Anda di halaman 1dari 10

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT

BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN


PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam
Staf pengajar Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Muslim Indonesia Jl. Urip
Sumoharjo KM. 05 Makassar. Email: bulgisbul@yahoo.com ; ranibastari@gmail.com

Abstrak
Pada umumnya, konstruksi perkerasan lentur di Indonesia menggunakan agregat batu pecah yang
dihasilkan melalui industri pemecah batu karena memiliki permukaan kasar dan bersudut
sehingga memiiki daya lekat yang sangat baik terhadap aspal. Namun karena biaya yang besar
dalam proses pengolahan dan pengangkutannya ke lokasi proyek, terkadang ditemukan
pemanfaatan agregat alami yang memenuhi persyaratan untuk digunakan sebagai material
agregat pada perkerasan. Dengan pertimbangan ini, penulis merasa perlu menguji dan
menganalisis pengaruh keberadaan agregat alami dalam campuran aspal beton. Penelitian ini
mengkaji pengaruh variasi kadar agregat alami terhadap kinerja campuran aspal beton dan
menentukan kadar agregat alami yang dapat menghasilkan kinerja campuran aspal beton yang
optimum. Metode penelitian ini berbasis eksperimen di Laboratorium Rekayasa Jalan Jurusan
Sipil FT- UMI. Komponen pengujian utama adalah pengujian karakteristik campuran aspal beton
dengan menggunakan material perkerasan berupa agregat alami, agregat batu pecah, dan atau
kombinasi keduanya. Jenis pengujian laboratorium yang dilakukan adalah pemeriksaan properti
material yang dilanjutkan dengan pengujian Marshall untuk memperoleh nilai kadar aspal
optimum yang akan digunakan sebagai kadar aspal tetap pada pengujian inti yaitu pengujian
Marshall pada komposisi campuran dengan variasi penambahan agregat alami. Berdasarkan hasil
pengujian diketahui bahwa keberadaan agregat alami dalam campuran aspal beton
mempengaruhi kinerja campuran dimana diperoleh kadar agregat alami yang mampu
menghasilkan kinerja campuran yang optimum sebesar 10%-50% terhadap total berat agregat
kasar.
Kata Kunci: Agregat Alami, Kinerja Campuran, Variasi Campuran, Aspal beton.

I. PENDAHULUAN perkerasan, dan mempengaruhi kualitas


perkerasan. Berdasarkan proses
I.1 Latar Belakang
pengolahannya, agregat digolongkan menjadi
Pemilihan material perkerasan jalan yang dua jenis yaitu agregat alam dan agregat
tepat sesuai dengan karakteristik daerah buatan. Pada umumnya, konstruksi
adalah hal penting dalam pencapaian perkerasan lentur di Indonesia menggunakan
konsistensi kualitas perkerasan jalan sesuai agregat buatan atau batu pecah yang
dengan umur layan yang direncanakan. Pada dihasilkan melalui industri pemecah batu
perkerasan lentur dengan lapisan permukaan yang memiliki permukaan kasar dan bersudut
aspal beton, salah satu material yang berperan sehingga memiiki daya lekat yang sangat baik
penting adalah agregat. Agregat merupakan terhadap aspal. Selain itu, rongga antar
butir-butir batu pecah, kerikil, pasir, atau agregat yang terjadi relatif lebih kecil
mineral lain, baik yang berasal dari alam sehingga dapat membentuk ikatan yang baik
maupun bahan buatan yang berbentuk mineral antar agregat.
padat berupa ukuran besar maupun kecil atau
fragmen-fragmen (Sukirman, 2003).
Agregat memiliki beberapa peranan penting
pada campuran aspal beton diantaranya
sebagai penyumbang kekuatan struktural
terbesar pada campuran, mengurangi susut

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 23
Agregat alami merupakan agregat yang 1. Bagaimanakah pengaruh variasi kadar
berbentuk bulat dan memiliki permukaan yang agregat alami dalam pemanfaatan sebagai
relatif lebih licin dibandingkan dengan agregat material perkerasan terhadap kinerja
buatan karena agregat ini mengalami pengikisan campuran aspal beton?
oleh air. Partikel agregat yang bulat saling 2. Berapakah kadar agregat alami yang dapat
bersentuhan dengan luas bidang kontak kecil menghasilkan kinerja campuran aspal beton
sehingga menghasilkan interlocking yang lebih yang optimum?
kecil. Agregat ini juga memiliki daya lekat yang
I.3 Tujuan Penelitian:
kurang baik terhadap aspal karena memiliki
permukaan yang cenderung lebih halus dan licin. Secara umum, tujuan pelaksanaan penelitian ini
Selain itu, rongga yang dihasilkan oleh agregat adalah untuk mengkaji pemanfaatan agregat
ini sangatlah besar karena memiliki bentuk yang alami dan agregat batu pecah sebagai material
relatif bulat dan tidak memiliki sudut seperti perkerasan pada campuran aspal beton.
agregat buatan. Secara khusus, untuk mencapai tujuan umum
Dengan kelebihan yang dimiliki oleh agregat tersebut maka dibuat sub tujuan yang merupakan
buatan jika dibandingkan dengan agregat alami, rincian tujuan dari penelitian ini yaitu:
maka penggunaan agregat buatan pada 1. Melakukan kajian pengaruh variasi kadar
campuran aspal beton merupakan langkah tepat agregat alami dalam pemanfaatan sebagai
untuk memperoleh kondisi lapisan perkerasan material perkerasan terhadap kinerja
yang baik. Namun realita yang sering dijumpai campuran aspal beton.
di lapangan adalah dibutuhkan sumber daya 2. Mengetahui kadar agregat alami yang dapat
yang sangat tinggi untuk mewujudkan menghasilkan kinerja campuran aspal beton
penggunaan agregat buatan sebagai material yang optimum.
pada campuran aspal beton secara utuh. Hal ini I.4 Ruang Lingkup Penelitian
disebabkan karena biaya yang besar dalam
proses pengolahan dan pengangkutan ke lokasi Mengacu pada tujuan penelitian, maka
proyek. Di samping itu, terkadang ditemukan ditetapkan ruang lingkup penelitian untuk
agregat alam yang masih mempunyai permukaan mencapai tujuan tersebut yaitu:
yang tidak rata (bulat) atau masih seperti bentuk 1. Jenis campuran yang digunakan adalah
semula dan memenuhi persyaratan untuk campuran Laston dengan menggunakan
digunakan sebagai material agregat pada gradasi AC-WC
perkerasan (Syahputra, 2013). 2. Agregat kasar (batu pecah), Agregat alami
Dengan pertimbangan ini, maka penulis merasa dan Agregat halus (pasir dan abu batu) yang
perlu menguji dan menganalisis pengaruh digunakan berasal dari Enrekang
keberadaan agregat alami dalam campuran aspal Sedangkan Aspal yang digunakan adalah
beton sehingga diperoleh acuan yang toleran Aspal Pertamina pen 60/70.
mengenai kadar pemanfaatan agregat alami 3. Variasi penambahan kadar agregat alami
dalam material perkerasan agar tujuan utama pada campuran dilakukan dengan interval
untuk mewujudkan lapisan perkerasan dengan penambahan per 10% berdasarkan proporsi
karakteristik yang mantap dapat tetap tercapai. berat agregat kasar dalam campuran dengan
Atas dasar itulah, maka penulis melakukan menggunakan Kadar Aspal Optimum.
penelitian mengenai Pemanfaatan Agregat 4. Pengukuran kinerja campuran aspal beton
Alami dan Agregat Batu Pecah sebagai Material pada penelitian ini dilakukan dengan
Perkerasan pada Campuran Aspal Beton. metode Marshall Test.
I.2 Rumusan Masalah 1.5 Manfaat Penelitian
Bertitik tolak dari latar belakang yang telah Luaran dari hasil penelitian ini diharapkan dapat
dipaparkan sebelumnya, maka dapat dirumuskan memberikan manfaat bagi berbagai pihak baik
beberapa permasalahan yang akan dikaji dalam dalam aspek praktis maupun teoritis.
penelitian ini yaitu: Untuk aspek praktis, penelitian ini diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pihak perencana dan

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 24
pelaksana konstruksi khususnya konstruksi jalan Partikel agregat dibedakan menjadi beberapa
raya dalam menentukan komposisi penyusun bentuk yaitu bulat (rounded), lonjong
material perkerasan yang dapat menghasilkan (elongated), kubus (cubical), pipih (flaky), tak
efisiensi dan kualitas perkerasan jalan raya yang beraturan (irregular), dan bersudut. Agregat
optimal. alami didominasi oleh agregat berbentuk bulat
yang saling bersentuhan dengan luas bidang
Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat
kontak kecil sehingga menghasilkan
memberikan manfaat teoritis yaitu sebagai
interlocking yang lebih kecil dan mudah
sumbangan pemikiran untuk memajukan konsep
tergelincir. (Nemas, 2014).
ilmu pengetahuan khususnya di bidang
ketekniksipilan dan pembangunan infrastruktur Selain memberikan sifat ketahanan terhadap
serta dapat menjadi referensi bagi mahasiswa gelincir (skid resistance) pada permukaan
teknik sipil dan peneliti berikutnya pada bidang perkerasan, tekstur permukaan agregat (baik
yang berkaitan. mikro maupun makro) juga merupakan faktor
lain yang menentukan kekuatan, workabilitas
II. STUDI PUSTAKA dan durabilitas campuran beton. Ukuran susunan
Agregat atau batuan merupakan komponen agregat tergantung dari kekerasan, ukuran
utama dari lapisan perkerasan jalan dengan molekul, tekstur buatan, dan besarnya gaya yang
proporsi 90-95% dari keseluruhan campuran bekerja pada permukaan butiran. Semakin kasar
berdasarkan presentase volume. Dengan tekstur permukaan agregat maka konstruksi
demikian daya dukung, keawetan dan mutu cenderung lebih stabil dibandingkan dengan
perkerasan jalan ditentukan dari sifat agregat dan permukaan halus.
hasil campuran agregat dengan material lain.
Indonesia memiliki temperatur yang panas
Agregat dapat dibedakan berdasarkan kelompok dengan kelembaban yang tinggi.sehingga pada
proses pengolahan dan ukuran butirnya yaitu batuannya terjadi pelapukan oleh cuaca. Agregat
agregat kasar, agregat halus, dan filler. di Indonesia terdiri dari batuan muda secara
Fungsi dari agregat kasar dalam campuran aspal geologis, misalnya basalts, dolomit, andesit,
beton adalah sebagai penyokong stabilitas dan porfirit, tuff, abu. Batuan yang lebih dalam
perlawanan gesekan yang terjadi pada lapisan misalnya granit dan batuan maritim hasil
perkerasan. Secara garis besar, agregat kasar sedimentasi, misalnya sandstone limestone,
digolongkan menjadi dua jenis, yaitu agregat marlstone. Meskipun diayak terlebih dulu dan
buatan dan agregat alami. Agregat buatan atau mungkin juga disiram sebelum diangkut, variasi
batu pecah berasal dari agregat alami terbentuk masih mungkin terjadi.
dengan adanya campur tangan manusia dengan Tujuan utama pengolahan agregat adalah untuk
cara diolah terebih dahulu menggunakan alat
menghasilkan agregat dengan mutu tinggi dan
pemecah batu. Sedangkan agregat alami biaya yang rendah. Pengolahan agregat alam
merupakan agregat yang bentuknya alami, meliputi penggalian (excavating), pengangkutan
terbentuk berdasarkan aliran air sungai dan (hauling), pencucian, pemecahan (crushing),
degradasi, Agregat alami yang berasal dari dan penentuan ukuran. Akan tetapi, pengolahan
tempat terbuka disebut pitrun, sedangkan yang agregat tidak terbatas hanya pada usaha-usaha
berasal dari tempat tertutup disebut bankrun. tersebut, tetapi dimulai juga dari penggalian dan
Agregat kasar untuk campuran beraspal harus diakhiri dengan penimbunan dan penyerahan
bersih, kuat, kering, awet, bersudut, bebas dari agregat di lapangan.
kotoran lempung dan material asing lainnya Pada waktu penggalian, bahan-bahan yang akan
serta mempunyai tekstur permukaan yang kasar menambah berat seperti lempung dan lanau
dan tidak bulat agar dapat memberikan sifat sedapat mungkin harus disingkirkan terlebih
interlocking yang baik dengan material lainnya. dahulu. Penggalian bahan yang keras dapat
Tingginya kandungan agregat kasar menjadikan dilakukan dengan peledakan (blasting). Setelah
lapis perkerasan lebih permeabel. Hal ini digali, agregat diangkut dengan kereta api, truk,
menyebabkan rongga udara meningkat dan atau ban berjalan (beltcoonveyor) ke tempat
menurunnya daya lekat bitumen, maka terjadi pengolahan agregat. Proses selanjutnya adalah
pengelupasan aspal dari batuan. memperkecil ukuran agregat dengan
menggunakan pemecah batu. Untuk menentukan

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 25
ukuran dari agregat, agaregat kasar disaring 2. Hubungan keausan dan porositas agregat
menggunakan saringan bergetar, sedangkan daur ulang dengan kuat tekan beton. Pada
agregat halus disaring dengan saringan hidrolik. saat nilai keausan agregat turun sebesar
Dalam proses penyaringan, sekitar 70% dari 15.69% (R1), 43.03% (R2), 44.4% (R3),
bahan yang disaring harus lolos sehingga dengan nilai porositas agregat kasar turun
efisiensi serta kapasitas yang tinggi dapat sebanyak 58.28% (R1), 52.11% (R2), dan
dicapai. 47.28% (R3) kuat tekan betonnya menurun
sebesar 1.25% (R1), 25.61% (R2), dan
Agregat harus disimpan sebaik mungkin untuk
82.56% (R3).
menjaga mutu yang disyaratkan, mencegah
segregasi dan untuk memelihara gradasi dan 3. Kuat tekan beton daur ulang dengan agregat
kadar air agar agregat siap untuk digunakan. dari sungai Opak tidak lebih baik dari kuat
Agregat harus ditempatkan pada tempat yang tekan beton daur ulang dengan agregat dari
terlindungi dari sinar matahari, permukaan yang hasil pengolahan.
bersih, dan bila dianggap perlu harus
III. METODOLOGI PENELITIAN
ditempatkan sedemikian hingga memudahkan
pemeriksaan setiap waktu. Kondisi agregat Secara umum, penelitian ini dilakukan dengan
harus dijaga terhadap kadar air, suhu, gradasi metode penelitian berbasis eksperimen di
dan lain-lain agar tetap/konstan selama laboratorium. Komponen pengujian utama yang
penyimpanan hingga dibawa ke tempat dititikberatkan pada penelitian ini, yaitu
pencampuran. pengujian karakteristik campuran aspal beton
dengan menggunakan material perkerasan
Beberapa penelitian terdahulu mengkaji
berupa agregat alami, agregat batu pecah, dan
mengenai karakteristik agregat pada campuran
atau kombinasi keduanya.
aspal beton. Berikut adalah uraian penelitian
terdahulu yang memiliki relevansi terhadap
penelitian ini:
Profesor Teknik Sipil dan Lingkungan
University of Massachusetts Dartmouth, Dr
Walaa Mogawer melakukan penelitian tentang
hot mix aspal yang mengandung agregat daur
ulang. Penelitian ini dirancang untuk
mengevaluasi kinerja campuran beraspal dengan
agregat daur ulang untuk mengidentifikasi sifat
material dan pengolahan yang diperlukan untuk
menghasilkan campuran dengan kelelahan
terendah dan sifat retak yang setara atau lebih
baik dari campuran pada umumnya.
Di Indonesia, penelitian yang relevan telah
dilakukan oleh Bagus Teguh Setiawan dari
Universitas Negeri Yogyakarta, pada Juni 2012.
Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk
mengetahui pengaruh keausan dan porositas
agregat kasar daur ulang terhadap penurunan
kuat tekan beton yang dihasilkan hingga tiga kali
pengulangan, serta membandingkan kuat tekan
beton daur ulang antara agregat dari sungai Opak
dengan agregat hasil pengolahan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Kuat tekan beton yang dihasilkan dari
agregat daur ulang semakin menurun dalam
setiap pengulangannya.
Gambar 1. Bagan Alir Penelitia

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 26
III.1 Studi Literatur dapat dilanjutkan namun jika hasil yang
diperoleh belum memenuhi spesifikasi maka
Pada tahapan ini dilakukan kajian literatur yang
dilakukan pengujian ulang.
berkaitan dengan topik penelitian untuk
menunjang dan memperkuat kerangka berpikir Langkah pengujian selanjutnya adalah
yang akan dipergunakan sebagai dasar untuk penentuan komposisi campuran. Tahapan ini
menyusun metodologi penelitian. Tahapan ini bertujuan untuk menentukan kadar aspal
juga bertujuan untuk menggali teori-teori dasar optimum dari variasi komposisi berat aspal yang
dan konsep yang telah ditemukan oleh para diikuti dengan penyesuaian berat agregat baik
peneliti terdahulu sehingga orientasi dalam agregat kasar maupun halus. Kadar aspal
penelitian ini dapat dirumuskan dengan lebih optimum diperoleh dari analisis karakteristik
terarah. Dalam kajian literatur penelitian ini campuran beraspal dengan meninjau beberapa
difokuskan pada materi yang berhubungan parameter hasil pengujian Marshall tahap I yaitu
dengan karakteristik agregat sebagai material VIM, VMA, VFB, flow, stability, dan Marshall
perkerasan dalam campuran aspal beton. Queotient.
III.2 Tahap Persiapan Alat dan Bahan Kadar aspal optimum selanjutnya dijadikan
sebagai kadar aspal untuk seluruh variasi agregat
Langkah selanjutnya adalah menyiapkan
alami yang digunakan dalam penentuan
peralatan dan material yang berkaitan dengan
komposisi campuran. Adapun variasi kadar
penelitian ini. Penelitian ini dilaksanakan di
agregat alami yang diuji adalah setiap interval
Laboratorium Teknik Jalan Raya Jurusan Sipil
10% yang dikombinasikan dengan agregat batu
Fakultas Teknik UMI. Peralatan yang digunakan
pecah. Komposisi yang ada kemudian dicampur
adalah segala peralatan yang tersedia di
dalam bentuk briket dengan suhu pencampuran
laboratorium yang berkaitan dengan pengujian
dan suhu pemadatan tertentu.
properti material dan pegujian karakteristik
campuran beraspal. Adapun material yang Pengujian Marshall tahap II dilakukan pada
digunakan adalah agregat kasar yaitu agregat briket yang telah dibuat dan telah melalui proses
alami dan batu pecah, agregat halus (pasir dan perendaman sesuai dengan prosedur teknis yang
abu batu), dan aspal pen 60/70. ada. Pada pengujian marshall ini dilakukan
pengumpulan data karakteristik campuran
III.3 Tahap Pengumpulan Data
beraspal untuk setiap variasi. Data ini
Tahapan ini merupakan tahap pengujian di selanjutnya akan dikaji pada tahap selanjutnya.
Laboratorium. Pengujian dimulai dengan
Berikut ini adalah perhitungan jumlah sampel
pemeriksaan properti material baik pada agregat
(briket) yang direncanakan akan diuji
kasar, halus, maupun aspal dengan mengacu
berdasarkan prosedur dan variasi yang
pada spesifikasi yang ada. Setelah hasil
digunakan dalam penelitian ini:
pengujian memenuhi spesifikasi maka pengujian

Tabel 1. Sampel Pengujian


Pengujian Variasi Kadar Aspal (%) Jumlah
Sampel
4,5 5 5,5 6 6,5
Penentuan Kadar 3 3 3 3 3 15
Aspal Optimum
Pengujian Variasi Kadar Agregat Alami (%) Jumlah
Sampel
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Pengujian Marshall 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
untuk beberapa
variasi kadar agregat
alami
Total Jumlah Sampel 45

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 27
III.4 Tahap Analisis dan Interpretasi Data III.5 Perumusan Kesimpulan dan Saran
Pada tahapan ini dilakukan analisis secara grafis Hasil interpretasi data pada tahap sebelummya
dan analitis untuk menentukan hubungan dan menjadi landasan dalam penyusunan kesimpulan
pengaruh dari setiap parameter berikut: sebagai jawaban dari rumusan masalah.
a. Analisis perbandingan karakteristik Kesimpulan yang ditarik direncanakan
campuran yang dihasilkan dari mencakup pemberian rekomendasi terhadap
campuran aspal beton menggunakan interval kadar agregat alami yang masih dapat
material agregat alami maupun ditolerir mengacu pada data karekteristik
agregat batu pecah. Analisis ini campuran hasil pengujian.Selain itu, hasil ini
berdasarkan data pengujian karakteristik menjadi acuan untuk memberikan saran terhadap
Marshall pada komposisi campuran penelitian berikutnya.
tanpa agregat alami dan komposisi IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
campuran tanpa agregat batu pecah.
b. Kajian pengaruh variasi kadar IV.1 Hasil Pengujian Marshall Test Untuk
agregat alami sebagai material Penentuan Kadar Aspal Optimum
perkerasan terhadap kinerja Pengujian ini dilakukan untuk memperoleh nilai
campuran aspal beton. Tahap ini kadar aspal optimum (KAO) dan menentukan
menganalisis performance campuran ketahanan (stabilitas) terhadap kelelehan plastis
pada setiap kadar agregat alami. (flow) dari campuran aspal. Analisis
c. Penentuan rekomendasi kadar karakteristik campuran beraspal diperoleh
agregat alami yang dapat dengan meninjau beberapa parameter hasil
menghasilkan kinerja campuran pengujian Marshall yaitu VIM, VMA, VFB,
aspal beton yang optimum. flow, stability, density, dan Marshall Queotient.
Didasarkan pada komposisi campuran Dalam pelaksanaan pengujian Marshall ini
yang menunjukkan nilai parameter digunakan lima variasi kadar aspal, yaitu (4,5%;
Marshall yang paling optimum jika 5%; 5,5%; 6%; & 6,5%). Berdasarkan hasil
dibandingkan dengan komposisi pengujian diperoleh data sebagai berikut:
lainnya.

Tabel 2. Rekapitulasi Pengujian Marshall Campuran AC WC untuk Kadar Aspal Optimum


(KAO)
Karakteristik Marshall Test
Kadar Stabilitas Flow VIM VMA VFA MQ Density
No
Aspal Min 2-4 Min Min Min Min 250 Min 2,2
800 Kg mm 3% 15 % 65 % (Kg/mm) Kg/mm3

1 4,5 % 890,82 2.25 5,976 14,612 59,106 394,67 2,439


2 5% 886,79 2,47 4,584 14,322 68,016 364,54 2,424
3 5,5 % 1068,16 2.45 4,283 15,016 71,519 443,23 2,409
4 6% 1011,75 2.42 3,740 15,493 75,896 418,34 2,395
5 6,5 % 947,25 3,10 3,723 16,425 77,342 310,46 2,381

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 28
IV.2 Pengaruh Agregat Alami terhadap
Karakteristik Campuran Beraspal
Setelah diperoleh kadar aspal optimum
selanjutnya dilakukan pengujian terhadap
sampel aspal beton yang menggunakan
komposisi kadar aspal optimum yang
dikombinasikan dengan beberapa variasi
prosentasi kadar agregat alami terhadap total
Gambar 2. Penentuan Kadar Aspal Optimum agregat yang digunakan.
Nilai yang diinput pada grafik di atas adalah Pengujian dilakukan dengan mendefinisikan
kadar aspal yang memenuhi spesifikasi untuk karekterisitk sifat-sifat Marshall yaitu Stabilitas,
setiap kadar aspal. Untuk menentukan kadar Flow, VIM, VMA, VFA, Marshall Questiont,
aspal optimum maka diambil nilai tengah dari dan Density. Hasil pengujian marshall campuran
batas atas dan batas bawah irisan kadar aspal dari aspal beton dengan pemanfaatan Agregat Batu
setiap variasi sebagai berikut: Pecah dan Agregat Alami adalah sebagai
berikut:
𝟓,𝟓+𝟔,𝟓
KAO = 𝟐
= 𝟔%
a. Stabilitas
Dari grafik karakteristik campuran diatas Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan
diperoleh nilai kadar aspal terendah dan tertinggi dalam menerima beban lalu lintas tanpa terjadi
yang memenuhi spesifikasi, yaitu batas perubahan bentuk.
minimum 5,5 %, dan batas maksimum 6.5 %.
Selanjutnya dari batas maksimum dan minimum Berikut ini adalah grafik yang menujukkan nilai
tersebut diperoleh nilai tengah sebesar 6%. Nilai stabilitas dalam satuan kg akibat adanya
tengah inilah yang menjadi kadar aspal optimum penggunaan agregat alami dan agregat batu
(KAO) yang akan digunakan pada perencanaan pecah dengan perbandingan (0/100%,10/90%,
campuran AC-WC dengan variasi Agregat 20/80%, 30/70%, 40/60%, 50/50%, 60/40%,
Alami 10%, 20%,30% 40%,50%, 60%,70%, 70/30%, 80/20%, 90/10%, 100/0%) dari total
80%,90% dan 100%. berat agregat.

menggambarkan bahwa campuran menjadi lebih


rentan mengalami deformasi akibat beban lalu
lintas jika penggunaan kadar agregat alami
semakin bertambah. Nilai flow untuk kadar 10%
- 50% memenuhi spesifikasi, sedangkan untuk
kadar 60% - 100% sudah tidak memenuhi
spesifikasi.
b. Kelelehan (Flow)
Gambar 3. Nilai stabilitas untuk setiap variasi kadar
Agregat alami.
Nilai flow menyatakan besarnya deformasi yang
terjadi pada suatu lapis perkerasan akibat beban
Nilai stabilitas menurun seiring dengan lalu lintas. Suatu campuran dengan nilai flow
penambahan agregat alami. Untuk kadar agregat tinggi akan cenderung lembek, sehingga mudah
alami 10% - 50% nilai stabilitas memenuhi berubah bentuk jika menerima beban.
spesifikasi sementara kadar agregat alami 60% - Sebaliknya jika flow rendah maka campuran
100% tidak memenuhi spesifikasi. Penggunaan menjadi kaku dan mudah retak jika menerima
kadar agregat alami yang berlebihan tidak baik, beban yang melampaui daya dukungnya.
karena daya ikat dari lapisan aspal sudah tidak
efektif untuk penguncian antar partikel, sehingga
terjadi gesekan antar butir.
Nilai flow terus mengalami penurunan seiring
dengan penambahan kadar agregat alami. Hal ini

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 29
d. Void in Mineral Aggregate (VMA)
Voids in Mineral Aggregates (VMA) adalah
volume rongga yang terdapat diantara butir-butir
agregat dari suatu campuran beraspal yang telah
dipadatkan, termasuk didalamnya rongga udara
dan rongga yang berisi aspal efektif, dinyatakan
Gambar 4. Nilai Flow untuk setiap variasi kadar
dalam % volume, berikut grafik VMA akibat
Agregat alami. adanya penggunaan agregat alami dan agregat
batu pecah dengan perbandingan
Nilai flow terus mengalami penurunan seiring (0/100%,10/90%, 20/80%, 30/70%, 40/60%,
dengan penambahan kadar agregat alami. Hal ini 50/50%, 60/40%, 70/30%, 80/20%, 90/10%,
menggambarkan bahwa campuran menjadi lebih 100/0%).
rentan mengalami deformasi akibat beban lalu
lintas jika penggunaan kadar agregat alami
semakin bertambah. Nilai flow untuk kadar 10%
- 50% memenuhi spesifikasi, sedangkan untuk
kadar 60% - 100% sudah tidak memenuhi
spesifikasi.
c. Void in Mixture (VIM)
Void In Mixture (VIM) adalah parameter yang
menunjukkan volume rongga yang berisi udara Gambar 6. Nilai VMA untuk setiap variasi kadar
dalam campuran aspal yang dinyatakan dalam Agregat alami.
% volume, berikut grafik VIM akibat adanya
Nilai VMA semakin meningkat seiring dengan
penggunaan agregat alami dan agregat batu
penambahan kadar agregat alami. Semakin besar
pecah dengan perbandingan (0/100%,10/90%,
penambahan kadar agregat alami menyebabkan
20/80%, 30/70%, 40/60%, 50/50%, 60/40%,
besarnya rongga antar agregat pada campuran,
70/30%, 80/20%, 90/10%, 100/0%) dari total
hal ini disebabkan karena bentuk agregat alami
berat agregat batu pecah.
yang cenderung bulat dan permukaannya licin
sehingga daya ikat antar agergat lebih kecil jika
dibandingkan dengan bentuk agregat batu pecah.
e. Void filled with Asphalt (VFA)
Void Filled with Asphalt (VFA) adalah bagian
volume rongga dalam agregat yang terisi aspal
yang dinyatakan dalam % terhadap rongga antar
butiran ageragat (VMA). Berikut grafik VFA
akibat adanya penggunaan agregat alami dalam
campuran aspal beton.
Gambar 5. Nilai VIM untuk setiap variasi kadar
Agregat alami.
Nilai VIM semakin meningkat seiring dengan
penambahan kadar agregat alami. Dengan
semakin rendahnya nilai VIM maka semakin
kecil pula rongga dalam campuran yang artinya
campuran semakin baik. Seluruh variasi kadar
Agregat Alami yang diujikan yaitu dari 0 hingga
100% memenuhi spesifikasi.
Gambar 7. Nilai VFA untuk setiap variasi kadar
Agregat alami.

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 30
Nilai VFA semakin menurun seiring dengan Penambahan kadar Agregat Alami dapat
penambahan kadar agregat alami. Nilai VFA meningkatkan nilai Marshal Quotient hingga
yang diperoleh dari penambahan agregat alami batas maksimum yaitu 50 %, Kemudian nilai
lebih rendah jika dibandingkan nilai VFA yang MQ pada Variasi kadar filler 60% - 100%
diperoleh dari penggunaan batu pecah, hal ini kembali mengalami penurunan dikarenakan
disebabkan karena penyerapan agregat alami penggunaan kadar Agregat Alami yang
terhadap aspal kurang baik sehingga jumlah berlebihan tidak baik karena daya lekat aspal
aspal efektif yang mengisi rongga antar butir sudah tidak efektif lagi.
agregat pada penambahan Agregat Alami
IV.3 Penentuan kadar agregat alami yang
semakin rendah sehingga rongga udara pada
dapat menghasilkan kinerja campuran
campuran semakin besar.
aspal beton yang optimum
f. Kepadatan (Density)
Untuk menentukan kadar agregat alami yang
Density atau kepadatan adalah rasio antara berat mampu menghasilkan kinerja campuran aspal
benda uji kering dengan volume benda uji yang beton yang optimum maka dilakukan evaluasi
dipengaruhi oleh temperatur, komposisi, kadar hasil pengujian Marshall terhadap karakteristik
bahan tambah, pemadatan, dan kadar aspal. campuran aspal beton meliputi nilai stabilitas,
flow, VIM, VMA, VFA, Density, dan Marshall
Questiont yang ditunjukkan pada gambar
berikut:

Gambar 8. Nilai Density untuk setiap variasi kadar


Agregat alami.
Nilai Density yang diperoleh mengalami
peningkatan seiring dengan penambahan kadar
agregat alami. Peningkatan yang terjadi tidak
signifikan. Meskipun begitu seluruh nilai density Gambar 10. Penentuan Toleransi kadar Agregat
yang diperoleh untuk setiap kadar agregat alami Alami
memenuhi spesifisikasi yaitu minimal 2,2 gr/cm. Berdasarkan gambar 10 terlihat bahwa toleransi
g. Marshall Quotient penambahan agregat alami dari 10% hingga 50%
terhadap berat total agregat kasar memenuhi
Marshall Quetient adalah nilai perbandingan
spesifikasi untuk seluruh karakteristik campuran
yang menunjukkan nilai kekuatan suatu
yang ditinjau sedangkan penambahan agregat
campuran beraspal dalam menerima beban
Alami dari 60% sampai 100% tidak memenuhi
dalam kg/mm. Nilai MQ diperoleh dari
spesifikasi untuk karakterisitk stabilitas dan
perbandingan antara nilai stabilitas yang
flow. Oleh karena itu, jika ditinjau dari aspek
dikoreksi terhadap nilai kelelehan (flow).
karakteristik campuran aspal yang memenuhi
batas yang disyaratkan maka kadar agregat alami
sebesar 10 hingga 50% merupakan interval
kadar yang mampu menghasilkan kinerja
campuran aspal beton yang optimum.
Dari hasil ini dapat diinterpretasikan bahwa
persentase Campuran Aspal Pertamina pen
60/70 yang dikombinasikan dengan Agregat
Alami sebesar 10% hingga 50% serta agregat
batu pecah, mampu bertahan terhadap kerusakan
Gambar 9. Nilai Marshall Questiont untuk yang di sebabkan oleh beban lalu lintas.
setiap variasi kadar Agregat alami.
PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 31
V. PENUTUP dapat memberikan daya rekat aspal yang
lebih kuat terhadap agregat alami.
V.1 Kesimpulan
3. Penelitian ini diharapkan dapat
Berdasarkan hasil penelitian dan dikembangkan lebih lanjut untuk meneliti
pembahasan di bab sebelumnya maka peneliti lebih mendalam pengaruh penambahan
menarik kesimpulan sebagai berikut: agregat alami terhadap pengaruh cuaca.
1. Variasi kadar agregat alami mempengaruhi 4. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
kinerja campuran Aspal beton. Semakin referensi bagi pihak yang terkait khususnya
besar kadar agregat alami yang digunakan di bidang perkerasan jalan.
memberikan pengaruh terhadap
karakteristik campuran aspal beton sebagai DAFTAR PUSTAKA
berikut: terjadinya penurunan nilai stabilitas,
Akzo, Nobel. 2003. Asphalt Applications. Heat-
penurunan nilai flow (kelelehan),
Stable Adhesion Promoter for
peningkatan nilai VIM (rongga dalam
Bituminous Binders.
campuran), peningkatan nilai VMA (rongga
pada butir agregat), penurunan nilai VFA Atkins, Harold N. 2003. Highway Materials,
(rongga yang terisi aspal), peningkatan yang Soils, and Concretes fourth
tidak signifikan pada nilai density edition.Pearson Education Inc: Upper
(kepadatan campuran), dan peningkatan Saddle River, New Jersey.
nilai Marshall Questiont pada kadar tertentu
Departemen Pekerjaan Umum. 2010. Spesifikasi
yang selanjutnya menurung seiring dengan
Umum Bidang Jalan dan Jembatan,
penambahan kadar agregat alami.
Badan Penelitian dan Pengembangan
2. Kadar agregat alami yang dapat
PU, Departemen Umum, Jakarta.
menghasilkan kinerja campuran aspal beton
yang optimum berada pada interval 10% - Departemen Pekerjaan Umum. 2010. Seksi 6.3
50% terhadap total berat agregat kasar. Spesifikasi Campuran Beraspal Panas
Penentuan toleransi kadar agregat alami ini ,Jakarta.
dilakukan berdasarkan evaluasi hasil Huang, Y.H. 2004. Pavement Analysis and
pengujian Marshall terhadap karakteristik Design, Pearson Education, Inc., Upper
campuran aspal beton yang meliputi nilai Saddle River, New Jersey.
stabilitas, flow, VIM, VMA, VFA, Density,
dan Marshall Questiont. Nemas, Dian. 2014. Teknologi Bahan Bangunan
Agregat. Jurnal.
V.2 Saran
Saodang, Hamirhan. 2005. Perancangan
Berdasarkan hasil penelitian yang Perkerasan Jalan Raya. Nova,
diperoleh serta proses penelitian yang telah Bandung.
dilalui peneliti, diusulkan beberapa saran
sebagai berikut : Sukirman, Silvia. 2003. Beton Aspal Campuran
1. Dapat dilakukan penelitian lanjutan untuk Pana. Granit, Jakarta.
meneliti pemanfaatan agregat alami dengan Syahputra, Rio. 2013. Pengaruh Agregat Bentuk
menggunakan jenis aspal yang lebih Bulat (ROUNDED AGGREGATE)
bervariasi. terhadap Karakteristik Marshall
2. Penelitian ini diharapkan dapat lebih Campuran Beton Aspal AC-WC
dikembangkan untuk penelitian selanjutnya Menggunakan Aspal Penetrasi 60/70
dengan menggunakan bahan kimia yang Sebagai Bahan Pengikat. Jurnal

PEMANFAATAN AGREGAT ALAMI DAN AGREGAT BATU PECAH SEBAGAI MATERIAL PERKERASAN
PADA CAMPURAN ASPAL BETON
Bulgis , Rani Bastari Alkam 32