Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
anugerahNya penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama
proses penulisan hingga penyelesaian makalah ini .

Makalah ini kami susun berdasarkan pengetahuan yang kami peroleh dari
beberapa buku, media elektronik dan penggalian informasi secara langsung
terhadap objek penelitian dengan harapan bahwa pembaca dapat memahami
tentang bagaimana mengelola suatu resiko sehingga menjadi sebuah kesempatan
dalam usaha atau bisnis .

Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu
kami mengharapkan saran dan kritikan dari pembaca yang bermanfaat untuk
kesempurnaan makalah ini .

Jakarta, Oktober 2018

Tim Penulis

-1-
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................................ 1


Daftar isi ..................................................................................................................................................... 2

1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Pembahasan ...................................................................................................... 3
1.2 Tujuan Penelitian ............................................................................................................................ 4

2 Tinjauan Pustaka
2.1 Teori Pembahasan Permasalahan ............................................................................................. 4

3 Metode Identifikasi
3.1 Latar Belakang Perusahaan ......................................................................................................... 6
3.2 Metode Identifikasi Risiko ............................................................................................................ 6
3.3 Menganalisis Risiko dan Peta Risiko ........................................................................................ 7

4 Identifikasi Risiko

4.1. Risiko Perusahaan ........................................................................................................................... 9


4.2. Daftar Kerugian Potensial ............................................................................................................ 9

5. Pengelolaan Risiko
5.1 Pengelolaan Risiko Perusahaan ................................................................................................ 10
5.2 Opsi Pengelolaan Risiko(Strategi dan Sasaran) .................................................................. 12

6. Evaluasi Risiko................................................................................................................................ 15

7. Simpulan dan Saran ..................................................................................................................... 15

-2-
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pembahasan

Apotek merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan dalam


membantu mewujudkan tercapainya derajat kesehatan yang optimal bagi
masyarakat . Menurut Peraturan Menteri Kesehatan (PerMenKes) RI Nomor 35
Tahun 2014, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktik
kefarmasian oleh Apoteker. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Kesehatan
(KepMenKes) RI Nomor 1332 Tahun 2002, Apotek adalah sarana kesehatan, tempat
pengabdian profesi seorang Apoteker dalam melakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran perbekalan kefarmasian kepada masyarakat. Apotek merupakan tempat
dimana masyarakat dapat memperoleh sediaan farmasi berupa obat dan alat
kesehatan sebagai bentuk dalam melakukan upaya kesehatan. Ketika berada di
Apotek, pasien atau masyarakat akan dilayani oleh Apoteker sesuai dengan
wewenang yang dimilikinya. Apoteker sendiri merupakan sarjana farmasi yang telah
lulus sebagai Apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker.

Berikut adalah istilah dalam bidang usaha apotek :


 Apotek adalah tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian dan
penyaluran sediaan farmasi, perbekalan kesehatan lainnya kepada masyarakat.
 Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus pendidikan profesi dan telah
mengucapkan sumpah berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku dan
berhak melakukan pekerjaan kefarmasian di Indonesia sebagai apoteker.
 Sediaan farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika
perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang
diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
 Perbekalan kesehatan adalah semua bahan selain obat dan peralatan yang
diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
 Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, dokter hewan kepada
apoteker untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi pasien sesuai
peraturan perundangan yang berlaku
 Perlengkapan apotek adalah semua peralatan yang dipergunakan untuk
melaksanakan kegiatan pelayanan kefarmasian di apotek.
 Pelayanan Kefarmasian (Pharmaceutical care) adalah bentuk pelayanan dan
tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam pekerjaan kefarmasian untuk
meningkatkan kualitas hidup pasien.

-3-
1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah :


1) Menjelaskan pengertian risiko, serta tujuan, manfaat, dan proses penilaian risiko.
2) Menjelaskan metode penilaian risiko dan komponen penilaian risiko suatu instansi.
3) Menjelaskan ruang lingkup identifikasi risiko, tujuan identifikasi, model dan proses
identifikasi serta cara menyusun daftar risiko.
4) Menjelaskan cara melakukan analisis risiko, mengukur, menetapkan kemungkinan
terjadinya risiko, dampak risiko, dan memetakannya.
5) Pencapaian dan peningkatan kinerja instansi dalam jangka menengah dan panjang,
dan merupakan implementasi dari visi dan misi instansi tersebut.
6) Tujuan kegiatan perusahaan : Tujuan Operasional , pelaporan dan compliance .

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Pembahasan Permasalahan

2.1.1. Pengertian Risiko


Adalah ketidakpastian atau konsekuensi yang dapat terjadi dan
menimbulkan kerugian yang tidak diharapkan. Bisa berupa kerugian harta,
penderitaan fisik , dan tanggung jawab hukum.

2.1.2. Macam-Macam Risiko

1) Berdasarkan Sifat
 Spekulatif , sengaja ditimbulkan agar ketidakpastian memberikan keuntungan.
 Murni , yaitu yang tidak disengaja, yang apabila terjadi dapat menibulkan
kerugian dan tidak terjadi tidak menimbulkan kerugian.

2) Berdasarkan Pengalihan
 Dapat dialihkan yaitu asuransi.
 Tidak dapat dialihkan yaitu risiko spekulatif.

3) Berdasarkan Sumber
 Internal , dari dalam perusahaan.
 Eksternal , dari pihak luar perusahaan.

-4-
2.1.3. Pengertian Manajemen Risiko

Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko,


serta membentuk strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia.
Strategi yang dapat digunakan antara lain mentransfer risiko pada pihak lain,
mengindari risiko, mengurangi efek buruk dari risiko dan menerima sebagian
maupun seluruh konsekuensi dari risiko tertentu

2.1.4. Tujuan Manajemen Risiko


Tujuan utama dalam identifikasi resiko adalah untuk mengetahui daftar
– daftar resiko yang potensial dan dampak yang mempengaruhi tujuan / proses
bisnis suatu organisasi (Harold, 2010)

2.1.5. Langkah-Langkah Proses Pengelolaan Risiko

1. Mengidentifikasi tujuan yang akan dicapai dalam pengelolaan risiko


2. Mengidentifikasi risiko yang akan dihadapi
3. Mengevaluasi dan mengukur besarnya kerugian potensial
4. Mencari cara menyelesaikan masalah yang timbul akibat peril
5. Mengimplementasikan keputusan yang telah diambil untuk menanggulangi
risiko
6. Menjalankan, memonitoring, dan mengevaluasi semua langkah-langkah atau
strategi yang telah diambil untuk menanggulai risiko

2.1.6. Metode Identifikasi Risiko


Proses ini meliputi identifikasi risiko yang mungkin terjadi dalam suatu
aktivitas usaha. Identifikasi risiko secara akurat dan komplet sangatlah vital dalam
manajemen risiko. Salah satu aspek penting dalam identifikasi risiko adalah
mendaftar risiko yang mungkin terjadi sebanyak mungkin.
Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam identifikasi risiko antara lain:
 Brainstorming
 Survey
 Wawancara
 Informasi historis
 Kelompok kerja, dll

Selain hal tersebut, faktor – faktor lain yang juga perlu diperhatikan adalah:
 Pemilihan metodologi identifikasi resiko yang sesuai dengan kondisi eksisting
perusahaan / organisasi.
 Sumberdaya manusia yang dilibatkan dalam aktivitas identifikasi resiko.
 Pendekatan siklus hidup untuk mengidentifikasi resiko dan menentukan
bagaimana resiko berubah dan masuk dalam siklus hidup tersebut.

-5-
3. METODE IDENTIFIKASI

3.1 Latar Belakang Perusahaan

Nama Usaha/Jasa : Apotek Idaman


Kegiatan Usaha : Usaha dagang dan jasa yang bergerak dalam bidang penjualan
obat-obatan dan barang-barang pendukung kesehatan.
Alamat / Telp : Jl. Tomang Utara I no.68 | Telp. 021 - 5672663
Jumlah karyawan : 6 karyawan yang terdiri dari :
 Shift pagi : 2 karyawan
 Shift Siang : 2 karyawan
 Apoteker 1
 Penanggung jawab 1
Nomor SIA : 777/03/01/Yankes/04.07
Apoteker : Dra. Iswardani.

Penjualan dilakukan dengan dua cara, yaitu menggunakan resep dokter dan tanpa
menggunakan resep dokter. Selain menjual obat yang sudah jadi, apotek juga
menjual obat racikan berdasarkan resep dokter dengan menggunakan tenaga
apoteker .

3.2 Metode Identifikasi Risiko

Identifikasi risiko yang kami lakukan terhadap Apotek Idaman yaitu


dengan melakukan interaksi langsung terhadap kepala karyawan apotek . Cara yang
kami tempuh adalah dengan mengadakan kunjungan dan interview secara langsung
langsung ke Apotek. Selain itu kami menganalisis secara langsung prosedur yang
terjadi saat penjualan obat . Mulai dari pengunaan resep dan pemberian obat , serta
penjelasan aturan pakai obat tersebut .

Proses penjualan retail dan partai yang berjalan saat ini di Apotek Idaman
dapat dikategorikan sebagai penjualan pada umumnya. Pelanggan melakukan
pemesanan obat baik dengan resep maupun sesuai permintaan, kemudian kasir
mengecek ketersediaan obat . Jika tidak ada stok, pegawai akan memberitahukan
kepada pelanggan . Apabila obat tersedia maka kasir membuat struk untuk
pelanggan setelah menyebutkan ulang obat yang dipesan dan total yang akan
dibayarkan oleh pelanggan . Dalam pembayaran pemesanan, pelanggan bisa
langsung membayar secara cash tunai maupun Debit ATM . Apabila sudah
membayar maka obat akan disiapkan .

-6-
3.3 Menganalisis Resiko dan peta resiko

Setelah proses identifikasi, maka dilakukan pengukuran tingkat


kemungkinan dan dampak resiko. Pengukuran resiko dilakukan setelah
mempertimbangkan pengendalian resiko yang ada. Pengukuran resiko dilakukan
menggunakan kriteria pengukuran resiko secara kualitatif, semi kualitatif, atau
kuantitatif tergantung pada ketersediaan data tingkat kejadian peristiwa dan
dampak kerugian yang ditimbulkannya.
Dapat dilihat pada tabel tingkat kemungkinan berikut :

Kemungkinan Deskripsi Nilai


Jarang Terjadi pada keadaan khusus 1
Kadang-kadang Dapat terjadi sewaktu-sewaktu 2
(Unlikely)
Mungkin Mungkin terjadi sewaktu-waktu 3
(Possible)
Mungkin sekali Mungkin terjadi pada banyak 4
(likely) keadaan tapi tidak tetap
Hampir pasti Dapat terjadi pada tiap keadaan 5
(almost certain) dan Menetap

Pengukuran kualitatif, konsekuensi / dampak :

Tingkat DAMPAK
1 Tidak Berarti Tidak ada efek, Kerugian materil kecil
2 Rendah Dapat diatasi, kerugian materil sedang
3 Sedang Memerlukan pengobatan, kerugian besar
4 Berat Cedera luas (cacat), kerugian sangat besar
5 Berbahaya kematian

DAMPAK
KEMUNGKINAN TIDAK RENDAH SEDANG BERAT/ BERBAHAYA/
BERARTI BESAR SGT BESAR
JARANG 1 2 3 4 5
KADANG 2 4 6 8 10
MUNGKIN 3 6 9 12 15
MUNGKIN SEKALI 4 8 12 16 20
HAMPIR PASTI 5 10 15 20 25

1-3 4-6 7-9 10-16 17-25

Contoh Perhitungan :
Bobot “Kadang-Kadang” = 2 , Bobot dampak “Rendah” = 2
Bobot penilaiannya adalah 2x2 = 4 berada di kolom kuning yaitu sedang.

-7-
Tabel Resiko Analisis Apotek Idaman (Pemberian Bobot)

Resiko Kemungkinan Impact Total

1. Risiko penjualan obat tanpa resep 3 2 6

2. Risiko salah mengidentifikasi resep 3 4 12


( salah membaca resep)

3. Risiko ketidaktersediaan obat 2 3 6

4. Risiko obat kadaluarsa 4 4 16

5.Risiko tempat penyiapan atau 1 4 4


pembuatan obat yang tidak memenuhi
standard

6. Risiko petugas yang menyiapkan obat 2 4 8


tidak kompeten

7. Risiko dari pelabelan obat yang tidak 4 4 16


jelas

8. Risiko obat yang disiapkan tidak sesuai 2 3 6


(diganti dengan obat sejenis ,namun
kandungan berbeda)

Jadi kita dapat menentukan fokus resiko yang akan ditanggulangi terlebih dahulu/
perbaikan terlebih dahulu yaitu pada point :
1. Pada point yang memiliki bobot penilaian paling tinggi yaitu 16 : point 4 dan 7
2. Kemudian bobot 12 pada point 2
3. Kemudian bobot 8 pada point 6
4. Kemudian bobot 6 pada point 1, 3 dan 8
5. dan terakhir pada bobot 4, pada point 5

-8-
4. IDENTIFIKASI RESIKO

Hasil dari identifikasi resiko dan dampak kerugian dibawah ini dapat
diaplikasikan pada tabel analisis resiko dan peta resiko diatas .
4.1 Risiko Perusahaan
1) Peresepan Obat
 Risiko penjualan obat tanpa resep
 Risiko salah mengidentifikasi resep ( salah membaca resep)

2) Pengadaan Obat
 Risiko ketidaktersediaan obat
 Risiko obat kadaluarsa

3) Penyiapan Obat
 Risiko tempat penyiapan atau pembuatan obat yang tidak memenuhi standard .
 Risiko petugas yang menyiapkan obat tidak kompeten
 Risiko dari pelabelan obat yang tidak jelas
 Risiko obat yang disiapkan tidak sesuai (diganti dengan obat sejenis , namun
kandungan berbeda)

4) Pemberian Obat
 Risiko dari tidak adanya verifikasi tambahan saat pemberian obat
 Risiko kesalahan pemberian obat
 Risiko yang timbul karena informasi tentang efek samping obat yang tidak dilakukan
 Risiko petugas yang memberikan obat tidak berwenang

4.2 Daftar Kerugian Potensial

1) Kerugian atas harta


 Kerugian langsung
Apotek terbakar , obat dan peralatan dalam usaha menjadi rusak
 Kerugian tidak langsung
Rusak nya obat yang tersimpan di tempat penyimpanan obat, obat yang kadaluarsa,
reputasi menurun karena tidak professional .
 Kerugian atas pendapatan
Pelanggan yang gagal bertransaksi akibat ketidaksediaan obat.

2) Kerugian berupa kewajiban kepada pihak lain


 Ganti rugi yang harus diberikan akibat salah memberikan obat

3) Kerugian Personil
 Kematian , pemilik atau karyawan kunci dari perusahaan

-9-
5. PENGELOLAAN RESIKO

5. 1 Pengelolaan Risiko Perusahaan`

1) Peresepan Obat
Merekrut karyawan yang kompeten sehingga tidak terjadi kesalahan dalam
membaca resep
2) Pengadaan Obat
Berdasarkan Kepmenkes RI No. 1027/Menkes/SK/IX/2004 untuk menjamin
kualitas pelayanan kefarmasian maka pengadaan sediaan farmasi harus melalui
jalur resmi. Pengadaan barang dapat melalui 2 cara yaitu pembelian dan konsinyasi.
Prosedur pembelian meliputi tahap-tahap sebagai berikut :
a) Persiapan
Pengumpulan data obat dan perbekalan farmasi yang akan dipesan berdasarkan
buku defecta (buku barang habis) baik dari bagian penerimaan resep, obat bebas
maupun dari gudang.

b) Pemesanan
Pemesanan dilakukan dengan menggunakan Surat Pemesanan (SP) untuk setiap
supplier. Surat pemesanan di Apotek ada tiga macam yaitu surat pesanan narkotika,
surat pesanan psikotropika, dan surat pesanan untuk obat selain narkotika dan
psikotropika. SP minimal dibuat 2 rangkap (untuk supplier dan arsip apotek) dan
ditandatangani oleh APA dengan mencantumkan nama dan nomor SP serta cap
apotek. SP pembelian Narkotik dibuat 5 rangkap, 1 lembar merupakan arsip untuk
administrasi apotek dan 4 lembar dikirim ke PBF Kimia Farma, selanjutnya PBF
Kimia Farma menyalurkan kepada kepala Dinas kesehatan Kota/Kabupaten, BPOM
dan penanggungjawab Narkotika di Depot Kimia Farma Pusat. Satu lembar surat
pesanan untuk memesan satu jenis narkotika. SP untuk psikotropika, format telah
ditetapkan oleh Dinas Kesehatan, dibuat rangkap 3, satu lembar (asli) untuk PBF
dan dua lembar (tembusan) untuk arsip apotek dan pengecekan barang datang.
Dalam satu SP dapat memuat lebih dari satu item obat, pemesanan bisa dilakukan
selain PT. Kimia Farma.

c) Barang yang datang dicocokkan dengan faktur dan SP (Surat Pesanan).


Faktur tersebut rangkap 4-5 lembar, dimana untuk apotek diberikan 1 lembar
sebagai arsip, sedangkan yang lainnya termasuk yang asli dikembalikan ke PBF yang
akan digunakan untuk penagihan dan arsip PBF. Faktur tersebut berisikan nama
obat, jumlah obat, harga obat, bonus atau potongan harga, tanggal kadaluarsa, dan
tanggal jatuh tempo. Faktur ini dibuat sebagai bukti yang sah dari pihak kreditur
mengenai transaksi penjualan (Hartini dan Sulasmono, 2007).
Untuk obat-obat yang memiliki waktu kadaluarsa, dalam pembeliannya diperlukan
perjanjian mengenai batas waktu pengembalian ke PBF bersangkutan jika sudah

- 10 -
mendekati waktu kadaluarsa obat. Jika tidak cocok atau tidak sesuai maka barang
akan dikembalikan melalui petugas pengantar barang.

Kebijaksanaan pengelolaan Apotek terutama dalam hal pembelian barang sangat


menentukan keberhasilan usaha. Beberapa cara pembelian barang yaitu:

d) Pembelian dalam jumlah terbatas (Hand to mouth buying)\


Pembelian dilakukan sesuai dengan kebutuhan dalam jangka waktu yang pendek,
misalnya satu minggu. Pembelian ini dilakukan bila modal terbatas dan PBF berada
tidak jauh dari Apotek, misalnya berada dalam satu kota dan selalu siap melayani
kebutuhan obat sehingga obat dapat dikirim (Anief, 2008).

e) Pembelian secara spekulasi


Cara pembelian ini dilakukan dalam jumlah yang lebih besar dari kebutuhan, dengan
harapan ada kenaikan harga dalam waktu dekat atau dikarenakan adanya diskon
atau bonus. Meskipun pembelian secara spekulasi memungkinkan mendapatkan
keuntungan yang besar tetapi cara ini mengandung resiko yang besar untuk obat-
obatan dengan waktukadaluwarsa yang relatif dan yang bersifat slow moving (Anief,
2008).

f) Pembelian terencana
Cara pembelian ini erat hubungannya dengan pengendalian persediaan barang.
Pengawasan stok obat/barang sangat penting untuk mengetahui obat/barang mana
yang laku keras dan mana yang kurang laku. Hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan kartu stok. Selanjutnya dilakukan perencanaan pembelian sesuai
dengan kebutuhan per item (Anief, 2008)
Selain itu ada juga pembelian Cash on delivery (COD) yaitu untuk barang-barang
narkotika dari PBF Kimia Farma. Ketika barang datang, pembayaran tunai langsung
dilakukan. Pemesanan narkotika hanya dapat dilakukan pada satu distributor, yaitu
pada PBF Kimia Farma.

3) Penyiapan Obat
Sebelum menyiapkan obat karyawan harus menentukan obat jenis apa yang akan
diberikan kepada pelanggan, jenis obatnya terdiri dari 3,yaitu :

 Obat Hijau (Bebas)


Obat Bebas merupakan obat yang boleh digunakan tanpa resep dokter. Obat
jenis ini dapat dibeli bebas di warung, toko obat, maupun apotek. Contoh obat
dari golongan ini misalnya, vitamin, oralit, dan lain sebagainya.

- 11 -
 Obat Biru (Bebas terbatas)
Obat jenis yang kedua ini masih dapat dibeli secara bebas tanpa resep dokter.
Walaupun dapat dibeli tanpa resep dokter, namun aturan pakai serta efek
sampingnya harus diperhatikan juga. Penggunaannya pun mesri sesuai
dengan indikasi yang tertera pada kemasan.
 Obat K dan Psikotropika (Menggunakan Resep)
Obat yang pada kemasannya terdapat logo lingkaran berwarna merah
bergaris tepi hitam dengan huruf "K" di dalamnya ini merupakan jenis obat
yang diperoleh harus dengan resep dokter. Yang termasuk obat golongan ini
misalnya, obat-obatan yang mengandung hormon, penisilin, obat penenang,
antibiotik, dan lain sebagainya. Obat jenis ini tidak dapat dikonsumsi
sembarangan karena bisa berbahaya, memperparah penyakit, meracuni
tubuh, atau bahkan menyebabkan kematian.

Jika obat yang ingin di beli oleh pelanggan adalah obat keras dan
psikotropika dan telah memiliki resep dari dokter maka karyawan yang
berjaga di depan akan memberikan resep kepada apoter untuk peracikan
resep, kemudian apoter akan menyiapkan obat yang sesuai dengan resep,
setelah itu karayawan akan mengecek kembali resep dengan racikan yang
dibuat oleh apoteker dan mencatat resep serta nama pelanggan pada catatan
harian penjualan.

4) Penyimpanan Obat
Barang-barang farmasi disimpan dalam tempat yang aman tidak terkena sinar
matahari langsung, bersih dan tidak lembab, disusun sistematis berdasarkan bentuk
sediaan, khusus antibiotik disusun tersendiri. Penyusunan dan penyimpanan barang
dilakukan secara sistematis dapat dikelompokkan berdasarkan kategori teraupetik
(farmakologi), bentuk sediaan (cair, semi padat, dan padat), First In First Out (FIFO),
First Expire First Out (FEFO), secara alfabetis, pabrik (produsen) dan sifat sediaan.
Untuk narkotika dan psikotropika disimpan dalam lemari khusus (Hartono, 2003).
Penyimpanan narkotika berdasarkan UU No. 9 tahun 1976 tentang narkotika, bahwa
narkotika disimpan pada almari berukuran 40x80x100 cm, dapat berupa almari
yang dilekatkan di dinding atau menjadi satu kesatuan dengan almari yang besar.
Almari tersebut mempunyai 2 kunci, yang satu untuk menyimpan narkotika sehari-
hari dan yang lainnya untuk narkotika persediaan dan morfina/pethidin dan garam-
garamnya (Anonim, 1997 b). Untuk bentuk sediaan suppositoria, injeksi insulin,
vaksin atau serum disimpan dalam lemari pendingin. Sedangkan untuk bahan yang

- 12 -
mudah terbakar disimpan secara terpisah. Ruang untuk penyimpanan hendaknya
dapat dipertanggungjawabkan dari segi keamanannya, sehingga tidak mudah hilang
dan juga untuk memudahkan pengawasan serta menjaga stabilitas obat. Hal ini akan
lebih memudahkan dan mempercepat dalam pengelolaan barang (Hartono, 2003).

5) Pemberian Obat
Pada saat obat telah tersedia dan siap untuk diberikan kepada pelanggan , petugas
seharusnya terlebih dahulu mengkonfirmasi kembali kepada pelanggan apakah
sudah sesuai dengan yang dipesan . (biasanya dengan membaca kembali obat
sesuai struk dan fisik obat yang sudah tersedia)

5.2 Opsi dan Pengelolaan Risiko ( Strategi dan Sasaran )

1) Perencanaan (Planning )
Bagian yang paling berharga dari perencanaan bisnis adalah proses itu sendiri. Hal
ini memaksa pemilik untuk memeriksa berbagai masalah yang cenderung tidak
dipertimbangkan pada sehari-hari. Hal ini juga mengharuskan pemilik untuk
mengembangkan seperangkat strategi, dengan menggunakan fungsi bisnis dan
kegiatan klinis yang dapat diletakkan di tempat sesuai untuk mencapai tujuan yang
mapan.
Perencanaan yang dibuat seorang pemilik di sebuah apotek haruslah meliputi setiap
proses yang berkaitan dengan semua siklus transaksi,mulai dari pengadaan obat,
menyimpanan obat, penyiapan obat sampai den`gan proses penjualan obat kepada
konsumen, setiap kompenen dari siklus transaksi tersebut haruslah diperhatikan
dan disiapkan dengan baik, sehingga meminimalisir dampak dari resiko itu sendiri.

2) Pengorganisasian (Organizing )

Mengidentifikasi semua tugas yang harus dilakukan dalam apotek, dan kemudian
mengelompokkan mereka dalam beberapa cara yang masuk
akal. Tentu saja, ada banyak cara dalam hal mempersiapkan sumber daya finansial,
manusia dan material apotek. Tidak ada satupun struktur yang terbaik tentang
keorganisasian bagi semua apotek. Hal ini lebih tergantung pada apa yang akan
dicapai dan bagaimana cara memenuhinya. Bagaimanapun juga, kunci keberhasilan
adalah memisahkan atau membagi tugas yang dilaksanakan sejelas mungkin,
menetapkan pegawai untuk mengelola dan melaksanakan tugas-tugas tersebut, dan
kemudian memberikan mereka beban tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas
secaraefisien. Proses ini adalah hal paling mendasar baik di apotek dengan fasilitas
kesehatan rawat inap maupun apotik masyarakat mandiri.

- 13 -
3) Penugasan
Dalam hal ini sebuah apotek tentu haruslah mampu dalam mengklasifikasikan
pekerjaan atau tugas yang dilakukan oleh karyawannya, dimulai dengan menerima
orang-orang yang memang sudah kompeten dalam bidangnya, sebagai contoh orang
yang menangani finansial perusahaan haruslah orang yang sudah terverifikasi dan
kompeten, kemudian untuk seorang kasir haruslah sudah dilatih untuk agar mampu
mengetahui tentang jenis-jenis obat yang ada dalam apotek

4) Penyusunan atau Pengkoordinasian pegawai ( Staffing )

Salah satu proses manajemen yang sulit adalah penyusunan atau koordinasi
pegawai apotek Penyusunan pegawai melibatkan penentuan sumber daya manusia
yangdibutuhkan bagi apotek, mengidentifikasi kemungkinan sumber daya
karyawan,seleksi pelamar, dan memilih satu atau lebih yang paling berkualitas.

5) Pengarahan (Directing ).

Directing melibatkan mempertahankan personil atau pegawaidan sumber daya


lainnya memusatkan perhatian pada tujuan apotek danmemastikan bahwa mereka
dimanfaatkan secara konsisten sesuai kebijakanyang ditetapkan oleh pemilik.
Sementara perencanaan, pengorganisasian, dan kepegawaian adalah proses
manajemen yang dilakukan secara berkala, mengarahkan (directing )dilakukan
secara terus menerus.

6) Pengawasan dan pengendalian (Controlling ).

Proses pengendalian (controlling ) melibatkan penilaian berkala terhadap status


apotek. Tercapaikah tujuannya? Apakah strategi bisnis bekerja dengan
baik?Akankah perubahan dalam organisasi, staf, ataupun metode
dalammengarahkan (directing ) memberikan hasil usaha yang lebih baik?
Pertimbangan yang paling penting dalam proses kontrol untuk memantau kemajuan
apotek sebagaimana pergerakannya melalui tahun anggaran.

- 14 -
6. EVALUASI RESIKO

Setelah resiko diukur tingkat kemungkinan dan dampaknya, maka


disusunlah urutan prioritas resiko. Mulai dari resiko dengan bobot penilaian
tertinggi, sampai dengan resiko terendah. Resiko yang tidak termasuk dalam resiko
yang dapat diterima/ditoleransi merupakan resiko yang menjadi prioritas untuk
segera ditangani.

Dari contoh resiko dengan bobot paling tinggi diatas adalah point 4 dan 7
adalah “obat kadaluarsa dan pelabelan obat yang tidak jelas”, dengan penerapan
pengendalian yang dapat dilakukan adalah :

Untuk Obat kadaluarsa : harus dilakukan pengecekan secara berkala, mana obat-
obat yang telah kadaluarsa, dapat dilakukan dengan membuat daftar obat yang
paling jarang terjual / jarang laku, kemudian diurutkan tanggal expired date nya .
Apabila mendekati expired, sebaiknya dapat dipisahkan dan diinfokan ke distributor
untuk di retur (apabila ada kebijakan retur untuk obat expired), atau dapat
dilakukan tindakan lain seperti menghancurkan obat dan segera menghitung
kembali kebutuhan obat tersebut untuk persediaan apabila kemungkinan ada
kebutuhan akan obat tersebut

Untuk Pelabelan obat yang tidak jelas : dapat dilakukan pencegahan dengan
pemberian label yang jelas sesuai resep / judul obat, termasuk jenisnya misalnya :
obat batuk atau radanng, serta aturan pakai . Pelabelan ini hanya memerlukan
konsistensi karyawan/ petugas pemberian obat .

7. SIMPULAN DAN SARAN

Bahwa Apotik Idaman adalah salah satu apotik yang menjalankan usahanya
seperti usaha apotik pada umumnya, yang melayani penjualan obat dan bahan-
bahan kesehatan lainnya . Bahwa terdapat beberapa resiko yang mungkin terjadi
dalam apotik idaman ini, sesuai dengan daftar resiko beserta bobot penilaiannya .
Apotik Idaman ini menerapkan cara pengelolaan resiko dengan metode
“Pengendalian” atau mencegah supaya tidak terjadi kerugian.

Saran tambahan untuk Apotik Idaman ini adalah dengan melihat bobot
resiko yang paling tinggi yang mungkin terjadi, sehingga pelaku usaha ini dapat
lebih fokus melakukan pencegahan sesuai dengan tingkat resiko mana yang paling
tinggi dan mungkin menimbulkan kerugian.

- 15 -

Anda mungkin juga menyukai