Anda di halaman 1dari 266

Optimasi Geometri Peledakan untuk Mencapai Target Fragmentasi

dan Diggability dalam Pemenuhan Target Produktivitas Ore


di Pit Durian Barat dan Pit South Osela Site Bakan
PT J Resources Bolaang Mongondow Sulawesi Utara

TUGAS AKHIR

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Teknik pada Program S-1 Teknik Pertambangan

Oleh:
Milia Putri
1302673/2013

Konsentrasi : Pertambangan Umum


Program Studi : S-1 Teknik Pertambangan
Jurusan : Teknik Pertambangan

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PADANG
2018
BIODATA

I. Data Diri
Nama Lengkap : Milia Putri
BP/NIM : 2013/1302673
Tempat/Tanggal Lahir : Ujunggading, 15 Mei 1995
Jenis Kelamin : Perempuan
Nama Bapak : Jhonrizal
Nama Ibu : Irna Yanti
Jumlah Bersaudara : 5 (lima) orang
Alamat Tetap : Jalan Irian, Ujunggading, Pasaman Barat
Email : putrimilia01@gmail.com
No. Handphone : 0852-6973-0865

II. Data Pendidikan


Sekolah Dasar : SDS Bakrie Utama Sungai Aur
Sekolah Menengah Pertama : SMPN 1 Lembah Melintang
Sekolah Menengah Atas : SMAN 1 Pasaman
Perguruan Tinggi : Universitas Negeri Padang

III. Tugas Akhir


Tempat Penelitian : PT J Resources Bolaang Mongondow Sulawesi Utara
Tanggal Penelitian : 16 Januari s.d. 30 Maret 2017
Topik Studi Kasus : Optimasi Geometri Peledakan untuk mencapai
Target Fragmentasi dan Diggability dalam Pemenuhan
Target Produktivitas Ore di Pit Durian Barat dan
Pit South Osela Site Bakan PT J Resources Bolaang
Mongondow Sulawesi Utara
Tanggal Sidang Akhir : 24 Januari 2018

Padang, 07 Februari 2018

Milia Putri
ABSTRAK

Pemberaian batuan merupakan salah satu tahapan yang sangat penting dalam
operasi penambangan. Metode pemberaian batuan yang umum digunakan adalah
peledakan yang bertujuan untuk memberai batuan sesuai ukuran fragmentasi yang
telah direncanakan. Keefektifan kegiatan peledakan menjadi salah satu tolak ukur
keberhasilan kegiatan pemuatan (loading material) yang sangat mempengaruhi
ketercapaian target produktivitas penambangan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengestimasi geometri peledakan optimum untuk meminimalisir persentase
jumlah boulder sehingga kegiatan pemuatan (loading material) menjadi lebih
efektif dan target produktivitas tercapai. Studi kasus penelitian dilakukan pada 8
blok peledakan di Pit Durian Barat dan 8 blok peledakan di Pit South Osela yang
keduanya berada di PT J Resources Bolaang Mongondow Sulawesi Utara
Indonesia. Data penelitian terdiri dari fragmentasi peledakan, digging time, cycle
time, digging rate, dan produktivitas penambangan ore. Metode penelitian
dilakukan dengan estimasi geometri peledakan menurut teori R.L. Ash dan C.J.
Konya, pemodelan statistik, serta uji trial and error. Dari analisis data yang
dilakukan, untuk mencapai target produktivitas penambangan sebesar 700 bcm/jam
maka persentase jumlah boulder adalah 3 %, digging time 7 detik, cycle time 15
detik, dan digging rate 750 bcm/jam pada Pit Durian Barat, sementara pada Pit
South Osela persentase jumlah boulder 3 %, digging time 6 detik, cycle time 14
detik, dan digging rate 800 bcm/jam. Untuk meminimalisir persentase jumlah
boulder maka perlu dilakukan revisi geometri peledakan berdasarkan teori C.J.
Konya dengan reduksi ukuran boulder sebesar 4,26 s.d. 5,10 % dengan peningkatan
produktivitas sebesar 141 s.d. 215 bcm/jam, dengan demikian target produktivitas
ore dapat tercapai.
Katakunci: Boulder Peledakan, Digging Time, Cycle Time, Digging Rate, Produktivitas Ore

vi
ABSTRACT

Rock breaking is one of the most important stages in mining operations. The
commonly used method of rock breaking is blasting which aims to provide rocks
according to the size of fragmentation that has been planned. The effectiveness
blasting activities is one of the measurements success of loading activities which
greatly affect the achievement of mining productivity targets. This study aims to
estimate optimum blast geometry to minimize the percentage of boulder amount so
that the loading activity becomes more effective and productivity targets are
achieved. The case study was conducted on 8 blasting blocks in West Durian Pit
and 8 blasting blocks at Pit South Osela both located at PT J Resources Bolaang
Mongondow North Sulawesi Indonesia. The research data consisted of blast
fragmentation, digging time, cycle time, digging rate, and ore mining productivity.
The research method is done by estimation of blasting geometry according to R.L
theory. Ash and C.J. Konya, statistical modeling, and trial and error test. From the
data analysis conducted, to achieve the productivity of mining target of 700 bcm/
hour, the percentage of boulder amount is 3%, digging time is 7 second, cycle time
15 seconds, and digging rate 750 bcm/hour at West Durian Pit, while at Pit South
Osela percentage of boulder 3%, digging time 6 second, cycle time 14 seconds, and
digging rate 850 bcm/hour. Beside that to minimize the percentage of boulders it is
necessary to redesign blasting geometry based on C.J. Konya with boulder size
reduction percentage of 4,26 until 5,10 % with a productivity increase of 141 until
215 bcm/hour, so the ore productivity target has been reached.

Keyword: Boulder of Blasting, Digging Time, Cycle Time, Digging Rate, Ore
Productivity

vii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir yang

berjudul Optimasi Geometri Peledakan untuk Mencapai Target Fragmentasi

dan Diggability dalam Pemenuhan Target Produktivitas Ore di Pit Durian

Barat dan Pit South Osela Site Bakan PT J Resources Bolaang Mongondow

Sulawesi Utara.

Dalam penyusunan Tugas Akhir ini, penulis banyak mendapat bantuan,

pengarahan, dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan

terima kasih kepada:

1. Teristimewa kepada Orangtua yang selalu memberikan dukungan, doa, serta

pengarahan sehingga Penulis selalu bersemangat dalam menyelesaikan

penulisan Tugas Akhir ini

2. Bapak Dedi Yulhendra, S.T., M.T., dan Bapak Adree Octova, S.Si, M.T.,

selaku Dosen Pembimbing 1 dan Pembimbing 2 yang telah mengarahkan

penulis sehingga Tugas Akhir ini dapat terselesaikan dengan baik.

3. Bapak Erik Wibisana Barnas selaku Superintendent Engineering di PT J

Resources Bolaang Mongondow Sulawesi Utara yang banyak memberikan

pengarahan dan nasehat selama mengikuti kegiatan di perusahaan

4. Bapak Henri Jop dan Bapak Patrick F.E. Kalangi sebagai Pembimbing 1 dan

2 selama melakukan kegiatan penelitian di PT J Resources Bolaang

Mongondow

viii
5. Afrinal, Dian Kurnia, Rama Tri Saksono, Fransiskus L.B. Toruan, Annisya

Putri Hamdan, Jeremy Pandiangan, Fernando Mario, dan Sapril Tobing

selaku teman penulis selama melakukan kegiatan pengambilan data di

perusahaan

6. Seluruh karyawan PT J Resources Bolaang Mongondow yang telah bersedia

meluangkan waktunya untuk membimbing, berdiskusi, serta memberikan

arahan dan ilmunya kepada penulis selama pengambilan data di lapangan.

7. Reko Ternando, S.T., Benti Jul Sosantri, Roro Rasi Putra, Dendi Faisyal

Putra, Yola Andani, A.Md, Ilep Prengki, A.Md, Rihan Efendi, A.Md, Elisa

Sumiati, S.Pd, dan seluruh rekan-rekan S1 Teknik Pertambangan 2013.

Penulis menyadari dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak

kesalahan, untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan

untuk perbaikan di masa mendatang.

Padang, Januari 2018

Milia Putri

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING ............................................... ii

LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI ................................................ iii

SURAT PERNYATAAN TIDAK PLAGIAT .............................................. iv

BIODATA ....................................................................................................... v

ABSTRAK ...................................................................................................... vi

ABSTRACT ..................................................................................................... vii

KATA PENGANTAR .................................................................................... viii

DAFTAR ISI ................................................................................................... x

DAFTAR TABEL........................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xvi

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xx

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah................................................................. 1


B. Identifikasi Masalah ....................................................................... 3
C. Batasan Masalah............................................................................. 4
D. Rumusan Masalah .......................................................................... 4
E. Tujuan Penelitian ........................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ......................................................................... 6
BAB II TOPIK BAHASAN
A. Deskripsi Umum Perusahaan
1. Lokasi dan Kesampaian Daerah ............................................... 7
2. Wilayah Penambangan ............................................................. 8
3. Keadaan Geologi Daerah Penelitian ........................................ 9

x
B. Teori Dasar
1. Pengertian Emas ....................................................................... 14
2. Proses Pembentukan Emas....................................................... 14
3. Dasar-Dasar Alterasi Hidrotermal............................................ 15
4. Tipe Endapan Daerah Bakan .................................................... 17
5. Tipe Material Ore Blok Peledakan ........................................... 19
6. Faktor Yang Mempengaruhi Kegiatan Peledakan ................... 24
7. Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan ..................... 31
8. Geometri Peledakan ................................................................. 33
9. Fragmentasi Material Hasil Peledakan..................................... 47
10. Kegiatan Pemuatan (Loading) Material ................................... 55
11. Analisis Statistik....................................................................... 56
12. Kegiatan Peledakan PT J Reources Bolaang Mongondow ...... 63
13. Penelitian Yang Relevan .......................................................... 63
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ............................................................................... 69
B. Objek Penelitian ............................................................................. 69
C. Lokasi Penelitian ............................................................................ 70
D. Instrumen Penelitian....................................................................... 70
E. Tahapan Penelitian ......................................................................... 70
F. Kerangka Konseptual ..................................................................... 74
G. Alur Penelitian ............................................................................... 75
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Kegiatan Peledakan PT JRBM
1. Urutan Pelaksanaan Kegiatan Peledakan ................................. 76
2. Ukuran Fragmentasi Peledakan................................................ 88
B. Data Pengamatan............................................................................ 89
C. Pembahasan
1. Efisiensi Kegiatan Peledakan Aktual terhadap Plan
PT JRBM .................................................................................. 90
2. Fragmentasi Peledakan Teoritis dan Aktual ............................ 98
xi
3. Digging Time, Digging Rate, dan Produktivitas
Alat Gali Muat.......................................................................... 115
4. Pemodelan Statistik Hubungan Geometri Peledakan
terhadap Fragmentasi dan Diggability Alat Gali Muat ............ 121
5. Revisi Geometri Peledakan Menurut Teori R.L. Ash
dan C.J. Konya ......................................................................... 135
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 141
B. Saran............................................................................................... 143
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 146
LAMPIRAN .................................................................................................... 149

xii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1. Tipe Endapan Daerah Bakan....................................................................... 19

Tabel 2. Koreksi Posisi Lapisan Batuan dan Struktur Geologi ................................. 41

Tabel 3. Potensi Yang Terjadi Akibat Stiffness Ratio ............................................... 47

Tabel 4. Interpretasi Nilai Koefisien Determinasi (R2)............................................. 59

Tabel 5. Geometri Peledakan PT JRBM ................................................................... 83

Tabel 6. Deviasi Collapse Kedalaman Lubang Ledak .............................................. 91

Tabel 7. Deviasi Collapse Kedalaman Stemming ..................................................... 92

Tabel 8. Perhitungan Faktor Batuan (A) ................................................................... 98

Tabel 9. Perhitungan Fragmentasi Rata-Rata Blok Peledakan ................................. 99

Tabel 10. Perhitungan Indeks Keseragaman (n) pada Blok Peledakan .................... 100

Tabel 11. Perhitungan Nilai Xc pada Blok Peledakan .............................................. 101

Tabel 12. Persentase Ukuran Boulder pada Blok Peledakan .................................... 102

Tabel 13. Perhitungan Faktor Batuan (A) Menurut Cunningham (2005) ................. 104

Tabel 14. Perhitungan Faktor Timing (At) pada Blok Peledakan…………………...105

Tabel 15. Faktor Koreksi terhadap Batuan .............................................................. 106

Tabel 16. Perhitungan Fragmentasi Rata-Rata Blok Peledakan ............................... 107

Tabel 17. Perhitungan Indeks Keseragaman (n) pada Blok Peledakan .................... 111

xiii
Tabel 18. Ukuran Fragmentasi Peledakan dengan Split Dekstop ............................. 113

Tabel 19. Perbandingan Persentase Jumlah Boulder (> 50 cm)................................ 114

Tabel 20. Perhitungan Digging Time Material pada Blok Peledakan ....................... 116

Tabel 21. Bucket Capacity Hitachi ZX870LC-5G .................................................... 118

Tabel 22. Bucket Fill Factor ..................................................................................... 119

Tabel 23. Digging Rate dan Produktivitas Alat Gali Muat ....................................... 120

Tabel 24. Analisis Statistik Hubungan PF, Persentase Collapse Kedalaman

Lubang Ledak, Persentase Collapse Stemming terhadap Fragmentasi ...... 125

Tabel 25. Analisis Statistik Hubungan Fragmentasi Peledakan, Digging Time,

Cycle Time, Digging Rate terhadap Produktivitas Alat Gali Muat ............ 126

Tabel 26. Perbedaan Data Awal dan Data Model dari Fragmentasi Boulder

Hasil Peledakan .......................................................................................... 127

Tabel 27. Asumsi Eksistensi Model Regresi di Pit Durian Barat ............................. 128

Tabel 28. Asumsi Independensi Model Regresi di Pit Durian Barat ........................ 128

Tabel 29. Asumsi Linieritas Model Regresi di Pit Durian Barat .............................. 128

Tabel 30. Asumsi Multicolinearity Model Regresi di Pit Durian Barat ................... 130

Tabel 31. Asumsi Eksistensi Model Regresi di Pit South Osela............................... 130

Tabel 32. Asumsi Independensi Model Regresi di Pit South Osela ......................... 131

Tabel 33. Asumsi Linieritas Model Regresi di Pit South Osela ............................... 131
xiv
Tabel 34. Asumsi Multicolinierity Model Regresi di Pit South Osela...................... 132

Tabel 35. Perbedaan Data Awal dan Data Model untuk Produktivitas Alat

Gali Muat pada Blok Peledakan ................................................................ 133

Tabel 36. Koefisien Beta pada Uji Statistik Multivariate ......................................... 133

Tabel 45. Titik Optimum dari Kombinasi Data Produktivitas .................................. 135

Tabel 46. Perhitungan Geometri Peledakan Menurut R.L. Ash dan C.J. Konya ...... 137

xv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 1. Peta Ketersampaian Daerah ....................................................................... 8

Gambar 2. Peta Wilayah Penambangan Citra Satelit ............................................ 8

Gambar 3. Kolom Stratigrafi Bakan ...................................................................... 12

Gambar 4. Peta Alterasi Pit Durian Barat .............................................................. 20

Gambar 5. Peta Alterasi Pit South Osela ............................................................... 21

Gambar 6. Material Pembentuk Pit Durian Barat .................................................. 24

Gambar 7. Material Pembentuk Pit South Osela ................................................... 24

Gambar 8. Peubah Terkendali dan Tidak Terkendali dalam

Rancangan Peledakan........................................................................... 25

Gambar 9. Pemboran dengan Lubang Ledak Tegak dan Miring ........................... 29

Gambar 10. Pola Pemboran Sejajar dan Selang-Seling ......................................... 30

Gambar 11. Pengaruh Diameter Lubang Ledak terhadap Burden ......................... 30

Gambar 12. Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan ............................... 31

Gambar 13. Pengaruh Perbandingan S/B terhadap Fragmentasi ........................... 44

Gambar 14. Foto Sebelum Dilineasi ...................................................................... 53

Gambar 15. Foto Setelah Dileneasi ....................................................................... 54

Gambar 16. Output Hasil Analisis Fragmentasi Split Dekstop .............................. 54

xvi
Gambar 17. Diagram Pencar (Scatter Plot) antara Dua Variabel .......................... 58

Gambar 18. Kerangka Konseptual ......................................................................... 74

Gambar 19. Bagan Alir Penelitian ......................................................................... 75

Gambar 20. Clean Up Area Peledakan .................................................................. 77

Gambar 21. Pemasangan Patok Lubang Ledak...................................................... 77

Gambar 22. Lubang Ledak Yang Akan Dibor ....................................................... 78

Gambar 23. Kegiatan Pemboran ............................................................................ 79

Gambar 24. Pengecekan Kedalaman Lubang Ledak Aktual Sebelum Charging .. 80

Gambar 25. Remote Firing..................................................................................... 81

Gambar 26. Perlengkapan Peledakan..................................................................... 82

Gambar 27. Pola Peledakan Drop Cut ................................................................... 84

Gambar 28. Memasukkan Primer ke dalam Lubang Ledak ................................... 84

Gambar 29. Pengisian Bahan Peledak ................................................................... 85

Gambar 30. Pengukuran Gassing ........................................................................... 85

Gambar 31. Stemming Injection ............................................................................. 86

Gambar 32. Tie Up Peledakan ............................................................................... 86

Gambar 33. Pemasangan Lead In Line ke Remote Firing ...................................... 87

Gambar 34. Blasting Radius Map .......................................................................... 88

Gambar 35. Ukuran Fragmentasi Peledakan Ore Pit South Osela (Kiri)

xvii
Pit Durian Barat (Kanan) .................................................................... 89

Gambar 36. Blok Peledakan Pit Durian Barat ....................................................... 90

Gambar 37. Blok Peledakan Pit South Osela ......................................................... 90

Gambar 38. Grafik Deviasi Collapse Kedalaman Lubang Ledak Pit Durian

Barat (Atas) dan Pit South Osela (Bawah) ......................................... 93

Gambar 39. Grafik Deviasi Collapse Stemming Pit Durian Barat (Atas) dan

Pit South Osela (Bawah) ..................................................................... 94

Gambar 40. Lubang Ledak Collapse karena Kehadiran Rongga ........................... 95

Gambar 41. Area Charging yang Tergenang Air setelah Hujan ............................ 96

Gambar 42. Material Pit South Osela Dominan Clay ............................................ 96

Gambar 43. Monitor Drillling Machine yang Rusak ............................................. 96

Gambar 44. Liner yang Mudah Robek ................................................................... 97

Gambar 45. Perbandingan Jumlah Boulder Pit Durian Barat ................................ 115

Gambar 46. Perbandingan Jumlah Boulder Pit South Osela.................................. 115

Gambar 47. Kegiatan Digging Material Hasil Peledakan ...................................... 117

Gambar 48. Digging Time Material Hasil Peledakan Pit Durian Barat ................. 117

Gambar 49. Digging Time Material Hasil Peledakan Pit South Osela .................. 118

Gambar 50. Digging Rate dan Produktivitas di Pit Durian Barat .......................... 120

Gambar 51. Digging Rate dan Produktivitas di Pit South Osela ........................... 121

xviii
Gambar 52. Analisis Bivariate Hubungan Fragmentasi terhadap PF Serta

Persentase Deviasi Kedalaman Lubang Ledak dan Stemming .......... 122

Gambar 53. Analisis Bivariate Hubungan Produktifitas dengan Fragmentasi,

Digging Time, Cycle Time, Digging Rate Alat Gali Muat ................. 123

Gambar 54. Scatter Plot Uji Homoscedascity Model Regresi Pit Durian Barat ... 129

Gambar 55. Grafik Asumsi Normalitas Model Regresi Pit Durian Barat ............. 129

Gambar 56. Scatter Plot Uji Homoscedascity Model Regresi Pit South Osela ..... 131

Gambar 57. Grafik Asumsi Normalitas Model Regresi Pit South Osela ............... 132

Gambar 58. Lay Out Geometri Peledakan Pit Durian Barat dengan R.L. Ash ...... 139

Gambar 59. Lay Out Geometri Peledakan Pit Durian Barat dengan C.J. Konya .. 139

Gambar 60. Lay Out Geometri Peledakan Pit South Osela dengan R.L. Ash ....... 140

Gambar 61. Lay Out Geometri Peledakan Pit South Osela dengan C.J. Konya .... 140

xix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran A. Peta-Peta di Lokasi Penelitian .................................................... 149

Lampiran B. Fragmentasi pada Blok Peledakan .............................................. 165

Lampiran C. Data Pengamatan di Blok Peledakan .......................................... 177

Lampiran D. Pemodelan Multivariate dengan Analisis

Regresi Linier Berganda ............................................................. 232

Lampiran E. Perhitungan Geometri Peledakan ................................................ 240

xx
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemberaian batuan merupakan salah satu tahapan yang sangat penting

dalam operasi penambangan. Pemberaian batuan dapat dilakukan dengan

berbagai cara tergantung dari karakteristik batuan yang akan diberai. Menurut

Ghokale (2009: 36) “Metode pemberaian batuan yang umum digunakan lebih

dari empat abad yang lalu adalah pemboran dan peledakan”. Kegiatan

peledakan bertujuan untuk melepas atau memberaikan material dari batuan

induknya agar ukuran fragmentasi yang dihasilkan dapat memudahkan

kegiatan penambangan selanjutnya (Bhandari, 1997: 2-3). Ukuran fragmentasi

akan mempengaruhi efisiensi dari kegiatan loading material dan proses

pengolahan pada primary crushing (Hustrulid, 1999: 25-27).

PT J Resources Bolaang Mongondow (PT JRBM) adalah perusahaan

yang bergerak di bidang industri pertambangan emas dengan sistem tambang

terbuka dan metode penambangan open pit. Kegiatan pemberaian emas

mayoritas didominasi oleh kegiatan pemboran dan peledakan karena material

yang akan diberai memiliki kuat tekan batuan berkisar antara 5-32 MPa.

Menurut Kramadibrata (1997) “Kegiatan peledakan dilakukan untuk material

dengan kuat tekan > 25 MPa”. Kegiatan peledakan di PT JRBM dilakukan

oleh pihak kontraktor dari PT Dyno Nobel (DNX) dengan area operasional

terdiri dari dua pit yaitu Pit Durian Barat dan Pit South Osela.

1
2

Dalam suatu perencanaan kegiatan peledakan ada beberapa faktor yang

perlu diperhatikan, diantaranya tipe material, ketepatan pemboran, pola

geometri, dan bahan peledak yang digunakan (Bhandari, 1997: 5). Pola

geometri disesuaikan dengan tipe material dari blok peledakan agar hasil

fragmentasi dapat memenuhi target yang ditetapkan. Tipe material ore yang

akan diledakkan berbeda pada masing-masing pit akibat adanya pengaruh

zona alterasi. Pit Durian Barat terbentuk pada zona alterasi high sulfide yang

didominasi oleh silica vuggy dan Pit South Osela terbentuk pada zona alterasi

low sulfide yang didominasi oleh 40 % silica vuggy dan 60 % advance argilic

(Iip Hardjana, 2012: 143-157).

Target fragmentasi ore yang ingin dicapai di PT JRBM adalah 80 %

berukuran < 10 cm, 20 % berukuran 10-50 cm, dan 0 % berukuran 50 cm.

Data aktifitas peledakan pada November hingga Desember 2016 menunjukkan

fragmentasi ore berukuran > 50 cm adalah 7 % s.d. 13 % (Lampiran A pada

Tabel 39). Adanya material berukuran boulder (> 50 cm) menyebabkan

pengeluaran biaya tambahan pada rock breaker agar material tersebut dapat

diolah lebih lanjut pada unit crusher. Data biaya penggunaan rock breaker

pada November hingga Desember 2016 adalah sebesar 10.301,75 USD dan

16.234,65 USD (Lampiran A pada Tabel 40 dan 41).

Selain itu, adanya material berukuran boulder (> 50 cm) tersebut

berdampak pada kegiatan loading material yang menyebabkan menurunnya

kemampugalian (diggability) dari alat gali muat. Hal ini dikarenakan adanya

penambahan digging time yang mempengaruhi cycle time produksi alat gali
3

muat (Hoa Pham Van, 2013). Adanya penambahan cycle time tentunya juga

berpengaruh terhadap target produksi yang dapat dicapai. Data kegiatan

produksi di blok peledakan pada November hingga Desember 2016

menunjukkan target produksi ore yang dapat dicapai adalah 717.306 ton dan

751.464 ton dari target rencana sebesar 840.000 ton/bulan (Lampiran A pada

Tabel 42).

Keberhasilan suatu perencanaan peledakan adalah optimalnya kegiatan

peledakan yang dapat memberikan pengaruh positif terhadap aktifitas

pemuatan dan pengangkutan pada kegiatan produksi (Hustrulid, 1999: 11-12).

Maka dari itu perlu adanya kajian mengenai optimasi geometri peledakan

untuk mencapai target fragmentasi sehingga dapat meningkatkan diggability

dalam pemenuhan target produktivitas ore. Penelitian ini menganalisis

beberapa parameter yang mempengaruhi kegiatan peledakan serta

produktivitas yang dapat dicapai dari diggability alat gali muat pada blok

peledakan. Penelitian juga menggunakan analisis statistik yang menghasilkan

pendekatan hubungan antara kegiatan peledakan terhadap diggability untuk

pencapaian target produktivitas. Dari pendekatan statistik tersebut dapat

diestimasikan kondisi ideal kegiatan peledakan untuk mendukung peningkatan

diggability dalam memenuhi target produktivitas.

B. Identifikasi Masalah

1. Terdapat ukuran fragmentasi hasil peledakan berukuran > 50 cm (boulder)

sebesar 7 % s.d. 13 % yang menyebabkan kegiatan pengolahan pada

primary crushing menjadi terhambat


4

2. Boulder hasil peledakan menyebabkan adanya penambahan biaya pada

unit rock breaker untuk mendukung kegiatan peremukan pada primary

crushing

3. Boulder hasil peledakan juga menyebabkan digging material alat gali muat

tidak maksimal sehingga target produktivitas ore tidak tercapai

4. Adanya tipe material ore yang berbeda pada masing-masing pit juga

mempengaruhi kegiatan peledakan dan diggability dari alat gali muat

C. Batasan Masalah

1. Penelitian hanya dilakukan pada blok peledakan ore yaitu 8 blok di Pit

Durian Barat dan 8 blok di Pit South Osela

2. Analisis fragmentasi peledakan menggunakan metode Kuz-Ram,

modifikasi Kuz-Ram oleh C.V.B. Cunningham (2005), dan image analysis

dengan program split desktop

3. Evaluasi geometri peledakan menggunakan teori R.L Ash dan C.J. Konya

4. Analisis hubungan geometri peledakan terhadap fragmentasi dan

diggability excavator menggunakan analisis statistik bivariate dan

multivariate

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana efisiensi dari kegiatan peledakan aktual terhadap plan yang

telah ditetapkan ?

2. Berapakah target fragmentasi ore yang dapat dicapai pada blok-blok

peledakan ?
5

3. Berapakah digging time, digging rate, dan produktivitas alat gali muat

pada kegiatan pemindahan material ore di blok-blok peledakan ?

4. Dimanakah titik optimum yang menunjukkan kondisi ideal hubungan

antara geometri peledakan terhadap fragmentasi dan diggability alat gali

muat dari analisis statistik yang dilakukan ?

5. Bagaimana design geometri peledakan yang lebih baik dalam rangka

pencapaian target fragmentasi dan diggability untuk pemenuhan target

produktivitas ?

E. Tujuan Penelitian

1. Memperoleh nilai efisiensi dari pelaksanaan kegiatan peledakan terhadap

plan yang telah ditetapkan

2. Menghitung fragmentasi dari hasil peledakan berdasarkan metode Kuz-

Ram, modifikasi Kuz-Ram oleh C.V.B. Cunningham (2005) dan image

analysis dengan split desktop

3. Menghitung digging time, digging rate, dan produktivitas material ore

hasil peledakan yang diamati di Pit Durian Barat dan Pit South Osela

4. Menetapkan kondisi ideal dari hubungan antara geometri peledakan

terhadap fragmentasi dan diggability alat gali muat dalam memenuhi target

produktivitas dengan analisis statistik bivariate dan multivariate

5. Menganalisis design geometri peledakan berdasarkan analisis teori R.L.

Ash dan C.J. Konya


6

F. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam menganalisis suatu

masalah serta dapat menuangkan ide-ide kritis dalam bentuk karya tulis

ilmiah.

2. Bagi Mahasiswa

Dapat menjadi data dalam melakukan penelitian selanjutnya serta

menjadi referensi penulisan.

3. Bagi Perusahaan

a) Memberikan informasi mengenai persentase target fragmentasi yang

dicapai dari hasil blok-blok peledakan di Pit Durian Barat dan Pit

South Osela selama melakukan penelitian

b) Memberikan informasi hasil akhir penelitian mengenai optimasi

design geometri peledakan ore di Pit Durian Barat dan Pit South

Osela untuk mencapai target fragmentasi sehingga proses loading

material dapat memenuhi target produktivitas ore di site Bakan PT J

Resources Bolaang Mongondow Sulawesi Utara


7

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Umum Perusahaan

PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) adalah entitas anak dari

PT J Resources Nusantara (JRN) dan memiliki Kontrak Karya (KK) yang

mencakup total area seluas 58.150 ha yang terbagi dalam dua blok terpisah:

Blok Bakan dan Blok Lanut, keduanya di Sulawesi Utara, Indonesia.

Blok Bakan merupakan tambang emas Bakan yang telah berproduksi

sejak Desember 2013. Blok ini telah sesuai dengan JORC Compliant Proven

& Probable Ore Reserve per 31 Desember 2015 sebesar 745 Koz emas yang

terkandung dalam measured, indicated, and inferred mineral resources

sebesar 1,38 Moz emas.

1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

Secara astronomis daerah penelitian terletak pada 0° 33’ 33.05” LU

- 0° 35’ 12.81” LU dan 124° 17’ 52.9” BT - 124° 35’ 12.81” BT. Secara

administratif termasuk dalam wilayah Desa Bakan, Kecamatan Lolayan,

Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Sebelah utara

berbatasan dengan Kotamobagu, selatan berbatasan dengan Pinolosian,

barat berbatasan dengan Modayag, dan timur berbatasan dengan Tanoyan.

Untuk mencapai lokasi penelitian dapat ditempuh menggunakan

jalur udara dari kota Padang ke kota Manado selama lima jam. Kemudian

perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menuju Kotamobagu selama tiga

jam menggunakan mini bus. Untuk menuju lokasi penelitian ditempuh

7
8

selama 45 menit melalui Desa Bakan menggunakan light vehicle. Jalur

perjalanan dari Manado ke Bakan dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber: Arsip Perusahaan


Gambar 1. Peta Kesampaian Daerah

2. Wilayah Penambangan

Wilayah penambangan di site Bakan PT J Resources Bolaang Mongondow

dapat dilihat pada Lampiran A Gambar 62. Peta wilayah penambangan

tampak atas dapat dilihat melalui citra satelit seperti pada Gambar 2.

Pit Osela

Pit Durian

Sumber: Google Earth, 2017


Gambar 2. Peta Wilayah Penambangan Citra Satelit
9

3. Keadaan Geologi Daerah Penelitian

a) Geologi Regional

Bakan terletak di bagian selatan dari lengan utara pulau Sulawesi.

Geologi regional Sulawesi Utara didominasi oleh batuan vulkanik

berumur cenezoic dan berasosiasi dengan batuan terobosan (intrusi)

yang bergabung membentuk busur kepulauan. Busur ini terbentuk

selama pembentukan laut Sulawesi pada masa Eocence (Rangin et

al.1997; Van Leeuwen and Muharjo, 2005). Tiga busur utama telah

dapat dipetakan sebagai berikut:

1) Masa Eocene Awal - Masa Eocene Pertengahan

Dikarakteristikan oleh lapisan tebal yang didominasi oleh vulkanik

basalt dengan komposisi tholeitic dan berasosiasi dengan sedimen

laut dalam (Trail et al.1972; Van Leeuwen and Muharjo, 2005)

2) Masa Miocene

Diwakili oleh calk alkaline vulkanik yang diterobos oleh batuan

intrusi comagmatic granitoid. Batuan terobosan tersebut menjari

dengan batuan sedimen laut dangkal.

3) Masa Pliocene – Terkini

Terdiri dari sub aerial vulkanik dengan komposisi andesit, dasit

dan intrusi tingkat tinggi (Carlile at al.,1996; Kavalieris et al.,

1992; Person and Caira, 1992).

Pearson dan Caira (1999) menunjukkan bahwa daerah busur

Sulawesi Utara merupakan tempat terjadinya mineralisasi, pada


10

miocene awal terbentuk di bawah regime regional dextral wrench-

tectonic dan pada masa pliocene terbentuk di bawah regime sinistral

wrench-tectonic. Busur normal utara-barat laut dan busur sesar paralel

timur-tenggara, terbentuk pada masa miocene, mendominasi bentukan

struktur. Perpotongan antara beberapa sesar utama umumnya

merupakan daerah mineralisasi porphyry Cu-Au berkadar rendah dari

masa miocene. Pengaktifan kembali sinistral dari struktur utama

miocene pada akhir masa miocene dan pliocene menyebabkan

terjadinya rifting dan dilasi yang berarah timur-timur laut.

Intrusi dari masa plio-pleistocene dan mineralisasi yang

berhubungan mengeksploitasi kondisi ini. Sesar sinistral yang terjadi

belakangan merupakan hasil dari tegangan yang berorientasi timur-

barat yang disebabkan oleh inisiasi subduksi sepanjang sisi barat dari

laut Maluku. Berdasarkan fakta-fakta di atas keberadaan struktur-

struktur merupakan komponen penting bagi mineralisasi di Bakan.

Keadaan geologi regional wilayah Sulawesi dan site Bakan dapat

dilihat pada Lampiran A Gambar 64.

b) Geologi Distrik

Prospek emas di Pit Durian, Osela, Main Ridge, dan Camp Site,

hanyalah contoh beberapa silica ledge yang berlokasi di distrik emas

Bakan. Silika ledge ini merupakan zona alterasi yang terdiri dari vuggy

silica sebagai intinya, dikelilingi oleh silica-alunit, kaolinit-alunit, dan

ilit-smektit assemblage. Inti silica membentuk punggungan


11

dikarenakan ketahanannya terhadap pelapukan dan erosi. Daerah

prospek emas di Bakan diidentifikasi pada awalnya melalui

punggungan-punggungan tersebut. Persebaran lokasi lubang bor pada

daerah Bakan dapat dilihat pada Lampiran A Gambar 65.

3) Stratigrafi

Geologi Bakan meliputi dua peristiwa magmatic yaitu pada

masa miocene yang dikarakteristikkan dengan intrusi di dalam lava

andesit dan batuan sedimen, kemudian pada masa plio pleistocene

yaitu aktivitas vulkanik yang bertanggung jawab terhadap

pembentukan dasitik piroklastik (ashVDA, lthVDA, dan tbxVDA) dan

berasosiasi dengan alterasi asam sulfat.

Sistem sulfidasi tinggi pada prospek Durian, Osela, Main

Ridge, dan Camp Site pada unit dasit dari masa plio-pleistocene, yang

secara informal disebut Bakan sequence, yang terdiri dari interkalasi

dan interfingering abu (ashVDA), kristal (xtlVDA), tufa litik (lthVDA)

dan tufa breksi (tbxVDA) dengan coeval subvulkanik, domal intrusi

dari porphyry dacit (porlDA). Unit-unit ini terletak secara tidak

terganggu di atas unit dasar dari masa miocene yang terdiri dari lava

andesitic (VAN), batu lanau feldspatik (FSR), batu pasir, batu lempung

(SSL), dan batu kapur (SLM).

Breksi hidrotermal terjadi sepanjang struktur yang menjadi

tempat terjadinya mineralisasi seperti prospek Camp Site, Durian, dan

Osela. Camp Site diinterpretasikan sebagai breksi ventu (BHX)


12

dikarenakan terdiri dari bagian-bagian besar clast unit miocene di

bawahnya seperti batu kapur dan andesit. Bentuk lain dari breksi

hidrotermal (BHX), diinterpretasikan sebagai diatreme (polBMD),

tersingkap di sepanjang jalan di sebelah utara Durian. Breksi diatreme

ini mengandung bagian-bagian clast dari porphyry diorite dan andesit

yang menunjukkan alterasi phyllic. Diatreme menembus permukaan

palaeo dibuktikan dengan terdapatnya dahan dan ranting pohon di

dalam breksi. Kolom stratigrafi Bakan dapat dilihat pada Gambar 3.

Tutupan setelah proses mineralisasi, terdiri dari breksi laharik

dan lereng bebatuan (chtBRE), ditemukan pada lokasi-lokasi di distrik

yang menunjukan prospek emas yang telah diketahui. Breksi-breksi ini

mengandung clast yang berupa silica vuggy dan alterasi silica alunit

pada tufa dasitik pada matrik tanah.

Sumber: Majalah Geologi Indonesia, Vol. 27 No. 3 Desember 2012: 143-157


Gambar 3. Kolom Stratigrafi Bakan
13

c) Geomorfologi

Geomorfologi daerah penelitian termasuk morfologi Peninsula

Minahasa yang tersusun dari rangkaian pegunungan vulkanik dengan

ketinggian 200 m – 900 m. Topografi didominasi oleh beberapa gejala

geologi yang penting dengan bukti sebagai berikut:

1. Hamparan vulkanik Resen (Gunung Soputan) yang menunjukan

pola kerucut yang sangat jelas dan pola drainase radial menutupi

batuan yang lebih tua

2. Blok-blok vulkanik tua yang terangkat dan tererosi yang ditunjukan

oleh aliran air sungai yang sangat deras. Beberapa terdiri dari batu

gamping yang membentuk topografi karst

3. Runtuhan atau depresi tektonik yang paralel dengan busur yang

menciptakan lembah Dumoga yang sangat luas di bagian barat

Kotamobagu

4. Sesar-sesar normal yang menunjukan kontrol terhadap sistem

sungai-sungai besar yang berumur Resen

d) Struktur Geologi

Struktur geologi yang berkembang pada daerah penelitian

merupakan zona tumpang tindih antara patahan berarah timur laut dan

barat laut. Daerah diantara Amurang-Belang dan Inobonto-Nuangan

adalah zona struktur transisi. Struktur timur laut dan barat laut saling

tumpang tindih pada arah utara barat laut dan merupakan kontrol

struktur yang dominan.


14

Patahan berarah timur laut terdapat di Minahasa, telah

menghasilkan struktur graben besar terutama di Lembah Dumoga ke

arah barat. Batas graben menjadi fokus dari vulkanisme post miosen

dan sebagai zona patahan/struktural yang merupakan pengontrol utama

kontak antar batuan dan ubahan pada daerah penelitian.

B. Teori Dasar

1. Pengertian Emas

Emas adalah mineral logam mulia berwarna khas kuning, berat,

bersifat lembek, mengkilap, serta malleable. Logam ini banyak terdapat

pada serbuk bebatuan dan deposit alluvial, berwarna coklat kemerahan

jika dalam bentuk bubuk, kekerasannya 2,5–3 (skala mohs), dan memiliki

berat jenis yang selalu bergantung pada kandungan mineral yang berpadu

pada saat pembentukan (Diantoro, 2010).

Mineral pembawa unsur emas biasanya berasosiasi dengan mineral

ikutan seperti quartz, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil

mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan

endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari

emas native, electrum, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur

belerang, antimon, dan selenium.

2. Proses Pembentukan Emas

a. Lingkungan Tektonik

Sumber endapan bijih epitermal berasal dari sumber yang

dangkal yang berasosiasi dengan air meteorik dan atmosfer. Hipotesis


15

tentang asal endapan epitermal secara serius dipertimbangkan oleh

Schmidt (1950) berasal dari lateral secretion, differensiasi fluida dari

suatu magma, keluar vulkanik dan diserap oleh airtanah, injeksi dalam

bentuk lelehan dan pengendapan dari fase gas.

Menurut Craig dan Vaughen (1981) emas terbentuk oleh

pengendapan larutan hidrotermal serta mengisi di dalam system

rekahan terbuka dan fracture. Selain itu endapan emas terbentuk pada

tahap lemah (waning) dari vulkanisme disebabkan oleh tidak hadirnya

ubahan parent instrusion dan extrusive hydrothermal.

b. Struktur Geologi

Sesar merupakan proses bergeraknya struktur batuan yang disebabkan

oleh massa batuan yang slip satu sama lain di sepanjang bidang atau

rekahan. Sesar dapat berupa bidang sesar atau rekahan tunggal yang

terjadi di daerah yang cukup dalam dengan kondisi temperatur dan

tekaanan yang tinggi serta dapat berkembang menjadi sebuah jalur

gerusan.

3. Dasar-Dasar Teori Alterasi Hidrotermal

Lindgren (1993) menyatakan bahwa larutan hidrotermal adalah

suatu cairan atau fluida yang panas, kemudian bergerak naik ke atas

dengan membawa komponen-komponen mineral logam. Fluida

merupakan larutan sisa yang dihasilkan pada saat proses pembekuan

magma. Alterasi dan mineralisasi adalah suatu bentuk perubahan

komposisi pada batuan baik kimia, fisika, ataupun mineralogi sebagai


16

akibat pengaruh cairan hidrotermal pada batuan, perubahan yang terjadi

dapat berupa rekristalisasi, penambahan mineral baru, larutnya mineral

yang telah ada, penyusunan kembali komponen kimia atau perubahan fisik

seperti permeabilitas dan porositas batuan (Pirajno, 1992).

Berdasarkan jauh dekat terjadinya proses alterasi hidrotermal, serta

temperatur dan tekanan pada saat terbentuknya mineral-mineral, Lindgren

(1993) membagi tiga gologan alterasi hidrotermal, yaitu:

a. Endapan Hipotermal, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Endapan berasosiasi dengan dike atau veint dengan kedalaman

yang besar

2) Wall rock alteration yang ditandai dengan adanya replacement

yang kuat dengan asosiasi mineral albit, biotit, kalsit, pirit,

kalkopirit, kasiterit, emas, hornblende, plagioklas, dan kuarsa.

3) Tekanan dan temperatur tinggi yaitu 500˚- 600˚ C

4) Merupakan jebakan hidrotermal yang paling dalam

5) Asosiasi mineral sulfida dan oksida pada intrusi granit sering

diikuti pembentukan mineral logam, yaitu Au, Pb, Sn dan Zn

b. Endapan Mesotermal, memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Endapan berupa cavity filling dan kadang-kadang mengalami

proses replacement dan pengayaan

2) Asosiasi mineral: klorit, emas, serisit, kalsit, pirit, kuarsa

3) Asosiasi mineral sulfida dan oksida batuan beku asam dan basa

dekat dengan permukaan


17

4) Tekanan dan temperatur medium, yaitu 300˚-372˚ C

5) Terletak di atas hipotermal

c. Endapan Epitermal

Endapan bijih epitermal merupakan endapan yang terbentuk di

lingkungan hidrotermal dekat permukaan, mempunyai temperatur dan

tekanan yang relatif rendah, berasosiasi dengan kegiatan magmatisme

calk-alkali yang sering kali dijumpai di dalam produk vulkanik.

Endapan epitermal sering juga disebut endapan urat, stockwork, hot

spring, volcanic hosted, dan lain-lain. Endapan epitermal memiliki

ciri-ciri sebagai berikut:

1) Tekstur replacement tidak khas, jarang terjadi

2) Kebanyakan teksturnya berlapis atau berupa fissured vein

3) Struktur khas sering berupa cockade structure

4) Asosiasi mineral logamnya berupa Au, Ag, dengan mineral gauge

berupa kalsit, zeolite, dan kuarsa

4. Tipe Endapan Daerah Bakan

Di daerah prospek Bakan, pembentukan mineral ubahan

hidrotermal disertai oleh mineralisasi bijih. Pirit merupakan mineral bijih

yang paling dominan dijumpai pada zona ubahan, sebagai urat halus (vein)

maupun dalam bentuk tersebar (disseminated). Mineral sulfida lainnya

seperti kalkopirit, sphalerit, dan arsenopirit hadir pada tipe ubahan

propilitik. Pirit, sphalerit, dan galena hadir pada tipe ubahan advance

argillic. Pirit, sphalerit, limonit, hematit, dan magnetit hadir pada tipe
18

ubahan silisifikasi. Pirit dan mineral oksida seperti limonit, magnetit, dan

hematit hadir pada tipe ubahan intermediet argillik temperatur tinggi. Tipe

ubahan intermediet argillik temperatur rendah merupakan zona yang

paling sedikit mengandung mineral sulfida maupun oksida yaitu pirit dan

magnetit. Mineralisasi bijih sebagian besar membentuk tekstur colloform

dan disseminated yang menempati rekahan atau ruang antar butiran. Tipe

ubahan dan mineralisasi di daerah Bakan, menunjukkan banyak kesamaan

dengan endapan bijih tipe epitermal, khususnya sistem sulfidasi tinggi

yang terdapat di beberapa tempat (Heald, 1987, Giggenbach, 1992 dan

Hedenquist, 1995).

Kehadiran tipe ubahan silisifikasi, advance argillik, intermediet

argillik temperatur tinggi, intermediet argillik temperatur rendah dan tipe

ubahan propilitik, dan kehadiran kelompok mineral ubahan kuarsa, alunit,

kaolinit, dickit, smectit, illit, halloysit, purophillit, dan lempung, yang

diikuti dengan mineralisasi bijih, mendukung bahwa lingkungan sistem

mineralisasi di daerah penelitian adalah tipe endapan epitermal sistem

sulfida tinggi. Hal ini lebih diperkuat oleh pola dan tekstur mineralisasi,

yang didominasi oleh breksiasi, vuggy dan silika masif serta kenampakan

tekstur colloform dan disseminated yang dominan.

Tipe endapan epitermal sistem sulfidasi tinggi terbentuk pada

lingkungan hidrotermal yang berhubungan dengan kegiatan vulkanisme

aktif, pada sistem ini komponen-komponen yang reaktif berasal dari

sumber oksida magmatik yang naik ke permukaan dan bereaksi dengan


19

airtanah di sekitar batuan sehingga terbentuk larutan yang bersifat asam.

Jenis-jenis ubahan endapan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

Tabel 1. Tipe Endapan Daerah Bakan


No. Zona Ubahan Tipe Mineralisasi Pola dan Tekstur
Ubahan Mineralisasi
1 Kuarsa- Silisifikasi Pirit, magnetit, Breksiasi, silika masif
kalsedon-pirit sphalerit, dan masif vuggy,
limonit, hematit colloform dan
disseminated

2 Kuarsa-alunit- Advance Pirit, sphalerit, Silika vuggy, urat dan


kaolinit argillik galena disseminated
3 Alunit-kuarsa- Intermediet Pirit, limonit, Beraksiasi banded,
pyrophillit- argillik hematit, tektur pengisian dan
dickit-lempung temperatur magnetit colloform
tinggi

4 Kaolinit- Intermediet Pirit magnetit Breksiasi


kuarsa- argillik
halloysit-illit- temperatur
smectit- rendah
lempung
5 Klorit-epidot- Propilitik Pirit, kalkopirit, Urat halus dan
kalsit-smectit- arsenopirit, disseminated
lempung galena,
sphalerit

Sumber: Majalah Geologi Indonesia , Vol.27 No.3 Desember 2012:143-157

5. Tipe Material Ore Blok Peledakan

Litologi site Bakan terdiri dari batuan vulkanik, tuff, dan tuff breksia.

Komposisi yang paling banyak adalah andesitic dan dasitik. Mineralisasi

yang paling banyak dijumpai adalah komposisi dasitik dengan ciri-cirinya

batuan lebih muda, terang, asam, posisi lebih di atas (Iip Hardjana, 2015).

a. Pit Durian Barat

Zona mineralisasi Pit Durian Barat adalah zona high sulfidation

dengan ciri-ciri sebagai berikut:


20

1) Tubuh bijih masif

2) Tersebar (disseminated)

3) Struktur lebih besar

4) Suhu pembentukan mineralnya tinggi

Peta alterasi Pit Durian Barat dapat dilihat pada Gambar 4.

Legenda:

AR : Argilic SI : Silica

AA : Advance Argilic SM : Silica Masive

SV : Silica Vuggy CH : Chloritic

Sumber: Arsip Perusahaan


Gambar 4. Peta Alterasi Pit Durian Barat

b. Pit South Osela

Zona mineralisasi Pit South Osela adalah zona low sulfidation yang

memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Tubuh bijih nya peripheral, berupa vein

2) Terpotong oleh low sulfide

3) Suhu pembentukan mineralnya < 100˚ C

4) Grade nya lebih besar tetapi volume nya lebih kecil

5) Potensi nugget effect

6) Struktur lebih rapat


21

Peta alterasi Pit South Osela dapat dilihat pada Gambar 5

Legenda

CAA : Clay Advance Argilic

SAA : Silica Advance Argilic

AR : Argilic

SI : Silica

Sumber: Arsip Perusahaan


Gambar 5. Peta Alterasi Pit South Osela

Berdasarkan zona alterasinya tipe alterasi material ore di PT J Resources

Bolaang Mongondow adalah:

a. Silifikasi

Silisifikasi merupakan salah satu tipe alterasi hidrotermal yang

paling umum dijumpai dan merupakan tipe terbaik. Bentuk yang

paling umum dari silika adalah (E-quartz, atau β-quartz, rendah quartz,

temperatur tinggi, atau tinggi kandungan kuarsanya (>573°C), tridimit,

kristobalit, opal, kalsedon. Bentuk yang paling umum

adalah quartz rendah, kristobalit, dan tridimit kebanyakan ditemukan

di batuan volkanik. Tridimit terutama umum sebagai produk

devitrivikasi gelas volkanik, terbentuk bersama alkali felspar.


22

Selama proses hidrotermal, silika mungkin didatangkan dari

cairan yang bersirkulasi, atau mungkin ditinggalkan di belakang dalam

bentuk silika residual setelah melepaskan (leaching) dari dasar.

Solubilitas silika mengalami peningkatan sesuai dengan temperatur

dan tekanan, dan jika larutan mengalami ekspansi adiabatik, silika

mengalami presipitasi, sehingga di daerah bertekanan rendah siap

mengalami pengendapan (Pirajno, 1992). Bentuk silisifikasi di PT J

Resources Bolaang Mongondow terdiri dari dua yaitu (Gambar 6):

1) Silica-Vuggy

Alterasi silica vuggy memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) Berpori

b) Breksia (ada kelas segi tiga dan segi empat)

c) Mineral kebanyakan pyrite dan limonite

d) Kebanyakan high grade

e) Bila mengalami oksidasi warnanya menjadi kecoklatan

f) Warna aslinya abu-abu seperti metallic

g) Skala mosh 5-6


h) Lebih banyak berada dalam fase gas, komposisi asam

2) Silica-Masif

Alterasi silica massif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a) Keras, tidak ada rongga

b) Porus hanya pada rekahan

c) Oksidasi mengontrol porositasnya


23

d) Grade lebih kecil dari silica vuggy dan dikontrol oleh adanya

oksidasi

e) Warna dominan abu-abu dan bila mengalami oksidasi berubah

menjadi coklat, merah, dan kekuningan

f) Warna merah disebabkan oleh adanya kehadiran hematite dan

warna kuning dari kehadiran limonite

g) Skala mosh 6 hingga mendekati 7

b. Advance Argilic

Pada sistem epitermal sulfidasi tinggi (fluida kaya asam sulfat)

advanced argilic dicirikan oleh kehadiran himpunan mineral pirofilit

+ diaspora ± andalusit ± kuarsa ± turmalin ± enargit ± luzonit (untuk

temperatur tinggi, 250°-350°C), atau himpunan mineral kaolinit +

alunit ± kalsedon ± kuarsa ± pirit (untuk temperatur rendah,< 180 °C).

Advance argilic terdiri atas dua jenis yaitu (Gambar 7):

1) Silica Alunite

Alterasi silica alunite memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(a) Lebih banyak komposisi silica daripada alunite-nya

(b) Grade lebih rendah karena berada pada zona lebih luar dari

silica vuggy dan silica massif

(c) Warna cenderung berwarna putih

(d) Zona alterasinya masuk ke zona argilic

(e) Alunite bukan lempung tetapi sejenis kristalin


24

2) Alunite Silica

Alterasi alunite silica memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(a) Lebih banyak komposisi alunite daripada silica-nya

(b) Lebih lembek dibandingkan silica alunitenya

Gambar 6. Material Pembentuk Ore Pit Durian Barat

Gambar 7. Material Pembentuk Ore Pit South Osela

6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kegiatan Peledakan

Salah satu indikator untuk menentukan keberhasilan suatu kegiatan

pemboran dan peledakan adalah tingkat fragmentasi batuan yang dihasilkan

dari kegiatan pemboran dan peledakan tersebut. Diharapkan ukuran

fragmentasi batuan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pada kegiatan

penambangan selanjutnya. Fragmentasi batuan yang memerlukan pemecahan


25

ulang dinyatakan sebagai bongkah (boulder), sehingga diperlukan upaya

pemecahan ulang agar batuan tersebut bisa digunakan.

a. Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Peledakan

Faktor-faktor yang mempengaruhi perencaan geometri peledakan

dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu peubah yang dapat

dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan, seperti pada Gambar 8.

Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan (1996)


Gambar 8. Peubah Terkendali dan Tidak Terkendali dalam Rancangan Peledakan
26

1) Peubah Yang Tidak Dapat Dikendalikan

Peubah yang tidak dapat dikendalikan adalah faktor-faktor yang tidak

dapat dikendalikan oleh kemampuan manusia yang disebabkan karena

prosesnya terjadi secara alamiah. Beberapa peubah yang dapat

dikendalikan antara lain:

a) Geologi

Proses terbentuknya suatu jenis batuan berbeda dengan jenis

batuan lain. Tiap-tiap tipe batuan tersusun dari mineral-mineral

dalam berbagai komposisi, ukuran, tekstur, dan struktur yang

berlainan. Batuan yang tersingkap di permukaan bumi akan

mengalami proses pelapukan dan hal ini sangat berpengaruh pada

sifat fisik dan mekanik dari batuan. Batuan yang masih segar

umumnya mempunyai kekuatan yang lebih besar dan akan

berkurang sejalan dengan proses pelapukan yang dialami.

b) Struktur Diskontinuitas

Struktur diskontinuitas sangat penting diketahui dan merupakan

pertimbangan utama dalam operasi peledakan. Dengan adanya

struktur diskontinuitas maka energi gelombang tekan dari bahan

peledak akan mengalami penurunan yang disebabkan adanya gas-

gas hasil reaksi peledakan yang menerobos melalui rekahan,

sehingga mengakibatkan penurunan daya tekan terhadap batuan

yang akan diledakkan. Penurunan daya tekan ini akan berdampak

terhadap batuan yang diledakkan sehingga mengakibatkan


27

terjadinya bongkah pada batuan hasil peledakan bahkan batuan

hanya mengalami keretakan.

c) Sifat dan Kekuatan Batuan

Sifat batuan yang penting untuk dipertimbangkan dalam rangka

perbaikan fragmentasi hasil peledakan antara lain:

(1) Sifat Fisik: Bobot Isi

Untuk volume batuan yang sama, batuan yang lebih berat

memerlukan energi yang lebis besar untuk membongkarnya

(2) Sifat Mekanik: Cepat Rambat Gelombang, Kuat Tekan,


dan Kuat Tarik

Kecepatan rambat gelombang tiap batuan berbeda. Batuan yang

masif mempunyai kecepatan perambatan gelombang yang

tinggi, berkaitan dengan hal tersebut, penggunaan bahan

peledak yang mempunyai kecepatan detonasi yang tinggi dapat

memberikan hasil fragmentasi yang baik. Kuat tekan dan kuat

tarik juga dapat digunakan sebagai petunjuk kemudahan batuan

untuk dipecahkan. Batuan pada dasarnya lebih kuat atau tahan

terhadap tekanan dari pada tarikan, hal ini dicirikan oleh kuat

tekan batuan lebih besar dibandingkan dengan kuat tariknya.

d) Pengaruh AirTanah

Kandungan air dalam jumlah yang cukup banyak dapat

mempengaruhi stabilitas kimia bahan peledak yang sudah

diisikan ke dalam lubang ledak. Kerusakan sebagian isian


28

bahan peledak dapat mengurangi kecepatan reaksi bahan

peledak sehingga akan mengurangi energi peledakan, atau

bahkan isian akan gagal meledak (misfire).

e) Kondisi Cuaca

Kondisi cuaca mempunyai pengaruh besar terhadap kegiatan

pembongkaran batuan, hal ini berkaitan dengan jadwal waktu

kerja efektif rata–rata.

2) Peubah Yang Dapat Dikendalikan

Peubah yang dapat dikendalikan adalah faktor-faktor yang dapat

dikendalikan oleh kemampuan manusia dalam merancang suatu

peledakan untuk memperoleh hasil peledakan yang diharapkan.

Adapun faktor-faktor tersebut adalah:

a) Kemiringan Lubang Ledak

Kemiringan lubang ledak secara teoritis ada dua, yaitu lubang

ledak tegak dan lubang ledak miring. Rancangan peledakan yang

menerapkan lubang ledak tegak, maka gelombang tekan yang

dipantulkan oleh bidang bebas lebih sempit, sehingga kehilangan

gelombang tekan akan cukup besar pada lantai jenjang bagian

bawah, hal ini dapat menyebabkan timbulnya tonjolan (toe) pada

lantai jenjang. Sedangkan pada peledakan dengan lubang ledak

miring akan membentuk bidang bebas yang lebih luas, sehingga

akan mempermudah proses pecahnya batuan dan kehilangan


29

gelombang tekan pada lantai jenjang menjadi lebih kecil (Gambar

9).

Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996


Gambar 9. Pemboran dengan Lubang Ledak Tegak dan Miring

b) Pola Pemboran

Pola pemboran merupakan suatu pola dalam pemboran untuk

menempatkan lubang–lubang ledak secara sistematis. Pola

pemboran ada dua macam, yaitu: pola pemboran sejajar (parallel

pattern) dan selang–seling (staggered pattern). Pola pemboran

sejajar adalah pola pemboran dengan penempatan lubang ledak

dengan baris (row) yang berurutan dan sejajar dengan burden.

Sedangkan pola pemboran selang–seling merupakan pola

pemboran yang penempatan lubang–lubang ledaknya selang–seling

setiap kolomnya (Gambar 10)


30

Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996


Gambar 10. Pola Pemboran Sejajar dan Selang-Seling

c) Diameter Lubang Ledak

Pemilihan diameter lubang ledak tergantung pada tingkat produksi

yang diinginkan. Pemilihan ukuran lubang ledak secara tepat

sangat penting untuk memperoleh hasil fragmentasi secara

maksimal dengan biaya rendah. Diameter lubang ledak

berpengaruh pada penentuan jarak burden dan jumlah bahan

peledak yang digunakan pada setiap lubangnya (Gambar 11)

Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996


Gambar 11. Pengaruh Diameter Lubang Ledak terhadap Burden
31

7. Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan

Pada prinsipnya, pecahnya batuan akibat energi peledakan dapat dibagi

dalam tiga tahap, yaitu: dynamic loading, quasi-static loading, dan release

of loading (Gambar 12).

Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996


Gambar 12. Mekanisme Pecahnya Batuan Akibat Peledakan

a. Proses Pemecahan Batuan Tingkat I (Dynamic Loading)

Pada saat bahan peledak diledakkan di dalam lubang ledak, maka

terbentuk temperatur dan tekanan yang tinggi. Hal ini mengakibatkan

hancurnya batuan di sekitar lubang ledak serta timbulnya gelombang


32

kejut (shock wave) yang merambat menjauhi lubang ledak dengan

kecepatan antara 3000–5000 m/detik, sehingga menimbulkan tegangan

tangensial yang mengakibatkan adanya rekahan menjari mengarah

keluar di sekitar lubang ledak.

b. Proses Pemecahan Batuan Tingkat II (Quasi-Static Loading)

Tekanan yang meninggalkan lubang ledak pada proses pemecahan

tingkat II adalah positif. Apabila shock wave mencapai bidang bebas

(free face) akan dipantulkan kemudian berubah menjadi negatif

sehingga menimbulkan gelombang tarik (tensile wave). Karena

gelombang tarik ini lebih besar dari kekuatan tarik batuan, maka

batuan akan pecah dan terlepas dari batuan induknya (spalling) yang

dimulai dari tepi bidang bebasnya.

c. Proses Pemecahan Batuan Tingkat III (Release of Loading)

Akibat pengaruh tekanan dan temperatur gas yang tinggi maka retakan

menjari yang terjadi pada proses awal akan meluas secara cepat yang

diakibatkan oleh kekuatan gelombang tarik dan retakan menjari. Massa

batuan yang ada di depan lubang ledak akan terdorong oleh

terlepasnya kekuatan gelombang tekan yang tinggi dari dalam lubang

ledak, sehingga pemecahan batuan yang sebenarnya akan terjadi.

Umumnya batuan akan pecah secara alamiah mengikuti bidang–bidang

yang lemah, seperti kekar dan bidang perlapisan.


33

8. Geometri Peledakan

a. R. L. Ash

R.L. Ash (1967) membuat suatu pedoman perhitungan geometri

peledakan jenjang berdasarkan pengalaman empirik yang diperoleh di

berbagai tempat dengan jenis pekerjaan dan batuan yang berbeda-beda.

Sehingga R.L. Ash berhasil mengajukan rumusan-rumusan empirik

yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam rancangan awal suatu

peledakan batuan.

1) Burden (B)

Burden adalah jarak tegak lurus antara lubang tembak dengan

bidang bebas yang panjangnya tergantung pada karakteristik

batuan. Menentukan ukuran burden merupakan langkah awal agar

fragmentasi batuan hasil peledakan, vibrasi, airblast dapat

memuaskan. Burden diturunkan berdasarkan diameter lubang

tembak atau diameter mata bor atau diameter dodol bahan peledak.

Untuk menentukan burden, R.L. Ash (1967) mendasarkan pada

acuan yang dibuat secara empirik, yaitu adanya batuan standar dan

bahan peledak standar.

a) Batuan standar adalah batuan yang mempunyai berat jenis atau

densitas 160 lb/cuft (2,00 ton/m3), tidak lain dari densitas

batuan rata-rata.
34

b) Bahan peledak standar adalah bahan peledak yang mempunyai

berat jenis (SG) 1,2 dan kecepatan detonasi (Ve) 12.000 fps

(4.000 m/det).

Apabila batuan yang akan diledakkan sama dengan batuan

standar dan bahan peledak yang dipakai ialah bahan peledak

standar, maka digunakan burden ratio (Kb) yaitu 30. Tetapi bila

batuan yang akan diledakkan tidak sama dengan batuan standar

dan bahan peledak yang digunakan bukan pula bahan peledak

standar, maka harga Kb-standar itu harus dikoreksi menggunakan

faktor penyesuaian (adjustment factor).

𝐾𝑏 𝑥 𝐷𝑒
B= ft .................................................................... (1)
12

𝐾𝑏 𝑥 𝐷𝑒
B= ft ...................................................................... (2)
39,3

Jika:

De = Diameter lubang tembak

B = Burden

Kb = Burden ratio

Keterangan:

Bobot isi batuan standar (Dst) = 160 lb/cuft

SG std = 1,2
35

Vestd (VODstd) = 12000 fps

Kbstandard = 30

Maka:

Kbkoreksi = 30 x Af1 x Af2 .................................................................................... (3)

Af1 = Adjusment factor untuk batuan yang diledakkan

Af2 = Adjusment factor untuk handak yang dipakai

Dengan:

𝐷𝑠𝑡𝑑 1/3 .........................................................................................................


=(
Af1
𝐷 ) (4)

D = Bobot isi batuan yang diledakkan

1/3
2
𝑆𝐺.𝑉𝑒
Af2 =( 2)
..................................................................................
(5)
𝑆𝐺𝑠𝑡𝑑 .𝑉𝑒𝑠𝑡𝑑

SG = BJ bahan peledak yang dipakai

Ve = VOD bahan peledak yang dipakai

𝐾𝑏𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑥 𝐷𝑒
B = m ................................................ (6)
39,3

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Jarak burden yang baik adalah jarak dimana energi ledakan

bisa menekan batuan secara maksimal sehingga pecahnya batuan

sesuai dengan fragmentasi yang direncanakan dengan mengupayakan


36

sekecil mungkin terjadinya flying rock, bongkah, dan retaknya

batuan pada batas akhir jenjang.

2) Spasi (S)

Spasi adalah jarak antar lubang tembak dirangkai dalam

satu baris dan diukur sejajar terhadap bidang bebas.

S = Ks x B ................................................................................ (7)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Keterangan:

Ks = Spacing ratio (1,0 – 2,0)

B = Burden (m)

Spasi yang lebih kecil dari ketentuan akan menyebabkan

ukuran batuan hasil peledakan terlalu hancur. Tetapi jika spasi

lebih besar dari ketentuan akan menyebabkan banyak terjadi

bongkah (boulder) dan tonjolan (stump) diantara dua lubang

tembak setelah peledakan.

Berdasarkan cara urutan peledakannya, pedoman penentuan spasi

adalah sebagai berikut:

a) Peledakan serentak, S = 2 B

b) Peledakan beruntun dengan delay interval lama (second delay),

maka S = B

c) Peledakan dengan millisecond delay, S antara 1 B hingga 2 B


37

d) Jika terdapat kekar yang saling tidak tegak lurus, S antara 1,2

B- 1,8 B

e) Peledakan dengan pola equilateral dan beruntun tiap lubang

tembak dalam baris yang sama, S = 1,15 B

3) Stemming (T)

Stemming merupakan panjang isian lubang ledak yang tidak

diisi bahan peledak, tetapi diisi material seperti tanah liat atau

material hasil pemboran (cutting).

Untuk menghitung panjang stemming perlu ditentukan dulu

stemming ratio (Kt), yaitu perbandingan panjang stemming dengan

burden. Biasanya Kt standar yang dipakai 0,70 dan ini cukup untuk

mengontrol airblast, flyrock dan stress balance. Apabila Kt < 1

maka akan terjadi. Untuk menghitung stemming dipakai

persamaan:

T = Kt . B .................................................................................. (8)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Keterangan:

T = Stemming (m)

Kt = Stemming ratio (0,7 – 1,0)

B = Burden (m)
38

4) Subdrilling (J)

Subdrilling merupakan kelebihan panjang lubang ledak pada

bagian bawah lantai jenjang. Subdrilling dimaksudkan agar jenjang

terbongkar tepat pada batas lantai jenjang sehingga didapat lantai

jenjang yang rata setelah peledakan. Panjang subdilling

dipengaruhi oleh struktur geologi, tinggi jenjang, dan kemiringan

lubang ledak. Panjang subdrilling diperoleh dengan menentukan

harga subdrilling ratio (Kj) yang besarnya tidak lebih kecil dari

0,20. Untuk batuan massive biasanya dipakai Kj sebesar 0,3.

Hubungan Kj dengan burden diekspresikan dengan persamaan

sebagai berikut:

J = Kj . B ................................................................................. (9)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Keterangan:

J = Subdilling (m)

Kj = Subdilling ratio (0,2 – 0,4)

B = Burden (m)

5) Kedalaman Lubang Ledak (H)

Kedalaman lubang ledak merupakan penjumlahan dari panjang

stemming dengan panjang kolom isian (PC) bahan peledak.

Kedalaman lubang ledak biasanya disesuaikan dengan tingkat

produksi (kapasitas alat muat) dan pertimbangan geoteknik.


39

Menurut R.L. Ash, kedalaman lubang ledak berdasarkan pada hole

depth ratio (Kh) yang harganya berkisar antara 1,5 – 4,0.

Hubungan kedalaman lubang ledak dengan burden adalah sebagai

berikut:

H = Kh . B ............................................................................. (10)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Keterangan:

H = Kedalaman lubang ledak (m)

Kh = Hole dept ratio (1,5 – 4)

B = Burden (m)

6) Panjang Kolom Isian (PC)

Panjang kolom isian merupakan hasil pengurangan dari kedalaman

lubang ledak dengan panjang stemming.

PC = H – T ............................................................................ (11)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Keterangan:

PC = Panjang kolom isian (m)

H = Kedalaman lubang ledak (m)

T = Stemming (m)
40

b. C.J. Konya

Perhitungan geometri peledakan menurut Konya (1991) tidak hanya

mempertimbangkan faktor bahan peledak, sifat batuan, dan diameter

lubang ledak tetapi juga memperhatikan faktor koreksi terhadap posisi

lapisan batuan, keadaan struktur geologi, serta koreksi terhadap jumlah

lubang ledak yang diledakkan. Faktor terpenting untuk dikoreksi

menurut Konya (1991) adalah masalah penentuan besarnya nilai

burden.

1) Burden (B)

Pemilihan nilai burden yang tepat merupakan keputusan

yang terpenting dalam rancangan peledakan. Burden adalah jarak

tegak lurus antara lubang ledak terhadap bidang bebas terdekat dan

merupakan arah pemindahan batuan (displacement) akan terjadi.

Pada penentuan jarak burden, ada beberapa faktor yang

harus diperhitungkan seperti diameter lubang ledak, bobot isi

batuan, dan struktur geologi dari batuan tersebut. Semakin besar

diameter lubang ledak maka akan semakin besar jarak burden,

karena dengan diameter lubang ledak yang semakin besar maka

bahan peledak yang digunakan akan semakin banyak pada setiap

lubangnya sehingga akan menghasilkan energi ledakan yang

semakin besar. Sedangkan apabila densitas batuannya yang

semakin besar, maka agar energi ledakan berkontraksi maksimal


41

dilakukan dengan memperkecil ukuran burden, sehingga

fragmentasi batuan yang dihasilkan akan baik. Sedangkan struktur

geologi batuan digunakan sebagai faktor koreksi pada penentuan

burden. Untuk faktor koreksi berdasarkan geologi batuan dapat

dibagi ke dalam dua konstanta yaitu Kd yang merupakan koreksi

terhadap posisi lapisan batuan dan Ks yaitu koreksi terhadap

struktur geologi batuan dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Koreksi Posisi Lapisan Batuan dan Struktur Geologi

Sumber: C.J. Konya, 1991

Penentuan panjang burden berdasarkan rumusan Konya sebagai berikut:

2 SG𝑒
B = [( ) + 1,5] 𝐷𝑒 ................................................................. (12)
𝑆𝐺𝑟

SG𝑒 0,33
B = 3,15 De ( ) ...................................................... (13)
𝑆𝐺𝑟

Stv 0,33
B = 0,67 De ( ) ....................................................... (14)
𝑆𝐺𝑟
42

Dengan:

B1 = Burden (m)

SGe = Berat jenis bahan peledak

SGr = Berat jenis batuan

De = Diameter lubang ledak (mm)

Perhitungan koreksi burden digunakan rumusan di bawah ini:

B2 = Kd x Ks x Kr x B1 ..........................................................................................(15)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Dengan:

B2 = Burden terkoreksi (m)

Kd = Faktor koreksi berdasarkan struktur geologi batuan

Ks = Faktor koreksi berdasarkan orientasi perlapisan

Kr = Faktor koreksi berdasarkan jumlah baris peledakan, yaitu Kr = 1

jika terdapat satu atau dua baris dan Kr = 0,9 jika terdapat tiga baris

atau lebih.

2) Spasi (S)

Spasi adalah jarak terdekat antara dua lubang ledak yang

berdekatan di dalam satu baris (row). Apabila jarak spasi terlalu

kecil akan menyebabkan batuan hancur menjadi halus, disebabkan

karena energi yang menekan terlalu kuat, sedangkan bila spasi


43

terlalu besar akan menyebabkan banyak bongkah atau bahkan

batuan hanya mengalami keretakan dan menimbulkan tonjolan di

antara dua lubang ledak setelah diledakkan, hal ini disebabkan

karena energi ledakan dari lubang yang satu tidak mampu

berinteraksi dengan energi dari lubang lainnya.

Penerapan jarak spasi harus mempertimbangkan besarnya

perbandingan dengan nilai burden agar didapat pencakupan energi

peledakan yang cukup untuk mendapatkan hasil fragmentasi yang

kita inginkan. Perbandingan jarak spasi dengan burden (S/B) pada

pola peledakan dan penyebaran energinya dapat dilihat pada

Gambar 13.

a) Serentak Tiap Baris Lubang Ledak

(1) Untuk Tinggi Jenjang Rendah (Low Benches)

H < 4B, S = ( H + 2B) / 3 ........................................... (16)

(2) Untuk Tinggi Jenjang yang Besar (High Benches)

H = 4B, S = 2B ............................................................ (17)

b) Beruntun Dalam Tiap Baris Lubang Ledak

(1) Untuk Tinggi Jenjang Rendah (Low Benches)

H < 4B, S = ( H + 7B ) / 8 ........................................... (18)

(2) Untuk Tinggi Jenjang yang Besar (High Benches)

H = 4B, S = 1,4B ......................................................... (19)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)


44

Sumber: C.J. Konya, 1991

Gambar 13. Pengaruh Perbandingan S/B terhadap Fragmentasi


3) Stemming (T)

Stemming adalah tempat material penutup di dalam lubang ledak,

yang letaknya di atas kolom isian bahan peledak. Fungsi stemming

adalah agar terjadi keseimbangan tekanan dan mengurung gas-gas

hasil ledakan sehingga dapat menekan batuan dengan energi yang

maksimal. Selain itu stemming juga berfungsi untuk mencegah

agar tidak terjadi batuan terbang (flyrock) dan ledakan tekanan

udara (airblast) saat peledakan. Untuk penentuan tinggi stemming

digunakan rumusan seperti yang tertera berikut ini:

T = 0,7 x B ........................................................................... (20)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Dengan: T = Stemming (m)

B = Burden (m)
45

4) Subdrilling (J)

Subdrilling adalah tambahan kedalaman pada lubang bor di bawah

lantai jenjang yang dibuat dengan maksud agar batuan dapat

terbongkar sebatas lantai jenjangnya. Jika panjang subdrilling

terlalu kecil maka batuan pada batas lantai jenjang (toe) tidak

lengkap terbongkar sehingga akan menyisakan tonjolan pada lantai

jenjangnya, sebaliknya bila panjang subdrilling terlalu besar maka

akan menghasilkan getaran tanah dan secara langsung akan

menambah biaya pemboran dan peledakan. Dalam penentuan

tinggi subdrilling yang baik untuk memperoleh lantai jenjang yang

rata maka digunakan rumusan sebagai berikut:

J = 0,3 x B ............................................................................ (21)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Dengan: J = Subdrilling (m)

B = Burden (m)

5) Kedalaman Lubang Ledak (H)

Penentuan kedalaman lubang ledak disesuaikan dengan kapasitas

alat gali muat dan pertimbangan geoteknik. Pada prinsipnya

kedalaman lubang ledak merupakan jumlah total antara tinggi

jenjang dengan subdrilling yang dapat ditulis sebagai berikut:

H = L+ J .................................................................................. (22)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)


46

Dengan: H = Kedalaman lubang ledak (m)

L = Tinggi jenjang (m)

J = Subdrilling (m)

6) Panjang Kolom Isian (PC)

Panjang kolom isian merupakan panjang kolom lubang ledak yang

akan diisi bahan peledak.

Panjang kolom ini merupakan kedalaman lubang ledak dikurangi

panjang stemming yang digunakan.

PC = H – T ............................................................................... (23)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Dengan: PC = Panjang kolom isian (meter)

H = Kedalaman lubang ledak (meter)

T = Stemming (meter)

7) Tinggi Jenjang (L)

Secara spesifik tinggi jenjang maksimum ditentukan oleh

peralatan lubang bor dan alat muat yang tersedia. Tinggi jenjang

berpengaruh terhadap hasil peledakan seperti fragmentasi batuan,

ledakan udara, batu terbang dan getaran tanah. Hal ini dipengaruhi

oleh jarak burden. Berdasarkan perbandingan tinggi jenjang dan

jarak burden yang diterapkan (stiffness ratio), maka akan diketahui

hasil dari peledakan tersebut (Tabel 3). Penentuan ukuran tinggi

jenjang berdasarkan stiffness ratio digunakan rumus berikut:


47

L = 5 x De ................................................................................ (24)

(Sumber: Tim IWPL Supervisory Teknik Peledakan, 1996)

Dengan: L = Tinggi jenjang minimum (ft)

De = Diameter lubang ledak (inchi)

Sedangkan dari segi perlapisan batuan, untuk mendapatkan

fragmentasi batuan yang baik, diterapkan arah lubang ledak yang

berlawanan arah dengan bidang perlapisan batuan karena energi

ledakan akan menekan batuan secara maksimal.

Tabel 3. Potensi Yang Terjadi Akibat Stiffnes Ratio (L/B)

Sumber: C.J. Konya, 1991

9. Fragmentasi Material Hasil Peledakan

a. Analisa Fragmentasi dengan Metode Kuz-Ram dan Modifikasi


C.V.B. Cunningham (2005)

Tingkat fragmentasi batuan merupakan tingkat pecahan

material dalam tertentu sebagai hasil dari proses peledakan. Untuk

memperkirakan distribusi fragmentasi batuan hasil peledakan secara

teori dapat digunakan persamaan Kuznetsov (1973), sebagai berikut:


48

𝑃 0,8
X = A x [ 𝑆 ] x Q0,17 x ( E / 115)-0,63 ........................................................(25)

Dimana:

X = Rata–rata ukuran fragmentasi (cm)

A = Faktor batuan (Rock Factor)

V = Volume batuan yang terbongkar (m3)

Q = Jumlah bahan peledak ANFO (kg) pada setiap lubang ledak

E = Relative Weight Strenght bahan peledak, untuk ANFO = 100

Model ini sering digunakan untuk memprediksi ukuran

fragmentasi peledakan, namun memiliki beberapa kelemahan sehingga

perlu memasukkan modifikasi untuk menghasilkan model baru yang

lebih baik (Cunningham, 2005). Beberapa kelemahan tersebut yaitu:

1) Banyaknya parameter inputan yang tidak dimasukkan, diantaranya

rock properties dan struktur, dimensi peledakan (jumlah lubang

dan baris), dimensi jenjang, delay, kekuatan detonasi, stemming,

dan edge effect.

2) Kemampuan untuk memprediksi fragmentasi yang terbatas

3) Kesulitan dalam membuat skala efek blasting

Cara yang lebih baik untuk memprediksi fragmentasi adalah

menghitung material yang lewat pada conveyor belt, namun akan sulit

dilakukan karena jauh dari permukaan kerja. Beberapa modifikasi

yang dilakukan adalah:

1) Untuk menghitung ukuran material hasil peledakan dimasukkan

pengaruh delay (blasting timing), sehingga didapatkan rumus:


49

Xm = A x At x K-0.8 x Q1/6 x (115/RWS)19/20 x c (A)…………..(26)

(Sumber: C.V.B. Cunningham, 2005)

Dimana:

Xm = Ukuran rata-rata fragmentasi hasil peledakan

A = Faktor batuan

At = Timing factor

K = Powder factor

Q = Jumlah explosive per lubang

RWS = Relative Weight Strength bahan peledak

c (A) = Faktor koreksi

Untuk menentukan fragmentasi batuan hasil peledakan digunakan

persamaan Roslin–Ramler, yaitu:


𝑛
Rx = 𝑒 −(X/Xc) ............................................................................................................
(27)

X
Xc = ………………………………………………(28)
(0,693)1/𝑛

(Sumber: C.V.B. Cunningham, 2005)

Dimana:

Rx = Prosentase material yang tertahan pada ayakan (%)

X = Ukuran ayakan (cm)

n = Indeks keseragaman

2) Besarnya n (indeks keseragaman) didapatkan dengan persamaan

berikut:
50

𝐵 𝑆
n = ns √(2 − 30 𝑑 ) ((1 + 𝐵)/2) x (1 – W/B) (L/H)0.3 C(n) .. (29)

(Sumber: C.V.B. Cunningham, 2005)

Dimana:

B = Burden

d = Diameter bahan peledak (mm)

W = Standar deviasi dari keakuratan pemboran (m)

L = Panjang isian (m)

H = Tinggi jenjang (m)

C (n) = Faktor koreksi

b. Analisa Fragmentasi dengan Image Analysis pada Split Dekstop

Tingginya biaya dan kebutuhan waktu untuk memperoleh fragmentasi

yang sempurna, metode-metode untuk mengukur hasil peledakan yang

biasa digunakan (Jimeno,1995), antara lain:

1) Metode Fotografi

2) Metode Fotogrametri

a) Analisis gambar dengan komputer

b) Analisis kenampakan kualitatif

c) Analisis ayakan

d) Produktivitas alat peremuk

e) Analisis volume material pada secondary blasting

f) Analisis produktivitas alat muat (loading time, digging time,

trip outs)
51

Pada penelitian ini, fragmentasi peledakan dianalisis

menggunakan metode fotometri atau image analysis dengan bantuan

perangkat lunak split desktop. Perangkat lunak split desktop

merupakan suatu program komputer yang dapat digunakan untuk

menganalisis distribusi ukuran fragmentasi hasil peledakan yang ada di

lapangan.

Perangkat lunak ini dirancang untuk menentukan distribusi

ukuran fragmentasi berdasarkan analisis gambar foto digital dari

fragmentasi yang ada di lapangan. Perangkat lunak ini akan

menghasilkan suatu output berupa informasi distribusi fragmentasi

yang ditampilkan dalam bentuk grafik dan tabel persentasi kumulatif

dari fragmentasi yang lolos pada ukuran ayakan yang ditentukan.

Split Desktop Computer Program V-3.1 adalah salah satu

program komputer untuk menganalisis distribusi ukuran fragmen-

fragmen batuan hasil peledakan dengan menganalisa gambar. Gambar

dapat dimasukkan langsung dari foto digital, gambar hasil scanning

dan capture dari rekaman video. Sebelum menjalankan program split

desktop, gambar yang akan dihitung dimasukkan ke dalam komputer

yang dapat dilakukan dengan download atau digitasi gambar.

Untuk melakukan perhitungan distribusi ukuran fragmentasi

dengan menggunakan program komputer Split Dekstop V-3.1, secara

garis besar terdiri dari menentukan gambar, mencari partikel,


52

memperbaiki hasil pencarian, melakukan perhitungan ukuran dan

menampilkan grafik dan hasil perhitungan. Berikut adalah langkah-

langkah perhitungan distribusi ukuran fragmentasi dengan

menggunakan split dekstop:

1) Menentukan Gambar

Menentukan gambar adalah langkah pertama yang harus

dilakukan dalam menggunakan program split desktop dan terdiri

dari dua bagian yaitu menentukan batas dari gambar yang dihitung

dan menentukan skala yang digunakan oleh gambar. Berbeda

dengan versi sebelumnya, pada versi ini gambar tidak akan diubah

kedalam format *.TIFF melainkan gambar asli akan langsung bisa

diolah dengan format “JPG”.

Sebelum bisa menentukan analisis distribusi ukuran

sebenarnya maka dibutuhkan skala sebagai pembanding. Skala

yang digunakan merupakan hal yang paling penting dalam

menjalankan program split desktop. Penentuan skala pada gambar

terdiri dari dua, yaitu dengan menggunakan satu dan dua objek.

Untuk masing-masing objek pada penempatannya sebaiknya tegak

lurus dengan gambar yang akan diambil. Pengambilan gambar

dengan menggunakan skala seperti pada Gambar 14.


53

Gambar 14. Foto Sebelum Dilineasi

2) Mencari Ukuran Partikel

Merupakan tahapan dimana program akan mengenali partikel-

partikel yang dihitung secara otomatis dari hasil konversi program.

Hasil yang ditampilkan adalah garis yang terbentuk sesuai dengan

bentuk partikel kemudian program akan menganalisis ukuran

berdasarkan skala yang telah ditentukan.

3) Memperbaiki Hasil Pencarian

Langkah ini ditujukan untuk memperbaiki hasil ukuran yang

diberikan oleh pencarian ukuran partikel. Perbaikan ini meliputi

penghapusan daerah yang tidak dihitung seperti scale ball yang

digunakan sebagai pembanding, maupun garis batas antara

partikel-partikel hasil analisis program, sehingga ukuran yang

terbaca oleh program bisa lebih akurat seperti pada Gambar 15.
54

Gambar 15. Foto Setelah Dilineasi

4) Melakukan Perhitungan Ukuran

Perhitungan ukuran akan secara otomatis dari program split

desktop berdasarkan skala pembanding yang ada dalam gambar,

dalam hal ini scale ball.

5) Menampilkan Grafik dan Hasil

Hasil perhitungan ukuran fragmentasi akan ditampilkan dalam

bentuk grafik yang dapat dipilih seperti Schuman, Rosin-Ramler,

dan best fit. Grafik tersebut akan memberikan distribusi persentase

ukuran pada selang ukuran tertentu. Output hasil analisis

fragmentasi seperti pada Gambar 16.

Gambar 16. Output Hasil Analisis Fragmentasi dengan


Software Split Desktop
55

10. Kegiatan Pemuatan (Loading) Material

a. Digging Time

Digging time adalah waktu yang digunakan oleh alat gali muat untuk

menggaru material yang akan dipindahkan. Digging time merupakan

bagian dari cycle time yang dapat menjadi salah satu acuan menentukan

produktivitas dari alat gali muat.

b. Cycle Time

Cycle time merupakan total waktu pada alat gali muat, yang dimulai

dari pengisian bucket sampai dengan menumpahkan muatan ke dalam

alat angkut dan kembali kosong. Rumus untuk mencari waktu edar alat

gali muat sebagai berikut:

CTm = Tm1 + Tm2 + Tm3 + Tm4 ............................................ (30)

(Sumber: Rochman Hadi, 1992)

Keterangan:

CTm = Waktu edar excavator, menit

Tm1 = Waktu menggali (digging) material, menit

Tm2 = Waktu berputar (swing) dengan bucket bermuatan, menit

Tm3 = Waktu menumpahkan muatan, menit

Tm4 = Waktu berputar (swing) dengan bucket kosong, menit

c. Produktivitas Alat Gali Muat

Produktivitas adalah kemampuan alat gali muat untuk

memindahkan material yang digali per satuan waktu. Satuan


56

produktivitas yang sering digunakan adalah ton/jam atau bcm/jam.

Untuk menghitung produktivitas maka digunakan rumus berikut:

Productivity = Digging rate x PA x UA ……………….……..(31)

(Sumber: Rochman Hadi, 1992)

Digging Rate = BC x BFF x 3600 …………………………..(32)

CT
(Sumber: Ghadafi, 2012)

Dimana:

PA = Physical Avaibility

U = Utility Avaibility

BC = Bucket Capacity

BFF = Bucket Fill Factor

CT = Cycle Time

Besar kecilnya digging rate alat gali muat ditentukan oleh

kondisi material hasil peledakan. Kondisi material peledakan akan

mempengaruhi tahanan gali (digging resistance) yang dialami oleh

gigi-gigi bucket saat menggali material. Besarnya tahanan gali

dipengaruhi oleh jenis material yang digali, apakah keras atau lunak,

dan ukuran fragmentasinya. Fragmentasi berukuran boulder memiliki

tahanan gali yang lebih besar, begitu pun sebaliknya.

11. Analisis Statistik

a) Korelasi

Korelasi merupakan suatu hubungan antara satu variabel

dengan variabel lainnya dalam bentuk diagram pencar (scatterplot)


57

yang menunjukkan hubungan antara kedua variabel tersebut, dimana

koefisien korelasi (  ) mempunyai nilai -1 ≤  ≤ 1. Beberapa

penyebaran 2 (dua) kumpulan data yang mungkin terjadi yang

ditunjukkan pada Gambar 20 sebagai berikut:

1) Memanjang tegak (mendekati sejajar dengan sumbu vertikal)

2) Memanjang rebah (mendekati sejajar dengan sumbu horizontal)

3) Memanjang ke kanan atas

4) Memanjang ke kanan bawah

5) Bulat tidak menunjukkan arah yang pasti

Perhitungan koefisien korelasi pada dasarnya dapat

dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yaitu:

1) Korelasi Positif Kuat

Korelasi positif kuat apabila hasil perhitungan korelasi mendekati

+1 atau sama dengan +1. Ini berarti bahwa setiap kenaikan nilai

pada variabel X akan diikuti dengan kenaikan nilai variabel Y.

Sebaliknya, jika variabel X mengalami penurunan, maka akan

diikuti dengan penurunan variabel Y.

2) Korelasi Negatif Kuat

Korelasi negatif kuat apabila hasil perhitungan korelasi mendekati

-1 atau sama dengan -1. Ini berarti bahwa setiap kenaikan nilai

pada variabel X akan diikuti dengan penurunan skor/nilai variabel

Y. Sebaliknya, jika variabel X turun, maka nilai variabel Y akan

naik.
58

3) Tidak Ada Korelasi

Tidak ada korelasi, apabila hasil perhitungan korelasi mendekati 0

atau sama dengan 0. Hal ini berarti bahwa naik turunnya nilai satu

variabel tidak mempunyai kaitan dengan naik turunnya nilai

variabel yang lainnya. Apabila nilai variabel X naik tidak selalu

diikuti dengan naik atau turunnya nilai variabel Y, demikian juga

sebaliknya.

Sumber: Hastono, 2006


Gambar 17. Diagram Pencar (Scatterplot) antara Dua Variabel

Perhitungan Koefisien korelasi dapat dinyatakan dengan persamaan

di bawah ini:

i1 xi   x  yi   y 


1 n
 n ......................................................... (33)
 x y

(Sumber: Hastono, 2006)

Dimana:

 : Koefisien korelasi

n : Jumlah data

xi ....x n : Nilai variabel x


59

y i ....y n : Nilai variabel y

x : Mean variabel x

y : Mean variabel y

x : Simpangan baku variabel x

y : Simpangan baku variabel y

b) Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi (R2) adalah bagian dari keragaman total

variabel terikat (Y) yang dapat diterangkan oleh keragaman variabel

bebas (X). Adapun interpretasi nilai koefisien determinasi menurut

Colon dalam Hastono (2006: 131) dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Interpretasi nilai Koefisien Determinasi (R2)


R2 Interpretasi
0,00 – 0,25 Tidak ada hubungan/hubungan lemah
0,26 – 0,50 hubungan sedang
0,51 – 0,75 hubungan kuat
0,76 - 1,00 hubungan sangat kuat/sempurna

c) Regresi

Analisis regresi digunakan untuk memberikan penjelasan

hubungan antara dua jenis variabel atau lebih yaitu hubungan antara

variabel dependen atau variabel kriteria dengan variabel independen

atau variabel prediktor. Analisis hubungan antara dua variabel disebut

sebagai analisis regresi sederhana jika hanya melibatkan satu variabel

independen. Hubungan antara variabel dependen (Y) dengan variabel

independen (X) dituliskan dalam model linier umum:


60

Y = i + Xi…………………………..........…………………(34)

(Sumber: Hastono, 2006)

Dengan i = 1,2,……..n adalah koefisien regresi yang berarti besarnya

perubahan pada, jika Xi bertambah satu satuan dan variabel yang lain

konstan, adalah intercept.

Regresi linier berganda adalah analisis regresi yang

menjelaskan hubungan antara peubah respon (variable dependen)

dengan faktor-faktor yang mempengaruhi lebih dari satu predictor

(variabel independen). Regresi linier berganda hampir sama dengan

regresi linier sederhana, hanya saja pada regresi linier berganda

variabel bebasnya lebih dari satu variabel penduga. Secara umum

model regresi linier berganda untuk populasi adalah sebagai berikut:

Y'b0 b1X1b2X2 ...bkXk…………………………………………………(35)

Y'ib0b1X1i b2X2i ...bkXki……………………………………………..(36)

(Sumber: Hastono, 2006)

Dengan:

i = 1,2,...n, k = variabel bebas, yaitu X1,...,Xk.

Pada prinsipnya model regresi linier berganda bertujuan untuk:

(1) Prediksi

Yaitu memperkirakan variabel dependen dengan menggunakan

informasi yang ada pada sebuah atau beberapa variabel

independen.
61

(2) Estimasi

Yaitu menguantifikasi hubungan satu atau beberapa variabel

independen dengan satu variabel dependen. Fungsi regresi ini

dapat digunakan untuk mengetahui variabel independen apa saja

yang berhubungan dengan variabel dependen. Selain itu juga dapat

mengetahui seberapa besar hubungan masing-masing independen

terhadap variabel independen lainnya. Dari analisis ini juga

diketahui variabel mana yang paling dominan mempengaruhi

variabel dependen, yang ditunjukan dari koefisien regresi yang

sudah distandardisasi yaitu nilai beta.

Agar persaman garis yang digunakan untuk memprediksi

menghasilkan angka yang valid, maka persamaan yang dihasilkan

harus memenuhi asumsi-asumsi yang diersyaratkan uji regresi linier

ganda. Adapun uji asumsinya sebagai berikut:

1) Asumsi Eksistensi

Untuk tiap nilai dari variabel X (variabel independen), variabel Y

(dependen) adalah variabel random yang mempunyai mean dan

varian tertentu. Asumsi ini berkaitan dengan teknik pengambilan

sampel. Untuk memenuhi asumsi ini, sampel yang diambil harus

dilakukan secara random. Cara mengetahui asunsi eksistensi

dengan cara melakukan analisis deskriptif variabel residual dari

model, bila residual menunjukkan adanya mean mendekati nilai


62

nol dan ada sebaran (varian data standar deviasi) maka asumsi

eksistensi terpenuhi.

2) Asumsi Independensi

Suatu keadaan dimana masing-masing nilai Y bebas satu sama

lain. Jadi nilai dari tiap-tiap individu saling berdiri sendiri. Tidak

diperbolehkan nilai observasi yang berbeda yang diukur dari satu

individu diukur dua kali. Untuk mengetahui asumsi ini dilakukan

dengan cara mengeluarkan uji Durbin Watson, bila nilai Durbin –2

s.d. +2 berarti asumsi independensi terpenuhi, sebaliknya bila nilai

Durbin < -2 atau > +2 berarti asumsi tidak terpenuhi

3) Asumsi Linieritas

Nilai mean dari variabel Y untuk suatu kombinasi X1, X2, X3,

…, Xk terletak pada garis/bidang linier yang dibentuk dari

persamaan regresi. Untuk mengetahui asumsi linieritas dapat

diketahui dari uji ANOVA (overall F test) bila hasilnya signifilan

(p value < alpha) maka model berbentuk linier

4) Asumsi Homoscedascity

Varian nilai variabel Y sama untuk semua nilai variabel X.

Homoscedasticity dapat diketahui dengan melakukan pembuatan

plot residual. Bila titik tebaran tidak berpola tertentu dan

menyebar merata di sekitar garis titik nol maka dapat disebut

varian homogen pada setiap nilai X dengan demikian asumsi

homoscedasticity terpenuhi. Sebaliknya bila titik tebaran


63

membentuk pola tertentu misalnya mengelompok di bawah atau di

atas garis tengah nol, maka diduga variannya terjadi

heteroscedasticity

5) Asumsi Normalitas

Variabel Y mempunyai distribusi normal untuk setiap pengamatan

variabel X, dapat diketahui dari Normal P-P Plot residual, bila data

menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis

diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi model regresi

tidak memenuhi asumsi normalitas.

6) Diagnostik Multicolinearity

Dalam regrei linier tidak boleh terjadi sesama variabel independen

berkorelasi secara kuat (multicolinearity). Untuk mendeteksi

colinearity dapat diketahui nilai VIF (Variance Inflation Factor),

bila nilai VIF > 10 maka mengindikasikan telah terjadi colinearity.

12. Kegiatan Peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow

Data Pattern, tie up peledakan, arah lemparan batuan, dan initiation

contour pada blok peledakan di PT J Resources Bolaang Mongondow

dapat dilihat pada Lampiran A Gambar 66 s.d. 69.

13. Penelitian Yang Relevan

a. The Kuz-Ram Fragmentation Model-20 Years On oleh C.V.B.


Cunningham tahun 2005

Penelitian ini berisi modifikasi dari teori Kuz-Ram dalam memprediksi

ukuran fragmentasi peledakan. Dalam penelitian ini didapatkan

persamaan baru untuk mencari ukuran fragmentasi dan indeks


64

keseragaman. Cunningham (2005) memodifikasi teori Kuz-Ram

dengan memasukkan parameter baru diantaranya pengaruh delay (blast

timing) dan faktor koreksi terhadap karakteristik batuan dan indeks

keseragaman

b. Correlation of Blasthole Deviation and Area Of Block with


Fragment Size and Fragmentation Cost Oleh B. Adebayo dan B.
Mutandwa tahun 2015

Penelitian ini mencari korelasi dari lubang ledak dengan ukuran

fragmentasi dan biaya peledakan. Penelitian ini menggunakan tiga

simulasi bahan peledak diantaranya ANFO, Heavy ANFO, dan

emulsion. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika deviasi dari

kedalaman lubang ledak meningkat maka biaya yang dikeluarkan juga

meningkat, dalam hal ini Heavy ANFO memberikan nilai yang lebih

baik dari ANFO. Selain itu semakin besar diameter dari lubang ledak

yang digunakan maka biaya peledakan yang dikeluarkan juga semakin

besar, dalam hal ini ANFO memberikan biaya yang lebih besar dari

dua jenis bahan peledak lainnya.

c. A Practical Method of Bench Blasting Design for Desired


Fragmentation based on Digital Image Process Technique and Kuz-
Ram Model Oleh I.C. Engin tahun 2009

Penelitian ini membuat parameter design geometri peledakan yang

sesuai untuk menngoptimalkan ukuran fragmnetasi dan biaya

peledakan pada tambang quarry batukapur. Ukuran fragmentasi

peledakan diprediksi menggunakan teori Kuz-Ram dan digital image

process dengan split desktop. Hasil penelitian menunjukkan parameter


65

geometri peledakan untuk mendapatkan peledakan yang optimum

adalah dengan diameter lubang ledak 89 mm, spasi 2.5 m, burden 2 m,

dan specific charge 0,97 Kg/m3.

d. A Study Of Digging Productivity of an Electric Rope Shovel for


Different Operator Oleh Khourzoughi dan Robert Hall tahun 2016

Penelitian ini menganalisis hubungan pengaruh efisiensi digging

terhadap digging energy, digging time, dan payload yang dipengaruhi

oleh operator. Analisis data difokuskan pada teknik operator selama

melakukan kegiatan digging dalam pemindahan material. Data yang

diambil adalah data digging time, swing time, dan return time pada

operator yang berbeda-beda. Hasil penelitian menjelaskan pengaruh

dari kemampuan operator yang berbeda dalam kegiatan digging untuk

memenuhi produktifitas dan memberi pemahaman upaya optimalisasi

untuk kegiatan digging yang lebih baik bagi operator

e. The Discovery, Geologi, and Exploration of the High Sulhidation


Au-Mineralization System in the Bakan District, North Sulawesi
Oleh Iip Hardjana tahun 2012

Penelitian ini menjelaskan kondisi geologi dari keberadaan emas di

Bakan, Sulawesi Utara. Mineralisasi emas daerah Bakan dengan tipe

epitermal-high sulphidation yang didominasi oleh tuff dasitik.

Terdapat dua jenis alterasi emas yang berkembang diantaranya alterasi

silisic yang didominasi oleh silica vuggy dan alterasi advance argilic.
66

f. Analisa Geometri Peledakan terhadap Ukuran Fragmentasi


Overburden pada Tambang Batubara PT Pamapersada Nusantara
Jobsite Adaro Kalimantan Selatan Oleh Munawir dkk. Tahun 2015

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui geometri peledakan yang

diterapkan di lapangan dan membandingkan dengan geometri peledakan

menurut R.L. Ash dan C.J. Konya. Selain itu juga untuk mengetahui

ukuran fragmentasi dari overburden yang dihasilkan. Metode pengukuran

fragmentasi menggunakan metode photographic dengan split desktop.

Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat fragmentasi berukuran > 1

meter sebesar 14,5 % untuk daerah high wall dan 6,6 % untuk daerah low

wall. Selain itu hasil fragmentasi berdasarkan analisis split desktop

menunjukkan 90 % lebih kecil dari 75 cm

g. Kajian Teknis Operasi Peledakan untuk Meningkatkan Nilai


Perolehan Hasil Peledakan di Tambang Batubara Kab. Kutai
Kertanegara Provinsi Kalimantan Timur Oleh Reny Susanti dkk.
Tahun 2011

Penelitian ini mengkaji ketidaktercapaian target ukuran fragmentasi hasil

peledakan. Ketidaktercapaian target fragmentasi salah satunya disebabkan

oleh kedalaman lubang pemboran. Hasil penelitian menunjukkan kedalam

pemboran > 8,5 m menghasilkan nilai perolehan yang lebih kecil

dibandingkan dengan kedalaman pemboran < 8,5 m. Di samping itu nilai

perolehan akan menurun apabila jumlah bongkah hasil peledakan semakin

besar.
67

h. Evaluation of the Effect of Ground Vibration due to Dragline Bench


Blasting on Adjacent Structure Oleh M.P. Roy dkk. tahun 2011

Penelitian ini menganalisis hubungan getaran peledakan dengan struktur

dan bangunan yang berada di sekitar area peledakan. Studi dilakukan pada

50 peledakan jenjang pada enam opencast project. Dari studi ini

didapatkan data getaran sebanyak 229 yang diambil di sekitar pemukiman

dan struktur batuan yang berjarak 100 m dari struktur dan terjauh 9709 m.

pengambilan data menggunakan Single Degree of Freedom (SDF). Data

menunjukkan penggunaan explosive berkisar antara 45.289-434869 Kg,

natural frequency 3,19-10,6 Hz, amplification of vibration 2,17-5,62, dan

data vibrasi berkisar 0,519-91,6 mm/s.

i. Kajian Teknis Geometri Peledakan Berdasarkan Analisis Blastability


dan Digging Rate Alat Gali Muat di Pit MT-4 Tambang Air Laya
Tanjung Enim Sumatera Selatan Oleh Moammar A. Ghadafi dkk.
tahun 2012

Penelitian ini menentukan geometri peledakan dan powder factor dengan

memperhatikan karakteristik massa batuan dan kondisi geologi setempat

agar dapat memperoleh fragmentasi produktif dimana persentase boulder

< 15 % sehingga digging rate dan produktivitas alat gali muat dapat

ditingkatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai blastability index

pada lokasi penelitian adalah 33,13, sehingga geomteri peledakan yang

sesuai untuk diterapkan adalah untuk lubang bor 6,75 inchi, burden 5,5 m,

spasi 8 m, kedalaman lubang ledak 8,2 m, subdrilling 0,3 m, tinggi jenjang

7,9 m, stemming 4,4 m, dan panjang kolom isian 3,8 m dengan powder

factor adalah 0,2 Kg/m3.


68

j. Kajian Teknis Peledakan pada Kegiatan Pembongkaran Lapisan Penutup


untuk Meningkatkan Produktifitas Alat Gali Muat di PT Thiess Contractors
Indonesia Melak, Kalimantan Timur Oleh Santika Adi P.

Penelitian ini menunjukkan bahwa adanya penambahan lubang ledak

miring membuktikan dengan geometri yang sama maka produktivitas alat

gali muat meningkat dari 1.335,5 m3/jam menjadi 1475,55 m3/jam.

Penelitian memperlihatkan dengan geometri usulan sesuai teori R.L. Ash

dengan burden 8 m, spasi 9 m, tinggi jenjang 15 m, dan subdrilling 1,5 m

maka persentase boulder dapat berkurang sebanyak 20 % dan

produktivitas alat muat semakin meningkat seiring diterapkannya lubang

miring tambahan.
69

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2009) “Penelitian merupakan cara ilmiah

berdasarkan ciri-ciri keilmuwan untuk mendapatkan data dengan tujuan atau

kegunaan tertentu”. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian terapan.

Penelitian terapan dilakukan berkenaan dengan kenyataan-kenyataan praktis,

penerapan, dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh

penelitian dasar. Tujuan utama penelitian terapan adalah mencari solusi

tentang masalah-masalah tertentu sehingga dapat secara langsung diterapkan

untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi (Sukardi, 2003).

Penelitian ini menguji manfaat dari teori-teori ilmiah serta mengetahui

hubungan empiris dan analisis bidang-bidang tertentu. Penelitian terapan

dapat pula diartikan sebagai studi sistematik dengan tujuan menghasilkan

tindakan aplikatif yang dapat dipraktikan bagi pemecahan masalah tertentu.

Hasil penelitian terapan tidak perlu sebagai suatu penemuan baru tetapi

merupakan aplikasi baru dari penelitian yang sudah ada (Nazir, 1985).

B. Objek Penelitian

Adapun yang menjadi objek penelitian adalah ukuran fragmentasi peledakan

yang belum mencapai target dan mempengaruhi kegiatan produksi

penambangan sehingga penulis tertarik untuk mengevaluasi optimasi geometri

peledakan ore di PT J Resources Bolaang Mongondow dalam pencapaian

target fragmentasi dan produktivitas penambangan yang telah dirancang.

69
70

C. Lokasi Penelitian

Pelaksanaan penelitian berada di PT JRBM site Bakan. Secara administrasi

lokasi penelitian berada di Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten

Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Secara astronomis daerah

penelitian terletak pada 0° 33’ 33.05” LU - 0° 35’ 12.81” LU dan 124° 17’

52.9” BT - 124° 35’ 12.81” BT. Pengambilan data dilakukan pada dua pit

dikarenakan kedua pit ini memiliki tipe material ore yang berbeda, yaitu di Pit

Durian Barat dan Pit South Osela. Peta lokasi penelitian dapat dilihat pada

Lampiran A

D. Instrumen Penelitian

Adapun instrumen penelitian yang digunakan selama melakukan kegiatan

adalah peta drilling and blasting loading sheet, meteran, stopwatch, alat tulis

kerja, dan komputer.

E. Tahapan Penelitian

Adapun tahapan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pendahuluan

a. Kajian Pustaka

Pada kajian pustaka ini beberapa teori yang dipelajari adalah:

1) Deskripsi umum perusahaan

2) Teori peledakan menurut beberapa ahli

3) Teori mengenai fragmentasi peledakan

4) Tipe material ore pembentuk blok peledakan

5) Teori analisis data statistik


71

b. Observasi Lapangan

Kegiatan ini dilakukan selama satu minggu pada dua pit operasional

untuk melihat permasalahan aktual yang ada di lapangan

c. Perumusan Masalah

Rumusan masalah disusun berdasarkan observasi lapangan dan data

peledakan sebelumnya untuk menjawab permasalahan dan menemukan

solusi terhadap kegiatan optimasi pada peledakan berikutnya dalam

mencapai target produktivitas perusahaan.

2. Tahap Pengambilan Data

Data yang diambil meliputi data primer dan data sekunder, diantaranya:

a. Data Primer

1) Geometri Aktual

Geometri aktual yang diambil adalah kedalaman lubang pemboran

dan stemming. Data kedalaman diambil sebelum melakukan

pengisian (charging) dan data kedalaman stemming aktual diambil

30 menit setelah pengisian (charging). Pengukuran data ini

dilakukan dengan menggunakan meteran yang diberi pemberat lalu

dimasukkan ke dalam lubang ledak untuk dilakukan pembacaan

kedalaman

2) Fragmentasi Peledakan

Data yang diambil adalah foto fragmentasi yang mewakili setiap

blok peledakan yang diamati sebagai parameter masukan pada

software split desktop.


72

3) Data Produksi

Data yang diambil adalah waktu excavator menggali material

(digging time) (s/bucket) pada blok peledakan sehingga dapat

ditentukan digging rate dan produktivitas alat gali muat.

Pengambilan data ini dilakukan dengan menggunakan stopwatch

b. Data Sekunder

1) Data Geologi dan Alterasi

2) Drill and Blast Design

3) Drill Pattern Report Sheet

4) Loading Sheet

5) Cycle Time dan Produktivitas Peledakan

3. Tahap Pengolahan Data

a. Data geometri peledakan diolah ke dalam ms.excel kemudian

dilakukan perhitungan deviasi aktual terhadap plan yang ditetapkan.

Deviasi adalah perubahan atau penyimpangan nilai aktual terhadap

plan yang ditetapkan. Dari nilai deviasi tersebut dapat diketahui

efisiensi dari kegiatan peledakan secara aktual

b. Data fragmentasi hasil peledakan diolah dengan dua cara yaitu teoritis

dan aktual. Data teoritis diolah dengan menggunakan teori Kuz-Ram

dan modifikasi Kuz-Ram oleh C.V.B. Cunningham (2005). Sementara

untuk fragmentasi aktual diolah dengan program split desktop

c. Data digging time dan cycle time diolah untuk mendapatkan nilai

digging rate seperti rumus pada persamaan 34 (Halaman 54),


73

sedangkan untuk data produktivitas telah diketahui dari data sekunder

perusahaan

d. Analisis statistik yang digunakan adalah analisis regresi linier

berganda dengan pemodelan multivariate untuk mendapatkan

persamaan yang menggambarkan hubungan antara geometri peledakan

terhadap target fragmentasi dan diggability. Dari persamaan yang

dihasilkan maka dapat dicari kondisi ideal yang menggambarkan

optimasi geometri peledakan terhadap tujuan yang ingin dicapai.

4. Tahap Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menganalisis data primer dan data

sekunder yang telah diambil sehingga didapatkan nilai-nilai berikut:

a. Nilai efisiensi yang didapatkan dari kegiatan peledakan dapat

menginterpretasikan ketidaktercapaian target fragmentasi ore serta

produktivitas dari plan yang telah ditetapkan

b. Persamaan yang dihasilkan dari analisis statistik dapat dijadikan

pedoman untuk menentukan pendekatan titik optimum atau kondisi

ideal dari geometri peledakan yang diharapkan dapat memenuhi target

fragmentasi dan produktivitas yang akan dicapai

c. Design ulang geometri peledakan menggunakan teori R.L. Ash dan

C.J. Konya dilakukan dalam rangka optimasi geometri peledakan

terhadap target fragmentasi dalam pemenuhan target produktivitas.

Dari desain ini didapatkan geometri terbaik dalam mencapai target


74

fragmentasi antara metode R.L. ash, C.J. Konya, dan geometri yang

sedang diterapkan saat ini di PT JRBM

F. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual penelitian dapat dilihat pada Gambar 18.

Input Proses
Data Primer 1. Perhitungan Efisiensi Kegiatan Pemboran
dan Peledakan terhadap Plan yang ditetapkan
1. Data Pemboran 2. Perhitungan Target Fragmentasi yang dapat
(h Aktual) dicapai (Kuz-Ram dan Split Dekstop)
2. Data Peledakan 3. Perhitungan Digging Time, Digging Rate,
(T aktual) dan Produktivitas Alat Gali Muat
3. Data Fragmentasi (Foto 4. Analisis Hubungan Geometri Peledakan
Peledakan) terhadap Fragmentasi dan Diggability Alat
4. Data Loading (Digging Gali Muat dengan Analisis Statistik (Model
Time) Regresi Linier Berganda untuk Mendapatkan
Persamaan yang Memiliki Hubungan Antara
Data Sekunder Variabel-Variabel tersebut)
5. Usulan Evaluasi Geometri Peledakan yang
1. Data Geologi dan Optimal untuk Mencapai Target Fragmentasi
Alterasi dan Diggability dalam Memenuhi Target
2. Data Drill and Blast Produktivitas Penambangan
Design
3. Data Drill Pattern
Report Sheet
4. Data Loading Sheet
5. Data Cycle Time dan Output
Produktivitas Optimasi Geometri Peledakan untuk
Mencapai Target Fragmentasi dan
Meningkatkan Diggability Alat Gali Muat
dalam Memenuhi Target Produktivitas
perusahaan

Gambar 18. Kerangka Konseptual Penelitian


75

G. Alur Penelitian

Alur kegiatan penelitian dijelaskan pada Gambar 19

Mulai

Observasi Lapangan

Pengambilan Data

Data Primer Data Sekunder

1. Data Geologi dan Alterasi


1. Geometri Aktual ( h dan T) 2. Drill and Blast Design
2. Fragmentasi (Teoritis dan Aktual) 3. Drill Pattern Report Sheet

3. Digging Time Excavator 40 Ton 4. Loading Sheet


5. Cycle Time dan Produktivitas
Peledakan

6.
Pengolahan Data
1. Efisiensi kegiatan peledakan aktual terhadap plan
2. Persentase fragmentasi hasil peledakan (> 50 cm)
3. Digging time, digging rate, dan produktivitas alat gali muat pada blok
peledakan ore
4. Nilai korelasi dan regresi dari hubungan geometri peledakan terhadap
fragmentasi dan diggability
5. Design geometri peledakan menurut R.L. Ash dan C.J. Konya
dalam rangka optimasi kegiatan peledakan

Analisis dan Hasil

Penarikan Kesimpulan dan Saran

Selesai

Gambar 19. Bagan Alir Penelitian


76

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kegiatan Peledakan PT JRBM

Kegiatan peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow merupakan

peledakan produksi yang bertujuan untuk memberaikan batuan yang

mengandung ore sehingga menghasilkan broken material sebagai umpan bagi

primary crusher atau batuan yang mengandung waste yang akan dibuang ke

waste dump.

Kegiatan peledakan dilakukan oleh kontraktor PT Dyno Nobel (DNX)

sebagai technical services. Perusahaan hanya mempersiapkan lubang ledak

kemudian PT DNX melaksanakan tahapan kegiatan peledakan mulai dari hole

charging, stemming, tie up, hingga shoot blasting. Kegiatan peledakan

dilakukan pada dua area operasional yaitu Pit Durian Barat dan Pit South Osela.

1. Urutan Pelaksanaan Kegiatan Peledakan

a. Pembersihan (Clean Up) Area Peledakan

Pembersihan lokasi peledakan dilakukan oleh pihak owner PT J

Resources Bolaang Mongondow untuk mempermudah penyediaan

lokasi pengeboran. Pembersihan lokasi peledakan dilakukan

menggunakan bantuan alat mekanis dozer. Pekerjaan persiapan

diantaranya mendorong tumpukan material dan membuat akses jalan

untuk truk MMU (Mobile Mixing Unit) pada saat charging explosive di

76
77

lubang ledak. Kegiatan clean up menggunakan dozer dapat dilihat pada

Gambar 20.

Gambar 20. Clean Up Area Peledakan

b. Pemasangan Patok Lubang Ledak

Pemasangan patok lubang ledak pada blok yang akan diledakkan

dilakukan oleh crew survey sesuai dengan rancangan yang telah

ditetapkan. Setelah patok dipasang dan diberi nomor, kemudian dipick

up dengan menggunakan alat survey total station untuk mengetahui

kordinat dan ketinggian aktualnya. Pekerjaan pemasangan titik lubang

ledak dilakukan oleh crew survey dari PT J Resources Bolaang

Mongondow seperti pada Gambar 21. Contoh pemasangan patok dan

penomoran lubang ledak seperti pada Gambar 22.

Gambar 21. Pemasangan Patok Lubang Ledak


78

Gambar 22. Lubang Ledak yang akan Dibor

c. Kegiatan Pemboran

Kegiatan pemboran bertujuan untuk menyediakan lubang ledak

pada proses peledakan. Hasil cutting diambil sebagai sampling untuk

dikirim ke laboratorium dan selanjutnya dianalisis kadar serta

kandungan mineralnya (ore control).

Pengeboran dilakukan oleh crew drill operation dengan

mengikuti panduan patok yang telah dipasang. Alat bor yang digunakan

adalah merk Sandvik DP 1100i dua buah dan merk Junjin JD 1500 E

dua buah. Jumlah alat bor yang dipakai bervariasi sesuai dengan target

jumlah lubang ledak. Kedalaman pemboran bervariasi dari 5 s.d. 7 meter

dengan pola selang seling (staggered pattern) dan berdiameter 4 inch

(101,6 mm). Kegiatan pemboran pada blok peledakan seperti pada

Gambar 23.
79

Gambar 23. Kegiatan Pemboran

d. Kegiatan Peledakan

1) Preparasi (Persiapan Kegiatan)

a) Pengecekan Kondisi Lubang

Pengecekan kondisi lubang bertujuan untuk mengetahui kondisi

lubang bor tersebut, apakah dalam kondisi kering atau basah.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan lubang bor dalam

kondisi basah tidak begitu diperhatikan karena bahan peledak

yang digunakan adalah emulsion.

b) Pengecekan Rongga

Pengecekan rongga bertujuan untuk mengetahui terdapatnya

potensi rongga pada lubang ledak. Adanya rongga pada batuan

akan menyebabkan overcharging. Alternatif charging untuk

lubang yang berongga yaitu dengan menggunakan liner (plastik

kondom) sehingga mengurangi potensi masuknya emulsion ke


80

dalam rongga. Untuk material jenis ore lubang ledak dilengkapi

dengan liner kecuali kondisi lubang ledak yang berair.

c) Pengecekan Kedalaman Aktual

Pengecekan kedalaman dilakukan untuk mengetahui kondisi

kedalaman sebenarnya dari lubang ledak yang dibuat, sehingga

apabila terdapat lubang yang dangkal dapat dilakukan

penganggulangan berupa pengeboran ulang (redrill). Pekerjaan

pengecekan kedalaman lubang ledak aktual seperti pada

Gambar 24.

Gambar 24. Pengecekan Kedalaman Lubang Ledak


Aktual sebelum Charging
2) Kegiatan Charging (Pengisian Bahan Peledak)

Kegiatan peledakan di lokasi penambangan Pit Durian Barat dan Pit

South Osela dilakukan setiap 1-2 hari tergantung dari jumlah material
81

yang akan diledakan dan dilaksanakan pada pukul 12.30 WITA saat

jeda istirahat. Waktu peledakan tersebut dipilih agar tidak mengganggu

produksi yang dilaksanakan di sekitar area peledakan.

a) Peralatan Peledakan

Peralatan peledakan adalah alat-alat peledakan yang dapat

digunakan berkali-kali dalam kegiatan peledakan. Peralatan

peledakan yang digunakan adalah:

(1) Mobile Mixing Unit (MMU) untuk charging emulsion

(2) Remote Firing untuk meledakkan rangkaian peledakan

(3) Blasting Sign untuk memberi batas area peledakan

(4) Crimper untuk memotong sumbu nonel

(5) Cangkul untuk menutup stemming

(6) Stick untuk melakukan stemming injection

Gambar 25. Remote Firing

Gambar 25 adalah Remote firing yang digunakan untuk meledakkan

rangkaian peledakan. Keuntungan memakai alat ini adalah dapat

meledakkan beberapa lokasi pada waktu yang bersamaan dari radius

yang aman serta dapat menghemat penggunaan Lead In Line (LIL).


82

b) Perlengkapan Peledakan

Perlengkapan peledakan adalah alat-alat yang hanya dapat

digunakan pada satu kali peledakan saja. Perlengkapan peledakan

diantaranya:

(1) Bahan peledak yang digunakan adalah emulsi trojan (T4070)

yang merupakan campuran dari ANFO, air, bahan kimia, dan

gassing reactant dari DNX yang mempunyai densitas 1,15 gr/cc.

Emulsi yang digunakan memiliki perbandingan ANFO dengan

emulsi yaitu 70:30.

(2) Detonator yang digunakan adalah non-electronic detonator merk

Dyno Nobel dan AEL.

(3) Bahan peledak penguat atau booster

(4) Lead in Line (LIL) dari hinel untuk menghubungkan titik inisiasi

dengan remote firing

Pada Gambar 26 terlihat beberapa perlengkapan peledakan

diantaranya inhole delay detonator (500 ms) dan booster.

Gambar 26. Perlengkapan Peledakan


83

c) Geometri Peledakan

Geometri peledakan yang diterapkan saat ini berbeda pada masing-

masing pit, hal ini dikarenakan adanya perbedaan tipe material ore

pembentuk pit tersebut. Adapun perbedaan geometri tersebut

adalah pada spasi yang digunakan, yaitu 4,5 meter untuk Pit Durian

Barat dan 4 meter untuk Pit South Osela. Geometri peledakan pada

masing-masing pit seperti pada Tabel 5.

Tabel 5. Geometri Peledakan PT JRBM


Geometri Plan (m)
No Parameter Durian Barat South Osela
1 Burden (B) 3 3
2 Spasi (S) 4,5 4
3 Stemming (T) 2 – 2,5 2- 2,5
4 Subdrilling (J) 0,2 0,2
5 Kedalaman Lubang 5,2 5,2
Ledak (H)
6 Tinggi Jenjang (L) 5 5

d) Rangkaian Peledakan

Pola peledakan yang digunakan adalah drop cut, dengan peledakan

beruntun antar lubang ledak. Waktu tunda yang digunakan adalah

17 ms untuk control row dan 42 ms untuk echelon row. Pola

peledakan ini digunakan karena di bagian free face masih terdapat

tumpukan material hasil peledakan sebelumnya yang belum

dipindahkan, sehingga lemparan hasil peledakan batuan tidak

terlempar jauh dan membentuk tumpukan di tempat semula. Bentuk

pola peledakan drop cut seperti pada Gambar 27.


84

Sumber: Arsip Perusahaan


Gambar 27. Pola Peledakan Drop Cut

e) Urutan Pelaksanaan Kegiatan Peledakan

(1) Pemasangan Primer

Kegiatan ini adalah memasang inhole delay detonator (500 ms) pada

masing-masing booster, lalu dimasukkan ke dalam lubang ledak

seperti pada Gambar 28.

Gambar 28. Memasukkan Primer ke dalam Lubang Ledak

(2) Pengisian Bahan Peledak

Pengisian bahan peledak menggunakan mobile mixing unit dengan

jumlah emulsion 10,7 Kg/m seperti pada Gambar 29.


85

Gambar 29. Pengisian Bahan Peledak

(3) Pengukuran Gassing Emulsion

Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui nilai density dari

emulsion yang dimasukkan ke dalam lubang ledak. Pada tahapan ini

dilakukan pengambilan sampel emulsion lalu diukur density nya

secara bertahap pada selang 0 s.d. 30 menit. Density emulsion yang

diharapkan adalah 1,15 gr/cc. Pengukuran gassing emulsion seperti

pada Gambar 30.

Gambar 30. Pengukuran Gassing Emulsion

(4) Stemming Injection

Pada kegiatan ini dilakukan penutupan lubang ledak dengan material

cutting dan gravel dengan tujuan agar energi yang dihasilkan bahan

peledak dapat terkunci di dalam lubang ledak sehingga optimal


86

untuk meledakkan batuan di sekitarnya serta memperkecil

munculnya fly rock (batuan terbang). Pada pelaksanaan kegiatan di

lapangan masih sering ditemui material stemming yang hanya

menggunakan cutting pemboran yang berada pada surface lubang

ledak. Kegiatan stemming injection terlihat pada Gambar 31

Gambar 31. Stemming Injection

(5) Rangkaian Peledakan (Tie-Up)

Tie up adalah kegiatan merangkai surface delay detonantor sesuai

dengan pola peledakan yang telah direncanakan. Kegiatan tie up

peledakan seperti terlihat pada Gambar 32.

Gambar 32. Tie Up Peledakan


87

(6) Pengecekan Keakuratan Rangkaian Peledakan (Final Check)

Kegiatan ini dilakukan untuk memastikan seluruh rangkaian

peledakan telah terhubung dengan baik serta meminimalisir potensi

terjadinya misfire akibat kesalahan pola rangkaian (tie up). Final

check ini dilakukan sebanyak dua kali sebelum dilakukannya

penyambungan lead in line.

(7) Penyambungan Lead In Line (LIL)

Tujuannya adalah untuk menghubungkan seluruh rangkaian

peledakan dengan remote firing untuk siap diledakkan. Pemasangan

LIL ke remote firing terlihat pada Gambar 33.

Gambar 33. Pemasangan LIL ke Remote Firing

(8) Pemasangan Remote Firing

Pemasangan remote firing harus dilakukan di luar radius aman > 500

meter. Remote firing dilengkapi dengan antena pemancar sinyal

wireless sebagai penghubung antara rangkaian peledakan dengan

remote tersebut. Kelebihan menggunakan remote firing ini adalah


88

dapat menghemat pemakaian lead in line, shot firer dapat

meledakkan pada radius aman, serta mampu meledakkan beberapa

rangkaian dalam satu kali peledakan.

(9) Melakukan Penembakan (Shot Blasting)

Sebelum kegiatan blasting dilakukan, maka pengawas harus

memastikan bahwa pada area radius aman untuk blasting tidak

terdapat alat (radius 300 meter) dan manusia (radius 500 meter). Hal

ini dilakukan untuk menghindari potensi bahaya dari kegiatan

peledakan baik fly rock, ground vibration, fumes, dan sebagainya.

Kegiatan ini dilakukan 30 menit sebelum peledakan dilakukan

dengan tiga kali pengecekan sesuai dengan panduan peta radius

blasting seperti pada Gambar 34.

500 m
300 m

Sumber: Arsip Perusahaan


Gambar 34. Blasting Radius Map

2. Ukuran Fragmentasi Peledakan

Ukuran fragmentasi yang diharapkan adalah 0-10 cm sebanyak 80 %, 10-

50 cm sebanyak 20 %, dan > 50 cm sebanyak 0 %. Saat ini ukuran


89

fragmentasi peledakan masih terdapat material berukuran > 50 cm lebih dari

0 %.

Gambar 35. Ukuran Fragmentasi Peledakan Ore Pit South Osela (Kiri),
Pit Durian Barat (Kanan)
Gambar 35 memperlihatkan fragmentasi hasil peledakan dengan dua skala

yaitu menggunakan tongkat berukuran 30 cm dan 40 cm. Dari skala yang

digunakan tersebut maka terlihat bahwa masih terdapat fragmentasi

berukuran 50 cm (boulder) sebesar 12,78 % pada pit tersebut. Gambar

Fragmentasi Peledakan pada masing-masing blok peledakan yang diamati

dapat dilihat pada Lampiran B.

B. Data Pengamatan

Pengamatan dilakukan pada dua pit yaitu Pit Durian Barat dan Pit South Osela.

Data yang diperoleh adalah geometri peledakan aktual dan digging material dari

alat gali muat pada 16 blok peledakan ore. Jenis ore yang akan diledakkan

adalah silica pada Pit Durian Barat dan advance argilic pada Pit South osela.

Perbedaan jenis ore tersebut memberikan hasil berbeda pada beberapa

parameter yang akan dianalisis pada penelitian ini. Rincian data dan peta

pengamatan pada masing-masing pit dapat dilihat pada Lampiran C.

Blok peledakan yang diamati seperti pada Gambar 36 dan 37.


90

Gambar 36. Blok Peledakan Pit Durian Barat

Gambar 37. Blok Peledakan Pit South Osela

C. Pembahasan

1. Efisiensi Kegiatan Peledakan Aktual terhadap Plan PT JRBM

Data kegiatan peledakan aktual yang diambil di lapangan adalah

kedalaman lubang ledak dan stemming. Hal ini dikarenakan untuk


91

parameter geometri lainnya dianggap dapat memenuhi plan atau nilai

penyimpangannya berada pada batas toleransi (< 0,20 m). Dari data aktual

tersebut dapat diketahui deviasi atau penyimpangan nilai aktual terhadap

plan PT JRBM, sehingga dari persentase deviasi tersebut dapat diketahui

efisiensi dari kegiatan peledakan di lapangan. Efisiensi ini menjadi tolak

ukur keberhasilan kegiatan peledakan terhadap plan yang telah ditetapkan.

Data deviasi pada setiap blok peledakan diambil secara acak

(random) sehingga didapatkan beberapa kumpulan data yang terlihat dari

rincian data maximum, minimum, dan rata-rata deviasi kedalaman lubang

ledak dan stemming (Tabel 6 dan 7) yang secara grafik dapat dilihat pada

Gambar 38 dan 39.

Tabel 6. Deviasi Kedalaman Lubang Ledak

Deviasi Hole Depth % Deviasi Hole Depth %


Blok (m/Lubang) Deviasi Blok (m/Lubang) Deviasi
Peledakan Rata- Hole Peledakan Rata- Hole
Max Min Rata Depth Max Min Rata Depth
DUR_695AM 4,30 0,00 0,83 15,55 SOS_695A 2,50 0,00 0,72 3,36
DUR_695AN 4,30 0,00 0,50 7,66 SOS_695C 4,00 0,00 0,85 15,79
DUR_695AO 4,80 0,00 0,59 8,96 SOS_695E 5,90 0,00 0,47 7,90
DUR_700BD 4,00 0,00 0,58 10,32 SOS_700A 3,00 0,00 0,50 8,19
DUR_700BF 1,40 0,00 0,43 8,10 SOS_700C 3,00 0,00 0,52 9,52
DUR_700BG 3,30 0,00 0,63 11,05 SOS_700D 3,80 0,00 0,72 11,95
DUR_705BE 2,60 0,00 0,75 15,34 SOS_705E 2,90 0,00 0,63 10,58
DUR_705BH 3,00 0,00 0,54 8,65 SOS_710H 0,50 0,00 0,48 7,07
Rata-Rata 3,46 0,00 0,60 10,70 3,20 0,00 0,61 9,29

Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata deviasi kedalaman lubang

ledak untuk Pit Durian Barat sebesar 0,6 m/lubang dengan persentasenya

10,7 % collapse pada setiap lubangnya, sementara Pit South Osela rata-rata

deviasi kedalaman lubang ledak 0,61 m/lubang dengan persentasenya 9,29


92

% deviasi pada setiap lubangnya. Dari Tabel 6 juga diketahui bahwa

efisiensi kegiatan pemboran yang manghasilkan kedalaman lubang ledak

untuk mendukung kegiatan peledakan pada Pit Durian Barat adalah 89,30

% dan Pit South Osela 90,81 %.

Tabel 7. Deviasi Kedalaman Stemming

Deviasi Stemming % Deviasi Stemming %


Blok Depth (m/Lubang) Deviasi Blok Depth (m/Lubang) Deviasi
Peledakan Rata- Stemming Peledakan Rata- Stemming
Max Min Rata Depth Max Min Rata Depth
DUR_695AM 1,50 0,00 0,37 18,41 SOS_695A 1,70 0,00 0,22 1,88
DUR_695AN 0,30 0,00 0,01 0,30 SOS_695C 1,20 0,00 0,27 10,00
DUR_695AO 1,90 0,00 0,41 20,44 SOS_695E 0,80 0,00 0,19 9,09
DUR_700BD 0,70 0,00 0,12 6,05 SOS_700A 1,00 0,00 0,19 34,44
DUR_700BF 2,80 0,00 0,22 11,01 SOS_700C 2,30 0,00 0,83 8,33
DUR_700BG 1,40 0,00 0,23 11,48 SOS_700D 0,80 0,00 0,18 10,45
DUR_705BE SOS_705E 1,00 0,00 0,18 13,47
DUR_705BH SOS_710H 0,30 0,00 0,04 5,09
Rata-Rata 1,43 0,00 0,23 11,28 1,14 0,00 0,26 11,59

Tabel 7 menunjukkan bahwa data deviasi stemming pada Pit Durian

Barat sebesar 0,23 m/lubang dengan persentasenya 11,28 % deviasi pada

setiap lubangnya, kemudian untuk Pit South Osela 0,26 m/lubang dengan

persentasenya 11,59 % deviasi pada setiap lubangnya. Dari Tabel 6 juga

terlihat efisiensi kedalaman stemming mencapai 88,72 % untuk Pit Durian

Barat dan 88,41 % untuk Pit South Osela.


93

Deviasi Hole Depth Pit Durian Barat (m/lubang)

Deviasi Hole Depth (m/lubang) 6


4,3 4,3
4,8
5 4
3,3 3
4 2,6
3
1,4
2 0,825 0,497 0,585 0,5845 0,63 0,745 0,542
0,427
1 0 0 0 0 0 0 0 0
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Deviasi Hole Depth Pit South Osela (m/lubang)


Deviasi Hole Depth (m/lubang)

7 5,9
6
5 4 3,8
4 3 3 2,9
2,5
3
2 0,716 0,852 0,473 0,5 0,521 0,7157 0,63 0,5
0,479
1 0 0 0 0 0 0 0 0
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Gambar 38. Grafik Deviasi Kedalaman Lubang Ledak


Pit Durian Barat (Atas), Pit South Osela (Bawah)

Dari Grafik 38 terlihat masih terdapat deviasi kedalaman lubang ledak yang

mencapai 4,8 m di Pit Durian Barat pada plan 5 meter dan 5,9 m di Pit South

Osela pada plan 7,5 meter. Adanya deviasi ini menyebabkan kolom isian

pada lubang ledak menjadi tidak sama.


94

Deviasi Stemming Pit Durian Barat (m/lubang)


2,8

Deviasi Stemming (m/lubang)


3
2,5 1,9
2 1,5 1,4
1,5
0,7
1 0,3682 0,4087
0,3 0,12093 0,2154 0,2308
0,5 0 0,00698
0 0 0 0 0
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Deviasi Stemming Depth Pit South Osela


(m/lubang)
Deviasi Stemming Depth (m/lubang)

2,3
2,5
2 1,7

1,5 1,2
1 1
0,8 0,825 0,8
1
0,2156 0,2694 0,1881 0,1915 0,1818 0,18 0,3
0,5 0,0375
0 0 0 0 0 0 0 0
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Gambar 39. Grafik Deviasi Collapse Stemming Pit Durian


Barat (Atas), Pit South Osela (Bawah)

Dari Grafik 39 terlihat masih terdapat deviasi stemming sebesar 2,8 meter

di Pit Durian Barat dan 2,3 meter di Pit South Osela. Ketidaktepatan

pengisian kolom stemming akan menyebabkan kehilangan energi di dalam

lubang ledak sehingga tidak maksimal untuk memberai batuan sehingga

berpotensi menimbulkan boulder. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya

deviasi pada kedalaman lubang ledak dan stemming, diantaranya:


95

a. Kedalaman Lubang Ledak

Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah:

1) Adanya rongga (Pit Durian Barat) sehingga apabila lubang ledak

diredrill beberapa kali, saat rod diangkat lubang tetap saja collapse

(Gambar 40).

2) Lokasi drilling yang tergenang oleh air menyebabkan lubang stack

karena material lembek, sehingga cutting pemboran tidak dapat

dikeluarkan dan lubang mengalami collapse (Gambar 41).

3) Dominasi material clay (Pit South Osela) seperti pada Gambar 42.

4) Faktor pelaksanaan operasional di lapangan, diantaranya monitor

kedalaman pemboran yang sudah rusak (dari lima alat pemboran

yang beroperasi hanya satu alat saja yang monitor kedalamannya

masih dalam keadaan baik), tidak adanya meteran standar yang

dipakai untuk pengecekan ketepatan pengeboran, bahkan tidak

jarang pengecekan kedalaman pengeboran tersebut tidak dilakukan.

Monitor drilling yang rusak dapat dilihat pada Gambar 43.

Gambar 40. Lubang Ledak Collapse karena Kehadiran Rongga


96

Gambar 41. Area Charging yang Tergenang Air setelah Hujan

Gambar 42. Material Pit South Osela Dominan Clay

Gambar 43. Monitor Drilling yang Rusak

b. Stemming

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya deviasi pada stemming

adalah:

1) Kedalaman dari lubang isian yang tidak tepat. Hal ini disebabkan

adanya potensi bahan peledak yang masuk melalui rongga di sekitar


97

lubang ledak sehingga menyebabkan isian dari kedalaman lubang

isian bahan peledak menjadi berkurang

2) Adanya potensi kebocoran pada liner karena mudah robek seperti

pada Gambar 44.

3) Lubang yang berair tidak dipasang liner sehingga potensi bahan

peledak masuk ke dalam rongga bisa saja terjadi

4) Penutupan stemming yang dilakukan sebelum selesainya tahapan

gassing (30-40 menit), salah satunya disebabkan untuk mengejar

target waktu peledakan.

Gambar 44. Liner yang Mudah Robek

Pada Gambar 44 terlihat kegiatan pengisian emulsion ke dalam liner untuk

charging pada peledakan boulder. Dari gambar tersebut terlihat emulsion

berceceran akibat liner yang bocor, sehingga diasumsikan kondisi liner di

dalam lubang ledak akan mudah mengalami kebocoran akibat gesekan

dengan dinding batuan di dalam lubang.


98

2. Fragmentasi Peledakan Teoritis dan Aktual

a. Fragmentasi Peledakan dengan Metode Kuz-Ram

Perkiraan distribusi ukuran fragmentasi hasil peledakan berdasarkan

metode Kuz-Ram membutuhkan beberapa masukan data, diantaranya

faktor batuan, geometri peledakan, dan jumlah bahan peledak. Dari hasil

perhitungan didapatkan:

1) Nilai faktor batuan (A) adalah 4,31 untuk Pit Durian Barat dan 4,23

untuk Pit South Osela

Perhitungan faktor batuan (A) dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Perhitungan Faktor Batuan (A)


Rock Mass Pit Durian Pit South
Description (RMD) Rating Barat Osela
Powdery/Friable 10
Blocky 20 √ √
Totally Massive 50
Joint Plane Spacing
(JPS) Rating
Close (< 0,1 m) 10
Intermediet (0,1 - 1,0
m) 20 √ √
Wide (> 0,1 ) 50
Joint Plane
Orientation (JPO) Rating
Horizontal 10
Dip Out Of Face 20 √ √
Strike Normal To Face 30
Dip Into Face 40
Spesific Gravity 4,75 4
25 x Bobot Isi – 50
Influence (SGI)
Hardness (H) 1 s.d. 10 7 6,5

Blastability Index (BI) 0,5 x (RMD+JPS+JPO+SGI+H) 35,875 35,25

Rock Factor (A) 0,12 x BI 4,31 4,23


99

2) Fragmentasi rata-rata (Xm) adalah 15,1 cm untuk Pit Durian Barat dan

13,3 cm untuk Pit South Osela

(Perhitungan pada blok Dur_690AM)

𝑉 0.8 𝐸 0.−0.163
𝑋𝑚 = 𝐴 𝑥 (𝑄) 𝑥 𝑄 0.167 𝑥 (115)

Diketahui: A = 4,31

V = B x S x H = 3 x 4,5 x 4,18 = 56,36 m3

Q = 28 Kg, E = 113 (RWS Explosive)

56,36 0.8 113 0.−0.163


Maka, 𝑋𝑚 = 4,31 𝑥 ( 28
) 𝑥 280.167 𝑥 (115) = 13,31 cm

Dari perhitungan data yang dilakukan didapatkan ukuran fragmentasi

rata-rata di blok peledakan Dur_690AM adalah sebesar 13,31 cm.

Untuk perhitungan fragmentasi rata-rata pada blok peledakan

selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 9

Tabel 9. Perhitungan Fragmentasi Rata-Rata Blok Peledakan

V Q Xm V Q Xm
Blok A RWS Blok A
(bcm) (Kg) (cm) (bcm) (Kg) (cm)
Peledakan Peledakan
DUR_695AM 4,31 56,36 28,00 113 13,31 SOS_695C 4,23 51,41 28,00 12,13
DUR_695AN 4,31 60,79 26,17 113 14,75 SOS_700A 4,23 49,78 26,56 12,22
DUR_695AO 4,31 59,60 23,70 113 15,46 SOS_700D 4,23 54,32 24,90 13,66
DUR_700BD 4,31 59,61 23,71 113 15,46 SOS_705E 4,23 54,00 24,61 13,69
DUR_700BF 4,31 61,74 25,39 113 15,22 SOS_695A 4,23 53,75 24,39 13,72
DUR_700BG 4,31 59,00 23,22 113 15,54 SOS_695E 4,23 51,41 22,30 14,01
DUR_705BE 4,31 57,44 21,99 113 15,74 SOS_710H 4,23 52,44 23,22 13,88
DUR_705BH 4,31 60,18 24,16 113 15,39 - - - - -
Rata-Rata 4,31 59,34 24,54 113 15,11 Rata-Rata 4,23 52,44 24,85 13,33
100

3) Ukuran boulder (> 50 cm) adalah 5,23 % untuk Pit Durian Barat dan

5,32 % untuk Pit South Osela

𝑋𝑚
𝑋𝑐 =
0.6931/𝑛

Diketahui: Xm = 13,31 cm (Blok Dur_695AM), n (belum diketahui)

𝑆 0.5
𝐵 𝑊 1+ 𝐿
𝐵
𝑛 = (2.2 − 14 𝐷𝑒) 𝑥 (1 − 𝐵 ) 𝑥 ( ) 𝑥
2 𝐻

Diketahui: B = 3 m, De = 101,6 mm , W = 0,2 m, S = 4,5 m

L = 2,35 m, H = 5 m
4.5 0.5
3 0.2 1+ 2.35
3
𝑛 = (2.2 − 14 ) 𝑥 (1 − )𝑥 ( ) 𝑥 = 0.87
101.6 3 2 5

Perhitungan n pada blok peledakan selanjutnya pada Tabel 10.

Tabel 10. Perhitungan Indeks Keseragaman (n) pada Blok Peledakan

Blok n Blok n
Peledakan Peledakan
DUR_695AM 0,87 SOS_695C 0,85
DUR_695AN 0,86 SOS_700A 0,77
DUR_695AO 0,98 SOS_700D 0,90
DUR_700BD 0,87 SOS_705E 0,89
DUR_700BF 0,97 SOS_695A 0,90
DUR_700BG 0,89 SOS_695E 0,82
DUR_705BE 0,84 SOS_710H 0,80
DUR_705BH 0,91 - -
Rata-Rata 0,90 Rata-Rata 0,85

Dari Tabel 10 terlihat bahwa nilai indeks keseragaman untuk Pit

Durian Barat adalah 0,9 dan Pit South Osela adalah 0,85. Dari nilai

tersebut terlihat bahwa ukuran fragmentasi batuan di Pit Durian

Barat lebih seragam dibandingkan Pit South Osela. Nilai indeks


101

keseragaman (n) berkisar antara 0,8 s.d. 2,2 yang berarti semakin

besar nilai n semakin besar pula tingkat keseragaman fragmentasi

batuan yang dihasilkan.

𝑋𝑚
𝑋𝑐 = (0.6931/𝑛 )

13.31
𝑋𝑐 = (0.6931/0.87 ) = 21,96 cm (Blok Dur_695AM)

Dari perhitungan yang dilakukan didapatkan nilai karakteristik

ukuran (Xc) pada blok peledakan Dur_695AM sebesar 21,96 cm.

Perhitungan nilai Xc pada blok peledakan selanjutnya dapat dilihat

pada Tabel 11.

Tabel 11. Perhitungan Nilai Xc pada Blok Peledakan

Blok Xm Xc Blok Xm Xc
n n
Peledakan (cm) (cm) Peledakan (cm) (cm)
DUR_695AM 13,31 0,87 21,96 SOS_695C 12,13 0,85 20,64
DUR_695AN 14,75 0,86 24,68 SOS_700A 12,22 0,77 22,90
DUR_695AO 15,46 0,98 22,80 SOS_700D 13,66 0,90 21,82
DUR_700BD 15,46 0,87 25,62 SOS_705E 13,69 0,89 22,12
DUR_700BF 15,22 0,97 22,72 SOS_695A 13,72 0,90 21,99
DUR_700BG 15,54 0,89 25,05 SOS_695E 14,01 0,82 24,68
DUR_705BE 15,74 0,84 27,02 SOS_710H 13,88 0,80 25,15
DUR_705BH 15,39 0,91 24,44 - - - -
Rata-Rata 15,11 0,90 24,29 Rata-Rata 13,33 0,85 22,76

Dari Tabel 11 terlihat bahwa nilai Xc untuk Pit Durian Barat adalah

24,29 cm dan Pit South Osela adalah 22,76 cm.

Perhitungan persentase ukuran boulder hasil peledakan (> 50 cm)

𝑋 𝑛
dapat menggunakan rumus berikut: 𝑅𝑥 = е ̵ (𝑋𝑚)

Perhitungan pada blok peledakan Dur_695AM:


102

50 0.702
𝑅50 = е ̵ ( ) = 5,56 %
13.31

Dari perhitungan data yang dilakukan didapatkan nilai R50 pada

blok peledakan Dur_695AM sebesar 5,56 %, artinya jumlah

fragmentasi peledakan berukuran boulder (> 50 cm) pada blok

tersebut adalah sebesar 5,56 %. Hal ini juga berarti persentase

fragmentasi peledakan yang lolos pada ayakan 50 cm adalah sebesar

(100 % - 5,56 % = 94,44 %)

Persentase ukuran boulder pada blok selanjutnya pada Tabel 12.

Tabel 12. Persentase Ukuran Boulder pada Blok Peledakan

Blok Xm Xc Blok Xm Xc
R50 R50
Peledakan (cm) (cm) Peledakan (cm) (cm)
DUR_695AM 13,31 21,96 5,56 SOS_695C 12,13 20,64 5,74
DUR_695AN 14,75 24,68 4,98 SOS_700A 12,22 22,90 4,94
DUR_695AO 15,46 22,80 5,85 SOS_700D 13,66 21,82 5,73
DUR_700BD 15,46 25,62 4,85 SOS_705E 13,69 22,12 5,62
DUR_700BF 15,22 22,72 5,81 SOS_695A 13,72 21,99 5,68
DUR_700BG 15,54 25,05 5,03 SOS_695E 14,01 24,68 4,83
DUR_705BE 15,74 27,02 4,55 SOS_710H 13,88 25,15 4,68
DUR_705BH 15,39 24,44 5,20 - - - -
Rata-Rata 15,11 24,29 5,23 Rata-Rata 13,33 22,76 5,32

Dari Tabel 12 terlihat masih terdapat boulder sebesar 5,23 % pada

Pit Durian Barat dan 5,32 % pada Pit South Osela.

b. Fragmentasi Peledakan dengan Modifikasi Cunningham (2005)

Perhitungan fragmentasi dengan modifikasi C.V.B Cunningham perlu

dilakukan untuk memprediksi fragmentasi hasil peledakan yang lebih

baik. Ada beberapa modifikasi yang dilakukan oleh C.V.B.


103

Cunningham untuk memprediksi ukuran fragmentasi hasil peledakan,

diataranya:

1) Perhitungan yang berbeda pada penentuan faktor batuan (A)

2) Menggunakan faktor timing yaitu pengaruh delay peledakan

terhadap hasil fragmentasi peledakan

3) Menggunakan faktor pengoreksi baik untuk batuan maupun indeks

keseragaman

Perhitungan hasil dapat menggunakan persamaan:

19⁄
−0.8
1 115 20
𝑋𝑚 = 𝐴 𝑥 𝐴𝑡 𝑥 𝐾 𝑥𝑄 𝑥
6 𝑥 𝑐 (𝐴 )
𝑅𝑊𝑆

1) Perhitungan Faktor Batuan (A)

𝐴 = 0.06 𝑥 (𝑅𝑀𝐷 + 𝑅𝐷𝐼 + 𝐻𝐹 )

𝑅𝑀𝐷 = (𝐽𝐶𝐹 𝑥 𝐽𝑃𝑆) + 𝐽𝑃𝐴

RMD = Rock Mass Description

JCF = Joint Condition Factor

JPS = Joint Plane Spacing

JPA= Joint Plane Angle

RDI = Rock Density Influence (Pengaruh densitas batuan)

HF = Hardness Factor (Faktor kekerasan batuan)

Perhitungan faktor batuan pada masing-masing pit pada Tabel 13.

Dari Tabel 13 terlihat faktor batuan (A) untuk Pit Durian Barat

adalah 4,21 dan Pit South Osela 4,18


104

Tabel 13. Perhitungan Faktor Batuan (A) Menurut Cunningham, 2005


Joint Condition Factor (JCF) Rating Pit Durian Barat Pit South Osela
Tight Joins 1
Relaxed Joints 1.5 √ √
Gouge-Filled Joints 2
Joint Plane Spacing (JPS)
< 0,1 m 10
0,1 - 0,3 m 20 √ √
0,3 m to 95 % P (B x S)^0,5 80
> P (B x S)^0,5 50
Joint Plane Angle (JPA)
Dip Out Of Face 40 √ √
Strike Out Of Face 30
Dip Into Face 20
Rock Density Influence (RDI) 2,19 2,16
Hardness Factor (HF)
If Y < 50, HF = Y/3, Y = Modulus
Elastic
If Y > 50, HF = UCS/5 6,4 6
Rock Factor (A)
A = 0,06 (RMD+RDI+HF) 4,21 4,18

2) Faktor Timing (At)

𝑇
𝐴𝑡 = 0.9 + 0.1 (𝑇𝑚𝑎𝑥 − 1) , T = Rentang delay yang digunakan

15.6
𝑇𝑚𝑎𝑥 = 𝐶𝑥
𝑥 𝐵, dengan Cx = VOD dari bahan peledak

Pada peledakan ini delay yang digunakan pada pola inisiasi bahan

peledak adalah 17 ms, 25 ms, dan 42 ms, sehingga akan didapatkan

tiga nilai dari faktor timing (At) yang akan mempengaruhi distribusi

fragmentasi hasil peledakan. Peledakan dengan delay yang pendek

akan memberikan hasil optimum terhadap fragmentasi peledakan

dibandingkan delay yang panjang pada kondisi batuan yang keras

atau masif (Bergman et. al, 1974).


105

Perhitungan faktor timing (At) pada blok peledakan Dur_695AM:

a) Delay 17 ms

15,6
𝑇𝑚𝑎𝑥 = 𝑥 𝐵, Diketahui Cx = 3400 m/s
𝐶𝑥
15,6
𝑇𝑚𝑎𝑥 = 𝑥 3 𝑥 1000= 13,76 ms
3400
17
𝐴𝑡 = 0,9 + 0,1 (13,76 − 1) = 0,92

b) Delay 25 ms

25
𝐴𝑡 = 0,9 + 0,1 (13,76 − 1) = 0,98

c) Delay 42 ms

25
𝐴𝑡 = 0,9 + 0,1 ( − 1) = 1,11
13,76

Dari ketiga delay yang digunakan terlihat bahwa semakin lama

delay yang digunakan maka nilai faktor timing (At) menjadi

semakin besar sehingga diprediksi akan menghasilkan ukuran

fragmentasi yang lebih besar pula.

Untuk perhitungan faktor timing (At) pada blok peledakan

selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 14

Tabel 14. Perhitungan Faktor Timing (At) pada Blok Peledakan

Blok At At At Blok At At At
Peledakan (17) (25) (42) Peledakan (17) (25) (42)
DUR_695AM 0,92 0,89 1,11 SOS_695C 0,92 0,98 1,10
DUR_695AN 0,92 0,89 1,11 SOS_700A 0,92 0,98 1,10
DUR_695AO 0,92 0,89 1,11 SOS_700D 0,92 0,98 1,10
DUR_700BD 0,92 0,89 1,11 SOS_705E 0,92 0,98 1,10
DUR_700BF 0,92 0,89 1,11 SOS_695A 0,92 0,98 1,10
DUR_700BG 0,92 0,89 1,11 SOS_695E 0,92 0,98 1,10
DUR_705BE 0,92 0,89 1,11 SOS_710H 0,92 0,98 1,10
DUR_705BH 0,92 0,89 1,11 - - - -
Rata-Rata 0,92 0,89 1,11 Rata-Rata 0,92 0,98 1,10
106

Dari Tabel 14 terlihat bahwa nilai faktor timing (At) adalah sama

pada delay 17 ms dan 25 ms dan memiliki perbedaan pada delay 42

ms yaitu 1,11 pada Pit Durian Barat dan 1,10 pada Pit South Osela

3) Faktor Koreksi terhadap Batuan (c (A))

Faktor koreksi terhadap batuan menggunakan range dari tabel

correction factor of joint strength oleh E. Lopez Jimeno, 1995: 177

dalam bukunya Drilling and Blasting Of Rocks. Nilai koreksi

terhadap batuan dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Faktor Koreksi terhadap Batuan


Joint Strength Correction Factor
Strong 1
Medium 0,9
Weak 0,8
Very Weak 0,7
Sumber: E. Lopez Jimeno,1995

Dari Tabel 15 diambil kesimpulan bahwa faktor koreksi terhadap

batuan c(A) yang digunakan adalah 0,9 karena deskripsi massa

batuan berada pada range medium baik untuk Pit Durian Barat dan

Pit South Osela

4) Perhitungan Ukuran Fragmentasi Rata-Rata Hasil Peledakan


19⁄
−0.8
1 115 20
𝑋𝑚 = 𝐴 𝑥 𝐴𝑡 𝑥 𝐾 𝑥𝑄 𝑥
6 𝑥 𝑐 (𝐴 )
𝑅𝑊𝑆

Perhitungan pada blok peledakan Dur_695AM:

Diketahui: A = 4,21 At (17) = 0,92 At (25) = 0,98 At (42) = 1,11

K = 0,37 ton/m3 Q = 28 Kg RWS = 113 c (A) = 0,9


107

a) Xm untuk Delay 17 ms
1 19⁄
115 20
𝑋𝑚 = 4,21 𝑥 0,92 𝑥 0,37−0.8 𝑥 286 𝑥 𝑥 0,9 = 13,4 cm
113

b) Xm untuk Delay 25 ms

1 19⁄
115 20
𝑋𝑚 = 4,21 𝑥 0,98 𝑥 0,37−0.8 𝑥 286 𝑥 𝑥 0,9 = 13,72 cm
113

c) Xm untuk Delay 42 ms

1 19⁄
115 20
𝑋𝑚 = 4,21 𝑥 1,11 𝑥 0,37−0.8 𝑥 286 𝑥 𝑥 0,9 = 15,99 cm
113

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa dengan delay yang

lebih lama menghasilkan ukuran rata-rata fragmentasi peledakan

yang lebih besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa delay yang

paling baik untuk menghasilkan ukuran fragmentasi rata-rata yang

lebih kecil adalah 17 ms. Perhitungan ukuran fragmentasi pada blok

peledakan selanjutnya dengan delay yang berbeda dapat dilihat pada

Tabel 16.

Tabel 16. Perhitungan Fragmentasi Rata-Rata Blok Peledakan

Blok Xm Xm Xm Blok Xm Xm Xm
Peledakan (17) (25) (42) Peledakan (17) (25) (42)
DUR_695AM 13,36 13,72 15,99 SOS_695C 11,78 12,08 14,04
DUR_695AN 15,51 15,93 18,56 SOS_700A 15,18 15,57 18,08
DUR_695AO 12,21 12,55 14,61 SOS_700D 11,78 12,09 14,04
DUR_700BD 13,30 13,67 15,92 SOS_705E 11,99 12,30 14,28
DUR_700BF 13,48 13,86 16,14 SOS_695A 12,46 12,79 14,85
DUR_700BG 13,47 13,85 16,12 SOS_695E 12,28 12,61 14,64
DUR_705BE 13,21 13,59 15,81 SOS_710H 15,67 16,08 18,67
DUR_705BH 12,33 12,67 14,75 - - - -
Rata-Rata 13,36 13,73 15,99 Rata-Rata 13,02 13,359 15,51
108

Dari Tabel 16 terlihat bahwa ukuran fragmentasi rata-rata

pada blok peledakan bervariasi pada masing-masing delay

peledakan. Pada delay 17 ms ukuran rata-rata fragmentasi adalah

13,36 cm untuk Pit Durian Barat dan 13,02 cm untuk Pit South

Osela. Pada delay 25 ms ukuran rata-rata fragmentasi adalah 13,73

cm di Pit Durian Barat dan 13,59 cm di Pit South Osela. Sedangkan

pada delay 42 ms ukuran fragmentasi rata-rata adalah 15,99 cm di

Pit Durian Barat dan 15,51 cm di Pit South Osela.

5) Perhitungan Indeks Keseragaman (n)

Perhitungan indeks keseragaman (n) menggunakan persamaan:

𝑆
√1+
𝐵 𝐵 𝑊 𝐿 0.3
𝑛 = 𝑛𝑠 𝑥 √2 − 30 𝐷𝑒 𝑥 𝑥 (1 − 𝐵 ) 𝑥 (𝐻) 𝑥 𝑐 (𝑛 )
2

a) Perhitungan ns (Scatter Ratio)

𝑅𝑠 0.8 𝛼𝑡
𝑛𝑠 = 0.206 + (1 − ) , 𝑅𝑠 = 6 𝑥
4 𝑇𝑥

Nilai αt merupakan standar deviasi dari sistem inisiasi

pola peledakan. αt = √2α12 + α22 , dimana α1 merupakan

standar deviasi terhadap inhole delay detonator dan α2

merupakan standar deviasi terhadap surface delay detonator.

Nilai ini mengacu pada grafik hubungan nominal delay

dengan standar deviasi yang diperkenalkan oleh Cunningham

tahun 2003 dalam papernya The Effect Of Timing Precision On

Control Of Blasting Effect. Dari grafik tersebut dapat diketahui

pada inhole delay 500 ms standar deviasinya adalah 2,15 dan


109

pada surface delay 17 ms sebesar 0,5; untuk 25 ms adalah 0,75;

dan 42 ms adalah 1.

Dengan nilai standar deviasi inhole dan surface delay tersebut

didapatkan nilai standar deviasi sistem inisiasi pola peledakan

seperti berikut:

(1) Nilai standar deviasi untuk delay 17 ms

αt = √2α12 + α22 = √2(2,15)2 + (0,5)2 = 3,08

(2) Nilai standar deviasi untuk delay 25 ms

αt = √2α12 + α22 = √2(2,15)2 + (0,75)2 = 3,13

(3) Nilai standar deviasi untuk delay 42 ms

αt = √2α12 + α22 = √2(2,15)2 + (1)2 = 3,201

Dari perhitungan standar deviasi di atas maka dapat disimpulkan

bahwa semakin lama delay yang digunakan maka standar deviasinya

semakin besar. Setelah didapatkan nilai standar deviasi maka dapat

dicari nilai Rs untuk perhitungan scatter ratio (ns)

(1) Nilai Rs dan ns untuk delay 17 ms

3.08 1,09 0.8


𝑅𝑠 = 6 𝑥 = 1,09 𝑛𝑠 = 0,206 + (1 − ) = 0,98
17 4

(2) Nilai Rs dan ns untuk delay 25 ms

3.13 0,84 0.8


𝑅𝑠 = 6 𝑥 = 0.8 𝑛𝑠 = 0,206 + (1 − ) = 1,05
25 4

(3) Nilai Rs dan ns untuk delay 42 ms

3.201 0,46 0.8


𝑅𝑠 = 6 𝑥 = 0.46 𝑛𝑠 = 0,206 + (1 − ) = 1,11
42 4
110

Dari perhitungan nilai scatter ratio (Rs) dan indeks keseragaman

berdasarkan scatter ratio (ns) dapat disimpulkan bahwa semakin

besar nilai Rs maka tingkat keseragaman batuan semakin kecil.

Selain itu juga semakin lama delay yang digunakan maka tingkat

keseragaman batuan menjadi semakin besar.

b) Perhitungan Faktor Koreksi Indeks Keseragaman c (n)

Nilai c (n) didapatkan dari fungsi dari faktor batuan (A) dengan

𝐴 0.3
persaman: 𝐹 (𝐴) = ( )
6

(1) Pit Durian Barat

4,21 0.3
𝐹 (𝐴 ) = ( ) = 0,899
6

(2) Pit South Osela

4,18 0.3
𝐹 (𝐴 ) = ( ) = 0,897
6

c) Perhitungan Indeks Keseragaman (n) pada Blok Peledakan

𝑆
√1+
𝐵 𝐵 𝑊 𝐿 0.3
𝑛 = 𝑛𝑠 𝑥 √2 − 30 𝐷𝑒 𝑥 𝑥 (1 − 𝐵 ) 𝑥 (𝐻) 𝑥 𝑐 (𝑛 )
2

Perhitungan indeks keseragaman pada blok Dur_695AM:

(1) n pada delay 17 ms

Diketahui: ns = 0,98 B = 3 m De = 101,6 mm S = 4,5 m

W= 0,2 m L = 1,98 H = 5 m c (n) = 0,899

,.5
√1+
3 3 0,2 1,98 0.3
𝑛 = 0,98 𝑥√2 − 30 101,6 𝑥 𝑥 (1 − )𝑥 ( ) 𝑥 0,899 = 0,97
2 3 5

(2) n pada delay 25 ms

Diketahui: ns = 1,05 B = 3 m De = 101,6 mm S = 4,5 m


111

W= 0,2 m L = 1,98 H = 5 m c (n) = 0,899

4.5
√1+
3 3 0.2 1.98 0.3
𝑛 = 1.05 𝑥√2 − 30 𝑥 𝑥 (1 − )𝑥 ( ) 𝑥 0.899 = 1.04
101.6 2 3 5

(3) n pada delay 42 ms

Diketahui: ns = 1,11 B = 3 m De = 101,6 mm S = 4,5 m

W= 0,2 m L = 1,98 H = 5 m c (n) = 0,899

4.5
√1+
3 3 0.2 1.98 0.3
𝑛 = 1.11 𝑥√2 − 30 𝑥 𝑥 (1 − )𝑥 ( ) 𝑥 0.899 = 1.10
101.6 2 3 5

Dari perhitungan di atas maka didapatkan nilai indeks keseragaman

pada blok Dur_695AM pada delay 17 ms sebesar 0,97, pada delay

25 ms sebesar 1,04, dan pada delay 42 ms sebesar 1,10. Dari nilai

tersebut dapat disimpulkan bahwa pada delay 42 ms ukuran

fragmentasi semakin seragam dibandingkan pada delay 17 ms dan

25 ms. Sedangkan nilai indeks keseragaman (n) pada blok

selanjutnya dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Perhitungan Indeks Keseragaman (n) pada Blok Peledakan

Blok n n n Blok n n n
Peledakan (17) (25) (42) Peledakan (17) (25) (42)
DUR_695AM 0,97 1,04 1,10 SOS_695C 0,94 1,00 1,06
DUR_695AN 0,94 1,01 1,07 SOS_700A 0,92 0,98 1,04
DUR_695AO 0,98 1,06 1,12 SOS_700D 0,94 1,01 1,06
DUR_700BD 0,95 1,02 1,08 SOS_705E 0,94 1,00 1,06
DUR_700BF 0,97 1,04 1,10 SOS_695A 0,94 1,01 1,07
DUR_700BG 0,96 1,03 1,09 SOS_695E 0,93 0,99 1,05
DUR_705BE 0,95 1,02 1,08 SOS_710H 0,91 0,98 1,04
DUR_705BH 0,96 1,03 1,09
Rata-Rata 0,96 1,03 1,09 Rata-Rata 0,93 1,00 1,05
112

6) Perhitungan Jumlah Boulder (> 50 cm) pada Blok Peledakan

Pada perhitungan jumlah boulder C.V.B. Cunningham tidak

memberikan modifikasi sehingga perhitungan dilakukan

menggunakan persamaan Rossin Ramler yaitu:

X n
𝑅𝑥 = e − ( )
Xc
Perhitungan dilakukan pada blok peledakan Dur_695AM

(1) Nilai Xc pada delay 17 ms


𝑋𝑚 13.4
𝑋𝑐 = 1 = 1 = 16,87 cm
(0,693)𝑛 (0,693)0.98

(2) Nilai Xc pada delay 25 ms


𝑋𝑚 13,72
𝑋𝑐 = 1 = 1 = 16,21 cm
(0,693)𝑛 (0,693)1.04

(3) Nilai Xc pada delay 42 ms

𝑋𝑚 15,99
𝑋𝑐 = 1 = 1 = 17,68 cm
(0,693)𝑛 (0,693)1.10

Perhitungan jumlah boulder pada blok peledakan Dur_695AM:

(1) R50 pada delay 17 ms

X n 50 0.98
𝑅50 = e − ( ) = e − ( ) = 8,74 %
Xc 16,87

(2) R50 pada delay 25 ms

X n 50 1.04
𝑅50 = e − (Xc) = e − (16,21) = 9,96 %

(3) R50 pada delay 42 ms

X n 50 1.10
𝑅50 = e − (Xc) = e − (17,86) = 9,54 %

Dari perhitungan di atas didapatkan bahwa persentase jumlah

boulder pada delay 17ms adalah 8,74 %, delay 25 ms 9,96 %, dan


113

delay 42 ms 9,54 %. Dari perhitungan juga terlihat bahwa semakin

lama delay yang digunakan maka persentase potensi boulder

menjadi semakin besar, sehingga dapat disimpulkan bahwa delay 17

ms menghasilkan persentase jumlah boulder yang lebih sedikit

dibandingkan delay 25 ms dan 42 ms.

c. Perhitungan Fragmentasi Aktual dengan Split Dekstop

Fragmentasi aktual didapatkan dengan cara mengambil beberapa

foto fragmentasi pada blok peledakan yang diestimasikan dapat mewakili

ukuran hasil fragmentasi batuan pada blok tersebut. Foto yang dimasukkan

ke dalam software split desktop berjumlah dua buah pada setiap blok

peledakan, sehingga jumlah foto yang akan dianalisis sebanyak 32 buah.

Pada pengambilan foto digunakan tongkat sebagai skala (acuan)

yang berukuran 30 cm dan 40 cm. Tongkat dengan skala 40 cm diletakkan

dekat dengan sumber foto dan tongkat dengan skala 30 cm pada bagian

belakangnya. Perhitungan ukuran fragmentasi dengan program split dekstop

dapat dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Ukuran Fragmentasi Peledakan dengan Split Dekstop

% Lolos % Tertahan % Lolos % Tertahan


Blok 10 50 10 50 Blok 10 50 10 50
Peledakan cm cm cm cm Peledakan cm cm cm cm
DUR_695AM 26,3 95,2 73,7 4,8 SOS_695C 35,3 93,57 64,7 6,43
DUR_695AN 16,17 92,87 83,83 7,13 SOS_700A 37,12 92,21 62,88 7,79
DUR_695AO 21,41 93,43 78,59 6,57 SOS_700D 18,15 89,93 81,85 10,07
DUR_700BD 19,05 92,86 80,95 7,14 SOS_705E 24,57 92,98 75,43 7,02
DUR_700BF 16,27 89,52 83,73 10,48 SOS_695A 38,2 95,44 61,8 4,56
DUR_700BG 18,1 89,21 81,9 10,79 SOS_695E 37,34 94,5 62,66 5,5
DUR_705BE 27,78 95,12 72,22 4,88 SOS_710H 38,27 93,85 61,73 6,15
DUR_705BH 17,9 95,97 82,1 4,03
Rata-Rata 20,37 93,02 79,63 6,98 Rata-Rata 32,71 93,21 67,29 6,79
114

Dari Tabel 18 masih terlihat adanya fragmentasi berukuran boulder (> 50

cm) sebesar 6,98 % di Pit Durian Barat dan 6,79 % di Pit South Osela

d. Perbandingan Fragmentasi Berukuran Boulder (> 50 cm) dengan


Metode Kuz-Ram, Modifikasi C.V.B. Cunningham, dan Split Dekstop

Perbandingan fragmentasi peledakan berukuran boulder dengan ketiga

metode tersebut dapat dilihat pada Tabel 19. Dari Tabel 19 terlihat bahwa

persentase boulder aktual menggunakan program split desktop lebih

mendekati perhitungan jumlah boulder dengan modifikasi oleh C.V.B

Cunningham (2005) pada delay 17 ms untuk material di Pit Durian Barat

dan Pit South Osela. Perbedaan perhitungan fragmentasi hanya sebesar 0,3

% pada Pit Durian Barat dan 0,7 % pada Pit South Osela. Untuk lebih

jelasnya dapat dilihat pada Gambar 45 dan 46.

Tabel 19. Perbandingan Persentase Jumlah Boulder (> 50 cm)


Kuz- Cunningham Split Kuz- Cunningham Split
Ram (R50) Deks. Ram (R50) Deks.
Blok 17 25 42 Blok 17 25 42
Peledakan R50 ms ms ms R50 Peledakan R50 ms ms ms R50
DUR_695AM 5,6 8,7 10,0 9,5 4,8 SOS_695C 5,7 7,3 8,2 7,8 6,4
DUR_695AN 5,0 9,9 11,4 11,0 7,1 SOS_700A 4,9 10,8 12,6 12,2 7,8
DUR_695AO 5,8 7,2 8,0 7,7 6,6 SOS_700D 5,7 7,1 8,0 7,7 10,1
DUR_700BD 4,9 6,6 7,3 7,0 7,1 SOS_705E 5,6 7,5 8,5 8,2 7,0
DUR_700BF 5,8 6,6 7,4 7,0 10,5 SOS_695A 5,7 5,7 6,2 5,9 4,6
DUR_700BG 5,0 6,5 7,2 6,8 10,8 SOS_695E 4,8 6,7 7,4 7,2 5,5
DUR_705BE 4,5 6,6 7,3 7,0 4,9 SOS_710H 4,7 7,2 8,0 7,7 6,2
DUR_705BH 5,2 6,4 7,2 6,8 4,0
Rata-Rata 5,2 7,3 8,2 7,9 7,0 Rata-Rata 5,3 7,5 8,4 8,1 6,8
115

Perbandingan Persentase Jumlah Boulder (> 50 cm) Fragmentasi Peledakan Pit Durian Barat
10,0
8,0
6,0
4,0
2,0
0,0

R50 Kuz-Ram R50 (17) Cunningham R50 (25) Cunningham


R50 (42) Cunningham R50 Split Dekstop
Gambar 45. Perbandingan Jumlah Boulder Pit Durian Barat

Perbandingan Persentase Jumlah Boulder (> 50 cm) Fragmentasi Peledakan Pit South Osela
12,0
10,0
8,0
6,0
4,0
2,0
0,0
SOS_695C SOS_700A SOS_700D SOS_705E SOS_695A SOS_695E SOS_710H Rata-Rata
R50 Kuz-Ram R50 (17) Cunningham R50 (25) Cunningham
R50 (42) Cunningham R50 Split Dekstop

Gambar 46. Perbandingan Jumlah Boulder Pit South Osela

3. Digging Time, Digging Rate, dan Produktivitas Alat Gali Muat

a. Digging Time Material Hasil Peledakan

Setelah kegiatan peledakan selesai maka blasted material akan

digali dan dimuat oleh unit excavator untuk dipindahkan dan direduksi

ke stockpile dan unit crusher. Parameter yang paling berpengaruh

terhadap produktivitas alat gali muat adalah lamanya unit excavator

dalam melakukan penggalian (digging time). Digging time merupakan

waktu yang dibutuhkan oleh alat gali muat mulai dari gigi gali kontak

ke batuan sampai bucket terisi penuh dan posisi mulai terangkat.


116

Pengambilan data digging time dilakukan pada setiap blok

peledakan dengan alat gali muat yang diamati adalah excavator jenis

Hitachi ZX870LC-5G berkapasitas 80 ton. Dari pengamatan yang

dilakukan terlihat bahwa fragmentasi berukuran besar (boulder)

membutuhkan waktu penggalian yang lebih lama dibandingkan

fragmentasi yang berukuran lebih kecil. Hal ini disebabkan karena

tahanan gali (digging resistence) yang dialami oleh gigi-gigi bucket saat

menggali lebih besar pada material yang berukuran boulder. Selain itu

juga disebabkan karena keras atau lunaknya material yang akan digali.

Dari kegiatan pengamatan dan perhitungan data yang dilakukan

pada blok peledakan maka didapatkan nilai digging time seperti pada

Tabel 20.

Tabel 20. Perhitungan Digging Time Material pada Blok Peledakan


Dig Time Dig Time
Blok (s/bucket) Blok (s/bucket)
Peledakan Peledakan
Max Min Rata2 Max Min Rata2
DUR_695AM 16 6 9 SOS_695A 22 4 8
DUR_695AN 16 4 8 SOS_695C 12 5 8
DUR_695AO 25 4 8 SOS_695E 24 4 7
DUR_700BD 10 4 8 SOS_700A 10 2 6
DUR_700BF 26 4 9 SOS_700C 21 3 8
DUR_700BG 13 5 8 SOS_700D 25 3 7
DUR_705BE 20 3 9 SOS_705E 20 3 8
DUR_705BH 16 4 9 SOS_710H 22 3 9
Rata-Rata 18 4 9 Rata-Rata 20 3 8

Dari Tabel 20 terlihat bahwa rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk

menggali material (digging time) adalah 9 detik untuk Pit Durian Barat dan

8 detik untuk Pit South Osela. Terdapat waktu mimimum penggalian


117

sebesar 3 detik pada peledakan di Pit Durian Barat dan 2 detik di Pit South

Osela. Selain itu juga terlihat bahwa waktu maksimum untuk menggali

material ketika boulder adalah 18 detik untuk Pit Durian Barat dan 20 detik

untuk Pit South Osela. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 48

dan 49. Adanya penambahan waktu seperti ini akan berdampak pada

meningkatnya cycle time unit excavator dan menyebabkan penurunan pada

digging rate dan produktivitas unit excavator.

Gambar 47. Kegiatan Digging Material Hasil Peledakan

Digging Time Pit Durian Barat (s/bucket)


Digging Time (s/bucket)

30 25,1 26,1
25 20,21
15,7 16,3 16,47
20 12,9
15 9,33 8,66 10,3 9,757 8,534 9,45 8,763
5,9 7,786 7
10 4,1 4,4 3,7 3,5 5,3 3,43 3,87
5
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Gambar 48. Digging Time Material Hasil Peledakan Pit Durian Barat
118

Digging Time Pit South Osela (s/bucket)

Digging Time (s/bucket)


30 23,6 24,69
22,3 21,46 21,5
25 19,86
20
12,4
15 9,74 10,43
8,531
8,376 7,045 8,22 8,143 8,47
10 4 5,1 3,7 5,56
2,09 3,4 2,76 3,48 3,2
5
0

Blok Peledakan
Maximum Minimum Average

Gambar 49. Digging Time Material Hasil Peledakan Pit South Osela

b. Digging Rate dan Produktivitas Alat Gali Muat

Digging rate adalah jumlah material yang dapat digali oleh alat gali

muat pada kegiatan pemindahan material per jam (bcm/jam). Digging

rate dipengaruhi oleh lamanya cycle time per siklus pada pemindahan

material ke alat angkut. Selain itu juga dipengaruhi oleh kapasitas dari

bucket alat gali muat dan besarnya nilai bucket fill factor pada alat

tersebut. Berikut adalah nilai bucket capacity dan bucket fill factor yang

digunakan pada perhitungan (Tabel 21 dan 22)

Tabel 21. Bucket Capacity Hitachi ZX870LC-5G

ZX870-5G / ZX870LC-5G / ZX870H-5G / ZX870LCH-


Model Code
5G
Engine Rated Power 360 kW (483 HP)
ZX870-5G : 80 800 kg / ZX870LC-5G : 82 600 kg
Operating Weight
ZX870H-5G : 82 300 kg / ZX870LCH-5G : 84 200 kg
Backhoe Bucket ISO Heaped : 2.9 – 4.5 m3
119

Tabel 22. Bucket Fill Factor


Jenis Kondisi Kerja Faktor
Pekerjaan Bucket
Ringan Menggali dan memuat stockroom dan stockpile atau 1,0 – 0,8
material yang telah dikeruk oleh excavator yang lain
yang tidak membutuhkan daya gali dan dapat dimuat
munjung
Sedang Menggali dan memuat dari stockroom atau stockpile 0,8 – 0,6
dengan kondisi tanah yang sulit digali dan dikeruk akan
tetapi dapat dimuat hampir munjung
Agak Sulit Menggali dan memuat batu pecah, tanah liat yang 0,6 – 0,5
keras, pasir dan kerikil yang telah dikumpulkan, sulit
mengisi bucket dengan material tersebut
Sulit Bongkahan batu besar dengan bentuk tidak teratur 0,5 – 0,4
dengan banyak rongga diantaranya
Sumber: Perhitungan Biaya Peralatan (Rochmanhadi, 1992:14)

Dari Tabel 21 dan 22 maka nilai bucket capacity yang dipakai adalah

4,5 m3 dengan bucket fill factor 0,7 karena material hasil ledakan

diasumsikan pada jenis pekerjaan sedang. Sehingga nilai digging rate

dapat dihitung dengan persamaan:


3600
𝐷𝑖𝑔𝑔𝑖𝑛𝑔 𝑅𝑎𝑡𝑒 = 𝐵𝐶 𝑥 𝐵𝐹𝐹 𝑥 𝐶𝑇

Perhitungan Digging Rate Blok Peledakan Dur_690AM:

Diketahui: BC = 4,5 m3 BFF = 0,7 CT = 19 detik


3600
Maka, 𝐷𝑖𝑔𝑔𝑖𝑛𝑔 𝑅𝑎𝑡𝑒 = 4.5 𝑥 0.7 𝑥 = 597 bcm/jam
19

Untuk data produktivitas didapatkan dari rekapitulasi base control

sebesar 548 bcm/jam. Data digging rate dan produktivitas alat gali muat

pada blok peledakan lainnya dapat dilihat pada Tabel 23.


120

Tabel 23. Digging Rate dan Produktivitas Alat Gali Muat

CT DR Productivity Blok CT DR Productivity


BLOK
(s) (bcm/jam) (bcm/jam) Peledakan (s) (bcm/jam) (bcm/jam)

DUR_695AM 19 597 548 SOS_695A 20 567 530


DUR_695AN 17 667 607 SOS_695C 20 567 524
DUR_695AO 18 630 564 SOS_695E 16 709 595
DUR_700BD 17 667 610 SOS_700A 16 709 608
DUR_700BF 20 567 536 SOS_700C 19 597 540
DUR_700BG 19 597 558 SOS_700D 17 667 558
DUR_705BE 20 567 550 SOS_705E 18 630 536
DUR_705BH 19 597 560 SOS_710H 21 540 538
Rata-Rata 19 611 567 Rata-Rata 18 623 554

Dari Tabel 22 terlihat bahwa semakin lama waktu penggalian (digging

time) maka cycle time juga bertambah lama, hal ini berakibat pada

penurunan digging rate sehingga produktivitas juga ikut menurun.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 50 dan 51. Target

produktivitas alat gali muat di PT JRBM adalah 700 bcm/jam. Dengan

demikian target produktivitas alat gali muat pada kegiatan pemindahan

material di blok peledakan masih belum tercapai.

Digging Rate dan Produktivitas Alat Gali Muat pada Blok Peledakan
Pit Durian Barat
680
660
640
620
600
580
560
540
520
500

Digging Rate (bcm/jam) Productivity (bcm/jam)

Gambar 50. Digging Rate dan Produktivitas Excavator di Pit Durian Barat
121

Digging Rate Rate


Digging dan Productivity Alat Gali
dan Produktivitas Muat
Alat pada
Gali Blok
Muat Peledakan
pada Blok Pit
Peledakan Pit Osela
South South Osela
710
690
670
650
630
610
590
570
550
530
510
490
470
450

Digging Rate (bcm/jam) Productivity (bcm/jam)


Gambar 51. Digging Rate dan Produktivitas Excavator di Pit South Osela

4. Pemodelan Statistik Hubungan Geometri Peledakan terhadap


Fragmentasi dan Diggability Alat Gali Muat

a. Analisis Statistik Bivariate

Analisis statistik bivariate dilakukan untuk melihat paramater yang

memiliki hubungan yang lebih kuat dengan fragmentasi dan

produktivitas peledakan. Parameter yang memiliki pengaruh terhadap

fragmentasi dalam penelitian ini adalah nilai powder factor serta

persentase deviasi kedalaman lubang ledak dan stemming. Sementara

produktivitas peledakan dipengaruhi oleh ukuran fragmentasi, digging

time, cycle time, dan digging rate alat gali muat. Hubungan statistik

antar beberapa variabel di atas dilihat melalui analisis regresi sederhana

dengan uji coba model linier, eksponensial, logaritma, dan polinomial.

Dari uji coba tersebut didapatkan hubungan statistik yang memiliki nilai

koefisien korelasi dan R2 terbesar pada model polinomial.


122

1) Hubungan Fragmentasi Peledakan dengan Powder Factor serta


Persentase Deviasi Kedalaman Lubang Ledak dan Stemming

Hubungan fragmentasi peledakan dengan powder factor serta

persentase deviasi kedalaman lubang ledak dan stemming seperti

dijelaskan pada Gambar 52. Dari Gambar 52 terlihat bahwa

parameter yang memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap

fragmentasi peledakan adalah persentase deviasi stemming dengan

nilai koefisien korelasi sebesar 0,977 dan R2 sebesar 0,995.

Hubungan Fragmentasi dengan Powder Factor


Fragmentasi (> 50

15,00 y = -62398x3 + 67196x2 - 24000x + 2849,3


10,00 R² = 0,8397
cm)

5,00
0,00
0,25 0,30 0,35 0,40 0,45
Powder Factor

Hubungan Fragmentasi dengan Deviasi Kedalaman


Lubang Ledak
Fragmentasi (> 50

15,00
y = 0,0621x4 - 2,7673x3 + 45,419x2 - 326,08x + 872,24
10,00 R² = 0,8337
cm)

5,00
0,00
0,25 5,25 10,25 15,25 20,25
Deviasi Kedalaman Lubang Ledak

Hubungan Fragmentasi dengan DeviasiStemming


Fragmentasi (> 50

15,00 y = -0,0004x4 + 0,0139x3 - 0,0931x2 - 0,4139x + 9,9927


10,00 R² = 0,9949
cm)

5,00
0,00
0,25 5,25 10,25 15,25 20,25 25,25
Deviasi Stemming

Gambar 52. Analisis Bivariate Hubungan Fragmentasi (> 50 cm)


terhadap Powder Factor serta Persentase Deviasi
Kedalaman Lubang Ledak dan Stemming
123

2) Hubungan Produktivitas dengan Ukuran Fragmentasi, Digging


Time, Cycle Time, serta Digging Rate Alat Gali Muat

Hubungan produktivitas dengan ukuran fragmentasi, digging time,

cycle time, dan digging rate dijelaskan pada Gambar 53.

Hubungan Produktivitas dengan Ukuran Hubungan Produktivitas dengan


Fragmentasi Digging Time
620 620
Produktivitas (bcm/jam

Produktivitas (bcm/jam)
600 600 y = 127,66x4 - 4395,3x3 + 56685x2 -
y = 8,8611x3 - 205,07x2 + 1564,4x - 3375,2 324580x + 696880
580 R² = 0,3915 580 R² = 0,6616
560
560
540
540
520
520 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
0,25 5,25 10,25 15,25
Digging Time (s)
Fragmentasi (> 50 cm)

Hubungan Produktivitas dengan Cycle Hubungan Produktivitas dengan


Time Digging Rate
Produktivitas (bcm/jam)

Produktivitas (bcm/jam)

620 620
600 y= -5,9137x3 + 334,97x2 - 6330,3x + 40473 600 y = 0,0001x3 - 0,2566x2 + 155,21x -
580 R² = 0,9508 580 30788
R² = 0,9534
560 560
540 540
520 520
0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 0 100 200 300 400 500 600 700 800
Cycle Time (s) Digging Rate (bcm/jam)

Gambar 53. Analisis Bivariate Hubungan Produktifitas dengan Ukuran


Fragmentasi Peledakan, Digging Time, Cycle Time, dan Digging
Rate Alat Gali Muat

Dari Gambar 53 terlihat bahwa parameter yang memiliki hubungan

yang lebih kuat dengan produktivitas adalah digging rate alat gali

muat dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,976 dan R 2 sebesar

0,9534. Sementara parameter yang memiliki hubungan yang paling


124

lemah adalah ukuran fragmentasi peledakan dengan nilai koefisien

korelasi sebesar 0,6256 dan R2 sebesar 0,3915.

b. Analisis Statistik Multivariat

Hubungan geometri peledakan terhadap fragmentasi dan

diggability perlu diketahui untuk melihat besarnya pengaruh antara

variabel-variabel tersebut. Untuk menyatakan hubungan antar beberapa

variabel maka perlu dicari sebuah persamaan yang mewakili data-data

tersebut. Hubungan antar beberapa variabel tersebut dijelaskan pada

Lampiran D. Pada tahap pertama dilakukan seleksi bivariate untuk

menentukan variabel mana yang dapat masuk dalam pemodelan

multivariate dengan syarat nilai pvalue < 0,25. Bila terdapat nilai pvalue

> 0,25 namun secara substansi sangat penting maka tetap dapat

dimasukkan dalam analisis multivariat.

Tahap kedua dilakukan pemodelan multivariat. secara bersama-

sama. Variabel yang valid dalam model multivariat. adalah yang nilai

pvalue < 0,05. Pada pemodelan multivariat. dapat diketahui persentase

seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel

dependen, serta variabel yang memiliki pengaruh paling besar

dibandingkan variabel lainnya dari persamaan yang didapatkan dari

regresi linier berganda yang dilakukan (Hastono, 2006).

Data fragmentasi yang akan dimasukkan ke dalam model

multivariat ini adalah perhitungan berdasarkan split desktop, hal ini


125

dikarenakan persamaan yang akan dihasilkan disesuaikan dengan

kondisi aktual hasil peledakan di lapangan.

a. Hubungan PF serta Persentase Deviasi Kedalaman Lubang


Ledak dan Stemming terhadap Fragmentasi Boulder Peledakan

Hasil analisis menggambarkan secara umum nilai korelasi pada

hubungan antara PF serta persentase deviasi kedalaman lubang

ledak dan stemming terhadap fragmentasi yaitu sebesar 0,906 pada

Pit Durian Barat dengan nilai R2 sebesar 82 %, sedangkan pada Pit

South Osela nilai korelasi sebesar 0,813 dan nilai R2 sebesar 66,1 %.

Sementara dari hasil uji hipotesis terlihat bahwa pada Pit Durian

Barat hipotesis diterima sebesar 87,8 % dan Pit South Osela 81,1 %.

Gambaran ringkas analisis regresi linier berganda tersebut dapat

dilihat pada Tabel 24.

Tabel 24. Analisis Statistik Hubungan PF, Persentase Deviasi Hole Depth
dan Stemming terhadap Fragmentasi Peledakan
Pit
Keterangan
Durian Barat South Osela
Nilai R (Koefisien Korelasi) 0,906 0,813
Nilai R Square (%) 82 66,10
Uji Hipotesis (pvalue) < 0.05 0,122 0,189

b. Hubungan Fragmentasi Peledakan, Digging Time, Cycle Time, dan


Digging Rate terhadap Produktivitas Alat Gali Muat

Dari analisis data yang dilakukan didapatkan nilai korelasi pada

hubungan antara fragmentasi peledakan, digging time, cycle time, dan

digging rate terhadap produktivitas alat gali muat sebesar 0,992 dengan

nilai R2 sebesar 96,70 % pada Pit Durian Barat. Sementara pada Pit

South Osela nilai korelasinya sebesar 0,984 dengan R2 sebesar 96,90 %.


126

Selain itu pada uji hipotesis terlihat pada Pit Durian Barat hipotesis

diterima sebesar 99,99 % dan pada Pit South Osela sebesar 98,70 %.

Gambaran ringkas analisis regresi linier berganda tersebut dapat dilihat

pada Tabel 25.

Tabel 25. Analisis Statistik Hubungan Fragmentasi Peledakan, Digging Time,


Cycle Time, Digging Rate terhadap Produktivitas Alat Gali Muat
Pit
Keterangan
Durian Barat South Osela
Nilai R (Koefisien Korelasi) 0,992 0,984
Nilai R Square (%) 96,70 96,90
Uji Hipotesis (pvalue) < 0.05 0,001 0,013

c. Model Persamaan Regresi Linier Berganda dari Hubungan PF,


Persentase Deviasi Kedalaman Lubang Ledak, Persentase Deviasi
Stemming terhadap Fragmentasi Peledakan

1) Pit Durian Barat

Dari uji statistik didapatkan persamaan sebagai berikut:

Y = -12,098 X1 – 0,098 X2 + 0,106 X3 + 9,505

2) Pit South Osela

Y = 6,457 X1 + 0,002 X2 + 0,12 X3 + 2,714

Diketahui: Y = Fragmentasi Peledakan

X1 = Powder Factor

X2 = Persentase Deviasi Hole Depth

X3 = Persentase DeviasinStemming

Dari persamaan yang didapatkan melalui pemodelan regresi linier

berganda di atas, apabila persamaan diuji menggunakan data awal hasil

pengamatan maka dapat dilihat perbedaan (error) antara data awal


127

dengan data model adalah 10,01 % untuk Pit Durian Barat dan 15,87 %

untuk Pit South Osela. Adanya perbedaan antara data model dengan

data pengamatan yang diambil tergambar dari nilai R Square nya yaitu

sebesar 82 % pada Pit Durian Barat dan 66,1 % pada Pit South Osela,

artinya adanya perbedaan sebesar 10,01 % dan 15,87 % tersebut

diakibatkan oleh 18 % dan 33,9 % dari data tersebut dipengaruhi oleh

variabel lain. Perbedaan data awal dengan data model dapat dilihat pada

Tabel 26.

Tabel 26. Perbedaan Data Awal dan Data Model dari Fragmentasi
Boulder Hasil Peledakan
Frag. Frag.
Fragm. Fragm.
Blok Boulder % Blok Boulder %
Boulder Boulder
Peledakan Model Error Peledakan Model Error
(%) (%)
(%) Model (%) Model
DUR_695AM 5,56 5,42 2,58 SOS_695C 5,66 6,46 12,43
DUR_695AN 4,98 5,10 2,25 SOS_700A 7,26 7,19 0,97
DUR_695AO 5,85 5,91 1,15 SOS_700D 6,68 6,51 2,64
DUR_700BD 4,85 4,75 2,07 SOS_705E 10,81 6,35 70,10
DUR_700BF 5,81 5,51 5,45 SOS_695A 7,12 5,66 25,79
DUR_700BG 5,03 5,34 5,84 SOS_695E 7,51 6,47 16,17
DUR_705BE 4,55 3,65 24,68 SOS_710H 7,15 5,21 37,23
DUR_705BH 5,20 3,82 36,08
Rata-Rata 5,23 4,94 10,01 Rata-Rata 7,46 6,27 15,87

d. Model Regresi Linier Berganda dari Hubungan Fragmentasi


Peledakan, Digging Time, Cycle Time, Digging Rate terhadap
Produktivitas Alat Gali Muat

1) Pit Durian Barat

Y = -16,751 X1 + 2,03 X2 + 5,51 X3 + 0,803 X4 + 43,266

Untuk melihat tingkat kevalidan persamaan garis yang dihasilkan

maka perlu dilakukan uji asumsi-asumsi sebagai berikut:


128

a) Asumsi Eksistensi (Variabel Random)

Tabel 27. Asumsi Eksistensi Model Regresi di Pit Durian Barat


Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Predicted Value 566,66


529,7562 607,5860 25,28154
67

Residual -4,52641 6,24382 ,00000 3,25484

Std. Predicted
-1,460 1,619 ,000 1,000
Value

Std. Residual -,983 1,356 ,000 ,707

Hasil dari output pada Tabel 35 menunjukkan angka residual

dengan mean 0,000 dan standar deviasi 3,25484. Dengan

demikian asumsi eksistensi (variabel random) terpenuhi.

b) Asumsi Independensi
Tabel 28. Asumsi Independensi Model Regresi Pit Durian Barat
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate Durbin-Watson

1 ,992a ,984 ,967 4,60303 2,001

Dari hasil uji pada Tabel 36 didapatkan koefisien Durbin Watson

2,001 berarti asumsi independensi terpenuhi.

c) Asumsi Linieritas
Tabel 29. Asumsi Linieritas Model Regresi di Pit Durian Barat
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 5113,248 4 1278,312 60,332 ,001b

Residual 84,752 4 21,188

Total 5198,000 8

Dari hasil uji pada Tabel 29 menghasilkan uji anova 0,001 yang

berarti asumsi linieritas terpenuhi


129

d) Asumsi Homoscedascity

Gambar 54. Scatter Plot Uji Homoscedascity Model


Regresi di Pit Durian Barat

Dari Gambar 54 terlihat bahwa sebaran titik tidak memiliki pola

yang sama antara titik-titik di atas dan di bawah garis diagonal 0.

Dengan demikian asumsi homoscedasity terpenuhi.

e) Asumsi Normalitas

Gambar 55. Grafik Asumsi Normalitas Model Regresi


di Pit Durian Barat
Dari grafik normal p-p plot terlihat bahwa bentuk distribusinya

normal, sehingga asumsi normalitas terpenuhi.

f) Diagnostik Multicolinearity
130

Tabel 30. Asumsi Multicolinearitas Model Regresi


di Pit Durian Barat
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
Fragmentasi ,981 1,019
Digging_Time ,395 2,532
Cycle_Time ,392 2,548

Dari Tabel 30 terlihat bahwa nilai VIF tidak lebih dari 10,

sehingga tidak ada multicolinearity antar sesama variabel

independen.

2) Pit South Osela

Y = 3,284 X1 – 7,54 X2 + 79,08 X3 + 2,65 X4 – 2493,98

Diketahui: Y = Produktivitas

X1 = Fragmentasi Peledakan X2 = Digging Time

X3 = Cycle Time X4 = Digging Rate

Untuk melihat tingkat kevalidan persamaan garis yang dihasilkan

maka perlu dilakukan uji asumsi-asumsi sebagai berikut:

a) Asumsi Eksistensi (Variabel Random)

Tabel 31. Asumsi Eksistensi Model Regresi di Pit South Osela

Minimum Maximum Mean Std. Deviation


Predicted Value 524,9034 605,6932
557,11
28,73727
11
Residual -5,93346 5,09663 ,00000 3,32120
Std. Predicted
-1,121 1,691 ,000 1,000
Value
Std. Residual -1,263 1,085 ,000 ,707
131

Hasil dari output pada Tabel 31 menunjukkan angka residual

dengan mean 0,000 dan standar deviasi 3,32120. Dengan

demikian asumsi eksistensi (variabel random) terpenuhi.

b) Asumsi Independensi
Tabel 32. Asumsi Independensi Model Regresi di Pit South Osela
Adjusted R Std. Error of
Model R R Square Square the Estimate Durbin-Watson

1 ,993a ,987 ,974 4,69689 2,582

Dari hasil uji pada Tabel 32 didapatkan koefisien Durbin Watson

2,582 berarti asumsi independensi tidak terpenuhi.

c) Asumsi Linieritas
Tabel 33. Asumsi Linieritas Model Regresi di Pit South Osela
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 6606,646 4 1651,661 74,869 ,001b
Residual 88,243 4 22,061

Total 6694,889 8

Dari hasil uji pada Tabel 33 menghasilkan uji anova 0,001 yang

berarti asumsi linieritas terpenuhi

d) Asumsi Homoscedascity

Gambar 56. Scatter Plot Uji Homoscedascity Model


Regresi di Pit South Osela
132

Dari Gambar 56 terlihat bahwa sebaran titik tidak memiliki pola

yang sama antara titik-titik di atas dan di bawah garis diagonal 0.

Dengan demikian asumsi homoscedasity terpenuhi.

e) Asumsi Normalitas

Gambar 57. Grafik Asumsi Normalitas Model


Regresi Pit South Osela

Dari grafik normal p-p plot terlihat bahwa bentuk distribusinya

normal, sehingga asumsi normalitas terpenuhi.

f) Diagnostik Multicolinearity
Tabel 34. Asumsi Multicolinearitas
Collinearity Statistics
Model Tolerance VIF
1 (Constant)
Fragmentasi ,981 ,755
Digging_Time ,395 ,349
Cycle_Time ,392 2,548

Dari Tabel 34 terlihat bahwa nilai VIF tidak lebih dari 10, sehingga

tidak ada multicolinearity antar sesama variabel independen.


133

Dari persamaan yang didapatkan melalui pemodelan regresi linier berganda

di atas, apabila persamaan diuji menggunakan data awal hasil pengamatan

maka dapat dilihat persentase perbedaan (error) antara data awal dengan

data model adalah 2,94 % untuk Pit Durian Barat 3,49 % untuk Pit South

Osela. Perbedaan antara data awal dan model dapat dilihat pada Tabel 43.

Tabel 35. Perbedaan Data Awal dan Data Model untuk Produktivitas
Alat Gali Muat pada Blok Peledakan

Blok Prod. Prod. % Blok Prod. Prod. %


Peledakan (bcm/jam) Model Error Peledakan (bcm/jam) Model Error
(bcm/jam) Model (bcm/jam) Model
DUR_695AM 548 570 3,87 SOS_695C 530 543 2,3
DUR_695AN 607 624 2,70 SOS_700A 524 549 4,5
DUR_695AO 564 585 3,54 SOS_700D 595 612 2,7
DUR_700BD 610 626 2,63 SOS_705E 608 627 3,0
DUR_700BF 536 546 1,85 SOS_695A 540 561 3,7
DUR_700BG 558 576 3,16 SOS_695E 558 586 4,7
DUR_705BE 550 568 3,15 SOS_710H 536 555 3,5
DUR_705BH 560 575 2,61 - - - -
Rata-Rata 567 584 2,94 Rata-Rata 556 576 3,49

g) Variabel yang Paling Berpengaruh terhadap Produktivitas Alat


Gali Muat

Prediksi variabel yang paling berpengaruh tehadap produktivitas alat

gali muat dapat dilihat melalui koefisien beta yang telah distandardisasi

pada uji statistik multivariate. Besarnya nilai koefisien beta tersebut

dapat dilihat pada Tabel 36.

Tabel 36. Koefisien Beta pada Uji Statistik Multivariate

Parameter Pit Durian Barat Pit South Osela


Fragmentasi -0,288 0,154
Digging Time 0,42 -0,075
Cycle Time 0,242 5,586
Digging Rate 1,173 6,440
134

Dari nilai koefisien beta pada Tabel 45 maka dapat dilihat digging rate

memiliki pengaruh yang paling besar dalam mempengaruhi

produktivitas alat gali muat pada masing-masing pit yaitu sebesar 1,173

dan 6,440.

h) Estimasi Model Optimum untuk Menentukan Kondisi Ideal


Hubungan Kegiatan Peledakan dengan Diggability untuk
Memenuhi Target Produktivitas Alat Gali Muat

Target produktivitas yang harus dicapai di PT JRBM adalah 700

bcm/jam. Untuk mendapatkan target tersebut maka dilakukan estimasi

menggunakan persamaan regresi linier berganda yang telah didapatkan

dari pemodelan multivariate pada 6 kombinasi data. Kombinasi data

tersebut meliputi data persentase fragmentasi berukuran boulder (3-8

%), digging time (6-11 detik), cycle time (14-19 detik), dan digging rate

(600-850 bcm/jam). Range data ini disusun berdasarkan distribusi data

hasil pengamatan yang dilakukan pada blok peledakan.

Perhitungan produktivitas dilakukan dengan trial and error

pada pasangan kombinasi data di atas, yang masing-masingnya terdiri

dari 215 pasangan data sehingga menghasilkan 1.290 data

produktivitas. Dari data-data tersebut maka didapatkan titik optimum

yang menunjukkan kondisi ideal pada kombinasi data seperti pada

Tabel 37. Titik optimum ini didapatkan pada nilai produktivitas yang

mendekati nilai 718 bcm/jam pada Pit Durian Barat dan 728 bcm/jam

pada Pit South Osela. Nilai produktivitas tersebut diasumsikan dari


135

nilai produktivitas yang telah diakumulasi dengan persentase error

dari persamaan model regresi di atas.

Tabel 37. Titik Optimum dari Kombinasi Data Produktivitas

Pit
Variabel
Durian Barat South Osela
Fragmentasi (%) 3 3
Digging Time (s) 7 6
Cycle Time (s) 15 14
Digging Rate (bcm/jam) 750 800
Produktivitas (bcm/jam) 718 730

Dari Tabel 37 dapat dilihat bahwa pada Pit Durian Barat kombinasi

yang baik adalah jumlah persentase boulder 3 %, digging time 7 detik,

cycle time 15 detik, dan digging rate 750 bcm/jam. Sementara pada

Pit South Osela kombinasi yang baik adalah jumlah persentase

boulder 3 % digging time 6 detik, cycle time 14 detik, dan digging rate

800 bcm/jam.

5. Revisi Geometri Peledakan Menurut Teori R.L. Ash dan C.J. Konya

Untuk melakukan evaluasi apakah desain yang digunakan telah optimal atau

tidak maka dilakukan perbandingan terhadap geometri peledakan

menggunakan rumus perhitungan R.L. Ash dan C.J. Konya (Lampiran E).

Perhitungan geometri peledakan dapat dilihat pada Tabel 38. Perbedaan

antara kedua metode ini adalah:

a. R.L. Ash (1967) membuat pedoman perhitungan geometri peledakan

jenjang berdasarkan pengalaman empirik yang diperoleh di berbagai

tempat dengan jenis pekerjaan dan batuan yang berbeda-beda. Sehingga

R.L. Ash berhasil mengajukan empirik yang digunakan sebagai


136

pedoman dalam rancangan awal peledakan batuan. Faktor koreksi untuk

geometri ini adalah kesesuaian terhadap batuan standar dan bahan

peledak standar

b. Perhitungan geometri peledakan menurut C.J. Konya (1991) tidak hanya

mempertimbangkan faktor bahan peledak, sifat batuan, dan diameter

lubang ledak tetapi juga faktor koreksi terhadap posisi lapisan batuan,

keadaan struktur geologi, serta koreksi terhadap jumlah lubang ledak

yang diledakkan. Faktor terpenting untuk dikoreksi menurut C.J. Konya

(1991) adalah masalah penentuan besarnya nilai burden.

Dari Tabel 38 dijelaskan bahwa geometri peledakan yang sesuai untuk Pit

Durian Barat adalah teori peledakan menurut C.J. Konya karena

menghasilkan persentase boulder yang lebih kecil yaitu 3,05 % menurut

Cunningham dengan delay 17 ms, 3,2 % dengan delay 25 ms, dan 3,5 %

dengan delay 42 ms. Sementara pada Pit South Osela geometri peledakan

yang sesuai juga teori peledakan menurut C.J. Konya karena menghasilkan

persentase boulder yang lebih kecil yaitu 3,10 % menurut Cunningham

dengan delay 17 ms, 3,32 % dengan delay 25 ms, 3,63 % dengan delay 42

ms.
137

Tabel 38. Perhitungan Geometri Peledakan Menurut R.L. Ash dan C.J. Konya

Geometri Peledakan
No Parameter JRBM R.L. Ash C.J. Konya
Dur_Bar SOS Dur_Bar SOS Dur_Bar SOS
1 Burden 3 3 3,7 3,8 2,7 2,8
2 Spasi 4,5 4 3,7 3,8 3 3
3 Stemming 2,2 2,2 2,6 2,7 1,9 2
4 Subdrilling 0,2 0,2 0,7 0,8 0,8 0,8
5 Kedalaman Lubang 5,2 5,2 5,6 5,7 5,8 5,8
6 Panjang Kolom Isian 3 3 3 3 3,9 3,8
7 Powder Factor 0,36 0,38 0,30 0,28 0,55 0,53
Perhitungan Fragmentasi Peledakan Berukuran Boulder (%)
1 C.V.B. Cunningham
Delay 17 ms
Fragmentasi Rata-Rata (Xm) 13,52 12,74 14,5 14,7 12,15 12,36
Persentase Boulder (R50) 7,31 7,46 8,74 7,26 3,05 3,10
Delay 25 ms
Fragmentasi Rata-Rata (Xm) 13,90 13,08 14,94 15,13 12,68 12,78
Persentase Boulder (R50) 8,22 8,42 8,96 8,22 3,2 3,32
Delay 42 ms
Fragmentasi Rata-Rata (Xm) 16 15,5 17,39 17,56 15,13 15,44
Persentase Boulder (R50) 7,86 8,10 8,54 7,84 3,5 3,63
2 Split Dekstop
Fragmentasi Rata-Rata (Xm) 16,18 15,18 - - - -
Persentase Boulder (R50) 6,98 6,22 - - - -
Perhitungan Produktivitas Alat Gali Muat Pada Blok Peledakan (bcm/jam)
Digging Time 9 7 7 6 7 6
1
Cycle Time 19 18 15 14 15 14
Digging Rate 611 635 750 800 750 800
Produktivitas
Delay 17 ms 488 557 596 621 703 705
Delay 25 ms 501 559 576 605 700 701
Delay 42 ms 507 559 583 611 700 700

Apabila dilakukan revisi geometri berdasarkan teori C.J. Konya maka

didapatkan perubahan geometri pada beberapa parameter berikut yaitu:

a. Burden mengalami pengurangan sebesar 0,3 m pada Pit Durian Barat

dan 0,2 m Pit South Osela


138

b. Spasi mengalami pengurangan sebesar 1,5 m pada Pit Durian Barat dan

1,4 m pada Pit South Osela

c. Subdrilling dan kedalaman lubang ledak mengalami penambahan

sebesar 0,6 meter pada Pit Durian Barat dan Pit South Osela

d. Panjang kolom isian mengalami penambahan sebesar 0,9 meter pada Pit

Durian Barat dan 0,8 meter Pit South Osela

e. Powder Factor mengalami penambahan sebesar 0,19 Kg/bcm pada Pit

Durian Barat dan 0,15 Kg/bcm pada Pit South Osela

Dengan dilakukannya revisi terhadap analisis geometri

peledakan menurut C.J. Konya, pada perhitungan fragmentasi dengan

C.V.B. Cunningham menunjukkan produktivitas yang dicapai adalah

703 bcm/jam pada delay 17 ms, 700 bcm/jam pada delay 25 ms dan 42

ms pada Pit Durian Barat. Sedangkan pada Pit South Osela 705 bcm/jam

pada delay 17 ms, dan 701 bcm/jam pada delay 25 ms dan 700 bcm/jam

pada delay 42 ms.

Besarnya kenaikan nilai produktivitas alat gali muat bila

dilakukan revisi geometri adalah 215 bcm/jam pada delay 17 ms, 199

bcm/jam pada delay 25 ms, dan 193 bcm/jam pada delay 42 ms di Pit

Durian Barat, sedangkan pada Pit South Osela sebesar 148 bcm/jam

pada delay 17 ms, dan 143 bcm/jam pada delay 25 ms dan 141 bcm/jam

pada delay 42 ms. Dengan demikian bila dilakukan revisi geometri

peledakan dengan teori C.J. Konya maka target produktivitas ore di Pit

Durian Barat dan Pit South Osela dapat tercapai. Lay Out rancangan
139

geometri peledakan dengan R.L. Ash dan C.J. Konya dapat dilihat pada

Gambar 58 s.d. 61.

Gambar 58. Lay Out Geometri Peledakan Pit Durian Barat dengan Teori R.L. Ash

Gambar 59. Lay Out Geometri Peledakan Pit Durian Barat dengan Teori C.J. Konya
140

Gambar 60. Lay Out Geometri Peledakan Pit South Osela dengan Teori R.L. Ash

Gambar 61. Lay Out Geometri Peledakan Pit South Osela dengan Teori C.J. Konya
141

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Efisiensi dari kegiatan peledakan dilakukan pada monitoring kedalaman

lubang ledak dan stemming aktual. Dari data di lapangan didapatkan

efisiensi dari kegiatan pemboran pada target pencapaian kedalaman lubang

ledak adalah 89,30 % pada Pit Durian Barat dan 90,81 % pada Pit South

Osela. Dari data terlihat bahwa rata-rata pada setiap lubang terjadi deviasi

sebesar 0,6 m. Sementara pada monitoring kedalaman stemming aktual

terlihat efisiensinya sebesar 88,72 % pada Pit Durian Barat dan 88,91 %

pada Pit South Osela, sehingga rata-rata deviasi kedalaman stemming

sebesar 0,23 m/lubang pada Pit Durian Barat dan 0,26 m/lubang pada Pit

South Osela.

2. Perhitungan fragmentasi peledakan menggunakan tiga metode diantaranya

menurut teori Kuz-Ram, modifikasi Kuz-Ram oleh C.V.B. Cunningham

(2005), serta perhitungan aktual dengan split desktop. Dari ketiga metode

tersebut terlihat bahwa fragmentasi secara aktual dengan split desktop

menunjukan kemiripan dengan perhitungan teoritis dari C.V.B.

Cunningham (2005) pada Pit Durian Barat dan Pit South Osela. Dari

perhitungan tersebut terlihat masih terdapat fragmentasi berukuran boulder

(< 50 cm) besar dari 0 %. Persentase boulder tersebut berkisar antara 5-7

%. Dari perhitungan dengan ketiga metode tersebut dapat disimpulkan

bahwa persentase boulder lebih banyak terdapat pada Pit South Osela. Hal

141
142

ini diasumsikan karena material di Pit South Osela yang dipengaruhi oleh

zona ubahan clay advance argillic dengan dominasi clay sehingga energi

ledakan dari bahan peledak tidak terdistribusi sempurna pada saat proses

pemecahan batuan.

3. Data digging time yang diamati pada blok peledakan secara rata-rata

adalah 9 detik pada Pit Durian Barat dan 8 detik pada Pit South Osela.

Nilai digging rate yang dapat dicapai adalah 611 bcm/jam dengan

produktivitasnya 570 bcm/jam pada Pit Durian Barat. Sementara pada Pit

South Osela digging rate yang dapat dicapai adalah 623 bcm/jam dengan

produktivitasnya 549 bcm/jam. Dari nilai tersebut dapat disimpulkan

bahwa target produktivitas sebesar 700 bcm/jam belum tercapai.

Ketercapaian target produktivitas adalah 81,43 % pada Pit Durian Barat

dan 78,43 % pada Pit South Osela

4. Hubungan antara kegiatan peledakan dengan diggability alat gali muat

dijelaskan oleh persamaan regresi linier berganda.

a. Dari persamaan tersebut didapatkan hubungan antara fragmentasi

peledakan dengan diggability yaitu sebesar 0,906 dengan R2 sebesar 82

% pada Pit Durian Barat, sedangkan pada Pit South Osela sebesar

0,813 dengan R2 sebesar 66,1 % pada. Dari nilai R2 tersebut maka

dapat dijelaskan bahwa pengaruh fragmentasi peledakan terhadap

diggability alat gali muat dalam memenuhi target produktivitas adalah

sebesar 82 % dan 66,1 %, sedangkan 18 % dan 43,9 % lainnya

dijelaskan oleh variabel lain. Variabel tersebut diasumsikan tipe


143

material yang digali, kondisi area loading point, faktor cuaca, dan atau

kemampuan operator.

b. Untuk memenuhi target produktivitas sebesar 700 bcm/jam maka

kombinasi yang baik pada Pit Durian Barat adalah jumlah persentase

boulder 3 %, digging time 7 detik, cycle time 15 detik, dan digging

rate 750 bcm/jam. Sementara pada Pit South Osela jumlah persentase

boulder 3 %, digging time 6 detik, cycle time 14 detik, dan digging

rate 800 bcm/jam.

5. Pada perhitungan analisis revisi geometri peledakan didapatkan output

fragmentasi yang lebih baik dengan teori C.J. Konya. Persentase jumlah

boulder dapat diminimalisir sebesar 4,26 s.d. 5,02 % pada Pit Durian

Barat dan 4,36 % s.d. 4,9 % pada Pit South Osela. Dengan demikian target

produktivitas ore sebesar 700 bcm/jam dapat tercapai

B. Saran

1. Untuk mengurangi deviasi collapse dari kedalaman lubang ledak

sebaiknya dilakukan:

a. Pengecekan akurat dengan meteran standar dan sebaiknya dilakukan

oleh crew malam sehingga apabila ada lubang ledak yang collapse

dapat di redrill kembali dan tidak menggangu aktivitas charging pada

pagi harinya

b. Perbaikan monitor kedalaman pada alat bor


144

c. Membuat paritan untuk jalur air pada area blasting sehingga bila hujan

air tidak menggenangi lokasi charging yang dapat menimbulkan

potensi collapse

d. Memberikan pemahaman kepada operator driling mengenai

pentingnya melakukan pengeboran dengan target kedalaman yang

sesuai dengan plan

2. Untuk mengurangi deviasi stemming aktual sebaiknya dilakukan hal- hal

berikut:

a. Melakukan pemasangan liner dengan hati-hati agar tidak mengalami

kebocoran di dalam lubang ledak yang dapat menimbulkan potensi

masuknya emulsion ke dalam rongga

b. Mengganti liner dengan yang lebih tebal dan kuat karena rentan

mengalami kebocoran

c. Melakukan penutupan lubang (stemming) setelah maksimalnya waktu

gassing yaitu 30-40 menit setelah charging

d. Melakukan penambahan emulsion untuk memenuhi target kedalaman

lubang isian akibat tidak maksimalnya stemming

3. Untuk memaksimalkan subdrill yaitu 0,2 meter sebaiknya tidak

memasukkan material cutting ke dalam liner (sekitar 10 cm) saat

memasukkan liner ke dalam lubang ledak, karena mengurangi nilai

subdrill menjadi 0,1 meter yang dapat menimbulkan potensi undulasi

pada lantai jenjang, sebaiknya liner dimasukkan menggunakan stick

4. Untuk memaksimalkan waktu digging excavator sebaiknya dilakukan:


145

a. Kesediaan dozer pada area loading point sehingga memudahkan

excavator melakukan penggalian dan digging time dan cycle time juga

dapat dioptimalkan

b. Persentase fragmentasi berukuran boulder yang harus diminimalisir

sehingga dapat mengoptimalkan waktu digging atau penggalian

material

5. Pada analisis revisi geometri peledakan untuk mendapatkan fragmentasi

peledakan yang lebih baik dapat menggunakan analisis geometri

peledakan menurut C.J. Konya


146

DAFTAR PUSTAKA

Adebayo, B dan Mutandwa, B. 2008. Correlation of Blast-hole Deviation and


Area of Block with Fragment Size and Fragmentation Cost.
International Research Journal of Engineering and Technology
(IRJET) e-ISSN: 2395-0056 p-ISSN: 2395-0072

Ash, R.L. 1967. Design of Blasting Round, “Surface Mining”, B.A. Kennedy,
Editor, Society for Mining, Metallurgy, and Exploration, pp. 565-584

Balkema. 1995. Drilling and Blasting Of Rocks. Spain: Estudios Y Proyectus


Mineros, S.A.

Bhandari, Sushil. 1997. Engineering Rock Blasting Operation. India: Department


Of Mine Engineer J.N.V University Jodhpur

Carlie, J.C. et al. 1996. Geological Setting, Characteristic and Regional


Exploration for Gold in the Volcanic of North Sulawesi, Indonesia.
Journal of Geochemical Exploration 35, p. 105-140.

Craig, J.R. and Vaughen D.J. 1981. Ore Microscope and Ore Petrography.
Newyork

Cunningham, C.V.B. 2005. The Kuz-Ram Fragmentation Model-20 Years on.


South Africa. Brighton Conference Proceeding, R. Holmberg et al,
ISBN 0-9550290-007

Diantoro. 2010. Emas: Investasi dan Pengolahannya (Pengolahan Emas Skala


Home Industry). PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

Dyno Nobel. 2011. Blasting and Explosives Quick Reference Guide. Africa: Dyno
Nobel Asia Pasifik Pty Limited

E. Lopez Jimeno. 1995. Drilling and Blasting of Rock. E Studios Y Proyectos


Mineros, SA: Madison Ave Newyork, NY 10016

Engin, I.C. 2009. A Practical Method Of Bench Blasting Design For Desired
Fragmentation Based ON Digital Image Processing Techniqueand
Kuz-Ram Model. Turkey: Afyon Kocatepe University

146
147

Gokhale, B.V. dkk. 2011. Rotary Drilling and Blasting. India: CRC Press
Balkema

Hardjana, Iip. 2012. The Discovery, Geology, and Exploration of the High
Sulphidation Au-Mineralization System In Bakan District, North
Sulawesi. Majalah Geologi Indonesia Vol. 27 N0. 3 Desember 2012:
143-157

Hastono, Susanto Priyo. 2006. Analisis Data SPSS. Jakarta: Universitas Indonesia

Heald, P. Foley, N.K. and Hayba , D.O. 1987. Comparative Anatomy of Volcanic-
Hosted Epitermal Deposit: Acid Sulfate and Adularia Sericit types.
Econ Geology

Hoa, Pham Van. 2013. Design The Blast In Low Benches and Some Practical
Aplication In Vietnam. Asean Forum On Clean Coal Technology
November 11-13 2013 Thailand

Hustrulid, William. 1999. Blasting Principal For Open Pit Mining. Vol. 1. USA:
Collorado School Of Mines Golden

Kavalieris, I. Van Leeuwen, T.M. and Wilson, M. 1992. Geological Setting and
Style of Mineralisation, North Arm of Sulawesi Indonesia. Journal of
SE Asian Earth Science, 7 (2/3), p. 113-130

Khourzoughi, and Hall Robert. 2016. A study Of Digging Productivity Of an


Electrical Rope Shovel For Different Operator. Canada: Journals
Mineral MDPI Published 25 May 2016

Konya, C.J. dkk. 1991. Rock Blasting and Overbreak Control. Virginia: US
Department Of Transportation

Kuznetsov, V.M. 1973. The Mean Diameter of Fragments Formed by Blasting


Rock J.Min Sci ; 9 pp. 144-148

Lindgren, W. 1993. Mineral Deposit, 4rd ed: Newyork, Mc Graw-Hill p. 930

Morques De Sa JP. 2012. Applied Statistic Using SPSS, Statistica, Matlab, and R.
2nd edition. Springer: Berlin
148

Munawir, dkk. 2015. Analisa Geometri Peledakan terhadap Ukura Fragmentasi


Overburden pada Tambang Batubara PT Pama Persada Nusantara
Jobsite Adaro Kalimantan Selatan. Jurnal Geomine April 2015

Pearson, D.F. and Caira, N.M. 1992. The Geology and Metallogency of Central
North Sulawesi-Indonesia. In PACRIM’99 Congress Australian
Institute of Mining and Metallurgy. 4/99 p. 311-326

Pirajno, F. 1992. Hydrotermal Mineral Deposits, Principles and Fundamental


Concepts for the Exploration Geologist, viii + pp. 709. Berlin

Schmidt, H. 1950. Origin of the “Epitermal”. Economy Geology. 45 p. 191-201

Susanti, Reni dan Cahyadi, Tedi Agung. 2011. Kajian Teknis Operasi Peledakan
untuk Meningkatakan Nilai Perolehan Hasil Peledakan di Tambang
Batubara Kab. Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur.
Seminar Nasional Kebumian 2011

Rochman Hadi. 1992. Alat Berat dan Penggunaannya. Departemen Pekerjaan


Umum YBPPU: Jakarta

Tim IWPL. 1996. Supervisory Teknik Peledakan Diklat Angkatan IV Karimun


Granite Riau: Bandung

Van Leeuwen, T.M., Muhadjo. 2005. Stratigraphic and Tectonic Setting of the
Cretaceous and Paleogene Volcanic-Sedimentary Succession in North
Sulawesi Indonesia: Implication for the Cenezoic Evolution of Western
and Northern Sulawesi. Journal of Asian Earth Science 25, 481-511
149

LAMPIRAN A
PETA-PETA DI LOKASI PENELITIAN

Sumber: Arsip PT JRBM Site Bakan


Gambar 62. Peta Wilayah Penambangan PT J Resources Bolaang Mongondow

149
150

Sumber: Majalah Geologi Indonesia, Vol. 27 No. 3 Desember 2012: 143-157


Gambar 63. Peta Tektonik Dan Terrane Sulawesi Utara (Modified after Wilson and Moss, 1999)
151

Sumber: Majalah Geologi Indonesia, Vol. 27 No. 3 Desember 2012: 143-157


Gambar 64. Geologi Regional Sulawesi Utara dan Lokasi Proyek Bakan
152

Sumber: Majalah Geologi Indonesia, Vol. 27 No. 3 Desember 2012: 143-157


Gambar 65. Lokasi Lubang Bor pada Peta Geologi Distrik Bakan
153

Gambar 66. Blok Pattern Kegiatan Peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow


154

Gambar 67. Tie Up Kegiatan Peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow


155

Gambar 68. Arah Lemparan Batuan (Movement) Kegiatan Peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow
156

Gambar 69. Initiation Contour Peledakan PT J Resources Bolaang Mongondow


157

Tabel 47. Fragmentasi Peledakan Tahun 2016 (Sebelum Penelitian)

Fragmentasi Blasting Rate PF Hours RB Cost RB


Month
<10 10--50 >50 $/BCM Kg/BCM Hours $
Januari 41% 42% 17% 0,56 0,50 389 4.789
Februari 57% 34% 10% 0,67 0,58 466 4.976
Maret 41% 52% 7% 0,74 0,67 558 6.492
April 43% 39% 18% 0,62 0,50 450 4.932
Mei 54% 36% 10% 0,66 0,56 452 5.176
Juni 53% 41% 6% 0,70 0,60 588 8.097
Juli 41% 49% 11% 0,63 0,52 583 7.631
Agustus 39% 55% 6% 0,76 0,66 582 5.058
September 36% 48% 16% 0,70 0,80 220 2.355
Oktober 40% 42% 18% 0,68 0,76 646 4.979
November 52% 43% 7% 0,81 0,80 933 12.397
Desember 54% 33% 13% 0,65 0,53 583 7.631
158

Tabel 48. Biaya Rock Breaker Akibat Reduksi Boulder Peledakan Bulan November 2016
159

Tabel 49. Biaya Rock Breaker Akibat Reduksi Boulder Peledakan Bulan Desember 2016
160

Tabel 50. Data Produktivitas Alat Gali Muat November-Desember 2016


161
162
163
164
165

LAMPIRAN B
FRAGMENTASI PADA BLOK PELEDAKAN

1. Blok Peledakan Pit Durian Barat


A. Dur_695AM
1. Dur_695AM_1

Gambar 70. Fragmentasi Blok Dur_695AM 1

2. Dur_695AM_2

Gambar 71. Fragmentasi Blok Dur_695AM 2


165
166

B. Dur_695AN

1. Dur_695AN_1

Gambar 72. Fragmentasi Blok Dur_695AN 1

2. Dur_695AN_2

Gambar 73. Fragmentasi Blok Dur_695AN 2


167

C. Dur_695AO
1. Dur_695AO_1

Gambar 74. Fragmentasi Blok Dur_695AO 1

2. Dur_695AO_2

Gambar 75. Fragmentasi Blok Dur_695AO 2


168

D. Dur_700BD
1. Dur_700BD_1

Gambar 76. Fragmentasi Blok Dur_700BD 1

2. Dur_700BD_2

Gambar 77. Fragmentasi Blok Dur_700BD 2


169

E. Dur_700BF

1. Dur_700BF_1

Gambar 78. Fragmentasi Blok Dur_700BF 1

2. Dur_700BF_2

Gambar 79. Fragmentasi Blok Dur_700BF 2


170

F. Dur_700BG

1. Dur_700BG_1

Gambar 80. Fragmentasi Blok Dur_700BG 1

2. Dur_700BG_2

Gambar 81. Fragmentasi Blok Dur_700BG 2


171

G. Dur_705BE

1. Dur_705BE_1

Gambar 82. Fragmentasi Blok Dur_705BE 1

2. Dur_705BE_2

Gambar 83. Fragmentasi Blok Dur_705BE 2


172

H. Dur_705BH

1. Dur_705BH 1

Gambar 84. Fragmentasi Blok Dur_705BH 1

2. Dur_705BH_2

Gambar 85. Fragmentasi Blok Dur_705BH 2


173

2. Blok Peledakan Pit South Osela

A. Blok SOS_695C

1. SOS_695C_1

Gambar 86. Fragmentasi Blok SOS_695C 1

2. SOS_695C_2

Gambar 87. Fragmentasi Blok SOS_695C 2


174

B. Blok SOS_700A

1. SOS_700A_1

Gambar 88. Fragmentasi Blok SOS_700A 1

2. SOS_700A_2

Gambar 89. Fragmentasi Blok SOS_700A 2


175

C. Blok SOS_700D

1. SOS_700D_1

Gambar 90. Fragmentasi Blok SOS_700D 1

2. SOS_700D_2

Gambar 91. Fragmentasi Blok SOS_700D 2


176

D. Blok SOS_705E

1. SOS_705E_1

Gambar 92. Fragmentasi Blok SOS_705 E 1

2. SOS_705E_2

Gambar 93. Fragmentasi Blok SOS_705 E 2


177

LAMPIRAN C
DATA PENGAMATAN DI BLOK PELEDAKAN

1. Pit Durian Barat

A. Dur_695AM

Tabel 51. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_695AM


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
1 2.9 3 0 50 5.5 4.5 1 87 4.9 4.3 0.6
2 2.6 1.2 1.4 51 5.4 4.5 0.9 88 5.1 4.9 0
3 2.8 1.8 1 52 5.1 4.5 0.6 89 5.4 4.8 0.6
4 2.8 3 0 53 5 4 1 90 5.8 5.6 0
5 2.8 3 0 54 5.2 4.3 0.9 91 5.9 5.8 0
6 2.7 2 0.7 55 5.2 4.5 0.7 92 5.9 5.7 0
7 2.6 2 0.6 56 5.2 5 0 93 5.8 5.5 0.3
8 2.8 2.5 0.3 57 5.4 5 0.4 94 5.9 5.5 0.4
9 2.9 3 0 58 5.5 5 0.5 95 4.7 4.7 0
10 3 3 0 59 5.6 4.8 0.8 96 4.8 4.8 0
12 2.8 3 0 60 5.5 4.8 0.7 97 4.8 4.8 0
13 2.6 3 0 61 5.5 4.8 0.7 98 5.1 4.9 0
14 2.5 3 0 62 5.4 3.6 1.8 99 5.2 4.8 0.4
19 2.3 2.5 0 63 4.9 4 0.9 100 5.9 5.7 0
20 2.3 3 0 64 4.9 2.2 2.7 101 5.9 5.5 0.4
21 2.3 2.5 0 65 5 4.5 0.5 102 5.9 6 0
22 5 4.9 0 66 5.2 4.8 0.4 103 6 6 0
23 5.1 4.5 0.6 67 5.4 4 1.4 104 6.1 6 0
24 5.1 3 2.1 68 5.6 5 0.6 105 4.8 4.5 0.3
27 5.1 5.1 0 69 5.7 5 0.7 106 4.8 4.5 0.3
28 5.2 4 1.2 70 5.8 5 0.8 108 5 4.8 0
29 5.1 4.5 0.6 71 5.7 5 0.7 109 5.9 4.8 1.1
32 5.5 4.5 1 72 5.7 4.8 0.9 110 6 6.2 0
33 5.6 5 0.6 73 5.6 4 1.6 111 6 6 0
34 5.1 4.8 0.3 74 5.6 4.7 0.9 112 6 5.8 0
35 5.1 4.5 0.6 75 4.7 4.7 0 113 6.1 6 0
36 5.1 4.5 0.6 76 4.9 4.8 0 114 4.8 4 0.8
37 5.2 4.8 0.4 77 5.1 4.8 0.3 115 4.7 3.5 1.2
40 4.3 4.3 0 78 5.2 5 0 116 4.7 2.3 2.4
41 5.7 5 0.7 79 5.6 5 0.6 117 4.9 2 2.9
42 5.5 4.2 1.3 80 5.8 5.5 0.3 118 5.1 4.8 0.3
43 5.1 4.3 0.8 81 5.9 5.2 0.7 119 5.5 4.8 0.7
44 5.1 4.5 0.6 82 5.8 5.5 0.3 120 6 5.7 0.3
45 5.2 4.8 0.4 83 5.7 5.7 0 121 6.1 5.7 0.4
46 5.2 5 0 84 5.5 5.5 0 122 6 5.5 0.5
47 5.3 4.5 0.8 85 4.7 4.5 0 123 4.7 4.7 0

177
178

Tabel 52. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_695AM


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
69 2 2.7 0.7 102 2 2.8 0.8
74 2 2.4 0.4 103 2 1.7 0.3
75 2 2.5 0.5 104 2 1.7 0.3
76 2 2.7 0.7 105 2 2.5 0.5
77 2 2.8 0.8 106 2 2.8 0.8
78 2 2 0 108 2 1.9 0.1
79 2 1.3 0.7 109 2 2 0
80 2 1.7 0.3 110 2 1.6 0.4
81 2 2.4 0.4 111 2 2 0
85 2 2 0 112 2 1.3 0.7
86 2 3.2 1.2 113 2 1.9 0.1
87 2 1.8 0.2 114 2 2.4 0.4
88 2 2.4 0.4 115 2 1.8 0.2
89 2 1.8 0.2 116 2 2.3 0.3
90 2 1.6 0.4 118 2 2.9 0.9
91 2 1.4 0.6 119 2 1.8 0.2
92 2 2.7 0.7 120 2 3.2 1.2
93 2 2.1 0.1 121 2 1.6 0.4
94 2 2.7 0.7 122 2 3.3 1.3
97 2 2.2 0.2 123 2 3.5 1.5
98 2 2.6 0.6 129 2 0.7 1.3
99 2 2.8 0.8 136 2 2.3 0.3

Tabel 53. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_695AM


PC PC Emulsion Emulsion
Hole Plan Actual Plan Actual
(m) (m) Kg/Lubang Kg/Lubang
69 3.7 2.3 39.59 30.00
74 3.6 2.6 38.52 28.88
75 2.7 2.5 28.89 27.81
76 2.9 2.1 31.03 29.95
77 3.1 1.2 33.17 29.95
78 3.2 2.7 34.24 29.95
79 3.6 3.4 38.52 31.02
80 3.8 3.1 40.66 37.44
81 3.9 2.4 41.73 32.09
85 2.7 3 28.89 23.53
86 2.6 1.8 27.82 32.09
87 2.9 3.7 31.03 29.95
88 3.1 2.8 33.17 31.02
89 3.4 3.7 36.38 29.95
90 3.8 4.1 40.66 39.58
91 3.9 4.1 41.73 40.65
92 3.9 1.8 41.73 38.51
93 3.8 2.9 40.66 37.44
94 3.9 1.6 41.73 38.51
97 2.8 2.7 29.96 26.74
179

98 3.1 2.2 33.17 28.88


99 3.2 2.8 34.24 27.81
102 3.9 3 41.73 29.95
103 4 4 42.8 32.09
104 4.1 3.8 43.87 29.95
105 2.8 3 29.96 31.02
106 2.8 1.9 29.96 31.02
108 3 2.9 32.1 40.65
109 3.9 2.8 41.73 38.51
110 4 3.3 42.8 37.44
111 4 2.8 42.8 38.51
112 4 4.4 42.8 26.74
113 4.1 3.6 43.87 28.88
114 2.8 3.6 29.96 27.81
115 2.7 4.2 28.89 29.95
116 2.7 3.7 28.89 33.16
118 2.9 1.6 31.03 12.30
119 3.1 2.7 33.17 33.16
120 3.5 1.6 37.45 39.58
121 4 3.2 42.8 38.51
122 4.1 2.9 43.87 37.44
123 4 2.5 42.8 16.04

Tabel 54. Data Digging Time Dur_695AM


Digging Digging Digging Digging
No Time No Time No Time No Time
(s) (s) (s) (s)
1 11.5 40 8.1 79 7 24 7.8
2 13 41 6.9 80 9 25 6.9
3 8.3 42 9.3 81 10 26 8.5
4 9.1 43 6.9 82 9 27 10.2
5 8.3 44 15.7 83 10 28 9.1
6 7.7 45 10.5 84 9 29 13.6
7 8.3 46 10 85 11 30 9.5
8 8.6 47 9.4 86 12 31 8.7
9 10.8 48 6.8 87 10 32 10.6
10 8 49 11.4 88 7 33 11.5
11 6.9 50 12 89 9 34 10.4
12 7.9 51 10 90 7 35 14.9
13 8 52 11.6 91 11 36 7.1
14 9.2 53 8.7 92 8 37 8.5
15 9.5 54 5.9 93 7 38 6.8
16 9.4 55 8.7 94 9 39 10.5
17 8.8 56 12 95 7 63 11
18 7.3 57 8 96 11 64 8
19 9.4 58 9 97 10 65 7
20 7.1 59 8 98 9 66 8
21 10.4 60 8 99 7 67 8
22 7 61 8 100 11 68 9
23 12.3 62 9 101 12 69 10
180

B. Dur_690AN

Tabel 55. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_695AN


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
1 2.8 1.8 1 48 5.5 5.7 0 84 5.2 5.2 0
2 2.8 2.9 0 49 5.7 6 0.3 85 5.3 5.2 0
3 2.9 3 0 50 6.2 6.4 0 86 5.5 5.2 0.3
4 3.2 3 0 51 6 5.5 0.5 87 5.7 5.1 0.6
5 3.4 3.7 0.3 52 5.8 5.8 0 88 5.9 5.8 0
6 3.5 3.9 0.4 53 5.5 5 0.5 89 6 5.7 0.3
7 3.7 3.8 0 54 5.4 6 0 90 6.2 6.2 0
8 3.7 4 0.3 55 5.4 5.1 0.3 91 6.3 6.5 0
9 3.6 3.6 0 56 5.6 4.8 0.8 92 6.1 6.2 0
10 3.5 3 0.5 57 5.9 5.2 0.7 93 5.7 5.9 0
12 3.3 3.2 0 58 6 5.9 0 94 5.8 6.1 0.3
13 3.2 3.3 0 59 6.4 6.6 0 95 6.1 6.5 0.4
14 3.3 3.2 0 60 6.2 6.3 0 96 6.6 6.6 0
19 3 3.2 0 61 6.4 6.6 0 97 6.7 6.5 0
20 2.8 2.3 0.5 62 6.3 6 0.3 98 6.2 5.3 0.9
21 2.6 2.8 0 63 5.9 5.6 0.3 99 5.7 5.6 0
22 2.7 2.6 0 64 5.8 5.9 0 100 5.4 4.8 0.6
23 2.8 3 0 65 5.6 5.3 0.3 101 5.2 5.2 0
24 2.8 3 0 66 5.3 5 0.3 102 5.2 5.3 0
27 2.9 2 0.9 67 5.3 5 0.3 103 5.3 5.2 0
28 3.1 4.3 1.2 68 5.4 5.3 0 104 5.5 5.1 0.4
29 3.3 3.3 0 69 5.7 5.7 0 105 5.9 3.9 2
32 3.6 3.7 0 70 5.9 6.2 0.3 106 6 5.7 0.3
33 3.7 4 0.3 71 6 5.5 0.5 107 6.1 6.3 0
34 3.8 4 0 72 6.2 6.5 0.3 108 5.9 5.8 0
35 3.8 3.8 0 73 6.4 6.3 0 109 5.7 5.8 0
36 3.8 4 0 74 6.5 6.6 0 110 5.8 6.1 0
37 3.9 4 0 75 6.5 6 0.5 111 6.2 6.5 0
40 3.9 4 0 76 5.6 6 0 112 6.6 6.4 0
41 3.9 4 0 77 5.9 5.2 0.7 113 6.9 6.8 0
42 3.6 3.4 0 78 6.3 2 4.3 114 6.5 6.4 0
43 3.3 3.6 0 79 6.6 5.9 0.7 115 5.9 5.6 0.3
44 6.1 5.7 0.4 80 6.1 5.4 0.7 116 5.6 5.5 0
45 5.7 5.9 0 81 5.6 6.1 0.5 117 5.2 5 0
46 5.7 4.7 1 82 5.6 5.5 0 118 5.1 5 0
47 5.3 5.3 0 83 5.4 5.3 0 119 5.2 4.6 0.6
181

Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)


No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
120 5.4 5.2 0 156 5.4 5.2 0 192 6.3 6.3 0
121 5.6 5.1 0.5 157 5.6 5.1 0.5 193 6.4 6.6 0
122 5.8 5.1 0.7 158 5.8 5.1 0.7 194 6.3 6.3 0
123 6 5.9 0 159 6 5.9 0 195 6 5.8 0
124 6 5.8 0 160 6 5.8 0 196 4.2 3.8 0.4
125 6 5.1 0.9 161 6 5.1 0.9 197 4.6 4.6 0
126 5.7 5.8 0 162 5.7 5.8 0 198 4.8 4.2 0.6
127 6.5 6.2 0.3 163 6.5 6.2 0.3 199 5.1 2.5 2.6
128 6.2 2.5 3.7 164 6.2 2.5 3.7 200 5.4 3.2 2.2
129 6.7 6.6 0 165 6.7 6.6 0 201 5.6 4.8 0.8
130 6.7 6.6 0 166 6.7 6.6 0 202 5.6 3 2.6
131 6.2 5.7 0.5 167 6.2 5.7 0.5 203 5.7 4.5 1.2
132 5.8 6.2 0 168 5.8 6.2 0 204 5.7 5.2 0.5
133 5.5 5.5 0 169 5.5 5.5 0 205 6.4 6.1 0.3
134 5 5 0 170 5 5 0 206 6.3 5.9 0.4
135 5.2 5 0 171 5.2 5 0 207 6.3 5.4 0.9
136 5.4 4.7 0.7 172 5.4 4.7 0.7 208 3.6 2 1.6
137 5.7 5.6 0 173 5.7 5.6 0 209 4 4.8 0
138 5.9 5.7 0 174 5.9 5.7 0 210 4.3 4.6 0
139 6 6.1 0 175 6 6.1 0 211 4.6 5.2 0
140 5.9 6.2 0 176 5.9 6.2 0 212 5.1 1.6 3.5
141 5.7 5.9 0 177 5.7 5.9 0 213 5.4 4.4 1
142 6.5 2.5 4 178 6.5 2.5 4 214 5.5 5.7 0
143 6 6.7 0 179 6 6.7 0 215 5.6 5.9 0
144 6.4 6.6 0 180 6.4 6.6 0 216 6.3 5 1.3
145 6 6.3 0.3 181 6 6.3 0.3 217 6.2 6.2 0
146 6.3 6 0.3 182 6.3 6 0.3 218 4.1 4.8 0
147 4.7 2.7 2 183 4.7 3.7 1 219 4.9 4.2 0.7
148 4.9 5 0 184 4.9 5 0 220 5.6 5.2 0.4
149 5.2 1.3 3.9 185 5.2 1.3 3.9 221 5.6 5.3 0.3
150 5.5 5.2 0.3 186 5.5 5.2 0.3 222 5.5 5.3 0
151 5.6 5.1 0.5 187 5.6 5.1 0.5 223 6.3 6.3 0
152 5.8 5.3 0.5 188 5.8 5.3 0.5 224 6.4 6.6 0
153 5.8 5 0.8 189 5.8 5 0.8 225 6.3 6.3 0
154 5.8 5.6 0 190 5.8 5.6 0 226 6 5.8 0
155 5.7 5.5 0 191 5.7 5.5 0 227 4.2 3.8 0.4

Tabel 56. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_695AN


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
46 2.3 1.4 0.9 94 2.2 2 0.2
49 2.3 2.2 0.1 96 2.3 2 0.3
50 2.3 1.9 0.4 97 2.3 1.9 0.4
51 2.3 1.8 0.5 98 2.3 2 0.3
53 2.3 2 0.3 102 2.3 1.8 0.5
55 2.3 1.5 0.8 100 2.3 1.8 0.5
58 2.3 2 0.3 113 2.3 2 0.3
59 2.3 2 0.3 114 2.3 2 0.3
182

67 2.3 2 0.3 115 2.3 1.9 0.4


68 2.3 1.8 0.5 116 2.3 1.5 0.8
60 2.3 1.9 0.4 118 2.3 2 0.3
66 2.3 2.1 0.2 119 2.3 1 1.3
76 2.1 2.4 0.3 120 2.3 2 0.3
77 2.3 2 0.3 132 2.3 2 0.3
78 2.3 1.5 0.8 136 2.3 1.7 0.6
79 2.3 1.7 0.6 138 2.3 2.1 0.2
80 2.3 2 0.3 149 2.3 2 0.3
81 2.3 2 0.3 152 2.3 1.8 0.5
83 2.3 2 0.3 153 2.3 2 0.3
84 2.3 2 0.3 182 2.3 1.7 0.6
85 2.3 1.6 0.7 183 2.3 2.1 0.2
93 2.2 2.1 0.1

Tabel 57. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_695AN


Panjang Panjang
Jumlah Jumlah
Kolom Kolom
Emulsion Emulsion
Hole Isian Isian
Plan Actual,
Plan Actual
Kg/Lubang Kg/Lubang
(PC),m (PC), m
49 3.4 3.7 36.38 52
50 3.4 2.8 36.38 46
51 3 3.5 32.1 40
53 3.2 3.7 34.24 30
55 3.9 4.9 41.73 30
67 3.6 3.2 38.52 46
68 3.7 4.1 39.59 29
76 3.8 3.2 40.66 22
77 3.5 3.9 37.45 24
78 3.3 3.8 35.31 30
79 3 3.3 32.1 28
80 3 3 32.1 29
81 3.1 3.3 33.17 31
83 3.4 3.7 36.38 29
84 3.6 4.2 38.52 29
85 3.7 3.9 39.59 28
93 4.4 3.8 47.08 26
94 3.9 3.4 41.73 30
96 3.4 3.5 36.38 30
97 3.1 3.4 33.17 27
98 2.9 3.2 31.03 29
102 3.6 4 38.52 29
100 3.2 3.4 34.24 29
113 4.4 4.5 47.08 32
183

Tabel 58. Data Digging Time Dur_695AN


Digging
Diging
No No Time No Digging No Digging
Time (s)
(s) Time (s) Time (s)
1 8 40 6.9 79 7 118 12
2 7.2 41 8.1 80 5 119 9
3 8.3 42 8.3 81 5 120 10
4 11 43 9 82 6 121 7
5 7.5 44 7.7 83 7 122 7
6 5.8 45 7.6 84 9 123 4
7 5.2 46 5.7 85 7 124 9
8 8.8 47 7.9 86 8 125 9
9 5.9 48 7.2 87 7 126 7
10 9.2 49 6.7 88 7 127 5
11 5.2 50 6.1 89 8 128 6
12 12 51 8.5 90 9 129 7
13 12 52 8 91 7 130 7
14 10 53 7 92 9 131 8
15 7.9 54 8 93 9 132 8
16 6.8 55 11 94 11 133 9
17 6.8 56 8 95 8 134 8
18 8.4 57 6 96 10 135 8
19 8.3 58 5 97 12 136 6
20 8.6 59 9 98 6 137 8
21 5.8 60 6 99 7 138 7
22 5.3 61 9 100 9 139 7
23 6 62 5 101 8 140 6
24 8.1 63 12 102 8 141 9
25 6.1 64 12 103 8
26 5.3 65 10 104 7
27 7.2 66 8 105 7
28 6.9 67 7 106 9
29 4.8 68 7 107 8
30 4.6 69 8 108 11
31 5.8 70 8 109 7
32 6.7 71 9 110 8
33 8.8 72 6 111 10
34 6.5 73 5 112 7
35 7.7 74 6 113 7
36 7 75 8 114 7
37 6.7 76 6 115 7
38 7.9 77 5 116 9
39 8.7 78 7 117 10
184

C. Dur_695AO

Tabel 59. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_695AO

Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No No
Plan Act Dev Plan Act Dev Plan Act Dev Plan Act Dev
32 3 3.6 0 160 5.7 5.2 0.5 255 5.5 5.6 0 337 5.8 5 0.8
33 2.9 2.7 0 178 5.8 4.3 1.5 271 5.4 5.2 0 339 5.9 5 0.9
34 2.8 2.7 0 179 5.8 1 4.8 272 5.4 5 0.4 340 5.8 6 0
35 2.9 1.5 1.4 180 5.7 4.7 1 273 5.5 5.7 0 341 5.7 5 0.7
36 2.9 3 0 181 5.5 4.2 1.3 274 5.6 3.9 1.7 342 5.8 5.4 0.4
37 2.9 2.3 0.6 182 5.5 4.4 1.1 275 5.6 5 0.6 344 5.6 5 0.6
38 2.9 2.3 0.6 184 5.7 5.7 0 277 5.7 5.3 0.4 345 5.6 5.6 0
39 2.9 2.4 0.5 185 5.8 5.1 0.7 278 5.8 5.3 0.5 358 5.1 5 0
40 2.9 2.3 0.6 186 5.8 5.1 0.7 279 5.9 5.7 0 359 5.4 4.2 1.2
41 3 2.7 0.3 187 5.7 5.3 0.4 280 5.9 5.7 0 360 5.7 5.5 0
42 3.1 3.2 0 188 5.6 3.8 1.8 281 5.9 5.5 0.4 361 5.7 5 0.7
43 3.1 3.2 0 189 5.8 6 0 282 5.8 6 0 362 5.7 5 0.7
44 3.1 3.4 0 190 5.7 5.8 0 283 5.8 5.6 0 363 5.7 6 0
45 2.9 3.2 0 191 5.7 6 0 284 5.7 6.4 0 364 5.7 5.5 0
46 2.7 3.2 0 209 5.5 4.2 1.3 285 5.6 5.3 0.3 365 5.8 6 0
47 2.7 2.5 0 210 5.5 4.6 0.9 286 5.5 5.7 0 368 5.9 6 0
48 2.8 3.3 0 211 5.7 5 0.7 301 5.4 5 0.4 369 5.9 6 0
51 3 3.4 0 212 5.6 4.8 0.8 302 5.5 5.2 0.3 370 5.9 5.8 0
52 3.1 3.2 0 213 5.6 5.5 0 303 5.6 5 0.6 371 5.7 5.6 0
53 3.1 3.4 0 214 5.7 5.1 0.6 304 5.6 5 0.6 372 5.6 5.9 0
54 2.9 2.8 0 215 5.7 6.2 0 305 5.6 3.8 1.8 373 5.6 5.5 0
55 2.8 3 0 216 5.7 5.8 0 307 5.8 5 0.8 386 5 5 0
93 5.6 4.7 0.9 217 5.8 5.6 0 308 5.7 4.7 1 387 5.4 5 0.4
96 5.5 5.1 0.4 218 5.8 6 0 309 5.8 6 0 388 5.7 5.6 0
109 5.7 5.2 0.5 219 5.8 6 0 310 5.9 5.7 0 389 5.8 2.5 3.3
148 5.6 3.4 2.2 220 5.8 6 0 311 5.8 5 0.8 390 5.8 2.3 3.5
149 5.6 4 1.6 221 5.7 6 0 313 5.8 6 0 392 5.8 5.7 0
150 5.4 4.6 0.8 222 5.6 5.5 0 314 5.7 6 0 393 6.1 6.2 0
151 5.5 5 0.5 223 5.6 4.7 0.9 315 5.6 5.3 0.3 396 5.9 6.2 0
152 5.6 4.3 1.3 224 5.5 5.1 0.4 316 5.6 5 0.6 397 5.8 5 0.8
154 5.7 5.2 0.5 240 5.4 1.3 4.1 330 5.2 4 1.2 398 5.8 6.8 0
155 5.7 5 0.7 241 5.5 4.5 1 332 5.6 5 0.6 399 5.8 5.6 0
156 5.6 5 0.6 244 5.6 5.2 0.4 333 5.6 4.6 1 400 5.6 5 0.6
157 5.4 6 0 252 5.8 5.6 0 334 5.7 5.5 0 401 5.6 5 0.6
158 5.8 5.2 0.6 253 5.7 6 0 335 5.7 6 0 419 5.7 5.5 0
159 5.8 6 0 254 5.5 5.8 0 336 5.7 5.4 0.3 420 5.8 5.2 0.6
185

Tabel 60. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_695AO


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
94 2 1.4 0.6 367 2 1.7 0.3
147 2 2.3 0.3 368 2 1.7 0.3
148 2 1.9 0.1 369 2 2.9 0.9
209 2 2.8 0.8 371 2 2.5 0.5
153 2 1 1 373 2 2.5 0.5
154 2 2 0 374 2 2.4 0.4
186 2 2.4 0.4 340 2 2.7 0.7
178 2 2.5 0.5 395 2 2.3 0.3
211 2 3.9 1.9 396 2 2.7 0.7
216 2 3.1 1.1 401 2 2.1 0.1
218 2 1.1 0.9 403 2 2.2 0.2
219 2 2.2 0.2 428 2 2.4 0.4
220 2 2.5 0.5 427 2 2.5 0.5
250 2 1.5 0.5 424 2 2.2 0.2
251 2 1.7 0.3 425 2 1.6 0.4
249 2 1.6 0.4 427 2 2.5 0.5
244 2 2.5 0.5 428 2 2.4 0.4
248 2 2.1 0.1 435 2 2.7 0.7
245 2 3.2 1.2 439 2 2.5 0.5
316 2 1.9 0.1 481 2 2.7 0.7
317 2 2 0 482 2 1.9 0.1
318 2 0.8 1.2

Tabel 61. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_695AO


Sum
PC PC Emulsion Sum Emulsion
Hole
Plan m Actual m Plan Actual,
Kg/Lubang Kg/Lubang
148 3.6 1.5 38.52 25
209 3.5 1.4 37.45 28
154 3.7 3.2 39.59 32
186 3.8 2.7 40.66 31
178 3.8 1.8 40.66 21
211 3.7 1.1 39.59 30
216 3.7 2.7 39.59 39
218 3.8 4.9 40.66 41
219 3.8 3.8 40.66 41
220 3.8 3.5 40.66 41
316 3.6 3.1 38.52 30
317 3.2 2 34.24 34
318 3.6 4.2 38.52 32
368 3.9 4.3 41.73 41
369 3.9 3.1 41.73 35
371 3.7 3.1 39.59 35
373 3.6 3 38.52 35
374 3 2.6 32.1 30
340 3.8 3.3 40.66 41
186

396 3.9 3.5 41.73 41


401 3.6 2.9 38.52 36
428 3.7 4.1 39.59 32
427 3.7 3.2 39.59 30
425 3.8 3.4 40.66 30
482 3.8 3.4 40.66 35
483 3.5 2.5 37.45 39
512 3.8 2.2 40.66 39
Sum 99.3 80.5 1062.51 924
Ave 3.68 2.98 39.35 34.22
Tot.
Hole 26 26 26 26

Tabel 62. Data Digging Time Dur_695AO


Digging Digging Digging
No No No
Time (s) Time (s) Time (s)
1 5.4 40 7.7 79 6.1
2 4.4 41 8.6 80 5.3
3 5.1 42 5.9 81 11.4
4 5.3 43 6.9 82 20.3
5 6.1 44 5.5 83 6.2
6 7.5 45 5.1 84 5.8
7 7.2 46 6.8 85 10.3
8 6.9 47 5.9 86 9.8
9 6.4 48 6.7 87 7
10 12.4 49 6.2 88 6.4
11 8.5 50 8.4 89 6.9
12 8.9 51 7.2 90 8.1
13 10 52 5.9 91 18.3
14 11.8 53 7.3 92 6.5
15 14.1 54 9.3 93 7.1
16 5.2 55 8.7 94 10
17 4.4 56 6.2 95 6.9
18 8.2 57 8.4 96 10.9
19 14.9 58 7.2 97 8.7
20 6.3 59 5.9 98 25.1
21 5.8 60 7.3 99 21
22 5.5 61 9.3 100 9.8
23 5.3 62 8.7 101 6.5
24 6.5 63 6.2 102 11.2
25 11.5 64 6.8 103 12.8
26 6.8 65 17.4 104 6.4
27 8.8 66 13 105 8.1
28 11.6 67 4.4 106 8.5
29 9.4 68 18.6 107 9.5
30 8.3 69 6.2 108 9
31 8.6 70 6.1 109 8.9
32 7.9 71 5.9 110 8.3
33 6.6 72 5.9 111 8.6
34 5.6 73 8 112 8.2
35 22.1 74 7.4 113 7.9
187

36 5.5 75 10.4 114 14.1


37 7.6 76 8.4 115 7.9
38 9.2 77 12.5 116 7.3
39 8.5 78 10.6 117 8.3

D. Dur_700BD

Tabel 63. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_700BD


Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
228 5.6 6 0 265 5 1 4
229 5.6 5.6 0 266 5 5 0
230 5.5 5 0.5 267 5 5.3 0
231 5.5 5.4 0 268 5 5.3 0
232 5.5 5.3 0 269 5.1 5.2 0
233 5.5 5.2 0.3 270 5.1 4.4 0.7
234 5.5 5.3 0 271 5.1 5 0
235 5.5 5 0.5 272 5.1 1.6 3.5
236 5.4 4.1 1.3 273 5.2 5 0
237 5.4 5 0.4 275 5.2 4.5 0.7
238 5.3 5 0.3 276 5.1 2.9 2.2
239 5.3 5.1 0 277 4.9 5.2 0
240 5.3 5.2 0 278 4.8 5.1 0
241 5.4 5.2 0 279 4.7 4.2 0.5
242 5.4 5.2 0 280 4.8 5 0
243 5.4 5.2 0 281 4.8 5 0
244 5.5 5.2 0.3 282 4.8 5.1 0
245 5.5 5.4 0 283 4.8 4.5 0.3
246 5.5 5.3 0 284 4.9 4.4 0.5
247 5.5 5.2 0.3 285 4.9 4.4 0.5
248 5.5 5 0.5 286 5 4.6 0.4
249 5.5 5.2 0.3 288 5.2 4.8 0.4
250 5.4 4.8 0.6 290 5.2 4.6 0.6
251 5.2 5 0 295 5.3 5.4 0
252 5.1 5.1 0 299 5.4 5.3 0
253 5.2 3.2 2 300 5.7 5.3 0.4
254 5.2 5.1 0 305 5.7 5.2 0.5
255 5.2 5 0 311 5.5 5.3 0
256 5.3 5.2 0 318 5.7 5.1 0.6
257 5.3 5.3 0 325 5.4 4.6 0.8
258 5.4 5 0.4 326 5.6 5 0.6
259 5.4 5 0.4 333 5.3 4.6 0.7
260 5.5 5 0.5 334 5.6 4.3 1.3
261 5.6 5.2 0.4
262 5.4 4.7 0.7
263 5.4 5 0.4
188

Tabel 64. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_700BD


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
175 2 2.4 0.4 229 2 2.1 0.1
176 2 2 0 230 2 2.2 0.2
177 2 2.6 0.6 231 2 2.1 0.1
178 2 0.7 1.3 240 2 1.9 0.1
179 2 2.4 0.4 241 2 2.2 0.2
166 2 2.2 0.2 242 2 1.8 0.2
188 2 2 0 243 2 2.1 0.1
189 2 2 0 244 2 1.9 0.1
190 2 2.1 0.1 252 2 2 0
191 2 2.3 0.3 253 2 0.8 1.2
192 2 2.3 0.3 254 2 1.9 0.1
201 2 2 0 255 2 2.1 0.1
202 2 1.8 0.2 266 2 2 0
203 2 2.1 0.1 267 2 2.1 0.1
205 2 2.7 0.7 268 2 1.9 0.1
214 2 2.1 0.1 269 2 1.4 0.6
215 2 1.4 0.6 277 2 1.9 0.1
216 2 2.4 0.4 278 2 2.1 0.1
217 2 2.4 0.4 279 2 1.5 0.5
218 2 2.1 0.1 280 2 2.1 0.1
227 2 2 0 281 2 0.5 1.5
228 2 2 0

Tabel 65. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_700BD


PC Sum Emulsion Sum Emulsion
Hole PC Actual Plan Actual,
Plan m m Kg/Lubang Kg/Lubang
175 3.7 3.6 39.59 41
176 3.7 3.9 39.59 40
177 3.7 2.4 39.59 35
178 3.6 4.6 38.52 35
179 3.5 2.9 37.45 35
166 3.4 3 36.38 35
188 3.5 3.3 37.45 35
189 3.5 3.3 37.45 35
190 3.5 3.1 37.45 35
191 3.5 2.9 37.45 35
192 3.5 3 37.45 35
201 3.4 3.2 36.38 34
202 3.5 3.4 37.45 35
203 3.5 3.1 37.45 32
205 3.5 2.6 37.45 35
214 3.5 3.2 37.45 35
215 3.5 3.9 37.45 33
216 3.5 2.9 37.45 33
217 3.5 2.6 37.45 33
218 3.4 3.1 36.38 35
189

227 3.5 3 37.45 34


228 3.6 4 38.52 33
229 3.6 3.5 38.52 41
230 3.5 2.8 37.45 36
231 3.5 3.3 37.45 34
240 3.3 3.3 35.31 32
241 3.4 3 36.38 33
242 3.4 3.4 36.38 33
243 3.4 3.1 36.38 33
244 3.5 3.3 37.45 33
252 3.1 3.1 33.17 31
253 3.2 2.4 34.24 32
254 3.2 3.2 34.24 32
255 3.2 2.9 34.24 33
266 3 3 32.1 30
267 3 3.2 32.1 30
268 3 3.4 32.1 33
269 3.1 3.8 33.17 32
277 2.9 3.3 31.03 32
278 2.8 3 29.96 31
279 2.7 2.7 28.89 25

Tabel 66. Data Digging Time Dur_700BD


Digging Digging Digging
No Time No Time No Time
(s) (s) (s)
1 8.8 20 5.9 39 10
2 8.9 21 6.5 40 8.6
3 8.9 22 9.7 41 7.9
4 9.1 23 8.2 42 6.9
5 7.8 24 3.7 43 7.6
6 8.9 25 6.1 44 8.4
7 8.5 26 4.7 45 9.1
8 7.2 27 5.2 46 4.4
9 7.8 28 8.5 47 5.6
10 7.2 29 5 48 10.2
11 7 30 5.7 49 8.9
12 7.9 31 8.2 50 4.3
13 6.9 32 8.5 51 6.7
14 5.1 33 8.5 52 7.3
15 7.8 34 8.2 53 7.9
16 5.7 35 6.7 54 7.2
17 4.5 36 6.9 55 7.9
18 10.3 37 5 56 7.8
190

E. Dur_700BF

Tabel 67. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_700BF

Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No No
Plan Act Dev Plan Act Dev Plan Act Dev Plan Act Dev
1 2.7 2.2 0.5 42 5.7 5.8 0.1 88 5.6 4.8 0.8 139 5.4 5 0.4
2 2.9 2.9 0 43 5.9 5.1 0.8 89 5.6 4.8 0.8 140 5.4 5.1 0.3
3 3.1 3.4 0.3 44 5.9 5.8 0.1 90 5.7 5 0.7 143 5.5 5 0.5
4 3.2 3.5 0.3 45 6 5.6 0.4 91 5.8 5.3 0.5 144 4.7 4.5 0
5 3 3.5 0.5 46 6.1 6 0.1 92 5.8 5.3 0.5 145 5 5 0
6 3 3 0 47 6.1 6 0.1 96 5.3 5 0.3 146 5.5 5 0.5
7 3.3 3.6 0.3 48 6.1 6 0.1 97 4.8 5 0.2 147 5.6 5 0.6
8 3.5 3.6 0.1 49 5.9 5 0.9 100 6.1 6 0.1 148 5.7 5.6 0.1
9 3.6 3.7 0.1 50 5.6 5 0.6 101 6.4 6 0.4 149 5.8 5.6 0
10 3.4 3.6 0.2 51 5.4 5 0.4 102 6.1 6 0.1 154 4 4.5 0.5
11 3.3 3 0.3 52 6.2 6 0 103 5.6 6.6 1 155 4.4 4 0.4
12 3.3 3.2 0.1 53 5.8 6 0.2 104 5.5 5 0.5 156 5 5 0
13 3.5 3 0.5 54 6.5 6.3 0 105 5.6 5 0.6 157 5.3 5.5 0.2
14 3.4 3.2 0 56 5.6 5 0.6 106 5.7 5 0.7 158 5.6 4.9 0.7
15 3.4 3.5 0.1 57 5.8 5 0.8 107 5.8 5.2 0.6 159 5.9 5.6 0.3
16 3.5 3.5 0 60 5.8 5 0.8 108 5.8 5.5 0.3 160 5.8 5.2 0.6
17 3.7 3.3 0.4 61 5.8 5 0.8 109 5.8 5.5 0.3 161 5.7 5.3 0.4
18 3.5 3.3 0 62 5.8 5 0.8 110 5.7 5 0.7 162 5.6 5.1 0.5
19 3.5 3.4 0.1 63 5.7 5 0.7 114 5.7 5 0.7 164 4.3 4.2 0.1
20 3.6 3.4 0 64 5.4 5 0.4 115 5.7 6 0.3 165 4.6 5 0.4
21 3.6 3.4 0 67 5.9 6 0.1 116 6.1 6 0.1 166 4.6 5 0.4
22 3.8 3.5 0.3 68 6.2 5.7 0.5 117 6.4 5 1.4 169 4.1 5 0.9
23 4 3.7 0.3 69 6.5 6.5 0 118 5.6 5 0.6 170 4.6 5 0.4
24 3.9 2.5 1.4 71 5.7 5 0.7 119 5.4 4.8 0.6 171 5 5 0
25 3.8 4 0.2 74 5.6 5 0.6 120 5.3 4.8 0.5 179 5.3 5 0.3
26 3.8 2.7 1.1 75 5.7 5 0.7 121 5.5 5 0.5 180 5.4 4.7 0.7
27 3.9 3 0.9 76 5.8 5 0.8 122 5.7 5.3 0.4 181 5.5 5 0.5
28 3.1 2.5 0.6 77 5.7 5 0.7 123 5.7 5 0.7 182 5.3 5 0.3
29 2.9 2.5 0.4 78 5.5 4.8 0.7 125 5.6 4.8 0.8 183 5.7 5.1 0.6
30 2.8 2 0.8 80 5.2 5 0 126 5.1 5 0.1 184 5.5 5 0.5
31 2.8 2.2 0.6 81 5.5 5 0.5 128 5.5 5 0.5 185 5.6 5 0.6
32 2.7 2 0.7 82 5.7 5.6 0.1 130 5.7 4.8 0.9 186 5.4 5 0.4
33 2.7 2 0.7 83 6 6 0 131 5.2 5 0 187 5.5 5 0.5
34 2.7 2 0.7 84 6.4 6.2 0 133 5.4 5 0.4 188 5.5 5 0.5
35 2.6 2 0.6 85 6.4 6 0.4 134 5.4 5 0.4 189 5.6 5.1 0.5
36 2.7 2 0.7 86 5.7 5 0.7 137 5.7 5.5 0 190 5.5 5 0.5
41 5.8 5.8 0 87 5.6 5 0.6 138 5.6 4.9 0.7 191 5.1 5 0.1
191

Tabel 68. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_700BF


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
16 1.3 1.8 0.5 139 2 2.1 0.1
17 1.3 1.6 0.3 140 2 1.8 0
18 1.3 1.8 0.5 141 2 2 0
19 1.4 1.5 0.1 142 2 2 0
20 1.3 1.5 0.2 143 2 2 0
24 1.3 1.2 0 144 2 1.8 0
25 1.2 1.7 0.5 128 2 1.4 0
26 1.2 2 0.8 132 2 1.8 0
27 1.2 1.6 0.4 133 2 2.1 0.1
40 2 2.1 0.1 149 2 1.5 0
41 2 2.4 0.4 150 2 2.7 0.7
43 2 2.5 0.5 151 2 2.5 0.5
48 2 2.5 0.5 152 2 2.2 0.2
45 2 2 0 154 2 4.8 2.8
54 2 2 0 155 2 2.2 0.2
55 2 2.4 0.4 156 2 2 0
59 2 2.1 0.1 159 2 2.5 0.5
60 2 2.5 0.5 160 2 2.1 0.1
62 2 2 0 163 2 1.6 0
72 2 2 0 164 2 2 0
75 2 2.1 0.1 165 2 2 0
76 2 1 0 166 2 1.1 0
77 2 2 0 167 2 2.5 0.5
85 2 2 0 171 2 2.3 0.3
86 2 2.2 0.2 182 2.3 2.5 0.2
87 2 2 0 192 2.3 2.6 0.3
88 2 2 0 196 2.3 2 0
89 2 2.5 0.5 197 2.3 2.5 0.2
90 2 2.2 0.2 198 2.3 2.6 0.3
91 2 2.1 0.1 199 2.3 2 0
93 2 2 0 200 2.3 2.1 0
94 2 2 0 201 2.3 2.5 0.2
100 2 2 0 202 2.3 2.5 0.2
102 2 2 0 206 2.3 2.5 0.2
104 2 2 0
105 2 2.1 0.1
109 2 2.1 0.1
118 2 2.5 0.5
119 2 2.1 0.1
120 2 2.3 0.3
124 2 2 0
125 2 2.5 0.5
137 2 2.2 0.2
138 2 2.5 0.5
192

Tabel 69. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_700BF


Sum
PC PC Sum Emulsion Emulsion
Hole
Plan Actual Plan Actual
m m Kg/Lubang Kg/Lubang
16 2.2 1.7 23.54 10
17 2.4 1.7 25.68 10
18 2.2 1.5 23.54 10
19 2.1 1.9 22.47 10
20 2.3 1.9 24.61 10
24 2.6 1.3 27.82 10
25 2.6 2.3 27.82 10
26 2.6 0.7 27.82 10
27 2.7 1.4 28.89 10
41 3.8 3.4 40.66 39
43 3.9 2.6 41.73 37
48 4.1 3.5 43.87 41
45 4 3.6 42.8 39
54 4.5 4.3 48.15 44
55 3.6 2.6 38.52 41
60 3.8 2.5 40.66 30
62 3.8 3 40.66 30
75 3.7 2.9 39.59 30
76 3.8 4 40.66 30
77 3.7 3 39.59 35
85 4.4 4 47.08 41
86 3.7 2.8 39.59 50
87 3.6 3 38.52 35
88 3.6 2.8 38.52 28
89 3.6 2.3 38.52 35
90 3.7 2.8 39.59 30
91 3.8 3.2 40.66 33
100 4.1 4 43.87 41
102 4.1 4 43.87 41
104 3.5 3 37.45 34
105 3.6 2.9 38.52 33
109 3.8 3.4 40.66 35
118 3.6 2.5 38.52 30
119 3.4 2.7 36.38 28
120 3.3 2.5 35.31 28
125 3.6 2.3 38.52 28
137 3.7 3.3 39.59 35
138 3.6 2.4 38.52 29
139 3.4 2.9 36.38 30
140 3.4 3.3 36.38 31
141 3.5 3 37.45 30
142 2.7 2.5 28.89 30
193

Tabel 70. Data Digging Time Dur_700BF

Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.


No No No No No No No
Time Time Time Time Time Time Time
1 8 39 8.6 77 9.3 115 8.7 153 7.3 191 8.1 229 8.8
2 11.3 40 10.5 78 9 116 5.5 154 9.7 192 10.5 230 5.3
3 9.6 41 7.8 79 10.2 117 9.5 155 18.5 193 9.3 231 8.1
4 22.1 42 9.3 80 10.8 118 8.9 156 9.2 194 7.1 232 11.1
5 10.5 43 9.7 81 9.2 119 6.5 157 15.4 195 9.9 233 8.5
6 6.6 44 4.1 82 8 120 10.2 158 12.2 196 8.1 234 5.1
7 7.2 45 14.9 83 12.7 121 12.9 159 10.3 197 12.2 235 9.3
8 8.7 46 11.7 84 8.7 122 16.2 160 7 198 6.1 236 9.2
9 9.1 47 9.3 85 7.6 123 6.1 161 8.6 199 16.6 237 8.1
10 7.4 48 8.1 86 7.3 124 5.5 162 10.3 200 10.4 238 12.3
11 7.7 49 10.4 87 8.8 125 10.5 163 6.2 201 13.8 239 4.7
12 8.1 50 13.1 88 8.7 126 12.1 164 8.3 202 11.4 240 9.8
13 8.5 51 12.9 89 8.9 127 8.8 165 10.1 203 15.6 241 15.1
14 12.8 52 10.2 90 10.8 128 9.9 166 7 204 8.9 242 11.3
15 11.4 53 13.3 91 8.9 129 13.7 167 7.2 205 10.6 243 13.7
16 6.4 54 7.4 92 11.4 130 8.5 168 8.3 206 6.7 244 21.9
17 4.1 55 11.6 93 10.4 131 8.5 169 19.4 207 8.3 245 13
18 5.9 56 10.1 94 12.6 132 9.8 170 4.9 208 9.8 246 24.4
19 10.6 57 6.5 95 13.3 133 12.9 171 10 209 11.5 247 6.4
20 9.3 58 10.9 96 14.7 134 7.4 172 7.4 210 14.3 248 5.6
21 8.6 59 12.5 97 9.3 135 7.9 173 7.7 211 11.3 249 5.8
22 7.1 60 15.4 98 11.7 136 8 174 16.2 212 8.9 250 4.5
23 12.3 61 7.5 99 6.2 137 8.9 175 12.2 213 7.4 251 6
24 9.2 62 9.3 100 15.4 138 6.2 176 12.3 214 6.7 252 9.7
25 7.5 63 10.8 101 8.2 139 6.7 177 22.8 215 26.1 253 8.9
26 10.1 64 9.1 102 8.3 140 8.4 178 16.1 216 10.7 254 7
27 10.8 65 12 103 8.7 141 9.3 179 11.4 217 25.5 255 11.8
28 10.8 66 15.6 104 7.8 142 5.4 180 10.8 218 17.5 256 8.4
29 7.9 67 7.8 105 5.2 143 9.3 181 8.9 219 9.9 257 6.3
30 7.3 68 7.7 106 6.9 144 10 182 17.3 220 14.3 258 6.3
31 7.1 69 9.2 107 8.8 145 10.7 183 8.7 221 23 259 10
32 12 70 9.2 108 8.3 146 8.2 184 11.6 222 12 260 5.8
33 12.8 71 7.9 109 10.7 147 5.2 185 7.5 223 15 261 12.7
34 11.1 72 9.6 110 6.6 148 12.6 186 6.4 224 6.4 262 8.6
35 10.8 73 7.5 111 8.9 149 7 187 11.5 225 6.6 263 6.7
36 8.7 74 8.8 112 8.6 150 6.3 188 4.9 226 8.7 264 7
37 10.2 75 15.4 113 9.3 151 8.8 189 7 227 16 265 5.4
38 6.7 76 10.3 114 12.3 152 9.4 190 8.2 228 9.3 266 7.2
194

F. Dur_700BG

Tabel 71. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_700BG


Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
19 4.4 1.5 2.9 164 4.5 3.7 0.8
20 4 4.4 0.4 165 4.8 5 0
21 3.1 3.6 0.5 166 5.3 5 0.3
22 2.6 3.3 0.7 167 5.4 5.2 0
23 2.6 3 0.4 168 3.8 3.5 0.3
24 2.6 3.3 0.7 196 3.6 4 0
26 2.1 2.5 0.4 176 3.5 4 0
28 2.8 1.5 1.3 177 5.6 3.8 1.8
104 5.1 5.4 0.3 178 3.8 4.2 0.4
103 5.3 2 3.3 178 3.8 4.2 0.4
106 5 5 0 179 4.1 4.9 0.8
107 5.1 4 1.1 180 4.7 5 0.3
108 5 5.3 0 181 4.8 5.1 0.3
109 5.1 3.5 1.6 182 5.2 5 0
112 5.2 5.1 0 183 5.5 5 0.5
116 5 5 0 184 5.6 5.1 0.5
117 5.1 5 0 197 4.1 4 0
118 5.2 5 0 198 4.5 4 0.5
128 4.5 3.7 0.8 200 5.2 4 1.2
129 4.1 4 0 201 5.5 5.2 0.3
130 3.9 4 0 202 5.6 5.3 0.3
131 4.3 4.5 0 203 5.6 5 0.6
132 4.6 5 0 204 5.7 5.2 0.5
133 4.9 5.3 0 205 4.1 4 0
134 5.2 3 2.2 207 4.9 4.7 0
142 3.9 3.2 0.7 208 5.1 4 1.1
143 4 3.5 0.5 209 6.3 6 0.3
145 4 4 0 214 5 4.9 0
146 4.1 3.7 0.4 215 5.6 5 0.6
147 4.4 5 0 216 5.6 4.9 0.7
148 4.7 3.5 1.2
149 5 5.1 0
150 5.2 4.7 0.5
158 3.5 3.3 0
160 3.7 3.5 0
161 3.8 5.1 1.2
163 4.2 4.5 0
195

Tabel 72. Data Monitoring Kedalaman Stemming Dur_700BG


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
15 2 2.6 0.6 163 2 3.4 1.4
22 2 2.1 0.1 164 2 1.9 0.1
23 2 2.1 0.1 118 2 0.8 1.2
24 2 2.3 0.3 119 2 2.6 0.6
26 2 1.5 0.5 109 2 1.4 0.6
46 2 1 1 173 1.4 2.5 1.1
47 2 1 1 179 1.5 0.8 0.7
36 2 2.5 0.5 180 2 1 1
104 2.3 2 0.3 190 2 2 0
106 2.3 2 0.3 198 2 1 1
109 2.3 2.5 0.2 200 2 0.5 1.5
114 2.3 2 0.3 205 1.9 1.9 0
116 2.3 2.1 0.2 206 2 2.3 0.3
133 2 2.7 0.7 208 2 0.9 1.1
135 2 2.2 0.2 209 2 2 0
131 2 1.5 0.5 214 2 2.5 0.5
133 2 2.7 0.7 215 2 2 0
145 1.8 3 1.2
146 2 1.3 0.7
156 2.3 1.5 0.8

Tabel 73. Data Pemakaian Bahan Peledak Dur_700BG


Sum Sum
PC
PC Emulsion Emulsion
Hole Actual
Plan m Plan Actual,
m
Kg/Lubang Kg/Lubang
22 0.6 1.2 6.42 10
23 0.6 0.9 6.42 10
24 0.6 1 6.42 10
26 0.1 1 1.07 10
104 2.8 3.4 29.96 31
106 2.7 3 28.89 24
109 2.8 1 29.96 28
116 2.7 2.9 28.89 27
133 2.9 2.6 31.03 30
131 2.3 3 24.61 24
145 2.2 1 23.54 21
146 2.1 2.4 22.47 20
163 2.2 1.1 23.54 20
164 2.5 1.8 26.75 25
118 2.8 4.2 29.96 27
119 3.3 2.4 35.31 19
109 2.8 1 29.96 29
179 2.6 4.1 27.82 30
180 2.7 4 28.89 24
208 3.1 3.1 33.17 41
209 4.3 4 46.01 30
196

214 3 2.4 32.1 32


215 3.6 3 38.52 32
216 3.6 3.9 38.52 33
Sum 58.9 58.4 630.23 587
Ave 2.45 2.43 26.26 24.46
Tot.
Hole 23 23 23 23

Tabel 74. Data Digging Time Dur_700BF


Digging Digging
No No
Time (s) Time (s)
1 10.9 28 7.9
2 9.6 29 8.1
3 7.6 30 6.8
4 7.3 31 9.3
5 5.3 32 9.6
6 6.2 33 11.1
7 8.1 34 11.3
8 8.8 35 6
9 7.8 36 11.6
10 6.4 37 9
11 8.2 38 8.8
12 5.8 39 5.8
13 6.1 40 10.2
14 6.9 41 7.7
15 11.9 42 7.3
16 5.8 43 6.1
17 12 44 10.3
18 9.5 45 7.6
19 8.8 46 5.5
20 9.4 47 8.9
21 8.9 48 8.4
22 12.9 49 6.9
23 7.1 50 7.9
24 5.3 51 10.8
25 9.1 52 9
26 11 53 11.3
27 8.6 54 10.9

G. Dur_705BE

Tabel 75. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_705BE


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
2 2.5 2.5 0 53 5.2 5.6 0.4 101 5 5.7 0.7
3 2.7 2.4 0.3 54 4.5 5 0.5 103 4.9 5.7 0.8
4 3 2.3 0.7 55 4.8 5.1 0.3 106 5.1 5.7 0.6
6 2.2 2.6 0.4 56 5.2 5.2 0 107 5.2 5.8 0.6
7 2.2 2.8 0.6 57 5 5.3 0.3 108 4 5.8 1.8
8 4 2.9 1.1 58 5.1 5.3 0 109 5.2 5.7 0.5
197

9 4 3 1 59 5.1 5.5 0.4 112 4 4 0


10 2.9 3 0 61 4 5.8 0 113 3.1 5.2 2.1
11 2.5 3.1 0.6 63 5 5.6 0.6 114 4 5.3 1.3
12 2.7 3.1 0.4 64 5 5.9 0.9 116 5.8 4.9 0.9
13 2 3.2 1.2 65 5.7 5.7 0 117 5.8 4.6 1.2
14 2.6 3.2 0.6 66 5.8 5.2 0.6 118 5.7 4.6 1.1
15 1 3.1 2.1 67 5 5.2 0 119 3.2 5.8 2.6
16 2.5 3.4 0.9 73 4.5 5.4 0.9 120 5.1 5.3 0
17 2.6 3.1 0.6 75 5.3 5.7 0.4 122 5.9 4.8 1.1
18 2.7 3.1 0.4 77 5 5.7 0.7 123 5.5 4.4 1.1
19 1.4 3 1.6 78 4.8 5.7 0.9 124 5.4 4.3 1.1
21 4.1 3.3 0.8 79 5.3 5.7 0.4 125 5.2 4.1 1.1
23 3.5 2.7 0.8 80 4.8 5.5 0.7 126 5.2 4 1.2
24 4.2 2.9 1.3 81 5.1 5.4 0.3 127 5 3.9 1.1
25 3.9 2.8 1.1 82 5 5.3 0.3 129 5.8 5.5 0.3
26 3.1 2.2 0.9 83 4.8 5.4 0.6 130 6.3 5.2 1.1
27 3.8 2.8 1 84 4.7 5.5 0.8 131 6 4.9 1.1
28 3.9 2 1.9 85 5 5.5 0.5 133 5.7 4.5 1.2
31 3.5 2.2 1.3 86 4.8 5.5 0.7 134 5.2 4 1.2
32 5.2 5.4 0 88 5.1 5.7 0.6 135 4 4.1 0
38 5.1 5.4 0.3 89 5.8 5.8 0 136 5.3 4.1 1.2
41 5.2 5.2 0 90 5 5.8 0.8 137 4.5 3.7 0.8
42 4.9 5.2 0.3 91 5 5.8 0.8 138 5.2 5.3 0
43 5.2 5.3 0 92 5.2 5.7 0.5 139 6 5 1
44 4.6 5.4 0.8 93 4.8 5.7 0.9 141 5.6 4.6 1
45 5.1 5.1 0 94 4.8 5.5 0.7 142 5.8 4 1.8
46 5 5 0 95 4.7 5.4 0.7 143 2 4.1 0
48 5 5 0 96 5.3 5.5 0.2 144 5.1 4.4 0.7
49 4.5 5.1 0.6 97 5.8 5.7 0.1 145 5.7 4.4 1.3
51 5.1 5.4 0.3 98 5 5.8 0.8 146 5.2 3.8 1.4
52 5.3 5.4 0 99 5 5.7 0.7

Tabel 76. Data Digging Time Dur_705BE


Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No No No
Time Time Time Time Time Time
1 8.89 16 17.63 31 10.26 46 9.24 61 18.15 76 7.71
2 8.97 17 13.37 32 9.93 47 9.09 62 6.11 77 10.05
3 6.8 18 3.43 33 11.91 48 7.29 63 15.78 78 13.48
4 9.68 19 8.07 34 6.52 49 4.18 64 9.38 79 11.56
5 9.27 20 5.63 35 7.39 50 10.41 65 7.36 80 7.45
6 8.94 21 7.71 36 8.75 51 9.56 66 14.14 81 10.8
7 6.42 22 11.03 37 13.34 52 14.29 67 6.81 82 5.1
8 9.65 23 20.21 38 10.5 53 9.23 68 8.97 83 3.64
9 8.95 24 11.82 39 7.95 54 9.56 69 3.56 84 6.88
10 6.96 25 7.13 40 6.24 55 6.92 70 6.66 85 5.39
11 8.27 26 9.59 41 10.77 56 12.23 71 15.1
12 15.1 27 12.66 42 12.33 57 7.26 72 6.27
13 16.47 28 13.31 43 9.28 58 6.2 73 9.47
14 7.97 29 7.84 44 6.93 59 9.05 74 8.66
15 12.75 30 10.07 45 6.6 60 7.27 75 9.52
198

H. Dur_705BH

Tabel 77. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak Dur_705BH


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
11 3 2.4 0.6 184 5.8 5.6 0 256 5.8 4.7 1.1
12 3.2 2.3 0.9 185 5.7 5.5 0 257 6 5.5 0.5
13 3.2 2.8 0.4 186 5.6 5.5 0 258 5.9 5.3 0.6
14 3.3 3.3 0 187 5.5 5.6 0 267 5.6 3.3 2.3
15 3.4 3.4 0 195 5.5 5.43 0 268 5.5 5.5 0
16 3.5 3.7 0 196 5.6 5 0.6 269 5.4 5.5 0
18 3.5 3.6 0 197 5.7 5.6 0 270 4.9 4.7 0
19 3.6 3.4 0 198 5.8 5.2 0.6 271 4.4 4.7 0
20 3.7 2.5 1.2 199 5.8 5.6 0 272 4.3 4.3 0
21 3.5 2.9 0.6 200 5.8 5.4 0.4 274 4.8 4.7 0
22 3.1 2.2 0.9 201 5.7 5.5 0 136 5.6 2.6 3
23 3.1 1.8 1.3 209 5.4 5.45 0 138 5.8 5.5 0.3
62 4.3 5.4 0 210 5.5 5.5 0 139 6 6 0
73 5.6 5.4 0 211 5.6 5.2 0.4 140 6.1 5.6 0.5
93 5.6 5.2 0.4 212 5.7 5.2 0.5 141 6.1 6.4 0
109 5.4 5.4 0 213 5.7 5.5 0 142 6 5.4 0.6
122 5.4 5.2 0 214 5.8 5.8 0 143 5.8 4.5 1.3
128 5.5 4.8 0.7 215 5.8 5.9 0 322 6 5.4 0.6
152 5.7 3.1 2.6 216 5.8 5.4 0.4 327 6.1 6.2 0
153 5.8 4.9 0.9 224 5.5 5.4 0 328 6 5.8 0
154 6 6 0 225 5.6 5.3 0.3 329 5.9 5 0.9
155 6.2 5.6 0.6 226 5.6 5 0.6 330 5.8 5.2 0.6
156 6 6.2 0 227 5.7 4.3 1.4 331 5.6 5.2 0.4
157 5.8 6 0 228 5.7 5.1 0.6 286 5.2 4.5 0.7
158 5.6 5 0.6 229 5.7 5.4 0.3 301 5 5 0
165 5.5 3 2.5 230 5.7 5.5 0 284 4.8 4.8 0
166 5.6 4.2 1.4 238 5.5 5.5 0 281 4.9 3.2 1.7
167 5.7 5.4 0.3 239 5.6 5.3 0.3 146 5.2 4.6 0.6
168 5.8 4.8 1 241 5.7 5.3 0.4 160 5.2 3.2 2
169 6 5.7 0.3 242 5.8 4.8 1 188 5.3 5.3 0
170 6 6 0 243 5.8 5.1 0.7 279 5.3 5.2 0
171 5.9 5.1 0.8 244 5.7 5.4 0.3 217 5.5 5.1 0.4
172 5.6 5.5 0 245 5.7 5.3 0.4 263 5.7 4.9 0.8
180 5.5 5.3 0 252 5.5 5.2 0.3 232 5.7 5 0.7
181 5.6 5 0.6 253 5.5 5.2 0.3 218 5.5 5.1 0.4
182 5.7 5.1 0.6 254 5.5 5.3 0 203 5.4 5.2 0
183 5.8 5.3 0.5 255 5.6 5.2 0.4 219 5.6 5.2 0.4
199

Tabel 78. Data Digging Time Dur_705BH


Digging Digging No Digging No Digging
No No Time (s) Time (s)
Time (s) Time (s)
1 8.63 11 4.53 21 9.27 34 8.27
2 12.61 12 11.37 22 8.94 35 15.1
3 11.53 13 6.32 26 9.65 36 7.95
4 8.52 14 5.56 27 8.95 37 6.24
5 6.36 15 3.87 28 6.96 38 10.77
6 5.83 16 14.16 29 8.29 39 12.33
7 4.85 17 8.89 30 15.1 40 9.56
8 4.04 18 8.97 31 16.47 41 6.93
9 4.69 19 6.8 32 7.97 42 6.6
10 6.23 20 9.86 33 12.75 43 7.95

2. Pit South Osela

A. SOS_695A

Tabel 79. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_695A


Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
1 5.6 5.3 0.3 29 5.6 5 0.3
2 5.8 5.9 0.1 30 5.5 6 0
3 5.9 5.2 0.7 32 5.4 5 0.5
4 5.8 5.4 0.4 34 5.4 5 0.1
6 5.7 5.3 0.4 35 5.5 6 0
7 5.9 5.2 0.7 36 5.4 4 1.2
8 5.9 5.8 0.1 37 5.4 5 0.3
9 5.8 5.6 0.2 39 5.4 5 0
11 5.8 5 0.8 42 5.3 4 1
12 5.8 6 0.2 43 5.3 4 1.5
13 5.8 5.6 0.2 45 5.3 5 0
14 5.8 5.2 0.6 46 5.3 5 0.1
15 5.7 5.4 0.3 47 5.3 5 0
16 5.7 4.4 1.3 48 5.3 5 0
17 5.8 6 0.2 50 5.3 5 0.1
18 5.8 4.8 1 51 5.3 5 0
19 5.8 5.2 0.6 52 5.3 5 0
20 5.6 5.2 0.4 53 5.2 5 0
21 5.6 4.8 0.8 54 5.2 5 0.3
22 5.7 5.5 0.2 56 5.2 5 0
23 5.6 4.8 0.8 57 5.2 5 0.2
24 5.6 4.8 0.8 58 5.1 5 0.2
25 5.7 5.3 0.4 59 5.1 5 0.1
26 5.4 5 0.4 61 5.2 6 0.5
27 5.5 5 0.5 62 4.9 2 2.5
28 5.5 4.4 1.1 63 4.9 5 0.4
200

Tabel 80. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_695A


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Actual Deviasi Plan Actual Deviasi
11 2.3 2 0 35 2.3 2 0
13 2.3 2 0 34 2.3 2.7 0.4
14 2.3 2.5 0.2 45 2.3 1.5 0
15 2.3 2.5 0.2 46 2.3 2.5 0.2
17 2.3 2 0 47 2.3 2.5 0.2
18 2.3 2.7 0.4 49 2.3 2 0
30 2.3 2.4 0.1 60 2.3 2.5 0.2
32 2.3 2 0 90 2.8 2 0
45 2.3 2 0 92 2.8 2 0
46 2.3 1.5 0 95 2.8 2.3 0
47 2.3 3 0.7 62 2.8 3 0.2
49 2.3 4 1.7 63 2.8 2 0
48 2.3 2 0 72 2.8 2.5 0
50 2.3 1.9 0 73 2.8 2 0
54 2.3 2 0 76 2.8 3 0.2
51 2.3 2 0 74 2.8 2 0
55 2.3 2 0
56 2.3 2.5 0.2
36 2.3 2 0

Tabel 81. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_695A


Panjang Panjang Jumlah Jumlah
Kolom Kolom Isian Emulsion Emulsion
Hole
Isian Plan Actual Plan Actual,
(PC),m (PC), m Kg/Lubang Kg/Lubang
11 3.5 3 37.45 31
13 3.5 3.6 37.45 34
14 3.5 2.7 37.45 33
15 3.4 2.9 36.38 33
17 3.5 4 37.45 31
18 3.5 2.1 37.45 32
45 3 3.8 32.1 26
46 3 2.9 32.1 28
47 3 2.8 32.1 31
49 3 3.3 32.1 29
48 3 2.9 32.1 26
85 3 3.8 32.1 26
86 3 2.9 32.1 25
87 3 2.8 32.1 22
63 2.1 2.5 22.47 24
Sum 44.9 43.5 480.43 431
Ave 3.13 3.07 33.53 28.73
Tot.
Hole 14 14 14 14
201

Tabel 82. Data Digging Time SOS_695A


Dig. Dig. Dig. Dig.
No Time
No Time
No Time
No Time
1 7.2 31 12.8 61 5.9 91 10.6
2 7 32 10.3 62 5.6 92 5.8
3 5.7 33 9.3 63 11 93 5.8
4 7.9 34 8.2 64 15.1 94 11.2
5 10.2 35 5.6 65 6.2 95 9.6
6 6.1 36 8.2 66 11.7 96 22.3
7 5.3 37 8.1 67 5 97 6.1
8 8.6 38 7.5 68 12 98 8.6
9 7.4 39 12 69 7.8 99 6.5
10 7.5 40 7.8 70 9.2 100 5.4
11 5.7 41 13.9 71 6.8 101 10.2
12 6.9 42 5.8 72 9.8 102 10.3
13 11.2 43 8.3 73 9.7 103 6.1
14 6.1 44 11 74 5 104 4
15 7.9 45 8.5 75 7 105 7.8
16 9.1 46 7.8 76 7.1 106 5.7
17 6.5 47 8.3 77 7.9 107 7.6
18 15.4 48 8.5 78 6.4 108 14.8
19 5.8 49 9.9 79 5.5 109 8.3
20 12 50 10.5 80 8.7 110 7.8
21 9.8 51 6.4 81 8.7 111 7.4
22 7.8 52 5.3 82 6.8 112 8.2
23 8.5 53 11.1 83 6.9 113 14.7
24 7.2 54 5.5 84 7.9 114 6.6
25 6.3 55 15.3 85 8.5 115 7.1
26 10.8 56 6.9 86 7 116 12.1
27 8.8 57 6.2 87 9.6 117 8.6
28 6.7 58 7.5 88 16.7 118 8.4
29 8 59 4.2 89 7.3 119 8.6
30 9.9 60 7.2 90 9.6 120 7

B. SOS_695C

Tabel 83. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_695C


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
7 4,8 4,7 0 42 4,7 2 2,7 79 5,8 5,4 0,4
8 4,8 4,8 0 44 4,7 4,1 0,6 80 5,9 5,3 0,6
11 5,9 5,1 0,8 47 5,1 5,2 0 81 5,6 5,3 0,3
12 5,4 5 0,4 51 5,2 3,7 1,5 82 5,4 5 0,4
13 4,8 3,6 1,2 53 5,7 5,5 0 83 4,7 4,3 0,4
14 4,8 3,2 1,6 54 5,7 6 0,3 86 4,7 3,5 1,2
15 4,8 2,4 2,4 55 5,8 5,8 0 87 4,7 4,3 0,4
16 4,9 4 0,9 56 5,8 5,8 0 88 4,8 4,4 0,4
202

17 4,9 4,8 0 57 5,9 5,3 0,6 89 4,9 4,3 0,6


18 5 5 0 58 5,8 3,2 2,6 90 5 4,7 0,3
21 5,9 6 0 59 5,8 3,2 2,6 91 5 4,1 0,9
22 5,8 5,7 0 60 4,8 4,5 0,3 92 4,9 4,6 0,3
23 5,7 5 0,7 61 4,7 1,8 2,9 93 5,1 4,5 0,6
24 5,3 5,1 0 62 4,6 3,8 0,8 94 5,2 5,3 0
25 4,7 5,2 0 63 4,7 5,6 0 95 5,4 5 0,4
26 4,7 4 0,7 64 4,8 4,8 0 96 5,5 5 0,5
27 4,7 4,2 0,5 65 4,9 4,2 0,7 97 5,5 6,6 0
28 4,8 5 0 66 5 4,5 0,5 98 5,4 5,4 0
29 4,9 4,8 0 67 5 5,2 0 100 5,8 5,4 0,4
30 5 4,8 0 68 5,1 4 1,1 101 5,8 5,5 0,3
31 5,2 5 0 69 5,1 4,6 0,5 102 5,8 1,8 4
32 5,4 4,1 1,3 70 5,1 4,5 0,6 103 5,7 5,2 0,5
33 5,3 5 0,3 71 5,2 4,7 0,5 104 6 5,3 0,7
35 5,8 2,1 3,7 72 5,3 5,4 0 107 4,6 4,2 0,4
36 5,8 5,7 0 73 5,4 5 0,4 109 4,6 4,7 0
37 5,8 5 0,8 74 5,6 6,3 0 110 4,6 5,7 0
38 5,8 5 0,8 75 5,6 6 0 111 4,7 4,5 0
39 5,5 5,2 0,3 76 5,6 6 0 112 4,8 4,4 0,4
40 5,1 5,1 0 77 5,8 5,8 0 113 4,8 4,2 0,6
41 4,7 4,2 0,5 78 5,8 5,2 0,6 114 4,8 4,5 0,3

Tabel 84. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_695C


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
16 2 2,4 0,4 77 2 3 1
27 2 2,4 0,4 78 2 3 1
28 2 2 0 79 2 2,2 0,2
29 2 2 0 81 2 2,2 0,2
13 2 2 0 88 2 2,2 0,2
30 2 1,6 0 80 2 3 1
41 2 1,8 0 89 2 1,2 0
69 2 2,3 0,3 90 2 2,5 0,5
72 2 2,5 0,5 91 2 2 0
75 2 1,5 0 98 2 1,8 0
62 2 1 0 99 2 2,1 0,1
64 2 2 0 100 2 2,5 0,5
69 2 2,3 0,3 110 2 3,2 1,2
72 2 2,5 0,5 111 2 2,1 0,1
75 2 1,5 0 118 2 2,4 0,4
53 2 2,1 0,1 119 2 2,8 0,8
62 2 2 0 54 2 2 0
55 2 1 0 71 2 1,2 0
203

Tabel 85. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_695C


Panjang Jumlah
Panjang Jumlah
Kolom Isian Emulsion
Hole Kolom Isian Emulsion Actual,
Actual (PC), Plan
Plan (PC),m Kg/Lubang
m Kg/Lubang
16 2,9 1,6 31,03 25
27 2,7 1,8 28,89 21
28 2,8 3 29,96 30
29 2,9 2,8 31,03 25
13 2,8 1,6 29,96 25
30 3 3,2 32,1 26
41 2,7 2,4 28,89 21
69 3,1 2,3 33,17 29
72 3,3 2,9 35,31 34
75 3,6 4,5 38,52 44
62 2,6 2,8 27,82 20
64 2,8 2,8 29,96 21
69 3,1 2,3 33,17 29
72 3,3 2,9 35,31 34
75 3,6 4,5 38,52 44
53 3,7 3,4 39,59 35
98 3,4 3,6 36,38 34
99 3,8 3,3 40,66 34
100 3,8 3 40,66 34
110 2,6 2,5 27,82 37
111 2,7 2,4 28,89 25
Jumlah 65,2 59,6 697,64 627
Rata2 3,10 2,84 33,22 29,86
Total
Hole 20 20 20 20

Tabel 86. Data Digging Time SOS_695C


Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No No
Time Time Time Time Time
1 6,4 16 8,4 31 6,5 46 9,2 61 9
2 6,5 17 9 32 7 47 6,7 62 7
3 6,8 18 6,8 33 11,9 48 5,8 63 6
4 11,2 19 9,4 34 7,5 49 11,8 64 12
5 5,1 20 8,1 35 7,5 50 10,9 65 11
6 8,8 21 6,3 36 10,4 51 7,6 66 8
7 6,7 22 7,7 37 8,1 52 8,7 67 9
8 9,4 23 12,4 38 7,2 53 6,8 68 7
9 8 24 8,2 39 7,9 54 7,3 69 7
10 6,1 25 8,1 40 7,8 55 12,4 70 12
11 8,5 26 7,6 41 8,9 56 6,5 71 7
12 6,3 27 9,6 42 7,9 57 11,2 72 11
13 9,8 28 6,5 43 9,2 58 8,7 73 9
14 6,2 29 6,3 44 6,7 59 9,6 74 10
15 7 30 7,4 45 7,5 60 8,8 75 9
204

C. SOS_695E

Tabel 87. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_695E


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
1 3,3 3,8 0,5 41 5,9 5,1 0,8 81 5,2 4 1,2 121 5,4 5,2 0
2 3,3 3,8 0,5 42 6 5 1 82 5,2 3 2,2 122 5,3 5,3 0
3 3,1 4 0,9 43 6 4,4 1,6 83 5,4 2,4 3 123 5,3 3 2,3
4 3,2 3,5 0,3 44 6 5,1 0,9 84 5,5 5,1 0,4 124 5,3 3 2,3
5 3,1 3 0 45 5,9 5,1 0,8 85 5,4 5 0,4 125 5,2 5 0
6 3,2 3 0 46 5,9 5 0,9 86 4,9 4,5 0,4 126 5,4 5 0,4
7 3,1 3,1 0 47 5,9 4,9 1 87 5,9 5,8 0 127 5,4 5 0,4
8 3,2 3 0,2 48 5,7 5 0,7 88 5,8 6 0 128 5,3 5 0,3
9 3,3 3 0,3 49 5,6 4,2 1,4 89 5,7 6 0 129 5,4 5,2 0
10 3,3 2,6 0,7 50 5,6 4,5 1,1 90 5,7 6,1 0,3 130 5,4 5,2 0
11 3,3 2,6 0,7 51 5,5 5,3 0 91 5,7 6,1 0,3 131 5,5 5,2 0,3
12 3,4 2,8 0,6 52 5,4 5,2 0 92 5,8 5,5 0,3 132 6,4 5,1 1,3
13 3,4 2,8 0,6 53 5,3 2 3,3 93 5,9 5,2 0,7 133 6,1 6 0
14 3,4 2,8 0,6 54 5,3 5,1 0 94 5,8 5,1 0,7 134 5,9 5,3 0,6
15 3,3 3 0,3 55 5 4,8 0,3 95 5,7 3 2,7 135 5,8 5,5 0,3
16 5,8 2,5 3,3 56 5,1 5,2 0 96 5,6 4,8 0,8 136 5,6 5,3 0,3
17 5,9 5,2 0,7 57 5 5 0 97 5,4 5,3 0 137 5,6 5 0,6
18 5,9 5,1 0,8 58 5,1 5 0 98 5,3 4,7 0,6 138 5,6 5 0,6
19 6 5,2 0,8 59 5,3 5,1 0 99 5,3 5 0,3 139 5,8 5 0,8
20 6 4,9 1,1 60 5,5 5,1 0,4 100 5,3 2 3,3 140 5,9 6 0
21 6 4,9 1,1 61 5,5 5 0,5 101 5,2 5 0 141 5,9 6 0
22 5,9 4,9 1 62 5,2 5,2 102 5,2 5 0 142 5,8 5 0,8
23 5,9 4,9 1 63 5,9 5 0,9 103 5,3 4,6 0,7 143 5,7 5,6 0
24 5,8 5,2 0,6 64 5,9 6 0 104 5,3 4,6 0,7 144 5,6 5,6 0
25 5,7 5 0,7 65 5,8 6 0 105 5,3 5,2 0 145 5,4 5 0,4
26 5,6 4 1,6 66 5,8 5,3 0,5 106 5,4 5 0,4 146 5,4 5 0,4
27 5,5 5,1 0,4 67 5,9 5,2 0,7 107 5,5 5,1 0,4 147 5,4 5,2 0
28 5,4 5 0,4 68 5,9 5,2 0,7 108 5,5 5,2 0,3 148 5,3 5 0,3
29 5,4 5 0,4 69 5,9 5,9 109 5,2 5 0 149 5,3 5 0,3
30 5,4 5,1 0,3 70 5,9 5,2 0,7 110 5,9 4,5 1,4 150 5,3 5 0,3
31 5,2 5,1 0 71 5,8 5,1 0,7 111 5,8 5 0,8 151 5,3 5,2 0
32 5,1 5 0 72 5,7 5,1 0,6 112 5,7 5 0,7 152 5,3 5 0,3
33 5 5 0 73 5,5 5,1 0,4 113 5,5 5,2 0,3 153 5,3 5,2 0
34 5,1 5,2 0 74 5,4 5 0,4 114 5,7 5,1 0,6 154 5,4 4 1,4
35 5,2 5 0 75 5,4 2 3,4 115 5,8 6 0 155 5,3 5,3 0
36 5,4 5 0,4 76 5,3 5,2 0 116 5,9 5,3 0,6 156 5,6 5 0,6
37 5,5 5 0,5 77 5,2 5 0 117 5,8 6 0 157 5,2 5 0
38 5,4 5,3 0 78 5,2 5,2 0 118 5,7 5 0,7 158 5,8 5 0,8
39 5 5 0 79 5,3 3,6 1,7 119 5,6 5,2 0,4 159 5,7 5 0,7
40 5,8 5 0,8 80 5,2 2,7 2,5 120 5,5 5 0,5 160 5,6 5 0,6
205

Tabel 88. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_695E

Stemming (m) Stemming (m) Stemming (m)


No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
32 1,8 2 0,2 61 1,8 2,1 0,3 105 1,8 1,3 0
33 1,8 2 0,2 76 1,8 2,1 0,3 106 1,8 1,5 0
34 1,8 2,1 0,3 78 1,8 1,8 0 107 1,8 1,5 0
35 1,8 1,8 0 79 1,8 2,1 0,3 121 1,8 2,6 0,8
36 1,8 2 0,2 80 1,8 1 0 122 1,8 2,1 0,3
37 1,8 2 0,2 82 1,8 0,8 0 123 1,8 1,3 0
52 1,8 2 0,2 83 1,8 2,2 0,4 124 1,8 2,2 0,4
53 1,8 0,7 0 84 1,8 1,2 0 126 1,8 2,6 0,8
54 1,8 1,8 0 99 1,8 1,2 0 127 1,8 1,7 0
55 1,8 1,8 0 100 1,8 2,1 0,3 128 1,8 1,7 0
56 1,8 2 0,2 101 1,8 2 0,2 129 1,8 1,3 0
58 1,8 1,5 0 102 1,8 2 0,2 130 1,8 2,6 0,8
59 1,8 1,2 0 103 1,8 1 0 131 1,8 2,4 0,6
60 1,8 2,1 0,3 104 1,8 2 0,2 132 1,8 2 0,2

Tabel 89. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_695E


Panjang Jumlah Jumlah
Panjang
Kolom Isian Emulsion Emulsion
Hole Kolom Isian
Actual (PC), Plan Actual,
Plan (PC),m
m Kg/Lubang Kg/Lubang
32 3,3 3 35,31 30
33 3,2 3 34,24 30
34 3,3 3,1 35,31 30
35 3,4 3,2 36,38 28
36 3,6 3 38,52 32
37 3,7 3 39,59 33
52 3,6 3,2 38,52 32
53 3,5 1,3 37,45 19
54 3,5 3,3 37,45 31
55 3,2 3 34,24 24
56 3,3 3,2 35,31 30
58 3,2 3,5 34,24 30
59 3,3 3,8 35,31 30
60 3,5 3 37,45 31
61 3,7 3 39,59 30
76 3,5 3,1 37,45 30
78 3,4 3,2 36,38 32
79 3,4 3,1 36,38 30
80 3,5 2,6 37,45 32
82 3,4 2,2 36,38 24
83 3,6 0,2 38,52 19
84 3,7 3,9 39,59 28
99 3,5 3,8 37,45 24
100 3,5 -0,1 37,45 16
101 3,4 3 36,38 30
102 3,4 3 36,38 30
206

103 3,5 3,6 37,45 24


104 3,5 2,6 37,45 30
105 3,5 3,9 37,45 30
106 3,6 3,5 38,52 30
107 3,7 3,6 39,59 26
121 3,6 2,6 38,52 32
122 3,5 3,2 37,45 30
123 3,5 1,7 37,45 31
124 3,5 0,8 37,45 33
126 3,4 2,4 36,38 23
127 3,6 3,3 38,52 33
128 3,6 3,3 38,52 24
129 3,5 3,7 37,45 24
130 3,6 2,6 38,52 30
131 3,6 2,8 38,52 30
132 3,7 3,2 39,59 30
Jumlah 146,5 120,4 1567,55 1195
Rata2 3,49 2,87 37,32 28,45
Total
Hole 41 41 41 41

Tabel 90. Data Digging Time SOS_695E


Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No No No
Time Time Time Time Time Time
1 10,6 25 7,3 49 6,3 73 5 97 7 121 7
2 5,1 26 8,8 50 5,5 74 8 98 12 122 8
3 4,7 27 7 51 7,3 75 5 99 6 123 12
4 8,3 28 12 52 8,2 76 7 100 10 124 11
5 5,1 29 5,5 53 12,1 77 4 101 8 125 7
6 6,6 30 10,3 54 23,6 78 7 102 7 126 8
7 3,7 31 8,3 55 6,8 79 6 103 5 127 8
8 7,2 32 6,6 56 7,8 80 6 104 8 128 7
9 5,5 33 5,3 57 7,6 81 5 105 12 129 6
10 6 34 8,3 58 7,3 82 6 106 7 130 11
11 5,3 35 12 59 5,6 83 7 107 9 131 7
12 5,8 36 6,8 60 14,8 84 5 108 7 132 5
13 7,2 37 9,4 61 6,5 85 9 109 8 133 6
14 5,4 38 7 62 5,1 86 6 110 10 134 12
15 9,3 39 7,7 63 5,5 87 9 111 7 135 9
16 6,3 40 9,7 64 11,6 88 11 112 7 136 8
17 16,4 41 6,9 65 8,5 89 11 113 10 137 11
18 16,8 42 6,5 66 5,2 90 8 114 9 138 12
19 10,5 43 9,7 67 10,5 91 7 115 10 139 9
20 7,6 44 8,7 68 13,8 92 8 116 11 140 8
21 6,8 45 9,5 69 5,2 93 8 117 6
22 8,4 46 12,6 70 7,6 94 7 118 7
23 8,4 47 6,4 71 11 95 7 119 6
24 6,5 48 7,3 72 5 96 9 120 6
207

D. SOS_700A

Tabel 91. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_695A


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
11 3 2,4 0,6 185 5,7 5,5 0 258 5,9 5,3 0,6
12 3,2 2,3 0,9 186 5,6 5,5 0 267 5,6 3,3 2,3
13 3,2 2,8 0,4 187 5,5 5,6 0 268 5,5 5,5 0
14 3,3 3,3 0 195 5,5 5,43 0 269 5,4 5,5 0
15 3,4 3,4 0 196 5,6 5 0,6 270 4,9 4,7 0
16 3,5 3,7 0 197 5,7 5,6 0 271 4,4 4,7 0
18 3,5 3,6 0 198 5,8 5,2 0,6 272 4,3 4,3 0
19 3,6 3,4 0 199 5,8 5,6 0 274 4,8 4,7 0
20 3,7 2,5 1,2 200 5,8 5,4 0,4 136 5,6 2,6 3
21 3,5 2,9 0,6 201 5,7 5,5 0 138 5,8 5,5 0,3
22 3,1 2,2 0,9 209 5,4 5,45 0 139 6 6 0
23 3,1 1,8 1,3 210 5,5 5,5 0 140 6,1 5,6 0,5
62 4,3 5,4 0 211 5,6 5,2 0,4 141 6,1 6,4 0
73 5,6 5,4 0 212 5,7 5,2 0,5 142 6 5,4 0,6
93 5,6 5,2 0,4 213 5,7 5,5 0 143 5,8 4,5 1,3
109 5,4 5,4 0 214 5,8 5,8 0 322 6 5,4 0,6
122 5,4 5,2 0 215 5,8 5,9 0 327 6,1 6,2 0
128 5,5 4,8 0,7 216 5,8 5,4 0,4 328 6 5,8 0
152 5,7 3,1 2,6 224 5,5 5,4 0 329 5,9 5 0,9
153 5,8 4,9 0,9 225 5,6 5,3 0,3 330 5,8 5,2 0,6
154 6 6 0 226 5,6 5 0,6 331 5,6 5,2 0,4
155 6,2 5,6 0,6 227 5,7 4,3 1,4 286 5,2 4,5 0,7
156 6 6,2 0 228 5,7 5,1 0,6 301 5 5 0
157 5,8 6 0 229 5,7 5,4 0,3 284 4,8 4,8 0
158 5,6 5 0,6 230 5,7 5,5 0 281 4,9 3,2 1,7
165 5,5 3 2,5 238 5,5 5,5 0 146 5,2 4,6 0,6
166 5,6 4,2 1,4 239 5,6 5,3 0,3 160 5,2 3,2 2
167 5,7 5,4 0,3 241 5,7 5,3 0,4 188 5,3 5,3 0
168 5,8 4,8 1 242 5,8 4,8 1 279 5,3 5,2 0
169 6 5,7 0,3 243 5,8 5,1 0,7 217 5,5 5,1 0,4
170 6 6 0 244 5,7 5,4 0,3 263 5,7 4,9 0,8
171 5,9 5,1 0,8 245 5,7 5,3 0,4 232 5,7 5 0,7
172 5,6 5,5 0 252 5,5 5,2 0,3 218 5,5 5,1 0,4
180 5,5 5,3 0 253 5,5 5,2 0,3 203 5,4 5,2 0
181 5,6 5 0,6 254 5,5 5,3 0 219 5,6 5,2 0,4
182 5,7 5,1 0,6 255 5,6 5,2 0,4 233 5,7 5,2 0,5
183 5,8 5,3 0,5 256 5,8 4,7 1,1 247 5,6 5 0,6
184 5,8 5,6 0 257 6 5,5 0,5 246 5,6 5,1 0,5
208

Tabel 92. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_700A


Stemming (m) Stemming (m) Stemming (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
73 2,3 2,5 0,2 127 2,3 2,5 0,2 178 2,3 1,6 0
74 2,3 2,1 0 128 2,3 1 0 179 2,3 2,8 0,5
75 2,3 2,7 0,4 129 2,3 2,5 0,2 180 2,3 1,8 0
76 2,3 1,4 0 130 2,3 3 0,7 181 2,3 2,8 0,5
77 2,3 1,5 0 131 2,3 2,5 0,2 183 2,3 2,4 0,1
97 2,3 1,7 0 132 2,3 2,8 0,5 184 2,3 2,1 0
98 2,3 1,7 0 147 2,3 2 0 185 2,3 2,5 0,2
99 2,3 2 0 150 2,3 2,8 0,5 186 2,3 2,1 0
100 2,3 2,8 0,5 151 2,3 2,1 0 187 2,3 1,8 0
101 2,3 1,3 0 152 2,3 3 0,7 188 2,3 1,3 0
102 2,3 2,7 0,4 153 2,3 2,1 0 189 2,3 2,3 0
103 2,3 1,9 0 154 2,3 2,2 0 190 2,3 2,5 0,2
104 2,3 2,7 0,4 155 2,3 3,3 1 191 2,3 2,6 0,3
105 2,3 3 0,7 156 2,3 2,4 0,1 192 2,3 2,6 0,3
106 2,3 2,5 0,2 157 2,3 2,5 0,2 194 2,3 2,2 0
122 2,3 2,7 0,4 173 2,3 1,8 0 196 2,3 2,1 0
123 2,3 2,3 0 174 2,3 2,5 0,2 197 2,3 2,4 0,1
124 2,3 2 0 175 2,3 1,3 0 198 2,3 1,1 0
125 2,3 3,1 0,8 176 2,3 2,9 0,6 199 2,3 2,2 0
126 2,3 2,3 0 177 2,3 1,7 0

Tabel 93. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_700A


Panjang
Panjang Jumlah Jumlah Emulsion
Kolom
Hole Kolom Isian Emulsion Plan Actual,
Isian Plan
Actual (PC), m Kg/Lubang Kg/Lubang
(PC),m
73 3,1 3,1 33,17 30
152 0,8 2,7 8,56 27
153 2,6 3,7 27,82 24
154 3,7 3,8 39,59 24
155 3,3 2,9 35,31 24
156 3,9 3,6 41,73 24
157 3,7 3,3 39,59 31
180 3 3,7 32,1 16
181 2,7 2,8 28,89 32
183 2,8 3,3 29,96 22
184 3 3,7 32,1 7
185 3,3 3,3 35,31 17
186 3,2 3,6 34,24 27
187 3,2 3,8 34,24 27
196 2,7 3,5 28,89 29
197 3,3 3,3 35,31 29
198 2,9 4,7 31,03 27
199 3,3 3,6 35,31 29
Jumlah 54,5 62,4 583,15 446
Rata2 3,03 3,47 32,40 24,78
Total Hole 16 16 16 16
209

Tabel 94. Data Digging Time SOS_700A

Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.


No No No No No No No No
Time Time Time Time Time Time Time Time

1 4,85 23 7,23 45 6,24 67 6,62 89 6,71 111 6,8 133 5,39 155 4,61
2 6,77 24 6,93 46 4,95 68 6,52 90 7,94 112 5,29 134 4,86 156 5,24
3 4,89 25 5,47 47 6,95 69 7,25 91 3,97 113 5,5 135 6,55 157 5,22
4 6,53 26 4,59 48 4,99 70 4,3 92 5,05 114 3,85 136 5,41 158 3,54
5 8,99 27 5,37 49 6,95 71 4,57 93 4,98 115 4,83 137 6,34 159 2,77
6 7,07 28 5,95 50 4,99 72 4,71 94 6,15 116 4,43 138 2,09 160 6,05
7 6,11 29 5,11 51 5,97 73 4,68 95 3,68 117 3,86 139 4,99 161 4,27
8 6,5 30 6,41 52 6,94 74 4,24 96 3,83 118 6,62 140 5,42 162 6,23
9 8,23 31 5,81 53 5,41 75 6,22 97 4,99 119 5,07 141 5,36 163 6,02
10 6,34 32 7 54 5,69 76 5,58 98 5,04 120 3,54 142 5,26 164 5,76
11 6,78 33 5,11 55 5,58 77 5,44 99 6,31 121 5,08 143 6,04 165 6,36
12 6,04 34 6,41 56 5,97 78 7,41 100 4,23 122 6 144 5,48 166 7,11
13 6,4 35 5,81 57 3,66 79 6,44 101 6,65 123 4,03 145 6,52 167 6,03
14 8,4 36 7 58 6,44 80 7,5 102 3,92 124 5,95 146 3,74 168 6,69
15 6,32 37 5,11 59 5,83 81 4,65 103 6,3 125 5,44 147 4,85 169 5,53
16 6,64 38 4,22 60 6,18 82 4,37 104 6,13 126 4,32 148 6,11 170 5,14
17 4,19 39 10,4 61 6,3 83 3,29 105 4,86 127 6,08 149 4,21 171 5,84
18 4,7 40 3,83 62 6,46 84 5,45 106 6,43 128 5,35 150 6,41 172 5,19
19 4,66 41 4,84 63 6,02 85 5,71 107 4,95 129 4,13 151 3,7 173 4,87
20 5,22 42 5,42 64 7,98 86 5,49 108 4,21 130 5,6 152 4,3
21 3 43 7,18 65 4,09 87 5,2 109 4,52 131 4,48 153 4,96
22 5,5 44 7,66 66 4,5 88 5,22 110 7,18 132 6,58 154 4,42

E. SOS_700C

Tabel 95. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_700C


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
11 3 2,4 0,6 168 5,8 4,8 1 224 5,5 5,4 0
12 3,2 2,3 0,9 169 6 5,7 0,3 225 5,6 5,3 0,3
13 3,2 2,8 0,4 170 6 6 0 226 5,6 5 0,6
14 3,3 3,3 0 171 5,9 5,1 0,8 227 5,7 4,3 1,4
15 3,4 3,4 0 172 5,6 5,5 0 228 5,7 5,1 0,6
16 3,5 3,7 0 180 5,5 5,3 0 229 5,7 5,4 0,3
18 3,5 3,6 0 181 5,6 5 0,6 230 5,7 5,5 0
19 3,6 3,4 0 182 5,7 5,1 0,6 238 5,5 5,5 0
20 3,7 2,5 1,2 183 5,8 5,3 0,5 239 5,6 5,3 0,3
21 3,5 2,9 0,6 184 5,8 5,6 0 241 5,7 5,3 0,4
22 3,1 2,2 0,9 185 5,7 5,5 0 242 5,8 4,8 1
23 3,1 1,8 1,3 186 5,6 5,5 0 243 5,8 5,1 0,7
62 4,3 5,4 0 187 5,5 5,6 0 244 5,7 5,4 0,3
73 5,6 5,4 0 195 5,5 5,43 0 245 5,7 5,3 0,4
93 5,6 5,2 0,4 196 5,6 5 0,6 252 5,5 5,2 0,3
109 5,4 5,4 0 197 5,7 5,6 0 253 5,5 5,2 0,3
210

122 5,4 5,2 0 198 5,8 5,2 0,6 254 5,5 5,3 0
128 5,5 4,8 0,7 199 5,8 5,6 0 255 5,6 5,2 0,4
152 5,7 3,1 2,6 200 5,8 5,4 0,4 256 5,8 4,7 1,1
153 5,8 4,9 0,9 201 5,7 5,5 0 257 6 5,5 0,5
154 6 6 0 209 5,4 5,45 0 258 5,9 5,3 0,6
155 6,2 5,6 0,6 210 5,5 5,5 0 267 5,6 3,3 2,3
156 6 6,2 0 211 5,6 5,2 0,4 268 5,5 5,5 0
157 5,8 6 0 212 5,7 5,2 0,5 269 5,4 5,5 0
158 5,6 5 0,6 213 5,7 5,5 0 270 4,9 4,7 0
165 5,5 3 2,5 214 5,8 5,8 0 271 4,4 4,7 0
166 5,6 4,2 1,4 215 5,8 5,9 0 272 4,3 4,3 0
167 5,7 5,4 0,3 216 5,8 5,4 0,4 274 4,8 4,7 0

Tabel 96. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_700C


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
109 2,8 2 0,8 182 2,2 2 0,2
122 2,8 2,2 0,6 171 2,8 2,2 0,6
152 2,8 2,7 0,1 187 2,2 2,4 0,2
14 2,8 1 1,8 196 2,8 2,7 0,1
165 2,8 2,1 0,7 197 1,8 2,1 0,3
155 2,8 1,8 1 211 2 2,1 0,1
166 2,8 2,8 0 212 2,8 2,4 0,4
122 2,8 1,2 1,6 213 2,8 2,8 0
20 2,8 0,5 2,3 226 2,8 2,2 0,6
21 2,8 0,7 2,1 230 1,5 1,7 0,2
272 2 2 0 238 1,5 2,8 1,3
275 2 1 1 199 1,3 2,1 0,8
353 2 2,4 0,4 195 2,2 1 1,2
351 2 1,2 0,8 180 2,8 0,9 1,9
306 2 2,3 0,3 181 2,3 0,7 1,6
331 2 2,7 0,7 157 2,8 1,5 1,3
349 2 1,3 0,7 158 2,8 1,3 1,5
227 2 2,6 0,6 172 3,2 1,1 2,1
229 2 2,6 0,6 182 2,2 1,4 0,8
158 2,8 2,6 0,2 195 2,2 1,9 0,3
165 2,8 1,8 1 198 1,8 1,5 0,3
172 2,2 1,3 0,9 165 2,8 0,5 2,3

Tabel 97. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_700C


Panjang Kolom Panjang Jumlah Jumlah
Hole Isian Plan Kolom Isian Emulsion Plan Emulsion Actual,
(PC),m Actual (PC), m Kg/Lubang Kg/Lubang
109 2,6 3,4 27,82 36,38
122 2,6 3 27,82 32,1
152 2,9 0,4 31,03 21
14 0,5 2,3 5,35 24,61
165 2,7 1,2 28,89 12,84
155 3,4 3,8 36,38 40,66
166 2,8 1,4 29,96 14,98
211

20 0,9 2 9,63 25
21 0,7 2,2 7,49 23,54
196 2,8 2,3 29,96 24,61
197 3,9 3,5 41,73 37,45
211 3,6 3,1 38,52 33,17
212 2,9 2,8 31,03 29,96
213 2,9 2,7 31,03 28,89
180 2,7 4,4 28,89 47,08
181 3,3 4,3 35,31 41
157 3 4,5 32,1 48,15
158 2,8 3,7 29,96 39,59
Jumlah 47 51 502,9 561,01
Rata2 2,61 2,83 27,94 31,17
Total
Hole 17 17 17 17

Tabel 98. Data Digging Time SOS_700C


Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No No
Time Time Time Time Time
1 5,2 31 13,1 62 9,4 92 8,54 121 13,41
2 10,8 32 5,7 63 8,54 93 8,9 122 9,26
3 7,1 33 14,1 64 10 94 11,15 123 10,16
4 5,7 34 9,2 65 7,48 95 5,81 124 18,1
5 11,9 35 8,9 66 7,37 96 8,83 125 8,57
6 11,1 36 11,5 67 7,25 97 5,43 126 10,41
7 11,2 37 11,6 68 7,46 98 8,29 127 8,33
8 10,8 38 4,9 69 7,34 99 14,99 128 6,63
9 13,7 39 4,4 70 5,09 100 5,47 129 6,23
10 5 40 6,6 71 7,17 101 8,7 130 9,66
11 6,3 42 4,5 72 5,67 102 8,71 131 5,67
12 9 43 3,4 73 9,87 103 14,55 132 13,28
13 4,4 44 10,4 74 7,13 104 11,65 133 10,98
14 10,3 45 9,7 75 8,13 105 7,55 134 11,15
15 7,6 46 12,2 76 6,35 106 5,02 135 7,89
16 4,4 47 6,6 77 6,9 107 10,22
17 7,4 48 4,8 78 6,73 108 9,9
18 6,6 49 5,6 79 6,95 109 5,32
19 7,1 50 6,5 80 8,83 110 7,3
20 5,6 51 3,9 81 10,49 111 7,56
21 9,5 52 9,04 82 21,46 112 7,29
22 7 53 14,21 83 7,1 113 6,11
23 6,2 54 10,43 84 7,83 114 8,43
24 12,3 55 11 85 7,14 115 6,68
25 11,3 56 9,89 86 5,03 116 6,52
26 6,2 57 10,05 87 6,82 117 10,43
27 4,8 58 8,36 88 5 118 9,27
28 4,4 59 7,94 89 6,03 119 11,85
29 10,8 60 18,52 90 5,41 120 15,88
212

F. SOS_700D

Tabel 99. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_700D

Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)


No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
3 4,9 4,2 0,7 27 5,3 3,3 2 72 5 5 0
4 5 1,2 3,8 28 5,3 5,3 0 73 4,9 4,2 0,7
5 5,1 2,5 2,6 29 5,2 5 0 74 4,8 4,5 0,3
6 5,1 1,7 3,4 34 5,1 5,2 0 86 4,7 4,1 0,6
7 5,1 4,9 0 35 5,2 5,2 0 87 4,8 4,2 0,6
8 5,2 5 0,3 36 5,2 5,2 0 88 4,9 4,8 0
9 5,3 4 1,3 37 5,3 5,3 0 89 4,9 4,9 0
11 5,3 5 0,3 38 5,3 5,3 0 90 4,9 4,8 0
13 5 3,7 1,3 39 5,2 5,2 0 91 4,8 4,7 0
14 5,1 4,3 0,8 40 5,1 4,8 0,3 92 4,9 4,7 0
16 5,2 5 0 56 5,3 5,3 0 93 5 4,6 0,4
17 5,2 4,9 0,3 57 5,4 5,2 0 97 5,1 5 0
18 5,2 3,2 2 58 5,3 5,2 0 98 5 4,8 0
19 5,2 4,7 0,5 59 5,2 5,3 0 101 5 5,2 0
22 4,9 5,1 0 60 5,1 5,2 0 102 5,1 4,8 0,3
23 5 5,1 0 61 5 5,2 0 103 5 4,6 0,4
24 5,2 5,4 0 62 4,8 5 0 104 5 4,5 0,5
25 5,2 5,3 0 70 5,5 5,3 0 105 5,6 5,2 0,4
26 5,2 5,1 0 71 5,3 5,2 0 107 5,1 5,6 0

Tabel 100. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_700D

Stemming (m) Stemming (m) Stemming (m)


No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
3 2 2,2 0,2 26 2 2,4 0,4 72 2 2,5 0,5
5 2 0,7 0 27 2 1,6 0 73 2 2,3 0,3
7 2 2,3 0,3 29 2 2,6 0,6 74 2 2,3 0,3
8 2 2,5 0,5 37 2 1,5 0 87 2 2,3 0,3
9 2 2 0 38 2 1,7 0 88 2 1,5 0
11 2 2,4 0,4 39 2 2,4 0,4 89 2 1,9 0
13 2 2 0 40 2 2,3 0,3 90 2 1,9 0
17 2 1,9 0 57 2 2 0 91 2 1,5 0
19 2 1,9 0 59 2 2,2 0,2 92 2 1 0
22 2 1,7 0 60 2 2 0 97 2 2,8 0,8
23 2 1,3 0 61 2 2,1 0,1 98 2 2,5 0,5
24 2 2 0 62 2 2,1 0,1 101 2 2,7 0,7
25 2 1,5 0 70 2 2,2 0,2 102 2 1,8 0
213

Tabel 101. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_700D


Panjang Panjang Jumlah Jumlah
Kolom Kolom Isian Emulsion Emulsion
Hole
Isian Plan Actual (PC), Plan Actual,
(PC),m m Kg/Lubang Kg/Lubang
7 3,1 2,6 33,17 30
8 3,2 2,5 34,24 31
9 3,3 2 35,31 33
11 3,3 2,6 35,31 31
13 3 1,7 32,1 31
22 2,9 3,4 31,03 31
23 3 3,8 32,1 34
24 3,2 3,4 34,24 33
25 3,2 3,8 34,24 31
26 3,2 2,7 34,24 30
27 3,3 1,7 35,31 30
37 3,3 3,8 35,31 32
38 3,3 3,6 35,31 33
39 3,2 2,8 34,24 32
40 3,1 2,5 33,17 30
0 0 0 0 0
59 3,2 3,1 34,24 33
60 3,1 3,2 33,17 32
61 3 3,1 32,1 30
62 2,8 2,9 29,96 30
72 3 2,5 32,1 30
73 2,9 1,9 31,03 25
74 2,8 2,2 29,96 28
87 2,8 1,9 29,96 25
88 2,9 3,3 31,03 29
89 2,9 3 31,03 29
90 2,9 2,9 31,03 28
91 2,8 3,2 29,96 27
92 2,9 3,7 31,03 27
97 3,1 2,2 33,17 30
98 3 2,3 32,1 26
101 3 2,5 32,1 32
102 3,1 3 33,17 30
103 3 2,7 32,1 30
104 3 2,3 32,1 30
105 3,6 2,7 38,52 35
Jumlah 107,4 97,5 1149,18 1058
Rata2 3,07 2,79 32,83 30,23
Total
Hole 35 35 35 35
214

Tabel 102. Data Digging Time SOS_700D


Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No
Time Time Time Time
1 6,24 26 4,42 51 8,37 77 6,63
2 12,82 27 8,79 52 6,72 78 5,01
3 6,41 28 15,41 53 5,79 79 4,77
4 5,43 29 10,53 54 5,6 80 6,61
5 12,86 30 6,04 55 9,28 81 10,71
6 7,46 31 5,5 56 4,96 82 5,62
7 5,87 32 9,95 57 4,89 83 6,73
8 4,08 33 9,01 58 5,84 84 3,78
9 5,55 34 8,8 59 7,82 85 5,1
10 5,41 35 5,71 60 7,12 86 4,9
11 10,91 36 5,52 61 7,1 87 6,39
12 6,23 37 5,36 62 5,67 88 8,22
13 3,59 38 3,57 63 4,62 89 6,6
14 5,47 39 6,33 64 9,52 90 5,15
15 3,1 40 6,57 65 9,1 91 5,09
16 7,41 41 6,47 66 24,69 92 8,14
17 5,98 42 9,97 67 6,7 93 7,12
18 8,29 43 5,66 68 6,49 94 6,84
19 2,76 44 4,02 69 7,7 95 4,24
20 6,52 45 5,09 71 6,49 96 7,05
21 7 46 4,97 72 7,7 97 9,52
22 8,08 47 5,13 73 9,32 98 9,1
23 4,92 48 7,15 74 5,81
24 5,8 49 15,18 75 5,45
25 4,85 50 3,38 76 9,72

G. SOS_705E

Tabel 103. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_705E


Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
353 6 5,8 0 377 5,9 4,6 1,3 390 6,1 4,5 1,6 403 5,8 5,4 0,4
354 6,5 6,2 0,3 378 6 4,5 1,5 391 6,2 5,2 1 404 5,8 5,3 0,5
355 6,9 5,6 1,3 379 6,1 6,2 0 392 5,6 4,6 1 405 5,8 5 0,8
365 5,9 6,2 0,3 380 6,2 5,9 0,3 393 5,8 5,5 0,3 406 5,8 4,4 1,4
366 6 5,2 0,8 381 6 5,5 0,5 394 5,7 5,1 0,6 407 5,9 5,5 0,4
367 6,2 6,1 0 383 5,4 2,5 2,9 396 5,8 5,7 0 408 6 5,1 0,9
368 7,1 5,9 1,2 384 5,5 4,5 1 397 5,9 4,5 1,4 409 6,2 5,7 0,5
369 5,4 5,3 0 385 5,6 5,7 0 398 5,9 4,8 1,1 410 6,2 5,8 0,4
372 5,2 5,4 0 386 5,7 6,9 1,2 399 6,1 5 1,1
374 5,5 4,4 1,1 387 5,8 5,1 0,7 400 6,2 5,9 0,3
375 5,5 6,3 0,8 387 5,9 3,8 2,1 401 6,3 4,6 1,7
215

Tabel 104. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_705E


Stemming (m) Stemming (m)
No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
405 1,8 1,4 0 387 1,8 2,6 0,8
365 1,8 1 0 415 1,8 2 0,2
366 1,8 1 0 414 1,8 1,2 0
374 1,8 1,6 0 430 1,8 2,8 1
325 1,8 1,5 0 431 1,8 2 0,2
376 1,8 1,8 0 413 1,8 1,7 0
378 1,8 1,6 0 421 1,8 2,1 0,3
389 1,8 1,7 0 403 1,8 1,5 0
396 1,8 1,6 0 412 1,8 1,6 0
376 1,8 1,8 0 413 1,8 1,2 0
395 1,8 2,8 1 404 1,8 1,7 0
396 1,8 1,8 0 403 1,8 1,2 0
397 1,8 2,8 1

Tabel 105. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_705E


Panjang Panjang Jumlah Jumlah
Hole Kolom Isian Kolom Isian Emulsion Plan Emulsion Actual,
Plan (PC),m Actual (PC), m Kg/Lubang Kg/Lubang
365 4,4 4,9 47,08 52,43
366 3,4 5 36,38 53,5
374 2,6 3,9 27,82 41,73
376 4,9 3,8 52,43 40,66
378 2,7 4,4 28,89 47,08
396 3,9 4,2 41,73 44,94
397 2,7 4,1 28,89 43,87
404 3,5 4,1 37,45 43,87
Jumlah 31,3 38,8 334,91 415,16
Rata2 3,48 4,31 37,21 46,13
Total
Hole 9 9 9 9

Tabel 106. Data Digging Time SOS_705E


Dig. Dig. Dig. Dig. Dig.
No No No No No
Time Time Time Time Time
1 9,51 21 11,89 41 5,21 61 5,31 81 8,18
2 8,33 22 8,65 42 6,8 62 7,1 82 15,8
3 6,32 23 10,1 43 6,71 63 3,5 83 4,95
4 3,48 24 9,99 44 5,7 64 6,21 84 6,54
5 10,54 25 7,31 45 19,86 65 8,89 85 6,29
6 17,58 26 6,52 46 7,35 66 5,88 86 5,63
7 11,08 27 6,2 47 12,47 67 7,24 87 7,41
8 7,11 28 10,67 48 6,17 68 4,83 88 7,55
9 17,86 29 5,38 49 8,8 69 5,48 89 8,51
10 15 30 6,27 50 5 70 5,98 90 6,27
11 10,6 31 14,07 51 4,69 71 7,5 91 8,15
12 6,79 32 12,13 52 7,77 72 12,56 92 7,02
13 13,03 33 8,62 53 5,58 73 14,42 93 4,09
14 9,75 34 14,56 54 7 74 6,84 94 4,68
216

15 12,28 35 6,53 55 6,68 75 5,98 95 6,73


16 4,99 36 7,79 56 12,36 76 6,31 96 5,49
17 8,69 37 7 57 11,89 77 6,4 97 17,5
18 8,38 38 6,61 58 8,93 78 7,24 98 7,33
19 11,85 39 8,52 59 13,02 79 6 99 8,39
20 5,21 40 6,37 60 4,19 80 15,09 100 5,06

H. SOS_710H

Tabel 107. Data Monitoring Kedalaman Lubang Ledak SOS_710H


Hole Depth (m) Hole Depth (m)
No No
Plan Act. Dev. Plan Act. Dev.
1 3 2,7 0,3 9 2,3 2,5 0
2 3 2,6 0,4 10 4,8 4,6 0
3 2,2 2,3 0 11 4,2 4,3 0
4 2,5 2,6 0 12 4,2 4,2 0
5 1,5 1,7 0 13 4,2 4,2 0
6 2,2 1,7 0,5 14 4,4 4,4 0
7 2,1 2 0 15 4,6 4,5 0
8 1,9 2,3 0,4 16 4,9 4,6 0,3

Tabel 108. Data Monitoring Kedalaman Stemming SOS_710H


Stemming (m)
No
Plan Act.ual Deviasi
7 2,1 1,9 0
9 1,9 0,4 0
12 1,9 2,2 0,3
13 1,9 1,9 0
15 2,1 1,7 0
11 2 1,4 0
14 2 1,8 0
16 2,1 2 0

Tabel 109. Data Pemakaian Bahan Peledak SOS_710H


Panjang
Jumlah Jumlah
Panjang Kolom
Emulsion Emulsion
Hole Kolom Isian Isian
Plan Actual,
Plan (PC),m Actual
Kg/Lubang Kg/Lubang
(PC), m
9 0,6 1,9 6,42 10
11 2,4 3,8 25,68 13
12 2,3 2 24,61 21
13 2,3 2,3 24,61 21
14 2,3 2,7 24,61 24
15 2,5 3,2 26,75 26
16 2,6 3,1 27,82 29
Jumlah 15 19 160,5 144
217

Tabel 110. Data Digging Time SOS_710H

Dig. Dig. Dig. Dig.


No No No No
Time Time Time Time
1 8,2 22 11 43 8,7 64 7,2
2 6,5 23 6,6 44 13,9 65 9,7
3 7,1 24 5,1 45 15,5 66 8,6
4 6,8 25 8,8 46 13,4 67 7,3
5 12 26 5,1 47 12,2 68 11,6
6 7,7 27 10,6 48 17,8 69 5,7
7 7,2 28 20,8 49 8,5 70 7,1
8 24,5 29 10,8 50 3,2 71 7
9 7,6 30 3,5 51 8,4 72 8,1
10 7,3 31 5,1 52 10,9 73 8
11 8,7 32 22,5 53 7,5 74 9,5
12 8,3 33 17,8 54 8,2 75 11,5
13 7,7 34 9,4 55 8,9 76 8,2
14 15,4 35 6,5 56 12,4 77 11,8
15 7,2 36 22,8 57 7,5 78 6,6
16 14,2 37 9,4 58 9,1 79 17,3
17 14,7 38 5,9 59 6 80 6,6
18 10,5 39 5,3 60 10,7 81 5,9
19 22,1 40 6,3 61 7,7 82 6
20 5,3 41 6,9 62 8,5 83 9
21 10,3 42 12,1 63 5,3

Peta pengambilan data pada setiap kegiatan peledakan di Pit Durian Barat dan
Pit South Osela dapat dilihat pada Gambar 94-107 di bawah ini.
218

1. Pit Durian Barat


a. DUR_690AM

3X4,5 m

Gambar 94. Peta Blok Pattern DUR_690AM


219

b. DUR_695AN

3X4,5 m

Gambar 95. Peta Blok Pattern DUR_695AN


220

c. DUR_695AO

3X4,5 m

Gambar 102. Peta Blok Pattern DUR_695AO


221

d. DUR_700BC

3X4,5 m

Gambar 97. Peta Blok Pattern DUR_700BC


222

e. DUR_700BD

3X4,5 m

Gambar 98. Peta Blok Pattern DUR_700BD


223

f. DUR_700BF

3X4,5 m

Gambar 99. Peta Blok Pattern DUR_700BF


224

g. DUR_700BG

3X4,5 m

Gambar 100. Peta Blok Pattern DUR_700BG


225

2. Pit South Osela


a. SOS_695A

3X4 m

Gambar 101. Peta Blok Pattern SOS_695A


226

b. SOS_695C

3X4 m

Gambar 102. Peta Blok Pattern SOS_695C


227

c. SOS_695E

3X4 m

Gambar 103. Peta Blok Pattern SOS_695E


228

d. SOS_700C

3X4 m

Gambar 104. Peta Blok Pattern SOS_700C


229

e. SOS_700D

3X4 m

Gambar 105. Peta Blok Pattern SOS_700D


230

f. SOS_705E

3X4X0,2 m

Gambar 106. Peta Blok Pattern SOS_705E


231

g. SOS_710H

Gambar 107. Peta Blok Pattern SOS_710H


232

LAMPIRAN D
PEMODELAN MULTIVARIATE DENGAN
ANALISIS REGRESI LINIER BERGANDA

1. Hubungan PF, % Deviasi Collapse Kedalaman Lubang Ledak, % Deviasi


Collapse Stemming dengan Fragmentasi Boulder Peledakan Aktual

a. Pit Durian Barat

Tabel 111. Uji Korelasi Hubungan PF, % Collapse Kedalaman Lubang Ledak,
% Collapse Stemming terhadap Fragmentasi Boulder Aktual di Pit
Durian Barat

Hasil dari analisis bivariate dengan korelasi didapatkan nilai pvalue untuk

variabel PF (p=0,048), collapse kedalaman lubang ledak (p=0,121), collapse

stemming (p=0,052). Dari hasil di atas dapat disimpulkan semua variabel

independen memenuhi persyaratan nilai pvalue < 0,25, sehingga dapat dilanjutkan

ke permodelan multivariate.

232
233

Tabel 112. Pemodelan Multivariate Hubungan PF, % Collapse Kedalaman


Lubang Ledak, % Collapse Stemming terhadap Fragmentasi
Boulder Aktual di Pit Durian Barat

Dari kotak model summary didapatkan nilai R square sebesar 0,82, artinya ketiga

variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 82%

sedangkan 18% lainnya dijelaskan oleh variabel lain. Dari uji statistik pada kotak

anova nilai pvalue = 0,122 berarti persamaan garis regresi secara keseluruhan

belum signifikan. Serta pada kotak coefficient terdapat nilai pvalue > 0,05 pada

seluruh variabel independen.


234

1) Pit South Osela

Tabel 113. Uji Korelasi Hubungan PF, % Collapse Kedalaman Lubang Ledak,
% Collapse Stemming terhadap Fragmentasi Boulder Aktual di Pit
South Osela

Hasil dari analisis bivariate dengan korelasi didapatkan nilai pvalue untuk

variabel PF (p=0,144), collapse kedalaman lubang ledak (p=0,392), collapse

stemming (p=0,520). Dari hasil di atas dapat disimpulkan hanya variabel PF dan

collapse kedalaman lubang ledak yang memenuhi persyaratan nilai pvalue < 0,25,

sementara variabel collapse stemming tidak memenuhi persyaratan, namun karena

variabel ini secara substansi penting untuk dimasukkan maka dapat dilanjutkan ke

pemodelan multivariate.
235

Tabel 114. Pemodelan Multivariate Hubungan PF, % Collapse Kedalaman


Lubang Ledak, % Collapse Stemming terhadap Fragmentasi Boulder
Aktual di Pit South Osela

Dari kotak model summary didapatkan nilai R square sebesar 0,813, artinya

ketiga variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 81,30 %

sedangkan 18,70 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain. Dari uji statistik pada

kotak anova nilai pvalue = 0,189 berarti persamaan garis regresi secara

keseluruhan belum signifikan. Serta pada kotak coefficient terdapat nilai pvalue >

0,05 pada seluruh variabel independen.


236

2. Hubungan Fragmentasi Boulder, Digging Time, Cycle Time, Digging Rate


terhadap Produktivitas Alat Gali Muat

a. Pit Durian Barat

Tabel 115. Uji Korelasi Hubungan Fragmentasi Boulder Aktual, Digging Time,
Cycle Time, Digging Rate, dan Produktifitas Alat Gali Muat di Pit
Durian Barat

Hasil dari analisis bivariate dengan korelasi didapatkan nilai pvalue untuk

variabel fragmentasi menurut Cunningham dengan delay 17 ms (p=0,834),

digging time (p=0,016), cycle time (p=0,004), dan digging rate (p=0,003). Dari

hasil di atas dapat disimpulkan semua variabel independen memenuhi persyaratan

nilai pvalue < 0,25 selain nilai pvalue pada fragmentasi. Namun karena variabel

fragmentasi merupakan substansi yang penting maka dapat dilanjutkan pada

pemodelan multivariate.
237

Tabel 116. Pemodelan Multivariate Hubungan Fragmentasi Boulder Aktual,


Digging Time, Cycle Time, Digging Rate, dan Produktivitas Alat Gali
Muat di Pit Durian Barat

Dari kotak model summary didapatkan nilai R square sebesar 0,992, artinya

keempat variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 99,20

% sedangkan 0,80 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain. Dari uji statistik pada

kotak anova nilai pvalue = 0,001 berarti persamaan garis regresi secara

keseluruhan sudah signifikan. Namun pada kotak coefficient terdapat nilai pvalue

> 0,05 pada seluruh variabel independen.


238

1) Pit South Osela

Tabel 117. Uji Korelasi Hubungan Fragmentasi Boulder Aktual dengan Split
Dekstop, Digging Time, Cycle Time, Digging Rate, dan Produktifitas
Alat Gali Muat di Pit South Osela

Hasil dari analisis bivariate dengan korelasi didapatkan nilai pvalue untuk

variabel fragmentasi menurut Cunningham dengan delay 17 ms (p=0,868),

digging time (p=0,196), cycle time (p=0,015), dan digging rate (p=0,012). Dari

hasil di atas dapat disimpulkan semua variabel independen memenuhi persyaratan

nilai pvalue < 0,25 selain nilai pvalue pada fragmentasi. Namun karena variabel

fragmentasi merupakan substansi yang penting maka dapat dilanjutkan pada

pemodelan multivariate.
239

Tabel 118. Pemodelan Multivariate Hubungan Fragmentasi Boulder Aktual,


Digging Time, Cycle Time, Digging Rate, dan Produktivitas Alat Gali
Muat di Pit South Osela

Dari kotak model summary didapatkan nilai R square sebesar 0,984, artinya

keempat variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen sebesar 98,40

% sedangkan 1,60 % lainnya dijelaskan oleh variabel lain. Dari uji statistik pada

kotak anova nilai pvalue = 0,013 berarti persamaan garis regresi secara

keseluruhan sudah signifikan. Namun pada kotak coefficient terdapat nilai pvalue

> 0,05 pada seluruh variabel independen.


240

LAMPIRAN E
PERHITUNGAN GEOMETRI PELEDAKAN

Berikut beberapa data pendukung untuk melakukan perhitungan geometri


peledakan menurut R.L. Ash dan C.J. Konya (Tabel 119)

Tabel 119. Data Pendukung Perhitungan Geometri Peledakan

Pit
No Data Pendukung
Durian Barat South Osela
Density Batuan Standar
1 160 160
Density Batuan Yang Diledakkan
2 137 135
Spesific Gravity Batuan Yang Diledakkan
3 2,19 2,16
Spesific Gravity Bahan Peledak Yang Digunakan
4 1,15 1,15
Spesific Gravity Bahan Peledak Standar
5 1,2 1,2
VOD Bahan Peledak Yang Digunakan
6 15420 15420
VOD Bahan Peledak Standar
7 12000 12000
Diameter Lubang Ledak
8 4 4
Spacing Ratio
9 1,000 1,000
Stemming Ratio
10 0,70 0,70
Subdrilling Ratio
11 0,20 0,20
Hole Depth Ratio
12 1,50 1,50
Faktor Koreksi Terhadap Struktur Geologi Batuan (Kd)
13 1 1
Faktor Koreksi Berdasarkan Orientasi Perlapisan (Ks)
14 0,95 1
Faktor Koreksi Berdasarkan Jumlah Baris Peledakan (Kr)
15 0,9 0,9
Tinggi Jenjang
16 5 5
Adjusment Factor 1 (Af 1)
17 1,05 1,06
Adjusment Factor 2 (Af 2)
18 1,16 1,16
Faktor Batuan (A)
19 4,21 4,18
Standar Deviasi Pemboran (W)
20 0,2 0,2

A. Teori R.L. Ash

1. Pit Durian Barat

a. Burden
1/3
𝐷
Af1 = ( 𝑠𝑡𝑑 )
𝐷
1601/3
Af1 = = 1,05
137

240
241

1/3
2
𝑆𝐺 𝑥 𝑉𝑒
Af2 =( 2)
𝑆𝐺𝑠𝑡𝑑 𝑥 𝑉𝑒𝑠𝑡𝑑

2 1/3
2,19 𝑥 15.420
Af2 =( ) = 1,16
1,2 𝑥 12.000

Kbkoreksi = 30 x Af1 x Af1 = 30 x 1,05 x 1,16 = 36,54

𝐾𝑏𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑥 𝐷𝑒
B =
39,3

36,54 𝑥 4
B = = 3,7 m
39,3
b. Spasi
S = Ks x B
S = 1 x 3,7 = 3,7 m
c. Stemming
T = Kt x B
T = 0,7 x 3,7 = 2,6 m
d. Subdrilling
J = Kj x B
J = 0,2 x 3,7 = 0,7 m
e. Kedalaman Lubang Ledak
H = Kh x B
H = 1,5 x 3,7 = 5,6 m
f. Panjang Kolom Isian
PC =H–T
PC = 5,6 – 2,6 =3m
g. Konsentrasi Isian
de = 0,508 De2: (SG)
de = 0,508. 42 : (1,15) = 7,07 Kg/m
h. Jumlah Bahan Peledak
E = de x PC
E = 7,07 x 3 = 21,21 Kg/Lubang
242

i. Powder Factor
𝐸
PF =
𝑉
21,21
PF = = 0,3 Kg/m3
72,52
2. Pit South Osela
a. Burden

𝐷𝑠𝑡𝑑 1/3
=(
Af1
𝐷 )

1601/3
Af1 = = 1,06
135
1/3
2
𝑆𝐺 𝑥 𝑉𝑒
Af2 =( 2)
𝑆𝐺𝑠𝑡𝑑 𝑥 𝑉𝑒𝑠𝑡𝑑
2 1/3
2,16 𝑥 15.420
Af2 =( ) = 1,16
1,2 𝑥 12.000
Kbkoreksi = 30 x Af1 x Af1 = 30 x 1,06 x 1,16 = 36,88
𝐾𝑏𝑡𝑒𝑟𝑘𝑜𝑟𝑒𝑘𝑠𝑖 𝑥 𝐷𝑒
B =
39,3
36,88 𝑥 4
B = = 3,8 m
39,3
b. Spasi
S = Ks x B
S = 1 x 3,8 = 3,8 m
c. Stemming
T = Kt x B

T = 0,7 x 3,8 = 2,7 m

d. Subdrilling

J = Kj x B

J = 0,2 x 3,8 = 0,8 m


243

e. Kedalaman Lubang Ledak

H = Kh x B

H = 1,5 x 3,8 = 5,7 m

f. Panjang Kolom Isian

PC =H–T

PC = 5,7 – 2,7 =3m

g. Konsentrasi Isian

de = 0,508 De2: (SG)

de = 0,508. 42 : (1,15) = 7,07 Kg/m

h. Jumlah Bahan Peledak

E = de x PC

E = 7,07 x 3 = 21,21 Kg/Lubang

i. Powder Factor

𝐸
PF =
𝑉

21,21
PF = = 0,29 Kg/m3
77,98

B. C.J. Konya
1. Pit Durian Barat
a. Burden
SG𝑒 0,33
B1 = 3,15 De ( )
𝑆𝐺𝑟

1,15 0,33
B1 = 3,15. 4 ( ) = 3,106 m
2,19

B2 = Kd x Ks x Kr x B1
B2 = 1 x 0,95 x 0,9 x 3,106 = 2,7 m
244

b. Spasi
S = ( H + 7B ) / 8
S = ( 5 + 7. 2,7 ) / 8 =3m
c. Stemming
T = 0,7 x B
T = 0,7 x 2,7 = 1,9 m
d. Subdrilling
J = 0,3 x B
J = 0,3 x 2,7 = 0,8 m
e. Kedalaman Lubang Ledak
H = L+ J
H = 5 + 0,8 = 5,8 m
f. Panjang Kolom Isian
PC = H – T
PC = 5,8 – 1,9 = 3,9 m
g. Konsentrasi Isian

de = 0,508 De2: (SG)

de = 0,508. 42 : (1,15) = 7,07 Kg/m

h. Jumlah Bahan Peledak

E = de x PC

E = 7,07 x 3,9 = 27,57 Kg/Lubang

i. Powder Factor

𝐸
PF =
𝑉

27,57
PF = = 0,54 Kg/m3
46,98
245

2. Pit South Osela


a. Burden

SG𝑒 0,33
B1 = 3,15 De ( )
𝑆𝐺𝑟

1,15 0,33
B1 = 3,15. 4 ( ) = 3,12 m
2,16

B2 = Kd x Ks x Kr x B1
B2 = 1 x 1 x 0,9 x 3,12 = 2,8 m

b. Spasi
S = ( H + 7B ) / 8
S = ( 5 + 7. 2,8 ) / 8 = 3,1 m

c. Stemming
T = 0,7 x B
T = 0,7 x 2,8 =2m

d. Subdrilling
J = 0,3 x B
J = 0,3 x 2,8 = 0,8 m

e. Kedalaman Lubang Ledak


H = L+ J
H = 5 + 0,8 = 5,8 m

f. Panjang Kolom Isian


PC = H – T
PC = 5,8 – 2 = 3,8 m

g. Konsentrasi Isian
de = 0,508 De2: (SG)
de = 0,508. 42 : (1,15) = 7,07 Kg/m
246

h. Jumlah Bahan Peledak


E = de x PC

E = 7,07 x 3,8 = 26,87 Kg/Lubang

i. Powder Factor
𝐸
PF =
𝑉
26,87
PF = = 0,53 Kg/m3
50,34