Anda di halaman 1dari 42

TUGAS MATA KULIAH

FARMASI KOMUNITAS

OLEH
JUNAEDY A. BAITANU
17.01.337

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI


MAKASSAR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014, Bab 1, Pasal 1(4)

menyebutkan bahwa “Resep adalah permintaan tertulis dari dokter atau dokter

gigi kepada apoteker, baik dalam bentuk paper maupun electronic untuk

menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai peraturan yang

berlaku”.

Sandy 2010 menyatakan bahwa resep yang baik harus memuat cukup

informasi yang memungkinkan ahli farmasi yang bersangkutan mengerti obat

apa yang akan diberikan kepada pasien. Namun pada kenyataanya, masih

banyak permasalahan yang ditemui dalam peresepan. Beberapa contoh

permasalahan dalam peresepan adalah kurang lengkapnya informasi pada

pasien, penulisan resep yang tidak jelas atau sulit untuk dibaca, kesalahan

penulisan dosis, tidak dicantumkannya aturan pemakaian oba yang jelas, tidaka

menuliskan rute pemberian obat, dan tidak mencantumkan tanda tangan atau

paraf dokter (Cahyono, 2008). Banyak faktor yang mempengaruhi

permasalahan dalam peresepan, sehingga diperlukan kepatuhan dokter dalam

melaksanakan aturan-aturan dalam penulisan resep sesuai undang-undang yang

berlaku (Gibson et al, 1996).


Permasalahan dalam peresepan merupakan salah satu kejadian

medication error. Menurut Surat Keputusn Menteri Kesehatan RI Nomor

1027/MENKES/SK/IX/2004 menyebutkan bahwa medication error adalah

kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam

penanganan tenaga kesehatan yang sebetulnya dapat dicegah. Bentuk

medication error yang terjadi adalah pada fase prescribing (error terjadi pada

penulisan resep) yaitu kesalahan yang terjadi selama proses peresepan obat atau

penulisan resep. Dampak dari kesalahan tersebut sangat beragam, mulai yang

tidak memberi resiko sama sekali hingga terjadinya kecacatan atau bahkan

kematian (Dwiprahasti dan Kristin, 2008). Selain itu, Hartayu dan Aris, 2005

menyebutkan bahwa medication error yang terjadi dapat menyebabkan

kegagalan terapi, bahkan dapat timbul efek obat yang idak diharapkan seperti

terjadinya interaksi obat.

Interaksi obat didefinisikan sebagai reaksi yang terjadi antara obat

dengan senyawa kimia (obat lain, makanan) didalam tubuh maupun pada

permukaan tubuh yang dapat mempengaruhi kerja obat sehingga dapat terjadi

peningkatan/pengurangan kerja obat atau bahkan obat sama sekali tidak

menimbulkan efek. Defenisi yang lebih relevan adalah ketika obat bersaing satu

dengan yang lainnya aau yang terjadi ketika suatu obat hadir bersama dengan

obat yang lainnya (Stockley, 2008). Mekanisme interaksi obat dapat dapat

dibagi menjadi interaksi yang melibatkan aspek farmakokinetik obat dan

interaksi yang mempengaruhi respon farmakodinamik obat. Interaksi


farmakokinetik dapat terjadi pada beberapa tahap, meliputi absorbsi, distribusi,

metabolisme dan eksresi. Interaksi farmakodinamik adalah interaksi dimana

efek suatu obat diubah oleh obat lain pada tempat aksi (Fradgley, 2003).

Hasil penelitian prawitosari 2009 menemukan bahwa dalam peresepan

ditemukan ketidakjelasan penulisan signa sebanyak 50,8%, kesalahan penulisan

dosis obat sebanyak 50,8% dan paraf dokter sebanyak 6,8%. Selain itu,

penelitian oleh Octavia (2011) mendapatkan kesalahan penulisan bentuk

sediaan sebanyak 60,2%, rute pemberian 84,2% dan frekuensi penggunaan obat

75,5%. Studi lain yang dilakukan oleh Mayasari (2015) yang melibatkan 240

lembar resep, 107 lembar resep mengalami interaksi obat dengan mekanisme

interaksi farmakokinetik sebanyak 3,74%, farmakodinamik 59,81%, dan tidak

diketahui 36,45%.

1.2. Rumusan Masalah

Dari uraian diatas menunjukkan bahwa masih terdapat banyak masalah

dalam penulisan resep. Resep yang rasional harus memenuhi beberapa

persyaratan kelengkapan dalam penulisan resep diantaranya kelengkapan

administratif dan kelengkapan farmasetik. Kegiatan untuk menilai kelengkapan

persyaratan ini disebut skiring resep. Skrining resep merupakan suatu hal yang

penting untuk menjamin obat yang digunakan oleh pasien sesuai kebutuhan dan

permintaan oleh dokter yang merawatnya. Oleh karena itu makalah ini untuk

mengetahui hal-hal yang menyebabkan Ketidak lengkapan tersebut, meliputi

bagian administrasi, farmasetik, dan klinis.


1.3. Tujuan Makalah

1.3.1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari makalah ini adalah untuk mengkaji dan

menskrining beberapa contoh resep dari bebagai sumber.

1.3.2. Tujuan khusus

Secara khusus, makalah ini bertujuan untuk :

a. Mengetahui kelengkapan contoh resep ditinjau dari persyaratan

administrasi, farmasetik dan klinis.

b. Mendapatkan gambaran interaksi obat yang terdapat pada contoh

resep yang diperoleh.

1.4. Manfaat Makalah

Makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut :

1.4.1. Manfaat teoritis

Makalah ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan

dalam bidang kefarmasian pada penulisan resep yang baik dan benar

sesuai dengan peraturan yang berlaku.

1.4.2. Manfaat praktis

Hasil makalah ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam

proses peresepan sehingga dapat mendukung upaya pelaksanan patient

safety.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Resep

Menurut. Peraturan Menteri Kesehatan No. 35 tahun 2014, Bab 1,

Pasal 1(4) tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek, resep adalah

permintaan tertulis dari dokter atau dokter gigi kepada apoteker, baik dalam

bentuk paper maupun electronic untuk menyediakan dan menyerahkan obat

bagi pasien sesuai peraturan yang berlaku. Menurut WHO peresepan yang

rasional adalah memberikan obat sesuai dengan keperluan klinik, dosis sesuai

dengan kebutuhan pasien, diberikan dalam jangka waktu yang sesuai dengan

kebutuhan pasien, dan dengan biaya termurah menurut pasien (WHO, 2002).

Resep harus ditulis dengan jelas dan lengkap. Apabila resep tidak dapat dibaca

dengan jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter

penulis resep (Anief, 1997).

Filosofi dasar peresepan menurut Bernhard Fantus menyatakan bahwa

resep adalah kunci dari seluruh upaya terapi seorang dokter kepada pasiennya.

Resep dibuat berdasarkan pada diagnosis (yang didasarkan pada patofisiologi)

dan prognosis kasus di satu sisi, serta pengetahuan Farmakologi dan Terapi

seorang dokter di sisi lainnya. Kelemahan pada salah satu sisi tersebut akan

tercermin pada resep yang ditulis.


Penulisan resep dapat diartikan sebagai bentuk aplikasi pengetahuan

dokter dalam memberikan obat kepada pasien melalui kertas resep menurut

kaidah dan peraturan yang berlaku, diajukan secara tertulis kepada apoteker di

apotek. Pihak Apoteker sebagai pihak penerima resep berkewajiban melayani

secra cermat, member informasi terutama menyangkut dengan penggunaan obat

dan mengoreksi jika terjadi kesalahan dalam penulisan.Dengan demikian

pemberian obat dapat lebih rasional (Jas, 2009).

Hasil cohort study oleh Kozer et al., (2005) melibatkan 1532

peresepan pasien anak-anak di ICU Rumah Sakit Amerika yang disampling

secara random, sekitar 14% di antaranya mengalami medication error yang

terinci menjadi prescribing error (10,1%) dan drug administration error

(3,9%) (Rahatnawati, 2010).

Penelitian dari Dewi (2009) tentang studi kelengkapan resep obat pada

pasien anak di apotek wilayah kecamatan Sukoharjo bulan Oktober-Desember

2008 menunjukan bahwa adanya ketidak lengkapan resep yang dapat memicu

terjadinya medication error. Hasil penelitian menunjukkan ketidaklengkapan

resep terdapat pada unsur nama dokter (1,03%), nama pasien (2,12%), umur

(13,69%), berat badan (97,13%), alamat pasien (91,70%), potensi (41,04%),

jumlah obat (2,89%), aturan pakai (2,46%), bentuk sediaan (30,01%). Akibat

dari medication error dapat merugikan pasien, terlebih pada anak-anak.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

Nomor.: 1027/MENKES/SK/IX/2004 yang dimaksud medication error adalah


kejadian yang merugikan pasien akibat pemakaian obat selama dalam

penanganan tenaga kesehatan. Ketidaklengkapan dan ketidakjelasan penulisan

dalam bagian resep yakni inscriptio, invocatio, prescriptio, signatura,

subscriptio, dan pro dapat menyebabkan medication error. Akibat dari

medication error dapat merugikan pasien terlebih pada anak-anak, sebab

sistem enzim yang terlibat dalam metabolisme obat pada anak-anak belum

terbentuk atau sudah ada namun dalam jumlah yang sedikit, sehingga

metabolismenya belum optimal. Ginjal pada anak-anak belum berkembang

dengan baik, sehingga kemampuan mengeliminasi obat belum optimal (Aslam

dkk., 2003).

2.2. Tujuan penulisan resep

Tujuan penulisan resep meliputi (Wibowo, 2010) :

1. Memudahkan dokter dalam pelayanan kesehatan di bidang farmasi

2. Meminimalkan kesalahan dalam pemberian obat

3. Untuk cross check

4. Tidak semua obat dapat diserahkan langsung kepada pasien

5. Pemberian obat lebih rasional

6. Pelayanan berorientasi kepada pasien bukan kepada obat Sebagai medical

record yang dapat dipertanggungjawabkan.

2.3. Persyaratan penulisan resep

Persyaratan administrasi yang harus dimiliki resep menurut Surat


Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1027/MENKES/SK/IX/2004,

meliputi:

1. Nama, SIP, dan alamat dokter

2. Tanggal penulisan resep

3. Tanda tangan / paraf dokter penulis resep

4. Nama, alamat, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien

5. Nama obat, potensi, dosis dan jumlah yang diminta

6. Cara pemakaian yang jelas

7. Informasi lainnya

2.4. Jenis- jenis Resep

Dalam (Wibowo, 2010 dan Jas, 2009) disebutkan jenis-jenis resep terdiri dari :

1. Resep standar (Resep Officinalis/Pre Compounded) merupakan resep

dengan komposisi yang telah dibakukan dan dituangkan ke dalam buku

farmakope atau buku standar lainnya. Resep standar menuliskan obat jadi

(campuran dari zat aktif) yang dibuat oleh pabrik farmasi dengan merk

dagang dalam sediaan standar atau nama generik..

2. Resep magistrales (R/ Polifarmasi), yaitu resep formula obatnya disusun

sendiri oleh dokter penulis resep dan menentukan dosis serta bentuk sediaan

obat sendiri sesuai penderita yang dihadapi.

3. Resep medicinal, yaitu resep obat jadi, bisa berupa obat paten, merek dagang

maupun generik, dalam pelayanannya tidak mengalami peracikan.


4. Resep obat generik, yaitu penulisan resep obat dengan nama generik dalam

bentuk sediaan dan jumlah tertentu. Dalam pelayanannya bisa atau tidak

mengalami peracikan.

2.5. Format Penulisan Resep

Penulisan resep adalah suatu wujud akhir kompetensi dokter dalam

pelayanan kesehatan yang secara komprehensif menerapkan ilmu pengetahuan

dan keahlian di bidang farmakologi dan teraupetik secara tepat, aman dan

rasional kepada pasien khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya.

Sebagian obat tidak dapat diberikan langsung kepada pasien atau masyarakat

melainkan harus melalui peresepan oleh dokter. Berdasarkan keamanan

penggunaannya, obat dibagi dalam dua golongan yaitu obat bebas (OTC =

Other of the counter) dan Ethical (obat narkotika,

psikotropika dan keras), dimana masyarakat harus menggunakan resep dokter

untuk memperoleh obat Ethical (Jas,2009).

Penyimpanan resep tidak boleh sembarangan. Kertas resep perlu dijaga

jangan sampai digunakan orang lain. Kertas resep dokter kadang muda ditiru

sehingga perlu pengamanan agar kita tidak terlibat dalam pemberian resep palsu

yang dilakukan orang lain.Selain itu, resep obat asli harus disimpan di apotek

dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang lain kecuali oleh yang berhak.

Pihak –pihak yang berhak melihat resep antara lain (Jas, 2009 ; Syamsuni,

2007) :

1. Dokter yang menulis resep atau merawat pasien.


2. Pasien atau keluarga pasien yang bersangkutan.

3. Paramedis yang merawat pasien.

4. Apoteker pengelola apotek yang bersangkutan.

5. Aparat pemerintah serta pegawai (kepolisian, kehakiman, kesehatan) yang

ditugaskan untuk memeriksa.

6. Petugas asuransi untuk kepentingan klaim pembayaran.

Menurut Jas (2009) dalam amira (2011), resep terdiri dari 6 bagian :

1. Inscriptio : Nama Dokter, no.SIP, alamat/telepon/HP/Kota/tempat, tanggal

penulisan resep. Untuk obat narkotika hanya berlaku untuk satu kota

provinsi. Sebagai identitas dokter penulis resep, format inscription suatu

resep dari rumah sakit sedikit berbeda dengan resep pada praktik pribadi.

2. Invocatio : permintaan tertulis dokter dalam singkatan latin “R/ = resipe”

artinya ambilah atau berikanlah, sebagai kata pembuka komunikasi dengan

apoteker di apotek

3. Prescriptio atau ordonatio : nama obat dan jumlah serta bentuk sediaan

yang diinginkan.

4. Signatura : yaitu tanda cara pakai, regimen dosis pemberian, rute dan

interval waktu pemberian harus jelas untuk keamanan penggunaan obat dan

keberhasilan terapi

5. Subscriptio : yaitu tanda tangan/paraf dokter penulis resep berguna sebagai

legalitas dan keabsahan resep tersebut.


2.6. Penandaan pada resep

Menurut Jas (2009) dalam amira (2011) meliputi :

1. Tanda Segera atau peringatan.

Diberikan untuk pasien yang harus segera memerlukan obat,tanda segera atau

peringatan dapat ditulis sebelah kanan atas atau bawah blanko resep, yaitu:

 Cito (segera)

 Urgent (penting)

 Statim (pentingsekali)

 P.I.M (periculum in mora) yang artinya berbahaya bila ditunda.

Urutan yang didahulukan adalah PIM, Statim, dan Cito.

2. Tanda resep dapat diulang, Iteratie (Iter).

Apabila dokter menginginkan agar resepnya diulang, dapat ditulis

dalam resep disebelah kanan atas dengan tulisan iter (Iteratie) dan berapa kali

boleh diulang. Misalnya :

 Iter 1x, artinya resep dapat dilayani 2x.

 Iter 2 x, artinya resep dapat dilayani 1+ 2 = 3 x.

Untuk resep yang mengandung narkotika, tidak dapat diulang (N.I) tetapi

harus dengan resep baru.

3. Tanda tidak dapat diulang, Neiteratie (N.I)

Apabila dokter tidak ingin resepnya diulang, maka tanda N.I ditulis

disebelah atas blanko resep. Resep yang tidak boleh diulang adalah resep
yang mengandung obat-obatan narkotik, psikotropik dan obat keras yang

telah ditetapkan oleh pemerintah atau Menteri kesehatan Republik Indonesia.

4. Tanda dosis sengaja dilampaui. Tanda seru dan paraf dokter diberi

dibelakang nama obatnya jika dokter sengaja memberi obat dosis maksimum

dilampaui.

5. Resep yang mengandung narkotik tidak boleh ada tulisan atau tanda iter

(iterasi) yang berarti dapat diulang, m.i (mihiipsi) yang berarti untuk dipakai

sendiri, atau u.c (ususcognitus) yang berarti pemakaiannya diketahui. Obat

narkotik didalam resep diberi garis bawah tinta merah. Selain itu, resep yang

mengandung narkotik harus disimpan terpisah dengan resep obat lainnya.

2.7. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penulisan resep

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penulisan resep antara lain (Jas, 2009):

1. Resep ditulis jelas dengan tinta dan lengkap di kop format resep resmi,

tidak ada keraguan dalam pelayanannya dan pemberian obat kepada pasien.

2. Penulisan resep sesuai dengan format dan kaidah yang berlaku, bersifat

pelayanan medik dan informatif

3. Satu lembar kop resep hanya untuk satu pasien

4. Penulisan resep selalu dimulai dengan tanda R/yang berarti ambillah atau

berikanlah

5. Nama obat, bentuk sediaan, dosis setiap kali pemberian dan jumlah obat

kemudian ditulis dalam angka Romawi dan harus ditulis dengan jelas.
a. Penulisan resep standar tanpa komposisi, jumlah obat yang diminta

ditulis dalam satuan mg, g, IU atau ml, kalau perlu ada perintah

membuat bentuk sediaan (m.f. = misce fac, artinya campurlah, buatlah)

b. Penulisan sediaan obat paten atau merek dagang, cukup dengan nama

dagang saja dan jumlah sesuai dengan kemasannya

6. Dalam penulisan nama obat karakter huruf nama obat tidak boleh berubah,

misalnya:

 Codein, tidak boleh menjadi Kodein.

 Chlorpheniramine maleate, tidak boleh menjadi Klorfeniramine maleate

 Pharmaton F tidak boleh menjadi Farmaton F

7. Untuk dua sediaan, besar dan kecil. Bila dibutuhkan yang besar, tulis

volume sediaan sesudah bentuk sedíaan.

8. Untuk sediaan bervariasi, bila ada obat dua atau tiga konsentrasi, sebaiknya

tulis dengan jelas, misalnya: pediatric, adult, dan forte.

9. Menulis jumlah wadah atau numero (No.) selalu genap, walaupun kita

butuh satu setengah botol, harus digenapkan menjadi Fls. II saja.

10. Jumlah obat yang dibutuhkan ditulis dalam angka romawi.

11. Signatura ditulis dalam singkatan latin dengan jelas, jumlah takaran sendok

dengan signa bila genap ditulis angka romawi, tetapi angka pecahan ditulis

arabik
12. Setelah signatura harus diparaf atau ditandatangani oleh dokter

bersangkutan, menunjukkan keabsahan atau legalitas dari resep tersebut

terjamin

13. Nama pasien dan umur harus jelas., misalnya Tn. Narawi (49 tahun),

Ny.Raya (50 tahun), An.Nisa (4 tahun 2 bulan)

14. Khusus untuk peresepan obat narkotika, harus ditandatangani oleh dokter

bersangkutan dan dicantumkan alamat pasien dan resep tidak boleh

diulangi tanpa resep dokter.

15. Tidak menyingkat nama obat dengan singkatan yang tidak umum

(singkatan sendiri), karena menghindari material oriented

16. Hindari tulisan sulit dibaca hal ini dapat mempersulit pelayanan

17. Resep merupakan medical record dokter dalam praktik dan bukti

pemberian obat kepada pasien yang diketahui oleh farmasi di apotek,

kerahasiaannya dijaga.

2.8. Masalah dalam Resep

Semua pemesanan permintaan dalam resep sebaiknya dapat dibaca

dengan jelas, tidak membingungkan, diberi tanggal, serta ditanda tangani

dengan jelas untuk memudahkan komunikasi optimal antara dokter penulis

resep, apoteker, dan perawat. Beberapa kesalahan dalam penulisan resep dalam

praktek sehari-hari sepertinya kurang informasi yang diberikan, tulisan yang

buruk sehingga menyebabkan kesalahan pemberiaan dosis dan rute obat, serta
peresepan obat yang tidak tepat (Lofholm, 2009). Berikut beberapa masalah

yang sering muncul dalam penulisan resep antara lain :

1. Kegagalan dokter dalam menyampaikan informasi penting seperti :

(Lofholm, 2009)

 Peresepan obat, dosis, atau rute sesuai dengan diinginkan

 Penulisan resep yang tidak terbaca karena tulisan tangan yang buruk

 Menulis nama obat dengan singkatan atau nomenklatur yang tidak

standar

 Menuliskan permintaan obat yang ambigu

 Meresepkan satu tablet yan tersedia lebih dari satu kekuatan obat

tersebut

 Lalai menulis rute pemberiaan obatyang dapat diberi lebih dari satu rute

 Meresepkan obat yang diberikan secara infus intravena intermitten,

tanpa menspesifikasi durasi pemberiaan infus

 Tidak mencantumkan informasi pasien secara lengkap seperti : alamat,

berat badan, dll

 Lalai menulis tanggal peresepan obat

 Lalai menulis informasi dokter (seperti : nama, no SIP.dll)

 Tidak mencantumkan paraf dokter

2. Kesalahan pencatatan (transkripsi) (Dean, 2009)


 Saat datang kerumah sakit, tanpa sengaja tidak meresepkan obat yang

digunkan pasien sebelum kerumah sakit.

 Melanjutkan kesalahan penulisan resep dari dokter sebelumnya, ketika

meresepkan obat pasien saat datang kerumah sakit.

 Mencatat perintah pengobatan dengan tidak benar ketika menulis ulang

di daftar obat pasien

 Untuk resep yang dibawa pulang tanpa sengaja berbeda dengan daftar

obat yang diresepkan untuk pasien rawat inap

 Menulis “milligram” padahal bermaksud menlis “mikrogram”

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh akoria dan ambrose

diketahui bahwa alasan yang disampaikan oleh beberapa dokter mengenai

penyebab penulisan resep yang buruk/tidak lengkap antara lain (Akoria, 2008)

1. Beban kerja dokter berlebih, menyebabkan dokter bekerja dibawah

tekanan

2. Formulir resep yang tidak selalu tersedia

3. Beberapa pasien menolak memberi informasi personal seperti umur,

alamat

4. Tidak adanya keharusan untuk membuat resep secara lengkap karena

pasien tetap dapat mengambil obat dengan atau tanpa resep yang

lengkap.
5. Resep sengaja ditulis dengan tulisan yang kurang jelas sehingga tidak

dapat dibaca dan dimengerti dengan mudah oleh orang awam

6. Banyak dokter yang mengabaikan stadar penulisan resep.

Kejadian kesalahan penulisan resep memiliki frekuensi yang tinggi .

Guna menghindarinya maka semua permintaan resep harus ditulis dengan jelas,

tidak ambigu, diberi tanggal dan ditanda tangani, sehingga tercipta komunikasi

yang optimal antara dokter penulis resep, farmasi, dan perawat. Untuk itu

diperlukan peningkatan pengetahuan dan keterampilan penulisan rsep pada saat

menjalani pendidikan mahasiswa dokter, perlu ditingkatkan kesadaran dan

kepatuhan untuk menulis resep yang baik dan benar. Selain itu, pengaawsan

yang ketat juga turut membantu mengurangi permasalahan ini (Akoria, 2008)

2.9. Medication Errors

Secara umum, medication errors didefinisikan sebagai suatu kesalahan

dalam pengobatan untuk melaksanakan suatu tindakan yang diharapkan

(Malone, 2001).

Para ahli kesehatan harus menerapkan prinsip ‘5 ketepatan’ dalam

mengobati pasiennya untuk menuju pengobatan yang aman, yaitu : tepat

pasien, tepat obat, tepat dosis, tepat indikasi dan tepat waktu serta waspada

terhadap efek samping obat. Kesalahan dalam pengobatan bisa terjadi jika salah

satu dari lima ketepatan tersebut tidak dipenuhi. Hal itu tentunya dapat

membahayakan jiwa pasien. Para ahli kesehatan tentu tidak mengharapkan

adanya kesalahan tersebut. Para ahli kesehatan harus berusaha semaksimal


mungkin untuk mencegah kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam pengobatan

tersebut (Cohen, 1999).

Secara garis besar, medication errors dibagi menjadi 3 jenis:

a. Prescribing errors, disebabkan karena kesalahan peresepan, yang meliputi:

tulisan yang tidak jelas, resep yang tidak lengkap, dan instruksi yang tidak

jelas.

b. Pharmaceutical errors, meliputi dosis, bentuk sediaan, cara pemberian dan

stabilitas.

c. Clinical errors, disebabkan oleh interaksi obat, kontra indikasi, alergi, side

effect, adverse drug reaction.

Hal-hal yang menyebabkan terjadinya medication errors:

a. Miskomunikasi antara dokter dan farmasis.

Kesalahan dalam miskomunikasi ini disebabkan karena:

1) Penulisan yang tidak jelas

Tulisan tangan yang kurang jelas dapat menyebabkan

kesalahan dalam dua pengobatan yang mempunyai nama serupa.

Selain itu, banyak nama obat yang nampak serupa terutama saat

percakapan di telepon, kurang jelas, atau salah melafalkan.

Permasalahannya menjadi kompleks apabila obat tersebut memiliki

cara pemberian yang sama dan memiliki dosis yang hampir sama

(Cohen, 1999).

2) Nama obat yang hampir sama


Nama obat yang hampir sama dapat menyebabkan medication

errors. Contoh obat yang sering menyebabkan kesalahan pengobatan

adalah obat pencegah pembekuan darah coumadin® dan obat anti

parkinson kemadrin®. Taxol® (paclitaxel), suatu agen antikanker

hampir sama kedengarannya

dengan paxil® (paroxetine) yang merupakan suatu antidepressant.

Zebeta® beta bloker antihipertensi nampak seperti diabeta®, suatu

antibiotik golongan sulfonamid dan seldane® (terfenadine), suatu

antihistamin non sedatif (Cohen, 1999).

Nama generik juga dapat menyebabkan kebingungan. Sebagai

contoh, amrinone (inocor®), suatu inotrop yang digunakan pasien

dengan cardiomiopaty, lafalnya hampir sama dengan amiodarone

(cordarone®), suatu antiaritmia. Akhirnya,

permasalahan muncul manakala nama umum nampak seperti nama

dagang. Ritonovir (norvir®), suatu inhibitor protease digunakan

pasien dengan immunodefisiensi virus (HIV) infeksi, terlihat hampir

sama dengan retrovir®, suatu nama dagang dari

zidovudine, juga untuk pasien dengan HIV. Kesalahan seperti ini

dapat diprediksi. Dengan berbagai jenis pengobatan yang tersedia,

praktisi diharapkan untuk dapat mengikuti perkembangan masing-

masing pengobatan tersebut. Sehingga, manakala berhadapan dengan

suatu nama baru (misal: losec), pasien boleh secara otomatis


membacanya dengan lasix, suatu produk yang telah umum dikenal.

Kesalahan seperti ini disebut “konfirmasi bias”

(Cohen, 1999).

3) Penggunaan angka desimal yang tidak jelas

Penulisan resep yang terburu-buru dapat menyebabkan

permasalahan, bahkan nama dari pengobatan harus jelas. Suatu

pesanan untuk “Vincristine 2.0 mg” dibaca salah oleh praktisi

sebagai “20 mg”, sebab tanda desimalnya berada pada garis keras

resep. Akibatnya, pasien meninggal setelah pasien menerima obat

dengan dosis yang salah tersebut. Didalam kasus lain, seorang bayi

menerima 0.17 mg Digoxin sebagai ganti 0.017 mg, sebab tanda

desimal salah diletakkan selama perhitungan dosis (Cohen, 1999).

4) Sistem perhitungan yang keliru

Sistem perhitungan yang benar merupakan dasar dari

perhitungan dosis. Perhitungan yang keliru dapat menyebabkan

terjadinya medication errors. Sebagai contoh, seorang perawat

membutuhkan 1/ 200 butir (0,3 mg) nitrogliserin tablet yang

digunakan 2 x 1/ 100 butir (setiap 0,6 mg atau total dosis 1,2 mg)

sebagai gantinya (Cohen, 1999).

5) Penggunaan singkatan yang tidak standart


Medication errors sering terjadi karena kesalahan dalam

menstandartdisasi singkatan. Singkatan yang tidak standart tidak

akan ditemukan jika pembaca mempelajari kamus kesehatan

(Cohen, 1999).

Banyak singkatan yang mempunyai maksud yang salah.

“D/C” yang biasanya digunakan dengan maksud ‘pemberhentian’

diartikan salah oleh pasien. Sebagai contoh, seorang dokter menulis

“D/C: digoksin, propanolol, hormon insulin”. Maksudnya adalah

bahwa ketiga obat tersebut tetap dilanjutkan setelah pasien pulang

dari rawat inap. Tetapi pasien mengira bahwa dokter menyarankan

untuk menghentikan pengobatan ketiga obaT tersebut (Cohen, 1999).

6) Aturan pakai yang kurang jelas/ kurang lengkap

Pada tahun 1995, publik dikejutkan oleh kejadian medication

error yang berakibat fatal di Institut Dana sebagai akibat dari

penulisan aturan pakai yang tidak lengkap (Cohen, 1999).

Aturan pakai yang kurang lengkap dapat menyebabkan

kerancuan. Sebagai contoh, Seseorang menulis pesanan untuk

neonatus “digoksin 1,5 cc”, dia tidak menetapkan konsentrasi yang

sebenarnya sudah ditetapkan (0,5 mg/ ml dalam 2 ml ampul). Hal itu

akan berakibat fatal (Cohen, 1999).


2.10. Interaksi Obat

Interaksi obat adalah perubahan efek suatu obat akibat pemakaian obat

lain (interaksi obat-obat) atau oleh makanan, obat tradisional dan senyawa

kimia lain. Interaksi obat yang signifikan dapat terjadi jika dua atau lebih obat

digunakan bersama-sama (Harkness, 1989).

Interaksi farmakokinetik (Harkness, 1989) meliputi :

1. Absorpsi

Obat-obat yang digunakan secara oral bisaanya diserap dari saluran

cerna ke dalam sistem sirkulasi. Ada banyak kemungkinan terjadi interaksi

selama obat melewati saluran cerna. Absorpsi obat dapat terjadi melalui

transport pasif maupun aktif, di mana sebagian besar obat diabsorpsi secara

pasif. Proses ini melibatkan difusi obat dari daerah dengan kadar tinggi ke

daerah dengan kadar obat yang lebih rendah. Pada transport aktif terjadi

perpindahan obat melawan gradien konsentrasi (contohnya ion-ion dan

molekul yang larut air) dan proses ini membutuhkan energi. Absorpsi obat

secara transport aktif lebih cepat dari pada secara tansport pasif. Obat dalam

bentuk tak-terion larut lemak dan mudah berdifusi melewati membran sel,

sedangkan obat dalam bentuk terion tidak larut lemak dan tidak dapat

berdifusi. Di bawah kondisi fisiologi normal absorpsinya agak tertunda

tetapi tingkat absorpsinya biasanya sempurna.

2. Distribusi
Setelah obat diabsorpsi ke dalam sistem sirkulasi, obat di bawa ke

tempat kerja di mana obat akan bereaksi dengan berbagai jaringan tubuh dan

atau reseptor. Selama berada di aliran darah, obat dapat terikat pada berbagai

komponen darah terutama protein albumin. Obat-obat larut lemak mempunyai

afinitas yang tinggi pada jaringan adiposa, sehingga obat-obat dapat tersimpan

di jaringan adiposa ini. Rendahnya aliran darah ke jaringan lemak

mengakibatkan jaringan ini menjadi depot untuk obat-obat larut lemak. Hal

ini memperpanjang efek obat. Obat-obat yang sangat larut lemak misalnya

golongan fenotiazin, benzodiazepin dan barbiturat. Sejumlah obat yang

bersifat asam mempunyai afinitas terhadap protein darah terutama albumin.

Obat-obat yang bersifat basa mempunyai afinitas untuk berikatan dengan

asam-α-glikoprotein. Ikatan protein plasma (PPB : plasma protein binding)

dinyatakan sebagai persen yang

menunjukkan persen obat yang terikat.

Obat yang terikat albumin secara farmakologi tidak aktif, sedangkan

obat yang tidak terikat, biasa disebut fraksi bebas, aktif secara farmakologi.

Bila dua atau lebih obat yang sangat terikat protein digunakan bersama-sasam,

terjadi kompetisi pengikatan pada tempat yang sama, yang mengakibatkan

terjadi penggeseran salah satu obat dari ikatan dengan protein, dan akhirnya

terjadi peninggatan kadar obat bebas dalam darah.

3. Metabolisme
Untuk menghasilkan efek sistemik dalam tubuh, obat harus mencapai

reseptor, berarti obat harus dapat melewati membran plasma. Untuk itu obat

harus larut lemak. Metabolisme dapat mengubah senyawa aktif yang larut

lemak menjadi senyawa larut air yang tidak aktif, yang nantinya akan

diekskresi terutama melalui ginjal. Obat dapat melewati dua fase

metabolisme, yaitu metabolisme fase I dan II. Pada metabolisme fase I, terjadi

oksidasi, demetilasi, hidrolisa, dsb. oleh enzim mikrosomal hati yang berada

di endothelium, menghasilkan metabolit obat yang lebih larut dalam air. Pada

metabolisme fase II, obat bereaksi dengan molekul yang larut air (misalnya

asam glukuronat, sulfat, dsb) menjadi metabolit yang tidak atau kurang aktif,

yang larut dalam air. Suatu senyawa dapat melewati satu atau kedua

fasemetabolisme di atas hingga tercapai bentuk yang larut dalam air. Sebagian

besar interaksi obat yang signifikan secara klinis terjadi akibat metabolisme

fase I dari pada fase II.

4. Ekskresi

Kecuali obat-obat anestetik inhalasi, sebagian besar obat diekskresi

lewat empedu atau urin. Darah yang memasuki ginjal sepanjang arteri renal,

mula-mula dikirim ke glomeruli tubulus, dimana molekul-molekul kecil yang

cukup melewati membran glomerular (air, garam dan beberapa obat tertentu)

disaring ke tubulus. Molekul-molekul yang besar seperti protein plasma dan

sel darah ditahan. Aliran darah kemudian melewati bagian lain dari tubulus

ginjal dimana transport aktif yang dapat memindahkan obat dan metabolitnya
dari darah ke filtrat tubulus. Sel tubulus kemudian melakukan transport aktif

maupun pasif (melalui difusi) untuk mereabsorpsi obat. Interaksi bisa terjadi

karena perubahan ekskresi aktif tubuli ginjal, perubahan pH dan perubahan

aliran darah ginjal.


BAB III

PEMBAHASAN RESEP

R/ Dexamethasone 0,5 mg ½ tab


Uraian Obat
Codein 5 mg

GG

Cetirizine ½ tab

m.f.pulv.dtd. No.IX

da in cap.

S 3 dd. 1 cap

R/ Cefadroxyl No.X

S 2 dd 1

R/ B-Complex No. V

S 1 dd 1
1. Administratif (Kelengkapan Resep)
PADA RESEP
No. URAIAN
ADA TIDAK
Inscription
Identitas dokter: 
1 Nama dokter √
2 SIP dokter √
3 Alamat dokter √
4 Nomor telepon √ 
5 Tempat dan tanggal penulisan √ 
resep
Invocatio
6 Tanda resep diawal penulisan √ 
resep (R/)
Prescriptio/Ordonatio
7 Nama Obat √ 
8 Kekuatan obat  √
9 Jumlah obat √ 
Signatura
10 Nama pasien √ 
11 Jenis kelamin  √
12 Umur pasien √ 
13 Barat badan  √
14 Alamat pasien √ 
15 Aturan pakai obat √ 
16 Iter/tanda lain  √
Subscriptio
17 Tanda tangan/paraf dokter √ 
Kesimpulan:
Resep tersebut tidak lengkap.
Resep tidak lengkap karena tidak mencantumkan kekuatan obat, informasi
mengenai jenis kelamin dan berat badan pasien.
Cara pengatasan harus ditulis kekuatan dari obat tersebut, dan berat badan
pasien dapat ditanyakan langsung kepada pasien/keluarga pasien.
Aspek admnistrasi resep dipilih karena merupakan skrining awal pada

saat resep dilayani di apotek, skrining admnistrasi perlu dilakukan karena

mencakup seluruh informasi di dalam resep yang berkaitan dengan kejelasaan

tulisan obat, keabsahan resep, dan kejelasan informasi di dalam resep.

Kelengkapan admnistrasi resep sudah diatur dalam Permenkes No. 73 tahun

2016 tentang standar pelayanan kefarmasian di apotek. Akibat terjadinya

ketidak lengkapan admnistrasi resep tidak berdampak buruk bagi pasien,

tetapi merupakan tahap skrining awal guna mencegah adanya meddication

error.

Jika dalam resep tidak ada kekuatan sediaan maka diambil kekuatan sediaan

yang paling kecil. Hal ini memang senada dengan konsep patient safety, first

do not harm the patient. Jadi jika hanya tertulis cefadroxil saja maka

sebaiknya kita ambil yang kekuatan sediaan terkecil yaitu 500 mg/kapsul dan

dilihat juga dari umur pasien. Namun akan lebih baik jika kita bisa

memberikan keduanya kepada pasien yaitu safety and efficacy, selain aman

juga manjur. Jika hasil hitungan dosis ternyata sebaiknya yang diberikan

kepada pasien bukan dosis sesuai dengan kekuatan sediaan terkecil, lebih baik

komunikasikan dahulu dengan dokter.


2. Kesesuaian Farmasetis
No Kriteria Permasalahan Pengatasan
1 Bentuk sediaan Beberapa obat tidak
ada
2 Stabilitas obat - Sesuai
3 Inkompatibiltas - Sesuai
4 Cara pemberian - Sesuai
5 Jumlah dan aturan pakai - Sesuai

Prosedur ini biasanya dilakukan untuk melakukan pemeriksaan fisik

maupun informasi tambahan yang dimiliki oleh obat tersebut. Hal ini

diterapkan untuk memudahkan pemberian obat dengan komposisi dan pilihan

jenis yang sesuai terhadap saran dokter.


Dosis Rekomen-
No Nama Obat Dosis Literatur Kesimpulan
Resep dasi

3. Dosis
1 Cefadroxil 2 x sehari Dalam 1 hari Sesuai -
1 kapsul dosis 1000 mg.
(sediaan Menurut BNF 57
500 mg) halaman 298,
pasien lebih dari 6
tahun adalah 500
mg x sehari.
Dosis dan
frekuensi
pemakaiannnya
sesuai.
2 Dexamethason 3 x sehari Dexamethason Sesuai -
Codein 1 kapsul dewasa: 0,5 -10
GG mg (dalam resep
Cetririzine penggunaan
dexamethason
0,75 mg maka
masih masuk
dalam range dosis
dewasa)
Codein
Sehari= 15-60
mg,
GG
Sehari= 200-400
mg
Cetirizine 5-10
mg

3 B complex 1x sehari 1
tablet

4. Uraian obat
a. Dexamethason
Indikasi : Obat ini digunakan sebagai glucocorticoid khususnya
untuk Antiinflamasi, Pengobatan rematik arthritis, dan
penyakit kolagen lainnya, Alergi dermatitis, Penyakit
kulit, Penyakit inflamasi pada masa dan kondisi lain
dimana glucocorticoid berguna lebih menguntungkan
seperti penyakit leukemia tertentu dan limfoma dan
inflamasi pada jaringan lunak dan anemia hemolitik

Mekanisme kerja : Deksamethasone adalah glukokortikoid sintetik


dengan aktivitas imunosupresan dan anti-inflamasi.
Sebagai imunosupresan Deksamethasone bekerja
dengan menurunkan respon imun tubuh terhadap
stimulasi rangsang. Aktivitas anti-inflamasi
Deksamethasone dengan jalan menekan atau
mencegah respon jaringan terhadap proses inflamasi
dan menghambat akumulasi sel yang mengalami
inflamasi, termasuk makrofag dan leukosit pada
tempat inflamasi.

Efek Samping :

Pengobatan yang berkepanjangan dapat
mengakibatkan efek katabolik steroid seperti
kehabisan protein, osteoporosis, dan
penghambatan pertumbuhan anak.
 Penimbunan garam, air dan kehilangan
potassium jarang terjadi bila dibandingkan
dengan glucocorticoid lainnya.
 Penambahan nafsu makan dan berat badan
lebih sering terjadi.
Dosis : Dewasa : 0,5 mg – 10 mg per hari.
Anak-anak : 0,08 mg – 0,3 mg/kg berat badan per hari
dibagi dalam 3 atau 4 dosis
(MIMS. 2012; Syamsudin.2011)
b. Codein
Indikasi : Meredakan rasa nyeri ringan hingga berat,
meringankan gejala batuk, mengobati kondisi diare
akut

Dosis : Dewasa: 15-30 mg tiap 3-4 jam.

Anak-anak: 3 mg untuk anak usia 2-5 tahun, dan 7.5-


15 mg untuk anak usia 6-12 tahun. Dosis umumnya
diberikan tiap 3-4 jam.

Efek samping : Pusing, limbung, mulut kering. mual dan


muntah,kehilangan nafsu makan. mudah merasa
lelah,konstipasi, merasa nyeri pada perut, muncul
ruam ringan pada kulit.

Mekanisme kerja : Kodein merupakan analgesik agonis opioid. Efek


kodein terjadi apabila kodein berikatan secara agonis
dengan reseptor opioid di berbagai tempat di susunan
saraf pusat. Efek analgesik kodein tergantung afinitas
kodein terhadap reseptor opioid tersebut. Kodein
merupakan antitusif yang bekerja pada susunan saraf
pusat dengan menekan pusat batuk
(MIMS. 2012; Syamsudin. 2011)
c. GG
Indikasi : bekerja dengan cara membantu mengeluarkan dahak
dari saluran pernapasan, oleh karena itu obat ini
diindikasikan untuk batuk berdahak.
Efek saping : mengantuk, mual, atau muntah
Dosis : anak 2-6 tahun: 50 -100 mg per 4 jam, untuk anak 6-
12 tahun: 100-200 mg per 4 jam, dan untuk anak 12
tahun ke atas: 200-400 mg per 4 jam
Mekanisme kerja : meningkatkan volume dan menurunkan viskositas
dahak di trakhea dan bronki, kemudian merangsang
pengeluaran dahak menuju faring.
(MIMS. 2012; Syamsudin. 2011)
d. Cetirizine
Indikasi : mengatasi gejala-gejala alergi, sseperti pilek, hidung
tersumbat, mata berair, bersin-bersin, rasa gatal pada
mata atau hidung, serta ruam pada kulit

Efek samping : Mengantuk, pusing, lemas dan lelah, Mual, pusing


Mulut kering, Iritasi hidung, Sakit tenggorokan, Sakit
perut, diare.

Dosis : dewasa: 1x10 mg

Anak : 2x 5 mg

Mekanisme kerja : antagonis reseptor-H1 perifer yang mempunyai efek


sedatif yang rendah pada dosis aktif dan mempunyai
sifat tambahan sebagai anti alergi. Cetirizine berkerja
menghambat pelepasan histamin pada fase awal dan
mengurangi migrasi sel inflamasi.
(MIMS. 2012; Syamsudin. 2011)
e. Cefadroxil
Indikasi : pengobatan infeksi yang disebabkan oleh
mikroorganisme yang sensitif seperti: infeksi saluran
pernapasan (tonsillitis, faringitis, pneumonia), otitis
media, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran
kemih dan kelamin, infeksi lain (osteomielitis dan
septisemia).
Efek samping :
 Gangguan saluran pencernaan, seperti mual,
muntah, diare, dan gejala kolitis
pseudomembran.
 Reaksi hipersensitif, seperti ruam kulit, gatal-
gatal dan reaksi anafilaksis.
 Efek samping lain seperti vaginitis, neutropenia
dan peningkatan transaminase.
Dosis : Infeksi saluran pernapasan: infeksi ringan, 1 gram
sehari dalam dua dosis terbagi; infeksi sedang sampai
berat, 1 – 2 gram sehari dalam dua dosis terbagi. Untuk
faringitis dan tonsilitis yang disebabkan oleh
Streptococcus beta-hemolitik: 1 g sehari dalam dosis
tunggal atau dua dosis terbagi, pengobatan diberikan
minimal selama 10 hari
Mekanisme kerja : menghambat pembentukan protein penyusun dinding
sel bakteri. Melalui mekanisme kerja tersebut cefadroxil
memiliki efek bakterisidal berpektrum luas yang dapat
membunuh bakteri bakteri gram positif maupun gram
negatif.
(MIMS. 2012; Syamsudin. 2011)

f. B complex
Indikasi : Membantu memenuhi kebutuhan vitamin B
complex
Efek samping : diare
Dosis : 1X sehari 1 tablet
Mekanisme kerja : -
(MIMS. 2012; Syamsudin. 2011)
5. PENYERAHAN DAN PEMBERIAN INFORMASI OBAT/PIO,
KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI/KIE, DAN KONSELING
a. Informasikan mengenai nama obat, aturan pakai, kegunaan masing-
masing obat, dan cara penyimpanan yang benar.
b. Obat yang diberikan harus diminum secara teratur, agar terapi
pengobatan yang diinginkan tercapai.
c. Jika gejala sudah tidak dirasakan lagi, maka pengobatan dapat
dihentikan.
No. Kriteria Informasi Isi Informasi
1 Nama Obat Puyer antitusif
Cefadroxil
B complex
2 Kegunaan Puyer : antitusif
obat/outcome terapi Cefadroxil: antibiotik
yang diharapkan B complex: vitamin
3 Aturan pakai Asam mefenamat: 3 x sehari 1 kapsul sesudah
makan.
cefadroxil: 3x 1 tablet sesudah makan
B complex: 1x1 tablet
4 Waktu minum obat Sesudah . makan
5 Cara pakai Diminum melalui mulut dengan segelas air
putih. 3 x sehari artinya tiap 8 jam.
6 Durasi penggunaan 3 hari
obat
7 Efek samping Nyeri lambung, mengantuk.
8 Penyimpanan Simpan tablet ditempat yang kering pada suhu
kamar (25oC), terlindung dari cahaya matahari
langsung.
9 Aktivitas yang Aktivitas yang dihindari:
disarankan/dihindari Tidak berkendaraan/menjalankan mesin
selama meminum obat, hindari minuman yang
dingin dan makanan yang menyebabkan batuk,
6. MONITORING
Hal-hal yang perlu monitoring:
a. Kondisi pasien, gejala yang dirasakan pasien, semakin membaik
atau tidak.
b. Memeriksa kemungkinan terjadinya alergi dan efek samping.
c. Kepatuhan pasien minum obat.
7. EVALUASI
a. Keberhasilan terapi: pasien sembuh atau tidak, gejala atau keluhan
hilang/tidak, pasien dapat beraktivitas seperti biasa.
b. Ada/tidaknya gejala/keluhan dan penyakit lain yang timbul
setelah/selama pengobatan.
BAB IV

KESIMPULAN

IV.1 Kesimpulan

Pada makalah ini masih banyak ditemukan adanya kejadian ketidaksesuaian

dalam penulisan resep menurut PERMENKES RI No. 35 Tahun 2014 tentang Standar

Pelayanan Kefarmasian di Instalasi Apotek.

IV.2 Saran

1. Kepada dokter, dalam penulisan resep diharapkan dapat menerapkan

PERMENKES RI No 35 Tahun 2014 sehingga resiko kesalahan pada resep dapat

dihindari.

2. Kepada apoteker, dalam melayani resep perlu mengacu pada PERMENKES RI

No. 35 Tahun 2014 sehingga terapi obat yang diberikan dapat maksimal.

3. Perlu ditingkatkan komunikasi antara apoteker dan dokter dalam menentukan

terapi untuk mencegah terjadinya interaksi.


DAFTAR PUSTAKA

Akoria OA, Ambrose OI. Prescription Writing in Public and Private Hospitals in
Benin City. Nigeria : The Effect of an Educational Intervension. Can J
Clin Pharmacol. 2008; 15(2): e295-e305
Amira, A. 2011, Skripsi; Penulisan Resep askes di Apotek RSUP Haji Adam
Malik Periode Mei 2011, Medan.
Anonim. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 73 tahun 2016 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta : Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia.
Arayne, M.S et all. 2002. Antibacterial Studies Of Cefixime Copper, Zinc And
Cadmium Complexes. Faculty of Pharmacy, Department of Chemystry,
University of Karachi
Aslam, Mohammed, dkk, 2003, Farmasi Klinis. Jakarta : PT. Elex Media
Komputindo
Baxter, K., “Stockley’s drug interaction ninth edition”, pharmaceutical press,
London, 2010. Hal. 179.
BNF, 2007, British National Formulary 54th Edition, BMJ Publishing Group,
London.
Cahyono, J. B. S. B, 2008, Membangun Budaya Keselamatan Pasien dalam
Praktek Kedokteran. Yogyakarta : Kanisius
Cohen, M.R., 1999, Medication Errors, 16,1-16,8, American Pharmaceutical
Association, Washington, DC
Dean B, Barber N, Schachter M. What is a prescribing error?. Quality in Health
Care. 2009; 9: 232–37.
Dipiro, J.T., Wells, B.G., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Posey, L.M.,
2005, Pharmacotherapy, 6th Edition, Appleton ang Lange, New York
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI,
Jakarta
Dwiprahasto Iwan, Erna Kristin, 2008. Intervensi Pelatihan untuk Meminimalkan
Risiko Medication Error di Pusat Pelayanan Kesehatan Primer. Jurnal
Berkala Ilmu Kedokteran
Fradgley, S, 2003. Interaksi Obat, Dalam Farmasi klinis (Clinical Pharmacy)
Menuju Pengobatan Rasional dan Penghargaan Pilihan Pasien. Jakarta :
PT. Elex Media Kkomputindo Gramedia
Glowinski J. Placebo-controlledstudy of the anlgesic efficacy of a paracetamol
500mg/codeine 30mg combination together with low –dose vs high dose
diclofenac in rheumatoid arthritis. Clin Drug Invest 1999; 18(3): 189-
197.
Gautman, C.S., Saha, Lekha, 2008, Fixed Dose Drugs Combination (FDCs);
Rational or Irrational: a View point. British Jurnal Clinic Pharmacology.
65(5) ; 795-796.
Harkness Richard, diterjemahkan oleh Goeswin Agoes dan Mathilda B.Widianto.
Interaksi obat. Bandung: Penerbit ITB, 1989.
Hartayu, T.S, dan Widyati, A. Kajian Kelengkapan Resep Pediatri yang
Berpotensi Menimbulkan Medication Error di Rumah Sakit dan 10
Apotek di Yogyakarta. Yogyakarta
Jas A. 2007. Perihal Resep dan Dosis serta Latihan Menulis resep Edisi 1,
Medan: Universitas Sumatra Utara Press
Jas A. 2009. Perihal Resep dan Dosis serta Latihan Menulis resep Edisi 2,
Medan: Universitas Sumatra Utara Press
Kasim, F., Trisna, Y., sebagai redaksi, “ISO-Informasi Spesialite Obat Indonesia,
Vol. 47 tahun 2012-2013”, penerbit PT. ISFI penerbitan, Jakarta, 2012,
hal 37,261,268,403
Lofholm PW, Katzung BG. Chapter 65: Rational Prescribing & Prescription
Writing. Dalam: Katzung BG, Masters BS, Trevor AJ, editor. Basic and
Clinical Pharmacology. Edisi ke-11. United State: McGraw Hill
Medical; 2009. hlm.1139-48.
Malone, P.M., Mosdell, K.W., Kier, K.L., and Stanovich, J.E., 2001, Drug
Information A Guide for Pharmacists, 2nd edition, McGraw-Hill, New
York.
MIMS. Referensi Obat. Informasi Ringkas Produk Obat. PT. Medidata Indonesia.
2016
Octavia, Hanna, 2011, Skripsi : Analisis Kelengkapan Peresepan di Apotek KPRI
RSUD DR. SOETOMO, Bulan Desember 2010, Surabaya.
Prawitasari, Diah, 2009. Skripsi: Tinjauan Aspek Legalitas dan Kelengkapan
Resep di 5 Apotek Kabupaten Klaten Tahun 2007. Surakarta
Rahmawati, F. 2002. Kajian Penulisan Resep : Tinjauan Aspek Legalitas
Kelengkapan Resep di Apotek-apotek Kotamadya Yogyakarta.
Yogyakarta: Majalah Farmasi Indonesia.
Sandy, 2010, Skripsi : Studi Kelengkapan Resep Obat Untuk Pasien Anak di
Apotek Wilayah Kecamatan Kartasura Bulan Oktober-Desember 2008.
Surakarta
Stockley, L.H. 2008. Stockley’s Drug Interaction Edisi Kedelapan. Great Britain:
Phrmaceutical Press.
Sukandar, E.Y., Andrajati, R., Sigit, J.I., Adnyana, I.K., Setiadi, A.P., Kusnandar.,
“ISO Farmakoterapi”, penerbit PT. ISFI Penerbitan, Jakarta, 2008, Hal.
264, 303
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 25/MENKES/SK/IX/2014.
Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI; 2014.
Syamsuni, H.A. 2007. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi, Jakarta:
Penerbit Buku Kedokeran EGC
Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farakologi Efek Samping Obat. Salemba Medika.
Jakarta.
Wibowo, A. 2010. Skripsi: Analisis Kelengkapan Resep di Apotek Wilayah
Lamongan Bulan Februari 2010. Surabaya.
World Health Organization, 1994. The Contribution of the Family Doctor, WHO-
WONCA Conference 1994