Anda di halaman 1dari 20

Laporan Kasus

ABSES BARTHOLINI

Pembimbing :
dr. Pasid Harlisa, Sp.KK

Disusun Oleh :
Qorry Amanda
01.209.5986

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG 2014

1
BAB I

PENDAHULUAN

A. DEFINISI
Abses Bartolini didefinisikan sebagai penghasilan pus yang membentuk bengkak pada
satu dari kelenjar Bartolini yang terletak di samping labia pada alat kelamin wanita. 1-4
Abses Bartolini biasa terjadi sendiri karena infeksi pada kelenjar Bartolini ataupun
dari infeksi sekunder yang berlaku pada kista Bartolini. 3,5

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia eksterna,


kelenjar bartolini atau glandula vestibularis major, berjumlah dua buah berbentuk
bundar,dan berada di sebelah dorsal dari bulbus vestibuli. Saluran keluar dari kelenjar
ini bermuara pada celah yang terdapat di antara labium minus pudendi dan tepi
hymen.3 Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis pada pria.
Kelenjar ini tertekan pada waktu coitus dan mengeluarkan sekresinya untuk
membasahia tau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. Kelenjar bartolini
diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus pudendus dan

2
nervus hemoroidal inferior. Kelenjar bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil
dari bulbus, jaringan erektil dari bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual
dan kelenjar ini akan mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan.
Drainase pada kelenjar ini oleh saluran dengan panjang kira-kira 2 cm yang terbuka
ke arah orificium vagina sebelah lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak
teraba pada pemeriksaan palapasi.
Kelenjar Bartholini berfungsi mensekresikan cairan ke permukaan vagina.
Mukosa kelenjar dilapisi oleh sel-sel epitel kubus. Cairan ini mengalir ke dalam
duktus sepanjang 2,5 cm dan dilapisi oleh sel-sel epitel transisional. Duktus
ini bermuara diantara labia minor dan hymen dan dilapisi pada bagian ini terdiri atas
epitel skuamosa. Oleh karena itu, kelenjar ini dapat berkembang menjadi karsinoma
sel skuamosa atau adenokarsinoma. Kelenjar ini mengeluarkan lendir untuk
memberikan pelumasan vagina. Kelenjar Bartolini mengeluarkan jumlah lendir yang
relatif sedikit sekitar satu atau dua tetes cairan tepat sebelum seorang wanita orgasme.
Tetesan cairan pernah dipercaya menjadi begitu penting untuk pelumas vagina, tetapi
penelitian dari Masters dan Johnson menunjukkan bahwa pelumas vagina berasal dari
bagian vagina lebih dalam. Cairan mungkin sedikit membasahi permukaan labia
vagina, sehingga kontak dengan daerah sensitif menjadi lebih nyaman bagi wanita.3,6,7

C. ETIOLOPATOGENESIS

Abses Bartolini biasa terjadi sendiri karena infeksi pada kelenjar Bartolini
ataupun dari infeksi sekunder yang berlaku pada kista Bartolini. 2,3 :
a) Infeksi langsung pada kelenjar Bartolini3

3
Berlaku disebabkan organisme piokokkus seperti gonokokkus dan
Chlamydia Trachomatis. Bisa juga disebabkan oleh Staphylococcus, Escheria
Coli, atau Streptococcus faecalis.5
b) Infeksi sekunder pada kista Bartolini
Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan, dengan
dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan abses atau kista.5 Kista
dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar. Kista Bartolini
tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Abses kelenjar Bartolini
adalah abses polimikrobial. Selain itu operasi vulvovaginal adalah penyebab
umum kista dan abses tersebut. Infeksi pada kelenjar ini disebabkan oleh
kuman gram negatif ,yaitu golongan staphylococcus dan golongan
gonococcus.2
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang terbentuk
di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista kelenjar Bartolin terjadi
ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini biasanya tersumbat karena
berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi jangka panjang. Apabila
saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran kelenjar ini akan melekat satu
sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan. Cairan yang dihasilkan oleh
kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan kelenjar membengkak dan
membentuk suatu kista.2 Suatu abses terjadi bila kista menjadi terinfeksi.1,2
Abses Bartolini dapat disebabkan oleh sejumlah bakteri. Ini termasuk
organisme yang menyebabkan penyakit menular seksual seperti Klamidia dan Gonore
(Neisseria Gonorrhea) serta bakteri yang biasanya ditemukan disaluran pencernaan,
seperti Escherichia coli. Meskipun Neisseria gonorrhoeae adalah mikroorganisme
aerobik yang dominan mengisolasi, bakteri anaerob adalah patogen yang paling
umum. Chlamydia trachomatis juga mungkin menjadi organisme kausatif. Umumnya
abses ini melibatkan lebih dari satu jenis organisme. 2-5

Karena kelenjar terus menerus menghasilkan cairan, maka lama kelamaan


sejalan dengan membesarnya abses, tekanan di dalam abses semakin besar. Dinding
kelenjar mengalami peregangan dan meradang.3 Demikian juga akibat peregangan
pada dinding abses/kista, pembuluh darah pada dinding abses/kista terjepit
mengakibatkan bagian yang lebih dalam tidak mendapatkan pasokan darah sehingga
jaringan menjadi mati (nekrotik). Dibumbui dengan kuman, maka terjadilah proses

4
pembusukan, bernanah dan menimbulkan rasa sakit. Karena letaknya di vagina bagian
luar, abses akan terjepit terutama saat duduk dan berdiri menimbulkan rasa nyeri yang
terkadang disertai dengan demam.1 Pasien berjalan mengegang ibarat menjepit bisul
diselangkangan.3

D. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan pasien pada umumnya adalah demam, malais, benjolan, nyeri, dan
dispareunia. Penyakit ini bisa menjadi ringan sampai sering terjadi rekurens.5
Bengkak pada mula infeksi abses Bartolini cepat membesar dalam jangka waktu
beberapa jam hingga beberapa hari. Pada abses Bartholini kelenjar merah, nyeri,dan
lebih panas dari daerah sekitarnya. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar
melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul di dalamnya dan
menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek.3
Adapun jika kista terinfeksi maka dapat berkembang menjadi abses Bartholini
dengan gejala klinik berupa1,5 :
 Umumnya tidak disertai demam, kecuali jika terinfeksi dengan
mikroorganisme yang ditularkan melalui hubungan seksual atau ditandai
dengan adanya perabaan kelenjar limfe pada inguinal.
 Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari.
 Biasanya ada sekret di vagina, kira-kira 4 sampai 5 hari
pasca pembengkakan, terutama jika infeksi yang disebabkan oleh bakteri
yang ditularkan melalui hubungan seksual.
 Dapat terjadi ruptur spontan.
 Teraba massa unilateral pada labia mayor sebesar telur ayam, lembut,
dan berfluktuasi, atau terkadang tegang dan keras.
Indurasi biasa terjadi pada sekitar kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan,
duduk atau melakukan hubungan seksual bisa menyebabkan rasa nyeri pada vulva.2
Kista duktus Bartholini dan abses glandular harus dibedakan dari massa vulva
lainnya. Karena kelenjar Bartholini biasanya mengecil saat menopause, pertumbuhan
vulva pada wanita postmenopause harus dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya
keganasan, khususnya jika massa irregular, nodular dan indurasi persisten.5

5
Dikutip dari kepustakaan 2 Dikutip dari kepustakaan 1

E. DIAGNOSA

6
Anamnesis yang baik dan pemeriksaan fisik sangat mendukung suatu diagnosis. Pada
anamnesis ditanyakan tentang gejala seperti panas, gatal, sudah berapa lama gejala
berlangsung, kapan mulai muncul, faktor yang memperberat gejala, apakah pernah berganti
pasangan seks, keluhan saat berhubungan, riwayat penyakit menular seks sebelumnya,
riwayat penyakit kulit dalam keluarga, riwayat keluarga mengidap penyakit kanker kelamin,
dan riwayat penyakit yang lainnya misalnya diabetes dan hipertensi.2
Riwayat pengobatan sebelumnya Abses Bartholini didiagnosis melalui pemeriksaan
fisik, khususnya dengan pemeriksaan dermatologi pelvis. Pada pemeriksaan fisis
dengan posisi litotomi, kista terdapat di bagian unilateral, nyeri, fluktuasi dan
terjadi pembengkakan yang eritem pada posisi jam 4 atau 8 pada labium minus posterior.
Pemeriksaan gram dan kultur jaringan dibutuhkan untuk mengidentifikasikan jenis bakteri
penyebab abses dan untuk mengetahui ada tidaknya infeksi akibat penyakit menular seksual
seperti Gonorrhea dan Chlamydia. Untuk kultur diambil swab dari abses atau dari daerah lain
seperti serviks. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak dapat
menunda pengobatan. Dari hasil ini dapat diketahui antibiotik yang tepat yang perlu
diberikan.3
Selain itu direkomendasi dilakukan biopsi pada wanita lanjut usia untuk mengeliminasi
tumor atau keganasan.1,3 Jika terdapat sekret vagina atau drainase cairan, specimen ini dapat
dihantar ke laboratorium untuk pemeriksaan lanjut.1

F. PENATALAKSANAAN

Tujuan penanganan abses bartholini adalah memelihara dan mengembalikan fungsi dari
kelenjar bartholini. Metode penanganan kista bartholini yaitu insersi word catheter untuk
kista dan abses kelenjar bartholini dan marsupialisasi untuk kista kelenjar bartholini yang
rekuren menjadi abses.1-4
a) Insisi dan drainase abses : Tindakan ini dilakukan bila terjadi
simptomatik Bartholin's gland abscesses dan jika sering terjadi rekurensi4
b) Drainase definitif menggunakan word kateter: Word catheter biasanya digunakan ada
penyembuhan kista duktus bartholin dan abses bartholin.4
c) Marsupialisasi: Digunakan juga untuk abses kelenjar bartholin karena memberi hasil
yang sama efektifnya. Marsupialisasi adalah suatu tehnik membuat muara saluran
kelenjar bartholin yang baru sebagai alternatif lain dari pemasangan word kateter.
Komplikasi berupa dispareuni, hematoma, infeksi.3,4

7
Proses epithelisasi pada tindakan bedah terjadi setelah 4-6 minggu, word catheter akan
dilepas setelah 4-6 minggu, meskipun epithelisasi biasa terbentuk pada 3-4 minggu. Bedrest
selama 2-3 hari mempercepat penyembuhan. Meskipun dapat menimbulkan terjadinya
selulitis, antibiotik tidak diperlukan. Antibiotik diberikan bila terjadi selulitis (jarang).
Terapi antibiotik spektrum luas diberikan apabila kista atau abses kelenjar bartholini
disertai dengan adanya selulitis.1,4 Biopsi eksisional dilakukan untuk pengangkatan
adenokarsinoma pada wanita menopause atau perimenopause yang irregular dan massa
kelenjar Bartholini yang nodular. Penatalaksanaan dari kista duktus bartholin tergantung dari
gejala pada pasien. Kecuali kalau terjadi rupture spontan, abses jarang sembuh dengan
sendirinya. 3

Penggunaan antibiotik 3,4:


 Antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti dari hasil
pewarnaan gram maupun kultur pus dari abses kelenjar bartholin
 Infeksi Neisseria gonorrhoe:
Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal atau Ofloxacin 400 mg dosis tunggal atau
Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil) atau Cefritriaxon 200 mg i.m
(aman untuk anak dan bumil)
 Infeksi Chlamidia trachomatis:
Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po atau Doxycyclin 2 X100 mg/ hari
selama 7 hari, po
 Infeksi Escherichia coli:
Ciprofoxacin 500 mg oral dosis tunggal, atau Ofloxacin 400 mg oral dosis tunggal
atau Cefixime 400 mg dosis tunggal.
 Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :
Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari, Ampisilin 250-500 mg/
dosis 4x/hari, atau Amoksisillin 250-500 mg/dosis 3x/hari po

G. PROGNOSIS

Prognosa penyembuhan baik. 10% dari kasus rekuren. Adalah penting untuk mengobati
pasien yang didiagnosa bersama dengan infeksi vagina sedini yang mungkin.

8
H. MARSUPIALISASI
Merupakan sebuah alternatif tindakan drainase dari kateterisasi word untuk
penanganan kista maupun abses bartholini. Dapat dilakukan di klinik atau, bila sangat
besar, di ruang operasi steril.
Indikasi marsupilisasi di antaranya sebagai berikut:
 Riwayat kista bartholini atau abses bartholini berulang
 Sangat nyeri dan tidak nyaman
 Kegagalan resolusi setelah terapi konservatif
 Pasien tidak dapat menoleransi atau menolak tindakan kateterisasi word

Kontraindikasi:
Tidak ada secara absolut.

Peralatan yang perlu disiapkan antara lain:


a. Sarung tangan steril h. Skalpel no. 11
b. Povidon iodine i. Benang jahit 2-0
c. Doek steril absorbable
d. Lidocain j. Needle holder
e. Saline k. Gunting
f. Kassa steril l. Bengkok
g. Spuit 1 cc
Teknik melakukannya:

Gambar: posisi litotomi pasien

9
 Menjelaskan prosedur pada pasien dan meminta persetujuan
 Memposisikan pasien litotomi setelah melepas celana pasien
 Dengan teknik aseptik membersihkan lapangan operasi dengan
povidon iodine
 Pasang doek steril
 Anestesi dengan lidokain di sekitar daerah abses yang akan didrainase
 Retraksi labia mayora dengan jari sehingga lubang vagina terlihat dan
seluruh lapangan operasi terlihat dengan jelas
 Insisi secara vertikal denan ukuran 1.5 cm-2 cm pada mukosa sebelah
distal anulus hymen dan pada dinding lokasi abses atau kista.
 Evakuasi isi nodul kistik  dapat dibawa ke laboratorium untuk
dilakukan pemeriksaan gram ataupun kultur

Gambar: retraksi pada labia mayora agar memudahkan visualisasi operator

 Irigasi isi duktus kelenjar dengan saline atau povidon iodine


 Lakukan penjahitan dengan benang absorbable 2-0 secara kontinu
atau terputus, pastikan dinding kapsul juga terjahit dengan rapi
dengan mukosa sekitarnya
 Pasang tampon steril yang sudah diberi povidon iodine pada celah
jahitan yang sedikit disisakan
 Tutup luka dengan kassa povidon iodine dan edukasi pasien agar
jangan sampai basah

10
Komplikasi tindakan marsupialisasi kista atau abses bartholini di antaranya
mencakup:

o Rekurensi
o Infeksi post-operatif
o Dysparaeunia
o Jaringan parut
o Perdarahan luka

Untuk mengatasi rasa nyeri, pasien dapat diberikan obat antinyeri per-oral berupa
aspilet maupun ibuprofen. Antibiotik tidak rutin diberikan, tetapi bila ada kecurigaan
infeksi menular seksual ataupun selulitis yang hampir selalu bersamaan terjadi dengan
abses bartholini, dapat dipertimbangkan diberikan sambil menunggu hasil kultur atau
pemeriksaan gram dari laboratorium.

Contoh antibiotik yang dapat diberikan:

 Ceftriaxone (broad-spectrum and N gonorrhea coverage)


 Ciprofloxacin (broad-spectrum coverage)
 Doxycycline (C trachomatis coverage)
 Azithromycin (C trachomatis coverage)

11
DAFTAR PUSTAKA:

1. Vorvick LJ, Storck S, Zieve D: Bartholin’s abscess, Medline plus: [Online]. 2010
[cited 6 May 2010]. Available from:
URL:www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001489.htm
2. Schorge JO, Schaffer JI, Malvorson LM, et al. Cystic Vulvar Tumors In: Williams
Gynecology. China: Mc-Graw Hills Companies. 2008. p. 1723-1727.
3. Patil S, Sultah AH, Thakar R, et al: Bartholin’s Cyst and Abscess, Patient.co.uk:
[Online]. 2010 [cited 18 January 2010]. Available from:
URL:http://www.patient.co.uk/health/Bartholin%27s-Cyst-and-Abscess.htm
4. Farage MA, Maibach HI. Benign Vulvar Nodules and Tumors In: The Vulva natomy,
physiology, and pathology. New York: Informa Healthcare USA, Inc. 2006. p. 123-
125.
5. Burns T, Breathnach S, Cox N, et al. The Genital, Perianal, and Umbilical Regions In:
Rook’s Textbook of Dermatology. Oxford, UK: Blackwell Publishing Ltd. 2010. 8th
ed. Vol 1. p.71.68.
6. Guyton AC, Hall JE. Female Physiology Before Pregnancy and Female Hormones In:
Guyton’s Textbook. Philadelphia, Pennsylvania: Elsivier Inc. 2006. 11th ed. p. 1023.
7. Faller A, Schunke M. Schunke G. Vestibule (Vestibulum Vaginae), Labia Majora and
Minora, and Clitoris In: The Human Body. New York: Thieme. 2004. p.496.

12
BAB II

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PENDERITA
Nama : Ny. S
Umur : 35 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Buruh Pabrik
Alamat : Genuk - Semarang
Suku Bangsa : Jawa
Status perkawinan : Sudah Menikah

B. ANAMNESA
Keluhan Utama :
Keluhan Subyektif : nyeri di daerah kemaluan
Keluhan Obyektif : benjolan di daerah kemaluan

Riwayat Penyakit Sekarang


 Onset : ± 1 minggu yang lalu
 Lokasi : dinding kemaluan sebelah kiri
 Kualitas : nyeri di daerah kemaluan terasa kemeng tidak nyaman
beraktivitas dalam bekerja maupun beristirahat
 Kuantitas : nyeri kemeng diirasakan sepanjang hari terus-menerus,
benjolan di daerah kemaluan dirasa semakin membesar
 Faktor yang memperingan : tidak ada
 Faktor yang memperberat : duduk, membersihkan kemaluan setelah BAK,
BAK, berjalan
 Gejala Penyerta : nyeri ringan saat BAK, keputihan warna putih kental tidak
berbau, jumlah banyak, nyeri saat berhubungan suami-istri
 Kronologi : Pasien perempuan berusia 35 tahun datang ke poli Kulit dan
Kelamin dengan keluhan nyeri kemeng di daerah kemaluan sebelah kiri.
Awalnya ± 1 minggu yang lalu pasien mengeluh merasakan benjolan di daerah

13
kemaluan saat buang air kecil, jumlah 1, kecil, tidak terasa nyeri. Oleh pasien
benjolan didiamkan karena tidak memberi keluhan. Beberapa hari berikutnya
pasien merasa benjolan tidak mengecil, justru semakin membesar dan terasa
nyeri kemeng sepanjang hari terus menerus dan diperberat dengan aktivitas
duduk, berjalan, BAK, dan bila membersihkan kemaluan. Pasien kemudian
memeriksakan diri ke RSUP dr. Karyadi dan disarankan untuk rawat inap
tetapi pasien menolak. Kemudian, pasien memeriksakan diri ke puskesmas
dan oleh puskesmas disarankan untuk berobat ke poli kulit dan kelamin RSI
Sultan Agung Semarang untuk ditangani lebih lanjut secara rawat jalan.

Riwayat Penyakit Dahulu :


 ± 2 tahun yang lalu pasien mengeluhkan kondisi serupa dan sudah
ditangani secara operatif di RSUP dr. Karyadi.
 Sejak muda pasien mengaku sering mengalami keputihan warna putih-
krem kental, jumlah banyak, terkadang berbau, tetapi tidak pernah
berobat karena sering reda sendiri.

Riwayat Penyakit Keluarga :


 Tidak ada keluarga yang memiliki keluhan seperti ini
 Suami tidak pernah sakit di daerah kemaluan atau saluran kemih.

Riwayat Sosial Ekonomi :


Pasien bekerja sebagai seorang buruh pabrik. Pasien tinggal bersama suami
dan anaknya. Biaya kesehatan ditanggung oleh JKN PBI.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan umum : baik, komposentis
Tekanan Darah : tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi : tidak dilakukan pemeriksaan
Suhu : tidak dilakukan pemeriksaan
BB : tidak dilakukan pemeriksaan

14
Respirasi rate : tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax : tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : tidak dilakukan pemeriksaan
Ekstremitas : tidak dilakukan pemeriksaan

2. Status Venerologi

Inspeksi :
Lokasi I : Labia mayora sinistra arah jam 4
 UKK : Nodul kistik eritematosa dengan ukuran ± sebesar telur
ayam
Distribusi : unilateral

Palpasi : fluktuatif
Auskultasi :-

D. DIAGNOSA BANDING
1. Abses bartholini
2. Kista Bartholini
3. Bartholinitis

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG YANG DIUSULKAN


 Pemeriksaan pengecatan gram
 Pemeriksaan kultur

F. DIAGNOSA KERJA
Abses Bartholini

15
G. PENGOBATAN
 Tindakan drainase abses dengan prosedur marsupialisasi
 Perawatan post-operatif marsupialisasi: menjaga luka kering tidak terkena air
 Farmakologi:
- Antibiotik broad spectrum GO + Chlamydia
R/ Pennisilin G Prokain 4.2 juta unit + Probenesid 1 gr vial No. I
∫ i.m.m
Atau
R/ Seftriakson 250 mg vial No.I
∫ i.m.m.
Dan
R/ Doxyciclin tab 100 mg No.XV
∫ 2.d.d. tab I
- Analgesik
R/ Asam mefenamat tab 500 mg No.X
∫ p.r.n

H. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad sanam : dubia ad bonam
Ad Komestikam : dubia ad bonam

I. EDUKASI
 Minum obat dan kontrol teratur
 Menjaga agar luka tidak basah dan kotor
 Menjaga kebersihan kemaluan
 Tidak berhubungan seksual selama 1 bulan
 Mengajak suami untuk memeriksakan diri

16
BAB III
KESIMPULAN

Abses bartholini adalah penyakit akibat tersumbatnya muara saluran kelenjar


bartholini yang biasanya disebabkan oleh infeksi langsung oleh bakteri pada duktus atau
tersumbatnya muara oleh mucous plug yang menyebabkan akumulasi sekret dan
mengakibatkan infeksi kista pada akhirnya.
Berdasarkan laporan kasus yang telah diuraikan di atas didapatkan pasien terkena
abses bartholini rekuren diduga disebabkan oleh infeksi menular seksual kronik yang sering
asimptomatik dan tidak pernah diperiksakan ke dokter untuk ditangani lebih lanjut.
Dari gejala klinis didapatkan lesi nodul kistik eritematosa bentuk bulat sekuruan ±
sebesar telur ayam pada dinding labia mayora sebelah kiri arah jam 4. Abses bartholini
dievakuasi dengan prosedur marsupialisasi dan terapi konservatif post-operatif antibiotik
broad spectrum untuk menangani dugaan infeksi menular seksual serta analgesik untuk
meredakan nyeri post-tindakan.

17
LAMPIRAN: UJUD KELAINAN KULIT

GAMBAR: Abses bartholini pre-


marsupialisasi

18
GAMBAR: Abses bartholini pre-marsupialisasi

GAMBAR: Luka post-marsupilialisasi 19


GAMBAR: Luka post-marsupilialisasi

GAMBAR: Pemasangan tampon pada celah jahitan 20