Anda di halaman 1dari 15

I.

JUDUL PERCOBAAN : SPEKTROFOTOMETRI

II. PRINSIP PERCOBAAN :


Cahaya yang dipancarkan melalui media transparan akan diserap, besarnya penyerapan
sebanding dengan kepekatan suatu zat. Dengan membuat deret standar dan berdasarkan
kurva kalibrasi maka kadar suatu zat dapat diketahui.

III. MAKSUD DAN TUJUAN :


a. Praktikan memahami konsep dasar spektrofotometri.
b. Menghitung kadar CuSO4 dalam kurva kalibrasi.

IV. LANDASAN TEORI :

1.1 Spektrofotometri UV-Vis

Spektrofotometri UV-Vis termasuk salah satu metode analisis instrumental yang


frekuensi penggunaannya paling banyak dalam laboratorium analisis. Metode ini
merupakan metode yang lahir pertama kali di lingkungan kimia analisis. Pelaksanaan
analisis dengan metode ini cepat, mudah, dan relatif murah, termasuk juga harga
instrumen yang relatif murah. Pengenalan dan pemahaman operasional instrumentasi
spektrofotometer UV-Vis dapat dilaksanakan dengan mudah. Hampir semua molekul
organik dan anorganik dapat ditentukan dengan metode spektrofotometri UV-Vis, serta
tersedia banyak cara untuk mengantisipasi berbagai macam komponen atau matriks
pengganggu. Analisis kuantitatif untuk analit tunggal (Single Component Analysis/SCA)
ataupun penentuan campuran dua atau lebih analit (Multy Component Analysis/MCA)
didapatkan hasil yang dapat dipercaya dan sahih (Integrity and Validity) (Tim Penyusun,
2008).

Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang antara 200-400 nm, sementara


sinar tampak (visible) mempunyai panjang gelombang antara 400-750 nm. Warna sinar
tampak dapat dihubungkan dengan panjang gelombangnya (Gandjar dan Rohman,
2008). Radiasi di daerah UV/Vis diserap melalui eksitasi elektron-elektron yang terlibat
dalam ikatan-ikatan antara atom-atom pembentuk molekul sehingga awan elektron
menahan atom-atom bersama-sama mendistribusikan kembali atom-atom itu sendiri dan
orbital yang ditempati oleh elektron-elektron pengikat tidak lagi bertumpang tindih
(Watson, 2007).

Spektrofotometri UV-Vis adalah anggota teknik analisis spektroskopik yang


memakai sumber radiasi elektromagnetik UV dekat (190-380 nm) dan sinar tampak
(380 -780 nm) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Radiasi UV jauh (100–190
nm) tidak dipakai, sebab pada daerah tersebur, udara juga mengalami absorbs radiasi
(Tim Penyusun, 2008).

Serapan cahaya oleh molekul dalam daerah spektrum ultraviolet dan visibel
tergantung pada struktur elektronik dari molekul. Spektra ultraviolet dan visibel dari
senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan transisi diantara tingkatan-tingkatan

1
tenaga elektronik. Oleh karena itu, maka serapan radiasi UV-Vis sering dikenal dengan
spektroskopi elektronik (Basset et al., 1994).

Ketika sinar melewati suatu senyawa, energi dari sinar digunakan untuk
mendorong perpindahan elektron dari orbital ikatan atau orbital non-ikatan ke salah satu
orbital anti-ikatan yang kosong (Clark, 2007). Perpindahan/lompatan elektron yang
mungkin terjadi akibat adanya sinar adalah:

Lompatan yang lebih besar membutuhkan energi yang lebih besar dan menyerap
sinar dengan panjang gelombang yang lebih pendek. Lompatan yang ditunjukan dengan
tanda panah abu-abu menyerap sinar UV dengan panjang gelombang yang lebih rendah
dari 200 nm (Clark, 2007).

Lompatan yang penting diantaranya adalah lompatan dari orbital pi ikatan ke


orbital pi anti-ikatan; dari orbital non-ikatan ke orbital pi anti-ikatan; dan dari orbital
non-ikatan ke orbital sigma anti-ikatan. Artinya untuk menyerap sinar pada daerah
antara 200 – 800 nm (pada daerah dimana spektra diukur), molekul harus mengandung
ikatan pi atau terdapat atom dengan orbital non-ikatan. Perlu diingat bahwa orbital non-
ikatan adalah pasangan elektron bebas, misalnya pada oksigen, nitrogen, atau halogen
(Clark, 2007).

Analisis kuantitatif zat tunggal atau SCA (Single Component Analysis) dilakukan
dengan pengukuran harga A pada panjang gelombang maksimum atau dilakukan
pengukuran %T pada panjang gelombang minimum. Pengukuran dilakukan pada
panjang gelombang tersebut karena perubahan absorban tiap satuan konsentrasi adalah
paling besar pada panjang gelombang maksimum, sehingga akan diperoleh kepekaan
analisis yang maksimal. Di samping itu, pita serapan di sekitar panjang gelombang
maksimum datar dan pengukuran ulang akan menghasilkan kesalahan terkecil.

Jika absorbsi suatu seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu,
kondisi pelarut yang sama; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap
konsentrasinya, maka suatu garis lurus akan teramati sesuai dengan persamaan A = ɛbc.
Grafik ini disebut dengan plot hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan
merupakan suatu garis lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert-Beer
dipenuhi pada kisaran konsentrasi yang teramati. Cara lain untuk menetapkan kadar
sampel adalah dengan menggunakan perbandingan absorbansi sampel dengan

2
absorbansi baku atau dengan menggunakan persamaan regresi linier yang menyatakan
hubungan konsentrasi baku dengan absorbansinya (Gandjar dan Rohman, 2008).

Data spektra UV-Vis secara tersendiri tidak dapat digunakan untuk identifikasi
kualitatif obat atau metabolitnya. Sedangkan pada aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi
dikenakan pada cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan
diukur besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan
membandingkan intensitas sinar yang diteruskan dengan intensitas sinar yang diserap
jika tidak ada spesies penyerap lainnya. Intensitas atau kekuatan radiasi cahaya
sebanding dengan jumlah foton yang melalui satu-satuan luas penampang per detik.
Besarnya intensitas energi REM yang diabsorbsi proporsional dengan jumlah
kromofornya (konsentrasinya), dan hubungan proporsional ini dirumuskan dalam
bentuk persamaan Hukum Lambert Beer :

A=ɛ bc

Keterangan :

A = Absorbansi

ɛ = Absorptivitas molar (cm mg/mL)

b = Tebal kuvet (cm)

c = Konsentrasi (mg/mL)

Dalam Hukum Lambert-Beer terdapat beberapa pembatasan, yaitu :

a. Sinar yang digunakan dianggap monokromatis.

b. Penyerapan terjadi dalam suatu volume yang mempunyai luas penampang yang sama.

c. Senyawa yang menyerap dalam larutan tersebut tidak tergantung terhadap yang lain
dalam larutan tersebut.

d. Tidak terjadi peristiwa fluororesensi atau fosforesensi.

e. Indeks bias tidak tergantung pada konsentrasi larutan.

Dengan mengetahui nilai absorbansi dari larutan sampel, melalui kurva kalibrasi
dapat ditentukan konsentrasinya. Penetapan kadar parasetamol juga dapat ditentukan
melalui persamaan regresi linier :

y = bx + a

Keterangan: y = absorbansi; x = konsentrasi

Apabila suatu REM dikenakan kepada suatu larutan dengan intensitas radiasi
semula (I0), maka sebagian radiasi tersebut akan diteruskan (It), dipantulkan (Ir) dan
diabsorbsi (Ia), sehingga :

3
I 0 = It + I r + I a

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam analisa dengan spektofotometri
UV-Vis, terutama untuk senyawa yang semula tidak berwarna yang akan dianalisis
dengan spektrofotometri visibel karena senyawa tersebut harus diubah terlebih dahulu
menjadi senyawa yang berwarna (Gandjar dan Rohman, 2008).

a. Pembentukan molekul yang dapat menyerap sinar UV-Vis

Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap pada daerah
tersebut. Cara yang digunakan adalah dengan merubah menjadi senyawa lain atau
direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang digunakan harus memenuhi
beberapa persyaratan tertentu yaitu:

1. Reaksinya reaktif dan sensitif

2. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel

3. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama

4. Keselektifan dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian masking agent


atau penggunaan teknik ekstraksi (Gandjar dan Rohman, 2008).

b. Waktu operasional (operating time)

Cara ini biasa digunakan untuk pengukuran hasil reaksi atau pembentukan
warna. Tujuannya untuk mengetahui waktu pembentukan yang stabil. Waktu
operasional ditentukan dengan mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan
absorbansi larutan (Gandjar dan Rohman, 2008).

Pada saat awal terjadi reaksi, absorbansi senyawa yang berwarna ini meningkat
sampai waktu tertentu hingga diperoleh absorbansi yang stabil. Semakin lama waktu
pengukuran, maka ada kemungkinan senyawa yang berwarna tersebut menjadi rusak
atau terurai sehingga intensitas warnanya turun akibatnya absorbansinya juga turun.
Karena alasan inilah, maka untuk pengukuran senyawa berwarna (hasil suatu reaksi
kimia) harus dilakukan pada saat waktu operasional (Gandjar dan Rohman, 2008).

c. Pemilihan panjang gelombang

Panjang gelombang yang digunakan untuk analisis kuantitatif adalah panjang


gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Untuk memilih panjang
gelombang maksimal, dilakukan dengan membuat kurva hubungan antara absorbansi
dengan panjang gelombang dari suatu larutan baku pada konsentrasi tertentu. Ada
beberapa alasan mengapa harus menggunakan panjang gelombang maksimal, yaitu:

1. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada


panjang gelombang maksimal tersebut, perubahan absorbansi untuk setiap
satuan konsentrasi adalah yang paling besar.

4
2. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva absorbansi datar dan
pada kondisi tersebut hukum Lambert-Beer akan terpenuhi.

3. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang disebabkan oleh


pemasangan ulang panjang gelombang akan kecil sekali, ketika digunakan
panjang gelombang maksimal. (Gandjar dan Rohman, 2008)

d. Pembuatan kurva baku

Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis dengan berbagai
konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai konsentrasi diukur,
kemudian dibuat kurva yang merupakan hubungan antara absorbansi

a. Dengan konsentrasi (x). Kurva baku sebaiknya sering diperiksa ulang.


Penyimpangan dari garis lurus biasanya dapat disebabkan oleh: (i) kekuatan ion
yang tinggi; (ii) perubahan suhu, dan (iii) reaksi ikutan yang terjadi (Gandjar dan
Rohman, 2008).

b. Pembacaan absorbansi sampel atau cuplikan

Absorban yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 sampai


0,8 atau 15% sampai 70% jika dibaca sebagai transmitan. Anjuran ini
berdasarkan anggapan bahwa kesalahan dalam pembacaan T adalah 0,005 atau
0,5% (kesalahan fotometrik) (Gandjar dan Rohman, 2008).

2.2 Instrumentasi Spektrofotometri UV-Vis

A. Sistem Optik

Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer UV-Vis berupa susunan


peralatan optik terkontruksi sebagai berikut :

SR→M→SK→D→A→VD

Keterangan :

SR : Sumber radiasi

M : Monokromator

SK : Sampel Kompartemen

D : Detektor

A : Amplifier atau penguat

VD : Visual display atau meter

Setiap bagian peralatan optik spektrofotometer uv-vis memegang fungsi dan


peranan masing-masing dan saling terkait. Fungsi dan peranan tersebut dituntut

5
ketelitian dan ketepatan optimal, sehingga akan diperoleh hasil pengukuran dan
tingkat ketelitian dan ketepatan yang tinggi (Tim Penyusun, 2008).

B. Instrumentasi

1. Sumber radiasi

Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium, lampu


tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan pada daerah panjang
gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena pada daerah tersebut lampu deuterium
memberikan spectrum energy radiasi yang lurus. Lampu tungstein digunakan
sebagai sumber radiasi pada daerah pengukuran sinar tampak dengan panjang
gelombang 389-900 nm. Sumber radiasi merkuri merupakan suber radiasi yang
mengandung uap merkuri bertekanan rendah yang biasa digunakan untuk kalibrasi
panjang gelombang spektrofotometer UV-Vis pada daerah 365 nm dan sekaligus
mengecek resolusi dari monokromator (Tim Penyusun, 2008).

2. Monokromator

Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi monokromatis dari


sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis. Monokromator
spektrofotometer UV-Vis umumnya terdiri dari : celah (slit) masuk, filter optik,
prisma dan kisi (grating), serta celah keluar (Tim Penyusun, 2008).

3. Sel atau Kuvet

Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau dari
cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kuvet dibedakan menjadi kuvet
permanen yang terbuat dari leburan silika (dipakai pada panjang gelombang 190-
1100 nm) atau gelas (dipakai pada panjang gelombang 380-1100 nm), dan kuvet
disposable satu kali pemakaian yang terbuat dari Teflon atau plastik. Disamping
itu ada kuvet yang bermulut lebar untuk mengukur kadar zat dalam pelarut yang
tidak mudah menguap dan kuvet bermulut sempit untuk mengukur kadar zat aktif
dalam pelarut yang mudah menguap (Tim Penyusun, 2008).

4. Detektor

Detektor merupakan bagian spektrofotometer yang penting karena berfungsi


untuk merubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektonik. Syarat
detektor yang baik diantaranya:

 Kepekaan yang tinggi terhadap radiasi yang diteriama, dengan derau yang
minimal.

 Mampu memberikan respon terhadap radiasi pada rentang panjang gelombang


yang lebar (UV-Vis).

 Respon terhadap radiasi harus serempak.

6
 Respon harus kuantitatif dan sinyal elektronik yang keluar berbanding lurus
dengan radiasi elektromagnetik yang diterima.

 Sinyal elektronik yang dihasilkan harus dapat diamplifikasikan oleh penguat


(amplifier) ke rekorder (pencatat) (Tim Penyusun, 2008).

Macam-macam detektor yang umumnya digunakan diantaranya:

1. Detektor Fotosel

Detektor fotosel terdiri dari katoda sensitive tinggi dalam bentuk setengah
silinder logam yang dievakuasi. Anoda sepanjang sumbu fotosel tabung
lebih sensitif dibandingkan sel fotovoltatik.

2. Detektor Tabung Foton Hampa (Vaccum Phototubes)

Digunakan untuk tingkat pencahayaan moderat. Photodiode vakum


mengubah cahaya menjadi electron yang ditangkap oleh anoda. Dapat
beroprasi pada UV 115 nm.

3. Detektor Tabung Penggandaan Foton (Photomultiplier Tubes/PMT)


Umumnya digunakan sebagai detektor spektrofotometer UV yaitu
kombinasi dari dioda dan elektroda pengganda. Evakuasi terdiri dari tabung
berisi fotokatoda 9-16 elektroda. Photomultiplier Tubes dapat digunakan
untuk mendeteksi foton dari 115-1700 nm.

4. Detektor Photo Diode-Array/ PDA yang merupakan detektor dengan


teknologi modern.

Detektor yang terdiri atas suatu tatanan yang teratur (array) dari foto diode
aktif dalam jumlah yang sangat banyak (330 buah). Tiap fotodiode
memberikan respon spesifik terhadap radiasi dengan panjang gelombang
tertentu, sehingga radiasi elektromagnetik dengan rentang panjang
gelombang yang luas (UV-Vis) dapat diterima dengan serempak. Hal ini
mengakibatkan proses scanning dapat berlangsung dengan cepat.
Keunggulan detektor ini dibandingkan detektor lain adalah sumber
radiasinya tunggal, radiasi yang diukur polikromatis, sehingga sampel
kompartemen terbuka, wavelength reproducibility karena tidak ada gerakan
mekanis untuk mengatur panjang gelombang, dan kecepatan scanning
sangat tinggi (Tim Penyusun, 2008). Suatu diode array terdiri atas
serangkaian detektor fotodiode yang posisinya berdampingan dengan kristal
silikon. Susunan tersebut biasnya mengandung antara 200 dan 100 elemen
tergantung pada instumennya. Siklus pindah lebih kurang 100 mili detik.
Cahaya dilewatkan melalui suatu polikromator yang menghamburkannya
sehingga jatuh pada diode array, yang akan mengukur seluruh rentang
spectrum sekaligus.

7
Permasalah analisis dapat terjadi akibat adanya kesalahan pengukuran
pada detektor, antara lain disebabkan oleh:

1. Adanya radiasi sesatan yang ditimbulkan oleh peralatan dan dalam


spektrofotometer itu sendiri atau faktor lain dari lingkungan misalnya
debu dan lainnya.

2. Pergeseran panjang gelombang karena gerakan mekanis akibat


pengaturan panjang gelombang (Tim Penyusun, 2008).

2.3 Linearitas

Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon yang


secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang baik, proporsional
terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang metode adalah pernyataan batas
terendah dan tertinggi analit yang sudah ditunjukkan dapat ditetapkan dengan
kecermatan, keseksamaan, dan linearitas yang dapat diterima (Harmita, 2004).

Linearitas biasanya dinyatakan dalam istilah variansi sekitar arah garis regresi
yang dihitung berdasarkan persamaan matematik data yang diperoleh dari hasil uji
analit dalam sampel dengan berbagai konsentrasi analit. Perlakuan matematik dalam
pengujian linearitas adalah melalui persamaan garis lurus dengan metode kuadrat
terkecil antara hasil analisis terhadap konsentrasi analit. Dalam beberapa kasus, untuk
memperoleh hubungan proporsional antara hasil pengukuran dengan konsentrasi analit,
data yang diperoleh diolah melalui transformasi matematik dulu sebelum dibuat analisis
regresinya. Dalam praktek, digunakan satu seri larutan yang berbeda konsentrasinya
antara 50 – 150% kadar analit dalam sampel. Di dalam pustaka, sering ditemukan
rentang konsentrasi yang digunakan antara 0 – 200%. Jumlah sampel yang dianalisis
sekurang-kurangnya delapan buah sampel blanko. Sebagai parameter adanya hubungan
linier digunakan koefisien korelasi r pada analisis regresi linier Y = a + bX. Hubungan
linier yang ideal dicapai jika nilai b = 0 dan r = +1 atau –1 bergantung pada arah garis.
Sedangkan nilai a menunjukkan kepekaan analisis terutama instrumen yang digunakan.
Parameter lain yang harus dihitung adalah simpangan baku residual (Sy). Dengan
menggunakan kalkulator atau perangkat lunak komputer, semua perhitungan matematik
tersebut dapat diukur :

V. ALAT DAN BAHAN :

A. ALAT B. BAHAN
1. Instrumentasi spektrofometer 1. HCl 1 N
UV-VIS single beam 2. NH4OH 6 N
2. Cuvet 3. Larutan sampel Cu(II)

8
3. Neraca / timbangan 4. Larutan standar Cu(II) 1 M
4. Labu ukur 50 mL dan 100 mL 5. Aquadest
5. Pipet tetes
6. Buret 50 mL
7. Labu semprot
8. Bulb
9. Statif + klem
10. Gelas ukur 50 mL
11. Pipet ukur 10 mL

VI. PROSEDUR KERJA


Pembuatan Kurva Kalibrasi Cu(II)
1. Membuat larutan standar Cu(II) 1 M.
a. Timbang serbuk Cu(II) sebanyak 24,9677 gram kemudian masukkan ke dalam
labu ukur 100 mL.
b. Larutkan dengan aquadest hingga 100 mL.
c. Homogenisasikan larutan standar tersebut.
2. Membuat deret standar larutan Cu dengan konsentrasi masing-masing 0; 0,04; 0,12;
0,20; 0,40
a. Masukkan larutan standar Cu(II) 1 M sebanyak 0; 2; 6; 10; dan 20 mL ke dalam
labu ukur 50 mL menggunakan buret.
b. Tambahkan 15 mL HCL 1 N dan 10 mL NH 4OH 6 N menggunakan pipet ukur ke
dalam masing-masing larutan standar.
c. Encerkan larutan standar tersebut dengan aquadest hingga tanda batas 50 mL.
d. Homogenisasikan larutan standar.
3. Ukur absorbansi larutan standar pada panjang gelombang 580 nm menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis.
4. Buat kurva kalibrasi larutan standar.
5. Ukur absorbansi larutan sampel pada panjang gelombang 580 nm menggunakan
Spektrofotometer UV-Vis.
VII. DATA PENGAMATAN
A. Pengukuran Absorbansi Larutan Standar (λ = 580 nm)
Volume K2Cr2O7 = 10 mL
Normalitas K2Cr2O7 = 0,1 N

No Kadar Absorbansi
1 0,00 0,000
2 0,04 0,013
3 0,12 0,053
4 0,20 0,092
5 0,40 0,189

B. Pengukuran Absorbansi Larutan Sampel (λ = 580 nm)


Absorbansi Sampel : 0,059
A (Intercept) : -0,0034
B (Slope) : 0,4791
r (koefisien korelasi) : 0,9995

VIII. PERHITUNGAN

9
Menentukan berat standar Cu(II) :
G = L × N × BE = 0,1 L × 1 mol × 249,5
g = 24,95 gram CuSO4.5H2O
L mol
Menentukan volume deret standar larutan Cu (II) :
V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)
1. V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)
V Cu(II) . 1 M = 50 mL . 0,00 M
50 mL . 0,00 M
V Cu(II) 
1M
V Cu(II) = 0,00 mL

2. V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)


V Cu(II) . 1 M = 50 mL . 0,04 M
50 mL . 0,04 M
V Cu(II) 
1M
V Cu(II) = 2,00 mL

3. V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)


V Cu(II) . 1 M = 50 mL . 0,12 M
50 mL . 0,12 M
V Cu(II) 
1M
V Cu(II) = 6,00 mL

4. V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)


V Cu(II) . 1 M = 50 mL . 0,20 M
50 mL . 0,20 M
V Cu(II) 
1M
V Cu(II) = 10,00 mL

5. V Cu(II) . M Cu(II) = V deret Cu(II) . M Cu(II)


V Cu(II) . 1 M = 50 mL . 0,40 M
50 mL . 0,40 M
V Cu(II) 
1M
V Cu(II) = 20,00 mL

Menentukan konsentrasi sampel :


y = A+B.x
0,059 = -0,0034 + 0,4791 . x
0,059 + 0,0034 = 0,4791 . x
0,0624 = 0,4791 . x
0,0624
x 
0,4791
x = 0,1302 M

10
IX. PEMBAHASAN

Praktikum kali ini dilakukan untuk menentukan kadar CuSO4 dalam sampel
Cu(II) dengan spektrofotometri UV-Vis menggunakan kurva kalibrasi dan
persamaan garis regresi linier. Pada analisis komponen tunggal, jika absorbsi suatu
seri konsentrasi larutan diukur pada panjang gelombang, suhu, kondisi pelarut yang
sama; dan absorbansi masing-masing larutan diplotkan terhadap konsentrasinya
maka akan diperoleh suatu garis lurus yang memenuhi persamaan A = ɛ.b.c. Grafik
ini disebut dengan plot hukum Lambert-Beer dan jika garis yang dihasilkan berupa
garis lurus maka dapat dikatakan bahwa hukum Lambert-Beer masih berlaku pada
kisaran konsentrasi yang teramati.

Pelaksanaan praktikum ini diawali dengan pembuatan larutan standar Cu(II) 1


M. Pembuatan dilakukan dalam labu ukur 100 ml. Masing-masing larutan standar
Cu(II) yang telah dibuat dilarutkan dalam air bebas CO 2 hingga tanda batas,
kemudian dihomogenkan. Pelarutan dengan air bebas CO 2 bertujuan untuk
menghindari timbulnya absorbansi oleh CO2 pada spektrum UV-Vis sehingga tidak
akan menimbulkan kerancuan pada pembacaan absorbansi Cu(II). Larutan NH4OH 6
N dalam praktikum ini digunakan untuk menciptakan suasana basa sehingga dapat
memberikan absorbansi maksimum pada panjang gelombang maksimum.

Praktikum dilanjutkan dengan pembuatan larutan deret Cu(II), kemudian


ditambahkan larutan 15 mL HCl 1 N dan 10 mL NH4OH 6 N hingga tanda batas dan
dikocok hingga homogen.

Pada percobaan ini, larutan Cu(II) akan dibaca absorbansinya pada panjang
gelombang maksimumnya. Larutan Cu(II) ini kemudian diukur pada panjang
gelombang 580 nm. Pengukuran pada rentang panjang gelombang ini karena
panjang gelombang maksimum parasetamol berada pada rentang tersebut, yaitu 610
nm. Tujuan penggunaan larutan blanko adalah untuk membuat konsentrasi pelarut
menjadi nol sehingga tidak akan terukur oleh detektor dan tidak menggangu
11
pembacaan absorbansi sampel dan dengan demikian dapat memperkecil kesalahan.
Pengukuran dilakukan pada panjang gelombang maksimum karena pada λ
maksimum sensitivitas alat menjadi maksimum, sehingga perubahan absorbsi
sampel per satuan konsentrasi adalah yang terbesar. Selain itu, pita absorbsi di
sekitar panjang gelombang rata, sehingga kepekaaan analisis menjadi lebih baik dan
pengaturan ulang panjang gelombang akan menghasilkan kesalahan analisis yang
kecil. Adapun nilai absorbansi larutan standar Cu(II) pada panjang gelombang 580
nm berturut-turut adalah 0,000; 0,013; 0,053; 0,092; dan 0,189.

Koefisien korelasi r yang dihasilkan sebesar 0,9995. Persamaan regresi linearnya


adalah y = -0,0034 + 0,4791 . x. Persamaan regresi inilah yang kemudian digunakan
untuk menghitung kadar sampel. Kurva kalibrasi digunakan sebagai uji lineritas yang
bertujuan untuk mendapatkan nilai yang proporsional terhadap konsentrasi analit dalam
sampel. Diperoleh kadar Cu(II) pada sampel sebesar 0,1302 M.

X. KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa konsentrasi
sampel CuSO4 ialah 0,1302 M.

XI. TUGAS
1. Apa perbedaan spektrofotometer single beam dan double beam?
 Spektrofotometer single beam (berkas tunggal).
Pada spektrofotometer ini hanya terdapat satu berkas sinar yang dilewatkan
melalui kuvet, blanko, larutan standar dan contoh diperiksa secara bergantian.
 Spektrofotometer double beam (berkas ganda)
Pada alat ini sinar dari sumber cahaya dibagi menjadi 2 berkas oleh cermin yang
berputar (chopper).
- Berkas pertama melalui kuvet berisi blanko.
- Berkas kedua melalui kuvet berisi standar atau contoh.
Blanko dan contoh diperiksa secara bersamaan. Blanko berguna untuk
menstabilkan absorbansi akibat perubahan voltase atau Io dari sumber cahaya.
Dengan adanya blanko dalam alat, tidak perlu lagi mengontrol titik nol-nya
pada waktu-waktu tertentu.

2. Sebutkan dan jelaskan rangkaian alat dari alat spektrofotometer!

12

o Sumber radiasi

Sumber radiasi yang umum digunakan adalah lampu deuterium, lampu


tungstein dan lampu merkuri. Lampu deuterium digunakan pada daerah
panjang gelombang 190-380 nm (UV dekat) karena pada daerah tersebut lampu
deuterium memberikan spectrum energy radiasi yang lurus. Sumber sinar
polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai
macam rentang panjang gelombang.

o Monokromator

Monokromator berfungsi untuk menghasilkan radiasi monokromatis dari


sumber radiasi yang memancarkan radiasi polikromatis.

o Sel atau Kuvet

Sel atau kuvet merupakan wadah sampel yang akan dianalisis. Ditinjau
dari cara pemakaiannya dan dari bahan yang dipakai, kuvet dibedakan menjadi
kuvet permanen yang terbuat dari leburan silika (dipakai pada panjang
gelombang 190-1100 nm) atau gelas (dipakai pada panjang gelombang 380-
1100 nm), dan kuvet disposable satu kali pemakaian yang terbuat dari Teflon
atau plastik.

o Detektor

Detektor merupakan bagian spektrofotometer yang penting karena


berfungsi untuk merubah sinyal radiasi yang diterima menjadi sinyal elektonik.

3. Jelaskan cara kerja/ alur kerja dari alat spektrofotometer!


 Tempatkan larutan pembanding, misalnya blangko dalam sel pertama sedangkan
larutan yang akan dianalisis pada sel kedua secara bergantian. Kemudian pilih
foto sel yang cocok 200nm - 650nm (650nm-1100nm) agar daerah λ yang
diperlukan dapat terliputi. Dengan ruang foto sel dalam keadaan tertutup “nol”
galvanometer didapat dengan menggunakan tombol dark-current. Pilih h yang

13
diinginkan, buka fotosel dan lewatkan berkas cahaya pada blangko dan “nol”
galvanometer didapat dengan menekan tombol sensitivitas. Lewatkan berkas
cahaya pada larutan sampel yang akan dianalisis. Skala absorbansi menunjukkan
absorbansi larutan sampel. Kemudian konsentrasi sampel akan didapatkan
berdasarkan Hukum Lambert-Beer.

4. Tentukan konsentrasi sampel dari hasil analisis yang diperoleh menggunakan regresi
linear dan Hukum Lambert Beer!

 Menggunakan regresi linier, diperoleh data :


A = -0,0034
B = 0,4791
R2 = 0,9995

dan diperoleh persamaan:


y = 0,4791x – 0,0034
Asp = 0,4791(Csp) – 0,0034
0,059 = 0,4791 (Csp) – 0,0034
Csp = 0,1302 M

Menggunakan Hukum Lambert – Beer :


A = a.b.C
Ast a.b.Cst
Asp a.b.Csp

Sehingga diperoleh persamaan :


Ast Cst
Asp Csp

Csp = Asp . Cst


Ast
Csp = 0,059 . 0,12
0,053
Csp = 0,1336M

Keterangan :
Ast : Absorban standar
Asp : Absorban sampel
Csp : Konsentrasi sampel
Cst : Konsentrasi standar
A : Intersep
B : Slope

R2 : Koefisien korelasi

5. Buat kurva kalibrasi!

14

XII. DAFTAR PUSTAKA


- https://www.slideshare.net/siichiilikhx/125474737-49535134laporanpk1
- Khopkar, S. M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia.
- Underwood, A. L. 1990. Analisis Kimia Kiantitatif Edisi ke Enam. Jakarta: Erlangga.

15