Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN PRAKTIKUM BIOSTATISTIK

“HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU DENGAN USIA


PEMBERIAN MP-ASI DINI BALITA DI KABUPATEN BANTUL”

KELOMPOK 2
Aksarani Tri Puji A. 170400366
Fenti Lolita Bahri 170400376
Mita Rukmawati 170400379
Nikmatus Sholihah 170400381
Wildawati Mino 170400405

PROGRAM STUDI S1 ILMU GIZI


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ALMA ATA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Masalah gizi adalah hal yang sangat penting dan mendasar bagi

kehidupan manusia. Kekurangan gizi selain dapat menimbulkan masalah

kesehatan (morbiditas, mortalitas dan disabilitas), juga menurunkan kualitas

sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Dalam skala yang lebih luas,

kekurangan gizi dapat menjadi ancaman bagi ketahanan dan kelangsungan

hidup suatu bangsa (Depkes, 2013).

UNICHEF, WHO dan IDAI merekomendasikan untuk memberikan

hanya ASI saja atau ASI eksklusif sejak bayi lahir sampai umur 6 bulan dan

memberikan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) pada bayi mulai umur 6

bulan. Selain itu juga merekomendasikan untuk tetap memberikan ASI hingga

bayi berumur 2 tahun. Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-

ASI) pada balita dilakukan secara bertahap. Pada usia 6 bulan, bayi

diperkenalkan dengan makanan lumat seperti buah, biskuit atau bubur susu.

Usia 6-9 bulan mulai diberikan nasi tim dalam bentuk lumat untuk

mempertinggi nilai gizi makanannya. Usia 9-12 bulan anak sudah dapat

diperkenalkan makanan keluarga. Dalam hal ini, kepadatan makanan perlu

diperhatikan. Pada usia di atas 1 tahun, anak dapat diberikan makanan

keluarga dan makanan selingan lainnya. Pelaksanaan pemberian MP-ASI

meliputi kapan waktu yang tepat diberikan, apa dan bagaimana makanan

pendamping diberikan. Sedangkan menurut Ririn (2007), usia diatas 6 bulan

adalah waktu yang tepat dalam pemberian MP-ASI.


Propinsi DIY merupakan daerah cakupan pelayanan kesehatan

tertinggi, dan angka gizi kurang di DIY telah jauh melampaui target nasional.

Namun penderita gizi buruk masih dijumpai diwilayah DIY. Prevalensi gizi

kurang dikota Yogyakarta masih tinggi yaitu 7,7%, sedangkan prevalensi gizi

kurang di kabupaten Sleman 10%, Kulon Progo 9,9%, Gunung Kidul 16,4%

dan Bantul 15,5%. Gizi buruk yang makin meningkat pertahun di DIY

menambah peluang bayi atau balita yang mengalami gizi kurang untuk

menjadi gizi buruk, Tahun 2013 12,2% balita mengalami gizi kurang yang

akan terus bertambah jika tidak ditangani secara menyeluruh dan terpadu

(Dinkes DIY, 2013). Menurut laporan dinas kesehatan Propinsi DIY tahun

2013, jumlah prevalensi gizi buruk yang ditemukan di kota Gunung Kidul

4,7%, Yogyakarta 4,3%, Sleman 5,5%, Bantul 2,1%,dan Kulon Progo 2,4%

(profil kesehatan DIY, 2013).

Penyebab utama terjadinya gizi kurang dan hambatan pertumbuhan

pada anak-anak usia 3-15 bulan berkaitan dengan rendahnya pemberian ASI

dan buruknya praktek pemberian makanan pendamping ASI. Berbagai

masalah yang ada dalam gizi bayi tidak mendiamkan pemerintah untuk

membuat sebuah kebijakan untuk menurunkan angka permasalahan yang

ada,upaya tersebut dapat terlihat di antaranya melalui revitalisasi Posyandu

dalam meningkatkan cakupan penimbangan balita, penyuluhan dan

pendampingan, pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) atau

Pemberian Makanan Tambahan (PMT), peningkatan akses dan mutu

pelayanan gizi melalui tata laksana gizi buruk di puskesmas perawatan dan
rumah sakit, penanggulangan penyakit menular dan pemberdayaan masyarakat

melalui Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).

Tingkat pendidikan ibu yang rendah, wawasan pengetahuan terbatas

dan tradisi turun temurun merupakan faktor yang mendukung timbulnya

anggapan bahwa ASI saja tidak cukup sebagai makanan bayi. Akibatnya para

ibu memberikan bentuk cairan sebagai makanan pendamping ASI sebelum

bayi mencapai umur 6 bulan. Jadi anjuran pemberian ASI eksklusif minimal 6

bulan sangat sulit di laksanakan sesuai harapan (Roesli, 2005).

Sujono (2012) menyatakan ASI merupakan makanan yang didapatkan

bayi hingga berumur 6 bulan dan mendapatkan Makanan Pendamping ASI

kadang diberikan sebelum bayi berumur 6 bulan, hal ini terjadi karena ibu

kurang mengetahui tentang pemberian makanan pendamping ASI yang benar,

disamping itu beberapa faktor seperti status pekerjaan ibu menjadi alasan ibu

memberikan makanan pendamping ASI terlalu dini sehingga dapat

meningkatkan angka kematian bayi, mengganggu sistem pencernaan pada

bayi, dan apabila terlambat memberikan juga akan membuat bayi kekurangan

gizi).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Tri Winasih (2009) Yang

Berjudul “Hubungan Tingkat Pendidikan Ibu Dengan Ketepatan Waktu

Pemberian Makanan Pendamping Asi Di Posyandu Desa Kliwonan

Kecamatan Masaran Kabupaten Sragen” peneliti melanjutkan uji dengan

analisis variansi, yang tujuannya untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan

pengaruh tingkat pendidikan dengan ketepatan waktu pemberian MP-ASI


(yang terlihat melalui score angket). Hasil dari analisis variansi dengan

Hipotesis null ditolak pada signifikansi 5% . Kesimpulannya, ada perbedaan

pengaruh tingkat pendidikan terhadap waktu pemberian makanan pendamping

ASI.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ummi Kalsum (2015)

yang berjudul “Hubungan Umur Pemberian Pertama Makanan Pendamping

ASI (MP-ASI) dengan Status Gizi Anak 7-36 bulan” Sebagian besar

responden ibu balita memberikan MP-ASI pertama kali pada anak berumur <

6 bulan (91,1 %). Secara statistik terbukti ada hubungan umur pemberian MP-

ASI pertama dengan status gizi.

Umur pemberian MP-ASI < 6 bulan bersifat protektif terhadap gizi

buruk yang juga berarti usia pemberian MP-ASI pertama >= 6 bulan berisiko

untuk menyebabkan status gizi buruk pada anak umur 7-36 bulan. Berarti

umur pemberian MP-ASI pertama kali tidak boleh melebihi 6 bulan, karena

memicu status gizi menjadi lebih buruk. MP-ASI yang melebihi umur 6 bulan

akan menyebabkan anak kurang mendapatkan asupan gizi yang dibutuhkan

untuk pertumbuhannya.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan masalah pokok yang diuraikan dalam latar belakang di

atas, maka dapat diambil rumusan masalah yaitu“Apakah ada Hubungan

tingkat pendidikan ibu dengan usia pemberian MP-ASI dini?”


C. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan Umum

Mengetahui Hubungan tingkat pendidikan ibu dengan usia

pemberian MP-ASI dini.

2. Tujuan Khusus

1. Mengetahui hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian

Makanan Pendamping Air Susu Ibu dengan status gizi bayi.

2. Mengetahui hubungan antara praktek pemberian Makanan

Pendamping Air Susu Ibu dengan status gizi bayi

3. Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan pemberian

Makanan Pendamping Air Susu Ibu

D. MANFAAT PENELITIAN

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

informasi dalam pengembangan untuk menambah wawasan ilmu

pengetahuan tentang Hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian

MP-ASI.

2. Manfaat Praktis

a. Manfaat Bagi Institusi Wilayah Kerja

Hasil penelitian yang dilakukan dapat digunakan sebagai bahan

masukan atau untuk tambahan informasi agar lebih memperhatikan

kondisi kesehatan masyarakat terutama ibu yang memiliki balita, serta


meningkatkan upaya pencegahan preventif pada status gizi kurang dan

gizi buruk.

b. Manfaat Bagi Institusi Pendidikan

Untuk memberikan informasi serta wawasan bagi peneliti

dibidang gizi dan dapat digunakan sebagai referensi bagi peneliti

selanjutnya dan bahan penelitian lanjutan tentang hubungan tingkat

pendidikan ibu dengan pemberian MP-ASI.

c. Manfaat Bagi Ibu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran

mengenai pentingnya pemberian makanan pendamping Air Susu Ibu

terutama pada bayi usia 6 – 12 bulan, sehingga pertumbuhan anak

dapat berjalan normal sesuai dengan umur.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Makanan Pendamping ASI

Periode emas dalam dua tahun pertama kehidupan anak dapat

tercapai optimal apabila ditunjang dengan asupan nutrisi tepat sejak lahir

(Brown., Dewey dan Allen. 1998). Menurut (Pemerintah RI. 2012) Air

Susu Ibu (ASI) sebagai satu-satunya nutrisi bayi sampai usia enam

bulan dianggap sangat berperan penting untuk tumbuh kembang,

sehingga rekomendasi dari pemerintah, bahkan kebijakan WHO mengenai

hal ini telah ditetapkan dan dipublikasikan ke seluruh dunia (Cogill,

2001).

Status gizi balita merupakan hal penting yang harus diketahui oleh

setiap orang tua. Perlunya perhatian lebih dalam tumbuh kembang di usia

balita didasarkan fakta bahwa kurang gizi yang terjadi pada masa emas

ini, bersifat irreversible (tidak dapat pulih). Sebagian besar kejadian

kurang gizi dapat dihindari apabila mempunyai cukup pengetahuan tentang

cara pemeliharaan gizi dan mengatur makanan anak. Ketidaktahuan

tentang cara pemberian makanan bayi dan anak, dan adanya kebiasaan

yang merugikan kesehatan, secara langsung dan tidak langsung menjadi

penyebab utama terjadinya masalah kurang gizi dan infeksi pada anak,

khususnya pada umur dibawah 2 tahun (Khomsan, 2007). Kenyataannya,

praktek pemberian MP-ASI dini sebelum usia enam bulan masih banyak
dilakukan di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini akan

berdampak terhadap kejadian infeksi yang tinggi seperti diare, infeksi

saluran napas, alergi hingga gangguan pertumbuhan (Brown., Dewey.,

d a n Allen, 1998).

Asupan nutrisi yang tidak tepat juga akan menyebabkan anak

mengalami malnutrisi yang akhirnya meningkatkan angka kejadian

morbiditas dan mortalitas (Dietz, 2000). Kurang gizi pada balita dapat

berdampak terhadap pertumbuhan fisik maupun mentalnya. Usia 0-24

bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat,

sehingga dapat diistilahkan sebagai periode emas sekaligus kritis Periode

emas dapat diwujudkan apabila pada masa bayi dan anak

memperoleh asupan gizi yang sesuai dengan tumbuh kembang yang

optimal. Sebaliknya pada bayi dan anak pada masa usia 0-24 bulan tidak

memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhan gizi, maka periode emas

ini akan berubah menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh

pembang bayi dan anak, saat ini maupun selanjutnya (Titariza, 2009)

1) Pengertian MP-ASI

Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) adalah makanan

atau minuman yang mengandung zat gizi yang diberikan pada bayi

atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain ASI.

MP-ASI merupakan makanan peralihan dari ASI ke makanan

keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI harus dilakukan secara

bertahap baik bentuk maupun jumlahnya, sesuai dengan kemampuan


bayi. Pemberian MP-ASI yang cukup kualitas dan kuantitasnya

penting untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan anak

yang sangat pesat pada periode ini, tetapi sangat diperlukan hygienitas

dalam pemberian MP-ASI tersebut. Sanitasi dan hygienitas MP-ASI

yang rendah memungkinkan terjadinya kontaminasi mikroba yang

dapat meningkatkan risiko atau infeksi lain pada bayi. Selama kurun

waktu 4-6 bulan pertama ASI masih mampu memberikan kebutuhan

gizi bayi, setelah 6 bulan produksi ASI menurun sehingga kebutuhan

gizi tidak lagi dipenuhi dari ASI saja. Peranan makanan tambahan

menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi tersebut

(Winarno, 1987)

2) Tujuan Pemberian MP-ASI

Pemberian makanan pendamping ASI mempunyai tujuan

memberikan zat gizi yang cukup bagi kebutuhan bayi atau balita guna

pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikomotorik yang

optimal, selain itu untuk mendidik bayi supaya memiliki kebiasaan

makan yang baik. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik jika

dalam pemberian MP-ASI sesuai pertambahan umur, kualitas dan

kuantitas makanan baik serta jenis makanan yang beraneka ragam

(Muthmainnah. 2010).

MP-ASI diberikan sebagai pelengkap ASI sangat membantu

bayi dalam proses belajar makan dan kesempatan untuk menanamkan

kebiasaan makan yang baik (Utami, Karina Dewi. 2011). Tujuan


pemberian MP-ASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat gizi

yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan

bayi secara terus menerus, dengan demikian makanan tambahan

diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan nutrisi total

pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI (WHO. 2003.).

3) Persyaratan MP-ASI

Makanan pendamping ASI (MP-ASI) diberikan sejak bayi

berusia 6 bulan. Makanan ini diberikan karena kebutuhan bayi akan

nutrien-nutrien untuk pertumbuhan dan perkembangannya tidak dapat

dipenuhi lagi hanya dengan pemberian ASI. MP-ASI hendaknya

bersifat padat gizi, kandungan serat kasar dan bahan lain yang sukar

dicerna seminimal mungkin, sebab serat yang terlalu banyak

jumlahnya akan mengganggu proses pencernaan dan penyerapan zat-

zat gizi. Selain itu juga tidak boleh bersifat kamba, sebab akan cepat

memberi rasa kenyang pada bayi. MP-ASI jarang dibuat dari satu jenis

bahan pangan, tetapi merupakan suatu campuran dari beberapa bahan

pangan dengan perbandingan tertentu agar diperoleh suatu produk

dengan nilai gizi yang tinggi. Pencampuran bahan pangan hendaknya

didasarkan atas konsep komplementasi protein, sehingga masing-

masing bahan akan saling menutupi kekurangan asam-asam amino

esensial, serta diperlukan suplementasi vitamin, mineral serta energi

dari minyak atau gula untuk menambah kebutuhan gizi energi

(Muchtadi, 1996.).
4) Resiko Pemberian MP-ASI Terlalu Dini

Pemberian MP-ASI harus memperhatikan Angka Kecukupan

Gizi (AKG) yang dianjurkan berdasarkan kelompok umur dan tekstur

makanan yang sesuai perkembangan usia balita. Pemberian MP-ASI

dini menyebabkan ketidak mampuan pencernaan bayi menerima

makanan tambahan. Akibatnya banyak bayi yang mengalami diare

(Siahaan. 2005). Masalah gangguan pertumbuhan pada usia dini yang

terjadi di Indonesia diduga kuat berhubungan dengan banyaknya bayi

yang sudah diberi MP-ASI sejak usia satu bulan, bahkan sebelumnya

(Jahari; dkk, 2000).

Pemberian MP-ASI terlalu dini juga akan mengurangi

konsumsi ASI, dan bila terlambat akan menyebabkan bayi kurang

gizi. Umur yang paling tepat untuk memperkenalkan MP-ASI adalah

enam bulan, pada umumnya kebutuhan nutrisi bayi yang kurang dari

enam bulan masih dapat dipenuhi oleh ASI. Tetapi, setelah berumur

enam bulan bayi umumnya membutuhkan energi dan zat gizi yang

lebih untuk tetap bertumbuh lebih cepat sampai dua kali atau lebih

dari itu, disamping itu pada umur enam bulan saluran cerna bayi

sudah dapat mencerna sebagian makanankeluarga seperti tepung

(Albar, 2004)

Menurut Utami, Karina Dewi. (2013) bahwa bayi yang

mendapat MP-ASI kurang dari empat bulan akan mengalami risiko

gizi kurang lima kali lebih besar dibandingkan bayi yang mendapatkan
MP-ASI pada umur empat-enam bulan setelah dikontrol oleh

asupan energi dan melakukan penelitian kohort selama empat bulan

melaporkan pemberian MP-ASI terlalu dini (<empat bulan)

berpegaruh pada gangguan pertambahan berat badan bayi, meskipun

tidak berpengaruh pada gangguan pertambahan panjang bayi.

Adapun resiko pemberian makanan tambahan terlalu dini, yaitu:

(Azwar. 2002)

a. Resiko Jangka Pendek

Resiko jangka pendek yang terjadi seperti mengurangi keinginan

bayi untuk menyusui sehingga frekuensi dan kekuatan bayi

menyusui berkurang dengan akibat produksi ASI berkurang.

Selain itu pengenalan serelia dan sayur-sayuran tertentu dapat

mempengaruhi penyerpan zat besi dan ASI, walaupun

konsentrasi zat besi dalam ASI rendah, tetapi lebih mudah

diserap oleh tubuh bayi. Pemberian makanan dini seperti pisang,

nasi didaerah pedesaan di Indonesia sering menyebabkan

penyumbatan saluran cerna/diare serta meningkatnya resiko

terkena infeksi (Azwar, Azrul. 2002).

b. Resiko Jangka Panjang

Resiko jangka panjang dihubungkan dengan obesitas,

kelebihan dalam memberikan makanan adalah resiko utama dari

pemberian makanan yang terlalu dini pada bayi. Konsekuensi

pada usia-usia selanjutnya adalah kelebihan berat badan


ataupun kebiasaan makan yang tidak sehat (Azwar, Azrul. 2002).

Kandungan natrium dalam ASI yang cukup rendah (± 15

mg/100 ml), namun jika masukan dari diet bayi dapat meningkat

drastis jika makanan telah dikenalkan. Konsekuensi di kemudian

hari akan menyebabkan kebiasaan makan yang memudahkan

terjadinya gangguan hipertensi. Selain itu, belum matangnya

sistem kekebalan dari usus pada umur yang dini dapat

menyebabkan alergi terhadap makanan (Azwar, Azrul. 2002).

5) Pemberian Makanan Anak Umur 0-24 Bulan yang Baik dan Benar

Sesuai dengan bertambahnya umur bayi, perkembangan dan

kemampuan bayi menerima makanan, maka makanan bayi atau anak

umur 0-24 bulan dibagi menjadi 4 tahap yaitu:

a. Makanan bayi umur 0-6 bulan

1) Hanya ASI saja (ASI Eksklusif)

Kontak fisik dan hisapan bayi akan merangsang produksi ASI

terutama pada 30 menit pertama setelah lahir. Pada periode

ini ASI saja sudah dapat memenuhi kebutuhan gizi bayi, ASI

adalah makanan terbaik untuk bayi. Menyusui sangat baik

untuk bayi dan ibu, dengan menyusui akan terbina hubungan

kasih sayang antara ibu dan anak

2) Berikan kolostrum

Kolostrum adalah ASI yang keluar pada hari-hari pertama,

kental dan berwarna kekuning-kuningan. Kolostrum


mengandung zat-zat gizi dan zat kekebalan yang tinggi.

3) Berikan ASI dari kedua payudara

Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong, kemudian

pindah ke payudara lainnya, ASI diberikan 8-10 kali setiap

hari.

b. Makanan bayi umur 6-9 bulan

Pemberian ASI diteruskan. Pada umur 10 bulan bayi mulai

diperkenalkan dengan makanan keluarga secara bertahap, karena

merupakan makanan peralihan ke makanan keluarga. Berikan

makanan selingan 1 kali sehari, seperti bubur kacang hijau, buah

dan lain-lain. Bayi perlu diperkenalkan dengan beraneka ragam

bahan makanan, seperti lauk pauk dan sayuran secara berganti-

gantian.

c. Makanan bayi umur 12-24 bulan

Pemberian ASI diteruskan. Pada periode umur ini jumlah ASI

sudah berkurang, tetapi merupakan sumber zat gizi yang

berkualitas tinggi. Pemberian MP-ASI atau makanan keluarga

sekurang-kurangnya 3 kkali sehari dengan porsi separuh makanan

orang dewasa setiap kali makan. Disamping itu tetap berikan

makanan selingan 2 kali sehari. Variasi makanan diperhatikan

dengan menggunakan padanan bahan makanan.

d. Menyapih anak harus bertahap, jangan dilakukan secara tiba-tiba.

Kurangi frekuensi pemberian ASI sedikit demi sedikit. Pada


prinsipnya makanan tambahan untuk bayi atau yang biasa

dikenal sebagai makanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah

makanan yang kaya zat gizi, mudah dicerna, mudah disajikan,

mudah menyimpannya, higienis dan harganya terjangkau. Makanan

tambahan pada bayi dapat berupa campuran dari beberapa bahan

makanan dalam perbandingan tertentu agar diperoleh suatu produk

dengan nilai gizi yang tinggi (Purnamasari, Wulandari Eka. 2014.) .

B. Tingkat Pendidikan

Menurut UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

pada bab I pasal 1 menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar

untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan pendidikan, pengajaran

dan latihan bagi peranannya di masa yang akandatang. Berkaitan dengan

jenjang atau tingkatan yang ada dalam pendidikan sekolah, sikap dan

kepribadian seseorang akan berubahsetelah memperoleh pendidikan sesuai

dengan jenjang pendidikan yang berbeda- beda.

Menurut Kusumawati, Yuli (2004) latar belakang pendidikan

seseorang berhubungan dengan tingkat pengetahuan. Tingkat pendidikan

itu sangat mempengaruhi kemampuan penerimaan informasi gizi.

Masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah akan lebih baik

mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan makanan

sehingga sulit menerima informasi baru bidang gizi. Tingkat pendidikan

ikut menentukan atau mempengaruhi mudah tidaknya seseorang menerima

suatu pengetahuan, semakin tinggi pendidikan maka seseorang akan lebih


mudah menerima informasi-informasi gizi.

Pendidikan ibu disamping merupakan modal utama dalam

menunjang perekonomian rumah tangga juga berperan dalam pola

penyusunan makanan untuk rumah tangga. Wahidah (2005) menyatakan

bahwa tingkat pendidikan formal ibu rumah tangga berhubungan positif

dengan perbaikan pola konsumsi pangan keluarga dan pola pemberian

makanan pada bayi dan anak. Hal ini dikarenakan tingkat pendidikan akan

mempengaruhi konsumsi melalui pemilihan bahan pangan.

Menurut UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003

menjelaskan bahwa indikator tingkat pendidikan terdiri dari jenjang

pendidikan dan kesesuaian jurusan. Jenjang pendidikan adalah tahapan

pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan,

yaitu terdiri dari:

1) Pendidikan dasar

Jenjang pendidikan awal selama 9 (sembilan) tahun pertama masa

sekolah anak-anak yang melandasi jenjang pendidikan menengah.

Pendidikan dasar terdiri dari :

a. Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah

b. SMP atau MTs

Menurut Ihsan (2006) Pendidikan dasar diselenggarakan untuk

memberikan bekal dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat,

berupa pengembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan dasar.


2) Pendidikan menengah

Jenjang pendidikan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah

terdiri dari:

a. SMA dan MA

b. SMK dan MAK

Menurut Ihsan (2006) Pendidikan menengah dalam hubungan

kebawah berfungsi sebagai lanjutan dan perluasan pendidikan dasar.

Adapun dalam hubungan keatas mempersiapkan peserta didik untuk

mengikuti pendidikan tinggi ataupun memasuki lapangan kerja.

3) Pendidikan tinggi

Jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup

program sarjana, magister, doktor, dan spesialis yang diselenggarakan

oleh perguruan tinggi.

Pendidikan tinggi terdiri atas:

- Akademik

- Institut

- Sekolah Tinggi

Menurut Ihsan (2006) Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari

pendidikan menengah, yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta

didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik

dan/ atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/ atau

menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. Dari uraian

diatas jenjang persekolahan atau tingkat-tingkat yang ada pada pendidikan


formal dimengerti bahwa pendidikan merupakan proses yang

berkelanjutan. Oleh karena itu setiap jenjang atau tingkat pendidikan itu

harus dilaksanakan secara tertib, dalam arti tidak bisa terbalik

penempatannya. Setiap jenjang atau tingkatan mempunyai tujuan dan

materi pelajaran yang berbeda-beda.

Perbedaan luas dan kedalaman materi ajaran tersebut jelas akan

membawa pengaruh terhadap kualitas lulusannya, baik ditinjau dari segi

pengetahuan, kemampuan, sikap maupun kepribadiannya. Manusia

memerlukan pengetahuan, ketrampilan, penguasaan teknologi, dan dapat

mandiri memalui pendidikan. Produktivitas kerja memerlukan

pengetahuan, ketrampilan dan penguasaan teknologi. Sehingga dengan

adanya tingkat pendidikan karyawan maka kinerja karyawan akan menjadi

lebih baik dan tujuan dari perusahaan akan tercapai dengan sempurna

(Uyoh, 2006).

1. Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pendidikan

Faktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan menurut Hasbullah (2003)

adalah sebagai berikut:

a. Ideologi

Semua manusia dilahirkan kedunia mempunyai hak yang sama

khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan

pengetahuan dan pendidikan.


b. Sosial Ekonomi

Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi memungkinkan seseorang

mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

c. Sosial Budaya

Masih banyak orang tua yang kurang menyadari akan pentingnya

pendidikan formal bagi anak-anaknya.

d. Perkembangan IPTEK

Perkembangan IPTEK menuntut untuk selalu memperbaharui

pengetahuan dan keterampilan agar tidak kalah dengan negara maju.

e. Psikologi

Konseptual pendidikan merupakan alat untuk mengembangkan

kepribadian individu agar lebih bernilai. Menurut Green (1980) bahwa

tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberikan

respon terhadap sesuatu yang datang dari luar, mereka yang

mempunyai pendidikan lebih tinggi akan memberi respon yang

rasional daripada mereka yang berpendidikan rendah. Orang yang

mempunyai pendidikan tinggi diharapkan lebih peka terhadap kondisi

keselamatannya, sehingga lebih baik dalam memanfaatkan fasilitas

keselamatan (Green, 1980).

C. Jenis Pekerjaan

1. Definisi Ibu Bekerja

Menurut Encyclopedia of Children’s Health, ibu bekerja adalah

seorang ibu yang bekerja di luar rumah untuk mendapatkan


penghasilan di samping membesarkan dan mengurus anak di rumah.

Lerner (2001), ibu bekerja adalah ibu yang memiliki anak dari umur 0-

18 tahun dan menjadi tenaga kerja.

2. Statistik Ibu Bekerja

Jumlah ibu bekerja di seluruh dunia mencapai 54,3 % pada

tahun 2001 (OECD, 2001). Peran ganda ibu sebagai ibu rumah tangga

dan sebagai pencari nafkah semakin dibutuhkan seiring dengan

kemajuan teknologi. Menurut Bower (2001) dalam Reynolds et.

al.(2003), selain faktor ekonomi, partisipasi para ibu di lapangan kerja

juga dipengaruhi oleh faktor sosial, politik dan demografi. Pada tahun

2000, 35% dari ibu dengan anak balita bekerja selama 31 jam atau

lebih (Reynolds et. al., 2003).

a. Ibu Bekerja di Negara Maju

Di negara maju dan negara industri seperti Inggris dan Amerika

Serikat dua pertiga dari jumlah ibu adalah seorang pekerja.

Menurut data statistik Office for National Statistics (ONS, 2008),

di Inggris terdapat 57% ibu yang memiliki anak dengan umur di

bawah lima tahun. Menurut angka statistik tersebut, di Inggris

terdapat 71% dari ibu yang memiliki anak paling muda berumur

lima sampai sepuluh tahun merupakan seorang pekerja. Sedangkan

di Amerika Serikat, 60% wanita (35% ibu dengan anak di bawah

18 tahun dan 45% ibu dengan anak balita) adalah seorang pekerja
(AAP, 1984). Mereka yang bekerja memiliki alasan bahwa, bekerja

merupakan suatu pilihan atau suatu kebutuhan.

b. Ibu Bekerja di Negara Berkembang

Berbeda dengan negara maju, seorang ibu yang bekerja demi

menambah hasil pendapatan keluarga merupakan suatu keharusan.

Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia tingkat

kemiskinan yang semakin meningkat dan merebaknya

pengangguran menjadi salah satu alasan mengapa banyak ibu yang

bekerja (Tjaja, 2000). Didapati 29% dari populasi Indonesia di

bawah garis kemiskinan internasional pada tahun 1994-2008

(UNICEF, 2010). Menurut Data Statistik Indonesia (2005), lebih

kurang 34 juta penduduk berumur di atas 15 tahun dan berjenis

kelamin perempuan adalah seorang pekerja. Sedangkan di

Sumatera Utara, menurut Pusat Data dan Informasi

Ketenagakerjaan (2010), terdapat 35,7% wanita yang berumur 20-

34 tahun adalah seorang pekerja.

3. Dampak Ibu Bekerja Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Status ibu bekerja tentu saja memilki dampak terhadap

pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya anak balita. Dampak

tersebut dibagi menjadi dua yaitu dampak positif dan dampak negatif.

a. Dampak Positif Ibu Bekerja

Ibu yang bekerja akan memiliki penghasilan yang dapat

menambah pendapatan rumah tangga. Mereka yang bekerja lebih


memiliki akses dan kuasa terhadap pendapatan yang dihasilkan

untuk digunakan untuk keperluan anak mereka (UNICEF, 2007).

Para ibu akan lebih memilih membeli sesuatu seperti makanan

bergizi berimbang yang dapat menunjang pemenuhan kebutuhan

pangan anak mereka (Glick, 2002). Jika kebutuhan pangan anak

terpenuhi, maka status gizi anak pun menjadi baik. Essortment

(2002) dalam McIntosh dan Bauer (2006), juga mengatakan bahwa

dengan pendapatan rumah tangga yang ganda (suami dan istri

bekerja), banyak wanita lebih mampu menentukan banyak pilihan

untuk keluarga mereka di dalam hal nutrisi dan pendidikan.

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Gennetian et al.

(2009), bahwa ibu yang bekerja memiliki kemampuan untuk

membeli makanan berkualitas tinggi, kebutuhan rumah tangga

lainnya dan biaya kesehatan. Walaupun ibu bebas memilih untuk

membeli makanan, hal ini tergantung pendidikan ibu tentang gizi.

Ibu yang tidak tamat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA)

tentunya akan berbeda dalam hal memilih makanan dengan ibu

yang tamat pendidikan SMA.

Mereka yang memiliki pengetahuan cukup tentang gizi,

akan memilih makanan yang memiliki nutrisi lebih baik, yaitu

makanan yang mengandung makronutrien dan mikronutrien yang

berguna bagi tubuh. Para ibu yang berpendidikan juga lebih mudah

untuk mengakses layanan kesehatan yang lebih modern dan


memahami pesan-pesan kesehatan yang disampaikan oleh

lembaga-lembaga kesehatan (Moestue dan Huttly, 2008). Selain

penampilan makanan yang dapat menambah selera makan anak,

faktor gizi juga harus dipertimbangkan dalam memilih makanan

(Sediaoetama, 2006). Maka dari itu, jika seorang ibu yang bekerja

tidak dapat mempergunakan penghasilannya untuk memenuhi

kebutuhan anak dengan baik dan bijaksana, akan timbul efek

negatif (Glick, 2002). Menurut Sediaoetama (2008), pemenuhan

kebutuhan gizi baiknya dimulai dari anak balita (bawah lima

tahun), karena pada usia ini pertumbuhan dan perkembangan anak

menentukan tingkat kecerdasan otak pada saat anak tersebut

dewasa.

Ali Khomsan (2010) juga mengatakan bahwa, periode

perkembangan otak anak yang rawan gizi dimulai dari saat dalam

kandungan ibunya hingga berusia dua tahun. Jika pada saat

mengandung gizi ibu terpenuhi, maka anak akan terhindar dari

cacat bawaan. Mereka pun lebih aktif daripada anak dengan ibu

gizi kurang saat kehamilan. Ibu yang kurang gizi saat kehamilan

biasanya akan melahirkan anak dengan Berat Badan Lahir Rendah

(BBLR). Dampak positif ibu bekerja dapat juga dilihat dari efek

yang didapat apabila anak mereka dititipkan di tempat penitipan

anak. Mereka yang dititipkan di tempat penitipan anak yang

memperkerjakan pengasuh terlatih, memiliki interaksi sosial yang


baik, perkembangan kognitif yang pesat, dan lebih aktif jika

dibandingkan dengan anak yang hanya berada di rumah bersama

ibunya yang tidak bekerja (McIntosh dan Bauer, 2006). Gershaw

(1998) dalam McIntosh dan Bauer (2006) mengatakan bahwa, anak

dengan ibu yang bekerja memiliki tingkat intelejensi lebih tinggi.

b. Dampak Negatif Ibu Bekerja

Seperti yang telah disebutkan di atas, jika seorang ibu yang

bekerja tidak memiliki kuasa penuh atas penghasilannya, maka

kebutuhan pangan anak kurang terpenuhi. Akibatnya anak mereka

akan mengalami gizi kurang bahkan menjadi gizi buruk. Anak

menjadi lebih pendek daripada anak lain seusianya dan lebih rentan

terkena penyakit seperti infeksi (Glick, 2002). Status gizi kurang

atau gizi buruk yang dialami balita juga dapat terjadi akibat

memendeknya durasi pemberian Air Susu Ibu (ASI) oleh ibu

karena harus bekerja (Glick, 2002). Banyak dari mereka yang

kembali bekerja saat anak mereka masih di bawah umur 12 bulan

(Engle, 2000). Hogart et al.(2000) dalam Reynolds (2003) juga

mengatakan bahwa sekitar satu pertiga dari ibu yang bekerja saat

mengandung, kembali bekerja penuh waktu saat anak mereka

berusia 11 bulan. Mereka kembali bekerja pada saat awal

kehidupan bayi mereka, yaitu saat-saat kritis di mana

perkembangan otak sedang berlangsung dan membutuhkan ASI

sebagai nutrisi utama. Rekomendasi dari WHO, ASI eksklusif


sebaiknya diberikan dalam enam bulan pertama kelahiran,

diteruskan sampai umur 1-2 tahun (Ong et al., 2001).

Sedangkan rekomendasi dari The American Academy of

Pediatrics (AAP), diharapkan para ibu untuk memberikan ASI

eksklusif enam bulan setelah kelahiran dan diteruskan sampai anak

berumur satu tahun (Murtagh dan Anthony D, 2011). Ong et

al.(2001), dalam penelitiannya mendapatkan bahwa faktor

pendidikan ibu juga mempengaruhi lamanya durasi pemberian ASI

oleh ibu-ibu yang bekerja. Akibat jam kerja, waktu kebersamaan

atau quality time antara ibu dan anak pun akan berkurang (Glick,

2002).

Sehingga perkembangan mental dan kepribadian anak akan

terganggu, mereka lebih sering mengalami cemas akan perpisahan

atau separation anxiety (Mehrota, 2011), merasa dibuang dan

cenderung mencari perhatian di luar rumah (Mehrota, 2011), serta

kenakalan remaja (Tjaja, 2008). Hal ini dikarenakan akibat jadwal

kerja yang terlalu sibuk, mengakibatkan para ibu tidak dapat

mengawasi dan ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan anak

(Fertig et al., 2009). Menurut penelitian yang dilakukan oleh

Soekirman (1985) dalam Glick (2002), ibu yang bekerja selama

lebih dari 40 jam perminggunya memiliki dampak negatif bagi

tumbuh kembang anak. Selain kualitas, kuantitas interaksi antara

ibu dan anak juga akan berkurang (AAP, 1984). Menurunnya


frekuensi waktu kebersamaan ibu dan anak juga disebabkan oleh

tipe kerja ibu. Ibu yang memiliki pekerjaan yang dikategorikan

berat dapat mengalami kelelahan fisik. Akibatnya sesampainya ibu

di rumah terdapat kecenderungan mereka lebih memilih untuk

berisitirahat daripada mengurus anaknya terlebih dahulu.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fertig et al. (2009),

ibu yang bekerja tidak dapat mengatur pola makan anak,

membiarkan anak-anak mereka makan makanan yang tidak sehat,

selalu menghabiskan waktu di depan televisi, dan kurang

beraktivitas di luar rumah. Hal ini berakibat status gizi anak

menjadi lebih atau obesitas (Fertig et al., 2009).

Jarak rumah dengan tempat kerja juga menjadi faktor

pengganggu. Mereka yang bekerja di luar negeri tentunya

frekuensi berjumpa dengan anak dan suami mereka lebih sedikit

daripada para ibu yang bekerja di tanah air. Keharmonisan di

dalam keluarga pun akan berkurang (Tjaja, 2008). Menurut Joekes

(1989) dalam Glick (2002), ibu bekerja di negara berkembang

lebih memilih untuk mencari pengasuh pengganti untuk anak balita

mereka. Anak mereka biasanya dijaga oleh anak yang lebih tua

atau oleh kerabat dikarenakan keterbatasan finansial. Keterlibatan

anak yang lebih tua sebagai pengasuh pengganti, dapat

menyebabkan anak tersebut putus sekolah (Glick, 2002). Glick

(2002) juga mengatakan bahwa, kebanyakan dari mereka yang


menjadi pengasuh pengganti adalah anak perempuan yang lebih

tua. Jika anak perempuan dalam suatu keluarga harus putus sekolah

demi menjaga adiknya yang berumur di bawah lima tahun, maka

rantai gizi buruk pun akan terulang kembali. Mereka yang tidak

berpendidikan, tidak memiliki pengetahuan cukup tentang gizi

yang berakibat fatal bagi status gizi anak apabila mereka menjadi

ibu kelak. Lapangan pekerjaan bagi mereka yang tidak

berpendidikan hanya sebatas di sektor informal seperti pembantu

rumah tangga yang gajinya tentu tidak lebih tinggi dari sektor

formal seperti pegawai kantoran. Selain anak perempuan yang

lebih tua, para kerabat ibu juga sering menjadi pengasuh pengganti.

Diantaranya adalah ibu mereka sendiri atau sang nenek yang sudah

memiliki pengalaman dalam hal mengurus anak.

Status gizi anak dapat menjadi baik apabila pengasuh

pengganti memiliki pengalaman dan pendidikan tentang mengasuh

anak dan pengelolaan gizi anak (Glick, 2002). Pengalaman

pengasuh pengganti dapat menjadi faktor perancu. Sedangkan di

negara maju, di mana sudah tersedia jasa tempat penitipan anak

atau daycare centre, para ibu lebih memilih menitipkan anak

mereka di sana saat mereka harus bekerja.

4. Ibu Tidak Bekerja

Ibu yang tidak bekerja, tentunya memiliki waktu yang lebih

banyak yang dapat dihabiskan bersama anak mereka. Mereka dapat


mengatur pola makan anak, sehingga anak-anak mereka makan

makanan yang sehat dan bergizi. Mereka juga dapat melatih dan

mendidik anak, sehingga perkembangan bahasa dan prestasi akademik

anak lebih baik jika dibandingkan dengan anak ibu yang bekerja

(McIntosh dan Bauer, 2006). Hubungan yang dekat antara ibu dan

anak, membuat sang anak lebih mudah berkomunikasi dengan ibu

mereka pada saat mereka berada di tingkat pendidikan Sekolah

Menengah Pertama (SMP) atau SMA. Tetapi, walaupun mereka yang

tetap di rumah memiliki waktu yang lebih banyak sehingga anak

mereka lebih baik secara emosional dan secara akademis, waktu

kebersamaan yang ada belum tentu selalu lebih baik daripada ibu yang

bekerja. Hal ini dikarenakan kebanyakan waktu yang mereka miliki

semata-mata untuk membersihkan dan mengurus rumah (McIntosh dan

Bauer, 2006). Pada kasus keluarga miskin, ditambah dengan

penghasilan yang ada hanya dari sang ayah, tanpa ada pemasukan dari

si ibu, tentu saja kebutuhan pangan anak tidak dapat terpenuhi secara

maksimal. Ibu tidak dapat membeli makanan yang bergizi dan

berimbang yang memiliki harga sedikit lebih mahal untuk memenuhi

kebutuhan pangan anak mereka. Akibatnya pertumbuhan dan

perkembangan anak tergangggu.

D. Pendapatan

Pendapatan adalah jumlah semua hasil suatu pekerjaan yang yang

diterima oleh kepala keluarga maupun anggota keluarga lainnya yang


diwujudkan dalam bentuk uang dan barang. Menurut Sumardi dalam

Yerikho (2007) mengemukakan bahwa pendapatan yang diterima oleh

penduduk akan dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang ditempuh.

Dengan pendidikan yang tinggi mereka akan dapat memperoleh

kesempatan yang lebih luas untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik

disertai pendapatan yang lebih besar. Sedangkan bagi penduduk yang

berpendidikan rendah akan menadapat pekerjaan dengan pendapatan yang

kecil. Menurut Gustiyana (2003), pendapatan dapat dibedakan menjadi

dua yaitu pendapatan usaha tani dan pendapatan rumah tangga.

Pendapatan merupakan pengurangan dari penerimaan dengan biaya total.

Pendapatan rumah tangga yaitu pendapatan yang diperoleh dari kegiatan

usaha tani ditambah dengan pendapatan yang berasal dari kegiatan diluar

usaha tani. Pendapatan usaha tani adalah selisih antara pendapatan kotor

(output) dan biaya produksi (input) yang dihitung dalam per bulan, per

tahun, per musim tanam. Pendapatan luar usaha tani adalah pendapatan

yang diperoleh sebagai akibat melakukan kegiatan diluar usaha tani seperti

berdagang, mengojek, dan lain-lain. Berdasarkan dari pendapatan

keluarga, maka dapat di golongkan didalam kedudukan sosial ekonomi

rendah, sedang, dan tinggi :

a. Golongan Ekonomi Rendah

Golongan masyarakat berpenghasilan rendah yaitu masyarakat yang

menerima pendapatan lebih rendah dari keperluan untuk memenuhi

tingkat hidup yang minimal.


b. Golongan Ekonomi Sedang

Golongan masyarakat berpenghasilan sedang yaitu masyarakat yang

dapat memenuhi kebutuhan hidup namun hanya pas-pasan.

Menjadikan pendidikan sebagai acuan kehidupan.

c. Golongan Ekonomi Tinggi

Golongan masyarakat berpenghasilan tinggi yaitu masyarakat yang

dapat memenuhi kebutuhan hidup baik kebutuhan jangaka pendek

maupun jangka panjang tanpa ada rasa khawatir. Menjadikan

pendidikan bukan sebagai acuan kehidupan, menjadikan budaya dalam

keluarga untuk menjaga marwah.


F. Kerangka Teori

Faktor predisposisi :
(Predisposing factors)
 Pengetahuan
 Sikap
 Budaya
 Faktor ekonomi
 Pekerjaan ibu

Faktor pendukung :
(Enabling factors)
 Ketersediaan
informasi tentang Pemberian
MP-ASI MP-ASI
 Ketersediaan bahan
MP-ASI

Faktor pendorong :
(Reinforcing factors)
 Sikap dan perilaku
tokoh masyarakat
 Sikap dan perilaku
tenaga kesehatan

Gambar 2. Kerangka Teori Penelitian Tingkat Pendidikan Ibu Dengan


Pemberian MP-ASI Modifikasi Teori Lawrence Green
G. Kerangka Konsep
Tingkat Pendidikan Ibu Pemberian MP-ASI

Fator Ekonomi
Pekerjaan Ibu

Gambar 2. Kerangka Konsep Penelitian Tingkat Pendidikan Ibu Dengan


Pemberian MP-ASI
Variabel Bebas : Tingkat Pendidikan Ibu
Variabel Terikat : Waktu Pemberian MP-ASI
Variabel Confounding : Faktor ekonomi dan pekerjaan ibu
: Variabel yang diteliti

: Variabel yang tidak diteliti

H. Hipotesis

HO : Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan waktu

pemberian MP-ASI

H1 : Ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan waktu pemberian

MP-ASI
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian jenis penelitian survei analitik,

yaitu survei atau penelitian yang dilakukan untuk menggali informasi

bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu terjadi didalam masyarakat.

Berdasarkan rancangan penelitian maka peneliti menggunakan rancangan

potong silang (cross sectional), yaitu variabel bebas dan variabel terikat, akan

dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan.

B. Tempat Dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder yang akan

dianalisis pada bulan Oktober 2018

C. Pupulasi Dan Sampel Penelitian

1. Populasi Penelitian

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Semua benda yang

memiliki sifat atau ciri, adalah subjek yang bisa diteliti. Populasi dalam

penelitian ini adalah semua ibu balita dalam data sekunder.

2. Sampel penelitian

Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh

populasi. Besar sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah total

keseluruhan sampel yaitu sebanyak 644 responden.


D. Variabel Penelitian

Variabel adalah segala sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan

peneliti atau faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang

akan diteliti. Variabel dalam penelitian ini, yaitu:

1. Variabel bebas (independen) adalah tingkat pendidikan ibu balita

2. Variabel terikat (dependen) adalah usia pemberian MP-ASI balita (35)

E. Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Cara Ukur Skala Kategori


Operasional data
Independen Kategori tingkat pendidikan :
Tingkat Tahapan Data Ordinal 1. Pendidikan rendah (tidak
pendidikan ibu pendidikan sekunder tamat sekolah, lulus SD/SMP)
balita berkelanjutan 2. Pendidikan tinggi (lulus
yang ditetapkan SMA, lulus diploma/sarjana)
oleh lmbaga
dan pernah Sumber : Ihsan, 2006
ditempuh oleh
ibu
Dependen Kategori usia pemberian MP-
Pemberian Usia pemberian Data Ordinal ASI:
MP-ASI MP-ASI sekunder 1.<6 bulan (baik)
pertama kali 2. 6 bulan (kurang baik)
pada balita.
Sumber : Menkes, 2004

F. Teknik Pengumpulan Data

Data adalah kumpulan hasil pengukuran atau perhitungan suatu objek

yang ingin kita catat dalam bentuk angka. Data yang digunakan dalam

penelitian ini adalah data sekunder yang berupa data ibu balita mengenai
tingkat pendidikan, status pekerjaan, status ekonomi dan data mengenai usia

pemberian MP-ASI pertama kali.

G. Pengolahan Dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

Pengolahan data dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut,

yaitu:

a. Penyuntingan data (editing)

Dilakukan pengecekan kelengkapan data yang telah terkumpul

apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam pengumpulan data akan

diperbaiki dengan memeriksanya dan dilakukan pendataan ulang pada

responden, apabila tidak memungkinkan untuk pendataan ulang maka

kuesioner tersebut dikeluarkan.

b. Membuat lembaran kode atau kartu kode (coding sheet)

Setelah dilakukan editing, selanjutnya penulis memberikan kode

tertentu pada tiap-tiap data sehingga memudahkan dalam melakukan

analisa data.

c. Memasukan data (data entry)

Yakni mengisi kolom-kolom lembar kode atau kartu kode sesuai

dengan jawaban masing-masing pertanyaan.

d. Tabulasi (tabulasi)

Data dimasukan dalam bentuk distribusi frekuensi


2. Analisis Data

a. Analisis deskriptif (analysis univariate)

Analisis univariate bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsiskan karakteristik setiap variabel penelitian. Analisis

univariate dilakukan terhadap tiap-tiap variabel penelitian terutama

untuk melihat tingkat pendidikan ibu dan usia pemberian MP-ASI

pertama kali.

b. Analisis Bivariate

Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel

independen terhadap variabel dependen menggunakan analisis chi

kuadrat (X2) dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil uji Chi Square

dapat menyimpulkan ada/tidaknya hubungan dua variabel kategorik.


BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Karakteristik Responden

Karakteristik respoden dideskripsikan berdasarkan umur ibu,

tingkat pendidikan ibu, pekerjaan ibu dan usia pemberian MP-ASI

pertama kali. Adapun karakteristik responden dapat dilihat dalam dalam

tabel 4.1 berikut ini.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden

Karakteristik Frekuensi %
(n)
Pekerjaan Ibu
Tidak bekerja 416 64,6
Bekerja 228 35,4
Status Ekonomi
Sangat miskin 107 16,6
Miskin 108 16,8
Menengah 130 20,2
Kaya 158 24,5
Sangat kaya 141 21,9
Sumber : Data Sekunder Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.1, dapat diketahui sebagian besar tingkat

pendidikan ibu adalah tamat SD 24,1%, tamat SLTP 24,1% dan tamat

SLTA sebanyak 30,3%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar

responden atau lebih dari 50% ibu memiliki tingkat pendidikan rendah.

Berdasarkan status pekerjaan ibu, lebih dari setengah jumlah

responden tidak bekerja (64,5%). Sedangkan status ekonomi


responden tertinggi pada status ekonomi kaya sebanyak 158 orang

(24,5%)

2. Tingkat Pendidikan Ibu

Tingkat pendidikan ibu diklasifikasikan menjadi 6 kategori yaitu

kategori tidak sekolah, tidak tamat SD/MI, tamat SD/MI, tamat

SLTP/MTS, tamat SLTA, tamat D1/D2/D3 dan tamat perguruan tinggi.

Adapun tingkat pendidikan ibu dapat dilihat dalam tabel 4.2 berikut ini.

Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Ibu

No. Kategori N Persentase


(%)
1 Tidak/belum pernah sekolah 13 2,0
2 Tidak tamat SD/MI 52 8,1
3 Tamat SD/MI 155 24,1
4 Tamat SLTP/MTS 155 24,1
5 Tamat SLTA 195 30,3
6 Tamat D1/D2/D3 37 5,7
7 Tamat perguruan tingkat 37 5,7
Jumlah 644 100,0
Sumber : Data Sekunder Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar

tingkat pendidikan ibu merupakan tamat SLTA yaitu sebanyak 195

orang (30,3%). Sedangkan tingkat pendidikan ibu yang paling rendah

adalah tidak/belum pernah sekolah sebesar 2,0%.


3. Usia Pemberian MP-ASI dini

Usia pemberian MP-ASI dini pada balita diklasifikasikan menjadi

2 kategori yaitu kategori < 6 bulan dan 6 bulan. Adapun usia pemberian

MP-ASI dini pada balita dapat dilihat dalam tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Usia Pemberian MP-ASI dini


pada balita

Persentase
No. Kategori N
(%)
1 < 6 bulan 528 82,0
2 6 bulan 116 18,0
Jumlah 644 100,0
Sumber : Data Sekunder Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa sebagian besar usia

pemberian MP-ASI dilakukan kurang dari usia 6 bulan yaitu sebanyak

82%.

3. Analisis Bivariat

Analisis bivariate dalam penelitian ini, digunakan untuk

mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan atau bermakna,

antara variabel independen tingkat pendidikan ibu dengan variabel

dependen usia pemberian MP-ASI balita pertama kali. Adapun hasil

analisisnya dalam tabel 4.3 berikut ini.

Tabel 4.3 Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Usia Pemberian


MP-ASI Dini

Usia pemberian MP-ASI Total


Pendidikan p-
< 6 bulan 6 bulan n % OR (95% CI)
Ibu value
n % n %
Rendah 309 82,4 66 17,6 375 100,0 0,828 0,936
Tinggi 219 81,4 50 18,6 269 100,0 (0,623 – 1,404)
Total 528 82,0 116 18,0 644 100,0
Sumber: Data Sekunder Tahun 2018
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa pemberian MP-ASI

dini yang tidak tepat (< 6 bulan) lebih banyak terjadi pada tingkat

pendidikan ibu yang rendah sebanyak 48%. Sedangkan pemberian MP-

ASI yang tepat 6 bulan lebih banyak terjadi pada pendidikan ibu yang

tidak bekerja yaitu 66 responden atau 10,2%.

Hasil analisis dengan uji statistik chi-square dengan nilai p < 0,05

(p= 0,082). Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 0,936 dengan tingkat

kepercayaan (CI) 95% antara 0,623 – 1,404 dengan kesimpulan Ho

diterima yang artinya bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan

secara statistik antara tingkat pendidikan ibu dengan usia pemberian MP-

ASI dini.

4. Hubungan Karakteristik Subjek dengan Usia Pemberian MP-ASI


Dini
Karakteristik subjek yang dilakukan analisis meliputi pekerjaan

ibu dan status ekonomi. Hasil analisis disajikan dalam tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Hubungan Karakteristik Subjek dengan Usia Pemberian


MP-ASI Dini

Karakteristik Usia pemberian MP-ASI Total


p- OR
subjek < 6 bulan 6 bulan N %
value (95% CI)
penelitian n % n %
Pekerjaan Ibu
Tidak bekerja 330 51,2 86 13,4 416 64,6 0,023 0,581
Bekerja 198 30,7 30 4,7 228 35,4 (0,370 – 0,913)
Status Ekonomi
Rendah 179 27,8 36 5,6 215 33,4 0,628 0,877
Baik 349 54,2 80 12,4 429 66,6 (0,569 –1,352)

Sumber: Data Sekunder Tahun 2018

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa pemberian MP-ASI

dini yang tidak tepat (< 6 bulan) lebih banyak dilakukan pada ibu yang
tidak bekerja yaitu sebanyak 51,2%. Begitu pula sebaliknya pemberian

MP-ASI tepat 6 bulan juga lebih banyak dilakukan oleh ibu yang tidak

bekerja yaitu sebanyak 13,4%.

Hasil analisis dengan uji statistik chi-square dengan nilai p < 0,05

(p= 0,023). Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 0,581 dengan tingkat

kepercayaan (CI) 95% antara 0,370 – 0,913 dengan kesimpulan Ho ditolak

yang artinya terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara

pekerjaan ibu dengan usia pemberian MP-ASI dini. Dimana ibu yang

bekerja beresiko lebih kecil 1,7 kali memberikan MP-ASI dini

dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.

Berdasarkan karakteristik status ekonomi subjek diketahui bahwa

pemberian MP-ASI tepat 6 bulan dilakukan pada ibu dengan status baik

yaitu sekitar 12,4% dan pemberian MP-ASI tidak tepat < 6 bulan juga

dilakukan pada ibu dengan status ekonomi baik yaitu 54,2% atau lebih dari

setengah jumlah responden

Hasil analisis dengan uji statistik chi-square dengan nilai p < 0,05

(p= 0,628). Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 0,877 dengan tingkat

kepercayaan (CI) 95% antara 0,569 – 1,352 dengan kesimpulan Ho

diterima yang artinya bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan

secara statistik antara status ekonomi dengan usia pemberian MP-ASI dini.
B. Pembahasan

1. Hubungan Tingkat Pendidikan dengan Usia Pemberian MP-ASI Dini

Pendidikan dengan usia pemberian MP-ASI dini yang tidak

tepat (< 6 bulan) lebih banyak terjadi pada tingkat pendidikan ibu

yang rendah sebanyak 48%. Sedangkan pemberian MP-ASI yang

tepat 6 bulan lebih banyak terjadi pada pendidikan ibu yang tidak

bekerja yaitu 66 responden atau 10,2%.

Setelah dilakukan uji statistik uji statistik chi-square dengan

nilai p < 0,05 (p= 0,082). Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 0,936 dengan

tingkat kepercayaan (CI) 95% antara 0,623 – 1,404 dengan

kesimpulan Ho diterima yang artinya bahwa tidak terdapat hubungan

yang signifikan secara statistik antara tingkat pendidikan ibu dengan

usia pemberian MP-ASI dini.

Hal ini sejalan dengan penlitian yang dilakukan Kusmiyati,

2014. Hasil analisis responden yang didapatkan terhadap pendidikan

menunjukkan bahwa responden terbanyak pada kelompok

berpendidikan SMA, dimana pada kelompok ini 57% memberikan

MP-ASI pada bayi usia > 6 bulan, lebih banyak jika dibandingkan

dengan ibu yang berpendidikan PT yakni 26%. Hasil uji statistik

dengan Chi-Square pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05)

didapatkan nilai p= 0.444 > α= 0.05, secara statistik artinya tidak ada

hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan pemberian MP-

ASI.
Menurut Notoatmodjo (2010), pendidikan adalah kegiatan atau

proses belajar yang terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa

saja. Seseorang dapat dikatakan belajar apa bila didalam dirinya terjdi

perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerjakan

menjadi dapat mengerjakan sesuatu. Berdasarkan pengertian tersebut

dapat diartikan bahwa pendidikan tidak hanya didapatkan di bangku

sekolah sebagai pendidikan formal akan tetapi dapat diperoleh kapan

dan dimana saja.

Pendidikan dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang,

semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang makin mudah menerima

informasi, sehingga makin baik pengetahuannya, akan tetapi

seseorang yang berpendidikan rendah belum tentu berpengetahuan

rendah. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal

akan tetapi juga bias diperoleh melalui pendidikan nonformal, seperti

pengalaman pribadi, media, lingkungan dan penyuluhan kesehatan,

sehingga bias juga seseorang dengan pendidikan tinggi dapat terpapar

denganpenyakit begitu pula sebaliknya.

2. Hubungan Karakteristik Subjek dengan Usia Pemberian MP-ASI Dini

Pekerjaan dengan usia pemberian MP-ASI dini yang tidak tepat

(< 6 bulan) lebih banyak dilakukan pada ibu yang tidak bekerja yaitu

sebanyak 51,2%. Begitu pula sebaliknya pemberian MP-ASI tepat 6

bulan juga lebih banyak dilakukan oleh ibu yang tidak bekerja yaitu

sebanyak 13,4%.
Hasil analisis dengan uji statistik chi-square dengan nilai p <

0,05 (p= 0,023). Nilai Odd Ratio (OR) sebesar 0,581 dengan tingkat

kepercayaan (CI) 95% antara 0,370 – 0,913 dengan kesimpulan Ho

ditolak yang artinya terdapat hubungan yang signifikan secara statistik

antara pekerjaan ibu dengan usia pemberian MP-ASI dini. Dimana ibu

yang bekerja beresiko lebih kecil 1,7 kali memberikan MP-ASI dini

dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.

Pekerjaan sangat erat hubungannya dengan aktivitas ibu setiap

hari. Pekerjaan bisa dilakukan dirumah, ditempat kerja baik dekat

maupun jauh. Dalam hal ini lamanya ibu meninggalkan bayinya bisa

menjadi alasan pemberian MP ASI secara dini. Tetapi bagi ibu rumah

tangga juga memungkinkan untuk memberikan MP ASI yang tidak

tepat dari segi watu, jenis dan cara, karena hal tersebut juga

dipengaruhi oleh faktor keyakinan budaya setempat.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Lis Dwiyanti,

2016. Hasil uji statistic dalam penelitian ini menyatakan ada hubungan

antara pekerjaan ibu dengan waktu pemberian MP ASI (p value =

0,035). Pekerjaan juga sangat erat hubungannya dengan waktu

pemberian MP ASI. Ibu pekerja terkadang menggunakan alasan

pekerjaannya untuk memberikan makanan pendamping ASI sebelum

waktunya, padahal sudah banyak kantor dan tempat kerja yang

menyediakan ruang menyusui. Bukan hanya ibu pekerja, ibu yang

tidak bekerja juga banyak yang memberikan MP ASI pada bayinya


sebelum waktunya, hal tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor

antara lain kepercayaan budaya setempat dan ekonomi. Penelitian ini

sejalan dengan penelitian Meike Ibrahim (2014) menyatakan bahwa

status pekerjaan ibu berhubungan dengan pemberian MP ASI pada

bayinya.
DAFTAR PUSTAKA

Albar. 2004. Makanan Pendamping ASI. Cermin Dunia Kedokteran. FK


UNHAS. Makassar. No.145:51-55.

Azwar. 2002. Masalah Gizi Kurang pada Balita dan Upaya Penanggulangan
di Indonesia. Majalah Kesehatan Masyarakat. Jakarta. XXVII No.11

Brown, Dewey dan Allen. 1998. Breast-feeding and Complementary Feeding,


Complementary Feeding of Young Children in Developing Countries:
A Review of Curent Scientific Knowledge. Geneva: World Health
Organization. 1998.h.27-33.

Cogill. 2001. Anthropometry Indicators Measurement Guide. Food and


Nutrition Technical Assisstance. Washington DC

Depdiknas .2003. Undang-Undang RI No.20 tahun 2003. Tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Dietz, WH. 2000. Breastfeeding May Help Prevent Childhood Overweight.


JAMA. 2000:285:2506-7

Fuad ihsan. 2005. Dasar-dasar Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta

Green, Lawrence, 1980. Health Education: A Diagnosis Approach, The John


Hopkins University, Mayfield Publishing Co.

Hasbullah, 2003. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo


Persada.

Jahari, A.B., Sandjaya, H., Sudirman, Soekirman, I., Juss’at, D., Latief dan
Atmarita. 2000. Status Gizi Balita Di Indonesia Sebelum Dan
Sesudah Krisis (Analisa Data Antropometri Susenas 1989 s/d 1999).
Widya Karya Pangan dan Gizi. Jakarta

Khomsan, A., 2012. Ekologi Masalah Gizi, Pangan dan Kemiskinan. Alfabeta,
Bandung.

Khomsan. 2007. Mengetahui Status Gizi Balita Anda.


http://medicastore.com/artikel/247/. Tanggal akses: 09/02/2015

Muthmainnah. 2010. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Pengetahuan Ibu


Dalam Memberikan Makanan Pendamping Air Susu Ibu Di Puskesmas
Pamulang. Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Jakarta
Pemerintah RI. 2012. Peraturan Pemerintah RI: Pemberian Air Susu Ibu
Eksklusif. Departemen Kesehatan RI.

Purnamasari, Wulandari Eka. 2014. Optimasi Kadar Kalori Dalam


Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Jurnal Pangan dan Agroindustri.
Vol.2 No.3 p.19-27

Sadulloh, Uyoh. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung : CV. Alfabeta.

Titariza. 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Makanan


Pendamping ASI Dengan Perubahan Berat Badan Balita Usia 6-24
Bulan Di Posyandu Desa Banjarsari Kecamatan Gajah Kabupaten
Demak. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan. Fakultas
Kedokteran. Universitas Diponegoro. Semarang

Siahaan. 2005. Pendamping ASI Cegah Kekurangan Gizi.


http://www.humanmedicine.net. Tanggal akses: 09/02/2015

Utami, Karina Dewi. 2011. Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian


MP-ASI Dini Pada Bayi Kurang Dari 6 Bulan Di Desa Sutopati. FKIK.
UIN. Ciputat

Winarno. 1987. Gizi dan Makanan Bagi Bayi Anak Sapihan, Pengadaan
dan Pengolahannya. Pustaka Sinar Harapan

WHO. 2003. Global Strategy for Infant and Young Child. World Health
Organization. Geneva