Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

SISTEM PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT


TERPADU
(SPGDT)

Disusun oleh:
1. DEVITA. TOISUTA ( 1614201578 )
2. MILLAN. MOODUTO ( 1514201346 )
3. WANDA. LENGKEY ( 1514201363 )
4. RINANG. GALELA ( 1514201354 )
5. MERRY. BOGAR ( 1514201345 )
6. MELITIA. TATANGINDATU ( 1514201344 )
7. HARIANTO. HASSU ( 1514201334 )

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN INDONESIA
MANADO
2018
1. Pengertian

SPGDT adalah sostem penanggulangan pasien gawat darurat terdiri dari Pra RS,

RS, dan antar RS. Berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is

lifi and limb saving yang melibatkan masyarakat umum dan khusus, petugas medis,

pelayanan ambulans gawat darurat dan komunikasi.Menurut Depkes tahun 2006

dalam buku pedoman PPGD menyatakan sistem Penanggulangan Gawat Terpadu

adalah sistem yang merupakan koordinasi berbagai unit kerja (multi sektor)

dan didukung berbagai kegiatan profesi (multi disiplin dan multi profesi)

untuk menyelenggarakan pelayanan terpadu bagi penderita gadar baik dalam

keadaan bencana maupun sehari - hari. pelayanan medis sistem ini terdiri 3

subsistem yaitu pelayanan pra RS, RS dan antar RS dan memiliki 8 komponen

yaitu:

a. Komponen/ Fase Deteksi

b. Komponen/ Fase Supresi

c. Komponen/ Fase Pra Rumah Sakit

d. Komponen / Fase Rumah Sakit

e. Komponen/Fase Rehabilitasi

f. Komponen Penanggulangan Bencana

g. Komponen Evaluasi/”Quality Control”

h. Komponen Dana
2. Tujuan Sistem Penanggulangan Gawat Terpadu

SPGDT bertujuan untuk tercapainya suatu pelayanan kesehatan yang optimal,

terarah dan terpadu bagi setiap anggota masyarakat yang berada dalam keadaan

gawat darurat.Upaya pelayanan kesehatan pada penderita gawat darurat pada

dasarnya mencakup suatu rangkaian kegiatan yang harus dikembangkan

sedemikian rupa sehingga mampu mencegah kematian atau cacat yang

mungkin terjadi. Cakupan pelayanan kesehatan yang perlu dikembangkan meliputi:

a. Penanggulangan penderita ditempat kejadian

b. Transportasi penderita gawat darurat dari tempat kejadian ke sarana

kesehatan yang lebih memadai

c. Upaya penyediaan sarana komunikasi untuk menunjang kegiatan

penanggulangan penderita gawat darurat

d. Upaya rujukan ilmu pengetahuan, pasien dan tenaga ahli.

e. Upaya penanggulangan penderita gawat darurat ditempat rujukan (unit

gawat darurat dan ICU).

f. Upaya pembiayaan penderita gawat darurat


3. Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Terpadu

A. Fase Deteksi

Fase ini dapat dideteksi dimana sering terjadi kecelakaan seperti Kecelakaan Lalu

Lintas (KLL), derah bekerja di pabrik yang berbahaya, tempat olahraga/main

anak sekolah yang tidak memenuhi syarat, di daerah mana sering terjadi tindak

criminal, gedung umum mana rawan terjadi rubuh/konstruksi tidak sesuai

dengan kondisi tanah, daerah mana rawan terjadi gempa.

B. Fase Supresi

Kalau kita dapat mendeteksi apa yang menyebabkan kecelakaan atau diamana

dapat terjadi bencana/korban maka kita dapat melakukan supresi :

a. Perbaikan konstruksi jalan (Engineering)

b. Pengetahuan peraturan lalu lintas (Enforcement)

c. Perbaikan kualitas helm

d. Pengetahuan undang - undang lalu lintas

e. Pengetahuan peraturan keselamatan kerja

f. engetatan peraturan keselamatan kerja

g. Peningkatan patrol keamanan

h. Membuat “Disaster Mapping”


A. Sistem Pelayanan Medik Pra Rumah Sakit

1) Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Orang Awam dan

Petugas Kesehatan (Sub - Sistem Ketenagaan)

Pada umumnya yang pertama menemukan penderita gawat darurat ditempat

musibah adalah masyarakat yang dikenal dengan istilah orang awam. Oleh karena

itu, sangatlah bermanfaat sekali bila orang awam diberi dan dilatih

pengetahuan dan keterampilan dalam penanggulangan penderita gawat darurat.

a. Klasifikasi orang awam

Ditinjau dari segi peranan dalam masyarakat orang awam dibagi 2 (dua)

golongan :

Golongan awam biasa antara lain seperti, guru, pelajar, ibu rumah tangga,

petugas hotel dan lain - lain.

1. Golongan awam khusus antara lain :

a) Anggota polisi

b) Petugas Dinas Pemadam Kebakaran

c) Satpam/hansip

d) Petugas DLLAJR

e) Petugas SAR (Search and Rescue)

f) Anggota pramuka (PMR)

Kemampuan penanggulangan penderita gawat darurat (Basic LifeSupport) yang

harus dimiliki oleh orang awam adalah:


a) Cara meminta pertolongan

b) Resusitasi kardiopulmoner sederhana

c) Cara menghentikan perdarahan

d) Cara memasang balut/bidai

e) Cara transportasi penderita gawat darurat

f) Tenaga perawat/ paramedic

1) Upaya Pelayanan Transportasi Penderita Gawat Darurat ( sub – system

Transportasi) AGD 118, Basic Trauma And Cardiac Life Support menguraikan

bahwa tujuan transportasi adalah memindahkan menderita gawat darurat

dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana kesehatan yang

memadai. Persyaratan yang harus dipenuhi untuk transportasi penderita gawat

darurat adalah :

1. Sebelum diangkat

a) Gangguan pernapasan dan kardiovaskuler telah ditanggulangi

b) Perdarahan telah dihentikan

c) Luka-luka telah ditutup

d) Patah tulang telah difiksasi


1. Selama perjalanan, harus dimonitor kesadaran, pernapasan,tekanan darah,

denyut nadi dan keadaan luka

2. Ambulans gawat darurat harus mencapai tempat kejadian 6 - 8 menit

supaya dapat mencegah kematian karena sumbatan jalan napas, henti

napas, henti jantung, dan perdarahan massif.

1) Upaya Pelayanan Komunikasi Medik untuk Penanggulangan Penderita

Gawat Darurat (Sub - Sistem Komunikasi) Pada dasarnya pelayanan

komunikasi di sektor kesehatan terdiri dari:

a. Komunikasi Kesehatan

Sistim komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan di

bidang administratif.

b. Komunikasi Medis

Sistim komunikasi ini digunakan untuk menunjang pelayanan kesehatan di

bidang teknis - medis.

b. Fase Rumah Sakit

Di Indonesia terdapat sekitar 982 Rumah Sakit dengan UGD nya dengan

kualitas yang bebeda - beda dan tidak ada kerjasama/koordinasi dalam

penanggulanagn pendderita gawat darurat maupun penanggulangan bencana. Di

suatu daerah sebaiknya kerja sama antar rumah sakit dilakukan dengan

”Regionalisasi”, seperti urban, Trauma Center Level I sebaiknya hanya satu


dan biasanya adalah “Teaching Hospital” dimana ada pendidikan specialis yang

merupakan Recidency. Service dan juga mempunyai tanggung jawab.

1) Upaya Pelayanan Penderita Gawat Darurat di Unit Gawat Darurat Rumah

Sakit (Sub - Sistem Pelayanan Gawat Darurat)

Seringkali Puskesmas berperan sebagai pos terdepan dalam menanggulangi

penderita sebelum memperoleh penanganan yang memadai di rumah sakit.

Oleh karena itu Puskesmas dalam wilayah tertentu harus buka selama 24 jam dan

mampu dalam melakukan hal - hal dibawah ini :

a. Melakukan resusitasi dan “life support”

b. Melakukan rujukan penderita-penderita gawat darurat sesuai dengan

kemampuan

c. Menampung dan menanggulangi korban bencana

Melakukan komunikasi dengan pusat komunikasi dan rumah sakit rujukan

Menanggulangi “false emergency” baik medical dan surgical (bedah minor)

Puskesmas tersebut harus dilengkapi dengan laboratorium untuk menunjang

diagnostic.Seperti : Hb, Ht, leukosit, urine dan gula darah. Tenaga yang harus

dimiliki adalah : 1 dokter umum dan paramedis (2 - 3 orang paramedis yang

sudah mendapatkan pendidikan tertentu dalam PPGD).

Rumah sakit merupakan terakhir dalam menanggulangi penderita gawat darurat.

Oleh karena itu fasilitas rumah sakit, dilengkapi sedemikian rupa sehingga mampu

menanggulangi penderita gawat darurat (“to save life and limd”).


Unit gawat darurat merupakan salah satu unit dirumah sakit yang memberikan

pelayanan kepada penderita gawat darurat dan merupakan bagian dari rangkaian

upaya penanggulangan penderita gawat darurat yang perlu diorganisir.

Tidak semua rumah sakit harus mempunyai bagian gawat darurat yang lengkap

dengan tenaga memadai sampai peralatan canggih, karena dengan demikian akan

terjadi peghamburan dana dan sarana. Oleh karena itu pengembangan unit gawat

darurat harus memperhatikan 2 (dua) aspek yaitu :

a. Sistem rujukan penderita gawat darurat.

b. Beban kerja rumah sakit dalam menanggulangi penderita gawat darurat

Dengan memperhatikan kedua aspek tersebut, maka kategorisasi (akreditasi) unit

gawat darurat tidak selalu sesuai dengan kelas rumah sakit yang

bersasngkutan.Rumah sakit tertentu dapat mengembangkan unit gawat darurat

dengan kategorisasi yang lebih tinggi atau lebih rendah dari kelas rumah sakit

tersebut.

1) Unit Pelayanan Intensif / ICU

ICU adalah ruang rawat rumah sakit dengan staf dan perlengkapan khusus

ditujukan untuk mengelola pasien dengan penyakit, trauma atau komplikasi

yang mengancam jiwa.


b. Fase Rehabilitasi

Semua penderita yang cedera akibat kecelakaan maupun bencana harus

dilakukan rehabilitasi secara mental maupun fisik sehingga mereka dapat kemabli

berfungsi di dalam kehidupan masyarakat.

c. SPGDT dalam Penanggulangan Bencana

Dalam penanggulangan bencana ada beberapa prinsip yang harus disepakati :

a. Penanggulangan bencana adalah eskalasi penanggulangan gawat darurat sehari –

hari.

b. Penanggulangan bencana tidak akan berhasil kalau penanggulanagn gawat

darurat sehari - hari buruk.

c. Bencana dapat terjadi di daerah “Urban” atau daerah “Rural”

Bencana dapat terjadi :

a. Di rumah sakitnya sendiri

b. Korban bencana di bawa ke UGD/RS

c. Bencana dalam kota (Urban)

d. Bencana di luar (Rural)

e. Bencana di luar pulau (Regional)

f. Bencana Nasional

g. Bencana Huru - hara/Perang


Untuk daerah “Rural” tau diluar pulau maka sebaiknya didatangkan bantuan dari

daerah “Urban” jika :

1. Tingkat Penanggulangan gawat darurat sehari - hari di bawah standar nasional

(Ada/tidaknya spesialis Empat Besar/Ahli Bedah)

2. Jumlah korban melebihi kemampuan petugas/ahli bedah

3. Bnatuan yang didatangkan adalah dengan memindahkan sarana:

a. PRA RS (AGD 118)

AGD 188 dalam keadaan bencana dapat berfungsi sebagai

a) Pengganti Puskesmas

b) Kamar operasi bedah minor

a. Unit AGD 118 dapat berfungsi sebagi RS lapangan

b. RS (UGD, Kamar Operasi, ICU, Farmasi, Rontgen, Laboratorium,

Dapaur, Satpam, dll)

Sistem SPGDT Pra Rumah Sakit( Pre Hospital Emergency Medical Servise)

merupakan suatu pendekatan yang sistematik untuk membawa penderita GD ke suatu

tempat penanganan yang definitf. Konsep AGD 118 adalah mendekatkan sarana GD

ke penderita dan bukan penderita ke sarana GD.

Dalam SPGDT pada fase pra rumah sakit ini juga termasuk pendiidkan, pelatihan

dan pemberian sertifikat bagi personil yang terlibat dalam sistem.Konsep utama
SPGDT pra RS difokuskan pada kerangka waktu penanggulangan pra RS yang

dikenal sebagai “RESPONSE TIME” (waktu tanggap).

SPGDT Pra RS dibagi dalam beberapa sub - sistem:

a. Akses

b. Komunikasi

c. Penanggulangan di temapt kejadian

d. Ekstrikasi

a) Resusitasi

b) Stabilitasi

c) Transportasi yang cepat ke Rumah Sakit yang sesuai

d) Pembentukan triase dan RS lapangan bila terjadi “Mass Casualties:

bencana atau peperangan

e) Pengaturan Personil

f) Pendidikan dan “Quality Improvement” (Gugus Kendali Mutu, GKM)

e. Orgasnisasi dan Kelembagaan

b. Faktor yang Mempengaruhi SPGDT

Ada beberapa hal yang mempengaruhi SPGDT pada penanggulangan bencana di

Rumah Sakit, yaitu:


1. Akses

a. Telepon 118 untuk pertolongan GD Medik .

b. Telepon 110 dan 113 untuk pertolongan kepolisian dan kebakaran.

1. Komunikasi

a. Masyarakat (minta tolong) ke system/akses

b. Komunikasi antar lembaga/unit dalam SPGDT

a) “Alarm Center” yang bertugas sebagai pusat komunikasi operasional SPGDT

b) Mempunyai kemampuan secara local, nasional maupun internasional

c) Design dari alarm center

d) Jenis alat komunikasi berupa radio, telpon, internet, dll

e) Bahasa menggunakan “Ten Code”

f) Bila terjadi bencana dibentuk : Outsid Command dan Onsite Command

Kedua sistem komando ini mempunyai komunikasi dengan frekuensi yang

berbeda tetapi terkoordinasi

2. Penaggulangan di Tempat Kejadian

A. Awam/Awam Khusus

Penderita umumnya ditemukan oleh orang terdekat dapat dikategorikan

ebagai awam (guru sekolah, orang tua, supir sekretaris dll) atau awam khusus

(petugas pemadam kebakaran, pramuka, polisi, satpam dll) Kemampuan awam dan

awam khusus dalam hal :


a. Cara meminta tolong

b. Bantuan Hidup Dasar (BLS)

c. Mengkontrol pendarahan

d. Memasang pembalut dan bidai

e. Transportasi

A. Paramedik

keberhasilan Paramedik AGD 118 sangat ditentukan oleh waktu tanggap (Response

Time).Penanggulangan terdiri atas assessment, bresusitasi, ekstrikasi, stabilisasi.

Keempat komponen penanggulangan ini dilakukan secara simultan dengan prioritas

ABC dengan selalu memperhatikan tulang belakang.

B. Transportasi

A. Prinsip transportasi pra RS ialah untuk mengangkut penderita GD dengan

cepat dan aman ke RS/sarana yang sesuai, tercepat dan terdekat.

B. Kendaraan ambulan darat/khusus dapat difungsikan sebagia ambulan RS

lapangan dan triase lapangan pada keadaan korban masal atau bencana.

C. Ambulan sepeda motor:

D. Merupakan kedaran khusus bagi paramedic penolong yang menuju ke lokasi

penderita GD mendahului roda empat. Ambulan sepeda motor ini harus

dilengkapi perlatan resusitasi dan tabilisasiyang “Portable” sesuai

kemampuan/daya angkut sepeda motor.


E. Puskesmas keliling dapat ditingkatkan menjadi ambulan untuk pelayanan

AGD 118.

a. Personil

Jenis personil yang diikutsertakan adalah:

A. Dokter

B. Paramedik Tingkat I, II, III

C. Universitas

D. Perawat

E. Non Medik: Administrator, mekanik, pekarya dll.

Paramedik Merupakan personil mutlak harus mempunyai keterampilan dalam

penanggulangan penderita GD pra RS (dan kadang-kadang di UGD)

b. Organisasi

Biasanya diperlukan waktu lebih dari 30 menit pada fase pra RS sebelum tiba di UGD

untuk tindakan pertolongan selanjutnya. Karena itu dibuthkan organisasi yang baik

di semua tingkat. Organsasi harus menjamin kesiapan pelayanan 24 jam perhari

secra terus - menerus. Penilaian orgasnisasi yang baik dilihat dari waktu tanggap

yang baik. AGD 118 di beberapa daerah mempunyai orgasnisasi yang

bervariasi misalnya :
A. Yogyakarta : Dikoordinasi oleh PERSI cabang Yogyakarta dengan

“Alarm Center” berpusat di PMI cabang Yogyakarta.

B. Ujung Pandang : Dikoordinasi oleh RS Islam

C. Surabaya : Dikoordinasi oleh RS Dr. Soetomo

D. Jakarta :merupakan yayasan AGD 118 langsung di bawah koordinasi

IKABI Pusat Yayasan AGD 118 merupakan organisasi Tingkat

Nasional yang mempunyai fungsi standard yang harus diikuti oleh

daerah namun diadaptasi sesuai dengan kondisi setempat. Standard

ini juga mencakup struktur organisasi penataan personil, kurikulum

pendidikan, standarisasi peralatan (medic dan non - medik), logo,

seragam, “badge” dll.

c. Pendidikan dan Quality Improvement

Lembaga dari Pendidikan AGD adalah untuk:

A. Mendidik petugas paramedic dari lulusan SPK/AKPER untuk

menjadi paramedic. Lama pendidikan 2 - 3 tahun (120-300 jam

ditambah magang).

B. Mendidik perawat di bidang P3K, resusitasi, stabilisasi,

evakuasi darat, laut, udara, dan mengemudi.

C. Mendidik awam/awam khusus dalam bidang P3K dan cara

meminta tolong.
D. Menjalin hubungan dan “Fellowship” dengan luar negeri untuk

pendidikan “Paramedik”, kursus-kursus dll.

E. Membantu pelaksanaan pendidikan ATLS/ACLS bagi dokter -

dokter yang bekerja di UGD atau lembaga - lembaga GD lainnya

di seluruh Indonesia.

F. Menyediakan sarana pendidikan dan perawatnya.


DAFTAR PUSTAKA

Depkes. Kebijakan Kemenkes dalam Sistem Penanggulangan Gawat Darurat


Terpadu (Spgdt) dan Bencana.http://buk.depkes.go.iddiakses tanggal 18 November
2013

Umar, Nazaruddin. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu. Departemen


Anestesiologi & Reanimasi Fakultas Kedokteran USU RSUP. H. Adam Malik Medan

. SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat


Terpadu)http://pertolonganpertamaonline.blogspot.com diakses tanggal 18 November
2013