Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH MIKOLOGI

JAMUR PATOGEN DAN JAMUR KONTAMINAN

Disusun Oleh :

Kiki Herlina 1613453042

Nabila Maritza 1613453049

Mega Afria 1613453047

Sekar Lerian 1613453065

Yenni Savinda 1613453088

Dosen Pembimbing : SITI JUARIAH, M.Si

PROGRAM STUDI DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS


AKADEMI ANALIS KESEHATAN YAYASAN FAJAR
PEKANBARU
2018

1
KATA PENGANTAR

Assalamualaikumwr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “jamur
patogen dan jamur kontaminan”. Tak lupa pula kami juga berterimakasih kepada
selaku dosen kami dalam mata kuliah mikologi yang sudah memberikan tugas ini.
Kami selaku penulis berharap semoga kelak makalah ini dapat berguna dan juga
bermanfaat serta menambah wawasan tentang pengetahuan.
Makalah ini kami sangat menyadari masih sangat banyak terdapat
kekurangan dan masih butuh saran untuk perbaikannya. Oleh Karena itu kami
sangat berterimakasih jika ada yang sudi memberi saran dan kritiknya demi
perbaikan makalah ini.
Semoga makalah yang sederhana ini bisa dengan mudah dimengerti dan
dapat dipahami maknanya. Kami minta maaf bila ada kesalahan kata dalam
penulisan makalah ini, serta bila ada kalimat yang kurang berkenan di hati
pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb.

Pekanbaru, Oktober 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ......................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ..............................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................2
1.3 Tujuan ........................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian jamur patogen ............................................................3
2.2 Jamur – jamur yang patogen .....................................................3
2.3 Pengertian jamur kontaminan .................................................... 16
2.4 Jamur – jamur yang kontaminan ............................................... 16
BAB III PENUTUP
3.1Kesimpulan ............................................................................... 24
3.2 Saran ....................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 25

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menjumpai jamur. Jamur adalah nama
regnum dari sekelompok besar makhluk hidupeukariotikheterotrof yang mencerna
makanannya di luar tubuh lalu menyerap molekul nutrisi ke dalam sel-selnya. Jamur
memiliki bermacam-macam bentuk.Umumnya jamur berukuran mikroskopis, oleh
karena itu studi tentang jamur ini baru dimulai setelah penemuan mikroskop oleh
Van Leeuwnhoek pada abab ke 17.
Banyak jamur yang menimbulkan penyakit pada makhluk hidup lainnya.Seperti
gatal-gatal pada kulit, kerusakan dermis pada manusia serta penyakit yang dapat
menimbulkan ematian pada hewan maupun tanaman. Selain itu jamur juga
menyebabkan pembusukan bahan pangan dengan cara merusak jaringan dan
akhirnya merusak makanan tersebut. Selain menghancurkan jaringan tanaman
secara langsung, beberapa patogen tanaman merusak tanaman dengan menghasilkan
racun kuat.Jamur juga bertanggung jawab untuk pembusukan makanan dan
membusuk tanaman disimpan.Walaupun terdapat jamur yang menguntungkan.
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang jamur-jamur yang
menyebabkan penyakit baik pada manusia(pathogen), kerusakan bahan
pangan.(kontaminan). Disekitar kita sering ditemukan penyakit yang disebabkan
oleh jamur, termasuk tanah, tanaman, pohon, dan bahkan pada kulit kita dan bagian
lain dari tubuh.Gejala infeksi jamur tergantung pada jenis dan lokasi di dalam
tubuh.Infeksi jamur mungkin ringan, dalam bentuk ruam atau masalah pernapasan
ringan.Namun, beberapa penyakit yang disebabkan oleh jamur bisa berat dan dapat
menyebabkan komplikasi serius dan kematian.

4
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud jamur patogen ?
b. Apayang dimaksud jamur kontaminan?
c. Apa saja yang termasuk jamur patogen?
d. Apa saja yang termasuk jamur kontaminan?

1.3 Tujuan
a. untuk mengetahui pengertian patogen
b. untuk mengetahui pengertian kontamianan
c. Untuk mengetahui jamur yang tergolong patogen
d. Untuk mengetahui jamur yang tergolong kontaminan

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian jamurPatogen

Patogen adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Sebutan
lain dari patogen adalah mikroorganisme parasit. Umumnya istilah ini diberikan untuk
agen yang mengacaukan fisiologi normal hewan atau tumbuhan multiseluler (Warren,
2008). Patogen juga merupakan salah satu organisme pengganggu yang dapat
menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan
kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia Patogenesitas adalah kemampuan
pathogen menyebabkan penyakit, sedangkan inokulum adalah patogen atau bagian
patogen yang dapat meyebabkan infeksi .

2.2 Jamur-jamur yang patogen

A. Blastomyces dermatitidis

Blastomycosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi dari Blastomyces


dermatitidis, penyakit ini terutama menyerang paru-paru dan kemudian dapat menyebar
ke seluruh tubuh lewat mengalirnya darah. Penyakit Gilchrist atau Blastomikosis adalah
penyakit menular yang disebabkan oleh cendawan dimorfikBlastomyces dermatitidis.
Cendawan B. dermatitidis banyak ditemukan di tanah yang mengandung sisa-sisa bahan
organik dan kotoran hewan.Ketika konidia (salah satu bagian tubuh) dari B. dermatitidis
terhirup oleh manusia melalui sistem pernafasan maka akan terjadi perubahan bentuk
dari miselium menjadi khamir dan sistem imun manusia tidak sempat menghasilkan
respon imun terhadap perubahan tersebut.Agen penyakit akan menyebar melalui sistem
limfa dan aliran darah.

6
.

1. Morfologi
Blastomyces dermatitidis dikatakan bersifat dimorfik karena fungi ini memiliki dua
bentuk yaitu bentuk hifa dan ragi yang berkembang pada kondisi pertumbuhan yang
berbeda dalam artian pada temperatur yang berbeda yakni pada suhu 250C dan 370C.
a. Pada suhu 250C → mold phase/ mycelialform/ bentuk hifa. Ketika ditanam
pada agar Sabaraud terbentuk koloni putih atau kecokelatan dengan hifa
bercabang yang menghasilkan konidia bulat, ovoid atau pilliform
(berdiameter 3-5 µm) pada konidia lateral/ ujung yang langsing.
Chlamydospora yang lebih besar(7-18 µm) bisa juga dihasilkan.
Membutuhkan 2-3 minggu untuk ditumbuhkan pada suhu 250C atau pada
suhu kamar.

b. Pada suhu 370C →yeast form/ bentuk ragi Dalam jaringan atau biakan pada
suhu 370C, Blastomyces dermatitidis tumbuh sebagai ragi bulat, multinuklear
berdinding tebal(8-15 µm) yang biasanya menghasilkan tunas tunggal. Tunas
dan sel yeast induk menempel pada suatu dasar yang luas, dan tunas ini bisa
membesar hingga berukuran sama dengan sel yeast induk sebelum mereka

7
terlepas. Sel yeast ibu dengan anak yang masih melekat disebut
blasoconidia.Koloni berkerut seperti lilin dan lembut.Membutuhkan 7-10
hariuntuk tumbuh menjadi bentuk ragi.

2. Gejala
Gejala penyakit ini dimulai dengan timbulnya demam yang cukup tinggi bahkan
hingga menggigil dan terdapat pula keringat yang cukup banyak. Bisa juga di sertai
batuk berdahak yang cukup parah ( tetapi masih dalam kondisi wajar ) maupun kering,
nyeri dada dan kesulitan bernafas atau pernapasan terganggu. kulit dimulai dengan
benjolan kecil (papula) dan bisa juga benjolan tersebut berisi nanah (papulopustula), dan
penyakit ini akan menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah. Kemudian akan
timbul kutil yang dikelilingi abses atau penimbunan nanah. Apabila terjadi pada tulang
maka akan timbul pembengkakan disertai nyeri pada tulang tersebut.Dan pada laki-laki
biasanya terjadi pembengkakan epididimis disertai nyeri atau prostatitis.
3.Diagnosis
a. Bahan klinis:
Kerokan kulit, sputum dan bilas bronkus, cairan serebrospinal,cairan pleura,
dan darah, sumsum tulang, urin dan biopsi jaringan dari berbagai organ
dalam.
b. Mikroskopik langsung:
-Kerokan kulit harus diperiksa menggunakanKOH 10% dan tinta Parker atau
calcofluor white mounts
-Eksudat dan cairan tubuh harus disentrifugasi dan sedimennya diperiksa
dengan menggunakan KOH 10% dan tinta Parker atau calcofluor white
mounts.

8
B. Sporotrichum schenckii.

Sporotrichosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur dimorfik Sporothrix
schenkii. Umumnya jamur ini menginfeksi dermis dan subkutis. Selain itu, jamur ini
dapat menyebabkan infeksi sistemik dengan gangguan paru-paru, arthritis hingga
meningitis. Dengan kata lain, jamur ini dapat menyebabkan infeksi lokal (subkutan)
maupun sistemik. Lesi biasanya terletak pada ekstremitas, yang dimulai dengan bentuk
nodul. Kemudian nodul tumbuh, saluran limfe menjadi keras seperti kawat dan
membentuk rangkaian nodul, nodul ini menjadi lunak dan membentuk ulkus.
Kadang-kadang di dalam jaringan, sel jamur dikelilingi sebuah rumbai refraktil eosinofil,
badan asteroid, yang merupakan karakteristik organisme.Sporotrikosis memiliki sinonim
sebagai rose gardener’s disease. Hal ini disebabkan oleh adanya kontaminasi dari duri
mawar sebagai faktor penting infeksi dari sporotrikosis.

1.Etiologi

Telah disebutkan di atas bahwa sporotrikosis disebabkan oleh jamur Sporothrix


schenkii, termasuk dalam genus Sporotrichum jamur ini memiliki 2 bentuk yaitu bentuk
miselial dan bentuk ragi (yeast)yaitu :

a. Bentuk miselial ditandai dengan adanya hifa ramping yang bersepta dan
bercabang yang mengandung konidiofor tipis yang pada ujungnya membentuk
vesikel kecil yang bergabung membentuk dentikel. Tiap ventikel menghasilkan
satu konidium dengan ukuran kira-kira 2-4 µm dan konidia ini ini membentuk
gambaran seperti bunga.

Gambar konidiofor dan konidia

9
b. Sedangkan bentuk ragi dari jamur Sporothrix schenkii menunjukkanbentuk
spindle dan/atau oval dengan ukuran 2,5-5 µm dan menyerupai bentuk cerutu.
Biakan secara in vitro dapat menunjukkan gambaran miselial pada suhu 25 ºC,
sedangkan gambaran ragi dapat ditemukan pada biakan dengan temperatur 37 ºC.

Gambar bentuk ragi dari jamur Sporothrix schenkii

2. Gambaran klinik
Sporotrikosis dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelompok yaitu: (1) limfokutaneus,
(2) fixed cutaneus, (3) disseminated, dan(4) ekstrakutaneus. Bentuk limfokutaneus
adalah bentuk yang paling umum, sekitar 75% dari seluruh kasus. Biasanya setelah masa
inkubasi 1-10 minggu atau lebih, lesi berwarna ungu kemerahan, nekrotik, lesi nodular
kutaneus mengikuti jalur limfatik dan biasanya membentuk ulserasi.Selain itu pada
bentuk limfokutaneus tidak dijumpai adanya gejala sistemik. Isolasi pada tempat lesi ini
tumbuh baik pada temperatur 35 ºC dan 37 ºC. Fixed cutaneusmumnya pada saat awal
lesi berupa nodul yang tidak nyeri yang kemudian menjadi lunak dan pecah menjadi
ulkus dengan discharge yang serous ataupun purulen. Yang penting diingat bahwa, lesi
tetap terlokalisir di sekitar tempat implantasi awal dan tidak menyebar sepanjang saluran
limfe. Infeksi disseminated seperti infeksi sporotrikosis visceral, osteoartikular,
meningeal, dan sporotrikosis pulmoner sering terjadi pada pasien dengan penyakit
penyerta seperti diabetes melitus, keganasan hematologi, alkoholisme, penggunaan agen
immunocompromised, penyakit paru menahun, dan infeksi HIV.
3. Pemeriksaan Penunjang

10
Sumber terbaik dari bahan untuk diagnostik adalah pulasan eksudat dan biopsi.
Sporothrix schenkii sangat jarang terlihat pada pemeriksaan mikroskopis langsung
karena raginya biasanya muncul hanya pada jumlah kecil; organiseme penyebab dapat
diisolasi dengan membacanya pada agar Saboraud’s. Pada kultur yang pertama kali,
jamur tumbuh sekaligus dan berkembang menjadi jamur dengan kepadatan dan koloni
putih yang menggelap sesuai usia. Secara miroskopis, hifa memproduksi konidia segitiga
atau konidia oval yang kecil yang keduanya ada pada hifa yang khusus pada miselium.

Gambar Jamur Sporothrix schenkii pada media agar Saborau

C. Coccidioides immitis.
Coccidioides immitis adalah suatu jamur tanah yang menyebabkan koksidioidomikosis
(Demam San Joaquin, Demam Lembah).Valley Fever, disebut demikian karena infeksi
ini berasal dari koksidioidomikosis yang sifatnya endemik pada beberapa daerah kering
di Barat daya Amerika Serikat dan Amerika Latin.Koksidioidomikosis biasanya
menyerang paru-paru.Tetapi infeksi ini biasanya sembuh sendiri, penyebaran jarang
terjadi, tetapi sifatnya mematikan.
1. Morfologi

Coccidioides immitis adalah jamur dimorfik.Di tanah dan dalam biakkan suhu kamar
Coccidioides immitis membentuk koloni filamen.Hifa jamur ini membentuk artrospora
dan mengalami fragmentasi.Artrospora ini ringan dan mudah terbawa oleh angin dan
terhirup ke dalam paru.Pada suhu 37 °C, Coccidioides immitis membentuk koloni yang

11
terdiri dari sferul yang berisi endospora.
Daerah endemik Coccidioides immitis adalah daerah – daerah kering.Jamur ini
ditemukan dalam tanah dan jaringan binatang pengerat.Di dalam tanah, terjadi
pembentukan artrospora dan berkecambah.Sedangkan di dalam jaringan binatang
pengerat, terjadi pembentukan sferul dengan endospora.Tetapi saat dilakukan penelitian,
binatang pengerat yang terinfeksi jamur ini tidak menambah penyebarannya dengan
menularkannya pada manusia.Jadi peluang terbesar terhadap infeksi Coccidioides
immitis ini adalah lewat tanah.Miselium dari jamur ini ada di tanah.Miselium itu
mengandung hifa yang merupakan alat perkembangbiakan vegetative jamur.Hifanya
berupa Hifa “aerial”.Hifa ini memiliki banyak inti sel dengan jalur – jalur sitoplasma
berjalan melalui septum spora diantara sel – sel. Hifa ini secara bergantian membentuk
artospora dan sel – sel kosong.
Artrospora ini sifatnya ringan, mengapung di udara , dan sangat mudah menimbulkan
infeksi. Jika Artrospora ini terhirup oleh manusia, spora – spora yang menular ini
berkembang menjadi sferul jaringan.Sferul ini bentuknya bulat seperti bola yang garis
tengahnya 15 – 60 µm dengan dinding yang tebal dan berbias ganda. Endospora nantinya
akan terbentuk dalam sferul tersebut dan mengisinya. Waktu dindingnya pecah,
endospora dikeluarkan ke dalam jaringan sekitarnya (dalam tubuh manusia), dimana
endospora membesar membentuk sferul yang baru.Di dalam tubuh manusia terdapat
bentuk bulatan – bulatan kecil tempat tumbuhnya endospora. Endospora dilepaskan saat
sudah masak, lalu membengkak dan menjadi bulatan-bulatan baru.

Gambar Coccidioides immitis

2. Gambaran Klinik

12
Gejala yang ditimbulkan koksidioidomikosis primer akut antara infeksi paru – paru
yang ringan, yang biasanya tanpa gejala.Kalaupun ada baru timbul 1 – 3 minggu setelah
terinfeksi. Gejala – gejalanya antara lain batuk berdahak, yang mungkin bisa sampai
batuk darah, nyeri dada, demam dan menggigil.Koksidioidomikosis Progresif
infeksinya adalah menyebar dan berakibat fatal.Bentuk ini biasanya merupakan pertanda
bahwa seseorang yang telah terinfeksi telah mengalami gangguan system
kekebalan.Gejala – gejalanya biasanya berupa demam ringan, nafsu makan hilang, berat
badan turun, dan badan terasa lemah.Pada kasus ini, infeksi juga menyebar ke tulang,
sendi, hati, limpa, ginjal dan otak.
3. Diagnosis
Diagnosis koksidioidomikosis didasarkan atas:
a. Pemeriksaan langsung : kerokan kelainan kulit, dahak atau bilasan bronkus.
Pewarnaan khusus oleh jamur pada jaringan (terlihat bulatan – bulatan kecil
berisi endospora: tidak terlihat sel – sel ragi bertunas)
b. Biakan dari dahak, bilasan bronkus, biopsy atau kerokan kulit (bahan-bahan ini
sangat menular)
c. Serologi diagnostik yaitu:
- Tes presipitin tabung untuk mengukur titer IgM
- Reaksi peningkatan komplemen untuk mengukur titer IgG
- Aglutinasi lateks dan uji imunodifusi sebagai alat penyaring pada daerah
endemic ternyata dapat mendeteksi 93% kasus
d. Tes kulit pada stadium awal infeksi

D. Candida albicans
Candida albicans adalah spesies jamur patogen dari golongan deuteromycota.
Spesies cendawan ini merupakan penyebab infeksi oportunistik yang disebut kandidiasis
pada kulit, mukosa, dan organ dalam manusia.
1. Morfologi
Berbentuk seperti telur (ovoid) atau sferis dengan diameter 3-5 µm dan dapat
memproduksi pseudohifa.Spesies Candida albicansmemiliki dua jenis morfologi, yaitu

13
bentuk seperti khamir dan bentuk hifa.Selain itu, fenotipe atau penampakan
mikroorganisme ini juga dapat berubah dari berwarna putih dan rata menjadi kerut tidak
beraturan, berbentuk bintang, lingkaran, bentuk seperti topi, dan tidak tembus
cahaya.Jamur ini memiliki kemampuan untuk menempel pada sel inang dan melakukan
kolonisasi. Candida albicans merupakan jamur dimorfik karena kemampuannya untuk
tumbuh dalam dua bentuk yang berbeda yaitu sebagai sel tunas yang akan berkembang
menjadi blastospora dan menghasilkan kecambah yang akan membentuk hifa semu.

Gambar Candida albican


2. Gambaran klinik
Kandidiasis vagina sering disebut infeksi jamur adalam masalah yang mempengaruhi
hampir 75% dari wanita dewasa dalam hidup mereka.Gejala gatal dan keluarnya tebal
putih dan juga dapat hubungan dengan seksual dan nyeri buang air. Gejala infeksi mulit
ini spesies candida biasanya memunculkan kumpulan lapisan kental bewarna putih atau
krem pada membrane mukosa pada mukosa mulut yang terinfeksi mungkin muncul
radang(warna merah).
3. Diagnosis
a. Pemeriksaan langsung : kerokan kelainan kulit, dahak , Pewarnaan khusus oleh
jamur pada jaringan
b. Biakan dari dahak, bilasan bronkus, biopsy atau kerokan kulit (bahan-bahan ini
sangat menular)

14
c. Tes kulit : tes Candida pada orang dewasa normal hampir selalu positif.
Olehkarena itu tes tersebut digunakan sebagai indikator kompetensi imunitas
selular

E. Epidermophyton floccosum
Epidermophyton floocosum merupakan jamur yang termasuk kelas
Deuteromycotina mempunyai ciri-ciri yaitu dinding selnya tersusun atas zat kitin,
multiseluler, hifa bersekat, dibedakan tipe hifa Primer (berinti satu) dan sekunder (berinti
dua), mengandung inti haploid, Memiliki keturunan diploid lebih singkat, dan reproduksi
vegetative dengan membentuk konidiospora. Jamur ini yang meyebabkan penyakit kutu
air atau menyebabkan penyakit pada kelainan kulit contohnya pada tinea korporis,tinea
cruris dan tinea pedis.
1. Morfologi
Epidermophyton floccosum Memiliki dinding halus sekitar 1-1,5 mikrometer dengan
kurang dari 10 dinding bagian dalam macroconidia tersebut. Mempunyai makrokonidia
berbentuk tongkat, terdiri atas satu sampai lima sel. berdiniding tebal dan terdirin atas 2-4
sel dan tersusun pada satu konidiofora.beberapa makrokonidia ini tersusun pada satu
konidiofor mempunyai bentuk hifa yang lebarnya biasanya mikrokonidia tidak
ditemukan. Pada gambaran mikroskopis bentuk hifa lebar,dan tersusun pada satu
konidiofora,

Morfologi Koloni di mikroskop epidermophyton floocosum bewarna kuning


kehijauan, yang dengan mudah bermutasi menjadi bentuk pertumbuhan berlebihan

15
bewarna putih sekali, sementara oranye sampai coklat di balik dengan perbatasan kuning
sesekali, mengangkat dan melipat di tengah, dengan pinggiran datar dan pinggiran
terendam pertumbuhan sementara budaya yang lebih tua dapat mengembangkan jumbai
pleomorfik putih miselium.Tekstur koloni datar , awalnya kasar dan menjadi radial
beralur , felty dan beludru dengan pematangan dan cepat menjadi berbulu halus dan steril

F. Malassezia furfur.
Malassezia furfur adalah jamur flora normal, termasuk golongan jamur non
dermatofitosis (penyakit pada jaringan yang tidak mengandung zat
tanduk/keratin/semua zat kalsium) yang menyerang pada kulit manusia. Jamur ini
menjadi penyebab terjadinya infeksi kulit superfisial yaitu pitiriasis versikolor (panu)
dan folliculitis. Adakalanya, pada immunocompromised host (kekebalan tubuh inang)
dapat menyebabkan peradangan
1. Morfologi
Malassezia furfur merupakan “Lipophilic yeast” (jamur yang hanya bisa tumbuh
pada jaringan lemak) berupa kelompok sel-sel bulat, bertunas, berdinding tebal, hifanya
berbatang pendek dan tidak lurus.Malassezia sp menghasilkan konidia sangat kecil atau
mikrokonidia padahifanya, tetapi disamping itu juga menghasilkan makrokonidia besar
dan berbentuk gelendong yang jauh lebih besar daripada mikrokonidianya.

Gambar malasezzia fur fur

2. Gejala Klinis

16
Lesi biasanya ditemukan di daerah ketiak, punggung, dan daerah lipatan tubuh.Lesi
dimulai dengan bercak kecil tipis yang kemudian menjadi banyak dan menyebar, disertai
adanya sisik.Kelainan kulit pada penderita panu tampak jelas, sebab pada orang kulit
berwarna merupakan bercak dengan hipopigmentasi, sedangkan pada orang kulit putih,
sebagai bercak dengan hiperpigmentasi.Dengan demikian warna kelainan kulit dapat
bermacam-macam (versikolor). Biasanya tidak ada keluhan, hanya ada rasa gatal saat
berkeringat, dan ada perasaan malu yang beralasan kosmetik
3. Diagnosa
Diagnosa penyakit pitiriasis versikolor adalah dengan penyinaran sinar ultra violet
pada kulit yang diduga terkena pitiriasis versikolor, maka akan tampak fluoresensi hijau
kebiru-biruan. Dilakukan juga pemeriksaan langsung dengan kerokan kulit dan
penambahan KOH 10%,maka akan tampak jamur yang berkelompok seperti sphagetti

G. Aspergillus fumigatus
adalah suatu jamur yang termasuk dalam kelas Ascomycetes yang dapat ditemukan
dimana–mana di alam ini. Ia tumbuh sebagai saprofit pada tumbuh-tumbuhan yang
membusuk dan terdapat pula pada tanah, debu organik, makanan dan merupakan
kontaminan yang lazim ditemukan di rumah sakit dan Laboratorium. Aspergillus adalah
jamur yang membentuk filamen-filamen panjang bercabang, dan dalam media biakan
membentuk miselia dan konidiospora. Aspergillus berkembang biak dengan
pembentukan hifa atau tunas dan menghasilkan konidiofora pembentuk spora. Sporanya
tersebar bebas di udara terbuka sehingga inhalasinya tidak dapat dihindarkan dan masuk
melalui saluran pernapasan ke dalam paru.
1. Morfologi
MakroskopisAspergillus fumigatus membentuk koloni berwarna hijau berkabut
dengan tekstur seperti beludru.Gambaran mikroskopisAspergillus fumigatus memiliki
tangkai-tangkai panjang (konidiofor), konidiofora berseptat atau nonseptat yang muncul
dari sel kaki, pada ujung konidiofor muncul sebuah gelembung, keluar dari gelembung
ini muncul sterigma, pada sterigma muncul konidium–konidium yang tersusun berurutan
mirip bentuk untaian mutiara yang mendukung kepalanya yang besar (vesikel). Di kepala

17
ini terdapat spora yang membangkitkan sel hasil dari rantai panjang spora. Aspergillus
fumigatus ini mampu tumbuh pada suhu 37°C.Aspergillus fumigatus ini mampu tumbuh
pada suhu 37° C. Spesies Aspergillus secara alamiah ada dimana–mana, terutama pada
makanan, sayuran basi, pada sampah daun atau tumpukan kompos. Konidia biasanya
terdapat di udara baik di dalam maupun di luar ruangan dan sepanjang
tahun.Penyebarannya melalui inhalasi konidia yang ada di udara.

Gambar Aspergillus fumigates

2.3 Pengertian Jamur kontaminan


Jamur dapat memanfaatkan berbagai senyawa untuk hidupnya, dan memerlukan
oksigen agar dapat hidup (bersifat aerob). Rentang suhu optimalnya (suhu terbaik
dimana pertumbuhan jamur dapat maksimal) adalah 20-35oC.Jamur masih Stumbuh
dalam refrigerator, yaitu suhu antara 10-15oC.Pertumbuhan jamur pada pangan dapat
menimbulkan berbagai perubahan, baik yang merugikan maupun yang
menguntungkan.jamur yang merugikan misalnya yang menyebabkan kerusakan atau
kebusukan pangan, dan yang sering menimbulkan penyakit atau keracunan pangan
(menghasilkan toksin). Sebagai contoh adalah pertumbuhan jamur pada roti dan
kacang-kacangan selama penyimpanan, busuknya buah-buahan dan sayur-sayuran,
penyakit tipus, diare, toksin tempe bongkrek, botulinin,aflatoksin, dan lain-lain.
2.4 Jamur-jamur kontaminan
A. Alternaria
Merupakan salah satu penyakit pada tanaman yang sangat merugikan petani.Penyakit
ini terutama menyerang tanaman hortikultura, seperti tanaman cabai, tomat, semangka,
melon, timun, kentang, bawang merah, bawang putih, dll.Tak hanya di lahan, menyakit

18
ini juga mampu menyerang kentang pada gudang penyimpanan. Hal yang paling
menakutkan dari serangan bercak daun ini adalah rontoknya daun secara besar-besaran,
sehingga tanaman tidak mampu melakukan proses fotosintesis. Kerugian paling fatal
akibat berhentinya proses fotosintesis adalah pertumbuhan yang terhambat. Tanaman
menjadi kerdil, kurang nutrisi, dan produksi bisa mengalami kegagalan.

1. Gejala Serangan Bercak Daun Alternaria Sp.


Adanya bercak kering berwarna coklat tua pada daun tanaman.Mula-mula bercak
berukuran kecil, makin lama melebar di permukaan daun.Serangan awal biasanya terjadi
pada daun tua di bagian bawah, lalu serangan meluas ke seluruh daun. Makin lama daun
akan menguning, dan rontok. Pada serangan parah, seluruh daun habis, sehingga
pertumbuhan tanaman merana.Cendawan ini juga menyerang buah tomat, baik tua
maupun muda, sehingga mengakibatkan buah rontok, dan produksi terancam gagal.

2. Penyebab Serangan
Cendawan Alternaria Sp. biasanya menyerak pada kondisi udara dengan
kelembaban diatas 60% dan suhu 26-32 derajat Celcius.Kondisi tersebut bisa dipicu
karena hujan terus menerus, drainase buruk, atau terlalu lama melakukan penggenangan
pada musim kemarau.Percikan air hujan dapat membantu penyebaran spora, sehingga
penularan penyakit bercak daun semakin cepat.Spora cendawan bisa bertahan dalam
benih atau sisa tanaman terserang.

3. Upaya Pengendalian Bercak Daun Alternaria Sp.

19
Upaya pengendalian harus dilakukan secara komprehensif, baik teknis maupun
kimiawi. Secara teknis dapat dilakukan dengan berbagai upaya, antara lain menggunakan
bibit tahan terhadap penyakit Alternaria Sp, pengaturan jarak tanam, penggiliran
tanaman, memusnahkan bagian tanaman terserang, dan tidak melakukan pengairan
berlebihan, terutama pada sore hari. Upaya tersebut harus dilakukan secara menyeluruh,
untuk menghindari terciptanya kondisi yang memicu serangan bercak daun Alternaria
Sp.
Secara kimiawi, dapat menggunakan fungisida berbahan aktif benomil,
karbendazim, klorotalonil, atau tembaga. Gunakan bahan aktif tersebut secara berseling,
dengan dosis atau konsentrasi sesuai pada kemasan.Penyemprotan fungisida dilakukan
secara rutin, tiga hari sekali pada musim hujan, dan seminggu sekali pada musim
kemarau.
B. Aspergilus flavus
Aspergillus flavus adalah salah satu jenis jamur yang sering mengkontaminasi
makanan. Jamur jenis ini dapat menyebabkan infeksi Aspergillosis dan juga merupakan
jamur yang paling banyak menghasilkan aflatoksin.Aflatoksin adalah jenis toksin yang
bersifat karsinogenik. Menurut Roy tahun 2008 aflatoksin dapat mengakibatkan
keracunan dengan gejala mual dan muntah, dan bila berlangsung lama penyakit yang
timbul adalah kanker hati dan berakibat meninggal dunia dan apabila seseorang
mengkonsumsi bahan pangan yang terkontaminasi aflatoksin konsentrasi rendah secara
terus-menerus, maka hal itu dapat merusak hati serta menurunkan sistem kekebalan pada
tubuh.
Jamur yang biasa tumbuh pada hasil panen yang mengandung minyak, misalnya
kacang-kacangan, jagung, cabe, biji kapas dan serealia kacang-kacangan adalah bahan
yang mengandung protein dan/atau lemak baik yang cukup tinggi, oleh karena itu
kacang-kacangan dapat menjadi sumber energi sehingga banyak yang menganggap
kacang-kacangan sebagai bahan yang penting. Selain itu, kacang-kacangan juga
mempunyai rasa yang enak, sehingga banyak masyarakat yang cenderung
menyukainya.Berbagai kontaminan dapat mencemari sehingga makanan ini menjadi
tidak layak dikonsumsi. Jamur penghasil mikotoksin diketahui banyak tumbuh pada

20
substrat alami, antara lain bahan makanan. Apabila makanan yang mengandung kacang
ini terkontaminasi oleh jamur Aspergillus flavus maka dikhawatirkan jamur tersebut
akan menghasilkan aflatoksin yang dapat menimbulkan penyakit.

C. Botrytis cinerea
Botrytis cinerea merupakan jamur yang menular lewat angin dan dapat bertahan lama
di dalam tanah dalam bentuk butiran kecil/bintil berwarna gelap. Nodul ini dikenal
dengan sebutan sclerotia hingga kemudian menjadi spora. Dengan temperatur -2oC
hingga 33 oC ia dapat bertahan lama di dalam tanah. Jamur Botrytis mudah beradaptasi
dengan baik di lingkungan kita dengan menumpang hidup pada bahan-bahan organic
tanah atau sisa-sisa akar tanaman yang telah mati. Setelah Sclerotia menjadi spora, maka
ia akan siap menginfeksi tanaman anda.

Gambar Botrytis cinerea

1. Penyebaran

21
Air dan hembusan angin merupakan pembawa yang paling efektif dalam proses
penularan Botrytis pada tanaman pada fase spora. Selain itu beberapa jenis serangga
seperti lebah dan aphid juga merupakan pembawa potensial jamur ini.Cuaca yang dingin
dengan temperature rendah serta kelembaban yang tinggi seperti pada umumnya di
daerah Indonesia merupakan factor yang mendukung daur hidupnya.
2. Serangan Pada Tanaman
Botrytis cinerea merupakan jamur parasit yang akan menyerang tanaman yang
sedang dalam kondisi lemah, biasanya pada musim hujan tanaman akan mudah stress,
oleh karena itu vigor dan daya tahan tanaman perlu dijaga secara baik. Spora Botrytis
sebenarnya tidak dapat menyerang daun atau cabang yang utuh, ia hanya dapat
menyerang daun dengan kondisi epidermis yang terbuka misalnya bagian daun yang
terluka atau patahan ranting. Temperatur rendah 15 oC hingga 20 oC, tetesan air yang
tertinggal di daun pada kondisi kelembaban tinggi juga mempercepat infeksi oleh jamur
ini pada tanaman. Kondisi air yang melimpah di lahan juga mendukung jamur Botrytis
dalam kondisi yang sehat, sehingga proses perbanyakan dirinya akan berlangsung cepat.
Setelah masuk ke jaringan tanaman, jamur Botrytisakan membelah diri secara aktif dan
menghasilkan spora. Hal ini dapat kita lihat pada kumpulan debu yang tersebar di
beberapa bagian tanaman yang terserang. Debu sporta Botrytis sendiri dapat
mengakibatkan infeksi sekunder yang akan menyerang tanaman lain di sekitarnya.
Kelebihan pupuk nitrogen (urea) atau pemberian nutrisi tanaman yang tidak seimbang
akan menguntungkan jamur ini untuk menyebar. Periode inkubasinya berlangsung
selama 15 jam.
3. Gejala serangan
Beberapa ciri serangan awal Jamur Botrytis cinerea pada tanaman antara lain adalah
munculnya area kehitaman yang dikelilingi dengan bulu-bulu halus berwarna abu-abu
pada beberapa bagian tanaman yang diserang. Kemudian tangkai bunga akan gugur,
pucuk baru yang muncul akan mengering, dan batang akan mati. Baik daun maupun
bunganya akan tampak layu. Ciri lain biasanya juga akan terlihat dari munculnya noda
seperti bintik atau yang disebut “ghost spots” pada bunga, batang, dan daun. bintik ini
akan ditandai dengan cincin berwarna gelap di sekitarnya.

22
Tanda-tanda serangan serangan Botrytis pada bunga dan daun biasanya akan terlihat
seperti ciri serangan busuk lunak Erwinia sp. Tetapi keduanya dapat dibedakan dengan
bentuk spora yang berbeda, jika Botrytis akan terlihat seperti berdebu, maka serangan
busuk lunak Erwinia sp. Akan terlihat seperti berwarna kehitaman dan lunak saja.

D. Geothricum
Geotrichum biasanya ditemukan di dalam tanah, air, udara, kotoran dan dapat
ditemukan di tanaman, tekstil kertas, sereal, dan produk susu. Hal ini digolongkan dalam
kelompok ragi dan sementara itu telah bervariasi jenis, ada kelompok-kelompok tertentu
yang menonjol dan karena itu dianggap sebagai spesies yang paling umum.
Geotrichum spesies yang diketahui beberapa cepat melalui proses yang dikenal sebagai
arthrospores dan dalam kebanyakan kasus, hal itu mempengaruhi manusia jika tertelan
melalui produk-produk makanan yang mengandung spesies seperti susu, produk susu,
dan beberapa kelompok tertentu sereal, yang berisi spesies. Ada beragam versi
melaporkan apakah, Geotrichum negatif mempengaruhi manusia dengan sebagian dari
mereka mengelompokkan sebagai bagian dari flora manusia, dan dengan demikian, tidak
ada didokumentasikan fakta yang membuktikan hal itu mempengaruhi orang-orang
negatif. Namun, ada fakta lain yang menyatakan bahwa dalam banyak kasus, Geotrichum
mempengaruhi saluran usus dan dengan demikian dapat mengakibatkan sejumlah infeksi
jamur. Beberapa gejala yang paling umum yang telah dikaitkan dengan spesies ini
termasuk infeksi paru dan bronkial yang disebabkan oleh jumlah spesies bervariasi.
Gambaran yang paling umum digunakan untuk spesies mengindikasikan bahwa
mereka biasanya putih, tepung, dan kering dan jika tidak mereka akan menyerupai koloni
katun, yang terlihat seperti rumput tanah. Namun ketika mereka terganggu sedikit,
mereka mengubah koloni ini sering mengubah bentuk dan menganggap tampilan ragi
atau berlendir. Jika Anda ingin menyingkirkan Geotrichum dari sereal dan susu, selalu
memastikan bahwa mereka tetap di atas tiga puluh tujuh derajat celcius karena mayoritas
dari strain melakukannya dengan baik dalam derajat 25 derajat minimal dan sangat
sedikit bertahan hidup di tiga puluh tujuh.
1. Morfologi

23
Merupakan fungi yang menyerupai khamir, berwarna putih, kuning, orange, atau
merah,Sering tumbuh pada produk susu membentuk koloni berwarna putih
kekuningan.Hifanya septat, dani biasanya bercabang.Spora aseksualnya adalah artospora
(oidia) berbentuk silinder jika berasal dari hifa di bawah permukaan atau berbentuk oval
jika berasal dari hifa aerial (di atas) permukaan.

Gambar Geotrichum

E. Mucor
Adalah kapang bersifat mesofilik, yaitu tumbuh baik pada suhu kamar sekitar 25-30
0
C.Kapang ini juga bersifat aerobik yaitu membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya.
Kebanyakan mucor dapat tumbuh pada kisaran pH yang luas yaitu 2-8,5 tapi biasanya
pertumbuhannya akan lebih pada kondisi pH (asam rendah ).
Kapang ini termasuk fungi multiselular yang mempunyai filament, yang
pertumbuhannya pada makanan mudah dilihat karena penampakannya yang berserabut
seperti kapas.Pertumbuhannya mula-mula akan berwarna putih, tetapi jika spora telah
timbul akan terbentuk warna hitam.
Kapang ini terdiri dari satu thallus yang tersusun dari filament yang bercabang
disebut hifa (tunggal = hypha, jamak = hyphae). Kumpulan dari hifa ini disebut miselium
(tunggal = mycelium, jamak = mycelia). Hifa tumbuh dari spora yang melakukan
germinasi membentuk suatu tuba grem, dimana tuba ini akan tumbuh terus membentuk
filament yang panjang dan bercabang disebut hifa, kemudian seterusnya akan
membentuk suatu masa hifa yang disebut miselium.
Hifa tumbuh dibawah permukaan yaitu terendam dalam substrat/makanan, atau
pertumbuhannya mungkin muncul diatas substrat /makanan. Pada mucor terdapat dua

24
macam hifa yaitu : hifa vegetatif atau hifa tumbuh, dan hifa fertil membentuk bagian
reproduksi. Penyerapan nutrient terjadi pada permukaan miselium.
Mucor juga disebut fungi dimorfik karena dapat berubah dari bentuk filamenmenjadi
bentuk seperti khamir.Pertumbuhan yang menyerupai khamir dirangsang jika kondisinya
anaerobic dan dengan adanya CO2.
Ciri-ciri spesifik mucor pada pertumbuhan adalah sebagai berikut :
a) Hifa nonseptat
b) Sporangiofora tumbuh pada seluruh bagian miselium, bentuknya sederhana atau
bercabang
c) Kolumela berbentuk bulat, silinder atau seperti buah advokat
d) Spora halus dan teratur
e) Suspensor zigospora sama besar
f) Tidak membentuk stolon, rhizoid sporangiola (sporangia kecil yang mengandung
beberapa spora).

Gambar mucor

BAB III

25
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Patogen adalah agen biologis yang menyebabkan penyakit pada inangnya. Sebutan
lain dari patogen adalah mikroorganisme parasit. Umumnya istilah ini diberikan untuk
agen yang mengacaukan fisiologi normal hewan atau tumbuhan multiseluler.Jamur
patogen yaitu Blastomyces dermatitidis, Sporotrichum schenckii. Coccidioides immitis.
Candida albicans, Epidermophyton floccosum, Malassezia furtur, aspegilus fuminatum
Jamur kontaminan adalah jamur yang dapat memanfaatkan berbagai senyawa untuk
hidupnya, dan memerlukan oksigen agar dapat hidup (bersifat aerob). Rentang suhu
optimalnya (suhu terbaik dimana pertumbuhan jamur dapat maksimal) adalah 20-35oC.
Jamur yang tergolong jamur kontaminan adalah Alternaria Sp. Botrytis, Geothricum
mucor, Aspergillus flavus

3.2 Saran
Mengetahui jamur yang patogen pada manusia dan jamur kontaminan dalam
lingkungan sekitar perlu untuk diketahui oleh semua orang, serta bahaya yang dapat
ditimbulkan oleh jamur tersebut. Jika sudah mengetahu jamur tersebut diharapkan
apabila mengalami gejala atau mencurigai adanya jamur yang menginfeksi akan segera
diperiksakan.

26
DAFTAR PUSTAKA

Jawetz, melnic & Adelberg.1996.Mikrobiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta : EGC

Brown, R.G., Burns,T. 2005. Infeksi Jamur. Dalam :Lecture Notes Dermatologi. Edisi
8.Jakarta : Erlangga. pp:38-40.
Budimulya, U. 2001. Dermatomikosis Superfisialis, Pedoman Untuk Dokter dan
Mahasiswa Kedokteran. Jakarta, FK UI, pp:58-72.
Suprihatin, S.D. 1982. Candida dan Kandidiasis pada Manusia. Jakarta, FK UI, hal
9-24.

27

Anda mungkin juga menyukai