Anda di halaman 1dari 15

A.

LATAR BELAKANG

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


574/Menkes/SK/IV/2000 telah ditetapkan Visi Pembangunan Kesehatan, yaitu
Indonesia Sehat 2015. Visi tersebut menggambarkan bahwa pada tahun 2015
bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih
dan sehat serta mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil
dan merata, sehingga memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Program Indonesia Sehat merupakan salah satu program dari Agenda ke-5
Nawa Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia. Program ini
didukung oleh program sektoral lainnya yaitu Program Indonesia Pintar, Program
Indonesia Kerja, dan Program Indonesia Sejahtera. Program Indonesia Sehat
selanjutnya menjadi program utama Pembangunan Kesehatan yang kemudian
direncanakan pencapaiannya melalui Rencana.

Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019, yang ditetapkan melalui


Keputusan Menteri Kesehatan R.I. Nomor HK.02.02/Menkes/52/2015. Sasaran
dari Program Indonesia Sehat adalah meningkatnya derajat kesehatan dan status
gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang
didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Upaya pencapaian prioritas pembangunan kesehatan tahun 2015-2019 dalam
Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan mendayagunakan segenap potensi
yang ada, baik dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, maupun
masyarakat. Pembangunan kesehatan dimulai dari unit terkecil dari masyarakat,
yaitu keluarga. Pembangunan keluarga, sebagaimana dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudu-kan dan
Pembangunan Keluarga serta Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah, adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang hidup
dalam lingkungan yang sehat.
Pada langkah lebih lanjut Departemen Kesehatan telah merumuskan suatu visi
dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Visinya adalah “Departemen Kesehatan
Itu Adalah Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat”, dengan Misi
“Membuat Masyarakat Sehat”. Strateginya antara lain menggerakkan dan
memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan akses masyarakat
terhadap pelayanan yang berkualitas, meingkatkan sistem surveilans, monitoring
dan informasi kesehatan, serta meningkatkan pembiayaan kesehatan.

Desa Siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu
mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat,
seperti kurang gizi, kejadian bencana, termasuk didalamnya gangguan jiwa,
dengan memanfaatkan potensi setempat secara gotong royong, menuju Desa
Siaga. Desa Siaga Sehat Jiwa merupakan satu bentuk pengembangan dari
pencanangan Desa Siaga yang bertujuan agar masyarakat ikut berperan serta
dalam mendeteksi pasien gangguan jiwa yang belum terdeteksi, dan membantu
pemulihan pasien yang telah dirawat di rumah sakit, serta siaga terhadap
munculnya masalah kesehatan jiwa di masyarakat.

Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang


signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO (2016), terdapat
sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena
skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Di Indonesia, dengan berbagai faktor
biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk; maka jumlah
kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban
negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang.

Permasalahan gagguan jiwa tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas


manusia, juga berkaitan dengan kasus bunuh diri. Temuan WHO menunjukkan,
diperkirakan 873.000 orang bunuh diri setiap tahun. Lebih dari 90% kasus bunuh
diri berhubungan dengan gangguan jiwa seperti Depresi, Skizofrenia, dan
ketergantungan terhadap alkohol.

Data Riskesdas 2013 memunjukkan prevalensi ganggunan mental emosional


yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun
ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia.
Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar
400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk (DEPKES RI 2016).

Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyatakan Prevalensi gangguan jiwa


berat pada penduduk Indonesia 1,7 per mil. Gangguan jiwa berat terbanyak di DI
Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Tengah. Proporsi RT yang
pernah memasung ART gangguan jiwa berat 14,3 % dan terbanyak pada penduduk
yang tinggal di perdesaan (18,2%), serta pada kelompok penduduk dengan kuintil
indeks kepemilikan terbawah (19,5%). Prevalensi gangguan mental emosional
pada penduduk Indonesia 6,0 persen. Provinsi dengan prevalensi ganguan mental
emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, DI
Yogyakarta, dan Nusa Tenggara Timur (Riskesda, 2013).

Keperawatan kesehatan jiwa komunitas di Indonesia pertama kali


diaplikasikan secara nyata pada tahun 2005 di Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
yang dilakukan berdasarkan kerjasama antara Kelompok Keilmuan keperawatan
Jiwa FIK UI, Forum Komunikasi Keperawatan Jiwa Jakarta, Depkes RI dan WHO
dalam usaha untuk menangani dampak berupa masalah psikososial atau gangguan
jiwa lainnya akibat terjadinya bencana Tsunami dan gempa bumi tanggal 26
Desember 2004 dengan membentuk “desa siaga sehat jiwa”.

Desa Krogowanana merupakan suatu desa yang terletak di Kecamatan


Sawangan Kab. Magelang Jawa Tengah. Fasilitas kesehatan yang dimiliki adalah
Puskesmas yang letaknya di jalan raya dekat pasar Telatar. Pencanangan desa
siaga sehat jiwa di wilayah Magelang ini adalah yang pertama. Pencanangan ini
merupakan upaya perwujudan RW Siaga Sehat Jiwa di wilayah Desa
Krogowanan. Gambaran hasil yang diperoleh yaitu masyarakat maupun kader
antusias dengan kegiatan tersebut dan menginginkan adanya upaya tindak lanjut.
Rencana tindak lanjut sangat perlu dilakukan dalam mewujudkan Desa Siaga
Sehat Jiwa di Desa Krogowanan. Pencanangan lebih lanjut untuk perwujudan
RW siaga Sehat Jiwa, maka pada tahap ini akan dikembangkan di RT 1 – 8 di
wilayah Desa Krogowanan.

B. TUJUAN

1. Tujuan Umum
Terselenggaranya pelatihan kader kesehatan jiwa
2. Tujuan khusus :
Setelah mengikuti pelatihan kader masyarakat/peserta dapat :

a. Melaksanakan program desa siaga sehat jiwa


b. Melakukan deteksi keluarga ; sehat jiwa, risiko masalah psikososial dan
gangguan jiwa di masyarakat
c. Menggerakan individu, keluarga dan kelompok sehat jiwa untuk
mengikuti penyuluhan kesehatan jiwa
d. Mengerakan individu , keluarga dan kelompok yang beresiko mempunyai
masalah psikososial untuk mengikuti penyuluhan kesehatan jiwa.
e. Menggerakan individu, keluarga dan kelompok yang mempunyai
gangguan jiwa utnuk mengikuti pendidikan kesehatan jiwa
f. Menggerakan pasien gangguan jiwa yang mandiri untuk program TAK
dan rehabilitasi
g. melakukan kunjungan rumah pada keluarga yang anggota keluarganya
mengalami masalah psikososial atau gangguan jiwa yang telah mandiri.
h. Melakukan rujukan kasus masalah psikososial atau gangguan jiwa pada
perawat CMHN atau Puskesmas
i. Membuat dokumentasi perkembangan kondisi kesehatan jiwa pasien.

C. PESERTA
Pelatihan kader Desa Siaga Sehat Jiwa dilakukan pada hari Kamis, 12
Juli 2018 pada pukul 13.00 WIB bertempat dirumah Bapak Supriyono Kepala
Dusun Tlatar Desa Krogowanan. Pelatihan dihadiri sekitar 22 orang peserta.
Pada hari Jumat tanggal 13 Juli 2018, di lakukan skrining deteksi keluarga oleh
kader yang berjumlah 16 orang dan di dampingi mahasiswa.

D. SUSUNAN ACARA
Kamis, 12 Juli 2018
Waktu Kegiatan
13.00-13.30 Pembukaan

Pelatihan :

13.30-13.45 1. Program desa/RW siaga sehat jiwa (15 menit)


2. Deteksi dini kasus masyarakat (15 menit)
13-45-14.00
3. Peran serta masyarakat dalam menggerakkan
14.05-14-30 masyarakat (sehat & resiko) (25 menit)
4. Peran serta masyarakat dalam menggerakkan
masyarakat (Gangguan) (20 menit)
14.40-15.00
5. Supervisi keluarga (20 menit)
15.10-15.30

15.30-selesai Penutup
Jum’at, 13 Juli 2018
Waktu Kegiatan
16.20 - 16.30 Pembukaan

Pelatihan :

16.30 - 16.45 1. Rujukan kasus (15 menit)


2. Dokumentasi/pelaporan kegiatan kader
16.45 – 17.00
kesehatan jiwa (15 menit)
Skrining oleh kader didampingi mahasiswa
17.00 – 17.30
ke rumah warga

Melakukan rekapitulasi hasil skrining


17.30 – 17.45
bersama kader

Melakukan pembentukan struktur


17.45 – 18.00
organisasi kader

18.00 - selesai Penutup

E. EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
a. Kontrak tempat dan waktu dengan kader RW 01, Dusun Tlatar
Kelurahan Krogowanan Kecamatan Sawangan Kota Magelang
duahari sebelum kegiatan dilakukan
b. Proposal kegiatan dan materi di konsulkan dengan dosen pembimbing
dua kali dan sudah direvisi
c. Tempat akan dilaksanakan di Dirumah Pak Supriyono selaku Kadus di
RW 01 Dusun Tlatar Kelurahan Krogowanan Kecamatan Sawangan
Kota Magelang
d. Koordinasi dengan Kepala Dusun Tlatar Kelurahan Krogowanan
Kecamatan Sawangan Kota Magelang untuk melakukan pelatihan
kader Desa Siaga Sehat Jiwa.
2. Evaluasi Proses
a. Kegiatan hari ke 1, acara dilaksanakan jam 13.00 mundur 30 menit
dari waktu undangan yang sudah direncanakan, karena kader saling
menunggu kader yang lain. Undangan yang dibagikan sebanyak 27
undangan dan yang hadir hanya 22 orang. Kader tampak antusias saat
acara dilaksanakan. Acara diskusi berjalan dengan lancar ada 4 peserta
yang bertanya saat acara diskusi berlangsung
b. Kegiatan hari ke 2, acara yang di rencanakan mulai jam 16.00 mundur
30 menit menjadi jam 16.30, kader yang hadir pada pelatihan hari ke
2 yaitu 16 kader. Kegiatan skrining ke warga kurang efektif
dikarenakan waktu yang tidak memungkinkan karena sudah
menjelang magrib.
3. Evaluasi Hasil
a. Terlaksanakannya pelatihan kader Desa Siaga Sehat Jiwa
b. Terbentuknya struktur organisasi Kader Desa Siaga Sehat Jiwa
c. Kader telah melakukan kegiatan mendeteksi keluarga ; sehat jiwa,
risiko masalah psikososial dan gangguan jiwa di masyarakat
d. Didapatkan hasil skrinning warga :
1) RT 01 = 3 kepala keluarga (sehat 8 orang, resiko 0, gangguan 1)
2) RT 02 = 3 kepala keluarga (sehat 5 orang, resiko 3, gangguan 0)
3) RT 03 = 4 kepala keluarga (sehat 10 orang, resiko 3, gangguan 0)
4) RT 04 = 6 kepala keluarga (sehat 21 orang, resiko 3, gangguan 0)
5) RT 05 = 3 kepala keluarga (sehat 4 orang, resiko 6, gangguan 1)
6) RT 06 = 5 kepala keluarga (sehat 21 orang, resiko 0, gangguan 0)
7) RT 07 = 5 kepala keluarga (sehat 14 orang, resiko 5, gangguan 0)
8) RT 08 = 3 kepala keluarga (sehat 10 orang, resiko 0, gangguan 0)
e. Kegiatan sudah di sepakati oleh kader dilaksanakan setiap 1 bulan
sekali yaitu pada tanggal 10, untuk tempat berkumpulnya kader
sebelum kegiatan yaitu dirumah bapak kepala dusun.
F. HAMBATAN DALAM PELAKSANAAN
1. Kegiatan hari ke 1 : Kegiatan mundur 30 menit karena menunggu kader
lengkap, mempersiapkan snack yang kurang dan kurang maksimalnya
dalam role play
2. Kegiatan hari ke 2 : kegiatan mundur 30 menit karena menunggu kader
lengkap terlebih dahulu dan kurang efektifnya waktu skrinning terhadap
warga karena waktu yang terlalu singkat.

G. SARAN
Diharapkan para kader tetap aktif dalam melaksanakan kunjungan rumah ke
warga dan tetap terlaksanakannya kegiatan yang sudah disepakati bersama.

H. LAMPIRAN
1. Daftar Hadir
2. Notulensi
3. Dokumentasi

LAMPIRAN 1
Daftar Hadir
DAFTAR HADIR PELATIHAN TIM JUMANTIK
RW VII KELURAHAN ROWOSARI KECAMATAN
TEMBALANG
No Nama Alamat Ttd
LAMPIRAN 2
Notulensi :
Struktur Organisasi
Ketua : Bp. Sutrisno
Wakil : Bp. Lilik
Sekretaris : Ibu. Ani
Bendahara : Ibu. Yani

Pertanyaan:
1. Bagaimana cara berbicara terhadap keluarga yang dikaji jika nanti ada
keluarga yang tersinggung?
Jawaban: Para kader harus menanyakan sesuai dengan keterangan status
kesehatan keluarga yang sudah ada di buku deteksi keluarga siaga sehat
jiwa
2. Bagaimana cara mengisi buku deteksi keluarga?
Jawaban: Jika saat pendeteksian keluarga ditemukan keluarga tersebut sehat
maka maka diberi tanda ceklis pada kondisi kesehatan dikolom sehat dan
seterusnya disesuaikan dengan kondisi keluarga tersebut.

3. Apakah kader sehat jiwa harus sehat jiwanya terlebih dahulu?


Jawaban: Ya, kader sehat jiwa harus sehat jiwanya terlebih dahulu sesuai
syarat yang sudah ditentukan. Jika kadernya tidak sehat jiwa maka kadernya
tidak bisa mengkaji warga/keluarga tersebut.
LAMPIRAN 3
LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN

KEGIATAN PELATIHAN KADER

Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kec. Sawangan, Kab. Magelang

Disusun Oleh :

1. Siti Setiani S G3A017166


2. Sari Purwaningrum G3A017137
3. Saifinatun Nazah G3A017172
4. Toha Machsun G3A017246
5. Utin Sylvia K G3A017247
6. Bambang Aji Prasetyo G3A017210
7. Fifianty Rumarubun G3A017213
8. Ita Kholifatul Ulum G3A017212
9. Nicki Ansera G3A017209
10. Vivi Nuryanti G3A017211

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2018