Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

HAK ASASI MANUSIA (HAM)

Oleh :
Kelompok 7
Dito Abrar (2516100113)
Naufal Yasir Faisal (3116100019)
Triven S (2316100078)
Yustinus Batistuta (3116100160)
Aisha Rana (2516100204)

Dosen:
Ibu Niken Prasetyawati

MATA KULIAH WAWASAN KEBANGSAAN


INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2016

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telang
melimpah kan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “Hak Asasi Manusia” dengan baik. Tujuan
penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah “Wawasan
Kebangsaan” di Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Penulisan makalah ini tidak dapat di selesaikan dengan baik tanpa


semangat,dukungan,dan bantuan di berbagai pihak.

Semoga atas segala bantuan yang diberikan akan mendapat balasan dari Tuhan
Yang Maha Esa. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini jauh dari
sempurna untuk itu, penulis mengharapkan kritik dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, November 2016

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................... i

KATA PENGANTAR.................................................................................... ii

DAFTAR ISI ................................................................................................. iii

BAB I ............................................................................................................. 4

1.1 Latar Belakang ......................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................4

1.3 Tujuan Masalah ..........................................................................5

BAB II KAJIAN PUSTAKA ...........................................................................6

2.1 Tujuan dari HAM ...........................................................................6

2.2 Sejarah HAM……………………………………………………...8

2.2.1 HAM di Indonesia………………………………………8

2.2.2 HAM di Luar Negeri…………………………………...11

BAB III ANALISIS .......................................................................................14

3.1 Pengertian HAM dan Mengapa Perlu Dilindungi ...........................14

3.2 Alasan Perlindungan HAM di Tiap Negara Berbeda ...............14

3.3 HAM yang Dimiliki Manusia ...................................................14

3.4 Tempat Diadilinya Pelanggaran HAM .......................................18

3.5 Perbedaan antara pelanggaran HAM dan Pelanggaran HAM Berat.18

3.6 Contoh Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia ………………….19

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ………………………………...24

Daftar Pustaka ………………………………………………………………...25

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Berbicara tentang manusia dan haknya, muncul suatu hak yang melekat pada
manusia yaitu Hak Asasi Manusia atau yang biasa dikenal dengan HAM. HAM
adalah suatu hal yang sangat erat kaitannya satu sama lain dan tidak terpisahkan
sejak lahir dan sejak lahir itu setiap manusia sudah mempunyai hak asasi yang
dijunjung tinggi serta diakui semua orang. Hak tersebut lebih penting
dibandingkan hak seorang penguasa ataupun raja. Hak asasi itu sendiri berasal
dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada seluruh manusia.

Setelah reformasi tahun 1998, Indonesia mengalami kemajuan dalam


bidang penegakan HAM bagi seluruh warganya. Instrumen-instrumen HAM pun
didirikan sebagai upaya menunjang komitmen penegakan HAM yang lebih
optimal. Namun seiring dengan kemajuan ini, pelanggaran HAM kemudian juga
sering terjadi di sekitar kita. Maka dari itulah kami menyusun makalah yang
berjudul “HAM di Indonesia”, untuk memberikan informasi selengkap-
lengkapnya mengenai apa itu HAM.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan HAM?


2. Bagaimanakah sejarah HAM di Indonesia dan di dunia?
3. Apa saja HAM yang dimiliki seseorang?
4. Dimana pelanggaran HAM di Indonesia dan pelanggaran HAM
Internasional diadili?
5. Apa saja jenis-jenis pelanggaran HAM?
6. Berikan contoh pelanggaran kasus HAM di Indonesia

4
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui apa itu HAM serta untuk mengetahui sejak kapan
HAM itu ada dan mengapa perlu dilindungi
2. Untuk mengetahui alasan perlindungan HAM di tiap negara tidak
sama, apakah HAM boleh diperlakukan secara diskriminatif atau tidak
didalam suatu negara
3. Untuk mengetahui apa saja HAM yang dimiliki seseorang dan apakah
negara boleh membatasi HAM seseorang
4. Untuk mengetahui dimana pengadilan HAM diadili
5. Untuk mengetahui perbedaan antara pelanggaran HAM dan
pelanggaran HAM berat
6. Untuk mengetahui seperti apa pelanggaran HAM itu

5
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tujuan dari HAM

HAM atau Hak Asasi Manusia merupakan hak yang dimiliki manusia
sejak dalam kandungan . HAM bersifat adil bagi semua orang, yang dimaksud
adalah setiap orang memiliki hak asasi yang merata tanpa pengecualian. HAM
merupakan Hak yang dikaruniai oleh Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak ada daya
dan upaya apapun yang diperbolehkan dalam perihal merampas hak asasi
seseorang.

Karena HAM merupakan hal yang sakral dan pribadi, maka keadaan HAM
harus terlindungi bagi setiap orang. HAM pun sudah secara tertulis terlindungi
karena sudah terpapar di Undang Undang Dasar 1945 sebagai berikut;

 Pasal 26 Tahun 2000


 Pasal 27 UUD 1945, berbunyi:
(1) “Segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjungjung hukum dan pemerinatah itu dengan
tidak ada kecualinya”.
(2) “Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan.”
(3) “Setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan
negara.”

 Pasal 28 UUD 1945


”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”

 Pasal 28 A
”Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya”

6
 Pasal 28 B
(1) ”Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan
melalui perkawinan yang sah.”
(2) ”Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang
serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”

 Pasal 28 C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan
haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya

 Pasal 28 D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
(2) Setiap orang berhak untuk berkerja serta mendapat imbalan dan perlakuan
yang adil dan layak dalam hubungan kerja
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan

 Pasal 28 E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya serta berhak kembali.

7
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan
pikiran dan sikap sesuai hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan
mengeluarkan pendapat.

2.2 Sejarah HAM


Hak asasi di muka bumi ini selalu bergejolak karena banyaknya faktor-faktor
yang memengaruhinya, baik dari kondisi, latar belakang negara itu sendiri dan lain
lainnya. Begitu pula di Indonesia. Hak asasi manusia yang saat ini kita junjung dengan
tinggipun pada zaman dahulu memiliki pasang surut tersendiri.

2.2.1 HAM di Indonesia

Wacana HAM di Indonesia yang telah berlangsung seiring berdirinya Negara


Kesatuan Republik Indonesia. HAM di Indonesia dibagi menjadi dua periode:
sebelum kemrdekaan (1908-1945), dan sesudah kemerdekaan (1945-sekarang).

a. Periode sebelum Kemerdekaan (1908-1945)

Pemikiran HAM pada masa sebelum kemerdekaan dapat dilihat dalam sejarah
kemunculan organisasi. Pergerakan Nasonal Budi Oetomo (1908), Sarekat Islam
(1911), Indesche Partij (1912), Perhimpunan Indonesia (1925), Partai Nasional
Indonesia (1927). Lahirnya pergerakan–pergerakan yang menjunjung berdirinya
HAM seperti ini tak lepas dari pelangaran HAM yang dilakukan oleh penguasa
(penjajah). Dalam sejarah pemikiran HAM di Indonesia Boedi Oetomo
merupakan organisasi pertama yang menyuarakan kesadaran berserikat dan
mengeluarkan pendapat melalui petisi-petisi yang di tunjukan ke pada pemerintah
kolonial maupun lewat tulisan di surat kabar.

8
b. Periode setelah kemerdekaan (1945-sekarang)

Perdebatan tentang HAM berlanjut sampai periode paska kemerdekaan:


1. Periode 1945-1950
Pemikiran HAM pada periode ini menekankan wacana untuk merdeka (Self
Determination), hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik mulai
didirikan, serta hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama di
Parlemen.

2. Periode 1950-1959
Periode ini dikenal dengan periode parlementer, menurut catatan Bagir Manan,
masa gemilang sejarah HAM di Indonesia tercrmin dalam empat indikator HAM:

munculnya partai politik dengan berbagai idiologi.

adanya kebebasan pers.

pelaksanan pemilihan umum secara aman, bebas dan demokratris.

kontrol parlemen atas eksekutif.

3. Periode 1959-1966
Periode ini merupakan masa berakhirnya demokrasi liberal dan digantikan dengan
demokrasi terpimpin yang terpusat pada kekuasan persiden Seokarno, demokrasi
terpimpin (Guided Democracy) tidak lain sebagai bentuk penolakan presiden
Seokarno terhadap demokrasi parlementer yang dinilai merupakan produk barat.

Melalui sistem demokrasi terpimpin kekuasan terpusat di tangan persiden.


Persiden tidak dapat dikontrol oleh parlemen. Sebaliknya parlemen dikendalikan
oleh persiden. Kekuasaan persiden Sokarno bersifat absolut, bahkan dinobatkan
sebagai persiden seumur hidup. Dan akhir pemerintahan peresiden Seokarno
sekaligus sebagai awal Era pemerintahan orde baru yaitu masa pemerintahan
persiden Seoharto.

9
4. Periode 1966-1998
Pada mulanya Orde Baru menjanjikan harapan baru bagi penegakan HAM di
Indonesia. Janji–janji Orde Baru tentang HAM mengalami kemunduran pesat
pada tahu 1970-an hingga 1980-an. Setelah mendapat mandat konstitusional dari
siding MPRS. Orde Baru menolak ham dengan alasan HAM dan Demokrasi
merupakan produk barat yang individualistik yang militeristik. Bertentangan
dengan prinsip lokal Indonesia yang berprinsip gotong-royong dan kekeluargaan.

5. Periode Pasca Orde Baru


Tahun 1998 adalah era paling penting dalam sejarah perkembangan HAM di
Indonesia, setelah terbebas dairi pasungan rezim Orde baru dan merupakan awal
datangnya era demokrasi dan HAM yang kala itu dipimpin oleh Bj.Habibie yang
menjabat sebagai wakil presiden. Pada masa pemerintahan Habibie misalnya
perhatian pemerintah terhadap pelaksanan HAM mengalami perkembangan yang
sangat segnifikan, lahirnya TAP MPR No. XVII/MPR/1998 tentang HAM
merupakan salah satu indikator pemerintah era reformasi.

10
2.2.2 HAM di Dunia

Secara garis besar, hak asasi manusia di dunia mulai berevolusi sejak perjanjian
perjanjian dibawah ini disepakati secara bersama oleh negara-negara yang
bersangkutan

 Hak Asasi Manusia di Yunani

Filosof Yunani, seperti Socrates (470-399 SM) dan Plato (428-348 SM)
meletakkan dasar bagi perlindungan dan jaminan diakuinya hak – hak asasi
manusia. Konsepsinya menganjurkan masyarakat untuk melakukan sosial kontrol
kepada penguasa yang zalim dan tidak mengakui nilai – nilai keadilan dan
kebenaran. Aristoteles (348-322 SM) mengajarkan pemerintah harus mendasarkan
kekuasaannya pada kemauan dan kehendak warga negaranya.

 Hak Asasi Manusia di Inggris.

Inggris sering disebut–sebut sebagai negara pertama di dunia yang


memperjuangkan hak asasi manusia. Tonggak pertama bagi kemenangan hak-hak
asasi terjadi di Inggris. Perjuangan tersebut tampak dengan adanya berbagai
dokumen kenegaraan yang berhasil disusun dan disahkan.

Dokumen-dokumen tersebut adalah sebagai berikut :


1. Magna Charta.
Magna Charta dicetuskan pada 15 Juni 1215 yang prinsip dasarnya memuat
pembatasan kekuasaan raja dan hak asasi manusia lebih penting daripada
kedaulatan raja. Tak seorang pun dari warga negara merdeka dapat ditahan
atau dirampas harta kekayaannya atau diasingkan atau dengan cara apapun
dirampas hak-haknya, kecuali berdasarkan pertimbangan hukum. Piagam
Magna Charta itu menandakan kemenangan telah diraih sebab hak-hak
tertentu yang prinsip telah diakui dan dijamin oleh pemerintah. Piagam
tersebut menjadi lambang munculnya perlindungan terhadap hak-hak asasi

11
karena ia mengajarkan bahwa hukum dan undang-undang derajatnya lebih
tinggi daripada kekuasaan raja.

2. Petition of Rights.

Pada dasarnya Petition of Rights berisi pertanyaan-pertanyaan mengenai hak-


hak rakyat beserta jaminannya. Petisi ini diajukan oleh para bangsawan kepada
raja di depan parlemen pada tahun 1628.
Isinya secara garis besar menuntut hak-hak sebagai berikut :

 Pajak dan pungutan istimewa harus disertai persetujuan.


 Warga negara tidak boleh dipaksakan menerima tentara di rumahnya.
 Tentara tidak boleh menggunakan hukum perang dalam keadaan damai.

3. Hobeas Corpus Act.

Hobeas Corpus Act adalah undang- undang yang mengatur tentang


penahanan seseorang dibuat pada tahun 1679.
Isinya adalah sebagai berikut :

a) Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah


penahanan.
b) Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.

 Hak Asasi Manusia di Amerika Serikat

Declaration of Independence di Amerika Serikat menempatkan Amerika sebagai


negara yang memberi perlindungan dan jaminan hak-hak asasi manusia dalam
konstitusinya, kendatipun secara resmi rakyat Perancis sudah lebih dulu
memulainya sejak masa Rousseau. Kesemuanya atas jasa presiden Thomas
Jefferson presiden Amerika Serikat lainnya yang terkenal sebagai “pendekar” hak

12
asasi manusia adalah Abraham Lincoln, kemudian Woodrow Wilson dan Jimmy
Carter.
Amanat Presiden Flanklin D. Roosevelt tentang “empat kebebasan” yang
diucapkannya di depan Kongres Amerika Serikat tanggal 6 Januari 1941 yakni :

1. Kebebasan untuk berbicara dan melahirkan pikiran (freedom of speech and


expression).
2. Kebebasan memilih agama sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya
(freedom of religion).
3. Kebebasan dari rasa takut (freedom from fear).
4. Kebebasan dari kekurangan dan kelaparan (freedom from want).

 Hak Asasi Manusia di Prancis.

Perjuangan hak asasi manusia di Prancis dirumuskan dalam suatu naskah


pada awal Revolusi Prancis. Perjuangan itu dilakukan untuk melawan
kesewenang-wenangan rezim lama. Naskah tersebut dikenal dengan
DECLARATION DES DROITS DE L’HOMME ET DU CITOYEN yaitu
pernyataan mengenai hak-hak manusia dan warga negara. Pernyataan yang
dicetuskan pada tahun 1789 ini mencanangkan hak atas kebebasan, kesamaan, dan
persaudaraan atau kesetiakawanan (liberte, egalite, fraternite).

Lafayette merupakan pelopor penegakan hak asasi manusia masyarakat Prancis


yang berada di Amerika ketika Revolusi Amerika meletus dan mengakibatkan
tersusunnya Declaration des Droits de I’homme et du Citoyen. Kemudian di tahun
1791, semua hak-hak asasi manusia dicantumkan seluruhnya di dalam konstitusi
Prancis yang kemudian ditambah dan diperluas lagi pada tahun 1793 dan 1848.
Juga dalam konstitusi tahun 1793 dan 1795. revolusi ini diprakarsai pemikir –
pemikir besar seperti : J.J. Rousseau, Voltaire, serta Montesquieu.

13
BAB III

ANALISIS

3.1 Pengertian HAM dan mengapa perlu dilindungi

HAM adalah hak asasi yang dimiliki oleh manusia sejak manusia itu
dilahirkan dan melekat dengan kodrat sebagai manusia. HAM timbul sejak
manusia itu masih didalam kandungan dan HAM perlu dilindungi karena
HAM merupakan pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa dan tanpa adanya
HAM, tidak akan ada rasa kemanusiaan, tenggang rasa, dan rasa persaudaraan.
Tidak ada kekuasaan manapun di muka bumi ini yang dapat mencabut HAM.

3.2 Alasan perlindungan HAM ditiap negara berbeda

HAM atau Hak Asasi Manusia tentu berbeda di tiap negara. Hal ini disebabkan
oleh banyak faktor, diantaranya adalah sejarah/ latar belakang negara itu sendiri.
Sebagai contoh, Amerika dulunya hanya memberlakukan perlindungan HAM
pada rakyat yang berkulit putih. Namun, sejak perang Revolusi Amerika,
kebijakan perlindungan HAM sudah diberlakukan dengan adil. Faktor lain yang
memicu adalah kebijakan hukum, ideologi pemerintah, dan bentuk negara yang
beragam di tiap-tiap negara. Seharusnya, HAM diberlakukan atau diperuntukkan
untuk semua orang tanpa terkecuali, jadi sikap diskriminatif itu tidak boleh
diperlakukan dalam hal kebijakan HAM. Terkait dengan kelompok rentan, yang
termasuk didalamnya adalah anak, wanita, minoritas, suku terasingm dan lainnya.
Di Indonesia, semua termasuk kelompok rentan mendapatkan perlindungan HAM
secara menyeluruh dan tidak ada perbedaan dalam perlakuan hukum maupun yang
lainnya. Bahkan mereka mendapat perlakuan khusus seperti BPJS bagi
masyarakat yang tidak mampu.

3.3 HAM yang dimiliki manusia

Pasal 27 UUD 1945, berbunyi:


“Segala warga negara bersamaan kedudukan di dalam hukum dan pemerintahan
dan wajib menjungjung hukum dan pemerinatah itu dengan tidak ada kecualinya”

14
Pasal 28 UUD 1945
”Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan
tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”
Pasal 28 A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan
kehidupannya

Pasal 28 B
(1) Setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui
perkawinan yang sah
(2) Setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi
Pasal 28 C
(1) Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan
dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas
hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.
(2) Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya
secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa dan negaranya
Pasal 28 D
(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlidungan dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum
(2) Setiap orang berhak untuk berkerja serta mendapat imbalan dan perlakuan
yang adil dan layak dalam hubungan kerja
(3) Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalm
pemerintahan
(4) Setiap orang berhak atas status kewarganegaraan
Pasal 28 E
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadah menurut agamanya,
memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih

15
kewarganegaraan, memilih tempat tinggal di wilayah negara dan
meninggalkannya serta berhak kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan
pikiran dan sikap sesuai hati nuraninya.
(3) Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan
pendapat.
Pasal 28 F
Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya serta berhak untuk mencari,
memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Pasal 28 G
(1) Setiap orang berhak atas perlindung diri pribadi, keluarga, kehormatan,
martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa
aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat
sesuatu yang merupakan hak asasinya.
(2) Setiap orang berhak untuk bebas dari penyiksaan atau perlakuan yang
merendahkan derajat martabat manusia dan berhak memperoleh suaka politik dari
negara lain.
Pasal 28 H
(1) Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan
mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
(2) Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manfaat yang sama guna mencapai persamaan dan
keadilan
(3) Setiap orang berhak atas imbalan jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat
(4) Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak
boleh diambil alih sewenang-wenang oleh siapapun.
Pasal 28 I

16
(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati
nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai
pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang
berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun.
(2) Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yanbg bersifat diskriminatif atas
dasar apaun dan berhak mendapat perlindungan terhadap perlakuan yang bersifat
diskriminatif itu.
(3) Identitas budaya dan hak masyarakat tradisional dihormati selaras dengan
perkembangan zaman dan peradaban.
(4) Perlindungan, pemajuan, penegakan dan pemenuhan hak asasi manusia adalah
tanggung jawab negara terutama pemerintah
(5) Untuk menegakkan dan melindungi hak asaso manusia sesuai dengan prinsip
negara hukum yang demokrastis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin,
diatur dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.
Pasal 28 J
(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain dalam tertib
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
(2) Dalam menajlan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk kepada
pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang dengan maksud semata-mata
untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang
lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimabangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat
demokrastis.
Pasal 29
(2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk berinadah menurut agama dan kepercayaannya itu.
14) Pasal 30 ayat (1)
(1) Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan
dan keamanan negara.
15) Pasal 31

17
(1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan

Negara tidak boleh membatasi HAM karena HAM merupakan pemberian Tuhan
yang melekat pada manusia sejak dilahirkan. Contohnya yaitu ketika seseorang
mengeluarkan pendapat, akan tetapi saat mengeluarkan kita juga harus
memerhatikan norma-norma yang berlaku agar tidak terjadi kesalapahaman.

3.4 Tempat diadilinya pelanggaran HAM

Pelanggaran HAM di Indonesia diadili di pengadilan HAM, pengadilan khusus


yang berada dilingkungan peradilan umum. Untuk pelanggaran HAM
Internasional diadili di Mahkamah Pidana Internasional. Mahkamah Pidana
Internasional mempunyai wewenang untuk menangani beberapa jenis kejahatan
internasional, seperti genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan agresi,
dan kejahatan perang.

Dengan adanya pengadilan terhadap pelanggaran hak asasi manusia berat ini
maka para pelaku pelanggaran berat hak asasi manusia tidak lagi bisa lepas dari
tanggung jawab. Apabila pengadilan nasional tidak mampu mengadilinya maka
masyarakat internasional dapat meminta pertanggungjawaban itu melalui
pengadilan internasional.

3.5 Perbedaan antara pelanggaran HAM dan pelanggaran HAM


berat
Pelanggaran HAM ringan atau biasa adalah pelanggaran yang juga merampas hak
seseorang, akan tetapi tidak mengancam nyawa seseorang seperti pencemaran
lingkungan, kelalaian dalam pelayanan kesehatan dan lainnya.

Pelanggaran HAM yang berat sangat berkorelasi pada unsur sisitimatis dan/atau
meluas. Jadi harus mengunakan dua parameter tersebut dalam
pengidentifikasiannya. Demikian juga mengenai bentuk-bentuk pelanggarannya,
yang merupkan kejahatan-kejahatan yang ditunjuk menurut hukum internasional,

18
Pelanggaran HAM yang Berat tidaklah identik dengan berbagai bentuk
pelanggaran terhadap 10 jenis hak yang diatur dalam UU No 39 Tahun 1999
tentang HAM. Karena bentuk-bentuk pelanggaran tersebut berada di bawah
kategori Pelanggaran HAM, dan diseleksaikan melalui penegakkan HAM yang
diatur dalam UU No 39 Tahun 1999 tentang HAM. Contoh pelanggaran HAM
berat yaitu seperti kejahatan genosida.

3.6. Contoh Kasus HAM di Indonesia (Pembunuhan Angeline)

Angeline merupakan putri dari pasangan Rosidik dan Hamidah. Dia diadopsi oleh
keluarga Margareta sejak bayi. Orangtua Angeline menyerahkan anaknya kepada
Margareta lantaran tidak memiliki uang untuk menebus biaya klinik.

Saat Angeline lahir, penghasilan Rosidik waktu itu hanya Rp30 ribu perhari.
Warga Banyuwangi ini hanya bekerja sebagai kuli. Sementara biaya bersalin
Hamidah saat itu mencapai Rp600 ribu.

Ketika dalam kondisi sulit itulah orangtua Angeline diperkenalkan oleh Margareta
melalui tetangga kosnya. Saat itu, Margareta berjanji akan menjaga, serta merawat
Angeline dengan baik dan mereka percaya.

Setelah dipertemukan dengan Margareta di sebuah klinik di daerah Canggu, Kuta,


Badung, dia mengaku diajak ke notaris membuat perjanjian hitam di atas putih.
Rosidik lalu diberi uang Rp1,8 juta oleh Margareta.

Bersama Margareta

Janji Margareta untuk merawat Angeline dengan baik ternyata diingkarinya.


Selama di rumah Margareta, Angeline diperlakukan seperti budak kecil. Dia
harus memberi makan ratusan ayam ternak milik Margareta.

19
Sebelum selesai memberi makan ayam, Angeline dilarang makan dan
berangkat sekolah. Kegiatan ini dilakukan Angeline setiap hari sebelum
berangkat sekolah. Untuk itu, Angeline harus bangun sejak subuh.

Bahkan, ketika makanan dan minuman ayam kurang Angeline selalu diteriaki
dan dimarahi oleh Margareta. Dengan nada menghina tanpa belas kasihan,
Margareta menyebut Angeline sebagai anak yang tidak tahu diri.

Tidak jarang, Angeline menjadi korban penganiayaan Margareta jika telat


memberi makan ayam. Pernah suatu ketika ada anak ayam Margareta yang
hilang satu ekor dan tidak ketemu.

Kesal anak ayamnya hilang, Margareta lalu memukuli Angeline. Margareta juga
kerap menjambak rambut Angeline yang panjang. Tindakan kasar ini diterima
Angeline hampir setiap hari

Angeline Hilang

Sebelum ditemukan tewas dibunuh ibu angkatnya sendiri, Angeline (8)


dikabarkan menghilang dari rumah, kawasan Denpasar, Bali. Kabar
menghilangnya Angeline mulai diberitakan, pada Sabtu 16 Mei 2015.

Saat menghilang, bocah cilik berparas cantik ini mengenakan daster panjang
warna biru muda, sandal jepit warna kuning, rambut dikuncir dan berbadan kurus.

Angeline terakhir kelihatan saat tengah bermain di halaman depan rumahnya, di


Jalan Sedap Malam. Pihak keluarga Margareta awalnya membangun opini
Angelina hilang dibawa lari orang yang tidak dikenal.

Kabar menghilangnya Angeline juga sempat disebar ke jejaring sosial Facebook.

20
Namun saat wartawan mengonfirmasi hal ini kepada Kapolsek Denpasar Selatan
Kompol Nanang Prihasmoko, kabar hilangnya Angeline dibantah

Ditemukan Tewas

Setelah kabar hilangnya Angeline tersebar luas, perhatian masyarakat langsung


tertuju kepada pencarian bocah malang ini. Petugas kepolisian pun didesak untuk
lebih keras mencari keberadaan Angeline.

Upaya petugas akhirnya membuahkan hasil. Angeline ditemukan pada Rabu 10


Juni 2015. Saat ditemukan, Angeline sudah tidak bernyawa. Mayatnya ternyata
terkubur bersama boneka berbie di rumah Margareta, Jalan Sedap Malam, Sanur,
Denpasar.

Mayat Angeline ditemukan oleh Tim Gabungan Polda Bali yang terdiri dari
Polsek Denpasar Timur dan Polresta Denpasar di belakang kandang ayam,
tepatnya dekat pohon pisang yang di depannya ada tumpukan sampah.

Pembunuhan Sadis

Penemuan Angeline sempat menggemparkan warga Bali. Bocah yang tadinya


dikabarkan hilang dan diculik, ternyata tewas dihabisi oleh Margareta, ibu
angkatnya sendiri.

Menurut polisi yang mengangkat jenazah Angeline, pada lehernya ditemukan luka
goresan-goresan bekas jeratan. Diduga, Angeline dijerat dengan tali. Polisi juga
menemukan banyak luka memar di tubuh siswi kelas II SDN 12 Sanur itu.

Tidak hanya itu, kepala Angeline juga dibenturkan ke lantai dan tembok.
Benturan keras inilah yang diduga menyebabkan Angeline meninggal dunia.
Setelah tewas, mayat Angeline bahkan dilecehkan.

21
Pelaku Pembunuhan

Ditemukannya mayat Angeline disusul dengan penetapan tersangka pembunuhan.


Tersangka pertama yang ditetapkan polisi sebagai tersangka adalah pembantu
rumah tangga Margareta, Agus Tae Hamda May.

Saat pembunuhan terjadi, Agus baru satu minggu bekerja dengan Margareta.
Penetapan tersangka ini baru diketahui pada Rabu 10 Juni 2015. Dalam
prarekonstruksi kejadian, terungkap Agus membunuh Angeline.

Agus membunuh Angeline pada adegan ke-7 dengan cara membenturkan kepala
Angeline ke tembok dan lantai berkali-kali. Agus juga mencekik leher Angeline
dengan tangannya hingga tubuh bocah malang itu lemas.

Saat Angeline tidak berdaya, Agus sempat diminta untuk memperkosa Angeline.
Namun Agus menolaknya. Setelah Angeline tewas, dia langsung menguburnya
bersama boneka barbie kesayangan Angeline.

Kepada polisi, Agus mengaku melakukan pembunuhan keji itu tidak sendiri. Dia
disuruh majikannya, yakni Margereta. Keterangan Agus dijadikan dasar untuk
menjadikan Margareta sebagai tersangka kedua

Pada awalnya, Margareta ditetapkan sebagai pelaku penganiayaan Angeline. Baru


kemudian menjadi tersangka pembunuhan Angeline. Dalam sidang, terungkap
bahwa Margareta adalah pelaku utama pembunuhan itu.

VonisPengadilan

Sidang kasus pembunuhan Angeline berjalan sangat alot hingga berlangsung


empat bulan. Selain karena adanya dugaan praktik kecurangan pada majelis

22
hakim, juga adanya permainan di kepolisian.

Sidang yang awalnya dipimpin Hakim Ketua I Gede Ketut Wanugraha, Made
Sukreni, dan Ahmad Paten Silly dipindakan ke Ambon. Penyebabnya karena
sidang berlangsung langsung lambat dan berlarut-larut.

Pada pihak kepolisian, kecugiaan akan adanya permainan terjadi saat video
pemeriksaan Agus berhasil diperoleh Tim Pengacara Margareta. Video itu
merupakan dokumentasi Polri yang sifatnya rahasia.

Setelah melewati proses yang melelahkan, pengadilan akhirnya menjatuhkan


vonis 10 tahun penjara terhadap Agus dan penjara seumur hidup terhadap
Margareta

23
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

HAM adalah hak asasi yang dimiliki oleh manusia sejak manusia itu dilahirkan
dan melekat dengan kodrat sebagai manusia. HAM timbul sejak manusia itu
masih didalam kandungan dan HAM perlu dilindungi karena HAM merupakan
pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa dan tanpa adanya HAM, tidak akan ada
rasa kemanusiaan, tenggang rasa, dan rasa persaudaraan. Tidak ada seorangpun di
dunia ini yang berhak untuk mencabut HAM seseorang. HAM akan berlangsung
dengan baik jika masing-masing individu di dunia ini saling menghargai satu
sama lain. HAM juga akan terjamin jika kita mematuhi norma-norma yang
berlangsung dilingkungan mana saja. Apabila seseorang terjerat dengan
pelanggaran HAM, maka orang tersebut harus mendapatkan konsekuensinya
karena seseorang harus bertanggung jawab atas apa yang telah mereka perbuat.

24
Daftar Pustaka

https://brainly.co.id/tugas/711881

http://uniridha.blogspot.co.id/2013/05/pelanggaran-ham-dan-pelanggaran-
ham.html

http://www.tugassekolah.com/2016/01/peradilan-internasional-hak-asasi-
manusia-ham.html

http://komunitasgurupkn.blogspot.co.id/2012/07/pasal-pasal-dalam-uud-1945-
yang.html

http://daerah.sindonews.com/read/1089180/174/rentetan-kasus-pembunuhan-
angeline-hingga-vonis-pengadilan-1456737431/30

25