai 2–3 bulan
persebaran penyakit DBD. (Kementerian Kesehatan RI, 2005).
Hasil penelitian mengenai HI dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kejadian DBD menunjukkan bahwa p = 0,044 keberadaan jentik di kontainer responden
(p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak masih tinggi. Ini dibuktikan dengan lebih
dan Ha diterima, artinya house index mempunyai banyak kontainer responden yang ditemukan
hubungan terhadap kejadian DBD di Kecamatan jentik daripada yang tidak ditemukan jentik.
Dringu Kabupaten Probolinggo. Perbandingan keberadaan jentik yaitu sebanyak
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi 73 kontainer responden ditemukan jentik,
keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti, sedangkan 27 kontainer responden tidak
diantaranya yaitu kegiatan 3M dan abatisasi yang ditemukan jentik. Keadaan ini dikhawatirkan dapat
dilaksanakan oleh masyarakat masih kurang meningkatkan risiko penyakit DBD. Semua jentik
maksimal. Oleh karena itu, jika masyarakat ditemukan di kontainer yang berada di dalam
melakukan kegiatan 3M dan abatisasi dengan rumah. Keadaan ini menunjukkan bahwasanya
maksimal, maka dapat memutus rantai daur kesadaran masyarakat tentang pemberantasan
hidup nyamuk Aedes aegypti pada tahap masih nyamuk masih kurang. Keberadaan larva
berupa jentik. Hal ini dapat mencegah terjadinya Aedes aegypti merupakan indikator dari
penyakit DBD. Keberadaan jentik merupakan potensi keterjangkitan masyarakat akan DBD.
masalah yang sering dikaitkan dengan kejadian Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yaitu
DBD. Kontainer atau tempat penampungan 3M plus perlu digalakkan untuk memutus
air menjadi perhatian sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Jika
berkembangnya jentik-jentik nyamuk, termasuk pemberantasan sarang nyamuk tidak dilakukan,
nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor maka dikhawatirkan dapat menyebabkan penyakit
penularan penyakit DBD. Kurangnya kesadaran DBD. Pelaksanaan pemberantasan sarang
masyarakat akan pentingnya memberantas nyamuk dengan melakukan 3M plus secara terus
jentik nyamuk menyebabkan sulitnya pemutusan menerus dilakukan agar rumah dan tempat umum
perkembangbiakan nyamuk. Usaha dalam bebas dari jentik nyamuk Aedes aegypti sehingga
pemutusan perkembangbiakan nyamuk lewat penularan DBD dapat dicegah (Kementerian
program pemberantasan sarang nyamuk sudah Kesehatan RI, 2005).
sering diinformasikan kepada masyarakat. Selain program pencegahan DBD, program
Keberadaan jentik di kontainer memang cukup pemantauan jentik nyamuk juga penting untuk
berpengaruh mengingat vektor dari penularan menekan angka kejadian DBD. Program
penyakit DBD yaitu nyamuk Aedes aegypti siklus pemantauan jentik yaitu dibentuknya juru
hidupnya saat bertelur lalu menjadi larva ada di pemantau jentik yang bertugas untuk memantau
kontainer. Adanya jentik pada kontainer, maka kontainer warga dari jentik nyamuk, sehingga
peluang besar terbentuknya nyamuk muda yang jika pada kontainer ditemukan jentik nyamuk,
akan menjadi vektor dari penularan penyakit DBD maka akan segera ditindaklanjuti, yaitu dengan
semakin tinggi. Sehingga perlu pencegahan memberikan bubuk abate. Dari hasil wawancara
dengan pemberantasan sarang nyamuk. Dengan kepada responden, didapatkan hasil bahwasanya
pemberantasan sarang nyamuk diharapkan dapat ada beberapa responden yang mengaku
menekan angka pertumbuhan nyamuk dan dapat pernah didatangi juru pemantau jentik, serta
mengurangi angka kejadian DBD. Larva nyamuk ada pula yang mengaku tidak pernah sama
Aedes aegypti dapat berkembang selama 6–8 hari. sekali. Lebih banyak responden mengaku tidak
Nyamuk Aedes aegypti betina dapat menghasilkan pernah didatangi juru pemantau jentik. Menurut
hingga 100 telur apabila telah menghisap darah keterangan responden yang pernah didatangi juru
manusia. Telur pada tempat kering (tanpa air) pemantau jentik, jika ada kejadian DBD di daerah
dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur-telur ini tersebut, maka juru pemantau jentik akan aktif.
kemudian akan menetas manjadi jentik setelah 1-2 Persebaran aktifnya juru pemantau jentik memang
hari terendam air. Nyamuk Aedes aegypti betina tidak merata. Menurut keterangan perangkat
hanya kawin satu kali selama hidupnya. Nyamuk desa, juru pemantau jentik yaitu seorang kader
Aedes aegypti betina akan melakukan proses posyandu yang setiap dusun hanya ada 1 orang.
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 45

Juru pemantau jentik yang ada di Kecamatan sarang nyamuk telah sering dilakukan. Namun
Dringu sebanyak 56 orang yang tersebar di 14 kesadaran masyarakat yang rendah membuat
desa. Semua juru pemantau jentik aktif dan belum berhasilnya usaha dalam pemberantasan
setiap bulan memeriksa setiap rumah di wilayah sarang nyamuk. Pelaksanaan pemberantasan
kerjanya (Puskesmas Dringu, 2015). Tugas dari sarang nyamuk dengan melakukan 3M plus
juru pemantau jentik adalah memantau seluruh secara terus menerus dilakukan agar rumah dan
tempat penampungan air di dalam rumah dari tempat umum bebas dari jentik nyamuk Aedes
keberadaan jentik nyamuk. Juru pemantau jentik aegypti sehingga penularan DBD dapat dicegah
dibekali senter dan kartu pemeriksaan jentik. Jika (Kementerian Kesehatan RI, 2005). Puskesmas
ditemukan jentik nyamuk, maka juru pemantau Dringu diharapkan untuk mengaktifkan lagi juru
jentik akan mencatat temuan tersebut ke kartu pemantau jentik di setiap desa. Vakumnya juru
pemeriksaan jentik dan menegur pemilik dari pemantau jentik dapat mempengaruhi pesatnya
tempat penampungan air tersebut (Seksi Sanitasi perkembangbiakan nyamuk, sehingga Puskesmas
Puskesmas Dringu, 2015). Menurut keterangan Dringu diminta untuk segera mengaktifkan lagi
seorang perangkat desa mengatakan bahwasanya juru pemantau jentik yang vakum serta terus
peran juru pemantau jentik sudah diserahkan membina juru pemantau jentik yang aktif agar
kepada setiap KK, sehingga setiap KK harus tidak vakum.
memantau keberadaan jentik di rumahnya secara
mandiri. Dari keterangan tersebut dapat dikatakan Hubungan Pengetahuan Responden dengan
bahwasanya persebaran juru pemantau jentik Penggunaan Kasa pada Ventilasi
masih belum teratur. Hubungan pengetahuan responden dengan
Keaktifan juru pemantau jentik masih kurang penggunaan kasa pada ventilasi dapat dilihat
maksimal dan kurang kompak. Terdapat pula juru pada Tabel 5.
pemantau jentik yang bertugas ketika hanya terjadi
kasus DBD. Puskesmas Dringu yang dalam hal ini Tabel 5.
sebagai pembentuk dan pembina juru pemantau Hubungan Pengetahuan dengan Penggunaan Kasa
jentik seharusnya mengevaluasi dan aktif pada Ventilasi
turun ke bawah untuk melihat secara langsung
Penggunaan Kasa pada
bagaimana kinerja juru pemantau jentik. Selama Pengetahuan
Ventilasi
ini Puskesmas Dringu hanya menerima data saja Responden
Ya Tidak
dan kurang dapat bertindak ketika juru pemantau Baik 57 (57%) 0 (0%)
jentik tidak aktif. Perlu adanya koordinasi yang
Kurang 25 (25%) 18 (18%)
baik dan pemberian reward kepada juru pemantau
Jumlah 82 (82%) 18 (18%)
jentik yang telah melaksanakan tugas secara baik.
Sehingga muncul semangat untuk melaksanakan
Dari hasil penelitian mengenai pengetahuan
tugas dari para juru pemantau jentik. Selain
responden tentang DBD dengan penggunaan
pemberian hadiah, Puskesmas Dringu
kasa pada ventilasi menunjukkan bahwa
hendaknya rutin untuk mengevaluasi kinerja
p = 0,000 (p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa
dari juru pemantau jentik. Jika juru pemantau
H0 ditolak dan Ha diterima, artinya pengetahuan
jentik sudah tidak lagi mampu melaksanakan
responden tentang DBD mempunyai hubungan
tugas dengan baik, maka Puskesmas Dringu
dengan penggunaan kasa pada ventilasi, sehingga
sebaiknya menggantinya dengan petugas yang
kurangnya penggunaan kasa pada ventilasi
baru. Sehingga program juru pemantau jentik
dipengaruhi oleh pengetahuan masyarakat
tetap ada. Jika juru pemantau jentik tidak aktif,
tentang manfaat serta pentingnya penggunaan
maka tempat penampungan air atau kontainer
kasa pada ventilasi untuk mencegah penyebaran
milik warga tidak terpantau. Sehingga masyarakat
dan penularan penyakit DBD. Oleh karena itu,
yang kurang peduli dengan pentingnya memantau
perlu adanya kegiatan sosialisasi tentang
jentik dapat berisiko terkena penyakit DBD karena
pentingnya memasang kasa pada ventilasi.
siklus perkembangan nyamuk Aedes aegypti
Materi tentang pentingnya penggunaan kasa
dapat berlangsung dengan baik. Kepedulian
pada ventilasi terkadang luput dari pembahasan
masyarakat memang harus ditingkatkan. Usaha
ketika penyuluhan. Kegiatan penyuluhan paling
pemerintah dalam meningkatkan kepedulian
umum membahas tentang upaya pencegahan
masyarakat akan pentingnya pemberantasan
46 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

penyakit DBD. Kegiatan sosialisasi seperti bentuk pemasangan kasa, sehingga masyarakat
penyuluhan diharapkan dapat meningkatkan mengetahui manfaat dari pemasangan kasa pada
tingkat pengetahuan masyarakat. ventilasi.

Hubungan Pengetahuan Responden dengan Hubungan Tindakan Pencegahan Responden


Keberadaan Jentik pada Rumah dengan Keberadaan Jentik pada Rumah
Hubungan pengetahuan responden dengan Dari hasil penelitian mengenai tindakan
keberadaan jentik pada rumah dapat dilihat pada responden tentang pencegahan penyakit
Tabel 6. DBD dengan keberadaan jentik pada rumah
menunjukkan bahwa p = 0,043 (p < 0,05). Dapat
Tabel 6. disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,
Hubungan Pengetahuan dengan Keberadaan Jentik artinya tindakan responden tentang pencegahan
pada Rumah DBD mempunyai hubungan dengan keberadaan
Keberadaan Jentik jentik pada rumah. Hasil penelitian ini juga sejalan
Pengetahuan Responden dengan penelitian yang dilakukan oleh Aisah
Ada Tidak
Baik 69 (69%) 4 (4%)
(2012) yang menemukan bahwa ada hubungan
antara tindakan responden dengan keberadaan
Kurang 13 (13%) 14 (14%)
jentik pada rumah. Tindakan pencegahan
Jumlah 82 (82%) 18 (18%)
responden tentang pencegahan DBD yang
belum maksimal menyebabkan masih banyaknya
Dari hasil penelitian mengenai pengetahuan
ditemukan jentik-jentik nyamuk. Banyaknya jentik
responden tentang DBD dengan keberadaan
nyamuk mempunyai risiko besar untuk tertular
jentik pada rumah menunjukkan bahwa p = 0,004
penyakit DBD karena nyamuk merupakan vektor
(p < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa
utama dalam penularan penyakit DBD sehingga
H0 ditolak dan Ha diterima, artinya pengetahuan
perlu adanya usaha untuk meningkatkan tindakan
responden tentang DBD mempunyai hubungan
pencegahan terhadap penyakit DBD. Kegiatan
dengan keberadaan jentik pada rumah Hasil
sosialisasi berupa penyuluhan serta kerja bakti
penelitian menunjukkan HI sebesar 73%. Penelitian
masal merupakan salah satu upaya tindakan
ini sejalan dengan Aisah (2012) yang menemukan
pencegahan dan pemberantasan jentik nyamuk,
bahwa ada hubungan antara pengetahuan
sehingga angka kejadian DBD dapat ditekan
responden dengan keberadaan jentik pada
rumah. Pengetahuan responden tentang kejadian Hubungan Penggunaan Kasa pada Ventilasi
DBD perlu ditingkatkan untuk menekan angka dengan Keberadaan Jentik pada Rumah
keberadaan jentik di rumah, sehingga angka
kejadian DBD dapat ditekan. Dari hasil penelitian mengenai penggunaan
kasa pada ventilasi dengan keberadaan jentik
Hubungan Tindakan Pencegahan Responden pada rumah menunjukkan bahwa p = 0,000
dengan Penggunaan Kasa pada Ventilasi (p < 0,05). Bahwa Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya tindakan responden tentang pencegahan
Dari hasil penelitian mengenai tindakan
DBD mempunyai hubungan dengan keberadaan
responden tentang pencegahan penyakit
jentik pada rumah. Penggunaan kasa yang kurang
DBD dengan penggunaan kasa pada ventilasi
memudahkan nyamuk untuk memasuki rumah.
menunjukkan bahwa p = 0,004 (p < 0,05). bahwa
Semakin banyak nyamuk dapat memasuki rumah,
Ho ditolak dan Ha diterima, artinya tindakan
maka semakin banyak peluang rumah tersebut
responden tentang pencegahan DBD mempunyai
dapat digunakan sebagai tempat berkembang
hubungan dengan penggunaan kasa pada
biak. Jika rumah menggunakan kasa pada
ventilasi. Tindakan responden tentang pencegahan
ventilasinya, maka dapat mengurangi jumlah
DBD yang masih kurang menyebabkan belum
nyamuk yang memasuki rumah, sehingga nyamuk
banyak masyarakat memasang kasa pada
tidak dapat berkembang biak di dalam rumah.
ventilasi rumahnya. Pemasangan kasa merupakan
Nyamuk di dalam rumah senang bersembunyi di
salah satu cara untuk mencegah persebaran dan
tempat yang gelap dan lembab (Yudhastuti, 2011).
penularan penyakit DBD. Pengetahuan tentang
Ketika semakin banyak nyamuk yang ditemukan di
tindakan pencegahan penyakit DBD perlu untuk
rumah, maka potensi perkembangbiakan nyamuk
ditingkatkan, khususnya pencegahan dalam
juga semakin besar. Nyamuk berkembang biak
H Suryanto, Analisis Faktor Perilaku, Penggunaan Kasa, dan House Index 47

baik di rumah ditandai dengan munculnya ini diharapkan dapat menekan angka kejadian
jenti-jentik nyamuk di kontainer atau tempat DBD yaitu dengan program kerja bakti masal yang
penampungan air. Perlu adanya pencegahan dilakukan rutin setiap seminggu. Untuk menekan
agar supaya perkembangbiakan nyamuk angka kejadian DBD, maka dilakukan kegiatan
dapat ditekan, misalnya melakukan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk yaitu 3 M plus
pencegahan nyamuk yang lebih dikenal dengan secara serius dan mandiri agar dapat mengurangi
3 M plus. Selain melakukan kegiatan 3 M plus, keberadaan jentik nyamuk Aedes aegypti yang
pemasangan kasa pada ventilasi juga penting merupakan vektor dari penularan penyakit DBD
untuk mencegah nyamuk dari luar masuk ke sehingga populasi dari nyamuk Aedes aegypti
dalam rumah, sehingga dapat mengurangi jumlah dapat ditekan. Dengan demikian maka akan
keberadaan jentik di dalam rumah dan dapat mengurangi risiko penyakit demam berdarah
mencegah penularan penyakit DBD. dengue. Gerakan masyarakat ini juga merupakan
upaya mengajak masyarakat secara luas dan
bersama-sama untuk memberantas penyakit DBD
KESIMPULAN DAN SARAN
di wilayah tempat tinggalnya.
Pengetahuan responden sebagian besar telah Puskesmas diharapkan dapat mengaktifkan
baik, namun ada beberapa responden yang tingkat kembali juru pemantau jentik. Mengaktifkan
pengetahuannya masih kurang. Berdasarkan hasil kembali juru pemantau jentik di setiap desa
uji Chi Square, diketahui bahwa pengetahuan karena vakumnya juru pemantau jentik membuat
responden tentang DBD berhubungan dengan keberadaan jentik yang berkembang di
kejadian DBD. Penggunaan kasa pada ventilasi kontainer masyarakat menjadi tidak terpantau
sebagian besar masih kurang. Berdasarkan hasil mengingat keberadaan jentik serta tidak adanya
uji Chi Square diketahui bahwasanya penggunaan juru pemantau jentik berpengaruh terhadap
kasa pada ventilasi berhubungan dengan kejadian kejadian DBD di Kecamatan Dringu Kabupaten
DBD. Keberadaan jentik pada rumah responden Probolinggo. Puskesmas Dringu sebagai
sebagian besar masih tinggi. Berdasarkan hasil pembentuk dan pembina juga disarankan untuk
uji Chi Square diketahui bahwa keberadaan jentik rutin mengevaluasi kinerja dari juru pemantau
berhubungan dengan kejadian DBD. jentik. Evaluasi bertujuan untuk mengukur
Pemerintah setempat diharapkan untuk efektivitas kinerja dari juru pemantau jentik. Jika
melakukan kegiatan sosialisasi atau penyuluhan ditemukan petugas juru pemantau jentik yang tidak
tentang DBD. Penyuluhan tentang DBD sangat aktif dan sudah tidak sanggup untuk menjalankan
penting karena masih adanya masyarakat yang tugas, maka Puskesmas Dringu berhak mengganti
memiliki pengetahuan kurang mengenai DBD dengan petugas yang baru agar program juru
serta untuk meningkatkan kesadaran masyarakat pemantau jentik dapat terus berjalan. Selain
akan pentingnya mencegah penyakit DBD. Dalam evaluasi, Puskesmas Dringu disarankan untuk
materi penyuluhan, diselipkan manfaat dari memberikan intensif berupa uang dan hadiah atau
memasang kasa pada ventilasi karena keberadaan reward kepada petugas juru pemantau jentik yang
kasa pada ventilasi mempengaruhi kejadian DBD telah menjalankan tugas dengan baik. Sehingga
di Kecamatan Dringu. Jika masyarakat tidak petugas juru pemantau jentik merasa dihargai
memasang kasa pada ventilasi, dihimbaukan dan dapat menjadi penumbuh semangat dalam
untuk memakai lotion anti nyamuk agar supaya menjalankan tugas.
ketika tidur dan beraktivitas tidak digigit nyamuk.
Selain menyampaikan materi penyakit DBD dan
DAFTAR PUSTAKA
penggunaan kasa pada ventilasi, ditambahkan
pula materi mengenai sifat nyamuk yang Aisah, N. 2013. Hubungan Pengetahuan, Sikap, dan
menyukai ruangan gelap dan lembab karena saat Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk Aedes
aegypti dengan Keberadaan Larva di Kelurahan
penelitian, ditemukan banyak rumah responden Kassi-kassi Kota Makassar. Skripsi. Universitas
yang gelap dan pengab. Hal ini tentu menjadi Hassanudin Makassar, Indonesia.
tempat yang disukai nyamuk, sehingga perlu Arifin, Z. 2012. Hubungan Lingkungan Fisik, Kontainer,
untuk disampaikan kepada masyarakat. Selain dan Perilaku Masyarakat dengan Kejadian Demam
Berdarah Dengue di Kecamatan Sidokare, Kabupaten
penyuluhan, puskesmas bekerja sama dengan
Sidoarjo. Skripsi. Universitas Airlangga, Surabaya,
kantor desa setempat membentuk gerakan Indonesia.
masyarakat berantas DBD. Gerakan masyarakat
48 Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 10, No. 1 Januari 2018: 36–48

Badan Pusat Statistik Kabupaten Probolinggo. 2014. Indonesia. Jakarta. Direktorat Jenderal Pengendalian
Profil Kecamatan Dringu. Probolinggo. Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Berdian, R. 2013. Hubungan Faktor Lingkungan, Maria, I. 2013. Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah
dan Perilaku dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Makassar tahun 2013. Skripsi.
Dengue di Wilayah Kelurahan Way Halim Kota Universitas Hassanudin, Makassar, Indonesia.
Bandar Lampung. Skripsi. Universitas Diponegoro, Notoatmodjo, S. 2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat
Semarang, Indonesia. Prinsip-Prinsip Dasar. Rineka Cipta. Jakarta.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 2014. Data Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan.
Kejadian DBD di Jawa Timur Periode 2010–2014. Rineka Cipta. Jakarta.
Surabaya. Puskesmas Dringu. 2015. Data Persebaran Juru
Dinas Kesehatan Kabupaten Probolinggo. 2014. Data Pemantau Jentik di Kecamatan Dringu Kabupaten
Kejadian DBD di Kabupaten Probolinggo Periode Probolinggo. Probolinggo.
2012–2014. Probolinggo. Seksi Sanitasi Puskesmas Dringu. 2015. Standar
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Operasional Prosedur Juru Pemantau Jentik di
Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Kecamatan Dringu. Probolinggo.
Republik Indonesia. 2011. Modul Pengendalian Suryanto, H. 2015. Analisis Faktor Perilaku, Lingkungan,
Demam Berdarah Dengue. Jakarta. dan Pelayanan Kesehatan dengan Kejadian
Kementerian Kesehatan RI. 2004. Modul Surveilans. Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Dringu
Jakarta. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Kabupaten Probolinggo. Skripsi. Universitas
dan Penyehatan Lingkungan. Airlangga, Surabaya, Indonesia.
Kementerian Kesehatan RI. 2005. Pencegahan dan Yudhastuti, R. 2011. Pengendalian Vektor dan Rodent.
Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Surabaya. Pustaka Melati.