Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan yang bermutu semakin dicari untuk memperoleh jaminan


kepastian terhadap mutu pelayanan kesehatan yang diterimanya. Semakin tinggi
tingkat pemahaman masyarakat terhadap pentingnya kesehatan untuk
mempertahankan kualitas hidup, maka customer akan semakin kritis dalam menerima
produk jasa, termasuk jasa pelayanan kebidanan, oleh karena itu peningkatan mutu
kinerja setiap bidan perlu dilakukan terus menerus.
Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu banyak
upaya yang dapat dilaksanakan. Upaya tersebut jika dilaksanakan secara terarah dan
terencana ,dalam ilmu administrasi kesehatan dikenal dengan nama program menjaga
mutu pelayanan kesehatan (Quality Assurance Program ).
Bidan merupakan tenaga kesehatan yang mempunyai tugas utama memberikan
pelayanan kebidanan dan kesehatan reproduksi kepada individu perempuan, keluarga
dan masyarakat. Dalam memberikan pelayanan tersebut, baik klien maupun bidan
yang bersangkutan perlu mendapat perlindungan hukum.Untuk itu tenaga bidan perlu
dipersiapkan dengan sebaik mungkin untuk dapat menjalankan pekerjaan sesuai
standar yang telah ditetapkan.Oleh karena itu, bagi setiap tenaga bidan harus
memiliki kompetensi minimal yang diperlukan untuk dapat mendukung
penyelenggaraan praktik kebidanan secara aman dan tepat.
Standar Operasional Prosedur ( SOP ) adalah dokumen yang berkaitan dengan
prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
yang bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling efektif dari para pekerja
dengan biaya yang serendah-rendahnya. SOP biasanya terdiri dari manfaat, kapan
dibuat atau direvisi, metode penulisan prosedur, serta dilengkapi oleh bagan
flowchart di bagian akhir.
Setiap perusahaan bagaimanapun bentuk dan apapun jenisnya, membutuhkan

4
sebuah panduan untuk menjalankan tugas dan fungsi setiap elemen atau unit
perusahaan. Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah sistem yang disusun untuk
memudahkan, merapihkan dan menertibkan pekerjaan. Sistem ini berisi urutan proses
melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir.

2. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan SOP?
2. Apa tujuan SOP?
3. Bagaimanakah fungsi SOP?
4. Apa saja prinsip protap?
5. Apa saja jenis dan ruang lingkup SOP?
6. Apakah yang dimaksud dengan SOP Administratif?
7. Bagaimana tahap penyusunan protap?
8. Bagaimana cara membuat alur proses (flow chart)?
9. Bagaimana langkah-langkah menyusun SOP?
10. Apa saja macam-macam format SOP?
11. Bagaimana standar pelayanan dalam SOP?

3. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi SOP
2. Mahasiswa dapat mengetahui tujuan SOP
3. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi SOP
4. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip protap
5. Mahasiswa dapat mengetahui jenis dan ruang lingkup SOP
6. Mahasiswa dapat mengetahui definisi SOP Administratif
7. Mahasiswa dapat mengetahui tahap penyusunan protap
8. Mahasiswa dapat mengetahui cara membuat alur proses (flow chart)
9. Mahasiswa dapat mengetahui langkah-langkah menyusun SOP
10. Mahasiswa dapat mengetahui macam-macam format SOP
11. Mahasiswa dapat mengetahui standar pelayanan dalam SOP

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Standar Operasional Prosedur ( SOP )


Standar Operasional Prosedur ( SOP ) adalah dokumen yang berkaitan dengan
prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
yang bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling efektif dari para pekerja
dengan biaya yang serendah-rendahnya. SOP biasanya terdiri dari manfaat, kapan
dibuat atau direvisi, metode penulisan prosedur, serta dilengkapi oleh bagan
flowchart di bagian akhir.
Setiap perusahaan bagaimanapun bentuk dan apapun jenisnya, membutuhkan
sebuah panduan untuk menjalankan tugas dan fungsi setiap elemen atau unit
perusahaan. Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah sistem yang disusun untuk
memudahkan, merapihkan dan menertibkan pekerjaan. Sistem ini berisi urutan proses
melakukan pekerjaan dari awal sampai akhir.
Berikut beberapa pengertian SOP dari beberapa sumber buku:
 Menurut Moekijat (2008), Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah urutan
langkah-langkah (atau pelaksanaan-pelaksanaan pekerjaan), di mana pekerjaan
tersebut dilakukan, berhubungan dengan apa yang dilakukan, bagaimana
melakukannya, bilamana melakukannya, di mana melakukannya, dan siapa yang
melakukannya.
 Menurut Tjipto Atmoko (2011), Standar Operasional Prosedur (SOP) merupakan
suatu pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai denga
fungsi dan alat penilaian kinerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-
indikator teknis, administratif dan prosedural sesuai tata kerja, prosedur kerja dan
sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.
 SOP atau standar operasional prosedur adalah dokumen yang berisi serangkaian
instruksi tertulis yang dibakukan mengenai berbagai proses penyelenggaraan
administrasi perkantoran yang berisi cara melakukan pekerjaan, waktu
pelaksanaan, tempat penyelenggaraan dan aktor yang berperan dalam kegiatan.

6
2.2 Tujuan dan Fungsi SOP
Tujuan pembuatan SOP adalah untuk menjelaskan perincian atau standar yang
tetap mengenai aktivitas pekerjaan yang berulang-ulang yang diselenggarakan dalam
suatu organisasi. SOP yang baik adalah SOP yang mampu menjadikan arus kerja
yang lebih baik, menjadi panduan untuk karyawan baru, penghematan biaya,
memudahkan pengawasan, serta mengakibatkan koordinasi yang baik antara bagian-
bagian yang berlainan dalam perusahaan.
Tujuan Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah sebagai berikut :
1. Untuk menjaga konsistensi tingkat penampilan kinerja atau kondisi tertentu dan
kemana petugas dan lingkungan dalam melaksanakan sesuatu tugas atau
pekerjaan tertentu.
2. Sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan tertentu bagi sesama pekerja, dan
supervisor.
3. Untuk menghindari kegagalan atau kesalahan (dengan demikian menghindari dan
mengurangi konflik), keraguan, duplikasi serta pemborosan dalam proses
pelaksanaan kegiatan.
4. Merupakan parameter untuk menilai mutu pelayanan.
5. Untuk lebih menjamin penggunaan tenaga dan sumber daya secara efisien dan
efektif.
6. Untuk menjelaskan alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari petugas yang
terkait.
7. Sebagai dokumen yang akan menjelaskan dan menilai pelaksanaan proses kerja
bila terjadi suatu kesalahan atau dugaan mal praktek dan kesalahan administratif
lainnya, sehingga sifatnya melindungi rumah sakit dan petugas.
8. Sebagai dokumen yang digunakan untuk pelatihan.
9. Sebagai dokumen sejarah bila telah di buat revisi SOP yang baru.

2.3 Fungsi Standar Operasional Prosedur

7
1. Memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit kerja.
2. Sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan.
3. Mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah dilacak.
4. Mengarahkan petugas/pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja.
5. Sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin.
Manfaat SOP :
SOP atau yang sering disebut sebagai prosedur tetap (protap) adalah
penetapan tertulis mengenai apa yang harus dilakukan, kapan, dimana dan oleh siapa
dan dibuat untuk menghindari terjadinya variasi dalam proses pelaksanaan kegiatan
oleh pegawai yang akan mengganggu kinerja organisasi (instansi pemerintah) secara
keseluruhan. SOP memiliki manfaat bagi organisasi antara lain (Permenpan
No.PER/21/M-PAN/11/2008):
1. Sebagai standarisasi cara yang dilakukan pegawai dalam menyelesaikan
pekerjaan khusus, mengurangi kesalahan dan kelalaian.
2. SOP membantu staf menjadi lebih mandiri dan tidak tergantung pada intervensi
manajemen, sehingga akan mengurangi keterlibatan pimpinan dalam pelaksanaan
proses sehari-hari.
3. Meningkatkan akuntabilitas dengan mendokumentasikan tanggung jawab khusus
dalam melaksanakan tugas.
4. Menciptakan ukuran standar kinerja yang akan memberikan pegawai. cara
konkret untuk memperbaiki kinerja serta membantu mengevaluasi usaha yang
telah dilakukan.
5. Menciptakan bahan-bahan training yang dapat membantu pegawai baru untuk
cepat melakukan tugasnya.
6. Menunjukkan kinerja bahwa organisasi efisien dan dikelola dengan baik.
7. Menyediakan pedoman bagi setiap pegawai di unit pelayanan dalam
melaksanakan pemberian pelayanan sehari-hari.
8. Menghindari tumpang tindih pelaksanaan tugas pemberian pelayanan.

8
9. Membantu penelusuran terhadap kesalahan-kesalahan prosedural dalam
memberikan pelayanan. Menjamin proses pelayanan tetap berjalan dalam
berbagai situasi.
2.4 Prinsip-prinsip Protap
Dalam PERMENPAN PER/21/M-PAN/11/2008 disebutkan bahwa
penyusunan SOP harus memenuhi prinsip-prinsip antara lain: kemudahan dan
kejelasan, efisiensi dan efektivitas, keselarasan, keterukuran, dinamis, berorientasi
pada pengguna, kepatuhan hukum, dan kepastian hukum.
1. Konsisten. SOP harus dilaksanakan secara konsisten dari waktu ke waktu, oleh
siapapun, dan dalam kondisi apapun oleh seluruh jajaran organisasi pemerintah.
2. Komitmen. SOP harus dilaksanakan dengan komitmen penuh dari seluruh jajaran
organisasi, dari level yang paling rendah dan tertinggi.
3. Perbaikan berkelanjutan. Pelaksanaan SOP harus terbuka terhadap
penyempurnaan-penyempurnaan untuk memperoleh prosedur yang benar-benar
efisien dan efektif.
4. Mengikat. SOP harus mengikat pelaksana dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan prosedur standar yang telah ditetapkan.
5. Seluruh unsur memiliki peran penting. Seluruh pegawai peran-peran tertentu
dalam setiap prosedur yang distandarkan. Jika pegawai tertentu tidak
melaksanakan perannya dengan baik, maka akan mengganggu keseluruh proses,
yang akhirnya juga berdampak pada proses penyelenggaraan pemerintah.
6. Terdokumentasi dengan baik. Seluruh prosedur yang telah distandarkan harus
didokumentasikan dengan baik, sehingga dapat selalu dijadikan referensi bagi
setiap mereka yang memerlukan.

2.5 Jenis dan Ruang Lingkup


2.5.1 Jenis Standar Operasional Prosedur (SOP)

9
1. SOP Profesi ( keilmuan/teknis) : merupakan SOP keilmuan/teknis
untuk profesi Medis, Keperawatan dan profesi lainnya. SOP
memuat proses kerja untuk diagnostic, terapi dan tindakan.
2. SOP Pelayanan ( Manajerial) : merupakan SOP Pelayanan Medik,
Keperawatan, Penunjang medic yang bersifat manajerial/
administrasi atau berhubungan dengan pelayanan pasien.
3. SOP administrasi : mengatur tatat cara kegiatan dalam orginasis
termasuk hubungan antar unit kerja dan kegiatan kegiatan non
medis.
2.5.2 Ruang Lingkup Standar Operasional Prosedur (SOP)
1. SOP Profesi mencakup :
a. Pelayanan medis meliputi : Rawat inap, rawat jalan, pelayanan
gawat darurat
Contoh :
- SOP penanganan pasien untuk penyakit preeklampsi ( standar
pelayanan medis preeklampsi)
- SOP prosedur perinatal risiko tinggi
b. Pelayanan Keperawatan
Contoh :
- SOP asuhan merawat ibu nifas
c. Pelayanan profesi lain
Laboratorium, USG, farmasi dan rehabilitasi medis
Contoh :
- SOP pemeriksaan laboratorium.
2. SOP pelayanan (manajerial) mencakup pelayanan-pelayanan
medis secara umum :
Contoh :
Prosedur bidan jaga ruangan, prosedur konsultasi, prosedur
rujukan, prosedur iinformed consent.

10
3. SOP administrasi umumnya mencakup kegiatan di unit-unit
nonmedis
- Prosedur pendaftaran pasien
- Prosedur penyimpanan rekam medik
- Prosedur pemeliharaan dan perbaikan alat-alat kesehatan

2.6 SOP Administratif


SOP administratif adalah prosedur standar yang bersifat umum dan tidak
rinci dari kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang aparatur atau pelaksana
lebih dari satu peran atau jabatan.
SOP administrative ini pada umumnya dicirikan dengan :
1. Pelaksanaan kegiatan berjumlah banyak atau lebih dari satu aparatur atau lebih
dari satu jabatan dan bukan merupakan satu kesatuan yang tunggal
2. Berisi tahapan pelaksanaan kegiatan atau langkah-langkah pelaksanaan kegiatan
yang bersifat makro ataupun mikro yang tidak menggambarkan cara melakukan
kegiatan.
SOP administratif mencakup kegiatan lingkup makro dengan ruang lingkup
yang besar dan tidak mencerminkan pelaksanaan kegiatan secara detail dan kegiatan
lingkup mikro dengan ruang lingkup yang kecil dan mencerminkan pelaksana yang
sesungguhnya dari kegiatan yang dilakukan.
SOP administrasi mencakup:
a. Perencanaan program/kegiatan
b. Keuangan
c. Perlengkapan
d. Kepegawaian
e. Pelaporan
Dalam menyelenggarakan administrative pemerintahan lingkup makro, SOP
administrative dapat digunakan untuk proses-proses perencanaan, penganggaran, dan
lainnya, atau secara garis besar proses-proses dalam siklus penyelenggaraan
administrative pemerintahan. SOP administrative dalam lingkup mikro, disusun untuk

11
proses-proses administrative dalam operasional seluruh instansi pemerintah, dari
mulai tingkatan unit organisasi yang paling kecil sampai pada tingkatan organisasi
yang tinggi, dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi.
Contoh SOP Adminstrasi adalah:
SOP Pelayanan Penguji Sampel Di Laboratorium,SOP pendaftaran pasien,
SOP Pelayanan Perawatan Kendaraan, SOP Penanganan Surat Masuk dan SOP
Penyelenggaraan Bimbingan Teknis. Disamping merupakan kebutuhan organisasi
Kementrian/Lembaga dan Pemerintah Daerah dalam pelaksanaan tugas dan fungsi,
SOP administrative ini menjadi persyaratan dalam kebijakan Reformasi Birokrasi.
Untuk itu maka SOP jenis ini baik yang bersifat makro dan mikro harus dibuat guna
memperlancar pelaksanaan tugas dan fungsi sehari-hari satuan organisasi/satuan
organisasi di lingkungan Kementrian/ Lembaga dan Pemerintah Daerah.

2.7 Tahap-tahap Penyusunan Protap


1. Merumuskan tujuan protap
 Menentukan Judul
2. Menentukan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan protap :
 Menterjemahkan policy/ kebijakan/ketentuan-ketentuan/ peraturan-
peraturan kebijakan berguna untuk :
a. Terjaminnya suatu kegiatan
b. Membuat standar kerja
c. Menyelesaikan suatu konflik dalam tim kerja
3. Membuat aliran proses
 Bentuk bagan-bagan yang menggambarkan proses atau urutan jalannya
suatu produk/tatacara yang mencatat segala peristiwa;
a. Memberi gambaran lengkap tentang apa yang dilaksanakan
 Membantu setiap pelaksanaan untuk memahami peran dan
fungsinya dengan pihak lain.

12
 Syarat suatu bagan harus dibuat atas dasar pengamatan langsung,
tidak boleh dibuat atas dasar apa yang diingat serta disusun dalam
“Flow of Work”
Teknik membuat pertanyaan-pertanyaan dasar :
a. Tujuan: Apa sebenarnya yang dikerjakan dan mengapa ?
b. Tempat : Dimana saja dilakukan dan mengapa ?
c. Urutan : Kapan dilakukan dan mengapa oleh dia ?
d. Petugas : Siapa yang melakukan dan mengapa oleh dia?
e. Cara : Metode apa yang dipakai dan mengapa dengan cara itu?
4. Menyusun prosedur atau pelaksanaan kegiatan; Prosedur atau pelaksanaan
disusun berdasarkan atas hasil pertanyaan-pertanyaan tersebut diatas (flow
of work) yang menggambarkan suatu unit kegiatan yang terbagi habis →
tercapai kepuasan kerja dan tercapainya tujuan.
Penerapan standar kebidanan di suatu wilayah/ daerah perlu diikuti
dengan:
1. Dukungan dan kebijakan Nasional
2. Aksi local
3. Keterlibatan seluruh stakeholders utama
4. Pengujian di wilayah-wilayah terpilih untuk mengidentifikasikan atau
mengembangkan models yang praktis dan terbaik dan dijadikan
“lesson learned”
5. Dikembangkan ke wilayah lain

2.8 Membuat Alur Proses ( Flow Chart ) – Bagian TYA


Flowchart merupakan gambar atau bagan yang memperlihatkan urutan dan
hubungan antar proses beserta instruksinya. Gambaran ini dinyatakan dengan simbol.
Dengan demikian setiap simbol menggambarkan proses tertentu. Sedangkan
hubungan antar proses digambarkan dengan garis penghubung. Flow Chart berfungsi
untuk :
a. Memberi gambaran lengkap tentang apa yang dilaksanakan

13
b. Membantu setiap pelaksanaan untuk memahami peran dan fungsinya dengan
pihak lain. (Humaini, Irfan. 2017)
Syarat suatu bagan harus dibuat atas dasar pengamatan langsung, tidak boleh dibuat
atas dasar apa yang diingat serta disusun dalam “Flow of Work”
Dalam menyusun Flow chart, hendaknya membuat pertanyaan-pertanyaan sebagai
berikut (WHO; SEA NURS, 2003) :
a) Tujuan : Apa sebenarnya yang dikerjakan dan mengapa ?
b) Tempat : Dimana saja dilakukan dan mengapa ?
c) Urutan : Kapan dilakukan dan mengapa waktu itu ?
d) Petugas : Siapa yang melakukan dan mengapa oleh dia ?
e) Cara : Metoda apa yang dipakai dan mengapa dengan cara itu ?

Dengan adanya flowchart urutan proses kegiatan menjadi lebih jelas. Jika ada
penambahan proses maka dapat dilakukan lebih mudah. Penggunaan format SOP
dengan bentuk diagram alir (flowcharts) mengunakan beberapa simbol yang umum
digunakan untuk menggambarkan proses. Simbol yang dapat digunakan dalam SOP
adalah sebagai berikut :

14
11. simbol (tanda panah) untuk mendeskripsikan arah proses
kerja.
Pembatasan penggunaan simbol tersebut dilakukan untuk
memudahkan dalam penulisan prosedur kerja. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

Kaidah-kaidah dalam pembuatan flowchart tidak ada rumus atau patokan yang
bersifat mutlak. Karena flowchart merupakan gambaran hasil pemikiran dalam
menganalisa suatu masalah. Sehingga flowchart yang dihasilkan dapat bervariasi
antara satu dengan lainnya. Namun secara garis besar, setiap pengolahan selalu terdiri
dari tiga bagian utama, yaitu:
1) Input berupa bahan mentah
2) Proses pengolahan

15
3) Output berupa bahan jadi. Untuk pengolahan data.

Berikut adalah urutan dasar untuk pemecahan suatu masalah, yaitu:


START : Berisi instruksi untuk persiapan perlatan yang diperlukan sebelum
menangani pemecahan masalah.
READ : Berisi instruksi untuk membaca data dari suatu peralatan input.
PROCESS : Berisi kegiatan yang berkaitan dengan pemecahan persoalan sesuai
dengan data yang dibaca.
WRITE : Berisi instruksi untuk merekam hasil kegiatan ke perlatan output.
END : Mengakhiri kegiatan pengolahan (Rahmayanti, 2017)

Dari gambar flowchart di atas terlihat bahwa suatu flowchart harus terdapat
proses persiapan dan proses akhir. Dan yang menjadi topik dalam pembahasan ini
adalah tahap proses. Karena kegiatan ini banyak mengandung variasi sesuai dengan
kompleksitas masalah yang akan dipecahkan. Walaupun tidak ada kaidah-kaidah
yang baku dalam penyusunan flowchart, namun perlu di hindari pengulangan proses
yang tidak perlu dan logika yang berbelit sehingga jalannya proses menjadi singkat.

16
Penggambaran flowchart yang simetris dengan arah yang jelas. Sebuah flowchart
diawali dari satu titik START dan diakhiri dengan END. (Rahmayanti, 2017)

2.9 Langkah-langkah Menyusun SOP


Format SOP terbaik adalah yang dapat memberikan wadah serta dapat
mentransmisikan informasi yang dibutuhkan secara tepat dan memfasilitasi
implementasi SOP secara konsisten. Format SOP yang digunakan di lingkungan
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia adalah diagram alir (flowcharts).
Diagram alir merupakan format yang biasa digunakan jika dalam SOP tersebut
diperlukan pengambilan keputusan yang banyak atau kompleks dan membutuhkan
jawaban “ya” atau “tidak” yang akan mempengaruhi sublangkah berikutnya. Format
ini juga menyediakan mekanisme yang mudah untuk diikuti dan dilaksanakan oleh
para pegawai melalui serangkaian langkah sebagai hasil dari keputusan yang telah
diambil. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

A. Persiapan Penyusunan SOP


Penyusunan SOP level organisasi dapat dilaksanakan dengan membentuk tim
yang secara fungsional mengenai ketatalaksanaan internal organisasi, dan juga
mengikutsertakan anggota yang berasal dari setiap unit kerja pada berbagai levelnya.
Penyusunan SOP dapat melibatkan tenaga yang kompeten atau konsultan sehingga
bisa menghasilkan SOP yang optimal. Sedangkan penyusunan SOP level unit kerja
atau satuan kerja, dapat membentuk tim yang beranggotakan unit kerja yang secara
fungsional menangani ketatalaksanaan internal satuan kerja dan di dalamnya
termasuk anggota dari unit kerja.
Tim Penyusunan SOP bertugas melakukan identifikasi kebutuhan,
mengumpulkan data, melakukan analisis prosedur, melakukan pengembangan,
melakukan uji coba, melakukan sosialisasi, mengawal penerapan, memonitor dan
melakukan evaluasi, melakukan penyempurnaan, menyajikan hasil-hasil
pengembangan kepada pimpinan unit kerja, dan tugas-tugas lainnya. Tim yang
dibentuk juga harus dilengkapi dengan berbagai kelengkapan lain, seperti

17
kewenangan dan tanggungjawab. Kewenangan dimaksud meliputi kewenangan untuk
memperoleh informasi dari satuan kerja atau sumber lain, melakukan riview dan
pengujian, melakukan identifikasi, melakukan analisis dan menyeleksi berbagai
alternatif prosedur yang akan distandarkan, menulis SOP, mendistribusikan hasil
kepada seluruh anggota tim untuk di riview, serta melakukan pengujian. Tim
memiliki tanggungjawab untuk menyampaikan hasil yang telah diperoleh kepada
pimpinan. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

B. Penilaian Kebutuhan SOP


Penilaian kebutuhan merupakan proses awal penyusunan SOP yang dilakukan
untuk mengidentifikasi kebutuhan SOP yang akan disusun. Untuk unit kerja yang
sudah memiliki SOP maka tahapan ini merupakan tahapan untuk melihat kembali
SOP yang sudah dimiliki dan mengidentifikasi revisi yang diperlukan. Untuk unit
kerja yang sama sekali belum memiliki SOP maka proses ini merupakan proses
identifikasi kebutuhan SOP.

1. Tujuan Penilaian Kebutuhan


Penilaian kebutuhan SOP bertujuan untuk mengetahui tingkat kebutuhan
suatu unit kerja dalam mengembangkan SOP nya. Penilaian kebutuhan akan sangat
bermanfaat dalam menentukan ruang lingkup, jenis, dan jumlah SOP yang
dibutuhkan:
a. ruang lingkup SOP berkaitan dengan tugas mana yang prosedur
operasionalnya akan menjadi target untuk distandarkan
b. jenis SOP berkaitan dengan tipe dan format SOP yang sesuai untuk
diterapkan; dan
c. jumlah SOP berkaitan dengan berapa banyak SOP yang akan disusun sesuai
dengan tingkat urgensinya.
Aspek yang perlu dipertimbangkan ketika melakukan penilaian kebutuhan,
yaitu:
a. Lingkungan Operasional

18
Yang dimaksud dengan lingkungan operasional adalah lingkungan yang harus
dipertimbangkan oleh unit kerja dalam melaksanakan tugas dan fungsinya baik secara
internal maupun secara eksternal.
Faktor internal antara lain struktur organisasi, jumlah pegawai, jumlah jenis
pelayanan yang dilaksanakan, sumber daya yang dibutuhkan, tugas dan fungsi yang
dijalankan, sarana dan prasarana. Faktor eksternal antara lain tuntutan dan keinginan
pengguna layanan, hubungan antarunit kerja atau antarorganisasi atau dengan
berbagai pihak baik dalam maupun luar negeri, serta berbagai bentuk jaringan kerja.

b. Peraturan Perundang-undangan
Keberadaan peraturan perundang-undangan yang berpengaruh dalam
penyusunan SOP mulai dari Undang-Undang sampai dengan peraturan perundang-
undangan di bawah Undang- Undang.

c. Kebutuhan Organisasi dan Stakeholders


Penilaian kebutuhan organisasi dan stakeholders berkaitan erat dengan skala
prioritas terhadap prosedur-prosedur yang harus distandarkan, karena perubahan
struktur organisasi dan tugas dan fungsi, serta desakan stakeholders yang
menginginkan perubahan kualitas layanan. SOP juga harus berubah karena
perubahan-perubahan pada sarana dan prasarana dan perkembangan teknologi
informasi. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

2. Langkah-langkah Penilaian Kebutuhan


a. Menyusun rencana tindak penilaian kebutuhan
Pelaksanaan penilaian kebutuhan yang menyeluruh dapat menjadi sebuah
proses yang cukup padat dan memakan waktu yang relatif lama. Oleh karena itu perlu
disusun sebuah rencana dan target yang jelas, serta pembagian tugas siapa melakukan
apa. Untuk membantu menyusun rencana tindak, dapat digunakan tabel berikut:

19
b. Melakukan Penilaian Kebutuhan
Jika organisasi atau unit kerja telah memiliki SOP dan ingin melakukan
penyempurnaan terhadap SOP yang telah ada maka proses penilaian kebutuhan dapat
dimulai dengan mengevaluasi SOP yang sudah ada. Proses evaluasi antara lain akan
memberikan informasi mengenai mana SOP yang tidak dapat dilaksanakan atau
sudah tidak lagi relevan, mana SOP baru yang mungkin diperlukan, dan mana SOP
yang perlu disempurnakan.
Dengan meneliti hasil-hasil evaluasi akan memperdalam pemahaman yang
menyeluruh terhadap SOP yang ada sehingga tidak hanya dapat dilakukan identifikasi
berbagai permasalahan yang sering terjadi, tetapi juga secara garis besar tim penilai
kebutuhan akan memiliki informasi sementara mengenai SOP mana yang harus
disempurnakan. SOP mana yang harus dibuat ulang, atau SOP baru yang harus
dibuat.
Untuk unit kerja yang telah memiliki SOP, harus melakukan penyempurnaan
secara berkesinambungan, dimulai dengan:
1) Melihat kembali informasi yang diperoleh dari hasil evaluasi, terutama terhadap
hal yang tidak relevan dari SOP tersebut.
2) Melakukan identifikasi terhadap kegiatan yang belum tercakup SOP baik karena
perubahan struktur maupun karena terlewatkan. Unit kerja yang belum memiliki
SOP, penilaian kebutuhan dimulai dengan:

20
a) Mempelajari aspek lingkungan operasional, peraturan perundang-undangan,
petunjuk teknis maupun dokumendokumen internal organisasi yang memberikan
pengaruh terhadap proses organisasi. Proses akan menghasilkan kebutuhan sementara
mengenai SOP apa yang perlu dibuat.

b) Membuat daftar SOP yang akan dikembangkan.


Untuk memudahkan penilaian kebutuhan, SOP juga dapat dikelompokkan atas dasar
level unit kerja pada instansi, mulai pada tingkatan organisasi secara keseluruhan,
unit eselon tertinggi sampai dengan unit eselon yang terendah. Untuk membantu
melakukan penilaian kebutuhan dapat digunakan tabel sebagai berikut:

Keterangan Tabel 3:
Kolom 1) : Nama satuan kerja tempat SOP akan diterapkan.
Kolom 2) : Klaslfikasi/pengelompokan SOP pada bidang tugas/proses tertentu
(misalnya perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, atau kepegawaian,
keuangan, pembuatan kebijakan, dan lainnya).
Kolom 3) : Nama prosedur yang akan distandarkan yang menjadi bagian dari bidang
klasifikasi/pengelompokkannya.
Kolom 4) : Penilaian keterkaitan dengan tupoksi (penilaian: sangat terkait, terkait,
kurang terkait, tidak terkait).
Kolom 5) : Penilaian keterkaitan dengan Peraturan Perundang-undangan (penilaian:

21
sangat terkait, terkait, kurang terkait, tidak terkait).
Kolom 6) : Penilaian keterkaitan stakeholders/masyarakat (penilaian: sangat terkait,
terkait, kurang terkait, tidak terkait).
Kolom 7) : Penilaian keterkaitan dengan prosedur lainnya (penilaian: sangat terkalt,
terkait, kurang terkait, tidak terkait).
Kolom 8) : Prioritas kebutuhan (penilaian: sangat penting, penting, kurang penting,
tidak penting).

c. Membuat Daftar SOP yang akan Dikembangkan


Dari tahapan tersebut di atas, dapat disusun sebuah daftar mengenai SOP yang
akan disempurnakan atau SOP yang akan dibuatkan yang baru. Setiap SOP yang
masuk ke dalam daftar disertai dengan pertimbangan dampak yang akan terjadi baik
secara internal maupun eksternal apabila SOP ini dikembangkan dan dilaksanakan.
Informasi ini akan memudahkan bagi pengambil keputusan untuk menetapkan
kebutuhan SOP yang akan diterapkan.

Keterangan Tabel 4:
Kolom 1) : Nomor urut daftar SOP.
Kolom 2) : Nama satuan kerja SOP tempat SOP akan diterapkan.
Kolom 3) : Klasifikasi/pengelompokan SOP pada bidang tugas/proses tertentu
(misalnya: perencananaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, kepegawaian, atau
keuangan).

22
Kolom 4) : Nama prosedur yang akan distandarkan yang menjadi bagian dari bidang
klasifikasi atau pengelompokannya yang diterapkan tertentu (misalnya: perencanaan,
pelaksanaan, atau kepegawaian, keuangan, pembuatan kebijakan akan dibakukan).
Kolom 5) : Alasan SOP tersebut dikembangkan

d. Membuat dokumen penilaian kebutuhan SOP


Tahap akhir dari penilaian kebutuhan SOP, harus membuat sebuah laporan
atau dokumen penilaian kebutuhan SOP. Dokumen memuat:
1) hasil kesimpulan semua temuan dan rekomendasi yang didapatkan dari proses
penilaian kebutuhan ini.
2) penjelasan berbagai prioritas yang harus dilakukan segera dengan
mempertimbangkan kemampuan organisasi.
3) memberikan alasan yang rasional untuk setiap pengembangan, baik penambahan,
revisi, penggantian, maupun penghapusan berbagai SOP yang telah ada.
4) jika belum memiliki SOP, alasan mengapa diperlukan SOP tersebut. (Departemen
Hukum dan HAM, 2012)

C. Pengembangan SOP
Sebagai standar yang akan dijadikan acuan dalam proses pelaksanaan tugas
keseharian organisasi, maka pengembangan SOP bukan kegiatan yang langsung jadi,
tetapi memerlukan peninjauan berulang kali sebelum akhirnya menjadi SOP yang
valid dan reliable.

Pengembangan SOP pada dasarnya meliputi 5 (lima) tahapan proses kegiata


secara berurutan yang dapat dirinci sebagai berikut:
1. Pengumpulan Informasi, ldentifikasi Alternatif
Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengumpulkan berbagai
informasi yang diperlukan untuk menyusun SOP. Identifikasi informasi yang akan
dicari, dapat dipisahkan mana informasi yang dicari dari sumber primer dan mana
yang dicari dari sumber sekunder.

23
Jika identifikasi berbagai informasi yang akan dikumpulkan sudah diperoleh,
maka selanjutnya adalah memilih teknik pengumpulan datanya. Ada berbagai
kemungkinan teknik pengumpulan informasi yang dapat digunakan untuk
mengembangkan SOP, seperti melalui brainstorming, focus group discussion,
interview, survey,benchmarking, telaahan dokumen dan lainnya. Teknik yang akan
digunakan, sangat terkait erat dengan instrumen pengumpul informasinya.

2. Analisis dan Pemilihan Alternatif


Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis terhadap alternatif prosedur
yang berhasil diidentifikasi untuk dibuatkan standarnya. Prinsip penyusunan SOP
sebagaimana diuraikan dalam bab sebelumnya dapat digunakan sebagai acuan untuk
menentukan mana alternatif prosedur yang akan dipilih untuk distandarkan seperti
kemudahan dan kejelasan, efisiensi dan efektivitas, keselarasan, keterukuran,
dinamis, berorientasi pada pihak yang dilayani, kesesuaian dengan peraturan
perundang-undangan, kepatuhan hukum dan kepastian hukum.
Dengan membandingkan berbagai alternatif melalui keuntungan dan kerugian
yang kemungkinan terjadi jika diterapkan, selanjutnya dapat dipilih alternatif mana
yang dipandang dapat memenuhi kebutuhan organisasi. Proses analisis ini akan
menghasilkan prosedur-prosedur yang telah dipilih, baik berupa penyempurnaan
prosedur yang sudah ada sebelumnya, pembuatan prosedur yang sudah ada namun
belum distandarkan, atau prosedur yang belum ada sama sekali.

3. Penulisan SOP
Setelah berbagai alternatif prosedur dipilih, langkah selanjutnya adalah
menulis SOP. Aspek yang perlu diperhatikan dalam penulisan SOP yaitu:
a. Tipe SOP
Terdapat dua tipe SOP yang dapat digunakan, yaitu SOP Teknis atau SOP
Administratif. Dalam kaitan penulisan SOP ini, maka perlu ditetapkan terlebih dahulu
tipe mana yang akan digunakan, yang sesuai dengan kebutuhan unit kerja. Tipe SOP
akan mempengaruhi cara penulisan.

24
b. Format SOP
Terdapat bermacam format SOP seperti simple steps, hierarchical steps,
graphic, dan diagram alir (flowcharts). Penulisan SOP di lingkungan Kementerian
Hukum dan Hak Asasi manusia menggunakan format diagram alir (flowcharts).
c. Tingkatan kerincian/detail
Jenis pekerjaan akan memberikan pengaruh pada tingkatan kerincian SOP
yang akan dibuat. Untuk jenis pekerjaan yang prosedurnya seringkali diinterupsi oleh
hal-hal yang diluar kendali, sehingga harus diambil keputusan prosedur di luar
prosedur yang telah standar, maka diperlukan SOP yang sifatnya memberikan
pedoman umum (guidelines). Sedangkan untuk jenis pekerjaan yang prosedurnya
sudah tetap, meskipun dapat diinterupsi oleh kondisi tertentu yang dapat diprediksi,
maka diperlukan SOP yang detail.
d. Prinsip penyusunan SOP
SOP harus dirumuskan dengan memenuhi prinsip penyusunan SOP.
e. Pemilahan proses.
Untuk memudahkan penulisan SOP, terlebih dahulu dipilah antara proses,
prosedur dan aktivitas. Setiap proses akan mengandung prosedur, dimana masing-
masing prosedur akan menyangkut aktivitas-aktivitas dalam mengolah input menjadi
output yang lebih kecil. Sebuah proses akan menghasilkan output yang akan menjadi
input dari proses lain. Sebuah prosedur akan menghasilkan output yang menjadi input
bagi prosedur lain. Atas dasar ini maka akan dengan mudah dilakukan pemisahan
proses, prosedur, dan aktivitasnya.
f. Muatan SOP
Muatan satu SOP meliputi langkah-langkah kegiatan pelaksanaan dari sebuah
prosedur yang distandarkan, yang dilengkapi dengan keterkaitannya dengan SOP
lainnya, peringatan yang memberikan penjelasan mengenai kemungkinan yang terjadi
diluar kendali ketika prosedur dilaksanakan (atau tidak dilaksanakan), kualifikasi
personel yang melaksanakan, peralatan dan perlengkapan yang diperlukan, standar
mutu dari setiap langkah kegiatan yang dilakukan, dan formulir yang harus diisi oleh
pelaksana.

25
4. Pengujian dan Review SOP
SOP yang telah dirumuskan oleh tim harus melalui tahapan pengujian yang
dilakukan melalui penerapan langsung pada unit pengguna atau pelaksana prosedur.
Proses pengujian bertujuan untuk mendapatkan informasi informasi lebih lanjut yang
belum ditampung dalam prosedur atau yang diperlukan oleh tim sebagai bentuk reviu
atas SOP.

Langkah-langkah pengujian dan reviu dilakukan sebagai berikut:


a. Hasil SOP disampaikan kepada pengguna utama guna memperoleh masukan dari
pihak-pihak yang terlibat dalam prosedur (pengguna utama);
b. Simulasi terhadap SOP untuk melihat sejauh mana SOP yang telah dirumuskan
akan dapat berjalan sesuai dengan kondisi senyatanya;
c. Penyempurnaan rumusan SOP atas dasar hasil temuan pada saat simulasi;
d. SOP yang telah dirumuskan disamping membakukan prosedur yang telah berjalan,
dapat juga menyederhanakan prosedur yang sudah ada atau menemukan prosedur
baru yang lebih cepat, efisien dan efektif;
e. Pelaksanaan ujicoba untuk melihat sampai sejauh mana tingkat kemudahan,
kesesuaian dan ketepatan SOP dalam pelaksanaannya;
f. Melakukan reviu untuk mengevaluasi hasil uji coba, sehingga akhirnya dapat
menghasilkan SOP yang benar-benar valid dan reliabel. Valid artinya bahwa SOP
menjadi instrumen yang benar-benar dibutuhkan secara tepat oleh pengguna dalam
penyelenggaraan prosedur dalam organisasi. Sedangkan reliable memiliki arti bahwa
SOP yang dirumuskan akan bersifat konsisten selama tidak terjadi perubahan pada
lingkungan organisasi yang mengharuskan organisasi merumuskan ulang SOP-nya.

5. Pengesahan SOP
SOP yang sudah diuji dan direviu disampaikan kepada pimpinan unit eselon I
untuk mendapatkan pengesahan. Proses pengesahan merupakan tindakan
pengambilan keputusan oleh pimpinan, meliputi penelitian dan evaluasi terhadap

26
prosedur yang distandarkan. SOP yang akan disahkan harus memuat ringkasan
eksekutif untuk membantu pimpinan memahami hasil rumusan sebelum melakukan
pengesahan. Meskipun SOP telah disahkan oleh pimpinan, proses review secara
berkelanjutan tetap dilakukan agar diperoleh SOP yang benar-benar efisien dan
efektif. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

D. Penerapan SOP
Penerapan SOP dalam praktek penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi
merupakan langkah selanjutnya dari siklus SOP setelah pengembangan SOP. Pada
tahap sebelumnya, telah dihasilkan rumusan SOP yang secara formal telah ditetapkan
oleh pimpinan unit eselon I. Proses penerapan rumusan SOP ini kemudian dilakukan
oleh setiap unit kerja dan harus dapat memastikan bahwa tujuan berikut dapat
tercapai:
1. Setiap pelaksana mengetahui SOP yang baru/diubah dan mengetahui alasan
revisinya.
2. Salinan atau fotokopi SOP disebarluaskan sesuai kebutuhan dan siap diakses oleh
semua pengguna potensial.
3. Setiap pelaksana mengetahui perannya dalam SOP dan dapat menggunakan semua
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki untuk menerapkan SOP secara aman dan
efektif (termasuk pemahaman akan akibat yang terjadi bila gagal dalam
melaksanakan SOP).
4. Dapat melihat sebuah mekanisme untuk memantau kinerja, mengidentifikasi
masalah yang mungkin timbul, dan menyediakan dukungan dalam proses penerapan
SOP. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

E. Pemantauan dan Evaluasi Penerapan SOP


Pelaksanaan penerapan SOP harus secara terus menerus dipantau sehingga proses
penerapannya dapat berjalan dengan baik. Berbagai masukan dalam setiap upaya
pemantauan akan menjadi bahan yang berharga dalam melakukan evaluasi sehingga

27
penyempurnaan terhadap SOP dapat dilakukan secara cepat dan tepat sesuai
kebutuhan. (Departemen Hukum dan HAM, 2012)

F. Contoh Format Penyusunan SOP


Dalam melakukan penyusunan SOP, Unit Kerja di Kementerian Hukum dan Hak
Asasi Manusia mengikuti mekanisme yang digambarkan pada Format Penyusunan
SOP sebagai berikut:

Keterangan Tabel 5:
Kolom 1) : Nama unit sesuai dengan nomenklatur unit kerja eselon I di lingkungan
Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

28
Kolom 2) : Nomor SOP diisi dengan nomor yang diberikan sesudah mendapatkan
pengesahan oleh pimpinan eselon I di unit kerja masing-masing dengan mengacu
pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia di bidang pola klasifikasi
arsip.
Kolom 3) : Tanggal Pembuatan SOP.
Kolom 4) : Tanggal revisi dicantumkan apabila terdapat revisi dalam SOP.
Kolom 5) : Tanggal mulai SOP yang telah mendapat pengesahan dari pimpinan unit
Eselon I.
Kolom 6) : Pengesahan oleh pimpinan unit eselon I, diisi dengan nama jabatan eselon
I, nama penjabat, dan NIP.
Kolom 7) : Judul SOP.
Kolom 8) : Peraturan Perundang-undangan yang mendasari prosedur.
Kolom 9) : Memberikan penjelasan keterkaitan prosedur yang distandarkan dengan
prosedur lain yang distandarkan.
Kolom 10): Peringatan digunakan untuk mengetahui bila SOP tidak dijalankan atau
dilaksanakan maka akan menghambat sistem Unit kerja di lingkungan tersebut. Pada
kolom ini juga dijelaskan pula bagaimana cara mengatasinya.
Kolom 11): Kualifikasi pelaksana digunakan mengetahui tugas dan fungsi dalam
melaksanakan perannya pada prosedur yang sudah distandarkan.
Kolom 12): Mendukung dan memberikan penjelasan mengenai daftar peralatan dan
perlengkapan yang dibutuhkan untuk melaksanakan SOP.
Kolom 13): Memuat berbagai hal yang perlu didata dan dicatat oleh setiap pelaksana
SOP dalam setiap melaksanakan pekerjaannya dengan efesien dan mempermudah
hasil kerjanya sehingga bekerja semakin terarah.
Kolom 14): Memuat uraian kegiatan yang dilaksanakan.
Kolom 15): Memuat tingkat jabatan dalam pelaksanaan SOP.
Kolom 16): Memuat rincian bahan penunjang dalam melaksanakan uraian kegiatan.
Kolom 17): Prediksi waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan kegiatan.
Kolom 18): Hasil yang dicapai pada setiap uraian kegiatan. (Departemen Hukum dan
HAM, 2012)

29
Secara garis besar, apapun instansinya penyusunan SOP sama saja. Yang
berbeda hanya pola piker dalam proses penyusunannya. Menurut Pusat Data
Kemenkes RI (2016), berikut langkah penyusunan SOP :

Hasil SOP :

SOP PENANGANAN IKTERUS PADA BAYI

No. Dokumen : OP/10/Bd.6.502/019


No. Revisi : 00
SOP
Tanggal Terbit : 16 Oktober 2018
Halaman :¼
Puskesmas Ditetapkan Oleh
Poltekkes Kepala UPTD Puskesmas
Kemenkes Poltekkes Kemenkes
Jakarta III Jakarta III

Aticeh, SST,M.Keb
NIP 196302031984122001
Pengertian Ikterus adalah gejala kuning karena penumpukan bilirubin dalam aliran
darah yang menyebabkan pigmentasi kuning pada plasma darah yang

30
menimbulkan perubahan warna pada jaringan yang memperoleh banyak
aliran darah tersebut.
Tujuan Untuk mencegah terjadinya hiperbilirubinemia
Kebijakan 1. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
2. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008
tentang Petunjuk Teknis Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan
di Kabupaten/Kota
3. Penanganan Ikterus pada bayi sesuai dengan indikasi medis
Referensi 1. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal
2. Tim Paket Pelatihan Klinik PONED .2008. Paket Pelatihan Pelayanan
Obstetri Neonatal Emergensi Dasar (PONED). Jakarta: JNPK
3. Saadah, Nurlailis. 2013. ASUHAN PADA NEONATUS DAN BAYI
DENGAN RESIKO TINGGI DAN PENATALAKSANAANNYA. Jakarta:
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Peralatan dan 1. Senter (pencahayaan yang terang)
Bahan 2. Stetoskop
3. Termometer
4. Masker
5. Handscoon
6. Alat tulis
Prosedur 1. Pasien dating
2. Anamnesa pasien
 Apakah bayi kuning? Jika ya, pada umur berapa timbul kuning?
 Apakah warna tinja bayi pucat?
3. Mengecek tanda-tanda vital, melakukan pemeriksaan fisik (kuning
pucat, urine pekat, letargi, penurunan refleks menghisap, gatal, tremor,
dan menangis dengan nada tinggi), serta tentukan sampai di daerah mana
warna kuning pada bagian badan bayi.
4. Mengklasifikasikan ikterus

31
a. Tidak ikterus : tidak kuning
b. Ikterus : timbul kuning pada umur ≥ 24 jam sampai ≤ 14 hari
dan tidak sampai telapak tangan atau telapak kaki
c. Ikterus Berat :
- Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir
- Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari
- Kuning sampai telapak tangan atau telapak kaki
- Tinja berwarna pucat
5. Melakukan penatalaksanaan sesuai dengan klasifikasi ikterus
a. Tidak ikterus
Lakukan asuhan dasar bayi muda
b. Ikterus
Lakukan asuhan dasar bayi muda, anjurkan ibu untuk menyusu lebih
sering, nasehati kapan kembali segera, dan kunjungan ulang 2 hari
c. Ikterus Berat
Cegah agar gula darah tidak turun, nasehati cara menjaga bayi tetap
hangat selama perjalanan dan rujuk segera ke rumah sakit
d. Pencatatan dan pelaporan
Diagram Alir
Mengecek tanda-
Pasien datang Anamnesa pasien
tanda vital, dan
pemeriksaan fisik

Mengklasifikasikan Ikterus

32
Tidak Ikterus Ikterus Ikterus Berat

Timbul kuning pada hari


Timbul kuning pertama (<24 jam)
pada umur ≥ 24 setelah lahir
jam sampai ≤ 14 Kuning ditemukan pada
Tidak Kuning hari dan tidak umur lebih dari 14 hari
sampai telapak
tangan atau Kuning sampai telapak
telapak kaki tangan atau telapak kaki
Tinja berwarna pucat

Lakukan asuhan  Lakukan asuhan dasar  Cegah agar gula


dasar bayi muda bayi muda darah tidak turun
 Menyusu lebih sering  Nasehati cara
 Nasehati kapan menjaga bayi
kembali segera tetap hangat
 Kunjungan ulang 2 hari selama perjalanan
 RUJUK SEGERA

Pencatatan dan
Pelaporan

Unit Terkait 1. UGD


2. Unit Kebidanan (Ruang Bersalin dan KIA)
3. MTBS

SOP Yang Efektif


• SOP yang mencerminkan upaya pencapaian tujuan, dalam menjalankan misi
Organisasi, untuk mewujudkan Visi
• Memenuhi kriteria manual SOP

33
• Memahami Hambatan-hambatan dalam penyusunan dan implementasi SOP (Revla,
2017)

7 Kriteria SOP yang Efektif


a. Spesifik
Penyusunan SOP harus khas dan spesifik, sesuai dengan kebutuhan organisasi
Penyusunan SOP harus dilakukan observasi terhadap organisasi secara rinci dan
lengkap, mengenai: Struktur Organisasi, struktur pengambilan keputusan, lingkup
dan cakupan bisnis atau aktivitas organisasi, kekhasan operasional, kekhususan
administratif, dan peraturan-peraturan yang mengikat

b. Lengkap Prosedur
Lengkap untuk prosedur tertentu, dan lengkap untuk prosedur yang dibutuhkan

c. Jelas dan Mudah Dipahami


Dapat dicerna dengan baik serta Tidak menimbulkan banyak tafsiran

d. Layak Tetap
Dapat diaplikasikan dengan baik terutama karena ada dukungan manajemen dan
budaya organisasi

e. Controllable
Dapat dipahami oleh organisasi dan semua unsur organisasi

f. Layak Audit
Mampu dilakukan pengecekan selama jangka waktu tertantu untuk mengetahui data
tersebut sudah valid atau belum.

g. Layak Ubah

34
Mampu mengantisipasi perubahan (bisnis atau aktivitas) dan perubahan lingkungan
organisasi. (Revla, 2017)

2.10 Macam-macam SOP (Saran Tya : Lengkapin materi yang macam-


macam SOP kayak simple steps, hierarki dll. Karena kemarin bu NOVIA
pas PRESENTASI minta di tambahin itu. Makasih)
1. SOP Berdasarkan Sifat Kegiatan
a. SOP Teknis
Prosedur standar yang sangat rinci dari kegiatan yang
dilakukan oleh satu orang aparatur atau pelaksana dengan satu
peran atau jabatan. Setiap prosedur diuraikan dengan sangat teliti
sehingga tidak ada kemungkinan-kemungkinan variasi lain.
Ciri – ciri SOP teknis
 Pelaksana kegiatan berjumlah satu orang atau satu kesatuan tim
kerja atau satu jabatan meskipun dengan pemangku yang lebih
dari satu.
 Berisi langkah rinci atau langkah detail pelaksanaan kegiatan.
SOP teknis banyak digunakan pada bidang-bidang yang
menyangkut pelaksana tunggal yang memiliki karakteristik yang
relatif sama dan dengan peran yang sama pula.
Contoh: dalam bidang kesehatan, pengoperasian alat-alat medis,
penanganan pasien pada unit gawat darurat, medical check-up, dan
lain-lain.
Dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan, SOP
teknis diterapkan pada bidang-bidang yang dilaksanakan oleh
pelaksana tunggal atau jabatan tunggal, antara lain: pemeliharaan
sarana dan prasarana, pemeriksaan keuangan (auditing), kearsipan,
korespondensi, dokumentasi, pelayanan-pelayanan kepada
masyarakat, kepegawaian dan lainnya.

35
Contoh: SOP Teknis adalah: SOP Pengujian Sampel di
Laboratorium, SOP Perakitan Kendaraan, SOP Pengagendaan Surat
dan SOP Pemberian Disposisi.
SOP teknis ini merupakan kebutuhan organisasi dalam
pelaksanaan tugas dan fungsi yang dimilikinya disamping SOP
yang bersifat administratif. Untuk itu maka SOP jenis ini harus
dibuat guna memperlancar pelaksanaan tugas dan fungsi sehari-hari
satuan guna mendukung efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas
dan fungsi yang dimilikinya.
b. SOP Administratif
SOP administratif adalah prosedur standar yang bersifat
umum dan tidak rinci dari kegiatan yang dilakukan oleh lebih dari
satu orang aparatur atau pelaksana dengan lebih dari satu peran atau
jabatan. Pada umumnya ciri SOP administratif :
 Pelaksana kegiatan berjumlah banyak atau lebih dari satuaparatur
atau lebih dari satu jabatan dan bukan merupakan satu kesatuan
yang tunggal;
 Berisi tahapan pelaksanaan kegiatan atau langkah-langkah
pelaksanaan kegiatan yang bersifat makro ataupun mikro yang
tidak menggambarkan cara melakukan kegiatan.
SOP administratif mencakup kegiatan lingkup makro dengan
ruang lingkup yang besar dan tidak mencerminkan pelaksana
kegiatan secara detail dan kegiatan lingkup mikro dengan ruang
lingkup yang kecil dan mencerminkan pelaksana yang
sesungguhnya dari kegiatan yang dilakukan.
Dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan lingkup
makro, SOP administratif dapat digunakan untuk proses-proses
perencanaan, pengganggaran, dan lainnya, atau secara garis besar
proses-proses dalam siklus penyelenggaraan administrasi
pemerintahan.

36
SOP administratif dalam lingkup mikro, disusun untuk
proses-proses administratif dalam operasional seluruh instansi
pemerintah, dari mulai tingkatan unit organisasi yang paling kecil
sampai pada tingkatan organisasi yang tertinggi, dalam
menjalankan tugas pokok dan fungsinya.
Contoh: SOP Administrasi adalah: SOP Pelayanan Pengujian
Sampel Di Laboratorium, SOP Pelayanan Perawatan Kendaraan,
SOP Penanganan Surat Masuk dan SOP Penyelenggaraan
Bimbingan Teknis.
Disamping merupakan kebutuhan organisasi dan Pemerintah
Daerah dalam pelaksanaan tugas dan fungsi, SOP administratif ini
menjadi persyaratan dalam Kebijakan Reformasi Birokrasi. Untuk
itu maka SOP jenis ini baik yang bersifat makro dan mikro harus
dibuat guna memperlancar pelaksanaan tugas dan fungsi sehari-hari
satuan organisasi.
2. SOP menurut cakupan dan besaran
SOP menurut cakupan dan besaran kegiatan dikategorikan ke dalam dua
jenis, yaitu SOP Makro dan SOP Mikro :
a. SOP Makro adalah SOP berdasarkan cakupan dan besaran
kegiatannya mencakup beberapa SOP mikro yang mencerminkan
bagian dari kegiatan tersebut atau SOP yang merupakan integrasi
dari beberapa SOP mikro yg membentuk serangkaian kegiatan
dalam SOP tersebut.
Contoh:
 SOP Pengelolaan Surat yang merupakan SOP makro dari SOP
Penanganan Surat Masuk, SOP Pemberian Tanggapan terhadap
Surat Masuk, dan SOP Pengiriman Surat.
 SOP Penyelenggaraan Bimbingan Teknis merupakan SOP makro
dari SOP Persiapan Bimbingan Teknis, SOP Pelaksanaan
bimbingan Teknis, dan SOP Pelaporan Bimbingan Teknis.

37
b. SOP Mikro adalah SOP yang berdasarkan cakupan dan besaran
kegiatannya merupakan bagian dari sebuah SOP makro atau SOP
yang kegiatannya menjadi bagian dari kegiatan SOP makro yang
lebih besar cakupannya.
Contoh:
SOP Penanganan Surat Masuk, SOP Pemberian Tanggapan terhadap
Surat Masuk, dan SOP Pengiriman Surat merupakan SOP mikro dari
SOP Pengelolaan Surat. SOP Persiapan BimbinganT eknis, SOP
Pelaksanaan Bimbingan Teknis, dan SOP Pelaporan Bimbingan
Teknis merupakan SOP mikro dari SOP Penyelenggaraan
Bimbingan Teknis.
3. SOP Menurut Cakupan dan Kelengkapan Kegiatan
SOP menurut cakupan dan kelengkapan kegiatan dikategorikan ke
dalam dua jenis, yaitu SOP Final dan SOP Parsial :
a. SOP Final adalah SOP yang berdasarkan cakupan kegiatannya
telah menghasilkan produk utama yang paling akhir atau final.
Contoh:
 SOP Penyusunan Pedoman merupakan SOP Final dari SOP
Penyiapan Bahan Penyusunan Pedoman.
 SOP Penyelenggaraan Bimbingan Teknis merupakan SOP Final
dari SOP Penyiapan Penyelenggaraan Bimbingan Teknis.
b. SOP Parsial adalah SOP yang berdasarkan cakupan kegiatannya
belum menghasilkan produk utama yang paling akhir atau final,
sehingga kegiatan ini masih memiliki rangkaian kegiatan lanjutan
yang mencerminkan produk utama akhirnya.
Contoh:
 SOP Penyiapan Bahan Penyusunan Pedoman yang merupakan
bagian (parsial) dari SOP Penyusunan Pedoman.

38
 SOP Penyiapan Penyelenggaraan Bimbingan Teknis yang
merupakan bagian (parsial) dari SOP Penyelenggaraan
Bimbingan Teknis.
4. SOP Menurut Cakupan dan Jenis Kegiatan
SOP menurut cakupan dan jenis kegiatan dikategorikan ke dalam
dua jenis, yaitu SOP Generik dan SOP Spesifik :
a. SOP Generik (Umum) adalah SOP berdasarkan sifat dan muatan
kegiatannya relatif memiliki kesamaan baik dari kegiatan yang
di- SOP-kan maupun dari tahapan kegiatan dan pelaksananya.
Variasi SOP yang ada hanya disebabkan perbedaan lokasi SOP itu
diterapkan.
Contoh:
SOP Pengelolaan Keuangan di Satker A dan SOP Pengelolaan
Keuangan di Satker B memiliki SOP generik: SOP Pengelolaan
Keuangan dengan aktor: KPA, PPK, Bendahara, dst.
b. SOP Spesifik (Khusus) adalah SOP berdasarkan sifat dan muatan
kegiatannya relatif memiliki perbedaan dari kegiatan yang di-
SOPkan, tahapan kegiatan, aktor (pelaksana), dan tempat SOP
tersebut diterapkan. SOP ini tidak dapat diterapkan di tempat lain
karena sifatnya yang spesifik tersebut.
Contoh:
SOP Pelaksanaan Publikasi Hasil Uji Laboratorium A pada Instansi
Z hanya berlaku pada laboratorium A di Instansi Z tidak berlaku di
laboratorium lainnya
5. SOP Menurut Cakupan dan Besaran Kegiatan
6. SOP Menurut Cakupan dan Kelengkapan Kegiatan
7. SOP Menurut Cakupan dan Jenis Kegiatan

2.11 Standar Pelayanan dalam SOP


Materi Dewi tolong dilengkapi

39
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

40
Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah dokumen yang berkaitan dengan
prosedur yang dilakukan secara kronologis untuk menyelesaikan suatu pekerjaan
yang bertujuan untuk memperoleh hasil kerja yang paling efektif dari para pekerja
dengan biaya yang serendah-rendahnya. Fungsi SOP adalah menurut Indah puji tahun
2014 adalah sebagai berikut, memperlancar tugas petugas/pegawai atau tim/unit
kerja, sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan, mengetahui dengan jelas
hambatan-hambatannya dan mudah dilacak., mengarahkan petugas untuk sama-sama
disiplin dalam bekerja., sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin. SOP
terbagi menjadi 3 jenis yaitu SOP profesi, pelayanan dan administrasi.

3.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai Bidan dan tenaga kesehatan melakukan pelayanan
sesuai dengan standar operasional prosedur yang sudah ditetapkan.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan mudah untuk
dipahami, mohon maaf apabila masih ada kesalahan pada penulisannya karna kami
masih dalam peroses pembelajaran. Terima Kasih.

41
DAFTAR PUSTAKA
Atmoko, tjipto.2012. Standar operational prosedur (SOP) dan akuntabilitas kinerja
instansi pemerintah. Jakarta
Hartatik, Indah Puji. 2014. Buku Praktis Mengembangkan SDM. Yogyakarta.
Laksana.
Direktorat UMDK, D. Y. (1995). Petunjuk Teknis Penyusunan Prosedur Tetap
Kegiatan Rumah Sakit Swadana. Jakarta.
RI, K. P. (2012). Pedoman Penyusunan Standar Operasional Prosedur Administrasi
Pemerintah.
https://dprd-ntbprov.go.id/wp-content/uploads/2016/10/BAB-2-SOP.pptx
https://www.kajianpustaka.com
Revla, Trisna. 2017. Standard Operating Procedure. Diakses dari
https://law.uii.ac.id/wp-content/uploads/2017/12/standard-operating-procedures-
trisna-rev1a.pptx pada 27 Agustus 2018 pukul 19.00
Rahmayanti. 2017. Flowchart (Diagram Alur), Diakses dari :
http://rahmayanti.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/23147/2_KaidahkaidahUmu
mPembuatanFlowchart.pdf pada 27 Agustus 2018 pukul 16.06
Pusat Analisis Determinan Kesehatan. 2016. Standar Operasional Prosedur
Administrasi Pemerintahan. Jakarta : Kemenkes RI
Departemen Hukum dan HAM. 2012. LAMPIRAN PERATURAN
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR
OPERASIONAL PROSEDUR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM
DAN HAK ASASI MANUSIA diakses dari www.djpp.depkumham.go.id pada 27
Agustus 2018 pukul 14.40
Humaini, Irfan. 2017. Diakses dari
http://irfan_humaini.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/51185/%5EFlowchart.pdf
pada 27 Agustus 2018 pukul 19.16

WHO; SEA NURS. 2003. Standar dan Standar Operasional Prosedur (SOP)
dalam Keterampilan Manajerial SPMK. Diakses dari :
http://www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/6b-

42
STANDAR%20dan%20SOP(revby%20Was%20Feb'02).doc pada 27 Agustus 2018
pukul 19.30

43