Anda di halaman 1dari 15

JASA-JASA LAIN AKUNTAN DAN PELAPORANNYA

PENGAUDITAN 2

Oleh :
RYAN RIYANTO RACHMAT
A31115502

JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2018
A. PENERIMAAN DAN PELAKSANAAN PENUGASAN ATESTASI
PSAT No. 2, Stadar Atestasi (SAT 100.1) merumuskan penugasan atestasi
sebagai berikut:
‘suatu penugasan atestasi adalah penugasan yang di dalamnya praktisi
(akuntan publik) dikontrak untuk menerbitkan komunikasi tertulis yang
menyatakan kesimpulan tentang keandalan asersi-asersi’.
Seseorang akuntan publik hanya boleh menerima penugasan atestasi yang
dapat ia selesaikan sesuai dengan standar atestasi sebagaimana akan diuraikan
pada bagian lain modul ini. Dalam melaksanakan suatu penugasan atestasi,
seorang akuntan publik harus (1) mengumpulkan bukti-bukti untuk mendukung
asersi-asersi, (2) menilai secara obyektif pengukuran dan pengomunikasian
individu yang membuat asersi, dan (3) melaporkan temuan-temuannya. Oleh
karena itu penugasan atestasi berkaitan dengan dasar dan pendukung atas asersi
tertulis, maka penugasan ini bersifat analitis, kritis, dan investigatif.
Ada berbagai jasa profesional yang dapat diberikan oleh para praktisi yang
tidak termasuk dalam penugasan atestasi. Beberapa contoh di antaranya adalah:
1. Penugasan konsultasi manajemen yang di dalam penugasan tersebut
praktisi dikontrak untuk memberikan nasihat atau rekomendasi kepada
kliennya.
2. Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk membela klien –
sebagai contoh, dalam masalah pemeriksaan/verifikasi pajak yang sedang
ditangani oleh aparat Direktorat Jenderal Pajak.
3. Penugasan pajak yang didalamnya praktisi dikontrak untuk mengisi Surat
pemberitahuan Pajak Tahunan Pajak Penghasilan atau untuk memberikan
nasihat perpajakan.
4. Penugasan yang di dalamnya praktisi di kontrak untuk melalukan
kompilasi laporan keuangan, karena ia tidak diminta untuk memeriksa
atau mereview bukti yang mendukung informasi yang diserahkan oleh
klien dan tidak menyatakan kesimpulan apa pun atas keandalannya.
5. Penugaan yang di dalamnya praktisi berperan terutama hanya membantu
klien - sebagai contoh, bertindak sebagai akuntan perusahaan dalam
pembuatan informasi selain laporan keuangan.
6. Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk bertindak sebagai
saksi ahli dalam bidang akuntansi, auditing, perpajakan, atau hal lain,
berdasarkan fakta-fakta tertentu yang disepakati dalam kontrak.
7. Penugasan yang di dalamnya praktisi dikontrak untuk memberikan suatu
pendapat sebagai seorang ahli mengenai suatu prinsip akuntansi, seperti
penerapan undang-undang pajak atau prinsip akuntansi, berdasarkan
fakta khusus yang disediakan oleh pihak lain, sepanjang pendapat
sebagai ahli tidak menyatakan kesimpulan mengenai keandalan fakta
yang diberikan oleh pihak lain tersebut.

B. STANDAR ATESTASI
Dalam penugasan atestasi, auditor harus memenuhi sebelas standar atestasi.
Perbandingan standar-standar menunjukkan bahwa standar atestasi adalah
pengembangan dari standar auditing menjadi lebih luas sehingga bisa mencakup
jasa-jasa atestasi yang lebih luas pula. Namun demikian, terdapat sejumlah
perbedaan konseptual di antara kedua perangkat standar tersebut. Secara khusus
dapat dikatakan bahwa standar atestasi:
1. Mencakup fungsi atestasi yang lebih luas, tidak hanya terbatas pada
laporan keuangan historis. Dengan demikian standar tidak merujuk pada
laporan keuangan dan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
2. Memungkinkan akuntan publik memberi jaminan (keyakinan) atas
atestasi di bawah tingkat “pernyataan pendapat positif” sebagaimana
dilakukan dalam audit laporan keuangan tradisional.
3. Memberi kemungkinan jasa atestasi disesuaikan dengan kebutuhan
spesifik pemakai laporan berdasarkan “prosedur yang disepakati” dan
“pemakaian secara terbatas”
Dua standar umum yang baru (nomor 2 dan 3) mmenetapkan batas-batas
untuk jasa atestasi. jenis jasa ini terbatas pada pennugasan-penugasan yang (1)
akuntan publik memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal-hal yang berkaitan
dengan asersi dan (2) asersi dapat diestimasi atau diukur secara konsisten dan
rasional dengan menggunakan kriteria yang telah ditetapkan. Meskipun tidak
disebutkan secara eksplisit dalam standar umum, definisi penugasan atestasi di
atas menyiratkan bahwa atestasi harus disajikan secara tertulis.
Standar pekerjaan lapangan kedua dalam standar auditing mengharuskan
auditor untuk mendapatkan pemahaman tentang pengedalian intern. Standar ini
ditiadakan dari standar pekerjaan lapangan atestasi karena dua alasan berikut:
1. Apabila kegiatan mendapatkan pemahaman tentang pengendalian intern
bisa diterapkan, maka hal itu merupakan kegiatan yang berkaitan dengan
pengumpulan bukti yang cukup sebagaimana diminta oleh standar
pekerjaan lapangan atestasi yang kedua.
2. Kegiatan pendapatkan pemahaman tentang pengendalian intern tidak
dapat diterapkan pada setiap penugasan atestasi.
Standar pelaporan tentang konsistensi dan pengungkapan informatif dalam
standar auditing dicakup dalam standar pelaporan atestasi kedua (jika dapat
diterapkan) yang menghendaki suatu kesimpulan apakah asersi telah disajikan
sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Standar pelaporan atestasi yang
keempat secara eksplisit menyebutkan sifat “penggunaan terbatas” laporan
atestasi yang berarti adanya pembatasan dalam pendistribusian laporan.

C. PENUGASAN YANG DILAKSANAKAN MENURUT STANDAR


ATESTASI
Dalam uraian berikut akan dibahas empat tipe penugasan atestasi:
1. Pryokesi dan prakiraan keuangan
2. Pelaporan tentang pengendalian intern satuan usaha
3. Atestasi kepatuhan
4. Pembahasan dan analisis manajemen

Pelaporan Tentang Informasi Keuangan Prospektif


Informasi keuangan prospektif biasanya diberikan dalam penawaran publik
obligasi dan sekuritas lainnya. Selain itu, bank dan lembaga keuangan sering
meminta agar dilakukan proyeksi tentang laba yang diperkirakan di masa datang
dalam rangka pemberian kredit kepada perorangan maupun perusahaan, dan
instansi pemerintah kadang-kadang meminta prakiraan keuangan dalam rangka
pengajuan permohonan bantuan atau kontrak dengan pemerintah. Guna
meningkatkan keandalan informasi keuangan prospektif, akuntan publik sering
diminta untuk dikaitkan namanya dengan data semacam itu.
Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan dokumen yang berkaitan
dengan pengaitan nama akuntan publik dengan informasi keuangan prospektif
berupa suatu Pernyataan tentang Standar untuk Jasa Akuntan atas Informasi
Keuangan Prospektif yang berjudul Proyeksi dan Prakiraan Keuangan.
Pernyataan tentang Proyeksi dan Prakiraan Keuangan (SAT.200) ini memiliki
kekuatan yang sama seperti halnya PSA.
Jenis-Jenis Informasi Keuangan Prospektif
SAT.200.06 menyebutkan dua jenis informasi keuangan prospektif yaitu:
1. Prakiraan keuangan. Laporann keuangan prospektif yang menyajikan,
sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab
posisi keuangan, hasil usaha, dan aliran kas.
2. Proyeksi Keuangan. Laporan keuangan prospektif yang menyajikan,
sepanjang pengetahuan dan keyakinan pihak yang bertanggung jawab,
atas dasar satu atau lebih asumsi hipotetis, posisi keuangan, hasil usaha
dan aliran kas.
Prakiraan keuangan berbeda dari proyeksi keuangan dalam hal asumsi dan
taksiran keadaan yang terjadi. Prakiraan keuangan didasarkan pada kondisi yang
diharapkan ada dan tindakan yang diharapkan akan dilakukan. Sebaliknya,
proyeksi keuangan menyangkut satu atau lebih asumsi hipotetis. Baik prakiraan
maupun proyeksi bisa ditetapkan pada estimasi untuk titik tertentu atau suatu
rentang tertentu. Kedua jenis informasi keuangan prospektif ini juga berbeda
dalam hal penggunaannya. Prakiraan keuangan lebih tepat untuk penggunaan
secara umum, sedangkan proyeksi hanya untuk penggunaan terbatas oleh
perusahaan sendiri atau oleh perusahaan dan pihak ke tiga yang bernegosiasi
langsung dengan perusahaan.
Akuntan publik bisa menerima penugasan untuk melakukan salah satu dari
tiga tipe jasa yang berkaitan dengan laporan keuangan prospektif apabila
diperkirakan akan ada pihak ke tiga: (1) kompilasi (penyusunan), (2) pemeriksaan,
dan (3) penerapan prosedur yang disepakati bersama. Penugasan untuk
mengkompilasi informasi prospektif merupakan jasa akuntansi bagi klien yang
akan dibahas kemudian pada bab ini. Jenis jasa ini tidak menghasilkan pernyataan
jaminan (positif maupun negatif) atas laporan prospektif.

Pemeriksaan Laporan Keuangan Prospektif


SAT 200.27 menyatakan bahwa pemeriksaan atas laporan keuangan
prospektif merupakan jasa profesional yang mencakup: (1) menilai penyusunan
laporan prospektif, (2) menilai hal-hal yang mendasari asumsi, (3) menilai
penyajian laporan keuangan prospektif mengenai kesesuaiannya dengan pedoman
penyajian laporan keuangan prospektif, dan (4) menerbitkan laporan pemeriksaan.
Laporan Bentuk Baku Atas Laporan Keuangan Prospektif SAT 200.31
menyatakan bahwa laporan auditor bentuk baku untuk pemeriksaan atas laporan
keuangan prospektif harus mencakup:
1. Identifikasi laporan keuangan prospektif yang disajikan.
2. Pernyataan bahwa pemeriksaan laporan keuangan prospektif dilakukan
sesuai dengan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan
uraian singkat tentang sifat pemeriksaan yang dilakukan.
3. Pendapat akuntan bahwa laporan keuangan prospektif disajikan sesuai
dengan pedoman penyajian laporan keuangan prospektif yang ditetapkan
Ikatan Akuntan Indonesia dan bahwa asumsi yang mendasarinya
memberikan dasar yang rasional untuk melakukan prakiraan atau
proyeksi dengan asumsi hipotetis tertentu.
4. Catatan bahwa hasil prospektif mungkin tidak dapat dicapai
5. Pernyataan bahwa akuntan tidak bertanggung jawab untuk memutahirkan
laporan dengan adanya peristiwa dan keadaan yang terjadi setelah
tanggal neraca.

Penyimpangan Dari Laporan Bentuk Baku seperti halnya dalam pelaporan


atas laporan keuangan historis, tipe pendapat lain dapat dinyatakan atas laporan
keuangan prospektif. Keadaan-keadaan dan dampaknya terhadap pendapat
akuntan publik adalah sebagai berikut:
1. Jika menurut pendapat akuntan, laporan keuangan prospektif
menyimpang dari pedoman penyajian laporann keuangan prospektif yang
ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia, ia harus memberikan pendapat
wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar. Namun jika
penyajian yang menyimpang dari pedoman penyajian karena kegagalan
dalam mengungkapkan asumsi signifikan, akuntan harus memberikan
pendapat tidak wajar.
2. Jika akuntan berpendapat bahwa satu atau lebih asumsi signifikan tidak
memberikan dasar rasional untuk melakukan prakiraan atau proyeksi
dengan asumsi hipotetis tertentu, ia harus memberikan pendapat tidak
wajar.
3. Jika pemeriksaan akunan dipengaruhi oleh kondisi yang menghalangi
penerapan satu atau lebih prosedur yang dipandang perlu, ia harus
menyatakan tidak memberikan dan menjelaskan batasan lingkup tersebut
dalam laporannya.

Penerapan Prosedur-Prosedur yang Disepakati Bersama


SAT 200.59-61 menyatakan bahwa akuntan bisa melaksanakan atestasi
prosedur yang disepakati bersama atas laporan keuangan prospektif dengan
ketentuan bahwa:
1. Akuntan adalah independen
2. Akuntan dan pemakai yang disebutkan sepakat dengan prosedur-
prosedur yang dilakukan atau akan dilakukan oleh akuntan
3. Para pemakai yang disebutkan bertanggungjawab atas kecukupan
prosedur yang disepakati sesuai dengan tujuan mereka
4. Laporan keuangan prospektif meliputi suatu daftar asumsi-asumsi
signifikan
5. Laporan keuangan prospektif yang terhadapnya diterapkan prosedur-
prosedur yang telah disepakati bisa menghasilkan estimasi atau
pengukuran yang konsisten
6. Kriteria yang digunakan dalam penentuan temuan telah disepakati oleh
akuntan dan pemakai yang disebutkan
7. Prosedur-prosedur yang telah diterapkan pada laporan keuangan
prospektif diharapkan akan menghasilkan temuan yang konsisten
dengan menggunakan kriteria tersebut.
8. Bukti yang berkaitan dengan laporan keuangan prospektif yang
terhadapnya diterapkan prosedur-prosedur yang disepakati bersama
diharapkan akan ada ntuk memberikan dasar yang layak untuk
menyatakan temuan dalam laporan akuntan.
9. Bila memungkinkan, untuk tujuan pelaporan bisa dicantumkan
penjelasan tentang batas materialitas yang disepakati bersama
10. Penggunaan laporan dibatasi hanya pada pemakai-pemakai tertentu
yang disebutkan di dalamnya.

Kompilasi
Penugasan kompilasi dimaksudkan untuk menbantu manajemen dalam
penyiapan suatu prakiraan atau suatu proyeksi, tetapi tidak dimaksudkan untuk
memberikan jaminan atas laporan keuangan prospektif atau asumsi-asumsi yang
mendasari laporan tersebut. Prosedur-prosedur yang harus dilakukan akuntan
dalam kompilasi suatu prakiraan atau proyeksi meliputi hal-hal berikut:
1. Menumbuhkan pengertian dengan klien, sebaiknya dalam bentuk tertulis,
mengenai jasa yang akan dilaksanakan.
2. Mengajukan pertanyaan tentang prinsip akuntansi yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan prospektif.
3. Menanyakan bagaimana pihak yang bertanggungjawab mengidentifikasi
faktor-faktor kunci dan pengembangan asumsinya.
4. Membuat daftar, atau meminta daftar, asumsi signifikan pihak yang
bertanggungjawab yang menjadi dasar bagi laporan keuangan prospektif
dan mempertimbangkan apakah terdapat penghilangan yang nyata faktor-
faktor kunci yng dipakai sebagai dasar penentuan hasil prospektif.
5. Mempertimbangkan apakah terdapat ketidakkonsistenan internal yang
nyata dalam asumsi yang dibuat oleh pihak yang bertanggungjawab.
6. Melaksanakan, atau menguji kecermatan matematis perhitungan yang
menerjemahkan asumsi ke dalam laporan keuangan prospektif.
7. Membaca laporan keuangan prospektif, termasuk ringkasan asumsi
signifikan, dan mempertimbangkan apakah (1) laporan, termasuk
pengungkapan asumsi dan kebijakan akuntansi, tidak disajikan sesuai
dengan pedoman penyajian laporan keuangan prospektif yang ditetapkan
Ikatan Akuntan Indonesia, dan (2) laporan, termasuk ringkasan asumsi
signifikan, nyata tidak semestinya dalam hubungannya dengan
pengetahuan akuntan tentang satuan usaha tersebut dan industrinya, serta
kondisi yang diperkirakan dalam periode prospektif.
Laporan akuntan bentuk baku untuk kompilasi laporan keuangan prospektif
harus mencakup (SAT 200. 16):
1. Identifikasi laporan keuangan prospektif yang disajikan oleh pihak yang
bertanggungjawab.
2. Pernyataan bahwa akuntan telah mengompilasi laporan keuangan
prospektif sesuai dengan standar yang ditetapkan Ikatan Akuntan
Indonesia mengenai kompilasi proyeksi keuangan.
3. Pernyataan bahwa kompilasi terbatas lingkupnya dan tidak
memungkinkan akuntan untuk memberikan pendapat atau bentuk
keyakinan lain apa pun atas laporan keuangan prospektif atau asumsi
yang bersangkutan.
4. Catatan bahwa hasil prospektif mungkin tidak dapat dicapai.
5. Pernyataan bahwa akuntan tidak bertanggungjawab untuk memutahirkan
laporan dengan adanya peristiwa dan keadaan yang terjadi setelah
tanggal neraca.

Pelaporan Pengendalian Intern


SAT 500 memberikan pedoman tentang penugasan untuk memeriksa dan
melaporkan asersi manajemen tentang aspek-aspek pengendalian intern atas
pelaporan keuangan perusahaan di bawah ini:
1. Efektivitas rancangan dan pelaksanaan pengendalian intern suatu
perusahaan.
2. Efektivitas rancangan dan pelaksanaan suatu segmen dari pengendlian
intern suatu perusahaan.
3. Hanya kecocokan rancangan pengendalian intern suatu perusahaan.
4. Efektivitas rancangan dan pelaksanaan pengendalian intern suatu
perusahaan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan oleh badan
pengatur.

Kondisi untuk Pelaksanaan Penugasan


Akuntan independen harus melaksanan penugasan-penugasan di atas hanya
apabila manajemen (1) menerima tanggungjawab tentang efektivitas pengendalian
intern satuan usaha, (2) menilai efektivitas pengendalian intern dengan
menggunakan kriteria yang masuk akal untuk pengendalian intern yang efektif
yang dibentuk oleh badan yang diakui, dan (3) terdapat bukti audit yang cukup
atau dapat dikembangkan untuk mendukung evaluasi manajemen, dan (4)
menyajikan asersi tertulisnya tentang efektivitas struktur pengendalian intern.
Manajemen bertanggungjawab untuk membentuk dan memelihara struktur
pengendalian intern yang efektif. Dalam beberapa hal manajemen dapat
mengevaluasi dan melaporkan efektivitas struktur tersebut, tanpa bantuan dari
praktisi. Namun, manajemen dapat menugasi praktisi untuk mengumpulkan
informasi untuk memungkinkan manajemen melakukan evaluasi efektivitas
struktur pengendalian intern satuan usaha.
Perancangan dan Pelaksanaan Penugasan
Meskipun terdapat banyak kesamaan antara metodologi untuk menilai
pengendalian intern dalam suatu audit atas laporan keuangan dan dalam
pelaksanaan penugasan untuk memeriksa asersi tertulis manajemen tentang
efektivitas pengendalian intern, namun penilaian dalam penugasan ini biasanya
lebih luas. Sebagai contoh, dalam suatu audit, pengujian pengendalian hanya perlu
dilakukan atas kebijakan dan prosedur yang dinilai auditor memiliki risiko
pengendalian di bawah maksimum (sebagai bagian dari pelaksanaan strategi
tingkat risiko pengendalian ditetapkan maksimum). Dalam suatu penugasan untuk
memeriksa asersi manajemen tentang pengendalian intern, pengujian
pengendalian tergantung pada sifat asersi dan kriteria yang disebutkan manajemen
dalam laporan yang berisi asersi. Periode waktu yang dicakup oleh pengujian
pengendalian dalam suatu audit adalah sepanjang periode yang diaudit, sedangkan
dalam penugasan ini periode waktunya bisa bervariasi berdasarkan sifat asersi
dalam pemeriksaan sesuai dengan SA 500. Namun demikian, baik dalam audit
maupun dalam pemeriksaan, harus diperoleh pemahaman tentang pengendalian
intern, dan setiap kondisi yang dapat dilaporkan dan kelemahan material yang
terungkap dari pemahaman atau dari pengujian pengendalian harus
dikomunikasikan kepada komite audit. SA 500 berisi pedoman yang cukup luas
untuk berbagai situasi yang mungkin timbul dalam pemeriksaan setiap jenis asersi
manajemen tentang pengendalian intern suatu perusahaan.

Standar Pelaporan
Bentuk laporan praktisi terantung atas cara yang dilakukan oleh manajemen
dalam menyajikan asersi tertulis.
a. Jika asersi manejemen disajikan dalam laporan terpisah yang menyertai
laporan praktisi, laporan praktisi dipandang pantas untuk distribusi secara
umum dan praktisi harus menggunakan bentuk laporan yang dijelaskan.
b. Jika manajemen menyajikan asersinya hanya dalam surat representasi
kepada praktisi, praktisi harus membatasi distribusi laporannya hanya
kepada manajemen, pihak lain dalam satuan usaha, dan jika berlaku,
kepada badan pengatur tertentu, dan praktisi harus menggunakan bentuk
laporan sebagaimana yang dijelaskan.

Asersi Manajemen Disajikan Dalam Laporan Terpisah Bila manajemen


menyajikan asersinya dalam laporan terpisah yang akan menyertai laporan
praktisi, laporan praktisi harus mencakup:
1. Suatu judul yang berisi kata Independen.
2. Identifikasi asersi manejemen tentang efektivitas struktur pengendalian
satuan usaha atas pelaporan keuangan.
3. Suatu pernyataan bahwa pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan standar
yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia dan, oleh karena itu,
mencakup pemerolehan suatu pemahaman struktur pengendalian intern
atas pelaporan keuangan, pengujian dan evaluasi efektivitas desain dan
pelaksanaan struktur pengendalian intern,dan pelaksanaan prosedur
semacam yang lain dipandang perlu oleh praktis sesuai dengan keadaan.
Di samping itu, laporan harus mencakup pernyataan bahwa praktisi yakin
bahwa pemeriksaannya memberikan dasar yang memadai untuk
memberikan pendapat.
4. Suatu paragraf yang menyatakan bahwa, karena keterbatasan bawaan
dalam struktur pengendalian apa pun, kekeliruan dan ketidakberesan
dapat terjadi dan tidak terdeteksi. Di samping itu, paragraf tersebut harus
menyatakan bahwa proyeksi evaluasi apa pun terhadap struktur
pengendalian intern atas pelaporan keuangan ke masa yang akan datang
mengandung di dalamnya suatu risiko bahwa struktur pengendalian
intern dapat menjadi tidak memadai karena adanya perusabahan kondisi,
atau tingkat kepatuhan terhadap kebijakan dan prosedur merosot.

Asersi Manajemen Disajikan hanya dalam Surat Representasi kepada


Praktisi
Kadang-kadang manejemen dapat menyajikan asersi tertulisnya tentang
efektivitas struktur pengendalian intern satuan usaha dalam suatu surat
representatif kepada praktisi, bukan sebagai laporan terpisah yang menyertai
laporan praktisi. Sebagai contoh, dewan komisaris satuan usaha mungkin meminta
praktisi untuk melaporkan tentang asersi manajemen tanpa meminta manejemen
untuk menyajikan asersi tertulis dalam laporan terpisah.
Jika manajemen tidak menyajikan asersi tertulis yang menyertai laporan
praktisi, praktisi harus memodifikasi laporannya untuk memasukkan asersi
manajemen tentang efektivitas struktur pengendalian intern satuan usaha dan
menambahkan suatu paragraf yang membatasi distribuusi laporan praktisi hanya
kepada manejemen, atau pihak lain dalam satuan usaha, dan jika berlaku kepada
badan pengatur tertentu.

Atestasi Kepatuhan
Bidang jasa lain yang semakin banyak diminta untuk diberikan akuntan
publik dari badang-badang pengatur dan pihak-pihak lainnya adalah jasa yang
berkaitan dengan kepatuhan satuan usaha terhadap persyaratan tertentu,
seperti misalnya undang-undang, peraturan pemerintah, kontrak, aturan, atau
hibah tertentu. Ketentuan tersebut bersifat keuangan atau non keuangan.

Penugasan Prosedur yang Disepakati


Ikatan Akuntan Indonesia telah menerbitkan PSAT No. 06, Atestasi
Kepatuhan (SAT 500) untuk memberi pedoman bagi para akutnan publik dalam
melaksanakan prosedur yang disepakati bersama atas asersi tertulis manajemen
tentang (1) kepatuhan satuan usaha terhadap persyaratan tertentu, (2) efektivitas
pengendalian intern terhadap kepatuhan (yaitu proses dengan cara bagaimana
manajemen mendapatkan jaminan yang layak tentang kepatuhan terhadap
persyaratan tertentu, atau (3) keduanya. Untuk mengurangi risiko terjadinya
kesalahpahaman antara para pemakai dengan akuntan independen, maka
penugasan demikian hanya dilakukan apabila kondisi-kondisi berikut terpenuhi:
(1) manajaemen menerima tanggungjawab atas kepatuhan satuan usasha terhadap
persyaratan tertentu dan efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan, (2)
manajemen mengevaluasi kepatuhan satuan usaha terhadap persyaratan terntentu
atau efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan, dan (3) manajemen
memberikan kepada praktisi asersi tertulisnya tentang kepatuhan satuan usaha
terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern satuan
usaha terhadap kepatuhan.

Penugasan Pemeriksaan
SAT 500, Atestasi Kepatuhan, mengijinkan adanya penugasan pemeriksaan
yang menghasilkan suatu pernyataan pendapat akuntan independen tentang
kepatuhan satuan usaha terhadap persyaratan tertentu apabila kondisi-kondisi
tambahan tertentu, tetapi penugasan prosedur yang disepakati lebih dianjurkan
karena penugasan ini lebih disesuaikan dengan kebutuhan pemakai. Oleh karena
dalam pemeriksaan, akuntan independen menentukan prosedur-prosedur yang
akan dilakukan dan bukti yang diperlukan untuk memberi dasar yang layak guna
memberikan pernyataan pendapat, penugasan ini bisa menjadi lebih kompleks
dalam hal penetapan tingkat materialitas dan dalam penetapan dan pencapaian
komponen risiko bawaan, risiko pengendalian, dan risiko deteksi dalam risiko
atestasi.

Analisis Pembahasan Oleh Manajemen


SAT 700, Analisis dan Pembahasan oleh Manajemen, menetapkan standar
atestasi dan memberikan panduan bagi praktisi tentang pelaksanaan suatu
penugasan atestasi yang berkaitan denga Analisis dan Pembahasan oleh
Manajemen (APM) yang dibuat sesuai dengan peraturan Badan Pengawas Pasar
Modal (BAPEPAM) yang disajikan dalam laporan tahunan kepada pemegang
saham dan dalam dokumen lain. Akuntan independen bisa menerbitkan laporan
pemeriksaan atau laporan review tentang APM jaminan tingkat review bahwa
tidak ada suatu hal yang membuat akuntan indenpenden yakin bahwa APM telah
menyesatkan lebih banyak dipilih dalam praktis dewasa ini. Tujuan penugasan
review ini adalah untuk mengumpulkan bukti sebagai dasar bagi praktisi untuk
melaporkan apakah informasi yang diketahui oleh praktisi menyebabkan ia
mempercayai bahwa:
1. Penyajian APM tidak mencakup, dalam semua hal yang material, unsur
yang diwajibkan dalam peraturan BAPEPAM
2. Jumlah keuangan historis yang tercantum di dalamnya tidak diperoleh
secara akurat, dalam semua hal yang material, dari laporan keuangan
satuan usaha.
3. Informasi, penentuan, estimasi, dan asumsi yang dipakai sebagai dasar
oleh satuan usaha tidak memberikan basis yang memadai untuk
pengungkapan yang terdapat di dalamnya.

Anda mungkin juga menyukai