Anda di halaman 1dari 49

USULAN PENELITIAN

PERBANDINGAN PENGGUNAAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI


DAN MULUT PADA PESERTA BPJS DAN BUKAN PESERTA BPJS
BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DI
KABUPATEN BANYUMAS

Disusun Oleh:
Nur Faizah Ulfa G1G013003
Farihatun Arafah G1G013007

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2016
USULAN PENELITIAN

PERBANDINGAN PENGGUNAAN PELAYANAN KESEHATAN GIGI


DAN MULUT PADA PESERTA BPJS DAN BUKAN PESERTA BPJS
BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN MASYARAKAT DI
KABUPATEN BANYUMAS

Diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu syarat untuk
menyelesaikan S1 Kedokteran Gigi dan mencapai gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Disusun Oleh:
Nur Faizah Ulfa G1G013003
Farihatun Arafah G1G013007

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
JURUSAN KEDOKTERAN GIGI
PURWOKERTO

2016

i
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i

DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii

DAFTAR TABEL ............................................................................................ iv

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ v

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1

A. Latar Belakang ....................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .................................................................................. 4
C. Tujuan Penelitian .................................................................................... 4
D. Manfaat Penelitian ................................................................................. 5
E. Keaslian Penelitian .................................................................................. 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 7

A. Landasan Teori ....................................................................................... 7


1. Kesehatan Gigi dan Mulut................................................................... 7
2. Pelayanan Kesehatan ........................................................................... 9
3. Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) .............................. 11
4. Fasilitas Kesehatan .............................................................................. 16
5. Pendidikan ........................................................................................... 21
B. Kerangka Teori ....................................................................................... 24

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................. 25

A. Kerangka Konsep ................................................................................... 25


B. Hipotesis ................................................................................................. 25
C. Jenis Penelitian ...................................................................................... 25
D. Rancangan Penelitian .............................................................................. 26

ii
E. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................................. 26
F. Variabel Penelitian .................................................................................. 26
G. Definisi Operasional................................................................................ 27
H. Populasi dan Sampel Penelitian .............................................................. 28
I. Sumber Data ............................................................................................ 31
J. Cara Pengumpulan Data .......................................................................... 31
K. Instrumen Penelitian................................................................................ 33
L. Alur Penelitian ........................................................................................ 33
M. Analisis Data ........................................................................................... 34
N. Jadwal Penelitian .................................................................................... 34

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 35

LAMPIRAN ...................................................................................................... 38

iii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Anggaran Biaya Penelitian ............................................................... 38

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian ........................................................................... 6

Tabel 2. Peralatan Penunjang ......................................................................... 38

Tabel 3. Bahan Habis Pakai ........................................................................... 39

Tabel 3.1 Definisi Operasional ........................................................................ 27

Tabel 3.2 Jadwal Penelitian .............................................................................. 34

Tabel 4. Perjalanan ......................................................................................... 39

Tabel 5. Biaya Lain-lain ................................................................................. 39

iv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Kerangka teori .............................................................................. 24

Gambar 3.1 Kerangka konsep .......................................................................... 25

v
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Biaya penelitian ........................................................................... 38

Lampiran 2. Justifikasi anggaran penelitian ..................................................... 38

Lampiran 3. Kuesioner penelitian .................................................................... 40

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integrasi dari kesehatan

yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang. Kesehatan gigi dan mulut

menjadi perhatian penting dalam pembangunan kesehatan penduduk Indonesia

maupun negara-negara berkembang (Mawuntu dkk., 2015: 252-256). Penyakit

gigi dan mulut merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di

Indonesia dan menjadi salah satu dari sepuluh besar penyakit yang paling

sering dikeluhkan masyarakat. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 diketahui

bahwa prevalensi nasional masalah gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir

adalah 25,9% dan terdapat 4,6% penduduk yang telah kehilangan seluruh gigi

aslinya pada kelompok usia 10 tahun ke atas. Penyakit gigi dan mulut

membutuhkan penanganan khusus yaitu dengan meningkatkan pelayanan

kesehatan gigi dan mulut (Andayasari, 2014: 85-100).

Pelayanan kesehatan yang baik merupakan suatu kebutuhan

masyarakat dan seringkali menjadi ukuran dalam keberhasilan pembangunan.

Keberhasilan pembangunan suatu negara terletak pada kualitas manusia

sebagai sumber daya yang potensial dalam pelaksanaan pembangunan. Salah

satu usaha untuk mewujudkannya adalah dengan meningkatkan derajat

kesehatan masyarakat melalui pembangunan di bidang kesehatan. Menurut

Peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 2016 Pasal 1 ayat (2) menyatakan

1
2

bahwa pemerintah menyelenggarakan program jaminan kesehatan nasional

berupa badan penyelenggara jaminan sosial yang selanjutnya disingkat BPJS.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan merupakan

program kesehatan baru dari pemerintah yang resmi diberlakukan pada

tanggal 1 Januari 2014 yang menyelenggarakan program jaminan kesehatan.

Penyelenggaraan progam BPJS kesehatan berupa perlindungan kesehatan agar

peserta bisa memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan

dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. Jaminan kesehatan diberikan kepada

setiap masyarakat yang sudah membayarkan iuran ataupun yang sudah

dibayarkan oleh pemerintah. Kepesertaan BPJS wajib bagi setiap warga

negara Indonesia dan warga asing yang tinggal di Indonesia selama minimal

enam bulan (Rismawati, 2015: 1668-1682).

Jaminan kesehatan merupakan salah satu cara untuk mengurangi beban

pembiayaan kesehatan yang dikeluarkan oleh setiap individu. Masyarakat di

Indonesia sampai saat ini yang mempunyai jaminan kesehatan masih sangat

terbatas kurang dari 20% dari total penduduk. Diperlukan sosialisasi yang

menyeluruh agar masyarakat mau terlibat dalam pengembangan sistem

jaminan kesehatan. Penduduk di Kabupaten Banyumas dari tahun ke tahun

banyak yang belum mempunyai jaminan kesehatan. Anggaran yang

dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Banyumas pada tahun 2009 sebesar Rp.

3,1 miliar untuk subsidi kesehatan bagi masyarakat yang tidak mampu namun

pada bulan Juli tahun 2009 anggaran tersebut telah habis digunakan

(Kurniawan dan Intiasari, 2012: 3-7). Pemanfaatan pelayanan kesehatan


3

memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya, yakni faktor konsumen

(pendidikan, mata pencaharian, pengetahuan dan persepsi pasien), faktor

organisasi (ketersediaan sumber daya, keterjangkauan lokasi layanan, dan

akses sosial) serta faktor pemberi layanan berupa perilaku petugas kesehatan

(Rumengan dkk., 2015: 88-100).

Pendidikan dapat mempengaruhi tingkat kebersihan gigi dan mulut.

Seseorang yang pendidikannya rendah mempunyai pengetahuan yang kurang

dalam memelihara kebersihan gigi dan mulutnya. Orang yang memiliki

pendidikan tinggi cenderung mampu menjaga kebersihan gigi dan mulutnya

dengan baik karena mereka lebih memperhatikan kondisi mulutnya (Basuni

dkk., 2014: 18-23). Tingkat pendidikan seseorang juga berpengaruh terhadap

penggunaan pelayanan kesehatan. Menurut Maabuat dkk. (2013) menyatakan

bahwa sebagian besar peserta Jamkesmas berasal dari tingkat pendidikan

menengah (SMP dan SMA) yaitu sebanyak 53 orang atau 77,9 %, pendidikan

dasar (tidak tamat SD dan SD) yaitu sebanyak 15 orang atau sebesar 22,1%.

Tingkat pendidikan dapat menggambarkan status sosial ekonomi karena

biasanya berhubungan erat dengan pekerjaan dan pendapatan rumah tangga

serta mempengaruhi sikap dan kecenderungan dalam memilih barang-barang

konsumsi termasuk jasa pelayanan kesehatan.

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik ingin meneliti tentang

perbandingan penggunaan pelayanan kesehatan gigi peserta BPJS dan bukan

peserta BPJS berdasarkan tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten

Banyumas.
4

B. Rumusan Masalah

Bagaimana perbandingan penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan

mulut peserta BPJS dan bukan peserta BPJS berdasakan tingkat pendidikan

masyarakat di Kabupaten Banyumas?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan

pelayanan kesehatan gigi dan mulut peserta BPJS dan bukan peserta BPJS

berdasakan tingkat pendidikan masyarakat di Kabupaten Banyumas.

2. Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penelitian ini adalah:

a. Mendeskripsikan perbandingan penggunaan pelayanan kesehatan

gigi dan mulut peserta BPJS dan bukan peserta BPJS di Kabupaten

Banyumas.

b. Menganalisis penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut

pada peserta BPJS di Kabupaten Banyumas.

c. Menganalisis penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut

pada masyarakat yang bukan peserta BPJS di Kabupaten

Banyumas.

d. Menganalisis perbandingan penggunaan pelayanan kesehatan gigi

dan mulut berdasarkan tingkat pendidikan masyarakat di

Kabupaten Banyumas.
5

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Memberikan informasi kepada masyarakat dan peneliti selanjutnya

tentang penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut peserta BPJS dan

bukan peserta BPJS berdasakan tingkat pendidikan masyarakat di

Kabupaten Banyumas.

2. Manfaat Praktik

a. Meningkatkan pemahaman peneliti tentang Ilmu Kedokteran Gigi

Masyarakat, khususnya tentang pentingnya penggunaan pelayanan

kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat di Kabupaten

Banyumas.

b. Penelitian ini diharapkan dapat memberi pengetahuan kepada

masyarakat tentang pentingnya penggunaan pelayanan kesehatan

gigi dan mulut untuk menjaga kebersihan dan kesehatan mulut.

c. Meningkatkan derajat kesadaran masyarakat akan pentingnya

menjadi peserta BPJS di Kabupaten Banyumas.


6

E. Keaslian Penelitian

Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan,

sebagai pembanding penguat penelitian dapat dilihat keaslian penelitian yang

diuraikan pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Keadefinisi kerangka slian Penelitian


No. Penelitian Sebelumnya Perbedaan

1. A. Judul: Use of Public Oral Health A. Persamaan: Variabel penelitian


Services by the Adult Population: sama-sama menggunakan
A Multilevel Analysis. pelayanan kesehatan gigi dan
B. Penulis: Rafaela da Silveira Pinto, mulut.
Angelo Giuseppe Roncalli, Mauro B. Perbedaan: Subjek yang diteliti
Henrique Nogueira Guimarães adalah masyarakat dewasa
Abreu, Andréa Maria Duarte sedangkan penelitian yang akan
Vargas dilakukan menggunakan
C. Tahun Publikasi: 2016 masyarakat pengguna jaminan
kesehatan dan bukan pengguna
Dipublikasikan: PLOS ONE DOI jaminan kesehatan berdasarkan
Journal. Vol. 10(1371): 1-14. tingkat pendidikan.
2. A. Judul: Patient Satisfaction With A. Persamaan: Variabel penelitian
Dental Services at A Rural Health sama-sama menggunakan
Care Center: A Questionnaire pelayanan kesehatan gigi.
Survey. B. Perbedaan: Subjek penelitian
B. Penulis: Subashinee Vaidyanathan, dengan variabel terikat kepuasan
Turaga Sai Susmitha, M pasien sedangkan penelitian yang
Rajkumar, Akila Ganesh, S K akan dilakukan dengan variabel
Balaji, D Kandaswamy. bebas tingkat pendidikan
C. Tahun Publikasi: 2015 masyarakat.

Dipublikasikan: Journal of
International Oral Health, Vol. 7(10):
62-64.
3. A. Judul: Hubungan antara Mutu A. Persamaan: Variabel penelitian
Pelayanan Perawat dan Tingkat sama-sama menggunakan tingkat
Pendidikan dengan Kepuasan pendidikan, peserta BPJS.
Pasien Peserta Badan B. Perbedaan: Subjek penelitian
Penyelenggara Jaminan Kesehatan dengan variabel terikat kepuasan
Sosial di Ruang Inap Rumah Sakit pasien peserta BPJS di rawat
Islam (RSI) Sitti Maryam Kota inap Rumah sakit Islam Sitti
Manado. Maryam Manado sedangkan
B. Penulis: Azlika M. Alamri, Adisti yang akan dilakukan penelitian
A. Rumayar, Febi K. Kolibu yaitu variabel terikatnya
C. Tahun Publikasi: 2015 perbedaan pelayanan kesehatan
gigi dan mulut peserta BPJS dan
Dipublikasikan: PHARMACON bukan peserta BPJS di
Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT Vol. Kabupaten Banyumas.
4(4): 241-251.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Kesehatan Gigi dan Mulut

Kesehatan merupakan hak setiap warga negara. Pemerintah

melakukan pembangunan kesehatan dengan menyelenggaraan program

kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan bagi

masyarakat. Program kesehatan dilakukan dengan pendekatan

pemeliharaan, peningkatan kesehatan promotif, pencegahan penyakit

(preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan

(rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan (Andayasari, 2014: 85-100).

Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integrasi dari

kesehatan secara keseluruhan yang dapat mempengaruhi kualitas hidup

seseorang (Mawuntu dkk., 2015: 252-256). Kebersihan gigi dan mulut

merupakan suatu tindakan untuk membersihkan gigi dan gusi dalam

mencegah penyakit gigi dan mulut (Anitasari dkk., 2005: 88). Perawatan

dapat diawali dari kebersihan gigi dan mulut pada setiap individu (Dahlan,

2013: 61-86). Salah satu indikator yang bisa dilihat dari tingkat kebersihan

gigi dan mulut secara klinis yaitu dari ada tidaknya deposit-deposit

organik seperti pelikel, materi alba, debris, kalkulus, dan plak gigi

(Suryono, 2011: 73-74).

7
8

Kebersihan mulut yang tidak dipelihara dengan baik akan

menimbulkan penyakit di rongga mulut. Penyakit periodontal (seperti

gingivitis dan periodontitis) dan karies gigi merupakan akibat dari

kebersihan rongga mulut yang buruk. Penyakit periodontal dan karies gigi

merupakan penyakit di rongga mulut yang dapat menyebabkan hilangnya

gigi secara patologis. Kebersihan mulut mempunyai peran penting di

bidang kesehatan gigi karena kebersihan mulut yang buruk dapat

mengakibatkan timbulnya berbagai penyakit baik lokal maupun sistemik

(Basuni dkk., 2014: 18-23).

Pengukuran kebersihan gigi dan mulut merupakan upaya untuk

menentukan keadaan kebersihan gigi dan mulut seseorang. Umumnya

untuk mengukur kebersihan gigi dan mulut digunakan suatu indeks. Indeks

adalah suatu angka yang menunjukan keadaan klinis yang didapat pada

waktu dilakukan pemeriksaan dengan cara mengukur luas dari permukaan

gigi yang ditutupi oleh plak maupun kalkulus. Pemeriksaan dilakukan

dengan menggunakan kriteria Oral Hygiene Index Simplified (OHI-S).

Kriteria ini dinilai berdasarkan keadaan endapan lunak atau debris dan

karang gigi atau kalkulus (Basuni dkk., 2014: 18-23).

2. Pelayanan Kesehatan

Pelayanan merupakan suatu aktivitas atau serangkaian alat yang

bersifat tidak kasat mata (tidak dapat diraba), yang terjadi akibat interaksi

antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh

perusahaan pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan


9

persoalan konsumen. Secara umum pelayanan kesehatan dapat dibedakan

menjadi dua macam yaitu pelayanan kesehatan personal (personal health

services) atau pelayanan kedokteran (medical services) yang sasaran

utamanya perseorangan dan keluarga serta pelayanan kesehatan

lingkungan (environmental health services) atau pelayanan kesehatan

masyarakat (public health services) sasaran utamanya adalah kelompok

dan masyarakat (Winarsih, 2005: 41).

Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pengunaan fasilitas

pelayanan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap,

kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain

dari pemanfaatan pelayanan tersebut yang didasarkan pada ketersediaan

dan kesinambungan pelayanan, mudah dicapai oleh masyarakat,

terjangkau serta bermutu (Azwar, 1999: 123-124). Pelayanan kesehatan

merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling

terkait, saling bergantung dan saling mempengaruhi antara satu dengan

yang lainnya. Penilaian terhadap kualitas jasa dapat menggunakan 5 (lima)

dimensi SERVQUAL yang meliputi:

a. Tangibles (berwujud), meliputi fasilitas fisik, peralatan, pegawai

dan sarana komunikasi.

b. Reliability (andal), kemampuan untuk memberi pelayanan sesuai

janji dengan segera memuaskan dan akurat.


10

c. Responsiveness (daya tanggap), keinginan dalam bentuk tanggung

jawab untuk membantu pelanggan dan memberi pelayanan dengan

tanggap.

d. Assurance (jaminan), mencangkup pengetahuan, kemampuan,

ketulusan, kesopanan, dan dapat dipercaya pelanggan, sehingga

pelanggan merasa yakin bebas dari resiko bahaya atau keragu-

raguan.

e. Empathy (perhatian), kemudahan dalam melakukan hubungan

komunikasi, perhatian dan peduli serta memahami kebutuhan dari

pelanggan (Assaf, 2009: 16).

Pelayanan kesehatan yang belum sesuai dengan harapan pasien

diharapkan menjadi masukan bagi organisasi pelayanan kesehatan agar

berupaya memenuhinya. Pemberian pelayanan dan fasilitas yang diberikan

sesuai dengan yang diharapkan oleh pasien, maka akan semakin banyak

yang memanfaatkan pelayanan kesehatan, namun dapat terjadi sebaliknya

jika pelayanan dirasakan kurang memadai (Pohan, 2006: 13-20).

Pelayanan kesehatan yang baik sering menjadi ukuran dalam keberhasilan

pembangunan. Pemerintah menyelenggaraan program Jaminan Kesehatan

Nasional (JKN) yang dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan

Sosial (BPJS) menurut Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem

Jaminan Sosial Nasional (SJSN) (Undang-Undang Republik Indonesia No.

40 tahun 2004).
11

3. Badan Penyelenggaraan Jaminan Kesehatan (BPJS)

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan adalah

badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan

kesehatan. BPJS Kesehatan merupakan program kesehatan baru dari

pemerintah yang resmi diberlakukan 1 Januari 2014. BPJS bertujuan untuk

mewujudkan terselenggaranya pemberian jaminan kesehatan agar

terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak bagi setiap peserta

dan/atau anggota keluarganya. BPJS merupakan badan hukum nirlaba

yang dibagi menjadi dua, yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS

Ketenagakerjaan. BPJS berwenang menagih iuran, menempatkan dana,

melakukan pengawasan serta pemeriksaan atas kepatuhan peserta terhadap

keanggotaan BPJS (Undang-Undang Republik Indonesia No. 24 tahun

2011).

BPJS Kesehatan diberikan kepada tiap masyarakat yang sudah

membayarkan iuran ataupun yang sudah dibayarkan oleh pemerintah.

Rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan yang didapatkan masyarakat

miskin disebabkan karena tidak adanya kemampuan secara ekonomi untuk

membayar biaya pelayanan kesehatan yang semakin mahal. Peningkatan

biaya kesehatan diakibatkan oleh berbagai faktor seperti perubahan pola

penyakit, perkembangan teknologi kesehatan dan kedokteran, pola

pembayaran kesehatan berbasis pembayaran out of pocket dan kondisi

geografis yang sulit untuk menjangkau sarana kesehatan (Rismawati,

2015: 1668-1682).
12

Derajat kesehatan yang rendah berpengaruh terhadap rendahnya

produktivitas pekerja yang pada akhirnya menjadi beban masyarakat dan

pemerintah. Pemerintah telah membentuk beberapa program jaminan

kesehatan bagi masyarakat khususnya masyarakat miskin, namun sebagian

besar masyarakat belum memperoleh perlindungan yang memadai dengan

program sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya sasaran

yang lebih luas lagi dan manfaat yang lebih besar bagi setiap peserta.

Pembentukan BPJS diharapkan menjadi penyempurna dari program-

program jaminan sosial sebelumnya (Rismawati, 2015: 1668-1682).

a. Peserta Jaminan Kesehatan

Aspek kepesertaan wajib bagi setiap warga negara Indonesia

dan warga asing yang sudah berdiam di Indonesia selama minimal

enam bulan. Hal ini sesuai Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

disebutkan bahwa setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya

sebagai anggota BPJS sedangkan orang atau keluarga yang tidak

bekerja pada perusahaan wajib mendaftarkan diri dan anggota

keluarganya pada BPJS dan membayar iuran sesuai dengan tingkatan

manfaat yang diinginkan (Rismawati, 2015: 1668-1682). Peserta BPJS

meliputi:

1) Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI): fakir

miskin dan orang tidak mampu dengan penetapan peserta

sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.


13

2) Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (Non PBI),

yang terdiri dari:

a) Pekerja penerima upah dan anggota keluarganya yaitu

Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota TNI, anggota polisi,

pejabat negara, pegawai pemerintah non pegawai negeri,

pegawai swasta dan semua pekerja yang menerima upah

selain yang telah disebutkan.

b) Pekerja bukan penerima upah dan anggota keluarganya:

pekerja di luar hubungan kerja atau pekerja mandiri dan

pekerja yang tidak termasuk kedalamnya yang bukan

penerima upah.

c) Bukan pekerja dan anggota keluarganya: investor, pemberi

kerja dan penerima pensiun.

d) Veteran.

e) Perintis kemerdekaan.

f) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari veteran atau perintis

kemerdekaan.

g) Bukan pekerja yang tidak termasuk huruf a sampai dengan

f yang mampu membayar iuran (BPJS Kesehatan, 2014: 8-

9).
14

b. Anggota keluarga yang ditanggung BPJS

1) Pekerja penerima upah

a) Keluarga inti meliputi istri/suami dan anak yang sah (anak

kandung, anak tiri dan/atau anak angkat), sebanyak-

banyaknya lima orang.

b) Anak kandung, anak tiri dari perkawinan yang sah, dan

anak angkat yang sah, dengan kriteria: belum menikah dan

belum mempunyai penghasilan sendiri, belum berusia 21

tahun atau belum berusia 25 tahun yang masih melanjutkan

pendidikan formal.

2) Pekerja bukan penerima upah dan bukan pekerja: peserta dapat

mengikutsertakan anggota keluarga yang diinginkan (tidak

terbatas).

3) Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan,

yang meliputi anak ke empat dan seterusnya, ayah, ibu dan

mertua.

4) Peserta dapat mengikutsertakan anggota keluarga tambahan,

yang meliputi kerabat lain seperti saudara kandung/ipar, asisten

rumah tangga, dan lain-lain (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).

c. Iuran

1) Bagi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) iuran jaminan

kesehatan dibayar oleh pemerintah.


15

2) Iuran bagi peserta pekerja penerima upah yang bekerja pada

lembaga pemerintahan terdiri dari Pegawai Negeri Sipil,

anggota TNI, anggota Polri, pejabat negara, dan pegawai

pemerintah non pegawai negeri sebesar 5% dari gaji atau upah

per bulan dengan ketentuan 3% dibayar oleh pemberi kerja dan

2% dibayar oleh peserta.

3) Iuran bagi peserta pekerja penerima upah yang bekerja di

BUMN, BUMD dan Swasta sebesar 4,5% dari gaji atau upah

per bulan dengan ketentuan: 4% dibayar oleh pemberi kerja

dan 0,5% dibayar oleh peserta.

4) Iuran untuk keluarga tambahan pekerja penerima upah yang

terdiri dari anak ke empat dan seterusnya, ayah, ibu dan

mertua, besaran iuran sebesar sebesar 1% dari dari gaji atau

upah per orang per bulan, dibayar oleh pekerja penerima upah.

5) Iuran bagi kerabat lain dari pekerja penerima upah (seperti

saudara kandung/ipar, asisten rumah tangga, dan lain-lain),

peserta pekerja bukan penerima upah serta iuran peserta bukan

pekerja adalah sebesar:

a) Sebesar Rp.25.500,- per orang per bulan dengan manfaat

pelayanan di ruang perawatan Kelas III.

b) Sebesar Rp.42.500,- per orang per bulan dengan manfaat

pelayanan di ruang perawatan Kelas II.


16

c) Sebesar Rp.59.500,- per orang per bulan dengan manfaat

pelayanan di ruang perawatan Kelas I (BPJS Kesehatan,

2014: 1-27).

4. Fasilitas Kesehatan

Fasilitas kesehatan adalah fasilitas kesehatan yang digunakan

dalam menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan perorangan, baik

promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif. Fasilitas kesehatan

dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.

Fasilitas kesehatan yang dapat memberikan pelayanan kesehatan tingkat

pertama adalah: rawat jalan tingkat pertama, puskesmas atau yang setara,

praktik dokter, praktik dokter gigi, klinik pratama atau yang setara

termasuk fasilitas kesehatan tingkat pertama milik TNI/POLRI, Rumah

sakit Kelas D Pratama atau yang setara, rawat inap tingkat pertama dengan

fasilitas rawat inap (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).

a. Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama

1) Pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) non perawatan dan

puskesmas perawatan (puskesmas dengan tempat tidur).

2) Fasilitas Kesehatan milik Tentara Nasional Indonesia (TNI).

3) Fasilitas Kesehatan milik Polisi Republik Indonesia (POLRI),

terdiri dari poliklinik induk POLRI, poliklinik umum POLRI,

poliklinik lain milik POLRI dan tempat perawatan sementara

(TPS) POLRI.
17

4) Praktek dokter umum/ klinik umum, terdiri dari praktek dokter

umum perseorangan, praktek dokter umum bersama, klinik

dokter umum/ klinik 24 jam, praktek dokter gigi, klinik

pratama, RS Pratama (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).

b. Fasilitas Kesehatan Tingkat Lanjutan

1) Rumah Sakit, terdiri dari RS Umum (RSU), RS Umum

Pemerintah Pusat (RSUP), RS Umum Pemerintah Daerah

(RSUD), RS Umum TNI, RS Umum Bhayangkara (POLRI),

RS Umum Swasta, RS Khusus, RS Khusus Jantung

(Kardiovaskular), RS Khusus Kanker (Onkologi), RS Khusus

Paru, RS Khusus Mata, RS Khusus Bersalin, RS Khusus Kusta,

RS Khusus Jiwa, RS Khusus lain yang telah terakreditasi, RS

Bergerak dan RS Lapangan.

2) Balai Kesehatan terdiri dari: balai kesehatan paru masyarakat,

balai kesehatan mata masyarakat, balai kesehatan ibu dan anak

dan balai kesehatan jiwa.

3) Fasilitas kesehatan penunjang yang tidak bekerjasama secara

langsung dengan BPJS Kesehatan namun merupakan jejaring

dari fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun fasilitas

kesehatan tingkat lanjutan yang bekerjasama dengan BPJS

Kesehatan, meliputi: laboratorium kesehatan, apotek, unit

transfusi darah dan optik (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).


18

c. Fasilitas Ruang Rawat Inap

1) Ruang perawatan kelas III bagi Peserta PBI jaminan kesehatan

dan peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan

pekerja dengan iuran untuk manfaat pelayanan di ruang

perawatan kelas III.

2) Ruang Perawatan kelas II bagi:

a) Pegawai Negeri Sipil dan penerima pensiun Pegawai

Negeri Sipil golongan ruang I dan golongan ruang II

beserta anggota keluarganya.

b) Anggota TNI dan penerima pensiun anggota TNI yang

setara Pegawai Negeri Sipil golongan ruang I dan golongan

ruang II beserta anggota keluarganya.

c) Anggota Polri dan penerima pensiun anggota Polri yang

setara Pegawai Negeri Sipil golongan ruang I dan golongan

ruang II beserta anggota keluarganya.

d) Peserta pekerja penerima upah dan pegawai pemerintah non

pegawai negeri dengan gaji atau upah sampai dengan 1,5

kali penghasilan tidak kena pajak dengan status kawin

dengan 1 anak, beserta anggota keluarganya.

e) Peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan

pekerja dengan iuran untuk manfaat pelayanan di ruang

perawatan kelas II.


19

3) Ruang perawatan kelas I bagi:

a) Pejabat Negara dan anggota keluarganya.

b) Pegawai Negeri Sipil dan penerima pensiun Pegawai

Negeri Sipil golongan ruang III dan golongan ruang IV

beserta anggota keluarganya.

c) Anggota TNI dan penerima pensiun anggota TNI yang

setara Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III dan

golongan ruang IV beserta anggota keluarganya.

d) Anggota Polri dan penerima pensiun anggota Polri yang

setara Pegawai Negeri Sipil golongan ruang III dan

golongan ruang IV beserta anggota keluarganya.

e) Veteran dan perintis kemerdekaan beserta anggota

keluarganya.

f) Janda, duda, atau anak yatim piatu dari veteran atau perintis

kemerdekaan.

g) Peserta Pekerja Penerima Upah bulanan dan pegawai

pemerintah non pegawai negeri dengan gaji atau upah

diatas 1,5 sampai dengan 2 kali penghasilan tidak kena

pajak dengan status kawin dengan 1 anak, beserta anggota

keluarganya.

h) Peserta pekerja bukan penerima upah dan peserta bukan

pekerja dengan iuran manfaat pelayanan di ruang

perawatan kelas I (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).


20

Peserta BPJS Kesehatan mendapatkan pelayanan gigi di fasilitas

kesehatan tingkat pertama maupun di fasilitas kesehatan tingkat lanjutan

yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. Pelayanan kedokteran gigi

primer merupakan pelayanan kesehatan gigi dasar yang bertujuan untuk

meningkatkan status kesehatan gigi dan mulut setiap individu dalam

keluarganya. Pelayanan gigi primer mencakup administrasi pelayanan,

pemeriksaan, pengobatan, konsultasi, premedikasi, kegawatdaruratan oro-

dental, pencabutan gigi sulung, pencabutan gigi permanen tanpa penyulit,

obat pasca ekstraksi, tumpatan komposit/ GIC dan scaling gigi (1x dalam

setahun) (BPJS Kesehatan, 2014: 1-27).

Kepuasan pelanggan adalah indikator utama dari standar suatu

fasilitas kesehatan dan merupakan suatu ukuran mutu pelayanan.

Kepuasan pelanggan yang rendah akan berdampak terhadap jumlah

kunjungan yang akan mempengaruhi profitabilitas fasilitas kesehatan

(Kotler dan Amstrong, 2006: 177). Pengukuran kepuasan pelanggan

merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih

baik, efisien dan efektif. Tingkat kepuasan pelanggan terhadap pelayanan

merupakan faktor penting yang mengembangkan suatu sistem penyediaan

pelayanan. Sistem tersebut diharapkan tanggap terhadap keluhan

pelanggan, meminimalkan biaya dan waktu serta memaksimalkan dampak

pelayanan terhadap pasien (Pohan, 2006: 13-20).


21

5. Pendidikan

Undang-Undang Dasar 1945 dengan tegas telah mengatur

pentingnya pendidikan bagi warga negara Republik Indonesia, yaitu pada

Pasal 31 yang berbunyi: “Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan

pengajaran. Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem

pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang”. Pendidikan

merupakan sembarang proses yang dipakai individu untuk memperoleh

pengetahuan atau wawasan serta proses mengembangkan sikap-sikap

ataupun keterampilan-keterampilan (Tarigan, 2006: 21-27). Pendidikan

juga dapat didefinisikan sebagai proses sosial yang dipengaruhi oleh suatu

lingkungan yang terpimpin (misalnya sekolah). Tujuan pendidikan itu

menciptakan integritas atau kesempurnaan pribadi. Integritas itu

menyangkut jasmaniah, intelektual, emosional, dan etis (Djumramsjah,

2004: 22-23).

Tingkat pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku

seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

melalui upaya pengajaran dan pelatihan yang formal. Tingkat pendidikan

merupakan suatu proses jangka panjang yang menggunakan prosedur

sistematis dan terorganisir (Sakinah dkk., 2014: 243-260). Tingkat

pendidikan atau sering disebut dengan jenjang pendidikan adalah tahapan

pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang dikembangkan.


22

Jenjang pendidikan formal terdiri dari pendidikan dasar, pendidikan

menengah dan pendidikan tinggi (Nawawi dan Martini, 1994: 21-22).

a. Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar adalah pendidikan umum yang lamanya

sembilan tahun. Pendidikan dasar diselenggarakan selama enam tahun

di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama

atau satuan pendidikan yang sederajat. Pendidikan dasar berbentuk

Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain

yang sederajat serta Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah

Tsanawiyah (MTs) atau bentuk lain yang sederajat.

b. Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah adalah pendidikan yang diselenggarakan

bagi lulusan pendidikan dasar yang mengutamakan perluasan dan

peningkatan keterampilan siswa. Pendidikan menengah berbentuk

Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah

Menengah Kejuruan (SMK) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK)

atau bentuk lain yang sederajat.

c. Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah

pendidikan menengah. Pendidikan tinggi mencakup program

pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis dan doktor yang

diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi di sini dapat

berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut atau universitas,


23

pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka (Nawawi

dan Martini, 1994: 21-22).

Pendidikan dan kesehatan merupakan dua hal yang sangat

berkaitan erat. Pendidikan merupakan sarana yang digunakan oleh

seorang individu agar nantinya mendapat pemahaman terkait

kesadaran kesehatan. Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh

terhadap penggunaan pelayanan kesehatan. Hasil penelitian

menunjukkan pengetahuan masyarakat masih minim terhadap program

BPJS sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman peserta mengenai

BPJS (Sriyono, 2015: 79-91).


24

B. Kerangka Teori

Kerangka teori pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 2.1 sebagai

berikut.

Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan

Faktor konsumen: Faktor organisasi: Faktor pemberi


layanan:
1. Tingkat Pendidikan 1. Ketersediaan sumber
2. Mata pencaharian daya 1. Perilaku petugas
3. Pengetahuan 2. Keterjangkauan kesehatan
4. Persepsi pasien lokasi layanan
3. Akses sosial

1. SD
2. SMP
Tingkat Pendidikan
3. SMA
4. Perguruan Tinggi

Jaminan Kesehatan

1. BPJS ketenagakerjaan
2. BPJS kesehatan Peserta BPJS Non Peserta BPJS

1. Kelas I
2. Kelas II Pelayanan Kesehatan
3. Kelas III

Keterangan:
: Variabel yang di teliti
: Memberikan pengaruh

Gambar 2.1 Kerangka teori


Sumber: Basuni dkk. (2014); Pohan (2006)
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian dapat dilihat pada Gambar 3.1 sebagai

berikut.

Variabel Bebas: Variabel Terikat:


1. Peserta BPJS dan bukan Penggunaan pelayanan kesehatan
peserta BPJS gigi dan mulut

2. Tingkat pendidikan
masyarakat Kabupaten
Banyumas

Gambar 3.1 Kerangka konsep

B. Hipotesis

Terdapat perbedaan penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut

pada peserta BPJS dan bukan peserta BPJS berdasakan tingkat pendidikan

masyarakat di Kabupaten Banyumas.

C. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian

kuantitatif dengan metode observasional analitik.

D. Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional proses

pengumpulan datanya dilakukan dalam sekali waktu atau satu periode tertentu

(Swarjana, 2012: 53).

25
26

E. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di masyarakat Kabupaten Banyumas Jawa

Tengah.

2. Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan pada bulan Agustus sampai Desember 2016,

dengan rentang waktu pukul 08.00-12.00 WIB.

F. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah peserta BPJS, bukan

peserta BPJS dan tingkat pendidikan di Kabupaten Banyumas.

2. Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah penggunaan pelayanan

kesehatan gigi dan mulut peserta BPJS dan bukan peserta BPJS di

Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

26
27

G. Definisi Operasional

Definisi operasional yang digunakan pada penelitian ini tercantum

pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Definisi Operasional


Variabel Definisi Cara mengukur Skala data
Penggunaan Pemanfaatan pelayanan kesehatan Kuesioner Ordinal
pelayanan adalah pengunaan fasilitas pelayanan dinyatakan
kesehatan yang disediakan baik dalam bentuk dengan:
rawat jalan, rawat inap, kunjungan Sering= skor
rumah oleh petugas kesehatan >80
ataupun bentuk kegiatan lain dari Sedang= skor
pemanfaatan pelayanan tersebut yang 61-79
didasarkan pada ketersediaan dan Jarang= skor
kesinambungan pelayanan, 41-60
penerimaan masyarakat dan Tidak pernah
kewajaran, mudah dicapai oleh <40
masyarakat, terjangkau serta bermutu
(Azwar, 1999:123-124).
Badan BPJS Kesehatan adalah badan hukum Wawancara dan Nominal
Penyelenggara yang dibentuk untuk kuesioner
Jaminan Sosial menyelenggarakan program jaminan dinyatakan
(BPJS) kesehatan. BPJS bertujuan untuk dengan:
Kesehatan mewujudkan terselenggaranya 1= Peserta BPJS
pemberian jaminan agar 2= Bukan
terpenuhinya kebutuhan dasar hidup peserta
yang layak bagi setiap peserta BPJS
dan/atau anggota keluarganya
(Undang-undang Republik Indonesia
No. 24 tahun 2011).
Pendidikan Pendidikan merupakan sembarang Wawancara dan Ordinal
proses yang dipakai individu untuk kuesioner
memperoleh pengetahuan atau dinyatakan
wawasan, atau mengembangkan dengan:
sikap-sikap ataupun keterampilan- 1= SD
keterampilan (Tarigan, 2006). 2= SLTP
Pendidikan juga dapat didefinisikan 3= SLTA
sebagai proses sosial di mana 4= Perguruan
seseorang dipengaruhi oleh suatu Tinggi
lingkungan yang terpimpin (misalnya
sekolah) sehingga ia dapat mencapai
kecakapan sosial dan
mengembangkan pribadinya
(Djumramsjah, 2004: 22-23).

27
28

H. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi merupakan keseluruan objek penelitian yang diteliti

(Danim, 2003: 22). Populasi responden yang digunakan sebagai sampel

pada penelitian ini berjumlah 1.554.527 jiwa.

a. Peserta BPJS di Kabupaten Banyumas sejumlah 912.018 orang.

b. Bukan peserta BPJS di Kabupaten Banyumas sejumlah 642.509

orang.

2. Sampel

Sampel adalah sub unit populasi survei atau populasi penelitian

yang dipandang oleh peneliti sebagai populasi target (Danim, 2003: 22).

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah teknik purposive

sampling. Teknik purposive sampling merupakan teknik penempatan

sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan

pertimbangan yang dikehendaki peneliti sehingga sampel dapat memenuhi

karakteristik populasi (Sugiono, 2012: 118-127). Sampel yang dipilih

berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sebagai berikut.

a. Kriteria inklusi

1) Kooperatif, bersedia menjadi subjek penelitian setelah

menandatangani informed consent.

b. Kriteria eksklusi

1) Tidak kooperatif, tidak bersedia menandatangani informed

consent.

28
29

2) Pengguna asuransi kesehehatan swasta.

Populasi pada penelitian ini adalah masyarakat Kabupaten

Banyumas yang menjadi peserta BPJS dengan pengambilan sampel

ditentukan menggunakan rumus slovin karena jumlah populasi telah

diketahui.

n= N
(1 + N. e2)

Keterangan:
n: Jumlah sampel
N: Populasi
e: Error tolerance (taraf signifikansi, dalam hal ini digunakan 0.1).

Sampel yang dapat ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut.

n= 912018
[1 + 912018 (0.1)2]

n= 912018
1 + 9120,18

n= 912018
9121,18

n= 99,99  100

Perhitungan tersebut menunjukkan dibutuhkannya sampel minimal

100 responden. Perhitungan drop out dilakukan dengan penambahan

sebesar ±10% dari hasil sampel untuk mengantisipasi peserta drop out

(10% x 100) = 10 responden, sehingga sampel yang akan diteliti sebanyak

100 + (10) = 110 responden.

29
30

Perhitungan masyarakat Kabupaten Banyumas yang bukan peserta

BPJS dengan pengambilan sampel ditentukan menggunakan rumus slovin

karena jumlah populasi telah diketahui.

n= N
(1 + N. e2)

Keterangan:
n: Jumlah sampel
N: Populasi
e: Error tolerance (taraf signifikansi, dalam hal ini digunakan 0.1).

Sampel dapat ditentukan dengan perhitungan sebagai berikut.

n= 642509
[1 + 642509 (0.1)2]

n= 642509
1 + 6425,09

n= 642509
6426,09

n= 99,98  100

Perhitungan tersebut menunjukkan dibutuhkannya sampel minimal

100 responden. Perhitungan drop out dilakukan dengan penambahan

sebesar ±10% dari hasil sampel untuk mengantisipasi peserta drop out

(10% x 100) = 10 responden, sehingga sampel yang akan diteliti sebanyak

100 + (10) = 110 responden.

I. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh adalah sumber data primer yang

didapatkan langsung melalui prosedur penelitian dengan pengamatan langsung

dan wawancara kepada masyarakat peserta BPJS dan bukan peserta BPJS di

30
31

Kabupaten Banyumas. Sumber data sekunder didapatkan dari data peserta

BPJS Jawa Tengah dan data kependudukan Kabupaten Banyumas.

J. Cara Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Pengisian informed consent

Penelitian dapat dimulai setelah ethichal clearence sudah

didapatkan. Pengumpulan data diawali dengan meminta persetujuan

responden untuk menjadi subjek penelitian dengan mengisi informed

consent.

2. Wawancara dan pengisian kuesioner

Wawancara dilakukan kepada subjek tentang kepesertaan jaminan

kesehatan dan subjek penelitian diberi kuesioner tentang pola perilaku

pencarian pelayanan kesehatan. Skala pengukuran yang akan dipakai

dalam penelitian ini adalah skala Likert yaitu skala yang digunakan untuk

mengukur perilaku masyarakat dalam pencarian pelayanan kesehatan gigi

dan mulut. Pengukurannya dengan menggunakan skala Likert dimensi

dijabarkan menjadi variabel kemudian variabel dijabarkan lagi menjadi

indikator-indikator yang dapat diukur. Indikator-indikator yang terukur ini

dapat dijadikan titik tolak untuk membuat item instrument yang berupa

pertanyaan atau pernyataan yang perlu dijawab oleh responden. Bentuk

kuesioner ini adalah semi tertutup yaitu sebagian berupa pertanyaan

tertutup yang jawabannya harus dipilih responden berdasarkan pilihan

31
32

yang disediakan, skoring datanya berupa skala ordinal yang meliputi skala

1 sampai 4 yaitu:

a. Sering =4

b. Sedang =3

c. Jarang =2

d. Tidak pernah =1

3. Uji validitas dan realibilitas kuisoner

Pengujian kuesioner yang dibuat oleh peneliti dengan

menggunakan uji validitas dan realibilitas pada populasi di Kabupaten

Purbalingga guna mengetahui kelayakan kuesioner sebelum digunakan

pengujian kepada responden asli. Uji validitas adalah suatu ukuran yang

menunjukan tingkat keandalan suatu alat ukur, sebuah instrumen

dikatakan valid apabila dapat mengungkapkan data dari variabel yang

diteliti secara tepat. Uji realibilitas dilakukan secara eksternal dengan test-

retest yaitu dengan cara mencobakan instrumen yang sama dua kali pada

responden yang sama dalam waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari

koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya.

Koefisien positif dan signifikan maka instrumen tersebut dinyatakan

relible.

32
33

K. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut.

1. Informed concent

2. Kuesioner

3. Alat tulis

4. Kamera

L. Alur Penelitian

Alur penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada Gambar 3.2 sebagai

berikut.

Ethical clearence

Penentuan subjek penelitian

Peserta BPJS Bukan peserta


BPJS

Penjelasan prosedur penelitian

Pengisian informed consent

Pengumpulan data (wawancara dan pengisian kuesioner)

Pengolahan dan analisis data

Penyusunan hasil dan pembahasan

Simpulan

Gambar 3.2 Alur penelitian

33
34

M. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian dilihat dari hasil

pengamatan penggunaan pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada peserta

BPJS dan bukan peserta BPJS skala data yang digunakan adalah ordinal,

sehingga termasuk dalam statistik non-parametrik. Analisis data dilakukan

dengan menggunakan bantuan statistical package for sosial science (SPSS)

versi 18 yang ada pada program komputer. Analisis yang digunakan adalah

analisis Mann-Whitney U test.

N. Jadwal Penelitian

Jadwal penelitian dapat dijelaskan pada Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Jadwal penelitian


Bulan ke-
No Uraian Kegiatan
1 2 3 4 5

1 Penyusunan proposal

2 Pengumpulan data

3 Analisis data

4 Penyusunan analisa data

34
DAFTAR PUSTAKA

Andayasari, L., 2014, Analisis Hubungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Gigi dan
Kegiatan Penambalan dan Pencabutan Gigi di Puskesmas, Jurnal Biotek
Medisiana Indonesia, 3(2): 85-100.

Anitasari, S., Rahayu, N., 2005, Hubungan Frekuensi Menyikat Gigi dengan
Tingkat Kebersihan Gigi dan Mulut Siswa Sekolah Dasar Negeri di
Kecamatan Palaran Kotamadya Samarinda Provinsi Kalimantan Timur,
Dent. J, 38(2): h. 88.

Assaf, A., 2009, Mutu Pelayanan Kesehatan, EGC, Jakarta, h. 16.

Azlika, M.A., Adisti, A.R., Febi, K.K., 2015, Hubungan Antara Mutu Pelayanan
Perawat dan Tingkat Pendidikan dengan Kepuasan Pasien Peserta Badan
Penyelenggara Jaminan Kesehatan Sosial di Ruang Inap Rumah Sakit Islam
(RSI) Sitti Maryam Kota Manado, PHARMACON Jurnal Ilmiah Farmasi –
UNSRAT, 4(4): 241-251.

Azwar, Saifuddin, 1999, Reliabilitas dan Validitas: Seri Pengukuran Psikologi,


Sigma Alpha, Yogyakarta, h. 123-124.

Basuni, Cholil, Putri, D.K.T., 2014, Gambaran Indeks Kebersihan Mulut


Berdasarkan Tingkat Pendidikan Masyarakat di Desa Guntung Ujung
Kabupaten Banjar, Dentino Jurnal, 2(1): 18-23.

BPJS Kesehatan, 2014, Panduan Layanan bagi Peserta BPJS Kesehatan, Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial, h. 1-27.

BPJS Kesehatan, 2014, Panduan Praktis Pelayanan Gigi dan Prothesa Gigi bagi
Peserta JKN, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, h. 8-9.

Danim, S., 2003, Riset Keperawatan: Sejarah dan Metodologi, EGC, Jakarta, h.
22.

Djumramsjah, H.M., 2004, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bayumedia Publ


Daishing, Malang, h. 22-23.

35
36

Kotler, Amstrong, 2008, Manajemen Pemasaran, PT. Indeks, Jakarta, h. 177.

Kurniawan, A., Intiasari, A.D., 2012, Kebutuhan Kesehatan Masyarakat di


Wilayah Pedesaan, Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional, 7(1): 3-7.

Maabuat, C.L.L., Maramis, F.R.R., Sondakh, R.C., 2013, Hubungan Antara


Pengetahuan dan Tingkat Pendidikan dengan Kepuasan Pasien Jaminan
Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Wawonasa Kecamatan Singkil
Manado Tahun 2013, Skripsi, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Sam Ratulangi, Manado, h. 1-6.

Mawuntu, M.M., Pangemanan, D.H.C, Mintjelungan, C., 2015, Gambaran Status


Kebersihan Mulut Siswa SD Katolik ST. Agustinus Kawangkoan, Jurnal e-
GiGi (eG), 3(2): 252-256.

Nawawi, H., Martini, M., 1994, Kebijakan Pendidikan di Indonesia Ditinjau dari
Sudut Hukum, Gajahmada University Press, Yogyakarta, h. 21-22.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 16, 2016, Perubahan


Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan
Kesehatan, Jakarta.

Pinto, R.D.S., 2016, Use of Public Oral Health Services by the Adult Population:
A Multilevel Analysis, PLOS ONE DOI Journal, 10(1371): 1-14.

Pohan, I.S., 2006, Jaminan Mutu Layanan Kesehatan, Buku Kedokteran, Jakarta,
h. 13-20.

Rismawati, 2015, Pelayanan BPJS Kesehatan Masyarakat di Puskesmas Karang


Asam Kecamatan Sungai Kunjang Kota Samarinda, eJournal Ilmu
Administrasi Negara, 3(5): 1668-1682.

Rumengan, D.S.S., Umboh, J.M.L., Kandou, G.D., 2015, Faktor-Faktor yang


Berhubungan dengan Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan pada Peserta BPJS,
JIKMU, 5(1): 88-100.
37

Sakinah, U., Wijasa, I.G.K., Wiharto, M., 2014, Faktor-Faktor yang Berhubungan
dengan Kesadaran Masyarakat Kelurahan Poris Gaga Tangerang dalam
Berasuransi Kesehatan, Forum Ilmiah, 11(2): 243-260.

Saryono, 2011, Metodologi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendika, Yogyakarta, h.


73-74.

Sriyono, 2015, Pengaruh Tingkat Pendidikan dan Pemahaman Masyarakat tentang


Ikan Berformalin terhadap Kesehatan Masyarakat, Faktor Excta, 8(1): 79-
91.

Sugiono, 2012, Metode Penelitian Administrasi, Penerbit Alfabeta, Bandung, h.


118-127.

Swarjana, I.K., 2012, Metodologi Penelitian Kesehatan, CV Andi Offset,


Yogyakarta, h. 53.

Tarigan, R., 2006, Pengaruh Tingkat Pendidikan terhadap Tingkat Pendapatan


Perbandingan antara Empat Hasil Penelitian, Jurnal Wawasan, 11(3): 21-27.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem


Jaminan Sosial Nasional.

Vaidyanathan, S., Susmitha, T.S., Ganesh, A., Balaji, S.K., Kandaswamy, D.,
2015, Patient Satisfaction with Dental Services at A Rural Health Care
Center: A Questionnaire Survey, Journal of International Oral Health,
7(10): 62-64.

Winarsih, Ratminto, Septi, A., 2005, Manajemen Pelayanan, Pustaka Belajar,


Yogyakarta, h. 41.
LAMPIRAN

Lampiran 1. Biaya Penelitian

Rencana biaya penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini

dijelaskan pada Tabel 1. sebagai berikut.

Tabel 1. Anggaran Biaya Penelitian


No Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1 Peralatan penunjang 510.000
2 Bahan habis pakai 5.824.000
3 Perjalanan 3.600.000
4 Biaya lain-lain 71.000
Jumlah 10.005.000

Lampiran 2. Justifikasi Anggaran Penelitian

Tabel 2. Peralatan Penunjang


Justifikasi Harga
Keterangan
No Material Pemakaian Kuantitas Satuan
(Rp)
(Rp)
Lembar etik
1 Ethical Clearance 1 150.000 150.000
penelitian
Alat tulis
2 Bolpoin 10 buah 2.000 20.000
penelitian
Alas untuk
3 Papan jalan kayu 5 buah 5.000 25.000
menulis
Alat untuk
4 Stapler menyatukan 1 buah 15.000 15.000
kertas
Pengarsipan
5 Flashdisk 1 buah 100.000 100.000
data
Alat perekam
6 Tape recorder wawancara 1 buah 200.000 200.000
penelitian
SUB TOTAL (Rp) 510.000

38
39

Tabel 3. Bahan Habis Pakai


Justifikasi Harga
Keterangan
No Material Pemakaian Kuantitas Satuan
(Rp)
(Rp)
Bingkisan
1 Sembako untuk 220 parsel 25.000 5.500.000
responden
Lembar
Photocopy pengumpulan 4 lembar x
2 300 324.000
kuesioner informasi 270
penelitian
SUB TOTAL (Rp) 5.824.000

Tabel 4. Perjalanan
Justifikasi Harga
Keterangan
No Material Pemakaian Kuantitas Satuan
(Rp)
(Rp)
Transportasi
ke desa di 3 liter x
1 Bensin 8.000 3.600.000
Kabupaten 150 hari
Banymas
SUB TOTAL (Rp) 3.600.000

Tabel 5. Biaya Lain-lain


Justifikasi Harga
Keterangan
No Material Pemakaian Kuantitas Satuan
(Rp)
(Rp)
Proposal
pengajuan
ethical 45 lembar x
1 Print proposal 300 54.000
clearance dan 4
usulan
penelitian
Proposal
pengajuan
ethical
2 Jilid proposal 4 buah 3.000 12.000
clearance dan
usulan
penelitian
Soft copy
3 CD usulan 1 buah 5.000 5.000
penelitian
SUB TOTAL (Rp) 71.000
40

Lampiran 3. Kuesioner Penelitian

SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI SUBJEK PENELITIAN

(INFORMED CONSENT)

Responden yang terhormat, sehubungan dengan penyusunan skripsi yang menjadi


salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana (S1) pada Fakultas
Kedokteran Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Jenderal Soedirman, maka kami
mohon bantuan Bapak/Ibu/sdr untuk memberikan informasi dibawah ini. Semua
keterangan dan jawaban yang diperoleh semata-mata hanya untuk kepentingan
penelitian dan dijamin kerahasiaannya. Oleh sebab itu jawaban Bapak/Ibu/sdr
berikan besar sekali artinya bagi kelancaran penelitian ini.

Isilah pertanyaan berikut ini dengan memberi tanda (X) pada jawaban yang sesuai
dengan pendapat Bapak/Ibu/sdr, dengan alternative jawaban yang tersedia. Atas
bantuan Bapak/Ibu/sdr peneliti mengucapkan terimakasih.

IDENTITAS RESPONDEN:
Nama :
Umur : tahun
Jenis Kelamin : P/L
Alamat :
Pendidikan terakhir :
Tidak sekolah SD
SLTP SLTA
Diploma Sarjana
Pekerjaan :
Tidak bekerja Wiraswasta
Petani IRT
PNS/TNI/POLRI
41

A. Kepesertaaan BPJS
1. Apakah anda ikut serta sebagai peserta BPJS?
a. Ya
b. Tidak
Apabila anda peserta BPJS, maka isilah pertanyaan no. 2-6 berikut.
2. Apakah anda memiliki kartu BPJS?
a. Ya
b. Tidak
3. Jika memiliki kartu peserta BPJS jenisnya apa?
a. Kesehatan
b. Ketenagakerjaan
4. Berapa jumlah anggota keluarga anda yang sudah menjadi peserta
BPJS?
a. 5 orang
b. 4 orang
c. 3 orang
d. 1-2 orang
e. Lainnya (sebutkan) ...................
5. Dana yang digunakan untuk pembayaran asuransi BPJS berasal dari
mana?
a. Biaya sendiri
b. Perusahaan
c. Orang tua/ keluarga
d. Pemerintah
e. Lainnya (sebutkan) ..............
6. Kartu BPJS yang anda miliki terdaftar pada golongan kelas berapa?
a. Kelas I
b. Kelas II
c. Kelas III
42

B. Penggunaan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut


1. Dimanakah anda mencari pelayanan kesehatan gigi dan mulut?
a. Puskesmas
b. Klinik dokter gigi
c. Rumah sakit
d. Lainnya (sebutkan).....................
2. Mengapa anda memilih pelayanan kesehatan tersebut?
a. Faktor biaya
b. Faktor jarak
c. Faktor kepuasan
d. Kepercayaan
3. Jenis pelayanan apa saja yang sering anda manfaatkan pada saat datang
ke pelayanan kesehatan gigi dan mulut?
a. Pencabutan gigi
b. Penambalan gigi
c. Pembersihan karang gigi
d. Lainnya (sebutkan) .....................
4. Berapa kali dalam setahun anda memeriksakan gigi di pelayanan
kesehatan?
a. 3 bulan sekali
b. 6 bulan sekali
c. 1 tahun sekali
d. Lainnya (sebutkan) ...................
5. Berapa kali anda memperoleh perawatan gigi dan mulut di pelayanan
kesehatan dalam 12 bulan terakhir?
a. Lebih dari 3 kali
b. 2 kali
c. 1 kali
d. Lainnya (sebutkan) ...................