Anda di halaman 1dari 26

1

Makalah Hematologi

“Tekanan Osmotik pada Sel Eritrosit”

Disusun Oleh

Nama : Uci Puspita Sari

NIP : P0 5150016042

Dosen Pengajar : Devi Cyintia Dewi, S.Si., M.Imun

Politeknik Kesehatan Kementerian


Kesehatan Kota Bengkulu

Jurusan DIII Analis Kesehatan

Tahun Ajaran 2017/2018


2

Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah tentang “Tekanan
Osmotik pada Sel Eritrosi”. Dan juga kami berterima kasih kepada dosen Mata Kuliah
Hematologi yang telah memberikan tugas ini.
Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai Tekanan Osmotik pada Sel Eritrosit. Saya juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Oleh sebab itu, Saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang
telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya.
Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang
yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang
kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun dari Bunda demi
perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Bengkulu, September 2017

Uci Puspita Sari


3

Daftar Isi

Cover..................................................................................................................... i
Kata Pengantar...................................................................................................... ii
Daftar Isi............................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................................ 4
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................... 7
1.3 Tujuan............................................................................................................. 7
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori................................................................................................ 8
2.2 Proses Terbentuknya Sel Darah Merah........................................................... 9
2.3 Proses Tekanan Osmotik pada Sel Eritrosit.................................................... 13
2.4 Contoh Metode Penelitian Tekanan Osmotik pada Sel Eritrosi....................... 15
2.5 Penerapan Tekanan Osmosis dalam Kehidupan Sehari-hari............................ 17
2.6 Perbedaan larutan hipotonis, isotonis & Hipertoni.......................................... 18
2.7 Pengertian Plasmolisis dan Osmosis................................................................ 19
2.8 Konsentrasi Sel Darah Merah.......................................................................... 21
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan............................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 26
4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osmosis adalah proses perpindahan larutan yang memiliki konsentrasi rendah melalui
membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga
tercapai kesetimbangan konsentrasi. Pada proses osmosis, molekul-molekul pelarut
bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat hingga dicapai keadaan Jaringan
adalah sekumpulan sel yang mempunyai struktur dan fungsi yang sama. Plasmolisis suatu sel
yang dapat digambarkan pada plasmolisis sekumpulan sel dengan sifat-sifat yang sama.
Partikel-partikel ini mempunyai dua sifat yaitu kemampuan untuk bergerak bebas dan
kecenderungan untuk pertikel yang sama untuk tarik menarik. Kedua sifat ini sangat
bertentangan.

Pertumbuhan tergantung pada adanya pemasukan air ke dalam sel yaitu pasokan air
dari jaringan satu ke jaringan lainnya di suatu lingkungan. Osmosis terjadi apabila suatu
larutan dipisahkan oleh suatu selaput yang permeabel oleh air. Tekanan osmosis merupakan
tekanan yang mendorong air untuk berdifusi. Osmosis juga merupakan proses fisika difusi
(dengan osmosis sebagai bagian khususnya) memainkan peranan yang sangat penting pada
fisiologi tumbuhan, sehingga pengertian yang jelas mengenai proses ini perlu sekali dimiliki,
tetapi agar mudah dimengerti, beberapa sifat umum materi harus diperhatikan terlebih dahulu

Darah adalah jaringan hidup yang bersirkulasi mengelilingi seluruh tubuh dengan
perantara jaringan arteri, vena dan kapilaris, yang membawa nutrisi, oksigen, antibodi, panas,
elektrolit dan vitamin ke jaringan seluruh tubuh. Darah manusia terdiri atas plasma darah,
globulus lemak, substansi kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen,
nitrogen dan karbon dioksida). Sedangkan plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah
merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (platelet) (Watson, 2002).
Komposisi molekuler sel darah merah menunjukkan bahwa lebih dari separuhnya terdiri
dari air (60%) dan sisanya berbentuk substansi padat. Secara keseluruhan isi sel darah merah
merupakan substansi koloidal yang homogen, sehingga sel ini bersifat elastis dan lunak. Sel
darah merah dibatasi oleh membran plasma yang bersifat semipermeable dan berfungsi untuk
5

mencegah agar koloid yang dikandungnya tetap di dalam. Tekanan osmosis di luar sel darah
merah haruslah sama dengan tekanan di dalam sel darah merah agar terdapat keseimbangan.
Apabila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan hipertonis maka air dalam sel darah
merah akan mengalir ke luar yang akan berakibat bentuk sel darah merah menjadi berkerut
seperti berduri (sel burr). Sebaliknya, apabila sel darah merah dimasukkan dalam
larutan hipotonis, maka air akan masuk ke dalam sel darah merah sehingga sel darah merah
menggembung sampai dapat pecah. Peristiwa tersebut dinamakan hemolisis yang ditandai
dengan merahnya larutan oleh karena keluarnya hemoglobin (Subowo, 2002).
Membran plasma pada sel darah merah dapat mengalami kerusakan, sehingga tidak
dapat melakukan fungsi yang diembannya. Jenis kerusakan dapat beraneka ragam, dapat
karena tusukan, robek, putus, terkena senyawa kimia, dan sebagainya. Membran plasma
berfungsi untuk menyelubungi sebuah sel dan membatasi keberadaan sebuah sel, juga
memelihara perbedaan-perbedaan pokok antara isi sel dengan lingkungannya serta sebagai
filter untuk memilih dan memilah-milah bahan-bahan yang melintasinya dengan tetap
memelihara perbedaan kadar ion di luar dan di dalam sel (Subowo, 2002).
Fragilitas eritrosit merupakan reaksi membran eritrosit untuk melawan tekanan osmosis
media di sekelilingnya, untuk mengetahui berapa besar fragilitas atau daya tegang dinding
eritrosit dapat diketahui dengan menaruh eritrosit dalam berbagai larutan (biasanya NaCl)
dengan tekanan osmosis yang beragam. Konsentrasi larutan dengan tekanan osmosis tertentu
akan memecah eritrosit, inilah yang menunjukkan fragilitas eritrosit tersebut. Darah
mengandung berjuta-juta eritrosit yang umurnya tidak sama. ( Senturk et al,2005)
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri,
maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya.
Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan
keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi).
Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium
luar eritrosit ( Senturk et al,2005)
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam
medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara
lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis dalam darah, penurunan tekanan permukaan
membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena
ketuaan dalam sirkulasi darah dan lain-lain. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi
hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan
6

NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan
menyebabkan sel eritrosit menggembung (Masters, 2002).
7

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan Tekanan Osmotik ?
2. Apa saja penyebab terjadinya krenasi dan lisis pada sel darah ?
3. Bagaimana mekanisme terjadinya krenasi dan lisis pada sel darah ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengerian Tekanan Osmotik
2. Untuk mengetahui penyebab Tekanan Osmotik pada Eritrosit
3. Untuk mengetahui penyebab terjadinya Krenasi dan Lisis pada sel darah
4. Untuk mengetahui bagaimana mekanisme terjadinya Krenasi dan Lisis pada sel
darah
8

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Landasan Teori

Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat
kekentalan yang berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan
antara molekul-molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk
suatu fluida saling gesek-menggesek ketika fluida tersebut mengalir. Pada zat cair, viskositas
disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul
sejenis).Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara
molekul.Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air.
Sebaliknya,fluida yang lebih kental lebih sulit mengalir.

Hal ini bisa dibuktikan dengan menuangkan air dan minyak goreng di atas lantai yang
permukaannya miring. Pasti air ngalir lebih cepat dari pada minyak goreng atau oli. Tingkat
kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu.Semakin tinggi suhu zat cair, semakin
kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng paha ayam di dapur, minyak
goreng yang awalnya kental menjadi lebih cair ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakin tinggi
suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut.Setiap zat cair mempunyai karakteristik
yang khas, berbeda satu zat cair dengan za tcair yang lain. Salah satunya adalah viskositas.

Viskositas merupakan tahanan yang dilakukan oleh suatu lapisan fluida terhadap
suatu lapisan lainnya. Sifat viskositas ini dimiliki oleh setiap fluida, gas, atau
cairan. Viskositas suatu cairan murni adalah indeks hambatan aliran cairan. Aliran cairan
dapat dikelompokan menjadi dua yaitu aliran laminar dan aliranturbulen. Aliran laminar
menggambarkan laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garistengah kecil. Sedangkan
aliran turbulen menggambarkan laju aliran yang besar dengan diameter pipa yang
besar. Penggolongan ini berdasarkan bilangan Reynoldnya

Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya gesekan


antar lapisan material. Karenanya viskositas menunjukkan tingkat ketahanan suatu cairan
untuk mengalir. Semakin besar viskositas maka aliran akan semakin lambat. Besarnya
9

viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, gaya tarik antar molekul
danukuran serta jumlah molekul terlarut. Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang
jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda. Pada zat cair, viskositas disebab
akan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan
dalam zatgas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul.

Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air. Sebaliknya,
fluida yanglebih kental lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng, oli, madu, termasuk
darah.Tingkat kekentalan fluida dinyatakan dengan koefisien viskositas (h). Kebalikan dari
Koefisien viskositas disebut fluiditas, , yang merupakan ukuran kemudahan mengalir
suatufluida.

2.2 Proses Terbentuknya Sel Darah Merah

Sel darah merah dibentuk dalam sumsum merah tulang pipih. Selanjutnya, darah
beredar ke seluruh bagian tubuh melalui pembuluh darah. Umur sel darah merah kurang lebih
yakni120 hari. Sel darah merah yang sudah tua akan dibongkar di hati dan limpa.diemoglobin
diubah menjadi zat warna empedu (bilirubin) yang kemudian ditampung dalam kantong
empedu. Bilibirun ini berfungsi memberi warna pada feses. Zat besi yang terdapat pada
hemoglobin kemudian dilepas dan digunakan untuk membentuk sel darah merah baru.

Proses Terbentuknya Sel Darah Merah :

 Darah terbentuk atau diproduksi dalam sumsum merah tulang pipih.


 Setiap detik sumsum merah tulang pipih membentuk sekitar dua juta sel
 Sel-sel yang telah diproduksi oleh sumsum merah tulang pipih dan dikeluarkan
dinamakan retikulosit. Retikulosit memiliki kurangl ebih 1% dalam dari sirkulasi
darah
 Sel-sel yang mulai matang akan mengalami perubahan pada selaput plasmanya,
sehingga fagosit dapat mengetahui sel-sel yang sudah tua yang akan menghasilkan
fagositosis
 Hemoglobin diubah menjadi zat warna empedu (bilirubin) yang kemudian ditampung
dalam kantong empedu.
10

2.3 Proses Tekanan Osmotik Pada Sel Eritrosit

Darah adalah suatu jaringan tubuh yang terdapat di dalam pembuluh darah yang
warnannya merah. Warna merah itu keadaannya tidak tetap tergantung pada banyaknya kadar
oksigen dan karbondioksida didalamnya. Darah yang banyak mengandung karbon diogsida
warnanya merah tua. Adanya oksigen dalam darah di ambil dengan cara bernapas, dan zat
tersebut sangat berguna pada peristiwa pembakaran/ metabolisme di dalam tubuh. Darah
adalah cairan yang tersusun atas plasma cair (55%), yang komponen utamanya adalah air,
dan sel-sel yang mengambang di dalamnya (45%). Plasma kaya akan protein-protein terlarut
lipid, dan karbohidrat. Limfe sangat mirip dengan plasma, hanya saja kosentrasinya sedikit
lebih rendah total tubuh darah sendiri merupakan satu per dua belas berat tubuh, dan pada
manusia umumnya volume darah adalah kurang dari lima liter (George, 1999). Darah adalah
jaringan hidup yang bersirkulasi mengelilingi seluruh tubuh dengan perantara jaringan arteri,
vena dan kapilaris, yang membawa nutrisi, oksigen, antibodi, panas, elektrolit dan vitamin ke
jaringan seluruh tubuh. Darah manusia terdiri atas plasma darah, globulus lemak, substansi
kimia (karbohidrat, protein dan hormon), dan gas (oksigen, nitrogen dan karbon dioksida).
Sedangkan plasma darah terdiri atas eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan
trombosit trombosit (platelet) (Watson, 2002).
Menurut Djukri dan Heru (2015), cairan tubuh hakekatnya merupakan pelarut zat-zat
yang terdapat dalam tubuh, dengan demikian mengandung berbagai macam zat yang
diperlukan oleh sel dan sisa-sisa metabolisme yang dibuang oleh sel. Selain itu, cairan tubuh
juga pemberi suasana pada sel, sebagai contoh kehangatan (suhu), kekentalan (viskositas),
dan keasaman (pH) yang dipengaruhi oleh faktor-faktor fisik maupun kimiawi dari dalam dan
luar tubuh. Zat-zat yang diperlukan sel antara lain:
1. Oksigen untuk pembakaran dan menghasilkan energi ensimatis.
2. Makanan dalam bentuk sari-sari makanan (glukosa, asam lemak, dan asam amino)
untuk membentuk energi, dinding sel, dan sintesa protein.
3. Vitamin
4. Mineral sebagai katalisator proses ensimatis.
5. Air untuk pelarut dan media proses kimiawi dalam sel.
Zat-zat yang dihasilkan oleh sel anatara lain:
1. Karbon dioksida dari proses pembakaran.
2. Protein dari sintesis di ribosoma.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi cairan interseluler antara lain:
11

1. Suhu,
2. Derajat keasaman (pH), dan
3. Kekentalan (viskositas) cairan.
Bila sel dimasukkan kedalam suatu larutan tanpa menyebabkan sel membengkak atau
mengkerut disebut larutan isotonis, oleh karena tidak terjadi perubahan osmosis, yang terjadi
hanyalah meningkatnya volume cairan ekstrasel. Larutan NaCl 0,9% atau dextrose 5%
merupakan contoh larutan isotonis. Larutan isotonis mempunyai arti klinik yang penting
karena dapat diinfuskan kedalam darah tanpa menimbulkan gangguan keseimbangan osmosis
antara cairan ekstrasel dan intrasel (Siregar, 1995). Cairan yang memiliki kekentalan atau
konsentarasi sama dengan cairan dalam sel disebut isotonis (osmotic equilibrium), lebih
tinggi daripada dalam sel disebut hipertonis, dan lebih rendah daripada sel disebut hiipotonis.
Cairan hipertonis akan menarik air secara osmosis dari sitoplasma eritrosit ke luar sehingga
Eritrosit akan mengalami penyusutan dan membran selnya tampak berkerut-kerut atau yang
disebut krenasi atau plasmolysis. Sebaliknya, cairan hipotonis akan menyebabkan air
berpindah ke dalam sitoplasma eritrosit sehingga eritrosit akan menggembung (plasmoptysis)
yang kemudian pecah (hemolisis) (Djukri dan Heru, 2015).
Krenasi merupakan proses pengkerutan sel darah akibat adanya larutan hipotonis dan
hipertonis. Faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang menyebabkan
adanya pergerakan air dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau mengecil.
Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana sel tumbuhan juga
mengecil karena dimasukkan dalam larutan hipertonik. Krenasi ini dapat dikembalikkan
dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (Watson, 2002).
Menurut Lakitan (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan osmotik larutan adalah:
A. Konsentrasi:
peningkatan konsentrasi larutan mengakibatkan terjadinya peningkatan
tekanan osmosis.
B. Ionisasi molekul terlarut:
tekanan osmosis.
C. Hidrasi molekul terlarut:
air yang berikatan dengan molekul terlarut disebut hidrasi air. Hidrasi air dapat
meningkatkan tekanan osmosis.
D. Temperatur:
tekanan osmosis meningkat seiring denganpeningkatan temperatur.
12

Mekanisme mengembang dan mengkerut sel saat sel dalam larutan diakibatkan karena
aliran air keluar dari vakuola tengah. Vakuola tengah akan mengkerut dan protoplasma serta
dinding sel yang menempel juga akan keluar bersama vakuola itu, jika penurunannya terlalu
besar maka protoplasma akan terlepas dari dinding sel waktu mengkerut itulah protoplasma
akan mengalami serangkaian bentuk tidak beraturan, akhirnya berbentuk membulat yang
dianggap terpengaruh oleh gaya permukaan.
Jika telah terlepas dari pengaruh tegangan, dinding sel tidak lagi mengkerut bersama
protoplasma sebab dinding sel lebih kaku sifatnya. Ruang yang terbentuk antara dinding sel
dan protoplasma yang mengkerut akan terisi oleh larutan yang masuk dengan lebar melalui
dinding yang permeabel. Potensial osmotik mempunyai pengertian yaitu zat cair dalam
vakuola dan bagian-bagian sel lainnya yang mengandung zat-zat terlarut di dalamnya, artinya
zat cair tersebut adalah suatu larutan dan potensial airnya (seandainya dikeluarkan dari sel
adalah potensial larutan atau potensial osmotik yang nilainya lebih rendah daripada potensial
air murni.sedangkan potensial tekanan yaitu keadaan dinding sel yang cukup mengandung air
memberikan tekanan pada isi sel yang arahnya ke luar sel. Akibatnya di dalam sel timbul
tekanan hidrostatik yang arahnya ke luar sel. Tekanan hidrostatik yang arahya keluar sel
disebut turgor. Sementara plasmolisis yaitu peristiwa keluarnya isi sel ke lingkungan akibat
meningkatnya konsentrasi zat terlarut di lingkungan. Semakin besar konsentrasi larutan maka
13

akan semakin banyak sel yang mengalami plasmolisis. Faktor-faktor yang mempengaruhi
tekanan osmosis anatara lain konsentrasi, ionisasi molekul, hidrasi, dan temperatur.
Selain pada sel tanaman, peristiwa osmosis memainkan peranan yang sangat
penting pada tubuh makhluk hidup manusia dan hewan, misalnya, pada membran sel darah
merah Apakah yang terjadi jika sel darah merah dimasukkan ke dalam suatu larutan
hipertonik(lebih pekat)? Di sini akan terjadi yang disebut krenasi. Air yang terdapat dalam sel
darahakan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Sebaliknya, jika Anda
meletakan sel darah merah dalam suatu larutan yang bersifat hipotonik (lebih encer) maka sel
darah merah akan mengembang dan akhirnya pecah. Mengapa? air dari larutan di sekitar
seldarah merah akan ditarik masuk ke dalam sel. Proses ini disebut hemolisis.
Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah
menujuke cairan di sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya
membrane sel darah merah. Membrane sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh
ion-ion H+,OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan juga oleh substansi-substansi yang lain
seperti glukosa,asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya membrane sel darah merah tidak
dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca++, Mg++, fosfat organic dan juga substansi lain seperti
hemoglobin dan protein plasma. Secara umum, membrane yang dapat dilaui atau ditembus
oleh suatu substansi dikatakan bahwa membrane ini permeable terhadap substansi tersebut.
Membrane yang betul-betul semi permeable adalah membrane yang hanya dapat
ditembusoleh molekul air saja, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi lain.tidak ada
membrane pada organisme yang bersifat betul-betul semi permeabel, yang ada adalah
membrane yang bersifat permeable selektif, yaitu membrane yang dapat ditembus oleh
molekul ari dan substansi-substansi lain, tetapi tidak dapat ditembus oleh substansi yang lain
lagi. Jadi membrane sel darah merah termasuk yang permeable selektif.
Ada 2 macam hemolisa yaitu :
1. Hemolisa Osmotik
Hemolisa osmotik terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan
osmosacairan di dalam sel darah merah dengan cairan di sekeliling sel darah merah. Dalam
hal initekanan osmosa isi sel jauh lebih besar daripada tekanan osmosa di luar sel. Tekanan
osmosaisi sel darah merah adalah sama dengan tekanan osmosa larutan NaCl 0.9%. bila sel
darahmerah dimasukkan ke dalam larutan 0,8 % belum terlihat adanya hemolisa tetapi sel
darahmerah yang dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,4 % hanya sebagian saja dari sel
darahmerah yang mengalami hemolisa sedangkan sebagian sel darah merah yang lainnya
masihutuh. Perbedaan ini disebabkan karena umur sel darah merah berbeda-beda. Sel darah
14

merahyang sudah tua, membrane sel mudah pecah sedangkan sel darah merah yang
muda,membrane selnya kuat. Bila sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0,3%,
semuasel darah merah akan mengalami hemolisa. Hal ini disebut hemolisa sempurna. Larutan
yangmempunyai tekanan osmosa lebih kecil daripada tekanan osmosa isi sel darah merah
disebutlarutan hipotonis, sedangkan larutan yang mempunyai tekanan osmosa lebih besarisi
seldarah merah disebut larutan hipertonis. Suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosa
yangsama besar dengan tekanan osmosa isi sel disebuit larutan isotonis.
2. Hemolisa Kimiawi
Pada hemolisa kimiawi, membrane sel darah merah dirusak oleh macam-macam
substansi kimia. Seperti telah disinggung sebelumnya bahwa dinding selm darah merah
terutama terdiri dari lipid dan protein membentuk suatu lapisan yang disebut lipoprotein.
Jadi setiap substansi kimia yang dapat melarutkan lemak (pelarut lemak) dapat merusak atau
melarutkan membrane sel darah merah. Kita mengenal bermacam-macam pelarut lemak yaitu
kloroform, aseton, alcohol, benzene dan eter. Substansi lain yang dapat merusak membrane
sel darah merah diantaranya adalah bias ular, bias kalajengking, garam empedu,
saponin,nitrobenzene, pirogalol, asam karbon, resi, dan senyawa arsen.

2.4 Contoh Metode Penelitian Tekanan Osmotik pada Sela Darah Merah

Table Contoh Krenasi :


15

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa eritrosit mengalami hemolysis pada


konsentrasi larutan NaCl 0,5% dan 0,7%, sedangkan eritrosit yang mengalami krenasi terjadi
pada konsentrasi larutan NaCl 0,9% dan 3,0%.
Praktikum ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan dan faktor yang
mempengaruhi kecepatan hemolysis dan krenasi eritrosit pada berbagai konsentrasi larutan.
Praktikum ini dilakukan dengan mengambil darah perifer ujung jari secara aseptis yang
ditempatkan pada cekungan gelas objek, lalu ditetesi dengan berbagai konsentrasi larutan
NaCl untuk kemudian diamati di bawah mikroskop dan dicatat waktu terjadinya hemolysis
atau krenasi. Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopik diketahui bahwa pada larutan NaCl
konsentrasi 0,5% dan 0,7% eritrosit nampak menggembung atau bengkak sehingga dapat
dikatakan bahwa pada konsentrasi tersebut eritrosit mengalami hemolysis. Hal tersebut
terjadi karena larutan NaCl pada konsentrasi 0,5% dan 0,7% bersifat hipotonik (lebih encer),
sehingga terjadi osmosis atau perpindahan cairan dari konsentrasi rendah yaitu larutan NaCl
0,5% dan 0,7% menuju ke cairan yang berkonsentrasi lebih tinggi yaitu sitoplasma eritrosit,
dengan kata lain air dari larutan NaCl tersebut akan ditarik masuk ke dalam eritrosit sehingga
mengembang dan pecah atau lisis. Peristiwa krenasi ditunjukkan pada eritrosit yang berada
pada larutan NaCl 0,9% dan 3% yaitu eritrosit nampak mengecil dan mengkerut ketika
diamati dengan mikroskop.
Hal tersebut terjadi karena larutan NaCl pada konsentrasi tersebut bersifat hipertonik
(lebih pekat), sehingga terjadi osmosis atau perpindahan cairan dari konsentrasi rendah yaitu
sitoplasma eritrosit menuju ke cairan yang berkonsentrasi lebih tinggi yaitu larutan NaCl
0,9% maupun 3%. Dengan kata lain cairan sitoplasma di dalam eritrosit ditarik keluar
sehingga selnya kehilangan air yang mengakibatkan sel nampak mengkerut. Adanya
pertimbangan bahwa kepekatan cairan di luar sel akan berpengaruh terhadap peristiwa
hemolysis atau krenasi, maka dapat dikatakan bahwa kecepatan hemolysis dan kecepatan
krenasi dipengaruhi oleh kepekatan cairan di luar sel eritrosit. Semakin encer cairan di luar
sel maka semakin cepat sel tersebut mengalami hemolysis, dan semakin pekat cairan di luar
sel maka semakin cepat pula terjadinya krenasi.
Dengan kata lain kecepatan hemolysis dan kecepatan. krenasi dipengaruhi oleh
adanya peristiwa osmosis. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Watson (2002) yang
menyatakan bahwa faktor penyebab krenasi yaitu adanya peristiwa osmosis yang
menyebabkan adanya pergerakan air dalam sel sehingga ukuran sel menjadi berkurang atau
mengecil. Proses yang sama juga terjadi pada tumbuhan yaitu plasmolisis dimana sel
tumbuhan juga mengecil karena dimasukkan dalam larutan hipertonik.
16

Krenasi ini dapat dikembalikkan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam
medium luar eritrosit. Berdasarkan hasil pengukuran kecepatan hemolisis dan krenasi pada
tabel 1 diketahui bahwa ada kelompok yang menunjukkan kecepatan hemolisis eritrosit pada
NaCl 0,5% lebih lambat daripada NaCl 0,7%. Seharusnya semakin encer cairan di luar sel
seharusnya semakin cepat sel mengalami hemolisis. Sedangkan pada larutan NaCl semakin
pekat larutannya yaitu 0,9% dan 3% maka potensi kecepatan eritrosit seharusnya semakin
tinggi. Kemudian ada kelompok yang menunjukan semakin pekat larutan NaCl semakin
lambat kecepatan krenasi eritrosit yang terjadi. Hal tersebut dapat terjadi karena berbagai
kemungkinan adanya human error seperti ketidaktelitian pengamat saat mencatat waktu pada
stopwatch ketika mengamati dengan mikroskop, atau karena kalibrasi mikrokskop yang sulit
difokuskan sehingga memperlambat pengamat untuk mencatat waktu krenasi dan hemolisis
eritrosit.

2.5 Penerapan Tekanan Osmosis dalam Kehidupan Sehari-hari

 Mengontrol Bentuk Sel


Jika dua buah larutan yang dipisahkan oleh membran semipermeabel memiliki
tekanan osmotik sama, kedua larutan tersebut isotonik satu dengan yang lainnya. Jika salah
satu larutan memiliki tekanan osmotik lebih besar dari larutan yang lain, larutan tersebut
dinamakan hipertonik. Jika larutan memiliki tekanan osmotik lebih kecil daripada larutan
yang lain, larutan tersebut dinamakan hipotonik. Tekanan osmosik memainkan peranan
penting dalam sistem hidup. Misalnya, dinding sel darah merah berfungsi sebagai membran
semipermeabel terhadap pelarut sel darah merah. Penempatan sel darah merah dalam larutan
yang hipertonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan cairan sel keluar sehingga
mengakibatkan sel mengerut.
Proses pengerutan sel seperti ini disebut krenasi. Penempatan sel darah dalam larutan
yang hipotonik relatif terhadap cairan dalam sel menyebabkan cairan masuk ke dalam sel
sehingga sel darah merah akan pecah. Proses ini dinamakan hemolisis. Seseorang yang
membutuhkan pengganti cairan tubuh, baik melalui infus maupun meminum cairan pengganti
ion tubuh harus memperhatikan konsentrasi cairan infus atau minuman. Konsentrasi cairan
infus atau minuman harus isotonik dengan cairan dalam tubuh untuk mencegah terjadi
krenasi atau hemolisis.
17

 Mesin Cuci Darah


Pasien penderita gagal ginjal harus menjalani terapi cuci darah. Terapi menggunakan
metode dialisis, yaitu proses perpindahan molekul kecil-kecil seperti urea melalui membran
semipermeabel dan masuk ke cairan lain, kemudian dibuang. Membran tak dapat ditembus
oleh molekul besar seperti protein sehingga akan tetap berada di dalam darah.
 Pengawetan Makanan
Sebelum teknik pendinginan untuk mengawetkan makanan ditemukan, garam dapur
digunakan untuk mengawetkan makanan. Garam dapat membunuh mikroba penyebab
makanan busuk yang berada di permukaan makanan.
 Membasmi Lintah
Garam dapur dapat membasmi hewan lunak, seperti lintah. Hal ini karena garam yang
ditaburkan pada permukaan tubuh lintah mampu menyerap air yang ada dalam tubuh
sehingga lintah akan kekurangan air dalam tubuhnya.

 Penyerapan Air oleh Akar Tanaman


Tanaman membutuhkan air dari dalam tanah. Air tersebut diserap oleh tanaman
melalui akar. Tanaman mengandung zat-zat terlarut sehingga konsentrasinya lebih tinggi
daripada air di sekitar tanaman sehingga air dalam tanah dapat diserap oleh tanaman.

 Desalinasi Air Laut Melalui Osmosis Balik


Osmosis balik adalah perembesan pelarut dari larutan ke pelarut, atau dari larutan
yang lebih pekat ke larutan yang lebih encer. Osmosis balik terjadi jika kepada larutan
diberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmotiknya.
Osmosis balik digunakan untuk membuat air murni dari air laut. Dengan memberi
tekanan pada permukaan air laut yang lebih besar daripada tekanan osmotiknya, air dipaksa
untuk merembes dari air asin ke dalam air murni melalui selaput yang permeabel untuk air
tetapi tidak untuk ion-ion dalam air laut. Tanpa tekanan yang cukup besar, air secara spontan
akan merembes dari air murni ke dalam air asin.
Penggunaan lain dari osmosis balik yaitu untuk memisahkan zat-zat beracun dalam air
limbah sebelum dilepas ke lingkungan bebas.
18

2.6 Perbedaan larutan hipotonis, isotonis & Hipertonis

1. Larutan Hipotonis
Larutan hipotonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih rendah dibandingkan
dengan larutan yang lain. Bahasa mudahnya, suatu larutan memiliki kadar garam yang lebih
rendah dan yang lainnya lebih banyak. Jika ada larutan hipotonis yang dicampur dengan
larutan yang lainnya maka akan terjadi perpindahan kompartemen larutan dari yang hipotonis
ke larutan yang lainnya sampai mencapai keseimbangan konsentrasi. Contoh larutan
hipotonis adalah setengah normal saline (1/2 NS). Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan
osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkna air akan melintasi
membrane sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah dan
menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan
pecahnya sel – sel darah merah. Peristiwa demikian disebut Hemolisa.

2. Larutan Isotonis
Suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah,
sehingga tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan dikatakan isotonis
(ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl). Larutan isotonis mempunyai komposisi yang sama
dengan cairan tubuh, dan mempunyai tekanan osmotik yang sama.
3. Larutan Hipertonis
Turunan Larutan hipertonis memiliki konsentrasi larutan yang lebih tinggi dari larutan
yang lainnya. Bahasa mudahnya, suatu larutan mengandung kadar garam yang lebih tinggi
dibandingkan dengan larutan yang lainnya. Jika larutan hipertonis ini dicampurkan dengan
larutan lainnya (atau dipisahkan dengan membran semipermeabel) maka akan terjadi
perpindahan cairan menuju larutan hipertonis sampai terjadi keseimbangan konsentrasi
larutan. Sebagai contoh, larutan dekstrosa 5% dalam normal saline memiliki sifat hipertonis
karena konsentrasi larutan tersebut lebih tinggi dibandingkan konsentrasi larutan dalam darah
pasien. titik beku besar, yaitu tekanan osmosenya lebih tinggi dari serum darah, sehingga
menyebabkan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel dan
mengakibatkan terjadinya penciutan sel – sel darah merah. Peristiwa demikian disebut
Plasmolisa.
19

2.7 Pengertian Plasmolisis dan Osmosis


 Plasmolisis

Transportasi materi sel adalah suatu proses yang secara riil bisa menunjukkan bahwa
sel sebagai unit terkecil kehidupan ternyata terjadi sirkulasi keluar masuk suatu zat, artinya
suatu zat /materi bisa keluar dari sel, dan bisa masuk melalui membrannya. Adanya sirkulasi
ini bisa menjelaskan bahwa sel tidak diam, ternyata sungguh dinamis dengan lingkungannya,
jika memerlukan materi dari luar maka ia harus ambil materi itu dengan segala cara, yaitu
mengatur tekanan agar terjadi perbedaan tekanan sehingga materi dari luar itu bisa masuk.
Dilingkungan kondisi sel tidak selalu berada pada keadaan yang normal yang dengan mudah
ia mengaturnya ia bisa mencapai homeostatis/seimbang. Terkadang sel juga bisa berada di
lingkungan yang ekstrem menyebabkan semua isi sel dapaksakan keluar karena diluar
tekanan lebih besar, jika terjadi demikian maka terjadilah lisis/plasmolisis yang membawa sel
itu mati. Misal kulit kita berada di deterjen sabun cuci yang pekat ketika dulu belum ada
mesin cuci mengucek ucek baju, maka tangan jadi kulitnya mengkerut terlihat kelupasan sel
yang mati. Plasmolisis adalah contoh kasus transportasi sel secara osmosis dimana terjadi
perpindahan larutan dari kepekatan yang rendah ke larutan yang pekat melalui membran semi
permeable, yang akan dibahas drngan contoh pada darah.

 Osmosis

Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup,
misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika kamu meletakan sel darah merah dalam
suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darah akan ditarik keluar
dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu
meletakan sel darah merah dalam suatu larutan yang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari
larutan tersebut akan ditarik masuk kedalam sel darah sehingga sel mengembang dan
pecah.Proses ini disebut hemolisis. Orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan
berkadar garam tinggi, jaringan sel dan jaringan antar selnya akan mengandung banyak air.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pembengkakan tubuh yang disebut OEDEMA.

Pemahaman mengenai proses osmosis ini sangat diperlukan dalam bidang kedokteran.
Misalnya, dalam pemberian nutrisi bagi pasien melalui infus. Pada infus, larutan nutrisi
dimasukan langsung kedalam pembuluh darah. Larutan ini harus memilik tekanan osmotik
yang sama dengan tekanan osmotik darah agar sel darah tidak mengalami krenasi atau
20

hemolisis karena sangat membahayakan jiwa pasien. Tekanan osmotik darah pada suhu 25 C
adalah 7,7 atm oleh karena itu, jika pasien akan diberi larutan glukosa melalui
infus,konsentrasi glukosa yang digunakan harus memiliki persen masa 5,3%. Osmosis yang
terjadi juga bisa kita amati pada peristiwa alam lainnya ,dalam banyak contoh yang menarik.
misalnya pada pengawetan selai dan jeli yang dilakukan di rumah merupakan contoh lain dari
penerapan tekanan osmotik.

Gula dalam jumlah yang banyak ternyata penting dalam proses pengawetan karena
gula membantu membunuh bakteri yang bisa mengakibatkan botulisme. Bila sel bakteri
berada dalam larutan gula hipertonik (konsentrasi tinggi), air intrasel cenderung untuk
bergerak keluar dari sel bakteri ke larutan yang lebih pekat lewat osmosis. Proses ini yang
disebut krenasi (crenation), menyebabkan sel mengerut dan akhirnya tidak berfungsi lagi.
Keasaman alami buah-buahan juga menghambat pertumbuhan bakteri. Tekanan osmotik juga
merupakan mekanisme utama dalam pengangkutan air ke bagian atas tumbuhan. Karena daun
terus-menerus kehilangan air ke udara, dalam proses yang disebut transpirasi, konsentrasi zat
terlarut dalam cairan daun meningkat. Air didorong ke atas lewat batang, cabang dan ranting-
ranting pohon oleh tekanan osmotik. Diperlukan tekanan sebesar 10-15 atm untuk
mengangkut air ke daun di pucuk pohon redwood di California, yang tingginya mencapai
sekitar 120 m. Teknik mengeluarkan bisul pada tubuh dengan mekanisme osmosis dengan
menerapkan gelli berupa balsam/salep yang hipertonik juga memudahkan bisul segera
kempes, Pembuatan telur asin, ikan asin dan tentu contoh yang lain yang prinsipnya disitu
ada perbedaan tekanan dipastikan proses osmosis akan berlangsung. Proses ini juga bisa
terlihat pada tanaman yang dipupuk urea sangat pekat tanaman bisa diharapkan tumbuh
dengan baik tetapi malah mati.

Jadi Plasmolisis merupakan dampak dari peristiwa osmosis. Jika sel tumbuhan
diletakkan di larutan garam terkonsentrasi (hipertonik), sel tumbuhan akan kehilangan air dan
juga tekanan turgor, menyebabkan sel tumbuhan lemah. Tumbuhan dengan sel dalam kondisi
seperti ini layu. Kehilangan air lebih banyak akan menyebabkan terjadinya plasmolisis
Dampak plasmolisis yang meneyebabkan tekanan terus berkurang sampai di suatu titik di
mana protoplasma sel terkelupas dari dinding sel, menyebabkan adanya jarak antara dinding
sel dan membran. Akhirnya cytorrhysis – runtuhnya seluruh dinding sel dapat terjadi. Tidak
ada mekanisme di dalam sel tumbuhan untuk mencegah kehilangan air secara berlebihan,
juga mendapatkan air secara berlebihan, tetapi plasmolisis dapat dibalikkan jika sel
diletakkan di larutan hipotonik. Proses sama pada sel hewan disebut krenasi.
21

2.8. Konsentrasi Sel Darah Merah

Sel-sel darah akan membengkak dan pecah bila dimasukkan ke dalam larutan
hipotonis dan akan mengkerut bila dimasukkan kedalam cairan hipertonis. Sedangkan dalam
larutan isotonis sel-sel darah tidak mengalami perubahan apapun.Pada larutan isotonis NaCl
0,9%, darah akan tetap stabil dan bentuk yang sama seperti biasa karna larutan isotonis
mempunyai komposisi yang sama dengan cairan tubuh.
Pada larutan hipotonis 0,65%, sel darah akan membengkak, yang di sebabkan oleh turunnya
tekanan osmotik plasma darah yang menyebabkan pecahnya dinding eritrosit, hal ini
mnyebabkan amsuknya air secara osmosis melalui dinding yang semipermiabel sehingga sel
darah membengkak.
Pada larutan hipertonis 0,85%, sel darah akan mengkerut. Kerutan yang terjadi pada
darah ini dikarenakan NaCl dengan konsentrasi 1, 2 tergolong pekat. Tergolong pekat jika
dibanding dengan cairan isi sel darah merah, sehingga menyebabkan air yang ada didalam sel
darah merah akan banyak keluar dan akibatnya sel darah merah akan mengkerut. Pada
konsentrasi 1 % sel darah katak (eritrositnya) memang benar-benar sudah mengkerut dan
sudah nampak agak mengecil, demiian juga halnya dengan eritrosit ikan. Pada manusia darah
pada dengan diberi larutan NaCl dalam konsntrasi ini juga mengalami pengkerutan atau
krenasi. Pada konsentrasi 0, 9% sel darah merah pada objek yang diamati secara umum
normal, bentuknya bikonkaf.
Pada vertebrata eritrositnya ada yang berinti dan berbentuk ellipsoid. Darah manusia
dan darah hewan lain terdiri atas suatu komponen cair, yaitu plasma, dan berbagai bentuk
unsur yang dibawa dalam plasma, antara lain sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit) dan keping-keping darah.
Plasma terdiri atas 90% air, 7 sampai 8% protein yang dapat larut, 1% elektrolit dan sisanya
1-2% berbagai zat makanan dan mineral yang lain Darah dapat mengalami lisis yang
merupakan istilah umum untuk untuk peristiwa menggelembung dan pecahnya sel akibat
masuknya sel kedalam air. Lisis pada eritrosit disebut hemolisis, yang berarti peristiwa
pecahnya eritrosit akibat masuknya air kedalam eritrosit sehingga hemoglobin keluar dari
dalam eritrosit menuju ke cairan sekelilingnya.

Membrane eritrosit bersifat permeable selektif yang berarti dapat ditembus oleh air
dan zat-zat tertentu, tetapi tidak dapat ditembus oleh zat-zat tertentu yang lain
Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan
22

hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit,


zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi
darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan
NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit
melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung.
Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri,
maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya.
Sebaliknya bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan
keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi).
Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium
luar eritrosit (plasma).

Berdasarkan penelitian isi sel eritrosit hewan homoitherm isotonis terhadap larutan
0,9% NaCl, oleh karena itu hemolisis akan terjadi apabila eritrosit hewan Homoitherm
dimasukkan kedalam larutan NaCl dengan konsentrasi dibawah 0,9%. Namun, perlu
diketahui bahwa membrane eritrosit memiliki toleransi osmotic, artinya sampai batas
konsentrasi medium tertentu sel belum mengalami lisis. Kadang-kadang pada suatu
konsentrasi larutan tertentu tidak semua eritrosit mengalami hemolisis. Hal ini menunjukkan
bahwa toleransi osmotis membrane eritrosit berbeda-beda. Pada eritrosit tua membrane
selnya memiliki toleransi rendah (mudah pecah) sedangkan membrane eritrosit muda
memiliki toleransi osmotik, osmotic yang lebih besar (tidak mudah pecah). Pada dasarnya
eritrosit sudah mengalami hemolisis sempurna pada air suling. Hasil hemolisis sempurna
eritrosit pada air suling biasa dianggap larutan standard untuk menentukan tingkat kerapuhan
eritrosit. Hemolisis seperti yang dijelaskan diatas disebut hemolisis osmotic, yaitu hemolisis
yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic isi sel dengan mediumnya (cairan
disekitarnya). Hemolisis yang lain adalah hemolisis kimiawi, dimana membrane eritrosit
rusak akibat substansi kimia. Zat-zat yang dapat merusak membrane eritrosit (termasuk
membrane sel yang lain) antara lain adalah: kloroform, asseton, alcohol, benzene dan eter.

Peristiwa sebaliknya ialah krenasi, yang dapat terjadi apabila eritrosit dimasukkan ke
dalam medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit. Misalnya, untuk eritrosit hewan
homoitherm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9% sedangkan untuk eritrosit hewan
poikilotherm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7%. Apabila eritrosit mengalami
hemolisis maka hemoglobin akan larut dalam mediumnya. Akibat dari terlarutnya
23

hemoglobin tersebut medium akan berwarna merah. Makin banyak eritrosit yang mengalami
hemolisis, maka makin merah warna mediumnya. Dengan membandingkan warna
mediumnya. Dengan membandingkan warna mediumnya dengan larutan standar (eritrosit
dalam air suling) maka dapat ditentukan tingkat kerapuhan membrane eritrosit (tingkat
toleransi osmotic membran.

Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup,
misalnya, pada membran sel darah merah saat mengalami peristiwa hemolisis dan krenasi.
Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis
atau hipertonis ke dalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat atau
unsur kimia tertentu, pemanasan atau pendinginan, serta rapuh karena umur eritrosit dalam
sirkulasi darah telah tua. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena
penambahan larutan NaCl hipotonis), medium tersebut (plasma dan larutan) akan masuk ke
dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit
menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit
itu sendiri, maka sel akan pecah.

Lisis merupakan istilah umum untuk peristiwa menggelembung dan pecahnya sel
akibat masuknya air ke dalam sel. Lisis pada eritrosit disebut hemolisis, yang berarti
peristiwa pecahnya eritrosit akibat masuknya air ke dalam eritrosit sehingga hemoglobin
keluar dari dalam eritrosit menuju ke cairan sekelilingnya. Membran eritrosit bersifat
permeabel selektif, yang berarti dapat ditembus oleh air dan zat-zat tertentu, tetapi tidak dapat
ditembus oleh zat-zat tertentu yang lain. Hemolisis ini akan terjadi apabila eritrosit
dimasukkan ke dalam medium yang hipotonis terhadap isi sel eritrosit. Namun perlu
diketahui bahwa membran eritrosit (termasuk membran sel yang lain) memiliki toleransi
osmotik, artinya sampai batas konsentrasi medium tertentu sel belum mengalami lisis.
Kadang-kadang pada suatu konsentrasi larutan NaCl tertentu tidak semua eritrosit mengalami
hemolisis. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi osmotis membran eritrosit berbeda-beda.
Pada eritrosit tua membran selnya memiliki toleransi rendah (mudah pecah), sedangkan
membran eritrosit muda memiliki toleransi osmotik yang lebih besar (tidak mudah pecah).
Pada dasarnya semua eritrosit sudah mengalami hemolisis sempurna pada air suling. Hasil
hemolisis sempurna eritrosit dalam air suling biasa dianggap sebagai larutan standar untuk
menentukan tingkat kerapuhan eritrosit.
24

Hemolisis yang disebabkan oleh perbedaan tekanan osmotic isi sel dengan
mediumnya (cairan di sekitarnya) disebut hemolisis osmotik. Hemolisis yang lain adalah
hemolisis kimiawi dimana medium eritrosit rusak akibat subtansi kimia. Zat-zat yang dapat
merusak membran eritrosit (termasuk membran sel yang lain) antara lain kloroform, aseton,
alcohol, benzena, dan eter.

Peristiwa sebaliknya dari hemolisis adalah krenasi, yaitu peristiwa mengkerutnya


membran sel akibat keluarnya air dari dalam eritrosit. Krenasi dapat terjadi apabila eritrosit
dimasukkan ke dalam medium yang hipertonis terhadap isi eritrosit, misalnya untuk eritrosit
hewan homoioterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,9 % NaCl, sedangkan untuk
eritrosit hewan poikiloterm adalah larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,7 %. Pada
pengamatan toleransi osmotik eritrosit digunakan larutan NaCl yang berbeda konsentrasi
yaitu 0,1%, 0,3%, 0,5%, 0,7%, 0,9%, 1%, 2%, 3% dan akuades. Pengamatan toleransi
osmotik eritrosit dilakukan untuk mengetahui reaksi eritrosit setelah ditambah larutan NaCl
dengan konsentrasi tertentu dan akuades sehingga dapat diamati adanya eritrosit yang
mengalami hemolisis atau krenasi. Pada konsentrasi NaCl 0,7% eritrosit tidak mengalami
hemolisis karena larutan Nacl yang digunakan bersifat isotonis, sehingga hal itu digunakan
sebagai kontrol terhadap reaksi menggunakan NaCl dengan konsentrasi lain yang berbeda
dan akuades. Apabila eritrosit diberikan NaCl dengan konsentrasi 0,1%, 0,3%, 0,5% eritrosit
cenderung mengalami hemolisis, dikarenakan cairan di luar sel (NaCl 0,1%, 0,3%, 0,5%)
berdifusi ke dalam sel akibat adanya perbedaan potensial air (PA) dimana PA larutan NaCl
lebih tinggi dari pada PA sel darah merah. Jumlah air yang masuk ke dalam eritrosit semakin
bertambah sampai akhirnya melampaui batas kemampuan membran eritrosit dan
menyebabkan membran itu pecah sehingga sitoplasma eritrosit keluar.

Sel darah merah manusia memiliki tekanan osmotik yang sama dengan larutan NaCl
0,9% atau dapat pula dikatakan sel darah merah bersifat isotonik terhadap NaCl 0,9%. Jika
darah di larutkan kedalam cairan NaCl yang konsentrasinya lebih pekat lagi atau >0,9% maka
akan terjadi perpindahan air dari sel darah ke dalam larutan NaCl tersebut yang menyebabkan
sel darah merah kehilangan air dan mengkerut ( larutan NaCl tersebut dikatakan bersifat
hipertonis). Namun sebaliknya jika sel darah merah di larutkan kedalam larutan NaCl yang
lebih encer yaitu kurang dari 0,9% maka aliran air akan menuju kedalam sel darah merah
yang menyebabkan terjadinya penggelembungan pada sel darah merah ( dalam hal ini larutan
NaCl disebut hipotonis).
25

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Osmosis adalah proses perpindahan larutan yang memiliki konsentrasi rendah melalui
membran semipermeabel menuju larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi hingga
tercapai kesetimbangan konsentrasi. Pada proses osmosis, molekul-molekul pelarut
bermigrasi dari larutan encer ke larutan yang lebih pekat hingga dicapai keadaan
kesetimbangan konsentrasi di antara kedua medium tersebut.
Tekanan yang diterapkan untuk menghentikan proses osmosis dari larutan encer atau
pelarut murni ke dalam larutan yang lebih pekat dinamakan tekanan osmotik larutan,
dilambangkan dengan π.
Osmosis merupakan difusi air melintasi membran semipermeabel dari daerah dimana
air lebih banyak ke daerah dengan air yang lebih sedikit. Osmosis sangatditentukan oleh
potensial kimia air atau potensial air , yang menggambarkankemampuan molekul air untuk
dapat melakukan difusi. Sejumlah besar volume air akan memiliki kelebihan energi bebas
daripada volume yang sedikit, di bawah kondisi yang sama.
Jika salah satu larutan memiliki tekanan osmotik lebih rendah dibandingkan tekanan
osmotik larutan lainnya di sebut hipotonik. Adpaun larutan yang memiliki tekanan osmotik
lebih tinggi disebut hipertonik. dapat kami simpulkan bahwa larutan garam jenuh merupakn
larutan yang sangat pekat,hal ini menyebabkan buah-buahan yang dimasukkan kedalam
larutan garam lama kelamaan akan mengerut dan rusak,hal ini membuktikan bahwa
percobaan yang kami lakukan merupakan peristiwa Tekanan Osmosis yang lebih tepatnya
adalah peristiwa Hipotonik.
26

DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/document/245333758/Tekanan-Osmosis-Dalam-Membran-Sel-
Darah-Merah

http://www.academia.edu/29486846/Toleransi_Osmotik_Sel_Darah_Merah

https://www.slideshare.net/sofyan354/2-laporan-praktikum-biologi-pengaruh-tekanan-
osmotik-terhadap-membran-eritrosit

http://athayaismail.blogspot.co.id/2014/09/laporan-tentang-tekanan-osmosis.html

http://fiitrirahayu.blogspot.co.id/2012/12/tekanan-osmotik.html

http://rahmaningsi.blogspot.co.id/2014/04/laporan-praktikum-hemolisa-dan-krenasi.html

http://dwimayabioagh.blogspot.co.id/2014/01/laporan-praktikum-biologi-sel-sel-
darah.html