Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN GASTRITIS

A. KONSEP MEDIS GASTRITIS

1. Defenisi

Gastritis adalah inflamasi mukosa lambung. Pada orang awam

dikenal dengan sebutan sakit maag, namun istilah kedokteran peradangan

lambung ini dikenal dengan sebutan gastritis (Mayo, 2007). Gastritis atau

radang lambung adalah radang pada jaringan dinding lambung yang timbul

akibat infeksi virus atau bakteri pathogen yang masuk ke dalam saluran

pencernaan. (Lanywati, 2005)

Gastritis sering juga di kenal sebagai penyakit lambung (maag).

Secara anatomi, lambung mempunyai lapisan pelindung di dinding

dalamnya.guna lapisan ini adalah agar cairan asam dalam lambung tidak

merusak dinding lambung. Kerusakan pada lapisan lambung menyebabkan

cairan lambung yang sangat asam bersentuhan langsung dengan dinding

lambung dan menimbulkan peradangan (inflamasi). ( Mayo, 2007, dalam

Aprianto Tabah, 2009)

2. Etiologi

Gastritis dapat di sebabkan oleh terlalu banyak minum alkohol,

penggunaan obat-obatan anti peradangan non steroid jangka panjang

(NSAIDs) seperti aspirin atau ibuprofen atau infeksi bakteri-bakteri seperti

Helicobacter Plylori (H. Pylori) yang menimbulkan ulkus pada dinding

lambung, atropi dari kelenjar lambung dan penurunan mukosa, penurunan

pada sekresi gastrik mempengaruhi produksi antibodi dan menyebabkan


gastritis, anemia pernisiosa berkembang dan menyebabkan gastritis, obat

yang dapat sangat mengiritasi mukosa gastrik, contohnya aspirin, bahan

makanan yang dapat merusak mukosa gastrik, misanya bumbu dan

rempah-rempah, alkohol serta radiasi dan kemoterapi. Penyebab lainnya

seperti:

a. Pola Makan

Orang yang memiliki pola makan tidak teratur mudah terserang

penyakit ini. Pada saat perut harus di isi, tapi dibiarkan kosong, atau di

tunda pengisiannya, asam lambung akan mencerna lapisan mukosa

lambung, sehingga timbul rasa nyeri.

b. Jenis Makanan

Makanan tertentu akan merangsang dinding lambung, sehingga terjadi

radang atau luka, seperti makan yang pedas atau asam.

c. Stres

Produksi asam lambung akan meningkat pada keadaan stres, seperti

beban kerja yang berlebihan, cemas, takut, atau terburu-buru. Kadar

asam lambung yang meningkat ini akan menimbulkan ketidak

nyamanan pada lambung.

d. Pemakaian Obat

Ada obat-obat tertentu yang merangsang dinding lambung, sehingga

menimbulkan gangguan keseimbangan dalam lambung. Oleh karena

itu, obat-obat tertentu harus di konsumsi sesudah makan. Beberapa di

antaranya adalah obat penghilang rasa sakit dari golongan salisilat dan
asam mefenamat (misal: aspirin, ponstan) obat-obat rematik juga

termasuk di dalamnya (Brunner & Suddarth, 2003: 1062).

e. Informasi / Pengetahuan

Kurangnya informasi atau pengetahuan tentang penyakit gastritis,

misalnya kebiasaan makan yang tidak teratur bisa menyebabkan

terganggunya keseimbangan enzim pencernaan di lambung. Hal yang

perlu di lakukan dalam mengatasi gangguan yang paling utama adalah

mengubah pola makan dengan makan yang secukupnya sesuai dengan

kebutuhan tubuh dan istrahat yang memadai (Stockslager l. Jaime,

2007)

3. Patofisiologi

a. Gastritis Akut

Gastritis akut dapat di sebabkan oleh karena stress, zat kimia,

misalnya obat-obatan dan alkohol, makanan yang pedas, panas

maupun asam. Pada para yang mengalami stress akan terjadi

perangsangan saraf simpatis NV (Nervus Vagus) yang akan

meningkatkan produksi asam klorida (HCI) di dalam lambung. Adanya

HCI yang berada di dalam lambung akan menimbulkan rasa mual,

muntah dan anoreksia.

Zat kimia maupun makanan yang merangsang akan

menyebabkan sel epitel kolumnar, yang berfungsi untuk menghasilkan

mukus, mengurangi produksinya. Sedangkan mukus itu fungsinya

untuk memproteksi mukosa lambung agar tidak ikut tercerna. Respon


mukosa lambung karena penurunan sekresi mukus bervariasi

diantaranya vasodilatasi sel mukosa gaster. Lapisan mukosa gaster

terdapat sel yang memproduksi HCI (terutama daerah fundus) dan

pembuluh darah. Vasodilatasi mukosa gaster akan menyebabkan

produksi HCI meningkat. Anoreksia juga dapat menyebabkan rasa

nyeri. Rasa nyeri ini di timbulkan oleh karna kontak HCI dengan

mukosa gaster. Respon mukosa lambung akibat penurunan sekresi

mukus dapat berupa eksfeliasi (pengelupasan). Eksfeliasi sel mukosa

gaster akan mengakibatkan erosi pada sel mukosa. Hilangnya sel

mukosa akibat erosi memicu timbulnya perdarahan. Perdarahan yang

terjadi dapat mengancam hidup penderita, namun dapat juga berhenti

sendiri karena proses regenerasi, sehingga erosi menghilang dalam

waktu 24-48 jam setelah perdarahan.

b. Gastritis Kronis

Helicobacter pylori merupakan bakteri gram negatif. Organisme ini

menyerang sel permukaan gaster, memperberat timbulnya desquamasi

sel dan muncullah respon radang kronis pada gaster, yaitu: destruksi

kelenjar dan metaplasia. Metaplasia adalah salah satu mekanisme

pertahanan tubuh terhadap iritasi, yaitu dengan mengganti sel mukosa

gaster, misalnya dengan sel desquamosa yang lebih kuat. Karena sel

desquamosa lebih kuat maka elastisitasnya juga berkurang. Pada saat

mencerna makanan, lambung melakukan gerakan peristaltik tetapi

karena sel penggantinya tidak elastis maka akan timbul kekakuan yang
pada akhirnya menimbulkan rasa nyeri. Metaplasia ini juga

menyebabkan hilangnya sel mukosa pada lapisan lambung, sehingga

akan menyebabkan kerusakan pembuluh darah lapisan mukosa.

Kerusakan pembuluh darah ini akan menimbulkan perdarahan (Price,

sylvia dkk, 2004 :162)

4. Manifestasi Klinis

a. Gastritis Akut

Sindrom dispepsia berupa nyeri epigastrium, mual, kembung,

muntah, cekukan. Cekukan merupakan salah satu keluhan yang sering

muncul. Di temukan pula perdarahan saluran cerna berupa

hematemesis melena yang dapat berlangsung sangat hebat sampai

terjadi renjatan karena kehilangan darah kemudian disusul dengan

tanda-tanda anemia pasca perdarahan. Biasanya jika dilakukan

anamnesis lebih dalam, terdapat riwayat penggunaan obat-obatan atau

bahan kimia tertentu.

Dan pada kasus yang amat ringan perdarahan bermanifestasi

sebagai darah samar pada tinja. Kemudian pada pemeriksaan fisik,

biasanya tidak ditemukan kelainan kecuali mereka yang mengalami

perdarahan yang hebat sehingga menimbulkan tanda dan gejala

gangguan hemodinamik yang nyata sehingga hipotensi, pucat, keringat

dingin, takikardia sampai gangguan kesadaran.


b. Gastritis Kronik

Kebanyakan pasien tidak mempunyai keluhan. Hanya sebagian kecil

mengeluh nyeri ulu hati,anoreksia, nausea dan pada pemeriksaan fisik

tidak di jumpai kelainan. Kebanyakan klien tidak mempunyai keluhan,

perasaan penuh, distress epigastrik yang tidak nyata dan cepat

kenyang.(Brunner & Suddarth, 2003)

5. Pencegahan

Langkah-langkah yang dapat di lakukan untuk mencegah

terjadinya gastritis adalah sebagai berikut:

a. Mengatur pola makan yang normal dengan memilih makanan yang

seimbang dengan kebutuhan dan jadwal makan yang teratur.

b. Batasi atau hilangkan kebiasaan mengkonsumsi alkohol. Tingginya

konsumsi alkohol dapat mengiritasi atau merangsang lambung bahkan

menyebabkan terkelupas sehingga terjadi peradangan-pendarahan di

lambung.

c. Makanan sebaiknya lunak, mudah di cerna, makan dengan porsi kecil

tapi sering dan sebaiknya tidak mengkonsumsi makanan yang pedas

dan asam.

d. Jangan merokok. Merokok akan merusak lapisan pelindung lambung.

Karena orang yang merokok lebih sensitif terhadap gastritis maupun

ulcer. Merokok juga akan meningkatkan asam lambung, melambatkan

kesembuhan, dan meningkatkan resiko kanker lambung.


e. Bila harus mengkonsumsi obat karena suatu penyakit, sebaiknya

menggunakan obat sesuai dosis yang benar dan tidak mengganggu

fungsi lambung.

f. Hindari stress dan tekanan emosi yang berlebihan karena dapat

mempengaruhi kerja lambung. (Uripi, 2007)

6. Pengobatan

Penanganan gastritis yang utama adalah dengan menghilangkan

penyebabnya. Misalnya, untuk beberapa tipe gastritis, mengurangi asam

lambung dengan mengkonsumsi obat akan sangat membantu. Antibiotik

untuk infeksi. jika di sebabkan oleh alkohol, AINS, dan aspirin,

konsumsinya harus di kurangi hingga di hentikan.

Secara umum, pengobatandi lakukan dengan obat-obatan yang dapt

menetralkan asam lambung, seperti:

a. Antasid. Berbagai merek antasid ersedia di pasaran, seperti Maalox,

Mylanta, dan sebagainya. Umumnya antasid tersedia dalam bentuk

cairan atau tablet yang dapat menyembuhkan gastritis ringan. Antasid

akan menetralkan asam lambung dan dengan cepat meringankan sakit

maag.

b. Acid blockers. Saat antasid tidak cukup untuk menetralkan sakit maag,

umumnya dokter akan memberikan obat-obatan dari jenis cimetidin

(tagamet), ranitidine (zantac),nizatidine (axid) atau famotidine

(pepsin). Obat-obatan tersebut dapat menurunkan asam lambung yang

di produksi.
c. Pengobatan dengan obat-obatan lain seperti omeprazol (prilosec),

lansoprazole (prevacid), rabeprazole (achiphex) dan esomeprazole

(nexium). (Hembing 2004)

B. KONSEP KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Anamnese
a. Biodata /identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama,
bahasa, pekerjaan, kebangsaan, alamat, pendidikan, tanggal MRS, dan
diagnosa medis
b. Keluhan Utama
 Adanya rasa perih, nyeri epigastrum
 Adanya perdarahan / muntah darah
 Nyeri setelah / sebelum makan
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Penyakit Sekarang
Hal ini meliputi keluhan umum mulai dari sebelum ada
keluhan sampai terjadi nyeri perut, pusing, mual, muntah, nafsu
makan menurun, kembung.
2) Kebiasaan yang dialami
Dalam hal ini perlu dikaji adanya kebesaran dari penderita seperti :
 Peminum alcohol
 Suka minum kopi, teh panas
 Perokok
 Kebiasaan makan sedikit, terlambat makan, makan pedas,
mengandung gas/asam
 Kebiasaan bekerja keras : penyebab makan tak teratur
 Penggunaan obat-obatan tanpa resep dokter : aspirin, analgesik,
steroid (kolmetaxon).
 Menjalankan diet ketat.
d. Pola-pola Fungsi Kesehatan
1. Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Tanggapan klien mengenai kesehatan dan kebiasaan yang kurang
menjaga kebersihan serta pemakaian obat yang mengiritasi
lambung, intake makanan yang kurang menjaga kebersihan, tidak
dimasak dahulu dan sering makan yang terkontaminasi dengan
bakteri.
2. Pola nutrisi dan metabolism
Pada umumnya klien makan tidak teratur
3. Pola aktivitas
Pada klien gastritis akan mengalami gangguan karena selalu
terdapat rasa nyeri pada daerah lambung.
4. Pola eliminasi
Pada umumnya pada klien gastritis tidak ada gangguan atau
masalah pada pola eliminasi baik eliminasi alvi atau uri
5. Pola istirahat dan tidur
Rasa mual, nyeri, yang sering menyerang epigastrium akan
mengurangi waktu dan menjadi gangguan tidur klien
6. Pola sensori dan kognitif
Pada klien gastritis biasanya tidak ada gangguan pada panca indera
7. Pola persepsi diri
Klien mengalami kecemasan sebab sering merasa nyeri, mual,
muntah
8. Pola hubungan dan peran
Klien masih tetap berinteraksi dengan orang lain dan hanya
perannya yang terganggu karena klien harus banyak istirahat akibat
nyeri yang sering dirasakan
9. Pola reproduksi dan seksual
Pada umumnya klien tidak mengalami gangguan baik organ
maupun kebiasaan sexualitas
10. Pola penanggulangan stress
Cara klien menanggulangi stress biasanya menggunakan
mekanisme koping yang baik jika dimotivasi oleh keluarga atau
perawat
11. Pola tata nilai dan kepercayaan
Kebiasaan agama yang dianut, kebiasaan beribadah baik di rumah
ataupun di rumah sakit
2. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum
Keadaan umum lemah, nyeri epigastrium, RR meningkat, suhu
meningkat, nadi meningkat.
b. Kepala dan leher
Wajah pucat, mata cekung, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, dan
wajah menyeringai kesakitan.
c. Sistem integument
Turgor kulit menurun, tekstur kulit kasar dan kadang sianosis.
d. Sistem respirasi
Tidak ada kelainan pada sistem respirasi.
e. Sistem kardi vaskuler
Terjadi penurunan tekanan darah, peningkatan nadi dan adanya suara
jantung yang irreguler.
f. Sistem gastrointestinal
Terjadi mual, muntah, dan peningkatan fisik usus/gaster.
g. Sistem genito urinaria
Tidak terdapat disuria, retensi urine dan inkontinensia
h. Sistem musculoskeletal
Adanya kelemahan otot karena kurangnya cairan dan nyeri pada
persendian.
i. Sistem endokrin
Tidak ada yang mempengaruhi terjadinya gastritis dari sistem
endokrin.
j. Sistem persyarafan
Motorik dan sensorik tidak ada gangguan pada umumnya.

3. Pemerisaan Penunjang
Diagnosis dapat ditegakkan dengan DL, BJ Plasma, kultur
Analisa lambung sekresi : hambatan HCL / peningkatan HCL
Endoskopi : terdapat luka pada mukosa gaster
Sinar-sinar barium : terdapat luka pada gaster / intestinal.
B. DIAGNOSA
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peradangan mukosa
lambung akibat peningkatan atau penurunan HCL.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
intake yang tidak adekuat, rasa tidak nyaman setelah makan , anoreksia,
mual, muntah
3. Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah
epigastrium.
4. Gangguan aktivitas berhubungan dengan rasa nyeri.
5. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit
yang diderita.
C. INTERVENSI
a. Diagnosa 1
Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peradangan
mukosa lambung akibat peningkatan/penurunan HCl.
Tujuan : Nyeri dapat hilang atau berkurang
Kriteria hasil :
- Pasien tampak tenang
- Nyeri perut hilang
- Expresi wajah rilex, ceria

Intervensi :

1. Lakukan pendekatan terapeutik pada klien


Rasional : Agar lebih mudah melakukan tindakan keperawatan
2. Berikan penjelasan sebab-sebab dan akibat terjadinya nyeri
Rasional : Agar pasien mengerti dan dapat menghindari penyebab
3. Beri kompres air hangat pada daerah perut yang nyeri
Rasional : Terjadi relaksasi dan mengurangi ketegangan otot-otot
4. Beri motivasi klien untuk makan teratur
Rasional : Diet teratur bisa menghindari kerusakan mukosa lambung
5. Berikan teknik relaxasi pada klien
Rasional : Agar klien merasa lebih nyaman
6. Kaji tingkat nyeri
Rasional : Deteksi dini untuk tindakan selanjutnya
7. Observasi TTV pada klien
Rasional : Untuk mengetahui perkembangan pasien
8. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antasida
Rasional : Antasida memberikan keseimbangan asam lambung yang
dapat mencegah terjadinya kerusakan mukosa.
b. Diagnosa 2
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake yang adekuat, rasa tidak nyaman setelah makan ,
anoreksia, mual, muntah
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi dalam waktu 3 hari.
Kriteria Hasil :
- Mual menurun, tidak muntah
- Turgor baik
- Kulit lembab, wajah ceria
- Porsi makan sesuai porsi
- Klien dapat mempertahankan berat badannya

Intervensi :

1. Beri penjelasan terhadap pentingnya nutrisi bagi tubuh dan proses


penyembuhan
Rasional : Pengetahuan yang meningkat dapat meningkatkan perilaku
hidup sehat
2. Berikan makanan yang menarik dan merangsang selera makan
Rasional : Untuk meningkatkan selera makan sehingga meningkatkan
intake bagi tubuh
3. Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : Makanan dalam porsi besar lebih sulit dikonsumsi pasien
saat anorexia
4. Berikan diit tkrp rendah lemak
Rasional : Meningkatkan asupan gizi yang adekuat mempercepat
proses penyembuhan
5. Timbang berat badan tiap 2-3 hari
Rasional : Megetahui perkembangan tubuh
6. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian nutrisi parenteral dan
robaransia
Rasional : Dibutuhkan bila intake PO tidak mencukupi dan efek
farmakologis roboransia untuk meningkatkan nafsu makan
c. Diagnosa 3
Gangguan istirahat dan tidur berhubungan dengan nyeri pada daerah
epigastrium.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan tidur terpenuhi
sesuai kebutuhan
Kriteria Hasil : Klien mengatakan sudah dapat tidur.
Intervensi :
1. Berikan penjelasan terhadap klien pentingnya istirahat tidur.
Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien termotivasi untuk
memenuhi kebutuhan istirahat sesuai dengan kebutuhan.
2. Ciptakan lingkungan yang nyaman.
Rasional : Lingkungan yang nyaman menstimulasi pengurangan nyeri.
3. Bantu klien untuk melakukan kebiasaannya menjelang tidur.
Rasional : Dengan tetap tidak mengubah pola kebiasaan klien.
4. Tingkat relaksasi menjelang tidur.
Rasional : Diharapkan dapat mengurangi ketegangan otot dan pikiran
lebih tenang.
5. Lakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic
Rasional : Analgesik bekerja mengurangi reseptor nyeri sehingga klien
dapat istirahat.
d. Diagnosa 4
Gangguan aktivitas berhubungan dengan rasa nyeri.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan klien dapat
melakukan aktivitas dengan bebas.
Kriteria Hasil : Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
Intervensi
1. Bimbing klien melakukan mobilisasi secara bertahap.
Rasional : Dengan latihan secara bertahap klien dapat melakukan
aktifitas sesuai kemampuan
2. Latih klien dalam memenuhi kebutuhan dirinya.
Rasional : Diharapkan ada upaya menuju mandiri.
3. Ajarkan pada klien menggunakan teknik relaksasi yang merupakan
salah satu teknik pengurangan nyeri.
Rasional : Pengendalian nyeri merupakan pertahanan otot dan
persendian dengan optimal.
4. Jelaskan tujuan aktifitas ringan.
Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klienn kooperatif.
5. Observasi reaksi nyeri saat melakukan aktivitas.
Rasional : Dengan mobilisasi terjadi penarikan otot, hal ini dapat
meningkatkan rasa nyeri.
6. Anjurkan pada klien untuk mentaati terapi yang diberikan.
Rasional : Diharapkan klien kooperatif.
e. Diagnosa 5
Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang
penyakit yang diderita.
Tujuan : Setelah dilakukan pendekatan klien tidak cemas lagi.
Kriteria Hasil : Klien tenang, klien mampu bersosialisasi.
Intervensi:
1. Berikan dorongan pada klien untuk mendiskusikan perasaanya
mengemukakan persepsinya tentang kecemasan.
Rasional : Membantu klien dalam memperoleh kesadaran dan
memahami keadaan diri yang sebenarnya.
2. Jelaskan pada klien setiap prosedur baik keperawatan maupun tindakan
medis.
Rasional : Dengan penjelasan diharapkan klien kooperatif dan
mengurangi kecemasan klien.
3. Kolaborasi dengan dokter untuk penjelasan tentang penyakitnya.
Rasional : Dengan penjelasan dari petugas kesehatan akan menambah
kepercayaan terhadap apa yang dijelaskan sehingga cemas klien
berkurang
PENYIMPANGAN KDM GASTRITIS

- stress fisik
- makan tidak teratur
- konsumsi obat aspirin, alcohol

asam dalam lambung, lumen deod + empedu

penghancuran epitel sawar

asam kembali berdifusi ke mukosa injuri mukosa

penghancuran sel mukosa


Gangguan rasa nyaman nyeri
pepsin

pepsinogen asam lambung meningkat Histamin meningkat

fungsi sawar menurun perangsangan kolinergik permiabilitas vasodelator


meningkat plasma
bocor ke intestititial
penghancuran kapiler perangsangan kolinergik edema
dan vena kecil
motilitas meningkat Plasma bocor ke lumen lambung

Diare

Gangguan
keseimbangan cairan
dan efek kurang dari
kebutuhan tubuh

PERDARAHAN

TUKAK

1. Gangguan rasa nyaman nyeri


2. risiko gangguan keseimbangan
cairan kurang dari kebutuhan
DAFTAR PUSTAKA

Donges, Marlinn E, dkk. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk

perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. – ed. 3. – Jakarta : EGC .

1999

Mansjoer Arif. Kapita Selekta Kedokteran. – ed 3. – Jakarta : Media Aesculapius,

2000.

Boedhi – Darmojo. GERIATRI (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). – ed. 4 . – Jakarta :

Balai penerbit FKUI. 2009.

Bruner & Sudart, (2002), Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Vol. 2, Edisi 8,

EGC, Jakarta