Anda di halaman 1dari 16

Mata Kuliah : KIA-KB

Semester : V (Lima)
Kelas :
Fakultas : Kesehatan Masyarakat
Program Studi : Kesehatan Masyarakat
Pertemuan Ke-5 :
Kesehatan Reproduksi Ibu
1. Konsep dan Ruang Lingkup
Kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global, ICPD
(International Converence on Population and Development) di Kairo Mesir
tahun 1994 sekitar 180 negara berpartisipasi dalam konverensi tersebut. Dari
konverensi tersebut maka dihasilkan kesepakatan: perubahan paradigma dalam
pengelolaan masalah kependudukan dan pembangunan dari pendekatan
pengendalian populasi dan penurunan fertilitas keluarga berencana menjadi
pendekatan yang berfokus pada kesehatan reproduksi serta hak reproduksi.
Perkembangan program kesehatan reproduksi di Indonesia loka karya
nasional kesehatan reproduksi pada bulan Mei 1996 di Jakarta. Kesehatan
reproduksi dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan sejahtera fisik, mental
dan social secara utuh tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan
dalam semua hal yang berkaitan dengan system reproduksi, serta fungsi dan
prosesnya.
Ruang lingkup kesehatan reproduksi secara luas adalah sebagai berikut :
o Kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
o Keluarga berencana.
o Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR), termasuk

PMS — HIV/AIDS.

o Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi.


o Kesehatan reproduksi remaja.
o Pencegahan dan penanganan infertilitas.
o Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis.
o Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain misalnya kanker serviks, mutilasi
genetalia, fistula dll.
Dalam penerapannya terdapat beberapa komponen kesehatan reproduksi
yang masih menjadi masalah di Indonesia, Pelayanan Kesehatan Reproduksi
Esensial (PKRE) yaitu :
o Kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
o Keluarga berencana.
o Kesehatan reproduksi remaja.
o Pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran reproduksi (ISR), termasuk

PMS — HIV/AIDS.

o Paket pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif (PKRK) ditambah


kesehatan reproduksi usia lanjut.
2. Tujuan
o Meningkatnya kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi
reproduksinya.
o Meningkatnya hak dan tanggung jawab sosial wanita dalam menentukan
kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan.
o Meningkatnya peran dan tanggung jawab sosial pria terhadap akibat dari
perilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan
pasangan dan anak-anaknya.
o Dukungan yang menunjang wanita untuk membuat keputusan yang
berkaitan dengan proses reproduksi, berupa pengadaan informasi dan
pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan untuk mencapai kesehatan
reproduksi secara optimal.
3. Hak-hak Reproduksi

Hak reproduksi perorangan dapat diartikan bahwa “setiap orang baik

laki-laki maupun perempuan (tanpa memandang perbedaan kelas sosial, suku,


umur, agama dll) mempunyai hak yang sama untuk memutuskan secara bebas
dan bertanggung jawab (kepada diri, keluarga dan masyarakat) mengenai
jumlah anak, jarak antar anak, serta untuk menentukan waktu kelahiran anak
dan dimana akan melahirkan”.
Jadi, hak reproduksi dapat dijabarkan secara praktis antara lain
sebagai berikut :
o Setiap orang berhak memperoleh standard pelayanan kesehatan
reproduksi yang terbaik.
o Perempuan dan laki-laki berhak memperoleh informasi lengkap tentang
seksualitas, kesehatan reproduksi, manfaat dan efek samping obat-
obatan dan tindakan medis.
o Untuk memperoleh pelayanan KB yang amandan efektif terjangkau,
dapat diterima sesuai dengan pilihan, tanpa paksaan, dan tidak melawan
hukum.
o Perempuan berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan,
yang memungkinkan sehat dan selamat menjalani kehamilan dan
persalinan serta memperoleh bayi yang sehat.
o Hubungan suami istri didasari penghargaan terhadap pasangan masing-
masing dan dilakukan dalam situasi dan kondisi yang diinginkan
bersama.
o Para remaja, laki-laki maupun perempuan, berhak memperoleh
informasi yang tepat dan benar tentang reproduksi remaja, sehingga
dapat berperilaku sehat dan menjalani kehidupan seksual.
o Laki-laki dan perempuan berhak mendapatkan informasi yang mudah
diperoleh dan akurat mengenai PMS termasuk HIV/AIDS.
Pertemuan Ke-6 :
Pemeriksaan Antenatal Care
1. Definisi
Pemeriksaan antenatal care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan untuk
mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil. Sehingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 1998).
2. Tujuan
Tujuan Umum dari ANC adalah sebagai berikut :
o Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang janin.
o Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, maternal dan sosial ibu
dan bayi.
o Mengenal secara dini adanya komplikasi yang mungkin terjadi selama
hamil, termasuk riwayat penyakti secara umum, kebidanan dan
pembedahan.
o Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu
maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
o Mempesiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI
Eksklusif.
o Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar
dapat tumbuh kembang secara normal.
o Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.
3. Jenis Peayanan Antenatal Care
Menurut Depkes RI (2007), pelayanan antenatal antara lain:
a. Identifikasi ibu hamil yaitu bidan melakukan kunjungan rumah dan
berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan
penyuluhan dan motivasi ibu, suami dan anggota keluarga agar mendorong
ibu untuk memeriksakan kehamilannya sejak dini secara teratur.
b. Pemantauan dan pelayanan antenatal yaitu bidan memberikan sedikitnya 4
kali pelayanan antenatal. Beberapa pelayanan tersebut antara lain seperti
anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai
apakah perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal
kehamilan risiko tinggi atau kelainan, khususnya anemia, kurang gizi,
hipertensi, penyakit menular seksual (PMS) dan infeksi human immune
deficiency virus/aquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS),
memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta
tugas terkait lainnya yang diberikan oleh Puskesmas. Bidan harus mencatat
data yang tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, bidan harus
mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan melakukan rujukan.
c. Palpasi abdominal yaitu bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara
seksama dan melakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, bila
umur kehamilan bertambah, memeriksa posisi, bagian terendah, masuknya
kepala janin ke dalam rongga panggul, untuk mencari kelainan serta
melakukan rujukan tepat waktu.
d. Pengelolaan anemia pada kehamilan yaitu bidan melakukan tindakan
pencegahan, penemuan, penanganan atau rujukan semua kasus anemia pada
kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
e. Pengelolaan dini hipertensi pada kehamilan yaitu bidan menemukan secara
dini setiap kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda
serta gej ala preeklamsi serta mengambil tindakan yang tepat untuk
merujuk.
f. Persiapan persalinan yaitu bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu
hamil, suami serta keluarganya pada trimester III, untuk memastikan bahwa
persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang
menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan
transportasi dan biaya untuk merujuk bila terjadi keadaan gawat darurat.
Sementara dalam praktiknya terdapat standar minimal yang harus

terpenuhi. Standard tersebut dikenal dengan istilah “7T” pelayanan antenatal

antara lain :
a. Timbang berat badan.
b. Mengujur tekanan darahnya.
c. Mengukur tinggi fudusnya.
d. Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toxoid) lengkap.
e. Pemberian tablet zat besi (Fe) minimal 90 tablet selama kehamilannya.
f. Tes terhadap penyakit menular seksual.
g. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Pertemuan Ke-7 :
Pendewasaan Usia Kawin
o Definisi dan Tujuan
Pendewasaan usia kawin adalah upaya untuk meningkatkan usia pada
perkawinan pertama, sehingga mencapai usia minimal pada saat perkawinan
yaitu 20 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. PUP bukan sekedar
menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilan
pertamapun terjadi pada usia yang cukup dewasa.
Tujuan program pendewasaan usia perkawinan adalah memberikan
pengertian dan kesadaran kepada remaja agar didalam merencanakan keluarga,
mereka dapat mempertimbangkan berbagai aspek berkaitan dengan kehidupan
berkeluarga, kesiapan fisik, mental, emosional, pendidikan, sosial, ekonomi
serta menentukan jumlah dan jarak kelahiran.
o Dampak usia Kawin Dini
Dampak pernikahan dini atau perkawinan di bawah umur adalah sebagai
berikut :
a. Dampak Hukum
Adanya pelanggaran terhadap Undang-Undang di negara kita, yaitu :
o UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pada pasal 7 (1), perkawinan
hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak
wanita sudah mencapai umur 16 tahun. Pasal 6 ayat (2) untuk
melangsungkan perkawinan seorang yang belum mencapai umur 21
tahun harus mendapatkan izin kedua orang tua.
o UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, pasal 26 (1) orang
tua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk: mengasuh, memelihara,
mendidik dan melindungi anak, menumbuhkembangkan anak sesuai
dengan kemampuan, bakat dan minatnya serta mencegah terjadinya
perkawinan pada usia anak-anak.
Amanat UU tersebut bertujuan untuk melindungi anak agar tetap
memproleh haknya untuk hidup, tumbuh dan berkembang serta melindungi
dari perbuatan kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi.

b. Dampak Biologis
o Secara biologis, organ reproduksi anak masih dalam proses menuju
kematangan sehingga belum siap untuk melakukan fungsinya.
o Kematangan fisik seorang anak, tidak sama dengan kematangan
psikologisnya sehingga meskipun anak tersebut memiliki badan bongsor
dan sudah menstruasi tetapi secara perilaku tetap seperti anak-anak.
c. Dampak Psikologis
o Secara psikis anak juga belum siap dan mengerti tentang hubungan seks,
sehingga akan menimbulkan trauma psikis berkepanjangan.
o Kematangan psikologis ibu menjadi hal utama, karena sangat
berpengaruh terhadap pola asuh anak dikemudian hari.
d. Dampak Pendidikan
o Pernikahan dini mengakibatkan anak tidak mampu mencapai pendidikan
yang lebih tinggi.
o Pendidikan yang minim mengakibatkan sulitnya memperoleh
penghasilan yang layak.
o Keluarga menjadi beban perekonomian yang cukup berat.
e. Dampak Administrasi Kependudukan
o Tidak memiliki akte nikah.
o Tidak memiliki kartu keluarga.
o Apabila terjadi perceraian sulit untuk mengurus pembagian hartanya
o Perencanaan Keluarga
Program pendewasaan usia kawin dalam program KB bertujuan
meningkatkan usia kawin perempuan pada umur 21 tahun serta menurunkan
kelahiran pertama pada usia ibu di bawah 21 tahun.
Pendewasaan Usia Perkawinan dan Perencanaan Keluarga merupakan
kerangka dari program pendewasaan usia perkawinan. Kerangka ini terdiri dari
beberapa masa reproduksi, yaitu :
a. Masa Menunda Perkawinan dan Kehamilan
Kemungkinan timbulnya risiko medik sebagai berikut :
o Keguguran
o Preeklamsia (tekanan darah tinggi, cedema, proteinuria)
o Eklamsia (keracunan kehamilan)
o Timbulnya kesulitan persalinan
o Bayi lahir sebelum waktunya
o Berat bayi lahir rendah (BBLR)
o Fistula vesikovaginal (merembesnya air seni ke vagina)
o Fistula retrovaginal ( keluarnya gas dan feses/tinja ke vagina)
o Kanker leher rahim
b. Masa Menjarangkan Kehamilan
Masa menjarangkan kehamilan terjadi pada periode PUS berada pada
umur 20-35 tahun. Secara empirik diketahui bahwa PUS sebaiknya
melahirkan pada periode umur 20-35 tahun, sehingga resiko-resiko medik
yang diuraikan di atas tidak terjadi.
c. Masa Mengakhiri Kehamilan
Masa mengakhiri kehamilan berada pada periode PUS berumur 30
tahun keatas. Sebab secara empirik diketahui melahirkan anak diatas usia 30
tahun banyak mengalami resiko medik. Mengakhiri kehamilan adalah
proses yang dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi.
Pertemuan Ke-8 :
Metode Kontrasepsi
1. Jenis-Jenis Alat Kontrasespsi
o Kondom.
o Tubektomi (MOW).
o Vasektomi (MOP).
o Pil KB.
o Suntikan.
o susuk KB/Implan.
o Spriral/IUD/AKDR.
2. Kontraindikasi dan tempat pelayanan
a. Kondom
Kontraindikasi :
o alergi terhadap karet.
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, Klinik KB, Puskesmas, Tim Keluarga
Berencana Keliling (TKBK), Pos Alat Keluarga Berencana Desa
(PAKBD), dan Pembantu Petugas Keluarga Berencana Desa (PPKBD),
Apotik, Dokter, Bidan swasta.
b. Tubektomi (MOW)
Kontraindikasi :
o Penyakit jantung,
o Penyakit paru-paru,
o Turunnya rongga dada (hernia diagfragmatika),
o Turunnya tali pusar (hernia umbilikalis),
o Radang akut selaput perut (peritonitis akut).
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, PKM atau KKB yg memiliki tenaga
terlatih utk melakukan Tubektomi.
c. Vasektomi (MOP)
Kontraindikasi :
o Peradangan kulit atau jamur di daerah kemaluan,
o Peradangan pada alat kelamin pria,
o Penyakit kencing manis,
o Kelainan mekanisme pembekuan darah.
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, Puskesmas, Klinik KB yang
mempunyai tenaga terlatih untuk melakukan Vasektomi.
d. Pil KB
Kontraindikasi :
o Tidak dianjurkan bagi yang mempunyai penyakit, seperti lever hati,
tumor, jantung, varises, dan darah tinggi,
o Menyusui, kecuali pil mini,
o Pendarahan di vagina yang tidak diketahui penyebabnya,
o Sakit kepala sebelah (migrain).
o Tempat pelayanan : Pos Alat Keluarga Berencana Desa (PAKBD),
Pembantu Petugas Keluarga Berencana Desa (PPKBD), Tim Keluarga
Berencana Keliling (TKBK), Rumah sakit, klinik KB, Apotik, Dokter,
bidan swasta.
e. Suntikan
Kontraindikasi :
o Ibu hamil,
o Pendarahan di vagina yang tidak tahu sebabnya,
o Tumor,
o Penyakit jantung, lever (hati), darah tinggi, dan kencing manis,
o Sedang menyusui bayi < 6 minggu.
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, Klinik, dan Puskesmas, Dokter
dan Bidan swasta.
f. Susuk KB/Implan
Kontraindikasi :
o Hamil atau diduga hamil,
o Pendarahan di vagina yang tidak tahu penyebabnya,
o Penyakit jantung, varises, kencing manis, darah tinggi, dan kanker.
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, Klinik, dan Puskesmas, Dokter
dan Bidan swasta.
g. Spiral/IUD/AKDR
Kontraindikasi :
o Kehamilan,
o Gangguan pendarahan,
o Peradangan alat kelamin,
o Tumor jinak Rahim,
o Radang Panggul.
o Tempat pelayanan : Rumah sakit, Klinik KB, Puskesmas, Tim
Keluarga Berencana Keliling (TKBK, Dokter dan Bidan swasta.
3. Dampak dan efektifitasnya
a. Kondom
o Tingkat keberhasilan (Efektifitas) : 80-95%.
o Dampak : alergi terhadap karet.
b. Tubektomi (MOW)
o Tingkat keberhasilannya : >99% sangat efektif
o Dampak : Resiko & efek samping bedah tetap ada
c. Vasektomi (MOP)
o Tingkat keberhasilan (Efektifitas) : >99 % sangat efektif.
o Dampak : Timbul rasa nyeri, Abses pada bekas luka, Pembengkakan
kantung biji zakar karena pendarahan (Hematoma).
d. Pil KB
o Tingkat keberhasilannya (efektifitas) : 92-99%
o Dampak : Pendarahan, terjadi bercak darah (spotting) diantara masa haid,
Pusing & mual pada awal-awal pemakaian, Perubahan berat badan,
Kloasma (flek).
e. Suntikan
o Tingkat keberhasilan (efektifitas) : > 99% sangat efektif.
o Dampak : Pusing, mual (jarang terjadi), Kadang-kadang menstruasi tidak
keluar selama 3 bln pertama, Kadang-kadang terjadi pendarahan yang
banyak pada saat menstruasi, Keputihan, Perubahan berat badan.

f. Susuk KB/Implan
o Tingkat keberhasilannya (efektifitas) : 97-99%
o Dampak : Gangguan siklus haid, Keluar bercak-bercak darah/
pendarahan yg lebih banyak selama menstruasi, Pembengkakan
(hematoma) dan nyeri, Pusing dan mual (jarang terjadi), Perubahan berat
badan.
g. Spiral/IUD/AKDR
o Tingkat keberhasilannya (efektifitas) : 99 % sangat efektif.
o Dampak : Terjadi pendarahan yang lebih banyak dan lebih lama pada
masa menstruasi, Keluar bercak-bercak (spotting) setelah 1 atau 2 hari
pemasangan, Kram/nyeri selama menstruasi, Keputihan.
Pertemuan Ke-9 :
Trend KB di Indonesia
1. Perkembangan KB
Gerakan Keluarga Berencana (KB) bemula dari kepeloporan beberapa
tokoh dalam dan luar negeri. Pada awal abad 19 di Inggris upaya KB timbul
atas dasar prakarsa sekelompok orang antara lain Maria Stopes pada tahun
1880-1950 yang mengatur kelahiran kaum buruh di Inggris. Margareth Sanger
tahun 1883-1966 merupakan pelopor KB modern di AS yang mengembangkan
tentang program birth control, bermula pada tahun 1917 mendirikan National
Birth Control (NBC) dan pada tahun 1921 diadakan American NBC
Conference I. Hasil konferensi ini mendirikan American Birth Control League
dan Margareth Sanger sebagai ketuanya.
Pada tahun 1952 diresmikan berdirinya International Planned
Parenthood Federation (IPPF), dan sejak saat itu berdirilah perkumpulan-
perkumpulan KB di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Pelopor KB di
Indonesia yaitu Dr. Sulianti Saroso pada tahun 1952 menganjurkan para ibu
untuk membatasi kelahiran, karena Angka Kelahiran Bayi sangat tinggi.
Sedangkan di DKI Jakarta mulai dirintis oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo
(Suratun,dkk 2008).
Pada tanggal 23 Desember 1957 berdirilah Perkumpulan Keluarga
Berencana Indonesia (PKBI) yang mana menjadi pelopor pergerakan dan
perkembangan Keluarga Berencana nasional. PKBI dalam misinya
menyangkut hal yang mendasar dalam kehidupan manusia yakni persoalan
reproduksi, yang mana padanya melekat berbagai norma, tabu, dan peraturan-
peraturan.
Berdasarkan instruksi presiden Nomor 26 Tahun 1968 dibentuklah
sebuah lembaga keluarga berencana. Hal ini dimaksudkan untuk menunjang
pencapaian tujuan Deklarasi Kependudukan PBB 1967 yang kemudian
dimasukkan dalam program pemerintah sejak Pelita I (1969) dan dinamai
Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN). Lembaga ini masih bersifat
semi pemerintah.
Pada tahun 1970 LKBN ditingkatkan menjadi Badan Pemerintah melalui
Keppres No. 8 tahun 1970 dan diberi nama Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional (BKKBN) yang bertugas mengkoordinasikan
perencanaan, pengawasan dan penilaian pelaksanaan program Keluarga
Berencana. Dalam perkembangannya BKKBN terus mengalami
penyempurnaan baik struktur organisasi, tugas pokok, dan tata kerja serta
fungsinya (Arum dan Sujiyatini 2011).
Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 103 Tahun 2001 yang diikuti
dengan Keputusan Presiden RI Nomor 110 Tahun 2001dikukuhkan bahwa
BKKBN tetap bertugas melaksanakan tugas pemerintah di bidang keluarga
berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan Keppres ini, maka sebagian
kewenangan BKKBN telah diserahkan kepada pemerintah
kabupaten/kota.Demikian pula kelembagaan BKKBN kabupaten/kota telah
diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota per-Januari 2004 (BKKBN,
2008).
2. Tujuan
Tujuan utama program KB nasional adalah untuk memenuhi perintah
masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas,
menurunkan tingkat/angka kematian bayi, dan anak serta penanggulangan
masalah kesehatan reproduksi dalam rangka membangun keluarga kecil
berkualitas.
3. Dampak KB di Indonesia
a. Program KB bertujuan untuk memenuhi permintaan pelayanan KB dan
menyelenggarakan pelayanan kesehatan reproduksi yang berkualitas, serta
mengendalikan angka kelahiran yang pada akhirnya akan meningkatkan
kualitas penduduk dan mewujudkan keluarga-keluarga kecil berkualitas.
Sasaran utama kinerja program KB adalah sebagai berikut : Menurunnya
pasangan usia subur (PUS) yang ingin melaksanakan KB namun pelayanan
KB tidak terlayani menjadi sekitar 6,5%.
b. Meningkatnya partisipasi laki-laki dalam melaksanakan KN menjadi sekitar
8%.
c. Menurunnya anggota kelahiran total (TFR) menjadi 2,4% per perempuan.
Hal ini memungkinkan perempuan untuk menghindari kehamilan ketika
mereka tidak ingin hamil, merencanakan kehamilan ketika mereka
melakukan dan mendorong kesehatan mereka sendiri, sehingga dalam
prosesnya akan menghasilkan kesehatan yang signifikan, serta manfaat
ekonomi dan sosial bagi individu perempuan itu sendiri, keluarga,
komunitas, dan keseluruhan masyarakat.
4. Ukuran-Ukuran KB
Beberapa ukuran dalam Keluarga Berencana yang dikenal dalam
pelaksanaan kegiatan KB seperti :
o Angka Kelangsungan (Continuation Rate-CR).
o Pengertian angka kelangsungan adalah angka yang menunjukkan proporsi
akseptor yang masih menggunakan alat kontrasepsi setelah suatu periode
pemakaian tertentu.
o Peserta KB aktif ( Current User-CU).
o Bulan Pasangan Perlindungan (Couple Months of Protection-CMP).
o Perkiraan penurunan fertilitas akibat pelaksanaan KB (Kartoyo,2007).