Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP DASAR

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN PERILAKU


KEKERASAN

OLEH

NI PUTU NITA AYU SANDRA

NIM. P07120216058

KELAS 3B DIV KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR

JURUSAN KEPERAWATAN

2018
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN
PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian
Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan,
yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung ( Sunaryo, 2004 ).
Kekerasan adalah kekuaan fisik yang digunakan untuk meyerang atau merusak
diri sendiri atau orang lain. Tindakan ini merupakan tindakan yang tidak adil dan
sering mengakibatkan cedera fisik ( Ann Isaacs, 2005 ).
Menurut Iyus Yosep (2007) Perilaku kekeraan adalah suatu keadaan dimana
seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada
diri sendiri maupun orang lain

B. Tanda dan Gejala


Data obyektif :
a. Mata merah
b. Pandangan tajam
c. Otot tegang
d. Nada suara tinggi
e. Suka berdebat
f. Sering memaksakan kehendak
g. Merampas makanan, memukul jika tidak senang

Data subyektif
a. Mengeluh merasa terancam
b. Mengungkapkan perasaan tak berguna
c. Mengungkapkan perasaan jengkel
d. Mengungkapkan adanya keluhan fisik, berdebar-debar, merasa tercekik, sesak
dan bingung
C. Etiologi

1. Faktor Predisposisi
Faktor pengalaman yang dialami tiap orang yang merupakan faktor
predisposisi, artinya mungkin terjadi/ mungkin tidak terjadi perilaku kekerasan jika
faktor berikut dialami oleh individu:
 Psikologis, kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif atau amuk. Masa kanak-kanak yang tidak
menyenangkan yaitu perasaan ditolak, dihina, dianiaya atau saksi
penganiayaan.
 Perilaku, reinforcement yang diterima pada saat melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan di rumah atau di luar rumah, semua aspek ini
menstimulasi individu mengadopsi perilaku kekerasan.
 Sosial budaya, budaya tertutup dan membalas secara diam (pasif agresif) dan
kontrol sosial yang tidak pasti terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan
seolah-olah perilaku kekerasan yang diterima (permissive).
 Bioneurologis, kerusakan sistem limbik, lobus frontal, lobus temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmitter turut berperan dalam terjadinya
perilaku kekerasan.

2. Faktor Prespitasi
Secara umum seseorang akan marah jika dirinya merasa terancam, baik
berupa injury secara fisik, psikis, atau ancaman konsep diri. Beberapa faktor
pencetus perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
 Klien : kelemahan fisik, keputusasaan, ketidakberdayaan, kehidupan yang
penuh agresif, dan masa lalu yang tidak menyenangkan.
 Interaksi : Penghinaan, kekerasan, kehilangan orang yang berarti, konflik,
merasa terancam, baik internal dari perusahaan diri klien sendiri maupun
eksternal dari lingkungan.
D. Pohon Masalah
Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan

Perilaku kekerasan / amuk

Marah

Gangguan Konsep Diri : Harga diri sendiri

Frustasi

E. Rentan Respon Marah


Menurut Iyus Yosep, 2007 bahwa respons kemarahan berfluktuasi dalam
rentang adaptif maladaptif.
Respon adaptif Respon Maladaptif
I-------------------I------------------I----------------------I-------------------I
Asertif frustasi pasif agresif kekerasan

 Perilaku asertif yaitu mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju tanpa
menyalahkan atau meyakiti orang lain, hal ini dapat menimbulkan kelegaan pada
individu.
 Frustasi adalah respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena yang tidak
realistis atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan.
 Pasif merupakan perilaku individu yang tidak mampu untuk mengungkapkan
perasaan marah yang sekarang dialami, dilakukan dengan tujuan menghindari suatu
tuntunan nyata.
 Agresif merupakan hasil dari kemarahan yang sangat tinggi atau ketakutan / panik.
Agresif memperlihatkan permusuhan, keras dan mengamuk, mendekati orang lain
dengan ancaman, memberi kata-kata ancaman tanpa niat melukai. Umumnya klien
dapat mengontrol perilaku untuk tidak melukai orang lain.
 Kekerasan sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk. Perilaku kekerasan ditandai
dengan menyentuh orang lain secara menakutkan, memberi kata-kata ancaman,
melukai pada tingkat ringan sampa pada yang paling berat. Klien tidak mampu
mengendalikan diri.
F. Manifestasi Klinis
Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan:
a. Fisik
o Muka merah dan tegang
o Mata melotot atau pandangan tajam
o Tangan mengepal
o Rahang mengatup
o Postur tubuh kaku
o Pandangan tajam
o Mengatupkan rahang dengan kuat
o Mengepalkan tangan
o Jalan mondar-mandir

b. Verbal
o Bicara kasar
o Suara tinggi, membentak atau berteriak
o Mengancam secara verbal atau fisik
o Mengumpat dengan kata-kata kotor
o Suara keras
o Ketus
o Melempar atau memukul benda/orang lain
o Menyerang orang lain
o Melukai diri sendiri/orang lain
o Merusak lingkungan
o Amuk/agresif

c. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak
berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.

d. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
e. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.

f. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

G. Pemeriksaan Diagnostik
-
H. Penatalaksanaan
1. Farmakoterapi
1. Obat anti psikosis, phenotizin (CPZ/HLP)
2. Obat anti depresi, amitriptyline
3. Obat anti ansietas, diazepam, bromozepam, clobozam
4. Obat anti insomnia, phenobarbital

2. Terapi Modalitas (Terapi keluarga)


Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi masalah klien dengan
memberikan perhatian:
1. Jangan memancing emosi klien
2. Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga
3. Memberikan kesempatan pada klien dalam mengemukakan pendapat
4. Anjurkan pada klien untuk mengemukakan masalah yang dialami
5. Mendengarkan keluhan klien
6. Membantu memecahkan masalah yang dialami oleh klien
7. Hindari penggunaan kata-kata yang menyinggung perasaan klien
8. Jika klien melakukan kesalahan jangan langsung memvonis

Jika terjadi PK yang dilakukan adalah:


1. Bawa klien ketempat yang tenang dan aman
2. Hindari benda tajam
3. Lakukan fiksasi sementara
4. Rujuk ke pelayanan kesehatan
 Terapi kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, ketrampilan social atau aktivitas lain
dengan berdiskusi dan bermain untuk mengembalikan kesadaran klien karena masalah
sebagian orang merupakan perasaan dan tingkah laku pada orang lain.

I. Pengkajian

Pengkajian adalah proses untuk tahap awal dan dasar utama dari proses keperawatan
terdiri dari pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang
dikumpulkan melalui data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokkan data pada
pengkajian kesehatan jiwa dapat pula berupa factor presipitasi, predisposisi, penilaian terhadap
streesor, sumber koping dan kemampuan yang dimiliki klien.
A. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanggal pengkajian, tanggal dirawat, No. MR.
B. Alasan masuk
Alasan klien datang ke RS, biasanya klien memukul anggota keluarga atau
orang lain, merusak alat “RT dan marah”.
C. Factor predisposisi
 Biasanya klien pernah mengalami gangguan jiwa dan kurang berhasil dalam
pengobatan.
 Pernah mengalami aniaya fisik, penolakan dan kekerasan dalam keluarga.
 Klien dengan perilaku kekerasan bisa herediter.
 Pernah mengalami trauma masa lalu yang sangat mangganggu.
D. Fisik
Pada saat marah tensi biasanya meningkat.

E. Psikososial
a. Genogram
Pada genogram biasanya ada terlihat ada anggota keluarga yang mengalami
kelainan jiwa, pada komunikasi klien terganggu begitupun dengan pengambilan
keputusan dan pola asuh.
b. Konsep diri
 Gambaran diri
Klien biasanya mengeluh dengan keadaan tubuhnya, ada bagian tubuh yang
disukai dan tidak disukai.
 Identitas
Klien biasanya tidak puas dengan status dan posisinya baik sebelum maupun
ketika dirawat tapi klien biasanya puas dengan statusnya sebagai laki-
laki/perempuan.
 Peran
Klien biasanya menyadari peran sebelum sakit, saat dirawat peran klien
terganggu.
 Ideal diri
Klien biasanya memiliki harapan masa lalu yang tidak terpenuhi.
 Harga diri
Klien biasanya memiliki harga diri rendah sehubungan dengan sakitnya.
F. Hubungan social
Meliputi interaksi social, budaya, konsep rasa percaya dan ketergantungan. Emosi
marah sering merangsang kemarahan orang lain. Klien seringkali menyalurkan
kemarahan dengan mengkritik tingkah laku yang lain sehingga orang lain merasa sakit
hati dengan mengucapkan kata-kata kasar yang berlebihan disertai suara keras. Proses
tersebut dapat mengasingkan individu sendiri, mengajuhkan diri dari orang lain,
menolak mengikuti aturan.
G. Spiritual
Kepercayaan, nilai dan moral mempengaruhi hubungan individu dengan linngkungan.
Hal yang bertentangan dengan norma yang dimiliki dapat menimbulkan kemarahan
yang dimanifestasikan dengan amoral dan rasa tidak berdosa.
H. Status mental
 Penampilan
Biasanya penampilan diri yang tidak rapi, tidak cocok/serasi dan berubah dari
biasanya.
 Pembicaraan
Biasanya pembicaraannya cepat dan kasar
 Aktivitas motoric
Aktivitas motorik meningkat klien biasanya terganggu dan gelisah
 Alam perasaan
Berupa suasana emosi yang memanjang akibat dari factor presipitasi misalnya:
sedih dan putus asa.
 Afek
Afek klien biasanya sesuai
 Interaksi selama wawancara
Selama berinteraksi dapat dideteksi sikap klien yang tampak bermusuhan dan
mudah tersinggung.
 Persepsi
Klien dengan perilaku kekerasan biasanya tidak memiliki kerusakan persepsi.
 Proses piker
Biasanya klien mampu mengorganisir dan menyusun pembicaraan logis dan
koheren.
 Isi piker
Keyakinan klien konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya
klien.
 Tingkat kesadaran
Biasanya klien tidak mengalami disorientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
 Memori
Tidak terjadi ganggguan daya ingat jangka panjang maupun jangka pendek klien
mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
 Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien biasanya tidak mengalami gangguan konsentrasi dan berhitung.
 Kemampuan penilaian
Biasanya klien mampu mengambil keputusan jika menghadapi masalah yag ringan,
klien mampu menilai dan mengevaluasi diri sendiri.
 Daya tilik diri
Klien biasanya mengingkari penyakit yang diderita dan tidak memerlukan
pertolongan, klien juga seringmenyalahkan hal-hal diluar dirinya.
I. Kebutuhan persiapan pulang
a) Makan: pada keadaan berat, klien cenderung tidak memperhatikan dirinya termasuk
tidak peduli makanan karena tidak memiliki minat dan kepedulian.
b) BAB/BAK: observasi kemampuan klien untuk BAB/BAK serta kemampuan klien
untuk membersihkan dirinya.
c) Mandi : biasnya klien mandi berulang/ tidak mandi sama sekali
d) Berpakaian : biasanya tidak rapi, tidak sesuai dan tidak diganti.
e) Istirahat: observasi tentang lama dan waktu tidur siang dan malam, biasanya istirahat
klien terganggu karena klien gelisah dengan masalah yang dihadapi.
f) Sistem pendukung: untuk pemeliharaan kesehatan klien selanjutnya, peran keluarga
dan system pendukung sangat menentukan.
g) Aktifitas dalam rumah: klien mampu melakukan aktivitas dalam rumah seperti
menyapu.
h) Mekanisme koping
Biasanya Mekanisme yang dicapai oleh klien adalah maladaptif, klien mengatakan
kalau ada masalah pengennya marah-marah, merusak barang dan keluyuran.

J. Diagnosa keperawatan

1. Perilaku kekerasan b/d harga diri rendah


2. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan b/d perilaku kekerasan
K. Rencana Keperawatan

NO DX KEP. PERENCANAAN INTERVENSI


. TUJUAN KRITERIA
EVALUASI
1. Perilaku TUM: Setelah dilakukan · Beri salam / panggil
kekerasan  Pasien dapat ...x20 menit interaksi nama pasien.
melanjutkan diharapkan klien · Sebut nama
hubungan peran menunjukkan tanda- perawat sambil
sesuai tanggung tanda Salaman
jawab. 1. Pasien mau
· Jelaskan maksud
membalas salam. hubungan Interaksi
TUK: 2. Pasien mau jabatan
· Beri rasa nyaman
 Pasien dapat 3. Pasien dan sikap Empatis
Membina menyebutkan · Lakukan kontrak
Hubungan saling Nama singkat tapi sering
percaya 4. Pasien tersenyum
5. Pasien ada kontak
mata
6. Pasien tahu nama
Perawat
7. Pasien
menyediakan
waktu untuk
kontrak
TUK: 1. Pasien dapat 1. Beri kesempatan
 Pasien dapat Mengungkapkan untuk
mengidentifikasi perasaannya. Mengungkapkan
penyebab marah / 2. Pasien dapat perasaannya.
amuk menyebutkan 2. Bantu pasien
perasaan marah / untuk
jengkel mengungkapkan
marah atau
jengkel.
TUK: 1. Pasien dapat 1. Anjurkan pasien
 Pasien dapat mengungkapkan mengungkapkan
mengidentifikasi perasaan saat perasaan
tanda marah marah /jengkel. saat marah /jengkel.
2. Pasien dapat 2. Observasi tanda
menyimpulkan perilaku kekerasan
tanda-tanda pada pasien
jengkel / kesal
TUK: 1. Pasien 1. Anjurkan pasien
 Pasien dapat mengungkapkan mengungkapkan
mengungkapkan marah yang biasa marah yang biasa
perilaku marah dilakukan dilakukan
yang sering 2. Pasien dapat 2. Bantu pasien
dilakukan bermain peran bermain peran
dengan perilaku sesuai perilaku
marah yang kekerasan yang
dilakukan biasa dilakukan.
3. Pasien dapat 3. Bicarakan dengan
mengetahui cara pasien apa dengan
marah yang cara itu bisa
dilakukan menyelesaikan
menyelesaikan masalah
masalah atau tidak
TUK: 1. Pasien dapat 1. Bicarakan akibat /
 Pasien dapat menjelaskan kerugian cara yang
mengidentifikasi akibat dari cara dilakukan
akibat perilaku yang digunakan 2. Bersama pasien
Kekerasan menyimpulkan
cara yang
digunkana pasien.
3. Tanyakan pasien
apakah mau tahu
cara marah yang
sehat
TUK: 1. Pasien dapat 1. Tanyakan pada
 Pasien melakukan pasien apakah
mengidentifikasi berespon terhadap pasien mau tahu
cara construksi kemarahan secara cara baru yang
dalam berespon konstruktif. sehat
terhadap perilaku 2. Beri pujian jika
kekerasan pasien engetahui
cara lain yang
Sehat
3. Diskusikan cara
marah yang sehat
dengan pasien.
4. Pukul bantal untuk
melampiaskan
marah
5. Tarik nafas dalam
6. Mengatakan pada
teman saat ingin
marah.
7. Anjurkan pasien
sembahyang atau
berdoa
TUK: 1. Pasien dapat 1. Pasien dapat
 Pasien dapat mendemonstrasika memilih cara yang
mendemonstrasika n cara mengontrol paling tepat.
n cara mengontrol perilaku kekerasan 2. Pasien dapat
marah 2. Tarik nafas dalam mengidentifikasi
3. Mengatakan manfaat yang
secara langsung terpilih
tanpa menyakiti 3. Bantu pasien
menstimulasi cara
4. Dengan tersebut.
sembahyang/berdoa 4. Beri
reinforcement
positif atas
keberhasilan.
5. Anjurkan pasien
menggunakan cara
yang telah
dipelajari.
2. Resiko TUK: Keluarga pasien dapat 1. Identifikasi
mencedera  Pasien dapat : kemampuan
i diri dukungan 1. Menyebutkan cara keluarga merawat
sendiri, keluarga merawat pasien pasien dari sikap
orang lain, mengontrol marah dengan perilaku apa yang telah
dan kekerasan. dilakukan.
lingkunga 2. Mengungkapkan 2. Jelaskan peran
n rasa puas dalam serta keluarga
merawat pasien dalam merawat
pasien.
3. Jelaskan cara-cara
merawat pasien.
4. Bantu keluarga
mendemonstrasika
n cara merawat
pasien.
5. Bantu keluarga
mengungkapkan
perasaannya
setelah melakukan
demonstrasi.
TUK: 1. Pasien dapat 1. Jelaskan jenis-
 Pasien dapat menggunakan jenis obat yang
menggunakan obat-obat yang diminum pasien
obat dengan benar diminum dengan dan keluarga
kegunaannya.
2. Pasien dapat 2. Diskusikan
minum obat sesuai manfaat minum
program obat.
pengobatan 3. Jelaskan prinsip 5
benar minum
obat
4. Anjurkan pasien
minum obat tepat
waktu
TUK: 1. Lingkungan 1. Jelaskan peran
 Pasien dapat mengetahui serta lingkungan
dukungan dari bagaimana cara terhadap kondisi
lingkungan untuk menyikapi pasien pasien
mengontrol marah dengan perilaku 2. Beri penjelasan
kekerasan. bagaimana cara
menyikapi pasien
dengan perilaku
kekerasan
3. Diskusikan cara -
cara yang
dilakukan untuk
menyikapi pasien
dengan perilaku
kekerasan
L. Evaluasi
Evaluasi dilakukan untuk mengukur tujuan dan kriteria yang sudah tercapai
dan yang belum sehingga dapat menentukan intervensi lebih lanjut. Bentuk evaluasi
yang positif adalah sebagai berikut:
a) Identifikasi situasi yang dapat membangkitkan kemarahan.
b) Bagaimana keadaan klien saat marah dan benci pada orang tersebut.
c) Sudahkah klien menyadari akibat dari marah dan pengaruhnya pada orang
lain.
d) Buatlah komentar yang kritikal.
e) Apakah klien sudah mampu mengekspresikan sesuatu yang berbeda.
f) Klien mampu menggunakan aktifitas secara fisik untuk mengurangi
perasaan marahnya.
g) Konsep diri klien sudah meningkat.
h) Kemandirian berpikir dan aktivitas meningkat.
M. Referensi

Dermawan, Deden. (2013). Keperawatan Jiwa: Konsep dan Kerangka Kerja


Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Gosyen Publishing.

Keliat, B. A,. 2009. Model Praktek Keperawatan Jiwa Profesional. Jakarta : EGC

Kusumawati, farida. 2010.Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :salemba medika

Maramis. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya : Airlangga University


Press

Videbeck, Sheila L. 2008. Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta :EGC

Videbeck, Sheila L. (2001). Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Alih bahasa: Renata
Komalasari. Jakarta: EGC.

Yosep, I. 2012. Keperawatan Jiwa Edisi Revisi. Bandung : PT Refika Aditama


Denpasar,02 November 2018

Nama Pembimbing / CT Nama Mahasiswa

I Gusti Ayu Harini,SKM.,M.Kes Ni Putu Nita Ayu Sandra


NIP.196412311985032011 NIM. P07120216058